JAKA LOLA : JILID-28


Keheranan ini belum seberapa kalau dibandingkan dengan keheranan ketika dia melihat betapa gadis peranakan Jepang ini menggerakkan kakinya dalam langkah-langkah ajaib yang sangat dikenalnya. Itulah inti sari ilmu langkah ajaib yang dahulu pernah dia pelajari dari suhu-nya, Pendekar Buta!

Hanya bedanya, yang dia pelajari adalah lebih lengkap berjumlah empat puluh satu jurus, sedangkan yang dikuasai gadis Jepang itu adalah dua puluh empat jurus Hui-thian Jip-te! Benar-benar amat luar biasa dan hal ini membuat hatinya menjadi ragu untuk memusuhi apa lagi membasmi ketua Kipas Hitam ini.

Demikianlah, ketika dia melihat Hwat Ki telah mendesak hebat, seperti juga Cui Kim, dia khawatir kalau-kalau dalam kemarahannya Hwat Ki lantas membunuh ketua Kipas Hitam itu, maka dia bersiap-siap untuk menghentikan pertandingan mati-matian itu. Akan tetapi, tiba-tiba dia melihat Cui Kim roboh pingsan, disusul oleh Hwat Ki dan mendengar ucapan Yosiko, dia mengerutkan kening. Gadis peranakan Jepang itu benar-benar lihai, berani, juga liar dan curang, maka sambil mengejek dia lalu menampakkan diri.

Marahlah hati Yosiko ketika melihat munculnya seorang asing secara mendadak. Cepat dia bertepuk tangan tiga kali dan muncullah enam orang pendek-pendek yang ternyata bukan lain adalah Kamatari bersama lima orang temannya.

Si Pedang Cakar Naga ini bersama lima orang temannya menjura dalam-dalam sampai jidat mereka hampir menyentuh tanah di depan Yosiko.

"Apa yang dapat kami lakukan untuk Yo-kongcu yang terhormat?" tanya Kamatari dalam bahasa Jepang.

"Kalian sekelompok udang goblok, bagaimana dengan tugasmu menjaga sehingga orang dusun ini bisa masuk ke sini tanpa ijin?" bentak Yosiko sambil menudingkan telunjuknya ke arah Yo Wan.

Kamatari melirik dan tampak kaget ketika melihat Yo Wan. "Dia... dia adalah orang yang kelihatan di dalam rumah makan di Leng-si-bun!" katanya gagap dan heran.

"Goblok, seret dia keluar!" bentak Yosiko.

Diikuti lima orang temannya, Kamatari melangkah maju, lambat-lambat, selangkah demi selangkah, dengan gerak kaki menurutkan ilmu silatnya, kedua tangannya tergantung di kanan kiri, sikunya sedikit ditekuk dan jari-jari tangannya terbuka dan tertutup, sikapnya mengancam sekali!

Gerakan lima orang temannya juga seperti itu, bahkan dengan teratur mereka berenam kemudian membuat gerakan mengelilingi Yo Wan.

"Ehhh, cakar nagamu ke mana? Apakah sudah kau tukar dengan cakar ayam maka kau malu mengeluarkannya?" Yo Wan berkata sambil menghadapi Kamatari, sebab di antara enam orang itu, Si Cakar Naga inilah yang paling kuat.

Merah muka dan kepala yang botak itu, kemudian tiba-tiba Kamatari mengeluarkan pekik nyaring yang agaknya keluar dari dalam perutnya, disusul dengan gerakannya laksana katak melompat dan tahu-tahu pedang samurainya telah menyambar ke arah Yo Wan. Pada detik-detik berikutnya, lima orang temannya juga sudah menerjang dengan samurai terhunus sehingga dari enam penjuru menyambarlah kilatan enam sinar samurai yang amat tajam!

"Cring-crang-cring!"

Tampak bunga api berpijar menyilaukan mata pada saat enam batang samurai itu saling bentur dalam keadaan kacau yang membingungkan. Tadinya Kamatari dan kelima orang temannya merasa yakin bahwa samurai-samurai mereka pasti akan mencincang hancur tubuh si pemuda desa yang agaknya sudah tidak dapat mengelak ke mana-mana karena semua jalan keluar sudah tertutup oleh enam buah samurai. Enam buah samurai yang menghantam ke satu titik, yaitu di mana Yo Wan berada.

Akan tetapi, ketika tepat tiba di sasaran, ternyata pemuda itu tidak tampak bayangannya lagi sehingga enam buah samurai itu saling bentur. Karuan saja enam orang itu terkejut dan terheran-heran sekali, dan sebelum mereka tahu apa yang terjadi, mereka merasa didorong dari belakang oleh sebuah tenaga mukjijat dan... berturut-turut terdengar suara beradunya kepala sama kepala dan bergelimpanglah enam orang itu dengan tambahan benjol sebesar telor ayam pada botak kepala masing-masing. Mereka pingsan seketika.

"Hek-san Pangcu (ketua Kipas Hitam), udang-udang busuk begini kau pergunakan untuk menakut-nakuti orang? Memalukan sekali!" kata Yo Wan, kedua tangannya bergerak dan enam orang itu terlempar keluar pintu depan satu demi satu seperti rumput-rumput kering ditiup angin saja.

Sepasang alis Yosiko terangkat naik, lalu turun dan hampir bersambung. Marahlah dia, juga heran karena sama sekali tidak pernah disangkanya bahwa ‘orang desa’ ini ternyata lihai juga.

"Hemmm, kau boleh juga, akan tetapi belum cukup berharga untuk bertanding denganku. Pouw-lopek, harap wakili aku beri hajaran kepada bocah dusun ini!"

Kakek tinggi kurus yang kulitnya sudah berkeriput semua, melangkah lebar. Kagetlah Yo Wan karena sekali melangkah saja kakek itu sudah berada di depannya! Mana mungkin begini? Kalau tadi kakek itu melompat, dia tidak merasa heran, bahkan hal itu biasa saja. Akan tetapi kakek itu sama sekali bukan melompat, melainkan melangkah. Betapa pun panjang kakinya, tak mungkin bisa sampai di depannya hanya dengan sekali melangkah, padahal jaraknya kurang lebih lima tombak (kurang lebih sepuluh meter)! Ilmu apa ini?

Yo Wan memutar otak dan dapat menduga bahwa kakek tinggi kurus ini tentu memiliki ilmu luar biasa yang mengandalkan kedua kakinya, dan hal ini mudah diduga bahwa ilmu itu tentulah ilmu tendangan. Apa lagi yang mampu dikerjakan oleh sepasang kaki dalam pertandingan untuk menyerang lawan kecuali menendang? Maka dia bersikap waspada, mencurahkan sebagian besar perhatian pada gerakan sepasang kaki calon lawannya.

"Orang muda," kata kakek itu, suaranya jelas menyatakan bahwa dia orang dari daerah pesisir selatan, "kau sungguh seorang yang tak tahu diri, tidak mengenal luasnya lautan tingginya langit. Siapakah kau ini yang berani lancang memasuki gedung tempat tinggal ketua Hek-san-pang dan menjual lagak di sini? Dan apakah kehendakmu?"

Mendengar ucapan ini dan melihat sikap yang amat berwibawa, Yo Wan dapat menduga bahwa kakek ini tentunya mempunyai kedudukan yang cukup tinggi dalam perkumpulan Hek-san-pang, maka dia pun bersikap hormat. Setelah menjura dia menjawab,

"Namaku Yo Wan. Secara kebetulan aku turut menyaksikan peristiwa di rumah makan. Karena tertarik mendengar bahwa ketua kalian juga she Yo, apa lagi ditambah dengan sepak terjangnya merampas pedang, meski pun urusan itu dengan aku tidak ada sangkut pautnya, akan tetapi memaksa aku untuk datang ke sini dan menonton. Kiranya ketuanya seorang wanita yang begitu curang merobohkan dua orang muda ini dengan racun. Hal ini aku Yo Wan tak mungkin diam saja membiarkan kecurangan.”

Yosiko membentak marah, "Bocah dusun lancang. Kau sombong sekali. Apa maksudmu dengan kata-kata bahwa Hek-san-pang dipimpin oleh seorang wanita?"

"Seorang wanita curang kataku tadi," Yo Wan menjawab sambil tersenyum kepada ketua Hek-san-pang itu. "Mata orang lain boleh kau kelabui, akan tetapi bagiku jelas bahwa kau seorang wanita, mengapa memakai sebutan kongcu (tuan muda) segala macam? Dan memang kau curang sekali, mengambil kemenangan menggunakan racun..."

"Pouw-lopek, hajar dia!" bentak Yosiko, tak dapat menahan kemarahannya lagi.

Orang tua tinggi kurus itu sebetulnya adalah seorang bajak laut tunggal di pantai selatan yang bernama Pouw Beng. Akhirnya ia ditarik oleh Kipas Hitam menjadi pembantu utama di samping dua orang lain yang selalu mendampingi ketua Kipas Hitam.

Ketika tadi menyaksikan gerak-gerik Yo Wan, kakek yang bermata tajam ini pun maklum bahwa Yo Wan adalah seorang ‘pemuda gunung’ (istilah murid pertapa di gunung) yang tak boleh dipandang ringan, maka dia bersikap sabar dan bertanya lebih dulu. Sekarang mendengar kemarahan Yosiko yang mendesaknya, dia segera memasang kuda-kuda, kedua kakinya dipentang lebar pada bagian lutut, namun mata kakinya saling bertemu.

"Orang muda she Yo, lihat serangan!" bentaknya mengguntur.

Sekali meraba punggungnya, kakek ini sudah mencabut keluar sebatang ruyung lemas (joan-pian) yang berwarna hitam, lalu menerjang dengan senjata seperti pecut ini dengan gerakan yang dahsyat.

"Wuuuttttt!"

Angin pukulan joan-pian ini menyambar ke arah kepala ketika Yo Wan mengelak. Namun dengan kelincahannya, mudah saja Yo Wan melompat lagi ke samping. Ketika joan-pian ini bagai seekor ular hidup mengejarnya terus dengan cepat, Yo Wan diam-diam menjadi kagum dan memuji kepandaian si kakek mainkan joan-pian yang dapat terus menerus melakukan serangan sambung-menyambung.

Dia masih belum dapat melihat bahayanya ancaman joan-pian ini, maka Yo Wan tetap saja mengelak ke sana kemari sambil tiada hentinya memperhatikan kedua kaki lawan. Benar saja dugaannya! Gerakan joan-pian yang menyerang kalang kabut ini hanyalah usaha untuk membingungkan lawan, karena tiba-tiba saja kedua kaki kakek itu bergerak menyambar, susul menyusul dengan kecepatan yang tak terduga-duga dan mengandung kekuatan yang luar biasa!

Yo Wan amat kagum. Hal ini sudah diduganya, dan memang sesungguhnya tendangan-tendangan inilah yang merupakan inti dari penyerangan kakek kurus itu. Seorang lawan yang kurang waspada pasti akan roboh oleh tipu muslihat ini, karena hanya tampaknya saja joan-pian yang mengancam, akan tetapi sesungguhnya bukan demikian, sehingga lawan yang terlalu mencurahkan perhatiannya pada serangan joan-pian yang dilancarkan secara bertubi-tubi, akan celaka oleh tendangan-tendangan tersembunyi ini.

Yo Wan bukan seorang pemuda sombong. Dia tidak suka memamerkan kepandaiannya, akan tetapi keadaan saat ini memaksa dia untuk mengeluarkan semua kepandaiannya. Pertama, karena dia berada di sarang harimau yang berbahaya, kedua untuk menolong muda-mudi putera ketua Lu-liang-pai atau cucu Raja Pedang itu, ketiga memang sudah menjadi tugasnya untuk membasmi bajak laut, apa lagi setelah dia teringat akan ucapan penuh sindiran dari ketua Siauw-lim-pai, yaitu Thian Seng Losu.

Karena itu, melihat datangnya tendangan, dia sengaja bersikap seakan-akan dia kurang waspada dan memberi kesempatan orang menendangnya!

Karuan saja Pouw Beng girang bukan main.

"Pergilah!" bentaknya sambil mengerahkan tenaga pada tendangannya ketika lawannya yang muda itu sibuk mengelak dari sambaran joan-pian.

"Dukkk!"

Bukan tubuh Yo Wan yang mencelat seperti yang telah dibayangkan si penendang dan teman-temannya, akan tetapi kakek itu sendiri yang terpelanting dan bergulingan, tidak mampu bangkit lagi karena tulang kakinya yang menendang tadi telah remuk sedangkan joan-pian di tangannya pun sudah mencelat entah ke mana!

Kiranya tadi saat kakinya sudah hampir mengenai sasaran, yaitu perut Yo Wan, pemuda ini secepat kilat menggunakan tangan kirinya menotok jalan darah lalu menggencet. Oleh karena dia mempergunakan jurus ampuh Ilmu Silat Liong-thouw-kun yang dia warisi dari kakek sakti Sin-eng-cu, seketika remuklah tulang kaki lawannya, ada pun tangan kanan Yo Wan pada detik yang sama juga menghantam pergelangan lengan yang memegang joan-pian sehingga joan-pian itu terpental dan mencelat entah ke mana.

Yosiko melongo. Sama sekali tak pernah diduganya bahwa pemuda dusun itu demikian lihainya. Pouw Beng dirobohkan hanya dalam beberapa gebrakan saja! Tendangan maut itu diterima tangan kiri dan kaki Pouw Beng remuk! Mana mungkin ini? Apakah pemuda sederhana baju putih itu main sihir? Dia sendiri yang sudah mengenal kelihaian Pouw Beng, agaknya sebelum seratus jurus tak mungkin dapat mengalahkannya!

"Paman Sakisoto, majulah!" teriaknya karena dia masih merasa penasaran.

Kalau terhadap Tan Hwat Ki, tadi dia maju sendiri karena dia sudah yakin akan kelihaian pemuda Lu-liang-pai itu. Akan tetapi pemuda dusun yang tak ternama ini, yang kelihatan begitu lemah dan sederhana, mana berharga menghadapinya?

Para pelayan lalu mengangkat pergi tubuh Pouw Beng yang masih pingsan, sedangkan kakek yang botak dan pendek sekali itu sudah melangkah maju menghampiri Yo Wan. Kakek tua yang pendek botak ini adalah seorang jagoan Jepang yang terkenal dengan ilmunya Yiu-yit-su. Dia seorang jago gulat yang selama ini jarang menemui tandingan di antara sekalian bajak laut, dan menjadi juara di kalangan Kipas Hitam.

Kedudukannya tinggi, sejajar dengan kedudukan Pouw Beng dan dia pun menjadi tangan kanan Yosiko, terutama untuk urusan mengendalikan anak buah bajak laut Kipas Hitam. Semua anak buah bajak laut, terutama yang berasal dari Jepang, takut belaka kepada Sakisoto, demikian nama jagoan tua ini.

Selain ahli dalam ilmu gulat dan ilmu tangkap Yiu-yit-su, dia pun termasuk seorang jago samurai yang ampuh. Apa bila dibandingkan dengan Pouw Beng, sukarlah untuk menilai karena keduanya memiliki keistimewaan masing-masing.

"Bocah sombong, hayo lekas kau berlutut menyerahkan diri sebelum kubanting tubuhmu sampai remuk!" bentak Sakisoto, karena bagaimana pun juga dia merasa malu kalau harus melawan seorang pemuda tak ternama, apa lagi kelihatannya kurus kering dan lemah begitu, maka dia memberi peringatan lebih dulu agar bocah itu menyerah saja.

Yo Wan tentu saja sudah pernah mendengar tentang ilmu gulat dan ilmu tangkap dari Jepang, tentu sejenis Ilmu Silat Sauw-kin Na-jiu-hoat, pikirnya. la maklum akan kelihaian ilmu ini yang sama sekali tidak membolehkan anggota badan tertangkap.

Akan tetapi menyaksikan gerakan kakek ini, dia berbesar hati. Langkah kakek ini sedikit banyak telah membayangkan keadaan tenaga Iweekang yang dimilikinya dan dia merasa sanggup untuk menghadapinya.

"Orang tua, kau tentunya seorang ahli membanting orang. Biarlah, aku ingin merasakan bantinganmu, kalau aku kalah tidak usah kau suruh menyerah, tentu saja aku sudah tak berdaya lagi. Silakan!" la sengaja bicara dengan lambat supaya kakek Jepang itu dapat mengikuti kata-katanya karena tadi ketika bicara, orang Jepang ini juga lambat-lambat dan agak sukar.

"Bocah sombong, kau cari mampus!" Sakisoto berseru.

Dua kakinya yang pendek itu lalu bergerak maju, kedua lengannya menyambar dengan gerakan kuat dan jari-jari tangan terbuka. Alangkah heran dan juga girangnya ketika dia melihat lawannya sama sekali tidak mengelak sehingga begitu dia menggerakkan kedua tangannya, Yo Wan sudah kena dicengkeram lengan kiri dan pundak kanannya!

Dengan sepasang mata sipitnya berseri-seri saking gembiranya akan hasil ini, Sakisoto mengerahkan tenaga dari perut, disalurkan kepada jari-jari tangannya dengan maksud untuk meremas hancur pergelangan lengan kiri dan pundak kanan pemuda kurang ajar itu. Jari-jari tangannya mengeras, menggigil karena terisi getaran tenaga yang dahsyat, tenaga yang membuat jari-jari tangan itu mampu meremas hancur batu karang!

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika jari-jari tangannya meremas kulit yang lunak dan licin bagaikan kulit belut, lunak tetapi ulet seperti karet sehingga tenaga remasan jari-jari tangannya lenyap tertelan atau tenggelam, sama sekali tidak ada hasilnya seperti orang meremas kapas!

Dalam kagetnya jago tua Jepang yang sudah banyak pengalamannya itu dapat menduga bahwa pemuda ini memiliki tenaga dalam dari orang-orang daratan yang memang amat luar biasa. Maka, secepat kilat dia mengubah getaran tenaganya, kini jari-jarinya tidak mencengkeram untuk meremukkan lagi melainkan mencengkeram erat-erat, kemudian ia mengerahkan tenaga perut untuk mendongkel dan melontarkan lawannya dengan gerak tipu dalam Ilmu Yiu-jit-su. Kakinya menjegal dan tangannya yang satu mendorong yang lain menyentak kuat.

Tetapi, orang yang disentaknya tidak bergeming sama sekali. Hal ini tidak mengherankan karena mendadak Yo Wan juga telah mengganti tenaga dalamnya, kini dia mengerahkan tenaga Selaksa Kati yang disalurkan ke arah kedua kaki dan berdiri dengan kuda-kuda Siang-kak Jip-te (Sepasang Kaki Berakar di Tanah), Jangankan baru seorang Sakisoto, biar kedua kaki itu ditarik oleh lima ekor kuda kiranya belum tentu akan dapat terangkat!

Mulut jago tua Jepang itu mengeluarkan suara ah-ah-uh-uh pada waktu dia beberapa kali mengganti kedudukan dan jurus untuk berusaha mengangkat kaki lawannya untuk terus dilontarkan di atas pundak dan dibanting remuk. Keringatnya sudah memenuhi muka, otot-ototnya menonjol keluar, nafasnya terengah-engah, namun hasilnya sia-sia belaka.

Pemuda yang kurus itu masih berdiri tegak dengan senyum manis, malah sedikit pun tak kelihatan mengerahkan tenaga. Hal ini selain membuat Sakisoto merasa penasaran, juga membuatnya menjadi malu dan marah sekali.

“Mampus kau!" bentaknya.

Secepat kilat kedua tangannya melepaskan cengkeraman pada lengan dan pundak, kini berganti dengan serangan memukul dengan telapak tangan dimiringkan. Tangan kanan memukul leher dan tangan kiri memukul lambung!

Jangan memandang ringan serangan ini karena kedua tangan itu sudah terlatih, ampuh sekali. Kepala orang bisa remuk terpukul oleh tangan miring ini, apa lagi tempat-tempat gawat macam leher dan lambung. Sekali pukul tentu nyawa akan melayang!

Mendengar menyambarnya hawa pukulan, Yo Wan maklum bahwa serangan ini cukup berbahaya. Cepat dia menyambar dengan kedua tangannya, jauh lebih cepat dari pada datangnya pukulan. Tahu-tahu kedua pergelangan tangan jago tua itu sudah dia tangkap dan semua urat syaraf dalam tubuh Sakisoto seketika bagaikan dilolosi. Tiba-tiba saja Yo Wan berseru keras.

Tubuh pendek tegap itu melayang ke atas dan terbang sampai sepuluh meter jauhnya. Akan tetapi, begitu dilepas, jago tua yang sudah berpengalaman ini dapat menggerakkan tubuhnya sehingga saat terbanting ke bawah, dia dapat mendulukan daging belakangnya sehingga hanya terdengar suara berdebuk.

Tubuhnya membal ke atas, lalu turun lagi dalam keadaan berdiri dan mulutnya meringis karena daging tua pada belakang pantatnya terasa kesemutan dan sakit! Kemarahannya memuncak, kemudian dengan kerongkongan mengeluarkan gerengan laksana beruang, dia menubruk maju, didahului pedang samurainya yang panjang dan besar.

Yo Wan cepat miringkan tubuh, membiarkan sinar berkelebat pedang panjang itu lewat. Jari tangannya bekerja dan di lain saat sekali lagi tubuh Sakisoto terguling, kali ini jatuh tersungkur tak marnpu bangkit untuk beberapa menit lamanya karena jari-jari tangan Yo Wan telah berhasil menyentil sambungan tulang pundak kanan dan menotok jalan darah di punggung kiri! Jago tua Jepang itu hanya mampu mengulet dan merintih perlahan.

Bila tadi sepasang mata Yosiko berapi-api marah, kini mulai bersinar penuh kekaguman. Dua orang jagonya dirobohkap demikian mudahhya. Bukan main pemuda sederhana ini. Mungkinkah ada pemuda yang lebih pandai dari pada jago tampan dari Lu-liang-pai?

Diam-diam dia melirik ke arah Hwat Ki yang masih pingsan di dekat sumoi-nya, di sudut ruangan. Kemudian dia memberi tanda. Para pelayan datang membangunkan Sakisoto dan mengangkatnya keluar dari ruangan itu.

Yo Wan tersenyum menghadap Yosiko. "Bagaimana? Cukupkah?"

"Hemmm, setelah kau mampu merobohkan dua orang pembantuku, kau mau apa?"

"Tidak apa-apa, hanya minta supaya kau bebaskan kedua orang muda dari Lu-liang-san itu, kemudian gulung tikar dan kembali ke Jepang, jangan lagi kau atau anak buahmu mengganggu pantai dan perairan Po-hai."

"Peduli apa dengan kau? Kau murid siapa? Dari partai apa?"

"Mengherankan sekali. Kau masih tanya peduli apa denganku? Tentu saja aku tidak bisa membiarkan kau mengganggu keamanan wilayah ini dan mengacau ketenteraman hidup bangsaku. Soal aku murid siapa, tidak ada sangkut pautnya denganmu dan aku tidak punyai partai. Nona, kulihat kepandaianmu lumayan, mengapa kau memilih jalan sesat? Mengapa kau mendirikan perkumpulan bajak laut Kipas Hitam? Sayang sekali, kau lihai dan sepatutnya menjadi seorang pendekar wanita yang cantik, gagah, serta terhormat, berguna bagi bangsamu di Jepang..."

"Tutup mulutmu yang lancang!" Yosiko berteriak nyaring.

Kini penyamarannya gagal karena sesudah dia marah-marah, sepasang pipinya menjadi kemerahan, merah jambu yang hanya dapat timbul pada pipi seorang gadis, sedangkan teriakannya pun teriakan marah seorang gadis, tidak lagi suara berat pria seperti yang ia tirukan dalam percakapan biasa.

"Kau begini sombong! Apa kau kira aku takut padamu? Kami belum kalah. Gak-lopek, harap kau beri hajaran bocah sombong ini!”

Kakek ketiga yang gendut perutnya melompat maju. Gerakannya perlahan dan lambat saja, seakan-akan dia terlalu malas untuk bergerak, apa lagi main silat, patutnya orang ini bertiduran di atas kursi malas sambil mengisap huncwe (pipa tembakau) dengan mata meram melek.

Akan tetapi Yo Wan cukup waspada dan dia maklum bahwa di antara tiga orang kakek tadi, si gendut inilah yang paling lihai. Wajahnya yang agak pucat kekuningan, kedua lengannya yang tidak kelihatan ada otot menonjol, langkahnya yang tenang serta terlihat berat dan seolah-olah kakinya menempel dan lengket pada lantai yang diinjaknya, semua ini menandakan bahwa dia seorang ahli Iweekeh (ahli tenaga dalam) yang kuat.

Diam-diam Yo Wan mengumpulkan hawa murni di dalam pusarnya, lalu mendesaknya ke seluruh bagian tubuh, terutama pada kedua lengannya untuk berjaga-jaga. Pemuda ini pernah mendapat gemblengan tenaga dalam dari dua orang sakti, yaitu Sin-eng-cu dan Bhewakala, apa lagi latihan tenaga dalam ini kemudian dia sempurnakan dengan tekun di pertapaan Bhewakala, yaitu di Pegunungan Himalaya.

Oleh pendeta sakti ini, Yo Wan digembleng hebat, malah sudah mengalami gemblengan terakhir yang luar biasa berat, bahkan yang dilakukan dengan taruhan nyawa, yaitu kalau tidak tahan dapat mati seketika. Latihan ini adalah latihan bersemedhi mengumpulkan sinkang dan memutar-mutar hawa murni ke seluruh tubuh dengan cara bertapa telanjang bulat selama tujuh hari di bawah hujan salju di puncak gunung. Apa bila dia tidak dapat menahan, dia akan mati dalam keadaan beku dan terbungkus es!

"Orang muda, kau benar-benar lihai sekali! Akan tetapi, untuk dianggap cukup berharga melayani Yo-kongcu, kau harus dapat menandingi aku terlebih dahulu! Perkenalkan, aku bernama Gak Tong Sek!"

Sambil berkata demikian, seperti seorang yang menghormat tamu, dia menjura dengan kedua tangan dirangkap didepan dada, selayaknya orang memperkenalkan diri.

Tepat seperti dugaan Yo Wan, begitu kakek gendut ahli Iweekeh ini mengangkat kedua lengannya memberi hormat, dadanya terasa sesak karena terserang oleh hawa pukulan tersembunyi yang sangat kuat, yang menyambar keluar dari gerakan kedua tangan yang dirangkapkan itu.

Cepat Yo Wan menggerakkan kedua lengannya, diangkat ke atas sebagai pembalasan hormat sambil diam-diam mengerahkan sinkang mendorong ke depan. Hawa pukulannya amat kuat dan hal ini terasa betul oleh Gak Tong Sek karena wajahnya tiba-tiba berubah kaget dan jelas tampak dia mengerahkan tenaga untuk menahan dorongan lawan yang amat kuatnya itu.

la merasa heran karena tidak mengira bahwa lawan yang demikian muda ini tidak saja sanggup menahan dorongan pukulan jarak jauhnya, tetapi bahkan mengembalikan hawa pukulan itu dengan tambahan dorongan yang lebih kuat lagi. Tentu saja dia tidak mau menyerah kalah, merasa malu apa bila dia pergi menghindar. Maka, sambil memasang kuda-kuda sekuatnya pada kedua kaki, dia menahan dorongan lawan.

Yo Wan merasa betapa dorongannya tertahan secara kuat. Dia menambah tenaganya dan terus mendorong. Gak Tong Sek mempertahankan dengan sangat kuatnya, namun yang mendorong lebih kuat lagi.

Terdengar suara keras. Tubuh kakek gendut itu terdorong mundur, akan tetapi sepasang kakinya tetap dalam keadaan memasang kuda-kuda, sedikit pun tidak terangkat dan dia tidak roboh terguling, akan tetapi terdorong ke belakang dengan kedua kakinya menyeret lantai sehingga retak-retaklah lantai batu yang terseret kedua kakinya!

Makin jauh kakek ini terdorong, maka semakin berkuranglah kekuatan dorongan Yo Wan, sehingga setelah terdorong tiga kaki jauhnya, tubuh kakek ini berhenti. Wajahnya pucat dan dua butir keringat tampak di dahinya.

"Orang tua, kau benar-benar amat lihai, aku yang muda merasa kagum sekali," kata Yo Wan tersenyum.

Yo Wan memang berkata sejujurnya karena dia merasa sangat kagum akan daya tahan kakek itu sehingga dia tak mampu merobohkan, malah membuat kakek itu mengangkat kaki pun tidak sanggup. Sungguh-sungguh seorang kakek yang selain memiliki tenaga Iweekang tinggi, juga amat ulet dan tahan uji.

Akan tetapi bagi kakek Gak, ucapan tadi dianggapnya sebagai ejekan, maka dia menjadi penasaran dan marah bukan main. Biar pun dia maklum akan besarnya tenaga sinkang pemuda itu, namun belum tentu dia akan kalah dalam ilmu pukulan yang telah dilatihnya puluhan tahun lamanya, yang agaknya telah dia miliki sebelum orang muda ini lahir.

Selama ini, hanyalah ketua Kipas Hitam saja orang muda yang mampu menandinginya dan hal ini tidak membuat dia kecil hati karena dia cukup maklum bahwa pangcu-nya itu mewarisi ilmu kepandaian yang luar biasa dari orang tuanya. Namun dia anggap bahwa di dunia ini tidak ada keduanya orang muda seperti pangcu (ketua) dari Hek-san-pang.

"Bocah sombong, belum tentu aku kalah!" bentaknya marah sambil mengayunkan kedua tangannya, melancarkan pukulan-pukulan maut dari jarak jauh.

Terdengar suara angin menyambar bersiutan sehingga api penerangan di empat penjuru ruangan itu bergoyang-goyang hampir padam. Demikianlah hebatnya ilmu pukulan jarak jauh dari kakek Gak Tong Sek yang dia sendiri namakan Swat-hong Sin-ciang (Pukulan Sakti Angin Puyuh).

Para pelayan yang tahu akan hebatnya ilmu pukulan ini, tanpa diperintah lagi segera mundur dan menyelinap ke balik pintu. Hanya Yosiko yang masih berdiri tegak, pakaian dan penutup rambutnya berkibar-kibar oleh angin pukulan, tapi dia sendiri tidak apa-apa karena dia pun telah mengerahkan sinkang melindungi seluruh tubuhnya.

"Bagus!” Mau tak mau Yo Wan memuji kehebatan ilmu pukulan ini.

Akan tetapi tidak sia-sia ia digembleng habis-habisan di puncak Himalaya. Dengan amat tenang, penuh kepercayaan akan diri sendiri, dia melangkah maju sambil memangku dua lengannya, sama sekali tidak mengelak atau menangkis.

Pukulan-pukulan jarak jauh datang bagaikan hujan badai menimpa dirinya, namun hanya pakaian beserta rambutnya saja yang berkibar-kibar, sedangkan semua hawa pukulan itu terbentur dan membalik saat bertemu dengan hawa sinkang yang menyelubungi seluruh tubuhnya!

Sudah penuh keringat muka dan leher Gak Tong Sek, namun semua pukulannya sia-sia belaka. Saking marah dan penasarannya, dia melompat maju, kini menggunakan kedua tangannya memukul dari jarak dekat dengan pengerahan tenaga Iweekang sepenuhnya.

Tentu saja Yo Wan maklum bahwa pukulan ini terlalu berbahaya untuk diterima seperti dia menerima pukulan jarak jauh tadi. Cepat kedua tangannya bergerak.

"Dukkk-dukkk!"

Dua kali empat buah lengan itu bertemu dan tubuh kakek Gak Tong Sek melayang keluar dari pintu ruangan, jatuh berdebuk di luar ruangan itu. Dia tak dapat bangun lagi, hanya terdengar mengorok seperti kerbau disembelih. Di antara tiga orang kakek yang melawan Yo Wan, kakek Gak inilah yang paling berat lukanya. Hal ini adalah karena dia terpukul oleh tenaga lweekang-nya sendiri, sehingga walau pun tidak akan kehilangan nyawanya, namun sedikitnya tiga bulan dia harus berbaring!

Kini lenyaplah sama sekali kemarahan dari wajah Yosiko, terganti bayangan kekaguman di wajahnya yang tampan berseri. Sepasang matanya berkilauan, dengan bola matanya yang bening bergerak-gerak cepat menandakan kecerdikan otaknya, bibirnya tersenyum-senyum ketika ia melangkah maju dengan senjata di tangan.

Seperti tadi ketika menghadapi Hwat Ki, kini tangan kanannya memegang pedang, dan tangan kirinya memegang sabuk sutera putih. Dengan langkah cepat ia bertindak maju, sepasang matanya tak pernah mengalihkan pandangannya dari wajah Yo Wan.

"Hebat... kau... kau lebih lihai dari pada Tan Hwat Ki... kau hebat...!"

Ketua Hek-san-pang yang muda dan oleh Yo Wan dianggap wanita itu melangkah maju. "Tapi... kau harus dapat mengalahkan aku lebih dulu, baru dapat kunilai apakah kau lebih patut dari pada dia..."

"Hek-san Pangcu, kau bicara apa ini? Aku tidak ingin bermusuhan dengan engkau, akan tetapi jika kau mendesakku, jangan menyesal bila aku turun tangan besi dan membasmi gerombolan bajak yang kau pimpin. Biar pun kau mengerti Ilmu Langkah Kim-tiauw-kun, jangan kau mengira tidak akan ada yang dapat melawanmu. Justru karena kau mengenal Kim-tiauw-kun, aku makin berkeras untuk melarangmu melakukan perbuatan jahat!"

Berubah wajah Yosiko, akan tetapi sinar matanya makin berseri. "Kau... kau tahu tentang langkah-langkah ajaib?"

"Tentu saja aku mengenal Hui-thian Jip-te. Orang yang mempergunakan ilmu ini harus menjadi pembela kebenaran dan keadilan, sama sekali tidak boleh menjadi penjahat!"

Yosiko tersenyum. "Wah, kiranya kau pun bukan orang sembarangan, dapat mengenal Hui-thian Jip-te. Kau bilang tadi namamu Yo Wan? Kau ini murid siapakah? Apakah kau kenal dengan Tan Hwat Ki dan sumoi-nya dari Lu-liang-pai ini?"

Dalam mengajukan pertanyaan ini, lenyaplah sikap bermusuhan, seakan-akan Yo Wan sedang menghadapi seorang kenalan baru saja. Ketua Hek-san-pai itu demikian ramah. Akan tetapi Yo Wan tak ingin memperkenalkan diri, apa lagi jika sampai membawa-bawa nama Pendekar Buta.

"Namaku Yo Wan dan habis perkara. Aku seorang yatim piatu, tak bersanak tidak pula berkadang."

"Dan belum menikah?"

Merah wajah Yo Wan. Celaka orang ini benar-benar cerewet dan tak tahu malu. Karena sungkan dan jengah, dia tidak menjawab, hanya menggeleng kepala. Yosiko tersenyum lagi.

"Wah, seorang jaka lola kalau begitu. Ehh, jaka lola yang lihai, dengar baik-baik. Adikku mencari jodoh dan agaknya kau patut menjadi jodohnya karena agaknya kau lebih lihai dari pada Tan Hwat Ki. Namun kau harus dapat mengalahkan aku untuk membuktikan kelihaianmu."

"Pangcu, harap kau jangan main-main. Aku tidak peduli adikmu itu akan menikah dengan siapa pun juga, bukan urusanku. Aku pun sekali-kali tidak ingin membuktikan kelihaianku. Aku hanya minta agar kau bebaskan dua orang muda itu dan tarik mundur semua anak buahmu, jangan pernah lagi mengganggu daerah Po-hai. Kalau tidak, terpaksa aku akan membasmi Kipas Hitam!"

Yosiko tersenyum lebar sehingga tampak deretan giginya yang putih berkilauan dan rapi.

"Yo Wan, kalau kau bisa menangkan aku dan menikah dengan adikku, kau akan menjadi ketua Kipas Hitam dan terserah apa yang hendak kau lakukan. Lihat senjata!"

Secepat kilat pedang di tangan Yosiko menyambar, menjadi sebuah tusukan sutera putih di tangan kirinya sudah bergerak pula menjadi lingkaran bundar yang melayang dari atas mengarah kepala Yo Wan. Sudah tentu saja pedang itu sangat berbahaya, akan tetapi sinar putih sabuk sutera itu kiranya tidak kalah bahayanya, karena ujung sabuk itu dapat menjadi alat menotok jalan darah yang sekali mengenai kepala akan merenggut nyawa!

Mendongkol juga hati Yo Wan. Sebenarnya dia merasa sayang bahwa seorang muda seperti Yosiko, baik ia gadis seperti dugaannya atau pun betul laki-laki, yang jelas adalah seorang peranakan Jepang, tidak dapat dia sadarkan kembali ke jalan benar. Akan tetapi orang ini terlalu memandang rendah padanya, bila tidak diberi hajaran tentu tidak kapok!

"Kau menghendaki kekerasan? Baik!" katanya.

Segera kakinya mempergunakan langkah-langkah ajaib untuk menghindarkan serangan pedang dan sabuk sutera. Malah dia segera balas menyerang dengan tangan kosong, menggunakan Ilmu Silat Liong-thouw-kun yang sangat lihai. Dia merasa sayang sekali bahwa dia sekarang sudah tidak memiliki senjata apa pun, karena dalam pertandingan mati-matian melawan Bhok Hwesio yang sakti, tiga buah senjatanya rusak semua.

Liong-kut-pian (Cambuk Tulang Naga) pemberian mendiang Bhewakala telah putus pada waktu dia berebutan dengan Bhok Hwesio. Pedang Pek-giok-kiam pemberian subo-nya (ibu gurunya) telah patah menjadi tiga potong, sedang pedang Siang-bhok-kiam (Pedang Kayu Wangi) yang dia buat di Himalaya hancur remuk, semua berkat kesaktian Bhok Hwesio, lawan paling hebat yang pernah dia tandingi di dunia ini!

Sekarang dia bertangan kosong dan menghadapi lawan seperti ketua Hek-san-pang ini, sungguh tidak menguntungkan kalau hanya dengan tangan kosong.

Terdengar berkali-kali Yosiko berseru kagum dan heran. Tentu saja dia merasa heran karena pemuda dusun lawannya ini ternyata mampu bermain langkah ajaib yang malah lebih hebat, lebih lengkap dan lebih lincah dari pada kepandaiannya sendiri!

Keheranannya membuat dia gugup dan pada saat sabuk sutera putihnya menyambar, ujung sabuk ini kena dicengkeram oleh Yo Wan yang cepat mengirim pukulan jarak jauh dengan pengerahan tenaga ke arah lengan kiri lawannya. Hawa pukulan dahsyat lantas menyambar dan Yosiko berteriak kaget, terpaksa dia melepaskan sabuk sutera putihnya sambil meloncat mundur sampai tiga meter jauhnya!

Yo Wan berdiri sambil tersenyum, mempermainkan sabuk sutera putih yang halus dan berbau harum itu. Makin yakinlah hatinya bahwa Yosiko pastilah seorang gadis.

"Bagaimana? Menyerahkah kau sekarang?" ujarnya, nadanya mengejek.

Sepasang pipi itu merah padam. Bukan main, pikirnya. Dalam waktu kurang dari sepuluh jurus saja, pemuda ini dengan tangan kosong telah mampu merampas sabuk suteranya! Padahal tadi Hwat Ki dengan pedang di tangan tidak mampu merobohkannya sampai puluhan jurus lamanya.

Benar-benar pemuda aneh dan memiliki kepandaian yang luar biasa sekali. Bahkan ilmu langkah dari Hwat Ki sekali pun tidak seindah dan sehebat ilmu langkah pemuda yang sederhana ini. Jantungnya berdebar penuh kekaguman, namun ia masih penasaran.

Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun ia menerjang lagi. Kini dia memutar pedangnya sehingga pedang itu lenyap berganti gulungan sinar seperti payung di depan dadanya, langsung menerjang Yo Wan.

"Tar-tar-tar-tar-tar!"

Nyaring sekali suara ledakan-ledakan kecil ini yang tercipta dari ujung sabuk sutera yang diledakkan seperti cambuk oleh Yo Wan.

Bukan main kagetnya hati Yosiko ketika melihat betapa sabuk suteranya, yang biasanya sangat dia andalkan sebagai senjata di samping pedangnya, kini di tangan pemuda itu berubah menjadi senjata yang malah lebih ampuh lagi. Sabuk suteranya itu kini berubah menjadi sinar putih yang panjang, membentuk lingkaran-lingkaran aneh yang saling susul menyusul dan telan menelan, lingkaran kecil yang ditelan lingkaran lebih besar, berubah ubah dan sukar diikuti perkembangannya, namun dibarengi ledakan-ledakan kecil yang mengancam semua jalan darah di tubuhnya secara bertubi-tubi!

Tentu saja Yo Wan pandai memainkan sabuk sutera ini sebagai senjata karena memang inilah salah satu di antara ilmu-ilmunya yang sakti, yaitu Ilmu Cambuk Ngo-sin Hoan-kun yang merupakan gerakan dari pada lingkaran sakti yang terbuat dari pada ujung cambuk atau benda lemas panjang.

Kalang kabutlah permainan pedang Yosiko. Selama hidupnya, baru kali ini ia mengalami hal macam itu, baru kali ini ia menghadapi lawan yang begini lihainya. Saking kagetnya, ia sampai lupa akan ilmu pedangnya dan gerakannya menjadi kacau-balau.

Mendadak dia menjerit dan pedangnya ‘terbang’ meninggalkan tangan kanannya karena pedang itu ternyata sudah terlibat sabuk sutera dan terbetot tanpa dapat dia pertahankan lagi. Kemudian ujung sabuk itu seperti cemeti meledak-ledak dan mencambuknya.

"Aduhh...! Ihhh...! Aduhhh...!" Yosiko berteriak-teriak karena setiap kali sabuk sutera itu berbunyi pasti menghantam tubuhnya, membuat pakaiannya robek di tempat yang dicium ujung sabuk itu, serta kulitnya menjadi merah-merah dan matang biru, rasanya bagaikan ditampar atau dicubit keras!

Yo Wan tidak tega untuk merobohkan ketua Hek-san-pang ini, akan tetapi dia memang hendak memberi hajaran. Mengingat bahwa ketua itu ialah seorang wanita muda, maka dia hanya menggunakan sabuk sutera itu untuk mencambukinya agar kapok!

"Sahabat yang gagah, tolong kau bantu kami menangkap dia! Dia adalah ketua bajak, kami harus menangkapnya untuk dihadapkan kepada Bun-goanswe di Tai-goan!"

Tiba-tiba terdengar suara Hwat Ki yang kebetulan pada saat itu sudah sadar. Pemuda ini meloncat bangun, disusul oleh Cui Kim yang juga sudah tersadar. Memang racun yang dipergunakan oleh ketua Kipas Hitam dalam jamuan makan tadi hanyalah racun untuk membuat mabuk orang untuk sementara waktu saja, sama sekali tidak berbahaya, hanya sekedar membuat lawan tidak berdaya.

Begitu sadar dari pingsannya serta melihat betapa Yosiko dicambuki secara aneh oleh pemuda asing yang dia kenal sebagai pemuda di rumah makan di dusun Leng-si-bun, Hwat Ki segera| berseru untuk menangkapnya. Pemuda Lu-liang-san ini dapat menduga bahwa Yo Wan tentu adalah seorang pendekar yang berpihak kepadanya dan memusuhi bajak laut.

Mendengar seruan ini, sejenak Yo Wan bingung dan agaknya kesempatan ini tidak ingin disia-siakan oleh Yosiko. Diam-diam ia telah mengeluarkan sebuah kipas hitam dan pada waktu ia menekan gagangnya, dari kedua ujung kipas itu menyambarlah sinar hitam ke depan.

"Awas...!" Yo Wan berseru.

Sekali sabuk sutera putihnya dia gerakkan, Hwat Ki dan Cui Kim roboh oleh sabuk itu, terpelanting karena kaki mereka telah terlibat dan dibetot. Yo Wan sengaja melakukan ini karena dapat menduga akan bahayanya sinar hitam itu.

Namun usahanya menyelamatkan kedua orang muda itu membuat dia kurang waspada akan dirinya sendiri. la sudah mengebutkan tangan kiri menyampok, namun dia merasa pundak kirinya sakit dan panas, maka maklumlah dia bahwa dia sudah terkena senjata rahasia yang halus dan beracun. Rasa panas bercampur rasa gatal membuat dia kaget sekali dan cepat dia melompat ke depan mengejar Yosiko yang lari.

"Berhenti, serahkan obat pemunah racun!" teriak Yo Wan marah.

Karena ginkang-nya memang jauh lebih menang dari pada Yosiko, sebentar saja dia hampir dapat menangkapnya di luar gedung itu. Namun tiba-tiba Yosiko melompat dan...

"Byurrrrr...!" ketua Kipas Hitam itu sudah terjun ke dalam air laut yang berbuih-buih.

Biar pun bukan ahli, namun kalau hanya berenang saja Yo Wan dapat juga. la maklum bahwa tubuhnya sudah terkena senjata beracun, dan ketua Hek-san-pang itu merupakan satu-satunya orang yang memiliki obat penawarnya, maka harus dia tangkap. Dengan pikiran ini, Yo Wan menjadi nekat dan...

"Byurrrrrr...!" air laut yang hitam gelap itu untuk kedua kalinya muncrat ketika tubuh Yo Wan terjun ke dalamnya.

Yo Wan melihat di bawah sinar bulan yang remang-remang itu lawannya berenang ke tengah di mana terdapat beberapa buah perahu nelayan.

"Hemmm, ke mana pun kau lari, jangan harap dapat terlepas dari tanganku," pikirnya dan dia merasa girang ketika mendapat kenyataan bahwa sesudah berada agak ke tengah, ternyata laut itu airnya tenang, memudahkan dia berenang melakukan pengejaran.

Perahu-perahu di depan itu adalah perahu yang berlabuh, kelihatannya sunyi dan gelap. Tak mungkin kalau perahu nelayan berlabuh dalam keadaan gelap dan berada di tengah. Agaknya perahu-perahu bajak laut.

Yo Wan tak mempedulikan perahu-perahu itu. Ke mana pun juga Yosiko pergi, harus dia kejar sampai dapat, karena kalau tidak, keadaannya akan berbahaya. Mulailah Yo Wan menduga-duga.

Agaknya senjata rahasia yang halus itu merupakan jarum-jarum kecil halus yang dapat menembus kulit dan menyusup ke bawah kulit sehingga kalau beracun maka racunnya dapat langsung terbawa oleh darah. Pundak kirinya mulai terasa kejang-kejang. Air laut mengurangi rasa sakit, akan tetapi makin lama pundaknya terasa makin kaku dan lengan kirinya hampir tidak dapat digunakan lagi. Dia berenang mengandalkan kedua kaki dan lengan kanannya sehingga tiap kali tubuhnya miring ke kiri, mukanya terbenam ke dalam air.

Akan tetapi girang hatinya karena agaknya Yosiko tidak dapat berenang cepat. Buktinya sebentar saja dia sudah hampir berhasil menyusulnya. Dia mengerahkan tenaganya dan terus bergerak maju, berseru keras,

"Pangcu dari Kipas Hitam, berhentilah! Kau berikan obat pemunah racun dan baru aku mau memberi ampun kepadamu!"

Yosiko menoleh sambil tertawa, kemudian, tiba-tiba lenyaplah kepala yang tertawa itu. Yo Wan terkejut. Celaka, pikirnya. Apakah orang itu tenggelam? Jangan-jangan kakinya diseret ikan buas! Kalau Yosiko kena celaka, berarti dia sendiri pun menghadapi bahaya maut.

Akan tetapi mendadak bulu tengkuknya meremang saking ngeri dan kagetnya ketika dia merasa betapa kakinya terjepit sesuatu dan dia ditarik ke bawah! Celaka, pikirnya, tentu ikan buas. Yosiko telah menjadi korban ikan buas dan kini ikan-ikan itu mulai menyambar kakinya dan menarik ke bawah.

Cepat dia mengerahkan tenaga dan menggerakkan kaki sehingga sepatunya terlepas. Akan tetapi berbareng dengan terlepasnya sepatu kanannya, ikan yang tengah menggigit kakinya itu pun terlepas.

Mendadak ada suara orang tertawa di sebelah belakangnya. Cepat dia menengok dan... kiranya Yosiko yang tertawa, mentertawakannya.

"Mana kegagahanmu, Yo Wan? Agaknya di air kau tidak segagah di darat!"

Yo Wan menggerakkan tangan kanan meraih untuk menangkap lawan itu, akan tetapi tiba-tiba kepala itu lenyap lagi. Yo Wan terkejut dan maklumlah dia bahwa Yosiko kiranya adalah seorang ahli bermain dalam air! Tentu yang mempermainkannya, yang mencopot sepatunya adalah Yosiko inilah!

Berabe, pikirnya. Apa bila harus bertanding di air, melihat gerakan Yosiko yang demikian cepatnya, dia pasti takkan berdaya. Benar saja, Yosiko muncul di sana-sini, seperti main kucing-kucingan, sedangkan Yo Wan sudah payah dan lelah sekali.

Mendadak perahu-perahu yang sunyi dan gelap itu tiba-tiba menjadi terang benderang, agaknya ada tanda rahasia yang membuat orang-orang yang bersembunyi dalam perahu secara serentak memasang lampu penerangan. Terdengar teriakan-teriakan gaduh.

"Itu dia! Benar dia kepala bajak Kipas Hitam. Serbu!”

"Tangkap!"

"Bunuh...!"

"Hadiahnya besar kalau bisa tangkap dia, hidup atau mati!"

"Mari serbu, hadiahnya bagi rata!"

Ramai sorak-sorai itu dan perahu-perahu hitam tadi mulai bergerak mengurung tempat Yo Wan dan Yosiko main kucing-kucingan di dalam air. Kemudian telinga Yo Wan yang tajam dapat menangkap mengaungnya suara anak-anak panah menyambar.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner