PENDEKAR BUTA : JILID-33


Kagetlah semua orang itu, juga rajawali emas sudah siap membantu sahabatnya dalam pertempuran. Akan tetapi tiba-tiba Kun Hong tertawa bergelak, membuat orang-orang itu, terutama yang tadi dibikin terguling-guling, makin keheranan.

"Ha-ha-ha, maafkan aku, Twako. Dulu aku pernah dihadapkan kepada orang-orang Hwa-i Kaipang yang palsu, maka terpaksa aku menguji. Kiranya benar ji-wi adalah murid-murid Coa-lokai sehingga aku tidak perlu ragu-ragu lagi. Maaf."

Semua anggota perkumpulan penggemis itu saling pandang dan makin kagumlah mereka. Tadinya mereka ragu-ragu melihat betapa orang yang amat dipuji-puji oleh para pimpinan Hwa-i Kaipang hanya seorang pemuda yang buta lagi. Akan tetapi, melihat gerakan Kun Hong tadi yang sekali bergerak tidak saja mampu menjungkalkan dua orang, akan tetapi dari gerakan menangkis dua orang itu dia telah mengenal ilmu silat dari Coa-lokai. Hebat!

Kembali mereka berlutut. "Pangcu, kami datang untuk melapor bahwa Lo-pangcu kami telah tewas dalam pertempuran di kota raja."

Kun Hong mengangguk. Dia sudah mendengar akan hal ini dari Hui Kauw.

"Aku sudah tahu dan aku menyesal sekali mengapa Hwa-i Lokai sampai mengorbankan banyak nyawa saudara-saudara Hwa-i Kaipang untuk membantuku."

"Bukan begitu, Pangcu. Persoalannya bukanlah semata urusan pribadi, melainkan urusan perjuangan. Hwa-i Kaipang dalam hal ini bekerja sama dengan Pek-lian-pai, dan langsung menerima tugas-tugas dari utara."

"Hemmm, begitukah? Sekarang siapa yang menggantikan Hwa-i Lokai, dan apa maksud kalian datang menemuiku di sini?"

Orang yang tadi telah mengaku sebagai murid Coa-lokai menjawab, "Sementara ini yang memimpin kami adalah suhu sendiri. Juga suhu yang menyuruh kami mencari Pangcu dan memberi tahu bahwa nona Kwee Hui Kauw sekarang berada dalam bahaya."

Terkejut hati Kun Hong. "Ehh, siapakah namamu dan bagaimana kalian tahu bahwa nona Hui Kauw dalam bahaya? Apa pula sebabnya hal itu kalian ceritakan kepadaku?"

"Maaf, Pangcu. Siauwte Lauw Kin, murid kepala suhu Coa-lokai. Siauwte beserta semua saudara memang bertugas dalam pergerakan di dalam kota raja sehingga semua urusan kami ketahui belaka. Juga kami tahu bahwa nona itu adalah sahabat baik Pangcu, karena itulah kami datang menyampaikan warta ini."

"Bagaimana urusannya? Hayo ceriterakan yang jelas!" Kun Hong tidak sabar lagi setelah dia mengerti duduknya perkara dan menaruh kepercayaan kepada orang yang tadi sudah dia rasakan bahwa gerakannya ketika menangkis memang betul-betul ilmu silat Coa-lokai. Dahulu pernah dia menghadapi penyerangan Coa-lokai, maka dia pun mengenal gerakan muridnya ini.

"Kami sendiri tidak tahu sebabnya, akan tetapi kami melihat nona itu sudah ditawan oleh The Sun dan Bhok Hwesio. Malah hebatnya, ayahnya sendiri, yakni pembesar Kwee itu, agaknya juga berpihak kepada The Sun dan sama sekali tidak menolong puterinya."

Kun Hong merasa khawatir sekali. Akan tetapi dia menahan tekanan batinnya, kemudian bertanya tenang, "Di mana nona itu ditahan? Memang aku harus menolongnya, apakah kalian melihat cara untuk membebaskannya?"

"Harap Kwa-pangcu jangan khawatir. Kami sudah menyelidiki dengan teliti sekali dan kami yakin bahwa sementara ini mereka tidak akan mengganggu nona Hui Kauw. Memang ada jalan untuk menolongnya, akan tetapi hal ini membutuhkan tenaga ahli yang mempunyai ilmu tinggi. Agaknya, kecuali Pangcu sendiri tidak mungkin ada yang akan mampu untuk menolongnya."

"Hemmm, lekas ceriterakan dengan jelas, apa yang kau maksudkan?"

"Begini, Kwa-pangcu. Kami mendengar kabar bahwa pihak The Sun sudah mengadakan hubungan dengan Ching-toanio dan kawan-kawannya. Karena nona Hui Kauw ditangkap dengan tuduhan membantu pemberontak, yaitu memberikan mahkota kepada puterinya Sin-kiam-eng untuk dibawa ke utara, maka sudah semestinya dia dihukum mati. Baiknya mereka itu masih mengingat pada Ching-toanio yang sudah mengadakan hubungan lebih dulu. Mereka merasa sungkan terhadap Ching-toanio karena nona Hui Kauw adalah puteri angkatnya. Inilah yang menyelamatkan nona Hui Kauw. Pelaksanaan hukuman ditunda dan malah dia akan dibawa dalam pertemuan yang diadakan antara jagoan-jagoan istana dengan pihak Ching-coa-to. Mungkin dalam pertemuan itulah nona Hui Kauw akan diberi hukuman."

Kun Hong terkejut bukan main. Sama sekali tidak ada baiknya bila Hui Kauw dihadapkan dengan Ching-toanio, karena dia tahu betapa nyonya itu sangat benci kepada Hui Kauw. Pertemuan itu tidak akan memperingan hukuman Hui Kauw, malah mungkin nona pujaan hatinya itu akan mengalami siksaan yang lebih hebat.

"Di manakah pertemuan itu diadakan dan kapan?" tanyanya cepat, hatinya kini tidak dapat menahan lagi kegelisahannya.

"Masih tiga hari lagi, Kwa-pangcu. Pihak Ching-coa-to masih belum percaya kepada para jagoan istana sehingga mereka tidak mau mengadakan pertemuan di kota raja, khawatir akan perangkap. Oleh karena itu sudah diputuskan oleh kedua pihak untuk mengadakan pertemuan di luar kota raja, di lembah Sungai Huai, tempat yang mereka pilih adalah..."

"Pusat perkumpulan Ngo-lian-kauw?" Kun Hong memotong, dia langsung teringat ketika lembah Sungai Huai disebut-sebut.

"Ehhh, ternyata Kwa-pangcu juga sudah tahu...!" Lauw Kin, murid Coa-lokai itu berseru terkejut.

"Aku hanya menduga saja. Lanjutkan ceritamu dan apa maksud pertemuan itu."

"Memang, mereka memilih tempat Ngo-lian-kauw, karena meski pun pihak Ngo-lian-kauw selama ini tidak ikut-ikut, akan tetapi mereka agaknya mempunyai hubungan pula dengan perkumpulan sesat itu dan mempercayainya. Dan menurut hasil penyelidikan kami yang bekerja sama dengan Pek-lian-pai, maksud pertemuan itu adalah hendak merundingkan kerja sama menghadapi serbuan Raja Muda Yung Lo. Dalam hal ini, pihak Ching-coa-to minta jaminan dan janji-janji kedudukan yang akan diputuskan dan ditanda tangani sendiri oleh kaisar."

"Hemmm, untuk menghadapi paman sendiri, menarik bantuan tenaga orang-orang Mongol dan Mancu." Kun Hong memotong. "Kalau begitu, kedua pihak tentu akan datang dengan kekuatan besar, belum lagi para anggota Ngo-lian-kauw yang tentu menjaga keamanan di sana sebagai tuan rumah."

"Memang betul, Kwa-pangcu. Akan tetapi kami dan pihak Pek-lian-pai sudah mengadakan persiapan pula, malah kami sebelumnya telah menghubungi pasukan-pasukan Raja Muda Yung Lo serta mengerahkan para saudara kita. Raja Muda Yung Lo sudah berjanji akan mengirimkan pasukan dan akan menyerbu, karena orang-orang yang akan berkumpul itu merupakan inti kekuatan pertahanan di kota raja. Di dalam keributan inilah maka Pangcu dapat menolong nona Hui Kauw yang sudah pasti akan dibawa serta ke tempat itu."

Kun Hong berpikir keras. Kekuatan pihak istana dan Ching-coa-to kalau digabung menjadi satu, merupakan kekuatan hebat yang sukar dilawan. Apa lagi mengingat bahwa di sana ada orang-orang seperti Ka Chong Hoatsu, tiga orang Ang Hwa Sam-cimoi, Ching-toanio sendiri, Souw Bu Lai, dan Bouw Si Ma ditambah pihak istana yang amat kuat dibantu oleh orang-orang berilmu tinggi seperti Bhok Hwesio, Lui-kong Thian Te Cu, dan Hek Lojin.

Berat sekali lawan-lawan itu, akan tetapi demi keselamatan Hui Kauw, dia harus datang menolong. Di luar istana memang lebih leluasa dan mudah menolong nona itu, dari pada di dalam istana yang dikurung pagar tembok dan di mana terdapat puluhan ribu orang tentara yang menjaga. Di samping menolong Hui Kauw, juga hitung-hitung dia membantu perjuangan mendiang pamannya Tan Hok yang membantu Raja Muda Yung Lo.

"Kalau begitu, mari kita berangkat dan biarlah siasat selanjutnya kita atur di sana," kata Kun Hong. Dia lalu menepuk-nepuk leher kim-tiauw dan berkata, "Kim-tiauw-ko, kau tidak boleh turut karena kehadiranmu akan membuka rahasia pengepungan. Sekarang pergilah kau menyusul susiok, kelak kau boleh cari lagi padaku. Pergilah!"

Dia mendorong tubuh burung itu yang mengeluarkan seruan panjang tanda kecewa. Akan tetapi agaknya dia tidak berani membangkang, buktinya dia lalu melengking keras dan terbang ke angkasa raya, sebentar saja lenyap dari situ. Para anak buah Hwa-i Kaipang kagum bukan main melihat burung sakti itu…..

********************

Memang benar apa yang diceriterakan oleh Lauw Kin anggota Hwa-i Kaipang itu. Pada waktu itu, memang para anggota Hwa-i Kaipang ini bersama para anggota Pek-lian-pai, secara lihai sekali berhasil menyelundup ke kota raja dan memasang banyak mata-mata untuk mengetahui gerak-gerik pemerintahan kaisar baru. Mata-mata ini dipasang sampai menembus dinding istana yang tebal sehingga segala macam peristiwa diketahui belaka oleh mereka.

Melalui para penyelidik, kaisar muda itu telah dapat mengetahui akan adanya persekutuan yang hendak menjatuhkannya. Dia tahu pula bahwa persekutuan itu mengadakan kontak dengan Raja Muda Yung Lo, pamannya. Betapa pun juga, dia hendak mempertahankan kekuasaannya dan ketika penobatannya menjadi kaisar baru dilaksanakan, dia sengaja tidak mengundang pamannya itu.

Kini, setelah jelas olehnya bahwa diam-diam mendiang kakeknya (kaisar lama) menaruh harapan kepada Raja Muda Yung Lo, dia bertekad untuk menumpas pamannya itu. Atas bantuan The Sun, kaisar lalu mengundang orang-orang pandai dan mengulurkan tangan kepada orang-orang kang-ouw yang suka membantunya.

Oleh karena itulah, ketika dia mendengar bahwa para tokoh dari Ching-coa-to bersama orang-orang sakti menawarkan bantuan mereka, dia menjadi girang sekali. Akan tetapi di samping kegirangan ini juga terdapat kecurigaan di pihak kaisar dan para jagoan istana.

Semenjak dulu Ching-coa-to tak pernah membantu kaisar dalam urusan negara, sungguh pun harus diakui pula bahwa pihak ini sama sekali juga tidak ada hubungan dengan para pemberontak seperti Pek-lian-pai dan Hwa-i Kaipang. The Sun dan jagoan-jagoan lainnya terlebih merasa curiga dan berhati-hati lagi menghadapi Ching-coa-to, karena mendengar bahwa rombongan itu memiliki anggota tokoh-tokoh Mongol, malah yang seorang adalah bekas pangeran Mongol pula. Jangan-jangan pangeran itu mempunyai niat buruk hendak mengembalikan kekuasaan bangsanya yang telah terusir oleh perjuangan kaisar pertama dari kerajaan Beng! Adanya orang Mancu dalam rombongan itu semakin menambahkan kecurigaan.

"Sukar diduga apa yang tersembunyi dalam maksud bantuan mereka itu," kata The Sun ketika para jagoan diundang oleh kaisar untuk membicarakan masalah ini. "Akan tetapi, mereka terdiri dari orang-orang sakti yang bantuannya amat diperlukan untuk menghadapi musuh-musuh kita."

"Hemmm," kata kaisar, "apakah tidak berbahaya kalau mengundang mereka ke kota raja? Jangan-jangan itu berarti kita memasukkan serigala-serigala ke dalam rumah."

"Harap Paduka tidak khawatir," The Sun menghibur, "apa bila mereka itu mempunyai niat buruk, para pengawal dipimpin oleh para Locianpwe yang berada di sini pasti akan dapat menghancurkan mereka. Selain itu, apa bila suhu telah berhasil mengejar dan menangkap pemberontak Kwa Kun Hong, tentu suhu akan datang lagi dan keadaan kita akan menjadi lebih kuat."

Bhok Hwesio mengerutkan kening. Hwesio ini suka kepada The Sun yang sangat pandai mengambil hati dan bersikap halus, akan tetapi dia tidak suka terhadap guru pemuda itu yang dianggapnya sombong.

"Tanpa adanya Hek Lojin sekali pun pinceng masih sanggup mengusir perusuh-perusuh dari dalam kota raja. Tapi sungguh amat tidak baik kalau sampai memanggil orang-orang yang masih mencurigakan ke dalam kota raja, sama saja dengan memancing datangnya kekacauan yang akan melemahkan pertahanan. Pertemuan dengan mereka lebih baik kita adakan di luar kota raja, sesudah melihat sikap mereka dan mendengarkan kesanggupan mereka barulah kita menentukan langkah."

Setelah ditimbang-timbang oleh kaisar, usul Bhok Hwesio ini lalu diterima dan diambillah keputusan untuk mengundang orang-orang Ching-coa-to itu mengadakan pertemuan. Ada pun tempat yang mereka pilih adalah lembah Sungai Huai yang juga menjadi sarang dari perkumpulan Ngo-lian-kauw.

Tentu saja peristiwa penting ini tertangkap oleh telinga para mata-mata Pek-lian-pai dan Hwa-i Kaipang yang segera mengadakan persiapan. Mereka mengirim surat kepada Raja Muda Yung Lo, bahkan ada yang mencari Kun Hong dan mengabarkan hal ini.

Dalam pertemuan puncak itulah para penyelidik ini mendengar tentang nasib Hui Kauw yang akan dijadikan tawanan dan dibawa ke pertemuan dengan orang-orang Ching-coa-to untuk dimintakan keputusan hukumannya. Rahasia Hui Kauw terbongkar ketika gadis ini merampas mahkota dan menyerahkannya kepada Loan Ki dan Nagai Ici tanpa ia sadari bahwa kejadian itu dilihat oleh seorang mata-mata istana yang kebetulan berada di tempat itu dan bersembunyi.

Hui Kauw segera ditangkap. Dengan gagah berani nona ini mengaku bahwa dia sama sekali tidak peduli akan urusan negara, tidak peduli siapa yang akan menjadi kaisar, akan tetapi bahwa ia melakukan itu semata-mata untuk membantu Kwa Kun Hong, suaminya!

Ayahnya, bangsawan Kwee, marah-marah dan tidak mengakuinya sebagai puteri lagi. Ia lalu dijebloskan ke dalam penjara menanti keputusan hukuman, dan akhirnya ia hendak dipergunakan oleh The Sun untuk mengambil hati ibu angkatnya, Ching-toanio.

The Sun memang cerdik. Dia cukup mengerti bahwa Hui Kauw bukanlah pemberontak, namun seorang yang mencinta Si Pendekar Buta dan perbuatannya itu hanya terdorong oleh cinta dan kesetiaan. Kalau Hui Kauw dibunuh, bukan saja tidak ada artinya, bahkan mungkin sekali hal itu akan mematahkan hubungan baik dengan Ching-coa-to. Tentu saja dia tidak tahu bahwa Ching-toanio sebetulnya membenci Hui Kauw pula. Maka dia hendak ‘mengambil hati’ orang-orang Ching-coa-to dan menyerahkan Hui Kauw kepada mereka, sebagai umpan!

Pada waktu itu, telah terjadi perubahan besar pada perkumpulan Ngo-lian-kauw. Dahulu, lima tahun yang lalu, perkumpulan ini dipimpin oleh Kim-thouw Thian-li (Bidadari Kepala Emas) murid Hek-hwa Kui-bo. Di bawah pimpinan Kim-thouw Thian-li yang direstui pula oleh iblis wanita Hek-hwa Kui-bo, perkumpulan itu maju pesat.

Ngo-lian-kauw atau perkumpulan Agama Lima Teratai adalah semacam agama sesat atau agama klenik yang memuja kekuasaan iblis dan mempelajari ilmu-ilmu hitam. Tidaklah mengherankan bila pada waktu itu ketuanya terkenal sebagai seorang ahli racun kembang dan jahatnya malahan melebihi gurunya. Setelah guru dan murid yang jahat itu tewas, perkumpulan Ngo-lian-kauw menjadi morat-marit.

Terjadilah perebutan-perebutan kekuasaan, karena ketua Ngo-lian-kauw itu meninggalkan banyak harta benda di samping kedudukan serta pengaruh. Para anggota Ngo-lian-kauw yang terdiri dari para pendeta-pendeta Ngo-lian-kauw dan wanita-wanita, terpecah-pecah menjadi beberapa kelompok dan membela pilihan masing-masing supaya dipilih menjadi ketua sehingga terjadilah pertempuran-pertempuran.

Tetapi kemudian muncullah tiga orang wanita sakti dari barat, yaitu Ang Hwa Sam-cimoi, tiga orang kakak beradik Ngo Kui Ciau, Ngo Kui Biauw dan Ngo Kui Siauw yang selalu berpakaian serba merah. Tiga orang wanita yang usianya baru tiga empat puluh tahun ini merupakan adik-adik seperguruan Hek Kwa Kui-bo, jadi masih terhitung bibi-bibi guru dari pada mendiang Kim-thouw Thian-li bekas ketua Ngo-Lian-kauw.

Dengan kepandaian mereka, tentu saja dengan sangat mudah Ang Hwa Sam-cimoi ini menundukkan semua anggota Ngo-lian-kauw. Sejak itu, kurang lebih empat tahun setelah ketua Ngo-lian-kauw tewas, perkumpulan ini mengakui Ang-hwa Sam-cimoi sebagai ketua mereka.

Sesudah Ang-hwa Sam-cimoi menjadi ketua Ngo-lian-kauw, terjadilah perubahan hebat. Tiga orang wanita ini tak suka akan ilmu klenik, tak suka akan ilmu sihir dan penggunaan racun. Mereka sudah mewarisi ilmu silat dan ilmu pedang yang sangat lihai, kepandaian mereka semenjak mereka merantau ke barat telah mengalami kemajuan yang amat hebat sehingga mereka tidak suka mengandalkan diri kepada segala macam ilmu hitam.

Juga, melihat para pendeta laki-laki yang sudah tua-tua mereka tidak suka melihatnya dan membubarkan para anggota pria dari Ngo-lian-kauw, tidak lagi mengakui mereka sebagai anggota. Sebaliknya, mereka kemudian menerima anggota-anggota baru yang terdiri dari wanita-wanita muda dan cantik.

Dan semenjak dipimpin oleh Ang-hwa Sam-cimoi inilah perkumpulan itu terkenal sebagai perkumpulan wanita cabul! Bila mana ada laki-laki terlihat di situ, sudah dapat dipastikan bahwa laki-laki ini adalah seorang pemuda tampan yang telah diculik dan orang itu selama hidupnya tidak akan dapat melihat dunia ramai lagi karena begitu dia sudah diapkir (tidak dibutuhkan lagi), maka dia akan dibunuh!

Ang-hwa Sam-cimoi memilih anggota-anggota yang berbakat dan mereka ini tidak banyak jumlahnya. Kalau dulu anggota Ngo-lian-kauw ada ratusan orang, sekarang hanya tinggal kurang lebih lima puluh orang lagi, semua wanita akan tetapi mereka ini rata-rata memiliki ilmu silat yang lumayan. Bahkan ketiga orang ketua baru ini telah memperhebat barisan Ngo-lian-tin (Barisan Lima Teratai) yang dahulu diciptakan oleh Kim-thouw Thian-li.

Semua anggota-anggota Ngo-lian-kauw adalah ahli-ahli barisan Ngo-lian-tin sehingga biar pun kini anggotanya hanya lima puluh orang saja dan tidak sebanyak dahulu, dan wanita semua, namun apa bila dibandingkan dengan dahulu, perkumpulan ini malah lebih kuat!

Seperti telah kita ketahui, Ang-hwa Sam-cimoi juga merupakan orang-orang yang memiliki ambisi untuk bisa mendapatkan kemuliaan di kota raja di samping usaha mereka mencari teman-teman yang pandai untuk membalaskan dendam mereka atas kematian Hek-hwa Kui-bo di Thai-san. Oleh karena itu tiga orang saudara ini menjadi tamu-tamu terhormat dari Ching-toanio di Ching-coa-to. Seperti telah dapat kita duga, adalah tiga orang wanita sakti ini yang banyak membantu Ching-toanio beserta teman-temannya sehingga siasat mereka di Thai-san berhasil dengan baik hingga mengakibatkan hancurnya perkumpulan Thai-san-pai yang mereka benci itu.

Dan tidak aneh pula kalau pihak Ching-coa-to mengajukan sarang Ngo-lian-kauw sebagai tempat pertemuan dan perundingan antara pihak mereka dan pihak jagoan-jagoan istana. Seperti juga pihak istana, mereka sendiri masih ragu-ragu dan sangsi apakah para jagoan istana itu benar-benar mau menerima uluran tangan mereka dan mau memberikan janji kedudukan.

Demikianlah, pada hari yang sudah ditentukan, semua orang-orang Ngo-lian-kauw telah siap sedia. Sebagai nyonya rumah, Ang-hwa Sam-cimoi sudah mengatur tempat mereka sebaik-baiknya agar dapat menghormati para jagoan istana yang akan menjadi tamu-tamu agung.

Semua anggota Ngo-lian-kauw diberi tugas, ada yang mengatur penjagaan di sekeliling tempat itu untuk menjaga keamanan, ada yang bertugas melayani para tamu. Akan tetapi pada hari itu, mereka semua yang sebagian besar terdiri dari wanita-wanita muda yang cantik, berdandan dengan mewah, memakai pakaian baru dengan muka mereka dilapisi bedak dan yanci (pemerah) lebih tebal dari pada biasanya. Namun setiap orang anggota menggantungkan pedang pada punggung masing-masing, sehingga mereka ini kelihatan cantik manis, centil genit, akan tetapi juga gagah.

Untuk menyenangkan hati jagoan-jagoan dari istana yang akan mewakili kaisar di dalam pertemuan dan perundingan ini, bangunan besar yang biasanya menjadi tempat tinggal ketua Ngo-lian-kauw, sekarang dikosongkan dan dihias menjadi tempat perundingan yang cukup luas dan menyenangkan.

Para pemasak sudah sejak pagi hari sibuk di dapur dan banyaklah itik dan ayam dipotong lehernya, di samping dua ekor babi disembelih. Untuk keperluan ini bahkan didatangkan dua orang tukang masak pria dari kota raja, dua orang laki-laki gemuk bermuka buruk akan tetapi yang sepasang tangannya pandai sekali menyulap masakan-masakan lezat. Arak wangi juga tidak ketinggalan, sudah dipilihkan arak tua yang baik. Pendeknya, pihak Ching-coa-to melalui Ngo-lian-kauw telah mempersiapkan penyambutan secara hebat dan besar-besaran.

Semenjak kemarin, pihak Ching-coa-to dan teman-temannya telah hadir di situ. Mereka ini terdiri dari belasan orang tokoh terkenal di dunia kang-ouw, tetapi yang penting disebut adalah Ching-toanio, Souw Bu Lai si jago Mongol beserta gurunya, si pendeta Ka Chong Hoatsu pentolan Mongol yang terkenal sakti. Tampak pula Bouw Si Ma, jagoan Mancu murid tunggal Pak Thian Lo-cu.

Bouw Si Ma ini terkenal dengan julukannya Si Tangan Maut dan tingkat kepandaiannya tidak kalah oleh Souw Bu Lai mau pun Ching-toanio sendiri! Tentu saja patut pula disebut Ang-hwa Sam-cimoi, sebab tiga orang wanita ini betul-betul sakti dan kepandaian mereka masing-masing jauh melampaui tingkat Ching-toanio dan kawan-kawannya, kecuali Ka Chong Hoatsu. Tiga orang sumoi (adik seperguruan) Hek-hwa Kui-bo ini memang masing-masing tidak setinggi Ka Chong Hoatsu kesaktiannya, akan tetapi kalau mereka itu maju bertiga, kiranya Ka Chong Hoatsu sendiri akan sukar menandingi mereka!

Sesungguhnya mereka ini tidaklah sejujurnya hendak membantu pemerintah Beng-tiauw. Seperti telah kita ketahui, mereka ini terdiri dari orang-orang yang berambisi (berpamrih), terutama sekali Souw Bu Lai atau Pangeran Sublai yang mengaku masih keturunan dari Jenghis Khan.

Kalau kali ini mereka mengulurkan tangan hendak membantu Kaisar Beng-tiauw dengan dalih mencari kedudukan dan kemuliaan, sebetulnya adalah karena mereka kini merasa belum cukup kuat untuk merampas kerajaan. Mereka hendak membaiki pemerintah dan menguasai kedudukan-kedudukan penting sehingga kelak lebih mudah bagi mereka untuk menggulingkan Kerajaan Beng-tiauw dan membangun kembali Kerajaan Mongol.

Ini termasuk cita-cita Souw Bu Lai yang didukung oleh gurunya, yaitu Ka Chong Hoatsu, dan juga Ang-hwa Sam-cimoi. Akan tetapi cita-cita Bouw Si Ma si tokoh Mancu lain lagi. Tokoh ini bercita-cita mempergunakan kekuatan bangsanya untuk mencoba menguasai kerajaan besar itu, karena sesungguhnya sudah sangat lama Bangsa Mancu mengincar untuk berkuasa apa bila kesempatan baik tiba. Cita-cita itu disetujui serta didukung oleh Ching-toanio yang diam-diam telah lama mengadakan hubungan rahasia dengan Bouw Si Ma.

Pada hari yang ditentukan, pagi-pagi sekali rombongan dari kota raja sudah memasuki lembah Sungai Huai. Lima puluh orang prajurit pilihan termasuk pula pasukan pengawal kerajaan, berbaris memanjang dipimpin oleh dua orang pengawal istana, yaitu Ang Mo-ko dan Bhong-lokai, mengiringkan para tokoh istana yang dikepalai oleh The Sun.

Para tokoh istana itu adalah Lui-tong Thian Te Cu yang berpakaian kuning, Bhok Hwesio dengan pakaiannya tetap sederhana dengan bagian dada setengah terbuka, Bhewakala si jagoan dari Nepal yang berkulit hitam dengan anting-antingnya yang besar bergantungan di kedua telinganya, It-to-kiam Gui Hwa yang pendiam dan bersifat galak, dan The Sun sendiri. Di tengah rombongan berkuda ini, juga naik kuda diapit oleh The Sun dan Lui-tong Thian Te Cu, kelihatan Hui Kauw si gadis muka hitam!

Gadis ini menunggang kuda dengan muka tunduk. Ia menjadi seorang tawanan yang biar pun ia tidak dibelenggu dan naik kuda sendiri secara bebas, namun ia maklum bahwa di tengah orang-orang sakti ini ia sama sekali tidak berdaya. Melawan tidak ada artinya.

Ia memang tak mengharapkan diampuni, tidak mengharapkan diberi hidup oleh mereka ini atau oleh ibu angkatnya, akan tetapi ia sama sekali tidak sudi memperlihatkan rasa takut, tidak sudi pula minta ampun. Hatinya malah berdebar penuh kebahagiaan kalau ia ingat bahwa semua penderitaan ini ia pikul demi membantu usaha Kun Hong, suaminya. Mati baginya bukanlah apa-apa asalkan Kun Hong selamat dan tugas yang dipikulnya berhasil terlaksana.

Gadis ini ketika ditangkap dan diperiksa, dengan terus terang mengaku bahwa ia sengaja memberikan mahkota kepada Loan Ki untuk membantu tugas ‘suaminya’, Kwa Kun Hong, untuk menyampaikan mahkota itu kepada Raja Muda Yung Lo di utara.

Memang sesungguhnya The Sun dan kawan-kawannya tentu saja tidak membutuhkan pengawalan karena mereka terdiri dari orang-orang sakti. Tetapi pengawalan itu dilakukan bukan sekali-kali untuk menjaga keselamatan mereka melainkan hanya untuk menambah keangkeran mereka sebagai utusan-utusan kaisar.

Mereka semua datang berkuda dan sebetulnya malam tadi mereka sudah harus sampai di lembah Sungai Huai, akan tetapi oleh karena musim hujan sudah tiba dan malam tadi hujan turun sangat lebat, mereka terpaksa menunda perjalanan dalam sebuah hutan dan baru pada pagi hari itu mereka dapat melanjutkan perjalanan ke lembah Sungai Huai.

Sesudah hujan semalam, pagi hari itu hawanya sangat nyaman dan sejuk, pemandangan segar menyenangkan, akan tetapi sayang, tanah yang mereka lalui becek dan berlumpur. Pakaian seragam indah barisan itu banyak yang terkena lumpur yang memercik-mercik dari kaki kuda.

Kedatangan rombongan ini lalu disambut penuh hormat dan manis budi oleh Ching-toanio sebagai wakil dari rombongannya didampingi Ang-hwa Sam-cimoi sebagai nyonya-nyonya rumah. Para tokoh undangan Ching-toanio yang sudah berkumpul juga keluar untuk turut menyambut. Tokoh berhadapan dengan tokoh, jago dengan jago sehingga pertemuan itu amat menggembirakan, dipenuhi kata-kata saling memuji dan saling merendahkan diri.

Rombongan itu lalu dipersilakan masuk ke dalam bangunan yang sudah disediakan. Ada pun para anggota pasukan diperbolehkan beristirahat. Mereka ini pun tidak melewatkan kesempatan baik dan gembiralah mereka melihat betapa para penyambut mereka adalah wanita-wanita cantik, yaitu para anggota Ngo-lian-kauw. Suasana menjadi sangat meriah, baik di dalam bangunan di mana para tamu terhormat disambut, atau di luar bangunan dan di tempat-tempat sekelilingnya di mana para anggota pasukan sudah dapat mencari dan memilih pasangan masing-masing.

Oleh karena para anggota pasukan dari istana itu bersama para anggota Ngo-lian-kauw bersenang-senang dalam kesempatan yang amat baik ini, maka mereka menjadi lalai dan penjagaan yang seharusnya dilakukan menjadi kurang ketat. Keadaan ini menguntungkan Kun Hong dan ketiga orang pengantarnya, yaitu Lauw Kin dan dua orang anggota Hwa-i Kaipang lain lagi.

Mereka ini adalah murid-murid Hwa-i Kaipang yang penuh semangat, gagah dan berani. Karena mereka tahu bahwa tanpa diantar, sukarlah bagi seorang buta seperti Kun Hong untuk dapat menyelundup masuk ke dalam sarang Ngo-lian-kauw, maka ketiga orang ini dengan nekat lalu menyediakan diri untuk menjadi pengantar.

Lemahnya penjagaan memudahkan mereka untuk dapat menerobos masuk dan dengan kepandaian mereka, empat orang ini dengan mudah membekuk empat anggota pasukan, merampas pakaian mereka dan di lain saat Kun Hong dan tiga orang pengantarnya telah menyamar sebagai empat orang anggota pasukan istana! Dalam pakaian ini, mereka lebih leluasa hingga akhirnya mereka berempat dapat menyelinap ke dalam bangunan, mencari tempat untuk mengintai dan mendengarkan percakapan.

Di dalam ruangan yang luas itu, kedua pihak telah lengkap untuk mengelilingi meja yang diatur berjajar berbentuk bundar. Hui Kauw berdiri di tengah-tengah, seolah-olah dijadikan barang tontonan. Sekarang gadis itu tidak tunduk lagi seperti ketika naik kuda tadi. Dia berdiri tegak dengan pandang mata berapi-api menyapu para tokoh yang sudah duduk di sekelilingnya. Dengan sikap gagah dan lantang ia berkata,

"Tak perlu banyak bicara lagi. Kalian adalah orang-orang terkenal di dunia kang-ouw dan kalau terjatuh ke dalam tangan kalian, sampai mati pun aku tidak penasaran. Ibu angkatku atau penculikku membenciku, ayah sendiri pun membenci, ibu kandung tak berdaya. Apa lagi artinya hidup? Mau hukum boleh hukum, mau bunuh, siapa takut mati? Mau anggap aku pengkhianat mau pun pemberontak, terserah. Pokoknya bagiku sama saja, aku sudah melakukan hal yang kuanggap membantu tugas suamiku, Kwa Kun Hong. Habislah, aku tidak mau bicara lagi dan apa yang kalian hendak lakukan atas diriku, terserah!"

Hati Kun Hong terharu bukan main mendengar suara ini. Suara bidadari yang biasanya halus merdu penuh getaran jiwa kini lantang dan nyaring penuh wibawa hingga keadaan di ruangan itu seketika hening. Agaknya semua orang yang berada di dalam ruangan itu terpengaruh oleh sikap yang amat berani dari gadis itu.

Kun Hong sedang memutar otak, menimbang-nimbang apa yang harus dia lakukan untuk dapat menolong Hui Kauw. Dia cukup maklum bahwa keadaan amat berbahaya, bahwa di dalam ruangan itu terdapat tokoh-tokoh sakti yang sukar dilawan dan bahwa dia seorang diri tidak mungkin sanggup menghadapi pengeroyokan mereka. Akan tetapi dia pun tidak dapat membiarkan Hui Kauw terancam bahaya maut, dan untuk menolong nona ini dia siap mempertaruhkan nyawanya sendiri.

Tiba-tiba kesunyian itu dipecahkan oleh suara ketawa terkekeh-kekeh. Semua orang di dalam ruangan itu menengok dan tahu-tahu berkelebat bayangan orang yang setelah tiba di situ berubah menjadi seorang kakek berkulit hitam, Hek Lojin.

"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, The Sun, percuma saja kau membawa puluhan orang pengawal, Mereka itu manusia-manusia tidak becus dan datang ke sini bukan melakukan penjagaan tetapi malah main gila dengan perempuan-perempuan Ngo-lian-kauw yang tak tahu malu, malah ada yang mengintai ke sini seperti mata-mata. Benar-benar tiada guna, ha-ha-ha, heh-heh-heh!" Sambil berkata demikian, tiba-tiba tubuhnya berkelebat mendekati tempat persembunyian Kun Hong berempat.

Tongkat hitamnya menyambar empat kali. Terdengarlah suara keras tembok jebol disusul menjeritnya Lauw Kin dan dua orang saudara seperguruannya yang roboh dengan kepala pecah berhamburan! Kun Hong tadi pun amat terkejut sebab merasa betapa ujung tongkat menembus tembok menghantam kepalanya, maka cepat dia miringkan kepala sehingga tongkat itu tidak mengenai sasaran.

"Iiihhh, mengapa yang seorang tidak roboh?" Hek Lojin berseru kaget dan heran sambil melompat mundur.

Kun Hong maklum bahwa tempat sembunyinya tak dapat dirahasiakan lagi. Dia menyesal bukan main betapa tadi karena tidak menyangka-nyangka, dia tidak sempat menolong tiga orang anggota Hwa-i Kaipang itu sehingga mereka tewas oleh tongkat Hek Lojin yang lihai dan ganas. Dengan cepat dia lalu merenggut lepas pakaian pengawal yang tadi dirampas dan dipakai di luar bajunya sendiri, kemudian sekali dorong dia telah mendobrak pintu dan melangkah masuk dengan sikap tenang.

Semua mata dalam ruangan itu sekarang ditujukan kepadanya. Beberapa orang di antara mereka yang pernah merasakan kelihaian Si Pendekar Buta ini berdebar hatinya karena gentar. Apa lagi sikap Kun Hong yang amat tenang dengan langkah-langkah lambat itu benar-benar amat mengecutkan hati, seakan-akan membawa ancaman maut yang hebat.

"Kun Hong...!" Hui Kauw berseru kaget dan heran bercampur khawatir ketika dia melihat munculnya orang yang sama sekali tidak disangka-sangkanya itu.

Tentu saja di tempat dan pada saat lain dia akan merasa bahagia dan gembira sekali berjumpa dengan orang yang dikasihi ini, akan tetapi saat itu dan tempat itu sama sekali tidak tepat untuk mereka saling bertemu.

"Kun Hong, kenapa kau ke sini...?" Hui Kauw merangkul sambil bertanya dengan suara penuh kegelisahan, sama sekali tidak merahasiakan perasaannya lagi.

Betapa jauh bedanya sikap gadis ini tadi dengan sekarang. Tadi, meski pun dia maklum bahwa dia sedang menghadapi bahaya maut, dia tetap tenang dan tabah, malah sikapnya menantang. Sekarang, begitu Kun Hong muncul, segera dia menjadi ketakutan, suaranya menggetar penuh kegelisahan.

Tentu saja hal ini tidak terlepas dari telinga Kun Hong yang tajam sehingga dia merasa tenggorokannya seperti tersumbat. Alangkah besarnya cinta kasih gadis ini terhadapnya!

Dia melepaskan rangkulan Hui Kauw dan menggandeng tangan gadis itu sambil berkata lirih, "Hui Kauw, biarlah kita mati bersama..."

Butiran-butiran air mata bening menetes turun dari sepasang mata gadis itu, akan tetapi bibirnya yang manis tersenyum, dan jari-jemari tangannya saling meremas dengan jari-jari tangan Kun Hong. Dalam saat menghadapi ancaman maut itu, benar-benar kedua orang muda ini merasa betapa teguhnya jalinan cinta kasih murni mengikat hati masing-masing. Mereka rela berkorban, rela mati bersama.

"Kun Hong, kita melawan. Melawan mati-matian. Mari kita mati bersama, akan tetapi mati sebagai sepasang harimau, bukan sebagai sepasang kelinci...," bisik Hui Kauw.

Ucapan ini seketika menggugah semangat Kun Hong, tongkat di tangan kanannya mulai menggigil. “Jangan khawatir... aku akan melindungimu, Hui Kauw. Mereka itu tidak akan mampu mengganggu selembar rambutmu tanpa melalui mayatku."

Hek Lojin tertawa nyaring. "Ha-ha-he-heh-heh! Betapa romantisnya! Ha-ha-ha, pasangan yang cocok. He, orang buta, namamu Kwa Kun Hong? Ha-ha-ha, inikah yang membikin kecut hati para jagoan? Alangkah lucunya, betul-betul memalukan sekali. He, orang buta, hayo kau berlutut lagi dan mengangguk-angguk tujuh kali di depan kakiku seperti di dalam hutan itu, baru aku mau ampuni kau!"

Panas sekali rasanya telinga Kun Hong. Dengan tangan kirinya dia menarik Hui Kauw ke belakangnya untuk melindunginya, kemudian dia berdiri tegak dengan tongkat di tangan kanan, siap menghadapi kakek lihai ini.

"Hek Lojin, kau amat sombong, tak tahu orang mengalah karena mengingat usiamu yang sudah lanjut. Kiranya kau hanyalah seorang kakek yang sudah pikun dan yang tidak patut dihormati oleh orang muda. Tanpa alasan tak sudi aku berlutut dan minta ampun padamu atau kepada siapa pun juga."

"Hua-ha-he-he-heh! Benar-benar tabah anak ini. Pantas bikin heboh! The Sun, apakah di antara jagoan-jagoanmu tidak ada yang berani menangkap dia?"

The Sun dan teman-temannya tidak menjawab. Bhok Hwesio marah sekali, akan tetapi dia tidak begitu bodoh untuk dapat diadu oleh kakek yang tidak disukainya itu, maka dia pun diam saja.

Akhirnya The Sun pun berkata, "Suhu, lebih baik kita segera turun tangan membunuhnya sebelum dia membikin kacau pertemuan ini."

"Wah-wah-wah, jadi tidak ada yang berani? Nah, bagaimana dengan tokoh-tokoh yang katanya hendak membantu pemerintah? Tentu ada yang berani menawan bocah buta ini. Ataukah memang tidak ada yang berani?" Pandang matanya menyapu Ching-toanio dan teman-temannya.

Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa Sam-cimoi maklum akan kelihaian Kun Hong, akan tetapi mereka tidak takut karena memang belum pernah secara sungguh-sungguh mengukur tenaga.

Mendengar semua itu, otak Kun Hong yang cerdik segera mendapat akal. Terang bahwa kakek yang bernama Hek Lojin ini biar pun sombong dan aneh, ternyata mempunyai sikap yang cukup gagah, yaitu agaknya enggan untuk mengeroyok lawan. Oleh karena itu Kun Hong cepat berkata,

"Hek Lojin, untuk apa banyak pidato? Jelas bahwa semua temanmu tidak ada yang berani maju satu lawan satu. Dari pada capek mulutmu, apa tidak lebih baik kalian semua maju mengeroyokku. Ha-ha, tokoh-tokoh dunia kang-ouw sekarang memang hanya namanya saja yang besar, menghadapi seorang muda buta saja beraninya hanya main keroyokan!"

"Tentu saja, Kun Hong. Mana ada di antara mereka ini berani menghadapimu satu lawan satu? Aku berani bertaruh potong kepalaku kalau di antara mereka ada yang sanggup menangkan kau!" Hui Kauw menambahi ‘api’ yang dinyalakan Kun Hong.

Akal ini berhasil membikin panas hati para tokoh itu, terutama sekali The Sun, Lui-kong Thian Te Cu, Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa Sam-cimoi. Yang lain-lain biar pun panas namun diam-diam mengaku bahwa mereka tidak akan dapat menangkan Kun Hong kalau seorang lawan seorang.

Hek Lojin paling panas perutnya. "Heh, memalukan sekali! Kita adalah orang-orang yang mengaku gagah. Masa harus keroyokan? Apa sih kepandaian bocah buta ini? Kita harus bersikap gagah dan tegas. Tadi pun ada tiga orang pengawal, biar mereka itu anak buah muridku, sekali turun tangan kubunuh karena mereka mengintai. Yang tidak dapat berlaku tegas dan gagah, percuma saja mengaku orang gagah hendak membantu kaisar."

"Ha-ha-ha, Hek Lojin, percuma saja kau mendongkol kemudian uring-uringan seperti ini! Orang-orang dari Ching-toa-to apa ada yang patut disebut sebagai orang gagah? Mereka itu merupakan pengecut-pengecut tidak tahu malu, apa lagi Ching-toanio yang diam-diam mengajak teman-temannya menyerbu Thai-san-pai. Tanpa main keroyokan, apa mereka berani berkelahi? Ha-ha-ha-ha, marilah Hui Kauw, kita keluar saja dari ruangan ini. Terlalu banyak kutu busuk di sini, baunya tidak tertahan. Hek Lojin, aku menanti di luar, di tempat lega kita boleh bertempur sampai mati!"

Sambil menggandeng tangan Hui Kauw, Kun Hong mengajak nona itu keluar dari ruang itu. Hui Kauw maklum bahwa Pendekar Buta ini menghendaki tempat yang lega sehingga leluasa bergerak apa bila terjadi pertempuran yang tidak dapat disangsikan lagi tentulah menjadi pengeroyokan.

Hati nona ini menjadi besar. Kalau tadi ia tidak takut mati, sekarang ia malah bergembira karena berada di samping orang yang dikasihinya. Mati atau hidup, bersama Kun Hong ia rela. Maka dialah yang kini menarik tangan Kun Hong diajak ke luar melalui pintu. Biar pun tidak memegang senjata, namun Hui Kauw siap untuk bertempur dengan tangan kosong, melawan mati-matian.

Ching-toanio marah bukan main mendengar ucapan Kun Hong yang amat menghinanya tadi. Apa lagi melihat Hui Kauw menuntun Kun Hong ke luar dengan sikap begitu mesra, hatinya seperti dibakar. Ingin sekali bacok dia membikin mampus dua orang yang sangat dibencinya itu.

Betapa pun juga, ia adalah majikan Pulau Ching-coa-to yang sudah terkenal. Ilmu silatnya tinggi dan ia adalah bekas kekasih Siauw-coa-ong Giam Kim! Mana ia sudi dihina begitu saja? Ia segera berkedip memberi isyarat kepada Bouw Si Ma sambil melompat ke luar dan berseru,

"Iblis buta, kau jangan sombong! Hui Kauw perempuan hina, tanganku sendiri yang akan merenggut nyawamu!"

Sambil tertawa-tawa Hek Lojin juga melangkah ke luar menyeret tongkat hitamnya, dikuti semua yang hadir dalam ruangan itu. Ternyata Kun Hong sudah berdiri di luar bangunan, di tempat yang lega.

Akan tetapi pagi hari itu matahari tidak muncul karena tertutup mendung-mendung tebal. Agaknya alam memberi tanda bahwa pada hari itu akan terjadi pertempuran hebat dan bumi akan bermandikan darah manusia. Para anggota Ngo-lian-kauw dan para anggota pasukan istana tertarik oleh keadaan kacau ini dan berdatangan. Kun Hong dan Hui Kauw tetap tenang walau pun maklum bahwa mereka telah terkurung banyak orang lawan.

"Siapa berani maju?" Kun Hong bertanya, suaranya tetap ramah tapi mengandung ejekan. "Satu-satu ataukah keroyokan? Terserah kepada kalian! Asal kalian ingat bahwa aku Kwa Kun Hong tidak pernah mencari permusuhan dengan kalian, akan tetapi kalianlah yang memusuhi aku dan Hui Kauw. Kalau kalian tidak mengganggu kami, kami pun akan pergi baik-baik tanpa mengganggu kalian. Akan tetapi kalau kalian menyerang, sudah barang tentu kami akan membela diri."

"Kun Hong, enak saja kau bicara. Sudah jelas kau pengkhianat, kau pemberontak hendak melawan pemerintah yang sah dan perempuan ini adalah pembantumu, kau masih pandai pura-pura suci!" The Sun berkata lantang.

Kening Kun Hong berkerut mendengar suara The Sun. Dia benci orang ini dan biar pun dia bukan seorang yang suka membunuh, rasanya dia akan suka membunuh pemuda ini mengingat akan perbuatannya yang biadab terhadap mendiang janda Yo. Akan tetapi dia menahan kemarahannya. Dia takkan mencampur adukkan urusan pribadi dengan urusan sekarang ini.

"The Sun, kau ular belang! Kau tahu dengan baik bahwa aku bukanlah seorang yang suka ikut campur urusan negara. Memang aku mempertahankan mahkota kuno dan rahasianya karena aku ingin membantu usaha mendiang paman Tan Hok, menyelesaikan tugasnya menyampaikan mahkota kuno dan rahasianya kepada yang berhak. Sayang, paman Tan Hok yang gagah perkasa itu pun tewas oleh kecurangan orang-orangnya Ching-toanio. Memang pengecut dan curang sekali nenek Pulau Ching-coa-to itu!"

Ching-toanio menjerit marah. Dalam kemarahannya mengingat sikap wanita itu kepada Hui Kauw, Kun Hong sudah menggunakan makian yang benar-benar menusuk perasaan dan keangkuhan Ching-toanio. Andai kata ia dimaki iblis wanita sekali pun, kiranya Ching-toanio tidak akan semarah kalau dimaki nenek! Dia memang sudah tua, namun hatinya melebihi gadis remaja mudanya!

"Kwa Kun Hong pengemis buta. Kau berani menghina nyonya besarmu?" sambil berteriak demikian Ching-toanio sudah melompat maju dengan pedang terhunus. Gerakannya ini diikuti oleh Bouw Si Ma yang juga sudah mencabut pedang yang hitam dan ampuh.

"Kwa Kun Hong, aku pun mesti menagih hutang nyawa guruku Pak-thian Lo-cu padamu!" kata tokoh Mancu ini dengan suara berat.

Kun Hong terkejut. Kiranya Bouw Si Ma si orang Mancu yang pandai memainkan pedang dan memiliki tenaga lweekang yang lihai ini adalah murid Pak-thian Lo-cu. Agaknya baru sekarang dia ini tahu bahwa gurunya dahulu tewas dalam pertandingan menghadapinya. Tetapi dia tidak menjadi gentar karena sudah pernah mengukur kepandaian orang Mancu ini, juga dia dahulu pernah bergebrak dengan Ching-toanio.

Tadi Hui Kauw sudah membisikinya bahwa dia harus berhati-hati menghadapi beberapa orang yang berada di situ, terutama sekali Bhok Hwesio, Ka Chong Hoatsu, dan ketiga Ang-hwa Sam-cimoi. Lima orang itulah yang merupakan lawan berat, sekarang ditambah lagi dengan Hek Lojin yang kiranya tidak kalah lihainya dibandingkan dengan yang lima orang itu.

"Kalian akan maju berdua mengeroyokku? Silakan!" tantang Kun Hong yang mendengar gerakan Ching-toanio dan Bouw Si Ma.

Tiba-tiba Hui Kauw berseru, "Ching-toanio, mengingat bahwa engkau pernah menjadi ibu angkatku, lebih baik kau jangan melawan Kun Hong dan pulanglah saja ke Ching-coa-to dengan aman. Kau tidak akan menang dan aku tidak ingin melihat kau tewas di tangan Kun Hong."

Ucapan Hui Kauw ini keluar dari hati sejujurnya. Biar pun ibu angkat ini kerap kali bersikap sewenang-wenang dan tidak baik kepadanya, namun ia masih ingat bahwa ketika kecil ia dirawat dan dididik oleh nyonya galak ini. Akan tetapi dasar watak Ching-toanio memang sombong dan galak, ucapan ini diterimanya salah dan ia malah menjadi marah sekali.

"Hui Kauw perempuan rendah! Tak usah banyak cerewet, lihat pedangku akan menembus jantungmu!" Ucapan ini ditutupnya dengan sambaran sepasang pedangnya ke arah Hui Kauw.

Sungguh sebuah serangan maut karena sekaligus sepasang pedang itu menebas leher dan menusuk dada.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner