JAKA LOLA : JILID-21


"Aku tidak mau menilai orang dari kebodohannya, isteriku. Kalau menilai orang harus dari segi-segi baiknya. Bila ia melakukan, itu hanya karena ia lupa dan terseret oleh sesuatu yang membuat ia menyeleweng dari kebenaran. Gadis itu pada dasarnya baik, hanya ia dimabukkan oleh rasa dendam untuk membalas sakit hati kakeknya. Bukankah itu wajar bagi seorang gadis yang terdidik ilmu silat di pegunungan yang sunyi? Ada pun The Sun, mendengar suaranya, ternyata dia sudah mendapatkan kemajuan pesat dalam hatinya. Agaknya kalau kali ini kita menghadapi tentangan-tentangan, tentu bukan dari The Sun datangnya dan... hee, ada orang di pondok!"

Cepat bagaikan kilat tubuh Pendekar Buta ini sudah mencelat ke arah pondok, disusul isterinya. Akan tetapi Hui Kauw hanya melihat berkelebatnya bayangan yang cepat sekali menghilang di balik pondok itu.

Ketika mereka memeriksa, ternyata buntalan pakaian mereka masih ada, juga tongkat Kun Hong masih ada. Akan tetapi pedang Kim-seng-kiam, pedang Hui Kauw, lenyap dari tempatnya semula, yaitu tadinya disandarkan pada bilik.

"Pedangku hilang! Mari kita kejar...!" seru Hui Kauw, akan tetapi Kun Hong memegang lengannya.

"Jangan, percuma saja. Tentu dia sudah lenyap ditelan kegelapan malam. Biarlah, kelak tentu kita akan bertemu dengan pencurinya. Bukan tidak ada maksudnya orang mencuri pedangmu...”

"Ahh, tentu gadis iblis tadi... atau mungkin The Sun! Memang mereka jahat...!"

Kun Hong menggeleng-gelengkan kepalanya dan alisnya berkerut. "Bukan mereka... The Sun terluka parah, lengannya buntung, tak mungkin dia melakukan hal ini, juga puterinya tidak. Mereka takkan senekat itu. Ehh, bagaimana kau lihat orang tadi, ataukah kau tidak sempat melihatnya?"

"Hanya bayangan berkelebat cepat, kurasa lebih cepat dari pada gerakan Siu Bi, entah laki-laki entah wanita, akan tetapi kalau laki-laki, tentu dia seorang bertubuh kurus kecil. Mungkin wanita."

"Hemmm, isteriku. Bila tak meleset dugaanku, orang yang mencuri pedangmu dan orang yang melakukan fitnah kepada diri anak kita sehingga membuat Kong Bu marah, adalah orang yang sama. Entah siapa dia, tetapi yang jelas dia atau mereka adalah pengecut-pengecut yang tiada berharga, tidak berani menghadapi kita secara langsung melainkan dengan cara mengadu domba dan melakukan fitnah. Kita harus cepat ke Kong-goan dan menyelidiki ke kuil tua. Sekarang juga kita berangkat.”

Mengingat keadaan anaknya yang tertimpa fitnah, juga pentingnya urusan ini untuk cepat diselesaikan, Hui Kauw amat setuju dengan pendapat suaminya. Maka, sepasang suami isteri ini segera berangkat menuju Kong-guan…..

********************

Apakah sesungguhnya yang terjadi dengan diri Tan Kong Bu, pendekar dari Min-san itu? Pedang Kim-seng-kiam milik Hui Kauw telah lenyap dicuri orang dari pondok itu, bagai mana tahu-tahu bisa menancap di dada Kong Bu yang mayatnya ditemukan oleh Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu seperti telah dituturkan di bagian depan?

Untuk mengetahui hal ini, mari kita mengikuti pengalaman mendiang Kong Bu, jago tua yang berhati sekeras baja dan berwatak jujur dan terbuka itu.

Dapat dibayangkan betapa malu, sedih, menyesal yang semuanya menimbulkan amarah besar di dalam hati Tan Kong Bu ketika dia menyaksikan puteri tunggalnya yang terkasih, mendapat penghinaan dari Kwa Swan Bu. Biar pun Swan Bu putera Pendekar Buta yang dia kagumi dan dia sayang pula, tetapi perbuatan pemuda itu melebihi segala batas dan jalan satu-satunya hanya memberi hukuman mati kepadanya!

Lebih sakit hatinya saat dia mendaki puncak Liong-thouw-san bertemu dengan Pendekar Buta suami isteri, terjadi percekcokan dan dia tak mampu menandingi suami isteri sakti itu. Hal ini sangat menyakitkan hatinya dan dia segera kembali menuju ke Kong-goan untuk mencari jejak Swan Bu lagi dan dia takkan mau berhenti sebelum bertemu dengan pemuda itu dan mengadu nyawa dengannya!

Pada suatu pagi yang naas baginya, dia memasuki sebuah hutan kecil. Di tengah hutan itu, di atas lapangan rumput yang luas, dia melihat tiga orang berdiri memandangnya, seakan-akan mereka sengaja menunggu dan mencegat perjalanannya.

Sebagai seorang tokoh kang-ouw, tentu saja Kong Bu dapat menduga niat mereka itu, maka dia pun bersiap-siap sambil memandang tajam penuh selidik. Akan tetapi ternyata bahwa dia tidak mengenal orang-orang itu, meski pun dia dapat menduga bahwa mereka tentulah orang-orang di dunia kang-ouw yang berkepandaian tinggi.

Salah seorang di antara mereka adalah nenek tua yang berkulit kehitaman, pakaiannya berkembang merah, di punggungnya tergantung sebatang pedang. Orang kedua adalah seorang kakek pendek gendut, mukanya terlihat seperti orang dari utara, tidak membawa senjata apa pun.

Sedangkan orang ketiga adalah seorang kakek yang mulutnya selalu tersenyum-senyum mengejek, juga pakaiannya serba merah sehingga kelihatan lucu sekali dan aneh, seperti seorang gila, tangannya memegang sebatang tongkat panjang. Melihat kakek ketiga ini, Kong Bu mengerutkan keningnya, serasa dia pernah melihat muka ini, tetapi lupa lagi kapan dan di mana.

Dia hendak berjalan terus, tanpa menoleh, hanya melirik dari sudut matanya. Apa bila mereka tidak mengganggunya, dia pun tidak akan mencari perkara selagi perkara sendiri yang cukup gawat belum selesai. Namun dia maklum bahwa ketiga orang itu bukanlah tokoh baik-baik, maka dia bersikap waspada.

"Bukankah dia itu jago Min-san? Kenapa berkeliaran sampai di sini?" tiba-tiba terdengar suara parau dari kakek pendek gendut.

"Aha, apa kau tidak tahu, Sianjin? Anak perempuannya sudah dihina orang, akan tetapi dia tidak berani berkutik karena yang menghina adalah putera Pendekar Buta!" jawab si nenek.

"Aih..aih..aihhh... yang begitu mana patut disebut pendekar? Pengecut besar dia...," kata kakek berpakaian merah.

Akan tetapi kakek ini terpaksa menghentikan kata-katanya dan cepat dia melempar diri ke kiri sambil menggerakkan tongkatnya menangkis ketika ada selarik sinar cemerlang menyambarnya. Sinar itu adalah sinar pedang di tangan Kong Bu yang sudah datang menerjangnya dengan kecepatan kilat menyambar.

"Swiiinggg...!"

Sinar pedang menyambar, merupakan gulungan sinar putih yang mendatangkan angin tajam!

"Hayaaaaa...!" Kakek berpakaian merah berseru kaget dan cepat membanting tubuh ke kiri, berjungkir balik dan tongkatnya sudah diputar melindungi tubuhnya.

Pada lain detik Kong Bu sudah berdiri dengan kaki terpentang lebar, pedang melintang di depan dada, mata memandang tiga orang itu dengan sinar bernyala-nyala.

"Siapakah kalian dan apa maksud kalian menghina orang lewat tanpa sebab?"

Nenek itu tertawa mengejek. "Hik-hik-hik, kau bilang tanpa sebab? Apakah kau hendak menyangkal betapa puterimu di kuil tua di Kong-goan tidur di samping putera Pendekar Buta yang telanjang...? Hi-hi-hik, dan kau tidak berani..."

Nenek itu cepat-cepat menghentikan tawanya karena Kong Bu sudah melangkah maju setindak, mukanya beringas, pedang di tangannya tergetar.

"Bagaimana kau bisa tahu? Ahh... tahulah aku sekarang. Agaknya kalian inilah manusia-manusianya yang sengaja mengatur itu... ah, betapa bodohku! Dan kau..." la menuding muka kakek berpakaian merah dengan pedangnya. "Kau Ang Mo-ko. Ya, sekarang aku ingat, kau bekas pengawal kaisar muda. He, Ang Mo-ko, apa kehendakmu menghadang dan menghinaku? Dan dua orang ini siapa?"

Nenek itu melangkah maju, pedangnya sudah tercabut dan berada di tangannya, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan.

"Kau putera Raja Pedang kan? Hi-hi-hik, Raja Pedang dan Pendekar Buta musuh-musuh kami, keluarga mereka pun musuh kami. Memang kamilah yang mengatur di kuil tua di Kong-goan. Hi-hi-hik, Tan Kong Bu, kau mau mengenal kami? Aku Ang-hwa Nio-nio, Kui Ciauw..."

"Ahh, kau sisa dari Ang-hwa Sam-cimoi? Bagus, kiranya musuh besar!" bentak Kong Bu.

"Dan sahabatku ini adalah Bo Wi Sianjin, sute dari mendiang Ka Chong Hoatsu..."

"Hemmm, semua adalah musuh-musuh besar ayah. Pantas, pantas... heee, Ang-hwa Nio-nio, apa yang telah kalian lakukan terhadap anakku? Kalau memang kalian memiliki dendam, mengapa tidak langsung menghadapi ayah atau aku, tua lawan tua. Mengapa mesti mengganggu bocah? Tak tahu malu engkau!"

Ang-hwa Nio-nio tertawa terkekeh. "Kami tawan anakmu dan anak Pendekar Buta, kami menotok mereka dan menjajarkan di dalam kuil, memancing kau masuk. Ihh, kiranya kau begitu goblok, tidak dapat membunuh putera Pendekar Buta, atau... kau tidak berani?"

"Keparat" Kong Bu tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Pedangnya sudah berkelebat menyambar dengan sebuah tusukan kilat ke arah dada Ang-hwa Nio-nio. Serangan ini hebat sekali, didorong oleh tenaga Yang-kang yang luar biasa, tak mungkin dapat dielakkan lagi saking cepatnya.

Kalau bukan Ang-hwa Nio-nio yang diserang, tentu telah tembus dadanya oleh pedang. Akan tetapi wanita tua ini bukan orang lemah dan ia pun maklum bahwa mengelak berarti menghadapi bahaya maut. Maka sambil menjatuhkan diri ke kanan, pedangnya bergerak menangkis, berubah menjadi sinar keemasan.

"Tranggggg...!"

Tangan Kong Bu tergetar dan dia cepat-cepat menarik kembali pedangnya. Diam-diam dia mengakui kelihaian nenek ini, akan tetapi yang membuat dia lebih bingung dan kaget adalah ketika dia melihat pedang bersinar keemasan di tangan si nenek.

Dia mengenal pedang ini, serupa benar dengan pedang isteri Pendekar Buta yang baru beberapa pekan lalu dihadapinya. Ketika bertanding dengan Hui Kauw, nyonya itu pun menggunakan pedang ini. Apakah pedang mereka memang kembar?

"Iblis, pedang yang siapa kau pakai?" bentak Kong Bu sambil melanjutkan serangannya. Akan tetapi pedangnya bertemu dengan tongkat panjang dan kiranya Ang Mo-ko sudah maju pula mengeroyok.

"Hi-hi-hik, mau tahu? Ini pedang nyonya Pendekar Buta, dan sebentar lagi pedang ini yang akan mengambil nyawamu!"

Kong Bu seorang yang jujur, akan tetapi dia bukan orang bodoh. Pertemuannya dengan tiga orang ini telah cukup baginya untuk membuka matanya, untuk memecahkan rahasia itu. Tahulah dia sekarang bahwa peristiwa antara Swan Bu dan Lee Si adalah peristiwa buatan mereka ini, musuh-musuh besar ayahnya dan musuh-musuh Pendekar Buta pula.

Mereka sengaja memancing kemarahannya supaya dia bermusuhan dengan Pendekar Buta. Agaknya melihat bahwa ia belum dapat membunuh Swan Bu, mereka tidak sabar dan sekarang mereka hendak turun tangan sendiri, membunuhnya dan kembali mereka hendak menjalankan siasat mengadu domba, yaitu hendak membunuhnya menggunakan pedang isteri Pendekar Buta yang entah bagaimana bisa terjatuh ke tangan Ang-hwa Nio-nio.

"Jangan kira gampang!" la membentak.

Segera ketua Min-san-pai ini menggerakkan pedangnya dengan Ilmu Pedang Yang-sin Kiam-hoat yang ampuh. Pedangnya lenyap bentuknya, berubah menjadi gulungan sinar putih yang panjang dan lebar melibat-libat dan melayang-layang seperti seekor naga di angkasa yang mengamuk dan bermain-main di antara awan putih.

"Kok-kok-kok!" Bo Wi Sianjin si kakek gendut pendek telah berjongkok dan melancarkan pukulan Katak Saktinya.

Pada saat itu baru saja Kong Bu menangkis pedang Ang-hwa Nio-nio dan melompat ke kanan menghindarkan diri dari tongkat Ang Mo-ko yang menyapu pinggangnya. Kagetlah dia ketika tiba-tiba mendengar suara aneh itu dari belakang dan mendadak menyambar angin pukulan yang amat dahsyat.

Melihat sikap dan kedudukan kakek itu aneh sekali, Kong Bu tak berani menghadapinya dengan kekerasan, melainkan mengelak sambil berjongkok. Angin pukulan menyambar lewat di atas kepalanya dan betapa kagetnya ketika kain pembungkus kepalanya hancur berkeping-keping. Baru diserempet hawa pukulan itu saja sudah begitu hebat akibatnya, dapat dibayangkan betapa akibatnya kalau pukulan aneh itu tepat mengenai perutnya!

Pendekar ini segera maklum bahwa di antara tiga orang lawannya, kakek pendek yang bertangan kosong inilah yang paling berbahaya. Karena itu, Kong Bu segera mengubah siasat. la sengaja bergerak dan melayang cepat, sengaja dia menjauhkan diri dari Bo Wi Sianjin, atau dia sengaja mengambil posisi sedemikian rupa agar kakek pendek itu selalu terhalang oleh Ang Mo-ko atau Ang-hwa Nio-nio sehingga dia tidak berani melancarkan pukulan jarak jauh yang mukjijat tadi sebab jika demikian, tentu ada bahayanya memukul kawan sendiri.

Setelah pertempuran berlangsung seperempat jam lamanya belum juga mereka dapat merobohkan Kong Bu, Ang-hwa Nio-nio menjadi marah dan penasaran sekali. Nenek ini mengeluarkan pekik nyaring, kemudian tubuhnya meloncat laksana seekor burung walet, pedangnya diputar menerjang Kong Bu dari atas, serta tangan kirinya mengirim pukulan Ang-tok-ciang yang tak kalah berbahayanya.

"Cring-cring-cring...!" Tiga kali pedang Kong Bu menangkis serangan beruntun itu.

Serangan Ang-hwa Nio-nio memang amat aneh dan hebat. Begitu pedangnya tertangkis, pedang itu terpental bukan ke belakang, namun menyeleweng dan terus menjadi gerak serangan susulan yang makin lama makin hebat.

Terpaksa Kong Bu memainkan Yang-sin Kiam-hoat bagian pertahanan sesudah melihat betapa tiga kali tangkisannya tidak membuyarkan rangkaian serangan lawan. Sekarang pedangnya diputar seperti payung sehingga jangankan baru serangan pedang Ang-hwa Nio-nio, walau pun hujan deras menyiramnya, tidak setetes pun air akan dapat mengenai bajunya.

Kong Bu tidak berani menerima langsung pukulan tangan kiri Ang-hwa Nio.nio. Ia dapat melihat betapa tangan nenek itu menjadi merah, tanda bahwa pukulan itu mengandung hawa beracun yang jahat. la hanya menggeser kaki miringkan tubuh sambil menangkis dari samping. Sebagai ahli Yang-sin Kiam-hoat, tentu saja Kong Bu mempunyai tenaga Yang-kang istimewa kuatnya, maka benturan ini membuat nenek tadi terhuyung-huyung dan serangannya otomatis gagal.

Ang Mo-ko menunggu kesempatan baik. Selagi kedua pedang tadi berkelebatan beradu cepat, dia tidak berani sembrono menggunakan tongkatnya, karena selain hal ini dapat mengacaukan permainan pedang Ang-hwa Nio-nio, juga salah-salah tongkatnya itu akan kena benturan pedang kawannya.

Sekarang melihat betapa libatan sinar-sinar pedang itu sudah terlepas dan Kong Bu juga terhuyung ke kanan akibat benturan tenaga tadi, cepat laksana kilat tongkatnya lantas menyelonong maju, digetarkan sehingga ujungnya berubah menjadi belasan batang yang semuanya menyerang dengan totokan-totokan maut ke arah bagian-bagian tubuh yang berbahaya.

Ilmu tongkat Ang Mo-ko memang amat hebat. Tongkatnya mencecar bagian tubuh yang berbahaya dimulai dari ubun-ubun kepala terus ke bawah dalam jarak sejengkal tangan, yaitu dari ubun-ubun ke mata, kemudian telinga, tenggorokan, pundak, ulu hati, ke pusar dan seterusnya. Anehnya, ujung tongkat yang hanya satu ini, setelah dia getarkan begitu kuatnya, seakan-akan berubah menjadi belasan batang dan menyerang semua bagian berbahaya itu sambil mengeluarkan suara mendengung-dengung!

Melihat serangan yang luar biasa ganasnya ini Kong Bu mengeluarkan suara melengking tinggi dari kerongkongannya. Inilah pengerahan sinkang yang sangat istimewa, disertai suara melengking, sebuah ilmu kesaktian yang telah dia warisi dari mendiang kakeknya, Song-bun-kwi Kwee Lun Si Iblis Berkabung!

Bunyi lengking tinggi ini selain menambah daya pemusatan sinkang, juga mengandung tenaga yang menggetarkan jantung lawan. Sambil melengking-lengking Kong Bu lantas menggerakkan pedangnya yang menerobos di antara bayangan ujung tongkat.

Terdengar suara keras pada saat tongkat di tangan Ang Mo-ko patah-patah menjadi lima potong dan disusul pekik mengerikan karena tanpa dapat dielakkan lagi oleh Ang Moko, pedang di tangan Kong Bu sudah menancap tenggorokannya sampai tembus dan sekali Kong Bu merenggut ke kanan, leher itu hampir putus!

Tubuh Ang Mo-ko roboh miring, kepala yang lehernya hampir putus tertindih paha. Darah menyembur-nyembur dan kaki tangannya berkelojotan, kaku kejang seakan-akan tubuh yang rusak lehernya oleh pedang itu masih tidak tega berpisahan dengan nyawa!

"Keparat, terimalah pukulanku!" terdengar bentakan dari belakang Kong Bu disusul suara "kok-kok-kok!" seperti tadi.

Kong Bu maklum bahwa kakek pendek itu sekarang mendapat kesempatan melancarkan pukulannya yang aneh dan mukjijat. Cepat dia memutar tubuhnya, berusaha mengelak sambil mengerahkan sinkang di kedua lengannya, mendorong ke depan untuk menahan gelombang serangan tenaga yang tidak tampak. Nampak pukulan Katak Sakti dari Bo Wi Sianjin ini bukan main hebat dan kuatnya.

Kong Bu merasa betapa tubuhnya seperti ditembus angin taufan yang tidak tertahankan, dorongannya membalik sehingga tubuhnya melayang bagai layang-layang putus talinya! Pada saat itu, pedang Ang-hwa Nio-nio meluncur dan membabat pinggangnya.

Baiknya Kong Bu adalah seorang jagoan yang sudah matang kepandaiannya, maka biar pun tubuhnya melayang di udara, dia cepat dapat menguasai dirinya lagi. Oleh sebab itu, melihat sinar pedang berkelebat mengancam pinggang, dia masih dapat menggerakkan pedangnya sekuat tenaga menangkis.

"Tranggggg...!"

Tubuh Kong Bu melompat sambil jungkir-balik, membuat salto sampai tiga kali sebelum kedua kakinya menginjak bumi. Akan tetapi kagetlah dia saat melihat bahwa pedangnya telah patah di dekat gagangnya.

Dengan hati geram dia membanting gagang pedang, lalu melolos sarung pedang yang dipegang di tangan kanannya, juga melepaskan ikat pinggang yang terbuat dari sutera kuning. Walau pun tidak sehebat pedangnya yang patah, namun dengan sarung pedang dan ikat pinggang di tangan, Kong Bu masih merupakan lawan yang amat tangguh!

Kembali Ang-hwa Nio-nio menyerang, dan kali ini nenek itu memperlihatkan ginkang-nya. Sekali kedua kakinya menjejak tanah, tubuhnya melayang seperti terbang ke arah Kong Bu, pedangnya diputar-putar di depannya, berubah menjadi segulung sinar bulat, diiringi suara seruannya yang nyaring.

Kong Bu maklum keampuhan pedang di tangan nenek itu, pedang yang mengeluarkan sinar keemasan. Dia maklum pula bahwa kalau dia menangkis dengan sarung pedang, tentu senjatanya akan terbabat putus. Maka dia lalu membentak keras, ikat pinggangnya di tangan kiri bergerak bagaikan seekor ular menyambar, ujungnya menyambut pedang lawan dengan maksud melibat pedang atau lengan yang memegang pedang.

Akan tetapi Ang-hwa Nio-nio juga bukan seorang ahli silat sembarangan. Dia tidak mau mengadu pedangnya dengan benda lemas itu. la lalu menarik pedangnya, turun ke atas tanah dan mengubah serangannya, menusuk dan membabat bertubi-tubi, tidak memberi kesempatan lagi kepada lawannya.

Kong Bu melengking keras ketika dari belakang terdengar suara kokok, pukulan mukjijat dari Bo Wi Sianjin. Terpaksa dia menghindar ke kiri, akan tetapi di sini dia disambut oleh tusukan pedang yang masih mampu ditangkisnya dari samping dengan sarung pedang. Ikat pinggangnya dikelebatkan ke belakang menyerang kaki Bo Wi Sianjin.

Serangan ini kelihatannya sepele, akan tetapi kiranya akan celakalah kakek pendek itu bila kakinya sampai kena terlibat ikat pinggang! Bo Wi Sianjin tertawa mengejek, sambil melompat tinggi, kemudian turun dan melancarkan pukulan Katak Sakti lagi yang juga dapat dielakkan oleh Kong Bu, walau dengan susah payah.

"He-heh-heh, ada apa ini ribut-ribut?” terdengar suara yang kaku dan ganjil, suara orang asing.

Kong Bu melirik dan melihat seorang kakek asing berkulit hitam, tinggi besar bersorban, telinganya memakai anting-anting, jalan mendatangi bersama seorang hwesio yang juga tinggi besar akan tetapi sudah amat tua, hwesio yang berpakaian sederhana dan bajunya dibuka lebar di bagian dada. Mereka itu bukan lain adalah Maharsi dan Bhok Hwesio.

"Ji-wi Losuhu mengapa baru datang? Ang Mo-ko tewas oleh keparat ini!" teriak Ang-hwa Nio-nio, setengah menyesal akan tetapi juga girang.

"Dia mampus pun salahnya sendiri sebab kepandaiannya masih rendah," jawab Maharsi seenaknya. "Inikah jago Min-san putera Raja Pedang? Heh-heh-heh, ingin kucoba!"

Kong Bu kaget sekali. la masih sibuk menghadapi desakan pedang Ang-hwa Nio-nio dan pukulan mukjijat Bo Wi Sian-jin. Sekarang tiba-tiba pendeta India yang tinggi itu berjalan miring-miring mendekati dirinya, lengan tangannya bergerak dan lengan itu seperti mulur, tahu-tahu sudah dekat sekali dengan kepalanya, didahului angin pukulan yang tak kalah mukjijatnya oleh angin pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin.

Kong Bu cepat menjatuhkan diri di atas tanah dan bergulingan. Hanya dengan cara ini dia tadi dapat terbebas dari bahaya maut. Saking marahnya, Kong Bu lalu mengeluarkan lengking tinggi bersambung-sambung, melompat bangun dan mengamuk.

Akan tetapi pihak lawan terlalu banyak dan terlalu tangguh. Pada suatu saat dia berhasil menghindar dari pukulan Katak Sakti Bo Wi Sianjin, akan tetapi tak dapat mengelak dari pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi. Punggungnya kena dorongan dahsyat ini, dia terbanting roboh, nafasnya sesak dan setengah pingsan.

Pada saat itulah Ang-hwa Nio-nio melompat dekat dan menusukkan Kim-seng-kiam ke dadanya. Pedang ini imblas sampai setengahnya lebih, tepat menghunjam dada kiri dan menembus jantung sehingga jagoan sakti pendekar Min-san ini tewas pada saat itu juga tanpa dapat mengeluh lagi.

Dan demikianlah, seperti telah dituturkan di bagian depan, Tan Cui Sian dan Kwa Swan Bu dari jauh mendengar lengking tinggi dari Kong Bu, akan tetapi ketika mereka tiba di tempat itu, hanya melihat mayat Tan Kong Bu dengan pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya.

Melihat pedang ini yang oleh Swan Bu diakui sebagai pedang ibunya, Cui Sian marah bukan main. Dia dapat menduga bahwa kakaknya yang berdarah panas dan berwatak keras itu tentu telah tewas di tangan isteri Pendekar Buta.

Dia pun maklum bahwa tentu kakaknya itu marah-marah kepada Pendekar Buta suami isteri dan menuduh Swan Bu melakukan perbuatan hina terhadap Lee Si, dan mungkin suami isteri itu pun lantas merasa marah karena puteranya dimaki-maki sehingga timbul percekcokan. Akan tetapi, kalau sampai membunuh kakaknya, ini keterlaluan namanya dan ia tidak akan menerima begitu saja!

Jangankan Cui Sian, sedangkan Swan Bu sendiri diam-diam juga menduga demikian. Mana bisa lain orang yang membunuh Kong Bu kalau pedang Kim-seng-kiam menancap di dadanya. Pedang itu tak mungkin terlepas dari tangan ibunya!

Swan Bu gelisah sekali, bingung serta berduka. Akan tetapi ada satu kenyataan yang amat menghibur hatinya, yakni bahwa pedang itu masih tertancap di dada Kong Bu dan ditinggalkan begitu saja.

Jika benar ibunya yang membunuh Kong Bu, mungkinkah ibunya meninggalkan pedang itu tertancap di dada lawannya? Apakah karena mendengar kedatangannya bersama Cui Sian tadi, ibunya lalu tergesa-gesa pergi sehingga tak sempat mencabut pedangnya? Ah, sukar dipercaya kemungkinan ini. Apa sukarnya mencabut pedang, apa lagi bagi ibunya!

Agaknya lebih patut kalau ada orang yang SENGAJA meninggalkan pedang itu di dada Kong Bu. Dan siapa pun orangnya, tak mungkin orang itu ibunya! Jadi, tentu ada orang lain yang kembali melakukan fitnah, dan kali ini untuk memburukkan nama ibunya. Akan tetapi bagaimana orang itu dapat menggunakan pedang Kim-seng-kiam…..?

********************

Swan Bu berjalan terhuyung-huyung. Kesehatannya masih belum pulih seluruhnya, kini hatinya terhimpit perasaan yang tidak karuan, jiwanya tertekan oleh peristiwa-peristiwa yang hebat. la berjalan perlahan memandangi pedang ibunya di tangan.

"Ahhh, Kim-seng-kiam... kalau saja kau bisa berbicara... tentu kau akan dapat bercerita banyak...," keluhnya.

"Swan Bu...!"

Pemuda itu tersentak kaget. Suara itu!

Cepat dia membalikkan tubuh dan sejenak wajahnya yang tampan dan pucat itu berseri. Dilihatnya gadis yang selama ini mengaduk-aduk hatinya, yang mendatangkan derita, bahagia, kecewa dan harapan di hatinya, Siu Bi, berdiri hanya beberapa meter jauhnya di depannya! Gadis itu mukanya pucat, rambutnya awut-awutan, pakaiannya kusut, sinar matanya sayu dan pipi yang masih berbekas air mata itu kini kembali digenangi air mata yang mengalir turun.

"Siu Bi...," Swan Bu berbisik, tanpa sengaja melirik ke arah lengan kirinya yang buntung dan ujungnya dibalut.

Lirikan ke arah lengan buntung inilah yang agaknya telah memecahkan bendungan yang menahan gelora di hati Siu Bi yang ditahan-tahan. Gadis ini menjerit, lalu berlari maju, menjatuhkan diri berlutut di hadapan Swan Bu, memeluk kedua kaki pemuda itu sambil menangis tersedu-sedu.

"Swan Bu... Swan Bu... kau ampunkan aku... Swan Bu... ampunilah aku..."

Tak kuat hati Swan Bu menahan air matanya yang turun bertitik-titik ketika dia menunduk memandang kepala Siu Bi yang kusut rambutnya. Kedua kakinya terasa lemas dan dia pun berlutut pula.

"Siu Bi, selalu aku memaafkanmu..."

Mereka berpandangan melalui tirai air mata, kemudian bagaikan besi tertarik semberani, keduanya berangkulan, bertangisan dan berpelukan. Dengan air mata saling membasahi muka mereka masing-masing, dalam ciuman-ciuman yang digerakkan oleh hati penuh kasih sayang, penuh iba dan haru.

Setelah gelora hati mereka mereda, Siu Bi menyembunyikan mukanya ke dada Swan Bu dan mereka terhenyak duduk di atas tanah, tak bergerak, seluruh tubuh lemas, tenaga habis oleh letupan gelora hati tadi, terasa nikmat penuh damai di hati. Dengan tangan kanannya Swan Bu membelai dan mengelus-elus rambut hitam yang awut-awutan itu.

"Siu Bi aku selamanya mengampunkan engkau, karena aku cinta padamu, Siu Bi, karena aku tahu apa yang mendorongmu melakukan semua itu...," bisik Swan Bu.

Siu Bi mengangkat mukanya dari atas dada Swan Bu dan memandang. Kedua muka itu berpandangan, dekat sekali, masih basah oleh air mata.

"Swan Bu aku... aku tidak turut dalam tipu muslihat busuk itu... aku juga bukan sekutu Ang-hwa Nio-nio..."

Swan Bu mendekap muka yang kelihatan begitu pucat dan penuh kekhawatiran itu. "Siu Bi jiwaku... tidak, aku tidak percaya itu, kau tidaklah jahat seperti mereka..."

Siu Bi menarik nafas panjang, hatinya lega dan dia kembali membaringkan kepalanya di atas dada Swan Bu, sepasang matanya dimeramkan.

"Aku memang jahat, Swan Bu, tetapi... tetapi... untuk menyenangkan hatimu, hati orang yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku, aku... aku mau belajar baik! Kau bimbinglah aku, Swan Bu, ajarilah aku bagaimana bisa menjadi orang baik..."

Swan Bu tersenyum. "Kau adalah orang baik, Siu Bi..."

"Tidak, aku tidak tahu harus berbuat apa kalau terpisah dari padamu, Swan Bu. Jangan kita berpisah lagi, aku... aku takut hidup sendiri. Aku ingin ikut denganmu..." Tiba-tiba ia memegang lengan yang buntung itu, memandangnya dan kembali ia menangis tersedu sedu, menciumi ujung lengan yang dibalut. "Ahhh... aku tak dapat mengganti lenganmu, Swan Bu... biarlah… biar kuganti dengan seluruh tubuhku, dengan nyawaku... aku... aku selamanya akan mendampingimu, melayanimu...”

Dengan mesra Swan Bu memeluk dan menciuminya, kemudian pemuda ini teringat akan sesuatu dan menarik nafas panjang. "Tak mungkin...," katanya lirih dengan nada sedih.

Siu Bi tampak kaget, "Apa katamu? Apa yang tak mungkin?"

"Siu Bi, kau tahu bahwa aku mencintamu, dan takkan ada kebahagiaan yang lebih besar dari pada selalu berada di sampingmu selama hidup. Akan tetapi agaknya hal ini hanya lamunan kosong... karena... karena apa pun yang terjadi, apa lagi setelah paman Kong Bu tewas... agaknya jalan satu-satunya bagiku hanya... mengawini Lee Si."

"Apa...?!" Siu Bi merenggutkan dirinya dan memandang dengan mata terbelalak.

Swan Bu menunduk sedih, tidak tahan menatap pandang mata yang penuh keperihan hati itu. Dia menarik nafas panjang lagi, lalu berkata, "Siu Bi, kau sendiri mengerti betapa tipu muslihat dan fitnah yang dilakukan oleh Ang-hwa Nio-nio itu menimbulkan kejadian yang amat hebat. Ayah Lee Si, yaitu paman Kong Bu, marah sekali dan tentu saja marah kepadaku dan kepada orang tuaku. Dan tadi... aku mendapatkan paman Kong Bu telah tewas, terbunuh orang di dalam hutan. Peristiwa di Kong-goan ini akan merusak nama Lee Si untuk selamanya, kecuali jika... jika aku... mengawininya. Hanya itu satu-satunya jalan, dan demi menjaga kerukunan kedua keluarga, demi mencuci bersih nama Lee Si yang tidak berdosa, agaknya... agaknya... jalan itulah satu-satunya..."

"Swan Bu... tapi kau... kau cinta padaku kan?"

"Aku cinta padamu, Siu Bi."

Siu Bi menubruk dan memeluknya lagi. “Cukup bagiku. Kau boleh mengawininya, kalau itu kau anggap penting. Bagiku, asal kau cinta padaku, asal aku boleh menebus dosaku kepadamu dengan jiwa ragaku, asal..."

Tiba-tiba saja Siu Bi bangun, juga Swan Bu bangkit berdiri. Keduanya sudah mencabut pedang dan memandang ke arah seorang pemuda yang jalan mendatangi, pemuda yang bukan lain adalah Ouwyang Lam!

Ouwyang Lam memandang sambil tersenyum kepada Siu Bi, kemudian dia memandang Swan Bu, ke arah lengannya yang buntung, dan tertawalah dia, "Ha-ha-ha, Bi-moimoi, agaknya kau sudah berhasil dalam usahamu membalas dendam. Ha-ha-ha, kalau anjing buntung ekornya hanya kelihatan tidak pantas, tetapi kalau manusia buntung tangannya, benar-benar canggung sekali! Eh, Kwa Swan Bu, ayahmu buta sedangkan kau anaknya buntung, cocok sekali. Numpang tanya, dengan tangan kirimu buntung, kalau kau ada keperluan di belakang, apa kau menggunakan tangan kananmu pula? Ha-ha-ha-ha-ha!"

Sampai pucat sekali muka Swan Bu mendengar penghinaan ini, tetapi kemarahannya ini amat merugikan, karena kepalanya langsung menjadi pening sekali dan tubuhnya yang sudah lemas itu malah gemetar karenanya.

"Tutup mulutmu yang kotor!" Siu Bi membentak sambil melompat ke depan menghadapi Ouwyang Lam.

Pemuda Ching-coa-to ini kaget sekali, memandang dengan mata terbelalak. "Eh… ehh... ehhh, Moimoi...”

"Aku bukan moimoi-mu! Cih, tak tahu malu! Ouwyang Lam manusia rendah, ketahuilah bahwa dibandingkan dengan Swan Bu, kau hanya patut menjadi sepatunya! Maka tidak boleh kau menghinanya dan lekas pergi dari sini kalau tidak ingin mampus di tanganku!"

Saking heran dan bingungnya, Ouwyang Lam hanya berdiri melongo saja. Mukanya yang berkulit putih menjadi merah sekali, dan mulutnya yang biasanya pandai bicara, kini sulit mengeluarkan kata-kata saking kaget dan herannya.

"Siu Bi... apa artinya ini...?"

"Artinya, tutup mulutmu yang busuk dan lekas enyah kau dari sini!"

Ouwyang Lam mulai marah. Dia memang tergila-gila kepada gadis cantik ini, tergila-gila akan kecantikannya sesuai dengan wataknya yang mata keranjang. Akan tetapi kalau gadis ini mulai menghinanya, tentu saja timbul kebenciannya.

"Tapi... kenapa kau membelanya? Bukankah kau membuntungi lengan..."

"Bukan urusanmu! Lekas pergi!"

Ouwyang Lam adalah seorang yang terlalu mengandalkan kepandaian sendiri, tentu saja timbul kemarahannya. Dia mengangkat dadanya yang bidang. Walau pun tubuhnya agak pendek, tapi dadanya bidang dan tegap.

"Siu Bi, aku menantang Swan Bu, jangan ikut campur! Ataukah putera Pendekar Buta ini kini telah menjadi seorang pengecut nomor satu di dunia sehingga dia menyembunyikan diri di belakang pantat wanita?"

"Ouwyang Lam keparat, mulutmu kotor...!" Siu Bi menggerakkan pedangnya.

"Siu Bi, tunggu dulu!"

Suara Swan Bu menahan Siu Bi yang menarik pedangnya kembali dan menoleh kepada kekasihnya itu.

"Siu Bi, aku bukan pengecut dan biar pun tidak kau bantu, aku masih tak akan mundur menghadapi tantangan siapa pun juga!" la melangkah maju menghadapi Ouwyang Lam lalu tersenyum mengejek. "Ouwyang Lam, setelah melihat keadaanku terluka, kau berani membuka mulut besar, ya? Hmmm, kau benar-benar gagah sekarang. Majulah!"

Ouwyang Lam tertawa mengejek. Pemuda ini memang cerdik sekali, sekilas pandang dia maklum bahwa lengan Swan Bu yang baru saja buntung membuat pemuda itu lemah dan menderita, karena itu tentu saja dia berani menantang dan sengaja dia membangkitkan kemarahan Swan Bu agar lawannya ini melarang Siu Bi membantunya.

Sekarang dengan pedang terhunus, Ouwyang Lam menyerbu, menggeser kaki dengan langkah-langkah pendek seperti harimau kelaparan. Pedangnya dimainkan dengan Ilmu Pedang Hui-seng-kiam yang lihai, mulutnya berseru, "Lihat serangan!"

Swan Bu bersikap tenang sekali, meski pun keadaannya sebetulnya tidak membenarkan untuk melayani pertandingan, apa lagi menghadapi lawan berat. Tetapi, sebagai seorang berjiwa pendekar, lebih baik menantang maut dari pada mandah dicap pengecut!

Melihat gerakan pedang Ouwyang Lam menyambar ganas serta mengeluarkan suara bersuitan, dia mengerahkan tenaga sinkang sekuatnya, menunggu sampai pedang lawan mendekat, lalu tiba-tiba dia menghantamkan pedang ibunya menangkis dengan harapan akan dapat mematahkan pedang lawan dalam segebrakan.

Ouwyang Lam kaget bukan main, tak sempat menarik kembali pedangnya. Terpaksa dia mengerahkan tenaga pula dan membiarkan pedangnya bertemu dengan pedang Swan Bu yang bersinar keemasan.

"Cringgg...!"

Bunga api memancar ke arah muka kedua orang muda itu sehingga mereka menjadi silau. Ouwyang Lam merasa betapa tangannya tergetar hebat, akan tetapi Swan Bu yang tenaganya lemah karena lukanya, juga terhuyung mundur.

Kagetlah dia melihat betapa pedang pendek pemuda tampan itu tidak patah. Malah kini Ouwyang Lam sudah menerjang lagi dengan ganasnya, sepasang matanya kemerahan, mulutnya yang menyeringai mengeluarkan suara mendesis, wajahnya diliputi bayangan kekejaman dan kebuasan.

Swan Bu harus berloncatan ke sana-sini sambil memutar pedangnya menangkis. Akan tetapi makin lama pandang matanya makin kabur, kepalanya pening dan lengan kirinya yang terluka terasa panas dan nyeri.

"Sraaattttt…!"

Pundak kanan Swan Bu tergores ujung pedang! Baiknya dia masih dapat menggulingkan diri sehingga pedang di tangan Ouwyang Lam tidak sampai membabat buntung pundak kanannya itu.

Dengan gerakan terlatih Swan Bu bergulingan, mengelak dari bacokan-bacokan pedang Ouwyang Lam yang tidak mau memberi kesempatan lagi. Tiga kali bacokan pedangnya mengenai tanah dan sebelum dia sempat menyerang lagi, tubuh yang bergulingan cepat itu telah meloncat berdiri.

Swan Bu sudah bersiap kembali dan memutar pedang melindungi tubuhnya. Akan tetapi melihat betapa keningnya berkerut-kerut, keringat membasahi mukanya yang pucat, jelas bahwa pemuda itu menderita sekali, malah matanya beberapa kali dimeramkan.

"Ha-ha-ha, Swan Bu. Lebih baik kau membuang pedangmu dan menyerah kalah, aku sudah puas. Tak akan kubunuh engkau asal mengaku kalah, ha-ha-ha!" Memang pandai sekali Ouwyang Lam. Melihat lawannya sudah kepayahan, dia telah mendahului dengan ejekan ini untuk memancing kemarahan.

"Tidak sudi!" jawab Swan Bu, tepat seperti yang diharapkan Ouwyang Lam. "Lebih baik mati dari pada menyerah. Ouwyang Lam manusia sombong, jangan kira kau akan dapat mengalahkan aku. Majulah!"

"Swan Bu...! Mundurlah dan biarkan aku memberi hajaran kepada anjing busuk ini!" Siu Bi berseru, pedang di tangannya sudah gatal-gatal hendak menerjang Ouwyang Lam.

Hatinya sudah gelisah tadi melihat pundak kekasihnya tergores pedang sehingga kini mengucurkan darah membasahi bajunya. Tentu saja ia tidak mau turun tangan sebelum Swan Bu mundur, karena betapa pun juga, di lubuk hati Siu Bi tersimpan sifat gagah dan ia merasa malu kalau harus mengeroyok, apa lagi ia maklum bahwa tingkat kepandaian Swan Bu amatlah tinggi, masih jauh lebih tinggi dari pada tingkat kepandaian Ouwyang Lam atau dia sendiri.

"Tidak, Siu Bi, aku masih kuat menghadapi kesombongannya!" kata Swan Bu.

Ucapan Swan Bu ini tidak bohong, juga bukan bualan belaka. Sebagai putera tunggal Pendekar Buta yang sakti, tentu saja dia telah mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa sekali. Sekarang kepalanya sudah pening, pandang matanya kabur dan tubuhnya lemas seakan-akan tidak bertenaga lagi, akan tetapi kepandaiannya masih ada.

Maklum bahwa dia tidak akan dapat menghadapi lawan dengan tenaga, Swan Bu segera mengubah gerakannya. Sekarang tahu-tahu dia telah terhuyung-huyung, jongkok berdiri, berloncatan dan kadang-kadang bagaikan orang menari, kadang-kadang seperti orang mabuk. Dalam ilmu langkah ajaib ini sama sekali dia tidak perlu mempergunakan tenaga, akan tetapi hasilnya, semua serangan Ouwyang Lam mengenai angin kosong!

Makin cepat Ouwyang Lam yang penasaran dan marah ini menghujankan serangannya, semakin aneh pula gerakan Swan Bu. Kadang-kadang ada kalanya dia merebahkan diri sehingga Siu Bi hampir menjerit ketika Ouwyang Lam menubruk tubuh yang rebah itu dengan tikaman maut. Akan tetapi di lain detik tubuh yang rebah itu sudah bergulingan dan berdiri lagi, enak-enakan menari aneh. Andai kata Swan Bu tidak demikian lelah dan lemahnya, satu dua kali balasan serangannya tentu akan merobohkan Ouwyang Lam.

Akan tetapi Swan Bu sudah terlalu lemah sehingga dia hanya mampu menghindarkan diri dari serangan lawan tanpa mampu membalasnya. Karena tenaganya makin lemah, maka gerakannya mulai kurang gesit sehingga dia mulai terdesak.

Empat penjuru angin telah dikuasai oleh sinar pedang Ouwyang Lam, tidak ada jalan lari lagi bagi Swan Bu kecuali menggunakan ilmu langkah ajaibnya untuk menghindar dari setiap tusukan atau bacokan, akan tetapi serangan hanya serambut saja selisihnya!

Siu Bi mulai kecut hatinya. Dia gelisah setengah mati dan sudah mengambil keputusan untuk nekat menerjang maju ketika tiba-tiba tampak berkelebat bayangan orang.

"Keparat, mundur kau!" bayangan itu berseru keras.

"Cringgg...! Crakkk!"

Siu Bi menjerit ketika melihat betapa bayangan itu dalam menangkis pedang Ouwyang Lam, sudah kalah tenaga. Pedangnya terlepas dan pedang Ouwyang Lam membacok dadanya! Siu Bi mengenal orang itu yang bukan lain adalah The Sun!

Dengan jerit tertahan Siu Bi cepat-cepat menerjang maju karena Swan Bu juga sudah terhuyung-huyung kelelahan. Pedangnya berkelebat mengirim tusukan dibarengi tangan kirinya mengirim pukulan Hek-in-kang!

Bukan main hebatnya serangan Siu Bi yang dilakukan dengan penuh kemarahan ini. la menggunakan jurus-jurus lihai dari Cui-beng Kiam-hoat dan pukulan Hek-in-kang dengan tangan kirinya mengeluarkan uap hitam.

Ouwyang Lam yang tertawa-tawa bergelak-gelak karena girangnya dan sombongnya itu mana mampu menghadapi serangan yang tak diduga-duganya ini? la terkejut sekali dan berusaha menangkis, namun terlambat. Pukulan Hek-in-kang sudah membuat dadanya serasa meledak dan sebelum dia tahu apa yang terjadi, pedang Cui-beng-kiam telah dua kali memasuki lambung dan dadanya, membuat dia terkulai dan roboh tak bernyawa lagi.

"Ayah...!" Siu Bi menubruk The Sun yang terengah-engah, dan dengan tangan kanannya meraba luka di dada ayah tirinya yang mengeluarkan banyak darah.

The Sun yang duduk itu tersenyum lebar, matanya bersinar-sinar, wajahnya yang pucat berseri penuh bahagia. "Ahh, anakku... anakku... Siu Bi, kau menyebut apa tadi...?"

Dada Siu Bi penuh keharuan. Orang tua ini, yang baru-baru ini sangat dibencinya, telah kehilangan lengan untuknya, kini menghadapi maut juga untuknya. Orang ini menolong Swan Bu, berarti menolongnya juga. Seketika lenyap semua bencinya, terganti dengan kasih sayang yang dulu, kasih sayang seorang anak perempuan yang dimanja ayahnya.

"Ayah...!" Siu Bi merangkul dan menangis.

The Sun mendongak ke atas, pipinya basah air mata. "Terima kasih atas ampunanMu, bahwa di saat terakhir ini harapan hambaMu masih terkabul. Siu Bi anakku...!" The Sun mendekap kepala gadis itu dan mencium dahinya, rambutnya, penuh kebahagiaan. "Siu Bi, dengar baik-baik. Orang ini banyak kawannya, mereka tentu akan datang. Lekas kau pergilah bersama Swan Bu. Aku tahu, dia putera Pendekar Buta, bukan? Ahhh, Siu Bi, harapanku terakhir, semoga kau dapat hidup bahagia bersama dia. Ya, ya... sejak kau kecil, kutimang-timang engkau supaya kelak menjadi isteri seorang pendekar keturunan Raja Pedang atau Pendekar Buta. Ha-ha-ha, pengharapanku terkabul kiranya. Pergilah, bawa dia pergi, dia terluka parah... biar aku di sini menghadang teman-temannya yang hendak mengejar."

Setelah berkata demikian, dengan sikap gagah The Sun lalu bangkit berdiri, memungut pedangnya yang tadi terlempar dan berdiri dengan kedua kaki terpentang lebar.

Siu Bi menengok, melihat Swan Bu dengan nafas memburu berdiri bersandar pohon, "Tapi Ayah, kau... kau terluka hebat..."

The Sun menggerakkan lengannya yang buntung, penglihatan ini menyayat hati Siu Bi. "Aku sudah tua, aku juga penuh dosa, jangan kau renggut kenikmatan pengorbanan dan penebusan dosa ini, anakku. Kau berhak hidup bahagia, berhak hidup bersih dari semua dosaku. Penjahat-penjahat itu dahulu bekas kawan-kawanku, biarlah sekarang kutebus dengan darahku, melawan mereka untuk membersihkan engkau dari kekotoran ini. Kau pergilah, jaga baik-baik ibumu, dan... dan... jangan lepaskan Swan Bu... itu harapanku..." Ucapan terakhir ini dilakukan dengan suara terisak.

"Ayah... selamat tinggal...," kata Siu Bi karena tidak melihat jalan lain.

la maklum juga bahwa kedatangan Ouwyang Lam tentu disusul yang lain. Bila Ang-hwa Nio-nio, Maharsi, Bo Wi Sianjin, apa lagi Bhok Hwesio sampai muncul di situ, tentu dia, Swan Bu, dan ayahnya akan tewas semua secara konyol. la dapat menduga pula bahwa luka ayahnya amat berat, maka ayahnya menjadi nekat, berkorban untuknya.

Dengan air mata bercucuran ia menghampiri Swan Bu, lalu digandengnya lengan kanan pemuda itu dan ditariknya. "Mari kita berangkat, Swan Bu."

"Sebentar, anakku..." The Sun dengan langkah lebar menghampiri mereka, memandang dengan penuh keharuan, tiba-tiba merangkul Swan Bu dan mencium dahi pemuda itu, merangkul Siu Bi dan mencium dahi gadis ini, lalu melepaskan mereka. "Pergilah, lekas pergilah..., selamat berbahagia!"

la masih berdiri dengan air mata bercucuran memandang ke arah lenyapnya dua orang muda itu ketika muncul Ang-hwa Nio-nio yang berlari-lari ke tempat itu. Terdengar nenek itu menjerit, lalu menubruk jenazah Ouwyang Lam dan menangis tersedu-sedu. Akan tetapi hanya sebentar saja karena dia segera meloncat bangun dan berdiri menghadapi The Sun yang sudah membalikkan tubuh karena sadar dari lamunan sedih oleh tangis dan jerit Ang-hwa Nio-nio tadi.

Ang-hwa Nio-nio hampir gila oleh marah dan sedihnya melihat murid atau kekasihnya telah tewas. Dengan mata mendelik ia memandang kepada The Sun dan berteriak penuh kemarahan,

"Katakan, siapa yang membunuhnya? Dan kau ini siapa?"

The Sun yang telah dapat menguasai keharuan hatinya, kini tersenyum duka. "Kui-toanio (nyonya Kui), agaknya kau sudah lupa lagi padaku. Dua puluh tahun yang lalu, aku dan guruku Hek Lojin bukankah menjadi kawan seperjuangan dengan Ang-hwa Sam-cimoi?"

Nenek itu memandang heran ke arah lengan yang buntung, akan tetapi sekarang ia telah teringat. "Aahhh, kau The Sun... ehhh, gadis itu, Siu Bi... dia puterimu?"

Sebelum The Sun menjawab, nenek itu yang ingat lagi akan mayat pemuda kekasihnya. Cepat dia bertanya, dan suaranya berubah tidak semanis tadi, "The Sun, siapakah yang membunuh Ouwyang Lam? Siapa?"

Setelah sekarang Siu Bi dan Swan Bu pergi, baru The Sun merasa betapa dadanya sakit bukan main, juga lengannya yang buntung. Rasa nyeri menusuk-nusuk sampai ke tulang sumsum dan ke jantung, membuat matanya berkunang-kunang, kepalanya pening dan tubuhnya menggigil.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner