JAKA LOLA : JILID-24


Akan tetapi pandang matanya segera mendapat kenyataan bahwa orang di depannya ini masih terluka hebat dan tenaganya tinggal sedikit lagi. la menghela nafas dan diam-diam merasa kagum sekali.

"Tan Beng San, segala macam urusan kotor yang dilakukan Ang-hwa Nio-nio tidak ada sangkut-pautnya dengan pinceng (aku). Pinceng datang mencarimu untuk membereskan perhitungan lama."

"Bhok Hwesio, dua puluh tahun yang lalu kau tersesat kemudian datang Thian Ki Losuhu yang menjadi suheng-mu dan membawamu kembali ke Siauw-lim-pai. Apakah selama dua puluh tahun ini kau belum juga dapat mengubah kesesatanmu?"

"Tan Beng San, kau sungguh bermulut besar. Karena kau, pinceng menderita puluhan tahun. Tapi sekarang kau telah terluka, sayang sekali. Tidak enak melawan orang sudah terluka parah, akan tetapi tidak bisa pinceng melepaskanmu begitu saja. Raja Pedang, hayo kau lekas berlutut dan minta ampun sambil mengangguk tiga kali di depanku, baru pinceng mau melepaskanmu dan memberi waktu padamu untuk menyembuhkan lukamu, setelah itu baru kita bertanding melunasi perhitungan lama."

Tiada penghinaan bagi seorang pendekar silat yang lebih hebat dari pada menyuruhnya mengaku kalah dan berlutut minta ampun! Kalah atau menang dalam pertandingan bagi seorang pendekar adalah lumrah. Raja Pedang sendiri tentu tak akan merasa penasaran kalau memang dia kalah dalam pertandingan melawan musuh yang lebih pandai. Akan tetapi mengaku kalah sebelum bertanding, apa lagi berlutut minta ampun? Lebih baik mati!

Perasaan marah yang datang karena mendengar penghinaan ini menyesakkan dada Tan Beng San yang terluka, membuatnya sulit bernafas. Oleh karena itu, dia tidak menjawab ucapan Bhok Hwesio, melainkan membalikkan tubuhnya membelakangi hwesio tua itu dan duduk bersila, meramkan mata.

"Tan Beng San, kau berjuluk Raja Pedang, ketua Thai-san-pai. Mana kegagahanmu? Hayo kau lawan aku! Kalau tidak berani, lekaslah berlutut minta ampun!" bentak Bhok Hwesio pula.

Namun Raja Pedang tidak menjawab, tetap meramkan mata sambil duduk bersila tanpa bergerak seperti patung. la maklum bahwa nyawanya berada dalam genggaman musuh. Kalau musuh menghendaki, dia dan Kun Hong pasti akan tewas karena untuk melawan mereka tidak mampu lagi.

"Bhok-losuhu, kenapa tidak pukul pecah saja kepalanya? Manusia-manusia sombong ini harus dihajar, baru kapok. Hee, manusia buta, hayo kau lawan aku, Maharsi yang tidak terkalahkan. Kau sudah membunuh ketiga orang Sam-cimoi yang merupakan adik-adik seperguruanku, juga sahabatku Bo Wi Sanjin sudah tewas. Karena itu, untuk menebus kematian mereka, kau harus mati empat kali."

Maharsi menghampiri Kun Hong yang juga sedang duduk bersila sambil memusatkan perhatiannya untuk mengobati luka dalam yang amat berat. Seperti juga Raja Pedang, dia maklum bahwa melawan akan sia-sia belaka karena lukanya amat hebat. Lebih baik berusaha untuk memulihkan tenaga saktinya dari pada melawan dan sudah pasti kalah.

Melawan berarti kalah dan mati. Kalau tidak melawan ada dua kemungkinan. Pertama, mungkin lawan akan membunuhnya pula, akan tetapi kalau terjadi hal demikian, berarti lawan melakukan kecurangan besar yang akan merupakan hal yang mencemarkan nama mereka sendiri.

Kemungkinan kedua, lawan akan cukup memiliki kegagahan sehingga segan menyerang orang yang terluka hebat dan sedang bersemedhi mengobati lukanya sehingga dia akan terbebas dari kematian dan kekalahan. Akan tetapi dia juga yakin bahwa hal kedua ini sukar akan dia dapatkan dari lawan yang jahat, maka keselamatan nyawanya berada di dalam genggaman lawan dan dia menyerahkan nasib kepada Tuhan.

"Maharsi," Pendekar Buta berkata perlahan, "aku tidak kenal padamu dan tidak tahu kau manusia macam apa. Akan tetapi aku tahu bahwa hanya seorang rendah budi, seorang pengecut yang curang, seorang yang sama sekali tiada harganya saja yang menantang lawan yang sedang berada dalam keadaan luka parah. Mungkin engkau termasuk orang rendah macam itu, atau mungkin juga tidak, aku tidak tahu."

"Keparat! Kau sudah membunuh adik-adikku, sekarang mengharapkan ampunan dariku? Tidak mungkin! Kaulah yang rendah dan hina! Adik-adikku yang lemah kau bunuh, dan sekarang karena kau merasa tidak akan menang menghadapi aku, kau lalu beraksi luka parah!" Setelah berkata demikian, Maharsi menendang.

Tubuh Kun Hong terguling-guling sampai lebih dari empat meter, akan tetapi tetap dalam keadaan bersila, dan setelah berhenti terguling-guling dia masih juga tetap duduk bersila. Hal ini saja membuktikan bahwa biar pun keadaannya terluka parah, Pendekar Buta itu benar-benar amat lihai.

Diam-diam Maharsi terkejut juga. Dengan langkah lebar dia menghampiri, dua lengannya digerak-gerakkan sebab dia tengah mengerahkan sinkang untuk digunakan menghantam dengan Pai-san-jiu, yaitu ilmu pukulannya yang paling dia andalkan.

"Kau ingin mampus? Kau kira aku, Maharsi tidak mampu sekali pukul menghancurkan kepalamu? Batu dan pohon remuk oleh pukulanku ini, tahu?"

Tiba-tiba saja dia menghantamkan kepalan tangan kanannya ke arah sebatang pohon di sebelahnya dan terdengar suara keras, batang pohon itu remuk dan tumbanglah pohon itu. Maharsi tertawa bergelak.

"Kau melihat Itu? Eh... matamu buta, kau tidak pandai melihat. Kau tentu mendengar itu, bukan? Nah, apakah kepalamu lebih keras dari pada batang pohon?"

Kun Hong tersenyum dan berkata, nadanya mengejek, "Kasihan sekali kau, Maharsi. Bila menilik suaramu, kau seorang tua bangka yang kembali seperti anak-anak. Dengan ilmu pukulanmu itu, kau seperti anak-anak mendapat permainan baru dan menyombong-nyombongkannya, padahal kelak kau akan menyadari bahwa ilmu itu tidak ada gunanya sama sekali, seperti kanak-kanak yang telah bosan pada permainan yang sudah butut. Menumbangkan pohon, apa sukarnya? Segala sifat merusak mudah dilakukan, bahkan anak kecil pun bisa. Apa anehnya?"

Maharsi marah sekali dan kakinya mencak-mencak. "Setan, kau akan kubunuh sedikit demi sedikit, jangan disangka kau akan dapat memanaskan hatiku sehingga aku akan membunuhmu begitu saja! Kau memanaskan hatiku supaya aku membunuhmu seketika sehingga kau tidak menderita? Ho-ho-ho, aku tidak sebodoh itu. Kau akan kusiksa lebih dahulu, kubunuh sekerat demi sekerat untuk membalaskan sakit hati adik-adikku!"

Pendeta barat itu kini melangkah maju, tangannya yang berlengan panjang itu diulur ke depan, bersiap mencengkeram tubuh Kun Hong dan menyiksanya. Pendekar Buta hanya tersenyum dan bersila, sikapnya tenang.

Kebetulan sekali Cui Sian sadar lebih dulu dari pingsannya. Gadis ini berada cukup dekat dengan Maharsi yang melangkah maju. Melihat sikap yang mengancam dari pendeta itu terhadap Kun Hong yang tidak mampu melawan, Cui Sian marah sekali.

Cui Sian juga sudah terluka, namun tidak sehebat Kun Hong lukanya. Sambungan tulang pundak kanan terlepas, ada pun dadanya agak sesak akibat pukulan Katak Sakti yang dilontarkan Bo Wi Sianjin kepadanya.

Melihat Kun Hong terancam maut, dan mengingat bahwa ia dan ayahnya telah menuduh secara keliru sehingga terjadilah mala petaka ini, Cui Sian melompat dengan nekat dan menyerang Maharsi untuk menolong Kun Hong.

Walau pun keadaannya terluka, namun serangan Cui Sian yang nekat ini cukup hebat. la menggunakan jurus Sian-Ii Siu-goat (Dewi Sambut Bulan), dan tentu saja ia hanya bisa memukul dengan tangan kiri, maka ia sengaja menggunakan pukulan yang mengandung tenaga lemas untuk menyesuaikan keadaannya yang terluka.

Namun pukulan yang halus ini merupakan jangkauan tangan maut karena yang diserang adalah bagian yang mematikan di ulu hati. Biar pun penyerangnya hanya seorang gadis jelita yang sudah terluka parah, akan tetapi kalau Maharsi berani menerimanya tanpa mengelak mau pun menangkis, maka jurus puteri Si Raja Pedang ini masih cukup kuat untuk menamatkan riwayat Maharsi!

Tentu saja sebagai seorang berilmu tinggi, Maharsi dapat membedakan mana serangan ampuh dan mana yang bukan. la tahu bahwa selama itu, gadis puteri ketua Thai-san-pai ini masih amat berbahaya dan serangannya tak boleh dipandang ringan.

Dia mengeluarkan suara ketawa mengejek, kemudian kedua lengannya yang panjang itu menyambut, menangkap lengan Cui Sian dan dengan sentakan kuat dia melemparkan tubuh Cui Sian ke arah ayahnya! Karena nadi pergelangan tangannya sudah dipencet, Cui Sian kehabisan tenaga dan ia tentu akan terbanting pada tubuh ayahnya yang duduk bersila kalau saja orang tua sakti itu tidak mengulur tangan dan menyambutnya. Biar pun Tan Beng San sudah terluka hebat dan parah, namun menyambut tubuh puterinya ini masih merupakan hal yang mudah baginya.

Cui Sian memeluk ayahnya dan menangis, "Ayah... kita harus tolong Suheng..."

Beng San menggelengkan kepala. "Keadaanku tidak mengijinkan untuk menolong orang lain mau pun menolong diri sendiri, Sian-ji. Kun Hong hebat sekali tadi sehingga luka di tubuhku sangat parah. Biarlah, mari kita menonton orang-orang gagah perkasa tewas di tangan orang-orang pengecut rendah dan hina!" Ucapan ini keluar dengan suara nyaring dari mulutnya sehingga Bhok Hwesio menjadi merah sekali mukanya.

"Ketua Thai-san-pai, aku bukanlah pengecut yang suka membunuh lawan yang terluka. Akan tetapi untuk menebus dosamu dan untuk mencegah perjalananku tidak sia-sia, kau harus berlutut minta ampun kepada pinceng. Baru pinceng mau melepaskanmu untuk bertanding di lain hari," katanya marah.

"Hwesio sesat, kau mau bunuh boleh bunuh, apa artinya mati? Yang harus dikasihani adalah kau yang pada lahirnya merupakan seorang hwesio, namun di sebelah dalam kau bergelimang dengan kesesatan!"

"Pinceng tidak akan membunuhmu. Kalau kau tidak mau berlutut minta ampun, pinceng hanya akan mencabut kesaktianmu agar selanjutnya pinceng dapat hidup tenteram, tidak memikirkan soal balas dendam lagi," jawab Bhok Hwesio, nada suaranya seperti orang kesal.

Diam-diam Beng San dan puterinya terkejut bukan main. Mereka maklum apa artinya mencabut kesaktian. Berarti bahwa kakek gundul itu akan melumpuhkan kaki dan tangan Raja Pedang sehingga tak akan mungkin melakukan gerakan silat lagi. Perbuatan seperti itu malah lebih menyiksa dari pada membunuh. Lebih ringan dibunuh dari pada dijadikan seorang tapa daksa yang hidupnya tiada gunanya lagi.

“Ha-ha-ha-ha. Losuhu benar sekali! Mengapa aku tidak berpikir sampai di situ?" Maharsi tertawa bergelak mendengar ini. "Alangkah akan begitu menyenangkan melihat musuh besar menjadi seorang yang hidup tidak mati pun tidak. Orang buta, aku juga tidak akan membunuhmu, aku akan membikin kau beserta isterimu menjadi orang-orang tiada guna, ho-ho-ha-ha!" Sambil berkata demikian, Maharsi melangkah maju mendekati Hui Kauw yang masih setengah pingsan. Sekali meraih dia telah menyambar tubuh nyonya itu dan mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepalanya.

"Ho-ho-ho, Pendekar Buta, kau dengarkan baik-baik betapa aku akan membuat isterimu menjadi seorang tapadaksa selama hidupnya dan kau boleh menyesalkan perbuatanmu membunuh adik-adik seperguruanku!"

Muka Kun Hong pucat sekali. Telinganya dapat mengikuti setiap gerakan Maharsi dan tahulah dia bahwa keadaan isterinya tidak akan dapat ditolong lagi. Suaranya terdengar dalam dan menyeramkan ketika dia berkata, "Maharsi, kau benar-benar gagah perkasa, menghina seorang wanita yang tidak berdaya lagi. Kalau memang kau laki-laki gagah, jangan ganggu wanita dan kau boleh berbuat sesuka hatimu terhadap aku!"

"Ha-ha-ho-ho-ho… ngeri hatimu, Pendekar Buta? Ada bermacam cara membikin orang kehilangan kepandaiannya, di antaranya adalah dengan cara memutuskan otot-otot dan menghancurkan tulang-tulang. Isterimu cantik, biar sudah setengah tua masih cantik dan kau tidak bermata, tiada bedanya bukan? Biar kupatahkan tulang-tulangnya, tulang kaki tangan dan punggung. Ha-ha-ha... tentu menjadi bengkok-bengkok kaki tangannya, dan punggungnya menjadi bongkok! Pendekar Buta, sebentar lagi kau dapat mendengarkan patahnya tulang-tulang tubuh isterimu...!"

Kun Hong diam saja, hanya berdoa semoga isterinya tewas saja dalam penghinaan itu. Mati adalah jauh lebih ringan. Dia sendiri tidak dapat berbuat apa-apa. Keadaan sudah amat kritis dan agaknya tidak ada yang dapat menolong isteri Pendekar Buta dari mala petaka yang hebat itu.

Tiba-tiba terdengar suara orang berkata-kata. Akan tetapi tak ada yang mengerti artinya, karena suara itu berkata-kata dalam bahasa asing. Kecuali Maharsi yang agaknya dapat mengerti maknanya, karena tiba-tiba saja dia menurunkan tubuh Hui Kauw dan tidak jadi menggerakkan tangan memukul. Matanya terbelalak menoleh ke arah suara.

Betapa dia tidak akan kaget sekali mendengar kata-kata dalam bahasa Nepal, dan justru kata-kata itu merupakan sumpah di depan gurunya dahulu yang berbunyi, "Tidak akan mempergunakan kepandaian untuk melakukan kejahatan."

Alangkah herannya ketika dia melihat di situ muncul seorang pemuda berpakaian putih sederhana, yang memandangnya dengan sepasang mata penuh wibawa.

"Siapa kau? Apa yang kau katakan tadi?" Dia membentak, tubuh Hui Kauw masih di tangan kiri, dicengkeram pada baju di punggungnya.

"Maharsi, setelah gurumu tidak ada lagi, kau hidup tersesat. Guruku yang mulia, pendeta Bhewakala sudah dua kali memberi ampun padamu, mengingat bahwa kau masih murid sute-nya. Akan tetapi tak ada kejahatan yang bisa diampuni sampai tiga kali. Kalau kau melanjutkan perbuatanmu yang biadab ini, mempergunakan kepandaian untuk menghina wanita yang tak berdaya, aku akan mewakili guruku memberi hukuman kepadamu!"

Pemuda itu bukan lain adalah Yo Wan. la belum pernah berjumpa dengan Maharsi, akan tetapi melihat pendeta jangkung ini dia segera teringat akan cerita mendiang gurunya di Himalaya, mengenai pendeta Nepal yang murtad dan sesat, yaitu Maharsi yang masih terhitung murid keponakan gurunya itu.

la tiba di situ bersama Lee Si dan gadis ini serta merta lari dan memeluk Cui Sian sambil bertanya apa gerangan yang terjadi. Ketika dia melihat jenazah ayahnya menggeletak dalam lubang kuburan, Lee Si menjerit, menubruk dan roboh terguling, pingsan. Cui Sian segera memeluk dan memondongnya ke dekat ayahnya, menjauhi jenazah.

Ada pun Yo Wan ketika melihat subo-nya (ibu guru) berada dalam cengkeraman Maharsi dan terancam mala petaka hebat, segera dia mempergunakan kata-kata dalam bahasa Nepal untuk mengalihkan perhatian Maharsi dan kini menyerangnya dengan kata-kata.

Sementara itu, Maharsi yang tadinya sangat terkejut, kini tertawa mengejek, akan tetapi dia melepaskan tubuh Hui Kauw dan melempar nyonya itu ke arah Pendekar Buta.

"Huh, boleh kutunda sebentar permainan dengan Pendekar Buta. Kau ini bocah lancang sombong. Apakah kau bocah yang pernah kudengar diambil murid oleh supek (uwa guru) Bhewakala, seorang bocah yatim piatu dari timur?"

"Benar, Maharsi. Aku Yo Wan, murid Bhewakala."

"Dengan maksud apa engkau mencegah perbuatanku? Apakah kau hendak membela Pendekar Buta dan Raja Pedang?"

"Aku hanya akan membela yang benar. Aku mencegah perbuatanmu karena tidak ingin melihat kau melakukan perbuatan sesat, mengingat bahwa kau masih ada hubungan perguruan dengan aku."

"Ho-ho-ha-ha-ha, bocah masih ingusan berani memberi petunjuk kepadaku? Yo Wan, kau sombong seperti supek! Aku... benar dua kali aku mengalah terhadapnya, mengingat dia seorang tua. Akan tetapi terhadap kau aku tidak sudi mengalah. Hayo pergi sebelum timbul marahku dan menghajarmu!"

"Maharsi, kalau kau lanjutkan kesesatanmu, terpaksa aku yang akan memberi hukuman kepadamu, mewakili mendiang guruku."

Keduanya sudah saling menghampiri sehingga keadaan menjadi tegang. Pendekar Buta, Hui Kauw yang sudah sadar, Raja Pedang, Cui Sian, dan Lee Si merasa betapa jantung mereka berdebar penuh ketegangan.

Sekarang Yo Wan merupakan pemuda harapan mereka, satu-satunya orang yang dapat diharapkan menolong mereka keluar dari jurang mala petaka yang mengancam hebat. Akan tetapi diam-diam mereka sangsi, dapatkah pemuda itu melawan Maharsi yang amat lihai?

Dan di situ masih ada lagi Bhok Hwesio yang berdiri seperti patung, atau agaknya seperti sudah pulas sambil berdiri karena kedua matanya meram. Hanya Cui Sian seorang yang penuh percaya akan kesaktian Yo Wan. Diam-diam gadis ini merasa terharu.

Satu-satunya pria yang ia kagumi, yang ia harapkan, yang menimbulkan debar aneh di jantungnya, kini muncul di saat yang amat berbahaya untuk menolong dia sekeluarga. la menjadi girang sekali sungguh pun kegirangan itu bercampur dengan rasa khawatir juga.

"Ha-ha-ha, Yo Wan. Kalau sekarang gurumu masih hidup, ingin aku mencobanya dengan ilmuku yang baru. Akan tetapi karena dia sudah mampus, maka kaulah penggantinya. Ha-ha-ha, apa bila dulu aku sudah mempunyai ilmu ini, kiranya dia tidak akan mampu menundukkan aku. Kau terimalah ini!"

Tubuh yang miring-miring itu tiba-tiba bergerak dan tangannya yang panjang mengirim pukulan Pai-san-jiu sampai tiga kali berturut-turut. Hebat bukan main pukulan ini. Angin pukulannya berdesir menimbulkan suara bersiutan.

Memang kali ini Maharsi sengaja mengerahkan seluruh tenaganya untuk pamer. Juga dalam kegemasannya untuk segera merobohkan murid supek-nya yang mengganggu ini, sekaligus membalas sakit hatinya karena dahulu sampai dua kali dia dirobohkan dan ditekan oleh Bhewakala ketika dia mengganggu seorang gadis dusun, dan kedua kalinya ketika dia berusaha merampas sebuah kuil untuk tempat dia bertapa dari tangan pertapa lain.

Melihat hebatnya pukulan dengan tubuh miring ini, Yo Wan tidak berani memandang ringan. Dia cukup maklum betapa hebatnya ilmu pukulan dari Nepal yang disertai tenaga mukjijat dari latihan kekuatan batin.

Tetapi, tanpa menahan pukulan dengan tangkisan, dia juga tidak akan dapat mengukur sampai di mana kehebatan tenaga pukulan lawan itu. Oleh karena inilah, maka setelah menggunakan langkah ajaib dari Si-cap-it Sin-po untuk menghindarkan dua pukulan, dia lalu mengangkat tangan menangkis pukulan ketiga.

"Desssss!"

Dua telapak tangan bertemu dan Maharsi melanjutkan dengan cengkeraman, akan tetapi bagaikan belut licinnya, telapak tangan pemuda itu sudah terlepas pula, karena Yo Wan cepat menariknya ketika tubuhnya terpental dan terhuyung-huyung ke belakang.

"Heh-heh-heh, mana kau mampu menahan pukulanku, bocah?" Maharsi mengejek dan seperti seekor kepiting, tubuhnya yang miring itu merayap maju untuk menerjang lagi.

Karena yakin bahwa pemuda itu tidak akan sanggup menahan serangan-serangannya, Maharsi lalu melancarkan serangan beruntun dengan ilmu pukulan Pai-san-jiu yang amat lihai. Yo Wan tetap menghindarkan semua pukulan itu dengan Si-cap-it Sin-po, sehingga tampaknya dia selalu terhuyung-huyung dan terdesak hebat, sungguh pun tidak pernah ada pukulan yang menyentuh tubuhnya.

"Hebat pemuda itu...," Raja Pedang Tan Beng San memuji perlahan.

"Ayah, dia terdesak... bagaimana kalau dia kalah...?" Cui Sian berkata lirih, tapi bernada penuh kekhawatiran.

Mendengar suara anaknya ini, Beng San menoleh dan memandang aneh, kemudian dia tersenyum. "Sian-ji, kau kenal dia?"

Dalam keadaan terluka seperti itu, kedua pipi halus Cui Sian masih sempat memerah. Maklum bahwa ayahnya sedang menatapnya, dia tidak berani balas memandang, takut kalau-kalau sinar matanya akan bercerita sesuatu tentang isi hatinya.

"Aku pernah bertemu dengan dia, Ayah. Dia Yo Wan, murid Kwa-suheng..."

Raja Pedang mengangguk-angguk. "Pantas... pantas langkah-langkah itu terang adalah langkah ajaib yang dimiliki Kun Hong. Tapi dia tadi mengaku murid Bhewakala..."

"Ayah, pendeta itu begitu lihai, bagaimana kalau Yo-twako kalah...?" kembali Cui Sian menyatakan kekhawatirannya ketika ia memandang ke arah pertempuran.

"Dia tidak akan kalah," jawab Raja Pedang.

Sementara itu Lee Si sadar dari pingsannya dan gadis ini menangis tersedu-sedu. "Siapa membunuhnya, Bibi? Siapa? Kongkong (Kakek), ayah dibunuh orang, kenapa Kongkong diam saja?"

Raja Pedang Tan Beng San tak menjawab, hanya menghela nafas panjang. Pertanyaan cucunya ini mengingatkan dia akan kecerobohannya, menuduh Pendekar Buta sehingga dia dan Pendekar Buta terluka parah, sehingga tidak mampu menghadapi lawan-lawan tangguh.

Akan tetapi Cui Sian merangkul Lee Si dan berkata lirih, "Tenanglah Lee Si. Kami semua kini terluka parah sebagai akibat membela kematian ayahmu. Pembunuh ayahmu adalah Ang-hwa Nio-nio, dia sudah tewas. Akah tetapi masih ada Maharsi serta Bhok Hwesio yang lihai, sedangkan kami semua terluka. Mudah-mudahan Yo twako dapat menolong kita, kalau tidak..."

"Aku tidak terluka, biar aku membantunya!" Lee Si melompat bangun.

"Lee Si, duduklah! Jangan ganggu dia!" tiba-tiba Raja Pedang mencegah.

Gadis itu kecewa sekali, akan tetapi suara kakeknya demikian berwibawa sehingga dia tidak berani membantah, lalu menjatuhkan diri lagi duduk di atas rumput dekat Cui Sian yang memeluknya. Lee Si menangis lagi sambil melihat ke arah lubang di tanah, di mana menggeletak jenazah ayahnya.

Kemudian dia menengok ke sekeliling dan melihat sangat banyak mayat-mayat orang malang-melintang memenuhi tempat itu. Biar pun Lee Si puteri suami isteri berilmu tinggi dan ia sendiri adalah seorang pendekar wanita yang lihai, ia bergidik juga menyaksikan penglihatan yang sangat menyeramkan itu. Ada dua puluh lima sosok mayat yang rebah malang-melintang di tempat itu!

Sementara itu, Hui Kauw juga memegang lengan suaminya dan menekannya erat-erat ketika melihat munculnya Yo Wan tadi. Kun Hong tentu saja sudah mendengar suara muridnya, dan jantung Pendekar Buta ini pun berdebar tegang.

Tanpa disengaja, Hui Kauw menyatakan kekhawatiran hatinya yang serupa betul dengan kekhawatiran Cui Sian tadi. "Dia belum belajar apa-apa darimu, bagaimana kalau dia kalah...?"

Dan seperti juga Raja Pedang dalam menjawab puterinya, kini Pendekar Buta berkata kepada isterinya, "Tenanglah, dia tidak akan kalah."

Jawabannya mantap dan penuh keyakinan. Biar pun kedua matanya tak dapat melihat lagi, tetapi pendengaran Pendekar Buta yang sangat tajam dapat membedakan gerakan Yo Wan dan gerakan Maharsi, malah dia juga dapat menduga bahwa Yo Wan sengaja berlaku murah kepada murid keponakan Bhewakala itu.

Dugaan Pendekar Buta dan dugaan Raja Pedang memang tepat sekali. Pada waktu pertemuan tenaga tadi, Yo Wan sudah mengukur kekuatan lawan dan tahulah dia bahwa pukulan Pai-san-jiu dari Maharsi itu mengandung tenaga mendorong dan menekan dari hawa sakti Yang-kang.

Yo Wan maklum bahwa pukulan semacam itu sangat berbahaya bagi orang-orang yang menghadapi Maharsi dengan tenaga keras, akan tetapi sesungguhnya hilang bahayanya apa bila dihadapi dengan tenaga halus. Oleh karena itu dia sengaja memainkan langkah-langkah ajaib dari Si-cap-it Sin-po sehingga semua pukulan dahsyat itu hanya sekedar menyambar-nyambar dan menimbulkan angin pukulan yang berputar-putar seperti angin puyuh yang berpusingan.

"Maharsi, sekali lagi, atas nama mendiang suhu Bhewakala, aku memberi kesempatan kepadamu untuk insyaf dan sadar dari kesesatan, kembali ke jalan benar. Kembalilah ke barat dan jangan ikat dirimu dengan segala macam permusuhan yang tiada gunanya," terdengar Yo Wan berkata dengan sabar.

Maharsi tertawa sampai terkekeh-kekeh. "Ho-ho-ha-ha, bocah sombong! Kau betul-betul tak tahu diri. Kematian sudah di depan mata, sejak tadi kau tak mampu balas menyerang dan sekali menangkis kau hampir roboh, tapi kau masih berani membuka mulut besar? Hah-hah-hah. Sungguh tak tahu malu dan tak tahu diri..."

"Kau sendiri yang mencari penyakit. Kau yang memutuskan, nanti jangan sesalkan aku!" Yo Wan menutup kata-katanya ini dengan lecutan cambuknya yang mengeluarkan suara bergeletar, lantas disusul sinar cambuk Liong-kut-pian (Cambuk Tulang Naga) warisan Bhewakala.

Menyaksikan cambuk ini, kagetlah Maharsi. Cambuk inilah yang dahulu ketika berada di tangan Bhewakala telah menghajarnya sampai dua kali. Tetapi sekarang kepandaiannya sendiri sudah meningkat tinggi sedangkan pemegang cambuk hanya seorang pemuda! Tentu saja dia tidak menjadi jeri. Sambil mengeluarkan seruan aneh, pendeta jangkung itu menyerbu lagi, tangan kiri mencengkeram ke arah cambuk, tangan kanan mengirim pukulan Pai-san-jiu ke arah lambung Yo Wan.

Akan tetapi pemuda ini sudah siap. Kakinya melangkah mundur lalu ke kanan, sehingga serangan itu sekaligus dapat dia hindarkan, kemudian dengan langkah-langkah aneh seperti tadi, seperti orang terhuyung-huyung ke depan, dia maju lagi.

Maharsi gemas dan juga girang. Cepat dia memapaki tubuh Yo Wan dengan serangan kilat yang dia yakin akan mengenai sasaran. Akan tetapi kembali dia tertipu karena secara aneh dan tiba-tiba tubuh Yo Wan lenyap ketika pemuda itu menyelinap di antara kedua lengannya. Sebelum Maharsi sempat mengirim susulan serangannya, terdengar suara keras di pinggir telinganya.

"Tarrr…!"

Keringat dingin membasahi muka Maharsi. Ujung cambuk tadi meledak tepat di pinggir telinganya, dekat sekali. Kalau tadi mengenai jalan darah atau kepalanya, agaknya dia sudah akan roboh. Rasa penasaran dan malu membuatnya marah dan dengan geraman hebat dia lantas menubruk maju, mengirim pukulan Pai-san-jiu dengan hebat. Pukulan ini merupakan pukulan jarak jauh yang amat lihai, disusul dengan cengkeraman yang dapat menghancur lumatkan batu karang.

Namun sekali lagi dia menubruk dan memukul angin, karena Yo Wan sudah menyelinap pergi, dan sekali dia menggerakkan tangan kanan, cambuknya melecut bagaikan seekor ular hidup, sekali ini diam-diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun juga, akan tetapi tahu-tahu ujung cambuknya sudah membelit pergelangan tangan kanan Maharsi!

Pendeta itu terkejut sekali, cepat-cepat mengerahkan tenaganya untuk merenggut lepas tangannya yang terbelit cambuk. Namun sia-sia belaka, karena pada saat itu, dia telah dibetot oleh tenaga luar biasa melalui cambuk. Betapa pun dia mempertahankan dirinya dengan mengerahkan tenaga pada sepasang kakinya, Maharsi tidak mampu menahan dan dia terhuyung ke depan.

Tiba-tiba cambuk terlepas dari tangannya. Hampir saja Maharsi roboh terguling apa bila dia tidak cepat melompat ke samping untuk mematahkan tenaga dorongan tadi.

"Maharsi, sekali lagi kuberi kesempatan. Pulanglah ke barat!" Yo Wan berkata lagi nada suaranya kereng.

Maharsi termenung, ragu-ragu. Baru saja dia mendapat kenyataan bahwa pemuda murid uwa gurunya itu benar-benar lihai bukan main. Permainan cambuknya tidak saja sudah menyamai Bhewakala, malah lebih aneh dan hebat karena gerakan langkah kaki pemuda itu benar-benar membingungkannya.

Gerakan cambuk Bhewakala masih dapat dikenalnya sedikit, akan tetapi langkah kaki itu benar-benar amat sukar dia ikuti sehingga dia tidak dapat menduga dari mana datangnya serangan cambuk. Dia menjadi serba salah. Jelas bahwa pemuda itu masih memandang hubungan perguruan dan memberi kesempatan kepadanya.

Akan tetapi rasanya sangat memalukan apa bila harus mengaku kalah terhadap seorang pemuda. Tetapi kalau terus melawan, dia pun agak jeri, khawatir kalau-kalau sekali lagi dia akan menderita kekalahan, kali ini malah dari murid uwa gurunya, Bhewakala.

"Sungguh memalukan menjadi seorang pengecut..!" tiba-tiba terdengar suara.

Yo Wan menengok dan mencari-cari dengan pandang matanya, akan tetapi dia hanya melihat hwesio tua dengan mata meram itu berdiri agak jauh. la menduga bahwa hwesio tua itu yang berbicara, akan tetapi hwesio itu tidak menggerakkan mulut dan dia tidak mengenal siapa adanya hwesio tinggi besar itu.

Akan tetapi bagi Maharsi, suara ini mengembalikan keberaniannya. la tadi lupa bahwa di situ masih ada Bhok Hwesio yang kesaktiannya sudah dia ketahui. Dengan keberadaan hwesio itu di situ, takut apakah?

"Bocah sombong, Maharsi bukanlah seorang pengecut!"

Sesudah membentak keras, pendeta jangkung ini melompat ke depan sambil mengirim serangan yang lebih dahsyat dari pada tadi. Yo Wan menjadi gemas bukan main. Ia lalu mengerahkan tenaganya, menyalurkan sinkang pada sepasang lengan lalu sengaja dia menerima serangan itu dengan dorongan kedua lengan.

Sekarang sepasang lengan bertemu telapak tangannya dan bagaikan diterbangkan angin puyuh, tubuh pendeta itu segera terjengkang ke belakang dan roboh. Kiranya kali ini dia menggunakan jurus rahasia Pek-in-ci-tiam (Awan Putih Keluarkan Kilat), yaitu jurus yang paling ampuh dari empat puluh delapan jurus Liong-thouw-kun yang dahulu dia pelajari dari mendiang Sin-eng-cu.

Pada waktu dia masih kanak-kanak dahulu, dia sudah mewarisi jurus-jurus yang khusus dipergunakan oleh Sin-eng-cu untuk menghadapi Bhewakala, juga dari pihak Bhewakala dia mewarisi jurus-jurus sebaliknya. Oleh karena itu, dia sudah hafal betul akan ilmu silat dari barat dan tahu pula akan kelemahan-kelemahannya.

Demikian pula dia dapat segera mengetahui kelemahan Ilmu Pukulan Pat-san-jiu dari Maharsi. Maka untuk menghadapinya, dia menggunakan Pek-in-ci-tiam yang sekaligus sudah berhasil baik sekali karena Maharsi yang terbanting roboh itu tidak dapat bangun lagi. Tenaga Yang-kang telah membalik ke dalam tubuh pendeta itu sendiri, merusak isi dada dan memecahkan jantung sehingga nyawanya melayang.

Yo Wan menyesal sekali melihat Maharsi tewas. Tetapi hanya sebentar dia mengerutkan kening. Pendeta itu sudah mencari kematian sendiri. Sudah beberapa kali dia memberi kesempatan tadi. Dengan cepat dia lalu menghampiri Kun Hong dan berlutut di depan Pendekar Buta dan isterinya.

"Suhu dan Subo, maafkan teecu datang terlambat sehingga Ji-wi (kalian) mengalami luka..."

Untuk sejenak Kun Hong meraba kepala Yo Wan dengan terharu, kemudian dia berkata, "Bangkitlah dan kau wakili Thai-san-ciangbunjin (ketua Thai-san-pai) yang juga terluka parah untuk menghadapi Bhok Hwesio. Hati-hati, dia adalah tokoh Siauw-lim-pai, lihai sekali. Jangan lawan dengan keras, gunakan Si-cap-it Sin-po, hindarkan adu tenaga dan biarkan dia lelah karena usia tuanya."

Yo Wan kaget bukan main. Kiranya orang tua gagah perkasa yang duduk bersila di sana dengan muka pucat tanda luka dalam itu adalah Si Raja Pedang atau ketua Thai-san-pai yang sangat terkenal! Dan jago tua yang luka itu adalah ayah Cui Sian! Mengapa Raja Pedang bisa terluka? Dan kenapa Pendekar Buta, gurunya yang sakti itu juga terluka? Juga subo-nya, dan agaknya Cui Sian juga, semua terluka?

Tiada waktu untuk bicara tentang ini, karena dia mendengar hwesio itu bertanya kepada Raja Pedang dengan nada mengejek sekali.

"Tan Beng San, kau beserta kawan-kawanmu berhasil menghabiskan musuh-musuhmu. Bagus sekali! Akan tetapi pinceng tetap tak sudi melawan orang luka. Sekali lagi pinceng memberi kesempatan kepadamu. Kau berlutut dan mengangguk tiga kali minta maaf dan pinceng akan memberi waktu satu bulan kepadamu untuk memulihkan kesehatan dan tenaga sebelum pinceng datang mengambil nyawamu di Thai-san. Kalau tidak, terpaksa pinceng akan membuat kau menjadi seorang bercacad seumur hidup."

"Bhok Hwesio, mengapa mesti banyak bicara lagi? Sekali lagi dengarlah, dalam keadaan terluka begini aku tidak mampu melayani bertanding. Akan tetapi bukan berarti aku kalah atau takut padamu. Mau bunuh boleh bunuh, tetapi jangan harap aku sudi minta maaf kepadamu. Nah, aku tidak mau bicara lagi!"

Bhok Hwesio melebarkan matanya dan keningnya berkerut. "Hemmm, manusia keras kepala, kau mencari sengsara sendiri" Hwesio tua itu melangkah maju, cahaya matanya membayangkan kemarahan.

Yo Wan melompat cepat dan tubuhnya melayang ke depan Bhok Hwesio. "Losuhu, tidak layak seorang hwesio berhati kejam, dan sungguh memalukan bagi seorang sakti kalau menyerang lawan yang terluka parah."

Bhok Hwesio berhenti melangkah, lalu tertawa mengejek. "Raja Pedang, apa kau hendak mewakilkan bocah ingusan ini untuk melawanku? Kau tahu, dia bukan lawanku!"

Yo Wan cukup maklum bahwa tokoh-tokoh sakti semacam Raja Pedang dan Pendekar Buta, tak mungkin suka mengharapkan bantuan orang lain untuk mewakili mereka dalam suatu pertandingan. Bagi seorang pendekar besar, hal seperti itu merupakan pantangan dan dipandang hina. Dia dapat menduga bahwa pertanyaan seperti yang telah diajukan oleh Bhok Hwesio itu tentu akan disangkal oleh Raja Pedang.

Oleh karena inilah dia sengaja cepat-cepat mendahului Raja Pedang dan menjawab, suaranya lantang, "Hwesio tua, para Locianpwe seperti Raja Pedang dan Pendekar Buta tidak memerlukan wakil dalam pertandingan. Kalau beliau-beliau itu tidak dalam keadaan terluka parah, tentu sejak tadi sudah melayani kesombonganmu. Aku maju bukan untuk mewakili mereka, melainkan untuk mencegah kau melakukan perbuatan pengecut dan mengganggu mereka yang terluka."

"Omitohud...!" Bhok Hwesio mengeluarkan pujian. "Dunia telah terbalik, anak kecil berani menantang pinceng! Sungguh memalukan. Hehh, Raja Pedang, pinceng juga tidak sudi melayani segala bocah, kecuali kalau kau menganggap dia adalah wakilmu!" Memang tidak mengherankan kalau Bhok Hwesio merasa sungkan melawan Yo Wan.

Bhok Hwesio adalah seorang tokoh besar di dunia persilatan, dia menduduki tingkat teratas di Siauw-lim-pai, dan seorang dengan kedudukan seperti dia tentu saja tidak sudi melayani lawan yang tidak setingkat kedudukannya. Jika dia mau melayani orang-orang muda seperti Yo Wan, apa lagi di depan tokoh-tokoh seperti Pendekar Buta dan Raja Pedang, sama artinya dengan merendahkan diri dan menjadikan dirinya sebagai bahan tertawaan belaka. Kecuali bila orang muda itu memang diangkat oleh lawannya menjadi wakil, hal itu tentu saja lain lagi sifatnya.

Raja Pedang maklum akan hal ini. Ia pun tidak begitu rendah untuk mewakilkan seorang muda menghadapi tokoh seperti Bhok Hwesio, kecuali jika dia benar-benar yakin bahwa orang muda itu berpihak kepadanya dan memiliki kepandaian yang cukup. Biar pun Yo Wan adalah murid Pendekar Buta, akan tetapi dia murid Bhewakala pula, dan dia tidak mengenal pemuda itu. Selagi dia ragu-ragu, terdengar Kun Hong berkata,

"Locianpwe, Yo Wan sama dengan saya sendiri, saya harap Locianpwe sudi mengijinkan dia mewakili Locianpwe."

Raja Pedang menarik nafas panjang, masih meragu.

"Ayah, biarlah Yo-twako mewakili Ayah. Dia cukup berharga untuk menjadi wakil Ayah," kata Cui Sian perlahan.

Kata-kata puterinya ini membuat wajah Beng San berseri-seri. Akhirnya! Hatinya menjadi terharu. Akhirnya gadisnya yang selalu menolak pinangan dan tidak mau dijodohkan itu kini mendapatkan pilihan hati! Sebagai orang yang berpengalaman matang, ucapan Cui Sian tadi saja cukup baginya untuk menjenguk isi hati anaknya.

"Yo Wan, ke sinilah sebentar," ujarnya.

Yo Wan cepat menghampiri dan berlutut di depan Raja Pedang. "Maaf, Locianpwe, saya tidak berani lancang mewakili Locianpwe, akan tetapi..."

Raja Pedang mengangguk-angguk. "Aku sudah menyaksikan gerakan-gerakanmu tadi. Kau cukup baik, akan tetapi tidak cukup untuk menghadapi Bhok Hwesio. Apakah kau tahu bahwa dengan mewakili aku menghadapinya, keselamatan nyawamu bisa terancam bahaya?"

"Locianpwe, dalam membela kebenaran, berkorban nyawa merupakan hal yang mulia."

Raja Pedang tersenyum gembira. Ucapan ini saja cukup membuktikan bagaimana mutu pemuda yang menjadi pilihan hati Cui Sian, dan dia puas.

"Baiklah, kau hadapi dia, akan tetapi tenang dan waspadalah, dia amat lihai dan kuat. Seberapa dapat kau ulur waktu pertempuran, mengandalkan nafas dan keuletan. Mudah-mudahan aku atau Kun Hong sudah dapat memulihkan tenaga selama kau menghadapi dia."

"Saya mengerti, Locianpwe."

"He, Bhok Hwesio. Kuanggap bocah ini cukup berharga, bahkan terlalu berharga untuk menghadapimu dan menjadi wakilku. Bhok Hwesio, aku menerima tantanganmu dan aku mengajukan Yo Wan, kalau dia kalah olehmu, kau boleh melakukan apa saja terhadap diriku dan aku akan menurut!"

Bhok Hwesio tertawa masam. "Sialan memang, harus melawan seorang bocah! Akan tetapi karena kau mengangkatnya sebagai wakil, apa boleh buat. Hee, bocah sombong, mari!"

Yo Wan memberi hormat kepada Raja Pedang dan bangkit sambil mengerling ke arah Cui Sian yang memandangnya dengan air mata berlinang.

"Yo-twako... kau hati-hatilah..."

Yo Wan tersenyum dan mengangguk. Mulutnya tidak mengeluarkan suara, akan tetapi pandang matanya jelas menghibur dan minta supaya gadis itu tidak khawatir.

Maklum akan kehebatan lawan, hingga Pendekar Buta dan Raja Pedang sendiri memberi peringatan padanya, Yo Wan tak berani memandang rendah. Sambil menghampiri Bhok Hwesio dia mengeluarkan cambuk Liong-kut-pian.

Cambuk ini peninggalan Bhewakala. Biar pun disebut Cambuk Tulang Naga, tentu saja bukan terbuat dari tulang naga, melainkan dari kulit binatang hutan yang hanya terdapat di Pegunungan Himalaya.

Cambuk ini lemas, tapi amat ulet dan berani menghadapi senjata tajam yang bagaimana pun juga. Oleh karena sifatnya yang lemas inilah maka bagi seorang ahli silat yang tinggi tingkatnya, senjata ini dapat digunakan secara tepat sebab bisa menampung penyaluran tenaga sakti melalui tangan yang memegangnya.

Cambuk Liong-kut-pian dipegang oleh Yo Wan dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya mengeluarkan pedangnya. Bukan pedang Pek-giok-kiam pemberian Hui Kauw dahulu, tetapi pedang Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Wangi) yang dibuat dari semacam kayu cendana yang tumbuh di Himalaya. Dengan sepasang senjata di tangannya ini, Yo Wan seakan-akan menjelma menjadi dua orang tokoh sakti, yaitu Sin-eng-cu (Bayangan Garuda) di tangan kanan dan Bhewakala di tangan kiri!

Yo Wan adalah seorang yang jujur dan polos, sederhana dan dia belum banyak memiliki pengalaman bertempur, maka dia pun berkata, "Hwesio tua, harap kau suka keluarkan senjatamu."

Kalau saja dia tidak demikian jujur, tentu dia tidak akan mengeluarkan kata-kata ini, tidak akan merasa sungkan berhadapan dengan lawan bertangan kosong, karena lawannya ini bukanlah tokoh sembarangan.

Kata-kata yang jujur dan berdasarkan rasa sungkan melawan orang bertangan kosong ini diterima oleh Bhok Hwesio sebagai penghinaan. la merasa dipandang rendah!

"Bocah sombong, melawan cacing macam engkau saja, mana perlu aku menggunakan senjata? Terimalah ini!"

Sepasang lengan hwesio tua itu bergerak dan dari kanan kiri lantas menyambar angin pukulan dahsyat mendahului ujung lengan baju yang lebar. Yo Wan terkejut sekali ketika tiba-tiba diserang oleh angin pukulan dari dua jurusan, akan tetapi melihat betapa kedua lengan kakek itu bergerak lambat, dia melihat kesempatan baik sekali.

Diam-diam dia heran sekali, mengapa kakek itu memandangnya terlalu ringan sehingga melancarkan penyerangan begini bodoh, serangan yang tidak berbahaya, dan sebaliknya malah membuka diri sendiri ini menjadi sasaran.

Cepat dia menggerakkan kedua tangannya. Cambuk di tangan kirinya melecut ke arah urat nadi tangan kanan lawannya, sedangkan Pedang Kayu Wangi di tangan kanannya memapaki lengan kiri lawan dengan tusukan ke arah jalan darah dekat siku. Semacam tangkisan yang sekaligus merupakan serangan mematikan, sebab bila kedua senjatanya itu mengenai sasaran, kedua lengan kakek itu sedikitnya akan lumpuh untuk sementara!

Akan tetapi, dapat dibayangkan betapa kagetnya hati Yo Wan dan sekaligus dia melihat kenyataan akan tepatnya peringatan Pendekar Buta dan Raja Pedang kepadanya tadi, ketika tiba-tiba cambuk dan pedang kayunya terpental oleh hawa pukulan sakti, kembali menghantam dirinya sendiri! Demikian kuatnya hawa pukulan sakti yang menyambar dari kedua lengan kakek itu sehingga selain kedua senjatanya terpental kembali, juga angin pukulan itu masih dengan dahsyatnya menghantam dirinya.

"Lihai...!!" Yo Wan berseru keras.

Segera dia melempar diri ke belakang sampai punggungnya hampir menyentuh tanah, kemudian dia membalik dan cepat-cepat menggunakan langkah ajaib untuk keluar dari pengurungan hawa pukulan yang dahsyat tadi. Dengan terhuyung-huyung dia melangkah ke sana ke mari, akhirnya berhasillah dia keluar dari kurungan hawa pukulan!

Hwesio tua itu tersenyum mengejek, hidungnya mendengus seperti kerbau, kemudian lengannya kembali bergerak-gerak mengirim pukulan. Gerakan kedua tangannya lambat-lambat saja, jari tangannya terbuka dan dari telapak tangan itulah keluar hawa pukulan yang dahsyat tadi, sedangkan ujung lengan bajunya berkibar-kibar merupakan sepasang senjata kuat.

Sepasang ujung lengan baju inilah yang tadi menangkis serta membentur cambuk dan pedang, membuat kedua senjata itu terpental kembali. Dari peristiwa ini saja sudah dapat dibuktikan bahwa tenaga sinkang kakek Siauw-lim-pai ini luar biasa hebatnya.

Setelah mengalami gebrakan pertama yang hampir saja mencelakainya, wajah Yo Wan sebentar pucat sebentar merah. Dia merasa malu sekali. Tadinya dia mengira kakek itu terlalu memandang rendah padanya, kiranya perkiraan itu malah sebaliknya. Dialah yang tadi terlalu memandang rendah, menganggap gaya gerakan kakek itu sembarangan dan ceroboh.

Sekarang dia dapat melihat dengan jelas dan dapat menduga bahwa agaknya inilah Ilmu Silat Lo-han-kun dari Siauw-lim-pai, yang dimainkan oleh seorang tokoh tingkat tertinggi sehingga bukan merupakan ilmu pukulan biasa, melainkan lebih mirip ilmu gaib karena biar pun digerakkan begitu lambat seperti gerakan kakek-kakek lemah tenaga, namun di dalamnya mengandung hawa pukulan yang bukan main kuatnya.

Sekaligus terbukalah mata Yo Wan dan diam-diam dia harus mengakui kewaspadaan Pendekar Buta dan Raja Pedang yang tadi memesan kepadanya agar dia tidak mengadu tenaga, namun lebih baik menghadapi kakek tua renta yang sakti ini dengan permainan kucing-kucingan, berusaha menghabiskan nafas kakek renta itu sambil menanti pulihnya tenaga Raja Pedang atau Pendekar Buta.

Setelah kini yakin bahwa kakek yang dihadapinya ini benar-benar luar biasa lihainya, dia tidak berani berlaku ceroboh lagi. Begitu kakek ini menyerangnya dengan pukulan lambat yang mendatangkan angin keras, dia cepat mengelak dengan langkah-langkah ajaibnya. Akan tetapi Yo Wan tidak mau mengalah begitu saja, karena biar pun dia maklum akan kelihaian lawan, dia merasa penasaran kalau tidak membalas.

Pedang kayunya lalu menyambar-nyambar, mainkan Liong-thouw-kun yang empat puluh delapan jurus banyaknya, sedangkan cambuk Liong-kut-pian di tangan kirinya melecut dan melingkar-lingkar saat ia mainkan Ngo-sin Hoan-kun (Lima Lingkaran Sakti), berubah menjadi segulung awan menghitam yang melingkar-lingkar dan sambung-menyambung, sedangkan pedang kayunya kadang-kadang menyambar keluar seperti kilat menyambar dari dalam awan hitam!

"Omitohud... bocah ini berilmu iblis...!" Bhok Hwesio berseru memuji, akan tetapi dengan kata-kata mengejek.

Diam-diam dia merasa kagum bukan main dan sama sekali tidak mengira bahwa pemuda itu memiliki ilmu yang demikian aneh dan dahsyatnya. Selain ini, juga dia merasa amat penasaran karena tidak seperti biasanya, pukulan-pukulannya yang penuh dengan hawa sinkang itu kali ini tak pernah mengenai sasaran…..


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner