JAKA LOLA : JILID-26


Pada suatu hari sampailah dia ke kota Leng-si-bun, sebuah kota kecil di sebelah timur Cin-an, di lembah Sungai Huang-ho. Kota raja baru berada di sebelah utara daerah ini, tidak begitu jauh lagi, paling jauh dua ratus li. Laut timur, yaitu Lautan Po-hai, tidak jauh pula dari tempat ini, hanya, terpisah seratus li kurang lebih.

Ramai di kota Leng-si-bun ini, karena tempat ini merupakan pelabuhan bagi perahu-perahu yang mengangkut barang hasil bumi yang hendak dilayarkan ke laut timur. Yo Wan memasuki kota Leng-si-bun karena dua hari yang lalu dia mendengar keterangan bahwa pemuda lengan buntung dan gadis cantik yang dicarinya menuju ke kota ini.

Hari telah siang ketika dia memasuki kota itu. Dimasukinya sebuah rumah makan yang cukup besar, yang berada di tengah-tengah kota. Ia merasa amat lelah dan juga kecewa karena di kota ini pun dia tidak melihat Swan Bu, biar pun dia tadi sudah berputar-putar di sepanjang jalan yang panas berdebu.

Rumah makan itu mempunyai sepuluh buah meja, meja-meja bundar lebar dan dikelilingi delapan buah bangku tiap meja. Akan tetapi pada saat itu hanya ada tiga buah meja saja yang dihadapi tamu. Sebuah meja di sudut luar dikelilingi enam orang lelaki yang minum arak sambil makan mie dan bersendau-gurau dengan suara parau. Agaknya mereka itu adalah juragan-juragan perahu bersama pedagang-pedagang.

Yo Wan mengerutkan keningnya ketika mendengar percakapan yang mereka lakukan dengan suara keras itu, karena percakapan ini kotor dan cabul. Mereka membicarakan pengalaman mereka dengan perempuan-perempuan lacur di kota itu sambil percakapan mereka diseling tertawa terkekeh-kekeh.

Tentu saja Yo Wan tidak akan mempedulikan mereka kalau saja dia tidak mengerling ke arah meja kedua yang dihadapi tamu. Di meja sebelah dalam, duduk dua orang muda, seorang gadis dan seorang laki-laki muda.

Tadi pada saat dia lewat di depan restoran ini, hatinya berdebar tegang karena mengira bahwa mereka adalah Swan Bu dan Siu Bi. Akan tetapi setelah dia masuk, dia mendapat kenyataan bahwa sepasang orang muda itu bukanlah orang-orang yang dia cari.

Si pemuda mengenakan jubah biru muda dengan ikat pinggang dan ikat kepala berwarna kuning. Pemuda itu berwajah tampan dan gagah, sikapnya tenang dan umurnya paling banyak dua puluh dua tahun.

Si gadis berpakaian serba merah muda, cantik jelita, antara dua puluh tahun usianya, di punggungnya tampak menonjol gagang pedang. Gadis ini kelihatan kereng dan angkuh. Keduanya sedang makan mie dan masakan daging sambil minum arak, sama sekali tidak bicara mau pun memperhatikan keadaan sekelilingnya.

Akan tetapi karena Yo Wan duduk menghadap ke arah gadis yang kebetulan juga duduk menghadap ke arahnya, dia dapat mencuri pandang dan melihat betapa sepasang mata gadis itu menyambar-nyambar dari sudut mata, mengerling dengan ketajaman bagaikan gunting. Namun sikapnya tenang sekali.

Dengan hadirnya seorang gadis di situlah yang membuat Yo Wan merasa mendongkol dan tidak senang hatinya mendengar kelakar enam orang laki-laki kasar itu, yang sama sekali tidak tahu sopan, bicara kotor dan cabul di dekat seorang wanita muda. Hati Yo Wan semakin mendongkol ketika melihat betapa orang-orang kasar itu kadang-kadang menengok ke arah si gadis baju merah sambil menyeringai memperlihatkan gigi kuning.

Akan tetapi diam-diam dia kagum melihat betapa gadis itu tetap tenang dan sama sekali tidak memperlihatkan perasaan apa-apa. Juga si pemuda tetap makan dengan tenang-tenang saja.

Salah seorang di antara mereka, yang bermuka lonjong dan pipinya sebelah kiri cacat, agaknya sudah setengah mabuk. Dengan kepala bergoyang-goyang dia berkata kepada laki-laki pendek muka kuning yang agaknya menjadi pemimpin rombongan itu.

"He-heh-heh, Pui-twako, yang kau dapatkan hanya kembang-kembang mawar kota yang sudah layu, yang tiada durinya sama sekali. Itu sih membosankan! Lain lagi kalau bisa memperoleh mawar hutan yang liar, yang harumnya semerbak asli, yang berduri runcing, yang segar..."

"Ha-ha-ha-ha!" sambung seorang yang matanya sipit hampir meram dengan ketawanya yang kasar. "Pui-twako tentu saja berhati-hati, apa lagi menghadapi mawar merah yang selain berduri, juga dijaga siang malam oleh tukang kebunnya! Jangan-jangan tangan akan tertusuk pedang dan kepala akan dikemplang tukang kebun! Ha-ha-ha!" Si mata sipit mengerling ke arah meja muda-muda itu.

"Ahh, mana Pui-twako takut akan semua itu? Pedang itu hanya untuk berlagak supaya harganya naik menjadi mahal, apa lagi tukang kebunnya kecil kurus, bisa berbuat apa terhadap Pui-twako? Tak percuma Pui-twako dijuluki Tiat-houw (Macan Besi), siapa yang tidak mengenal Harimau dari Huang-ho?"

Orang yang disebut Pui-twako dan berjuluk Harimau Besi itu hanya tersenyum-senyum dan mengerling ke arah meja muda-mudi itu. Dia seorang laki-laki berusia kurang lebih empat puluh tahun, tubuhnya pendek tetapi tegap dan kelihatan kuat. Sikapnya seorang jagoan asli, tersenyum-senyum mengejek dengan pandangan mata acuh tak acuh dan memandang rendah segala di sekelilingnya. Mukanya yang kekuningan itu kini menjadi merah oleh pengaruh arak dan jelas sekali dia menjadi bangga mendengar pujian-pujian teman-temannya.

"Aku bukan termasuk laki-laki rendah yang suka mengganggu wanita baik-baik," katanya dengan suara lantang, agaknya sengaja dikeluarkan agar supaya didengar oleh gadis di seberang itu.

Yo Wan mengenal orang macam ini. Seorang dengan hati palsu dan mulut pandai bicara, pandai berlagak dan pandai pura-pura menjadi seorang gagah dan seorang yang baik hati. Akan tetapi ucapan ini dikeluarkan berlawanan dengan isi hatinya, hanya dengan maksud agar supaya dia kelihatan ‘berharga’ dalam pandang mata wanita itu. Yo Wan tahu betul akan hal ini, karena suara dan pandang mata orang she Pui itu berlawanan, seperti bumi dengan langit.

"Ahhh, Pui-twako. Siapa yang tidak tahu bahwa engkau adalah seorang gagah perkasa? Mengganggu sama sekali beda dengan mengajak berkenalan. Gagah sama gagah, dari pada berkenalan dengan segala macam cacing busuk yang lemah, lebih baik berkenalan dengan Harimau Besi, sedikit banyak bisa ketularan kegagahannya!" kata si muka cacat sambil mengerling ke arah meja muda-mudi itu penuh arti.

Yo Wan makin mendongkol. Alangkah kurang ajar dan beraninya enam orang itu. Terang bahwa si pemuda yang diejek dan dihina, karena memang sikap dan pakaian pemuda itu seperti seorang pelajar yang pada masa itu sering kali diejek dengan sebutan kutu buku atau cacing buku.

Akan tetapi muda-mudi yang dijadikan bahan percakapan atau bahan ejekan itu masih saja makan dengan lambat dan tenang, sama sekali tak menghiraukan mereka berenam. Hanya terdengar gadis itu berkata, suaranya halus dan perlahan, seakan-akan berbicara pada diri sendiri, tanpa melirik ke arah enam orang itu.

"Hemmm, banyak lalat-lalat kotor menjemukan di sini. Sayang... meski bukan gangguan besar, sedikitnya mengurangi selera makan..."

"Biarlah, Sumoi... biasanya dekat sungai besar memang banyak lalat kotor. Tapi mereka tidak ada artinya...," kata pemuda itu menghibur.

Yo Wan hampir tak dapat menahan ketawanya. Bagus, pikirnya. Kiranya mereka adalah kakak beradik seperguruan, dan tepat sekali sindiran mereka itu yang diam-diam memaki enam orang kasar itu sebagai lalat-lalat hijau yang kotor.

Tentu saja enam orang itu mengerti pula akan sindirian ini. Si pipi cacat bangkit berdiri menepuk meja. "Pui-twako, masa diam saja dihina orang? Kalau suheng-nya kutu buku, tentulah pedang sumoi-nya itu hanya hiasan belaka, untuk menakut-nakuti orang supaya dianggap pendekar-pendekar jempolan. Hayo minta maaf pada..."

"Sssttttt, Gong-lote, jangan mencari gara-gara di sini!" tiba-tiba si Harimau Besi berkata tajam dan si pipi cacat itu segera duduk kembali.

"Pui-twako, orang-orang bilang singa-singaan batu di restoran ini beratnya lebih dari tiga ratus kati dan tidak pernah ada yang kuat mengangkat. Dasar orang-orang lemah, siapa bilang tidak ada yang kuat angkat? Harap Pui-twako suka membantah kabar itu dengan membuktikan kepada mereka!"

Si Harimau Besi hanya tersenyum-senyum saja. "Ahh, kalian ini ada-ada saja," katanya ketika teman-teman yang lain juga membujuknya.

"Hee, pelayan-pelayan, ke sinilah!" teriak si mata sipit.

Lima orang pelayan berlarian menghampiri mereka sambil tertawa-tawa. Agaknya enam orang itu memang langganan mereka.

"Apakah betul selama ini tidak ada orang yang mampu mengangkut singa-singaan batu di depan itu?" si sipit bertanya sambil menuding ke arah sebuah singa-singaan batu yang terukir kasar dan diletakkan di depan pintu restoran sebagai hiasan.

"Betul, Loya. Singa itu berat sekali. Empat orang baru sanggup mengangkatnya, itu pun harus orang-orang kuat dan menggunakan bantuan tambang," jawab seorang pelayan yang kurus.

"Ahh, dasar orang-orang tiada guna. Lihat, Pui-twako akan mengangkatnya seorang diri tanpa bantuan siapa pun juga!" kata si mata sipit sambil memandang kepada orang she Pui.

"Ahhh, harap Loya jangan main-main! Singa itu beratnya lebih dari tiga ratus kati! Jangan kata mengangkat, jika hanya sendiri, menggeser saja tak ada yang mampu melakukan!"

Si mata sipit melotot, akan tetapi tetap sipit, karena memang lubang pelupuk matanya sempit. "Menggeser? Huh, dasar kalian ini gentong-gentong kosong. Lihat!"

la melangkah lebar menghampiri singa-singaan batu. Dua lengannya memegang kepala singa-singaan itu dan dia pun berseru,

"Hiyaaahhh!"

la berhasil menggeser singa-singaan itu beberapa dim jauhnya!

"Wah, Loya kuat sekali!" lima orang pelayan itu memuji dan memandang kagum.

Si mata sipit mengangkat dadanya yang tipis dan yang bersengal-sengal.

"Ini belum!" Dia menyombong. "Tapi Pui-twako yang di sana itu, dia mampu mengangkat singa-singaan ini. Kalian tidak tahu siapa itu Tiat-houw Pui-enghiong, Harimau Besi dari Huang-ho! Aku sendiri, tenagaku tidak sebesar Pui-twako, akan tetapi sepasang golokku ini siapa yang berani melawan Huang-ho Siang-to (Sepasang Golok Huang-ho), inilah dia orangnya! Dan saudaraku di sana itu…" Ia menudingkan telunjuknya ke arah pipi cacat, "siapa tidak pernah mendengar nama Huang-ho Sin-piauw (Piauw Sakti dari Huang-ho)? Kami bertiga sudah malang melintang di sepanjang Huang-ho, akan tetapi baru sekarang berkesempatan memperkenalkan diri di Leng-si-bun."

Mendengar ucapan ini, lima orang pelayan itu segera menjura dengan muka berseri-seri, “Kiranya Sam-wi (Tuan Bertiga) tiga orang gagah juragan-juragan perahu yang terkenal itu? Maaf, kami tidak tahu dan kurang hormat. He, teman-teman, lekas sediakan arak wangi, untuk menghormati tamu-tamu besar!"

Melihat sikap para pelayan yang sangat menghormat terhadap mereka, diam-diam Yo Wan memperhatikan. Kiranya mereka itu adalah tiga orang juragan perahu yang terkenal juga. Dan agaknya yang tiga lagi adalah pedagang-pedagang langganan mereka.

"Pui-twako, sesudah kita memperkenalkan diri, harap suka turun tangan sedikit supaya cacing-cacing buku tidak tertutup matanya!" kata pula Huang-ho Siang-to yang bermata sipit.

"Bhe-lote, apa sih artinya angkat-angkat batu macam ini? Tidak ada artinya bagiku!" kata orang she Pui.

Akan tetapi dia melangkah juga ke arah singa-singaan batu, membungkuk, memegang dengan kedua tangannya lantas sekali dia berseru keras, singa-singaan batu itu sudah terangkat ke atas kepalanya!

Tepuk tangan menyambut demonstrasi ini, tepuk tangan para pelayan dan kelima orang teman-teman si Harimau Besi. Ketika singa-singaan batu itu sudah diturunkan kembali, si Harimau Besi tidak kelihatan tersengal nafasnya, hanya mukanya yang kuning berubah merah.

Yo Wan yang memandang dari sudut matanya tentu saja tak merasa heran menyaksikan demonstrasi itu dan dia sekaligus maklum bahwa si Harimau Besi ini adalah seorang ahli gwakang yang bertenaga besar. Ketika dia melirik ke arah muda-mudi itu, dia melihat si gadis tersenyum mengejek.

Diam-diam Yo Wan terkejut juga. Bila gadis itu masih berani tersenyum mengejek setelah menyaksikan demonstrasi ini, tentu saja gadis itu mempunyai andalan dan menganggap demonstrasi itu bukan apa-apa.

Mulailah dia menaruh perhatian, dan kalau tadi dia agak mengkhawatirkan keselamatan muda-mudi itu, kini perhatiannya terbalik dan dia malah mengkhawatirkan keselamatan enam orang itu. Dia sempat melihat kilatan mata yang penuh ancaman di atas bibir yang tersenyum mengejek.

"Dasar manusia-manusia tak tahu diri," diam-diam Yo Wan berpikir, "benar-benar seperti rombongan monyet berlagak, mencari penyakit sendiri."

Ahli golok bermata sipit she Bhe itu cengar-cengir, kini terang-terangan memandang ke arah meja si muda-mudi sambil berkata, "Kalau si kutu buku dan sumoi-nya sanggup mengangkat batu ini, biarlah kami tidak akan banyak bicara lagi. Akan tetapi kalau tidak sanggup, si kutu buku harus membiarkan sumoi-nya yang cantik manis untuk menemani kami minum beberapa cawan arak."

Sungguh keterlaluan si mata sipit ini, kekurang ajarannya kini sudah memuncak. Yo Wan ingin sekali memberi tahu supaya muda-mudi itu pergi saja meninggalkan restoran dan menjauhi keributan. Akan tetapi muda-mudi itu enak-enak saja makan, lalu terdengar si gadis berkata mengomel,

"Suheng, makin lama lalat-lalat hijau busuk itu makin membosankan. Bagaimana kalau aku tepuk mampus binatang-binatang hina itu?"

"Ihhh, apa perlunya melayani segala macam lalat bau, Sumoi? Biarkan saja, memang biasanya lalat-lalat hijau itu hanya berkeliaran di tempat-tempat kotor, lalu menimbulkan suara ribut dan menyebarkan penyakit. Biarkan saja, mereka tentu akan mampus sendiri kelak."

Muda-mudi itu tertawa geli sambil melanjutkan makan minum. Muka tiga orang jagoan itu kelihatan marah sekali, juga si pendek yang mengangkat batu tadi. Mukanya yang kuning menjadi merah, matanya melotot.

la lalu mengangkat lagi singa-singaan batu, mengerahkan tenaga kemudian melontarkan singa-singaan itu ke atas, ke arah meja si muda-mudi. la sudah memperhitungkan bahwa kedua orang muda itu tentu akan mengelak dan melompat pergi sehingga singa-singaan batu akan menimpa dan menghancurkan meja dan mereka akan dapat mentertawakan dua orang itu.

Batu besar itu berputaran ke atas, lalu menyambar ke arah meja si muda-mudi itu yang masih enak-enak saja makan minum seakan-akan tidak melihat datangnya bahaya! Akan tetapi setelah singa-singaan batu itu melayang di atas kepala mereka dan agaknya akan menimpa mereka berdua dan meja di depan mereka, si nona cantik itu menggerakkan tangan kiri, dengan jari-jari terbuka, jari-jari tangan yang kecil meruncing dan halus itu hanya menyentuh batu itu tampaknya, akan tetapi batu itu tiba-tiba terputar di udara dan melayang kembali ke arah meja enam orang itu!

"Wah, celaka, lariii...!" teriak si mata sipit.

Karena tiga orang saudagar yang menjadi langganan mereka itu tak pandai silat, maka si mata sipit, si pendek, dan si pipi cacat masing-masing menarik tangan seorang saudagar dan dibawa meloncat pergi dari dekat meja.

Terdengar suara hiruk-pikuk ketika singa-singaan batu jatuh menimpa meja. Meja pecah, keempat kakinya patah-patah, mangkok piring hancur berantakan, sumpit beterbangan dan cawan-cawan arak tumpah.

"Ha-ha-ha!" Si pemuda tertawa.

"Hi-hi-hik!" Si pemudi mengikutinya.

Akan tetapi mereka tetap saja makan minum tanpa pedulikan ketiga orang jagoan yang melotot marah dan tiga orang saudagar yang menjadi pucat mukanya. Ada pun Yo Wan yang masih duduk tenang, memandang kagum, akan tetapi juga merasa betapa gadis itu agak terlalu ganas. Enak saja bermain-main dengan batu seberat itu. Bagaimana kalau tadi menimpa kepala orang? Tentu akan remuk dan mati seketika juga.

"Kurang ajar!" Tiat-houw atau si Harimau Besi berseru marah.

Dengan muka merah dia menarik singa-singaan batu dari atas meja yang sudah ringsek, mengangkatnya tinggi-tinggi di atas kepala dan kini dia melontarkan batu itu sekuatnya ke arah si nona manis.

"Kau terimalah ini!"

Kali ini singa-singaan batu itu tidak melayang seperti tadi yang hanya dilontarkan ke atas ke arah meja si muda-mudi, melainkan langsung menyambar ke arah nona itu sehingga merupakan sambitan keras dan berbahaya. Namun, seperti juga tadi, nona itu dengan amat tenang masih terus asyik makan minum, bahkan pada waktu singa-singaan batu sudah menyambar dekat sekali, nona itu dengan tangan kirinya mengangkat cawan arak dan meminumnya!

Para pelayan memandang dengan muka pucat, bahkan ada yang meramkan mata, tidak sampai hati menyaksikan nona cantik jelita yang sedang minum itu remuk kepalanya oleh singa-singaan batu. Hanya Yo Wan yang bisa menduga apa yang akan terjadi, maka dia pun enak-enak minum araknya.

Tepat seperti dugaan Yo Wan, nona itu dengan tangan kanannya mengangkat sepasang sumpitnya, dan secara mudah dan enak saja ia ‘menerima’ batu itu dengan sumpit. Batu besar berbentuk singa itu terputar-putar di ujung sumpit, kemudian sekali menggerakkan lengan kanan, singa batu itu terbang dari ujung sumpitnya, kembali ke alamat pengirim. Semua ini dilakukan dengan cawan arak masih menempel di bibir!

"Aiiihhhhh...!" Orang she Pui yang berjuluk Harimau Besi itu berteriak kaget sekali ketika melihat singa-singaan batu itu tiba-tiba menyambar ke arahnya.

Dia tidak sempat lagi mengelak, terpaksa dia menggerakkan kedua lengannya menerima singa-singaan batu itu. Sambil mengerahkan tenaganya dia menerima, namun alangkah kagetnya ketika singa-singaan batu itu ternyata berlipat kali lebih berat dari pada tadi. Hal ini adalah karena batu itu dilontarkan dengan tenaga sinkang.

Si pendek sombong berusaha menahan, akan tetapi dia terhuyung-huyung ke belakang, singa batu menghimpit dadanya dan sesudah terhuyung-huyung sampai lima meter ke belakang dan menabrak meja, barulah dia berhenti.

Singa-singaan batu itu dia lemparkan ke sebelah kanannya dan dia batuk-batuk. Ketika dia batuk-batuk itu darah segar tersembur keluar dari mulutnya, kemudian dengan lemas dia menjatuhkan diri ke atas kursi, nafasnya terengah-engah, mukanya pucat, matanya meram. Jelas bahwa ia telah menderita luka di sebelah dalam dadanya, luka yang cukup hebat!

Kini terbukalah mata si mata sipit dan si pipi cacat bahwa gadis yang mereka sebut-sebut tadi sebagai bunga hutan liar itu benar-benar liar dan tentang durinya, jangan tanya lagi! Melihat teman mereka terluka hebat, si pipi cacat yang berjuluk Huang-ho Sin-piauw dan she Gong menjadi sangat marah.

Dengan gerakan yang tidak dapat diikuti pandangan mata saking cepatnya, tahu-tahu dia telah mengayun dua tangannya secara bergantian ke arah muda-mudi itu dan terdengar teriakannya.

"Bocah-bocah mau mampus, makanlah ini!"

Sinar hitam berkelebat menyambar ke arah meja muda-mudi itu ketika beberapa batang piauw menyambar. Tidak heran bila si pipi cacat ini berjuluk Piauw Sakti dari Huang-ho. Kiranya dia pandai sekali memainkan piauw dan dapat menyambitkan senjata rahasia itu dengan gerakan yang cepat. Agaknya orang akan kalah cepat apa bila harus berlomba mencabut dan menggunakan senjata rahasia dengan si pipi cacat yang bermuka lonjong buruk itu.

"Menjemukan!" seru si gadis, matanya yang bening dan indah itu memancarkan cahaya kemarahan.

"Biarlah, Sumoi...!" kata si pemuda yang mendului sumoi-nya, menggerakkan sumpitnya. Sumpit itu bergerak-gerak seperti tergetar.

“Cring-cring-cring…!"

Terdengarlah suara beberapa kali disusul berkelebatnya sinar-sinar hitam ke atas, lalu…

"Cap-cap-cap-cap-cap!" empat batang piauw sudah menancap pada langit-langit di atas pemuda itu!

Si pemuda yang wajahnya masih belum terlihat oleh Yo Wan karena pemuda itu duduk membelakangi Yo Wan, kini bersikap seperti tak pernah terjadi apa-apa, minum araknya kemudian berdongak ke atas dan dari mulutnya tersembur arak lembut seperti uap yang terus menyambar ke langit-langit. Terdengar suara nyaring dan... empat batang piauw yang menancap pada langit-langit itu rontok dan runtuh semua ke bawah!

"Hebat...!"

"Luar biasa...!"

"Bagus sekali...!"

Demikian teriakan para pelayan yang menjadi amat gembira menyaksikan kesudahan-kesudahan dari serangan-serangan yang tadinya amat mengkhawatirkan itu.

Yo Wan masih enak-enakan minum araknya. Semua ini sudah diduganya dan dia tidak heran, hanya dia merasa kagum terhadap sikap muda-mudi yang begitu tenang. Timbul keinginan keras di hatinya untuk mengenal mereka.

Akan tetapi yang paling marah adalah si Piauw Sakti! Bagaimana julukannya Piauw Sakti akan dapat bertahan terus kalau permainan piauw-nya diperlakukan bagaikan lalat-lalat menyambar oleh pemuda tak terkenal itu? Timbul pikiran yang licik dalam benaknya.

Tadi si gadis mendemonstrasikan tenaga yang hebat ketika menghadapi singa-singaan batu. Kini yang menghadapi piauw-nya adalah si pemuda, agaknya hal ini membuktikan bahwa si gadis tidaklah sehebat si pemuda dalam menghadapi piauw. Untuk menebus kekalahannya, si pipi cacat kembali mengayun senjata-senjata rahasianya, dan sekali ini sekaligus dia menyambitkan enam batang piauw yang kesemuanya menyambar ke arah si gadis, bahkan menyambar ke enam bagian tubuh yang berbahaya.

"Suheng, kali ini jangan larang aku!” terdengar si gadis berkata halus.

Mendadak dia meloncat bangun dan sepasang sumpit telah berada di kedua tangannya. Dengan gerakan yang amat cepat kedua tangan yang memegang sumpit itu menangkis. Terdengarlah suara nyaring berkali-kali dan sinar-sinar hitam itu menyambar kembali ke arah penyerangnya!

Si pipi cacat kaget sekali. Cepat dia mengelak, namun dia hanya dapat menghindarkan diri dari empat batang piauw, sedangkan yang dua batang lagi telah menancap di pundak dan pahanya. Dia memekik dan roboh, termakan oleh senjatanya sendiri seperti keadaan kawannya si pendek tadi!

Melihat perkembangan peristiwa itu menjadi pertandingan yang mengakibatkan luka dan darah, para pelayan yang tadi amat gembira menyaksikan demonstrasi kepandaian yang mengagumkan, sekarang menjadi bingung dan ketakutan. Mereka ingin melerai, mereka ingin minta agar supaya orang keluar dari restoran kalau hendak berkelahi, akan tetapi tak seorang pun di antara mereka berani bicara. Karena itu mereka hanya lari ke sana ke mari dan saling pandang dengan muka pucat, tak tahu harus berbuat apa seperti ayam hendak bertelur.

Kini tinggallah seorang jagoan lagi, yaitu si mata sipit yang berjuluk Huang-ho Siang-to. Orang she Bhe ini melihat dua orang kawannya sudah terluka, diam-diam merasa gentar juga. Ia maklum bahwa ternyata mereka bertiga yang selama ini menjagoi daerah lembah Sungai Huang-ho di bagian Leng-si-bun, kiranya hari ini telah tersandung batu!

la maklum bahwa kedua orang muda itu adalah pendekar-pendekar yang berilmu tinggi. Akan tetapi melihat dua orang kawannya terluka, tak mungkin dia diam saja. Ke mana dia akan menyembunyikan mukanya kalau dia tidak maju membela? Nama besarnya tentu akan menjadi bahan ejekan orang. Maju dan kalah oleh lawan yang lebih lihai bukanlah hal memalukan, akan tetapi mundur teratur tanpa melawan, benar-benar tidak mungkin dapat dia lakukan.

"Bocah-bocah sombong, siapakah kalian berani bermain gila di daerah ini? Hayo layani sepasang golok dari Huang-ho Siang-to, kalau sanggup mengalahkan sepasang golokku, barulah boleh disebut gagah!"

Pemuda itu hanya tersenyum, akan tetapi si pemudi mendengus dengan sikap mengejek. "Suheng, agaknya tukang cacah daging bakso ini sudah sinting, mau apa dia bawa-bawa golok pencacah bakso? Biar kuhabiskan saja dia..."

"Ssttt, jangan. Biarkan, kita lihat mau apa tikus ini...," kata si pemuda.

Tentu saja si mata sipit tahu bahwa dirinya yang dimaki tukang cacah bakso dan tikus, maka kemarahannya memuncak. Matanya menjadi semakin sipit dan mukanya merah sekali.

"Keparat, kalian yang akan kujadikan bakso...!" Sambil berkata demikian, dia mengayun dan menggerakkan sepasang goloknya di atas kepala. Sepasang golok itu berkelebatan mengeluarkan sinap berkeredepan.

Mendadak gerakannya terhenti dan si mata sipit terkejut serta heran karena dia merasa betapa sepasang goloknya terhenti di tengah udara, di belakang kepalanya seakan-akan tersangkut sesuatu. Betapa pun dia berusaha membetotnya, tapi sia-sia.

Cepat dia membalikkan tubuh dengan bulu tengkuk meremang dan terpaksa melepaskan kedua goloknya. Apa yang dilihatnya? Ketika dia membalikkan tubuh, di depannya telah berdiri seorang laki-laki bertubuh pendek, berkepala botak.

Laki-laki ini mengangkat kedua tangannya dan ternyata kedua goloknya itu telah dijepit oleh jari tengah dan telunjuk yang ditekuk. Dapat dibayangkan betapa hebatnya tenaga orang ini, karena hanya dengan dua jari menjepit sebuah punggung golok, tetapi si mata sipit tak mampu membetotnya!

Ketika si mata sipit melihat bahwa di belakang orang pendek ini masih terdapat tujuh orang pendek lainnya, semuanya berdiri tegak dan angker, tiba-tiba tubuhnya menggigil dan dia berkata gagap,

"Ki... kipas... Kipas Hitam..." Mendengar suara ini, para pelayan berserabutan lari melalui pintu belakang restoran dan sebentar saja mereka tidak tampak lagi.

Diam-diam Yo Wan memperhatikan hal ini dan dia dapat menduga bahwa nama Kipas Hitam tentu sudah terkenal dan ditakuti orang. Cepat dia memandang penuh perhatian.

Lelaki yang tadi menjepit sepasang golok dengan jari tangannya itu, benar-benar pendek tubuhnya, pendek gempal dan tegap, sepasang lengannya yang juga pendek itu tampak amat kuat. Di pinggangnya tergantung sarung pedang yang panjang dan agak bengkok, sedangkan di ikat pinggang depan terselip sebuah kipas berwarna hitam. Tujuh orang di belakangnya juga seperti itu dandanannya, hanya bedanya, orang yang berdiri di depan itu sarung pedangnya lebih indah.

Agaknya kipas-kipas hitam yang berada di pinggang mereka itulah yang menjadi tanda bahwa mereka adalah anggota-anggota Kipas Hitam. Dan lucunya, mereka semua, yaitu delapan orang ini kepalanya dicukur botak tinggal di atas kedua telinga dan di sebelah belakang saja.

Laki-laki pendek yang menjepit golok itu kemudian berkata, suaranya terdengar kaku dan asing, "Tiga ekor cumi-cumi banyak tingkah!"

Tiba-tiba kedua tangannya bergerak dan entah bagaimana, tahu-tahu tubuh si mata sipit sudah melayang keluar dari restoran dan baru jatuh lagi ke tanah sesudah melalui jarak belasan meter. Dua orang jagoan lainnya, si pipi cacat dan si pendek muka kuning yang sudah terluka, tahu-tahu sudah melarikan diri diikuti oleh ketiga orang saudagar. Mereka inilah yang mengangkat si golok sakti dan setengah diseret pergi dari tempat itu!

Sekarang Yo Wan dapat menduga. Agaknya rombongan Kipas Hitam adalah perampok-perampok atau lebih tepat agaknya bajak-bajak laut, mengingat akan makiannya tadi. Hanya orang-orang yang biasa berlayar saja agaknya yang akan menggunakan nama binatang laut cumi-cumi untuk memaki orang, Apa lagi orang pendek ini suaranya kaku dan asing. Mereka inilah bajak laut-bajak laut Jepang seperti yang pernah didengar Yo Wan dari percakapan orang-orang di sepanjang perjalanan!

Sementara itu, sepasang muda-mudi yang tadinya kelihatan tenang-tenang saja itu, kini bangkit dari tempat duduk mereka. Agaknya sebutan Kipas Hitam tadi yang membuat mereka serentak bangkit dan memandang tajam kepada delapan orang yang baru tiba.

Kini Yo Wan dapat melihat bahwa si pemuda juga sangat tampan dan gagah, tubuhnya tegap dan biar pun tidak nampak, Yo Wan dapat mengetahui bahwa pemuda itu sudah menyembunyikan sebatang pedang di balik jubahnya, jubah seorang pelajar.

Pandang mata yang luar biasa tajam dari pemuda itu satu kali melirik ke arahnya, dan tercenganglah hati Yo Wan. Walau pun hanya melirik satu kali, namun pandang mata itu tajam menembus hati, seakan-akan si pemuda itu sudah dapat menilainya hanya dengan sekali lirikan saja!

"Hemmm, bukan pemuda sembarangan. Harus hati-hati menghadapi orang seperti ini...," pikirnya.

Kini keadaan di restoran itu tegang. Para pelayan sudah lari menyingkir, juga di depan restoran tampak sunyi. Agaknya orang-orang di situ sudah mendengar akan kedatangan delapan orang pendek-pendek rombongan Kipas Hitam.

Muda-mudi itu sudah berdiri berhadapan dengan pemimpin rombongan, saling pandang bagai lagak jago-jago mengukur pandang dan saling menaksir lawan. Akhirnya si pendek itu bertanya, suaranya ketus, kasar dan kaku,

"Kalian berdua yang membunuhi teman-teman kami di pantai Laut Po-hai seminggu yang lalu?"

Gadis itu melangkah maju dan dengan sikap menantang ia berkata nyaring, "Kalau betul, kalian mau apa? Kalian inikah bajak laut Kipas Hitam? Apakah kau kepalanya?"

Kepala rombongan itu mengeluarkan suara makian dalam bahasa asing, sikapnya amat mengancam. "Kami tidak diberi perintah untuk membunuh kalian, hanya diperintah untuk mengajak kalian ikut menghadapi kongcu (tuan muda) kami.”

"Mau apa dia? Siapa kongcu kalian itu?" tanya si gadis, lalu terdengar bisiknya kepada suheng-nya, "Suheng, kau awasi tikus di belakang kita itu, dia mencurigakan..."

Si pemuda membalikkan tubuhnya dan sekali lagi Yo Wan tercengang pada saat melihat sinar mata tajam menyambarnya di samping senyuman mengejek. Ia tahu bahwa dirinya dicurigai, maka untuk menyembunyikan wajahnya, dia menenggak araknya dan berkata seperti orang sinting, “Ahhh... arak habis malah para pelayan pergi semua. Ke manakah orang-orang tolol itu?"

Sementara itu, si pendek menerangkan dengan suara kaku, "Kongcu adalah pemimpin kami, sekarang kongcu menunggu di pantai. Kalian harus ikut dengan kami menghadap kongcu."

"Mau apa dia?"

"Nanti kalian bicara sendiri dengan kongcu, kami hanya diperintah untuk mengajak kalian secara baik-baik, harap kalian jangan membantah lagi..."

"Kalau kami tidak mau?" tanya pultt si gadis.

"Hemmm... hemmmmm... mudah-mudahan jangan begitu. Mau tidak mau kalian harus menghadap kongcu. Kongcu bilang bahwa kalian bukanlah orang-orang pengecut yang tidak berani menghadapi pemimpin Kipas Hitam."

"Aku tidak mau! Persetan dengan kongcu kalian! Pergi dari sini, kalian mau apa kalau aku tidak mau?!" tantang si gadis dengan sikap menantang, sedangkan si pemuda tetap tenang saja, kadang-kadang melirik ke arah Yo Wan yang dicurigai.

Si pendek itu sejenak memandang dengan mata mengancam, kemudian menarik nafas panjang. "Sayang," katanya, "Sudah lama aku tidak bertemu lawan yang pandai. Segala macam cumi-cumi seperti juragan-juragan perahu tadi hanya menjemukan saja. Betapa senangnya apa bila dapat mengadu ilmu dengan kalian yang kabarnya lihai. Sayangnya, kongcu tidak mengijinkan kami mengganggu kalian. Kongcu mengundang kalian dengan baik-baik, untuk diajak bercakap-cakap entah urusan apa. Kalau saja tak ada pesan dari kongcu, sudah sejak tadi samuraiku bicara!" Sambil berkata begitu dia menepuk-nepuk pedang panjang yang tergantung di pinggangnya sambil berkata, "Cakar Naga, jangan kecewa, mereka bukan musuh..."

"Sumoi, jika orang yang mereka sebut kongcu itu hendak bicara, mari kita pergi menemui dia. Kita bukanlah pengecut, takut apa bertemu dengan pemimpin Kipas Hitam?" kata si pemuda, agaknya tertarik juga menyaksikan sikap orang Jepang itu.

"Wah, tidak ada alasan untuk bersikap murah dan mengalah, Suheng. Kalau memang ingin bicara, mengapa yang menyebut dirinya kongcu itu tidak datang sendiri menemui kita? Heee, orang pendek. Pedangmu kau sebut Cakar Naga, tentu kau pandai bermain pedang. Dengarlah! Bila kau dapat mengalahkan aku dengan pedangmu, baru kuanggap kau cukup pantas menjadi utusan untuk mengundang kami. Kalau tidak mampu, jangan banyak cerewet lagi!"

Orang Jepang itu mengangkat muka, keningnya berkerut lalu dia menepuk dada dengan tangan kirinya. "Aku Kamatari tak pernah mundur menghadapi tantangan siapa pun juga, akan tetapi aku taat kepada perintah kongcu. Nona, mungkin kau berkepandaian, akan tetapi harap kau jangan memandang rendah samurai Cakar Naga di tanganku. Lihatlah betapa saktinya Cakar Naga!" Sambil berkata demikian, Kamatari menggunakan kakinya menendang sebuah bangku kayu yang berada di dekatnya.

Bangku itu terlempar ke atas dan pada saat bangku melayang turun, tiba-tiba tampak sinar berkeredepan berkelebat beberapa kali.

“Crak-crak!” terdengar suara perlahan.

Dalam sekejap mata, sinar berkeredepan itu lenyap dan... bangku yang sudah terbelah menjadi tiga potong itu runtuh ke bawah. Anehnya, yang sepotong melayang ke arah meja Yo Wan, menimpa atas meja dan membikin pecah mangkok serta menggulingkan cawan arak!

Yo Wan tak berkata apa-apa, hanya berdiri sebentar, mengebut-ngebutkan bajunya yang terkena percikan arak, kemudian duduk kembali dengan tenang. la maklum bahwa orang Jepang yang lihai ilmu pedangnya dan besar tenaga dalamnya itu agaknya mencurigai dirinya dan sengaja mementalkan sepotong kayu bangku ke arahnya untuk memancing.

Tentu saja dia dapat melihat betapa tadi orang pendek itu mencabut pedang samurainya dengan gerakan yang betul-betul cepat serta mengandung tenaga yang hebat. Demikian cepat gerakan Kamatari sehingga bagi mata orang biasa, orang pendek ini sama sekali tidak berbuat apa pun, karena sebelum potongan-potongan bangku itu jatuh ke tanah, samurainya sudah kembali ke sarungnya. Seperti main sulapan saja!

Kamatari mengerling sekejap ke arah Yo Wan, lalu kembali dia menghadapi nona itu, wajahnya membayangkan kepuasan dan harapan bahwa kali ini gadis itu akan menjadi jeri dan suka menurut. Akan tetapi dugaannya meleset jauh.

Gadis itu berpaling pada suheng-nya dan berkata, "Suheng, bukankah lucu sekali badut pendek ini?"

"Sumoi, jangan main-main. Agaknya dia jujur dan mari kita menemui kongcu itu, kita lihat apa kehendaknya," jawab suheng-nya yang agaknya tidak ingin mencari keributan.

"Suheng, sesudah dia mengeluarkan pedang cakar ayamnya, apa bila kita menurut saja, bukankah orang akan menganggap kita ini tidak becus apa-apa? Biarkan aku main-main sebentar dengannya."

Si pemuda menghela nafas, kemudian jawabnya lirih, "Sesukamulah, akan tetapi jangan menimbulkan gara-gara."

Si gadis tersenyum manis. "Aku hanya ingin main-main, siapa yang ingin menimbulkan gara-gara?" Kemudian dia menghampiri Kamatari dan berkata, "Namamu Kamatari dan pedangmu yang bengkok adalah pedang cakar ayam, ya?” Sengaja dia mengganti Cakar Naga dengan cakar ayam.

"Bagus, aku pun punya pedang yang saat ini kuberi nama pedang penyembelih ayam. Boleh kau coba-coba layani pedangku ini, Kamatari. Sekali lagi kunyatakan bahwa kalau kau tidak bisa memenangkan pedangku ini, aku tidak sudi bertemu dengan kongcu-mu!" Setelah berkata demikian, gadis itu mencabut sebatang pedang dengan perlahan.

Orang-orang Jepang yang berada di belakang Kamatari semuanya tertawa ketika melihat sebatang pedang pendek dengan ukuran kurang lebih dua puluh cun (satu cun ±2 senti meter), warnanya hitam sama sekali tidak mengkilap, bahkan warna hitamnya hitam kotor seperti tanah. Dari jauh tampak seperti pedang terbuat dari tanah lempung saja. Tentu saja semua orang Jepang yang terkenal dengan pedang-pedang samurai mereka yang terbuat dari baja tulen dan berkilauan saking tajamnya itu tertawa mengejek menyaksikan pedang si nona yang begitu buruk dan pendek.

Akan tetapi diam-diam Yo Wan kagum. Ia maklum bahwa pusaka yang ampuh tampak sederhana, seperti juga orang pandai kelihatan bodoh dan air dalam kelihatan tenang.

Kamatari juga tertawa. Suara ketawanya pendek-pendek susul-menyusul dan kepalanya bergoyang-goyang, kemudian dia menoleh kepada teman-temannya yang masih berdiri seperti barisan dengan tubuh tegak di belakangnya.

"Kalian mendengar sendiri, dia yang memaksaku bermain-main, harap kalian nanti dapat melaporkan kepada kongcu agar aku tidak dipersalahkan." Setelah berkata demikian, dia melangkah maju menghadapi gadis itu sambil berkata, lagaknya sombong.

"Aku sudah siap Nona!"

Nona itu tersenyum mengejek, akan tetapi alisnya yang hitam kecil itu bergerak-gerak. "Cabut pedangmu, orang sombong!"

"Cakar Naga tak pernah meninggalkan sarungnya kalau tidak perlu. Nona boleh mulai menyerang."

"Cih, siapa sudi? Aku bukan orang yang suka menyerang orang tak memegang senjata. Kalau kau mengajak kami menemui kongcu-mu, kau harus menyerang dan mengalahkan pedangku. Habis perkara!"

"Begitukah? Nah, lihat pedangku!"

Kamatari tiba-tba mengeluarkan pekik yang sangat menyeramkan. Tubuhnya menerjang maju dengan didahului sinar berkilauan. Bagi mata orang biasa, gerakan mencabut dan mempergunakan pedang samurai tidak akan tampak, yang kelihatan hanya sinar pedang yang menyilaukan mata. Akan tetapi gadis itu agaknya dapat melihat jelas karena sekali menggeser kaki ia telah mengelak ke kiri.

"Crakkk!" terdengar suara kayu terbelah.

Kamatari sudah berdiri tegak lagi, tangan kiri dengan jari terbuka melindungi dadanya dan tangan kanan tergantung di pinggang, dekat gagang pedang, akan tetapi pedangnya sendiri sudah bersarang di dalam sarung pedangnya lagi. Meja yang tadi berada di dekat gadis itu, meja yang kosong, bergoyang-goyang, tidak kelihatan disentuh, tidak kelihatan rusak, akan tetapi perlahan-lahan miring lalu roboh menjadi dua potong. Begitu tajamnya samurainya, seakan-akan meja itu terbuat dari agar-agar saja!

"Hi-hi-hik, kenapa kau berhenti, Kamatari? Kalau hanya membelah meja, anak kecil pun bisa!"

"Jagalah ini. Haiiiiittttt!" Kamatari sudah menerjang lagi, didahului sinar samurainya yang berkelebatan menyambar-nyambar.

Sambaran pertama dihindarkan oleh gadis itu dengan melejit ke kanan, sambaran kedua yang menyerampang kakinya dia hindarkan dengan satu loncatan indah ringan ke atas melalui meja. Sedangkan serangan ketiga yang luar biasa sebat dan berbahayanya, dia tangkis dengan pedang hitamnya.

"Cring... tranggggg...!!"

Dua kali samurai tajam mengkilat bertemu dengan pedang pendek hitam buruk. Bunga api berpijar menyilaukan mata dan tampak Kamatari terhuyung ke belakang sedangkan gadis itu berdiri dengan tangan kiri bertolak pinggang dan tersenyum.

"Kenapa berhenti lagi? Kau mau merusak pedangku?" Gadis itu mengejek.

Kini Kamatari mengurangi lagaknya. Pedang samurai tidak dimasukkan ke dalam sarung pedangnya, melainkan dipegang di tangan kanan. la tadi terkejut setengah mati karena selain pedang buruk lawannya itu dapat menahan samurainya, juga telapak tangannya terasa hendak pecah-pecah dan kuda-kuda kakinya tergempur hebat. Tahulah dia bahwa gadis di depannya ini sama sekali tak boleh dipandang ringan.

Kini dia tidak main-main aksi-aksian lagi, namun menyerang dengan sungguh-sungguh. Terdengar mulutnya mengeluarkan pekikan berkali-kali, pekik serangan, dan samurainya menyambar-nyambar menjadi gulungan sinar memanjang. Gerakannya penuh tenaga dan gesit, samurainya selalu membalik dan mengikuti gerakan si gadis yang mengelak ke sana ke mari. Akan tetapi dia seakan-akan menyerang bayangannya sendiri. Ke mana pun dia menyabet, selalu samurainya membelah angin belaka.

Diam-diam Yo Wan kaget dan matanya terbelalak, jantungnya berdebar-debar. Baginya, pemandangan di depan mata ini mengejutkan. Betapa tidak? Ia mengenal baik gerakan dara ini, gerakan mengelak sambil berloncatan, terhuyung-huyung, jongkok, berdiri.

Biar pun ada beberapa perbedaan, namun tidak salah lagi, itulah gerakan-gerakan yang mirip sekali dengan Si-cap-it Sin-po, yaitu empat puluh satu jurus langkah ajaib yang dia pelajari dan suhu-nya, Pendekar Buta. Memang gaya dan perkembangannya berbeda, namun dasarnya mempunyai persamaan yang tidak dapat diragukan lagi tentu dari satu sumber. Keduanya memiliki ciri-ciri yang khas dari gerakan seekor burung, atau jelasnya, gerakan seekor burung rajawali.

Setelah bertempur kurang lebih lima puluh jurus lamanya, mendadak gadis itu membuat gerakan aneh, tubuhnya meloncat ke atas bagaikan hendak menubruk. Kamatari berseru heran, pedangnya menyambar memapaki tubuh itu, akan tetapi secara indah dan sangat mengagumkan kaki kiri gadis itu menendang dari samping hingga sekaligus mengancam pergelangan tangan lawan sedangkan pedang hitamnya berkelebat tepat di depan muka Kamatari.

Sebelum jago Jepang itu dapat menyelami jurus yang aneh ini, tiba-tiba saja dia merasa pundaknya sakit dan terhuyunglah dia ke belakang. Kiranya pundak kirinya sudah terluka oleh ujung pedang hitam, membuat tangan kirinya serasa lumpuh!

Segera dia menyimpan samurainya dan menutupi lukanya, lalu menjura sampai dalam. "Ilmu pedang Nona sungguh hebat...”.

Pada saat itu pula berkelebat bayangan putih, cepat dan tak terduga gerakannya, seperti seekor burung dara melayang memasuki restoran itu.

"Sumoi, awas...!" seru si pemuda yang sudah melompat maju.

Gadis itu cepat mengangkat pedangnya, akan tetapi dia tertahan dan tertegun pada saat melihat bahwa yang meloncat masuk ini adalah seorang pemuda berpakaian serba putih berkembang-kembang kuning yang indah sekali, sebuah muka yang tampan luar biasa, dengan sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang pagi, sepasang bibir yang merah dan tersenyum amat tampannya!

Begitu kaki pemuda ini menginjak tanah, tangannya bergerak dan dua bayangan putih melayang ke depan, langsung sinar ini menyambar mengarah leher si gadis. Gadis itu berseru keras dan mengelak ke belakang, tetapi tiba-tiba sinar putih kedua menyambar pedangnya dan pada lain saat pedang itu sudah terlibat sesuatu kemudian terampas dari tangannya!

"Kembalikan pedang, Sumoi!" Si pemuda menerjang maju, gerakannya cepat dan amat kuat sehingga diam-diam Yo Wan kagum melihatnya.

Akan tetapi lebih kagum lagi hati Yo Wan menyaksikan gerakan pemuda baju putih yang baru masuk, karena sekali menjejakkan kedua kaki, tubuh pemuda baju putih itu sudah melayang keluar restoran, meninggalkan dua sinar putih menyambar yang diikuti dengan teriakannya yang nyaring, "Awas senjata rahasia!"

Si pemuda kaget sekali, apa lagi ketika melihat dua sinar putih berkilauan menyambar ke arah jalan darah yang berbahaya di tubuhnya. Cepat dia mengibaskan lengan baju dan runtuhlah kedua senjata rahasia itu. Anehnya, senjata rahasia itu ternyata hanyalah dua potong uang perak!

Uang perak digunakan sebagai senjata rahasia benar-benar merupakan hal yang langka. Pemboros mana yang menghamburkan uang perak begitu saja? Ketika kemudian dia memburu keluar, pemuda baju putih itu sudah lenyap!

Marahlah si pemuda. Sekali dia bergerak, dia sudah menangkap Kamatari, menjambak baju pada punggungnya dan mengangkatnya ke atas seperti orang mengangkat seekor kelinci saja!

"Tikus busuk! Apa bila kami menghendaki, apa susahnya mencabut nyawamu yang tidak berharga? Hayo katakan, siapa bangsat tadi!"

Kamatari kaget bukan main. Tak disangkanya bahwa si pemuda begini galak dan begini kuat. Tentu saja dia tidak sudi diperlakukan seperti ini, maka dia membentak, "Lepaskan bajuku!" dan tangannya memukul.

Akan tetapi tiba-tiba seluruh tubuhnya menjadi kaku. Dua lengannya yang tadi bergerak hendak memukul seakan-akan berubah menjadi dua batang kayu kering!

"Keparat, jangan banyak lagak kau! Hayo bilang, siapa dia tadi?!"

Tahulah kini Kamatari bahwa pemuda ini memiliki ilmu yang luar biasa. Percuma untuk berkeras kepala lagi, maka dengan suara merintih dia berkata,

"Dia adalah kongcu kami. Baiknya kongcu masih tidak berniat memusuhi kalian. Apa bila kalian memiliki kepandaian, boleh datang merampas pedang di pantai Po-hai di dusun Kui-bun, cari gedung Yo-kongcu!"

Dengan sekali gerakan, pemuda itu melempar tubuh Kamatari ke belakang. Jago Jepang ini menabrak kawan-kawannya dan roboh terguling, kemudian ditolong teman-temannya. Akhirnya mereka pergi dari tempat itu dengan cepat.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner