PETUALANG ASMARA : JILID-21


Bukan main kagum dan kagetnya hati Kun Liong. Belum pernah selamanya dia melihat gerakan serangan yang demikian dahsyatnya. Namun dia tidak diberi kesempatan untuk berpikir karena serangan itu terus datang bertubi-tubi.

Kun Liong mengerahkan ginkang-nya dan mengelak ke sana ke mari dengan kecepatan laksana seekor burung walet. Tubuhnya mencelat ke sana sini untuk menghindarkan diri. Akan tetapi ternyata kecepatan gerakannya mampu diimbangi oleh Keng Hong sehingga akhirnya, mau tidak mau Kun Liong dipaksa untuk menangkis, karena apa bila dia hanya mengandalkan kecepatan mengelak saja tidak cukup dan tentu dia akan kena dipukul.

"Duk! Plak! Dukkk!"

Tiga kali berturut-turut Kun Liong menangkis. Karena dia maklum bahwa pukulan-pukulan yang membawa angin dahsyat itu tentu mengandung sinkang yang amat kuat, maka dia pun mengerahkan sinkang-nya dan menggunakan ilmu Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih) yang dipelajarinya dari Tiong Pek Hosiang. Ketika kedua tangan bertemu, dari tangan Kun Liong mengepul uap putih dan benturan tangan itu hanya membuat Kun Liong tergoyang-goyang tubuhnya, akan tetapi Keng Hong juga merasa betapa tangannya tergetar.

"Bagus!" Dia memuji dengan kagum dan kini ilmu silatnya berubah.

Tadi pendekar sakti itu telah mainkan San-in Kun-hoat yang ampuh. Akan tetapi karena ilmu silat ini hanya terdiri dari delapan jurus, biar pun merupakan ilmu silat tinggi namun masih kurang dapat untuk dipakai mendesak agar pemuda itu balas menyerang!

Inilah yang dikehendaki oleh Keng Hong. Dia masih tidak percaya apakah Kun Liong akan mampu mempertahankan pendiriannya, tidak akan menyerang orang! Maka dia berusaha memaksa pemuda itu untuk mengeluarkan semua kepandaian, selain bertahan juga balas menyerang. Dan ternyata San-in Kun-hoat tidak berhasil memaksa pemuda itu membalas.

"Aihhhh...!" Kun Liong terkesiap ketika melihat perubahan gerakan supek-nya.

Ilmu silat yang dimainkan supek-nya ini aneh sekali. Gerakannya sederhana, akan tetapi daya serangnya ampuh dan dahsyat sekali. Kadang-kadang gerakan supek-nya lambat saja, akan tetapi angin pukulan yang datang lebih dahsyat dari pada tadi. Itulah Thai-kek Sin-kun!

Namun Keng Hong betul-betul dibuat kaget. Pemuda itu masih mampu mempertahankan diri dan dia bisa mengenal dasar-dasar Pat-hong Sin-kun dari Bun Hwat Tosu, kemudian Im-yang Sin-kun yang hanya dia kenal dasarnya saja karena kedua ilmu itu agaknya telah diubah dan diperbaiki oleh kedua orang kakek sakti itu sehingga menjadi ilmu yang amat hebat.

Hawa yang kuat sekali berputaran di sekitar diri Kun Liong ketika pemuda itu memainkan ilmu-ilmu itu dengan kedua tangan yang selalu diisi dengan sinkang Pek-in-ciang. Selama seratus jurus Keng Hong menyerang, dan uap putih yang tadi hanya mengepul dari kedua tangan Kun Liong, kini mengepul dari tubuh dan kepalanya yang gundul, mendatangkan kekuatan yang makin dahsyat. Hebatnya, sampai seratus jurus lebih, belum pernah satu kali pun Kun Liong membalas!

Keng Hong maklum bahwa apa bila dia menggunakan gerakan maut, tentu pemuda itu terpaksa akan membalas untuk mempertahankan diri, akan tetapi percobaan ini terlau berbahaya bagi pemuda itu. Maka dia pun menggunakan akal terakhir, yaitu Ilmu Thi-khi I-beng! Sebagai seorang ahli yang memiliki kesaktian, tentu saja tidak ada bahayanya lagi bagi pendekar ini menggunakan Thi-khi I-beng.

Dahulu, sebelum dia menjadi ahli, ilmu ini sangat mengerikan. Siapa saja yang terkena betotan ilmu Thi-khi I-beng, maka sinkang-nya akan tersedot dan Keng Hong sendiri tidak mampu menghentikannya sampai tenaga lawan tersedot habis dan tewas! Kini tentu saja dia dapat menggunakan sesuka hatinya dan mengaturnya sehingga sewaktu-waktu dapat menghentikan daya sedot ilmu itu.

"Awassss...!" Serunya lagi sambil memukul dengan kecepatan yang tidak memungkinkan Kun Liong mengelak, kecuali menangkis.

"Plakkk! Hyaaaat!"

Kun Liong mengeluarkan teriakan melengking keras pada saat merasa betapa lengannya menempel pada lengan lawan dan tenaga sinkang-nya molos keluar. Sambil melengking itu dia menggunakan sinkang yang dipelajarinya dari Bun Hwat Tosu dahulu, yaitu yang memiliki tenaga membetot dan yang oleh kakek sakti itu sengaja diciptakan khusus untuk menghadapi Thi-khi I-beng yang kabarnya tidak ada lawannya di dunia ini.

"Eiiihhhh...!" Kini Keng Hong yang berteriak saking kaget dan herannya.

Pemuda itu mampu membebaskan lengannya dari sedotan Thi-khi I-beng! Bukan main! Sukar untuk dapat dipercaya! Saking kaget dan herannya, dia menghentikan serangannya dan meloncat mundur.

Kun Liong merasa sangat lega. Napasnya sudah senin kemis, dan dia harus mengakui bahwa kalau saja yang menyerangnya seperti itu bukan supek-nya, sudah sejak tadi dia terpaksa balas menyerang untuk menyelamatkan diri. Dia cepat menjatuhkan diri berlutut di hadapan supek-nya dan berkata, "Terima kasih atas kemurahan Supek dan maafkan teecu."

Dengan sinar mata penuh selidik Keng Hong bertanya, "Siapa yang sudah mengajarkan kepadamu cara membetot seperti tadi? Apakah mendiang Tiong Pek Hosiang?"

Kun Liong menggeleng kepala. "Bun Hwat Totiang-locianpwe yang mengajar teecu."

Keng Hong mengangguk-angguk dan hatinya lega. Kakek sakti bekas Ketua Hoa-san-pai itu memang seorang yang berilmu tinggi sekali, dan agaknya kakek itu dalam usia tuanya masih merasa penasaran akan keampuhan Thi-khi I-beng yang tidak ada lawannya maka diam-diam telah menciptakan sinkang untuk menghadapi Thi-khi I-beng dan menurunkan ilmu mukjijat itu kepada Kun Liong! Untung kepada Kun Liong!

"Pernahkah dia menyebut tentang Ilmu Thi-khi I-beng kepadamu?"

Kun Liong tak berani membohong. "Pernah, Supek, dan memang sinkang tadi diciptakan oleh beliau untuk menghadapi Thi-khi I-beng."

Keng Hong tertawa. "Orang tua itu benar-benar tak mau mengalah! Kun Liong, ilmu yang kau miliki itu memang hebat, akan tetapi tenagamu masih belum cukup untuk melawan aku jika aku benar-benar mengerahkan seluruh tenaga dalam ilmu Thi-khi I-beng. Akan tetapi engkau telah berhasil memiliki dasar ilmu itu, berarti engkau memang berbakat baik sekali dan sekarang aku telah mengerti siapa yang dapat kuberi ilmu Thi-khi I-beng, yaitu engkau sendiri!"

Kun Liong terkejut. Dia mendengar bahwa ilmu Thi-khi I-beng adalah ilmu mukjijat yang hanya dikuasai oleh supek-nya ini dan tiada taranya di seluruh dunia persilatan. Dan kini supek-nya hendak menurunkannya kepadanya!

"Terima kasih atas kepercayaan dan kebaikan Supek. Akan tetapi... bukankah ilmu ini semestinya supek berikan kepada Adik Giok Keng?"

Kembali Keng Hong kagum di dalam hatinya. Ucapan itu saja sudah membuktikan bahwa pemuda gundul itu benar-benar berani dan jujur. Berani karena ucapan itu dapat diartikan menolak! Dan jujur karena penolakan itu berdasarkan perasaaan tidak adil terhadap Giok Keng.

"Tidak, dia masih kurang berbakat dan tidak akan kuat menerimanya. Ilmu Thi-khi I-beng bukan sembarang ilmu. Akan membahayakan dunia dan membahayakan orang itu sendiri kalau pemiliknya tidak memiliki dasar yang amat kuat, dan tidak memiliki watak pendekar sejati!"

Kun Liong merasa makin jeri. "Supek... bukan teecu menolak, hanya teecu... teecu takut kalau-kalau teecu bukan pendekar sejati seperti yang Supek maksudkan itu... dan teecu tidak berani kelak menyia-nyiakan ilmu itu. Harap Supek pertimbangkan baik-baik."

Keng Hong tertawa. Bocah ini memiliki bakat dan watak yang baik sekali, sayang sekali kurang kepercayaan terhadap diri sendiri. Sikap ini memang baik, membuat orang tidak menyombongkan diri dan selalu rendah hati, akan tetapi juga menjadikannya seorang yang kurang tegas dan berani. Betapa pun juga, dia tidak mempunyai pandangan orang lain dan agaknya memang tepat kalau dia menurunkan ilmunya kepada putera sumoi-nya dan sahabat baiknya ini.

"Bersiaplah engkau menerima ilmu Thi-khi I-beng. Engkaulah pewaris satu-satunya sebab ilmu ini tidak boleh dimiliki orang lain kecuali engkau seorang dan kelak pun jika engkau menurunkan ilmu ini tidak boleh kepada lebih dari satu orang saja."

Kun Liong bertutut dan tidak membantah ketika disuruh duduk bersila di hadapannya. Di dalam hutan yang sunyi itu, Keng Hong memberikan ilmu yang mukjijat itu kepada Kun Liong. Di samping cara untuk mengendalikan hawa mukjijat di dalam tubuh ini, Keng Hong harus mengoperkan sebagian dari hawa mukjijat itu ke dalam tubuh Kun Liong, seperti yang dahulu dilakukan oleh gurunya kepadanya.

Dia menyuruh pemuda itu ‘membuka’ tubuhnya, yaitu siap menerima dan sedikit pun tidak boleh melawan, kemudian dia meletakkan kedua tangan di atas ubun-ubun kepala yang gundul dan mengerahkan sinkang yang bagaikan air bah membanjir memasuki tubuh Kun Liong.

Pemuda gundul ini sampai roboh pingsan ketika pertama kali Keng Hong mengoperkan sinkang-nya. Kemudian sedikit demi sedikit dia dilatih mengemudikan hawa mukjijat yang bergerak-gerak di dalam tubuhnya sampai dia dapat menguasainya dan mengurung hawa ini ke dalam pusarnya dan dapat membangkitkannya sewaktu-waktu. Juga dia dilatih cara bersemedhi untuk mengumpulkan hawa murni yang menjadi penambah kekuatan tenaga mukjijat Thi-khi-i-beng di tubuhnya.

Sampai dua pekan lamanya dia berlatih di dalam hutan itu, sedangkan Keng Hong juga bersemedhi terus menerus untuk mengisi kembali tenaga mukjijat yang sebagian telah dia ‘operkan’ kepada Kun Liong.

Dua pekan kemudian, dua orang itu melanjutkan perjalanannya. Kun Liong masih agak pening oleh pengaruh kekuatan mukjijat yang dimilikinya, mukanya agak kemerahan, ada pun Keng Hong kelihatan agak pucat.

"Supek, mengapa kita pergi ke kota Ceng-to? Ada apakah di sana?" di tengah perjalanan Kun Liong bertanya.

"Kota Ceng-to berada di tepi Laut Timur, dan tempat itu kabarnya adalah menjadi tempat tinggal salah seorang di antara datuk-datuk kaum sesat yang menguasai bagian timur, yaitu Hek-bin Thian-sin Louw Ek Bu. Mengingat betapa Siauw-lim-si sudah diganggu dua kali, pertama oleh orang Kwi-eng-pang dan kedua kalinya oleh putera Ban-tok Coa-ong, sangat boleh jadi kalau Lima Datuk kaum sesat yang tersohor itu sekarang mengadakan persekutuan. Hek-bin Thian-sin seorang di antara mereka, maka kiranya dia akan dapat memberi keterangan, karena tempatnya yang terdekat dari sini. Kedua kalinya, di Ceng-to terdapat banyak tokoh persilatan baik golongan putih mau pun hitam, dan menjadi cabang besar dari Pek-lian-kauw, maka tepatlah kalau kita menyelidiki orang tuamu di sana. Di antara mereka agaknya tentu ada yang mendengar tentang ayah bundamu."

Mendengar ucapan ini, giranglah hati Kun Liong dan dia semakin kagum dan suka kepada supek-nya. Tahulah dia bahwa supek-nya adalah seorang yang budiman, gagah perkasa dan mulia. Pantas kalau ayah dan ibunya menjunjung tinggi supek-nya ini!

Di dalam perjalanan, berkali-kali Keng Hong mengajak Kun Liong berlatih dan dia gembira sekali pada saat mendapat kenyataan bahwa pemuda itu telah berhasil menguasai Thi-khi I-beng, sungguh pun tenaga menyedot itu belum sekuat dia. Melihat bakat pemuda itu, banyak harapan kelak pemuda ini akan lebih kuat dari pada dia sendiri! Apa lagi pemuda itu telah memiliki ilmu-ilmu tinggi dan pilihan dari dua orang kakek sakti.

"Kun Liong, apakah dulu ayah bundamu pernah bicara denganmu tentang perjodohan?"

"Perjodohan siapa, Supek?"

"Perjodohanmu, siapa lagi?"

"Ahh, belum pernah, Supek." Muka Kun Liong menjadi merah sampai ke kulit kepalanya.

"Jadi jelas bahwa engkau belum ditunangkan?"

"Belum."

"Dan engkau sendiri, apakah sudah mempunyai pilihan seorang dara untuk kelak menjadi jodohmu?"

Diberondong oleh pertanyaan-pertanyaan yang terus terang ini, Kun Liong menjadi gugup dan malu sekali. "Be... belum, Supek. Teecu sama sekali tidak memikirkan tentang jodoh."

"Hemmm, usiamu sudah dua puluh tahun, sudah waktunya memikirkan soal jodoh," kata Keng Hong, namun pendekar ini tidak melanjutkan percakapan tentang jodoh itu sehingga membikin lega hati Kun Liong.

Diam-diam pemuda yang cerdik ini menduga-duga. Kenapa supek-nya berbicara tentang jodoh? Dan menurut Giok Keng, dara itu pun belum ada jodohnya meski orang tuanya selalu mendesak dan membujuknya. Ahh, agaknya ada udang di balik batu, pikirnya, ada maksud di balik pertanyaan-pertanyaan supek-nya itu.

Dia membayangkan wajah Giok Keng. Cantik jelita, manis dan menggairahkan. Teringat dia akan mulut yang berkali-kali bertemu dengan mulutnya pada waktu dia menolong Giok Keng. Betapa bibir yang lunak dan halus itu bertemu dengan bibirnya. Baru sekarang dia dapat membayangkan kenikmatan yang luar biasa mengingat pengalamannya dahulu itu, padahal ketika dia melakukan hal itu, sama sekali dia tidak ingat apa-apa!

Kini terbayanglah semuanya itu. Bahkan teringat akan hal-hal yang sekecil-kecilnya. Akan lidah kecil meruncing, ingat betapa giginya beradu dengan gigi Giok Keng dalam usahanya yang tergesa-gesa dan gugup saat itu. Jantungnya berdebar, tubuhnya seperti kemasukan getaran panas. Nafsu birahinya terusik oleh kenangan dan bayangan ini.

"Hemmm..."

"Ada apa, Liong-ji?" Keng Hong menoleh.

Kun Liong kaget sekali. Tak disadarinya, mulutnya mengeluarkan suara menggeram tadi! "Ohh... ahh, tidak apa-apa, Supek."

Sungguh tolol kau, dia memaki diri sendiri. Pikiranmu busuk, kotor! Akan tetapi kotorkah mengenangkan seorang dara jelita bagi seorang pemuda? Mengenangkan seorang dara memang tidak kotor, bantahnya sendiri, akan tetapi kalau sudah berlarut-larut memikirkan hal yang bukan-bukan, bisa berbahaya!

Beberapa hari kemudian, tibalah mereka di jalan besar yang menuju ke kota Ceng-to di tepi laut timur. Dari jauh sudah tampak perahu-perahu di tepi pantai, bukan hanya perahu nelayan, akan tetapi juga perahu-perahu besar yang nampak aneh dan asing. Kun Liong terpesona melihat laut. Belum pernah dia pergi ke pantai laut. Melihat dari tempat yang agak tinggi ke arah lautan bebas yang tiada bertepi itu, melihat gelombang ombak yang bergerak-gerak tiada hentinya, dia menahan napas saking kagumnya.

Akan tetapi setelah mereka tiba di pintu gerbang, Kun Liong merasa penasaran dan tidak senang. Pintu gerbang itu dijaga oleh prajurit-prajurit yang bersenjata tombak. Baru kini dia melihat keadaan seperti ini. Dan setiap orang yang akan memasuki kota itu diperiksa, ditanyai dan dicatatkan namanya di atas sehelai kertas!

Ketika Keng Hong dan Kun Liong tiba di pintu gerbang, di sana sedang ada rombongan penari silat yang diperiksa, dan terjadi perselisihan kecil.

"Kami sudah merantau dan mengadakan pertunjukan silat hampir di seluruh daerah, akan tetapi baru sekarang ini kami diperiksa dan dicurigai!" Pemimpin rombongan itu, seorang kakek berusia lima puluh tahun memprotes.

"Tak perlu banyak cerewet! Di sini berkeliaran banyak mata-mata pemberontak dan orang jahat. Bila engkau tidak mau diperiksa, apakah kalian ini termasuk orang jahat atau kaum pemberontak?" bentak kepala penjaga.

Sungguh pun sambil mengomel, rombongan penari silat yang terdiri dari tujuh orang itu diperiksa, dicatat nama-nama mereka, bahkan alat-alat permainan mereka diperiksa dan digeledah. Yang membuat Kun Liong penasaran adalah pada saat dia melihat dua orang asing yang aneh pakaiannya, aneh pula keadaannya karena matanya biru, kulitnya pucat seperti mayat, rambutnya dipotong sampai di pundak dan ada yang rambutnya berwarna kuning, memasuki pintu gerbang tanpa diperiksa sama sekali!

Keng Hong juga melihat hal ini, akan tetapi dia diam saja. Hanya diam-diam dia lantas memperhatikan dua orang itu dan mendapat kenyataan bahwa dua orang itu sebangsa dengan orang asing lihai yang ditemuinya di Leng-kok, di rumah Ma-taijin, hanya mereka ini lebih muda. Benarlah dongeng orang bahwa kini banyak terdapat bangsa asing yang aneh itu, terutama di sepanjang pantai selatan dan timur. Tentu mereka datang dengan perahu-perahu besar itu.

Karena mereka memasuki kota berbareng dengan rombongan penari silat, agaknya para penjaga mengira bahwa mereka berdua juga anggota rombongan itu, maka setelah pihak penjaga dan pemimpin rombongan selesai berdebat, Keng Hong dan Kun Liong diijinkan masuk tanpa banyak pemeriksaan lagi. Juga karena sikap dan pakaian Keng Hong tidak mencolok, seperti orang biasa saja, sedangkan Kun Liong yang menarik perhatian karena kepala gundulnya itu mudah saja lolos, oleh karena dia dianggap seorang badut di antara rombongan penari silat itu!

Ternyata di dalam kota pelabuhan Ceng-to itu terdapat banyak orang asing bermata biru! Di sana-sini terdapat rombongan mereka tertawa-tawa dan berbicara dalam bahasa yang bagi pendengaran Kun Liong aneh luar biasa. Agaknya seperti itulah bicaranya iblis-iblis dan para setan!

Mendesis-desis serta mengeluarkan suara tajam-tajam menusuk telinga, kadang-kadang nadanya naik turun seperti orang bernyanyi! Dia merasa geli dan ingin tertawa mendengar mereka itu bercakap-cakap riuh rendah sambil berjalan di tengah jalan, bersikap seakan jalan itu adalah jalan mereka sendiri dan semua orang yang berjalan di kanan kiri jalan itu mereka anggap seperti patung saja! Hemm, mereka ini orang-orang yang tinggi hati, yang memandang rendah pada orang lain dan merasa diri pandai sendiri, demikian Kun Liong mengambil kesimpulan setelah melihat sikap dan gerak-gerik mereka.

Akan tetapi harus dia akui bahwa orang-orang itu rata-rata mempunyai bentuk tubuh yang baik, tinggi besar dan kelihatannya kuat. Usia mereka rata-rata antara tiga puluh tahun. Yang aneh adalah potongan rambut mereka. Semuanya dipotong sepanjang pundak dan rambut itu berombak, dibelah bagian tengah-tengah.

Selain rambut mereka yang potongannya lucu dan warnanya bermacam-macam itu, ada kuning, coklat, putih, serta ada yang kehitaman, juga warna mata mereka membuat bulu tengkuk meremang. Hanya iblis-iblis saja yang matanya tidak hitam, tapi berwarna-warni seperti itu.

Kun Liong tidak dapat menghitung berapa banyaknya orang-orang asing ini, kesemuanya pria. Tetapi yang dijumpainya di jalan tentu tidak kurang dari lima belas orang banyaknya. Keng Hong mengajak pemuda itu memasuki sebuah warung nasi, kemudian memesan makanan dan minuman.

Warung atau restoran kecil ini cukup ramai dan yang menarik perhatian Kun Liong adalah tiga orang laki-laki asing yang tengah ramai bercakap-cakap dalam bahasa mereka sambil minum arak. Muka ketiga orang ini sudah merah sekali, tanda bahwa mereka sudah agak mabok.

Kun Liong tertegun melihat dari dekat, kini jelas tampak betapa orang-orang ini memang aneh. Tubuh mereka yang berkulit putih itu tertutup bulu-bulu halus yang berwarna putih kekuningan, tidak kentara dari jauh, dan kulit yang putih itu dihias totol-totol merah. Harus diakui bahwa wajah mereka seperti wajah orang-orang ramah, hampir selalu tersenyum dan tertawa, mata mereka yang berwarna aneh itu selalu berseri. Akan tetapi tetap saja di balik sinar mata ini tampak kesombongan dan pandangan yang merendahkan orang lain, terutama terhadap penduduk pribumi.

Mendadak seorang di antara tiga orang asing itu, yang kepalanya agak botak, bangkit berdiri dan berteriak memanggil dengan bahasa asing ke bagian dalam, di mana tampak seorang wanita muda, agaknya keluarga dari pemilik restoran itu. Melihat dirinya dituding dan dipanggil, tentu saja wanita itu menjadi ketakutan dan berlari masuk, melepaskan baki yang dibawanya sehingga terdengar suara nyaring ketika dua buah mangkuk kosong pecah-pecah.

Pemilik restoran segera berlari datang menghampiri lelaki asing yang sekarang berteriak-teriak dan memukuli meja, kelihatannya marah itu. Pemilik restoran menjura dan berkata, "Harap Tuan tidak marah, apakah yang Tuan kehendaki dan pesan?"

Akan tetapi lelaki asing itu, kini dibantu oleh dua orang kawannya, berteriak-teriak dalam bahasa asing sambil menuding-nuding ke dalam dan mengepal tinju, dan ada terdengar terselip dalam rangkaian bahasa asingnya itu kata-kata ‘perempuan’.

Tentu saja pemilik restoran tidak mengerti, dan seorang tamu yang duduknya di belakang Kun Liong, di meja yang berdekatan, berkata kepada pemilik restoran itu, "Dia minta agar dilayani wanita yang kelihatan tadi."

Mendengar ini, pemilik restoran menjadi merah mukanya. Dengan bahasa gerak tangan dia menggoyang-goyangkan tangannya di depan hidung laki-laki asing itu sambil berkata, "Tidak bisa! Tuan jangan kurang ajar! Dia itu bukan pelayan akan tetapi anakku dan dia tidak boleh diganggu!"

"Desss…!"

Kepalan tangan laki-laki itu menghantam, tepat mengenai dada pemilik restoran sehingga pemilik restoran itu terjengkang dan roboh menimpa meja kursi kosong!

Keadaan menjadi kalut. Kun Liong bangkit berdiri, akan tetapi tangannya dipegang Keng Hong yang segera memberi isyarat agar pemuda itu duduk kembali. Kun Liong merasa penasaran sekali, akan tetapi pada saat itu dia melihat tiga orang asing itu sudah bangkit dari tempat duduknya masing-masing, berdiri dengan muka ketakutan sambil ditundukkan menghadap seorang asing lain yang telah berada di pintu restoran.

Orang yang baru datang ini juga seorang asing, akan tetapi Kun Liong memandangnya kagum. Orang itu masih muda, belum ada tiga puluh tahun. Tubuhnya tegap jangkung, pinggangnya kecil tidak seperti yang lain yang rata-rata berperut besar, rambutnya kuning emas terpelihara bersih dan disisir rapi, dibelah tengah dan panjangnya sampai ke bawah telinga sedangkan yang belakang agak panjang diikat dengan pita!

Wajah pemuda asing ini tampan dan gagah, pandang matanya yang biru itu tenang dan tidak memandang rendah orang lain meski pun di balik itu tersembunyi keangkuhan yang membayangkan tinggi hati! Pakaiannya aneh dan indah, jubahnya yang lebar berwarna kuning, kemejanya putih dan celananya abu-abu. Sepatunya yang aneh bentuknya dan tinggi sampai ke lutut itu terbuat dari kulit yang mengkilap, pada pinggangnya tergantung sarung sebatang pedang yang kecil panjang.

Dengan suara lantang orang muda asing itu berkata-kata kepada ketiga orang tadi yang menjawab hanya dengan kata-kata pendek dan mengangguk-angguk. Setelah pemuda itu mengangkat telunjuk kanannya ke atas dengan gaya memperingatkan, dia lalu memutar tubuh dan pergi dari situ.

Tiga orang laki-laki tadi lalu duduk kembali, dan orang yang memukul pemilik restoran menghampiri orang yang dipukulnya, menjabat tangannya sambil digoncang-goncangkan dengan gaya minta maaf.

"Twako, dia minta maaf atas kekasarannya tadi," kata pula orang di belakang Kun Liong yang agaknya mengerti bahasa mereka.

Si Pemilik Restoran tersenyum kemudian mengangguk-angguk. Dia menganggap bahwa peristiwa itu timbul karena salah pengertian akibat perbedaan bahasa mereka.

Keng Hong berkata kepada laki-laki muda yang duduk di belakang Kun Liong, "Agaknya Hiante mengerti bahasa mereka."

Orang itu mengangguk dan tersenyum. "Mereka itu bangsa Portugis. Kerena sudah lama kota ini kedatangan orang-orang bangsa itu, dan pernah ada yang bersahabat dengan saya, maka sedikit-sedikit saya mempelajari dan mengerti bahasa mereka. Mereka adalah pelaut-pelaut yang biasanya bersikap kasar, terlebih lagi kalau melihat wanita. Maklumlah, selama berbulan-bulan, mungkin bertahun-tahun mereka berada di atas kapal mengarung samudera, haus akan wanita."

"Mengertikah Hiante apa yang diucapkan oleh orang asing muda tadi, dan siapakah dia?"

"Dia adalah Tuan Muda Yuan, putera pemilik kapal Kuda Terbang. Sering kali dia datang bersama kapalnya, dan dia ditakuti oleh semua orang asing itu. Agaknya dia mempunyai pengaruh besar di antara mereka. Dia tadi memarahi mereka dan memperingatkan bahwa untuk kebutuhan mereka akan perempuan telah disediakan tempat khusus maka mereka dilarang keras mengganggu wanita baik-baik."

Keng Hong mengangguk-angguk, namun hatinya merasa tidak enak sekali. Mau apakah orang-orang asing ini berkeliaran di sini? Karena penasaran dia bertanya lagi, "Tahukah Saudara, mereka itu berada di Ceng-to mau apa?"

"Biasanya mereka adalah pedagang-pedagang, membawa barang-barang aneh dari dunia mereka dan di sini mereka membeli rempah-rempah, obat-obatan dan juga barang-barang buatan pribumi. Mereka, tentu saja para pemimpin mereka, mempunyai hubungan baik dengan pembesar-pembesar di sini."

Keng Hong tak bertanya-tanya lagi. Sehabis makan dia dan Kun Liong keluar dari rumah makan, dan menyewa sebuah kamar di hotel sederhana.

"Biarlah malam nanti saja kita melakukan penyelidikan. Aku sendiri mungkin akan dikenal orang apa bila aku keluar siang ini. Lebih baik engkau saja yang siang ini berjalan-jalan, memasang mata dan telinga. Engkau tentu tidak akan ada yang mengenal dan tidak akan menimbulkan curiga."

Kun Liong mengangguk, kemudian dia keluar seorang diri meninggalkan supek-nya yang tetap tinggal di dalam kamar. Keng Hong lalu bersemedhi di dalam kamar hotel itu untuk memulihkan tenaganya, sebab tenaganya belum pulih seluruhnya sejak dia mengoperkan sebagian sinkang-nya untuk melatih Thi-khi I-beng kepada Kun Liong,.

Kun Liong yang tertarik sekali melihat laut, begitu mendapat kesempatan ini, tentu saja langsung dia berjalan-jalan ke tepi laut! Ketika dia tiba pada bagian pantai yang sunyi, agaknya pantai ini adalah tempat para nelayan meminggirkan perahu dan menjemur jala, ikan dan sebagainya, dia melihat seorang laki-laki tua tengah menambal jaring yang bocor seorang diri.

Ia mendekati, dan orang itu pun mengangkat mukanya, lantas melanjutkan pekerjaannya. Agaknya orang ini telah biasa ditonton orang, karena kota pelabuhan itu memang banyak kedatangan tamu, baik pribumi dari luar kota mau pun orang asing.

"Lopek, ramaikah penangkapan ikan musim ini?"

Kakek itu mengangkat muka, agaknya tercengang, lalu menjawab, "Yaah, lumayan saja. Penghasilan ikan berkurang, akan tetapi harga ikan naik, berarti sama saja. Semua ini gara-gara kapal-kapal asing yang datang itu!" Kakek itu kedua tangannya memegang jala, karena itu dia menunjuk ke arah kapal-kapal asing dengan hidungnya pada saat mukanya digerakkan ke arah laut.

"Mengapa gara-gara mereka?"

"Kapal-kapal besar itu mengacaukan lautan dan menakutkan ikan-ikan. Agaknya dewa penjaga lautan juga ketakutan melihat rambut kuning, mata biru, dan kulit putih itu. Hasil tangkapan ikan akhir-akhir ini menurun. Akan tetapi, orang-orang asing itu doyan sekali makan ikan dan mereka berani membeli mahal sehingga harga ikan naik keras."

Dengan penuh gairah kakek itu lalu bercerita tentang kehidupan nelayan di kota itu yang didengar penuh perhatian oleh Kun Liong yang memang sedang memancing percakapan. Kemudian pemuda itu bertanya sambil lalu, "Ehhh, Lopek. Engkau yang sudah puluhan tahun tinggal di Ceng-to, tentu telah mengenal semua orang sini, bukan?"

"Tidak semua! Hanya yang lama tinggal di sini saja. Sekarang banyak pendatang baru, terutama orang-orang dari daerah selatan yang datang bersama kapal-kapal asing itu. Siapa mengenal mereka?" Kakek itu mengomel, agaknya di dalam hatinya dia tak senang dengan kedatangan kapal-kapal itu.

"Akan tetapi saya kira Lopek tentu mengenal seorang yang bemama Louw Ek Bu." Kun Liong melihat betapa wajah kakek itu berubah seketika. "Tahukah Lopek di mana tempat tinggalnya?"

Sejenak kakek itu tidak menjawab, bahkan kedua tangannya yang semenjak tadi bekerja ketika dia bicara, kini terhenti. Jelas tampak betapa tangan itu agak gemetar!

"Kau... kau... sahabatnya, orang muda?"

Kun Liong menggelengkan kepalanya. "Bukan, aku hanya ingin tahu di mana tinggalnya orang yang tersohor itu."

"Rumah dia itu, siapa yang tidak tahu? Di tepi kota sebelah utara, rumah gedung besar yang di atas atapnya ada ukiran naga, seperti rumah kuil. Sudahlah, aku masih banyak pekerjaan, maafkan, orang muda."

Bergegas kakek itu meninggalkan Kun Liong lalu menghampiri perahunya dan memeriksa perahu itu. Kun Liong maklum bahwa kakek itu menjadi ketakutan untuk bercakap-cakap dengan orang yang mengenal atau mencari datuk kaum sesat itu, akan tetapi apa yang dikehendakinya, alamat datuk itu, telah terpegang. Maka dia pun pergi dari situ, menuju ke utara.

Belum lama dia berjalan, sebelum sampai di tepi kota sebelah utara, dia melihat ribut-ribut di pinggir sebuah pasar dekat pantai. Cepat-cepat dia menghampiri dan melihat betapa rombongan penari silat yang pagi tadi bersama-sama dia memasuki kota dan agaknya membuka pertunjukan di tempat itu, sedang berhantam melawan tiga orang asing yang tadi dia lihat dalam restoran! Agaknya tiga orang asing itu sudah mabok, muka mereka merah sekali dan mereka berhantam melawan tiga orang dari rombongan penari silat.

Kun Liong menonton penuh perhatian dan melihat betapa tiga orang asing itu gerakannya tidaklah selincah tiga orang lawannya, akan tetapi mereka itu rata-rata mempunyai tubuh yang kuat dan kebal. Beberapa pukulan yang mereka terima tidak merobohkan mereka dan sekarang mereka mengamuk dengan pukulan-pukulan yang keras sekali. Dua orang anggota rombongan penari silat kena dipukul dan roboh untuk tak dapat bangun kembali, pingsan! Keras benar pukulan orang-orang itu!

Melihat ini, Kun Liong sudah meloncat ke depan. Oleh karena dia tadi melihat betapa tiga orang asing itu bersikap kasar dan mengacau, maka kini dia berpendapat bahwa tentulah tiga orang asing itu yang menimbulkan perkelahian.

"Hee, berhenti! Kalian ini orang-orang asing yang kasar dan kurang ajar sekali! Mengapa mengganggu orang yang sedang mengadakan pertunjukan?" Kun Liong berteriak sambil meloncat ke depan dan cepat menangkis pukulan orang asing ke tiga yang sudah hampir merobohkan lawannya. Sambil menangkis, Kun Liong mengerahkan sinkang-nya.

"Dukkk...!"

Orang asing itu mencak-mencak, berjingkrak sambil memegangi lengan tangannya yang terkena tangkisan Kun Liong. Ternyata tulang lengannya telah patah!

Dua orang temannya menjadi marah sekali. Sambil memaki-maki dalam bahasa mereka, dua orang asing itu menerjang maju. Pukulan kedua tangan mereka yang keras itu lantas menyambar-nyambar. Sikap mereka seperti dua ekor kerbau mengamuk.

Kun Liong tidak menjadi gentar. Dengan mudah saja dia mengelak dengan loncatan ke atas. Tubuhnya mencelat bagai dilontarkan ke atas kepala kedua orang lawannya, kedua kakinya menginjak punggung dan mendorong. Dia tetap tidak hendak menyerang orang, maka dorongan kakinya hanya membuat dua orang itu terhuyung.

Dua orang asing itu makin marah. Mereka membalik dan menyeruduk kembali dengan ganas. Kun Liong mengelak ke samping, kakinya dilonjorkan ketika dia berjongkok hingga kedua orang itu terjungkal, roboh menelungkup mencium tanah.

Terdengar sorak-sorai orang--orang yang menonton. Baru sekali ini mereka melihat ada orang asing ‘biadab’ itu dihajar. Biasanya, tidak ada yang berani melawan orang-orang asing ini karena pembesar setempat sudah mengeluarkan pengumuman supaya jangan mengganggu mereka yang disebut ‘tamu-tamu agung’ itu.

Memang benar bahwa orang-orang asing itu royal mengeluarkan uang dalam membeli sesuatu, akan tetapi sikap mereka itu angkuh dan memandang rendah kepada penduduk pribumi. Begitu angkuhnya sehingga kadang-kadang mereka itu melakukan hal-hal yang sangat menghina, misalnya, orang-orang asing itu berani secara main-main menowel pipi atau menjamah dada seorang dara yang bertemu di tengah jalan!

Kun Liong mengambil keputusan bahwa kalau dua orang itu masih nekat, begitu memukul lagi dia akan menangkis dengan pengerahan tenaga. Akan tetapi begitu kedua orang itu bangkit, tiba-tiba saja ada bayangan berkelebat dan betapa kaget hati Kun Liong ketika di depan kedua orang itu tiba-tiba telah berdiri pemuda asing yang tadi! Dia terheran-heran menyaksikan gerakan pemuda itu yang jelas menunjukkan gerakan seorang ahli ginkang!

Pemuda itu kembali bicara nyaring sekali, agaknya memarahi ketiga orang asing itu dan telunjuknya menuding ke luar. Dengan kepala tunduk dan muka kemerahan, ketiga orang asing itu langsung berjalan pergi, yang patah lengannya tadi masih mengerang kesakitan.

Setelah ketiga orang itu pergi, pemuda itu membalikkan tubuhnya, membungkuk kepada Kun Liong dan berkata dalam bahasa pribumi yang cukup lancar biar pun nada suaranya terdengar lucu dan asing,

"Harap Saudara maafkan kalau tiga orang kasar tadi mengganggu pertunjukan saudara-saudara di sini. Maklumlah, mereka itu belum pernah melihat orang-orang mengadakan pertunjukan di tempat terbuka."

Kun Liong juga membungkuk. Diam--diam dia tidak mengira sama sekali bahwa pemuda asing ini pandai bicara dalam bahasa pribumi dan sikapnya sama sekali tidak sombong, bahkan ramah dan merendah.

"Saya bukan dari rombongan penari silat, harap Tuan minta maaf kepada mereka itu."

Mendengar ucapan Kun Liong ini, pemuda asing itu mengangkat dada dan memandang tajam, mengerutkan alisnya yang berwarna agak kuning, tidak sekuning rambutnya.

"Tuan bukan anggota mereka?" Dia mengulang. "Kalau begitu, kenapa Tuan menyerang orang kami?"

"Saya tidak menyerang, merekalah yang menyerang saya. Saya melihat mereka memukul para penari silat, maka saya berusaha mencegahnya dan mereka menyerang saya."

Sikap pemuda asing itu berubah, agaknya dia penasaran, dan juga tertarik sekali. "Hem, kau bilang tidak menyerang akan tetapi seorang di antara mereka sampai patah tulang lengannya. Agaknya Tuan seorang pendekar, ya?"

"Sama sekali bukan!" jawab Kun Liong. "Saya bukan pendekar, akan tetapi ketiga orang sahabat Tuan tadi adalah orang-orang jahat yang tidak semestinya dibiarkan berkeliaran seperti binatang buas yang suka mengganggu orang."

Akan tetapi pemuda asing itu tidak memperhatikan kata-kata ini, hanya memandang penuh perhatian, kemudian berkata, "Saya ingin sekali melihat kepandaian Tuan. Marilah kita menguji kepandaian masing-masing secara bersahabat."

"Apa? Tuan menantang saya untuk bertanding? Orang saling pukul, mana bisa secara bersahabat?"

"Saya tidak menantang untuk bermusuhan, akan tetapi untuk... ehh…, apa namanya itu, untuk pibu! Ya, untuk pibu! Marilah Tuan sambut serangan saya!"

Dan pemuda asing itu dengan penuh semangat lalu menerjang maju, menyerang dengan pukulan tangan terkepal, akan tetapi gerakannya lincah sekali dan pukulannya membawa angin pukulan yang mengandung tenaga dalam!

"Aihh!" Kun Liong mengelak cepat, semakin terheran-heran karena jelas dari pukulan itu bahwa Si Pemuda Asing yang tadi dia lihat pandai menggunakan ginkang, kini ternyata memiliki tenaga sinkang yang hebat pula!

"Wut-wutt... siuuuttt…!"

Pemuda asing itu sudah melanjutkan serangannya, kedua tangannya secara bertubi-tubi memukul dan saat Kun Liong mengelak dua kali dengan cepat, kaki kanan pemuda asing itu menyusul dengan sebuah tendangan yang amat berbahaya, karena seluruh tubuhnya ikut ‘terbang’ dan kaki kirinya menyusul tendangan kaki kanan itu. Inilah ilmu tendangan Soan-hong-twi (Tendangan Angin Badai) yang amat lihai!

Kun Liong tidak dapat mengelak, lalu bergerak menangkis sambil mendorong.

"Dessss! Aughhhh…!"

Pemuda asing itu terlempar, akan tetapi dapat berjungkir balik dan turun sambil berdiri. Dia tadi berteriak karena kakinya yang tertangkis terasa nyeri, sungguh pun tidak sampai patah seperti lengan temannya tadi.

"Bagus, kau hebat! Sambutlah!"

Dia maju menyerang lagi, kini betul-betul mengerahkan seluruh tenaga dan mengeluarkan kepandaian silatnya yang aneh namun cukup hebat. Gerakannya seperti seekor burung garuda menyambar-nyambar, kedua tangan dikembangkan, kadang-kadang dikepal tetapi kadang-kadang dibuka seperti cengkeraman.

Kun Liong makin kagum dan dia pun cepat mengimbangi kelincahan lawan, mengelak ke sana-sini dan berusaha menghentikan serangan-serangan itu dengan menjatuhkan lawan tanpa melukai sampai parah.

Ketika untuk kesekian kalinya pemuda asing itu menubruk dengan dua tangan terpentang, Kun Liong menyambut kedua tangan itu sambil mengerahkan sinkang untuk menempel, akan tetapi dia tidak mau menggunakan Thi-khi I-beng, hanya sekedar membuat kedua tangan lawan melekat pada tangannya.

"Ahhhh...!" Pemuda asing itu terkejut, berusaha menarik kembali kedua tangannya tetapi sia-sia belaka, kedua telapak tangannya seperti melekat pada tangan pemuda itu.

Kembali dia membetot dan kesempatan itu digunakan oleh Kun Liong untuk mengerahkan tenaga mendorong dan... tubuh pemuda asing itu terlempar ke belakang sampai empat meter dan jatuh terbanting! Akan tetapi dia dapat cepat meloncat bangun kembali, lantas tersenyum kagum sambil mengebut-ngebutkan jubahnya yang kotor.

Dari tempat dia terjatuh, dia membungkuk ke arah Kun Liong dan berkata, "Saudara hebat sekali! Saya Yuan de Gama mengaku kalah. Siapakah nama Saudara?"

Menyaksikan sikap pemuda asing yang dengan jujur dan wajah berseri sudah mengakui kekalahannya, hati Kun Liong menjadi tertarik dan senang. Dia pun membungkuk sambil berkata, "Tuan juga hebat. Nama saya Yap Kun Liong."

"Terima kasih, sampai jumpa lagi!" Pemuda asing itu membalikkan tubuhnya dan berjalan dengan cepatnya menuju ke utara!

Kun Liong tidak mau memberi kesempatan kepada orang-orang yang mendekatinya untuk memuji dan bertanya-tanya, dia pun cepat melangkah dan menuju utara, bukan sekali-kali membayangi Si Pemuda Asing, tetapi karena dia hendak melanjutkan penyelidikannya di rumah Hek-bin Thian-sin seperti yang telah ditunjukkan oleh nelayan tua tadi. Agar tidak disangka membayangi pemuda bekas lawannya, dia sengaja memperlambat langkahnya sampai pemuda di depan itu lenyap di sebuah tikungan.

Kun Liong hanya melihat-lihat dari luar. Rumah Hek-bin Thian-sin memang sangat besar dan megah. Agak aneh juga sebab di bagian atapnya terdapat ukiran seekor naga seperti yang biasanya terdapat pada bangunan kuil.

Agaknya datuk kaum sesat itu hendak menyesuaikan rumahnya dengan julukannya. Dia berjuluk Hek-bin Thian-sin (Malaikat Muka Hitam) maka sudah sepatutnya kalau rumah seorang ‘malaikat’ mempunyai penjaga seekor naga!

Setelah mempelajari keadaan rumah gedung itu dari luar, Kun Liong langsung kembali ke rumah penginapan. Hari telah mulai senja ketika dia tiba kembali di kamar penginapan di mana Keng Hong telah menantinya. Kun Liong segera menceritakan tentang rumah datuk kaum sesat itu dan sama sekali tidak mau menceritakan tentang peristiwa yang terjadi dengan pemuda asing, karena hal itu dianggapnya tidak ada sangkut-pautnya dengan supek-nya mau pun dengan maksud kedatangan mereka berdua di kota itu.

"Setelah kau pergi tadi, secara diam-diam aku pun pergi mengunjungi beberapa orang tokoh kang-ouw yang berada di sini. Mereka itu sama sekali tidak tahu dan tidak pernah mendengar di mana adanya orang tuamu. Jalan satu-satunya untuk mencari keterangan agaknya harus dari golongan hitam. Dan menurut cerita mereka, ada hal-hal aneh di kota ini. Sikap para orang asing itu mencurigakan sekali karena menurut keterangan yang aku peroleh, selain mereka itu berhubungan dengan para pembesar, juga kelihatan ada orang asing yang mengunjungi Hek-bin Thian-sin!"

"Hemmm, katanya mereka itu hanya pedagang biasa. Jangan-jangan mereka terlibat pula dalam urusan kejahatan,"

Kun Liong berkata dan teringatlah dia pada pemuda asing bernama Yuan de Gama tadi. Melihat sikap pemuda itu, agaknya sama sekali dia bukan dari golongan penjahat, namun ilmu kepandaiannya benar-benar tak boleh dipandang ringan!

Malam hari itu, Keng Hong dan Kun Liong keluar dari rumah penginapan. Hari telah jauh malam dan kota Ceng-to sudah mulai sepi, rumah-rumah sudah menutupkan daun pintu.

"Jangan sembarangan turun tangan. Kita menyelidiki saja dulu, dan andai kata di sana tidak ada apa-apa, biarkan aku yang langsung menjumpai Hek-bin Thian-sin dan secara berterang menanyakan kepadanya tentang ayah bundamu, juga tentang penyerbuan ke Siauw-lim-si. Mengingat akan kedudukan dirinya sebagai datuk dan aku sebagai Ketua Cin-ling-pai, kiranya dia akan suka bicara berterus terang."

Kun Liong mengangguk karena memang dia pun tidak ingin melakukan sesuatu, kecuali kalau terjadi apa-apa yang memaksanya melakukan sesuatu.

Dengan mudah saja dua orang ini meloncati pagar ruji besi yang melingkari rumah besar itu. Kemudian, dengan gerakan ringan tanpa menimbulkan suara, mereka menggunakan ginkang untuk menyelinap mendekati rumah, mengitari rumah itu kemudian menghampiri bagian belakang.

Atas isyarat Keng Hong, tanpa menimbulkan suara mereka melompat ke atas genteng di bagian belakang, kemudian merayap ke bagian di mana tampak penerangan dan di bawah itu terdengar suara orang bercakap-cakap. Dengan amat hati-hati Keng Hong menggeser genteng dan dari celah-celah atap mereka mengintai ke bawah.

Ruangan itu lebar dan perabot-perabotnya mewah. Di sepanjang dinding terdapat tempat lilin dari kayu berukir, sedangkan lilin yang menyala tertutup kaca bulat yang membuat cahaya lilin menjadi terang. Karena banyaknya lilin serta lampu minyak dari perak yang tergantung di ruangan itu, maka ruangan itu terang sekali seperti siang hari.

Banyak lukisan-lukisan indah tergantung pada dinding dan di sana-sini terhias tirai sutera berwarna-warni, membuat suasana kamar itu kelihatan indah dan menyenangkan. Ada dua jendela di kamar besar itu yang berada di kanan kiri, keduanya menembus ke udara terbuka sebuah taman sehingga hawa di kamar itu cukup sejuk. Meja kursi yang terdapat di ruangan itu semua mengkilap dan buatannya halus, sedangkan kedua jendela itu pun langkannya terhias kayu ukir-ukiran yang dicat indah sekali.

Ada tujuh orang yang berada di dalam ruangan itu, duduk seenaknya di atas kursi-kursi dan bangku-bangku yang letaknya agak berjauhan. Mereka duduk berhadapan sehingga merupakan setengah lingkaran, masing-masing menghadapi meja kecil di mana terdapat tempat bunga yang berisi bunga-bunga segar dan cawan-cawan terisi arak.

Pada saat Kun Liong memperhatikan orang-orang itu, dia terkejut melihat bahwa di antara mereka terdapat dua orang asing bermata biru berkulit putih. Yang seorang sudah tua, kepalanya bagian atas botak pelontos seperti kepalanya sendiri, bahkan lebih licin seperti kaca yang menutupi lilin-lilin itu, sangat mengkilap, rambutnya hanya tumbuh di sekeliling kepalanya saja, akan tetapi anehnya rambut yang tumbuh ini cukup lebat, demikian pula jenggotnya dan kumisnya.

Kun Liong bergidik membayangkan bagaimana jadinya bila kelak kepalanya yang gundul itu dapat tumbuh rambut, tetapi yang tumbuh hanya sekeliling kepala seperti kakek asing ini! Lebih baik gundul kalau begitu! Orang asing ke dua tadinya dia kira Yuan de Gama, akan tetapi setelah dipandang dengan teliti, ternyata bukan.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner