PETUALANG ASMARA : JILID-19


Sambil tertawa-tawa mengejek Si Kakek Muka Hitam itu lantas menyambut dengan golok besarnya dan terjadilah pertandingan yang seru. Namun dalam belasan jurus saja pedang Yan Cu sudah tertindih dan beberapa kali pertemuan kedua senjata itu secara kuat sudah membuat pedangnya hampir terlepas dari tangannya.

Mulailah Yan Cu merasa khawatir. Dia bukan mengkhawatirkan dirinya sendiri, melainkan mengkhawatirkan puterinya yang kini dia dengar menangis di dalam kamarnya! Ia sendiri tidak takut mati, akan tetapi bagaimana nasib puterinya yang usianya belum ada satu tahun itu kalau sampai terjatuh ke dalam tangan iblis-iblis ini? Mengapa suaminya belum juga pulang?

"Hek-bin Thian-sin, aku ikut berpesta, ha-ha-ha-ha!" Suara ini keluar dari mulut Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan pedangnya yang berbentuk ular itu telah meluncur ke depan.

Pada saat itu, Yan Cu baru saja menangkis golok besar Hek-bin Thian-sin yang membuat tangannya gemetar. Maka begitu pedang itu sekarang bertemu dengan pedang ular yang didorong oleh tenaga yang luar biasa kuatnya, dia tidak dapat mempertahankan lagi dan pedangnya terlepas dari tangannya.

Suara terkekeh di belakangnya adalah suara Bu Leng Ci yang sudah menyambar pedang itu dan pada waktu itu Yan Cu merasa betapa pundaknya nyeri bukan main, panas dan membuat tubuhnya menggigil saking nyerinya. Maklum bahwa nyawanya terancam, dan teringat akan nasib puterinya, Yan Cu mengeluarkan pekik melengking yang dimaksudkan untuk memanggil suaminya.

Guratan kuku jari tangan Kwi-eng Niocu yang menggores pundak Yan Cu itu membuat wanita perkasa ini terhuyung dan pening kepalanya. Namun dia masih nekat dan sambil membalik dia membarengi memukul sebelum Kwi-eng Niocu menarik tangannya.

"Dukkk!"

Sungguh pun Kwi-eng Niocu tidak roboh oleh pukulan yang menyambar dan mengenai pangkal lengannya ini, namun cukup membuat dia merasa kesakitan dan lengan kirinya seperti lumpuh sejenak.

Dia marah sekali. Sambil mengeluarkan suara menggereng laksana harimau terluka, dia menubruk maju dan tangannya menampar. Yan Cu yang sudah pening itu hanya mampu menangkis sebuah tamparan dengan tangan kiri yang kurang cepat gerakannya itu, akan tetapi tamparan tangan kanan Si Bayangan Hantu mengenai lehernya.

Yan Cu terpekik dan terjengkang. Sebelum tubuhnya jatuh mengenai tanah, sinar pedang berkelebat dan pedangnya sendiri yang dipergunakan oleh Bu Leng Ci telah menembus dada wanita perkasa ini! Gui Yan Cu tidak mengeluh lagi, roboh telentang dengan dada tertembus pedangnya sendiri, tewas seketika. Darah muncrat membasahi bajunya.

Pada saat Yan Cu mengeluarkan suara melengking tadi, Yap Cong San telah tiba dekat rumah itu. Dia terkejut mengenal lengking isterinya dan cepat sekali dia berlari ke dalam rumah. Ketika dia mendengar suara tangis puterinya, dia langsung memasuki kamar dan lega hatinya melihat puterinya itu menangis di atas ranjang dalam keadaan selamat. Dia menyambar puterinya itu dan dibawanya lari keluar.

Ketika dia melihat mayat-mayat bergelimpangan, yakni mayat Kakek Theng, puterinya, menantunya dan dua orang pelayan, Cong San terkejut setengah mati. Dengan jantung berdebar tegang dia terus berlari ke arah suara pertempuran di ruangan dalam dan pada waktu dia muncul di ambang pintu ruangan itu dilihatnya isterinya sudah rebah terlentang dengan dada tertembus pedang!

"Yan Cuuu...!!" Dia memekik dan meloncat ke dalam.

Sejenak dia bagai terpesona memandang jenazah isterinya, kemudian pandang matanya menyapu pada wajah lima orang yang berdiri di situ sambil tersenyum-senyum. Air mata mengalir di sepanjang kedua pipi pendekar itu, akan tetapi sepasang matanya tak pernah berkedip ketika dia memandang ke arah mereka satu demi satu, kemudian kembali dia menoleh kepada jenazah isterinya.

"Yan Cu... ohh... ohhh... Yan Cu...!" Dia merintih, rintihan yang diselingi oleh tangis Yap In Hong, anak kecil dalam pondongannya.

Tiba-tiba saja Cong San membalikkan tubuh menghadapi lima orang itu. Begitu melihat Bu Leng Ci, mudah saja baginya untuk menduga siapa adanya empat orang yang lain itu. Walau pun dia belum pernah bertemu muka dengan mereka itu, akan tetapi dia sudah mendengar berita tentang lima orang datuk kaum sesat.

Biar pun kemarahan dan kedukaan menyesak di dalam dadanya, namun sebagai seorang pendekar besar Cong San dapat menekan perasaannya dan dia harus lebih dahulu tahu siapa sebenarnya mereka dan mengapa mereka membunuh keluarga Kakek Theng dan isterinya.

"Bukankah kalian ini Lima Datuk kaum sesat?" tanyanya dengan suara yang terdengar aneh sekali, agak parau dan nadanya bercampur tangis dan kemarahan.

"Hi-hi-hi-hik, sudah tahu mengapa tidak lekas berlutut minta ampun?" Bu Leng Ci tertawa mengejek.

"Mengapa kalian memusuhi kami?"

"Yap Cong San, anakmu yang bernama Kun Liong telah mencuri bokor emas. Lekas kau katakan di mana dia dan di mana adanya bokor emas itu, kalau tidak, terpaksa engkau akan menyusul isterimu!"

Bu Leng Ci berkata dengan wajah gembira. Memang wanita iblis ini paling suka melihat orang berduka dan sengsara. Bukan hanya dia, bahkan demikian juga dengan keempat orang kawannya, pandang mata mereka seperti mata kanak-kanak melihat seekor cacing menggeliat-geliat kepanasan dalam sekarat. Sedikit pun tidak ada rasa kasihan, bahkan gembira dan puas!

Akan tetapi Cong San tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan pertanyaan ini, dia bahkan bertanya lagi, "Siapa yang membunuh isteriku?"

"Aku yang membunuhnya, kau mau apa?" belum habis ucapan ini keluar dari mulut Bu Leng Ci, Cong San sudah menggerakkan senjata pit hitam di tangan kanannya.

"Siuuuuttt... wesss!"

Cepat bukan main serangan maut itu, dilakukan dengan hati sakit dan penuh dendam, menusuk ke arah dada orang termuda dari Lima Datuk kaum sesat itu. Bu Leng Ci tidak sempat mencabut samurainya dan hanya dapat mengelak dengan hati kaget sekali untuk menyelamatkan dirinya.

"Brettt!" Baju yang menutup dada terobek sedikit berikut sedikit kulit di bagian kanan.

"Keparat!" Bu Leng Ci marah bukan main, juga malu karena hampir saja dia celaka oleh serangan itu tadi.

"Srattt…!" Samurai panjang telah dicabutnya, dan dia menyerang kalang kabut.

"Tring-tring-tranggg…!"

Bunga api berpijar ketika senjata pit itu menangkis samurai. Kwi-eng Nio-cu membantu adik angkatnya dengan cengkeraman dari samping ke arah pundak Cong San, akan tetapi pendekar ini cepat mengelak dan pit-nya langsung berkelebat menyambut untuk menotok sambungan siku Si Bayangan Hantu.

Gerakannya cepat dan kuat sekali. Sakit hati, kemarahan dan kedukaan melihat isterinya yang terkasih tergeletak tak bernyawa dengan dada tertembus pedang, agaknya melipat gandakan tenaga dan kecepatannya.

Si Bayangan Hantu terpaksa menarik kembali lengannya dan di lain saat, Yap Cong San telah dikeroyok oleh empat orang di antara lima datuk hitam itu. Hanya Toat-beng Hoatsu seorang yang berdiri menonton saja, tidak ikut turun tangan.

Biar pun demikian, Cong San sudah repot sekali. Jangankan dikeroyok oleh empat orang yang lihai itu, baru seorang di antara mereka saja sudah merupakan lawan berat yang belum tentu dapat dikalahkannya. Betapa pun juga, Cong San tidak gentar dan melawan mati-matian, biar pun gerakannya tidak leluasa karena lengan kirinya masih memondong puterinya yang menangis nyaring.

Pertandingan yang berat sebelah! Yap Cong San adalah murid Tiong Pek Ho-siang. Dia sudah menguasai ilmu silat Siauw-lim-pai yang tangguh dan murni. Akan tetapi, dengan seorang anak kecil dalam pondongannya, menghadapi empat di antara datuk-datuk kaum sesat itu, tentu saja dia terdesak hebat sekali sehingga beberapa belas jurus kemudian dia hanya mampu mempertahankan diri dan melindungi puterinya saja.

Apa lagi karena empat orang lawannya adalah orang-orang sakti golongan hitam yang tidak pantang melakukan pengeroyokan dan menggunakan siasat licik. Kini mereka yang mengeroyok sambil tertawa-tawa seperti hendak mempermainkan lawan, bukan hanya menyerang Cong San, akan tetapi juga menujukan serangannya kepada anak kecil dalam podongan pendekar itu.

Hal ini membuat Cong San selain marah dan duka, juga khawatir sekali. Tadi dia dilanda kedukaan yang amat dalam sehingga baru sekarang teringat bahwa puterinya yang masih kecil dan terus menangis ini terancam bahaya maut! Maka dia kini mencurahkan seluruh daya pertahanannya untuk melindungi puterinya.

"Huhh! Memalukan!" Toat-beng Hoatsu mengeluarkan seruan keras ketika menyaksikan betapa sampai tiga puluh jurus lebih empat orang kawannya masih belum juga mampu merobohkan seorang lawan yang mereka keroyok.

Baru pengeroyokan itu saja sudah sangat menjengkelkan kakek ini. Disebut datuk-datuk akan tetapi masih melakukan pengeroyokan! Merendahkan martabat ini namanya! Untuk mengakhiri pengeroyokan yang memalukan ini, tiba-tiba dia menggerakkan jubahnya dari belakang, mengarah kepala anak kecil dalam pondongan Cong San!

Terkejut bukan main hati Cong San ketika merasa angin dahsyat sekali menyambar ke arah kepala anaknya. Jangankan sampai mengenai langsung, baru sambaran angin yang dahsyat itu saja sudah cukup untuk membunuh puterinya!

Tidak ada jalan lain baginya kecuali mengorbankan diri untuk melindungi anaknya. Cepat Cong San membalik sehingga tubuh anaknya terlindung dan dia memutar pit-nya untuk menyambut datangnya jubah lebar yang amat dahsyat sambarannya itu.

"Bretttt...! Desss...!"

"Suhu...! Subo...!" Terdengar jerit melengking di pintu ruangan.

Cong San cepat memutar tubuh dan melemparkan Yap In Hong ke arah muridnya sambil berteriak, "Cui Lin, bawa lari In Hong...!"

Hantaman jubah di tangan Toat-beng Hoatsu tadi hebat sekali. Memang pit-nya mampu merobek jubah itu, akan tetapi pit itu sendiri hancur dan lengan kanannya lumpuh dengan tulang patah-patah. Kini dia sudah mencabut pit putih dengan tangan kirinya dan bersiap menghadapi lawan-lawan yang amat lihai itu!

Akan tetapi Cui Lin tidak dapat lari karena sepasang kakinya menggigil ketika dia melihat subo-nya mati. Apa lagi ketika dia melihat mayat ayahnya, ibunya, kakeknya berserakan, hampir dia roboh pingsan. Dia hanya berlutut dan menangis sambil memeluk In Hong!

Biar pun lengan kanannya sudah lumpuh dan dia hanya mampu melawan dengan pit di tangan kirinya, akan tetapi Cong San masih mengamuk hebat sehingga pit-nya berhasil melukai pundak Hek-bin Thian-sin, biar pun dia sendiri sudah menerima pukulan-pukulan dari senjata lawan yang membuat pakaiannya robek-robek dan penuh darah.

"Jahanam Yap Cong San, mampuslah!"

Bu Leng Ci yang marah sekali karena tadi dia hampir celaka oleh pit di tangan Cong San, menggerakkan tangan kirinya dan nampak sinar hijau menyambar. Ketika itu Cong San sedang terhimpit oleh karena Toat-beng Hoatsu yang marah akibat jubahnya robek sudah mendesaknya. Karena itu pendekar ini tidak dapat menghindarkan diri lagi dari sambaran Siang-tok-soa (Pasir Beracun Wangi) yang disambitkan oleh Bu Leng Ci dari jarak dekat.

"Aduhhh...!" Dia berseru ketika pasir itu memasuki dadanya.

Hidungnya mencium bau yang wangi sekali dan tahulah dia bahwa nyawanya tidak akan tertolong lagi. Dengan sekuat tenaga dia lantas menyambitkan pit-nya ke arah lawan yang terdekat, yaitu Ban-tok Coa-ong. Begitu hebat sambitan ini sehingga meski pun Ban-tok Coa-ong meloncat ke atas, tetap saja pit yang tadinya dimaksudkan oleh penyambitnya untuk menembus dadanya itu masih menembus betisnya!

"Auuuww... setan kau!" Ban-tok Coa-ong menubruk dan pedang ularnya membacok.

Cong San mengelak, akan tetapi kurang cepat hingga pinggangnya robek. Dengan luka parah ini Cong San masih belum roboh, melainkan menubruk ke arah jenazah isterinya dan memeluk isterinya.

"Yan Cu... tunggu... Yan Cu...!" Dengan tubuh isterinya dalam pelukan ketat, pendekar ini menghembuskan napas terakhir!

Suami isteri pendekar gagah perkasa yang saling mencinta dan yang sepanjang hidupnya banyak mengalami kemalangan itu tewas dalam keadaan menyedihkan sekali bagi yang melihatnya.

"Huh, menjemukan!" Bu Leng Ci yang masih marah itu menendang mayat Cong San.

Mayat itu terlempar, akan tetapi mayat Yan Cu juga ikut terbawa. Ternyata bahwa pelukan Cong San itu ketat sekali, seolah-olah sampai mati pun dia tak mau melepaskan isterinya dan lengannya telah menjadi kaku.

"Ha-ha-ha, mesra-mesra... auggghh..." Ban-tok Coa-ong mencabut pit dari betisnya dan mengobati lukanya.

"Suhu...! Subo...! Uhuhuhuh...!" Cui Lin yang masih memondong tubuh In Hong menangis mengguguk sambil berlutut di atas lantai.

Di luar pintu tampak Phoa-ma berlutut. Wajahnya pucat sekali, matanya terbelalak dan mulutnya mewek-mewek menahan tangis saking ngeri dan takutnya. Dia tadi bersama Cui Lin berlari-lari pulang ketika mendengar laporan dari seorang tetangga bahwa di rumah keluarga Theng terdengar ribut-ribut seperti orang berkelahi.

"Hemm, bocah ini murid mereka, tidak boleh hidup!" Bu Leng Ci berkata dan samurainya sudah menggetar di tangannya.

"Mo-li, jangan! Sayang kalau dibunuh begitu saja. Hemm, berikan dia kepadaku sebelum dibunuh!" Yang berkata demikian adalah Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu.

Bu Leng Ci membuang ludah. "Cuhh! Laki-laki kotor!"

"Aahhh, masa kau tidak mau mengalah kepadaku? Kalau mau bunuh bayi itu, bunuhlah, akan tetapi sayang jika dara ini dibunuh begitu saja. Aku bukan seorang mata keranjang, akan tetapi melihat kemulusan seperti ini disia-siakan dan dibunuh tanpa dimanfaatkan, sungguh amat sayang."

Bu Leng Ci membuang muka dengan sebal, sedangkan Kwi-eng Nio-cu cemberut. Kedua orang wanita yang sudah banyak melihat kepalsuan laki-laki terhadap wanita ini merasa muak dan kebenciannya terhadap pria bertambah dengan sikap Si Muka Hitam itu.

Cui Lin yang mendengar percakapan itu mengangkat mukanya yang pucat, memandang kelima orang pembunuh keluarganya dan gurunya itu. Dia maklum bahwa melawan akan percuma. Yang penting sekarang adalah menyelamatkan In Hong.

Perintah gurunya terakhir adalah menyelamatkan atau melarikan In Hong. Akan tetapi dia tak dapat lari dan sekarang dia harus menggunakan segala usaha untuk menyelamatkan puteri gurunya. Dia tidak takut lagi, yang ada hanya benci. Dendam sedalam lautan yang sulit untuk ditebusnya, mengingat betapa lihainya kelima orang itu. Akan tetapi kini yang paling penting adalah menyelamatkan In Hong.

Dia bangkit berdiri dengan In Hong di pelukannya. Suaranya tidak gemetar takut ketika dia berkata,

"Ampunilah anak kecil yang tidak berdosa ini. Aku bersedia mentaati perintah kalian, biar disuruh mati sekali pun, asal adikku ini diampuni dan dibiarkan pergi bersama Phoa-ma."

"Ha-ha-ha, Nona manis, engkau tabah sekali. Benarkah engkau bersedia menuruti semua kehendakku?" Si Muka Hitam yang buruk rupa itu terkekeh dan bertanya.

"Asal adikku dibebaskan." Cui Lin mengangguk.

"Anak itu tentu anak mereka. Dulu orangku mengatakan bahwa ketika mereka menyerbu, Gui Yan Cu sedang mengandung. Anak ini harus dibunuh, kalau tidak, kelak hanya akan mendatangkan kerepotan saja," kata Kwi-eng Nio-cu.

Cui Lin terkejut. Cepat dia memutar otaknya lalu berkata nyaring dengan nada mengejek, "Aih, orang-orang lihai macam kalian takut kepada seorang anak bayi, takut kalau kelak membalas dendam? Tak kusangka kalian penakut seperti itu!"

"Budak hina!" Kwi-eng Nio-cu telah menggerakkan tangan menampar, akan tetapi Hek-bin Thian-sin sudah meloncat ke depan menghalangi.

"Nio-cu, dia tidak boleh dibunuh dulu sebelum aku selesai dengannya."

"Kau... hendak membelanya? Kau kira aku takut kepadamu, Hek-hin Thian-sin?!" Kwi-eng Nio-cu membentak.

"Takut atau tidak bukan urusanmu, akan tetapi tadi sudah kunyatakan bahwa aku tidak ingin melihat gadis ini dibunuh begitu saja."

"Kalau begitu, majulah!" Si Bayangan Hantu menantang.

"Uhh-uhhh!" Toat-beng Hoatsu terbatuk-batuk. "Apakah kalian ini anak-anak kecil yang karena urusan sepele saja hendak saling hantam?"

Ditegur demikian oleh orang tertua di antara mereka, keduanya mundur lagi, dan Hek-bin Thian-sin berkata kepada Cui Lin, "Dara manis, siapa takut kepada bocah itu? Biarkan dia hidup dan belajar seratus tahun, kami tidak akan takut! Siapa bilang Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu takut akan pembalasan seorang anak bayi? Entah kalau yang lain takut!"

"Sombong! Aku pun tidak takut!" Si Bayangan Hantu membentak.

"Hi-hik, biarkan bayi itu besar, kelak masih belum terlambat kita membunuhnya. Ingin aku melihat bagaimana dia hendak membalas dendam!" kata pula Bu Leng Ci.

Hek-bin Thian-sin tertawa bergelak. "Nah, begitu barulah sikap orang gagah! Tidak takut dan pantang mundur menghadapi tantangan pendendam! Eh, Nona, benarkah kau akan menurut segala perintahku kalau kami membebaskan bocah itu?"

"Aku Tan Cui Lin adalah keturunan orang gagah dan murid pendekar perkasa, sekali bicara tidak akan ditarik kembali!" Cui Lin yang sudah mengambil keputusan tetap untuk menyelamatkan In Hong sebagai perbuatan terakhir itu menjawab dengan sikap gagah.

"Ha-ha-ha-ha, bagus! Kalau begitu, hayo kau tanggalkan semua pakaianmu, bertelanjang bulat di depan kami!" Hek-bin Thian-sin memerintah.

Dapat dibayangkan betapa perasaan seorang dara berusia enam belas tahun seperti Cui Lin mendengar perintah biadab seperti itu. Hampir dia pingsan membayangkan betapa dia harus menanggalkan semua pakaian di hadapan mereka. Penghinaan yang tiada taranya bagi seorang dara. Akan tetapi ketekadan bulat didorong putus asa dan kedukaan melihat semua orang yang dikasihinya tewas, membuat dia menjawab dengan suara tenang,

"Bebaskan dulu adikku. Biarkan dia dibawa pergi Phoa-ma. Ehh, Phoa-ma, bawa pergi In Hong, jaga baik-baik dan hati-hatilah memelihara dia."

Dengan tubuh menggigil Phoa-ma menerima In Hong dari tangan Cui Lin, memondong bayi itu, kemudian bergegas pergi keluar dari rumah itu dengan tubuh gemetar.

Sesudah melihat Phoa-ma pergi tak tampak lagi, Cui Lin melangkah maju dan perlahan-lahan, jari jemari tangannya mulai menanggalkan pakaiannya, satu demi satu. Ia sengaja melakukan ini dengan lambat sekali karena dia hendak menarik perhatian mereka sambil memberi kesempatan kepada Phoa-ma untuk lari jauh di tempat yang aman. Tidak akan sulit bagi Phoa-ma untuk bersembunyi dan andai kata iblis-iblis ini melanggar janji, belum tentu mereka akan dapat mencari Phoa-ma di kota sebesar Tai-goan.

Andai kata keadaan tidak seperti itu, dan hatinya tidak seduka itu, agaknya sampai mati pun dia tidak akan sudi menanggalkan pakaian, lebih baik dia mati. Akan tetapi, perasaan duka membuat perasaan lain membeku, lupa akan rasa malu dan lain-lainnya, yang ada hanyalah keinginannya untuk menyelamatkan In Hong didorong perasaan sengsara dan duka.

Kwi-eng Nio-cu dan Siang-tok Mo-li membuang muka.

"Menyebalkan, perempuan hina!" Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci berkata.

"Perempuan tak tahu malu seperti pelacur!" Kwi-eng Nio-cu juga memaki.

Akan tetapi Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu menonton pertunjukan itu dengan kedua mata melotot. Makin lambat dara muda itu menanggalkan pakaian, terasa makin menarik dan menggairahkan, menimbulkan nafsu birahi yang berkobar-kobar. Toat-beng Hoatsu hanya terbatuk-batuk sama sekali tidak tertarik, juga tidak membenci pertunjukan yang baginya sudah tidak ada daya penariknya sama sekali itu.

Akan tetapi Ban-tok Coa-ong juga tertarik dan tersenyum kagum. Betapa hati pria tidak akan terpesona menyaksikan tubuh dara muda yang ramun itu tampak sedikit demi sedikit seperti itu?

Akhirnya Cui Lin sudah menanggalkan seluruh pakaiannya dan berdiri dengan telanjang bulat. Bagaikan seorang wanita berpengalaman yang biasa menggoda pria, dara remaja yang masih mentah ini dan yang mendadak menjadi matang karena himpitan duka itu, mencabut tusuk konde, membiarkan rambut yang hitam panjang itu terurai lepas di atas kedua pundaknya, sebagian menutupi dadanya yang padat, akan tetapi bahkan nampak semakin menggairahkan.

"Aduh, nona manis, engkau hebat sekali!" Hek-bin Thian-sin meraih pinggang dara itu dan menarik lalu memeluknya. Tanpa malu-malu lagi dia menciumi bibir Cui Lin.

Dara itu hampir pingsan. Selama hidupnya belum pernah dia melakukan semua itu dan belum pernah pula dicium pria, dalam mimpi pun belum. Kini, muka yang hitam kasar itu menciuminya, membuat dia hampir muntah. Akan tetapi dia segera mengeraskan hatinya, memejamkan mata agar tidak melihat muka hitam berkilat itu, tangannya bergerak.

"Manis, cantik jelita... ahhh... hemm... aughhhh…!" Hek-bin Thian-sin berteriak dan cepat mengerahkan sinkang ke ulu hatinya, tangannya dengan jari tangan miring menghantam kepala Cui Lin.

"Trakkk!"

Tanpa dapat mengeluh lagi, tubuh Cui Lin yang telanjang bulat itu terpelanting dan roboh dengan kepala retak dan tewas seketika. Hek-bin Thian-sin menyumpah-nyumpah ketika dari ulu hatinya dia mencabut tusuk konde yang hampir saja membunuhnya itu. Untung dia cepat-cepat mengerahkan sinkang sehingga tusuk konde itu hanya masuk sedalam tiga senti saja. Sambil mengobati lukanya dia memaki-maki.

"Perempuan jahat! Curang! Ahhh, mana anak kecil itu? Harus dibunuh sekali!" teriaknya sambil mencak-mencak.

Kwi-eng Nio-cu dan Siang-tok Mo-li tertawa terkekeh-kekeh dengan hati girang sekali.

"Rasakan kau sekarang, laki-laki kotor!" Bu Leng Ci bersorak.

"Wah, sayang. Jika tidak mati, mau rasanya aku mengambil dara ini sebagai murid!" kata Si Bayangan Hantu.

Orang-orang berkerumun di depan rumah keluarga Kakek Theng ketika lima orang aneh ini meninggalkan rumah itu. Tadi Phoa-ma yang membawa lari In Hong, setelah tiba di luar dan bertemu dengan orang-orang, tidak dapat berkata apa-apa kecuali suara lirih,

"Pembunuhan...! Pembunuhan...!"

Phoa-ma berkata tanpa berhenti menoleh dan tidak peduli pertanyaan orang, melainkan terus melarikan diri sambil memeluk anak itu erat-erat. Karena inilah, maka orang-orang berkumpul di depan rumah itu. Ketika mereka melihat lima orang aneh itu keluar dengan sikap angkuh dan seenaknya, tidak ada yang berani bertanya, dan setelah lima orang itu pergi, barulah berbondong-bondong mereka memasuki rumah.

Dapat dibayangkan betapa gegernya pada waktu mereka melihat bahwa rumah itu penuh dengan darah serta mayat berserakan! Mayat-mayat dalam keadaan mengerikan sekali, terutama Cui Lin yang mati dalam keadaan telanjang bulat dan kepala pecah!

Banyak yang tidak kuat menyaksikan dan ada yang jatuh pingsan, ada pula yang jatuh berlutut karena kedua kaki terasa lemas dan lumpuh. Akan telapi ada beberapa orang yang cepat berlari keluar untuk mengejar lima orang aneh itu.

Setibanya di luar, tidak ada nampak bayangan seorang pun di antara dua orang wanita dan tiga orang kakek yang menyeramkan tadi. Tentu saja mereka segera berlari melapor kepada yang berwajib dan gegerlah kota Tai-goan, apa lagi karena Kakek Theng terkenal sebagai orang terhormat, bekas pengawal kaisar!

"Kejam sekali!"

"Bukan manusia!"

"Lebih kejam dari pada iblis!"

Demikian komentar para penduduk Tai-goan. Dan agaknya ada pula para pembaca yang memberi komentar seperti itu.

Kejamkah Lima Datuk kaum sesat itu? Tentu saja kejam sekali. Akan tetapi marilah kita menyelidiki keadaan kita manusia hidup ini. Bukankah dengan cara masing-masing serta menurutkan pendapat masing-masing, kita ini juga merupakan orang-orang yang kejam? Mari kita tengok di sekeliling kita. Bukankah hidup manusia penuh dengan segala macam kejahatan?

Pembunuhan terjadi di mana-mana. Ada pembunuhan karena perkelahian, juga karena iri, karena perampokan, karena kebencian, karena permusuhan dan lain sebagainya. Banyak pula pembunuhan massal karena perang. Perang antar bangsa yang pada hakekatnya mencerminkan perang dan pertentangan antar kelompok, antar perorangan, dan akhirnya bersumber pada pertentangan dalam diri kita masing-masing!

Tidak kejamkah kita kalau kita mengiri kepada atasan dan menghina kepada bawahan? Kalau kita suka kepada yang baik dan jijik terhadap yang buruk, termasuk manusia? Tidak kejamkah kita kalau milik kita berlimpah dan berlebihan tetapi hati kita tidak terusik sama sekali melihat sesama manusia kurang makan kurang pakaian dan tiada tempat tinggal seperti kaum jembel dan gelandangan? Tidak kejamkah kita jika untuk sebuah kedudukan saja kita sampai hati untuk saling jegal, saling fitnah, saling benci, dan saling bunuh?

Kalau kita mau belajar mengalihkan pandangan kita ke dalam diri sendiri, mau mengenal keadaan hati dan pikiran sendiri secara jujur, akan tampaklah bahwa selain kejam, kita pun munafik-munafik besar. Mulut bicara tentang saling kasih antar manusia, namun mata memandang penuh rasa iri dan benci, tangan dikepal siap saling hantam, hanya untuk memperebutkan uang, kedudukan, nama dan juga memperebutkan kebenaran yang tidak lain hanyalah kebenaran diri sendiri masing-masing dan karenanya menjadi kebenaran palsu.

Mari kita ingat betapa kejamnya kita ini! Digigit seekor nyamuk ingin membunuh semua nyamuk, berdasarkan dendam dan kebencian. Berdasarkan jijik dan takut akan terkena penyakit, kalau bisa semua lalat hendak dibasmi! Berdasarkan nafsu makan enak yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan kesehatan, kita membunuh segala binatang untuk kita makan bangkainya. Apakah kita tidak kejam? Apakah alasan bahwa ‘semua itu sudah umum’ dapat dipakai untuk menghapus kekejaman ini?

Dapatkah kita berusaha menghapus kekejaman? Dengan ilmu apa pun tidak akan dapat! Karena keadaan bebas dari kekejaman bukanlah keadaan yang dibuat dan diusahakan. Orang tidak akan mungkin dapat berhasil kalau dia berusaha menjadi orang baik!

Usaha menjadi baik hanya menjadikan orang munafik yang merasa diri baik, dan segala usaha dan keinginan selalu mengandung pamrih atau tujuan yang semuanya bersumber kepada keuntungan lahir mau pun batin bagi diri pribadi. Kekejaman akan terhapus apa bila kita mengerti sampai ke akarnya kenapa kita kejam, apa bila kita mengenal keadaan diri kita pribadi, mengenal gerak pikiran dan hati kita pribadi.

Marilah kita bersama memulai dari detik ini juga. Karena hidup adalah dari detik ke detik. Hidup adalah sekarang ini. Perubahan adalah saat ini, bukannya ingin mengubah namun perubahan yang terjadi harus dengan sendirinya sesudah kita membuka mata, waspada penuh kesadaran tentang keadaan kita lahir batin, keadaan sekeliling kita.

Apa itu kemarin? Sudah lalu! Hanya menimbulkan kenangan yang mengeruhkan pikiran. Apa itu besok? Bukan urusan kita! Hanya menimbulkan bayangan khayal yang kemudian melahirkan kekhawatiran dan ketakutan. Yang penting sekarang, saat ini!


********************

Marilah kita kembali ke Siauw-lim-si. Di kuil itu telah dipersiapkan untuk menerima tamu yang diduga tentu akan membanjiri kuil itu untuk memberi penghormatan terakhir kepada jenazah Tiong Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio.

Yap Kun Liong masih berada di kuil itu karena dia hendak membantu sampai upacara pembakaran jenazah dan penguburan selesai. Selain ini, dia pun hendak menanti ayah bundanya karena menduga bahwa sekali ini ayah bundanya pasti akan datang ke Siauw-lim-si.

Tiong Pek Hosiang adalah guru ayahnya, mustahil ayahnya tidak datang bila mendengar gurunya meninggal dunia. Dan ayahnya pasti akan mendengarnya karena berita ini tentu tersiar luas di kalangan kang-ouw. Juga dia ingin bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw yang diduga akan membanjiri kuil itu.

Kasihan sekali pemuda ini. Dia sama sekali tidak pernah mimpi bahwa ayah bundanya yang dirindukannya itu sudah tewas kurang lebih tiga tahun yang lalu!

Kun Liong merasa gembira sekali melihat tokoh-tokoh kang-ouw mulai berdatangan. Dia kini telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun yang bertubuh tegap dengan dada bidang penuh kesehatan dan kekuatan. Wajahnya tampan dan kepala gundulnya sama sekali tidak menyuramkan ketampanan wajahnya bahkan memberi ciri ketampanan yang khas!

Sinar matanya berubah-ubah, kadang--kadang lembut seperti mata kanak-kanak, kadang-kadang bersinar tajam dan keras. Mata itu lebar, sesuai dengan dahinya yang lebar dan kepalanya yang bulat. Alisnya hitam tebal dan berbentuk golok, hidungnya mancung dan mulut serta dagunya membayangkan watak kuat dan kemauan membaja.

Perangainya juga aneh dan berubah-ubah. Kadang-kadang dia pelamun, pendiam seperti orang pemurung, akan tetapi ada kalanya dia lincah jenaka penuh kegembiraan dan kalau sudah begini, muncul pula kenakalannya seperti ketika masih kanak-kanak.

Karena dia berdiri seperti orang berjaga di ruangan tamu di mana Ketua Siauw-lim-pai sendiri menerima tamu, maka dengan jelas dia dapat melihat tokoh-tokoh kang-ouw yang namanya disebut setiap kali menghadap Ketua Siauw-lim-pai kemudian bersembahyang di depan kedua peti jenazah. Yang datang adalah tokoh-tokoh besar, utusan partai-partai Kun-lun-pai, Bu-tong-pai, Hoa-san-pai dan lain-lain partai persilatan yang terkenal. Juga banyak dari perkumpulan-perkumpulan silat, dari perorangan yang telah mengenal pribadi kedua orang tokoh Siauw-lim-pai yang meninggal dunia atau yang hanya datang untuk menghormati Siauw-lim-pai. Akan tetapi hatinya sangat kecewa karena dia tidak melihat ayah bundanya.

"Locianpwe, mengapa ayah bunda teecu belum juga tiba?" akhirnya dia tidak sabar lagi, bertanya lirih kepada Thian Kek Hwesio.

Hwesio ketua Siauw-lim-pai ini menarik napas panjang. "Ayahmu bukan lagi murid Siauw-lim-pai, andai kata berhalangan datang pun tidak mengapa. Lihat, itu Cia-taihiap datang!" Hwesio tua itu bangkit berdiri menyambut dengan wajah berseri.

Mendengar disebutnya Cia-taihiap, jantung Kun Liong berdebar keras dan cepat-cepat dia mengangkat muka memandang. Sinar matanya berseri dan dia menahan senyumnya saat dia mengenal dara cantik jelita dan gagah perkasa yang berjalan di belakang suami isteri setengah tua itu. Mana mungkin dia pangling? Wajah itu masih sama cantik jelita dan berseri-seri penuh kenakalan seperti dahulu, bahkan makin cantik dan matang! Cia Giok Keng, siapa lagi?

Dara itu pun memandang kepadanya, kelihatan terkejut dan terheran yang dapat dilihat dari diangkatnya sepasang alis yang seperti bulan muda itu. Sepasang mata yang jernih itu berkilat, akan tetapi dara itu segera membuang muka mengalihkan pandang dengan alis berkerut!

Hampir saja Kun Liong tertawa karena dia teringat dengan pertemuannya yang pertama dahulu dengan gadis itu. Mengertilah dia bahwa gadis itu tentu merasa khawatir melihat Kun Liong di situ, khawatir kalau-kalau pemuda ini akan membuka rahasianya dahulu, akan wataknya yang buruk menyambut tamu dengan kurang ajar!

Teringat ini, Kun Liong tersenyum penuh kemenangan. Sedikitnya, ada sesuatu yang dia kuasai, yang membuat dara itu tidak akan berani lagi berkurang ajar seperti dahulu, atau memandang rendah kepadanya!

Bagaimana Giok Keng dapat muncul di Siauw-lim-si? Seperti telah diceritakan di bagian depan, dara ini disuruh menjaga adiknya di Cin-ling-pai. Akan tetapi, dasar anak manja, sehari kemudian setelah ayah bundanya pergi, dia tidak dapat lagi menahan keinginannya untuk pergi.

Karena gadis ini melakukan perjalanan mengejar ayah bundanya dengan sangat cepat, maka tiga hari kemudian dia dapat menyusul mereka.

Cia Keng Hong akan menegur, akan tetapi kembali isterinya yang membela anaknya.

"Dia sudah menyusul, biarlah dia ikut dengan kita."

"Hmm... disuruh menjaga rumah malah nekat menyusul! Seperti anak kecil saja engkau, Keng-ji!"

Giok Keng memegang lengan ayahnya dan berkata halus manja, "Maaf, Ayah. Saya ingin sekali bertemu dengan tokoh-tokoh kang-ouw untuk menambah pengalaman."

"Hemm...!" Terpaksa Keng Hong tidak melarang lagi dan berangkatlah mereka ke Siauw-lim-si bertiga.

Setelah melalui basa-basi upacara penyambutan di mana Thian Kek Hwesio Ketua Siauw-lim-pai mengucapkan selamat datang dan pendekar sakti itu menyatakan duka cita atas kematian Tiong Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio, suami isteri dan puterinya itu lalu memberi hormat dengan memasang hio (dupa wangi) dan bersembahyang di depan peti mati. Kemudian mereka bertiga dipersilakan duduk di tempat kehormatan sejajar dengan beberapa orang ketua partai yang berkenan hadir dan tidak mewakilkan kepada murid-muridnya.

Kun Liong memperhatikan dengan pandang matanya. Pendekar sakti yang amat dikagumi dan dijunjung tinggi oleh ayah dan ibunya itu kelihatan seperti seorang laki-laki sebaya dengan ayahnya sekarang, setengah tua dan pakaiannya sederhana sekali. Sama sekali tak seperti para ketua partai yang datang diiringkan anak buahnya yang membawa-bawa bendera tanda partai segala. Ketua Cin-ling-pai ini datang seperti orang biasa bersama isteri dan puterinya.

Pakaiannya bagai sastrawan sederhana atau lebih tepat seperti seorang petani terpelajar, tidak membawa senjata dan kelihatannya biasa saja. Tubuhnya memang tegap berisi, wajahnya tampan dan kumis serta jenggotnya pendek, masih hitam semua.

Wajah itu membayangkan kesabaran, dan hanya sepasang alisnya yang membayangkan kegagahan, alis yang tebal dan bentuknya kereng. Rambutnya masih hitam, digelung ke atas dan diikat dengan sapu tangan sutera berwama kuning tua. Bajunya yang longgar berwarna kuning muda dan celananya hitam, ikat pinggangnya juga kuning tua.

Sungguh di luar perkiraan Kun Liong yang membayangkan supek-nya itu sebagai seorang tokoh yang hebat dan luar biasa! Kiranya seorang yang sederhana sekali, baik pakaian, gerak-gerik mau pun sikapnya.

Isterinya lebih istimewa lagi. Cantik dan penuh semangat, pakaiannya serba putih dengan hiasan warna merah dan biru di sana sini, sikapnya agak dingin namun justru menambah kekerengannya.

Pribadi nyonya ini jelas membayangkan kegagahan penuh, yang membuat orang merasa sungkan dan jeri untuk berurusan dengannya. Sambaran sinar matanya penuh wibawa. Melihat wajah nyonya ini, Kun Liong mendapat kenyataan betapa Giok Keng mirip ibunya, cahtik, gagah, dan jelas menonjol sifat terbuka dan penuh keberanian.

Dengan jantung berdebar Kun Liong melangkah perlahan, menghampiri Cia Keng Hong yang duduk dengan tenang sambil memandang para tamu yang baru saja datang dan bersembahyang. Pemuda ini melihat betapa Giok Keng menengok padanya dan kembali alis dara itu berkerut, sinar matanya menyambar penuh peringatan! Hal ini terasa sekali oleh Kun Liong sehingga tanpa disadarinya, kepalanya yang gundul itu mengangguk! Dan dia tersenyum ketika melihat dara itu sekilas tersenyum, kelihatan lega!

"Maafkan apa bila teecu mengganggu, Supek. Teecu adalah Yap Kun Liong, dan merasa berbahagia sekali mendapat kesempatan berjumpa dengan Supek berdua Supek-bo." Dia berlutut di depan Keng Hong dan Biauw Eng.

Keng Hong dan Biauw Eng terbelalak memandang kepala yang gundul itu karena ketika pemuda itu berlutut dan menundukkan muka, yang tampak hanya kepalanya yang gundul licin saja!

"Apa...? Siauw-suhu (Bapak Pendeta Muda)...?"

Telinga Kun Liong menjadi merah ketika menangkap suara ketawa ditahan dari sebelah kiri, Cia Giok Keng yang menahan ketawa itu, tak salah lagi!

"Supek, teecu bukan hwesio biar pun kepala teecu gundul. Teecu Yap Kun Liong..."

Keng Hong memegang pundak pemuda itu. Kun Liong mengangkat muka dan melihat betapa wajah yang tampan dan gagah itu diliputi keharuan.

"Engkau putera Yan Cu...?" Biauw Eng juga berseru lirih.

Keng Hong memberi isyarat kepada isterinya dan puterinya, kemudian dia bangkit berdiri. "Bawa kami ke tempat sunyi agar leluasa bicara."

Kun Liong mengangguk dan mendahului pergi ke ruangan samping yang sunyi. Ketua Siauw-lim-pai melihat ini, akan tetapi hanya tersenyum saja karena dia maklum betapa pentingnya pertemuan antara paman guru dengan murid keponakan itu. Sesudah tiba di tempat sunyi itu, Keng Hong memegang lengan Kun Liong dan memandang dengan sinar mata tajam.

"Benarkah engkau Yap Kun Liong? Di mana ayah bundamu?"

Kun Liong menunduk dan menarik napas panjang kemudian menggeleng kepalanya yang gundul, "Teecu tidak tahu, Supek. Sudah sepuluh tahun ini teecu tidak berjumpa dengan mereka."

Biauw Eng melangkah ke depan, kedua tangannya yang halus kulitnya itu meraba dagu Kun Liong, mengangkat muka pemuda yang menjadi kaget dan terheran itu. "Dia memang putera mereka. Lihat!" Biauw Eng menggunakan telapak tangan kanan menutupi bagian atas dari muka Kun Liong, memperlihatkan hidung dan mulutnya saja.

"Persis Yan Cu sumoi!" Keng Hong berseru kagum.

"Dan lihat ini!" Sekarang tangan Biauw Eng menurun dan menutupi bagian bawah muka pemuda itu.

"Benar! Mata dan dahi itu persis Cong San, hanya bedanya dia gundul. Eh, Kun Liong, ke mana saja engkau pergi? Kenapa kepalamu gundul? Hemmm... agaknya engkau menjadi korban hawa beracun! Dan bagaimana pula sampai sepuluh tahun engkau tidak berjumpa dengan ayah bundamu?"

"Panjang sekali ceritanya, Supek." Kun Liong menarik napas panjang dan melirik ke arah Giok Keng. Kalau dia menceritakan pengalaman-pengalamannya, apakah dia tidak harus bercerita tentang kunjungannya ke Cin-ling-san?

Gerakan ini dianggap oleh Keng Hong bahwa pemuda itu sungkan bercerita karena di situ ada Giok Keng yang tentu disangka orang lain karena belum diperkenalkan.

"Kun Liong, dia ini bukan orang lain, dia adalah puteri kami, bernama Giok Keng. Keng-ji (Anak Keng), ini adalah Yap Kun Liong, putera pamanmu Yap Cong San seperti yang telah kami ceritakan kepadamu. Dia lebih tua darimu."

"Glok Keng, beri salam kepada kakakmu!" Biauw Eng berkata.

Biar pun hatinya tidak suka karena dia masih curiga kalau-kalau pemuda gundul itu akan membuka rahasia kesalahannya lima tahun yahg lalu, terpaksa Giok Keng mengangkat kedua tangan dengan kaku dan berkata lirih, "Liong-ko (Kakak Liong)!"

Kun Liong cepat membalas penghormatan itu sambil tersenyum. "Keng-moi (Adik Keng), maafkan tadi aku diam saja karena tidak mengenal engkau siapa."

Ucapan pemuda ini seketika membuat wajah Giok Keng menjadi berseri gembira karena hatinya lega. Setelah mengatakan tidak mengenal berarti pemuda itu akan merahasiakan pertemuan mereka lima tahun yang lalu. Karena itu dengan ramah dan juga tersenyum dia menjawab, "Tidak mengapa, Liong-ko. Akulah yang seharusnya menyapa lebih dulu."

Atas desakan Keng Hong dan Biauw Eng yang ingin sekali mendengar apa yang sudah dialami pemuda itu, Kun Liong lantas menuturkan dengan singkat semua pengalamannya semenjak anjing peliharaannya menumpahkan obat dan karena takut dia melarikan diri sampai berturut-turut terjadi hal-hal hebat yang menimpa dirinya sehingga dia makin tidak berani pulang. Dia juga menceritakan betapa dia diambil murid oleh Bun Hwat Tosu dan dipesan agar jangan mempergunakan nama kakek itu sebagai gurunya.

"Hanya kepada Supek, dan Supek-bo, juga Adik Giok Keng, saya berani menceritakan," sambungnya. Dia tidak menceritakan mengenai bokor emas, dan juga beberapa hal yang dianggapnya kurang perlu, di antaranya kenakalannya yang menyebabkan kebakaran dan lain-lain, tidak diceritakannya!

"Kau beruntung sekali dapat menjadi muridnya sampai lima tahun!" Keng Hong berseru girang.

Kun Liong melanjutkan penuturannya, betapa dia kembali ke Leng-kok akan tetapi tidak dapat berjumpa dengan ayah bundanya yang sudah melarikan diri menjadi orang buruan karena telah berani menentang Ma-taijin.

"Hemm, kurasa sekarang manusia busuk she Ma itu tidak akan berani banyak tingkah lagi sesudah kuhancurkan sebelah telinganya!" Biauw Eng berkata sehingga Kun Liong amat terkejut.

"Supek-bo melakukan hajaran itu karena ayah ibu?" tanyanya.

Biauw Eng mengangguk. "Mestinya engkau yang melakukannya, karena lima tahun yang lalu mungkin engkau masih terlalu muda, aku mewakilimu."

"Ahh, Supek-bo, Terima kasih atas pembelaan Supek-bo, akan tetapi teecu rasanya tidak akan mau melakukan hal itu."

"Kenapa? Kau takut?" Biauw Eng bertanya dengan kening berkerut penuh kecewa.

"Teecu tidak takut apa-apa, hanya... teccu tidak akan menggunakan kekerasan ilmu silat untuk memukul orang..."

Keng Hong dan Biauw Eng terbelalak dan saling pandang, sedang Giok Keng tersenyum mengejek. Ketika Biauw Eng yang penasaran hendak membantah, dia sudah didahului Keng Hong.

"Lanjutkan ceritamu, Kun Liong. Setelah tidak bertemu dengan orang tuamu, apakah kau tidak mencari mereka? Mengapa? Kalau ada ibumu, agaknya kepala gundulmu itu dapat disembuhkan dan dapat tumbuh rambut. Kenapa pula kau bisa berada di sini?"

"Teecu telah berusaha mencari mereka, akan tetapi sia-sia belaka. Akhirnya teecu pergi ke Siauw-lim-si dan secara kebetulan sekali teecu diambil murid oleh mendiang sukong Tiong Pek Hosiang selama lima tahun."

"Apa?" Kembali Keng Hong dan Biauw Eng sangat terkejut. "Bukankah beliau selama itu mengurung diri dalam Ruang Kesadaran?"

Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya sampai dia bisa menjadi murid sukong-nya sendiri. Keng Hong mendengarkan penuh kagum dan diam-diam dia memuji nasib baik bocah ini yang secara kebetulan saja digembleng oleh dua orang paling sakti di dunia ini pada jaman itu!

"Hemm, jadi yang membuatmu keracunan sampai gundul begini adalah Ban-tok Coa-ong dan puteranya? Dia adalah seorang di antara Lima Datuk kaum sesat! Lalu, sesudah selesai upacara penyempurnaan jenazah Tiong Pek Hosiang dan Thian Lee Hwesio, apa yang hendak kau lakukan, Kun Liong? Engkau hendak pergi ke mana?"

"Teecu belum tahu harus pergi ke mana. Yang jelas teecu akan mencari ayah dan ibu, juga berusaha mencari dua buah pusaka Siauw-lim-si yang hilang seperti dipesankan oleh mendiang Sukong."

"Tapi, kalau betul dugaan Ketua Siauw-lim-pai bahwa yang mencuri adalah orang-orang dari Kwi-eng-pang, berbahaya sekali kalau kau pergi ke sana. Si Bayangan Hantu, ketua Kwi-eng-pang adalah seorang lihai, seorang di antara Lima Datuk kaum sesat."

"Teecu tidak takut, Supek. Teecu harus mencarinya dan dapat membawanya kembali ke sini untuk membalas budi kebaikan mendiang Sukong."

"Bagus! Begitu baru pantas menjadi putera Yap Cong San dan Gui Yan Cu sumoi. Akan tetapi, sebelum berangkat biarlah kulihat dahulu sampai di mana tingkat kepandaianmu, kalau perlu biar kutambah untuk bekal."

Kun Liong menghaturkan terima kasihnya. Keng Hong lalu mengajak mereka kembali ke ruangan tamu. Akan tetapi Giok Keng berkata,

"Ayah, karena Liong-ko adalah orang dalam kuil ini, saya ingin sekali melihat-lihat kuil yang disohorkan amat besar dan indah ini. Juga saya ingin melihat Ruang Kesadaran di mana mendiang Tiong Pek Hosiang bertapa dan di mana Liong-ko digembleng selama lima tahun."

Keng Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi Biauw Eng mendahuluinya. "Pergilah, dan kau yang ceritakan kepada kakakmu tentang keadaan kita selama ini agar dia mengetahui bahwa aku dan ayahmu sudah berusaha pula mencari orang tuanya."

Sesudah berkata demikian, Biauw Eng mengajak suaminya kembali ke tempat tadi. Ada pun Giok Keng dan Kun Liong berjalan keluar memasuki kebun di samping kuil.

"Dia cukup tampan dan gagah, bukan? Kalau saja Keng-ji dan dia dapat saling cocok..." Biauw Eng berkata lirih setelah mereka duduk berdampingan di tempat tamu tadi. Hatinya sudah ingin sekali mempunyai seorang mantu, mengingat bahwa usia puterinya itu sudah sembilan belas tahun. Sudah perawan tua menurut ukuran waktu itu!

"Tapi... tapi..."

"Tapi apa?" Biauw Eng mendesak dan melirik ke arah suaminya.

"Dia... ehh, kepalanya gundul. Bagaimana kalau sampai selamanya tetap gundul seperti hwesio?"

"Hemmm, heran sekali aku, masa engkau meributkan soal kepala gundul atau berambut gondrong! Tidak biasanya engkau seperti ini. Pula, bukankah engkau masih menyimpan kitab ilmu pengobatan peninggalan gurumu yang kau temukan di Cin-ling-san pada waktu membangun pondok itu? Apa bila kau berikan kitab itu kepadanya, tentu dia akan dapat mencari obatnya sendiri. Suamiku, apa sesungguhnya yang membuat kau kecewa? Aku yakin bukan soal kepala gundul!" Biauw Eng mendesak. Dia sudah mengenal betul watak suaminya.

Keng Hong menarik napas panjang. "Betapa mungkin bagiku menyembunyikan sesuatu darimu? Sebenarnya, aku agak kecewa mendengar pernyataannya tadi bahwa dia tidak suka menggunakan ilmu silat untuk memukuli orang. Kurasa ucapan itu timbul dari hati penakut dan watak yang lemah. Benar-benar aku tidak suka!"

"Hemm, suka atau tidak, bukankah yang kita pentingkan adalah perjodohan Giok Keng? Biarkan dia yang menentukan, bukan kita karena dialah yang akan melaksanakan, untuk selamanya, yang akan mengalami baik buruknya, suka dukanya."

Keng Hong menarik napas panjang. "Mudah-mudahan dugaanku itu keliru."

Mereka tidak melanjutkan percakapan itu karena merasa kurang leluasa setelah kini tamu berdatangan dan banyak yang duduk dekat mereka…..

********************


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner