JAKA LOLA : JILID-31


"Yo Wan, kau pakailah pedangku ini!" kata Yosiko dengan suara manis.

Yo Wan hendak menerima pedang, akan tetapi cepat-cepat menarik kembali tangannya yang sudah sedikit dia gerakkan. Tidak baik ini. Kalau dia menang dan kemenangannya menggunakan pedang Yosiko, hal itu lebih-lebih akan menguatkan mereka mengikatnya sebagai calon jodoh Yosiko.

"Terima kasih, Yosiko. Aku tidak perlu menggunakan pedang, cukup dengan ini, karena aku memang tidak ingin bertempur sungguh-sungguh dengan ibumu. Bukankah ini hanya ujian saja?"

Sambil berkata demikian, dengan sepatu barunya pemberian Yosiko, Yo Wan mencukil sepotong kayu, agaknya ranting pohon kering yang terletak di atas tanah. Kayu sebesar ibu jari kaki itu tersontek ke atas dan dia sambar di tangan kanan. Ranting yang kecil ini panjangnya kurang lebih empat kaki, kecil dan hanya kayu kering, mana mungkin bisa dipakai senjata menghadapi pedang pusaka?

Wajah Tan Loan Ki menjadi merah sekali. Selama hidupnya baru sekarang ini ia merasa dipandang rendah orang! Wajah yang merah berubah pucat, kemudian merah lagi, tanda bahwa hatinya bergolak dan kemarahannya memuncak.

“Bocah sombong! Kau hendak menghadapi aku dengan ranting itu?"

"Twanio, karena pertempuran ini hanya coba-coba saja, aku yakin kau tidak bermaksud melukaiku, maka dengan sebatang ranting sudah cukuplah."

"Setan! Kau memandang rendah kepadaku, ya? Berjanjilah, kalau pedangku mengantar nyawamu ke neraka, jangan rohmu menjadi penasaran kepadaku kelak!"

Yo Wan menggelengkan kepalanya dengan sabar. "Aku yakin Twanio tak akan sanggup membunuhku."

"Apa?! Kau begini sombong??" Nyonya itu menjerit.

"Bukan sombong, Twanio. Akan tetapi hidupku adalah pemberian Tuhan, bagaimana kau akan dapat mengakhiri hidupku? Hanya Tuhan yang akan dapat melakukan hal itu!"

"Wah, kau bersilat lidah! Lidahmu bercabang, tak bertulang! Kau lihat pedangku!" Sambil berkata demikian, Tan Loan Ki segera menerjang dengan pedangnya, menusuk ke arah dada dengan gerakan yang sangat cepat dan kuat. Ujung pedang itu bagaikan sebatang anak panah terlepas dari busurnya melayang merupakan kilatan menyilaukan mata.

"Cring! Cring! Cring!" Tiga kali pedang itu berkelebat dan tiga kali pula membalik seperti terbentur tembok baja.

"liihhhhh!" Tan Loan Ki berseru kaget.

Nyonya itu cepat meloncat ke belakang dengan gerakan memutar, diam-diam ia merasa terkejut dan mulai percaya akan kata-kata puterinya. Betapa mungkin ranting kayu kecil itu menangkis pedangnya menerbitkan bunyi senyaring itu seakan-akan ranting itu telah menjadi sebatang besi baja pilihan?

Namun ia tidak gentar, dan cepat ia menubruk maju lagi dengan cekatan sekali. Kini ia memainkan ilmu pedang keturunan yang ia pelajari dari ayahnya dahulu. Ayahnya adalah Tan Beng Kui yang dahulu berjuluk Sin-kiam-eng (Pendekar Pedang Sakti) yang menjadi raja kecil di hutan Pek-tiok-lim (Hutan Bambu Putih), di tepi pantai Po-hai.

Sin-kiam-eng Tan Beng Kui ini adalah murid terkasih dari Bu-tek Kiam-ong Cia Hui Gan (Raja Pedang Tanpa Tanding), dan menjadi suheng dari isteri Raja Pedang kedua, yaitu adik kandungnya sendiri. Sebagai murid terkasih Cia Hui Gan, tentu saja dia mewarisi Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut (Ilmu Pedang Bidadari) yang gerakannya indah dan lemah gemulai, tapi mengandung daya serang dan daya tahan yang luar biasa.

Demikianlah, sekarang Tan Loan Ki memainkan IImu Pedang Sian-li Kiam-sut dengan hebat, dan ditambah dengan gerak langkah Hui-thian Jip-te (Terbang ke Langit Amblas ke Bumi) yang dulu pernah ia pelajari dari Kwa Kun Hong.

Dengan penggabungan kedua ilmu yang sangat ampuh ini, tidaklah mengherankan apa bila nyonya setengah tua yang masih cantik serta galak ini jarang menemui tandingan. Dan tidaklah mengherankan pula bahwa puteri tunggalnya menjadi jagoan di antara para bajak sehingga diangkat menjadi ketua.

Namun kali ini ia menghadapi Yo Wan! Seperti kita ketahui, Ilmu Langkah Hui-thian Jip-te yang dimainkan Tan Loan Ki itu hanya merupakan sebagian saja dari Si-cap-it Sin-po yang berdasarkan pada Kim-tiauw-kun, sedangkan Yo Wan sudah hafal semua, bahkan sudah menguasai dengan sempurna semua langkah Si-cap-it Sin-po.

Tentu saja langkah dari nyonya itu dikenalnya baik-baik, seperti seorang guru mengenal langkah muridnya! Ada pun ilmu pedang yang dimainkan nyonya itu, Ilmu Pedang Sian-li Kiam-sut yang sukar sekali dikalahkan orang lain, juga tidak membingungkan Yo Wan.

Seperti kita ketahui orang muda ini telah digembleng secara hebat oleh dua orang guru sakti yang memiliki tingkat ilmu amat tinggi, sejajar dengan tingkat tokoh besar seperti Si Raja Pedang sendiri. Bahkan ilmu yang dia warisi dari Sin-eng-cu merupakan ilmu yang bersumber sama dengan Sian-li Kiam-sut, yaitu ilmu lemas tapi menyembunyikan tenaga keras. Sebaliknya, dari pendeta Bhewakala dia mempelajari ilmu sakti yang terlihat kasar akan tetapi menyembunyikan tenaga lemas.

Sambil membuat gerakan bagai orang menari-nari, Tan Loan Ki memainkan pedangnya. Pedang itu sama sekali tidak menyerang, melainkan digerakkan bagaikan orang menari, indah dan lemas sekali. Akan tetapi kadang kala dari gulungan sinar pedang yang indah itu menyambar keluar kilatan pedang yang merupakan tangan maut.

Ketika kilatan pedang macam itu menyambar ke arah leher Yo Wan, pemuda ini cepat menangkis dengan rantingnya. Semenjak tadi sudah lebih dari lima puluh kali rantingnya menangkis dan membalikkan pedang lawan. Kini dia menangkis lagi.

"Prakkk!" Patahlah ranting kayu itu.

Yo Wan terkejut dan diam-diam memuji kecerdikan lawan. Kiranya Tan Loan Ki maklum bahwa pemuda luar biasa ini sudah mengetahui rahasia ilmu pedangnya. Yo Wan dapat menangkis pedang hanya dengan sebuah ranting saja karena pemuda ini mengimbangi permainannya. Setiap kali menangkis pedang yang digerakkan secara lemas akan tetapi mengandung tenaga keras itu ditangkis dengan pengerahan tenaga Im yang lemas dan lembek.

Oleh karena itu, dalam penyerangan ke arah leher, diam-diam Tan Loan Ki membalikkan tenaganya, menyimpan tenaga keras dan mempergunakan tenaga Iweekang yang lemas disalurkan melalui pedangnya. Inilah sebabnya maka ketika ranting yang mengandung tenaga lemas yang sama itu bertemu pedang yang juga mengandung hawa Im, ranting yang pada dasarnya jauh kalah kuat dari pada pedang itu menjadi patah!

"Hemmm, bocah sombong, kau tak mengaku kalah?" bentak Tan Loan Ki. Akan tetapi di dalam hatinya dia diam-diam merasa kagum bukan main dan mulailah ia percaya bahwa pemuda macam ini sangat boleh jadi murid Kwa Kun Hong!

Yo Wan menjura dan melemparkan ranting di tangannya. "Twanio betul-betul lihai bukan main, aku tidak kuat menahan dan mengaku kalah!"

Yosiko meloncat ke atas. "Tidak bisa! Tidak adil! Ibu, kau dengan pedang pusaka hanya dilawannya dengan ranting, sampai lima puluh jurus lebih. Dan rantingnya patah setelah menangkis puluhan kali, apa anehnya? Dia sengaja mengalah, dia tidak kalah olehmu!"

Tan Loan Ki biar pun galak dan keras wataknya namun dia adalah seorang gagah yang jujur. Mendengar ucapan anaknya ia mengangguk.

"Kau benar, Yosiko. Orang muda ini memang amat hebat dan kalau dia melawan secara sungguh-sungguh, agaknya aku takkan mudah mencapai kemenangan. He, orang muda yang bernama Yo Wan. Apakah betul kau murid Kwa Kun Hong?"

"Betul, Twanio. Beliau adalah guruku, meski pun aku malu sekali harus mengaku sebagai muridnya karena kepandaianku tidak ada sepersepuluh kepandaian suhu yang sakti."

"Dahulu aku pernah diajar Hui-thian Jip-te oleh Kun Hong. Kau agaknya pandai pula ilmu langkah itu, akan tetapi mengapa lebih lengkap dari pada aku? Apakah kau dilatih pula ilmu itu oleh Kun Hong?"

"Ahh, mana bisa aku yang bodoh disamakan dengan suhu? Aku hanya dapat menerima sedikit sekali, dan suhu pernah menurunkan Si-cap-it Sin-po kepadaku."

Tan Loan Ki berdiam sejenak, matanya kini memandang penuh selidik. Hemm, pikirnya, wajah bocah ini tidak buruk. Malah tampan, walau pun sederhana dan kelihatan bodoh. Akan tetapi tidak muda lagi!

"Yo Wan, berapa usiamu sekarang?"

Yo Wan kaget. Pertanyaan yang sama sekali tidak disangka-sangkanya. Sungguh sukar mengikuti jalan pikiran nyonya ini yang cepat berubah-ubah seperti angin laut! Setengah terpaksa dia menjawab,

"Kalau tidak salah, tahun ini aku berusia dua puluh delapan tahun, Twanio."

"Berapa orang anakmu?"

"Heh… ?! Anak…?”

"Ya, berapa orang anakmu. Berapa laki-laki dan berapa perempuan?"

Seketika wajah Yo Wan menjadi merah sekali. Sinting! Mau dibawa ke mana dia dengan pertanyaan-pertanyaan macam ini?

"Twanio, aku... aku tidak punya anak..."

Terdengar suara cekikikan tertawa. Yosiko yang tertawa ini dan ia berkata lantang, "Ah, Ibu, dia adalah Jaka Lola!"

"Apa? Jaka Lola?"

"Ya, dia tidak berayah ibu lagi, tidak bersanak kadang, tentu saja tidak punya anak atau isteri. Dia masih perjaka!"

Nyonya itu mencibirkan bibirnya mengejek. "Biasa! Biar pun anaknya sudah sepuluh, di luaran laki-laki selalu mengaku jejaka! Usia dua puluh delapan tahun tapi belum kawin? Bohong! Sekali berhadapan dengan perawan cantik, laki-laki lupa isteri lupa anak."

Muka Yo Wan makin merah. "Twanio! Aku bukanlah laki-laki macam itu. Aku betul-betul belum pernah menikah dan sama sekali tidak punya anak."

"Bagus! Kalau begitu, biar agak tua, aku terima kau menjadi suami Yosiko!"

Hampir saja Yo Wan mengemplang mulut sendiri dan dia hanya bengong memandang Yosiko yang lari dan menubruk ibunya, merangkul leher dan menciumi kedua pipi ibunya. Menyaksikan adegan macam ini, terharu juga Yo Wan. Diam-diam dia merasa menyesal sekali mengapa dia terpaksa tak mungkin memenuhi maksud hati ibu dan anak ini. Kalau saja di sana tidak ada Cui Sian agaknya... agaknya... hemmm!

"Maaf, Twanio...," katanya dengan suara gemetar. "Maaf, terpaksa sekali aku tidak dapat memenuhi kehendak Twanio yang suci ini. Betapa pun juga, aku merasa amat berterima kasih dan walau pun aku tidak mungkin dapat menjadi suami Yosiko, biar dia kuanggap sebagai adikku..."

"Apa kau bilang?!" Tan Loan Ki berseru dan mendorong anaknya. Sepasang matanya berkilat.

"Kau... kau menolak menjadi suami Yosiko?"

"Bukan aku menolak, Twanio, akan tetapi... tapi menyesal sekali, aku... aku tidak dapat memenuhi kehendakmu, aku..., tak mungkin menjadi suaminya..."

"Keparat, kalau begitu kau harus mampus!" Sambil memekik nyaring nyonya itu lantas menerjang Yo Wan dengan pedangnya, dengan sebuah tusukan maut yang dilancarkan penuh kemarahan.

Yo Wan cepat-cepat menghindar. Dari gerakan ini tahulah dia sekarang bahwa sekali ini lawannya tidak main-main lagi, tapi menyerang dengan penuh nafsu hendak membunuh. Ngeri juga hatinya. Kepandaian wanita ini sudah hebat, apa-lagi dalam keadaan marah. Sama sekali dia tak boleh memandang ringan, dan tidak boleh membuang waktu, karena kalau dia terlena sedikit saja pasti akan tewas.

"Maaf, Twanio...!" katanya berkelebat cepat.

Tan Loan Ki berseru kaget karena kehilangan lawannya. Saat membabatkan pedangnya ke belakangnya di mana ia mendengar angin gerakan lawan, tiba-tiba ia merasa tangan kanannya lumpuh dan pedangnya mencelat sampai lima meter lebih jauhnya. Segera ia membalik dan dilihatnya Yo Wan berdiri sambil menjura dan berkata,

"Maaf, Twanio, bukan maksudku hendak pamer.”

Tan Loan Ki mendengus. Ia semakin kagum dan diam-diam ia kini mengharapkan sekali mendapatkan mantu seperti ini. “Uhhh, kau...! Biar kucari Kwa Kun Hong. Biar dia yang mengadili dan dia yang memaksamu. Kalau tidak, kutantang Kun Hong!"

Sambil berkata demikian, nyonya itu lari, menyambar pedangnya dan dengan loncatan-loncatan jauh menghilang dari situ.

Yo Wan menghela napas panjang. la mendengar isak tangis. Pada saat dia menengok, dilihatnya Yosiko berdiri sambil memandangnya dengan air mata bercucuran membasahi kedua pipinya.

“Maafkan aku, Yosiko. Aku... kau tahu sendiri... aku mencinta gadis lain. Ahh, mengapa kita tidak menceritakan hal itu kepada ibumu tadi..."

Dengan terisak-isak Yosiko berkata, "Aku akan mencari Tan Cui Sian dan membunuh dia!"

Maka larilah gadis ini, lenyap ke dalam semak-semak di hutan itu, meninggalkan Yo Wan yang berdiri bengong dan menggeleng-geleng kepala berkali-kali dengan hati bingung. Akhirnya dia melangkah pergi dari situ dengan maksud mencari Tan Hwat Ki.

Kiranya di dunia ini tidak ada rasa sakit hati yang lebih hebat bagi seorang wanita dari pada rasa sakit hati karena ditolak oleh seorang pria! Dan kiranya tidak ada rasa sakit yang lebih parah dan sengsara dari pada rasa sakit dirundung asmara!

Bagi yang sudah mengerti, tentu saja perasaan sengsara ini adalah dibuat-buat sendiri, perasaan sakit hati dan hancur merana yang tanpa disadarinya sengaja ia timpakan pada dirinya sendiri. Perasaan sengsara yang bersumber kepada rasa kasihan terhadap diri pribadi (
self pity) yang merupakan cabang terdekat dari rasa mementingkan diri pribadi (egoism).

Namun bagi Yosiko yang tidak memiliki self-pity dan egoism yang terlalu besar, sakit hatinya tidak membuat ia berduka, melainkan membuat ia marah dan penasaran. la tetap tidak mau menerima kenyataan bahwa Yo Wan menolak dia karena mencinta Tan Cui Sian. la marah kepada Cui Sian dan ingin membunuhnya karena ia menganggap Cui Sian telah merampas calon suaminya.

la pun penasaran dan ingin memaksa supaya Yo Wan tetap menjadi jodohnya. Perasaan ini memang tidak wajar bagi seorang gadis, akan tetapi Yosiko adalah seorang gadis yang lain dari pada yang lain. la dibesarkan dalam asuhan ibunya yang keras hati dan yang selama ini hidup di alam bebas yang liar, di tengah-tengah para bajak laut, setiap hari menyaksikan pertempuran-pertempuran dan peristiwa yang kejam dan mengerikan. Hal inilah yang mempengaruhi dirinya karena sesungguhnyalah benar kalau dikatakan orang bahwa keadaan sekeliling inilah yang membentuk watak seseorang.

Yosiko menyusup-nyusup di dalam hutan di sepanjang Sungai Kuning yang amat luas. Tiba-tiba saja ia menyelinap ke dalam semak-semak. Dilihatnya beberapa orang anggota tentara kerajaan berkelompok dan menjaga di situ.

Dengan hati-hati dan cepat Yosiko mengambil jalan lain menjauhi mereka. Dia tidak takut terhadap mereka, tetapi karena dia maklum bahwa orang-orang ini dipimpin oleh putera Bun-goanswe yang lihai, dibantu pula oleh Tan Hwat Ki serta sumoi-nya, maka dia tidak berani sembarangan turun tangan. Kini maksud perjalanannya sudah lain, bukan sebagai ketua Kipas Hitam lagi, melainkan sebagai seorang gadis yang mencari saingannya!

Akan tetapi ketika dia menyusup-nyusup mengambil jalan ke timur, kembali dia melihat kelompok lain yang sudah menjaga di sana. Bahkan di sini terdapat sebuah tenda dan samar-samar ia melihat Tan Hwat Ki dan orang-orang lain berada di dalam tenda!

Cepat dia memutar lagi dan diam-diam dia merasa khawatir. Tahulah ia sekarang bahwa goa yang menjadi tempat persembunyiannya itu, yang sudah diketahui oleh Tan Hwat Ki, kini sudah dikurung dari segala penjuru. Apakah kehendak mereka? Hendak menangkap dirinya? Yosiko mengulum senyum mengejek. Jangan mengira mudah untuk menangkap ketua Kipas Hitam!

Kalau saja ia tidak sedang mencari Tan Cui Sian, agaknya ia akan menggunakan akal dan membasmi mereka. Setidaknya ia tentu akan berhasil membunuh beberapa puluh orang di antara mereka! Akan tetapi ia tidak ada waktu dan terutama sekali tidak punya nafsu untuk ‘main-main’ dengan nyawa mereka.

Yosiko memasuki sebuah hutan bambu yang dahulu menjadi tempat tinggal kakeknya, yaitu Pek-tiok-lim, lalu dari tengah-tengah rumpun bambu ia menggulingkan sebuah batu hitam yang menyembunyikan sebuah lubang. Orang lain tentu tak akan menduga bahwa di bawah batu ini ada lubangnya. Andai kata pun ada orang lain mendapatkan lubang ini, tentu ia mengira bahwa lubang itu adalah lubang ular atau binatang lain yang berbahaya sehingga tak mungkin orang berani masuk.

Akan tetapi Yosiko segera memasuki lubang ini, lalu menutupnya dari dalam. Lubang ini bukanlah lubang ular atau lubang binatang lain, melainkan sebuah lubang yang menuju ke terowongan kecil di bawah tanah.

Yosiko merayap di dalam gelap sampai beberapa menit lamanya. Ketika keluar, ia telah berada jauh di luar hutan, keluarnya dari sebuah goa di antara batu-batu karang di mana terdapat banyak goa kecil. Juga goa ini mempunyai sebuah pintu rahasia, karena itu tak tidak pernah ada orang dapat memasukinya, mengiranya sebuah goa buntu.

Yosiko tersenyum karena ia telah keluar dari kepungan. Ia percaya bahwa ibunya tadi agaknya juga mengambil jalan ini dan dugaannya ini memang tidak keliru.

Yosiko berpikir sejenak. Tan Cui Sian tadi mengintai ke goa. Tentu gadis saingannya ini tidak berada jauh. Mungkin berada bersama Tan Hwat Ki dan kawan-kawannya. la harus dapat mencari kesempatan untuk berjumpa berdua dengan Cui Sian dan menantangnya berkelahi mati-matian memperebutkan Yo Wan!

Perutnya terasa lapar bukan main. Dia harus mencari makanan. Celakanya, hutan yang mengandung buah-buahan dan binatang-binatang yang dapat dijadikan makanan adalah hutan yang terkepung prajurit-prajurit kerajaan tadi. Dan satu-satunya cara mendapatkan makanan hanya pergi ke dusun-dusun untuk membelinya dari warung-warung nasi. Akan tetapi ia harus mencari dusun yang agak jauh, siapa tahu di situ terdapat mata-mata atau penjaga-penjaga yang tentu akan langsung mengepung dan mengejarnya, mengacaukan urusannya sendiri.

Yosiko berjalan menuju sebuah dusun yang agak jauh. Akan tetapi di tengah perjalanan, tiba-tiba ia menyelinap dan bersembunyi ketika ia melihat dua orang mendatangi dengan langkah perlahan. la tertarik sekali ketika melihat betapa mereka adalah seorang pemuda dan seorang gadis cantik. Mula-mula ia kaget dan mengira bahwa mereka adalah Tan Hwat Ki dan sumoi-nya, tetapi setelah mereka datang dekat, ternyata mereka adalah dua orang yang sama sekali tidak dikenalnya.

Gadis itu cantik sekali, juga gagah dan membayangkan bahwa gadis itu bukanlah gadis sembarangan. Akan tetapi pada saat itu, gadis itu wajahnya pucat, kedua pipinya basah air mata, rambutnya kusut dan matanya merah.

Ada pun yang seorang lagi, adalah pemuda yang mempunyai wajah tampan bukan main. Belum pernah Yosiko melihat seorang pemuda setampan itu, dengan sikap yang gagah pula, sepasang mata bersinar-sinar seperti bintang. Sayang sekali, pemuda itu buntung lengan kirinya, sebatas siku! Mereka berjalan perlahan dan bercakap-cakap, keduanya memperlihatkan kesedihan dan kemuraman.

Siapakah mereka ini? Demikian pikir Yosiko dengan heran. la tertarik sekali karena jelas terbayang bahwa dua orang ini adalah orang-orang yang mempunyai kepandaian, bukan orang-orang biasa. Apakah mereka ini juga merupakan anggota rombongan orang gagah yang hendak membasmi bajak laut di sekitar Lautan Po-hai? Akan tetapi kenapa mereka berdua jalan di sini dan kelihatan sedih sekali? Bahkan terang bahwa si gadis itu bekas menangis, matanya merah, pipinya masih basah dan hidungnya merah.

Yosiko tidak mengenal mereka, akan tetapi pembaca tentu mengenal mereka. Mereka itu bukan lain adalah Kwa Swan Bu dan The Siu Bi! Sudah lama sekali kita meninggalkan mereka.

Seperti telah dituturkan di bagian depan, Swan Bu yang masih menderita itu bersama Siu Bi melarikan diri setelah Siu Bi berhasil membunuh Ouwyang Lam dan kemudian mereka ditolong oleh The Sun yang mengorbankan nyawa untuk anak tirinya di tangan Ang-hwa Nio-nio. Dua orang muda-mudi yang saling mencinta tetapi sekaligus juga terlibat dalam permusuhan dendam-mendendam antara orang-orang tua mereka, sedang melarikan diri tanpa tujuan, dengan niat menjauhkan diri dari ancaman pihak musuh.

Rasa sakit pada lengannya tidak membuat Swan Bu terlalu berduka. Yang membuat dia merasa amat bersedih adalah karena urusannya membuat hal-hal yang amat ruwet dan hebat terjadi. Nama baik Lee Si ternoda sebagai seorang gadis, bahkan ayah gadis itu telah dibunuh orang dengan pedang ibunya menancap di dada, pedang yang kini berada di tangannya.

Dengan terjadinya peristiwa ini, dia tidak berani pulang! Bagaimana kalau ternyata ibunya yang membunuh ayah Lee Si? Bagaimana kalau paman Tan Kong Bu benar-benar telah dibunuh oleh ibunya karena kesalah pahaman? Ahh, hebat perkara itu dan dia tidak ada keberanian untuk menghadapi peristiwa menyedihkan itu.

Di samping itu, juga dia tidak dapat berpisah dari Siu Bi. Andai kata ayah Siu Bi tidak meninggal, dia tentu akan memaksa diri meninggalkan Siu Bi. Akan tetapi sekarang Siu Bi tidak berayah ibu lagi, tidak ada sanak saudara, hidup sebatang kara. Bagaimana dia tega melepaskan Siu Bi merawat seorang diri begitu saja?

Perjalanan mereka penuh dengan kenang-kenangan yang memilukan. Ada saat mereka memadu kasih dan janji, hendak sehidup semati. Ada kalanya mereka bertangis-tangisan mengingat keadaan keluarga mereka. Bahkan ada kalanya mereka cekcok mulut karena berbeda pendapat. Namun betapa pun juga, Siu Bi selalu tekun dan rajin merawat Swan Bu sehingga luka pada lengannya berangsur sembuh.

Pada hari itu mereka tiba di lembah Sungai Huang-ho. Mereka bermaksud melanjutkan perjalanan dengan perahu karena perjalanan dengan perahu tak akan melelahkan tubuh Swan Bu yang perlu banyak istirahat.

Akan tetapi sejak pagi tadi, sambil berjalan perlahan, mereka bertengkar kembali. Swan Bu mendesak supaya Siu Bi suka ikut dia pulang saja ke Liong-thouw-san, menghadap ayah bundanya dan berterus terang, mengaku bahwa mereka sudah saling mencinta dan tak dapat terpisah lagi.

"Aku takut, Swan Bu. Aku takut untuk bertemu dengan ayah ibumu. Bagaimana kalau mereka tidak memperbolehkan aku dekat denganmu? Bagaimana kalau aku diusir? Aku pernah hendak membunuh mereka. Ibumu amat benci kepadaku! Ah, Swan Bu... jangan paksa aku ke sana, lebih baik kita pergi yang jauh, biar kita mencari pulau kosong, hidup berdua sampai kematian memisahkan kita...," demikian keluh-kesah Siu Bi.

"Siu Bi!" Swan Bu membentak marah. "Kau hanya ingat kepada dirimu sendiri saja! Apa kau tidak ingat betapa aku pun tidak mungkin selamanya harus berpisah dengan ayah bundaku? Kalau begitu halnya, aku ini anak macam apa? Apa kau hendak memaksa aku menjadi seorang anak yang paling puthauw (murtad) di dunia ini?"

"Sesukamulah! Boleh kau tinggalkan aku, akan tetapi kau harus membunuh aku terlebih dahulu. Swan Bu, aku lebih baik mati dari pada kau tinggalkan!"

Demikianlah percekcokan itu yang dilanjutkan di sepanjang jalan. Ketika mereka tiba di dekat tempat sembunyi Yosiko, percekcokan mereka sudah memuncak sehingga jelas terdengar oleh Yosiko ketika Siu Bi berseru keras,

"Sudahlah! Kau boleh pergi dan jika kau tidak mau membunuh aku, aku akan membunuh diriku sendiri di depanmu sebelum kau pergi!" Sambil berkata demikian, Siu Bi mencabut pedangnya dan sinar menghitam menyambar ke arah lehernya.

Hampir saja Yosiko mengeluarkan jeritan ngeri karena gadis ini melihat betapa gerakan pedang di tangan Siu Bi amat cepat sehingga agaknya sukar untuk menghindarkan gadis itu dari kematian. Akan tetapi alangkah kagum hatinya ketika tiba-tiba saja pemuda itu menggerakkan tangan kanannya dan sinar keemasan berkelebat kemudian membentur sinar hitam menerbitkan suara berkerontangan nyaring. Kiranya pedang bersinar hitam di tangan gadis itu sudah ditangkis dan bahkan runtuh di atas tanah!

"Siu Bi, jangan gila kau! Apa bila kau membunuh diri, mana aku dapat hidup lebih lama lagi?" berkata Swan Bu sambil menyimpan pedangnya yang bersinar emas, yaitu pedang Kim-seng-kiam, pedang ibunya yang dia cabut dari dada jenazah Tan Kong Bu.

Siu Bi menangis. Swan Bu mendekatinya dan keduanya lalu berpelukan mesra sambil bertangisan.

"Siu Bi, bukankah kau sudah setuju bahwa aku harus mengawini Lee Si? Kau pun tahu, hanya itu satu-satunya jalan untuk mengusir awan kegelapan yang meliputi keluargaku. Hanya pengorbanan itu yang bisa kulakukan untuk menebus nama baik keluarga paman Tan Kong Bu. Kemudian bersama Lee Si aku harus mencari keterangan bagaimana matinya paman Tan Kong Bu. Betapa pun juga, aku masih belum percaya benar bahwa ibuku yang membunuh paman Kong Bu."

"Swan Bu, kau sudah bersumpah sehidup semati dengan aku. Walau pun tidak secara resmi, bukankah aku ini isterimu yang sah karena sumpah kita? Bukankah Tuhan yang menyaksikan, juga langit, bumi, bintang dan bulan? Swan Bu, aku tidak akan melarang kau mengawini Lee Si, akan tetapi... jangan kau tinggalkan aku."

Swan Bu mencium dan mengelus-elus rambut Siu Bi sehingga tangis gadis itu mereda.

"Siu Bi, harap kau suka berpikir secara panjang. Aku mengajakmu menemui ayah ibuku, tapi kau merasa takut dan tidak mau. Kemudian kalau aku pulang lebih dulu seorang diri untuk kelak kita bertemu lagi, kau tidak membolehkan aku meninggalkanmu. Bagaimana ini? Siu Bi, kau tahu betapa aku mencintaimu dengan seluruh jiwa ragaku. Aku sudah bersumpah dan apa pun yang akan terjadi, sudah pasti aku akan kembali kepadamu. Sebaiknya bila untuk sementara kita berpisah. Biarkan aku menghadap orang tuaku dan menyelesaikan urusan kami. Syukur kalau mereka tidak memaksaku mengawini Lee Si. Andai kata begitu, aku tetap hendak menceritakan pada mereka tentang dirimu dan aku tetap hendak mengajukan syarat, yaitu aku mau menikah dengan Lee Si asal kau juga menjadi isteriku."

Untuk sejenak Siu Bi terdiam. Dia hanya menyandarkan kepalanya di dada kekasihnya. "Betulkah kau tidak akan lupa kepadaku?"

"Apa kau kira aku sudah gila? Marilah kita mencari tempat untukmu, di mana kau dapat menantiku. Begitu urusanku selesai, aku pasti akan datang menjemputmu dan kau tidak perlu merasa khawatir lagi bertemu dengan orang tuaku."

Keduanya berjalan lagi perlahan.

Yosiko yang berada di tempat sembunyinya merasa kasihan kepada Siu Bi. Gerak-gerik gadis itu menarik hatinya, menimbulkan perasaan suka. Agaknya, seperti juga dia, gadis bernama Siu Bi itu pun tidak beruntung dalam soal perjodohan.

Dia ingin berjodoh dengan Yo Wan tapi pemuda itu memilih Tan Cui Sian. Agaknya gadis bernama Siu Bi itu pun ingin bersuamikan pemuda buntung itu, akan tetapi si pemuda itu hendak mengawini gadis lain! Dengan orang yang senasib ini boleh sekali ia berkawan.

Tiba-tiba terdengar seruan, "Swan Bu...!"

Swan Bu dan Siu Bi terkejut, berhenti dan menengok. Seorang gadis tampak datang dengan berlarian cepat sekali dan sebentar saja sudah tiba di tempat itu. Dari tempat sembunyinya Yosiko menyaksikan ini dan menjadi kagum.

Gadis yang baru datang ini pun hebat sekali ilmu lari cepatnya dan kini ia mulai merasa heran. Kenapa begini banyak berkumpul orang-orang muda yang amat lihai? Akan tetapi alangkah terkejutnya ketika dia mendengar pemuda buntung itu menyebut nama gadis yang baru tiba.

"Sukouw (Bibi Guru) Cui Sian...!" Swan Bu berteriak kaget karena dia benar-benar sama sekali tidak mengira bahwa gadis itu dapat datang ke tempat sejauh ini.

Yang datang memang benar adalah Tan Cui Sian, gadis Thai-san, puteri Raja Pedang yang amat lihai. Dengan pandang mata tajam Cui Sian mengerling ke arah Siu Bi yang biar pun tadi sudah didorong dari dadanya oleh Swan Bu, masih saja memegangi tangan kanan pemuda itu dengan erat, seakan-akan ia khawatir kalau-kalau kekasihnya itu akan direnggut orang.

"Swan Bu, kenapa kau berada di sini... dengan dia ini? Ayah ibumu mencarimu, mereka amat mengharapkan kau pulang. Mau apa kau berkeliaran di sini bersama dia?" Kembali ia melirik tajam ke arah Siu Bi, jelas wajahnya memperlihatkan hati tidak senang

"Sukouw..." bingung sekali hati Swan Bu.

Mau tak mau dia harus melepaskan tangannya dari pegangan Siu Bi sebab merasa tidak enak bila di depan bibi gurunya itu memperlihatkan kasih sayangnya pada Siu Bi, gadis yang tentu saja oleh bibinya dianggap musuh karena sudah membuntungi lengannya.

"Sukouw, bagaimana dengan... ibu? Tidak apa-apakah? Siapa... yang membunuh paman Kong Bu?"

"Tidak usah khawatir, bukan ibumu yang membunuhnya, melainkan... kawan bocah liar ini," kata Cui Sian sambil melirik lagi ke arah Siu Bi.

Watak Siu Bi memang sangat keras dan ia pantang mundur menghadapi musuh yang bagaimana pun. Tadi ia sudah mendongkol melihat sikap Cui Sian, akan tetapi ditahan-tahannya. Mendengar bahwa yang membunuh ayah Lee Si bukan ibu Swan Bu, Siu Bi diam-diam merasa lega dan girang juga. Akan tetapi mendengar dia disebut-sebut gadis liar dan pembunuh itu adalah kawannya, kemarahannya bangkit, lalu segera melangkah maju dan menudingkan telunjuknya ke muka Cui Sian sambil berseru nyaring.

"Enak saja kau bicara! Aku tidak punya kawan pembunuh! Hayo buktikan bahwa yang membunuh adalah kawanku, jangan hanya pandai melempar fitnah!"

Cui Sian tersenyum mengejek. "Yang biasa melakukan fitnah adalah manusia semacam kau dan teman-temanmu. Pembunuh kakakku Kong Bu adalah Ang-hwa Nio-nio! Nah, bukankah dia kawanmu?"

"Bukan! Ngaco kau, dia bukan kawanku, aku benci kepadanya!"

"Siapa tidak tahu akan kejahatanmu? Ang-hwa Nio-nio sudah mampus dan sekarang kau pun harus mampus!"

Cepat sekali gerakan Cui Sian yang maju dan menerjang Siu Bi dengan pedangnya. Pedang hitam Siu Bi belum sempat ditarik untuk menangkis, namun gadis ini dengan gesit sudah meloncat ke kiri untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang, kemudian ia sudah mencabut pula pedangnya, siap bertanding mati-matian.

"Tahan! Sukouw, harap jangan serang dia!" kata Swan Bu sambil melompat ke depan, menghadang Cui Sian. Biar pun pemuda buntung ini tidak mencabut pedangnya, namun sinar matanya jelas memperlihatkan bahwa dia tidak akan membiarkan Siu Bi diganggu.

Cui Sian ragu-ragu dan membentak, "Swan Bu! Kau membela bocah liar ini, setelah apa yang terjadi semua? Setelah lenganmu dibuntungi dan setelah keluarga kita hampir saja rusak berantakan?"

"Sukouw, dia... aku... aku cinta kepadanya."

Siu Bi sudah menyimpan pedangnya dan kini dia kembali menggandeng tangan kanan Swan Bu. Wajahnya berseri memperlihatkan sinar kemenangan dan mengejek.

Cui Sian tertegun! Dia heran dan tidak tahu harus berkata apa. Dengan tarikan napas panjang, dia menyimpan kembali pedangnya. Cinta memang aneh sekali, pikirnya, atau lebih tepat orang muda yang dilanda cinta memang tidak waras otaknya, seperti... seperti dia sendiri!

"Swan Bu, omongan apa yang barusan kau keluarkan ini? Kau diharapkan pulang dan perjodohanmu dengan Lee Si sudah diatur orang tuamu."

"Aku hanya mau menikah dengan Lee Si asal Siu Bi juga diperkenankan jadi isteriku."

Terbelalak mata Cui Sian, akan tetapi karena hal itu bukan urusannya, ia menjawab,

"Sudahlah, aku tidak tahu akan hal itu. Kau boleh bicara sendiri dengan orang tuamu dan dengan ibu Lee Si. Sekarang kau harus pulang dulu. Bocah ini kalau memang betul-betul mencintaimu... hemmm, aku masih ragu-ragu akan hal ini melihat betapa dia begitu tega membuntungi lenganmu, kalau betul ia mencinta, ia harus setia dan suka menantimu."

Swan Bu menoleh kepada Siu Bi. "Moimoi, kau mendengar sendiri. Memang sebaiknya aku pulang lebih dahulu. Aku yakin orang tuaku akan setuju dan kalau sudah demikian, baru aku akan menjemputmu."

"Tapi... tapi... aku akan tidak senang sekali kalau kau pergi..."

Cui Sian mendapat pikiran baik. Betapa pun juga, Swan Bu harus dipisahkan dari gadis liar ini dan sekaranglah terbukanya kesempatan itu. Maka ia cepat berkata,

"Yang tidak berani berkorban adalah cinta palsu! Kalau bocah ini tidak membolehkan kau pulang untuk membereskan semua urusan, maka cintanya itu pura-pura saja."

Usahanya berhasil. Memang Siu Bi orangnya keras dan jujur, tidak merasa diakali orang. Mukanya menjadi merah dan ia membentak, "Kalau kau bukan sukouw dari Swan Bu, sudah tadi-tadi kuterjang kau! Siapa bilang cintaku palsu? Swan Bu, kau pulanglah, aku akan menunggumu. Pulanglah, kau dan seluruh orang di dunia ini akan melihat bahwa cintaku tidak palsu dan aku setia kepadamu!"

Lega hati Swan Bu, akan tetapi khawatir juga.

"Siu Bi, kita harus mencari tempat untukmu, di mana kau dapat menantiku..."

"Bukankah di sini merupakan tempat juga? Aku akan tinggal di sini, Swan Bu, di lembah sungai ini, menanti sampai kau datang menjemputku. Pergilah!"

Swan Bu merasa betapa berat perasaan hatinya harus meninggalkan kekasihnya di situ seorang diri. Akan tetapi apa lagi yang dapat dia lakukan? Pertama, dia malu terhadap bibinya kalau terlalu memperlihatkan kelemahan hatinya akibat cinta kasih. Selain itu, kalau ia terlalu menahan dan tidak rela meninggalkan Siu Bi, tentu kekasihnya itu akan merasa rendah terhadap Cui Sian.

"Siu Bi, kau tunggulah dan carilah tempat di sekitar ini. Percayalah, nanti aku pasti akan datang menjemputmu. Percayalah..."

Siu Bi tersenyum sungguh pun kedua matanya menjadi basah. la pun merasa tidak rela dan berat harus berpisah dengan orang yang paling dia cinta di dunia ini, satu-satunya miliknya yang masih tersisa. Tanpa Swan Bu di sampingnya, hidup tak akan ada artinya baginya.

Akan tetapi, bagaimana pun juga, tak mungkin ia dapat merampas Swan Bu begitu saja dari orang tuanya. Kalau ia menghendaki agar selanjutnya ia boleh menghabiskan sisa hidupnya di dekat Swan Bu, maka urusan itu harus mendapat persetujuan orang tuanya. Baginya, tidak peduli Swan Bu akan menikah dengan Lee Si atau dengan siapa juga atas kehendak orang tuanya, asalkan hati dan cinta kasih pemuda itu dia yang memilikinya.

Bukan main terharunya hati Swan Bu menyaksikan gadis itu berdiri lemas dengan air mata di pipi dan senyum di bibir. Ingin dia memeluknya, ingin dia menghiburnya, namun ia malu melakukan hal ini di depan Cui Sian.

"Siu Bi, selamat berpisah untuk sementara..."

"Pergilah Swan Bu, dan jaga dirimu baik-baik. Aku akan tetap menantimu.”

Pergilah Swan Bu bersama Cui Sian. Ada tiga atau empat kali dia menengok sebelum bayangan mereka lenyap ditelan tetumbuhan.

Melihat wajah Swan Bu demikian sedih, diam-diam Cui Sian merasa terharu dan kasihan. Tentu saja, kalau menurutkan hatinya, ia tidak suka melihat Swan Bu berjodoh dengan Siu Bi, gadis liar yang semenjak kecil berdekatan dengan orang-orang jahat.

Jauh lebih baik bila Swan Bu berjodoh dengan Lee Si. Selain gadis itu memang berdarah ksatria, juga perjodohan ini akan merupakan penghapus bagi luka-luka yang diakibatkan oleh kesalah pahaman antara keluarga Pendekar Buta dan keluarga Raja Pedang.

Akan tetapi, oleh pengalamannya sendiri pada saat itu sebagai korban asmara, dia dapat merasakan pula keadaan hati pemuda ini. Maka, diam-diam dia menaruh rasa kasihan. Pemuda itu berjalan sambil menundukkan mukanya yang pucat, seakan-akan seluruh semangatnya tertinggal pada gadis kekasihnya yang tadi tersenyum dengan air mata bertitik.

"Swan Bu..."

Pemuda itu kaget dan menengok. "Ada apakah, Sukouw?"

"Kau tentu maklum, bukan maksudku hendak merusak kebahagiaanmu, akan tetapi aku memaksamu pergi menemui orang tuamu demi kebaikan kita bersama, demi kebaikan orang tuamu, kebaikan keluarga dan kebaikanmu sendiri!"

"Aku mengerti, Sukouw." Swan Bu menarik napas panjang.

"Sekarang, sebelum kita pulang, mari kita singgah dulu di perkemahan pantai Po-hai, di mana kau akan dapat bertemu dengan banyak sahabat baik dan saudara..."

Suara Cui Sian terdengar gembira, karena memang sengaja gadis ini hendak menghibur Swan Bu dan membangkitkan semangatnya. Kalau pemuda ini sudah bertemu dengan orang-orang gagah yang bertugas membasmi bajak-bajak laut, tentu akan terbangkit pula semangatnya sebagai keturunan seorang pendekar sakti seperti Pendekar Buta.

"Mereka siapakah, Sukouw?" Suara Swan Bu dalam pertanyaan ini terdengar acuh tidak acuh. Sesudah berpisah dengan orang yang paling dia sayangi di dunia ini di samping ayah bundanya, siapa pulakah yang dapat menggembirakan hatinya dalam perjumpaan?

"Kau akan bertemu dengan Bun Hui!"

"Mengapa saudara Bun Hui berada di tempat ini?"

"Dia mewakili ayahnya untuk memimpin pasukan dari Tai-goan yang bertugas membasmi bajak-bajak laut di daerah Po-hai."

Swan Bu mengangguk-angguk, akan tetapi pikirannya kembali melayang-layang. Dia tak begitu tertarik urusan pembasmian bajak laut yang dianggapnya bukanlah urusannya.

"Di sana engkau akan menemui banyak orang-orang gagah, di antaranya adalah seorang yang sama sekali takkan dapat kau duga-duga siapa adanya!" Cui Sian sengaja berkata dengan suara gembira agar pemuda itu tertarik. Memang berhasil dia karena Swan Bu benar-benar memperhatikan.

"Sukouw, siapakah dia?"

"Seorang pendekar muda yang hebat, dan dia masih keponakanku sendiri!"

Wajah Swan Bu mulai berseri. "Apa? Sukouw maksudkan... dia... Hwat Ki?"

Pada waktu Cui Sian mengangguk membenarkan, wajah pemuda ini sudah mulai berseri gembira. Pernah dia berkenalan dan bertemu dengan Tan Hwat Ki pada waktu mereka berdua masih kecil, baru berusia belasan tahun. la membayangkan cucu Raja Pedang itu yang tampan dan gagah.

"Dia berada di sana bersama sumoi-nya, seorang gadis cantik dan gagah perkasa."

Akan tetapi Swan Bu tidak terlalu memperhatikan ucapan ini karena pikirannya penuh dengan bayangan Tan Hwat Ki yang akan dijumpainya. Kini perjalanan mereka dilakukan dengan cepat…..

********************

Yosiko yang semenjak tadi bersembunyi dan mengintai, tentu saja menjadi kaget sekali ketika tadi pemuda buntung itu memanggil nama gadis yang baru tiba. Gadis itu disebut ‘sukouw Cui Sian’! Jadi inikah Cui Sian, gadis yang menjadi pilihan hati Yo Wan? Hatinya dipenuhi kebencian dan ingin dia melompat ke luar untuk menyerang serta membunuh gadis itu. Memang dia meninggalkan tempatnya dengan satu niat di hatinya, membunuh gadis yang bernama Cui Sian.

Akan tetapi Yosiko bukanlah seorang gadis yang bodoh dan ceroboh. Tadi dia pun sudah menyaksikan gerakan gadis yang hendak membunuh diri dan gerakan pemuda buntung yang mencegahnya. Gerakan mereka amat hebat, membayangkan kepandaian ilmu silat yang amat tinggi.

Pemuda buntung itu sudah lihai sekali, kalau Cui Sian adalah sukouw-nya (bibi gurunya), dapat dibayangkan bagaimana hebatnya kepandaian Cui Sian! Yosiko tak mau bertindak sembrono menurutkan nafsu amarah kemudian sekali turun tangan dan gagal. Apa lagi kalau diingat bahwa Cui Sian pada waktu itu mempunyai dua orang kawan yang kalau mengeroyoknya tentu akan lebih sukar mencapai kemenangan.

Dia tertarik sekali ketika menyaksikan dan mendengar percakapan ketiga orang muda itu. Keadaan Siu Bi selain menarik perhatiannya, juga mendatangkan sebuah pikiran yang baik sekali. Oleh karena ini, maka Yosiko mendiamkan saja ketika Cui Sian dan Swan Bu pergi. Untuk beberapa lamanya dia memandang Siu Bi yang sepergi kedua orang itu lalu duduk di atas tanah dan menangis.

Memang hati Siu Bi berduka sekali. Dia tidak dapat menahan kepergian kekasihnya. Dia maklum bahwa kalau dia tidak memperbolehkan Swan Bu pulang lebih dahulu menemui orang tuanya, selamanya ia tidak akan dapat membereskan urusannya dengan Swan Bu. la percaya penuh akan cinta kasih pemuda yang lengannya ia buntungi itu, akan tetapi ia pun maklum betapa Swan Bu tak akan dapat membantah orang tuanya.

la takut sekali kalau-kalau ia akan kehilangan pemuda itu dan andai kata hal ini terjadi, hidup tiada artinya lagi baginya. Kekhawatiran inilah yang mengamuk di hatinya setelah di situ tidak ada siapa-siapa dan ia boleh puas menangis. Di depan Cui Sian tadi, tak sudi ia memperlihatkan kelemahan hatinya.

Yosiko keluar dari tempat sembunyinya menghampiri Siu Bi dengan perlahan. la melihat gadis itu menangis sedih sekali dan agaknya tidak tahu akan kedatangannya, maka dia pun duduk pula di hadapan Siu Bi yang menyembunyikan mukanya di belakang kedua tangan. Air mata bercucuran keluar dari celah-celah jari tangannya.

Yosiko menarik napas panjang, "Dia memang seorang pemuda yang amat tampan dan gagah perkasa...," katanya lirih.

"Tidak ada pemuda lebih tampan dan gagah dari pada Swan Bu di dunia ini!" Serta merta Siu Bi menjawab tanpa menurunkan kedua tangan dari depan mukanya.

Kembali Yosiko menarik napas panjang. Apa bila bagi Siu Bi ucapan Yosiko tadi cocok benar dengan suara hatinya, adalah jawaban Siu Bi juga tepat dengan perasaan Yosiko. Tentu saja keduanya melamunkan dua macam pemuda!

"Pemuda sehebat itu patut dicinta sampai mati...," kembali Yosiko berkata seperti kepada dirinya sendiri.

Kembali seperti dalam mimpi, tanpa menurunkan kedua tangannya, Siu Bi menyambung. "Aku cinta kepada Swan Bu dengan sepenuh jiwa ragaku."

Hening pula sejenak. Siu Bi masih saja terisak-isak, Yosiko duduk termenung. Keduanya duduk saling berhadapan di atas tanah, akan tetapi seolah-olah tidak tahu akan keadaan masing-masing.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner