PENDEKAR BUTA : JILID-34


Tentu saja Hui Kauw yang sudah mengenal watak ibu angkatnya ini semenjak tadi sudah bersiaga. Maka ketika melihat berkelebatnya sepasang pedang itu, segera dia mengelak dan melompat ke belakang. Sebelum Ching-toanio sempat menyerang kembali, Kun Hong sudah menghadangnya sambil tersenyum.

"Siapa pun juga tidak boleh mengganggu Hui Kauw. Akulah lawanmu!"

"Bangsat buta, apamukah dia itu?" bentak Ching-toanio, suaranya menggetar penuh hawa kemarahan.

"Dia... isteriku! Hemmm, kau sendiri yang mengawinkan kami, Ching-toanio. Lupakah kau?"

Ching-toanio mengeluarkan seruan keras dan sepasang pedangnya langsung berkelebat menyambar, dibarengi oleh pedang hitam di tangan Bouw Si Ma yang juga sudah ikut menerjang maju. Pendekar Buta ini menyontekkan tongkatnya dua kali dan dua orang itu tergetar mundur karena pedang-pedang mereka sekaligus sudah kena ditangkis dengan tepat. Namun mereka cepat menyerang lagi dan terjadilah pertempuran mati-matian.

Girang hati Kun Hong ketika ternyata olehnya betapa mudah dan ringannya menghadapi kedua orang ini sesudah dia memainkan ilmu silat gabungan Kim-tiauw-kun dan Im-yang Kiam-hoat yang dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-eng-cu Lui Bok. Ketika bertempur di Ching-coa-to dahulu, meski pun dia dapat juga mengatasi dua orang ini, namun dia masih merasa agak berat.

Sebaliknya, sekarang telinganya dapat menangkap semua gerakan itu seperti menangkap gerakan yang tidak asing lagi karena ilmu silatnya sendiri dapat memecahkan setiap daya serangan lawan. Dengan ilmu silatnya yang baru ia merasa seolah-olah dirinya terlindung benteng baja dari pada serangan dari luar. Kilat sinar pedang dalam tongkatnya cukup untuk menendang pergi semua ancaman pedang lawan dan dia masih mempunyai waktu dan kesempatan banyak sekali untuk membobolkan pertahanan kedua lawannya dengan jurus-jurus aneh dari tongkatnya ditambah hawa pukulan yang keluar dari tangan kirinya.

Kun Hong menguatkan hatinya, membuang jauh-jauh perasaan yang biasanya pantang membunuh dengan pikiran bahwa kedua orang ini adalah orang-orang jahat yang sudah sepatutnya disingkirkan dari dunia karena kalau mereka ini dibiarkan hidup, tentu kelak akan menimbulkan banyak mala petaka, terutama sekali terhadap Hui Kauw. Di samping ini, dia harus pula berusaha mengurangi tenaga para musuhnya yang begitu banyak dan yang tentu harus dia hadapi semua dalam pertempuran-pertempuran berikutnya.

Karena pikiran inilah, tanpa banyak sungkan lagi tongkatnya lantas bergerak, menyambar-nyambar secara aneh sekali, dibarengi oleh gerakan tangan kiri yang terbuka jari-jarinya dan melakukan pukulan-pukulan yang mengundang hawa kadang-kadang panas kadang kala dingin. Tangan kirinya ini hebat sekali karena mulai kelihatan uap putih yang keluar dari sela-sela jari tangannya.

Ching-toanio sebenarnya adalah seorang ahli pedang yang tidak boleh dipandang ringan. Gerakannya lincah dan pedangnya memiliki gerakan seperti ular. Memang sesungguhnya ia telah mewarisi Ilmu Pedang Ular dari mendiang Siauw-coa-ong Giam Kin si Raja Ular.

Selain sepasang pedangnya itu ujungnya mengandung racun ular yang amat berbahaya, juga nyonya galak ini selalu siap mencari kesempatan untuk menyerang lawannya secara menggelap, menggunakan jarum-jarum beracun yang juga telah direndam racun ular yang sekali mengenai sasaran sukar diharapkan korban itu akan dapat tertolong.

Sedangkan Bouw Si Ma si tokoh Mancu adalah murid tunggal Pak-thian Lo-cu. Jadi dia masih terhitung kakak seperguruan dari Giam Kin karena guru Giam Kin, yakni mendiang Siauw-ong-kwi adalah adik seperguruan Pak-thian Lo-cu.

Memang harus diakui bahwa tingkat kepandaian Pak-thian Lo-cu masih lebih tinggi dari pada tingkat Siauw-ong-kwi akan tetapi tidak dapat dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih lihai dari pada Giam Kin. Dalam hal ilmu silat, mereka berdua ini memiliki keistimewaan masing-masing dan boleh dikata mereka setingkat.

Mungkin bisa dikatakan bahwa Bouw Si Ma lebih unggul sedikit dalam hal tenaga dalam, karena Gim Kin sering kali menghambur-hamburkan tenaganya dalam mengumbar hawa nafsu. Akan tetapi Giam Kin jauh lebih berbahaya karena orang ini merupakan iblis muda yang amat ganas dan keji, penuh akal dan tipu muslihat.

Sebaliknya, Bouw Si Ma tidak selicin Giam Kin. Dalam setiap pertempuran orang Mancu ini sepenuhnya mengandalkan kepandaian silatnya yang sudah cukup tinggi. Betapa pun juga, tingkatnya itu masih melebihi tingkat Ching-toanio dan pedang hitam di tangannya merupakan pedang yang ampuh karena terbuat dari pada baja hitam yang hanya terdapat di dekat kutub utara.

Tetapi kali ini kepandaian dua orang itu tidak banyak artinya ketika mereka mengeroyok Kun Hong. Dua macam ilmu silat yang digabungkan menjadi satu itu seakan-akan hilang keampuhannya, lenyap keganasannya seperti arus sungai banjir memasuki lautan.

Perlu diketahui bahwa ilmu kepandaian yang kini dimiliki Kun Hong adalah ilmu sakti yang bersumber pada Ilmu Im-yang Bu-tek Cin-keng, peninggalan dari Pendekar Sakti Bu Pun Su. Ilmu silat ini berdasarkan Im dan Yang, merupakan sepasang tenaga berlawanan atau bertentangan yang menggerakkan seluruh kehidupan di dunia ini. Ilmu kesaktian ini sudah mencakup seluruh inti silat yang mana pun juga.

Maka tidaklah mengherankan apa bila kedua orang itu seolah-olah merasa bahwa mereka menghadapi lawan yang mempunyai tenaga mukjijat dan ilmu silat ajaib. Pedang mereka seperti mental sendiri sebelum terbentur tongkat dan serangan-serangan mereka sudah gagal dan buyar sebelum dilancarkan sepenuhnya, seakan-akan tertahan atau terhalang di tengah jalan!

Baru beberapa jurus saja, baik Ching-toanio mau pun Bouw Si Ma sudah terdesak hebat. Pedang mereka tidak mampu lagi melakukan serangan karena harus terus diputar untuk melindungi tubuh dari pada sambaran cahaya kemerahan yang keluar dari tangan kanan Kun Hong.

Demikian cepat gerakan tiga orang ini sehingga tubuh mereka tidak tampak lagi oleh mata biasa, tertutup oleh sinar pedang yang berkelebatan dan bergulung-gulung. Amatlah indah tampaknya bagi mata orang biasa kalau menyaksikan pertempuran itu.

Tiga sinar pedang saling membelit, lalu sinar pedang merah bergulung-gulung makin lebar sehingga akhirnya mengurung sinar pedang hitam dan cahaya sinar pedang putih. Sinar pedang hitam adalah senjata Bouw Si Ma, sedangkan sepasang sinar yang putih adalah pedang-pedang Ching-toanio. Dua macam sinar pedang ini terkurung sinar merah, makin lama makin ciut karena pergerakan senjata mereka amat terbatas.

Mendadak Ching-toanio berseru keras dan pedangnya yang berada di tangan yang kanan dia sambitkan ke depan. Pedang itu meluncur cepat bagaikan anak panah terlepas dari busurnya, menyambar ke arah tenggorokan Kun Hong.

"Singgggg…!"

Pedang itu berdesing lewat di atas kepala Pendekar Buta itu ketika dia mengelak dengan merendahkan tubuh.

"Weerrrr…!"

Serangkum angin halus lalu bertiup menyambar tiga bagian tubuh yang mematikan, yaitu leher, dada, dan lambung.

Kun Hong kaget sekali, begitu halus suara dan angin itu sehingga hampir saja dia celaka. Namun pendengaran dan perasaan Pendekar Buta ini sudah mencapai tingkat tinggi dan tidak lumrah, maka suara sehalus itu dapat juga ditangkapnya. Dia marah sekali karena dapat menduga bahwa itu tentulah senjata rahasia halus yang amat berbahaya.

Memang dugaan Kun Hong tidak salah karena setelah Ching-toanio tadi menyambitkan pedangnya, terus saja menggunakan kesempatan itu untuk menyerang dengan melepas jarum-jarum halusnya yang beracun. Sebenarnya, ilmu inilah yang membuat Ching-toanio disegani dan ditakuti.

Jarang ada lawan yang sanggup menyelamatkan diri menghadapi penyerangan hebat ini. Sambitan pedangnya sangat kuat dan cepat. Andai kata pun lawan dapat mengelak atau menangkis dari pada ancaman pedang terbang itu, dalam posisi berikutnya agaknya akan sulit sekali mampu menyelamatkan diri ketika diancam jarum-jarum beracun yang malah lebih cepat dan lebih berbahaya datangnya dari pada pedang tadi. Jarum-jarum ini amat kecil dan halus, baru ketahuan datangnya kalau sudah amat dekat sehingga sukar untuk dapat dielakkan.

Keadaan Kun Hong lebih sulit lagi pada saat itu. Baru saja dia mengelak dari sambaran pedang terbang, tubuhnya masih merendah dan pada detik itu pedang hitam Bouw Si Ma membabat ke arah kaki. Terpaksa dia menangkis dengan pedangnya. Ketika dalam posisi merendahkan tubuh dan menangkis inilah datangnya sambaran jarum-jarum halus yang hendak merenggut nyawanya itu!

"Keji...!" Kun Hong berseru keras.

Tangan kirinya dikibaskan dengan pengerahan tenaga mukjijat dan hampir pada detik itu juga, tongkatnya yang tadi menangkis pedang hitam Bouw Si Ma telah berkelebat ke arah dada tokoh Mancu itu.

Terdengar jerit mengerikan dan tubuh Ching-toanio terjengkang ke belakang berbarengan dengan robohnya Bouw Si Ma. Kiranya tokoh Mancu ini tidak dapat mengelak lagi karena sambaran tongkat Kun Hong luar biasa cepatnya, tahu-tahu sudah menusuk dada dan tepat menembus jantung sehingga tokoh Mancu ini memekik, pedang hitamnya terlepas dan dia roboh tidak bernyawa lagi.

Ada pun Ching-toanio sama sekali tidak pernah menyangka bahwa penyerangannya yang amat curang tadi berakibat celakanya diri sendiri. Uap putih menyambar dari tangan kiri Kun Hong dan tenaga yang sangat dahsyat seakan-akan meniup jarum-jarum halus yang menyambar balik ke arah Ching-toanio sendiri.

Wanita ini sama sekali tidak pernah menyangka akan dapat terjadi hal seperti itu, maka ia tidak sempat menyelamatkan dirinya. Jarum-jarum itu lantas menembus pakaian, kulit dan langsung memasuki dada dan lambungnya. Kali ini karena jarum-jarum itu digerakkan oleh tenaga dahsyat yang menyambar dari tangan kiri Kun Hong, bukan main pesatnya sehingga jarum-jarum itu amblas dan lenyap ke dalam tubuh Ching-toanio!

Jarum-jarum beracun itu baru melukai kulit saja sudah dapat merenggut nyawa, apa lagi sekarang menembus kulit dan mengeram di dalam daging. Seketika itu juga Ching-toanio terjengkang dan pada detik berikutnya dia telah tewas dengan mata mendelik dan muka membiru!

"Ohhh...!" Hui Kauw terisak dan menutupi muka dengan kedua tangannya.

Betapa pun juga, hatinya ngeri dan sedih melihat kematian Ching-toanio. Sudah terlalu lama dia menganggap wanita itu sebagai ibunya, sejak dulu pada waktu dia masih kecil. Baru ia sadar dan menurunkan kedua tangannya lagi ketika ia merasa betapa Kun Hong memegangnya sambil berkata,

"Hui Kauw, jangan lengah. Kau pergunakan pedang ini..."

Kiranya Kun Hong sudah mengambil pedang hitam milik Bouw Si Ma dan menyerahkan pedang itu kepada Hui Kauw. Pendekar Buta ini sangat khawatir akan keselamatan Hui Kauw. Biar dia berada di situ dan siap membela Hui Kauw dengan seluruh jiwa raganya, namun berhadapan dengan begitu banyak orang pandai, keselamatan Hui Kauw masih saja tidak dapat terjamin. Maka lebih baik gadis itu memegang senjata dan membantunya sehingga kedudukan mereka menjadi lebih kuat.

Setelah Hui Kauw menerima pedang hitam, Kun Hong sengaja berseru, suaranya amat keras dan bernada menantang,

"Hayo, siapa lagi yang hendak merintangi aku bersama nona ini pergi dengan aman? Kalian adalah jago-jago dan tokoh-tokoh terkemuka, terkenal sebagai tokoh-tokoh sakti. Kalau sudah begitu tidak tahu malu, boleh maju semua mengeroyok kami berdua. Hayo, majulah!"

Dengan tongkat melintang di depan dadanya, Kun Hong sengaja membakar hati mereka dengan maksud menyinggung kehormatan mereka supaya mereka merasa segan untuk melakukan pengeroyokan. Biarlah mereka maju seorang demi seorang, pikirnya, dan dia merasa sanggup untuk mengalahkan mereka.

Ka Chong Hoatsu kaget sekali melihat tewasnya Ching-toanio dan Bouw Si Ma. Juga dia merasa amat menyesal atas kelancangan dua orang itu. Dia telah cukup dapat menduga bahwa orang muda buta itu memiliki ilmu kepandaian tinggi. Kini dua orang kawan yang dapat diandalkan tewas begitu saja.

Ketika melihat The Sun berbisik-bisik dengan teman-temannya, Ka Chong Hoatsu segera berkata dengan lantang, "Para sahabat dari kota raja! Penjahat buta ini adalah seorang pemberontak, demikian pula si nona hitam. Kenapa tidak segera turun tangan membasmi dia sebelum dia menimbulkan lebih banyak kekacauan? Kalau perlu, kami pun sanggup membantu."

"Aha, Ka Chong Hoatsu, kau tua bangka dari Mongol yang tidak tahu malu. Bukankah kepandaianmu sendiri terkenal sangat tinggi? Kenapa tidak maju sendiri? Hayo, aku siap menghadapimu!" Kun Hong sengaja membakar.

Akan tetapi Ka Chong Hoatsu hanya tersenyum mengejek dan berkata acuh tak acuh, "Belum saatnya... belum saatnya...," setelah berkata demikian dia memberi isyarat kepada Ang-hwa Sam-cimoi untuk menyuruh anak buah Ngo-lian-kauw menyingkirkan dan merawat jenazah Ching-toanio dan Bouw Si Ma.

Setelah mendapat perintah, delapan orang wanita anggota Ngo-lian-kauw maju cepat dan mengangkat pergi mayat-mayat itu.

Sementara itu sejak tadi The Sun berunding dengan Hek Lojin yang mengangguk-angguk. Kemudian The Sun tersenyum mengejek, dan sekali menggerakkan tubuhnya dia sudah melayang ke depan Kun Hong.

"Kwa Kun Hong, kau benar-benar sombong sekali. Kau kira tanpa mengeroyokmu tidak mungkin kami menang? Hemmm, aku sendiri yang hendak maju melabrakmu, Kun Hong, kecuali kau suka menyerahkan diri menjadi tawananku untuk diadili di kota raja."

Kun Hong melengak, terheran-heran. Sudah terang bahwa betapa pun lihainya, pemuda tokoh kota raja itu tidak akan mampu mengalahkannya. Hal ini The Sun sendiri sudah cukup mengerti. Dia seorang yang amat cerdik dan penuh tipu muslihat, kenapa sekarang nekat hendak menghadapinya seorang diri?

Diam-diam Kun Hong menjadi waspada, The Sun seorang yang cerdik dan curang sekali. Tak mungkin dia maju hanya dengan mengandalkan kepandaian silatnya dan sudah pasti tindakannya ini diikuti tipu muslihat licin.

"Hui Kauw, kau mundurlah dan jaga dirimu baik-baik. Berteriaklah kalau kau menghadapi bahaya, biar aku membereskan manusia curang dan pengecut ini," demikian kata Kun Hong sambil mendorong Hui Kauw ke belakang. Dia amat khawatir kalau The Sun akan mempergunakan siasat keji dan mencelakai Hui Kauw dengan cara lain selagi bertempur melawannya.

"The Sun, kaulah orang pertama yang kuharapkan untuk bertanding denganku pada saat ini. Majulah."

The Sun tertawa mengejek dan…

"Srattt!" pedangnya telah dia cabut dengan gerakan indah.

Pada saat itu juga, seakan-akan pencabutan pedang tadi merupakan isyarat, terdengarlah suara tambur dan gembreng dipukul orang, mula-mula lirih dan lambat, makin lama makin keras dan cepat. Itulah suara tambur dan gembreng perang dan ternyata belasan orang anggota pasukan dari istana sudah berada di situ membunyikan tambur dan gembreng. Suara itu amat bising memekakkan telinga.

"Wuuuttttt!"

Kun Hong cepat mengelak dan dia kaget setengah mati ketika angin pedang The Sun terus-menerus menyerangnya bertubi-tubi dengan gerakan menyambar-nyambar laksana kilat dibarengi suara ketawa pemuda yang cerdik itu. Kun Hong menggertak giginya dan terpaksa memutar tongkat sejadinya sambil menggunakan langkah-langkah ajaib. Tahulah dia sekarang akal muslihat yang dipergunakan The Sun dalam melawannya.

Memang dia seorang pemuda yang cerdik dan penuh akal. Kiranya pemuda ini maklum pula bahwa kelihaian Kun Hong terletak pada pendengaran telinganya sebagai pengganti matanya yang buta.

Memang begitulah. Seorang buta hanya dapat mengandalkan pendengaran, penciuman dan rabaan untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Terutama sekali pendengaran. Apa lagi dalam ilmu silat, tentu saja keawasan mata yang terutama dipergunakan dan sebagai pengganti mata yang buta, pendengaranlah yang diandalkan. Kini The Sun menggunakan suara bising untuk merusak pendengaran Kun Hong!

Hampir saja akal The Sun yang licin ini berhasil kalau saja Kun Hong tidak mewarisi ilmu silat yang betul-betul sakti seperti Kim-tiauw-kun dan Im-yang Sin-hoat. Langkah-langkah ajaib dari Kim-tiauw-kun telah menolongnya terhindar dari ancaman pedang The Sun yang ganas dan cepat.

Pada jurus-jurus pertama memang Kun Hong menjadi bingung. Dia tak dapat berbuat lain kecuali mengelak, menangkis dan memutar tongkat sejadinya untuk melindungi diri. Akan tetapi lambat laun telinganya mulai dapat menangkap perbedaan-perbedaan antara suara bising tambur gembreng dengan suara bersiutan dan berdesingnya pedang di tangan The Sun. Diam-diam dia menjadi girang sekali.

Kun Hong sangat beruntung bahwa tingkat kepandaian The Sun masih belum mencapai puncaknya. Seorang yang ilmu pedangnya sudah mencapai titik puncak, seperti misalnya pamannya, Tan Beng San ketua Thai-san-pai, dapat memainkan pedang sedemikian rupa tanpa menimbulkan angin atau suara mendesing dan bersiut.

Memang masih sulit bagi Kun Hong untuk dapat balas menyerang karena dia juga harus mencurahkan seluruh perhatian untuk menjaga diri jangan sampai menjadi korban pedang The Sun yang cukup berbahaya. Akan tetapi sedikitnya dengan mendengar suara angin pedang, dia dapat mencari kesempatan baik untuk balas menyerang.

Tentu saja dia tak mau berlaku sembrono dengan serangan balasannya. Dia pun maklum bahwa sekali serangannya luput, dia akan langsung terancam oleh pedang lawan karena dalam keadaan menyerang, tentu kedudukan pertahanannya menjadi lemah dan lowong.

Mula-mula The Sun gembira sekali melihat betapa lawannya Si Pendekar Buta menjadi bingung dan kacau gerakannya. Akalnya berhasil, lawannya menjadi kacau-balau setelah pendengarannya rusak oleh suara bising! Hal inilah yang membuat dia tadi tertawa-tawa mengejek.

Akan tetapi tidak lama, karena dia segera berubah menjadi marah dan penasaran sekali. Si Buta ini sekarang buta tuli, kenapa masih selalu dapat mengelak dari pada sambaran pedangnya? Kenapa pedangnya belum juga dapat mengenai sasaran, padahal lawannya itu sama sekali tidak mampu, balas menyerang?

Dia menjadi jengkel, sejengkel seorang anak kecil yang selalu gagal menepuk lalat yang gesit dengan tangannya. Lima puluh jurus telah berlalu dan jangankan memenggal leher atau menusuk dada, membabat ujung baju saja belum!

Hui Kauw berdiri dengan muka pucat. Ia sudah mengenal kelihaian pedang The Sun dan sebagai orang yang cerdik, ia pun maklum apa artinya dibunyikan tambur dan gembreng yang sangat bising itu. Ia pun maklum akan kelemahan Kun Hong. Maka melihat betapa kekasihnya itu hanya berloncatan, terhuyung-huyung, jongkok berdiri dan terus-menerus diserang tanpa mampu membalas, hatinya sudah gelisah bukan main.

Untuk menjaga martabat nama Kun Hong sebagai seorang pendekar, betapa pun gelisah hatinya, tidak berani ia membantu. Akan tetapi hati kecilnya mengambil keputusan teguh bahwa begitu Kun Hong tewas dalam pertandingan, ia hendak mengamuk dan tidak akan berhenti sebelum ia pun roboh binasa di medan laga!

Pedang hitam telah terpegang erat-erat di tangannya dan ia sudah siap untuk melompat, menggantikan Kun Hong. Namun ia tetap berdoa semoga kekasihnya itu menang dalam pertandingan yang berat sebelah ini.

Kun Hong seakan-akan seorang yang buta tuli, melawan seorang yang ilmu pedangnya begitu tangkas dan dahsyat seperti The Sun. Namun Kun Hong bukanlah orang dengan kepandaian biasa. Ilmu kesaktian yang dia pelajari adalah ilmu yang tingkatnya tinggi luar biasa, dan kepandaian itu sudah mendarah daging di tubuhnya. Setiap gerakannya adalah otomatis didorong oleh naluri yang bukan sewajarnya.

Apa lagi setelah dia menemukan ciptaannya terbaru yaitu penggabungan dari kedua ilmu silat yang dia ambil inti sarinya saja, dia benar-benar telah memiliki ilmu yang sukar dicari keduanya di dunia persilatan. Biar pun dia seakan-akan tuli karena bisingnya suara, tapi perasaannya masih menuntunnya dan sambaran pedang lawannya masih bisa tertangkap olehnya sehingga dengan langkah ajaibnya dia dapat menyelamatkan diri sambil mencari kesempatan baik.

Sukarnya, The Sun juga seorang yang amat lihai dan cerdik. Orang muda yang menjadi tokoh di kota raja itu pun tak berani memandang ringan lawannya yang sudah dia ketahui memiliki ilmu silat yang amat luar biasa. Oleh karena itu, biar pun dia dibantu suara bising yang membuat Kun Hong tidak berdaya, akan tetapi dia tidak lengah sedetik pun juga, menyerang terus sambil menutup diri dalam pertahanan yang ketat. Memang dia amat penasaran karena semua serangannya gagal, selalu mengenai tempat kosong, namun dia tidak pernah mengurangi desakannya dan merasa yakin bahwa sewaktu-waktu tentu akan berhasil.

Payah juga Kun Hong yang mencari kesempatan baik tapi tidak juga dapat menemukan kesempatan ini. Diam-diam dia kagum dan memuji kecerdikan lawannya yang masih tetap berhati-hati meski pun sudah menyerang dan mendesak terus. Lain orang tentu sudah akan menjadi sombong dan lengah.

Kemudian Pendekar Buta ini mendapatkan akal. Ketika untuk kesekian kalinya pedang The Sun menyambar leher, dia mengelak dengan langkah ajaibnya, akan tetapi sengaja bergerak lambat sehingga ujung pedang itu menyerempet pundaknya. Bajunya robek dan kulitnya terkelupas, darahnya pun mengalir. Terdengar Hui Kauw ikut menjerit ketika Kun Hong berteriak kesakitan dan terhuyung-huyung.

Hasil yang dinanti-nanti oleh The Sun ini membuat hatinya girang bukan main. Dia tertawa terkekeh-kekeh dengan nada mengejek sambil mendesak terus, menubruk untuk memberi tikaman terakhir ketika dia melihat Kun Hong terhuyung dalam posisi yang buruk sekali. Pedangnya bergerak seperti kilat menyambar, menusuk dada Kun Hong.

"Traanggg! Kraakkk!"

The Sun menjerit. Pedangnya terpental dan patah menjadi dua, tubuhnya pun terlempar seperti layang-layang putus talinya.

Ternyata akal yang digunakan Kun Hong sudah berhasil baik sekali. Dengan membiarkan pundaknya terluka dan sedikit darahnya mengalir, The Sun sudah dapat diakali sehingga kegirangan dan untuk beberapa detik mengurangi kewaspadaannya. Ketika menyerang dengan tusukan maut tadi, dia lengah tidak memperhatikan segi pertahanannya sehingga lowongan ini dipergunakan dengan baiknya oleh Kun Hong.

Sambil mengerahkan tenaga, Pendekar Buta ini menangkis pedang, membuat pedang itu patah dua kemudian tangan kirinya menampar ke arah pundak. Sekali tampar saja tulang pundak The Sun lantas patah dan pemuda itu menderita luka dalam yang mengakibatkan dia roboh dan pingsan!

Kun Hong tidak mau berlaku kepalang tanggung. Tubuhnya sudah menyambar ke depan, tongkatnya bergerak hendak menewaskan The Sun, orang yang amat dibencinya karena telah menyebabkan kematian janda Yo.

Akan tetapi pada saat itu terdengar suara menggereng menyeramkan dan tongkatnya terbentur oleh tangkisan tongkat hitam di tangan Hek Lojin. Kiranya kakek ini tadi sudah melompat maju untuk menolong muridnya, kemudian sekaligus laksana badai mengamuk kakek ini menerjang Kun Hong.

"Kun Hong, awas...!" Hui Kauw menjerit ketika melihat betapa tongkat hitam di tangan kakek itu berubah menjadi sinar hitam bergulung-gulung mengancam kepala Si Pendekar Buta.

Tanpa diperingatkan, Kun Hong sudah siap dan tahu akan datangnya ancaman bahaya maut. Cepat dia menggunakan tongkatnya menangkis. Untung baginya bahwa kini suara tambur dan gembreng otomatis berhenti setelah The Sun roboh. Dengan menghilangnya suara bising ini, dia dapat menghadapi Hek Lojin dengan baiknya.

Dia maklum bahwa kepandaian kakek ini luar biasa tingginya. Karena itu dia pun segera menggerakkan tongkatnya, memainkan ilmu silat gabungan yang baru saja dia ciptakan di bawah petunjuk Sin-eng-cu Lui Bok.

Tongkat hitam itu menyambar lagi, mendatangkan suara seperti ada angin topan mulai mengamuk. Kun Hong mengangkat tongkatnya menangkis.

"Dukkkkk!"

Dua tenaga mukjijat lewat tongkat bertemu tanding. Tubuh berkulit hitam tinggi besar itu tergetar. Kun Hong merasakan tubuhnya kesemutan, maka cepat-cepat dia menggunakan langkah ajaib, tubuhnya terhuyung-huyung sehingga lenyaplah pengaruh benturan tenaga dahsyat tadi. Diam-diam dia kagum dan harus mengakui bahwa kakek hitam itu tidak hanya sombong, melainkan betul-betul hebat.

"Ha-ha-ha-heh-heh-heh, awas kepalamu!" Kakek itu terkekeh dan kembali tongkatnya menyambar.

Kun Hong maklum bahwa kalau terus menerus dia mengadu tenaga dia akan kalah oleh kakek sakti ini, maka cepat dia mengelak dan kembali dia telah mempergunakan langkah ajaib. Akan tetapi, begitu tongkatnya tidak mengenai sasaran, kakek itu langsung kembali menerjang dan sekarang tongkatnya diobat abitkan bagai orang gila mengamuk, gerakan-gerakannya sama sekali tidak menurut aturan ilmu silat!

Kun Hong kaget bukan main saat telinganya menangkap gerakan-gerakan ilmu berkelahi yang liar dan dahsyat ini. Sukar sekali untuk mengikuti, apa lagi menduga perkembangan dari ilmu silat aneh yang gerakan-gerakannya ada kalanya bahkan bertentangan dengan ilmu silat ini. Gerakan-gerakan kacau balau akan tetapi justru kekacau balauannya itulah yang membuat serangan-serangannya menjadi hebat, liar, dahsyat dan amat berbahaya, mengingatkan Kun Hong akan gerakan binatang-binatang liar termasuk gerakan-gerakan kim-tiauw!

Maka dia pun cepat mengandalkan langkah-langkah ajaib untuk menghadapi serangan ini. Langkah ajaib adalah ilmu langkah dalam persilatan yang tercipta berdasarkan gerak dan langkah rajawali emas, yang tentu saja juga mengandalkan naluri yang tidak ada pada diri manusia, atau andai kata ada pun tidak akan sekuat yang ada pada binatang liar seperti kim-tiauw.

Mereka yang menonton pertandingan itu memandang dengan kedua mata terbelalak dan bengong, malah ada pula di antaranya yang diam-diam menahan ketawa karena merasa geli dan heran. Tak patut pertempuran ini dikatakan pertempuran antara dua orang tokoh pandai atau jago-jago silat ulung, lebih tepat dikatakan pertempuran antara dua orang yang miring otaknya atau dua orang hutan liar yang tidak tahu ilmu berkelahi manusia.

Kakek hitam dengan tongkatnya itu mengamuk, memutar-mutar tongkat dan menghantam ke sana ke mari secara ngawur belaka, kadang-kadang bahkan menghantam tempat yang berlawanan dengan adanya si lawan. Kadang-kadang dia menghantam ke kiri selagi Kun Hong berada di kanan, menghantam ke belakang selagi lawan berada di depan atau pun sebaliknya! Batu-batu hancur lebur begitu tersentuh ujung tongkatnya, sedangkan debu berhamburan menggelapkan sekelilingnya. Ada pun Kun Hong tetap berloncat-loncatan, terhuyung-huyung, kadang kala jongkok berdiri seperti seorang penari yang terlalu banyak minum arak keras.

Kalau di bawah menjadi agak gelap karena debu berhamburan dari amukan tongkat hitam Hek Lojin, adalah di angkasa gelap pula oleh berkumpulnya awan mendung menghitam. Makin lama keadaannya menjadi semakin gelap dan beberapa kali keadaan ini bahkan menarik perhatian orang-orang yang berada di sana, memaksa mereka memandang ke udara yang gelap. Jelas bahwa hujan akan turun membasahi bumi.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring, "Hayo tangkap dulu si pemberontak perempuan!"

Kun Hong terkejut dan gelisah sekali. Itulah suara The Sun. Kiranya pemuda ini sudah sadar dari pingsannya dan melihat betapa Kun Hong sedang didesak secara gencar oleh gurunya, dia pun cepat-cepat mengeluarkan aba-aba karena dia maklum bahwa sekali Hui Kauw ditawan, Kun Hong tentu akan tunduk.

Memang cerdik sekali The Sun. Biar pun dia sendiri terluka berat, namun kecerdikannya ini berhasil membuat Kun Hong gelisah.

Hui Kauw juga memiliki ilmu silat tinggi, maka ia dapat mengerti akan kegelisahan Kun Hong yang kelihatan dari gerakannya. Maka, sambil melintangkan pedang hitam di depan dada ia berseru, "Kun Hong, jangan khawatir, aku mampu menjaga diri, berjuang sampai mati!"

Kata-kata ‘berjuang sampai mati’ ini segera menambah besar semangat Kun Hong. Dia tersenyum. Ternyata gadis itu benar-benar telah mengambil keputusan nekat untuk terus melawan dan mati bersama dia di tempat ini.

Tidak! Tidak boleh! Hui Kauw harus diselamatkan dan untuk itu dia pun harus hidup, harus menang.

Pikiran ini mendatangkan semangat baru yang hebat sekali. Tongkatnya bergerak hidup dan sinar merah tahu-tahu telah menutup dan melingkari sinar hitam yang menjadi makin ciut. Dengan ilmunya yang baru, Kun Hong ternyata berhasil menjinakkan keliaran tongkat lawannya dan sekarang sebaliknya Hek Lojin yang menjadi kaget setengah mati.

Hek Lojin masih berusaha mengerahkan seluruh kepandaian agar lolos keluar dari ‘ikatan’ sinar merah, namun sia-sia belaka, ke mana pun dia bergerak, ujung tongkat Pendekar Buta ini selalu mengikuti dan mengancamnya. Dia tahu bahwa sekali dia kena disentuh, akan celakalah dia.

Maka dengan nekat pula dia menggereng-gereng bagai singa, kemudian sambil memutar tongkatnya cepat-cepat yang dilepaskan tiba-tiba sehingga tongkat itu berputaran sendiri menerjang Kun Hong, kedua tangannya yang kini bebas itu berbareng mengirim pukulan dengan tenaga sakti sepenuhnya, susul menyusul cepat sekali!

Inilah serangan kilat dan maut yang luar biasa hebatnya. Kakek iblis Song-bun-kwi sendiri tidak kuat menerima pukulan-pukulan Hek Lojin dan sekarang dia menggunakan pukulan-pukulan maut ini kepada Kun Hong.

Tentu saja Kun Hong kaget sekali ketika mendengar betapa tongkat yang dilontarkan itu berputaran menyambar. Sekali sampok tongkat itu melayang dan menyeleweng, akan tetapi kini dia menghadapi dua pukulan tangan yang tidak kalah bahayanya dari pada sambaran tongkat hitam tadi.

Maklum bahwa untuk menghadapi serangan dahsyat ini amatlah sukar dan berbahaya, Kun Hong memekik nyaring dan tahu-tahu dia sudah menggunakan jurus Sakit Hati yang dimasukkan pula ke dalam ilmu silatnya yang baru. Tongkatnya berkelebat menjadi sinar merah, tangan kiri menampar dengan pengerahan tenaga yang mengeluarkan uap putih.

"Crakkk... desssss!"

Tubuh Kun Hong langsung terlempar ke belakang sampai lima meter lebih, akan tetapi dia jatuh dalam keadaan berdiri dan tongkatnya masih berada di tangan, hanya mukanya agak pucat dan napasnya terengah.

Hui Kauw cepat berlari menghampirinya, menyentuh lengannya dan suaranya menggetar, "Kun Hong, kau... terluka...?"

Kun Hong mencoba senyum, menggelengkan kepala dan menjawab lirih. "Hui Kauw, kau lihat dia... hati-hatilah, dia hebat..."

Karena tadi perhatian Hui Kauw sepenuhnya ditujukan kepada Kun Hong, maka ia tidak memperhatikan orang lain. Sekarang melihat bahwa keadaan Kun Hong tidak berbahaya, dia menengok dan alangkah bangga serta girang hatinya ketika melihat bahwa ternyata keadaan kakek hitam itu lebih parah lagi. Kakek ini sedang berdiri tegak memandang ke arah lengan kirinya yang sudah buntung!

Ternyata tadi bahwa tangan kiri itu tanpa dapat dicegah lagi sudah terbabat oleh pedang Ang-hong-kiam yang tersembunyi di dalam tongkat, sedangkan tangan kanan kakek itu beradu dengan tangan kiri Kun Hong. Saking tajamnya Ang-hong-kiam dan juga saking hebatnya jurus yang dijalankan oleh Kun Hong, lengan kiri itu lalu terbabat putus sampai sebatas siku tanpa terasa nyeri sama sekali. Sedangkan dalam pertemuan tenaga tadi, tenaga mukjijat dan mengandung ilmu hitam dari kakek itu benar-benar memperlihatkan keampuhannya, karena membuat Kun Hong terlempar dan biar pun tidak berbahaya, tapi telah menderita luka dalam.

"Jahanam, kau berani melukai suhu?" Terdengar The Sun berseru keras dan tubuhnya melesat ke depan.

Kiranya The Sun yang biasanya cerdik itu kini tidak dapat menahan kemarahannya dan tadi dia telah mendapatkan sebuah pedang lain. Biar pun tulang pundak kanannya patah, akan tetapi dengan tangan kiri dia sekarang menerjang maju, tapi curangnya, bukan Kun Hong yang dia serang, melainkan Hui Kauw! Hebat bukan main penyerangan ini, karena didorong nafsu membunuh.

Hui Kauw cepat menangkis dengan pedang hitamnya, namun tangannya tergetar oleh benturan pedang itu dan sebelum dia sempat membalas, kembali pedang di tangan The Sun sudah menyambar. Memang menghadapi The Sun, gadis ini masih kalah setingkat, apa lagi dia baru saja mengalami getaran batin yang membuat seluruh anggota tubuhnya lemah.

Beberapa kali ia berhasil menangkis, namun pada jurus selanjutnya, ketika ia menangkis sebuah bacokan, pedang The Sun menyelinap dan hendak memasuki bawah lengannya. Hui Kauw membalikkan pedang ke bawah, namun terlambat dan ujung pedang The Sun berhasil menggurat lengan.

Hampir saja dia mengalami cidera kalau saja guratan itu mengenai urat nadinya. Untung bahwa guratan itu memanjang, hanya merobek kulit melukai daging. Namun cukup untuk membuat lengannya lemah sehingga sebuah benturan pedang lawan lagi cukup membuat pedang hitamnya terlepas.

"Pergi...!" terdengar Kun Hong berseru dan... tubuh The Sun terlempar ke arah gurunya. Kiranya tadi Kun Hong yang maju dan mengirim tendangan kilat yang tak tertahankan oleh The Sun.

Agaknya baru sekarang Hek Lojin sadar bahwa lengan kirinya benar-benar telah buntung. Dia memekik tinggi, memungut lengan yang buntung, melengking-lengking dan melihat tubuh muridnya melayang, dia cepat menangkap dengan sambaran tangan kanan, lalu dia berlari secepat terbang pergi dari situ tanpa mempedulikan tongkat hitamnya lagi. Dari jauh terdengar suara pekiknya, entah tertawa entah menangis, tapi amat menyeramkan.

Memang Hek Lojin orangnya amat licik. Terbukti ketika dia melawan Song-bun-kwi karena mengira bahwa Song-bun-kwi mempunyai kepandaian yang melebihi dirinya, dia segera mengundurkan diri mencari selamat. Sekarang pun, melihat lengan kirinya buntung dan muridnya terluka, tahulah dia bahwa keadaannya tidak menguntungkan.

Andai kata Kun Hong berhasil dikalahkan, tentu bukanlah oleh dia atau muridnya dan hal ini hanya akan merendahkan namanya belaka. Oleh karena itu, jalan satu-satunya yang dia anggap paling baik adalah... kabur!

Tempat itu menjadi geger setelah Hek Lojin membawa The Sun kabur. Terutama pihak jagoan-jagoan dari istana menjadi marah bukan main kepada Kun Hong dan serentak mereka maju, juga Ka Chong Hoatsu, Ang-hwa Sam-cimoi serta Souw Bu Lai sudah mencabut senjata masing-masing. Hanya Bhok Hwesio dari pihak istana yang masih tenang berdiri di tempatnya. Hwesio ini sebagai tokoh dari Siauw-lim sama sekali tidak sudi kalau harus mengeroyok seorang lawan yang masih muda dan buta lagi.

Sementara itu Kun Hong maklum bahwa banyak lawan yang sudah mulai bergerak hendak mengeroyoknya. Dia sendiri masih belum terbebas dari pada pengaruh benturan tenaga dengan Hek Lojin yang sakti, masih terasa sakit pada pangkal lengannya.

Dia tidak mengkhawatirkan dirinya sendiri, akan tetapi bagaimana ia akan bisa melindungi Hui Kauw kalau dia dikeroyok oleh banyak orang pandai? Kalau Hui Kauw sampai terjatuh ke tangan mereka, apa artinya semua perlawanannya? Tiba-tiba sebuah akal berkelebat dalam benaknya dan secepat itu pula tubuhnya melompat ke belakang Hui Kauw.

Sambil menempelkan tangan pada tengkuk gadis itu dia berbisik, "Hui Kauw, kau jadilah mataku... kau pergunakan matamu memandang mereka, di antara kedua mata mereka, pandang tajam dan pergunakan tenaga yang kusalurkan kepadamu, dengar kata-kataku dan perkuat kata-kata itu dalam hati dan pikiranmu... tak usah bingung, kau menurut saja, barang kali ini akan menolong kita..."

Hui Kauw tadinya bingung dan semua bulu di tubuhnya berdiri ketika ia merasa telapak tangan yang hangat dari Kun Hong menempel di tengkuknya dan mengirim getaran-getaran kuat ke dalam tubuhnya. Makin lama gelombang hawa yang menggetar-getar itu makin kuat, begitu kuatnya sehingga tak terasa tergetar lagi seakan-akan sudah terbuka jalan saluran hawa sakti itu dari tubuh Kun Hong ke dalam tubuhnya. Ia merasa betapa dadanya seakan-akan penuh hawa yang panas dan bergerak-gerak. Ia lalu teringat akan pesan Kun Hong tadi, maka ia segera pusatkan perhatiannya untuk mengerahkan tenaga sakti ini melalui matanya yang memandang tajam ke depan.

Sementara itu, para jagoan istana dan Ching-coa-to berhenti bergerak karena heran dan sangsi menyaksikan tingkah laku Kun Hong yang sekarang merangkul Hui Kauw sambil menempelkan tangan di tengkuk gadis itu. Apa kehendak si buta itu? Mereka ragu-ragu dan curiga.

"Dengarlah kata-kataku!" Kun Hong mulai bicara, suaranya tenang, dalam, lambat-lambat dan amat berpengaruh. "Kalian adalah tokoh-tokoh kang-ouw yang bernama besar. Tentu kalian tidak sudi dan malu untuk bertempur dengan cara mengeroyok, hal ini hanya akan merendahkan nama kalian, dan akan menghancurkan nama besar yang bertahun-tahun kalian pupuk dengan perbuatan-perbuatan gagah berani. Aku Kwa Kun Hong tidak pernah bermaksud memusuhi kalian, hanya hendak menolong nona Hui Kauw pergi dari tempat ini. Dan sebagai orang-orang kang-ouw yang gagah, seharusnya kalian membiarkan kami berdua pergi dengan aman."

Pada waktu Kun Hong berbicara itu, Hui Kauw mentaati perintah Kun Hong tadi. Sambil menyalurkan hawa yang memenuhi dada melalui mata, ia pergunakan sepasang matanya memandang para lawan itu seorang demi seorang, menatap tajam di antara kedua mata mereka. Dan karena Kun Hong sengaja menyembunyikan mukanya di belakang kepala Hui Kauw, mau tidak mau mereka itu terpaksa bertemu pandang dengan Hui Kauw.

Akibatnya aneh! Mereka itu saling pandang, tersenyum malu-malu dan seperti berlomba mereka lalu melangkah mundur seperti hendak memberi jalan kepada Kun Hong dan Hui Kauw untuk pergi dengan aman!

Sebetulnya hal ini sama sekali tidak aneh. Karena matanya sudah buta, tentu saja Kun Hong tidak dapat lagi menggunakan ilmu sihir yang dahulu dia pelajari dari Sin-eng-cu Lui Bok. Akan tetapi karena dia masih memiliki ilmu itu, tenaga batinnya masih amat kuat, bahkan lebih kuat dari pada dahulu, walau pun dengan cara ‘meminjam’ mata Hui Kauw pengaruh sihirnya menjadi lemah karena gadis itu tidak dapat menggunakannya dengan tepat, namun ternyata masih ada hasilnya juga.

Hal ini adalah karena apa yang dia ucapkan adalah hal yang menyinggung kehormatan dan perasaan orang-orang gagah di situ. Tanpa menggunakan tenaga batin sekali pun, ucapan itu akan membuat mereka bermerah muka, apa lagi sekarang disertai tenaga batin yang kuat, maka otomatis, di luar kesadaran mereka sendiri, mereka itu serta merta memenuhi permintaan Kun Hong itu tanpa dipikir lagi!

Kun Hong tidak membuang kesempatan ini. Dia segera menarik tangan Hui Kauw pergi dari situ. "Mari kita pergi...," bisiknya perlahan.

Akan tetapi, di antara orang-orang yang mengurungnya, ada dua orang yang tidak ikut melangkah mundur. Mereka ini adalah Lui-kong Thian Te Cu dan Bhewakala si tokoh Nepal. Yang pertama karena sakit hatinya melihat suheng-nya, Hek Lojin kalah sehingga kata-kata itu tidak mempengaruhi hatinya.

Ada pun yang ke dua, Bhewakala, adalah seorang tokoh barat yang sudah kenyang akan ilmu-ilmu sihir. Maka begitu merasakan ada getaran aneh keluar dari ucapan Kun Hong disertai pandang mata Hui Kauw yang tajam mengikat semangat dan kemauan, dia pun terkejut dan cepat dia membaca mentera sambil mengerahkan tenaga batinnya untuk menolak pengaruh yang keluar dari pandang mata Hui Kauw dan suara Kun Hong itu. Dua orang inilah yang mengejar ketika Kun Hong lari sambil menarik tangan Hui Kauw.

Akan tetapi agaknya Thian melindungi Kun Hong yang terancam bahaya. Mendadak langit yang sudah sejak tadi gelap oleh mendung tebal, kini menyiram permukaan bumi dengan air hujan disertai kilat dan angin ribut. Mempergunakan kesempatan ini, Kun Hong dan Hui Kauw mempercepat larinya, sedangkan Thian Te Cu dan Bhewakala yang maklum akan kelihaian Kun Hong, menjadi ragu-ragu untuk mengejar terus karena yang lain-lain tidak turut mengejar.

"Ehh, cu-wi sekalian ini bagaimana? Kenapa tidak mengejar pemberontak itu?" Lui-kong Thian Te Cu bertanya dengan nada penasaran.

Sesudah Kun Hong dan Hui Kauw lenyap dari pandangan mata serta hujan yang dingin menimpa kepala dan tubuh mereka, barulah orang-orang itu seakan-akan sadar dari pada mimpi. Diam-diam mereka merasa menyesal juga kenapa tadi mereka mendiamkan saja Kun Hong lari.

"Mereka tidak akan lari jauh," kata Kui Ciauw, orang tertua dari Ang-hwa Sam-cimoi, "sekeliling lembah ini kalau turun hujan amat berbahaya, banyak timbul rawa berlumpur. Juga sampai beberapa li jauhnya telah terjaga oleh anak buah kami. Kalau sekarang kita kejar masih belum terlambat."

"Ha-ha-ha, baru menghadapi seorang bocah buta saja sekian banyaknya orang sudah kewalahan, bagaimana bila harus menghadapi pasukan musuh yang kuat? Bhok Hwesio, bagaimana pendapatmu? Apakah kita tak terlalu banyak menimbulkan kehebohan hanya untuk menangkap seorang bocah buta?"

Mendengar ucapan Ka Chong Hoatsu ini, Bhok Hwesio tertawa juga.

"Omitohud, omongan Hoatsu memang tidak keliru. Marilah kita mengejar dengan cara kita masing-masing dan kita berlomba, siapa yang lebih dahulu membekuk bocah itu, dialah yang terhitung jago."

"Bagus! Memang aku juga sudah lama mendengar nama besar Bhok Hwesio tokoh dari Siauw-lim-si. Mari!" Ka Chong Hoatsu menggerakkan tongkat pendeta di tangannya, lalu sambil tertawa-tawa dia berkelebat lenyap dari situ.

Pada saat orang-orang menengok ke arah Bhok Hwesio, ternyata hwesio ini pun sudah lenyap dari situ. Agaknya dua orang ini dengan hati panas hendak menguji kepandaian masing-masing dengan cara aneh, yaitu berlomba mengejar dan menangkap Kun Hong!

Melihat dua orang tokoh itu sudah pergi, yang lain beramai-ramai melakukan pengejaran pula, mengambil cara dan jalan masing-masing. Terjadilah perlombaan mengejar di dalam hujan ribut itu. Para anggota pasukan dan anggota Ngo-lian-kauw juga sibuk sendiri, ada yang berlindung dari air hujan yang turun seperti ditumpahkan dari langit, ada yang ikut mengejar pula. Keadaan menjadi ramai seperti para pemburu mengejar seekor harimau di dalam hutan.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner