PETUALANG ASMARA : JILID-20


Setelah mereka berdua memasuki kebun, Giok Keng berkata, "Kun Liong, kau baik sekali tidak..."

Kun Liong memandang dengan mata melotot dibesarkan, mulut cemberut dan menegur, "Eh, berani kau menyebut namaku begitu saja? Kalau aku mengutukmu, kau bisa menjadi kelelawar!"

"Habis, bukankah namamu Kun Liong?"

"Siapa menyangkal? Akan tetapi kau juga tidak bisa menyangkal bahwa aku lebih tua dari pada engkau dan tadi pun kau sudah menyebutku koko. Kau bilang aku baik karena tidak membuka rahasiamu di depan ayah bundamu, akan tetapi beginikah balasannya? Kau menyebutku begitu saja seolah-olah kau yang lebih tua!" Kun Liong tidak marah sungguh-sungguh, hanya untuk menggoda saja karena dilihatnya bahwa dara ini masih lincah dan nakal! "Ataukah barang kali aku tidak perlu membohong kepada Supek? Untuk mengaku tentang pertemuan kita dahulu itu sekarang pun masih belum terlambat!" Kun Liong lalu membalikkan tubuh seolah-olah hendak pergi menemui supek-nya.

"Eh, eh... nanti dulu, Kun... ehh, Liong-koko! Maafkan aku, aku terima salah. Biarlah aku menyebutmu koko! Nah, kau dengar? Koko! Koko! Koko!"

Kun Liong tertawa dan kembali ke depan dara itu yang sudah cemberut. "Kau ceriwis dan manja sekali, ah! Benci aku melihatmu! Urusan dulu itu hendak kau pakai untuk memeras aku selamanya ya? Awas kau, kalau keterlaluan sampai aku kehabisan kesabaran, sekali ini aku tidak hanya merobohkan engkau, tetapi akan kuketuk kepala gundulmu itu sampai retak!"

"Wah, jangan marah, dong, Moi-moi yang baik. Kau manis sekali, tahukah kau? Cantik bagaikan bidadari, seperti dalam dongeng yang pernah kubaca, tentang dewi yang turun dari kahyangan melalui tangga pelangi!"

"Kau mengejek ya?"

"Sungguh mati disumpah tujuh kali pun mau! Kau memang cantik sekali, Moi-moi. Bukan mengejek bukan apa, akan tetapi secara jujur. Biar aku bersumpah demi langit dan bumi bahwa kau memang cantik jelita. Hemmm..."

"Hemm apa?!" Giok Keng membentak, akan tetapi sebenarnya hatinya berdebar girang bukan main. Kalau lain orang yang memujinya seperti itu, apa lagi kalau orang itu laki-laki, tentu akan dianggapnya kurang ajar dan bisa dibunuhnya! Akan tetapi sikap Kun Liong yang jujur dan sama sekali tidak menjilat itu mendatangkan kesan lain!

"Ehhh, aku hanya mau bilang bahwa... selama ini aku tidak pernah dapat melupakanmu, maka begitu tadi kau muncul, aku terus saja mengenalmu. Yang selalu terbayang olehku adalah..."

"Apa? Mengapa bicara putus-putus begitu? Jangan main gila, ya?" Giok Keng pura-pura marah untuk menutupi kegirangan dan kebanggaan hatinya.

"Yang tidak pernah kulupakan adalah ketika kau dahulu... menempiling kepalaku tiga kali! Ha-ha-ha!"

Merah kedua pipi dara itu. Dahulu itu dia sama sekali bukan menempiling, tetapi hanya menyentuh saja setelah dia ketakutan setengah mati,.

"Aku pun tidak dapat lupa kepadamu, terutama... kepalamu."

"Gundul ini? Ha-ha-ha, memang di dunia tidak ada keduanya, ya?"

Giok Keng cemberut, lantas menjebikan bibirnya yang merah. "Kau memang manja dan ceriwis sekali. Kau tadi bilang kalau mengutuk aku maka aku bisa menjadi kelelawar. Apa maksudmu?"

Kun Liong tertawa, tertawa bebas dan inilah yang menambah daya tarik pribadinya, tidak ada pura-pura, tidak ada penahanan diri, bebas dan wajar. "Kau tahu bagaimana kalau kelelawar tidur? Kakinya tergantung, kepala di bawah, bukan? Nah, apa bila kau berani kepada aku yang lebih tua, yang mesti kau panggil kakak, maka kau bisa kualat, seperti kelelawar tidur, kaki di atas kepala di bawah!"

"Huhh!" Giok Keng menampar pundak Kun Liong, tamparan main-main, akan tetapi Kun Liong yang kena ditampar pundaknya mengaduh-aduh.

"Aduhhh... aduhhh...!"

"Ehh?!" Giok Keng amat khawatir dan terbelalak. "Aku tidak menggunakan sinkang, masa sakit?"

Kun Liong menghentikan aksinya kesakitan. "Untunglah kau tidak mengerahkan tenaga, kalau demikian, bukankah aku akan menderita nyeri sekali?"

Giok Keng merasa dipermainkan dan mendongkol. "Dasar sinting!"

Kun Liong tertawa. "Entah mengapa, biasanya aku tidak begini, Moi-moi. Bila berada di dekatmu aku merasa gembira sekali dan ingin bersenda gurau saja. Rasanya aku seperti mau bernyanyi-nyanyi, mau menari-nari!"

"Engkau bisa gila kalau terus begini. Ehh, Kun Liong... Koko! Kenapa sih kau suka sekali disebut Koko olehku?"

"Tentu saja. Engkau anak tunggal, aku pun juga. Engkau tidak punya kakak, dan aku tidak punya adik, sudah sepatutnya..."

"Ngawur! Aku bukan anak tunggal! Aku mempunyai seorang adik laki-laki bernama Cia Bun Houw, sekarang sudah empat tahun usianya."

"Benarkah? Mana dia?"

"Di rumah. Di Cin-ling-san. Hemmm, aku sampai lupa menceritakan kepadamu keadaan kami seperti dipesan ibu tadi." Gadis itu bersama Kun Liong duduk di atas bangku dan mulailah dia menceritakan keadaan keluarga Cia itu dengan singkat.

Mendengar penuturan ini, Kun Liong teringat akan keadaan keluarganya sendiri. Seketika lenyaplah kegembiraannya bagai awan tipis yang ditiup angin. Wajahnya menjadi muram, matanya sayu dan dia mendadak menjadi pendiam.

Perubahan sembilan puluh derajat (bumi langit) ini mengherankan Giok Keng yang telah selesai bercerita. "Ihh, kau kenapa? Kok suram muram seperti lampu kehabisan minyak?"

Kelakar Giok Keng yang juga mempunyai watak lincah gembira itu tidak membuyarkan kedukaan hati Kun Liong.

"Aku teringat akan ayah bundaku. Sudah sepuluh tahun tidak berjumpa. Harapan terakhir di sini, akan tetapi mereka tak juga muncul. Aku khawatir sekali, jangan-jangan ada mala petaka menimpa mereka."

Giok Keng mengerutkan alis, seketika dia pun tidak bernafsu untuk main-main lagi karena merasa turut khawatir dan berduka. Entah mengapa, menghadapi sikap Kun Liong yang tidak pura-pura, wajar dan seadanya itu, dia jadi mudah terseret. Kini dia merasa kasihan sekali dan tanpa disadarinya, tangannya memegang lengan Kun Liong sambil berkata,

"Ayah bundamu adalah orang-orang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi, mala petaka apa yang dapat menimpa mereka? Tidak perlu khawatir, Liong-ko."

"Aihhh, kau tidak tahu, Moi-moi. Baru berurusan dengan pembesar rendah Ma-taijin saja mereka sudah terpaksa harus menjadi pelarian. Dunia sudah kotor dengan polah tingkah manusia-manusia yang menyalah gunakan kedudukan atau kekuatannya."

Sampai lama mereka terdiam dan sama sekali tidak sadar bahwa tangan kiri Giok Keng memegang lengan kanan Kun Liong dan ketika menjawab tadi Kun Liong menumpangkan tangan kirinya di atas punggung tangan kiri dara itu!

"Ihhh...!" Tiba-tiba Giok Keng merenggutkan tangannya dan meloncat berdiri, memandang Kun Liong dengan muka kemerahan.

"Lho, kenapa?" Kun Liong juga kaget, seketika kedukaannya buyar.

"Kenapa kau memegang tanganku?"

"Hehhh...?!" Kun Liong bengong, lalu teringat dan sesudah kedukaannya membuyar, dia tertawa geli dan sifatnya suka menggoda kembali timbul. "Kau juga memegang lenganku sejak tadi tidak apa-apa, tetapi kalau aku memegang tanganmu sebentar saja, kau sudah mencak-mencak. Apakah tanganku kotor? Apakah bau?" Kun Liong lalu mencium telapak tangannya sendiri, lalu mengangguk-angguk dan berkata, "Memang bau...!"

"Huh! Pantas! Menjijikkan, tangannya bau...!"

"Wangi! Bau wangi kataku! Tentu saja pantas, dan sama sekali tidak menjijikkan."

"Bohong! Masa tanganmu bau wangi?"

"Ehh, tidak percaya? Boleh cium sesukamu!" Dia mengulur tangannya.

"Tidak sudi! Ehh, kenapa kau seperti orang sinting menggoda aku? Bukankah kau mau memperlihatkan kuil ini dan Ruang Kesadaran kepadaku?"

"Wah, sampai lupa kita! Bukan aku saja yang lupa, kau juga, jadi sama-sama. Mari...!"

Mereka berjalan menuju ke bagian belakang kuil. Di situ amat sunyi karena semua hwesio sedang berkumpul di tempat upacara sembahyang, dan baru siap-siap untuk melakukan upacara memperabukan jenazah di tempat yang telah disediakan khusus, yaitu di sebuah puncak bukit.

Mereka berjalan perlahan-lahan dan Kun Liong membawa gadis itu melihat-lihat ruangan perpustakaan, ruangan sembahyang dan bagian-bagian lain di dalam kuil besar itu yang memang sangat megah dan indah, juga tampak aneh bagi Giok Keng yang belum pernah melihatnya.

Setelah mereka meninjau Ruang Kesadaran yang kini terbuka dan bukan menjadi tempat larangan lagi, hati Kun Liong terharu. Melihat kamar di mana dia hidup selama lima tahun bersama Tiong Pek Hosiang menimbulkan kenangan yang menggores kalbu.

Giok Keng merasa ngeri mengenangkan betapa Kun Liong harus tinggal di dalam kamar itu selama lima tahun, apa lagi Tiong Pek Hosiang yang telah bertapa di kamar itu selama dua puluh tahun! Seperti orang hukuman saja! Ia bergidik dan cepat-cepat mengajak Kun Liong meninjau tempat lain.

Tampak asap mengebul di atas bukit di belakang kuil.

"Pembakaran jenazah telah dimulai," kata Kun Liong. "Apakah kau tidak ingin menonton? Ayah bundamu dan semua tamu tentu ikut pergi ke tempat pembakaran."

Giok Keng menggelengkan kepalanya. "Apakah itu tontonan? Aku tidak suka melihat hal yang mengerikan itu. Lebih baik kita menunggu saja di sini."

Kun Liong tidak berani memaksa walau pun hatinya ingin sekali turut menonton jenazah sukong-nya diperabukan, takut kalau-kalau gadis ini menjadi marah. Dia merasa senang sekali berdekatan dan bercakap-cakap dengan dara ini. Hatinya terasa tenang dan sejuk nyaman. Mengapa manusia tidak bisa saling mengasihi seperti dia dan gadis itu dalam saat ini? Mengapa di mana-mana timbul permusuhan dan kebencian, menyebabkan maut seperti yang dialami oleh Thian Lee Hwesio?

"Baiklah kalau begitu. Memang benar pendapatmu bahwa pembakaran jenazah bukan tontonan, akan tetapi soalnya manusia selalu ingin melihat dan menonton hal-hal yang tidak bisa mereka lihat. Mari kita ke kebun belakang itu, di sanalah para hwesio menanam sayur dan bercocok tanam."

Ladang itu luas sekali dan dengan kagum Giok Keng melihat segala macam sayur yang hidup subur gemuk berkat perawatan yang teliti. Mereka duduk di atas sebuah batu besar sambil menyegarkan mata dengan memandang sayur-sayuran yang kehijau-hijauan amat sedap dipandang mata.

"Keng-moi, berapakah usiamu sekarang?"

"Hemm, menanyakan usia orang mau apa sih?"

"Ah, jangan terlalu galak, Moi-moi. Kita adalah kakak adik misan seperguruan, aku adalah piauw-suheng-mu (kakak misan seperguruan) dan engkau adalah piauw-sumoi-ku (adik misan seperguruan), malah oleh ibumu lebih didekatkan lagi sehingga aku menyebutmu adik dan engkau menyebutku kakak. Apa salahnya bagi seorang kakak mengetahui usia adiknya? Aku berusia hampir dua puluh tahun, dan engkau tentu tidak lebih tua dari aku, biar pun aku ingat ibuku dulu mengatakan bahwa puteri Cia-supek lebih muda beberapa bulan dariku."

"Kalau sudah tahu begitu, mengapa bertanya lagi? Usiaku hanya lebih muda beberapa bulan, nah, berarti sembilan belas tahun."

"Wah, sudah sembilan belas tahun! Keng-moi, mengapa engkau belum menikah? Tentu sudah mempunyai tunangan, ya?"

"Wuuuttt... plakkk!"

Kun Liong tidak mau mengelak dan pipinya kena ditampar sampai terasa panas dan ada tanda merah-merah bekas tamparan itu di pipi kirinya. Ia mengelus pipinya dan berkata sambil tersenyum, "Wah, engkau marah benar agaknya. Tamparanmu tidak seperti lima tahun yang lalu."

Agaknya Giok Keng menyesal juga sesudah menampar pemuda yang sama sekali tidak melawan mau pun mengelak itu. Padahal sebagai seorang ahli silat, dia mengerti bahwa tamparannya yang biasa tadi tentu akan dapat mudah dielakkan kalau Kun Liong mau. Dia cemberut, memandang tajam penuh selidik lalu bertanya, "Agaknya engkau disuruh Ayah dan Ibu untuk membujukku, ya?"

"Eh, Keng-moi, apa artinya ini? Kau melihat sendiri bahwa mereka tidak berkata apa-apa kepadaku, dan apa yang harus dibujuk? Pertanyaanku adalah wajar, keluar dari hatiku sendiri, apa sih salahnya bertanya begitu?"

Dan tiba-tiba Giok Keng menutupi muka dengan kedua tangan, menangis!

Bingunglah Kun Liong. Sejenak dipandangnya muka yang bersembunyi di balik sepasang tangan itu, kemudian tanpa disadarinya dia menggaruk-garuk kepala gundulnya karena tidak dapat menemukan jawaban atas keanehan ini di dalam kepalanya.

"Adik Cia Giok Keng, mari kau tampar lagi aku, malah kau boleh pukul kepalaku akan tetapi jangan menangis! Maafkanlah kalau aku bermulut lancang. Memang aku seorang yang tolol dan kasar dan kurang ajar! Nah, ini, pukullah!" Kun Liong sudah mengulur leher mendekatkan kepalanya yang gundul.

Giok Keng bukan seorang dara cengeng. Sama sekali bukan. Dia memiliki kekerasan hati luar biasa, berani dan galak seperti ibunya di waktu muda, akan tetapi dia pun lincah gembira dan pandai bicara seperti ayahnya pada waktu muda. Sebentar saja dia sudah dapat menguasai dirinya, menghapus air matanya dan ketika memandang kepala gundul yang dijulurkan seperti seekor kura-kura menjulurkan kepala itu, serta sikap Kun Liong yang minta maaf dan menyerahkan kepala untuk dipukul, kejengkelannya lenyap dan dia tersenyum, menggunakan telapak tangan dengan halus mendorong kepala Kun Liong.

"Tidak! Satu kali saja menampar kepalamu aku sudah kapok (jera)!"

Mendengar suara yang bening dan hangat itu Kun Liong mengangkat muka dan betapa girangnya melihat wajah itu sudah tersenyum lagi biar pun kedua pipinya masih basah air mata. Kini dia benar-benar bingung dan tidak mengerti.

Giok Keng tersenyum lebar sebagai jawaban, kemudian berkata setelah menghela napas panjang. "Tadi aku memang menangis. Habis pertanyaanmu membuat aku jengkel sekali sih! Ayah dan Ibuku selalu membujuk-bujukku untuk menikah. Alangkah menjengkelkan! Mereka marah karena pinangan yang puluhan kali datangnya selama beberapa tahun ini, semua kutolak mentah-mentah!"

Kun Liong mengerutkan alisnya. "Hemm... kalau boleh aku bertanya, kenapa kau lakukan itu, Keng-moi? Tentu saja menolak pinangan merupakan hakmu, akan tetapi jika sampai berlarut-latut, bukankah engkau menyakitkan hati ayah-bundamu?"

"Yang mau kawin itu aku ataukah mereka?" Tiba-tiba Giok Keng bertanya dengan nada keras dan pandang mata penuh tantangan, membuat Kun Liong terkesiap dan khawatir kalau-kalau membikin marah lagi.

"Ehh, tentu saja engkau!"

"Kalau sudah jelas begitu, berarti ini urusanku dan aku sendiri yang akan menentukan."

"Engkau benar, Moi-moi. Akan tetapi sampai kapan?"

"Sampai aku mau dan... dan cocok."

"Apakah belum juga ada yang cocok?"

Giok Keng menunduk dengan muka merah, kemudian mengangkat muka secara tiba-tiba dan cemberut. "Sudahlah, perlu apa membicarakan hal yang bukan-bukan? Kalau kau bisa menyerangku dengan pertanyaan tentang itu, agaknya engkau sendiri sudah kawin atau setidaknya tentu sudah bertunangan."

"Aku?" Kun Liong terbelalak dan menggaruk kepalanya di belakang telinga kanan, sebuah kebiasaan yang tidak disadarinya. "Siapakah orangnya yang sudi kepada seorang gundul macam aku?"

"Hemmm... sssttt, Koko, lihat sana itu...!"

Kun Liong mengangkat muka memandang ke arah kuil yang ditunjuk oleh Giok Keng. Tampak olehnya berkelebatnya bayangan beberapa orang di atas atap kuil!

"Ahh, tentu bukan orang baik-baik kalau datang melalui atap. Aku harus menyelidiki ke sana!" Setelah berkata demikian, Kun Liong meloncat dan berlari cepat sekali.

Giok Keng terkejut, bukan terkejut karena adanya orang-orang yang disangka buruk itu, melainkan kaget menyaksikan gerakan Kun Liong yang demikian cepatnya!

"Liong-ko, tunggu!"

Akan tetapi Kun Liong tidak memperlambat larinya karena dia teringat akan peristiwa lima tahun yang lalu ketika maling-maling menyerbu Siauw-lim-si dan berhasil melarikan dua buah benda pusaka. Saat itu, para tokoh Siauw-lim-pai sedang sibuk menghadiri upacara pembakaran jenazah, demikian pula para tamu yang terdiri dari tokoh-tokoh besar.

Sekarang kuil dalam keadaan kosong, hanya tinggal beberapa orang hwesio pelayan dan kacung-kacung yang hanya mempunyai kepandaian rendah. Agaknya, kekosongan kuil ini sudah diperhitungkan oleh orang-orang jahat itu sehingga kini dijadikan kesempatan oleh mereka untuk melaksanakan niat buruk mereka.

Dugaan Kun Liong tidak meleset sama sekali. Memang demikianlah, di antara para tamu terdapat serombongan orang-orang dari golongan hitam yang menyelundup, dan mereka ini terdiri dari sepuluh orang yang merupakan orang-orang berkepandaian tinggi, yang tergabung dalam persekutuan Pek-lian-kauw dan para anggota Kwi-eng-pang.

Karena telah diperhitungkan oleh para pimpinan persekutuan gelap itu bahwa amat sukar untuk menyerbu Siauw-lim-si yang kuat, apa lagi pada saat sekarang setelah Siauw-lim-si pernah diseribu oleh orang-orang Kwi-eng-pang lima tahun yang lalu, maka kaum sesat yang cerdik itu menggunakan siasat yang sangat berani ini. Mereka bahkan mengutus orang-orang yang dipercaya, mereka yang memiliki kepandaian tinggi akan tetapi belum dikenal oleh tokoh-tokoh kang-ouw, untuk menggunakan kesempatan selagi banyak tamu datang ke Siauw-lim-si untuk melakukan aksi mereka.

Tentu saja mereka tidak berani berterang. Menghadapi para hwesio Siauw-lim-pai secara terang-terangan saja mereka merasa jeri, apa lagi pada saat di kuil itu berkumpul banyak sekali tokoh-tokoh besar dunia persilatan! Tetapi mereka ini cerdik sekali, menggunakan kesempatan selagi semua hwesio dan para tamu tengah melakukan upacara pembakaran jenazah di bukit sebelah belakang kuil yang makan waktu sedikitnya dua jam.

Mereka meninggalkan rombongan tamu dan berpencar, lalu menyelundup ke dalam kuil. Jumlah mereka sepuluh orang, dan yang menjadi pemimpin penyerbuan ini ialah seorang pemuda berusia kurang lebih dua puluh tiga tahun, tampan dan bermata liar, sikapnya seperti orang yang tidak waras otaknya. Akan tetapi, dia ini bukanlah orang sembarangan, oleh karena dia bukan lain adalah Ouwyang Bou, putera tunggal dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, seorang di antara Lima Datuk!

Yang menjadi sasaran mereka adalah kamar pusaka. Bukan semata-mata untuk mencuri pusaka-pusaka Siauw-lim-si, melainkan terutama sekali untuk mencari bokor emas milik Panglima The Hoo yang dijadikan perebutan.

Sesudah mereka berunding, menurut perhitungan para datuk, besar sekali kemungkinan bahwa bokor emas itu kini berada di gedung pusaka Siauw-lim-si, karena kenyataan yang terakhir diketahui oleh Bu Leng Ci adalah bahwa bokor emas itu dibawa oleh seorang bocah yang ternyata adalah putera Yap Cong San, sedangkan Yap Cong San yang telah mereka bunuh tiga tahun yang lalu itu adalah seorang tokoh Siauw-lim-pai.

Besar kemungkinannya bokor emas itu terjatuh ke tangan Yap Cong San, dan sebagai seorang tokoh Siauw-lim-pai mungkin saja bokor itu lalu diserahkan kepada Siauw-lim-pai untuk disimpan di Siauw-lim-si. Pikiran inilah yang membuat rombongan kaum sesat yang dipimpin Ouwyang Bouw itu menggunakan kesempatan pelayatan itu untuk turun tangan!

Pada waktu Kun Liong yang berlari cepat tiba di dalam kuil, dia sudah melihat apa yang dikhawatirkannya. Empat orang hwesio pelayan rebah di sudut dalam keadaan lemas tak mampu bergerak karena telah tertotok!

Kun Liong tidak membuang waktu lagi, cepat meloncat ke dalam lorong yang menuju ke bagian belakang dan langsung dia lari ke gudang pusaka. Akan tetapi baru saja dia tiba di ruangan tengah, tiba-tiba sinar merah menyambar dari kiri. Kun Liong cepat merendahkan diri berjongkok sehingga jarum-jarum merah yang kecil halus itu menyambar lewat di atas kepalanya.

Ada sesuatu yang mengingatkannya ketika melihat sambaran-sambaran jarum merah itu. Cepat dia meloncat lagi, membalik ke kiri dan berhadapan dengan seorang pemuda yang menyeringai kepadanya.

"Kau...!" Kun Liong teringat ketika melihat wajah tampan dengan mata liar berputaran itu. "Kau Ouwyang Bouw anak Ban-tok Coa-ong!"

Akan tetapi tentu saja Ouwyang Bouw tidak mengenal Kun Liong. Dahulu ketika dia dan ayahnya bertemu dengan Kun Liong, pemuda gundul ini baru berusia sepuluh tahun dan pada waktu itu belum gundul. Ada pun Kun Liong dapat mengenal Ouwyang Bouw karena peristiwa itu menyebabkan kepalanya menjadi gundul, maka tentu saja wajah Ouwyang Bouw dan ayahnya selalu teringat olehnya. Jarum-jarum merah tadi bahkan menambah keyakinannya, karena justru jarum-jarum merah itulah yang menjadi sebagian penyebab kenapa kepalanya tidak mau tumbuh rambut.

"Mau apa kau datang ke dalam kuil?" Kun Liong membentak

Akan tetapi pemuda bermata liar itu berterlak, "Bunuh dia!"

Dan dari belakangnya muncullah enam orang laki-laki yang serta-merta maju menerjang, mengepung dan mengeroyok Kun Liong dengan senjata pedang dan golok.

"Ehh-ehh, kalian orang-orang jahat!"

Kun Liong menggunakan kegesitan gerak tubuhnya mengelak ke kanan dan kiri. Dia tidak merasa khawatir menghadapi pengeroyokan enam orang itu yang walau pun semuanya menggunakan senjata, namun dia dapat melihat bahwa gerakan mereka itu masih terlalu lambat baginya dan dia akan dapat mengatasi mereka. Akan tetapi dia terkejut melihat bayangan Ouwyang Bouw melesat lantas lenyap dari situ melalui lorong yang menuju ke gudang pusaka!

Ia hendak mengejar, akan tetapi enam orang itu mengurungnya ketat dan menghujankan serangan ke tubuhnya. Semenjak mempelajari ilmu dari Bun Hwat Tosu dan Tiong Pek Hosiang, Kun Liong belum pernah menggunakan ilmu-ilmunya itu dalam perkelahian yang sungguh-sungguh. Ketika dahulu sebelum digembleng sukong-nya di Ruang Kesadaran, dia pernah menggunakan ilmu yang dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu melawan Cia Giok Keng, akan tetapi dalam pertandingan yang dianggapnya main-main saja karena dia tidak menganggap Giok Keng sebagai orang jahat. Ketika beberapa hari yang lalu dia mengadu tenaga dengan utusan Panglima The Hoo, juga pertandingan itu bukan sungguh-sungguh, apa lagi ketika melawan Tio Hok Gwan, hanya sekedar mengadu tenaga saja dan keburu dilerai oleh Thian Kek Hwesio.

Sekarang dia merasa ragu-ragu. Kalau saja dia mau, banyak sudah dia melihat lowongan untuk merobohkan enam orang itu. Akan tetapi dia sebetulnya paling tidak suka memukul orang, bahkan agak benci dengan permusuhan dan perkelahian yang dianggapnya tidak menyenangkan dan hanya dilakukan oleh orang-orang kejam.

Akan tetapi sekarang dia diserang oleh empat batang pedang serta dua buah golok yang semuanya menyerang untuk mencabut nyawanya. Tentu saja dia harus mempertahankan dan melindungi tubuhnya dari bahaya terkena bacokan atau tusukan. Dia masih ragu-ragu bagaimana dapat menghentikan enam orang pengeroyoknya itu tanpa membuat mereka menderita luka berat.

"Kalian orang-orang tolol, kalau ketahuan para suhu, kalian akan celaka. Lebih baik lekas pergi melarikan diri sebelum terlambat!" Dia mencoba mengusir mereka dengan kata-kata nasehat!

Tentu saja dia malah ditertawakan karena enam orang itu memandang ringan kepadanya. Pemuda gundul itu hanya mengelak ke sana sini, biar pun gerakannya cepat sekali sukar diserang, akan tetapi hal itu hanya menandakan bahwa pemuda gundul atau yang mereka sangka hwesio muda ini ketakutan. Serangan mereka makin gencar dan hebat sehingga enam batang senjata tajam itu menjadi sinar yang bergulung-gulung menyilaukan mata, menyambar-nyambar ke arah bayangan Kun Liong yang berloncatan ke sana-sini.

"Aihhh! Liong-ko...!"

Jeritan Giok Keng! Pucat wajah Kun Liong mendengar jeritan itu karena dia tahu bahwa dara itu tentu terancam bahaya. Jeritan itu terdengar dari arah belakang, dan teringatlah dia bahwa pada saat tadi mengajak gadis itu berkeliling, dia tidak memberi tahu bahwa di dalam kuil itu banyak dipasangi jebakan-jebakan rahasia untuk menjaga keamanan kuil itu kalau-kalau dimasuki orang jahat!

Karena mengkhawatirkan Giok Keng, Kun Liong tak peduli lagi. Kaki tangannya bergerak sehingga enam batang senjata itu terlempar beterbangan diikuti robohnya enam orang itu yang mengaduh-aduh karena sedikitnya mereka menderita tulang patah terkena ketukan jari tangan Kun Liong dan perut mulas oleh ujung kaki pemuda gundul itu!

Kun Liong tidak mempedulikan mereka, langsung meloncat dan lari melalui lorong ke arah Giok Keng tadi. Suara Giok Keng terdengar lagi, kini dari dalam kamar perpustakaan.

"Maling keparat!" Akan tetapi disusul suara terbatuk-batuk dara itu.

Ketika Kun Liong sampai di dalam kamar perpustakaan, dia melihat bayangan Ouwyang Bouw berlari ke luar. Bukan main kagetnya hati Kun Liong ketika dia meloncat ke dalam karena hidungnya segera bertemu dengan bau yang harum aneh menyesakkan napas! Tanulah dia bahwa di situ ada hawa beracun dan tampak olehnya asap hitam mengepul dari lubang di tengah ruang perpustakaan itu.

Lubang jebakan! Sudah terbuka dan dari dalam lubang mengepul asap beracun. Celaka, tentu Giok Keng yang terjebak oleh alat rahasia di situ dan... dia tidak mau berpikir lagi, langsung dia meloncat turun ke dalam lubang yang gelap itu dari mana keluar asap hitam.

Dengan menahan napas seperti yang diajarkan oleh mendiang Tiong Pek Hosiang, Kun Liong mempergunakan ginkang sehingga dengan ringannya dia melayang turun ke dalam jebakan yang berupa sumur sedalam empat meter dan tertutup oleh lantai yang dipasangi jebakan. Samar-samar dia melihat bayangan tubuh rebah miring. Melihat rambut yang panjang terurai itu, dia tidak ragu-ragu lagi.

Diangkatnya tubuh Giok Keng yang tidak dapat bergerak itu, dipondongnya kemudian dia pun meloncat ke atas sambil mengerahkan sinkang-nya. Tanpa pengerahan sinkang yang kuat, amatlah sulit meloncati sumur sempit sedalam empat meter dan masih memondong tubuh scorang gadis lagi! Pada saat dia melayang naik, terdengar suara di atas sumur,

"Bakar saja! Dan semua berkumpul di gudang pusaka!"

Pada waktu tubuh Kun Liong sudah tiba di dalam kamar perpustakaan, dengan marah dia melihat api telah membakar meja dan pintu. Ditendangnya meja itu, dan dua orang yang sedang membakar-bakar kertas dia robohkan dengan dua kali tendangan kakinya hingga mereka terlempar dan apinya padam.

Melihat seorang penjahat lainnya melarikan diri melalui pintu belakang, dia tidak mengejar melainkan meloncat ke depan di mana seorang penjahat lain sedang berusaha membakar pintu. Daun pintu itu sudah terbakar dan didorong menutup dari luar.

"Brakkk! Augghh...!"

Sambil memondong tubuh Giok Keng, Kun Liong menerjang daun pintu itu. Daun pintu bobol dan terlepas, menimpa penjahat yang berdiri di luar sehingga penjahat itu berteriak-teriak karena rambut dan sebagian pakaiannya terbakar!

Kun Liong berlari terus. Tubuh Giok Keng masih dipondongnya, hatinya gelisah melihat gadis itu seperti orang mati, akan tetapi dia juga gelisah memikirkan betapa penjahat-penjahat itu tentu merampok gudang pusaka. Maka sambil memondong Glok Keng, larilah dia ke arah gedung pusaka! Hatinya lega karena dia mendengar teriakan-teriakan dari atas bukit di belakang kuil, tanda bahwa peristiwa itu sudah ketahuan dan sebentar lagi tentu bala bantuan datang.

Agaknya hal ini diketahui pula oleh kawanan penjahat. Buktinya ketika Kun Liong tiba di gudang pusaka yang daun pintunya telah terbuka besar, dia melihat bayangan-bayangan para penjahat itu berkelebatan melarikan diri sambil menggendong teman-teman mereka yang terluka.

Dia tidak mempedulikan mereka lagi karena sibuk memeriksa Giok Keng yang dibawanya ke dalam taman. Direbahkannya tubuh Giok Keng ke atas bangku taman. Wajah dara itu pucat dan matanya terpejam, napasnya terhenti!

Kun Liong cepat memeriksa nadi pergelangan tangan. Ketukan nadi terasa lemah sekali, seolah-olah sebentar lagi terhenti. Ditempatkannya telinga di dada gadis itu, disentuhnya bibir dan cuping hidung. Tidak ada pernapasan!

Celaka, kalau gadis itu tidak cepat-cepat dapat bernapas kembali, tentu takkan tertolong lagi. Soal keracunan, mudah dan dapat diobati kelak, yang terpenting sekarang haruslah diusahakan agar supaya Giok Keng dapat bernapas lagi. Tidak ada cara lain kecuali yang diketahuinya dari pelajaran yang diterima dari ibunya dahulu.

Tanpa ragu-ragu lagi Kun Liong menggunakan jari tangannya, memaksa mulut Giok Keng terbuka, kemudian menjilat dan menutupi kedua lubang hidung yang kecil itu dan dia pun menunduk. Ditutupnya mulut yang telah dibukanya itu dengan mulutnya sendiri kemudian ditiupnya, mengerahkan hawa murni hingga tiupannya kuat. Terasa olehnya betapa dada dara itu membusung. Dilepasnya mulutnya dan dilepaskannya pula hidung dara itu untuk memberi jalan agar hawa yang sudah ditiupkannya itu dapat mengalir keluar. Kemudian diulanginya lagi sampai berkali-kali.

Saking gelisahnya dan karena seluruh perhatiannya dicurahkan kepada Giok Keng, Kun Liong sama sekali tidak tahu bahwa pada saat itu dua sosok bayangan berkelebat dan ayah bunda dara itu telah berdiri tak jauh di sebelah belakangnya!

Biauw Eng terbelalak, tubuhnya telah bergerak hendak mendorong pergi Kun Liong, akan tetapi Keng Hong memegang lengannya dan menaruh telunjuk di bibir. Biauw Eng yang mengira bahwa pemuda gundul itu melakukan penghinaan dan perbuatan kotor atas diri puterinya, menjadi heran dan dengan mata terbelalak memandang.

Sekali lagi Kun Liong menempelkan mulutnya di mulut Giok Keng, penuh harapan karena walau pun tersengal-sengal, dara itu sudah mulai bernapas. Ditiupkannya hawa murni ke dalam dada Giok Keng, lalu dilepaskannya mulutnya.

Giok Keng bernapas terengah-engah, kemudian mengeluh dan tubuhnya bergerak. Bukan main girangnya hati Kun Liong!

"Keng-moi... Keng-moi... sadarlah...! Ahhh, kau... kau tentu keracunan. Bedebah-bedebah itu...!"

Giok Keng membuka matanya, tetapi merasa pening sehingga menutupkannya kembali, "Liong-ko, mana maling-maling itu...?"

"Mereka sudah melarikan diri. Sayang aku tidak..." Dia membalikkan tubuh dan terkejut melihat Keng Hong dan Biauw Eng telah berdiri di situ! Otak di dalam kepala gundul yang dapat bekerja cepat itu segera teringat cara dia menolong gadis itu dan seketika mukanya berubah merah, jantungnya berdebar tegang karena tentu orang tua gadis itu akan marah sekali.

Akan tetapi Biauw Eng segera menghampiri puterinya dan membangunkannya. "Kau telah menyedot banyak hawa beracun."

"Aku tadi mengejar Liong-koko ketika kami melihat berkelebatnya orang-orang jahat. Aku segera masuk ke kamar perpustakaan, akan tetapi begitu meloncat ke tengah kamar itu, lantainya terjeblos dan aku terguling ke dalam sumur. Sebelum sempat meloncat ke luar, ada yang melempar sesuatu ke dalam sumur, baunya wangi dan aku tidak ingat apa-apa lagi."

"Untung Kun Liong menolongmu. Sudahlah, mari kubantu engkau membersihkan isi dada dan paru-parumu," Biauw Eng berkata.

Ibu dan anak itu lalu duduk bersila. Biauw Eng di belakang anaknya, menempelkan kedua telapak tangan pada punggung gadis itu yang mengatur napasnya, menyedot hawa murni untuk mengusir sisa-sisa hawa beracun dari dalam dadanya.

Keng Hong dan Kun Liong lalu menghampiri para hwesio yang mengadakan pemeriksaan. Thian Kek Hwesio menarik napas panjang.

"Untung kebakaran di ruangan perpustakaan tidak melenyapkan kitab-kitab penting, dan heran sekali. Tidak ada pusaka yang lenyap biar pun keadaannya kacau-balau. Agaknya mereka mencari sesuatu, tetapi mereka tidak menemukan yang mereka cari. Betapa pun juga, untuk yang kedua kalinya, sahabat muda Yap Kun Liong kembali menyelamatkan Siauw-lim-si."

"Ahh, Locianpwe harap jangan bersikap sungkan. Bukankah teecu adalah orang sendiri? Bahkan dua buah benda pusaka yang dulu tercuri belum dapat teecu cari. Teecu sendiri tidak mengerti kenapa mereka tadi datang membikin ribut dan tidak tahu apa yang dicari, akan tetapi teecu mengenal yang memimpin para perampok tadi."

Semua orang memandang kepada Kun Liong.

"Benarkah hal itu, Liong-ji (Anak Liong)? Kau mengenal pemimpin mereka?" tanya Keng Hong kagum, bangga dan heran melihat putera sahabat baiknya ini yang selain ujudnya aneh karena kepala gundulnya, ternyata banyak mengalami hal aneh-aneh. Pertama dia diambil murid Bun Hwat Tosu, ke dua digembleng sukong-nya sendiri, dan kini mengenal pimpinan para perusuh itu, pada saat tidak ada orang lain yang dapat mengenalnya.

"Teecu pernah berjumpa dengan dia sepuluh tahun yang lalu, Supek. Dia itulah yang dulu menyerang teecu dengan jarum merah sehingga kepala teecu tidak mau tumbuh rambut lagi. Dia adalah Ouwyang Bouw, putera dari Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok."

Tentu saja semua orang terkejut mendengar ini.

"Omitohud...! Sekarang kaum sesat sudah berani memusuhi Siauw-lim-pai!" Thian Kek Hwesio berkata nyaring, "Sute Thian Lee Hwesio terbunuh, dan kini bahkan kuil Siauw-lim-si diserbu perampok. Kita harus mempersiapkan diri!" Kata-kata terakhir ini ditujukan kepada para anak murid Siauw-lim-pai.

Kun Liong segera melangkah maju dan berkata, "Locianpwe, teecu sudah menyanggupi tugas untuk mencari serta mengembalikan dua buah pusaka yang dahulu tercuri. Juga teecu sudah menyanggupi untuk menyelidiki tentang kematian Thian Lee Losuhu. Biarlah sekarang teecu berjanji akan mencari Ouwyang Bouw dan menyelidiki apa yang dicarinya di kuil itu sehingga dia dan kaki tangannya menimbulkan kekacauan."

"Omitohud... tidak percuma mendiang Suhu mengangkatmu menjadi ahli waris tunggal, Yap-sicu. Siauw-lim-pai telah banyak menerima budi dan tidak akan melupakan budi itu."

"Teecu tidak mau menganggapnya sebagai budi, karena bukankah teecu juga menerima kebaikan dari mendiang sukong? Lagi pula, teecu tidak mempunyai pekerjaan tertentu dan akan berkelana mencari Ayah dan Ibu, maka sekalian teecu dapat melakukan semua tugas itu."

Para hwesio Siauw-lim-si sibuk membereskan serta memperbaiki kerusakan yang timbul akibat kebakaran itu, para tamu sudah mengundurkan diri dan berpamit. Kun Liong juga berangkat menunaikan tugasnya, ditemani oleh Cia Keng Hong!

"Engkau pulanglah lebih dahulu bersama Giok Keng." Pendekar sakti ini berkata kepada isterinya, "Aku akan membantu Kun Liong mencari orang tuanya."

Demikianlah, Kun Liong dan Keng Hong meninggalkan kuil Siauw-lim-si, ada pun Biauw Eng mengajak Giok Keng pulang ke Cin-ling-san karena dara itu masih perlu beristirahat dan minum obat. Cia Giok Keng masih merasa penasaran sekali karena dia tidak diberi kesempatan memperlihatkan kepandaiannya di kuil Siauw-lim-si itu, karena sebelum dia sempat menyerang para penjahat, dia sudah terjeblos ke dalam perangkap rahasia dan dipaksa pingsan akibat lemparan benda meledak yang mengandung hawa beracun oleh seorang di antara penjahat.

"Liong-ko, kalau kau bertemu dengan Ouwyang... siapa tadi namanya?"

"Ouwyang Bouw," jawab Kun Liong.

"Kalau kau bertemu dengan dia, jangan kau bunuh dia."

"Mengapa?" Kun Liong bertanya heran. "Aku tidak berniat membunuh siapa-siapa, hanya ingin bertanya mengapa dia mengacau Siauw-lim-si dan apa yang dicarinya."

"Bagiankulah untuk membunuhnya!" kata dara itu.

********************

"Sebaiknya kita pergi ke Ceng-to untuk melakukan penyelidikan," di tengah jalan Keng Hong berkata kepada Kun Liong.

Kun Liong menoleh dan memandang wajah tampan dan berwibawa itu. Maka bertanyalah dia, pertanyaan yang sudah ditahannya sejak mereka meninggalkan Siauw-lim-si. "Supek, kalau boleh teecu bertanya, dengan menemani teecu dalam perjalanan ini, apakah yang Supek kehendaki?"

Cia Keng Hong menoleh, memandang dan mengangkat alisnya yang tebal.

"Maaf, Supek. Teecu merasa yakin bahwa ada sesuatu yang hendak Supek sampaikan kepada teecu."

Kini pandang mata pendekar sakti itu menjadi terheran-heran dan bertanyalah dia dengan kekaguman yang tidak disembunyikannya. "Kun Liong, bagaimana engkau bisa menduga demikian?"

"Supek dan Supek-bo pernah mencari Ayah dan Ibu tanpa hasil, demikian pula teecu. Sekarang pun teecu hanya mencari dengan mengawur karena memang tidak ada yang mengetahui di mana adanya mereka. Apa bila memang Supek hendak mencari mereka, karena kita sama-sama tidak tahu, tentu lebih baik kalau berpencar. Akan tetapi Supek menemani teecu, berarti bahwa Supek menyembunyikan niat lain. Dugaan ini akan selalu membayangi teecu kalau belum Supek jelaskan."

Keng Hong tersenyum dan mengangguk-angguk. "Engkau amat cerdik dan jujur. Memang demikianlah. Mendengar betapa pencuri pusaka Siauw-lim-si mungkin adalah orang-orang Kwi-eng-pang, dan kini mendengar pula bahwa penyerbu kuil itu adalah putera Ban-tok Coa-ong, maka engkau yang bertugas mencarinya berarti akan berhadapan dengan para datuk kaum sesat yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali. Sedangkan ayah bundamu pun belum diketahui ke mana perginya, bila engkau sebagai putera tunggalnya terancam bahaya, bagaimana aku dapat mendiamkannya saja? Aku akan membantumu menghadapi mereka, itulah tujuanku menemanimu sekarang. Dan apa bila kita beruntung bertemu dengan orang tuamu, aku pun ingin sekali bicara dengan mereka." Tentu saja Keng Hong tidak mengaku bahwa dia akan bicara tentang perjodohan puterinya!

Kun Liong segera membungkuk dengan hormat. "Terima kasih banyak atas perhatian dan pembelaan Supek terhadap teecu. Akan tetapi, Supek. Tugas ini sudah teecu sanggupi, mana teecu berani membawa-bawa Supek apa lagi melibatkan diri Supek? Supek adalah seorang ketua yang terhormat dan terkenal, kalau sampai pusaka-pusaka Siauw-lim-pai didapatkan kembali dengan mengandalkan tenaga bantuan Supek, bukankah hal itu akan membuat Siauw-lim-pai menjadi tertawaan orang? Tentu Siauw-lim-pai dianggap lemah dan hanya berani minta bantuan seorang sakti seperti Supek. Berbeda lagi dengan teecu. Teecu sama sekali tidak terkenal, dan teecu juga murid dari Sukong, apa lagi ayah teecu pun murid Siauw-lim-pai. Sudah sepatutnya jika teecu mewakili Siauw-lim-pai menghadapi para pencuri."

Keng Hong memandang dengan mata bersinar dan wajah berseri-seri. Dia kagum kepada pemuda gundul itu. Biar pun belum dia saksikan, namun agaknya kepandaian Kun Liong tentu tinggi. Wajahnya tampan meski pun kepalanya gundul, dan pandangannya jauh dan luas, wataknya pemberani, cerdik dan jujur sehingga terhadap dia berani pula berbicara terang-terangan seperti itu tanpa takut menyinggung perasaan.

Soal kepandaian, dapat dia selidiki kelak, biar pun agaknya tak mungkin kalau murid Bun Hwat Tosu dan Tiong Pek Hosiang tidak lihai. Hanya ada dua hal yang masih meragukan hati pendekar sakti ini apakah pemuda ini memang patut menjadi jodoh puterinya, yaitu pertama sikap lunak Kun Liong yang tidak hanya dinyatakan dengan mulut bahwa dia tidak suka melukai orang, juga dinyatakan dalam peristiwa keributan di Siauw-lim-si.

Kun Liong berhasil menolong Giok Keng dari dalam sumur, tapi mengapa dia tidak dapat menangkap seorang pun dari para perampok itu? Hal ke dua adalah cara pengobatan yang dilakukan Kun Liong terhadap Giok Keng. Biar pun meniupkan hawa dari mulut ke mulut merupakan pertolongan darurat, akan tetapi kenapa berani lancang melakukannya dan tidak memberi tahu kepada dia atau isterinya lebih dulu?

"Pandanganmu memang tepat, Kun Liong. Aku hanya bertindak karena kekhawatiranku terhadap tugasmu yang berat. Akan tetapi sedikitnya aku harus melihat dulu sampai di mana tingkat kepandaianmu, apakah kiranya sudah cukup kuat untuk dapat menghadapi datuk-datuk kaum sesat seperti mereka? Jika diperlukan, aku dapat melatihmu beberapa macam ilmu sebagai bekal."

"Terima kasih atas kebaikan Supek. Tapi teecu bukan bermaksud untuk menghadapi para datuk itu dalam pertandingan atau permusuhan. Teecu hanya akan minta kembali pusaka dan mereka tentu akan melihat muka para pimpinan Siauw-lim-pai untuk mengembalikan pusaka-pusaka dengan baik. Ada pun Ouwyang Bouw akan teccu tanya, apa yang dicari di Siauw-lim-si."

Berkerut kedua alis pendekar sakti itu. Kembali pemuda yang mengagumkan hatinya itu mengemukakan pendapat yang mengecewakan, yang dianggapnya sebagai pencerminan watak penakut.

"Hemmm, Kun Liong. Engkau bersusah payah mempelajari ilmu silat, terutama sekali lima tahun di Ruang Kesadaran bersama mendiang sukong-mu, sesungguhnya hendak kau pergunakan untuk apakah ilmu-ilmu itu?"

"Tentu saja untuk... untuk kesehatan, dan untuk menjaga diri, Supek."

"Menjaga diri dari apa?"

"Dari kesukaran-kesukaran yang menimpa tubuh teecu ini. Dari serangan binatang buas, manusia-manusia yang suka menggunakan ilmu untuk menindas dan lain-lain."

"Dan kau tidak akan memukul orang, biar pun orang itu jahat terhadapmu?"

"Kalau bisa... sedapat mungkin teecu tak akan menggunakan ilmu silat untuk menyerang orang lain, hanya untuk mempertahankan diri."

"Bukan karena kau takut?"

"Tidak, Supek."

"Nah, kalau begitu aku hendak menyerangmu. Hendak kulihat sampai di mana engkau dapat mempertahankan dirimu!"

Bukan main kagetnya Kun Liong mendengar ini. "Tapi... Supek..."

"Awas!" Keng Hong sudah berseru nyaring dan menyerang dengan tamparan ke arah kepala yang gundul ini.

Kun Liong merasa betapa ada angin dahsyat menyambar. Meski tangan itu masih jauh, sudah terasa angin pukulannya, membuat kulit kepala yang kena sambar terasa dingin. Cepat dia secara otomatis menundukkan kepalanya dan menyelinap ke kiri. Keng Hong telah melanjutkan serangannya dengan pukulan-pukulan dahsyat dan datang bertubi-tubi yang setiap pukulan mengeluarkan angin dahsyat.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner