PETUALANG ASMARA : JILID-26


Ketika ada seorang anak buahnya yang disebar untuk mencari Hendrik datang kepadanya dan berbisik-bisik sambil tersenyum menyeringai, Yuan de Gama memukul telapak tangan kirinya sendiri dan memaki gemas,

"Terkutuk! Dia selalu merusak tugas dengan kesenangan pribadi yang kotor!"

Sesudah berkata demikian Yuan de Gama kemudian berjalan cepat, pergi menuju ujung perkampungan itu, bekas hutan yang sudah dibabat, akan tetapi masih menjadi tempat sunyi di mana terdapat sebuah pondok kecil yang di depannya terpasang sebuah lampu. Sunyi bukan main di situ.

Yuan de Gama menghampiri pondok dari belakang dan ketika dia menyelinap dari balik pohon dan memandang ke samping pondok, dia pun berusaha menahan makiannya. Dia melihat gadis cantik yang tadi dikenalnya sebagai pemimpin pasukan pemerintah sedang terbelenggu dengan rantai besi di tiang pondok, ada pun di dekat gadis itu bernyala api unggun yang makin lama makin mendekati sebungkus mesiu yang ditaruh di dekat kaki Si Gadis!

Gadis itu bukan lain adalah Souw Li Hwa! Bagaimana dia dapat terbelenggu di sana? Ketika dia meloncat ke dalam pondok mengejar Hendrik, pemuda asing yang cerdik itu telah meledakkan mesiu dengan pistolnya. Ledakan dahsyat itu secara aneh sekali tidak menewaskan Li Hwa, karena dia telah terlempar oleh hawa ledakan dan terbanting jatuh pingsan. Dalam keadaan pingsan ini, Hendrik yang kagum dan sudah tergila-gila melihat kecantikannya, lalu menyambarnya dan memondongnya pergi ke dalam pondok sunyi itu.

Ketika dia siuman, Li Hwa mendapatkan dirinya rebah di atas pembaringan dengan kaki tangan terbelenggu dan dia melihat bekas lawannya, pemuda asing tadi, duduk di pinggir pembaringan sambil tersenyum-senyum.

"He, kau sudah sadar, manis?"

Sejenak Li Hwa bingung, kemudian dia teringat akan semua pengalamannya dan segera membentak, "Anjing biadab! Hayo bunuh aku, atau segera lepaskan aku dan melanjutkan pertandingan kalau kau memang jantan!"

"Aihhh... mengapa begitu keras hati, manis? Aku cinta padamu, Nona. Kau begini cantik... rambutmu begini indah..." Hendrik membelai rambut yang halus dan panjang itu. Li Hwa mengggerakkan kepalanya merenggutkan rambut.

"Dan matamu bagai sepasang bintang... kau cantik jelita... dari pada bermusuh, bukankah lebih baik kalau kita bersahabat? Kau akan kubawa ke negeriku, sayang..."

"Phuhhh! Manusia biadab, lebih baik aku mati!" Li Hwa berteriak lagi.

"Wah, sayang kalau kau mati. Aku sungguh cinta kepadamu! Jangan kau berpura-pura, benarkah kau tidak suka kepadaku? Sudah banyak sekali wanita yang menyatakan cinta kepadaku, yang ingin menjadi kekasihku, akan tetapi engkaulah yang benar-benar sudah menjatuhkan hatiku... ehh, sayang, siapakah namamu?"

"Persetan dengan kamu!" Li Hwa memalingkan mukanya.

"Heran! Engkau bertambah manis kalau marah, tidak tahan aku untuk tidak menciummu!" Hendrik segera memeluk tubuh yang terbelenggu kaki tangannya itu dan bibirnya yang rakus itu mengecup bibir Li Hwa.

Li Hwa terbelalak, sejenak seperti akan pingsan mengalami hal yang sama sekali tidak diduganya dan yang belum pernah dialaminya biar pun dalam mimpi. Karena dia hendak memaki, mulutnya terbuka dan hal ini oleh Hendrik dianggap bahwa wanita itu membalas ciumannya, maka dia mencium makin ganas.

"Auuuughhh... aduuuhhh..."

Hendrik meloncat ke belakang dan mengaduh-aduh, bibir bawahnya pecah oleh gigitan Li Hwa tadi. Gadis yang saking ngeri dan muaknya namun tak dapat berbuat apa-apa untuk menyerang itu, telah menggigit bibir yang sedang mengecup-ngecup bibirnya secara amat mengerikan!

Hendrik mengangkat tinjunya hendak memukul muka yang menantangnya dengan penuh keberanian itu. Biar pun maklum bahwa dia akan dipukul, mungkin juga dibunuh, Li Hwa memandang dengan mata tak berkedip. Melihat sikap ini, memandang wajah yang cantik manis itu, Hendrik menjadi lemas dan menurunkan lagi kepalan tangannya.

"Bedebah! Setan betina! Hendak kulihat apakah engkau masih tetap berkeras tidak mau melayani cintaku!"

Hendrik sudah betul-betul tergila-gila kepada Li Hwa. Kalau menghadapi wanita lain yang menolak cintanya, seperti biasanya, tentu ia akan menggunakan kekerasan, memperkosa gadis yang sedang terbelenggu itu. Akan tetapi sungguh aneh, dia merasa berat untuk melakukan hal ini terhadap Li Hwa.

Dia tahu bahwa gadis perkasa ini merupakan seorang dara pilihan, dan alangkah akan senang hatinya kalau dia dapat memperolehnya dengan cara yang baik, dengan sukarela. Betapa akan bahagianya apa bila gadis ini membalas cintanya, bukan menyerahkan diri karena terpaksa dan karena diperkosa.

Dipondongnya tubuh gadis itu keluar pondok, diletakkan dan dirantai pada tiang sebelah rumah. Kemudian dia membuat api unggun dan meletakkan sebungkus mesiu di dekat kaki Li Hwa yang terbelenggu.

"Kau lihat ini? Mesiu yang akan meledak begitu api itu menjalar sampai ke dekatnya. Kau sudah lihat tadi. Rumah dan batu itu hancur oleh ledakan, dan kalau kau tidak menurut, bungkusan mesiu ini cukup untuk menghancurkan tubuhmu menjadi berkeping-keping. Kalau berubah pikiranmu, sebelum terlambat, kau terimalah pinanganku, Nona."

"Huh, biarkan aku mati!"

"Baik, aku akan menanti di dalam. Kau berteriak saja panggil aku bila pikiranmu berubah, jika kau memilih bersenang-senang denganku dan hidup bahagia dari pada mati dengan tubuh hancur oleh ledakan obat mesiu ini."

"Jahanam kotor! Seribu kali lebih baik mampus dari pada menyerah kepadamu!" Li Hwa membentak.

Hendrik tersenyum akan tetapi menyeringai karena bibirnya yang digerakkan terasa perih. Diusapnya bibir yang pecah oleh gigitan dara tawanannya itu, kemudian dia bangkit dan membalikkan tubuhnya, melangkah lebar menuju ke pondok, menaiki anak tangga depan pondok dan lenyap ke dalam pondok itu.

Li Hwa ditinggalkan seorang diri dalam keadaan tidak berdaya. Rantai besi yang sudah membelenggu kaki tangannya amat kuat, tidak mampu dipatahkannya dan dia pun tidak dapat mencegah api unggun yang bernyala makin besar, dan lidah api makin mendekati bungkusan mesiu di dekat kakinya.

Dalam keadaan seperti itulah gadis itu ketika Yuan de Gama menghampiri pondok dan melihatnya. Dengan hati-hati Yuan lalu menghampiri gadis itu.

Li Hwa yang berpendengaran tajam tahu bahwa ada orang mendekatinya dari belakang. Dia menoleh dan melihat Yuan, mengira bahwa pemuda asing itu adalah Hendrik yang menawannya. Di dalam pandangannya, orang-orang asing itu seperti sama semua! Maka dia lalu menghardik, "Jangan harap aku mau menyerah, manusia hina! Bunuhlah kalau kau mau membunuhku..."

"Sssttt...!"

Melihat pemuda itu menaruh telunjuk di depan bibir dan mengeluarkan seruan tanda agar dia tak mengeluarkan suara, Li Hwa terheran dan memandang lebih teliti kepada pemuda itu. Sekarang sesudah cahaya api unggun menerangi wajah itu, barulah dia sadar bahwa pemuda ini bukanlah pemuda asing yang tadi menawannya.

Tubuh pemuda itu lebih jangkung, perutnya tidak gendut dan pada wajah yang tampan ini tidak terdapat sinar mata yang penuh nafsu. Tidak, bahkan sinar mata yang berwarna biru itu amat lembutnya, kini memandangnya dengan penuh iba.

"Nona, aku datang untuk menolongmu..." Pemuda itu berbisik, kemudian berjongkok di belakangnya.

Namun, di dalam hati Li Hwa sudah terdapat bibit kebencian terhadap orang-orang asing. Pertama karena kenyataan bahwa orang-orang itu bersekutu dengan para pemberontak. Kedua kalinya, dia sudah mengalami penghinaan dari Hendrik yang menawannya. Maka terhadap pemuda yang hendak menolongnya ini pun dia lalu bersikap angkuh dan tidak bersahabat.

"Aku tidak minta pertolonganmu!"

Pemuda itu menghela napas panjang. "Aku tahu, dan engkau memang seorang wanita perkasa yang hebat, Nona. Seorang berjiwa panglima yang patut dihormati. Dan karena itulah maka aku harus menolongmu." Sambil berkata demikian, Yuan de Gama mulai berusaha membuka belenggu itu dari kedua tangan Li Hwa.

Oleh karena gembok yang dipakai mematikan mata rantai belenggu itu cukup kuat, maka tidaklah mudah bagi Yuan untuk membukanya sehingga dia harus mengerahkan seluruh tenaganya.

"Mengapa kau menolongku?" Melihat usaha pemuda itu, Li Hwa tak dapat menahan diri untuk tidak bertanya karena bukankah di antara mereka terdapat permusuhan?

"Aku kagum akan kegagahanmu, Nona. Dan aku muak melihat perbuatan Hendrik yang menyimpang dari tugasnya, hanya mementingkan kesenangan pribadi."

Akhirnya, sesudah terlebih dahulu menjauhkan bungkusan mesiu dari api, Yuan de Gama berhasil melepaskan belenggu pada kaki dan tangan Li Hwa. Gadis itu melompat berdiri, akan tetapi karena kepalanya masih nanar oleh hantaman ledakan tadi, dan kakinya juga kaku karena lama dibelenggu, dia terhuyung dan tentu terguling kalau tidak cepat-cepat dia dipeluk oleh Yuan de Gama.

"Lepaskan aku!" Li Hwa meronta. "Apa kau kira setelah menolongku, kau boleh memeluk aku sesuka hatimu?"

Yuan cepat-cepat melepaskan pelukannya dan melangkah mundur, alisnya berkerut dan pandang matanya tajam menusuk. "Nona, harap jangan menyama ratakan orang begitu saja. Kalau tidak melihat engkau hendak jatuh, tentu aku tidak berani menyentuhmu."

Sejenak mereka berpandangan dan Li Hwa menunduk, kedua pipinya menjadi merah. Dia tahu bahwa betapa sikapnya tadi memang sangat buruk. Akan tetapi, bukankah pemuda asing ini juga musuhnya? Musuh negaranya? Ingatan itu mengeraskan hatinya dan dia mendengus, melempar muka ke samping, membalikkan tubuh lantas melangkah hendak pergi.

"Tahan dulu, Nona...!" Yuan de Gama cepat mengejar. "Nona, kau masih amat lelah... dan pasukanmu telah melarikan diri keluar dari tempat ini. Apa bila kau pergi begitu saja, tentu kau akan tertangkap kembali. Di mana-mana terdapat penjaga..."

"Haii... Nona yang manis, apakah engkau belum merobah pikiranmu?" Tiba-tiba terdengar teriakan Hendrik dari dalam pondok.

Yuan de Gama terkejut, cepat dia menyambar tangan Li Hwa sambil berkata, "Mari ikut dengan aku. Cepat...!"

Sekarang mengertilah Li Hwa bahwa pemuda ini benar-benar hendak menolongnya dan agaknya tidak mempunyai niat buruk di balik itu, maka dia membiarkan dirinya ditarik dan dibawa pergi menyelinap di antara pohon-pohon serta kegelapan malam sampai mereka berada jauh dari pondok terpencil itu.

Namun kembali mereka terpaksa harus berhenti dan bersembunyi di balik pohon-pohon ketika mereka melihat belasan orang prajurit meronda tidak jauh dari situ. Sesudah para peronda itu lewat, Yuan berbisik,

"Nona, sangat berbahaya bagimu bila mencoba keluar dari perkampungan ini. Ketahuilah, setelah terjadi perang siang tadi, seluruh perkampungan diadakan perondaan dan sekitar perkampungan dijaga ketat. Tapi malam ini juga engkau harus dapat lolos dari sini, sebab kalau sampai besok engkau tak dapat keluar, tentu tidak mungkin lagi menyembunyikan diri."

"Aku tidak takut! Aku akan melawan sampai titik darah terakhir!"

Yuan memandang kagum sekali sungguh pun wajah dara itu tidak kelihatan jelas di dalam gelap, "Selama aku hidup, baru sekarang ini aku bertemu dengan seorang wanita gagah seperti engkau, Nona. Banyak sudah kubaca dalam kitab mengenai pendekar-pendekar wanita yang gagah perkasa di negerimu yang aneh ini, tetapi aku masih belum percaya. Sekarang baru aku percaya, dan aku kagum sekali kepadamu. Aku harus menolongmu keluar dari tempat ini, malam ini juga."

Kata-kata pemuda itu juga amat mengherankan hati Li Hwa. Betapa pun kagumnya, mana mungkin ada musuh menolong musuhnya? Apa lagi pemuda itu tahu bahwa dia adalah pemimpin pasukan pemerintah yang akan membasmi kaum pemberontak!

"Engkau siapakah?"

Yuan de Gama membungkuk dengan lengan kanan melintang di depan perutnya. "Aku bemama Yuan de Gama. Ayahku adalah Richardo de Gama, pemilik Kapal Kuda Terbang dan..."

"Dan kalian orang-orang asing membantu para pemberontak!"

Yuan de Gama menggeleng kepala dengan penuh penyesalan. "Aku tak berniat demikian, Nona. Juga kawan-kawanku tak berniat membantu pemberontak. Akan tetapi kami hanya ingin mengadakan kontak dagang dengan penduduk pribumi. Tapi karena pejabat-pejabat pemerintahmu melarang, dan karena para pembesar yang kami bantu ini menyanggupi untuk membolehkan kami berdagang..."

"Sudahlah, apa pun alasannya, yang jelas kalian adalah orang-orang asing yang sudah membantu pihak pemberontak!"

"Memang tak ada gunanya kita berdebat tentang hal itu, Nona. Kita hanyalah pelaksana-pelaksana belaka, yang mengatur semua itu adalah orang-orang atasan. Yang penting sekarang, aku harus menolongmu keluar dari sini dan pada saat seperti ini, kuharap kau tidak menganggapku sebagai musuh, Nona."

Li Hwa mengerutkan alisnya. Kalau keadaan tidak seperti itu, tentu sudah sejak tadi dia menyerang dan membunuh pemuda musuh negara ini!

"Kalau sampai kau ketahuan menolongku lolos?"

Yuan tersenyum sambil menggerakkan pundaknya yang bidang. "Yahhh, apa boleh buat! Sudah nasibku mati diberondong senapan oleh bekas anak-anak buahku sendiri sebagai seorang pengkhianat."

Li Hwa bergidik. Ia sudah pernah melihat seorang anak buahnya yang terluka oleh peluru senapan, senjata rahasia yang sangat mengerikan dari pihak orang-orang asing itu. Dan akibatnya benar-benar mengerikan. Anak buahnya itu meraung-raung karena nyeri dan lukanya itu seperti dibakar rasanya.

"Dan kau rela terancam bahaya untuk menolong aku, seorang musuh?"

"Hiishh, Nona. Sudah kukatakan, pada saat ini kau bukan musuhku, dan mudah-mudahan aku bukan musuhmu. Engkau bagiku adalah seorang pendekar wanita yang amat hebat dan amat kukagumi. Marilah..."

Kembali Yuan menggandeng tangan Li Hwa dan dara ini menurut saja ketika dia dibawa menyelinap ke sana sini, ada kalanya mendekam dibalik rumah-rumah atau pohon-pohon. Dan tak lama kemudian mereka sudah berada di sekitar pagar tembok yang mengelilingi pekarangan itu.

Tiba-tiba terdengar suara dalam bahasa asing. Mendengar ini, Yuan cepat menarik Li Hwa dan keduanya bertiarap, menelungkup di balik rumpun alang-alang. Suara itu adalah suara Hendrik yang berteriak-teriak kepada para penjaga,

"Jangan sampai dia lolos! Tawananku itu adalah pemimpin pasukan musuh yang siang tadi menyerbu. Awas, siapa yang bisa menangkapnya, hidup atau mati, tentu akan kuberi hadiah besar, akan tetapi yang membiarkannya lolos, akan kuhukum!"

Yuan dan Li Hwa bersembunyi sampai suara Hendrik itu lenyap dan orangnya pergi, lalu dengan lirih Yuan berbisik, "Tadi itu adalah Hendrik yang menawanmu. Sekarang semua penjaga di sekeliling perkampungan ini telah tahu bahwa engkau sudah lolos dari tahanan Hendrik dan mereka tentu mengerahkan seluruh perhatian untuk menemukanmu. Hal ini membuat usaha kita menjadi makin sulit. Akan tetapi sebelum aku melanjutkan usahaku meloloskanmu, aku ingin mengetahui apakah sekarang engkau betul-betul telah percaya kepadaku, Nona?"

"Hemmm... percaya dalam hal apa?"

"Bahwa aku hanya ingin menolongmu, karena kekagumanku terhadap dirimu, tidak ada lain hal yang tersembunyi di balik itu."

Sampai lama mereka berpandangan di dalam gelap, jarak muka mereka tidak begitu jauh karena mereka berdua bertiarap di dalam semak-semak. Akhirnya Li Hwa mengangguk.

"Aku percaya kepadamu, sungguh pun aku sendiri heran mengapa aku harus percaya kepada seorang asing, seorang musuh pula."

Yuan tersenyum. "Bagus, Nona. Bolehkah aku mengetahui namamu?"

Kembali Li Hwa meragu. Sampai lama, dan setelah dia menimbang-nimbang, barulah dia menjawab, "Namaku Souw Li Hwa, dan guruku adalah Panglima Besar The Hoo."

"Ya Tuhan...!" Yuan de Gama berseru lirih dan pandang matanya semakin kagum lagi. "Nama besar gurumu itu siapa yang tidak tahu? Pantas saja kalau begitu! Kiranya Nona adalah murid orang luar biasa itu!"

"Sekarang bagaimana engkau akan meloloskan aku dari sini? Kurasa jalan satu-satunya hanya menerjang ke luar. Aku tidak takut, biar aku menerjang ke luar dan tidak perlu kau mengkhianati teman-temanmu sendiri."

"Tidak...! Jangan lakukan itu, Nona...! Sekarang penjagaan amat ketat dan mereka sudah mempersiapkan senjata api, kau tentu akan tertawan kembali atau tertembak mati. Kalau hal itu terjadi, aku akan menyesal dan hidup menderita selamanya! Marilah, aku memiliki akal asal engkau benar-benar percaya kepadaku. Mari!"

Yuan kemudian menggandeng tangan dara itu menyelinap melalui tempat gelap menuju ke sebuah pintu gerbang yang dijaga belasan orang penjaga terdiri dari prajurit-prajurit pemberontak dan beberapa orang asing. Li Hwa dapat melihat betapa orang-orang asing itu memegang senjata api mereka dalam keadaan siap.

Andai kata dia tidak gentar menghadapi senjata rahasia itu, karena kalau hanya belasan orang yang menjaga di situ, tentu dia akan sanggup merobohkan mereka, atau setidaknya meloloskan diri dari pintu gerbang itu. Akan tetapi kini dia bersama Yuan. Apa bila sampai mereka mengenalnya bersama-sama pemuda asing yang menolongnya ini, tentulah Yuan akan dianggap pengkhianat dan pemuda itu akan celaka. Sebab itu dia diam dan menurut saja ketika Yuan menggandengnya mendekati pintu gerbang, masih tidak tahu bagaimana pemuda itu akan menyelamatkannya.

Ketika Yuan dan Li Hwa sudah sampai dekat sekali dengan pintu gerbang, di bagian yang agak gelap, karena tidak tertimpa langsung oleh lampu yang tergantung di pintu gerbang, terdengar seorang di antara para penjaga menghardik, "Heiii! Berhenti! Siapa di situ?"

Semua urat syaraf di tubuh Li Hwa sudah menegang dan dara ini juga sudah siap untuk menerjang maju. Akan tetapi Yuan merangkulnya lantas berbisik, "Nona, jangan bergerak. Ingat, kau sudah percaya kepadaku, kau menurut saja..."

Empat orang penjaga berlari mendekati dan pada saat itu, Yuan merangkul leher Li Hwa dan mencium bibir dara ini, mendekap muka itu dengan ketat sehingga muka Li Hwa tidak tampak, tertutup oleh mukanya sendiri. Kemudian dia mendekap kepala Li Hwa lalu wajah dara itu disembunyikan di dadanya, dan dia pun membentak, "Kurang ajar! Berani kalian mengganggu kesenanganku?"

"Ohh... ahhh... Tuan Yuan de Gama... maafkan kami! Kami telah menerima perintah agar melakukan penjagaan keras...!"

"Aku tahu!" Yuan membentak. "Dan kalian harus menjaga baik-baik agar panglima wanita musuh itu jangan sampai lolos. Dia pandai sekali, mungkin akan melompati pagar tembok. Tidak mungkin dia melalui pintu gerbang. Hemm, sungguh menjemukan, tidak ada tempat yang aman untuk bermain cinta. Aku mau keluar saja, mencari tempat yang sunyi. Hayo, manis..."

Yuan de Gama menggunakan mantelnya untuk menyelimuti Li Hwa dan dia membawa Li Hwa yang masih terus dirangkulnya itu keluar melalui pintu gerbang, ditonton oleh belasan orang itu yang saling lirik dan menyeringai.

Li Hwa sendiri sudah hampir pingsan sejak dia diciumi oleh Yuan de Gama tadi. Tubuh dara ini menggigil, kaki tangannya menjadi dingin dan jantungnya berdebar tidak karuan. Dalam waktu satu malam, dia telah diciumi oleh dua orang laki-laki, dua orang asing dan dicium dengan cara yang sama sekali belum pernah didengarnya, apa lagi dialaminya!

Ketika Hendrik mencium dan mengecup bibirnya, dia merasa sangat marah, benci, dan muak sehingga dia menggigit bibir pemuda asing itu untuk menyerangnya, membuat bibir Hendrik terluka berdarah dan hampir terobek putus! Akan tetapi, ketika Yuan de Gama menciumnya, meski pun dia merasa terkejut sekali namun dia maklum bahwa pemuda ini menciumnya bukan karena dorongan nafsu dan bukan untuk berkurang ajar, melainkan untuk menyelamatkannya. Pula, dia merasa bedanya ciuman antara kedua orang pria itu. Ketika Yuan menciumnya, dia merasa seolah-olah tubuhnya melayang naik ke angkasa, tubuhnya lemas dan dia seperti di alam mimpi!

"Ha-ha-ha...!" Terdengar empat orang asing yang berjaga di situ tertawa-tawa dan bicara dalam bahasa asing yang tidak dimengerti oleh Li Hwa.

"Heran sekali," kata seorang di antara para penjaga bersenjata tombak, "Tuan Yuan de Gama lebih senang bercinta di tempat terbuka, padahal sudah disediakan kamar-kamar dan tempat tidur yang lunak. Aneh...!"

"Kenapa aneh?" yang lain membantah. "Mereka itu memang mempunyai kebiasaan dan kesukaan yang berbeda dengan kita. Yang untung adalah wanita itu. Hemm... Tuan Yuan de Gama adalah seorang pemuda yang biasanya pantang bercinta dengan wanita-wanita yang disediakan untuk mereka, dan selain paling tampan, juga paling baik budi dan paling kaya!"

Mendengar ucapan antara kedua orang penjaga itu, bermacam perasaan mengaduk hati Li Hwa. Akan tetapi semua perasaan ini ditahannya sampai mereka tiba jauh dari pintu gerbang dan tiba-tiba Yuan melepaskan rangkulannya.

"Nah, sekarang sudah aman, Nona Li Hwa."

Keduanya berdiri berhadapan. Bintang-bintang memenuhi angkasa, mencurahkan cahaya redup dingin sehingga mereka dapat saling memandang dalam keadaan remang-remang.

"Yuan de Gama...," akhirnya Li Hwa mampu mengeluarkan suaranya. Lirih namun penuh perasaan. "Aku akan menganggapmu sebagai..."

"Yaaa...?"

"Seorang yang baik hati dan..."

"Hemmm...?"

"...sebagai seorang yang kurang ajar!"

"Begitukah, Nona Li Hwa?"

"Untuk kebaikan hatimu, aku berterima kasih kepadamu."

"Tidak usah berterima kasih!"

"Dan untuk kekurang ajaranmu..."

"Kekurang ajaran yang mana?"

"...ketika kau... kau menciumku tadi..."

"Aahhh, aku tidak berniat kurang ajar..."

"Betapa pun juga, Yuan de Gama, kau sudah berlaku sangat tidak sopan, dan untuk itu... aku akan..."

"Yaaa...?"

"Plakkkk!"

Pipi kiri Yuan de Gama ditampar oleh telapak tangan Li Hwa. Dara itu tidak mengerahkan sinkang-nya, akan tetapi tetap saja tamparan itu membuat pipi Yuan menjadi kemerahan dan tampak bekas jari-jari tangan kecil di atas kulit pipi itu.

"Nona, terima kasih atas kebaikanmu..."

"Jangan kau mengejek. Aku menamparmu karena mengingat akan kekurang ajaranmu tadi."

"Untuk ciuman-ciuman itu Nona, walau pun kulakukan bukan karena hendak kurang ajar kepadamu atau hendak menghinamu, aku rela menerima tamparanmu, bahkan kalau kau masih penasaran, boleh kau tampar lagi sesukamu..."

"Ehhh...," Li Hwa berseru heran, tidak menyangka pemuda itu akan berkata demikian.

"Benar Nona. Karena... semenjak pertama aku melihatmu, apa lagi setelah menyaksikan kegagahanmu, tahulah aku bahwa aku jatuh cinta kepadamu, Nona."

"Ihhh...!"

"Terserah kepadamu kalau kau anggap aku kurang ajar. Meski kau hendak membunuhku sekali pun, tak akan dapat kau memaksaku untuk menarik kembali kata-kataku. Aku cinta kepadamu, Souw Li Hwa…”

“Aihhh…!" Li Hwa mundur-mundur dengan muka pucat, jantungnya berdebar tak karuan, kemudian terdengar isak naik dari dadanya, tubuhnya berkelebat dan dia sudah meloncat pergi dari tempat itu.

"Souw Li Hwa, aku cinta kepadamu...!" Yuan de Gama berteriak

Naik sedu-sedan di tenggorokan dara itu, akan tetapi dia terus melarikan diri secepatnya, tidak mempedulikan beberapa butir air mata yang turun di atas kedua pipinya. Dia merasa takut. Takut kepada dirinya sendiri.

Kenapa dia tidak membenci Yuan seperti dia membenci Hendrik sesudah Yuan mencium bibirnya? Bahkan ada rasa senang dicium oleh pemuda itu? Mengapa hatinya berdebar dengan perasaan nyaman akan tetapi tegang ketika Yuan menyatakan cinta kepadanya? Padahal ketika Hendrik menyatakan cintanya, dia merasa muak dan terhina?

Li Hwa berlari cepat dan pada keesokan harinya barulah dia dapat bertemu dengan sisa pasukannya. Para perwira menjadi girang sekali ketika melihat munculnya dara itu, dan Li Hwa mendengar dengan hati penuh penasaran betapa pasukannya terpaksa melarikan diri karena kalah banyak dan kalah kuat, apa lagi setelah pemimpin mereka, dara perkasa itu lenyap.

"Pasukan mereka jauh lebih besar. Kita harus mencari bantuan. Dan bagaimana dengan tawanan kita, Yap Kun Liong si gundul itu?"

"Kami tidak melihatnya lagi dalam keributan itu, Nona," jawab seorang perwira tua.

"Hemm, apa yang terjadi setelah terjadi ledakan yang membuat aku pingsan dan tertawan musuh?"

Para perwira lalu menceritakan betapa ledakan itu telah membuat tempat bekas rumah itu berlubang sehingga sekilas tampak sebuah bokor emas. Karena ada yang berteriak ketika melihat benda itu sebelum air sungai membanjir masuk menutupi lubang, maka terjadilah perebutan dan pertempuran di air yang menutupi tempat itu.

"Lalu, bagaimana? Di mana bokor itu sekarang?" Li Hwa bertanya penuh ketegangan dan tahu bahwa Kun Liong tidak berbohong dan benar-benar bokor emas berada di tempat itu.

"Itulah anehnya, Nona. Tidak ada yang melihat siapa yang sudah berhasil mendapatkan bokor itu. Mungkin juga sudah terjatuh ke dalam tangan seseorang. Kami terpaksa harus mengundurkan diri keluar dari tempat itu karena apa bila dilanjutkan, tanpa adanya Nona yang memimpin kami, tentu kami semua akan binasa. Andai kata ada Nona di sana, biar pun diharuskan bertempur sampai hancur semua, tentu saja kami bersiap sedia."

Li Hwa mengerutkan alisnya. Celaka sekali kalau bokor yang sudah hampir ditemukannya itu terjatuh ke tangan orang lain. Sementara itu pasukannya sudah lelah, juga berkurang kekuatannya untuk menyerang sarang pemberontak kurang kuat.

"Kalian tunggu saja di sini, awasi gerak-gerik musuh. Aku sendiri akan melapor kepada Suhu dan mendatangkan bala bantuan." Akhirnya dia mengambil keputusan.

Pada pagi hari itu juga Li Hwa berangkat menunggang kuda ke kota raja untuk melapor kepada suhu-nya, Panglima Besar The Hoo…..

********************

Ke mana perginya Yap Kun Liong? Pada saat terjadi ledakan, dia dapat menyelamatkan diri dengan bertiarap. Dari tempat dia bertiarap itu, tampak jelas bahwa bekas rumah itu berubah menjadi sebuah kubangan yang dalam dan ketika ada orang berteriak tentang bokor, dia cepat melihat dan dia pun menyaksikan bokor itu sebelum air sungai datang menerjang!

Kun Liong membiarkan dirinya ditelan air sungai dan terus merangkak sambil menyelam ke arah tempat disimpannya bokor emas itu. Sebelum orang lain sempat mencari bokor akibat mereka itu sudah sibuk saling serang di air sedalam pinggang itu, Kun Liong telah berhasil mengambil bokor emas itu, dimasukkannya di dalam bajunya yang basah kuyup dan dia menggunakan keadaan kacau-balau itu untuk melarikan diri keluar dari kubangan.

Apa bila tidak teringat kepada Li Hwa, tentu dia sudah langsung melarikan diri keluar dari perkampungan itu. Tetapi dia mengkhawatirkan keadaan Li Hwa, maka dia mulai mencari gadis itu sesudah pertempuran selesai karena pihak pasukan pemerintah mengundurkan diri ke luar tempat itu.

Dari tempat persembunyiannya, dia melihat Li Hwa yang sudah dibelenggu di luar rumah terpencil oleh Hendrik. Akan tetapi sebelum dia sempat turun tangan menolong. tiba-tiba muncul Yuan de Gama. Dengan hati penuh rasa suka dan kagum kepada pemuda asing ini, Kun Liong melihat betapa Yuan menyelamatkan Li Hwa. Bahkan ia terus membayangi mereka ketika mereka berusaha keluar dari tempat itu melalui pintu gerbang.

Jantungnya berdebar tegang pada waktu dia menyaksikan dari tempat gelap betapa Yuan dalam usahanya menyelamatkan Li Hwa, telah mendekap dan mencium gadis cantik itu dengan amat mesranya. Ciuman bibir! Hatinya semakin tertarik untuk melihat bagaimana nanti sikap Li Hwa. Dia menggunakan kegesitannya untuk melompati pagar tembok selagi para penjaga tertarik perhatian mereka kepada Yuan de Gama.

Ketika dia melihat Li Hwa menampar Yuan sambil mendengarkan pembicaraan mereka, diam-diam Kun Liong merasa geli dan dia tertawa sendiri. Akan tetapi hatinya menjadi terharu ketika mendengar pengakuan Yuan de Gama tentang cintanya kepada dara itu!

"Hemmm, Yuan, kau seorang laki-laki tolol!" Kun Liong berbisik sendiri. "Begitu mudah jatuh cinta! Cinta seperti itu hanya mendatangkan siksaan di hati sendiri..."

Dia kemudian meninggalkan tempat itu, di sepanjang jalan termenung. Jika dia bersikap seperti Yuan, mudah saja menjatuhkan hatinya ke dalam jurang asmara, agaknya sudah beberapa kali dia jatuh cinta. Kepada Hwi Sian, kepada Bi Kiok, kepada Giok Keng dan mungkin kepada Li Hwa sendiri.

Tidak, dia tidak akan mudah saja jatuh cinta, biar pun harus dia akui bahwa dia amat suka kepada gadis-gadis jelita itu! Mata keranjang? Entahlah, akan tetapi betapa mata tidak akan merasa nyaman dan sedap memandang, betapa hati tidak akan merasa suka, kalau melihat bunga-bunga indah dan harum?

Bunga seruni, bunga mawar, bunga bwee, semua bunga tentu akan mendatangkan rasa suka. Demikian pula, semua dara yang manis akan menimbulkan rasa suka di dalam hatinya. Akan tetapi cinta asmara? Nanti dulu! Cinta macam itu berarti melekatkan diri kepada seseorang, dan sekali melekat berarti menimbulkan kemungkinan terluka kalau lekatan itu dipaksa terlepas dan putus!

Bokor yang telah kembali kepadanya itu memberatkan hatinya. Dia harus menyerahkan bokor itu kepada yang berhak, yaitu kepada Panglima Besar The Hoo. Sungguh sangat berbahaya kalau terlalu lama berada di tangannya, karena dia tahu betapa semua orang gagah di dunia kang-ouw dan tokoh kaum sesat saling memperebutkan bokor emas ini. Dia sendiri sama sekali tidak ingin memilikinya, juga setelah tahu bahwa benda ini adalah barang curian, dia sama sekali tidak ingin tahu rahasia apa gerangan yang dikandung benda pusaka yang diperebutkan ini. Makin cepat dia terlepas dari benda ini makin baik!

Selagi dia berjalan seorang diri melalui hutan yang lebat, tiba-tiba saja tampak olehnya bayangan-bayangan orang berkelebatan dan dia memandang terbelalak pada saat dirinya telah terkurung oleh beberapa orang. Betapa kagetnya ketika dia melihat bahwa di antara sembilan orang itu terdapat para datuk kaum sesat yang telah dikenalnya, yaitu empat orang di antara mereka.

Si Kakek Gila Toat-beng Hoatsu, kakek muka hitam Hek-bin Thian-sin yang bersekutu dengan pemberontak, kakek gila raja ular Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok, dan Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci! Lima orang lainnya tidak dikenalnya, akan tetapi dapat diduga bahwa mereka tentulah orang-orang yang berilmu tinggi!

Ketika melihat bahwa di antara lima orang ini terdapat seorang wanita setengah tua yang cantik, dengan kuku-kuku tangan yang panjang meruncing, dia cepat bertanya, "Apakah Lo-cianpwe yang bernama Kwi-eng Niocu Ang Hwi Nio?"

Para datuk kaum sesat itu, terutama sekali Kwi-eng Niocu, merasa heran sekali melihat sikap pemuda gundul yang amat berani itu. Sudah jelas dia dikepung oleh sembilan orang termasuk lima orang datuk kaum sesat sehingga boleh dikatakan bahwa jiwanya berada di ambang pintu maut, tapi masih bersikap enak-enak bahkan bertanya kepada Kwi-eng Niocu, seperti orang hendak berkenalan saja!

"Sudah tahu namaku, lekas berlutut dan serahkan bokor kepadaku!" kata Kwi-eng Niocu dengan suara halus, akan tetapi suara halus dan senyum manis wanita ini membuat Kun Liong merasa ngeri karena dia dapat menangkap kekejaman hebat yang bersembunyi di balik sikap manis itu.

Akan tetapi dia tidak peduli, lalu menoleh kepada Bu Leng Ci, bertanya, "Aihh, Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci juga hadir! Bagaimana, Locianpwe, apakah baik-baik saja? Dan kenapa Adik Bi Kiok tidak ikut serta?"

Bu Leng Ci hanya mendelik dengan pandang mata marah, lantas membentak, "Berikan bokor kepadaku kalau kau ingin hidup!"

Kun Liong memandang kepada para datuk itu bergantian sambil berkata, "Hemmm, para Locianpwe hadir semuanya, Toat-beng Hoatsu, Ban-tok Coa-ong, juga Hek-bin Thian-sin! Lengkap! Kehormatan apakah yang akan diberikan kepada seorang muda bodoh seperti aku?"

Ketiga orang kakek itu saling pandang dan diam-diam mereka ini merasa kagum juga. Bocah gundul itu benar-benar seorang yang memiliki keberanian luar biasa!

"Serahkan bokor!" Serentak mereka berseru.

Kun Liong mengerti bahwa menghadapi lima orang datuk kaum sesat itu, apa lagi masih ada empat orang kakek lain yang tak dikenalnya, dia takkan dapat menyelamatkan bokor itu, bahkan dirinya sendiri terancam bahaya maut. Akan tetapi dia tidak memikirkan hal itu semua karena dia sudah menjadi marah mempertahankan kebenaran mengenai bokor itu dan berkata nyaring,

"Cuwi adalah orang-orang pandai yang telah terkenal di dunia, mengapa berpandangan begitu dangkal?" Dia mengeluarkan bokor dari balik bajunya kerena dia dapat menduga bahwa mereka itu yang amat lihai tentu sudah tahu bahwa bokor berada di tangannya, apa lagi kelihatan menjendol di balik bajunya. Dia mengangkat bokor tinggi-tinggi sambil melanjutkan kata-katanya, "Cuwi (Anda Sekalian) mengerti semua bahwa bokor emas ini adalah pusaka milik Panglima Besar The Hoo yang lenyap dicuri orang. Secara kebetulan saja aku menemukan bokor ini, maka sepatutnya kukembalikan kepada yang berhak."

Melihat bokor emas itu, mata sembilan orang itu melotot dan tangan mereka langsung bergerak hendak merampas. Melihat ini, Kun Liong segera maklum bahwa agaknya tidak terdapat kerja sama di antara mereka! Agaknya mereka itu akan memperebutkan bokor! Maka dia cepat menpangkat tangan kirinya ke atas dan berseru, "Tahan! Kwi-eng Niocu, engkau telah menyuruh orang-orangmu mencuri dua buah pusaka Siauw-lim-pai, kenapa masih menghendaki bokor? Maukah kau menukar dua pusaka itu dengan ini?"

"Berikan bokor dan akan kukembalikan pusaka Slauw-lim-pai!" jawab wanita itu.

"Dan bagaimana engkau akan mengembalikan nyawa Thian Lee Hwesio?"

"Bukan kami yang membunuhnya!"

"Niocu, kenapa melayani dia mengobrol? Bocah gundul, lekas berikan bokor itu!" Hek-bin Thian-sin sudah menyambar ke depan untuk merampas bokor itu dari tangan Kun Liong. Akan tetapi pemuda ini cepat mengelak dengan loncatan ke kiri. Serbuan Si Muka Hitam itu agaknya merupakan komando karena serentak mereka semua bergerak menubruk!

"Kwi-eng Niocu, terimalah...!" Kun Liong berseru, lalu dia melemparkan bokor itu kepada Ketua Kwi-eng-pang. Tentu saja Kwi-eng Niocu menjadi amat girang dan cepat menerima bokor itu dan melesat dengan gerakan cepat pergi dari situ.

"Ehh-ehh, perlahan dulu, Kwi-eng Niocu!" empat orang datuk lainnya juga meloncat dan mengejar!

Empat orang kakek lainnya agaknya merasa ragu-ragu untuk ikut mengejar, maka mereka lalu menubruk Kun Liong sambil berkata, "Engkau ikut dengan kami!"

Kun Liong tadi sengaja melemparkan bokor emas kepada Kwi-eng Niocu bukan tanpa perhitungan yang matang. Dia tahu bahwa andai kata dia mempertahankan bokor itu pun akan percuma saja dan akhirnya bokornya pun tentu akan terampas dari tangannya. Dia tidak tahu di mana tempat tinggal Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong, sedangkan Hek-bin Thian-sin telah bersekutu dengan pemberontak dan orang asing.

Kalau bokor terjatuh ke tangan seorang di antara tiga orang kakek ini, akan sukar baginya untuk kelak mendapatkan kembali. Akan tetapi satu-satunya orang di antara mereka yang dia ketahui alamatnya, adalah Kwi-eng Niocu, dan juga Siang-tok Mo-li, akan tetapi dia lebih condong untuk menyerahkan bokor kepada Ketua Kwi-eng-pang, karena dia masih mempunyai urusan dengan wanita itu mengenai dua buah pusaka Siauw-lim-pai dan juga kematian Thian Lee Hwesio.

Ketika empat orang kakek yang tak dikenalnya menubruknya, Kun Liong tidak mengelak, akan tetapi diam-diam dia segera mengerahkan Thi-khi I-beng yang belum lama ini dia pelajari dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong.

"Plak-plak-plak-plak!!" Empat buah tangan mencengkeram pundak dan tangan Kun Liong.

"Auuuuhhh...!"

"Heeiiii...!"

"Aduhhh...!"

"Lepaskan...!"

Empat orang kakek itu kaget setengah mati ketika mereka merasa betapa telapak tangan mereka menempel dan melekat di tubuh pemuda gundul itu, dan yang membuat mereka terbelalak meronta-ronta dengan kaget adalah betapa hawa sinkang mereka yang tersalur melalui tangan yang mencengkeram itu kini membanjir ke luar memasuki tubuh pemuda gundul itu.

"Ihhhh... lepaskan... apa yang kalian lakukan? Panaaasss... ihhh, panasss...!" Kun Liong meronta-ronta.

Dia sudah mempelajari Thi-khi I-beng, juga telah menguasai ilmu mukjijat ini, akan tetapi belum pernah dia mempergunakannya. Walau pun dia sudah mendengar penjelasan dan keterangan Cia Keng Hong, akan tetapi begitu sekarang mengalami sendiri betapa hawa sinkang empat orang itu menerobos memasuki tubuhnya, dia merasa terkejut, ngeri, dan juga geli sehingga dia malah berteriak-teriak dan sejenak lupa bagaimana harus berbuat.

Melihat keadaan Kun Liong, empat orang itu bahkan semakin mengerahkan tenaga untuk melepaskan tangan mereka. Celaka bagi mereka, justru makin kuat mereka mengerahkan tenaga, makin hebat pula hawa sinkang mereka mengalir keluar memasuki tubuh pemuda itu.

Kun Liong gelagapan. Terasa benar betapa tenaga sinkang lawan membanjiri tubuhnya, membuat napasnya sesak dan kepalanya pening. Dengan ubun-ubun terasa berdenyutan keras, dia mengerahkan ingatan akan pelajaran Thi-khi I-beng dan terdengarlah kembali olehnya penjelasan Cia Keng Hong.

"Thi-khi I-beng menciptakan daya sedot yang luar biasa dan amat berbahaya kalau hawa sinkang lawan tersedot olehmu. Banjir hawa sinkang itu bisa membuat kau menjadi panik. Kalau kau tidak dapat menguasainya, kelebihan hawa sinkang yang tiba-tiba memenuhi tubuh itu, kalau menyerang kepala dapat membuat engkau menjadi gila, kalau menerjang jantung dapat membuat jantung pecah. Selain itu, yang tersedot sinkang-nya dapat tewas pula. Maka, yang penting sekali, bersikaplah tenang, gerakkan sinkang yang membanjir itu ke dalam pusar, lalu kumpulkan di situ dan biarkan berputar-putar di pusar. Akan tetapi jangan lupa untuk terlebih dahulu membebaskan lawan yang bagian tubuhnya melekat padamu."

Celaka, pikir Kun Liong! Dia telah lupa akan hal yang terpenting, yaitu cara melepaskan mereka. Cepat dia lalu menggoyang tubuhnya, seperti seekor anjing menggoyang tubuh untuk mengeringkan bulu-bulunya dan... tubuh keempat orang itu terlempar ke kanan kiri lantas terbanting ke atas tanah dalam keadaan pingsan, wajah pucat sekali dan napas empas-empis!

Kun Liong terhuyung-huyung ke depan, menghampiri empat orang kakek itu dan matanya terbelalak ngeri. Celaka, jangan-jangan mereka itu mati! Akan tetapi tidak, mereka masih bernapas dan dengan hati penuh penyesalan dan ngeri Kun Liong segera meninggalkan tempat itu.

Ngeri dia apa bila orang-orang itu sampai mati, mati di tangannya, mati kehabisan hawa sinkang. Dia merasa seolah-olah menjadi seekor laba-laba yang telah menyedot kering empat ekor lalat, dihisap semua air dan darahnya!

Dia bergidik dan terus berlari terhuyung-huyung. Mukanya sampai ke seluruh kepalanya merah sekali, matanya juga merah, napasnya mendengus-dengus seperti seekor kerbau marah. Dia merasa seolah-olah dada dan pusarnya akan meledak karena penuh dengan hawa sinkang yang berputar-putar. Dia merasa seolah-olah menjadi sebuah balon karet kepenuhan hawa.

Dengan pandang mata berkunang dan kepala pening Kun Liong berlari terus, menuju ke tempat dari mana dia mendengar suara hiruk-pikuk. Dia tidak sadar bahwa dia telah lari kembali ke arah perkampungan yang dijadikan sarang para pemberontak di tepi Sungai Huang-ho.

Ketika dia tiba di tepi sungai di luar perkampungan itu, dia melihat banyak sekali tentara berperang dengan ramainya. Dia menjadi amat heran karena agaknya kedua pihak yang berperang itu adalah tentara pemerintah. Dalam kepeningannya dia sampai lupa bahwa yang memberontak juga tentara pemerintah. Dasar kepalanya lagi pening dan bingung, melihat perang dia malah mendekati untuk menonton!

Delapan orang tentara pemerintah segera mengenal Kun Liong sebagai bekas tawanan pemimpin mereka, maka serentak mereka menyerbu dengan tombak dan golok di tangan kanan, perisai di tangan kiri.

Kun Liong berdiri dengan tubuh bergoyang-goyang seperti orang mabok ketika delapan orang prajurit itu menyerbunya. Melihat banyak senjata ditujukan pada dirinya, Kun Liong menggerakkan kedua tangannya, menyampok dan menangkis.

Terdengar suara nyaring berkerontangan. Tombak, golok dan perisai beterbangan disusul tubuh delapan orang itu terlempar ke sana-sini. Ternyata bahwa dalam keadaan penuh dengan hawa sinkang itu, gerakan kedua lengan Kun Liong mendatangkan hawa sinkang yang amat kuat sehingga tanpa disadarinya sendiri, tangkisan itu selain membuat semua senjata terlempar dan patah-patah juga delapan orang itu kena dihantam hawa sinkang, terlempar dan roboh pingsan!

Kun Liong terbelalak, makin panik dia melihat hasil kedua tangannya. Dengan hati penuh penyesalan dia lalu menghantam sebatang pohon di kirinya.

"Desss...! Braaakkk...!" Pohon yang besarnya tiga kali tubuh orang itu roboh!

Kun Liong melanjutkan gerakannya, menghantam sebuah batu besar di sebelah kirinya.

"Desss... krekk!"

Batu itu pecah dan dalam kemarahannya terhadap diri sendiri terdorong oleh penyesalan bahwa kembali dia mencelakai orang dengan pukulannya, pemuda ini terus menghantami pecahan batu sehingga batu-batu itu menjadi hancur berkeping-keping.

Anehnya, kini kepeningannya berkurang dan napasnya menjadi enak kembali. Tahulah dia, bahwa itu adalah karena kelebihan sinkang liar yang memutari sebelah dalam dada dan pusarnya telah tersalurkan keluar. Akan tetapi masih ada sinkang yang ‘kelebihan’, sinkang liar yang ditampungnya dari empat orang kakek tadi, yang masih berputar-putar di dalam perutnya, mengamuk seperti segerombolan setan mencari tempat tinggal.

"Ihhh, bocah setan...!" Terdengar seruan perlahan dari belakangnya.

Kun Liong membalikkan tubuhnya dan melihat ada seorang kakek tinggi kurus menyerang dirinya dengan tamparan hebat yang ditujukan kepada pundaknya. Maka secara otomatis dia menggerakkan kedua lengan menangkis.

"Bressss...! Hayaaaa...!"

Kakek itu terlempar sampai empat meter dan terbanting, lalu bergulingan dan meloncat bangun dengan mulut terbuka lebar dan mata terheran-heran. Ada pun Kun Liong sendiri terpelanting.

"Kun Liong, pengkhianat engkau!"

Bentakan halus ini membuat Kun Liong amat terkejut dan dia tidak melawan ketika Li Hwa memasangkan belenggu di kedua tangannya. Kakek tinggi kurus tadi menghampiri sambil menggelengkan kepala.

"Hebat sekali engkau, orang muda... eihhh, bukankah engkau Yap-sicu yang kujumpai di Siauw-lim-si?"

Dengan kedua pergelangan tangan dibelenggu rantai baja kuat, Kun Liong cepat menjura kepada kakek itu. "Harap Tio-taihiap suka memaafkan saya..."

"Aihhh, justru aku yang sudah menyerangmu, melihat engkau merobohkan delapan orang prajurit kemudian mengamuk, menghantam pohon dan batu. Engkau hebat bukan main, Yap-sicu... akan tetapi, ehh, Nona Souw, mengapa dia dibelenggu?"

"Tio-lopek harap jangan mudah dikelabui bocah ini! Dialah yang telah mendapatkan bokor emas dan dia pula yang menyembunyikannya."

"Ahhh...!" Tio Hok Gwan yang berjuluk Ban-kin-kwi, pengawal kepercayaan The Hoo yang mengantuk itu, kini berdiri dengan penuh keheranan, bersedakap sambil memandang Kun Liong dengan matanya yang sipit hampir terpejam.

"Hayo katakan di mana kau sembunyikan bokor itu!" Li Hwa kini membentak dan pedang yang telah dicabutnya menodong ulu hati Kun Liong.

Benturan tenaga sakti melawan pengawal she Tio tadi sudah membikin normal kembali keadaan Kun Liong. Sekarang dia berdiri dan memandang dara jelita yang menodongnya dengan sinar mata tajam, alis berkerut dan bibir tersenyum mengejek.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner