PETUALANG ASMARA : JILID-30


Enam orang Nepal itu segera memasang layar, memberangkatkan perahu Angin Barat yang meluncur seenaknya di atas air laut meninggalkan pantai. Akan tetapi, sebelum jauh dari pantai, orang-orang Nepal yang rambutnya riap-riapan tertiup angin laut itu melihat perahu kecil dengan penumpang tiga orang. Orang yang tadinya duduk di tengah, yaitu seorang kakek kurus, tiba-tiba merampas dayung dari tangan temannya dan dialah yang kini mendayung perahu itu mendekati perahu besar Angin Barat.

"Wah, jangan-jangan mereka adalah mata-mata musuh!" Pemimpin orang Nepal berkata. "Jelas bukan perahu nelayan, akan tetapi, kalau perahu pelancong kenapa sampai begini jauh meninggalkan pantai?"

"Kita tabrak saja biar terguling dan menjadi mangsa ikan!" kata temannya.

Pemimpin orang-orang Nepal itu memegang kemudi perahu, lalu diputarnya perahu Angin Barat sehingga kini membelok dan dengan lajunya meluncur ke arah perahu kecil. Kakek yang memegang dayung segera menggunakan kedua tangan mendayung perahu untuk menghindari tubrukan. Perahu kecil itu memang terhindar, akan tetapi ombak yang dibuat oleh Angin Barat membuat perahu kecil oleng.

"Berpegang erat-erat!" kakek itu berseru, kemudian dayung di tangannya bergerak cepat dan... perahu kecil itu meluncur terbang ke atas perahu besar Angin Barat!

Dapat dibayangkan betapa kagetnya orang-orang Nepal itu melihat perahu kecil itu dapat ‘terbang’ ke atas perahu besar mereka. Tentu saja perahu kecil itu bukan terbang, akan tetapi terlempar ke atas ketika kakek kurus itu menggunakan dayungnya untuk menekan langkan perahu Angin Barat dan menggunakan kakinya untuk mengait papan di dalam perahu kecilnya. Dari kenyataan ini saja dapat dibayangkan betapa lihainya kakek kurus itu.

Dua orang Nepal hendak menyerbu, akan tetapi kakek itu mempergunakan dayungnya menampar sehingga kedua orang itu roboh pingsan! Terdengar suara keras ketika perahu kecil itu mendarat di atas dek perahu Angin Barat, dan empat orang Nepal dengan marah datang menerjang. Kembali dayung itu bergerak empat kali dan keempat orang ini pun roboh tak dapat bangkit kembali!

Tentu saja pemimpin orang Nepal yang roboh dan patah tulang pundaknya itu terkejut sekali sehingga timbul rasa takut di hatinya pada saat kakek tinggi kurus itu melangkah menghampirinya.

"Hayo katakan, di mana adanya Toat-beng Hoatsu!"

Pemimpin orang Nepal itu makin terkejut pada waktu mendengar orang tinggi kurus ini membentak kepadanya dalam bahasa Nepal yang cukup baik! Tahulah dia bahwa orang tinggi kurus ini adalah seorang aneh yang berkepandaian tinggi, maka sambil merintih dia berkata, "Ampunkan... hamba... hamba tidak tahu... kami hanyalah nelayan-nelayan..."

"Hemmm... masih berani membohong? Kalian tentu pelarian dari penjara di Nepal yang belum lama ini memberontak dengan bantuan Ban-tok Coa-ong, bukan? Jangan mengira aku tidak mengerti. Kau berhadapan dengan pengawal pertama dari Panglima Besar The Hoo."

Mendengar ini, orang Nepal itu dan juga kawan-kawannya yang sudah siuman menjadi sangat terkejut dan mereka langsung menjatuhkan diri berlutut minta-minta ampun. Orang kurus tinggi itu bukan lain adalah Pengawal Tio Hok Gwan, Si Pengantuk yang lihai itu! Dan orang yang datang bersamanya dalam perahu itu adalah dua orang pengawal yang selalu menemaninya, yaitu Si Muka Pucat Kui Siang Han dan Si Muka Merah Song Kim!

Sesudah selesai menggempur para pemberontak di Sungai Huang-ho, dan mendengar bahwa bokor emas dilarikan Kwi-eng Niocu, Si Pengantuk ini mengajak dua orang teman itu untuk segera melakukan pengejaran dan hal itu disetujui oleh Souw Li Hwa. Memang pengawal suhu-nya itu bertugas untuk mencari kembali bokor emas, maka dia mengalah dan dialah yang akan mengawal tawanan ke kota raja, setelah dia membebaskan Yuan de Gama.

"Aku sudah tahu bahwa pagi tadi Kakek Toat-beng Hoatsu telah kalian bantu di hutan, kemudian lari ke perahu Angin Barat ini. Hayo katakan, ke mana dia pergi bersembunyi."

Tahulah kini orang-orang Nepal itu bahwa mereka tidak mungkin dapat membohong lagi. "Dia bersama dengan Ban-tok Coa-ong sudah pergi dengan perahu layar kecil ke Pulau Ular."

"Pulau Ular? Di mana itu? Tempat apa?" Tio Gwan membentak.

"Kami sendiri belum lama ini dibawa oleh Ban-tok Coa-ong ke tempat itu, dan letaknya di bagian selatan Teluk Pohai. Pulau kosong yang amat berbahaya, penuh ular berbisa."

Tio Hok Gwan tidak berani sembrono melakukan pengejaran ke pulau itu. Dia tahu betapa lihainya Toat-beng Hoatsu. Menghadapi datuk pertama ini saja belum tentu dia dan dua orang pembantunya dapat menang, apa lagi di sana masih ada Ban-tok Coa-ang yang amat lihai dan berbahaya, bahkan kabarnya putera dari Raja Ular itu juga amat lihai, dan ditambah lagi dengan tempat berbahaya penuh ular dan mungkin anak buah mereka yang banyak jumlahnya.

Dia lantas memerintahkan dua orang pembantunya untuk melayarkan perahu Angin Barat itu ke tepi pantai, kemudian menyerahkan enam orang Nepal itu sebagai tahanan di kota terdekat dan dia sendiri bersama dua orang pembantunya, segera kembali ke kota raja untuk melaporkan kepada Panglima Besar The Hoo akan bokor emas yang kini berada di Pulau Ular…..

********************

Kun Liong berjalan seorang diri sambil kadang-kadang tersenyum geli. Dia masih teringat akan nikouw yang diobatinya dan merasa geli bila mana teringat betapa tanpa disangka-sangkanya, dia berkesempatan untuk meraba-raba pinggul seorang wanita yang demikian halus dan mulus! Biar pun dia tidak berniat melakukan perbuatan itu melainkan terpaksa untuk mengobatinya, namun kini teringat akan itu, teringat pula betapa nikouw itu menjadi malu, dia tersenyum sendiri.

Betapa anehnya semua hal yang dialaminya, pikirnya. Hal-hal yang berhubungan dengan wanita! Dia selalu merasa senang berurusan dengan kaum wanita! Banyak sudah terjadi hal yang menyenangkan.

Dengan Liem Hwi Sian yang diciumnya dan yang ternyata menyatakan cinta kepadanya! Dengan Cia Giok Keng yang cantik jelita akan tetapi galak dan gagah perkasa. Dengan Yo Bi Kiok yang juga menyatakan cinta kepadanya! Dengan Souw Li Hwa yang angkuh. Kemudian dengan nikouw yang hanya dikenal sebelah pinggulnya saja! Aneh semua itu! Sudah ada dua orang dara cantik jelita yang mengaku cinta kepadanya. Akan tetapi mana mungkin dia membohongi mereka dan mengaku cinta? Tidak, dia tidak sekejam itu! Dia tidak mau membohongi dara-dara yang amat disukanya itu.

Mengenangkan kedua orang dara itu, dia merasa kasihan kepada Hwi Sian dan Bi Kiok. Mengapa dua orang dara itu begitu bodoh dan jatuh cinta kepadanya? Benarkah bahwa mereka mencintanya? Mengapa ketika dia berterus terang menyatakan bahwa dia suka akan tetapi tidak cinta, ketika ternyata bahwa dia tidak membalas cinta mereka, kedua orang dara itu menjadi marah dan berduka? Apakah cinta itu menuntut balasan?

Cintakah atau nafsu birahikah itu yang mendorong pria dan wanita saling mendekat dan masing-masing mencurahkan perasaannya dengan tuntutan yang menjadi dasar, tuntutan untuk saling memiliki, saling menguasai, saling menyenangkan dan disenangkan? Kalau ada tuntutan seperti itu, sudah pasti sekali akan tercipta rasa kecewa, duka, cemburu dan benci. Benarkah bahwa cinta dapat menimbulkan semua kesengsaraan ini? Kalau begitu, bukanlah cinta namanya, karena yang menimbulkan kecewa, duka, cemburu, benci dan iri adalah pikiran, ingatan.

Apa bila pikiran memasuki hati, semuanya akan menjadi keruh dan rusak, karena pikiran memperkuat si aku sehingga segala gerak tubuh, segala gerak hati serta pikiran selalu ditujukan demi kepentingan dan kesenangan si aku. Maka cinta pun menjadi bukan cinta lagi karena di situ terkandung tuntutan agar aku dicinta, aku diperhatikan, aku dipuaskan, engkau menjadi milikku, dan aku menggantungkan semua harapan akan kepuasan serta kenikmatan hidup kepadamu.

Selama engkau melayani segala kebutuhan lahir batin, selama engkau memuaskan aku, selama engkau menyenangkan aku, selama engkau menjadi milikku pribadi, mulut ini tak segan-segan menyatakan ‘aku cinta padamu’. Akan tetapi bila engkau mengingkari semua tuntutanku itu, kalau engkau tak mau melayani kebutuhan lahir batin dariku, kalau engkau mengecewakan aku, kalau engkau tidak menyenangkan aku, kalau engkau melepaskan diri dariku dan lari kepada orang lain, cintaku berubah menjadi cemburu dan benci!


Kun Liong menggaruk-garuk kepalanya. Yang begitukah cinta? Betapa rendah, dangkal, tipis dan tidak bermutu! Betapa pun juga, dia menyesal teringat bahwa dia menyebabkan dua orang dara itu merasa berduka dan kecewa. Akan tetapi, nanti dulu! Benarkah dia yang menyebabkan mereka merasa berduka? Bukankah yang menjadi penyebab adalah pikiran mereka sendiri?

Di dunia ini apa pun yang menimpa diri secara batiniah, yang menimbulkan perasaan girang-sedih, cinta-benci, puas-kecewa dan suka-duka, sama sekali tidak disebabkan dari luar, melainkan disebabkan oleh ingatannya sendiri. Ingatanlah yang menimbulkan semua itu. Kalau orang tidak mengingat akan masa lalu apakah ada itu yang dinamakan benci, duka dan sebagainya? Membenci seorang lain tentu ditimbulkan oleh ingatan akan masa lalu, apa yang sudah dilakukan oleh orang itu terhadap dirinya, tentu saja yang merugikan aku-nya. Ingatannya yang menjadi gara-gara kesengsaraan hidup. Dapatkah manusia hidup bebas dari ingatan, bebas dari pikiran?

Kun Liong menggerakkan kedua pundaknya dan melanjutkan perjalanannya memasuki hutan terakhir di kota Liok-bun. Agaknya kota ini dinamakan Liok-bun (Enam Pintu) oleh karena pintu gerbangnya berjumlah enam buah.

Ingatan memang ada perlunya, dia menjawab pertanyaannya sendiri sambil melangkah ke dalam hutan yang indah itu. Akan tetapi ingatan itu hanya perlu untuk menghadapi urusan lahiriah yang nyata, untuk keperluan pemeliharaan dan kelangsungan hidup ini. Tanpa ingatan tentu akan kacau-balau kehidupan lahiriah ini. Akan tetapi, sekali ingatan membayangkan segala hal yang lalu dan yang akan datang, membayangkan peristiwa-peristiwa yang dibagi dua sebagai hal yang menyenangkan dan tidak menyenangkan, kalau pikiran memasuki batin, maka terciptalah segala perasaan yang bertentangan dan menjadikan hidup manusia ini seperti dalam neraka yang diceritakan dongeng.

Tiba-tiba Kun Liong sadar dari lamunannya oleh suara yang datang terbawa angin. Suara tambur dan terompet, suara banyak orang, suara pasukan yang besar! Suara itu datang dari arah depan, dari dalam kota Liok-bun. Agaknya di kota itu terdapat banyak pasukan, pikirnya sambil mempercepat langkahnya karena dia menjadi ingin sekali tahu mengapa tempat itu penuh dengan pasukan.

Pada saat dia sedang melangkah secara tergesa-gesa itu, tiba-tiba terdengar suara orang memanggilnya. "Ehh, bukankah kau Kun Liong...?"

Kun Liong cepat menahan langkahnya dan menoleh ke kiri. Betapa girangnya ketika dia mengenal Pendekar Sakti Cia Keng Hong sedang duduk seorang diri di bawah pohon! Cepat dia menghampiri dan memberi hormat.

"Cia-supek...! Mengapa Supek berada di sini seorang diri?"

Cia Keng Hong yang berpakaian sederhana dan membungkus rambut kepalanya dengan sutera kuning itu tersenyum. "Duduklah, Kun Liong. Aku sekarang sedang mengaso dan menjauhkan diri dari kesibukan pasukan. Betapa indah menyenangkan di tempat sunyi ini sesudah berpekan-pekan sibuk menghadapi banyak orang, juga melihat kekerasan dan perang. Sungguh benar ucapan seorang pujangga kuno bahwa di mana ada manusia, di situ tentu timbul kekerasan, kekejaman, dan kekacauan. Kebenaran itu terasa sekali kalau kita duduk menyendiri di tempat yang sunyi dari kehadiran manusia seperti di tempat ini."

Kun Liong duduk di atas rumput, di depan pendekar sakti itu. "Memang tepat sekali apa yang Supek katakan. Teecu (murid) sendiri juga telah berkali-kali menyaksikan kekerasan dan kekejaman yang terjadi antara manusia. Apakah semenjak kita berpisah di Ceng-to dahulu itu keadaan Supek baik-baik saja?"

Cia Keng Hong menarik napas panjang.

"Entah bagaimana aku harus menjawab pertanyaanmu itu. Sesudah aku melapor ke kota raja, pasukan dikirim dan aku ditugaskan untuk membantu. Pasukan pemerintah berhasil menghancurkan pemberontak, sisanya melarikan diri cerai-berai memasuki hutan-hutan. Mereka sudah terpecah belah, jadi tidak membahayakan keamanan negara lagi. Bahkan orang-orang asing itu sudah menghubungi pemerintah dan dengan perintah langsung dari kota raja mereka diperbolehkan untuk mendarat dan berdagang, akan tetapi terbatas di sekitar pantai Pohai saja. Aku melihat perang, melihat ratusan orang roboh dan tewas, saling bunuh dan saling sembelih. Entah keadaan seperti itu baik atau buruk." Pendekar sakti itu menarik napas panjang lagi.

Kun Liong juga menghela napas. Dia sendiri merasa ngeri saat menyaksikan keganasan manusia saling bunuh.

"Bagaimana dengan engkau sendiri?" Cia Keng Hong bertanya. "Apa yang terjadi dengan gadis yang kita tolong dari rumah Hek-bin Thian-sin di Ceng-to dahulu itu?"

"Nona itu bernama Liem Hwi Sian dan bersama kedua orang suheng-nya dia menerima tugas dari gurunya yang bernama Gak Liong di Secuan supaya membantu pemerintah untuk menyelidiki para pemberontak."

"Hemmm, jadi murid dari pendekar Secuan itu! Pantas dia gagah dan berani sekali, biar pun kurang perhitungan dan hampir celaka. Pendekar Gak Liong di Secuan adalah murid keponakan dari Panglima Besar The Hoo dan namanya sudah terkenal, sungguh pun dia sendiri tidak pernah terjun ke dunia ramai. Bagaimana dengan usahamu mencari kedua orang tuamu?"

Kun Liong mengerutkan alisnya dan menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Belum ada hasilnya sama sekali, Supek. Teecu merasa heran sekali ke mana perginya Ayah dan Ibu."

Cia Keng Hong memandang pemuda itu dengan sinar mata tajam, kemudian terdengar dia berkata, "Kun Liong, aku merasa khawatir sekali akan keadaan orang tuamu. Apa bila mereka itu masih hidup, tidak mungkin mereka berdua terus menyembunyikan diri selama bertahun-tahun, setidaknya mereka tentu akan datang mengunjungi kami di Cin-ling-san."

Kun Liong terkejut dan memandang wajah pendekar itu. "Maksud... maksud Supek...?"

"Aku khawatir bahwa telah terjadi sesuatu dengan mereka, Kun Liong."

"Bagaimana Supek dapat menduga begitu?" Kun Liong bertanya, wajahnya agak pucat.

"Pertama, ayah bundamu adalah orang-orang gagah yang tak mungkin menyembunyikan diri karena takut sampai bertahun-tahun. Ke dua, kalau mereka menghadapi kesukaran, ada dua tempat di mana mereka dapat datang, yaitu di Cin-ling-san atau di Siauw-lim-si. Akan tetapi di kedua tempat itu mereka tidak pernah muncul. Dan ke tiga, kedaan dunia makin kacau, orang-orang golongan sesat bermunculan dan mereka memiliki kepandaian yang tinggi, apa lagi dengan munculnya orang-orang asing. Oleh karena itu, sesudah aku sendiri berusaha menyelidiki dan mendengar-dengar tentang mereka, namun tanpa hasil seolah-olah orang tuamu itu lenyap ditelan bumi tanpa meninggalkan jejak, maka mulailah aku ragu-ragu apakah mereka itu masih hidup."

"Supek...!"

"Kun Liong, sebagai manusia kita harus berani menghadapi kenyataan hidup yang bagai mana pun juga. Kita tidak perlu melarikan diri dari kenyataan, kita harus berani membuka mata menyambut datangnya segala sesuatu yang kita hadapi, baik itu merupakan hal yang semanis-manisnya atau sepahit-pahitnya. Tidak perlu mencari-cari hiburan kosong bagi hati yang dirundung kekhawatiran, karena dengan demikian rasa takut akan makin menggerogoti hati. Kenyataannya adalah orang tuamu telah lenyap tanpa meninggalkan bekas, dan ini adalah tidak wajar sama sekali kecuali tentu saja kalau mereka itu sudah tewas."

Kun Liong memejamkan kedua mata-nya. Sampai lama dia duduk mengatur napas untuk menahan pukulan batin yang timbul dari kekhawatirannya mendengar kata-kata pendekar sakti itu. Cia Keng Hong memandang dengan penuh rasa terharu dan juga kagum.

Pemuda ini menarik hatinya dan makin condong hatinya untuk menjodohkan puterinya dengan pemuda ini. Dia mendiamkan saja sampai pemuda itu membuka kembali kedua matanya dan sepasang mata yang tajam itu kelihatan membasah.

"Supek benar. Kita harus berani menghadapi kenyataan hidup, betapa pun pahitnya. Dan setelah teecu pikir-pikir, memang tidak mungkin kalau Ayah dan Ibu bersembunyi sampai bertahun-tahun ini. Besar sekali kemungkinan bahwa kedua orang tua teecu itu, telah... telah tewas. Namun tetap teecu akan mencarinya, setidaknya mencari tahu bagaimana hal itu terjadi, kalau benar-benar mereka telah tewas."

Cia Keng Hong mengangguk. "Memang semestinya begitu, dan aku pun akan berusaha mencari keterangan dari kenalan-kenalanku. Kini engkau hendak ke mana, Kun Liong?"

"Pertama-tama, teecu akan melanjutkan usaha teecu untuk mengambil kembali dua buah pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri oleh Kwi-eng-pang. Selain itu, juga teecu harus minta kembali pusaka bokor emas yang terjatuh ke tangan Kwi-eng Niocu."

"Bokor emas? Pusaka The-taiciangkun yang hilang?" Cia Keng Hong bertanya.

Kun Liong mengangguk dan dengan singkat dia segera menceritakan tentang perebutan pusaka yang telah berada di tangannya itu namun terpaksa dia melemparkannya kepada Kwi-eng Niocu dengan harapan kelak dapat dia minta kembali.

Mendengar penuturan itu, Cia Keng Hong menarik napas panjang. "Aihhhh, tugasmu ini sungguh amat berbahaya dan berat, Kun Liong. Telaga Kwi-ouw sangat terkenal sebagai tempat yang amat berbahaya, sesuai dengan namanya. Dan entah sudah berapa hanyak tokoh kang-ouw tewas ketika berusaha mendatangi pulau di tengah telaga yang dijadikan sarang Kwi-eng-pang."

"Teecu pernah mendarat di pulau itu, Supek."

Cia Keng Hong kelihatan terkejut. "Heh? Benarkah?"

Kun Liong lalu menceritakan pengalamannya ketika dia pergi ke pulau di tengah Telaga Setan itu, betapa di tepi telaga dalam hutan dia bertemu dengan Toat-beng Hoatsu yang tidak dikenalnya, kemudian betapa dia ditipu oleh pelayan wanita Kwi-eng Niocu sehingga tertawan dan dia dijadikan rebutan antara Siang-tok Mo-li dan Toat-beng Hoatsu sehingga akhirnya dia menjadi tawanan kakek datuk kaum sesat nomor satu itu.

"Aihhhh, kalau begitu engkau sama sekali belum mengenal Telaga Setan dan pulaunya itu," kata Cia Keng Hong. "Dan masih untung engkau tertawan secara itu karena andai kata engkau yang belum mengenal rahasia Telaga Setan itu datang sendiri ke sana dan melakukan pendaratan, mungkin engkau akan celaka dan tewas dalam jebakan-jebakan rahasia yang amat berbahaya. Aku pernah mendengar penuturan seorang sahabat yang telah berhasil menyelidiki rahasia itu maka bila kau hendak mendarat ke sana, sebaiknya engkau mempelajari rahasia-rahasia yang akan kulukiskan untukmu."

Pendekar sakti itu lalu bertepuk tangan dan menggapai kepada seorang penjaga di luar pintu gerbang kota Liok-bun yang tampak dari situ. Prajurit yang memegang tombak itu lari mendatangi dan memberi hormat kepada pendekar ini. Cia Keng Hong menyuruhnya mengambilkan kertas dan alat tulis.

Penjaga itu cepat berlari memasuki pintu gerbang kota Liok-bun. Tak lama kemudian dia datang berlari-lari membawa kertas lebar bergulung dan alat tulis yang diminta pendekar itu. Kemudian, penjaga itu melangkah agak menjauh lalu berdiri dengan tombak tetap di tangan, berjaga dan menanti perintah selanjutnya dari pendekar itu.

Cia Keng Hong lalu mulai membuat gambaran telaga beserta pulaunya sambil memberi petunjuk kepada Kun Liong yang memandang penuh perhatian.

"Tepi Telaga Kwi-ouw dari tiga jurusan, yaitu barat, selatan dan timur, merupakan daerah yang kelihatannya datar dan aman, tetapi justru tiga bagian inilah yang paling berbahaya bagi para pendatang dari luar. Tiga daerah ini penuh dengan alat-alat jebakan yang amat berbahaya sekali."

"Akan tetapi, Supek. Ketika teecu ikut dengan perahu pelayan itu, teecu juga melalui dari selatan."

"Karena pelayan itu sudah sangat mengenal daerahnya, tentu saja dia dapat mendayung perahunya dengan aman. Di bagian selatan itu, di bawah permukaan air terdapat banyak sekali ranjau yang berupa batu karang di bawah permukaan air, akan tetapi sekali saja disentuh oleh perahu asing, anak panah yang banyak sekali dan yang sudah dipasang di dalam batu karang buatan itu akan meluncur ke luar dan menyerang penumpang perahu secara tiba-tiba dan hebat sekali. Di samping itu, begitu orang mendarat di pulau itu dari selatan, walau pun di situ penuh pasir, namun terdapat bagian pasir yang berputar dan menyedot kaki orang yang menginjaknya sehingga tanpa petunjuk orang yang mengenal daerah itu, sekali kakimu terseret, sukarlah bagimu untuk menyelamatkan diri."

Kun Liong terbelalak dan bergidik ngeri.

"Daerah barat juga sangat berbahaya karena penuh dengan lubang-lubang jebakan yang tertutup dengan rumput hidup, dan di dalam setiap lubang terisi banyak ular berbisa yang siap menyambut setiap orang yang terjeblos masuk. Juga air di bagian itu banyak sekali terdapat ganggang yang hidup di bawah permukaan air, penuh dan dapat mendamparkan perahu yang lewat. Tentu saja bagi mereka yang sudah hafal, mereka tahu bagian mana yang tumbuhan ganggangnya tak begitu banyak sehingga dapat dilalui perahu. Kemudian bagian timur, biar pun tidak dipasangi jebakan pada permukaan air telaga, namun di situ terdapat air berpusing yang amat berbahaya, dapat menyeret dan menyedot perahu ke dalam pusingan air. Agaknya ada sebuah lubang besar di bagian ini yang menciptakan air berpusing. Sedangkan di daratan pulau di timur ini terdapat alat-alat rahasia yang kalau dilanggar kaki asing, akan membuat timbunan batu besar yang menggunung di bagian ini runtuh ke bawah dan tentu saja akan langsung menyerang para pendatang, sukar untuk menyelamatkan diri dari serangan batu-batu besar itu."

"Ihhh, keji sekali!" Kun Liong berseru dan merasa lega bahwa dia telah diberi tahu akan hal-hal yang membahayakan itu sehingga dia dapat lebih berhati-hati.

"Satu-satunya jalan adalah melalui utara. Akan tetapi bagian yang bersih dari jebakan ini merupakan daerah yang sangat sukar didatangi. Tepi daratan pulau pada bagian ini amat terjal, merupakan tebing tinggi yang curam sekali dan tidak mudah didaki dari bawah." Cia Keng Hong membuat lukisan tebing tinggi itu sambil memberi penjelasan. "Akan tetapi, sahabatku itu pernah melihat beberapa kera memanjat ke atas dan hal ini memberi dia petunjuk bagaimana caranya mendatangi pulau dengan aman. Yaitu dengan memanjat akar-akar yang menonjol keluar di dinding tebing itu, memanjat melalui akar dan batu menonjol. Tentu saja hal ini harus dilakukan dengan hati-hati, membutuhkan keringanan tubuh dan kecekatan, karena biasanya hanya monyet saja yang dapat memanjat ke atas. Sekali injakan kaki atau pegangan tangan terlepas, engkau akan terjatuh ke bawah dan tentu takkan dapat menghindarkan diri lagi dari maut."

"Agaknya, memang jalan melalui tebing itu yang paling aman," Kun Liong berkata sambil memandang lukisan supek-nya.

"Betapa pun juga, engkau harus berhati-hati sekali karena siapa tahu kalau Kwi-eng-pang yang kuat itu kini telah memasangi jebakan pula pada jalan paling sukar akan tetapi paling aman ini."

Mendadak prajurit yang tadi berdiri berjaga dengan tombak di tangan berseru, "Taihiap, Liu-ciangkun datang menghadap!"

Kun Liong menoleh dan Cia Keng Hong memandang seorang perwira yang bertubuh tinggi besar. Perwira itu cepat memberi hormat kepada pendekar sakti itu dan berkata, "Ada seorang utusan dari kerajaan datang membawa sepucuk surat untuk disampaikan kepada Taihiap, dari Panglima Besar The Hoo sendiri."

Cia Keng Hong menggulung gambar itu, menyerahkannya kepada Kun Liong, kemudian dia bangkit berdiri dan menerima sampul tertutup. Setelah mengucapkan terima kasih dan perwira itu pergi pula, kemudian berdua dengan Kun Liong, pendekar itu kembali duduk di bawah pohon dan membuka surat dari Panglima Besar The Hoo.

Wajahnya yang masih tampan dan gagah tidak membayangkan sesuatu ketika membaca surat itu sehingga sukar bagi Kun Liong untuk menduga apakah surat itu membawa berita baik ataukah buruk. Setelah selesai membaca, Cia Keng Hong melipat surat, menyimpan ke dalam saku jubahnya, memandang Kun Liong dan berkata,

"Ahh, sungguh hebat luar biasa, bokor emas itu benar-benar menimbulkan geger di dunia kang-ouw. Kun Liong, bokor itu telah terlepas lagi dari tangan Kwi-eng Niocu seperti yang kau ceritakan kepadaku dan sekarang bokor itu berada di tangan Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong. Mereka membawa bokor itu ke Pulau Ular! Panglima Besar The Hoo mendengar laporan ini dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan. Hemm, Pulau Ular di Teluk Pohai. Berbahaya sekali! Dan Nona Souw secara lancang pergi sendiri melakukan penyelidikan ke sana!"

Kun Liong terkejut. "Apakah Supek maksudkan Nona Souw Li Hwa?"

"Engkau sudah mengenalnya?"

"Sudah beberapa kali teecu berjumpa dengan Nona Souw Li Hwa," Kun Liong menjawab singkat. Dia merasa malu kalau harus menceritakan betapa dia pernah menjadi tawanan nona cantik itu! "Bukankah dia murid Panglima Besar The Hoo?"

"Memang dari gurunya dia mempelajari ilmu-ilmu yang tinggi. Akan tetapi dia masih amat muda dan belum berpengalaman. Bagaimana dia begitu lancang untuk pergi seorang diri ke Pulau Ular? Betapa mungkin dia dapat melawan dua orang datuk kaum sesat yang lihai itu? Ahh, sungguh mengkhawatirkan sekali. Panglima The Hoo minta kepadaku untuk merampas kembali bokor itu, akan tetapi berita tambahan tentang kepergian nona itu ke Pulau Ular, benar-benar membikin gelisah."

"Supek, kalau begitu, biarlah teecu lebih dulu menyusulnya ke sana."

Cia Keng Hong memandang kepadanya. Dia maklum bahwa pemuda ini mempunyai ilmu kepandaian yang hebat, apa lagi kini telah menjadi pewaris Thi-khi I-beng sehingga boleh diandalkan. Dia sendiri harus mengepung Pulau Ular itu sebab kalau dia menyerbu begitu saja, kedua orang datuk itu akan dapat melarikan diri dan membawa bokor emas. Maka dia harus mengepung ketat pulau itu, barulah dia akan turun tangan. Dengan demikian, dua orang datuk itu tidak akan mendapat kesempatan untuk membawa lari bokor emas milik Panglima The Hoo itu.

"Bagus sekali kalau kau suka membantu, Kun Liong. Memang bokor itu perlu sekali untuk diselamatkan. Jika sampai terjatuh ke tangan penjahat, bisa berbahaya. Bokor itu selain mengandung petunjuk tempat rahasia penyimpan harta pusaka terpendam yang sangat besar jumiahnya, juga penyimpanan kitab-kitab pusaka pelajaran ilmu silat yang mukjijat. Demikian menurut keterangan yang kuperoleh dari Panglima The Hoo sendiri. Bokor itu dahulu milik seorang pendeta perantau berilmu tinggi yang kemudian meninggal dunia di Nepal. Sesudah berpindah-pindah tangan, akhirnya bokor itu terjatuh ke tangan Panglima The Hoo dan hingga kini belum ada yang dapat membuka rahasia tempat penyimpanan pusaka itu."

Kun Liong mengangguk-angguk. "Memang teecu harus ikut berusaha mendapatkannya kembali, bukan hanya mengingat bahwa teecu ikut bersalah membiarkan bokor terjatuh ke tangan datuk kaum sesat, juga dahulu teecu sudah berjanji kepada perwira pengawal Tio Hok Gwan untuk kelak menghaturkan bokor itu kepada Panglima The Hoo sendiri!"

Kun Liong tidak mendapat keterangan sejelasnya tentang letak Pulau Ular, kemudian dia menerima bekal secukupnya dari Cia Keng Hong, karena untuk keperluan itu dia harus membeli sebuah perahu di pantai Pohai. Setelah menerima petunjuk dan nasehat, Kun Liong berangkat secepatnya seorang diri menuju ke daerah Teluk Pohai, sedangkan Cia Keng Hong segera berunding dengan para perwira yang memimpin pasukan pemerintah untuk mengatur siasat, mengepung Pulau Ular dan mengatur persiapan…..

********************

Air laut bergelombang amatlah indah dan megahnya. Mempunyai keindahan yang khas. Air laut itu seolah-olah bernafas, tak kunjung henti bergerak dan terayun-ayun, bersenda gurau tertawa-tawa. Anak-anak ombak bagai sekumpulan kanak-kanak yang masih belum mengenal pikiran susah, kepala ombak memercik dan membuih putih menari-nari dengan riangnya.

Akan tetapi, di balik keriangan yang nampak di atas gulungan ombak itu, bersembunyilah keangkeran dan kebesaran yang sangat dalam dan menyeramkan, penuh rahasia, penuh kediaman, namun penuh pengertian.

Air laut itu, yang oleh manusia dikatakan benda mati, sesungguhnya hidup. Itulah baru hidup yang sungguh-sungguh hidup namanya! Sangat bebas dan hidup, melakukan apa saja, bergerak bagaimana saja sewajarnya, bebas tanpa ikatan, tanpa perintah, tidak ada yang terpecahkan antara gerakan salah dan gerakan benar.

Justru kita manusia ini yang hidupnya seperti boneka. Segala gerak kita tidak wajar, tidak bebas. Setiap gerak kita adalah gerakan menjiplak atau gerakan yang dikendalikan, bagai boneka yang digerakkan dengan tali-tali pengikat, ‘didalangi’ oleh tradisi dan kebudayaan uang, hukum yang sudah karatan, peradaban tua, sedemikian tuanya sehingga semua gerak-gerik kita hanya merupakan kepalsuan, kedok-kedok yang tidak wajar!

Kita berbuat baik bukan karena memang baik, melainkan karena ingin baik. Keinginan selalu berpamrih (menyembunyikan kehendak tertentu) sehingga perbuatan itu sendiri lalu menjadi kedok kebaikan yang menyembunyikan pamrih yang sebenarnya. Kita bersikap manis dan ramah kepada orang bukan karena keadaan kita memang demikian, melainkan karena kita ingin mentaati hukum sopan santun dan kesusilaan sehingga sikap manis kita itu adalah palsu, dan hidup kita seperti benda mati yang digerakkan. Alangkah bedanya dengan air laut itu!


Matahari baru saja muncul dari permukaan laut sebelah timur. Cahaya bola api yang amat besar itu membuat segala benda menjadi berkilau seperti diselaput emas, kuning merah keemasan. Cahaya yang hangat ini menyelimuti permukaan air laut yang bergerak rata dan halus seperti napas seorang bayi tidur.

Sebuah perahu kecil berbentuk meruncing meluncur cepat ke arah selatan, digerakkan oleh hembusan angin pada layar yang berkembang dan melengkung penuh menampung angin. Perahu itu meluncur di atas permukaan air yang keemasan, menuju ke sebuah pulau yang sudah nampak dari perahu itu, sebuah pulau memanjang yang kelihatannya bagai sepotong balok dan di atasnya terdapat sebuah bukit yang berbentuk seperti seekor ular melingkar di atas balok itu. Itulah Pulau Ular!

Dara yang berada seorang diri di perahu itu cantik jelita. Sepasang pipinya kemerahan, karena mengemudi perahu yang mula-mula didayungnya dari daratan itu membutuhkan pengerahan tenaga. Setelah perahu meluncur dekat pulau yang ditujunya, ia menggulung layar dan membiarkan perahunya terkatung-katung sambil memandang penuh perhatian ke arah Pulau Ular.

Dara ini bukan lain adalah Souw Li Hwa, dara cantik jelita yang gagah perkasa itu, murid Panglima Besar The Hoo yang sakti. Li Hwa memang terkenal memiliki keberanian yang luar biasa. Pada saat mendengar dari pengawal Tio Hok Gwan bahwa bokor emas milik gurunya itu telah terampas oleh datuk kaum sesat Toat-beng Hoatsu dan disembunyikan di Pulau Ular, serta merta dia pergi seorang diri untuk melakukan penyelidikan ke pulau itu.

Gurunya, Panglima Besar The Hoo, merasa terkejut dan khawatir sekali mendengar akan kelancangan muridnya ini. Karena itu panglima besar ini lalu cepat minta bantuan kepada Pendekar Sakti Cia Keng Hong, bahkan dia sendiri lantas memimpin pasukan istimewa untuk menyusul muridnya.

Li Hwa dengan nekat melakukan ke Pulau Ular begitu mendengar berita tentang bokor itu, karena dia merasa penasaran sekali. Bokor itu seakan-akan sudah berada di tangannya ketika dia telah berhasil menawan Kun Liong, karena hanya pemuda gundul itu sajalah yang tahu di mana adanya pusaka itu. Akan tetapi pada saat-saat terakhir dia pun gagal mendapatkan bokor, maka begitu mendengar bahwa benda pusaka itu sekarang berada di Pulau Ular, tanpa mengingat bahayanya, dia cepat melakukan pengejaran ke tempat berbahaya itu.

Keadaan pulau itu memang menyeramkan. Sebuah pulau yang tadinya kosong sebelum ditemukan oleh Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan dijadikan sarangnya. Ketika Si Raja Ular ini menemukan pulau itu, dia girang bukan main melihat bahwa pulau yang kosong itu di samping memiliki tanah yang subur juga penuh dengan ular berbisa dan pulau itu merupakan sebuah benteng yang kuat.

Memang dulu, ratusan tahun yang lalu, pulau ini pernah dijadikan benteng oleh pasukan-pasukan daratan Tiongkok ketika barisan menyerang ke Kolekok (Korea) di jaman cerita Sam-kok. Karena beberapa kali pasukan daratan terpukul mundur oleh pasukan Kolekok yang dipimpin oleh panglima wanita yang sakti bernama Hoan Lee Hwa, maka pulau itu dijadikan benteng ketika mereka mundur, demikianlah menurut dongeng.

Kini pulau itu menjadi sebuah tempat tinggal yang indah akan tetapi juga menyeramkan bagi orang luar. Pulau itu bertanah subur, bahkan sebagian tanahnya telah diolah menjadi ladang yang subur dan yang menghasilkan bahan makanan, dikerjakan oleh anak buah Ban-tok Coa-ong.

Akan tetapi, datuk kaum sesat ini pun telah menangkap banyak ular-ular beracun dan ular-ular ini kemudian dilepas di pulaunya sehingga beberapa tahun kemudian, pulau ini penuh dengan ular dari segala macam ukuran dan warna, kesemuanya mengandung bisa yang amat jahat. Maka terkenallah Pulau Ular dan tidak ada seorang pun pelancong atau nelayan yang berani mendekati pulau itu.

Oleh karena sudah bertahun-tahun tak ada orang berani mendekati pulau, ditambah pula dengan keadaan pulau yang terlindung oleh tembok benteng tebal, serta mengandalkan nama besarnya yang ditakuti, maka Ban-tok Coa-ong tidak melakukan penjagaan dan membiarkan pulau itu ‘terbuka’. Namun, semenjak Toat-beng Hoatsu datang dan berhasil membawa bokor emas, anak buah Ban-tok Coa-ong segera dikerahkan untuk melakukan penjagaan di sekeliling pulau, di atas tembok-tembok benteng.

Anak buah Ban-tok Coa-ong yang tinggal di Pulau Ular terdiri dari orang-orang Nepal dan pribumi, tentu saja mereka adalah orang-orang dari golongan hitam. Mereka berjumlah kurang lebih lima puluh orang dan sebagian di antara mereka ada pula yang membawa keluarga mereka. Bahkan di antara orang-orang Nepal ada pula yang membawa isteri dan tinggal di Pulau Ular dengan beberapa orang anak mereka.

Karena bertahun-tahun tak ada orang luar berani memasuki Pulau ular, maka anak buah Ban-tok Coa-ong tidak pernah menghadapi serangan musuh. Hal ini membuat mereka sangat percaya kepada kekuatan sendiri, terutama mengandalkan nama besar pemimpin mereka.

Walau pun kini mereka menerima tugas untuk berjaga-jaga, namun karena mereka tidak percaya akan ada orang yang berani datang ke pulau itu, mereka melakukan penjagaan dengan malas-malasan. Apa lagi di pulau itu selain pemimpin mereka, Ban-tok Coa-ong yang sangat sakti, masih terdapat pula putera pemimpin mereka itu yang mereka sebut Ouwyang-kongcu (Tuan Muda Ouwyang), bahkan masih ada lagi kakek tua renta yang kabarnya tidak kalah lihai dibandingkan pemimpin mereka, yaitu Toat-beng Hoatsu.

Penjagaan yang tidak ketat itu memudahkan Li Hwa untuk mendaratkan perahunya di tepi Pulau Ular tanpa diketahui oleh para penjaga. Sesudah menyembunyikan perahunya di dalam semak-semak di pinggir telaga, Li Hwa lalu mulai dengan penyelidikannya, menuju ke tengah pulau di mana tampak olehnya bangunan-bangunan pondok.

Dia melihat para penjaga, makin ke tengah makin banyak, akan tetapi para penjaga itu sedang bercakap-cakap dan agaknya sama sekali tak memperhatikan penjagaan mereka. Apa lagi ketika dia tiba di antara pondok-pondok yang berdiri berjajar di tengah pulau, dia melihat betapa banyak penjaga sedang tertarik dengan sebuah peristiwa yang terjadi di tempat terbuka depan sebuah pondok terbesar.

Li Hwa segera menyelinap di antara pobon-pohon dan pondok-pondok, kemudian berhasil meloncat naik ke atas sebuah pohon besar dan mengintai ke bawah. Ada belasan orang laki-laki membentuk sebuah lingkaran lebar tempat itu. Mereka itu terdiri dari tujuh orang Nepal yang berambut panjang dan selebihnya adalah orang Han biasa. Mereka rata-rata bersikap kasar dan ketika itu mereka tersenyum menyeringai lebar seakan-akan sedang menghadapi sebuah tontonan yang menarik hati.

Di ujung sana duduk seorang pemuda berwajah tampan yang menyeringai lebar dan mata pemuda tampan ini bergerak-gerak liar menyeramkan. Melihat sikap dan pakaiannya yang seperti pakaian seorang putera bangsawan itu, mudah diduga bahwa dia tentulah seorang yang tinggi kedudukannya di antara mereka, dan bahkan Li Hwa dapat menduga bahwa agaknya pemuda itu adalah Ouwyang Bouw, yaitu pemuda iblis putera Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok yang kabarnya memiliki kekejaman melebihi ayahnya.

Akan tetapi pada saat itu, yang menarik perhatian Li Hwa adalah tontonan yang membuat belasan orang itu tertarik, yaitu yang terdapat di tengah-tengah lingkaran mereka. Dia melihat dua orang laki-laki dan wanita. Melihat bentuk wajah dan model rambut mereka, mudah diketahui bahwa laki-laki dan wanita itu tentulah bangsa asing Nepal seperti tujuh orang pria yang menonton di situ.

Laki-laki itu tinggi besar, usianya antara empat puluh tahun, sedangkan wanitanya berkulit putih tidak seperti kaum prianya, berusia antara tiga puluh tahun. Yang mengherankan hati Li Hwa adalah bahwa bahwa kedua orang itu bertelanjang bulat sama sekali! Wanita itu kelihatan takut, wajahnya pucat dan matanya terbelalak lebar memandang ke sana-sini seperti orang minta tolong. Sedangkan yang pria hanya menunduk, kelihatannya seperti orang yang sudah putus harapan dan menyerahkan diri kepada nasib.

Tiba-tiba pemuda tampan yang bermata liar, yang memang bukan lain adalah Ouwyang Bouw itu, mengangkat tangan ke atas dan agaknya ini merupakan isyarat karena semua orang yang tadinya menonton sambil berbisik-bisik, sekarang terdiam semua, dan hanya memandang ke arah wanita telanjang bulat.

Wanita ini berusaha sedapat mungkin mempergunakan kedua tangannya untuk menutupi tubuhnya. Lengan kirinya melintang di depan dada dan tangan kanannya menutupi bagian bawah pusarnya, kedua kaki dirapatkan dan wanita itu berlutut setengah menelungkup, hanya mukanya diangkat ke atas memandang kepada para penonton dengan sinar mata minta pertolongan. Ada pun laki-laki telanjang itu hanya mempergunakan kedua tangan menutupi bawah pusarnya sambil berlutut dan menundukkan muka.

"Hemmm, kalian sudah tertangkap basah. Sanghida, kau mau bilang apa lagi? Mengapa engkau berjinah dengan isteri Rajid?"

Laki-laki telanjang itu semakin menunduk dan dengan suara lemah dia menjawab, "Saya mencinta dia, Ouwyang-kongcu."

"Betulkah? Apa engkau menganggap dia cukup berharga untuk kau bela dengan nyawa?"

Sanghida, orang Nepal itu, mengangguk. "Saya bersedia membelanya dengan nyawa."

"Ha-ha-ha, agaknya Madhula pandai sekali melayanimu hingga engkau sudah tergila-gila, ha-ha-ha!" Ouwyang Bouw tertawa dan semua orang yang menonton ikut pula tertawa, kecuali seorang di antara mereka yang bertubuh gemuk, seorang Nepal yang mukanya merah.

"Heii, Madhula! Engkau yang berjinah dengan laki-laki lain, apakah lebih senang kepada Sanghida dari pada kepada suamimu sendiri?" Kembali Ouwyang Bouw bertanya dan kini ditujukan kepada wanita itu.

Wanita itu menoleh dan memandang kepada Ouwyang Bouw dengan sinar mata penuh kemarahan. Dari atas Li Hwa dapat melihat bahwa wanita itu ternyata memang cantik sekali, kecantikan yang aneh, khas dan menarik.

"Ouwyang-kongcu, engkau tentu lebih tahu apa yang sudah terjadi! Karena aku sudah menolak cintamu, menolak bujukan dan rayuanmu untuk berjinah denganmu karena aku selalu setia kepada suamiku, maka engkau telah mempergunakan Si Jahanam Sanghida ini untuk memperkosaku! Engkau menaruh racun dalam minuman kami sehingga kami berdua teracun dan mabok, melakukan perbuatan di luar kesadaran kami berdua selagi suamiku kau suruh berjaga di luar. Kemudian kau sendiri yang sengaja menangkap kami dan menuduh kami berjinah. Tentu semua ini kau lakukan untuk membalas penolakanku terhadap bujukanmu!"

"Tutup mulutmu!" Ouwyang Bouw membentak marah sekali, akan tetapi kemudian dia tertawa-tawa lagi.

Sikap yang berubah-ubah ini amat menyeramkan, dan Li Hwa yang berada di atas pohon menduga bahwa agaknya pemuda itu memang benar-benar gila seperti disohorkan dunia kang-ouw.

"Semua tuduhan itu tidak ada buktinya. Akan tetapi perjinahan kalian sudah jelas terbukti. Kalau kalian tidak berjinah, mana mungkin kalian berdua berada di dalam satu kamar dan satu pembaringan tanpa pakaian sama sekali?" Dia tertawa dan semua orang tertawa pula.

Wanita itu tidak menjawab, hanya memandang dengan mata terbelalak penuh kemarahan kepada Ouwyang Bouw.

Pemuda ini kembali tertawa bergelak, kemudian secara tiba-tiba menghentikan tawanya, memandang wanita itu dan berkata, "Madhula, engkau memang cantik sekali dan pantas diperebutkan oleh kaum pria. Heii, Rajid, apa katamu? Setelah kau melihat sendiri betapa isterimu dipeluk dan ditiduri oleh Sanghida, beranikah engkau mempertahankannya dan melawan Sanghida?"

Orang Nepal yang bermuka merah dan bertubuh gemuk, yang sejak tadi bermuka muram dan tidak ikut tertawa seperti yang lain, meloncat ke depan, memandang kepada dua orang yang telanjang itu, kemudian meludah ke bawah dan berkata, "Perbuatan mereka yang terkutuk ini sudah jelas! Anjing jantan ini harus dibunuh dan anjing betina ini pun tak patut dibiarkan hidup!"

"Ha-ha-ha, kalau begitu, kuberikan Sanghida kepadamu, Rajid!" kata Ouwyang Bouw.

Mendengar ucapan ini, orang Nepal yang gemuk itu mengeluarkan suara teriakan keras dan tubuhnya sudah cepat menerjang maju, mengirim pukulan dengan tangan terkepal ke arah kepala Sanghida yang telanjang. Biar pun tubuhnya gemuk, akan tetapi orang Nepal bermuka merah ini gerakannya amat cepat, menunjukkan bahwa dia memiliki kepandaian tinggi.

Akan tetapi, dengan tangan kiri masih menutupi bawah pusarnya, Sanghida mengelak dengan meloncat ke belakang. Gerakannya sigap sekali dan ketika Rajid menerjang lagi, Sanghida menangkis dengan lengan kanan. Tubuh Rajid terhuyung-huyung ke belakang dan ternyata bahwa dia kalah tenaga.

"Rajid... aku tak ingin bertempur denganmu...!" Sanghida berkata dan dia menangkis lagi, kini sambil menangkis, tangan kanannya berhasil menangkap pergelangan tangan Rajid dan sekali menariknya, tubuh Rajid terdorong ke depan dan hampir terbanting jatuh. Rajid makin marah, mukanya makin merah pada saat dia meloncat membalik sambil mencabut senjatanya yang berbentuk sebatang golok melengkung dan tajam sekali.

Li Hwa yang besembunyi di atas pohon, memandang dengan sepasang alis berkerut. Dia tidak merasa ngeri menonton pertempuran karena gadis ini sudah sangat terbiasa dengan pertempuran dan perang, apa lagi dia sendiri sudah sering kali menghadapi pertandingan. Akan tetapi yang membuat dia merasa ngeri dan canggung karena malu adalah melihat betapa Sanghida bertanding dengan tubuh telanjang bulat!

Selama hidupnya belum pernah dia melihat laki-laki telanjang dan kini dia melihat seorang laki-laki tinggi besar bertelanjang bulat dan berkelahi pula! Kalau saja mungkin, dia ingin menjauhkan pandang matanya dari tubuh bawah laki-laki telanjang itu, akan tetapi karena dia ingin pula melihat bagaimana kesudahan perkelahian itu, terpaksa dia menonton terus dan sedapat mungkin selalu menghindarkan pandang matanya dari bagian yang dianggap mendatangkan rasa malu luar biasa itu.

"Rajid... aku tidak mau bertanding melawanmu. Aku telah bersalah kepadamu, kau adalah sahabatku dan... dan Madhula..."`

"Tutup mulutmu!" Rajid membentak dan goloknya sudah menyambar lagi.

"Singgg...!"

Sinar menyilaukan mata dari golok itu agaknya tentu akan dapat membabat tubuh tinggi besar itu buntung menjadi dua kalau mengenai sasaran, akan tetapi Sanghida ternyata amat tangkasnya. Kini menghadapi penyerangan lawan yang memegang golok, biar pun tingkat kepandaiannya lebih tinggi, dia terpaksa harus mempergunakan kedua tangannya sehingga dia sama sekali tidak lagi dapat menutupi bagian tubuh bawahnya. Tentu saja hal ini mendatangkan penglihatan yang luar biasa lucu bagi para penonton pria, akan tetapi mendirikan bulu roma bagi Li Hwa!

"Rajid... maafkan aku...! Aku seorang laki-laki sejati, harus membela diri kalau diserang... dan kami... aku dan Madhula... kami melakukan hal itu tanpa kami sengaja..."

"Siuuutttt... plak! Plak!"

Sambil mengelak, Sanghida berhasil menampar lengan kanan Rajid sehingga sambaran golok menyeleweng dan tamparan ke dua mengenai pundak Rajid, membuat suami yang penuh cemburu dan kemarahan ini terhuyung pula.

"Sanghida…! Engkau atau aku yang harus mampus untuk mendapatkan Madhula!" Rajid membentak pula. "Kalau aku mati, kau boleh mengambil dia, kalau kau yang mati, dia harus kuhukum mampus pula!"

"Rajid...! Kau boleh membunuh aku, tapi jangan membunuh dia! Dia tak berdosa... seperti yang dikatakannya tadi, kami terkena racun perangsang... auuhhh...!" Tiba-tiba Sanghida terhuyung ke belakang dan Rajid menubruk ke depan, goloknya menyambar.

"Crapppp.... Aduuhhh...!"

Perut Sanghida terobek oleh golok, tubuhnya terjengkang dan darah muncrat keluar dari perut itu, diikuti oleh isi perut yang keluar dari luka lebar itu. Tubuh Sanghida berkelojotan, tetapi tidak lama karena Rajid telah membacokkan goloknya dua kali yang membuat leher lawannya putus!

Li Hwa melihat betapa Ouwyang Bouw tadi telah menyerang Sanghida dari jauh, dengan gerakan jari tangan dan tampak sinar merah kecil menyambar ke arah orang Nepal tinggi besar itu sehingga dia terhuyung lantas terkena bacokan golok Rajid. Tahulah Li Hwa bahwa memang Ouwyang Bouw sengaja ingin membunuh Sanghida dan mungkin sekali karena dia tidak suka mendengar rahasianya dibocorkan.

Li Hwa yang menjadi penonton tak diundang ini segera dapat menyimpulkan peristiwa itu. Jelas baginya bahwa memang agaknya semua ini sudah diatur oleh pemuda iblis itu.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner