JAKA LOLA : JILID-33


Ketika kedua pedang bertemu dan pedang di tangan Yo Wan tidak rusak, diam-diam Cui Sian kaget dan kagum sekali. Sebagai seorang ahli silat tinggi, dia pun dapat menduga bahwa pemuda ini sudah mahir dalam memindahkan tenaga sakti ke dalam benda yang dipegangnya. Hal ini membutuhkan Iweekang yang sangat mendalam dan kiranya hanya orang-orang setingkat ayahnya atau Pendekar Buta saja yang mampu melakukan hal itu!

"Eh, nanti dulu... Sian-moi (adik Sian)... sejak kapan aku bersekutu dengan kepala Kipas Hitam?"

"Pembohong pandai berpura-pura! Lelaki mata keranjang! Jai-hoa-cat (penjahat pemetik bunga)!" Cui Sian menusukkan pedangnya ke arah dada Yo Wan.

Yo Wan begitu kaget mendengar tuduhan ini sehingga dia meloncat ke atas, akan tetapi dia segera menangkis pedang Cui Sian, mengerahkan tenaga dan pedangnya berhasil menindas pedang gadis itu ke bawah. Betapa pun Cui Sian mengerahkan tenaga, dia tak mampu mengangkat pedangnya yang tertindas itu!

"Wah, nanti dulu, Sian-moi! Apa artinya tuduhan jai-hoa-cat dan mata keranjang itu?" Yo Wan bertanya gugup.

"Hemmm, apa kau masih hendak menyangkal bahwa siang malam kau tinggal berdua saja dengan... dengan... ketua Kipas Hitam yang cantik itu?"

Yo Wan menarik napas panjang. Hal ini sudah dia khawatirkan. Dia segera melepaskan pedangnya dan berkata,

"Aahhh, kau salah duga, Moimoi. Kau dengarlah penjelasanku, atau bila kau sudah tidak percaya lagi kepadaku, boleh kau gunakan pedangmu itu menusuk mampus dadaku, aku tak akan melawan lagi!"

Cui Sian meragu, memandang tajam, pedangnya tidak bergerak, dia menunggu. Dengan tenang Yo Wan lalu menuturkan pengalamannya ketika dia mencari Swan Bu, betapa di tengah jalan dia melihat Tan Hwat Ki beserta sumoi-nya menyerang sarang Kipas Hitam, betapa dia menolong Tan Hwat Ki dan Bu Cui Kim, kemudian dia mengejar Yosiko dan terluka, lalu dirawat oleh gadis yang menjadi kepala Kipas Hitam itu.

"Memang kasihan gadis itu, sejak kecil terdidik liar. Dia dan ibunya beranggapan bahwa pemuda yang mampu mengalahkan mereka adalah calon jodohnya...," demikian Yo Wan menutup ceritanya sambil menarik napas panjang. "Tetapi aku tentu saja menolaknya… aku bukan mata keranjang atau jai-hoa-cat..."

Cui Sian tersenyum mengejek, akan tetapi wajahnya sudah ditinggalkan kemuramannya.

"Siapa percaya kau akan menolak seorang gadis yang begitu cantik jelita?"

"Sian-moi...!"

"Sudahlah, percaya atau tidak, tak ada bedanya! Kau suka menjadi jodohnya atau tidak, sebetulnya aku pun tidak peduli. Bukan urusanku, kan?"

Hampir Yo Wan tertawa bergelak menyaksikan sikap ini. Tadi gadis ini menyerangnya hebat, hampir membunuhnya karena cemburu, akan tetapi sekarang sesudah menerima penjelasan, mengatakan bahwa dia tidak peduli dan bukan urusannya! Memang aneh sekali watak perempuan, pikirnya.

"Sian-moi...," Yo Wan memegang tangan Cui Sian, yang berkulit halus lunak dan yang tidak ditarik ketika dia pegang, "kuharap kau tidak kehilangan kepercayaanmu kepadaku. Sian-moi, tahukah engkau kenapa Yosiko tadi hendak mengeroyok dan membunuhmu? Karena aku secara terus terang menolak usul perjodohannya dan mengatakan bahwa di dunia ini hanya seorang gadis yang kucinta dan kuharapkan menjadi calon jodohku, yaitu gadis yang bernama Tan Cui Sian. Dia menjadi marah kemudian hendak membunuhmu, bahkan ibunya juga marah lalu pergi hendak menemui suhu supaya suka memaksaku. Akan tetapi ibunya belum tahu akan pengakuanku mengenai engkau, hanya mengira aku menolak begitu saja. Sian-moi, apa pun yang terjadi, siapa pun yang akan menggodaku, tak mungkin aku mengubah pendirian hatiku yang sudah teguh bagaikan karang di pantai laut. Lihat, benda inilah yang menjadi saksi akan kesetiaanku kepadamu, Moimoi!"

Cui Sian tak mengangkat mukanya yang semenjak tadi terus menunduk, hanya matanya mengerling kepada benda yang dikeluarkan Yo Wan dari sakunya. Ternyata benda itu adalah sehelai sapu tangan, sapu tangannya yang dia berikan kepada pemuda itu ketika Yo Wan menghadapi lawan-lawan sakti, di antaranya Bhok Hwesio. Kepala itu semakin menunduk.

"Sian-moi... percayakah kau kepadaku kini?"

Cui Sian tak menjawab dengan mulut, akan tetapi dua titik air mata yang jatuh di tangan Yo Wan ketika kepala itu mengangguk perlahan sudah merupakan jawaban yang cukup meyakinkan.

Sampai beberapa lama keduanya hanya berdiri saling berpegang tangan, tak ada suara yang keluar dari mulut mereka, tapi hati masing-masing dipenuhi kebahagiaan. Akhirnya, sesudah agak terlambat karena selalu menolak para pemuda yang merayunya, Cui Sian mendapatkan juga jodohnya.

Akhirnya Cui Sian juga yang memecahkan kesunyian akibat terdorong rasa sungkan dan malu di samping rasa bahagianya. Dia menarik tangannya, mengangkat muka dan kedua mata bintangnya bersinar-sinar menentang wajah Yo Wan, bibirnya tersenyum.

Yo Wan membalas dengan pandang mata mesra dan tersenyum pula. Senyum dan sinar mata itu sudah cukup mewakili hatinya, menyampaikan seribu satu macam bahasa yang penuh madu asmara.

"Ah, kita melamun sampai melupakan urusan!" kata Cui Sian, wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya. Dia memasukkan pedangnya dan berkata, "Hatiku masih bingung memikirkan keadaan Swan Bu dan Siu Bi si gadis liar itu. Aku berjumpa dengan mereka sedang berdua, dan agaknya Swan Bu merasa berat untuk berpisah dari Siu Bi. Padahal ayah bundanya tentu saja mengharapkan agar Swan Bu dapat mencuci segala kesalah pahaman dan noda akibat fitnah jahat dengan jalan mengawini Lee Si..."

Yo Wan mengangguk-angguk kemudian menarik napas panjang. "Kita tak mungkin dapat menyalahkan Swan Bu. Moimoi, kalau hati sudah menyerah kepada kasih, apa lagi yang dapat menjadi halangan? Sudah banyak contoh-contohnya yang bisa kita petik dari cerita lama. Tentu kau tahu akan riwayat ayahmu sendiri yang dulu diombang-ambingkan oleh asmara, kemudian riwayat suhu yang juga sudah menjadi korban kasih tak sampai. Aku maklum benar bahwa gadis-gadis seperti Siu Bi dan Yosiko pada dasarnya bukan jahat. Hanya karena mereka sejak kecil terdidik dalam suasana yang kasar dan liar, mereka menjadi orang yang berwatak liar dan keras pula. Soal Swan Bu dan Siu Bi, biarlah nanti kita urus perlahan-lahan dan kita bicarakan bersama dengan orang-orang tua bagaimana baiknya."

Cui Sian mengangguk-angguk. Dia sendiri sedang diamuk cinta, tentu saja ia pun dapat merasakan keadaan Siu Bi sehingga rasa bencinya berkurang.

"Akan tetapi bagaimana mengenai Yosiko? Meski pun dia itu masih keponakanku sendiri, bagaimana aku dapat membenarkannya kalau dia menjadi ketua gerombolan bajak laut? Apakah kita harus mendiamkannya saja? Kurasa hal ini amat tidak sejalan dengan sikap yang harus diambil orang gagah menghadapi kejahatan. Biar pun keluarga sendiri, kalau jahat, harus ditentang!"

Yo Wan memandang kekasihnya dengan bangga. "Kau seorang pendekar wanita sejati, Moimoi. Memang harusnya demikian. Akan tetapi, sebelum mengambil jalan kekerasan, marilah kita mencari jalan yang lebih halus dan agaknya aku melihat jalan yang sangat baik untuk mengatasi hal ini. Jika kita bisa mengaturnya..."

Yo Wan lalu bercerita tentang pertemuan dan pertandingan antara Bun Hui dan Yosiko, menyatakan dugaannya bahwa Bun Hui tertarik dan suka pada ketua Kipas Hitam yang cantik itu. Sambil berjalan perlahan kembali ke perkemahan bersama Yo Wan, Cui Sian mendengarkan cerita kekasihnya.

Pertemuan antara Yo Wan dan orang-orang gagah di sana amatlah menggembirakan, terutama Swan Bu dan Tan Hwat Ki. Mereka bercakap-cakap sampai jauh malam, akan tetapi tidak sepatah kata pun Yo Wan atau Cui Sian bicara tentang diri Siu Bi…..

********************

"Apakah kalian tidak percaya lagi kepadaku?" terdengar Yosiko membentak marah dan meloncat turun dari atas batu yang tadi ia duduki. Di depannya, puluhan bajak laut yang dipimpin oleh empat orang laki-laki tampak bersungut-sungut.

Empat orang ini adalah empat orang kepala bajak yang kini menggabungkan diri dengan Kipas Hitam untuk secara bersama-sama menghadapi dan melawan pasukan kota raja yang dipimpin Bun Hui dan teman-temannya.

Orang pertama adalah si cambang bauk yang bernama Bong Ji Kiu dan memiliki julukan Kim-bwee-liong (Naga Berekor Emas). Julukan ini dia dapatkan karena dia bersenjatakan sebatang golok besar yang bergagang emas, golok yang diukir dengan gambar naga dan ekornya tiba di gagang yang terbuat dari emas. la tadinya seorang kepala bajak Sungai Kuning dan terkenal akan kelihaian dan kekejamannya.

Tiga orang yang lainnya adalah kepala-kepala bajak laut yang selama ini mengganas di pantai selatan. Seorang di antara mereka, yang kurus pucat adalah adik kandung Bong Ji Kiu bernama Bong Kwan, ada pun yang dua lagi adalah teman-teman yang sudah saling mengangkat saudara. Mereka ini juga bukan orang-orang lemah. Apa bila Bong Kwan, seperti kakaknya, pandai pula bermain golok, adalah dua orang temannya yang bernama Tio Khong dan Yauw Leng merupakan ahli-ahli bermain pedang.

Empat orang pimpinan bajak itu kini menghadapi Yosiko yang kelihatan marah-marah. Mula-mula adalah Bhong Ji Kiu si cambang bauk yang menyatakan rasa tidak puasnya terhadap pimpinan ini karena Yosiko melarang Bong Ji Kiu beserta para anak buahnya mengeroyok Yo Wan dan Cui Sian.

"Kenapa Pangcu (Ketua) kelihatan memihak musuh? Sudah jelas bahwa mereka adalah sahabat-sahabat pimpinan pasukan musuh, mengapa tidak menangkap atau membunuh mereka?" Bong Ji Kiu yang mewakili tiga orang temannya dan juga puluhan orang anak buahnya mengajukan pertanyaan ini dengan suara menantang sehingga Yosiko menjadi marah dan membentak apakah mereka tidak percaya lagi kepadanya.

"Kalau kami tidak percaya lagi kepada Pangcu, kiranya kita tak akan berkumpul di sini," jawab Bhong Ji Kiu. "Sayang toanio (nyonya besar) tidak berada di sini, kalau ada tentu dapat kami mintai pertimbangan. Hendaknya Pangcu ingat bahwa anak buah Pangcu kini tinggal sedikit, sudah banyak yang tewas, tertinggal dua puluh orang lebih saja. Apakah Pangcu tak merasa sakit hati? Jika tidak ada kami yang membantu dengan orang-orang kami yang semua mendekati seratus orang jumlahnya, bagaimana kita dapat melawan pasukan pemerintah?"

"Hemmm, Bong-twako! Apa perlunya kau bersikap mengancam? Habis, apa yang kalian kehendaki? Apa yang kalian ingin lakukan?"

"Kami hanya menghendaki agar supaya Pangcu sungguh-sungguh berdaya upaya untuk menghancurkan mereka, bukan melindungi mereka. Buktikan bahwa Pangcu tidak miring hatinya terhadap pimpinan pasukan pemerintah atau kalau tidak demikian, kami terpaksa akan meninggalkan Pangcu dan tidak mau lagi bekerja sama menghadapi musuh."

"Boleh! Kalian boleh meninggalkan aku, aku juga masih memiliki anak buah yang setia!" bentak Yosiko marah.

Mendadak Kamatari, jagoan Kipas Hitam, bangsa Jepang yang terkenal dengan samurai Cakar Naga, maju dan memberi hormat kepada Yosiko, sikapnya tenang namun tegas, kata-katanya nyaring.

"Pangcu, terus terang saja kami melihat gejala-gejala tak baik dari diri Pangcu. Agaknya Pangcu memilih musuh untuk menjadi sahabat, malah Pangcu hendak mengambil jodoh dari golongan musuh. Hal ini mengecewakan hati kami dan kami membenarkan ucapan Bong-twako bahkan kami pun akan berpihak kepadanya kalau terjadi perpecahan."

Pucatlah wajah Yosiko. Baru kali ini semenjak ia kecil, anak buahnya berani mencelanya. Kalau tidak ingat akan jasa-jasa Kamatari, tentu ia sudah turun tangan membunuhnya di saat itu juga. Melihat keadaan Yosiko ini, Siu Bi maju menghampiri dan berkata perlahan,

"Sudahlah, Yosiko, biarkan saja mereka semua pergi. Apa sih enaknya menjadi kepala bajak?"

Ucapan ini membuat para bajak menjadi marah. Mereka sudah berdiri dan sikap mereka mengancam, seakan-akan mereka siap untuk mengeroyok kedua orang nona cantik itu. Melihat gelagat tidak baik ini, Yosiko lalu mengangkat tangannya dan berkata nyaring,

"Baiklah, kalian orang-orang tidak ada guna! Kalian berani menghinaku, berani mengira bahwa Yosiko memihak musuh? Biar kubuktikan bahwa aku tidak takut terhadap musuh. Kamatari, kau sampaikan surat tantanganku kepada panglima pasukan musuh. Biar akan kutantang dia maju dan bertanding satu lawan satu denganku, sampai dia atau aku yang mampus. Selama dia bertanding denganku, karena mereka tidak punya pimpinan, tentu pasukannya juga lengah. Nah, ketika itu boleh Bong-twako memimpin orang-orangnya mengadakan serbuan besar-besaran. Bagaimana?"

Wajah semua orang di situ menegang. Kamatari yang diam-diam menaruh rasa sayang kepada Yosiko berkata, "Tapi... tapi... bukankah itu berbahaya sekali? Pemimpin mereka, panglima muda itu, kabarnya lihai bukan main."

"Siapa takut dia? Lakukah perintahku, habis perkara!"

Yosiko lalu menyuruh anak buahnya menyediakan alat tulis. Dengan huruf-huruf tebal ia kemudian menulis surat tantangan yang ditujukan kepada ‘Panglima muda she Bun’ dari Tai-goan! Panglima muda itu ditantang mengadakan ‘duel’ di tepi laut untuk menentukan siapa yang lebih unggul antara pemimpin bajak laut dan pemimpin pasukan kota raja.

Malam hari yang gelap gulita menyembunyikan gerak-gerik Kamatari yang menancapkan surat tantangan itu dengan sebatang anak panah di batang pohon besar yang tumbuh di luar perkemahan pasukan pemerintah. Keesokan harinya, para pasukan pemerintah baru ribut ketika melihat surat ini dan cepat-cepat mereka menyampaikan kepada Bun Hui.

Bukan main bingungnya hati panglima muda ini ketika membaca surat tantangan Yosiko. Dia ingin mencari jalan damai dengan gadis kepala bajak yang telah merebut hatinya itu, siapa kira si gadis malah menantangnya untuk melakukan pertandingan secara terbuka!

Dia maklum bahwa gadis itu mempunyai kepandaian tinggi, dan bahwa belum tentu dia sanggup menang. Hal ini bukan merupakan hal yang mengecilkan hatinya, akan tetapi dengan adanya surat tantangan ini, habislah jalan untuk dapat mengadakan perdamaian, untuk dapat menginsyafkan Yosiko.

Kalau surat tantangan macam itu tidak dia terima, tentu dia akan menjadi bahan ejekan orang. Kalau dia terima dan mereka bertanding, tentulah seorang di antara mereka akan tewas! Selagi Bun Hui kebingungan dan termenung di dalam kamarnya, mendadak pintu kamarnya diketuk orang dan ternyata orang ini adalah Yo Wan. Bun Hui cepat membuka pintu dan mempersilakan pendekar ini dengan ramah.

"Saudara Bun, mengapa bingung memikirkan pertandingan melawan Yosiko? Ragu?” Yo Wan berkata sambil tersenyum.

Muka Bun Hui menjadi merah ketika dia menjawab dengan pertanyaan pula. "Yo-twako, bagaimana kau tahu bahwa aku bingung memikirkan pertandingan itu?"

"Ah, aku tahu semua, saudara Bun. Jangan khawatir, aku mendapat akal agar kau dapat mengalahkan Yosiko dengan mudah seperti yang terjadi kemarin dulu."

Sejenak Bun Hui melongo, kemudian dia tersenyum maklum dan meloncat dari tempat duduknya, memegang tangan Yo Wan.

"Wah, kiranya kau yang telah membantuku, Yo-twako? Ahhh, pantas saja begitu mudah aku mendapat kemenangan! Mengapa kau lakukan itu, Yo-twako?"

"Bun-lote, ada sebabnya mengapa aku membantumu. Seperti juga engkau, aku merasa sayang melihat Yosiko dan tidak ingin melihat dia tersesat lebih jauh lagi. Dia sebetulnya adalah seorang gadis yang baik, keturunan keluarga Raja Pedang, berdarah pendekar. Sayangnya dia terdidik dalam lingkungan liar. Oleh karena itu, aku akan merasa girang sekali kalau kau berhasil menundukkan dia, Bun-lote, lalu membujuknya kembali ke jalan benar dan membubarkan anak buahnya. Kau hadapilah dia dan kau akan menang!"

"Tapi... aku belum yakin bahwa aku akan bisa menang, Yo-twako. Ilmu pedangnya hebat dan karenanya aku tahu bahwa yang menjatuhkannya kemarin dulu bukanlah aku. Tanpa bantuanmu, belum tentu aku menang, atau andai kata bisa mendapatkan kemenangan, kiranya harus melalui pertandingan mati-matian dan seorang di antara kami harus tewas di ujung pedang!"

Keperihan hati Bun Hui terbayang pada wajahnya yang tampan dan diam-diam Yo Wan merasa geli. Cinta kasih memang tidak pilih bulu, tidak memandang pangkat, kedudukan, atau pun keadaan orang yang dicinta. Kalau melihat kedudukannya, semestinya Bun Hui menganggap Yosiko sebagai musuh besar yang harus dibasminya, akan tetapi bahkan rintangan berat ini dapat dilalui dengan mudah oleh cinta kasih.

"Bun-lote, kau cinta kepada Yosiko, bukan?"

Ditanya begini langsung Bun Hui rasa seakan-akan diserang oleh tusukan pedang yang langsung menembus jantungnya. Wajahnya menjadi merah sampai ke telinganya, dan dengan gagap dia menjawab, "Aku... aku tertarik kepadanya..."

"Kau cinta padanya?"

"Aku... aku suka..."

"...dan cinta padanya?"

Akhirnya Bun Hui mengangguk.

"Nah, karena itu kau harus memenangkan dia, Lote. Yosiko adalah seorang gadis yang cukup pantas dilindungi. Dia memang berwatak aneh dan hanya akan tunduk kalau kau dapat memenangkannya. Karena itu, kau harus menang."

"Bagaimana caranya? Aku belum tentu dapat..."

"Waktu yang ia tentukan untuk bertanding masih tiga hari lagi. Biarlah aku menurunkan beberapa jurus ilmu pedang kepadamu. Aku sudah hafal akan ilmu pedang Yosiko. Aku pernah bertanding melawan dia dan aku tahu di mana letak kelemahan-kelemahannya. Memang dia pandai, ilmu pedangnya adalah Sian-li Kiam-sut yang sudah tercampur ilmu lain, juga dia pandai Ilmu Langkah Hui-thian Jip-te. Akan tetapi dengan ilmu pedangmu Kun-lun Kiam-sut, kau tentu dapat menghadapnya dan mempertahankan diri. Kemudian, jika kau melihat kesempatan baik, nah, kau gunakan jurus-jurus yang kuajarkan, tentu dia akan roboh. Kau perhatikan baik-baik, Lote. Bila mana kau melihat dia berada dalam kedudukan langkah seperti ini, nah, kau lalu pergunakan jurus ini sebagai pancingan, dan tentu dia akan bergerak begini, maka kau cepat-cepat menekan pedangnya kemudian menyapu kakinya dengan jurus ini." Sambil bicara Yo Wan lalu memberi contoh gerakan yang diperhatikan baik-baik oleh Bun Hui.

Yo Wan menurunkan lima jurus serangan, disesuaikan dengan keadaan atau posisi yang akan dilakukan Yosiko. Dengan tekun Bun Hui mempelajarinya selama tiga hari sehingga dia hafal betul.

"Kau pasti akan berhasil, Bun-lote. Andai kata tidak, percayalah, aku takkan berada jauh dan akan menggunakan akal lain. Kalau dia sudah mengaku kalah, kau bujuk dia supaya membubarkan anak buahnya dan mengusir mereka dari wilayah ini, kemudian kau ajak dia pergi ke Tai-goan menghadap ayahmu untuk kau mintakan ampun. Mengenai bagai mana kau membujuk ayahmu supaya mengambilnya sebagai mantu, terserah..." Yo Wan tertawa melihat Bun Hui menjadi merah mukanya.

"Terima kasih, Yo-twako. Baru satu kali aku bertemu denganmu, akan tetapi kau sudah begini baik kepadaku..."

"Bukan satu kali, Bun-lote. Beberapa bulan yang lalu aku pernah mengunjungi gedung ayahmu, mengunjungi tempat tahanan untuk membebaskan adik Siu Bi.”

"Ahhh...!" Bun Hui berseru kagum. "Kiranya kau yang melakukan hal itu, Yo-twako? Kau benar-benar lihai! Tetapi... mengapa kau menolong nona Siu Bi?" Bun Hui mengerutkan kening lalu menyambung, "Kau adalah muridnya Pendekar Buta, sedangkan nona Siu Bi bermaksud membalas dendam kepada Pendekar Buta sekeluarga, bahkan kini berhasil membuntungi lengan Swan Bu."

Yo Wan menarik napas panjang. "Dia hidup sebatang kara, seperti aku, patut dikasihani. Tentang dendam dan balas membalas itu, ahhh... bukan salah Siu Bi. la hanya menjadi korban pendidikan keliru seperti... Yosiko. Kasihan Siu Bi, dan kasihan Swan Bu..."

Bun Hui paham apa yang dimaksudkan oleh Yo Wan, maka keduanya berdiam sejenak, tenggelam dalam keharuan hati masing-masing. Kemudian Bun Hui kembali melatih diri dengan jurus-jurus yang dia terima dari Yo Wan sampai Yo Wan merasa puas karena gerakan Bun Hui sudah boleh dibilang cukup memenuhi syarat.

Saat pertandingan antara pimpinan bajak dan pimpinan pasukan pemerintah tiba, seperti yang diajukan dalam surat tantangan Yosiko. Tempatnya di tepi laut, di mana tiga hari yang lalu Bun Hui sudah mengadu ilmu melawan Yosiko.

Pagi hari itu, Bun Hui dengan ditemani Tan Hwat Ki, Kwa Swan Bu, Tan Cui Sian, dan Bu Cui Kim, mendatangi tempat itu dengan langkah kaki tenang. Tentu saja Bun Hui besar hati dan sangat tabah karena di sebelahnya berjalan empat orang yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi, sehingga andai kata nanti terjadi pengeroyokan, dia tak usah merasa khawatir.

Sesungguhnya, andai kata para bajak laut itu melakukan pertempuran secara terbuka, dia dengan bantuan empat orang muda perkasa ini, apa lagi ditambah dengan Yo Wan sudah cukup untuk membasmi para bajak laut. Akan tetapi celakanya, para bajak laut itu tidak pernah melakukan pertempuran terbuka, akan tetapi melakukan serangan tiba-tiba secara diam-diam dan curang pada waktu malam! Ini yang menyebabkan sulitnya usaha pembasmian para bajak itu.

Di lain pihak, Yosiko sudah muncul pula dengan pakaian yang serba putih dan ringkas. Sikapnya gagah dan wajahnya cantik sekali, membuat jantung Bun Hui makin berdebar kencang, seakan dia merasa bahwa pertemuannya dengan Yosiko ini bukan pertemuan untuk bertanding, melainkan pertemuan sebagai pengantin! Yosiko diiringkan oleh empat orang pula, yaitu empat orang kepala bajak, sedangkan belasan orang anggota bajak pilihan kelihatan agak jauh di belakang, merupakan pasukan pengawal.

Swan Bu sudah mendengar bahwa Siu Bi berada bersama Yosiko. Karena kini dia tidak melihat kekasihnya itu muncul bersama-sama Yosiko, dia tak dapat menahan kesabaran hatinya lagi lalu melangkah maju dan bertanya,

"Kaukah pangcu dari Hek-san-pang? Aku mendengar bahwa Siu Bi bersamamu. Di mana kau menahan dia? Lekas bebaskan dia dan jangan bawa-bawa dia dalam kejahatanmu!"

Yosiko hanya memandang tajam dan sebelum ia sempat menjawab, dari sebelah kirinya terdengar Bong Kwan si kepala bajak pucat kurus membentak marah, agaknya hendak menunjukkan wibawa.

"Bocah buntung mengapa banyak mulut? Tutup mulutmu, atau aku akan membuntungi lenganmu yang sebelah lagi!"

Penghinaan yang tak tersangka-sangka ini membuat Yosiko dan pihak Bun Hui terkejut sekali sehingga mereka tak dapat berkata-kata.

Dengan muka tenang seperti biasa, akan tetapi sepasang matanya memancarkan api, Swan Bu bertanya, "Kau siapakah, orang gagah?"

Bong Kwan yang pucat kurus membusungkan dadanya, karena ucapan Swan Bu yang merendah itu dia anggap sebagai tanda bahwa pemuda itu gentar terhadap dirinya. "Aku Bhong Kwan berjuluk Si Ular Terbang!"

"Dengan apa kau hendak membuntungi lenganku yang sebelah ini?" Swan Bu bertanya lagi, wajahnya masih tenang seperti biasa, hanya suaranya agak gemetar, tanda bahwa dia menahan kemarahan yang meluap-luap.

"Dengan apa? Hah, tentu dengan golokku ini!" kembali Bong Kwan menyombong sambil mencabut goloknya.

Inilah agaknya yang dikehendaki Swan Bu. Terdengar ucapannya, "Bersiaplah!"

Dan tubuhnya berkelebat lenyap, yang tampak hanya gulungan sinar pedang berkelebat bagaikan halilintar menyambar ke depan, ke arah Bong Kwan. Kejadian ini begitu cepat sehingga tidak ada yang dapat mencegah.

Bong Kwan sendiri segera menggerakkan goloknya membacok sinar berkeredepan yang menyambarnya itu.

“Tranggg!” terdengar bunyi nyaring diiringi pekik kesakitan.

Ketika semua orang memandang, ternyata Swan Bu sudah melesat kembali dan berdiri seperti biasa, pedangnya masih tergantung di dalam sarung pedang, wajahnya biasa seperti tadi. Akan tetapi di pihak sana, Bong Kwan berkelojotan dan mengerang-erang kesakitan, golok berikut lengan kanannya telah terbabat buntung!

Kejadian ini terjadi amat cepatnya sehingga semua orang melongo dan kaget. Pasukan bajak laut lalu berlarian datang, dan atas perintah Bong Ji Kiu si cambang bauk yang marah sekali melihat adiknya menjadi buntung, mereka menggotong pergi Bong Kwan dari tempat itu.

Diam-diam Yosiko kagum bukan main. Ilmu pedang si pemuda buntung kekasih Siu Bi itu hebat bukan main, membuat ia merasa gentar juga. Dia sendiri merasa yakin bahwa dia bukanlah lawan pemuda buntung putera Pendekar Buta yang luar biasa itu, dan ia pun bergidik kalau mengingat betapa Bun Hui didampingi orang-orang yang begitu lihai.

Alangkah banyaknya orang lihai di dunia ini dan ia teringat akan ucapan Yo Wan betapa kelirunya kalau ia memilih jodoh orang yang terlihai kepandaiannya. Di dunia ini kiranya sukar dicari orang yang paling pandai, karena tentu ada saja yang melebihinya.

"Ahh, tidak keliru Siu Bi memilih!" Ucapan ini tak terasa keluar dari mulut Yosiko. "Kau putera Pendekar Buta yang bernama Swan Bu? Jangan khawatir, Siu Bi tidak ditahan, ia tidak ikut muncul karena takut kepada dia ini!" la menudingkan telunjuknya ke arah Cui Sian sambil mengerling nakal. "Dia galak benar sih! Akan tetapi Siu Bi titip pesan bahwa dia selalu menantimu dengan setia."

Wajah Swan Bu berseri mendengar ini, akan tetapi dia hanya mengangguk, merasa agak malu untuk menjawab.

"He, Bun-ciangkun, kau datang bersama begini banyak orang lihai, apakah kau merasa jeri terhadap aku dan hendak mengandalkan pengeroyokan mereka untuk mengalahkan aku?"

"Ihhh, sombongnya!" Cui Sian membentak. "Aku sendiri pun cukup untuk membereskan orang seperti kau ini, masa harus mengeroyok?"

Yosiko tersenyum kepadanya. "Aku bicara dengan Bun-ciangkun, siapa minta kau turut campur? Ehh, Bun-ciangkun, bagaimana jawabmu?"

"Mereka hanya menemaniku sebagai saksi," jawab Bun Hui. "Kulihat kau juga membawa teman, apa bedanya?"

"Kalau begitu biarlah kita suruh mereka menyingkir mundur yang jauh. Aku hanya ingin bicara dan bertanding denganmu, yang lain-lain tak boleh mencampuri!"

Tanpa diminta Cui Sian kemudian mengajak Swan Bu, Hwat Ki, serta Cui Kim untuk mengundurkan diri dan berdiri dari kejauhan, hanya untuk menjaga kalau-kalau musuh mempergunakan tipu curang. Dari tempat mereka berdiri, mereka hanya dapat melihat, akan tetapi tidak dapat mendengar kata-kata mereka berdua. Juga Bong Ji Kiu dan dua orang temannya lantas mengundurkan diri ke tempat pasukan anak buah mereka, juga cukup jauh dari tempat pertandingan.

"Nah, sekarang kita hanya berdua bebas untuk bicara. Nona Yosiko, sebetulnya apakah maksudmu mengadakan tantangan seperti ini? Sudah kukatakan dahulu bahwa aku tidak ingin bermusuhan denganmu, malah ingin menawarkan perdamaian."

"Hemmm, pertandingan antara kita tempo hari belum selesai. Sekarang kita selesaikan dengan perjanjian, apa bila kau kalah, kau harus menarik pulang pasukanmu dan jangan mengganggu kami lagi."

"Kalau kau yang kalah?"

"Kalau aku yang kalah, aku tetap memegang janjiku lima hari yang lalu, aku menyerah dan menurut segala kehendakmu."

"Nona..., betulkah itu? Kau tidak akan melanggar janji?"

"Janji lebih berharga dari pada nyawa."

Gemetar suara Bun Hui ketika dia berkata, "Nona, kalau Thian mengabulkan dan aku berhasil menangkan engkau, aku hanya minta supaya kau membubarkan semua bajak, melarang mereka melakukan perbuatan jahat lagi, kemudian kau harus ikut bersamaku ke Tai-goan, kuhadapkan ayah, kumintakan ampun... bagaimana, setujukah engkau?"

Yosiko mengangguk. "Aku sudah berjanji, dan aku menurut segala kehendakmu."

"Bagus! Mari kita mulai, mudah-mudahan aku akan menang," Bun Hui berkata gembira. Mereka mencabut pedang masing-masing dan memasang kuda-kuda.

"Akan tetapi kau harus menggunakan ilmu pedang, tidak boleh menggunakan ilmu sihir seperti dahulu," kata Yosiko sebelum mulai.

Bun Hui tersenyum. Yang disangka ilmu sihir itu tentu bantuan Yo Wan yang dilakukan secara diam-diam.

"Tidak, aku hanya akan menggunakan ilmu silatku, akan tetapi kuharap kau pun jangan menggunakan senjata gelap dan segala racun."

"Baik, mulailah!"

Bun Hui menggerakkan pedangnya menyerang dan beberapa menit kemudian mereka sudah saling terjang dengan hebat dan seru sekali. Sebetulnya hanya Yosiko yang terus menerus melakukan penyerangan. Karena mentaati pesan Yo Wan, Bun Hui tidak mau menyerang. Dia hanya melindungi tubuhnya dengan Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang amat kuat. Pedangnya membentuk benteng baja yang sukar ditembus sehingga makin penasaranlah hati Yosiko. Namun, biar pun hanya mempertahankan diri, Bun Hui selalu mengincar kedudukan kaki Yosiko untuk menunggu kesempatan seperti yang diajarkan oleh Yo Wan.

Kesempatan pertama terbuka pada saat Yosiko menyerangnya dengan mengembangkan lengan kiri sambil menusukkan pedang ke dadanya. Kedudukan kaki dan posisi badan gadis itu persis seperti yang diajarkan Yo Wan kepadanya. Cepat dia miringkan tubuh ke kiri seperti yang diajarkan Yo Wan, kemudian pedangnya berkelebat menyabet lengan kiri gadis yang dikembangkan itu dengan cepat sekali.

Kagetlah Yosiko menghadapi serangan balasan ini. Lengan kirinya terancam bahaya dan serangan balasan yang tiba-tiba ini sama sekali tidak pernah ia sangka karena justru kelemahan kedudukannya adalah pada lengan kiri itu.

Tepat seperti diperhitungkan dan diajarkan Yo Wan kepada Bun Hui, gadis itu menarik lengan kirinya kemudian melangkah mundur satu tindak dengan kaki kiri pula. Bun Hui cepat-cepat menggunakan kesempatan itu untuk mencengkeram dengan tangan kirinya ke arah pedang si gadis sambil berseru, "Lepaskan pedang!"

Kembali Yosiko terkejut sekali. Cepat ia menarik gagang pedangnya sambil menggoyang pergelangan tangan untuk menangkis cengkeraman itu dengan mata pedangnya. Akan tetapi ternyata cengkeraman itu hanya gertakan belaka karena tahu-tahu yang betul-betul menyerang adalah pedang di tangan kanan Bun Hui. Pedang itu berkelebat bagai kilat dan... putuslah sabuk sutera yang mengikat pinggang Yosiko, putus di kedua ujungnya yang berkibar-kibar!

"Ihhh...!" Yosiko meloncat lagi air mukanya menjadi merah sekali.

"Maaf... tidak sengaja..." kata Bun Hui sambil tersenyum.

"Aku belum kalah!" kata Yosiko menutupi rasa malunya dan pedangnya berkelebat lagi melakukan serangan yang lebih hebat.

Bun Hui yang sudah siap cepat memutar pedangnya melindungi tubuhnya dan kembali mereka bertanding dengan serunya. Pedang mereka berkali-kali bertemu mengakibatkan bunyi nyaring dan percikan bunga api.

Kesempatan kedua datang ketika Bun Hui melihat posisi menyerang lawannya dengan tubuh miring. Cepat ia ‘memasuki’ lowongan dengan memukulkan tangan kirinya ke arah pundak sambil menangkis pedang Yosiko.

Tepat seperti yang diajarkan Yo Wan, Yosiko mengelak sambil menusukkan pedangnya dari samping. Karena sudah menduga akan perubahan atau perkembangan kaki Yosiko, cepat bagaikan kilat Bun Hui menekan pedang lawannya ke bawah dan selagi gadis itu mengerahkan tenaga untuk menarik pedangnya, kaki Bun Hui menyapu dan..., Yosiko pun terjungkal!

Namun gadis itu dapat cepat melompat berdiri dan memandang dengan mata terbelalak. la terheran-heran karena seakan-akan pemuda itu sudah mengenal baik jurus-jurusnya dan tahu pula akan perubahannya, apa bila tidak demikian bagaimana dapat tahu bahwa pada saat itu kelemahannya terletak pada kedudukan kakinya sehingga dapat melakukan penyerangan yang begitu tepat?

"Maaf...!" untuk kedua kalinya Bun Hui berkata perlahan.

"Aku tetap belum mengaku kalah!" kata Yosiko pula yang merasa penasaran dan cepat menerjang lagi.

Diam-diam Bun Hui menarik napas panjang. Tepat betul tafsiran Yo Wan tentang gadis ini, keras dan liar wataknya, tetapi gerak-geriknya benar-benar telah mencengkeram hati Bun Hui.

Dia sudah melakukan pesan Yo Wan dengan baik. Menurut petunjuk Yo Wan, dia tidak boleh sekaligus merobohkan gadis ini, karena hal itu akan melukai harga dirinya. Maka setelah dua kali memperlihatkan keunggulannya, baru Bun Hui menanti kesempatan baik untuk mengalahkannya.

Kesempatan itu datang sesudah Yosiko mulai mengeluarkan jurus-jurusnya yang paling ampuh. Memang sudah diperhitungkan oleh Yo Wan bahwa setelah berturut-turut dua kali menderita kekalahan, pasti Yosiko yang keras hati itu akan mengeluarkan jurus-jurus yang paling hebat. Oleh karena inilah, untuk menjatuhkan Yosiko, dia sengaja mengajar Bun Hui untuk menghadapi jurus yang paling berbahaya.

Pada saat Yosiko menerjang dengan bacokan pedang ke arah leher diteruskan sabetan ke bawah mengarah pinggang dibarengi dengan dorongan-dorongan tangan kiri yang mengandung hawa pukulan jarak jauh, terbukalah kesempatan ketiga itu bagi Bun Hui.

Tepat seperti ajaran Yo Wan yang sudah dilatihnya baik-baik, karena tahu bahwa pedang lawan yang membacok leher itu akan terus menyabet pinggang, otomatis pedang Bun Hui menjaga leher dan pinggangnya sehingga dua serangan itu otomatis gagal. Ada pun pukulan atau dorongan tangan kiri Yosiko itu oleh Bun Hui sengaja diterimanya dengan pundak kanannya.

Girang sekali hati Yosiko karena ia melihat bahwa kali ini ia bakal menang, karena sekali pukulannya mengenai pundak, tidak dapat tidak pemuda itu tentu akan roboh, sedikitnya terhuyung-huyung sehingga memudahkan dia untuk mendesak terus.

Akan tetapi alangkah kagetnya ketika pada saat pukulannya mampir ke pundak, tangan kiri Bun Hui dengan kecepatan luar biasa telah menotok bawah siku kanannya, membuat lengan kanannya setengah lumpuh. Sebelum ia dapat mencegahnya, tangan kiri pemuda itu sudah berhasil merampas pedangnya dari tangan kanan yang setengah lumpuh itu.

Memang betul pukulan kirinya tepat mengenai pundak Bun Hui dan membuat pemuda itu terhuyung-huyung ke belakang dengan muka pucat, akan tetapi pedangnya telah berada di tangan kiri pemuda itu. Hal ini berarti ia kalah mutlak!

Dengan pandang mata penuh kekaguman Yosiko berdiri memandang Bun Hui. Dia tidak mungkin melawan terus setelah pedangnya terampas. Jelas bahwa pemuda ini lebih lihai dari padanya!

"Kau lihai sekali, Nona. Pundakku telah terluka oleh pukulanmu!" kata Bun Hui merendah sambil mengangsurkan pedang rampasannya kepada Yosiko.

"Tidak, aku telah kalah dan aku pun mengaku kalah. Tidak dapat aku menerima kembali pedangku. Aku sudah berjanji dan sekarang biarkan aku kembali untuk membubarkan mereka, besok baru aku akan datang kepadamu dan selanjutnya terserah."

Saking girangnya Bun Hui tak dapat berkata-kata, hanya memandang dengan sinar mata penuh kebahagiaan. Dia hanya dapat menjura ketika nona itu mengundurkan diri. Dari tempat dia berdiri, dia melihat Yosiko memberi tanda dengan tangan kepada para anak buahnya dan mereka lalu menghilang di balik semak-semak di hutan.

Cui Sian dan yang lain-lain segera lari menghampiri.

"Selamat, saudara Bun Hui, kau telah menang!" kata Tan Hwat Ki girang.

"Setelah ia kalah, apa yang akan ia lakukan?" tanya Cui Sian.

"la sudah berjanji akan membubarkan anak buahnya, dan ia sendiri besok menyerahkan diri untuk menjadi tawanan dan dibawa ke kota raja," kata Bun Hui. "Semua ini adalah jasa Yo-twako. Ehhh.., Yo-twako mengapa tidak muncul?"

la menoleh ke arah belakang di mana terdapat banyak pohon besar. la menduga bahwa Yo Wan tentu bersembunyi di situ dalam persiapan membantunya apa bila rencananya gagal. Benar saja, Yo Wan muncul dari balik pohon dan tertawa girang.

"Kau berhasil baik, Bun-lote. Bagus sekali! Kurasa orang seperti Yosiko akan memegang janjinya. Alangkah baiknya urusan ini berhasil dibereskan dengan jalan damai sehingga daerah ini akan bebas dari gangguan bajak laut tanpa banyak banjir darah."

"Bagaimana pun juga, aku sangsi apakah jalan ini cukup baik dan menjamin keamanan. Andai kata para bajak itu benar-benar mau pergi dari sini, kiranya masalah belum tentu selesai karena mereka pasti akan mengganas di tempat lain," kata Cui Sian menyatakan pendapatnya.

"Setuju sekali dengan ucapan Bibi," sambung Hwat Ki, "membasmi pohon jahat harus sampai ke akar-akarnya, kalau tidak tentu akan tumbuh kembali. Penjahat-penjahat itu kalau tidak dibasmi habis, kelak tentu akan melakukan kejahatan pula."

Yo Wan menggeleng-geleng kepalanya, kemudian berkata, suaranya sungguh-sungguh, "Kurasa tidak demikian persoalannya. Kejahatan bukanlah suatu sifat dari jiwa. Tidak ada manusia yang lahir sudah jahat atau selama hidupnya setiap saat dia jahat. Kejahatan hanyalah kebodohan atau penyelewengan dari kesadaran hati nurani oleh keadaan yang terdorong oleh nafsu-nafsu keduniawian. Memang sudah menjadi kewajiban kita yang mempelajari ilmu dan mengabdi kebenaran dan keadilan untuk memberantas kejahatan-kejahatan, akan tetapi bukanlah cara yang sempurna kalau kita harus membunuhi setiap orang yang melakukan kejahatan yang sesungguhnya hanya kebodohan itu. Hal ini akan merupakan pekerjaan sia-sia belaka, malah membunuh sendiri pun termasuk kebodohan yang berdasarkan kepada kebencian, jadi pada umumnya juga disebut jahat! Yang kita musnahkan bukan orangnya melainkan kebodohannya itulah." Yo Wan berhenti sebentar mengumpulkan ingatannya tentang filsafat yang pernah dia pelajari ketika dia bertapa di Himalaya.

Orang-orang muda yang gagah mendengarkan dengan tertarik.

"Yo-twako, teruskanlah, aku masih belum dapat memahami filsafatmu ini," kata Bun Hui.

"Anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap jahat akan menjadi jahat selamanya, dan anggapan bahwa orang yang sekarang dianggap baik akan menjadi baik selamanya, adalah anggapan yang sempit. Apa yang disebut jahat mau pun baik hanyalah akibat dari kesadaran si orang itu pada saat itu. Apa bila dia lupa dan lemah, bodoh menghambakan diri pada hawa nafsu, maka dia melakukan perbuatan yang dianggap jahat. Sebaliknya apa bila pada saat itu ia sadar dan kuat menghadapi godaan nafsu, dia akan ingat dan menjauhi perbuatan yang dianggap jahat. Jadi semua hanya akibat sementara saja dari kesadaran. Tidak akan selamanya begitu. Yang sadar mungkin lain waktu akan lupa, dan sebaliknya yang sekarang lupa mungkin sekali lain waktu akan menjadi sadar. Saudara-saudaraku yang baik, pada hakikatnya, apakah itu yang disebut baik atau pun jahat? Dari mana timbulnya sebutan ini? Ingat, banyak sekali di antara kita yang menyalah tafsirkan istilah baik dan jahat ini, bahkan banyak yang menyeleweng dari kebenaran dan keadilan dalam menentukan tentang orang baik dan orang jahat,"

"Bagaimana ini? Baru sekarang aku mendengarnya. Yo-koko, coba kau beri penjelasan," kata Cui Sian dengan hati amat tertarik sehingga ia lupa bahwa ia menggunakan sebutan mesra sekali, yaitu sebutan ‘koko’. Baiknya semua orang pun sedang dalam keadaan tertarik oleh filsafat Jaka Lola sehingga tidak ada yang memperhatikan sebutan itu.

"Sebelumnya maaf. Kalian adalah putera-puteri para pendekar sakti yang berilmu tinggi, tentu telah menerima gemblengan-gemblengan batin yang mendalam. Akan tetapi, tiada salahnya apa bila sekarang kita bertukar pikiran untuk memperlengkapi ilmu dan mencari kesesuaian pendapat. Yang aku maksudkan penyelewengan dalam penilaian seseorang terhadap orang lain yang dianggap baik dan jahat adalah karena sebagian besar orang menilai manusia lain berdasarkan nafsu kokati..."

"Nanti dulu, Yo-twako. Apa artinya kokati?" tanya Hwat Ki.

"Nafsu kokati adalah nafsu mementingkan diri pribadi, demi kesenangan sendiri, demi keuntungan sendiri, demi kepentingan sendiri tanpa menghiraukan orang lain. Orang menilai orang lain sebagai orang baik kalau orang lain itu mendatangkan keuntungan atau kesenangan kepadanya. Dan orang menilai orang lain sebagai orang jahat kalau orang lain itu mendatangkan kerugian atau kesusahan kepadanya."

"Tentu saja, bukankah itu wajar?" Bun Hui berkata.

Yo Wan mengangguk. "Wajar bagi penilaian yang berdasarkan kokati. Memang hal ini menjadi kesalahan atau penyelewengan yang tak terasa lagi oleh manusia yang dalam setiap geraknya dikendali oleh nafsu kokati. Akan tetapi sesungguhnya tidak wajar bagi orang yang mengabdi kepada kebenaran dan keadilan!"

"Mengapa begitu?" tanya Hwat Ki.

"Agaknya persoalan ini sulit dimengerti. Baiklah aku menggunakan contoh. Ada seorang yang menjadi perampok, merampasi barang lain orang dengan jalan kekerasan. Orang ini pada umumnya disebut jahat, bukan? Akan tetapi orang ini amat baik kepadamu, tidak merampokmu, bahkan membantumu, menolongmu dengan ikhlas. Nah, saudara Hwat Ki, bagaimana penilaianmu terhadap orang ini? Tentu kau akan sulit sekali menganggap dia orang jahat, dan akan menerima dia sebagai seorang yang baik karena memang ia amat baik terhadapmu. Sebaliknya, andai kata ada seseorang yang oleh umum dianggap baik, suka menolong orang lain, tetapi justru kepadamu orang itu berbuat hal yang merugikan, misalnya menghina atau menyusahkan. Bukankah kau akan sukar sekali menilai dia sebagai orang yang baik, Bun-lote? Kiranya akan lebih mudah bagimu untuk menilai dia sebagai seorang yang jahat karena ia kau anggap amat jahat kepadamu. Nah, bukankah jelas bahwa penilaian saudara Hwat Ki dan Bun-lote ini menyeleweng dari kebenaran dan keadilan? Karena penilaian ini hanya mendasarkan kepada untung atau rugi bagi dirinya sendiri! Bagaimana pendapat kalian?"

"Betul sekali! Baru sekarang aku dapat mengerti!" berkata Cui Sian, sepasang matanya berseri penuh kekaguman.

"Memang betul apa yang dikatakan Yo-twako. Aku pun pernah mendengar filsafat seperti ini diwejangkan oleh ayah," kata Swan Bu.

Yo Wan mengangguk. "Suhu adalah seorang yang sangat bijaksana. Sungguh pun suhu kehilangan kedua alat penglihatannya, akan tetapi mata batinnya terbuka lebar sehingga suhu tak mudah terperosok ke dalam jurang penyelewengan. Banyak orang yang kedua matanya awas, akan tetapi mata batinnya seperti buta sehingga terjadilah di dunia ini perebutan kebenaran, dan yang diperebutkan itu adalah kebenaran palsu, kebenaran diri sendiri yang bukan lain hanyalah penyamaran dari nafsu kokati juga. Kebenaran sejati tidak diperebutkan orang, karena sesungguhnyalah bahwa siapa yang merasa diri tidak benar, dialah yang paling dekat kepada kebenaran sejati! Perasaan bahwa diri sendiri tidak benar ini menghilangkan atau setidaknya mengurangi nafsu yang amat buruk, yaitu nafsu membencl orang lain. Tentu saja orang lain dibenci karena dianggap jahat. Kalau kita merasa bahwa diri kita sendiri pun tidak benar, maka tidak mudah menilai orang lain jahat dan karenanya berkuranglah rasa benci. Hapuskan rasa benci dari dalam lubuk hati dan kita akan mudah menerima cahaya kasih, yaitu kasih sayang pada sesama manusia, dan ini merupakan jembatan yang akan membawa kita kepada kebenaran sejati."

Hening sejenak karena orang-orang muda itu seakan-akan terpesona dan terpengaruh hikmat kata-kata yang mengandung filsafat hidup itu. Filsafat kokati.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner