PENDEKAR BUTA : JILID-35


Memang betul apa yang diucapkan oleh orang tertua dari Ang-hwa Sam-cimoi tadi. Kun Hong dan Hui Kauw menemui kesukaran dalam usaha mereka melarikan diri. Air hujan secara mendadak mengubah semua tempat sekeliling lembah itu menjadi rawa-rawa yang berbahaya.

Hampir saja Hui Kauw terjerumus ketika kakinya menginjak air yang nampaknya dangkal itu, namun kiranya di bawahnya mengandung lumpur yang mempunyai daya menghisap sehingga kakinya seakan-akan tersedot ke bawah. Baiknya Kun Hong cepat menariknya ketika gadis ini menjerit.

Mereka kini berdiri di pinggir rawa, terengah-engah dan sukar bernapas karena serangan air hujan pada muka mereka. Air hujan itu turun dengan derasnya sehingga titik-titik air itu seperti batu-batu kecil menghantam muka.

"Kun Hong... mengapa kita harus lari? Perlu apa takut...? Bukankah kalau tewas pun kita berdua?"

"Hui Kauw, siapa ingin mati? Aku tidak takut mati, akan tetapi, apa bila ada kesempatan menyelamatkan diri, apa perlunya kita mengadu nyawa? Hui Kauw, masa depan menanti untuk kita."

Suara Kun Hong terdengar nyaring penuh harapan dan kebahagiaan, jauh sekali bedanya dengan dulu. Agaknya pemuda ini sekarang merasa amat berbahagia dapat hidup berdua dengan Hui Kauw. Gadis ini dapat merasa hal ini dan dengan terharu ia mencengkeram tangan Kun Hong.

"Sesukamulah... Kun Hong, aku menurut saja...," katanya lirih. "Akan tetapi, ke mana kita akan lari?"

Pada saat itu pula, di antara suara angin dan hujan, terdengarlah suara mereka yang sedang mengejar.

"Wah, mereka mengejar dan sudah dekat!" Kun Hong berkata dan sambil menarik tangan Hui Kauw untuk lari lagi.

Hui Kauw menjadi penunjuk jalan, akan tetapi ia setengah diangkat oleh Kun Hong yang menggunakan ilmu lari cepat. Lebih lima li mereka lari meninggalkan tempat pertempuran tadi. Namun karena tidak mengenal jalan dan selalu terhalang oleh rawa, mereka hanya berputaran saja di sekitar lembah tanpa mereka sadari.

Mendadak Hui Kauw berkata, "Kun Hong, di sana ada sebuah pondok kecil menyendiri. Mari kita berlindung ke sana." Suara Hui Kauw hampir tak dapat terdengar karena terbawa angin yang makin keras bertiup dan air hujan makin deras menyiram tubuh mereka.

Dengan susah payah akhirnya sampai juga mereka di pondok kecil yang sudah tua dan berdiri miring di luar hutan lebat. Mereka cepat memasuki pondok yang ternyata kosong. Agak lega hati mereka karena sekarang tidak lagi diserang hujan dan angin.

"Kita berada di mana?" tanya Kun Hong.

Hui Kauw memandang ke luar, bergidik melihat hutan yang tampak amat menyeramkan karena pohon-pohonnya bergoyang-goyang seperti mengamuk diserang angin ribut. Amat berbahaya memasuki hutan di waktu demikian itu. Sewaktu-waktu akan ada pohon yang tumbang. Saking kerasnya angin, banyak pohon kelihatan gundul karena daun-daunnya rontok oleh tiupan angin.

"Di luar sebuah hutan lebat. Kurasa untuk sementara kita bersembunyi di sini, menunggu sampai hujan dan angin berhenti," katanya sambil mengusap air dari mukanya.

"Hui Kauw..."

Tiba-tiba Kun Hong memeluk mesra dan mendekap kepala gadis itu di dadanya. Gadis itu pun balas memeluk dan sampai beberapa lama mereka berdiam diri.

Mendadak Kun Hong mendorong tubuh Hui Kauw perlahan ke belakang sambil berkata, "Kau larilah. Kau masuklah ke hutan itu, larilah ke utara dan carilah perlindungan di sana. Carilah Sin Lee dan Hui Cu, atau menggabunglah dengan pasukan dari utara. Kau akan selamat. Aku akan menanti mereka di sini!"

"Tidak! Sekali lagi, tidak!" Hui Kauw berkata nyaring. "Aku hanya mau pergi dan lari kalau bersama kau!"

"Jangan Hui Kauw. Percuma kita lari, pasti akan tersusul oleh mereka. Di antara mereka terdapat banyak orang sakti. Kalau kau lari sendiri, aku dapat menghalangi mereka di sini dan mencegah mereka mengejarmu. Bukan kau yang mereka kehendaki, melainkan aku. Kau harus selamat."

"Tidak mau! Kun Hong, tidak tahukah kau bahwa mati hidup aku harus bersamamu? Lebih baik mati di sampingmu dari pada hidup jauh dari padamu. Aku... aku isterimu, bukan? Seorang isteri harus menyertai suaminya, di mana pun suaminya berada."

Kun Hong amat terharu, membalikkan tubuh membelakangi Hui Kauw, "Hui Kauw, jangan kau hancurkan kebahagiaanku. Aku merasa bahagia sekali bahwa pada saat terakhir aku masih sempat melindungimu, membelamu. Akan sia-sia pengorbananku kalau kau akan tewas juga. Pergilah.”

"Tidak, Kun Hong. Aku tidak mau. Kau... kau sudah terluka! Aku tahu itu... sebaiknya kau saja yang bersembunyi di hutan itu, biar aku yang menghadang mereka!" Suaranya tinggi dan bernada gagah. Kun Hong makin terharu dan kembali mereka berpelukan.

Tiba-tiba Kun Hong melepaskan pelukannya.

"Trang-trang...!"

Dua batang pedang terlempar. Tongkat itu terus bergerak dan... ada dua orang anggota pasukan istana jatuh tersungkur, tak bernapas lagi. Kiranya dua orang ini sudah berhasil mengejar sampai ke dalam pondok dan langsung menyerang, akan tetapi hal ini hanya menyebabkan mereka mati konyol.

Karena larinya terhalang rawa-rawa dan hanya berputaran saja, maka dua orang sakti seperti Bhok Hwesio dan Ka Chong Hoatsu malah tidak dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw. Dua orang ini malah lewat jauh dan mencari-cari di dalam hutan itu.

Sebaliknya, ada dua orang anggota pasukan yang merasa payah dan melihat pondok itu, hendak mengaso, akan tetapi malah mereka yang dapat menemukan Kun Hong dan Hui Kauw tanpa mereka sengaja dan mengakibatkan kematian mereka.

Kun Hong kembali siap dengan tongkatnya. Hui Kauw memungut sebatang pedang yang tadi terpental jatuh. Mereka kini memasuki pondok dan Hui Kauw mengintai ke luar dari jendela yang tidak berdaun lagi. Keduanya menanti dengan tegang. Hujan mulai berhenti, angin sudah tidak mengamuk lagi dan lapat-lapat terdengar suara mereka yang mengejar, makin lama semakin dekat.

"Ada dua orang yang menuju ke sini...," bisik Hui Kauw kepada Kun Hong, suaranya agak gemetar karena tegang, "mereka itu adalah Bhewakala dan yang seorang lagi It-to-kiam Gui Hwa."

Kun Hong mengangguk. "Kau berdiam saja di sini, jangan bantu kalau tidak amat perlu. Biar aku menyergap mereka di depan."

Memang betul, It-to-kiam Gui Hwa yang mengejar berbareng dengan Bhewakala, tampak berlari-lari menuju pondok itu. Bhewakala yang mengajak tokoh Kun-lun itu, mengatakan bahwa pondok itu mungkin sekali dipergunakan untuk tempat sembunyi.

"Mereka melarikan diri, mana bisa berhenti di tempat itu?" bantah Gui Hwa.

"Siapa tahu? Semua orang sudah mengejar ke dalam hutan, tak seorang pun ingat untuk menengok pondok itu. Biar kita menengok sebentar," kata Bhewakala dan demikianlah, dengan ilmu lari cepat mereka, kedua orang tokoh ini menuju ke pondok.

"Awas...!" Bhewakala berseru sambil menuding ke arah dua mayat yang menggeletak di depan pondok itu.

"Ahh, mereka tentu di sini!" seru It-to-kiam Gui Hwa sambil mencabut pedangnya.

"Memang aku berada di sini!"

Dua orang itu terkejut dan cepat menengok. Ehh, tahu-tahu Kun Hong sudah berdiri di belakang mereka dengan tongkat melintang di depan dada!

Sejenak Bhewakala dan It-to-kiam Gui Hwa meremang bulu tengkuknya. Bhewakala telah merasakan kelihaian Pendekar Buta itu, benar-benar amat sakti, maka kini ketika secara tiba-tiba saja orang yang dikejarnya itu berada di depan mereka, mereka menjadi terkejut setengah mati.

Namun, sebagai tokoh-tokoh kang-ouw yang memiliki kepandaian tinggi, hanya sebentar saja mereka terkejut. Bhewakala sudah mengeluarkan senjatanya yang lihai, yaitu sebuah cambuk hitam yang kecil dan sekali cambuk itu digerakkan, sudah terulur panjang sampai tiga meter.

Dahulu pernah di kota raja dia kehilangan cambuknya karena hancur bertemu dengan pedang Kun Hong. Sekarang dia telah mengeluarkan cambuk simpanannya, terbuat dari pada bulu binatang aneh di Pegunungan Himalaya.

"Pemberontak muda, lebih baik kau menyerah. Kau tidak akan dapat melarikan diri!" Gui Hwa mencoba untuk membujuk karena betapa pun juga dia merasa jeri juga.

"It-to-kiam, hayo kita tangkap dia!"

Bhewakala yang pernah dikalahkan oleh Kun Hong, sebaliknya menjadi penasaran dan marah. Ingin dia membalas kekalahannya dengan bantuan It-to-kiam Gui Hwa. Karena itu, sambil berkata demikian cambuknya sudah dia putar-putar di atas kepalanya sehingga mengeluarkan bunyi mengaung-aung laksana sirene. Melihat temannya sudah mendesak maju, dengan sikap apa boleh buat It-to-kiam Gui Kwa juga menerjang dengan pedangnya yang mengeluarkan sinar berkilat.

Kun Hong sudah siap. Dia maklum bahwa dia menghadapi dua orang lawan yang amat kuat. Pernah dia menghadapi Bhewakala dan karenanya dia maklum bahwa orang Nepal ini benar-benar memiliki ilmu yang luar biasa.

Jika dulu itu dalam beberapa gebrakan saja dia mampu mengalahkan Bhewakala, adalah karena orang Nepal ini tadinya memandang rendah kepadanya. Sekarang, setelah pernah dikalahkan, tentu dia akan berlaku hati-hati dan tidak begitu mudah dikalahkan. Apa lagi di samping orang Nepal ini terdapat seorang ahli pedang seperti It-to-kiam Gui Hwa yang dia tahu memiliki Ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang cukup tinggi.

Dia harus hati-hati, maka begitu melihat mereka menerjang maju, dia segera memainkan ilmu silat ciptaannya. Tongkatnya berkelebat hingga sinarnya bergulung-gulung, diselingi dengan pukulan-pukulan tangan kirinya yang mengeluarkan uap putih!

Baik Bhewakala mau pun It-to-kiam Gui Hwa mau tidak mau amat kagum dan diam-diam memuji kehebatan ilmu silat Pendekar Buta ini karena mereka berdua sama sekali tidak mampu mendekatinya. Jangan kata sampai terbentur tongkat yang mengeluarkan sinar merah, baru terkena angin pukulannya saja mereka merasa betapa tenaga yang sangat hebat mendorong senjata mereka ke belakang. Belum lagi pukulan tangan kiri itu yang mendatangkan hawa pukulan ganas dan mukjijat sehingga membuat mereka sama sekali tidak berani menangkisnya.

Sebaliknya, Kun Hong diam-diam juga terkejut. Dia sudah terluka karena mengadu tenaga dengan Hek Lojin yang sakti. Walau pun luka itu tidak membahayakan keselamatannya, akan tetapi setidaknya banyak membutuhkan pengerahan hawa sakti di tubuhnya untuk melawannya. Hal ini mengurangi kekuatannya dan kini menghadapi dua orang yang tak boleh dipandang ringan ini, tenaganya hanya dapat menandingi dengan berimbang saja.

Baiknya ilmu silatnya memang amat aneh dan tinggi sehingga dua orang itu sendiri tidak dapat menyelami inti sarinya dan menjadi bingung oleh sambaran tongkat dan dorongan tangan kirinya. Yang paling diperhatikan oleh Kun Hong adalah cambuk panjang di tangan Bhewakala.

Cambuk itu benar-benar lihai sekali dan sukar diduga gerakannya, bergerak bagai seekor binatang hidup yang kadang-kadang merentang panjang, akan tetapi kadang-kadang juga melingkar-lingkar. Hebatnya, cambuk hitam yang sekarang dimainkan oleh Bhewakala ini sangat ampuh serta kuat, beberapa kali dihantam oleh tongkat Kun Hong, hanya mental kembali tetapi tidak putus.

Tiba-tiba Bhewakala mengeluarkan suara pekik rendah menggetarkan jantung, kemudian berkata-kata seperti orang membaca doa dalam bahasa asing. Memang orang Nepal ini sedang berbicara seorang diri dengan keras, dan sebetulnya dia memuji-muji kepandaian Kun Hong dan juga menyatakan penasarannya.

Akan tetapi gerakan cambuknya kini berubah, sama sekali tak lagi menyerang tubuh Kun Hong, melainkan mengejar dan memapaki tongkat Pendekar Buta itu dengan cambuknya. Cambuk hitam yang panjang itu seperti seekor ular kecil panjang segera melibat dengan kecepatan yang tak terduga oleh Kun Hong.

Pendekar Buta ini cepat menggentakkan tongkatnya dengan tenaga sakti untuk membikin senjata lawan itu terputus. Akan tetapi hebat sekali, cambuk itu bukannya putus karena dapat mulur seperti karet, malah terus bergerak melibat-libat seluruh tongkat, tangan dan lengan kanan Kun Hong, masih terus melibat pundak, leher dan lengan kiri.

Dalam sekejap mata tampaknya Kun Hong telah kena terbelenggu oleh cambuk mukjijat itu! Pada saat itu juga, It-to-kiam Gui Hwa menggunakan kesempatan itu menubruk maju dan mengirim pukulan maut ke arah ulu hati Kun Hong dengan gerakan cepat karena dia memainkan jurus Tit-ci Coan-sim (Tudingkan Jari Tusuk Hati) dari ilmu Pedang Kun-lun Kiam-sut yang paling ampuh.

"It-to-kiam, jangan bunuh dia, sayang kepandaiannya!" Bhewakala berseru dengan suara keras untuk mencegah, namun dia tidak berdaya untuk menolong karena dia pun sedang mengerahkan tenaga untuk melibat tubuh Kun Hong dengan cambuknya itu.

"Sruuuuuttttt! Cringggg... krakkk!"

Apa yang terjadi dalam sedetik ini benar-benar hebat dan sekaligus membuktikan bahwa Si Pendekar Buta benar-benar telah memiliki kesaktian yang jarang bandingannya. Dalam keadaan yang serba sulit itu dia masih bisa menyelamatkan diri, malah terlihat It-to-kiam Gui Hwa sudah roboh tak berkutik karena dadanya tertembus oleh tongkat Kun Hong, sedangkan cambuk hitam yang tadi melibat-libat tubuh Kun Hong itu kini berantakan dan putus-putus!

Kiranya dengan tenaga saktinya, ketika menghadapi bahaya maut tadi, Kun Hong masih sempat menggerakkan kaki dan melakukan langkah ajaib sehingga dia terhindar dari pada tusukan maut It-to-kiam, kemudian sekali mengerahkan tenaga terdengar suara keras dan cambuk hitam itu hancur berantakan, dan akhirnya sinar merah berkelebat dan tahu-tahu tubuh It-to-kiam sudah roboh binasa. Saking cepatnya tongkat itu bergerak, sampai tidak kelihatan bagaimana senjata ini tadi menembus tubuh It-to-kiam!

Bhewakala terkejut setengah mati dan bulu tengkuknya berdiri. Selama hidupnya belum pernah dia menyaksikan hal seperti ini. Mana mungkin tubuh seorang manusia mampu membikin hancur berantakan cambuk hitamnya yang terbuat dari pada bulu binatang sakti di Pegunungan Himalaya itu?

Ia cepat menubruk lagi dan mengirim pukulan dengan pengerahan tenaga dalamnya yang amat kuat. Akan tetapi kali ini Kun Hong sudah siap. Tubuhnya tiba-tiba bergerak miring sehingga pukulan itu luput dan tahu-tahu Bhewakala roboh karena kaki Kun Hong sudah menyerampangnya dan menyentuh jalan darah di dekat lutut.

Bhewakala semakin kaget dan maklum bahwa sekali tongkat yang ampuh itu bergerak, nyawanya tak akan tertolong lagi. Akan tetapi aneh, tongkat itu tidak bergerak, malah Kun Hong hanya berdiri tegak sambil berkata,

"Bhewakala, tadi kau menyayangkan nyawaku, aku pun tak tega membunuhmu. Memang di antara kita tidak ada permusuhan. Pergilah, atau... biarkanlah aku pergi dengan aman."

Bhewakala bangkit. Dia memandang dengan matanya yang agak kebiruan itu, kemudian mengangguk-angguk. "Kau hebat. Tak perlu lagi aku di sini, aku harus pulang dan belajar sepuluh tahun lagi." Setelah berkata demikian, dengan langkah panjang dia lari pergi dari tempat itu.

"Kun Hong, tolong...!"

Jeritan Hui Kauw ini seperti menyendal semangat Kun Hong. Kaget dan khawatir sekali hatinya. Seperti kilat cepatnya tubuhnya melompat ke arah suara dan ternyata di sebelah kanan pondok itu telah berdiri Ang-hwa Sam-cimoi dengan pedang di tangan. Kui Siauw, orang termuda dari Ang-hwa Sam-cimoi memegang lengan Hui Kauw yang tidak berdaya lagi karena sudah ditotok jalan darahnya.

"Hui Kauw, kau di mana? Apa yang terjadi...?!" Kun Hong berteriak dan berdiri bingung.

"Kun Hong, aku... tertawan Ang-hwa Sam-cimoi...," kata Hui Kauw lemah.

Kun Hong menggerakkan tongkatnya mengancam, "Lepaskan dia!" suaranya mengguntur.

Kui Ciauw dan Kui Biauw tertawa mengejek, kemudian Kui Ciauw berkata, "Pemberontak buta. Lebih baik kau menyerahkan diri saja sebelum kekasihmu ini kami bunuh!"

Kun Hong ragu-ragu. Dia maklum bahwa kalau dia bergerak, biar pun akhirnya dia akan menang, Hui Kauw tentu akan terbunuh lebih dulu.

"Kun Hong, serang mereka. Jangan pedulikan aku!" ucapan Hui Kauw ini membangkitkan semangat Kun Hong.

Akan tetapi cepat Kui Ciauw berseru, "Kau benar-benar ingin dia mampus?!"

''Lepaskan dia!"

Kun Hong melompat dan tongkatnya menerjang Kui Siauw karena dari suara Hui Kauw dia tahu siapa yang harus dia serang lebih dulu untuk menolong kekasihnya.

"Plak-plak-plak!"

Kun Hong terhuyung mundur. Tongkatnya sampai tiga kali bertemu dengan senjata lunak tapi kuat bukan main, disertai tenaga sakti yang mampu melawan tenaga dan tongkatnya.

"Ha-ha-ha, Kwa Kun Hong. Lebih baik kau menyerah kalau kau menghendaki nona itu dan kau sendiri selamat."

"Bhok Hwesio!" Kun Hong berteriak marah. "Apa bila kalian memusuhi aku, itu memang sudah sepatutnya karena kau dan teman-temanmu adalah anjing-anjing penjaga istana yang menganggap aku telah memberontak. Akan tetapi apa salahnya Hui Kauw? Segera kau lepaskan dia dan mari kita bertanding seribu jurus sebagai laki-laki!"

"Hemm, bocah buta yang sombong. Apa kau kira pinceng takut kepadamu? Soal nona itu, tidak usah dibicarakan lagi. Ada pun mengenai kepandaian, kalau memang kau merasa jagoan, majulah biar pinceng layani."

Kun Hong sudah marah sekali, tongkat di tangannya tergetar. Akan tetapi sebelum dia sempat bergerak, terdengar suara halus di belakangnya.

"Omitohud, semoga Tuhan mengampuni kesalahan hambaNya..."

Suara itu sedemikian halusnya, namun pengaruhnya membuat Kun Hong seketika lemas dan lenyap kemarahannya. Ia merasa terheran-heran dan menanti dengan telinga dibuka lebar-lebar untuk mengetahui siapakah gerangan orang yang mempunyai suara demikian berpengaruh.

Ada pun Hui Kauw yang berada dalam tawanan Kui Siauw juga memandang penuh perhatian. Tadinya ia terbelalak penuh kekhawatiran terhadap diri Kun Hong ketika di situ tiba-tiba muncul Bhok Hwesio.

Tadi dia sedang menonton perlawanan Kun Hong terhadap Bhewakala dan It-to-kiam Gui Hwa dari samping pondok. Mendadak dari arah belakangnya berkelebat tiga bayangan yang cepat sekali gerakannya. Hui Kauw hendak melawan, akan tetapi ia kalah jauh oleh Ang-hwa Sam-cimoi sehingga dalam beberapa jurus saja ia telah tertotok dan tertawan.

Ia tidak takut mati, juga tidak takut melihat Kun Hong menghadapi Ang-hwa Sam-cimoi karena ia memang sudah nekat untuk mati bersama. Akan tetapi tidak tega juga hatinya melihat kekasihnya yang buta itu akan dikeroyok oleh orang-orang sakti, maka munculnya Bhok Hwesio yang amat sakti itu menggelisahkan hatinya.

Kini ia terbelalak memandang tiga orang yang datang dengan langkah lambat dan ringan. Mereka ini adalah tiga orang hwesio tua yang jalan berjajar. Yang kanan dan kiri serupa benar bentuk badan dan muka, seperti hwesio tua yang kembar, bertubuh kurus pendek. Yang berada di tengah adalah seorang hwesio tinggi kurus berusia sedikitnya delapan puluh tahun dan hwesio inilah tadi yang mengeluarkan kata-kata.

Besar keheranan hati Hui Kauw pada saat melihat betapa Bhok Hwesio menjadi berubah mukanya. Malah dengan sikap menghormat Bhok Hwesio sekarang melangkah maju dan menjura hingga badannya yang tinggi besar itu hampir berlipat menjadi dua, lalu mulutnya berkata,

"Thian Ki suheng, ji-suheng dan sam-suheng, siauwte menghaturkan hormat."

Kedua hwesio kembar itu hanya mengangguk. Ada pun hwesio di tengah yang disebut Thian Ki suheng oleh Bhok Hwesio itu, memandang sejenak, kemudian bibirnya bergerak mengeluarkan ucapan yang halus tapi penuh teguran,

"Bhok-sute, semenjak kapankah murid Siauw-lim-pai mencampuri urusan kerajaan? Sejak kapan murid Siauw-lim-pai tamak akan harta benda atau kemuliaan duniawi?"

Suaranya penuh wibawa dan sampai lama Bhok Hwesio tidak dapat menjawab. Ada pun Kun Hong dan Hui Kauw yang pernah mendengar nama Thian Ki Losu, yaitu pendeta Siauw-lim-pai yang amat terkenal kesaktiannya itu, menjadi terkejut.

Thian Ki Losu terkenal sebagai seorang di antara para tokoh tua Siauw-lim-pai yang tidak pernah muncul, akan tetapi yang kabarnya memiliki kepandaian bagai dewa. Oleh karena itu Kun Hong hanya diam saja. Dia hanya mendengarkan penuh perhatian dan menanti perkembangannya lebih jauh sambil bersiap siaga.

Akan tetapi, Ang-hwa Sam-cimoi yang semenjak mudanya merantau ke dunia barat, tidak mengenal nama Thian Ki Losu, maka mereka tak peduli sama sekali. Apa lagi ketika Kui Siauw melihat betapa sinar mata dan muka Hui Kauw berseri-seri seakan-akan gadis itu mengharapkan bantuan, ia menjadi marah dan berkata,

"Kwa Kun Hong, kalau kau tidak lekas berlutut dan menyerah, sekarang juga aku akan membunuh kekasihmu!"

Hui Kauw benar-benar tidak berdaya. Kui Siauw yang galak itu sudah mencengkeram batang lehernya dan sekali menggerakkan tangan, tentu jalan darah yang menuju ke otak akan dihancurkan dan dia akan tewas dalam sekejap mata. Kun Hong sudah menggigil kedua kakinya, siap melompati penawan Hui Kauw itu dan kalau perlu mengadu nyawa.

"Omitohud, sesama manusia mana berhak saling bunuh? Ada pinceng di sini, tidak boleh orang berlaku keji!" Inilah suara Thian Ki Losu dan tahu-tahu tubuhnya sudah melayang seperti kapas tertiup angin ke arah Kui Siauw.

Orang termuda dari Ang-hwa Sam-cimoi ini marah dan membentak, "Hwesio tua, kau mau apa?" Berkata demikian, ia memukul dengan tangan kanan sambil mengerahkan tenaga sedangkan tangan kirinya tetap mencengkeram tengkuk Hui Kauw.

"Omitohud, keji sekali...!" Thian Ki Losu berseru, lengan bajunya dikebutkan berkibar-kibar menerima pukulan sedangkan lengan baju yang lain juga bergerak ke arah Hui Kauw.

Entah bagaimana, tahu-tahu tubuh Kui Siauw seperti dilemparkan tenaga raksasa, lantas melayang sampai lima meter lebih jauhnya dan cengkeramannya pada tengkuk Hui Kauw tadi seketika terlepas. Dan lebih hebat lagi, tanpa kelihatan kapan bergeraknya, tubuh Hui Kauw sudah terbebas dari pada totokan dan gadis itu cepat berlari ke arah Kun Hong, berdiri di samping Kun Hong, sedangkan Thian Ki Losu sudah kembali berdiri di antara kedua orang adik seperguruannya seperti tidak pernah terjadi sesuatu!

Kui Ciauw dan Kui Biauw mencabut pedangnya masing-masing, akan tetapi tidak berani sembarangan bergerak, apa lagi melihat bahwa sumoi mereka tak terluka. Juga Kui Siauw sudah mencabut pedangnya, akan tetapi juga tidak berani sembarangan bergerak karena maklum bahwa hwesio tua renta itu benar-benar seorang sakti yang tidak boleh dibuat sembrono.

Bhok Hwesio melihat kejadian itu, mengerutkan keningnya dan berkata menegur, "Suheng berat sebelah. Bocah buta itu adalah seorang pemberontak, juga gadis itu. Mereka harus ditawan."

"Bhok-sute," suara Thian Ki Losu tetap tenang dan sabar, "hal itu bukanlah urusan kita. Sebelum berlarut-larut kau terbelit oleh urusan kerajaan, marilah kau ikut pinceng kembali, semoga Buddha mengampunimu."

"Tidak, Suheng. Siauwte sudah berjanji akan membantu menghancurkan pemberontak. Suheng pulanglah dahulu, kelak siauwte akan pulang dan mohon ampun kepada Suheng bahwa hari ini siauwte berani membantah perintah Suheng."

"Bhok-sute, kau tahu apa hukumannya murid yang murtad? Sekali lagi, marilah pulang bersama kami, kalau tidak, terpaksa pinceng akan melaksanakan hukuman di sini juga."

"Thian Ki suheng, kau terlalu! Di depan banyak orang merendahkan aku seperti ini, kalau aku tidak mau ikut pulang, kau mau apa?"

"Omitohud, terpaksa pinceng melakukan hal yang berlawanan dengan hati!" Hwesio tua itu berseru dan tiba-tiba dia menggerakkan kedua lengannya mendorong ke depan.

Terdengar suara berciutan dan seketika itu tubuh Bhok Hwesio bergoyang-goyang. Bhok Hwesio tentu saja mengenal kelihaian kakak seperguruannya ini, maka dia pun bergerak dan mendorong.

Kakak beradik seperguruan ini berdiri dalam jarak antara dua meter. Oleh karena mereka masing-masing mengulurkan lengannya, maka telapak tangan mereka saling mendekati, hanya terpisah satu meter. Akan tetapi, meski telapak tangan mereka tidak saling sentuh, namun jangan dikira bahwa mereka itu tidak saling serang.

Hawa sakti yang keluar dari telapak tangan masing-masing saling dorong dan dua tenaga sakti yang dahsyat bertemu di udara. Mereka berdiri tak bergerak, dan hanya satu menit Bhok Hwesio kuat bertahan. Mukanya tiba-tiba menjadi pucat dan dia mengeluh perlahan, kemudian tubuhnya terjengkang.

Thian Ki Losu melangkah empat tindak dan kembali dia menggerakkan tangannya cepat sekali ke arah pundak. Pada lain saat Bhok Hwesio sudah menjadi pingsan dan digotong oleh dua orang hwesio kembar, seorang memegang pundak dan seorang lagi memegang betis.

Thian Ki Losu memandang sekeliling, dan pada saat itu terdengar suara hiruk-pikuk tidak jauh dari situ, lalu tampak api mengebul dibarengi sorak-sorai dan suara tambur perang. Kakek itu menggeleng-geleng kepalanya.

"Omitohud, perang... perang... sekali lagi perang. Manusia saling bunuh, buta oleh karena kemuliaan dunia. Bilakah semua ini berakhir?" Lama dia memandang kepada Kun Hong, menggeleng-geleng kepala dan berkata lagi. "Sayang... sayang..."

Kemudian kakek ini mengajak dua orang sute-nya pergi dari tempat itu, membawa tubuh Bhok Hwesio yang sudah pingsan.

Ang-Hwa Sam-cimoi tadi tidak berani bergerak. Setelah hwesio-hwesio itu pergi, mereka serentak mengurung Kun Hong yang juga sudah siap.

Suara gaduh semakin menghebat dan sambil bersiaga Kun Hong bertanya, "Hui Kauw, suara apakah itu? Apakah... mereka sudah datang...?"

"Agaknya perang sudah dimulai!" jawab Hui Kauw penuh semangat.

Kun Hong merasa girang. Tahulah dia sekarang bahwa saat itu orang-orang Pek-lian-pai dan Hwa-i Kai-pang, mungkin dengan pasukan dari utara, telah menyerbu dan bertanding melawan pasukan pengawal dan para anggota Ngo-lian-kauw.

Benar saja dugaannya. Datang berlarian dua orang wanita yang terengah-engah melapor dari jauh. "Kauwcu (ketua)... musuh menyerbu... semua dibakar...!"

Mendengar ini, Ang-hwa Sam-cimoi makin marah dan serentak mereka menerjang Kun Hong.

"Hui Kauw, mundur...!"

Kun Hong cepat menggerakkan tongkatnya menangkis dan diam-diam ia harus mengakui bahwa tiga orang lawannya ini hebat sekali ilmu pedangnya. Menangkis yang satu datang yang ke dua menyambar, disusul lagi yang ke tiga. Terus menerus mereka itu mendesak dengan penyerangan bertubi-tubi, sangat teratur seakan-akan barisan yang sudah diatur terlebih dahulu. Juga tenaga mereka itu rata-rata amat kuat.

Kun Hong mengeluh. Benar-benar hari ini dia harus menghadapi banyak orang pandai.

Namun Hui Kauw tidak mundur, bahkan cepat ia mengambil pedang It-to-kiam Gui Hwa tadi dan serta merta ia menyerbu dan membantu Kun Hong. Karena maklum bahwa tiga orang wanita itu amat sakti, Hui Kauw segera mainkan ilmu pedang simpanannya yang ia dapatkan dari kitab rahasia. Setelah ia menyerbu, maka terpaksa Kui Siauw melayaninya sehingga lumayan juga bagi Kun Hong yang hanya menghadapi dua orang lawan.

Pada saat itu terdengar suara orang yang parau, "Ang-hwa Sam-cimoi, celaka sekali! Kita terjebak dan terkepung musuh. Lekas bereskan si buta itu!"

Dan muncullah Souw Bu Lai dan Ka Chong Hoatsu, sedangkan di belakangnya tampak berlari-lari mendatangi Lui-kong Thian Te Cu yang juga berteriak-teriak.

"Bereskan jahanam buta itu dan lekas lari! Tentara dari utara yang datang menyerbu. Jumlah mereka amat banyak!"

Ketiga orang itu, Souw Bu Lai, Ka Chong Hoatsu dan Lui-kong Thian Te Cu serta merta menggunakan senjata menerjang Kun Hong yang sekarang dikepung lima orang! Repot juga Kun Hong, apa lagi dia merasa gelisah karena Hui Kauw makin terdesak hebat oleh Kui Siauw yang jauh lebih lihai. Tidak mungkin untuk membantu kekasihnya karena dia sendiri pun sedang dihujani serangan maut oleh lima orang itu.

Kun Hong timbul marahnya, dengan bentakan yang melengking nyaring ia menggunakan jurus mematikan, tongkatnya menyambar ke depan dibarengi sambaran tangan kirinya. Namun lima orang lawannya sudah cepat mundur sambil menangkis, lalu mengepung lagi dengan rapat.

Pada saat Kun Hong dan Hui Kauw terdesak hebat di tengah-tengah medan pertempuran yang sekarang makin gaduh karena perang antara pasukan utara dan para pengawal itu agaknya makin mendekat, nampak berkelebat bayangan dua orang bagai garuda-garuda menyambar. Mereka ini bukan lain adalah Si Raja Pedang Tan Beng San serta isterinya Cia Li Cu!

"Kun Hong, jangan takut, aku dan bibimu datang membantumu!"

Mendengar suara ini, bukan main lega dan gembiranya hati Kun Hong.

"Paman Beng San! Bibi Li Cu! Lekas, inilah musuh-musuh Thai-san-pai! Ka Chong Hoatsu dan Ang-hwa Sam-cimoi mempunyai peran besar dalam penyerbuan itu!"

Bukan main marahnya Beng San dan isterinya ini. Beng San segera menerjang Ka Chong Hoatsu yang kelihatan paling lihai di antara pengeroyok-pengeroyok Kun Hong. Kakek ini menangkis dengan tongkatnya dan di lain saat kedua orang tokoh sakti ini sudah saling gempur mati-matian dengan amat hebatnya.

Ada pun Cia Li Cu sambil membentak nyaring segera menerjang Lui-kong Thian Te Cu yang juga kelihatan amat kuat dengan senjatanya yang aneh, yaitu tanduk rusa. Seperti juga suaminya, nyonya yang berilmu tinggi ini segera lenyap terbungkus sinar pedangnya ketika ia menandingi tokoh Go-bi-san ini.

Kun Hong mendapat hati setelah dua orang di antara pengeroyoknya yang paling kuat disambut oleh paman dan bibinya. Dia memekik keras dan robohlah Souw Bu Lai dengan kepala retak-retak akibat terkena pukulan tangan kiri Kun Hong. Kui Ciauw dan Kui Biauw terkejut sekali sehingga permainan pedang mereka menjadi kacau. Akan tetapi Kun Hong tidak mempedulikan mereka, langsung dia melesat ke arah Hui Kauw.

"Hui Kauw, mundurlah!" serunya.

Telinganya yang sangat tajam dapat membedakan suara pedang dan segera tongkatnya menyambar ke arah Kui Siauw. Wanita ini mendengar suara berdesing dan sinar merah menyilaukan matanya. Dia cepat menangkis dan inilah kesalahannya, karena kehebatan serangan Kun Hong hanya sebagian saja terletak pada sambaran pedang dalam tongkat itu, sedangkan sebagian lagi terletak pada tangan kirinya yang sudah mengirim pukulan maut.

Tubuh Kui Siauw terjengkang ke belakang, pedangnya terpental dan ia tewas tanpa dapat bersambat lagi. Seperti juga dengan nasib Souw Bu Lai, kepalanya retak-retak tersambar hawa pukulan Pek-in Hoat-sut!

Sekarang Kui Ciauw dan Kui Biauw tidak sanggup menahan kemarahannya lagi. Mereka mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaian, mengeroyok Kun Hong dengan serangan-serangan nekat. Kun Hong yang sudah lega hatinya karena Hui Kauw telah terlepas dari bahaya, melayani mereka dengan tenang, namun dia selalu mencari kesempatan untuk merobohkan kedua orang ini.

Ada pun pertandingan antara Ka Chong Hoatsu dan Tan Beng San, amatlah dahsyat. Kakek dari Mongol ini tidak mengira bahwa dia akan bertemu dengan Tan Beng San ketua Thai-san-pai di situ.

Pada waktu mereka menyerbu Thai-san-pai dahulu, dialah orang yang menyamar sebagai Song-bun-kwi. Dan dia pula yang membunuh Tan Hok serta beberapa orang anak murid Thai-san-pai. Karena dia pun maklum bahwa ketua Thai-san-pai ini tentu tidak akan mau mengampuninya, maka ia mengerahkan kepandaiannya, cepat memutar tongkat pendeta dengan tenaga bergelombang, dengan penuh keyakinan akan dapat mengalahkan ketua Thai-san-pai itu.

Akan tetapi dia tidak mengenal Tan Beng San, Si Raja Pedang. Hanya tampaknya saja Beng San terdesak oleh tongkat yang mengamuk itu, akan tetapi memang semakin tua permainan pedang Tan Beng San semakin matang dan amat tenang.

"Kau menyerbu Thai-san-pai, membakar tempat kami? Hemmm, ada permusuhan apakah antara kita, kakek jahat?" Di antara berkelebatnya tongkat dan pedang, Beng San masih sempat bertanya.

Ka Chong Hoatsu kaget. Dia mengira sudah berhasil mendesak lawan, siapa kira lawan masih enak-enak mengajak dia mengobrol. Orang yang terdesak mana bisa mengobrol? Dia tidak menjawab, melainkan mendesak makin hebat.

Kun Hong mendengar ucapan Beng San dan dialah yang menjawab dengan tenang pula, seakan-akan dia melayani dua orang wanita itu dengan seenaknya.

"Paman, dia itu tokoh Mongol, dia turut menyerbu Thai-san membantu mendiang Ching-toanio bekas isteri Giam Kin. Ada pun Ang-hwa Sam-cimoi ini adalah sumoi-sumoi dari Hek-hwa Kui-bo. Itu yang melawan Bibi adalah Lui-kong Thian Ti Cu tokoh Go-bi, penjilat istana."

Seperti juga Ka Chong Hoatsu, dua orang saudara Ang-hwa itu merasa kaget dan heran bagaimana si buta yang mereka hujani bacokan itu masih enak-enak mengobrol, tanda bahwa si buta ini masih banyak mengalah. Mereka memperhebat gerakan pedang untuk menekan lawan.

Sementara itu, Hui Kauw gembira dan kagum bukan main menyaksikan sepak terjang ketua Thai-san-pai dengan isterinya. Terutama ia kagum sekali melihat permainan pedang Cia Li Cu yang amat indah. Wanita yang sudah setengah tua itu nampak cantik jelita dan gagah, seperti seorang bidadari tengah menari-nari menandingi Thian Te Cu yang lihai. Karena dapat melihat betapa nyonya gagah itu agaknya sukar untuk mengalahkan lawan, tanpa banyak ragu lagi ia meloncat dan membantu.

"Bibi, maaf, perkenankanlah saya membantu."

Li Cu melirik dan heran ia melihat gadis yang suaranya merdu dan halus, sikapnya sopan santun, serta ilmu pedangnya lihai, akan tetapi mukanya hitam menutupi kecantikannya, maju membantunya.

"Anak, kau siapakah?" tanyanya sambil menangkis senjata Thian Te Cu yang kini tiba-tiba menyambar ke arah Hui Kauw.

"Bibi, dia itu Kwee Hui Kauw, dia... eh, dia... eh..." sukarlah Kun Hong menjawab. Mana mungkin dia mengakui Hui Kauw begitu saja sebagai isterinya di depan ibu Cui Bi?

"Kun Hong, lawan bibimu itu kuat juga, mari kita cepat bereskan mereka ini!" kata Beng San yang juga melirik ke arah isterinya.

"Baik, Paman."

Terdengar bunyi nyaring beradunya senjata dan sukar dikatakan siapa yang lebih dahulu berhasil karena tahu-tahu tubuh Ka Chong Hoatsu roboh mandi darah, juga tubuh Kui Biauw roboh dengan dada tertembus tongkat sedangkan Kui Ciauw meski pun sempat mengelak namun sebuah tendangan membuat ia terguling dan pedangnya terlepas dari pegangan.

Kun Hong tidak menyerang lagi, membiarkan Kui Ciauw merayap bangun dan wanita ini pun menangis sambil menyambar tubuh kedua orang adiknya dan memeluki tubuh itu.

Kun Hong menarik napas panjang. "Penyesalan selalu akhirnya datang terlambat! Ahhh, kenapa orang baru menyesal kalau sudah terlambat?"

Kui Ciauw menghentikan tangisnya dan matanya memandang sedih pada Lui-kong Thian Te Cu yang juga roboh sesudah Beng San melompat dan menyerang tiga empat jurus membantu isterinya. Semua temannya sudah tewas atau melarikan diri. Matanya beringas memandang ke arah Kun Hong, Hui Kauw, Li Cu, dan Beng San yang berdiri dengan sikap mengancam. Kemudian ia berkata,

"Kun Hong, apa bila kau memberi kesempatan kepadaku untuk mengubur jenazah kedua adikku, tunggulah beberapa tahun lagi, aku Ngo Kui Ciauw bersumpah akan mencarimu dan menagih hutang!"

Kun Hong menggeleng-gelengkan kepala. "Nasibku! Terikat karma, bunuh membunuh. Sesukamulah, aku hanyalah merobohkan orang yang menyerangku, kalau sekarang kau tidak menyerangku, aku pun tidak akan mengganggumu."

Kui Ciauw lalu memanggul jenazah kedua orang adiknya dan sambil menangis ia lari dari tempat itu. Rambutnya terurai panjang dan darah dari tubuh dua orang adiknya mengalir membasahi muka dan pakaiannya, sungguh menyeramkan sekali.

Beng San menghela napas. "Kun Hong, yang seorang itu karena hari ini kau ampuni, kelak akan mendatangkan banyak persoalan kepadamu."

Kun Hong hanya menunduk. Beng San lalu menghampiri dan merangkulnya.

"Kun Hong, kau sudah tahu akan mala petaka yang menimpa kami?"

"Kun Hong, tahukah kau bahwa Cui Sian...," dengan suara mengandung isak Cia Li Cu ikut berkata pula.

"Tenanglah, Bibi, Paman, saya sudah tahu semuanya, malah adik Cui Sian juga sudah berada dalam keadaan selamat."

Li Cu menjerit dan menangis sambil merangkul Kun Hong. Girangnya bukan main dan ia tertawa-tawa sambil menangis, menciumi Kun Hong sambil berkata,

"Anak baik... kau anak baik."

Adapun Beng San mengusap dua butir air mata dengan kepalan tangan sambil tersenyum mengerling ke arah isterinya. "Hampir saja... aku kehilangan segala-galanya..."

Dia teringat akan ancaman isterinya yang tidak akan sudi melihatnya tanpa Cui Sian!

Dengan singkat Kun Hong menceriterakan keadaan Cui Sian yang sudah tertolong oleh Sin-eng-cu Lui Bok dan kini berada di tempat yang aman. Kedua suami isteri itu berterima kasih sekali pada kakek yang aneh itu dan menyatakan hendak datang sendiri menjemput puteri mereka setelah bertemu kembali dengan Sin Lee dan Kong Bu.

Kiranya Sin Lee dan Kong Bu bersama isteri mereka juga sudah berada di tempat itu, sedang membantu para pejuang yang menggempur barisan pengawal dan para anggota Ngo-lian-kauw. Karena adanya bantuan mereka inilah maka sebentar saja pertempuran itu selesai. Ngo-lian-kauw dibasmi habis, para pengawal banyak yang tewas dan sebagian pula melarikan diri.

Kiranya Sin Lee bersama isterinya yang membawa surat rahasia dan menuju ke utara, di tengah perjalanan bertemu dengan pasukan dari utara yang dipimpin orang kepercayaan Raja Muda Yung Lo. Ketika mendengar tentang surat rahasia, panglima itu menunjukkan surat kuasa dan mengusulkan untuk mengirim surat rahasia itu melalui sepasukan prajurit pilihan agar surat itu dapat cepat dibawa kepada Raja Muda Yung Lo.

Sin Lee dan isterinya tidak keberatan, malah begitu mendengar tentang niat pasukan itu yang hendak menggempur Ngo-lian-kauw dan mendengar pula bahwa banyak jagoan dari istana berada di sana, mereka segera ikut. Di tengah perjalanan pasukan yang terdiri dari dua ratus orang prajurit ini bertemu dengan Kong Bu dan Li Eng. Bukan main girang hati empat orang itu dan Kong Bu bersama isterinya juga serta merta ikut pula dalam barisan.

Pertempuran hebat terjadi, akan tetapi karena pihak utara lebih besar jumlahnya, apa lagi dibantu oleh empat orang gagah itu, dengan mudah pihak Ngo-lian-kauw dan pengawal istana dapat dihancurkan. Kebetulan sekali pada saat pertempuran terjadi, Beng San yang mencari keterangan dari orang-orang Pek-lian-pai tentang musuh-musuhnya, sampai juga di situ.

Ada pun Cia Li Cu bukan kebetulan berada di situ, karena sesungguhnya nyonya perkasa ini sudah lebih maju dalam penyelidikannya dari pada suaminya. Ia sudah mendapat tahu bahwa penyerbu Thai-san-pai adalah orang-orang Ching-coa-to, malah ia sudah sampai di Ching-coa-to. Dari para pelayan pulau yang kosong itu ia mendapat keterangan bahwa semua orang gagah pergi ke Ngo-lian-kauw, maka ia segera menyusul musuh-musuhnya.

Tak perlu diceriterakan lagi betapa gembira dan girangnya hati para orang gagah ini yang saling berjumpa di tempat yang tidak disangka-sangka, apa lagi mendengar berita tentang selamatnya Cui Sian. Hanya saja, kegembiraan mereka terganggu oleh kabar mengenai kematian Song-bun-kwi.

Karena memang sejak dahulu keturunan orang-orang gagah, Beng San mengajak putera-puteranya untuk membantu Raja Muda Yung Lo yang dianggap benar berdasarkan surat wasiat peninggalan kaisar tua. Berkat bantuan orang-orang gagah seperti mereka inilah maka perjuangan Yung Lo akhirnya berhasil merebut kekuasaan hanya dengan perang selama empat tahun saja. Dia naik tahta pada tahun 1403, menggantikan Kaisar Hui Ti yang hanya berkuasa dari tahun 1399 sampai 1403.

Walau pun Kun Hong tidak dapat turut membantu peperangan, akan tetapi dia menunda pernikahannya dengan Hui Kauw sampai perang selesai, barulah pernikahan dirayakan secara amat meriah di Hoa-san-pai. Semua orang gagah dari semua penjuru memerlukan datang, karena ketika itu nama Pendekar Buta sudah amat terkenal di dunia kang-ouw.

Terharu sekali hati orang tua Kun Hong, yaitu ketua Hoa-san-pai dan semua orang gagah yang hadir menyaksikan pasangan pengantin itu. Yang pria buta, yang wanita bermuka hitam. Lebih-lebih terharu hati para orang tua mengingat akan ucapan Hui Kauw ketika di depan para orang tua, Kun Hong berkata, "Sebetulnya, mukanya itu hanya terkena racun dan aku sanggup mengobati sampai sembuh dan lenyap warna hitamnya."

Dan bagaimana jawaban Hui Kauw? Dengan suara halus gadis ini berkata, "Tidak perlu. Memang sebaiknya begini, agar kami berdua masing-masing mempunyai cacat, lagi pula, mukaku boleh hitam atau putih, apa bedanya baginya? Aku tidak ingin kelihatan cantik oleh mata orang lain, kecuali hanya cantik untuk suamiku."

Akan tetapi ketika sepasang mempelai dipertemukan dan mereka berdua berkesempatan bicara berdua di dalam kamar pengantin, Hui Kauw terpaksa tidak dapat mempertahankan terus pendapatnya itu. Dengan suara berbisik mereka bercakap-cakap. Begini…..

"Hui Kauw, kau harus membiarkan aku mengobati mukamu."

"Aku tidak ingin mukaku putih. Aku tidak ingin memamerkan kecantikan pada orang lain kecuali kepadamu."

"Hushh, bukan untuk pamer, tetapi kau ingat, ibunya bermuka hitam, anaknya pun akan bermuka hitam. Apa kau suka bila kelak melihat anakmu mukanya menjadi hitam seperti pantat kuali?"

"Ihhhhh, ceriwis kau, tak tahu malu...!"

Akan tetapi akhirnya ia tidak berani mencegah suaminya mengobati mukanya sehingga pulih menjadi putih bersih dan membuat dia tampak cantik seperti bidadari, karena tentu saja dia takut kalau-kalau betul seperti kata suaminya bahwa kelak muka anaknya akan menjadi hitam!

Tiga bulan kemudian Kun Hong dan isterinya pergi ke Liong-thouw-san di mana mereka kemudian tinggal. Di situ pula Yo Wan atau A Wan putera janda Yo, dididik sebagai murid. Sin-eng-cu Lui Bok bersama rajawali emas sudah pergi lagi melakukan perantauan yang tiada tujuan tertentu.

Bagaimana dengan Tan Loan Ki? Gadis lincah jenaka yang kehilangan orang tuanya akan tetapi sebagai penggantinya mendapatkan jodohnya, Nagai Ici jagoan samurai Jepang itu, ikut dengan suaminya ke Jepang. Tempat tinggal warisan ayahnya masih ia pertahankan. Kadang kala ia bersama suaminya menyeberangi lautan untuk tinggal selama beberapa bulan atau tahun di tempat lama. Seperti juga Kun Hong, Loan Ki dan suaminya hidup bahagia.

Bun Wan putera Kun-lun-pai yang ternyata adalah seorang kepercayaan Raja Muda Yung Lo, mendapat penghargaan dan diberi kedudukan sebagai panglima muda. Orang gagah yang mengorbankan sebelah matanya ini juga mengawini Hui Siang dan hidup mulia dan megah di kota raja utara.

Tan Beng San ketua Thai-san-pai, setelah menjemput puterinya di Liong-thouw-san dan menghaturkan terima kasih kepada Sin-eng-cu Lui Bok, lalu kembali ke Thai-san-pai yang sudah dirusak oleh orang-orang jahat. Suami isteri ini sangat bahagia karena Kun Hong mendapat seorang jodoh yang baik sebagai pengganti puteri mereka dan mereka amat berterima kasih karena biar pun sudah buta, ternyata Kun Hong selalu membela mereka.

Keadilan Tuhan selalu akan mendatangkan rahmat serta keselamatan jiwa raga bagi orang-orang yang menjunjung tinggi dan melaksanakan kebenaran dalam hidupnya, dan selalu mendatangkan hukum dan kehancuran bagi mereka yang menyeleweng dari pada kebenaran serta mengabdi kepada nafsu dan kesenangan pribadi, menyengsarakan dan menindas orang lain demi kepentingan diri sendiri.

Wahai kasih, aku di sini.....


T A M A T



>>>>   JAKA LOLA   <<<<
(Bagian Ke-4 Serial RAJA PEDANG)


Pilih JilidT A M A T
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner