PENDEKAR BODOH : JILID-23


Akan tetapi, ketika ia memandang, ia menjadi terkejut sekali oleh karena dalam kekalutan itu, Ang I Niocu sudah mendahuluinya dan telah melempar perahu kecil yang tadi berada di atas perahu kemudian mendayungnya sekuat tenaga menuju ke pulau yang bukitnya bersinar-sinar itu!

“Niocu, tunggu!” teriak Cin Hai.

Akan tetapi Ang I Niocu melambaikan tangan padanya sambil menjawab, “Jangan, Hai-ji. Biar aku saja yang menyusul, jangan kita berdua terancam bahaya bersama. Kau tunggu saja, aku pasti akan membawa Lin Lin kepadamu!” Setelah berkata demikian Ang I Niocu mendayung makin cepat!

Cin Hai bingung sekali dan ia cepat melihat ke bawah oleh karena teringat bahwa semua pendeta Sakya Buddha tadi datang dengan perahu-perahu kecil. Akan tetapi alangkah kagetnya ketika ia mendapat kenyataan bahwa kini tak sebuah pun perahu kecil nampak di situ, dan perahu-perahu ini sudah dipukul hancur dan tenggelam oleh Hek Pek Mo-ko dan Kwee An ketika ketiganya datang dan melompat ke atas!

Dalam kebingungannya, dan karena keadaan di situ makin gelap sehingga sukar mencari perahu kecil yang dapat membawanya ke Pulau Kim-san-to, Cin Hai lalu berlaku nekad dan mengayun dirinya ke laut! Ia mengambil keputusan bendak berenang ke arah pulau yang tak seberapa jauh itu! Ia tidak rela kalau sampai Ang I Niocu berkorban seorang diri dalam usaha menolong Lin Lin, sedangkan dia sendiri harus enak-enak menunggu!

Sementara itu, di dalam kegembiraan mereka mengamuk serta membasmi para pendeta Sakya Buddha itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko tidak mempedulikan lagi hal-hal lain dan sama sekali tidak melihat Cin Hai dan Ang I Niocu. Sedangkan Kwee An yang melihat mereka, tak mengerti maksud mereka itu dan ia pun sedang dikeroyok oleh banyak lawan sehingga tidak mendapat kesempatan bertanya lagi.

Amukan Hek Mo-ko serta Pek Mo-ko hebat sekali, bagaikan sepasang naga yang haus darah. Terutama sekali Pek Mo-ko yang masih menderita duka akibat kematian puterinya, kini mengamuk dan merupakan seorang iblis tulen! Baik Hek Mo-ko mau pun Pek Mo-ko tak memiliki alasan untuk memusuhi pendeta-pendeta baju merah ini. Mereka bertempur hanya atas permintaan Kwee An yang melihat Cin Hai dan Ang I Niocu dikeroyok!

Kedua iblis ini memang suka sekali bertempur, dan asalkan mereka bisa bertempur serta membunuh banyak orang, tidak peduli lagi apa alasannya, mereka sudah cukup merasa senang dan puas! Inilah sifat aneh yang membuat kedua orang ini disebut Iblis Putih dan Iblis Hitam!

Sedangkan Kwee An yang juga tak mengerti sebab-sebab pertempuran, hanya bertindak untuk menolong kedua orang kawannya itu. Kini melihat kedua orang itu lari ke laut, dia menjadi menyesal akan tetapi tidak berdaya untuk mencegah kedua iblis itu mengamuk dan melakukan pembunuhan besar-besaran.

Tak lama kemudian, habislah ketiga puluh enam orang pendeta Sakya Buddha ini berikut Pangeran Vayami terbunuh mati semua oleh Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko! Sambil tertawa bergelak-gelak kedua iblis ini lalu menendangi mayat-mayat itu ke dalam laut.

Pangeran Vayami yang bernasib malang itu sampai tidak mengetahui bagaimana hasil dari perintahnya kepada anak buahnya untuk mencari emas itu! Kalau saja ia tahu bahwa anak buahnya tidak mendapatkan emas sepotong pun, jika dia masih hidup pun tentu dia akan jatuh binasa karena kecewa dan menyesal!

Anak buahnya ternyata tak berhasil mendapatkan sedikit pun emas di pulau itu, biar pun sudah berhari-hari mereka mencari-cari, karena di pulau itu tidak terdapat emas sepotong kecil pun! Akan tetapi, mereka mentaati perintah Pangeran Vayami dan ketika melihat peperangan hebat yang terjadi antara barisan Turki melawan barisan dari kaisar, mereka lalu membakar minyak yang memenuhi danau kecil di atas bukit itu! Danau itu kini mulai terbakar dan bernyala-nyala hebat, akan tetapi hal ini masih belum diketahui oleh kedua fihak yang mabok perang…..

********************

Cin Hai mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk dapat berenang secepat mungkin, akan tetapi di dalam air dia tidak seleluasa seperti di darat di mana dia boleh mempergunakan ginkang-nya untuk bergerak cepat. Tidak saja kepandaian renangnya memang kurang sempurna, akan tetapi air laut itu berombak dan dia tidak kuat melawan ombak air sehingga tubuhnya hanya maju perlahan saja dan sebentar juga perahu yang dinaiki Ang I Niocu telah jauh meninggalkannya.

Keadaan di atas permukaan laut itu lebih gelap lagi. Satu-satunya petunjuk jalan bagi Cin Hai adalah cahaya terang yang memancar keluar dari Bukit Kim-san-to itu.

Ia masih bergulat dengan ombak laut ketika Ang I Niocu sudah lama mendarat dan gadis ini tanpa mempedulikan mereka yang berperang mati-matian, segera berlari naik ke atas bukit untuk mencari Lin Lin. Ketika dia naik semakin tinggi, sungguh luar biasa, karena cahaya terang itu semakin menghilang dan keadaan di atas bukit sunyi sekali! Bahkan di atas bukit itu tidak terlihat pohon sama sekali.

Ang I Niocu berseru keras memanggil, “Lin Lin…!”

Suaranya yang dikerahkan dengan tenaga khikang ini terdengar bergema nyaring sekali, bahkan terdengar lapat-lapat oleh Cin Hai yang masih berenang di laut!

“Niocu...!” Cin Hai berseru memanggil karena ia mengenal suara Ang I Niocu.

Hatinya bingung dan cemas sekali. Akan tetapi, biar pun ia mengerahkan khikang-nya, di dalam air itu suaranya tak terdengar jelas dan menjadi kacau oleh bunyi riak ombak yang menggelora.

“Lin Lin...!” terdengar lagi teriakan Ang I Niocu dan suara ini membangunkan semangat Cin Hai yang lalu mengerahkan tenaganya sehingga ia dapat maju lebih cepat.

Ang I Niocu terus berlari ke atas sambil memanggil nama Lin Lin. Ia telah berjanji kepada Cin Hai untuk menemukan gadis kekasih pemuda itu, maka ia bertekad tak akan kembali sebelum mendapatkan Lin Lin.

Ketika Ang I Niocu tiba di sebuah puncak yang tinggi, tiba-tiba ia memandang ke bawah. Kedua matanya langsung terbelalak dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi matanya oleh karena tiba-tiba matanya menjadi silau.

Di bawah, tidak jauh dari situ dia melihat pemandangan yang dahsyat dan menggetarkan sanubarinya. Di bawah puncak itu ia melihat api sedang berkobar-kobar besar sekali dan bernyala-nyala seolah-olah neraka sendiri yang terbuka di hadapan kakinya! Inilah danau penuh minyak tanah yang dibakar oleh kaki tangan Pangeran Vayami!

Dengan hati penuh kengerian dan cemas, Ang I Niocu berteriak lagi, “Lin Lin…! Lin Lin…! Di mana kau…??”

Akan tetapi suara teriakannya yang amat keras ini seakan-akan hanya menambah besar berkobarnya api yang membakar seluruh danau itu! Ang I Niocu dengan mata terbelalak memandang ke arah api dan tiba-tiba ia melihat seolah-olah bayangan Pangeran Vayami berdiri di tengah-tengah api sambil tersenyum-senyum serta melambai-lambaikan tangan kepadanya!

Ang I Niocu menggigil dengan penuh kengerian dan mukanya penuh keringat. Dia cepat menggosok-gosok kedua matanya, akan tetapi bayangan Pangeran Vayami makin jelas saja. Sambil berseru ngeri dan takut, Ang I Niocu lalu berlarian ke sana ke mari sambil memekik-mekik memanggil nama Lin Lin,

“Lin Lin...! Lin Lin...! Keluarlah, Lin Lin. Hai-ji menunggu kau...!”

Namun, sampai serak suaranya memanggil-manggil dengan kerasnya sambil berlari-lari menubruk sana menubruk sini, akan tetapi yang dipanggilnya tidak juga menjawab atau muncul.

Nyala api di danau yang membesar dan membubung tinggi itu terlihat juga oleh Hai Kong Hosiang dan Kiam Ki Sianjin. Maka Hai Kong Hosiang segera menyerang semakin keras kepada Balutin sambil berteriak minta supaya supek-nya membantu.

Kiam Ki Sianjin lalu melompat maju dan menyerang Balutin dengan kebutan ujung lengan bajunya yang lebar. Balutin terkejut sekali oleh karena merasa betapa angin sambaran ujung baju itu keras dan luar biasa! Dia mencoba berkelit, akan tetapi serangan susulan dari Kiam Ki Sianjin membuatnya terhuyung-huyung ke belakang, dan pada saat itu pula tongkat ular Hai Kong Hosiang tepat menusuk jalan darah yang ada di lehernya. Sambil mengeluarkan teriakan keras, Balutin roboh dan tewas!

Kiam Ki Sianjin lalu mengempit tubuh Hai Kong Hosiang dan dengan lari cepat bagaikan terbang, kakek gagu ini cepat meninggalkan tempat pertempuran menuju ke pantai dan keduanya lalu melarikan diri di atas sebuah perahu!

Cin Hai juga melihat membubungnya api yang menjilat-jilat langit dan seolah-olah hendak membakar awan-awan di atas itu. Dia semakin bingung dan gelisah, lalu berteriak-teriak sambil berenang cepat-cepat.

“Niocu...! Lin Lin...!” Akan tetapi lagi-lagi suaranya tenggelam ditelan suara ombak yang menderu.

Pada waktu itu, terdengar ledakan yang kerasnya sampai menggetarkan tubuh Cin Hai yang sedang berenang di air! Pemuda ini melihat betapa api yang berkobar di atas bukit itu mendadak saja pecah dan pulau itu dalam sekejap mata menjadi terang oleh karena sudah terbakar menjadi lautan api! Tepat sebagaimana ramalan Pangeran Vayami, pulau itu berubah menjadi neraka!

Cin Hai membelalakkan matanya dan pada saat setelah suara menggelegar itu lenyap, ia masih mendengar suara Ang I Niocu lapat-lapat.

“Lin Lin... Lin Lin... Hai-ji...!”

Cin Hai merasa seakan-akan jantungnya berhenti berdetik dan tenggorokannya seakan-akan tercekik oleh sesuatu! Sebagai akibat dari pada letusan dahsyat itu, tiba-tiba ombak besar datang menggulung dirinya dan tubuhnya terlempar ke atas, lalu diterima lagi oleh ombak dan dibawa hanyut jauh kembali ke tempat semula!

Cin Hai mencoba berseru lagi. “Niocu... Lin Lin...!”

Akan tetapi suaranya tak dapat keluar dari kerongkongannya. Ia merasa betapa tubuhnya menjadi lemas dan tidak kuat berenang pula! Perlahan-lahan tubuhnya tenggelam, akan tetapi tiba-tiba ia mendengar suara bisikan.

“Hai-ji... kuatkanlah hatimu... Lin Lin menanti-nantimu...”

Cin Hai terkejut. Inilah suara Ang I Niocu! Cepat ia mengerahkan tenaga dan dapat timbul lagi ke permukaan air. Dia memandang ke sana ke mari mencari-cari, akan tetapi yang nampak hanya ombak dengan kepala ombak keputih-putihan yang menyambar kembali hingga ia terombang-ambing dan menjadi permainan ombak. Kembali tubuhnya menjadi lemas dan ketika dia sudah merasa putus asa tiba-tiba dia melihat bayangan wajah Ang I Niocu di dalam air dan bibir bayangan gadis itu bergerak-gerak dalam bisikan,

“Hai-ji... kuatkanlah hatimu... kuatkanlah, aku mencari Lin Lin untukmu...”

Dengan tenaga terakhir Cin Hai berenang lagi dan tiba-tiba tangannya menyentuh benda keras yang ternyata adalah sebuah perahu kecil yang terbalik. Dia segera mengangkat perahu itu dan membalikkannya, ternyata itu adalah perahunya yang siang tadi dia naiki bersama Ang I Niocu dan yang sudah dilarikan oleh Si Hwesio dan Si Tosu, Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu!

Agaknya perahu itu terpukul ombak lantas terguling, dan entah bagaimana nasib kedua pendeta itu! Dengan sekuat tenaga Cin Hai mengangkat tubuhnya ke dalam perahu dan akhirnya jatuh pingsan di dalam perahu kecil yang masih terombang-ambing oleh ombak besar itu.

Ternyata bahwa oleh karena pulau itu mengandung minyak yang terbakar dan meletus, maka minyak yang telah menjadi api itu lalu membakar seluruh pulau, bahkan kini minyak yang bernyala-nyala terbawa oleh air sampai di mana-mana hingga seakan-akan laut itu telah terbakar! Daya tekan letusan hebat itu telah menimbulkan gelombang hebat yang susul menyusul dengan dahsyatnya.

Seluruh benda, berjiwa mau pun tidak, yang berada di atas pulau itu binasa dan terbakar habis. Jangankan makhluk tanpa sayap yang tak dapat melarikan diri, sedangkan burung-burung yang berada di atas pohon pun tak dapat menghindarkan diri dari bencana sebab sebelum mereka terbang cukup tinggi, sudah terpukul oleh letusan itu dan runtuh ke atas tanah untuk menjadi korban api yang mengamuk hebat.

Perahu kecil yang ditumpangi Cin Hai terdampar ombak hingga kembali ke pantai daratan Tiongkok. Ketika Cin Hai siuman dari pingsannya, dia merasa kepalanya masih pening. Pemuda itu bangkit perlahan dan ternyata dia sudah berada di dalam perahu kecil itu semalam penuh karena waktu itu telah menjelang pagi! Karena melihat bahwa dia berada dekat dengan pantai, maka Cin Hai lalu melompat turun ke air yang dangkal dan berlari cepat ke pantai.

Tiba-tiba ia mendengar suara luar biasa, teriakan yang dibarengi suara senjata beradu! Ia cepat berlari menuju ke arah suara itu dan menjadi kaget berbareng girang ketika melihat bahwa di sebelah kiri, yakni dekat pantai di mana air laut masih bergelombang memukul batu-batu karang, di situ terdapat dua orang yang sedang bertempur hebat!

Ketika dia sudah datang mendekat, maka yang bertempur itu adalah Hek Mo-ko melawan Pek Mo-ko. Inilah yang membuat dia kaget dan heran, sedangkan yang membuat hatinya memukul girang adalah ketika ia melihat bahwa di dekat tempat pertempuran itu, empat orang sedang berdiri sebagai penonton, yaitu bukan lain Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng!

Hati Cin Hai berdebar girang sekali karena melihat hadirnya Si Nelayan Cengeng di sana, karena bukankah Lin Lin bersama-sama dengan nelayan tua itu? Akan tetapi hatinya kecut dan cemas kembali, karena ia tidak melihat Lin Lin dan Ma Hoa berada di situ!

Cin Hai lalu berlari cepat menghampiri mereka dan tanpa mempedulikan orang lain mau pun yang sedang bertempur, dia lalu menghampiri Kong Hwat Tojin Si Nelayan Cengeng dan terus menjatuhkan diri berlutut sambil bertanya dengan suara tak sabar,

“Locianpwe, di mana adanya Lin Lin?”

Kedatangan pemuda ini sama sekali di luar dugaan Nelayan Cengeng dan yang lain-lain, maka mereka berempat lalu mengurung pemuda ini, hanya Pek Mo-ko dan Hek Mo-ko yang tidak ambil peduli dan terus bertempur dengan hebat dan mati-matian!

“Locianpwe, bagaimana dengan Lin Lin?” Cin Hai bertanya lagi dengan muka pucat dan tubuh menggigil karena terdorong oleh gelora hatinya yang penuh kecemasan.

“Ah, Cin Hai... engkau selamatkah...?” tanya Si Nelayan Cengeng dengan terharu sekali. Kemudian, ketika melihat keadaan pemuda itu yang sangat mengkhawatirkan, dia segera menyambung. “Lin Lin dan Ma Moa selamat, mereka berdua pergi dengan Yousuf!”

Mendengar betapa Lin Lin sudah selamat, tiba-tiba saja Cin Hai menangis tersedu-sedu, menggunakan kedua tangan menutupi mukanya dan setelah menjerit perlahan, “Lin Lin... ahh, Niocu...!” lalu pemuda itu jatuh pingsan lagi!

Semua orang sibuk sekali, terutama Kwee An yang terus memeluk tubuh kawannya itu dan memijat-mijat belakang kepala Cin Hai hingga tak lama kemudian pemuda ini sadar kembali dalam pelukan Kwee An. Melihat Kwee An, Cin Hai lalu membalas memeluk dan pemuda ini menangis lagi.

Seribu satu macam hal sudah berada di ujung lidah mereka hendak diceritakan atau pun ditanyakan kepada Cin Hai, akan tetapi kini mereka terganggu oleh pertempuran hebat di dekat mereka. Malah Cin Hai juga tak sempat menceritakan pengalamannya, dan sambil memandang ke arah dua iblis yang sedang bertempur itu, dia tak tahan pula untuk tidak menyatakan keheranannya dan bertanya kepada Kwee An,

“Mengapa mereka saling hantam sendiri?”

Dengan muka sedih Kwee An berkata kepadanya tanpa menjawab pertanyaan itu, “Cin Hai, hanya kau yang dapat menolong. Gunakanlah kepandaianmu dan cegahlah mereka saling membunuh.”

Cin Hai tidak mengerti akan maksud Kwee An, oleh karena ia tidak tahu hubungan Kwee An dengan Hek Mo-ko. Akan tetapi oleh karena dia percaya penuh kepada Kwee An, dia lalu bangkit berdiri dan mengumpulkan seluruh tenaganya yang telah lemas.

Akan tetapi ia terlambat. Pada saat itu, Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang bertempur sambil menggunakan pedang mereka yang luar biasa, sudah menggunakan serangan-serangan nekad dan pada suatu saat, keduanya menjerit ngeri dan terhuyung-huyung ke belakang.

Pek Mo-ko terus roboh binasa dengan dada terluka oleh pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini sendiri telah kena pukulan tangan kiri Pek Mo-ko yang tepat menghantam dadanya sehingga Pek Mo-ko mendapat luka dalam yang sangat hebat dan jantungnya terguncang.

Setelah melihat Pek Mo-ko roboh tak bernyawa, Hek Mo-ko yang masih dapat bergerak lalu merangkak menghampiri adik seperguruannya ini dan setelah tertawa bergelak-gelak ia lalu memeluk mayat Pek Mo-ko sambil menangis sedih sekali. Kemudian ia muntahkan darah dari mulutnya dan roboh pingsan di dekat mayat Pek Mo-ko.

Mengapa kedua iblis yang biasanya sehidup semati dan saling membela ini tiba-tiba bisa bertempur mati-matian dan saling membunuh di pantai itu, ditonton oleh Kwee An, Biauw Suthai, Pek I Toanio dan Si Nelayan Cengeng? Baiklah kita melihat keadaan di tempat itu sebelum Cin Hai terdampar ke pantai.

Setelah Kwee An serta kedua iblis itu mengamuk lalu membasmi Pangeran Vayami dan seluruh anak buahnya, mereka bertiga kemudian mengajukan perahu itu ke arah Pulau Kim-san-to. Akan tetapi di pulau itu, mereka melihat api berkobar hebat sehingga menjadi takut dan memutar arah perahu.

Tiba-tiba terjadi letusan hebat itu hingga perahu mereka yang besar menjadi permainan gelombang air laut dan terbawa ke pantai daratan Tiongkok kembali. Dengan pucat dan ketakutan ketiganya cepat melompat ke darat sambil memandang ke arah Pulau Emas yang menjadi neraka itu. Mereka bergidik, bahkan Hek Pek Mo-ko dua iblis yang berhati kejam dan tidak kenal takut, kini sesudah melihat pemandangan mengerikan itu, menjadi pucat dan merasa ngeri juga.

Terutama sekali Kwee An, oleh karena pemuda ini teringat akan Cin Hai dan Ang I Niocu yang telah disaksikan dengan kedua mata sendiri bahwa kedua orang itu tadi menuju ke Pulau Emas. Bagaimanakah nasib mereka?

Tanpa terasa pula Kwee An mengalirkan air mata karena ia tidak ragu-ragu lagi bahwa jiwa kedua orang itu pasti sukar ditolong dalam keadaan seperti itu. Siapakah orangnya yang kuasa menolong mereka yang berada di dekat neraka dan lautan api itu?

Menjelang fajar tiba-tiba ada sesosok bayangan orang melompat dari air ke dekat mereka dan ternyata bahwa bayangan orang ini adalah Si Nelayan Cengeng! Tepat pada saat itu, dari jurusan darat datang berlari dua orang yang gerakannya cepat sekali dan ketika telah dekat, kedua orang itu bukan lain adalah Biauw Suthai dan Pek I Toanio! Kwee An yang mengenal ketiga orang yang baru muncul pada waktu yang bersamaan ini segera berlari menghampiri dan berteriak memanggil.

Akan tetapi, Pek Mo-ko yang masih haus darah dan agaknya masih belum puas dengan pembunuhan-pembunuhan hebat yang dia lakukan bersama Hek Mo-ko di atas perahu Pangeran Vayami, sudah mendahului Kwee An dan tanpa bertanya apa-apa lagi dia lalu menyerang Si Nelayan Cengeng yang berada terdekat.

Nelayan Cengeng terkejut sekali ketika melihat dirinya diserang hebat oleh seorang tinggi besar yang berjubah putih! Akan tetapi Nelayan Cengeng bukanlah orang lemah, maka dengan mudah ia lalu berkelit dan balas menyerang sambil berseru,

“Ehh, iblis dari mana datang-datang menyerang orang? Apakah tiba-tiba kau kemasukan setan Pulau Kim-san-to?”

Akan tetapi, ketika melihat bahwa kakek yang muncul dari dalam air itu dengan mudah dapat mengelak dari seranganya, Pek Mo-ko menjadi marah sekali dan menyerang lebih hebat lagi.

“Pek-susiok, jangan menyerang dia! Dia adalah Kong Hwat Lojin Si Nelayan Cengeng!” Akan tetapi, Pek Mo-ko tidak mau pedulikan teriakan Kwee An bahkan menyerang makin hebat lagi.

Sementara itu, Biauw Suthai yang mendengar nama dua orang yang sedang bertempur itu disebut oleh Kwee An, tidak ragu lagi untuk memilih pihak. Dia sudah lama mendengar nama Nelayan Cengeng sebagai seorang tokoh persilatan golongan pendekar berbudi, sedangkan nama Pek Mo-ko sudah terkenal sebagai iblis jahat yang kejam. Maka, ketika melihat bahwa lambat laun Si Nelayan Cengeng terdesak hebat, Biauw Suthai segera melompat maju sambil mencabut keluar hudtim-nya dan berseru,

“Pek Mo-ko, jangan kau mengganggu orang di depanku!”

Pek Mo-ko tertawa pada saat melihat tokouw ini, oleh karena ia dapat mengenal wanita pendeta yang bermata satu dan beroman buruk ini.

“Biauw Suthai, kebetulan sekali aku sedang gembira! Marilah kau maju sekalian untuk menerima binasa!” Sambil berkata begini Pek Mo-ko lantas mencabut keluar pedangnya yang luar biasa itu dan menyerang dengan penuh semangat.

Biauw Suthai cepat menangkis dan Si Nelayan Cengeng yang mendengar nama Biauw Suthai, lalu berkata,

“Suthai, jangan kuatir, aku membantumu membasmi iblis ini,”

Lalu kakek nelayan yang gagah ini maju pula dengan tangan kosong melawan pedang Pek Mo-ko. Dia mengeluarkan pukulan-pukulan keras dan lihai dan meski pun bertangan kosong, namun kakek yang lihai ini tidak kurang berbahayanya.

Dikeroyok dua, Pek Mo-ko menjadi sibuk juga dan terdesak. Pengeroyoknya bukanlah orang-orang biasa dan adalah tokoh-tokoh tingkat tinggi, maka tidak heran apa bila Pek Mo-ko kehilangan kegarangannya menghadapi mereka ini.

Akan tetapi, tiba-tiba berkelebat bayangan hitam dan tahu-tahu Hek Mo-ko sudah masuk menyerbu ke tengah pertempuran, membantu Pek Mo-ko. Ilmu silat dua iblis ini memang merupakan kepandaian pasangan sehingga apa bila kedua iblis ini telah maju berbareng, maka kelihaian mereka menjadi berlipat-ganda. Sebentar saja Biauw Suthai dan Nelayan Cengeng terdesak hebat oleh kedua pedang Hek Mo-ko dan Pek Mo-ko yang luar biasa.

Ketika melihat gurunya berada dalam bahaya, Pek I Toanio tidak mau tinggal dan maju membantu. Namun apa artinya bantuan Pek I Toanio yang tingkatnya masih kalah jauh? Tetap saja sepasang iblis itu mendesak hebat sambil tertawa-tawa.

Kwee An menjadi sibuk sekali. Berkali-kali dia berteriak mencegah Hek Pek Mo-ko, akan tetapi suaranya tak dihiraukan oleh kedua iblis yang sedang bergembira itu, seperti biasa kalau mereka berkelahi dan dapat mendesak serta mempermainkan lawan! Kwee An tak dapat membiarkan dua iblis itu membunuh tiga orang ini, maka terpaksa ia lalu mencabut pedang dan ikut menyerbu membantu Biauw Suthai dan kawan-kawannya.

Pertempuran berjalan makin hebat. Akan tetapi ketika Hek Mo-ko melihat ‘anaknya’ maju membantu lawan, dia pun menjadi ragu-ragu dan tiba-tiba berteriak,

“Tahan dan mundur semua!” Suaranya menggeledek dan berpengaruh sekali sehingga semua orang menahan senjata masing-masing.

“Siauw-mo (Setan Cilik), mengapa kau membantu musuh?” Hek Mo-ko bertanya sambil memandang Kwee An dengan heran tapi suaranya penuh nada mencinta.

“Maaf, Ayah. Mereka ini adalah kawan-kawan baikku, bahkan Kong Hwat Locianpwe ini masih dapat pula disebut guruku sendiri. Ayah dan Pek-susiok tidak boleh membinasakan mereka!” kata Kwee An dengan gagah sambil menentang pandang mata ayah angkatnya.

Hek Mo-ko menghela napas kemudian berkata perlahan, “Kalau begitu biarlah aku tidak menyerang mereka lagi.”

Akan tetapi Pek Mo-ko tiba-tiba menjadi beringas dan marah sekali. Ia menuding dengan pedangnya ke arah Kwee An dan membentak. “Anjing tak kenal budi! Beginikah cara kau membalas kami? Bagaimana pun, hari ini aku harus mencium bau darah orang-orang ini!”

Sesudah berkata demikian, Pek Mo-ko maju menyerang lagi dengan hebat. Akan tetapi pedang Kwee An segera menangkis pedangnya dan anak muda ini berseru, '“Pek-susiok! Kebaikan mereka lebih dari pada kekejamanmu! Kalau kau tetap berkeras, terpaksa aku memberanikan diri melawanmu!”

Pek Mo-ko makin marah. “Bagus sekali! Aku akan membunuh kau lebih dahulu!”

Ia lalu mengirim serangan hebat dan ketika Kwee An menangkis, pemuda ini terkejut oleh karena tenaga Pek Mo-ko benar-benar hebat hingga tangkisan itu membuat ia terhuyung-huyung belakang. Pek Mo-ko memburu dan mengirim serangan hebat sehingga terpaksa Kwee An membuang diri ke belakang sambil terus bergulingan di atas tanah untuk dapat menghindarkan diri dari serangan maut.

“Ha-ha-ha! Bangsat rendah, kau hendak lari ke mana!” teriak Pek Mo-ko sambil memburu untuk memberi tusukan terakhir.

Akan tetapi pada saat itu Hek Mo-ko melompat maju dan menangkis pedang Pek Mo-ko sehingga terdengar suara keras dan kedua pedang itu mengeluarkan api! Baru sekali ini selama mereka hidup, pedang mereka ini saling beradu.

Pek Mo-ko memandang kepada Hek Mo-ko dengan mata terbelalak dan muka berubah merah, tanda bahwa dia merasa penasaran dan marah sekali, juga heran.

“Suheng, kau... kau... hendak melawan aku?” tanyanya gagap.

Hek Mo-ko memandang tajam. “Sute, kau tidak boleh turunkan tangan kepada anakku!”

“Apa? Dia bukan anakmu, dia adalah kawan musuh-musuh kita!” Pek Mo-ko membentak sambil menubruk lagi ke arah Kwee An yang telah bersiap sedia dan menangkis.

“Pek-sute! Jangan kau serang anakku!” teriak Hek Mo-ko dengan marah.

“Suheng, tinggal kau pilih. Kau akan membela aku atau membela binatang ini!” jawab Pek Mo-ko dengan melolotkan mata.

“Pikir saja sendiri olehmu! Anak dan Sute, mana lebih berat?”

Tiba-tiba Pek Mo-ko tertawa bergelak. “Anak? Ha-ha-ha, kau mabok, Suheng! Kau tidak punya anak! Ha-ha, kau tidak punya anak lagi! Anakmu telah mampus, seperti anakku!”

Kini mengertilah semua orang bahwa sebenarnya Pek Mo-ko yang kematian puterinya itu, merasa iri hati melihat Hek Mo-ko mengambil Kwee An sebagai anak angkat! Biauw Suthai, Pek I Toanio, dan Si Nelayan Cengeng memandang perdebatan ini dengan penuh perhatian dan tanpa terasa pula mereka berdiri saling mendekati, merupakan kelompok yang menonton pertentangan antara kedua iblis itu.

Mendengar ucapan adiknya itu, Hek Mo-ko menjadi marah bukan main. Karena itu ia lalu menggerak-gerakkan pedang di tangannya dan berkata tegas. “Siapa peduli ocehanmu? Pendeknya, kalau kau mengganggu Siauw Mo, kau harus dapat mengalahkan pedangku ini dulu!”

“Kau sudah bosan hidup!” Pek Mo-ko membentak dan menyerang dengan hebat.

Hek Mo-ko juga menggereng marah dan menangkis lalu balas menyerang. Demikianlah, dua saudara yang tadinya sehidup semati itu kemudian bertempur mati-matian sehingga mereka tidak menghiraukan kedatangan Cin Hai dan bahkan kemudian Pek Mo-ko mati di ujung pedang Hek Mo-ko, sedangkan Iblis Hitam ini juga terkena pukulan hebat dari Pek Mo-ko sehingga menderita luka dalam yang berbahaya dan roboh pingsan.

Melihat keadaan Hek Mo-ko, hati Kwee An yang merasa sayang karena berhutang budi, menjadi terharu sekali. Pemuda ini menubruk tubuh Hek Mo-ko dan mengangkat kepala iblis itu di pangkuannya sambil mengeluh,

“Ayah...”

Tentu saja Cin Hai dan lain-lainnya merasa heran sekali dan saling pandang dengan tak mengerti melihat kelakuan Kwee An itu!

Kwee An segera memeriksa keadaan Hek Mo-ko, lalu pemuda ini menengok pada Biauw Suthai yang pandai dalam hal pengobatan sambil berkata,

“Suthai, tolonglah kau obati dia ini!”

Biar pun hatinya meragu untuk memeriksa dan menolong Iblis Hitam yang terkenal jahat dan kejam itu, Biauw Suthai tidak menolak permintaan Kwee An. Ia lalu menghampiri dan memeriksa dada yang terpukul, akan tetapi ia lalu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berkata,

“Tak ada gunanya lagi. Jantungnya telah kena pukul dan terluka. Tidak ada obatnya bagi pukulan ini.” Ia lalu mengurut dan menotok dada Hek Mo-ko untuk mengurangi rasa sakit yang diderita oleh Iblis Hitam itu.

Tidak lama kemudian Hek Mo-ko membuka matanya. Ketika melihat bahwa dia berada di dalam pelukan Kwee An, dia tersenyum dan dari kedua matanya mengalir air mata!

“Bagus... bagus... kau benar-benar anakku yang kusayang, Siauw Mo! Aku... aku puas dapat mati dalam pelukan anakku...” Agaknya Hek Mo-ko telah menggunakan tenaganya yang terakhir untuk mengucapkan kata-kata ini, karena lehernya lalu tiba-tiba menjadi lemas dan dia pun menghembuskan napas terakhir.

Kwee An menahan isak tangis yang mendorong perasaannya dari dalam dada. Kemudian dengan hati sedih dan tak banyak mengeluarkan kata-kata dia lalu menggali lubang, dan dibantu oleh Cin Hai dan Si Nelayan Cengeng, mereka lalu menguburkan kedua jenazah sepasang iblis yang telah menggemparkan dunia kang-ouw untuk puluhan tahun lamanya itu.

Sesudah penguburan kedua jenazah itu selesai, barulah semua orang berkumpul untuk menuturkan riwayat serta perjalanan masing-masing. Sebelum menuturkan pengalaman dirinya, lebih dulu Cin Hai menengok ke arah Pulau Kim-san-to dengan pandangan sayu dan melihat betapa pulau itu masih tetap berkobar bagaikan api neraka mengamuk.

Dengan suara terputus-putus dan keharuan besar mempengaruhi lidahnya, dia kemudian menceritakan riwayatnya, semenjak berpisah dari Kwee An dalam pertempuran melawan Hai Kong Hosiang dulu sampai tertolong oleh Ang I Niocu dan bersama Ceng Tek Hwesio dan Ceng To Tosu mencari Pulau Emas. Ketika dia menceritakan tentang pertempuran Ang I Niocu dengan seekor burung Kim-tiauw, dia menghela napas dan berkata,

“Memang betul ramalan pendeta itu bahwa pertempuran dengan burung Rajawali Emas itu mendatangkan bencana besar. Niocu yang bertempur melawan burung itu sekarang tak ketahuan nasibnya di pulau yang berubah menjadi neraka, sedangkan kedua pendeta yang tertimpa kotoran burung itu pun agaknya telah kena bencana pula. Buktinya perahu mereka kudapatkan terbalik di lautan sedangkan mereka tidak kelihatan lagi!”

Semua orang merasa terharu dan kasihan sekali pada Ang I Niocu yang telah mencegah Cin Hai mendekati pulau untuk mencari Lin Lin, bahkan yang menggantikan pemuda itu menuju ke pulau yang berbahaya, padahal dia sudah mendengar dari Pangeran Vayami bahwa pulau itu hendak dibakar dan diledakkan!

Dara Baju Merah yang luar biasa itu ternyata sudah mengorbankan diri guna menolong dan membela Cin Hai dan Lin Lin. Sungguh perbuatan yang mulia sekali. Apa lagi bagi Cin Hai yang mengetahui apa yang terkandung dalam hati sanubari Dara Baju Merah itu terhadap dirinya.

Sesudah Cin Hai selesai menuturkan pengalamannya yang mengerikan, lalu tiba giliran Kwee An untuk menuturkan perjalanannya. Dia menceritakan betapa setelah ia terlempar ke dalam sungai lalu dirinya terbawa hanyut dan diserang oleh ratusan ekor buaya yang ganas dan kemudian jiwanya tertolong oleh Hek Mo-ko.

Kemudian ia diambil anak oleh Iblis Hitam itu dan diberi pelajaran silat, dan bersama Hek Pek Mo-ko lalu pergi mencari Pulau Emas hingga berhasil membantu Cin Hai dan Ang I Niocu yang dikeroyok di perahu Pangeran Vayami. Ia menuturkan betapa kedua iblis itu sudah membasmi seluruh anak buah Pangeran Vayami dan membinasakan pangeran itu sendiri dan betapa perahunya terdampar oleh gelombang besar ke pantai.

Setelah ia menuturkan semua pengalamannya, maka mengertilah semua orang mengapa Kwee An yang telah diakui sebagai anak dan diberi nama Siauw Mo atau Iblis Kecil oleh Pek Mo-ko itu begitu sayang kepada lblis Hitam ini. Dan hal ini pun dianggap wajar oleh semua pendengarnya, oleh karena memang demikianlah semestinya sifat seorang ksatria yang biar pun kejam dan jahat, namun masih diliputi hati sayang dan cinta suci terhadap seorang anak pungut.

Biauw Suthai dan Pek I Toanio yang mendapat giliran menuturkan pengalaman mereka, tidak dapat bercerita banyak. Mereka ini oleh karena mengkhawatirkan keadaan Ang I Niocu dan Lin Lin yang diam-diam pergi meninggalkan rumah tanpa memberi tahu, lalu menyusul.

Akan tetapi, walau pun sudah merantau berapa lama, mereka tak berhasil mendapatkan jejak dua orang gadis itu. Akhirnya mereka bertemu dengan orang-orang dusun di utara yang bicara tentang penyerbuan tentara Turki ke timur hingga hal yang aneh ini menarik hati Biauw Suthai dan dia pun mengajak muridnya untuk menyusul ke timur dan melihat apakah sebenarnya yang dikerjakan oleh barisan asing itu. Akhirnya mereka dapat pula menyusul ke pantai ini dan melihat Si Nelayan Cengeng bertempur melawan Pek Mo-ko dan membantu kakek nelayan yang gagah ini.

Sekarang tiba giliran Si Nelayan Cengeng untuk menuturkan riwayatnya yang didengar dengan penuh perhatian oleh Cin Hai, Kwee An, Biauw Suthai dan muridnya. Kong Hwat Lojin menghela napas berulang-ulang, kemudian ia mulai ceritanya yang panjang…..

Sebagaimana telah diketahui di bagian depan, setelah Nelayan Cengeng memperlihatkan kemahirannya di dalam air dan berhasil mengambil perahu Yousuf yang tenggelam dari dasar sungai, dia dan Yousuf dengan bantuan Ma Hoa dan Lin Lin segera memperbaiki perahu itu dan kemudian berangkat berlayar menuju ke laut.

Di sepanjang pelayaran mereka, Yousuf dapat menggembirakan hati Nelayan Cengeng, Lin Lin dan Ma Hoa dengan bermacam-macam cerita yang didongengkannya. Ternyata bahwa orang Turki ini telah memiliki banyak sekali pengalaman hidup dan sudah banyak melakukan perantauan-perantauan ke luar negeri. Ia bercerita tentang orang-orang yang tinggi besar seperti raksasa, berambut merah dan bermata biru, sehingga Lin Lin dan Ma Hoa menjadi ngeri dan takut.

“Apakah mereka itu suka makan orang?” Ma Hoa bertanya sambil menggeser duduknya mendekati Lin Lin oleh karena ketika itu telah malam dan kegelapan malam membuat dia membayangkan hal-hal yang mengerikan pada waktu mendengar cerita Yousuf tentang orang-orang aneh itu.

Mendengar pertanyaan ini, Yousuf lalu tertawa geli. “Ahh, tidak, mereka itu juga manusia seperti kita. Bahkan, mereka itu mempunyai ilmu kepandaian tinggi dan dapat membuat barang-barang yang aneh dan indah. Hanya saja, mereka itu bersikap kasar dan tidak tahu adat. Mereka tinggal di Barat.”

“Apakah yang disebut Dunia Barat?” tanya Lin Lin.

Pada waktu itu Tiongkok telah mengenal India yang di sebut dengan Dunia Barat, bahkan Agama Buddha datangnya juga dari India. Mendengar bahwa raksasa-raksasa berambut merah dan bermata biru itu berada di Barat, maka Lin Lin mengajukan pertanyaan itu.

“Bukan, mereka bahkan tinggal lebih jauh lagi dari Dunia Barat. Orang-orang di Dunia Barat memang tinggi besar akan tetapi kulit dan warna rambut mereka sama dengan kita. Mungkin banyak yang lebih hitam kulitnya kalau dibandingkan dengan kalian orang-orang Han. Akan tetapi adat istiadat mereka itu tak berbeda jauh dengan kita sendiri.”

Kemudian Yousuf menceritakan pula pengalaman-pengalamannya pada saat ia merantau jauh ke utara hingga ia menyebut-nyebut tentang bukit-bukit es yang dinginnya membuat ludah yang dikeluarkan dari mulut menjadi beku sebelum tiba di atas tanah! Pendeknya, banyak hal-hal aneh yang terjadi di luar Tiongkok yang bagi ketiga orang pendengarnya, jangan kata menyaksikan, bahkan mendengar pun belum pernah, diceritakan oleh Yousuf hingga ketiga orang itu menjadi tertarik dan senang sekali.

Juga perasaan mereka terhadap Yousuf yang peramah dan pandai membawa diri itu jadi makin berkesan baik. Setelah bergaul selama beberapa hari di atas perahu, kedua gadis itu harus mengakui bahwa Yousuf adalah seorang laki-laki yang sopan santun, pandai berkelakar dengan sopan, dan memiliki pribudi tinggi. Bahkan Nelayan Cengeng terpaksa harus melempar syakwasangka yang tadinya timbul di hatinya ketika bertemu dengan orang Turki ini.

“Dahulu kau berkata tentang Pulau Kim-san-to, maukah kau menceritakan tentang pulau itu? Kita sedang menuju ke sana, maka ada baiknya bagi kami bertiga untuk mengetahui serba cukup mengenai hal-ihwal pulau itu,” kata Nelayan Cengeng, dan Lin Lin serta Ma Hoa pun mendesak sambil mendengarkan.

Sesudah bergaul dengan ketiga orang Han ini, Yousuf juga mendapat kesan baik sekali dan ia mengagumi sepenuh hatinya sifat-sifat mereka yang gagah berani. Ia kini percaya bahwa di Tiongkok memang banyak sekali pendekar-pendekar atau orang-orang gagah yang pekerjaannya hanya menolong sesama manusia dan menjadi pelopor-pelopor serta penegak-penegak keadilan.

Terhadap Nelayan Cengeng dia merasa kagum sekali dan memandang penuh hormat seperti seorang saudara tua, sedangkan terhadap Ma Hoa dan Lin Lin, ia merasa sayang dan suka. Hatinya yang tadinya tertarik seperti tertariknya hati laki-laki terhadap seorang wanita, lambat laun berubah menjadi kasih sayang seorang tua terhadap anaknya atau seorang kakak terhadap adiknya.

Hal ini timbul dari kesadarannya yang tinggi dan tak mengijinkan hatinya untuk memaksa seorang gadis mencintainya, dan meski ia mencinta gadis itu dengan sungguh-sungguh, melihat sikap Lin Lin terhadapnya yang polos dan jujur bagai sikap seorang adik sendiri, maka nafsu-nafsu birahi yang tadinya mengotori kasih sayangnya terhadap gadis itu, kini menjadi luntur dan banyak mengurang.

Pada saat mendengar permintaan mereka untuk menceritakan perihal Pulau Kim-san-to, Yousuf merasa ragu-ragu. Akan tetapi, kemudian ia berkata,

“Cerita ini sekaligus membongkar rahasiaku dan keadaan diriku. Apakah hal ini tak akan menimbulkan kekecewaan kalian dan tidak akan membuat kalian membenciku? Sungguh tak enak kalau kita yang melakukan pelayaran seperahu dan setujuan ini akan memiliki perasaan tak suka dan benci satu kepada yang lain!”

Nelayan Cengeng tertawa. “Saudara Yo Se Fei! Kau sungguh-sungguh terlalu sungkan! Bila sekiranya hal ini tak dapat kau ceritakan kepada kami, janganlah kau ceritakan! Kami juga tidak begitu nekat untuk memaksamu, bukankah begitu, anak-anak?”

Akan tetapi Nelayan Cengeng menjadi tertegun ketika Ma Hoa dan Lin Lin dengan suara berbareng dan tegas berkata, “Ahh, Yo-sianseng (Tuan Yo) harus menceritakan tentang pulau itu kepada kita!”

Bahkan Lin Lin segera berkata lagi, “Apakah Yo-sianseng kurang percaya kepada kami sehingga masih menyimpan segala rahasia?”

Kalau Nelayan Cengeng tercengang, Yousuf tertawa terbahak-bahak dan ia lalu berkata, “Ha-ha, Kong Hwat Lojin yang masih mempunyai sikap sungkan-sungkan, bukan aku dan bukan pula kedua nona ini! Baiklah, aku akan menceritakan pengalamanku!” Kemudian setelah minum air teh yang dibuat oleh Lin Lin dan dihidangkan oleh Ma Hoa, orang Turki itu bercerita,

“Beberapa tahun yang lalu, aku dan dua orang kawanku berlayar di laut ini. Pada suatu malam, ketika kami melalui banyak pulau di pantai laut ini, tiba-tiba kami dikejutkan oleh pemandangan yang dahsyat dan aneh, dan yang sebentar lagi juga akan dapat kalian saksikan. Sebuah pulau di depan kami, yakni pulau yang disebut Pulau Gunung Emas, nampak bercahaya mengeluarkan sinar kuning emas yang menakjubkan. Kami bertiga merasa takut sekali karena pemandangan itu sungguh aneh sekali. Kami lalu berhenti berlayar dan malam itu kami tidak tidur, terus berdiri di perahu mengagumi keindahan pulau itu dari jauh. Pada keesokan harinya, kami mendayung perahu mendekati pulau itu kemudian mendarat. Akan tetapi, apa yang menyambut kami? Sungguh di luar dugaan! Ketika kami mendarat di pulau itu, dari belakang sebatang pohon, tiba-tiba saja keluarlah seekor harimau besar yang memiliki sebuah tanduk di tengah-tengah kepalanya! Harimau itu lari menerjang, kami terpaksa melawannya. Harus diketahui bahwa kedua kawanku itu pun memiliki kepandaian yang hanya berada sedikit di bawah kepandaianku, akan tetapi kami bertiga masih tak dapat mengalahkan harimau itu! Dan dalam saat yang berbahaya itu tiba-tiba dari atas menyambar turun seekor burung rajawali berbulu kuning emas ke arah kami kemudian menyerang dengan tidak kalah hebatnya! Kami menjadi sibuk dan terdesak hebat, bahkan seorang kawan kami sudah kena cakar harimau itu dan dipukul dengan sayap oleh Kim-tiauw hingga keadaan kami makin berbahaya! Akan tetapi, ketika kami sudah berada di pinggir jurang maut, tiba-tiba datanglah penolong yang tidak kalah anehnya. Penolong ini adalah seekor burung merak yang besar sekali dan bulunya hijau bercampur kuning keemasan yang indah sekali. Merak ini cepat menyambar turun sambil mengeluarkan bunyi nyaring dan aneh! Dan begitu melihat merak ajaib ini, Rajawali Emas dan Harimau Bertanduk itu lalu mengeluarkan keluhan panjang kemudian berlarian pergi seolah-olah dalam ketakutan hebat!”

“Merak ajaib itu lalu turun dan sambil mengembangkan semua sayap dan ekornya yang indah, ia berjalan hilir mudik seolah-olah membanggakan keunggulan dan kecantikannya. Aku merasa sangat tertarik dan timbul keinginanku hendak menangkap dan memelihara Sin-kong-ciak (Merak Sakti) itu, akan tetapi tiba-tiba dia mengibaskan sayap kirinya dan aku jatuh terpelanting! Angin kibasan sayapnya ini mempunyai tenaga yang luar biasa besarnya hingga aku mengerti mengapa Harimau Bertanduk dan Rajawali Emas itu takut menghadapinya. Ternyata merak itu bukanlah binatang sembarangan dan mempunyai kesaktian luar biasa!”

Nelayan Cengeng menjadi kagum sekali mendengar cerita tentang merak ajaib ini, maka dia lalu berkata, “Aku pernah mendengar tentang burung merak yang datang dari negeri sebelah selatan Tiongkok, dan kabarnya merak di negeri itu pun sangat cantik dan kuat, akan tetapi belum pernah aku mendengar tentang burung merak sehebat seperti yang kau ceritakan itu.”

Juga Lin Lin dan Ma Hoa merasa kagum sekali, dan Lin Lin segera mendesak supaya Yousuf suka melanjutkan penuturannya.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner