PENDEKAR REMAJA : JILID-39


Sebagaimana telah dikuatirkan oleh Lo Sian, ternyata benar saja kedatangan Ang I Niocu ini sudah diduga lebih dulu oleh Ban Sai Cinjin, dan ketika pendekar wanita itu sampai di depan kuil yang terang sekali karena di sana dipasang banyak penerangan, dari dalam muncullah Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, Hailun Thai-lek Sam-kui, Coa-ong Lojin ketua dari Coa-tung Kai-pang, kedua saudara Can jago-jago dari Shan-tung yakni Can Po Gan dan Can Po Tin, dan masih ada tiga orang hwesio gundul pula yang bukan lain adalah tiga orang tokoh dari Bu-tong-san!

Melihat asap hitam yang mengepul dari huncwe Ban Sai Cinjin, Lo Sian segera maklum bahwa kakek mewah itu telah bersiap sedia untuk bertempur dan ini membuktikan bahwa dia sudah menanti kedatangan Ang I Niocu!

Akan tetapi Ang I Niocu tidak merasa takut seujung rambut pun, bahkan kemudian dia menudingkan pedang yang bersinar-sinar ke arah dada Ban Sai Cinjin.

“Apakah engkau yang bernama Ban Sai Cinjin, orang yang telah membunuh suamiku Lie Kong Sian?”

Mendengar pertanyaan yang sifatnya langsung ini, Ban Sai Cinjin tersenyum mengejek untuk menghilangkan kegelisahannya melihat wanita yang sangat hebat ini. “Ang I Niocu, suamimu tewas ketika mengadakan pibu dengan kami, mengapa kau harus penasaran? Sebaliknya kaulah yang sudah melakukan perbuatan keterlaluan sekali, yaitu membakar gedungku dan membunuh keluargaku. Patutkah itu dilakukan oleh seorang gagah?”

“Bangsat terkutuk! Mana suamiku bisa kalah olehmu kalau benar-benar bertempur dalam pibu yang adil? Kau tentu sudah melakukan kecurangan seperti yang biasa kau lakukan. Kau mengira aku belum mendengar namamu yang buruk dan kotor? Majulah kau, hendak kulihat bagaimana kau sampai mampu mengalahkan suamiku!” Sambil berkata demikian dengan mata menyala-nyala Ang I Niocu kemudian melompat mundur dan melambaikan pedangnya pada Ban Sai Cinjin dengan sikap menantang sekali.

Hati Ban Sai Cinjin menjadi gentar juga melihat pedang Liong-cu-kiam, yakni pedang ke dua dari sepasang pedang Liong-cu Siang-kiam yang dahulu ditemukan oleh Cin Hai dan Ang I Niocu. Pedang itu mencorong dan mengeluarkan sinar putih menyilaukan. Cahaya lampu yang banyak itu membuat pedang itu semakin berkilauan lagi. Oleh karena itu, dia merasa ragu-ragu untuk melayani tantangan Ang I Niocu.

Mendadak terdengar suara ketawa, ternyata yang ketawa itu adalah Hok Ti Hwesio yang baru saja keluar dari kuil diikuti oleh beberapa orang hwesio muda yang menjadi kawan-kawannya. Memang akhir-akhir ini di dalam kuil itu telah berkumpul beberapa belas orang hwesio muda yang diaku menjadi murid Hok Ti Hwesio, akan tetapi yang sesungguhnya merupakan sekumpulan penjahat cabul yang berkedok kepala gundul dan jubah pendeta!

“Lihat, orang macam itu hendak melawan Suhu!” Hok Ti Hwesio berkata kepada kawan-kawannya atau boleh juga disebut murid-muridnya yang juga pada tertawa menyeringai.

Melihat rombongan hwesio muda ini, teringatlah Ang I Niocu akan cerita Lo Sian tentang seorang hwesio yang menjadi murid Ban Sai Cinjin, maka dengan suara dingin sekali dia bertanya sambil memandang ke arah mereka,

“Aku pernah mendengar nama Hok Ti Hwesio, entah siapakah di antara kalian bernama begitu?”

Hok Ti Hwesio memperkeras suara tawanya, lalu berkata, “Ang I Niocu, kau disohorkan orang sebagai seorang pendekar wanita baju merah yang cantik bagai bidadari. Sekarang kau datang menanyakan Hok Ti Hwesio, apakah kau jatuh hati kepadaku? Hemm, akulah yang tidak mau, Niocu, karena biar pun bajumu masih merah, akan tetapi mukamu sudah amat tua, terlalu tua...”

Belum sempat Hok Ti Hwesio menutup mulutnya, tampaklah berkelebat bayangan merah yang didahului oleh sinar putih menyambar ke arah Hok Ti Hwesio.

“Awas...!” teriak Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin berbareng.

Dengan kaget sekali Hok Ti Hwesio masih sempat menjatuhkan diri ke belakang hingga terhindar dari sambaran pedang Liong-cu-kiam di tangan Ang I Niocu. Dengan gerak tipu Trenggiling Menggelinding dari Puncak, Hok Ti Hwesio langsung bergulingan menjauhkan diri. Akan tetapi tanpa dapat mengeluarkan kata-kata saking marahnya, Ang I Niocu terus mengejarnya!

Dua orang hwesio murid Hok Ti Hwesio mencoba menghadang, akan tetapi begitu Liong-cu-kiam menyambar, terbabat putuslah leher kedua orang hwesio sial ini! Hwesio-hwesio muda yang lain menjadi ngeri dan mundur, ada pun Hok Ti Hwesio telah melompat berdiri.

Hwesio ini telah mempunyai kepandaian tinggi, maka dia tidak takut. Dia mencabut pisau terbangnya dan begitu Ang I Niocu menyerang, dia cepat menyambut dengan pisaunya yang lihai. Akan tetapi terdengar suara nyaring dan pisaunya telah terbabat putus!

Hok Ti Hwesio membaca mantera dan matanya terbelalak lebar memandang wajah Ang I Niocu, lalu membentak sambil mendorong dengan kedua tangannya ke arah dada Ang I Niocu. Inilah ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang dipergunakan untuk mendorong roboh lawan.

Ang I Niocu merasa ada tenaga yang mukjijat menyambarnya dari arah depan. Cepat dia menggerakkan lengan kirinya, maka mengepullah uap putih menolak pengaruh jahat itu ketika dia mengerahkan Ilmu Silat Pek-in Hoat-sut yang dia pelajari dari Bu Pun Su.

“Suhu... tolong...!” Akhirnya Hok Ti Hwesio berseru minta tolong karena dia benar-benar telah terdesak hebat.

Memang semenjak tadi Ban Sai Cinjin sudah hendak menolongnya dan sekarang hwesio mewah ini lalu mengayun huncwe menghantam kepala Ang I Niocu dari belakang! Ang I Niocu yang sudah menjadi marah sekali lalu mengayun pedangnya ke belakang kepala tanpa menengok lagi sambil mengirim pukulan Pek-in Hoat-sut dengan tangan kirinya ke arah Hok Ti Hwesio.

Sungguh gerakan yang sangat luar biasa sekali, karena sambil menangkis serangan dari belakang tanpa menengok ia masih dapat mengirim pukulan maut ke depan. Kalau orang tidak mempunyai tubuh yang lemas lincah serta tidak memiliki Ilmu Silat Sian-li Utauw yang mahir, tidak mungkin dapat melakukan gerakan ini.

“Traaang…!”

Ujung huncwe itu, yakni pada bagian kepalanya yang mengeluarkan asap hitam, terbabat rompal oleh pedang Liong-cu-kiam sehingga Ban Sai Cinjin lantas melompat ke belakang dengan kaget.

Ada pun Hok Ti Hwesio yang mengandalkan ilmu kebalnya yang lihai, hanya miringkan tubuhnya sambil membalas menyerang dengan pukulan tangan kiri. Akan tetapi bukan main kagetnya ketika dia merasa betapa dadanya yang sudah miring itu tetap terdorong oleh tenaga raksasa dari pukulan lawan ini. Ia tak dapat mempertahankan kedua kakinya lagi dan terlemparlah dia ke belakang!

Akan tetapi, dengan heran dan makin marah Ang I Niocu melihat betapa hwesio muda itu sama sekali tidak kelihatan sakit dan telah berdiri kembali. Namun Ang I Niocu tidak mau memberi kesempatan lagi kepadanya dan cepat pedangnya digerakkan secara luar biasa sekali ke arah tubuh hwesio itu.

Hok Ti Hwesio masih berusaha mengelak dan melompat, akan tetapi sinar pedang itu terus mengurungnya dari segenap penjuru sehingga tidak ada jalan keluar lagi baginya. Sesudah tiga kali dia berhasil mengelak, pada kali ke empat Liong-cu-kiam menembus pahanya sehingga dia roboh terguling bermandikan darah dan berkaok-kaok seperti babi disembelih! Akan tetapi sekejap kemudian, mulutnya tak dapat mengeluarkan suara lagi karena pedang Liong-cu-kiam secepat kilat telah menembus jantungnya!

Bukan main marahnya Ban Sai Cinjin melihat muridnya yang tersayang sudah binasa di tangan Ang I Niocu. Maka, sambil berseru bagaikan guntur, dia menyerang lagi dengan huncwe-nya yang ujungnya telah gompal. Ada pun Wi Kong Siansu juga merasa sangat penasaran melihat sepak terjang Ang I Niocu yang tidak mengenal ampun.

“Ang I Niocu, sepak terjangmu bukan seperti seorang gagah, tapi lebih pantas seperti iblis wanita!” seru Wi Kong Siansu sambil melompat maju karena ia maklum bahwa sute-nya, Ban Sai Cinjin, agaknya bukan lawan wanita gagah ini.

“Wi Kong, tua bangka tak tahu malu! Kau juga sudah mengotorkan tanganmu dan turut membantu sute-mu membunuh suamiku. Tua bangka sesat, majulah kau untuk menerima hukuman dari Ang I Niocu!” seru Ang I Niocu dengan marah sekali.

Muka Wi Kong Siansu menjadi merah dan dia cepat mencabut pedangnya Hek-kwi-kiam (Pedang Setan Hitam) maka sebentar saja Ang I Niocu telah dikeroyok dua oleh Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.

Tingkat kepandaian Wi Kong Siansu memang lebih tinggi dari pada Ban Sai Cinjin dan hal ini diketahui dengan cepat oleh Ang I Niocu. Gerakan pedang pada tangan Wi Kong Siansu selain sangat cepat dan berbahaya, juga tenaga lweekang dari tosu ini pun jauh lebih kuat dari pada Ban Sai Cinjin.

Akan tetapi, kalau saja Ang I Niocu hanya menghadapi Wi Kong Siansu seorang, dia tak akan kalah dan agaknya sulit bagi tosu itu untuk dapat mengimbangi permainan pedang yang luar biasa hebatnya dari pendekar wanita baju merah itu. Namun, dengan adanya Ban Sai Cinjin yang memainkan huncwe-nya secara hebat pula, Ang I Niocu menghadapi lawan yang amat tangguh.

Betapa pun juga, Ang I Niocu pun tidak memperlihatkan perasaan jeri, bahkan karena dia sedang marah dan sakit hati sekali, maka gerakan pedangnya adalah gerakan dari orang yang nekat dan hendak mengadu jiwa, maka masih kelihatan betapa Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin yang masih menyayangi jiwa sendiri itu selalu terdesak mundur!

Tentu saja hal ini mengagetkan orang-orang gagah yang berada di sana. Orang yang masih mampu mendesak mundur Wi Kong Siansu beserta Ban Sai Cinjin, sukar dicari keduanya di dunia ini!

Diam-diam Hailun Thai-lek Sam-kui menjadi amat gembira. Tangan mereka telah merasa gatal-gatal karena makin tangguh lawan, makin besar keinginan mereka untuk mencoba kepandaiannya.

Akhirnya, tiga orang kakek ini tak dapat menahan keinginannya lagi dan sambil berseru keras mereka lalu menyerbu ke dalam kalangan pertempuran, sehingga kini Ang I Niocu dikeroyok lima!

Melihat hal ini, Lo Sian menjadi bingung sekali. Kalau ia maju membantu Ang I Niocu, hal itu takkan ada artinya sama sekali. Ia maklum bahwa kepandaiannya masih kalah jauh dan bantuannya tidak akan menolong Ang I Niocu, bahkan jangan-jangan malah akan menghancurkan daya tahan dari pendekar wanita baju merah itu. Akhirnya ia mendapat akal dan larilah Pengemis Sakti ini ke belakang kuil itu.

Karena semua orang telah berlari ke depan, maka keadaan di belakang kuil sunyi sekali. Dengan enaknya Lo Sian lalu menurunkan lampu dan menggunakah minyak serta api untuk membakar kuil. Ia membakar bagian yang terisi banyak kertas maka sebentar saja kuil itu menjadi lautan api yang mengamuk dari bagian belakang!

Ketika itu Ang I Niocu sudah mulai terdesak hebat, sungguh pun pedang Liong-cu-kiam sudah membabat putus rantai besar milik Lak Mau Couwsu dan sudah melukai pundak Bouw Ki sehingga orang ke tiga dan ke dua dari Hailun Thai-lek Sam-kui tidak dapat lagi mengeroyok. Sebagai gantinya, kedua saudara Can kini telah maju mengeroyok.

Ang I Niocu mengertak gigi kemudian memutar pedangnya lebih hebat lagi. Karena dia tidak mudah merobahkan para pengeroyoknya, kini dia mulai mengincar hwesio-hwesio yang menjadi murid Hok Ti Hwesio dan yang masih merubung mayat Hok Ti Hwesio dengan muka pucat. Begitu ia mendapat kesempatan, Ang I Niocu melompat keluar dari kepungan lima orang pengeroyoknya dan menerjang kawanan hwesio itu yang menjadi geger. Kembali tiga orang hwesio telah roboh mandi darah dalam keadaan mati!

“Ang I Niocu manusia kejam!” Wi Kong Siansu membentak marah.

Akan tetapi pada saat itu Ang I Niocu telah mengejar dua orang hwesio lain yang lantas dibabatnya sehingga tubuh kedua orang ini putus menjadi dua! Diam-diam kelima orang pengeroyok ini menjadi ngeri juga menyaksikan keganasan Ang I Niocu yang betul-betul seperti telah berubah menjadi kejam itu. Dengan sepenuh tenaga, mereka mengerahkan kepandaian mereka untuk merobohkan Ang I Niocu.

Para pengeroyok Ang I Niocu adalah tokoh-tokoh dunia persilatan yan menduduki tingkat atas. Wi Kong Siansu mendapat julukan Toat-beng Lo-mo (Iblis Tua Pencabut Nyawa), seorang tokoh dari Hek-kwi-san yang di samping memegang pedang Hek-kwi-kiam, juga mainkan ilmu pedang Hek-kwi Kiam-hoat. Ilmu pedangnya sudah mencapai tingkat yang tidak kalah oleh Ang I Niocu sendiri.

Juga Ban Sai Cinjin tadinya sudah amat lihai, dan akhir-akhir ini dia memperdalam ilmu silatnya lagi sehingga dia memperoleh kemajuan besar. Ilmu tongkatnya yang dimainkan dengan sebatang huncwe itu benar-benar merupakan tangan maut yang siap menjangkau nyawa lawan.

Pengeroyok ke tiga adalah Thian-he Te-it Siansu, orang pertama dari Tiga Iblis Geledek dari Hailun. Baru julukannya saja sudah Thian-he Te-it Siansu (Manusia Dewa Nomor Satu di Kolong Langit), maka sudah dapat dibayangkan betapa lihainya payung yang dia mainkan!

Pengeroyok ke empat dan ke lima adalah Can Po Gan dan Can Po Tin, kakak beradik jago dari Shan-tung yang memiliki kepandaian tinggi pula. Maka tentu saja setelah dapat mempertahankan diri sampai seratus jurus lebih, akhirnya Ang I Niocu menjadi repot dan terdesak hebat sekali.

Beberapa kali dia telah menderita luka-luka hebat, akan tetapi berkat latihan-latihan dan pengalaman-pengalamannya, maka pendekar wanita ini masih mampu mempertahankan diri dan pada saat ia menerima sambaran senjata lawan yang mengenai dekat lehernya, ia telah dapat menancapkan pedangnya di lambung Can Po Tin hingga orang ini menjerit keras lalu roboh tak bernyawa pula!

Ang I Niocu terhuyung-huyung akan tetapi ia masih dapat melawan dengan nekat. Ketika Can Po Gan yang menjadi marah menerjangnya, pendekar wanita ini kembali menerima pukulan pada pundaknya, akan tetapi sekali tangan kirinya melancarkan pukulan Pek-in Hoat-sut ke arah dada Can Po Gan, orang ini langsung memekik keras dan terlempar ke belakang dengan dada pecah!

Pada saat itu juga nampak cahaya api dan kagetlah para pengeroyok Ang I Niocu ketika melihat betapa kuil itu kini telah menjadi lautan api! Ban Sai Cinjin adalah orang pertama yang merasa paling kaget dan marah. Ia sudah mendengar betapa rumah gedungnya di Tong-sin-bun telah menjadi abu, dan sekarang kembali kuilnya yang indah mentereng ini hendak dimakan api!

Maka dia lalu melompat meniggalkan Ang I Niocu untuk mengusahakan pemadaman api yang membakar kuil. Akan tetapi sia-sia belaka karena api telah menjalar dan nyalanya telah terlampau besar untuk dapat dipadamkan lagi.

Sementara itu, Ang I Niocu yang merasa betapa kepungannya kini agak longgar, lalu melompat ke belakang. Dia sudah terlalu letih dan merasa bahwa dia tidak kuat untuk melawan lagi. Dia melarikan diri ke belakang, dikejar oleh Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu, dua orang yang memiliki kepandaian paling tinggi. Kedua orang tosu ini hendak menangkap Ang I Niocu yang dianggapnya terlalu ganas dan kejam itu.

Sungguh pun Ang I Niocu memiliki ginkang yang luar biasa dan kalau sekiranya dia tidak terluka, kedua orang tokoh besar ini pun belum tentu bisa mengejarnya. Akan tetapi pada saat itu pendekar wanita ini sudah terluka hebat dan tubuhnya telah mandi darah yang mengucur dari luka-lukanya.

Ia mencoba untuk menguatkan tubuhnya, berdiri tegak menunggu kedatangan dua orang pengejarnya untuk dilawan mati-matian. Akan tetapi tiba-tiba sepasang matanya menjadi gelap, kepalanya pening dan robohlah dia tidak sadarkan diri lagi! Dari belakang pohon melompat keluar Lo Sian yang cepat memondong tubuh Ang I Niocu, lalu dibawa lari ke dalam hutan.

Melihat hal ini, Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu menjadi marah sekali dan mengejar makin cepat. Sin-kai Lo Sian menjadi sibuk sekali karena bagaimana ia dapat melepaskan diri dari kejaran dua orang yang memiliki kepandaian berlari cepat jauh lebih tinggi dari pada kepandaiannya?

Dalam gugupnya, Lo Sian lalu lari sejadi-jadinya sehingga dia menubruk rumpun berduri dan terus saja jatuh bangun serta bergulingan sambil memondong tubuh Ang I Niocu! Betapa pun juga, tetap saja dia mendengar suara dua orang pengejarnya yang lihai.

Ketika Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu sudah hampir dapat menyusul Lo Sian, tiba-tiba dari sebuah tikungan jalan di dalam hutan itu muncul seorang kakek kate yang memegangi sebuah guci arak dan sebentar-sebentar menenggak isi ciu-ouw itu sambil melenggang dan kemudian bernyanyi-nyanyi riang! Kakek kate ini berjalan tepat di tengah lorong menghadang kedua orang tosu yang mengejar Lo Sian dan ketika mereka sudah berhadapan, kakek kate itu dengan suara masih dinyanyikan lalu menegur,

“Dua orang tua bangka mengejar-ngejar orang dengan senjata di tangan dan hawa maut terbayang di mata, sungguh mengerikan!”

Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu cepat memandang dan bukan main kaget hati mereka ketika melihat bahwa yang menghadang di depan mereka itu adalah Im-yang Giok-cu, tokoh besar di Pegunungan Kun-lun-san yang jarang sekali memperlihatkan diri di dunia ramai!

Sebagaimana para pembaca tentu masih ingat, Im-yang Giok-cu Si Dewa Arak ini dahulu bersama Sin Kong Tianglo yang berjuluk Yok-ong (Si Raja Obat) pernah menjadi guru dari Goat Lan. Pada saat itu, dalam perantauannya Im-yang Giok-cu mendengar bahwa kitab obat Thian-te Ban-yo Pit-kip peninggalan sahabatnya, Sin Kong Tianglo yang dulu oleh dia sendiri diberikan kepada Goat Lan, telah dicuri oleh Ban Sai Cinjin, maka malam hari ini ia memang sengaja hendak mencari Ban Sai Cinjin untuk urusan itu.

Kebetulan sekali di dalam hutan ini melihat Wi Kong Siansu dan Thian-te Te-it Siansu sedang mengejar-ngejar seorang pengemis yang membawa lari tubuh seorang nenek tua. Ia tidak mengenal Lo Sian, juga tidak tahu bahwa nenek tua yang dibawa lari oleh Lo Sian itu adalah Ang I Niocu, akan tetapi ia cukup tahu akan Wi Kong Siansu dan Thian-he Te-it Siansu yang kabarnya memusuhi muridnya, Goat Lan! Oleh karena inilah maka Im-yang Giok-cu sengaja menghadang mereka untuk menolong orang yang dikejar itu.

Wi Kong Siansu cepat mengangkat dua tangan memberi hormat lalu berkata, “Apa bila tidak salah, kami sedang berhadapan dengan sahabat dari Kun-lun-san Im-yang Giok-cu. Tidak tahu malam-malam begini hendak pergi ke manakah, Toyu (sebutan untuk kawan seagama To)?”

Karena Im-yang Giok-cu tidak mengenal Lo Sian dan mengerti bahwa kini orang yang dikejar itu sudah lari jauh dan di dalam gelap ini tidak mungkin dapat disusul lagi, ia pun tidak mau mencampuri urusan orang, hanya berkata,

“Wi Kong Siansu, aku hendak mencari sute-mu yang kabarnya sudah mencuri kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip dari mendiang Sin Kong Tianglo sahabat baikku. Sute-mu harus mengembalikan kitab itu dengan baik-baik kepadaku untuk kukembalikan kepada muridku Kwee Goat Lan. Harap sute-mu suka memandang mukaku dan jangan main-main dengan seorang anak-anak seperti muridku itu.” Setelah berkata demikian, Si Kate ini kemudian menenggak guci araknya.

Thian-he Te-it Siansu yang memang suka sekali berkelahi dan sekarang sedang marah sekali karena dua orang sute-nya tadi sudah dikalahkan oleh Ang I Niocu, dengan sikap menantang, kakek yang sama katenya dengan Im-yang Giok-cu ini lalu melompat maju sambil menggerak-gerakkan payungnya dan berkata,

“Im-yang Giok-cu, kau minggirlah dulu agar aku dapat menangkap setan wanita tadi! Ada urusan boleh diurus nanti.”

Akan tetapi Im-yang Giok-cu juga menggerak-gerakkan guci araknya dan berkata, “Tidak bisa, tidak bisa! Urusanku lebih penting lagi, urusanmu mengejar-ngejar dan mengeroyok orang yang sudah berlari, sungguh tidak patut dan dapat dihabiskan saja!”

Thian-he Te-it Siansu marah sekali dan cepat payungnya bergerak menyambar ke dada Im-yang Giok-cu. Akan tetapi Si Dewa Arak ini menggerakkan guci araknya menangkis.

“Krakk!”

Terdengar suara dan patahlah ujung payung orang pertama dari Hailun Thai-lek Sam-kui, sedangkan beberapa tetes arak melompat keluar dari guci itu dan tepat sekali dua tetes di antaranya menyambar lurus ke arah kedua mata Thian-he Te-it Siansu! Orang cebol ini terkejut sekali dan cepat ia melompat mundur.

Wi Kong Siansu yang cerdik segera melerai. Dia lebih maklum bahwa tokoh besar dari Pegunungan Kun-lun ini adalah suhu dari Kwee Goat Lan dan tentu saja boleh disebut berpihak kepada Pendekar Bodoh besertas kawan-kawannya, dan dia maklum pula akan kelihaian kakek ini, maka dia lalu berkata,

“Im-yang Giok-cu, kau tidak tahu bahwa kuil sute-ku telah terbakar, maka marilah kita bersama ke sana dan tentang kitab obat itu boleh kau tanyakan kepada sute-ku. Di antara kita sendiri, mengapa saling serang?”

Im-yang Giok-cu tertawa bergelak, lalu menjawab, “Bagus, inilah baru ucapan seorang cerdik! Urusan harus diselesaikan dahulu, untuk pibu...” dia melirik Thian-he Te-it Siansu, “puncak Thian-san masih cukup luas, ada pun musim chun memang selalu menimbulkan kegembiraan pada semua orang untuk main-main!”

Mendengar sindiran ini, Wi Kong Siansu segera maklum bahwa kakek kate yang lihai ini sudah mendengar pula tentang tantangan pibu antara dia melawan Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, maka diam-diam dia mengeluh.

Akan tetapi ketika mereka bertiga mendapatkan Ban Sai Cinjin di depan kuil, ternyata bahwa kuil itu semua telah dimakan api. Tak sepotong pun barang dapat diselamatkan, termasuk kitab Thian-te Ban-yo Pit-kip juga ikut musnah terbakar.

Untuk membuktikan bahwa kitab itu betul-betul terbakar, Ban Sai Cinjin lalu minta kepada Im-yang Giok-cu untuk menanti sampai api betul-betul padam, kemudian ia membongkar tempat di mana kitab itu tadinya disimpan yaitu dalam sebuah peti. Peti itu telah menjadi abu dan pada waktu dibongkar, benar saja di dalamnya terdapat abu sebuah kitab yang samar-samar masih dapat dilihat tulisannya!

Im-yang Giok-cu menarik napas panjang dan berkata, “Kitab ini telah menyusul pemilik dan penulisnya. Sudahlah, aku tak dapat berkata apa-apa lagi!” Ia lalu melenggang pergi sambil menenggak araknya, tak seorang pun berani mencegah atau mengganggunya.

Ada pun Lo Sian yang dapat melarikan diri sambil memondong tubuh Ang I Niocu yang berlumur darah, tanpa disengaja telah lari ke atas bukit di tengah hutan di mana dahulu dia mengubur jenazah Lie Kong Sian! Bagaikan ada dewa yang menuntunnya, di dalam kebingungannya melarikan diri dari kedua orang pengejarnya, Lo Sian naik terus dan di antara pohon-pohon pek itu dia melihat ada serumpun bunga mawar hutan yang sedang berkembang. Maka saking lelahnya, ia lalu meletakkan tubuh Ang I Niocu di atas rumput.

Kemudian, pemandangan di sekitarnya serta keharuan hatinya melihat keadaan Ang I Niocu yang sudah tak mungkin dapat ditolong lagi itu, membuka matanya dan teringatlah ia akan pengalamannya dahulu. Melihat rumpun bunga mawar hutan itu, Lo Sian tiba-tiba lalu menubruk ke arah rumpun itu dan dibuka-bukanya rumpun itu seperti orang mencari sesuatu, dan nampaklah olehnya gundukan tanah di bawah rumpun itu.

Lo Sian mengeluh dan menangis karena sekarang dia teringat bahwa inilah kuburan Lie Kong Sian! Teringat pula dia ketika dahulu dia melarikan diri membawa jenazah Lie Kong Sian seperti yang dilakukannya dengan membawa tubuh Ang I Niocu tadi, dan betapa ia mengubur jenazah Lie Kong Sian di tempat itu.

Dan pada saat Lo Sian menangisi nasib Ang I Niocu dan suaminya itulah, Lili mendengar suaranya dan datang ke tempat itu. Dan sebagaimana telah dituturkan di bagian depan, Lo Sian dan Lili akhirnya mengubur jenazah Ang I Niocu, pendekar wanita yang gagah itu, di sebelah makam suaminya yang telah meninggal dunia lebih dulu beberapa tahun yang lalu…..

********************

Beberapa kali Ban Sai Cinjin membanting kakinya dan wajahnya menjadi sebentar pucat sebentar merah. Dia merasa marah dan sakit hati betul. Telah berkali-kali dia menerima penghinaan dan kekalahan hebat dari pihak Pendekar Bodoh dan kawan-kawannya, dan kali ini ia menerima hinaan yang paling hebat.

Gedungnya habis, kuilnya musnah, semua barang-barangnya menjadi abu, dan muridnya yang terkasih, Hok Ti Hwesio tewas bersama beberapa orang hwesio lainnya dan juga kedua saudara Can dari Shan-tung itu tewas dalam membelanya. Bagaimana dia tidak menjadi sakit hati dan marah?

Juga Wi Kong Siansu menjadi marah dan penasaran sekali. Dia sudah mendengar dari sute-nya bahwa muridnya, yaitu Song Kam Seng, juga sudah tewas di dalam tangan Pendekar Bodoh! Tentu saja ia tidak tahu bahwa Kam Seng terbunuh oleh Ban Sai Cinjin sendiri yang dengan pandainya telah rnemutar balik duduknya perkara dan menyatakan bahwa Kam Seng terbunuh oleh Pendekar Bodoh ketika membantu orang-orang Mongol di utara!

Kini melihat sepak terjang Ang I Niocu, Wi Kong Siansu menjadi semakin marah karena menurut anggapannya, Ang I Niocu telah berlaku kejam dan ganas sekali.

“Orang yang membawa lari Ang I Niocu tentulah pengemis hina dina itu,” kata Wi Kong Siansu, “dan tentu Lo Sian pula yang membakar kuil ini!”

“Sayang dahulu tidak kuhancurkan kepalanya!” kata Ban Sai Cinjin gemas. “Akan tetapi, sambil membawa orang luka, dia pasti tidak dapat lari jauh dan tidak mungkin keluar dari hutan sambil membawa-bawa Ang I Niocu. Mari kita mencari dia!”

Demikianlah, dengan hati penuh geram, Ban Sai Cinjin, Wi Kong Siansu, diikuti pula oleh ketiga Hailun Thai-lek Sam-kui yang juga merasa penasaran, pada pagi hari itu juga lalu melakukan pengejaran.

Maka dapat dibayangkan betapa kaget dan gelisahnya hati Lo Sian ketika tiba-tiba lima orang kakek yang tangguh itu tahu-tahu telah berdiri di depannya di dekat makam Ang I Niocu dan Lie Kong Sian!

“Ha-ha-ha, pengemis jembel, apa kau kira akan dapat melarikan diri dari sini?” Ban Sai Cinjin tertawa bergelak karena girang dapat menemukan orang yang dibencinya. Apa lagi ia melihat Lili berada di situ dan melihat gadis musuh besarnya ini, timbullah harapannya untuk membalas penghinaan yang telah ia derita dari Pendekar Bodoh. “Di mana Ang I Niocu siluman wanita?”

“Ban Sai Cinjin, harap kau suka mengingat akan peri kemanusiaan. Kau telah membunuh Lie Kong Sian, dan sekarang kau telah menewaskan Ang I Niocu pula. Apakah hatimu masih belum puas? Mereka sudah tewas dan sudah kukubur baik-baik, harap kau jangan mencari urusan lagi,” kata Lo Sian yang merasa kuatir kalau-kalau lima orang kakek yang tangguh ini akan mengganggu Lili.

Akan tetapi Ban Sai Cinjin berseru marah, “Pengemis bangsat! Kau kira aku tidak tahu bahwa kau yang membakar kuilku? Kau enak saja bicara untuk membujukku agar jangan mengganggumu dan mengganggu setan perempuan ini. Kau kira aku akan melepaskan anak Pendekar Bodoh begitu saja tanpa membalas penghinaan-penghinaannya?” Sambil berkata demikian Ban Sai Cinjin melangkah maju dan menggenggam huncwe-nya lebih erat lagi.

Akan tetapi Lili sama sekali tidak merasa jeri, bahkan kini kedua matanya yang bening itu mengeluarkan cahaya berapi dan wajahnya yang cantik itu sudah menjadi merah sekali. Sungguh pun dia kini tidak memegang senjata apa-apa karena kipas dan pedang Liong-coan-kiam telah rusak ketika ia bertemu dengan nenek luar biasa yang menjadi gurunya itu, namun dia tidak merasa jeri sama sekali, bahkan lebih tabah dari pada dahulu ketika menghadapi Ban Sai Cinjin dan Wi Kong Siansu.

“Ban Sai Cinjin manusia binatang! Kau bilang takkan melepaskan anak Pendekar Bodoh, akan tetapi apakah kau kira aku Sie Hong Li akan membiarkan kau hidup lebih lama lagi setelah kita bertemu di sini?” Setelah berkata demikian, tubuhnya berkelebat cepat dan dengan tangan kirinya ia menyerang ke arah leher Ban Sai Cinjin. Begitu bertemu, gadis ini langsung menyerang dengan tipu dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat yang lihainya luar biasa!

Saat melihat gadis itu menyerangnya dengan tangan kosong, Ban Sai Cinjin memandang rendah sekali dan cepat dia mengulur tangan kiri untuk menangkap pergelangan tangan gadis itu, sedang tangan kanan menggerakkan huncwe untuk mengetok kepala Lili! Akan tetapi dia belum lagi kenal kelihaian ilmu pukulan Hang-liong Cap-it Ciang-hoat yang baru pertama kali ini dipergunakan oleh orang di dunia ramai!

Pada saat tangan kirinya menyentuh pergelangan tangan kiri Lili, Ban Sai Cinjin berteriak kaget dan cepat-cepat dia menarik kembali tangannya karena merasa betapa telapak tangannya seakan-akan menyentuh api membara! Dan Lili hanya menundukkan sedikit kepalanya untuk menghindarkan serangan huncwe dari lawannya, akan tetapi tangan kirinya tetap meluncur ke arah leher Ban Sai Cinjin!

Kakek mewah ini terkejut bukan main dan cepat dia menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, akan tetapi masih saja tangan kanan Lili yang menyambar lagi mengenai kepala huncwe-nya.

“Prakk!” kepala huncwe-nya itu hancur lebur dan api tembakaunya berhamburan!

Ban Sai Cinjin bergulingan menjauh kemudian melompat berdiri dengan muka pucat dan memandang ke arah gadis itu dengan kedua mata terbelalak! Juga Wi Kong Siansu dan ketiga tokoh dari Hailun itu berdiri bengong. Mereka belum pernah menyaksikan ilmu silat yang sedemikian hebatnya.

Akan tetapi kekagetan mereka hanya sebentar saja, oleh karena Wi Kong Siansu segera mencabut Hek-kwi-kiam dari punggungnya. Telunjuk kirinya menuding ke arah Lili dan jidatnya berkerut ketika dia berkata dengan garang,

“Sie Hong Li, hari ini terpaksa pinto akan mengambil nyawamu untuk membalas dendam muridku, Song Kam Seng!”

Lili mendengar ini menjadi makin marah. Ia melirik ke arah Ban Sai Cinjin dan maklum bahwa kakek mewah itu telah memutar balikkan kenyataan, maka ia tersenyum sindir. Ia tahu bahwa tiada gunanya untuk membantah dan ribut mulut membela diri, dan dengan suara lantang ia menjawab,

“Wi Kong Siansu, dahulu kau pernah membantu Ban Sai Cinjin merobohkan aku dengan curang, kemudian kau berani pula menentang Ayahku. Hemm, pendeta yang bermata buta seperti kau ini mana bisa membedakan mana salah mana benar, mana baik mana jahat? Majulah, kau kira aku takut kepadamu?”

Wi Kong Siansu lalu menerjang dengan pedangnya yang bercahaya kehitaman, mainkan Ilmu Pedang Hek-kwi Kiam-hoat dengan sangat marah. Akan tetapi segera dia menjadi terkejut sekali karena benar-benar gadis itu jauh sekali bedanya dengan dahulu.

Dahulu pun Lili sudah merupakan seorang gadis yang memiliki kepandaian tinggi sekali, seorang gadis muda yang sudah menerima warisan ilmu-ilmu silat tinggi seperti San-sui San-hoat dari Swi Kiat Siansu, juga telah mahir sekali mainkan Ilmu Pedang Liong-coan Kiam-sut, juga ilmu-ilmu pukulan yang lihai dari Bu Pun Su seperti Kong-ciak Sin-na dan Pek-in Hoat-sut.

Kini gadis itu seakan-akan harimau yang tumbuh sayapnya sesudah memiliki ilmu silat yang gerakannya amat luar biasa dan yang mendatangkan hawa pukulan hebat sekali ini. Bahkan Wi Kong Siansu tiap kali tergetar tangannya bila mana hawa pukulan dari tangan nona itu menyambar ke arahnya!

Saat melihat Wi Kong Siansu agaknya tidak bisa mendesak Lili, Hailun Thai-lek Sam-kui segera berseru dan maju mengeroyok. Luka Bouw Ki di pundaknya ketika ia mengeroyok Ang I Niocu telah diobati, sedangkan Lak Mau Couwsu sudah membikin betul rantainya, maka kini tiga iblis ini dengan lengkap dapat mengurung Lili.

Akan tetapi gadis ini benar-benar luar biasa sekali. Tubuhnya berkelebatan bagaikan kilat menyambar-nyambar dan setiap serangan senjata lawan bisa dielakkannya dengan gesit sekali atau ditangkisnya dengan kedua lengannya yang mengandung tenaga luar biasa. Bahkan serangan gadis ini benar-benar membuat empat orang pengeroyoknya terkejut dan harus berlaku hati-hati sekali. Ternyata bahwa sebelas jurus dari Hang-liong Cap-it Ciang-hoat ini luar biasa sekali daya tahan dan daya serangnya.

Ada pun Ban Sai Cinjin setelah melihat Lili dikurung oleh suheng-nya dan Hailun Thai-lek Sam-kui, lalu mendelik menghampiri Lo Sian dengan huncwe-nya yang sudah terpotong tidak berkepala lagi itu! Sin-kai Lo Sian melihat nafsu membunuh di mata Ban Sai Cinjin, maka Pengemis Sakti ini lalu bersiap sedia untuk membela diri mati-matian.

“Lo Sian, dahulu aku sudah berlaku salah karena tidak terus membunuhmu sehingga kau mendatangkan banyak urusan. Sekarang harus kuhancurkan kepalamu!” Sambil berkata demikian, Ban Sai Cinjin lalu menyerang dengan gagang huncwe-nya itu.

Biar pun huncwe-nya telah hilang kepalanya, akan tetapi gagang huncwe itu terbuat dari baja tulen yang keras sehingga kini merupakan tongkat atau toya pendek yang masih cukup berbahaya.

Lo Sian yang selama ini tak pernah terpisah dari tongkatnya, cepat mengangkat tongkat itu untuk menangkis. Terdengarlah suara keras dan terpaksa Lo Sian melompat mundur dengan telapak tangan tergetar dan panas!

Ban Sai Cinjin tertawa bergelak. Kakek mewah ini timbul kesombongannya kalau sudah menang, maka sambil menyeringai ia lalu mendesak Lo Sian yang memang masih kalah jauh tingkat kepandaiannya.

Dengan nekat dan mati-matian Lo Sian berusaha mempertahankan diri sambil membalas serangan Ban Sai Cinjin, akan tetapi beberapa jurus kemudian terdengar suara keras dan tongkat di tangan Lo Sian patah menjadi dua oleh gagang huncwe di tangan Ban Sai Cinjin. Ban Sai Cinjin tertawa bergelak lalu menubruk maju.

Lo Sian mengelak ke kanan, akan tetapi sebuah tendangan dari Ban Sai Cinjin mengenai betisnya sehingga membuat Lo Sian terjungkal. Ban Sai Cinjin melangkah maju dengan gagang huncwe terangkat dan dengan sekuat tenaga ia menimpakan gagang huncwe itu ke arah kepala Lo Sian!

“Prakk!” Bunga api berpijar dan gagang huncwe itu untuk kedua kalinya patah dan tinggal sedikit saja.

Ban Sai Cinjin kaget sekali dan cepat melompat ke belakang. Ternyata bahwa pada saat yang amat berbahaya bagi nyawa Lo Sian itu, sebatang pedang berbentuk ular dengan gerakan cepat sekali telah menangkis gagang huncwe itu dan menyelamatkan nyawa Lo Sian.

“Lie Siong...!” Lo Sian berseru girang sekali ketika melihat pemuda yang baru datang ini.

“Lo-pek, minggirlah dan biarkan aku membunuh tikus busuk ini!” berkata Lie Siong sambil memutar pedangnya dan menyerang Ban Sai Cinjin dengan hebatnya.

Seperti ketika ia menghadapi Lili tadi, kini Ban Sai Cinjin juga merasa heran dan terkejut sekali. Hanya dengan sekali serang saja pemuda ini sudah dapat mematahkan gagang huncwe-nya! Alangkah jauh bedanya dengan dulu ketika ia bertempur melawan pemuda ini.

Padahal dulu dia sendiri betum semaju ini ilmu kepandaiannya dan akhir-akhir ini ia telah melatih diri dan memperoleh kemajuan pesat. Namun dibandingkan dengan kedua orang muda ini, dia telah tertinggal jauh!

Tentu saja Ban Sai Cinjin tidak tahu bahwa Lili telah mendapat gemblengan luar blasa dari seorang nenek di dalam sumur yang mengajarnya Hang-liong Cap-it Ciang-hoat, dan bahwa Lie Siong juga telah bertemu dengan seorang kakek luar biasa yang mengajarnya bermain gundu!

Karena gagang huncwe-nya kini sudah tak dapat digunakan lagi, Ban Sai Cinjin terpaksa menghadapi Lie Siong dengan kedua tangannya yang juga tidak boleh dipandang ringan. Dia langsung melancarkan pukulan-pukulan disertai ilmu hoat-sut (ilmu sihir) yang selain mengandung tenaga luar biasa juga disertai bentakan-bentakan yang pengaruhnya dapat melumpuhkan semangat lawannya.

Akan tetapi Lie Siong hanya mengeluarkan suara menyindir. Tangan kirinya mainkan Ilmu Pukulan Pek-in Hoat-sut yang mengeluarkan uap putih untuk menolak pengaruh ilmu hitam lawannya, sedangkan pedangnya tetap mengurung Ban Sai Cinjin dengan rapat.

“Ban Sai Cinjin, engkau harus membayar nyawa ayahku!” bentaknya berulang-ulang dan pedangnya yang berbentuk naga itu menyambar-nyambar dekat sekali dengan dada dan leher Ban Sai Cinjin.

“Suheng, bantulah aku merobohkan setan ini!” terpaksa Ban Sai Cinjin berseru kepada Wi Kong Siansu. Tubuhnya sampai mandi keringat dingin karena ia merasa bahwa kalau dilanjutkan, sebentar lagi ia pasti akan roboh binasa oleh pemuda yang luar biasa ini.

Pada waktu mendengar seruan ini, Wi Kong Siansu cepat menengok dan terkejutlah dia melihat betapa sute-nya berada dalam keadaan amat berbahaya. Cepat ia melompat dan pedangnya Hek-kwi-kiam segera meluncur dan melakukan serangan kilat ke arah tubuh Lie Kong. Pemuda ini maklum akan kelihaian Wi Kong Siansu, karena itu dia menangkis sambil mengerahkan tenaga lweekang-nya yang baru diperkuat dengan latihan yang dia terima dari gurunya yang aneh.

“Traaang…!” Bunga api berpijar menyilaukan mata ketika dua pedang itu beradu.

Pedang Hek-kwi-kiam juga sebatang pedang pusaka yang ampuh, maka tidak sampai patah. Namun Wi Kong Siansu diam-diam terkejut sekali karena baru sekali ini dalam beradu pedang dia merasa tangannya tergetar hebat!

Kedatangan Wi Kong Siansu membuat Ban Sai Cinjin bernapas lega, meski pun mereka berdua juga tidak berdaya mendesak Lie Siong. Tapi sebaliknya, Hailun Thaitek Sam-kui menjadi sibuk sekali karena setelah ditinggalkan oleh Wi Kong Siansu, mereka sekarang terdesak hebat oleh Lili.

“Siong-ko (Kakak Siong), hayo kita bikin mampus lima ekor anjing ini. Ie-ie Im Giok telah terbunuh oleh mereka ini!” seru Lili kepada Lie Siong.

Mendengar seruan ini, serangan Lie Siong bukannya lebih cepat, bahkan tiba-tiba daya serangnya banyak berkurang. Pemuda ini menerima pukulan batin yang amat hebat saat mendengar warta tentang kematian ibunya ini. Ia menjadi demikian marah, sedih, gemas, dan menyesal sekali sehingga tubuhnya terasa lemas dan dia tidak dapat mengerahkan lweekang-nya dengan sempurna lagi.

Hal ini tentu saja menggirangkan hati Wi Kong Siansu dan Ban Sai Cinjin karena tadinya mereka berdua sudah menjadi gelisah sekali. Hailun Thai-lek Sam-kui terdesak hebat sedangkan mereka juga agaknya tak akan mampu mengalahkan pemuda ini. Kini melihat kesempatan ini, Ban Sai Cinjin lalu berkata,

“Jangan layani mereka lagi, belum tiba waktunya mengadu kepandaian! Kita telah berjanji musim chun di puncak Thian-san!”

Ucapan ini hanya untuk menutup rasa malu saja, akan tetapi membuat Hailun Thai-lek Sam-kui ‘ada muka’ untuk mengundurkan diri. Bagaikan sedang berlomba, mereka semua cepat memutar tubuh lalu melarikan diri dari tempat itu!

“Bangsat rendah, hendak lari kemana kau?” Lili yang menjadi gemas lalu mengejarnya. Juga Lie Siong mengejar, akan tetapi pemuda ini tak dapat melampaui Lili karena kedua kakinya menggigil.

Tiba-tiba lima orang kakek itu membalikkan tubuh dan ketika tangan mereka bergerak, banyak sekali am-gi (senjata gelap) menyambar ke arah Lili dan Lie Siong! Lili segera melompat ke atas dan ketika kaki tangannya bergerak, dia telah dapat menangkap dua batang panah tangan beracun sedangkan kedua kakinya telah berhasil menendang jauh empat butir peluru besi!

Yang hebat adalah Lie Siong. Pemuda ini baru saja digembleng oleh seorang kakek aneh yang ternyata seorang ahli lweekeh dan juga seorang ahli senjata rahasia. Melihat datangnya senjata-senjata gelap itu, biar pun tubuhnya sudah gemetar dan lemah karena luka di dalam batinnya yang terpukul oleh berita kematian ibunya, dengan tenang Lie Siong lalu berjongkok dan pedangnya disabetkan ke atas hingga semua senjata rahasia itu terpukul ke atas. Berbareng dengan itu, tangan kirinya sesudah mencengkeram ke bawah lalu bergerak dan bagaikan kilat menyambar, batu-batu kerikil dari tangan kirinya itu meluncur ke arah lima orang kakek itu!

Inilah serangan gelap yang luar biasa dari Lie Siong. Batu-batu kerikil itu dipegangnya seperti kalau ia bermain gundu dengan gurunya dan kini batu-batu itu meluncur dengan luar biasa cepatnya ke arah tubuh lima orang lawan itu, tepat ke arah jalan-jalan darah di tubuh mereka!

Lima orang kakek itu sambil berseru kaget lalu bergerak mengelak, akan tetapi Bouw Ki dan Lak Mao Couwsu kurang cepat gerakannya sehingga biar pun batu-batu kerikil itu tidak tepat mengenai jalan darah yang dapat mengirim nyawa mereka ke tangan maut, namun tetap saja kulit mereka pecah-pecah terkena kerikil-kerikil itu! Dengan berlumur darah, kedua orang ini cepat menyeret tubuh mereka mengikuti jejak tiga orang kawan lainnya yang sudah melarikan diri terlebih dulu!

Lili hendak mengejar, akan tetapi tiba-tiba saja ia melihat Lie Siong terhuyung-huyung ke depan dan roboh! Gadis ini kaget sekali dan cepat menubruk tubuh Lie Siong, kemudian diangkatnya. Ia mengira bahwa pemuda itu tentu menderita luka di dalam tubuh, maka ia menjadi amat berkuatir. Ketika ia mengangkat Lie Siong hendak dibawa lari ke makam Ang I Niocu, Lo Sian yang mengejar sudah sampai di situ dan orang tua ini dengan kaget lalu minta tubuh Lie Siong itu dan dipondongnya sendiri.

“Terlukakah dia, Lili?”

Gadis itu hanya memandang sedih. “Entahlah, Suhu, aku tidak melihat dia terpukul, juga tidak ada tanda darah. Akan tetapi tahu-tahu dia hendak roboh.”

Mereka lalu mengangkat tubuh Lie Siong dan meletakkannya di atas rumput di depan makam kedua orang tua pemuda itu. Lili tanpa diminta lalu pergi mencari air, dan setelah kembali dia lalu menyusuti muka Lie Siong dengan sapu tangannya yang sudah basah, kemudian dia mengucurkan air di kepala pemuda itu.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner