PETUALANG ASMARA : JILID-17


"Perempuan bosan hidup! Kalau benar dia itu Yap Kun Liong kau mau apa?"

"Mau apa? Membunuh engkau yang mengancam dia! Di mana dia sekarang?"

"Hi-hi-hik, lagakmu seperti jagoan sendiri! Aku pun sedang mencari dia. Engkau siapa?"

"Aku ibunya!" Yan Cu sudah marah bukan main, dicabutnya pedangnya dan tanpa banyak cakap lagi dia segera menubruk maju, mengirim serangan kilat dengan tusukan ke arah dada lawan.

"Hi-hik-hik, engkau ibunya?" Bu Leng Ci, wanita itu terkekeh dan mengelak cepat sambil membabatkan pedang panjangnya dari samping.

"Singggg…!"

Gagang pedang samurai pedang model Jepang itu dipegang dengan kedua tangan dan ketika dibabatkan cepatnya seperti kilat menyambar dan mengandung tenaga yang amat dahsyat. Tentu saja Yan Cu terkejut bukan main, karena sama sekali tidak menyangka bahwa datuk wanita yang tersohor ini benar-benar amat berbahaya. Dia sudah meloncat ke belakang untuk menghindarkan diri dari sambaran pedang panjang, kemudian bersiap menghadapi lawan tangguh ini.

"Kau ibunya? Hi-hi-hik, kalau begitu kau harus mampus. Anakmu telah membikin jengkel hatiku!"

Bertandinglah dua orang wanita itu di atas genteng, dan keduanya sama-sama terkejut sekali, lebih-lebih Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci. Selama dia merantau ke utara dari pantai laut selatan, belum pernah dia bertemu tanding dan jarang pula dia menggunakan pedang samurainya.

Tadi ketika dia menggunakan senjata rahasia Siang-tok-toa (Pasir Beracun Wangi) dari bawah, dia sudah terkejut karena orang yang tadi mengintai dari kamar sebelah kemudian mengintai dari atas genteng dapat menghindarkan diri. Karena itu maka dia menyusul ke atas sambil membawa pedang samurainya.

Sekarang, setelah mereka bergebrak selama belasan jurus, Bu Leng Ci betul-betul kaget sekali. Wanita cantik jelita di depannya ini benar-benar memiliki ilmu kepandaian hebat! Bukan saja ilmu pedangnya luar biasa, juga lawannya ini memiliki keringanan tubuh dan kekuatan tenaga sakti yang mampu menandinginya!

Merasa kurang leluasa bertanding di atas genteng, Bu Leng Ci lalu melayang turun. Tentu saja Yan Cu tidak mau melepaskannya, dan cepat menyusul dengan loncatan cepat. Kini mereka berhadapan di atas tanah, di sebelah belakang rumah penginapan itu, dan saling memandang di bawah sinar rembulan sepotong yang mendatangkan cahaya penerangan remang-remang.

"Siapakah engkau?" Bu Leng Ci membentak, tertarik juga untuk mengenal siapa adanya lawan tangguh ini.

"Aku ibunya Yap Kun Liong! Ketahuilah, perempuan iblis, bahwa aku adalah Gui Yan Cu, isteri dari Yap Cong San. Engkau tentu tidak mengenal kami, sebab kami bukan termasuk golongan iblis kaum sesat yang senang malang-melintang berbuat kejam mengandalkan kepandaian yang tidak seberapa seperti engkau!"

"Hi-hi-hi-hik, sombong. Mampuslah engkau!" Bu Leng Ci kembali menerjang, samurainya membentuk gulungan sinar yang lebar dan panjang, digerakkan dengan dua tangannya.

"Trang! Cringgg…!"

Yan Cu merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar. Diam-diam dia harus mengakui bahwa wanita iblis yang disohorkan sebagai salah seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang bermunculan pada waktu itu, yang bertubuh pendek dan berpedang panjang ini benar-benar sangat tangguh. Maka dia pun mengerahkan tenaga dan memutar pedangnya dengan cepat.

Yan Cu adalah seorang wanita perkasa. Walau pun dia tahu bahwa lawannya tangguh, namun untuk berteriak memanggil suami isterinya dia merasa malu karena berteriak minta bantuan bukanlah kelakuan seorang gagah!

Tiba-tiba pedang dan samurai kembali bertemu, lantas saling menempel untuk beberapa detik lamanya karena Bu Leng Ci mempergunakan kekuatan kedua lengannya. Pedang Yan Cu agak tertindih dan saat itu dipergunakan oleh Bu Leng Ci untuk menggerakkan kepalanya. Rambutnya yang panjang menyambar ke arah Yan Cu seperti ribuan ekor ular menyerang!

Yan Cu terkesiap dan cepat-cepat dia menarik kembali pedangnya, melempar tubuh ke belakang dan berjungkir-balik. Sambil membalikkan tubuhnya yang berpoksai (bersalto) tiga kali di udara, pedangnya menyambar untuk melindungi dirinya.

"Cringgg...!"

Pedangnya bertemu dengan samurai yang sekarang dipegang dengan tangan kanan saja sedangkan pada detik itu, tangan kiri Bu Leng Ci yang jari-jarinya merupakan jari baja sudah menusuk ke arah dada dengan maksud menembus dada itu dan merogoh jantung seperti yang biasa dia lakukan terhadap para korbannya!

"Ihhhhh...!" Yan Cu cepat menggulingkan tubuhnya ke kanan, terus bergulingan di atas tanah untuk membebaskan diri dari serangan itu.

"Wuuuutttt...!"

Yan Cu menahan jeritnya pada saat merasa betapa dadanya sebelah kanan sakit sekali. Kiranya dia sudah disusul oleh serangan Pasir Beracun Wangi yang dilepaskan dari jarak dekat. Walau pun Yan Cu sudah bergulingan sambil memutar pedangnya, tetap saja ada sebagian dari Siang-tok-soa yang masih mengenai dadanya. Seketika kepalanya pening, matanya berkunang dan ketika dia meloncat berdiri, tubuhnya terhuyung!

"Hi-hi-hi-hik, sayang sekali kau harus mampus!" Bu Leng Ci sudah meloncat maju sambil mengayun samurainya ke arah pinggang Yan Cu.

"Singg... tranggg...!"

Dalam keadaan pening itu Yan Cu masih dapat menangkis dengan tangan. Oleh karena tubuhnya menggigil kedinginan akibat pasir beracun itu dan tenaganya berkurang banyak, apa lagi karena dia memang kalah tenaga, pedangnya langsung terpental dan lepas dari pegangannya. Sementara itu, pedang samurai sudah menyambar lagi ke arah lehernya.

"Tranggg...! Eihhh...!" Bu Leng Ci meloncat ke belakang ketika samurainya ditangkis oleh sebatang mouw-pit (pena bulu) yang membuat lengannya tergetar.

Kiranya Yap Cong San yang telah menyelamatkan isterinya. Cong San cepat memegang lengan isterinya, dan berbisik, "Mundurlah... cepat telan obat penawar...!"

"Hi-hi-hi-hik, agaknya ini suaminya, ya? Ha-ha-ha, tidak ada obat penawar untuk melawan Siang-tok-soa dari Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci. Isterimu akan mampus, dan engkau juga!"

Mendengar nama ini, Yap Cong San terkejut. Tadi dia terbangun oleh suara pertandingan yang lapat-lapat dan terkejut sekali ketika tidak melihat isterinya rebah di sampingnya dan pedang isterinya juga tidak nampak. Cepat dia berpakaian lantas melompat keluar sambil membawa sepasang mouw-pit yang menjadi senjatanya yang ampuh.

Dapat dibayangkan alangkah kagetnya melihat isterinya terhuyung, pedangnya terlempar dan pedang panjang lawan isterinya itu mengancam nyawa isterinya. Untung dia tidak terlambat dan sesudah dapat menangkis pedang samurai itu, dia melihat bahwa isterinya telah terluka dan melihat warna mukanya, tentu terluka senjata beracun.

Dengan marah dan khawatir sekali Yap Cong San lalu menerjang ke depan menggunakan senjata Im-yang-pit hitam putih dengan gerakan cepat laksana kilat. Kembali Bu Leng Ci terkejut. Sungguh tidak pernah disangkanya bahwa di dunia kang-ouw sebelah utara ini terdapat orang-orang pandai seperti pasangan suami isteri ini yang namanya sama sekali tidak terkenal. Bahkan sang suami ini lebih lihai dari pada isterinya!

Bu Leng Ci berteriak keras, lantas samurainya kembali berkelebat membentuk gulungan sinar seperti seekor ular naga mengamuk. Namun Yap Cong San yang bersikap hati-hati selalu berhasil membendung amukan sinar samurai, bahkan membalas dengan totokan-totokan maut yang bukan tidak berbahaya bagi Bu Leng Ci.

Betapa pun juga, segera murid lihai dari Siauw-lim-pai ini mendapatkan kenyataan bahwa lawannya itu amat tangguh, bahkan dalam hal tenaga sinkang, dia masih belum mampu menandinginya, terbukti dari getaran-getaran pada dua tangannya setiap kali Im-yang-pit di tangannya terbentur oleh pedang samurai. Pantas wanita ini menjadi seorang di antara datuk-datuk golongan hitam, kiranya memang amat lihai.

Biar pun demikian, tidak mudah bagi Bu Leng Ci untuk mengalahkan murid Siauw-lim-pai ini yang memiliki ilmu silat asli dari Siauw-lim-pai dan dapat membentuk pertahanan yang bukan main kuatnya, bagaikan batu karang yang menahan gempuran badai! Dan lebih celaka lagi bagi Bu Leng Ci ketika Yan Cu telah menyambar lagi pedangnya dan biar pun di wajah wanita itu ada bayangan gelap, namun peningnya lenyap dan kini dia membantu suaminya menerjang Bu Leng Ci! Menghadapi Yap Cong San saja sudah sangat sukar baginya untuk merobohkan pendekar ini, apa lagi dikeroyok dua dengan isterinya yang amat marah itu.

"Robohlah!" Tiba-tiba Bu Leng Ci mengeluarkan suara teriakan nyaring sambil tangannya bergerak dan sinar hijau menyambar, itulah Siang-tok-soa!

"Awas...!" Yap Cong San berteriak memperingatkan isterinya.

Keduanya cepat melompat jauh ke belakang untuk menghindarkan diri. Akan tetapi Bu Leng Ci sudah mempergunakan kesempatan itu meloncat ke dalam rumah penginapan. Suami isteri itu mengejar dengan cepat.

Oleh karena merasa tidak kuat kalau harus menandingi suami isteri itu, Bu Leng Ci sudah memondong anak perempuan yang menjadi muridnya dan lari ke luar.

"Iblis betina, hendak lari ke mana kau?" Cong San dan Yan Cu mengejar dan pendekar ini cepat menggunakan senjata rahasianya untuk menyambit bayangan di depan.

Senjata rahasia dari Yap Cong San ini berupa mata uang tembaga, uang biasa yang bisa pula dipergunakan untuk berbelanja, akan tetapi jika digunakan sebagai senjata rahasia, amat hebat dan dapat menembus tulang!

Bu Leng Ci menjerit lirih ketika pundaknya disambar sebuah mata uang, mendatangkan rasa nyeri bukan main. Akan tetapi hal ini bahkan membuat dia langsung mempercepat larinya. Dengan penasaran Yap Cong San mengejar terus.

"Aduhhh..."

Rintihan isterinya ini membuat Cong San terkejut dan cepat membalik. Ketika dia melihat isterinya terhuyung hampir jatuh, dia cepat menyambar tubuh isterinya. Ternyata Yan Cu sudah pingsan. Melihat keadaan isterinya, terpaksa Cong San membatalkan pengejaran terhadap wanita iblis itu dan cepat berusaha menolong isterinya.

Pasir beracun yang memasuki dada kanan bagian atas itu benar-benar amat hebat. Kulit pada bagian dada itu membengkak biru, dan warna kebiruan menjalar sampai ke muka! Tubuh Yan Cu panas sekali, akan tetapi anehnya, wanita itu menggigil kedinginan!

Yap Cong San sudah banyak mempelajari ilmu pengobatan dari isterinya. Dia memeriksa sebentar penuh ketelitian setelah merebahkan tubuh isterinya di atas pembaringan dalam kamar mereka. Akhirnya dia menghela napas, menekan kekhawatiran hatinya.

Racun wangi itu benar-benar amat berbahaya dan dia sudah tahu akan sifat racun itu. Dia harus mempergunakan sinkang dan bahan-bahan obatnya sangat sukar dicari. Meski pun demikian, agaknya bukan hal yang mudah pula untuk menyelamatkan jiwa isterinya dari renggutan maut!

Keadaan ini memaksa Yap Cong San harus menghentikan usahanya mencari puteranya, bahkan dia lalu membawa isterinya untuk beristirahat dan berobat di puncak Pegunungan Lu-liang-san yang sunyi, selain untuk menghindarkan diri dari pengejaran alat pemerintah, juga untuk bersembunyi dari pengejaran tokoh golongan hitam. Dalam keadaan seperti itu, amatlah berbahaya bagi isterinya kalau ada lawan kuat datang menyerang.

Demikianlah, dengan penuh ketekunan dan kesabaran Cong San lalu merawat isterinya di puncak Lu-liang-san. Dan tepat seperti yang diduga atau dikhawatirkannya, pengobatan itu ternyata memakan waktu sampai hampir dua tahun!

Setelah menghabiskan banyak akar dan daun obat yang dengan susah payah dapat dia temukan di semak-semak belukar dalam hutan di Pegunungan Lu-liang-san, dan banyak pula memeras tenaga sinkang-nya untuk membantu isterinya mengusir hawa beracun itu, serta memakan waktu dua tahun kurang sedikit, barulah semua racun itu berhasil terusir bersih dari tubuh Gui Yan Cu! Dan setelah isterinya sembuh, mereka telah meninggalkan rumah selama lima tahun lebih!

Nasib buruk yang menimpa sepasang suami isteri ini, cara hidup bersunyi, serta segala macam kekhawatiran dan kedukaan berhubung dengan hilangnya putera mereka, menjadi pupuk yang menambah dalam cinta kasih antara mereka. Setelah Yan Cu sembuh, Cong San menganggap bahwa isterinya memerlukan waktu selama beberapa bulan lagi untuk beristirahat memulihkan kesehatan di puncak yang pemandangannya indah dan berhawa sejuk itu.

Maka, curahan cinta kasih mereka yang semakin mendalam sebagai hiburan duka karena memikirkan Kun Liong membuat Yan Cu mengandung lagi! Keadaan ini mendatangkan kegirangan besar di hati suami isteri itu, dan terpaksa mereka memperpanjang kediaman mereka di puncak Pegunungan Lu-liang-san…..

********************

Sesudah merasa yakin bahwa suami isteri yang lihai itu tidak mengejarnya, dengan hati amat penasaran dan marah Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci menurunkan muridnya yang tadi dipondongnya. Dia membuka bajunya, mengambil obat dan mengobati luka di pundaknya yang terkena sambitan Touw-kut-ci yang dilepas oleh Yap Cong San.

Hatinya merasa penasaran sekali, akan tetapi Bu Leng Ci bukanlah seorang bodoh yang nekat. Dia maklum bahwa menghadapi kedua orang suami isteri itu amatlah berbahaya. Apa bila hanya melawan seorang di antara mereka, agaknya dia masih menang sedikit. Akan tetapi kalau harus menghadapi mereka berdua, benar-benar berbahaya sekali.

"Subo, siapakah yang tadi bertanding dengan Subo hingga membuat Subo terluka?" anak perempuan itu bertanya sambil memandang dengan heran dan penasaran.

Anak perempuan ini adalah Yo Bi Kiok. Seperti telah diceritakan di bagian depan, hampir enam tahun yang lampau Bi Kiok diambil murid oleh Siang-tok Mo-li setelah ditolong dari tangan Phoa Sek It, bekas pengawal Panglima Besar The Hoo yang mencuri bokor emas.

Dengan sia-sia Bu Leng Ci mencari Kun Liong yang disangkanya melarikan bokor emas. Tentu saja dia tidak dapat menemukan Kun Liong karena anak ini telah diambil murid oleh Bun Hwat Tosu di puncak Gunung Teratai Biru dan digembleng selama lima tahun oleh kakek sakti itu.

Selama itu, Bu Leng Ci tekun melatih ilmu silat kepada muridnya dan dia gembira sekali memperoleh kenyataan bahwa Bi Kiok memiliki bakat yang baik sekali. Akan tetapi setiap kali teringat akan bokor emas yang dicarinya, hatinya selalu merasa penasaran sehingga berkali-kali dia mengajak muridnya pergi merantau di sepanjang Sungai Huang-ho untuk menyelidiki dan mencari bokor itu.

Pada waktu itu, dia berada di tepi Huang-ho di lereng Lu-liang-san juga untuk menyelidiki bokor emas itu dan secara tidak tersangka-sangka, di tempat ini dia sampai terluka oleh suami isteri yang sama sekali tidak terkenal! Hatinya penasaran sekali.

Tentu saja dia tidak pernah bermimpi bahwa baru beberapa bulan yang lalu dia pernah berhadapan muka dengan orang yang menyimpan bokor emas yang amat diinginkannya itu. Saat dia membunuhi orang-orang Pek-lian-kauw yang berani melawannya, kemudian bertemu dengan pemuda gundul yang mempunyai keberanian luar biasa, dia sama sekali tidak mengira bahwa pemuda gundul itulah yang dahulu dicari-carinya bersama Bi Kiok! Kalau saja dia tahu!

Dan semua ini adalah karena Bi Kiok merahasiakan tentang diri Kun Liong, karena dara remaja ini tak ingin melihat Kun Liong dibunuh oleh gurunya, hal yang sudah pasti terjadi kalau dia beri tahukan bahwa bokor itu dilarikan oleh Kun Liong. Karena itu pula, sebelum pergi meninggalkan kuil tua, dengan ujung sepatunya Bi Kiok membuat coretan-coretan di atas tanah memperingatkan Kun Liong agar jangan membicarakan tentang bokor dengan siapa pun juga!

Walau pun lukanya tidak hebat, namun hati Bu Leng Ci mendongkol bukan main. Sudah bertahun-tahun dia merantau dan belum pernah dapat dikalahkan lawan, apa lagi sampai terluka! Hanya sedikit hiburan hatinya bahwa dia telah melukai wanita bernama Gui Yan Cu itu dengan Pasir Beracun Wangi. Mengingat ini, dia tersenyum sendiri dan perlahan kemarahannya lenyap.

"Hemmm…, aku terluka hanya sedikit, tidak ada artinya, akan tetapi perempuan itu akan mampus oleh Siang-tok-soa yang mengenai dadanya. Tidak ada obat yang akan dapat menyembuhkan racun pasirku!" katanya dengan menjawab pertanyaan muridnya tadi.

"Subo, selama enam bulan ini Subo selalu mencari bokor emas tanpa mengenal lelah. Sebetulnya apa sih kegunaan bokor itu?" Mereka duduk di bawah pohon dan Bi Kiok memandang gurunya yang sudah selesai membalut luka di pundaknya.

Bi Kiok sudah menjadi seorang dara remaja berusia empat belas tahun. Wajahnya cantik namun sikapnya selalu serius dan dingin. Hal ini agaknya karena dia menderita terlampau banyak kepahitan selama hidupnya.

Bu Leng Ci memandang muridnya. Dia sangat sayang kepada muridnya ini yang selalu patuh, rajin berlatih, dan juga kelihatan berbakti serta sayang kepadanya. Iblis betina ini tersenyum. "Aihh, kau tidak tahu, muridku. Bokor itu merupakan benda pusaka yang amat berharga, mungkin pusaka yang paling berharga yang dimiliki The Hoo."

"Hemm, apakah Subo membutuhkan emas? Betapa mudahnya kalau Subo menghendaki emas." Dengan kata-kata ini Bi Kiok seakan hendak menyatakan bahwa kalau gurunya menghendaki, mereka dapat saja mengambil dan merampas emas milik siapa pun juga, tidak perlu mencari-cari benda yang telah hilang itu.

"Emas? Hi-hi-hik, siapa butuh emas? Bokor itu kabarnya, dan ini hanya kabar angin yang membocor dari rahasia Panglima The Hoo, mengandung peta rahasia yang menunjukkan tempat persembunyian harta pusaka terpendam yang tak ternilai harganya."

"Apakah Subo membutuhkan harta?"

Kembali iblis betina itu tertawa sambil menggeleng kepalanya. Kalau melihat dia sedang bercakap-cakap dengan muridnya sambil tersenyum manis seperti itu, tak akan ada orang mengira bahwa dialah Siang-tok Mo-li, iblis betina yang menggemparkan dunia kang-ouw karena kelihaian serta kekejamannya, mengerikan hati orang karena kebiasaannya yang menyeramkan dan menjijikkan, yaitu mengganyang jantung manusia mentah-mentah, dan diambil langsung dari rongga dada seorang lawan hidup-hidup! Sepatutnya dia seorang wanita bertubuh pendek yang cantik manis dan sayang kepada muridnya.

"Aku tidak membutuhkan harta karena apa saja yang bisa didapatkan dengan harta, dapat pula kuperoleh asal aku menghendakinya. Akan tetapi harta yang sangat besar itu perlu untuk mencapai suatu tingkat kedudukan tinggi, dan pula, yang amat menarik hati adalah kitab pusaka ilmu kesaktian simpanan yang dirahasiakan manusia sakti The Hoo!"

Memang demikianlah, seperti Siang-tok Mo-li itulah isi pikiran sebagian besar manusia di
dunia ini. Betapa menyedihkan!

Manusia diombang-ambingkan oleh keinginan, dan membagi-bagi keinginan itu sebagai keinginan baik, keinginan luhur, keinginan suci dan sebagainya. Padahal, apa perbedaan antara keinginan yang ini dengan keinginan yang itu? Apa perbedaan antara keinginan menjadi pandai, menjadi kaya, menjadi mulia dan lain-lain? Bahkan, apa bedanya antara keinginan duniawi dan keinginan batiniah?

Tetap sama, keduanya keinginan juga yang terdorong oleh hati tidak puas akan keadaan sekarang dan menginginkan keadaan lain yang belum terlaksana, atau karena terdorong oleh rasa takut akan masa depan, takut akan sesuatu yang tidak disukainya.

Kita lupa bahwa keinginan melahirkan kekecewaan apa bila tidak tercapai. Apakah akan mendatangkan kepuasan mutlak apa bila telah tercapai? Biasanya tidak! Keinginan yang tercapai akan terasa hampa, tidaklah seindah dan senikmat kalau belum tercapai, kalau masih menjadi angan-angan, karena pikiran yang selalu terbetot untuk mencari sesuatu yang belum ada selalu akan tertarik kembali untuk menjangkau yang baru lagi.

Keadaan sekarang dianggap sudah lama dan membosankan, selalu ingin yang baru, lupa bahwa yang baru itu kalau sudah tercapai tangan, akan membosankan pula dan menjadi barang lama juga! Demikianlah, kita akan terperosok ke dalam lingkaran setan, yang terus beringin, terus menjangkau sehingga hidup pun menjadi hamba keinginan!

Ada sebagian orang yang menganggap bahwa adanya keinginan itulah yang membuat manusia hidup menjadi lebih maju! Apakah yang dimaksudkan dengan kemajuan? Apakah adanya pertentangan antar manusia, perang, kelaparan di sana sini, permusuhan, iri dan benci-membenci, dendam, ini pun termasuk kemajuan? Apakah setiap perbuatan, setiap pekerjaan yang dilakukan, harus didasari oleh keinginan? Apakah bila orang menanam jagung tanpa mengharapkan apa-apa, tapi melakukan demi cintanya kepada pekerjaan itu saja, maka hasilnya akan berkurang? Apakah benar bahwa kemajuan lahir karena adanya keinginan?

Keinginan membuat manusia menjadi hamba, terikat, dan hidupnya seperti boneka yang digerakkan oleh benang-benang nafsu keinginan. Tak ada lagi kebebasan dalam arti kata yang selengkapnya. Dan selama hidup ini, setiap saat kita dicengkeram sepenuhnya oleh keinginan, maka pertentangan antar manusia tentu saja tak akan pernah berhenti karena keinginan mutlak dikuasai oleh si aku, demi aku, punyaku dan selamanya kita bergerak demi aku masing-masing, damai dan tenteram antara manusia takkan pernah terwujud! Pertentangan, persaingan, perebutan untuk aku masing-masing akan terus berlangsung, baik antara perorangan, antara kelompok, antara ras, antara bangsa!

Alangkah menyedihkan! Bilakah manusia sadar sepenuhnya akan hal ini? Bukan hanya untuk mengetahui, karena pengetahuan hanyalah pengekoran belaka, mengekor kepada yang sudah ada, yang sudah lalu.

Setiap orang pencuri TAHU bahwa mencuri adalah tidak baik. Setiap orang penjudi TAHU bahwa berjudi adalah tidak baik. Namun dia tetap mencuri, dia tetap berjudi. Akan tetapi sekali dia MENGERTI, dalam arti kata mengerti sampai ke akarnya, mengenal diri dan keadaan dirinya sendiri, maka pengertian ini akan menghapus semua itu sehingga lenyap tanpa bekas!


"Subo…," Bi Kiok berkata lagi, "teecu (murid) kira akan percuma saja mencari sebuah benda yang tidak kita ketahui di mana adanya. Bagaimana mungkin bisa mencari sebuah bokor emas di sepanjang sungai Huang-ho yang begini luas dan panjang? Meski pun kita membuang waktu hingga seratus tahun, mana mungkin bisa memeriksa daerah Huang-ho sampai habis?

"Engkau benar, Bi Kiok. Agaknya bokor itu berada di tangan orang lain. Suami isteri yang lihai itu sangat mencurigakan, akan tetapi berat untuk melawan mereka seorang diri. Biar sekarang kita pergi mengunjungi Telaga Kwi-ouw yang tidak jauh dari sini."

Bi Kiok mengerutkan alisnya yang hitam panjang dan kecil. "Telaga Kwi-ouw? Bukankah di sana sarang Kwi-eng-pang?"

"Benar. Aku hendak menemui Kwi-eng Pangcu (Ketua Kwi-eng-pang) dulu, yaitu Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio. Kedudukan kami berdua setingkat. Di dunia sekarang ini hanya ada lima orang yang diakui sebagai tokoh-tokoh yang mewakili kelima penjuru. Aku mewakili daerah selatan, Kwi-eng Niocu mewakili barat, Ban-tok Coa-ong mewakili utara, Hek-bin Thian-sin mewakili timur, dan Toat-beng Hoatsu mewakili daerah di tengah daratan. Kini kabarnya mereka itu semua condong untuk bersekutu dengan Pek-lian-kauw dan sedang bersama-sama menyusun kekuatan untuk menghadapi pemerintah. Dengan bergabung bersama mereka, tentu kelak akan terbuka jalan bagiku untuk memperoleh bokor itu."

"Akan tetapi... Subo telah membunuh orang-orang Pek-lian-kauw di kuil itu, melukai tosu Pek-lian-kauw, membunuh teman murid Kwi-eng Niocu dan melukai murid kepala yang menjadi Ketua Ui-hong-pang itu! Tentu Subo akan dimusuhi mereka."

"Heh-heh, memang kusengaja! Itulah semacam kartu namaku untuk mereka, agar mereka membuka mata dan tahu siapa Siang-tok Mo-li dari selatan! Dulu orang-orang itu berani menentangku, bukan? Maka sudah sepatutnya dibunuh. Hal ini tentu dimengerti oleh para pimpinan Pek-lian-kauw, maka kubiarkan tosu itu hidup. Dan kulukai murid Kwi-eng Niocu agar dia tidak memandang rendah kepadaku!"

"Akan tetapi, mungkinkah mereka mau mengerti setelah Subo melakukan kesukaan Subo atas diri para anggota Pek-lian-kauw itu? Subo tak hanya membunuh mereka, akan tetapi sudah makan jantung mereka. Teecu tahu bahwa Subo mempunyai kebiasaan itu untuk memperkuat diri Subo, dan biar pun teecu sendiri tidak suka untuk melakukannya karena jijik, akan tetapi teecu juga tidak menentang. Hanya yang teecu sangsikan, apakah pihak Pek-lian-kauw dan Kwi-eng-pang akan dapat menerimanya?"

"Mereka sudah tahu akan kebiasaan dan kesukaanku, tentu mereka mengerti."

"Jadi mereka sudah mengerti? Akan tetapi teecu yang menjadi murid Subo malah belum mengerti mengapa Subo hanya suka makan jantung pria saja."

"Hal itu ada hubungannya dengan riwayatku, Bi Kiok."

"Mengapa tidak Subo ceritakan kepada teecu?"

Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci menarik napas panjang, lalu berkata, "Aku tak suka menggali riwayat lama yang menyakitkan hati, akan tetapi tidak kuceritakan pun kelak engkau akan mengetahui. Maka, dari pada mendengar dari orang lain yang mungkin memutar balikkan kenyataan, baiklah kau dengarkan riwayat singkatku yang menjadi pendorong kenapa aku hanya suka mengganyang jantung pria."

Iblis Betina Racun Wangi itu lalu bercerita dengan singkat. Ketika dia masih muda sekali, dia telah mengalami bermacam penghinaan dan perlakuan buruk dari kaum pria. Bu Leng Ci adalah seorang peranakan Jepang. Ibunya diculik oleh bajak laut Jepang sebab ibunya adalah seorang gadis nelayan di pantai laut selatan, kemudian ibunya dipaksa menjadi isteri muda kepala bajak itu sampai melahirkan dia.

Kemudian, dalam usia baru empat belas tahun dia dikawinkan dengan seorang lelaki tua bangsa Jepang dan tinggal di Jepang. Biar pun tua, laki-laki itu adalah seorang pendekar samurai yang kenamaan. Hanya sayang, kakek itu memperisterinya untuk melayaninya dalam keperluan sehari-hari belaka dan semenjak menjadi isterinya, jago samurai itu tidak pernah tidur dengannya! Tentu saja hal ini menjadi siksaan. Barulah diketahui bahwa jago samurai yang dalam istilah dunia persilatan adalah seorang kiam-hiap (pendekar pedang) itu pantang untuk tidur dengan wanita.

Karena itu terjadilah hal yang wajar dalam keadaan seperti itu. Seorang pemuda tetangga mereka, seorang pemuda Jepang yang tampan, lalu menarik hatinya. Mereka saling jatuh cinta. Hal ini diketahui oleh suaminya, namun pendekar Jepang itu bersikap murah dan bijaksana, bahkan memberikan Leng Ci untuk menjadi isteri pemuda itu.

Namun, bagi Leng Ci masa penuh madu itu hanya berlangsung tidak lebih dari beberapa bulan saja. Suaminya, yaitu pemuda yang tadinya bersumpah kerak-keruk mencintainya, segera berpaling muka dan bermain gila dengan wanita-wanita lain. Dia menjadi seorang wanita yang disia-siakan oleh suami!

Pada waktu itu, Leng Ci sudah pandai bermain pedang samurai, dilatih oleh suaminya yang pertama. Setelah beberapa kali bercekcok, akhirnya Leng Ci membunuh suami ke dua ini bersama kekasih suaminya, dan melarikan diri, ikut ayahnya menjadi bajak laut.

Dalam beberapa tahun saja, karena dia memiliki wajah yang cantik manis, dia jatuh ke dalam pelukan berbagai pria yang tadinya bertekuk lutut bersumpah menyatakan cinta, akan tetapi kemudian meninggalkannya untuk wanita lain. Sudah belasan orang pria yang dibunuhnya karena itu, dan akhirnya, ketika dia benar-benar jatuh cinta kepada seorang laki-laki gagah di pantai selatan, dia kembali menjadi isteri laki-laki ini dan hidup bahagia di pantai selatan. Pada waktu itu dia baru berusia tujuh belas tahun!

Alangkah menyedihkan hatinya ketika suami terakhir yang benar-benar dicintanya ini pun tidak setia kepadanya, dan mata duitan pula. Suaminya adalah seorang tokoh dunia kaum sesat. Pada suatu hari, suaminya itu membiusnya dengan obat sehingga dia tertidur dan dalam keadaan seperti itu, dia sudah ‘dijual’ oleh suaminya kepada lima laki-laki golongan hitam yang berani membayar mahal. Selama dua hari dua malam, dalam keadaan pulas karena selalu dilolohi obat bius ini, dia dipermainkan dan ditiduri oleh lebih dari sepuluh orang laki-laki dan untuk itu suaminya telah mengantongi banyak uang!

Setelah sadar, Leng Ci mendapatkan dirinya sudah terhina ada pun suaminya telah kabur membawa uang hasil penjualan dirinya beserta semua barang berharga dalam rumah. Bu Leng Ci lalu mencari suaminya itu dan beberapa bulan kemudian, dia dapat menemukan suaminya, membunuhnya dan mengganyang jantung pria itu hidup-hidup!

Itulah pertama kalinya dia makan jantung pria. Semenjak itu, setiap membunuh seorang pria, dia selalu mengganyang jantungnya!

Makin lama Bu Leng Ci semakin lihai, apa lagi ketika kemudian dia berhasil menarik hati seorang datuk kaum sesat yang menjagoi daerah selatan, yaitu Lam-hai Sin-ni, ibu Sie Biauw Eng yang berkenan menurunkan beberapa ilmu silat tinggi, kepandaian Bu Leng Ci meningkat tinggi. Bahkan dia lantas memperdalam pula ilmu pedang samurai dari suami pertamanya yang masih sayang kepadanya dan dengan suka hati menggemblengnya.

Selama Lam-hai Sin-ni masih hidup, tentu saja Bu Leng Ci tidak berani ikut menjagoi di daratan dan dia bahkan bersembunyi di Jepang untuk memperdalam ilmu samurainya. Ketika jago samurai, suami pertamanya meninggal dunia, dia mewarisi semua milik bekas suami itu, termasuk pedang samurainya. Setelah dia mendengar akan kematian Lam-hai Sin-ni, baru dia berani mendarat dan mulai melakukan petualangannya di daerah selatan sehingga belasan tahun kemudian dia pun menjadi datuk dari kaum sesat untuk daerah selatan.

"Demikianlah riwayat singkatku, muridku. Kaum pria hanya memandang wanita sebagai alat untuk memuaskan nafsu birahinya belaka! Cinta yang didengang-dengungkan, yang diucapkan dengan seribu satu macam sumpah, hanya digunakan sebagai umpan untuk memikat. Setelah kepuasan nafsu birahinya terpenuhi, maka mulailah matanya melirik ke kanan kiri mencari korban baru untuk memuaskan nafsu-nafsunya. Karena itu, aku muak dan aku benci kepada kaum pria umumnya!"

Biar pun dia sendiri telah banyak mengalami hal-hal yang mengerikan dan yang membuat hatinya mengeras, mendengar cerita gurunya ini, meremang juga bulu tengkuk Bi Kiok.

Maka berangkatlah guru beserta murid itu melanjutkan perjalanan, meninggalkan pantai Sungai Huang-ho dan menuju ke barat untuk mengunjungi Kwi-eng-pai di Telaga Setan di barat.

Akan tetapi, baru berjalan setengah hari lamanya, di luar sebuah hutan mereka bertemu dengan lima orang laki-laki yang terlihat gagah perkasa dan yang melakukan perjalanan dengan ilmu berlari cepat. Setelah dekat, guru dan murid ini mengenal seorang di antara mereka yang bukan lain adalah Kiang Ti, Ketua Ui-hong-pang yang berpakaian serba kuning, murid kepala Kwi-eng Niocu Si Bayangan Hantu yang pernah dilukai oleh Bu Leng Ci.

Melihat orang ini, sambil terkekeh Bu Leng Ci menggerakkan kakinya melompat dan dia telah berdiri menghadang di tengah jalan! Akan tetapi, ketika melihat wanita itu, Kiang Ti tidak menjadi takut atau terkejut, bahkan tersenyum lebar dan cepat dia menjura sambil berkata, "Aihh, sungguh beruntung sekali dapat berjumpa dengan Locianpwe di sini! Kami memang sedang menanti Locianpwe."

Bibir yang tipis merah itu tersenyum mengejek, "Apakah kau telah membawa teman untuk membalas pukulanku dahulu itu? Kalau hendak membalas, kenapa bukan gurumu sendiri saja yang datang?"

Walau pun ucapan itu terdengar mengandung ejekan dan penghinaan, namun ketua dari Ui-hong-pang itu sama sekali tidak menjadi marah, bahkan tersenyum makin lebar. "Maaf, maaf... mana saya berani? Sama sekali bukan demikian, Locianpwe. Sesungguhnya kami diutus oleh Subo (Ibu Guru) untuk mencari Locianpwe dan mengundang Locianpwe untuk ikut hadir dalam pertemuan puncak antara lima datuk yang akan mengadakan pertemuan dengan pimpinan Pek-lian-kauw, berempat di Kwi-ouw."

Girang sekali hati Bu Leng Ci. Ternyata bahwa pengiriman ‘kartu nama’ darinya itu telah berhasil. Sekarang dia sudah diakui dan mendapat kehormatan besar! Betapa pun juga, dia menekan kegirangan hatinya sehingga tidak tampak pada mukanya, dan dia berkata, "Apakah kalian mengenal seorang yang bernama Yap Cong San dan isterinya bernama Gui Yan Cu?"

Kian Ti beserta teman-temannya saling pandang. Mereka berlima merupakan tokoh-tokoh Kwi-eng-pang, murid-murid terkemuka dari Kwi-eng Niocu dan telah memiliki pengalaman luas. Namun karena mereka itu bergerak di daerah barat, sedangkan Yap Cong San dan isterinya bertahun-tahun berada di Leng-kok dan tidak pernah terjun ke dunia kang-ouw, maka mereka tidak mengenal suami isteri ini.

"Kami tidak pernah mendengar nama mereka, Locianpwe."

"Mereka adalah orang-orang penting, sebaiknya jika kalian mencari mereka yang sedang berada di daerah ini. Kalau berhasil menangkap mereka, bawalah ke Kwi-ouw. Aku dan muridku akan langsung mendahului ke Kwi-ouw."

Kiang Ti dan teman-temannya menyanggupi, maka kelima orang itu segera melanjutkan perjalanan mencari suami isteri seperti yang diperintahkan oleh Bu Leng Ci. Sedangkan Bu Leng Ci sendiri melanjutkan perjalanan menuju ke Kwi-ouw dan secara diam-diam dia mentertawakan murid-murid Kwi-eng Niocu itu.

"Subo, dua orang yang telah berhasil dilukai Subo, mana mungkin dapat ditangkap oleh lima orang itu?" Tiba-tiba Bi Kiok bertanya.

"He-heh-heh, kau cerdik muridku. Memang kecil sekali kemungkinan mereka akan dapat menangkap suami isteri itu biar pun si isteri telah terluka oleh Siang-tok-soa di dadanya. Akan tetapi peduli apa? Apa bila lima orang Kwi-eng-pai itu tewas, berarti suami isteri itu menjadi musuh Kwi-eng-pang, dan kalau sampai mereka berhasil menawan suami isteri itu, ada gunanya juga bagi kita. Mereka itu adalah ayah bunda bocah setan yang bernama Kun Liong itu."

Sebelum Bi Kiok menjadi murid iblis betina itu, tentu dia akan berseru kaget mendengar ini, atau setidaknya tentu akan berubah air mukanya. Akan tetapi, semuda itu, Bi Kiok sudah dapat menguasai perasaannya sehingga meski pun dia kaget bukan main, namun tidak ada perubahan pada wajahnya yang cantik dan dingin.

Namun pertemuan puncak antara lima orang datuk itu ternyata tidak lengkap. Yang hadir dalam pertemuan itu hanyalah Bu Leng Ci, Kwi-eng Niocu, dan Hek-bin Thian-sin saja. Dua orang datuk lainnya yang lebih tua dan lebih terkenal, yang dianggap sebagai datuk nomor satu dan nomor dua, yaitu Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong, tidak muncul. Hal ini tentu sangat mengecewakan para pimpinan Pek-lian-kauw. Maka, atas persetujuan bersama, pertemuan puncak diundur sampai kedua orang datuk itu dapat ditemukan dan diundang.

Melihat sarang yang menjadi pusat Kwi-eng-pang di mana Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio menjadi ketuanya, hati Bu Leng Ci merasa iri bukan main. Sebagai seorang perantau dan petualang, melihat keadaan ‘rekannya’ yang amat makmur ini, hatinya ingin sekali seperti rekannya itu.

Keadaan Kwi-eng-pang memang kuat sekali. Markas mereka berada di pulau kecil yang letaknya di tengah-tengah Kwi-ouw, sebuah telaga yang besar dan dikurung hutan-hutan pegunungan sehingga bayangan hutan-hutan yang gelap membuat air telaga yang tenang dan dalam itu kelihatan hitam menyeramkan. Karena ini agaknya maka telaga ini disebut Telaga Setan.

Di atas pulau ini didirikan rumah-rumah, memenuhi pulau. Rumah gedung yang mewah di tengah-tengah adalah tempat tinggal Sang Ketua, sedangkan rumah-rumah di sekitarnya ditinggali para pimpinan dan anggota Kwi-eng-pang yang jumlahnya lebih dari dua ratus orang, laki-laki dan wanita.

Selain berlatih silat, para anggota Kwi-eng-pang juga bekerja sebagai nelayan di telaga, juga ada yang bercocok tanam di sekeliling telaga yang memiliki tanah subur, dan ada pula yang berburu binatang di dalam hutan-hutan. Akan tetapi yang menjamin kehidupan mereka hidup mewah dan makmur adalah ‘sumbangan-sumbangan’ dari para penduduk di daerah itu, sumbangan atau ‘pajak’ yang diberikan baik secara suka rela karena takut atau dengan paksaan!

Telaga itu sendiri sebenarnya sangat dalam dan mengandung banyak ikan. Akan tetapi semenjak Kwi-eng Niocu bermarkas di tempat itu belasan tahun yang lalu, keadaan telaga berubah menjadi tempat yang berbahaya sekali. Di sekeliling pulau, di dalam air telaga dipasangi banyak alat rahasia yang membahayakan para pendatang, dan setelah banyak penduduk di sekitar daerah itu yang biasanya mencari ikan di telaga, tewas dalam kedaan mengerikan, kini tidak ada lagi orang berani mendekati telaga itu.

Hanya para anggota Kwi-eng-pang saja yang berani mendayung perahunya di atas telaga karena mereka sudah hafal akan rahasia di sana. Dengan demikian, selain memonopoli semua ikan yang berada di dalam air telaga, juga keadaan markas di pulau itu terlindung kuat, tidak mudah diserbu musuh seperti keadaan sebuah benteng saja layaknya!

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio adalah seorang wanita berusia lebih dari lima puluh tahun. Selama hidupnya belum pernah menikah sehingga orang-orang yang tak suka kepadanya mengatakan bahwa saking jahatnya maka Ang Hwi Nio menjadi seorang perawan tua!

Tubuhnya masih ramping, agak tinggi, dan biar pun usianya sudah mendekati enam puluh tahun, rambutnya belum ada ubannya sama sekali. Matanya masih terang dan giginya masih utuh tersusun rapi seperti keadaan seorang perawan muda saja! Pakaiannya selalu bersih dan rapi, bagaikan pakaian seorang nyonya bangsawan, juga rambutnya diminyaki dan digelung rapi, dihias emas permata yang mahal-mahal.

Melihat orangnya, yang tidak mengenalnya tentu akan mengira dia seorang wanita yang mulai berangkat menjadi nenek-nenek lemah! Akan tetapi sebenarnya dia adalah seorang yang berilmu tinggi, seorang yang ditakuti dunia kang-ouw.

Bahkan mendengar namanya disebut saja sudah cukup membuat jantung orang berdebar tegang dan bulu tengkuk meremang karena nama ini telah terkenal di mana-mana, telah diketahui semua orang bahwa wanita yang tidak pernah keluar dari pulau itu, sekali keluar tentu akan ada yang tewas di tangannya.

Hebatnya, setiap kali dia turun tangan membunuh orang yang dikehendakinya, tidak ada yang dapat melihatnya, hanya melihat bayangannya serta mendengar suara ketawanya yang halus saja. Karena sepak terjangnya inilah maka dia dijuluki Kwi-eng Niocu (Nona Bayangan Hantu). Disebut nona karena dia masih perawan dan disebut Bayangan Hantu karena yang tampak hanya bayangannya.

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tinggal di pulau telaga itu dan hidup sebagai seorang ratu! Rumahnya merupakan gedung indah dan mewah seperti sebuah istana saja, setiap hari dikelilingi pelayan-pelayan cantik dan cara hidupnya royal dan mewah sekali.

Memang Ang Hwi Nio ini tidak pernah menikah. Akan tetapi dia mempunyai seorang anak angkat, sekaligus merupakan murid yang paling pandai. Anak angkat ini bernama Liong Bu Kong, pada waktu itu berusia sembilan belas tahun. Seorang pemuda yang berwajah tampan dan gagah sekali sehingga patut tinggal di dalam istana itu, patut menjadi putera seorang bangsawan, dan amat mengherankan bila pemuda setampan ini menjadi putera seorang iblis betina seperti Kwi-eng Niocu!

Wajah pemuda ini tampan dan bibirnya selalu menyungging senyum dikulum, sepasang matanya bersinar-sinar dan wajahnya selalu berseri-seri. Tapi bagi yang memperhatikan, di balik sinar mata itu terdapat sesuatu yang membuat orang menjadi curiga dan ngeri.

Tidak ada seorang pun yang mengetahui dari mana datangnya pemuda ini. Para anggota Kwi-eng-pang sendiri hanya mengetahui bahwa ketua mereka itu pada waktu datang dan membentuk Kwi-eng-pang sudah membawa seorang anak laki-laki yang bernama Liong Bu Kong, yang menurut pengakuannya adalah anak angkatnya.

Melihat keadaan ini semua, tidak mengherankan apa bila timbul iri dan keinginan di dalam hati Bu Leng Ci. Dia merasa suka tinggal di tempat itu, dan melihat betapa rekannya itu, Ang Hwi Nio, hidup di dalam kemewahan dan kemuliaan, dihormati sebagai ratu oleh dua ratus orang lebih, serta disegani dan ditakuti orang-orang di sekitar daerah itu.

"Tempatmu ini hebat sekali, membuat orang betah berada di sini," kata Bu Leng Ci ketika pada suatu siang dia bersama muridnya duduk berhadapan dengan Ang Hwa Nio di tepi telaga, di dalam sebuah taman buatan yang sangat indah, di bawah pohon yangliu yang bergerak-gerak meliuk-liuk seperti tubuh seorang penari yang lemah gemulai!

"Engkau suka dengan tempat ini?" tanya Kwi-eng Niocu tanpa mengangkat muka karena dia sedang asik memeriksa kuku jari-jari tangannya.

Kukunya panjang-panjang dan terpelihara baik, diberi warna merah muda, dan dipelihara meruncing. Kelihatannya memang bagus dan cantik sekali, akan tetapi dalam pandangan orang kang-ouw tangan dengan kuku jari panjang-panjang menarik itu sama sekali tidak tampak indah menggairahkan, bahkan sebaliknya mendatangkan rasa ngeri karena satu di antara kehebatan ilmu wanita ini terletak pada kukunya yang beracun itu! Jangankan sampai kena dicengkeram, baru tergurat sedikit saja sudah cukup mengirim nyawa lawan ke neraka!

"Kalau memang suka mengapa tidak tinggal di sini saja?"

Bu Leng Ci mengangkat muka, sinar matanya menyambar dan kedua alisnya berkerut.

"Apa maksudmu, Pangcu (Ketua)?" Bu Leng Ci bertanya, dalam suaranya mengandung kemarahan. "Engkau begitu berani memandang rendah kepadaku dan hendak menyuruh aku menjadi kaki tanganmu atau anak buahmu?"

Kwi-eng Niocu Ang Hwa Nio melirik, dan senyum yang menghias bibirnya menyeramkan sekali.

"Siapa yang ingin engkau menjadi anak buahku, Mo-li? Kita adalah rekan dan kedudukan kita setingkat, sungguh pun aku menjadi seorang pangcu dan engkau hanyalah seorang petualang tanpa tempat tinggal. Engkau tadi mengatakan suka kepada tempat ini dan aku menawarkan padamu untuk tinggal di sini, bukan sebagai anak buah, bukan pula sebagai pembantuku, karena engkau memang bukan anggota Kwi-eng-pang."

"Habis, sebagai apa? Tamu? Mana ada tamu tinggal terus-menerus?"

"Juga bukan tamu, tetapi sebagai adik angkat. Maukah?"

Bu Leng Ci bangkit berdiri dan mukanya menjadi merah. Bi Kiok yang sejak tadi duduk mendengarkan dan menonton, diam saja akan tetapi diam-diam dia merasa tegang juga karena kalau sampai gurunya dan Ketua Kwi-eng-pang itu bertanding, tentu hebat bukan main akibatnya.

"Kwi-eng Pangcu! Menjadi adik angkat berarti harus tunduk dan selalu taat kepada kakak angkatnya, berarti sama saja! Apakah dengan memberi tempat tinggal kepadaku harus kubayar dengan tunduk dan taat kepadamu?"

Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio tertawa, suara ketawanya merdu dan halus, akan tetapi ada sesuatu yang amat dingin dan menyeramkan di balik suara tawa ini, seperti suara ketawa seekor ibils betina yang merayu dan menjatuhkan hati orang-orang yang batinnya kurang kuat.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner