PETUALANG ASMARA : JILID-32


"Apa engkau belum puas? Bukan hanya pakaianku saja yang membuat aku kelihatan tampan dan gagah, bahkan seluruh tubuhku pun tidak ada cacadnya! Nah, coba kau lihat baik-baik!" Pemuda yang sinting itu kini menanggalkan pakaiannya satu demi satu!

Tadinya Li Hwa mengira pemuda itu hanya hendak memamerkan bentuk tubuhnya yang memang tegap berotot. Akan tetapi matanya yang terbelalak itu kemudian dipejamkannya ketika tenyata bahwa pemuda itu menanggalkan seluruh pakaiannya, termasuk pakaian dalamnya sehingga pemuda itu berdiri telanjang bulat di depannya, hanya mengenakan sepatunya!

"Ha-ha-ha, engkau tidak tahan melihatku dan memejamkan mata? Bagus, kalau engkau tidak memejamkan mata, engkau tentu akan tergila-gila kepadaku!"

Dapat dibayangkan betapa ngeri dan jijik rasa hati Li Hwa menghadapi pemuda gila ini. Ketika sebelum dia memejamkan mata tadi dan melihat pemuda itu menanggalkan baju dalamnya, dia melihat dada yang telanjang, dan anehnya, begitu dia memejamkan mata, tampaklah dada telanjang dari Yuan de Gama! Lebih aneh lagi, muncul rasa rindu hatinya kepada Yuan, pemuda yang bersikap sopan santun kepadanya, menjadi kebalikan dari pemuda sinting ini. Tanpa disadarinya, dalam keadaan terancam seperti itu, dia kemudian membayangkan wajah Yuan dan hatinya menjeritkan nama pemuda asing itu!

Sambil tertawa-tawa Ouwyang Bouw mengenakan kembali pakaiannya lalu meninggalkan kamar setelah menyuruh beberapa orang penjaga melakukan penjagaan di luar kamar. Li Hwa ditinggalkan seorang diri di dalam kamar itu dan dia termenung, memutar otaknya mencari akal untuk dapat meloloskan diri dari tempat berbahaya ini.

Satu-satunya harapannya adalah gurunya. Gurunya sudah tahu akan bokor emas, sudah menerima laporan pengawal Tio Hok Gwan dan gurunya tahu pula bahwa dia sendirian melakukan penyelidikan. Gurunya tentu mengirim orang-orang pandai, mungkin Tio Hok Gwan sendiri, mungkin pula Pendekar Sakti Cia Keng Hong, untuk menyerbu Pulau Ular.

Dan saat itulah yang ditunggu-tunggunya, karena hanya itu yang mungkin akan memberi harapan baginya untuk lolos dari bahaya ini. Oleh karena itu Li Hwa juga tidak mengambil keputusan pendek sesudah dengan jelas dia melihat gelagat bahwa Ouwyang Bouw tak akan memperkosanya, melainkan hanya akan membujuknya supaya dia suka tunduk dan menyerahkan diri.

Kini dia dipindahkan ke dalam sebuah kamar tahanan. Belenggu kaki dan tangannya telah dilepaskan, akan tetapi sepasang kakinya diikat dengan rantai baja yang panjang, yang memungkinkan untuk bergerak dan berjalan di dalam kamar tahanan itu, akan tetapi tidak memungkinkan dia untuk melarikan diri. Juga kedua tangannya dibelenggu dengan rantai baja yang panjang.

Hanya rantai itu yang menyatakan bahwa dia menjadi tawanan. Akan tetapi selain dari rantai itu dia diperlakukan dengan amat baik, diberi kesempatan untuk mandi dan makan, bahkan para penjaga bersikap hormat kepadanya sebab dia dianggap sebagai calon isteri Ouwyang Bouw!

Sampai berhari-hari lamanya Li Hwa tidak mau tunduk dan selalu menyambut kedatangan Ouwyang Bouw ke kamarnya dengan caci maki. Selain ini, dia berlaku hati-hati sekali, selalu mempergunakan jarum peraknya untuk memeriksa setiap makanan dan minuman agar jangan sampai dia dipengaruhi racun.

Akan tetapi, ternyata bahwa usaha Ouwyang Bouw untuk menguasainya belum sampai sejauh itu. Ouwyang Bouw menghendaki agar wanita yang telah membuatnya tergila-gila itu benar-benar tunduk, bukan karena terpaksa akibat dipengaruhi racun atau karena dia perkosa. Dan kesabaran seorang glia seperti dia memang luar biasa sekali…..

********************

Tiga hari kemudian sejak Li Hwa ditangkap, sebuah perahu kecil meluncur cepat menuju ke Pulau Ular dari daratan Teluk Pohai. Di dalam perahu itu hanya ada seorang pemuda berkepala gundul yang bukan lain adalah Kun Liong.

Pemuda ini mulai dengan penyelidikannya untuk membantu Li Hwa yang dikabarkan telah terlebih dahulu melakukan penyelidikan. Kun Liong maklum betapa berbahayanya tempat tinggal orang-orang seperti Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong, karena itu dia sangat mengkhawatirkan keselamatan Li Hwa.

Dia mulai mencari Pulau Ular dan hari sudah malam ketika dia melihat bayangan pulau yang bentuknya seperti ular melingkar di atas batok di sebelah selatan itu, persis seperti penjelasan dan gambaran yang didapatkannya dari keterangan Cia Keng Hong sebelum dia berangkat.

Tiba-tiba Kun Liong terkejut. Hampir perahunya terguling ketika ombak mendadak datang bergelombang! Dan malam itu mendadak saja menjadi gelap, bintang-bintang yang tadi menghias angkasa kini lenyap tertutup awan hitam.

Wah, celaka! Benarkah datuk-datuk kaum sesat itu menggunakan ilmu hitam seperti yang didongengkan orang, sehingga sesudah perahunya mendekati Pulau Ular dia langsung diserang badai? Ilmu hitam atau bukan, dia harus berjuang melawan ombak yang datang bergulung-gulung!

Dia memegang dayungnya dan sejenak pemuda yang biasanya tabah ini menjadi bingung juga. Pulau tadi tak tampak lagi, tidak tampak pula dratan. Di sekelilingnya air menghitam dengan suara menderu-deru. Perahunya diombang-ambingkan ombak, arahnya tak tentu lagi.

Betapa pun tabahnya, Kun Liong menjadi gelisah. Selama ini, pengalamannya dengan air hanya di sepanjang Sungai Huang-ho, dan betapa pun lebar Sungai Huang-ho, tetapi bila dibandingkan dengan laut ini bukan apa-apa. Bagaimana kalau perahunya terguling? Dulu dia pernah hanyut di sungai. Baru hanyut di sungai saja sudah sulit sekali baginya untuk berenang ke tepi. Apa lagi sampai hanyut di laut!

Tiba-tiba saja tampak olehnya sinar api di depan. Terlambat dia mengetahui bahwa sinar itu adalah sinar lampu yang bergantungan pada sebuah perahu yang besar. Tahu-tahu di depannya muncul tubuh perahu besar sekali, seperti iblis lautan hendak melawannya.

"Heiii... di sini ada perahu.. minggir...!" Kun Liong menggunakan suara yang didorong oleh tenaga khikang yang amat kuat untuk berseru.

Suaranya melengking tinggi melawan gemuruh air laut yang bergelombang. Akan tetapi terlambat. Terdengar suara keras, perahunya pecah terguling dan dia sendiri terlempar ke dalam air!

"Heiiiiii...! Tolooongg, auuupp...!" Kun Liong gelagapan ketika mulutnya yang menjerit itu kemasukan air yang rasanya sampai pahit saking asinnya!

Dia menggerakkan kaki tangan dan terasa betapa tubuhnya ringan sekali sehingga lebih mudah baginya untuk mengambang di permukaan air. Ini pengalaman yang baru baginya karena dia tidak tahu bahwa air yang asin membuat tubuhnya lebih ringan, tidak seperti di air tawar.

Teriakan-teriakan Kun Liong yang amat nyaring tadi akibat didorong oleh tenaga khikang ternyata ada juga gunanya karena terdengar oleh mereka yang berada di atas perahu. Segera tampak beberapa sosok bayangan orang di langkan pinggir perahu, menjenguk ke bawah dan ada suara orang dalam bahasa asing. Kemudian tampak segulung tambang dilontarkan ke bawah.

Melihat ini, Kun Liong cepat menyambar tambang itu dan dengan gembira dia merasa betapa tubuhnya diseret, kemudian ditarik naik ke tubuh perahu. Beberapa pasang tangan membantunya naik.

Kun Liong duduk terengah-engah di atas dek perahu, tidak peduli kepada beberapa orang yang datang membawa lampu perahu yang bergoyang-goyang. Dia mengerahkan hawa di perut untuk mendorong keluar air laut yang membuat perutnya membusung. Beberapa kali dia muntahkan air laut sampai perutnya kosong kembali. Terlalu kosong sampai lapar! Barulah dia memperhatikan muka orang-orang yang merubungnya.

Muka-muka yang asing dan berkulit putih. Mata yang biru! Akan tetapi pandang matanya terpikat dan melekat pada sepasang mata biru indah yang... bukan main! Bulu matanya panjang, alisnya melengkung dan hidungnya mancung bukan main di atas sepasang bibir yang... bukan main! Baru sekarang Kun Liong menyaksikan kecantikan seorang wanita yang hebat dan aneh dan... khas. Tahulah dia bahwa wanita muda yang memandangnya dengan mata setengah terpejam itu adalah seorang wanita yang sebangsa dengan Yuan de Gama, akan tetapi cantik bukan main.

"Engkau siapakah? Kenapa malam-malam begini naik perahu kecil seorang diri? Apakah kau seorang nelayan?" Bibir yang merah manis itu menghujankan pertanyaan.

Kun Liong tidak dapat menjawab, terpesona oleh gerak bibir manis yang kadang-kadang memperlihatkan kilauan gigi putih tertimpa sinar lampu merah.

"Ahh, apakah bahasaku tidak jelas? Aku baru saja belajar bahasa pribumi, maafkan kalau kaku..."

"Aku mengerti semua, Nona. Bahasamu baik sekali... terima kasih... aku bukan nelayan, aku... aku sedang melancong..."

"Ha-ha-ha, melancong pada malam hari di atas perahu kecil di tengah laut! Bukan main anehnya bangsa pribumi!" Terdengar suara parau besar dan suara tertawa itu bergelak seperti gelora ombak gemuruh tidak terkekang.

Kun Liong menoleh dan melihat seorang laki-laki berusia kurang lebih lima puluh tahun, bertubuh tinggi besar dan berwajah tampan, namun rambutnya yang keemasan sudah mulai memutih di atas kedua telinga. Kumisnya tebal melintang di atas mulut dan sinar matanya lembut.

Mendadak terdengar seruan-seruan keras dalam bahasa asing, disusul jeritan beberapa orang wanita muda yang berlari mendatangi. Keadaan di atas perahu besar itu menjadi kacau balau. Dara jelita tadi bersama teman-teman perempuan lainnya lantas berlarian memasuki bilik perahu, sedangkan laki-laki setengah tua yang gagah tadi mengeluarkan suara memerintah. Anak buah perahu yang terdiri dari belasan orang laki-laki asing yang berkaos loreng, sibuk hilir-mudik di atas perahu.

Kun Liong merasa heran. Kini kesehatannya sudah pulih kembali dan dia bangkit berdiri. Sekarang keadaan di atas perahu itu terang benderang karena para anak buah perahu menyalakan banyak lampu yang digantungkan pada sekeliling perahu.

Kiranya di dekat perahu besar itu sekarang nampak muncul enam buah perahu kecil yang seperti iblis serentak bermunculan dari dalam gelap, dan di atas perahu-perahu kecil itu berdiri orang-orang yang memegang senjata golok dan pedang. Di setiap perahu terdapat tiga orang sehingga semuanya ada delapan belas orang.

Setelah perahu-perahu kecil itu menempel pada perahu besar seperti sekumpulan lintah, tampak tali-tali melayang dari bawah, pada ujungnya terdapat kaitan dan orang-orang itu segera memanjat ke atas, bahkan ada yang langsung meloncat dari perahu kecil ke atas perahu besar dengan gerakan ringan sekali.

"Hemmm, bajak-bajak laut," pikir Kun Liong dan cepat dia melangkah maju.

Cepat sekali para bajak itu sudah berada di atas perahu besar dan terjadilah perkelahian seru antara para bajak laut dan anak buah perahu. Kakek tua gagah perkasa itu pun ikut berkelahi. Dengan kedua tangan terkepal dia mengamuk.

Seorang bajak menyerangnya dengan golok. Kakek asing itu mengelak, akan tetapi bahu kirinya terserempet golok sehingga terluka. Tanpa pedulikan lukanya, kakek itu langsung menghantam dada bajak itu dengan kepalan tangan kanannya, sehingga membuat bajak itu terjengkang dan terbatuk-batuk.

Bajak ke dua sudah datang menyerbu, pedangnya diputar-putar di atas kepala, langsung membacok. Akan tetapi tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku karena dari belakang dia sudah ditotok oleh Kun Liong. Pemuda ini lalu menarik lengan bajak itu dan sekali dia mengayun tangan, tubuh bajak itu terlempar ke luar perahu besar!

Kun Liong tidak pedulikan seruan girang kakek berkumis melintang yang agaknya menjadi pemilik perahu besar itu, dia lantas menyerbu ke depan. Seorang bajak menyambutnya dengan bacokan golok. Kun Liong miringkan tubuhnya, kemudian menampar lengan yang memegang golok.

Orang itu berteriak kesakitan, goloknya terlepas, akan tetapi dia nekat dan menerjang Kun Liong dengan tangan kanan mencengkeram ke arah leher. Kun Liong menyambut tangan itu dengan tangkisan, kemudian kakinya menendang.

"Desss!" Tubuh bajak ini pun terlempar keluar dari perahu besar.

Kun Liong tahu bahwa pada saat itu pula ada golok menusuk dari belakang mengarah ke punggungnya.

"Saudara muda, hati-hati belakangmu...!" Kakek itu berseru.

Akan tetapi Kun Liong yang sudah menangkap seorang bajak lain, tidak mempedulikan tusukan itu tapi mengerahkan sinkang-nya. Ujung golok itu tepat mengenai punggungnya, merobek bajunya sampai terbuka lebar, akan tetapi pada waktu mengenai kulitnya yang terlindung sinkang dari dalam, golok itu langsung meleset. Kun Liong melemparkan orang yang ditangkapnya, membalik dan tendangannya membuat orang yang menusuknya tadi terjungkal, kemudian dia pun melemparkan orang ini ke luar perahu.

Amukan Kun Liong membuat para bajak yang terdiri dari orang Nepal berambut panjang dan orang-orang Han yang kasar itu menjadi jeri. Mereka bersuit panjang dan seorang demi seorang cepat melompat keluar dari perahu besar.

Para anak buah perahu besar menjenguk ke luar, melihat betapa para bajak yang pandai berenang itu saling bantu menyelamatkan diri dengan perahu-perahu kecil mereka dan sebentar saja perahu-perahu itu lenyap ditelan kegelapan malam.

Kun Liong dirubung oleh semua orang. Kakek asing itu memerintahkan supaya perahunya mengambil arah ke utara, menjauhi sebuah pulau yang nampak pada sore tadi, karena dia menduga bahwa agaknya bajak-bajak itu datang dari pulau itu, daratan yang terdekat dari situ.

Kun Liong menghapus peluh dan air laut yang membasahi muka, leher dan kepalanya yang gundul. Dia dihujani pertanyaan oleh orang-orang yang merubungnya, akan tetapi karena pertanyaan itu ditujukan dalam bahasa asing, dia hanya tersenyum, tidak tahu apa yang mereka maksudkan.

"Kalian telah menolong aku dari laut, sudah semestinya aku membantu kalian mengusir bajak-bajak jahat itu," katanya berkali-kali karena dia menduga bahwa agaknya mereka itu menyatakan terima kasih mereka.

Makin bingunglah Kun Liong ketika muncul dara jelita bermata biru tadi bersama dengan tiga orang wanita muda lain yang agaknya adalah pelayan-pelayannya. Tiga orang wanita muda yang rambutnya memakai kerudung, wajahnya manis-manis, sikapnya genit-genit itu pun menghujaninya dengan pertanyaan, senyuman serta kerling mata penuh kagum, membuat Kun Liong tersenyum meringis dengan kemalu-maluan sambil memandang ke arah dara jelita yang semenjak tadi memandangnya dengan senyum dan pandang mata kagum.

"Ahhh, ternyata engkau sebangsa pendekar yang sering kudengar diceritakan kakakku. Dan engkau memang hebat, pendekar gundul...!" kata dara jelita itu.

Kun Liong tersenyum-senyum sambil menggerak-gerakkan kepalanya yang gundul. Baru sekarang ini gundulnya tidak dipergunakan orang untuk mengejek atau dianggap pendeta, melainkan dijadikan sebutan pendekar gundul!

"Aaahh, aku... aku biasa saja, Nona...!" katanya agak gagap karena sinar mata biru itu benar-benar mempesona.

"Heiiii, jangan dirubung seperti ini! Minggir, minggir!" Tiba-tiba kakek asing itu datang dan sambil tertawa girang dia menyodorkan tangannya kepada Kun Liong.

Tentu saja Kun Liong tidak mengerti dan memandang tangan yang disodorkan, bahkan otomatis sinkang-nya bergerak ke arah perut dan dada karena dia mengira bahwa kakek itu akan menyerangnya!

Sebetulnya kakek asing itu mengajak ia bersalaman, tanda menghormat bagi bangsanya. Akan tetapi persangkaan Kun Liong lain lagi. Melihat tangan yang besar dan terlihat kuat itu diacungkan miring seperti hendak menyodoknya, otomatis ia ‘memasang’ sinkang-nya melindungi perut dan memandang kakek itu dengan sinar mata tajam penuh selidik!

"Perkenalkan, saya adalah Richardo de Gama. Siapakah nama Tuan Muda yang gagah perkasa dan yang telah menolong dan menyelamatkan kami dari serbuan bajak laut?"

Mendengar ucapan yang kaku akan tetapi jelas itu barulah Kun Liong mengerti bahwa dia salah sangka, maka ketika tangan itu menjabat tangannya, dan mengguncang-guncang, dia diam saja tidak menarik tangannya dan balas tersenyum ramah. Apa lagi mendengar nama itu, teringatlah dia akan Yuan de Gama!

"Nama saya Yap Kun Liong dan harap Tuan jangan bicarakan tentang pertolongan. Para bajak itu memang jahat dan pantas diusir. Mendengar nama Tuan, apakah Tuan masih ada hubungan dengan Yuan de Gama?"

"Yuan...?" Terdengar seruan halus dan ternyata dara permata biru tadi yang berseru dan memegang lengan Kun Liong, memandangnya penuh perhatian. "Yuan adalah kakakku. Apakah engkau kenal dengan Yuan?"

Berseri wajah Kun Liong. Kiranya dara jelita ini adalah adik perempuan Yuan de Gama. Dengan mata terbelalak dan terpesona menatap wajah cantik dan mata biru itu, dia lalu menggumam, "Engkau... Adik Yuan?"

Gadis itu mengangguk. Manis sekali ketika tersenyum lebar memperlihatkan deretan gigi putih mengkilap. "Aku Yuanita... Yuanita de Gama."

"Yuanita...!"

Nama yang terdengar aneh, lucu dan indah bagi telinga Kun Liong, dan pada waktu dia menyebut nama itu, logat lidahnya juga terdengar aneh dan lucu bagi Yuanita, lucu akan tetapi menyenangkan sehingga dia tertawa geli.

"Aku sudah pernah bertemu dan berkenalan dengan dia, seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa," Kun Liong melanjutkan kata-katanya dengan tulus karena memang demikianlah dia menyaksikan sikap Yuan de Gama yang pernah bertanding dengannya dalam beberapa jurus dan pernah dilihatnya ketika pemuda itu menyelamatkan Li Hwa.

"Ha-ha-ha! Kiranya sahabat Yuan! Pantas saja begini hebat. Tuan Muda, ternyata engkau merupakan seorang tamu kehormatan, seorang sahabat baik kami. Terima kasih kepada Tuhan yang telah mempertemukan kami dengan engkau!"

"Ayah, pakaian Yap-taihiap (Pendekar Besar Yap) basah semua dan robek-robek. Sudah selayaknya seorang tamu agung disambut dengan hormat dan baik," kata Yuanita.

"Ha-ha-ha! Saking girang hatiku, aku sampai lupa. Terserah kepadamu!" kata kakek itu.

Yuanita segera memberi aba-aba kepada tiga orang pelayannya. Tiga orang gadis yang genit-genit itu tertawa, lalu mereka memegang kedua lengan Kun Liong dan menarik-narik pemuda itu memasuki ruangan perahu di bawah.

"Eh-eh... apa ini...? Ke mana...? Eh, mengapa menyeret saya...?" Kun Liong membantah, akan tetapi dia pun tidak tega untuk mempergunakan kekerasan, maka dia membiarkan dirinya ditarik-tarik oleh tiga orang pelayan muda itu, diikuti suara ketawa bergelak dari Richardo de Gama dan anak buahnya serta senyum lebar yang manis dari Yuanita.

Kun Long yang tersenyum-senyum masam karena malu dan bingung itu ditarik oleh tiga orang pelayan wanita muda dan genit-genit yang tertawa-tawa itu ke dalam sebuah kamar di perahu itu.

"Ehh, kalian ini mau apa?" Berkali-kali Kun Liong bertanya.

Akan tetapi tiga orang wanita itu mengeluarkan ucapan dalam bahasa asing yang sama sekali tidak dimengerti oleh Kun Liong. Mereka menunjuk-nunjuk ke sebuah tong kayu besar bundar yang terisi air jernih.

Karena tidak mengerti, Kun Liong menghampiri tong air itu dan menjenguk ke dalamnya. Airnya jernih sekali, akan tetapi tidak ada apa-apanya yang aneh, maka dia tersenyum menyeringai, memandang tiga orang gadis pelayan itu berganti-ganti lalu dia mengangkat pundaknya.

"Ini air... dalam tong, airnya jernih sekali, tapi ada apa?" Kun Liong bertanya.

Tiga orang itu saling pandang, lalu saling bicara ramai dalam bahasa yang bagi telinga Kun Liong seperti kicau burung yang tidak karuan artinya. Kemudian seorang di antara mereka, yang agaknya sudah dapat ‘memungut’ sepatah dua patah kata dalam bahasa pribumi, menunjuk ke arah air di tong air itu sambil berkata kaku,

"Mandi...! Mandi...!"

"Mandi...!" Dua orang gadis lainnya bersorak dan menunjuk-nunjuk ke tong air.

Kun Liong terbelalak, "Mandi...?" Dia bertanya dan memandang bingung.

Jadi dia disuruh mandi? Dipandangnya pakaiannya yang basah kuyup dan robek, dan hidungnya memang mencium bau amis air laut. Dilihatnya seorang di antara tiga pelayan wanita muda itu menuangkan sesuatu dari dalam botol kecil dan terciumlah bau wangi sekali ketika isi botol itu memasuki air di tong.

"Mandi...!" Tiga orang dara itu berkali-kali mendesaknya.

Kun Liong semakin bingung. Ahh, lebih baik diturut saja kehendak tiga siluman cantik ini, pikirnya, kalau tidak tentu mereka tiada akan sudahnya mengganggu dirinya.

"Baiklah. Aku akan mandi. Nah, kalian keluarlah dari kamar ini!" Telunjuknya menuding ke arah pintu kamar itu.

Tiga orang gadis itu saling pandang dan terlihat bingung. Mereka tampak menjadi hilang sabar dan mendekati Kun Liong, mendorong-dorongnya dengan halus sambil menunjuk-nunjuk ke arah tong air dan bibir mereka berkata dengan kaku dan sukar,

"Mandi... mandi... mandi...!"

Celaka tiga belas, pikir Kun Liong. Kalau dia menolak dan memaksa diri lari keluar untuk membebaskan diri dari desakan tiga orang gadis itu, tentu dia akan menghadapi keadaan yang membuatnya tidak enak dan canggung. Betapa pun aneh dan asingnya, jelas bahwa pihak tuan rumah bersikap hormat dan baik kepadanya. Agaknya karena mereka tadi melihat pakaiannya kotor basah dan robek, dia dipersilakan mandi lebih dulu. Akan tetapi mana mungkin mandi dijaga oleh tiga orang gadis pelayan yang cantik-cantik, genit-genit, dan cerewet akan tetapi tidak dia mengerti ucapannya itu?

"Baiklah! Mandi ya mandi...!" Akhirnya dia berkata kesal dan serta merta dia meloncat ke dalam tong air!

"Byuuurrr...!" Air itu sungguh sejuk menyegarkan dan berbau harum!

Bagaikan induk-induk ayam berkotek, petok-petok dengan sikap yang sibuk sekali, ketiga orang gadis pelayan itu mengelilingi tong air. Mereka berteriak-teriak tanpa dimengerti oleh Kun Liong, kemudian seorang di antara mereka agaknya ingat akan hafalannya dan berkata,

"Pakaian... pakaian...!"

"Hehh? Apa? Pakaian...?" Kun Liong tidak mengerti dan tiba-tiba tiga orang gadis pelayan itu menyerbunya, menarik-narik baju dan celananya dengan paksa untuk menanggalkan pakaiannya!

"Heiii... eh-ehh, heeiiittt... aduh bagaimana ini...?" Kun Liong berteriak-teriak, akan tetapi tiga orang wanita muda itu tertawa-tawa dan tak mau melepaskan lagi pakaiannya hingga akhirnya baju serta celananya terlepas dan ditarik lolos dari tubuhnya.

"Wah, kalian rusuh...! Kailan melanggar susila...! Wah, bagaimana ini...?"

Kun Liong yang kini telanjang bulat itu merendam tubuh di dalam air dan menggunakan kedua tangannya untuk menutupi bawah pusar. Hanya kepalanya yang gundul itu masih kelihatan di atas permukaan air. Kepalanya menjadi merah mengikuti warna mukanya, merah karena jengah, malu, dan juga bingung dan ngeri!

Akan tetapi tiga orang gadis pelayan itu tidak mempedulikan semua protesannya. Mereka melemparkan pakaian kotor itu di sudut kamar, kemudian dengan senyum manis mereka menyerbu Kun Liong dan mulailah mereka memandikan pemuda itu. Ada yang menyabuni tubuhnya, ada yang menggosok-gosok kepala gundulnya, dan ada yang menggunakan air harum itu menyiram mukanya. Sabun itu pun wangi sekali.

Kini mengertilah Kun Liong bahwa mereka itu ternyata benar-benar sedang memandikan dirinya! Digosok-gosok dan dipijit-pijit pundaknya, terasa nyaman sekali sehingga dia tidak meronta lagi. Dia hanya bersandar pada pinggiran tong itu dengan kedua tangan masih melindungi anggota rahasianya dan matanya merem melek, bukan karena keenakan saja melainkan karena kadang-kadang terasa pedas kemasukan air sabun.

Mulutnya mengomel panjang pendek, sungguh pun bukan omelan marah lagi. "Ihh, kalian ini apa-apaan sih? Apakah aku ini dianggap bayi? Mentang-mentang kepalaku gundul... masa ada bayi sebegini besarnya? Sudahlah, sudah... aku bisa mandi sendiri!"

Akan tetapi tentu saja tiga orang gadis itu tak mengerti ucapannya dan terus memandikan Kun Liong sambil bicara sendiri dalam bahasa mereka, tersenyum-senyum dan kadang-kadang, seorang di antara mereka yang termanis dan tergenit, menggunakan telunjuk dan ibu jari tangannya mencubit paha Kun Liong.

Menghadapi tiga dara yang berwajah cantik manis, bersikap lincah dan genit, mencium bau harum dari air tong, sabun, dan bau harum yang keluar dari rambut dan pakaian tiga orang pelayan itu, merasakan betapa jari-jari tangan yang amat halus itu memijit-mijitnya dengan mesra, mendengar suara mereka bersenda-gurau meski pun dia tidak mengerti artinya, semua ini mendatangkan perasaan aneh pada dirinya.

Debar jantungnya semakin keras, menggedor-gedor seperti akan memecahkan dadanya, tubuhnya pun panas dingin dan tegang. Keadaan dirinya ini membuat Kun Liong menjadi makin bingung dan akhirnya dia maklum bahwa kalau tiga orang pelayan itu tidak segera pergi, dia tak akan kuat bertahan dan entah akan apa jadinya!

"Sudah! Sudah... cukuplah! Aku dapat mandi sendiri. Pergilah kalian, pergilah...!" katanya sambil menggunakan sebelah tangan menepuk-nepuk air sehingga air memercik ke arah muka tiga orang pelayan itu, sedangkan tangan yang sebelah lagi tetap digunakan untuk menutupi tubuh bawah.

Karena Kun Liong mempergunakan sinkang, maka tepukannya itu mengandung tenaga kuat sekali sehingga percikan air itu terasa pedas dan panas ketika mengenai muka tiga orang pelayan itu. Mereka menjerit dan mundur kemudian bicara dalam bahasa mereka dan seorang di antara mereka mengeluarkan setumpuk pakaian yang ditaruhnya di atas bangku.

"Keluar! Keluarlah kalian!" Kun Liong berkata sambil menuding ke arah pintu.

Tiga orang pelayan itu mengangkat pundak, menggerakkan kepala untuk memindahkan gumpalan rambut yang terurai itu ke belakang, lalu sambil tersenyum dan tertawa-tawa mereka keluar dari kamar itu.

Bukan main lega hati Kun Liong. Cepat sekali, takut kalau mereka kembali, dia meloncat keluar dari tong air. menyambar handuk dan menyusuti tubuhnya yang basah, kemudian mencari-cari pakaiannya. Celaka, pakaiannya sudah tidak ada lagi, tentu tadi diambil oleh gadis-gadis itu!

Karena takut mereka itu kembali sebelum tubuhnya yang telanjang itu tertutup pakaian, dia segera menyambar pakaian yang ditinggalkan oleh mereka di atas bangku. Ternyata pakaian itu adalah sepotong celana dan sepotong baju yang bersih dan amat aneh karena selain jubah berlengan panjang terdapat pula baju berlengan pendek dan kain pelindung atau pembungkus leher. Terpaksa dia memakai pakaian itu dan diam-diam dia mengeluh ketika dia melihat tubuh bawahnya yang sudah bercelana.

Celana itu potongannya sempit sekali sehingga biar pun seluruh pakaiannya tertutup, dia merasa seperti masih telanjang! Betapa pun juga, ini masih jauh lebih baik dari pada tidak berpakaian sama sekali. Maka, sambil mengingat-ingat cara Yuan de Gama berpakaian, dia lalu memakai rompi dan jubahnya, sedangkan pelindung leher itu hanya dia kalungkan saja di lehernya.

Di ujung kamar itu terdapat sebuah cermin. Ketika Kun Liong melihat bayangannya sendiri di cermin itu, dia menyeringai. Betapa lucu keadaannya!

Daun pintu kamar terbuka, dan terdengar suara halus, "Sudah selesaikah Taihiap mandi? Kami telah menunggu-nunggu Taihiap untuk makan malam."

Kun Liong cepat membalikkan tubuh dan memandang Yuanita. Sejenak dia terpesona. Dara ini agaknya sudah bertukar pakaian. Pakaian dari sutera biru yang panjang sampai ke kaki, rambutnya disanggul indah dan dihias permata. Teringatlah dia akan keadaannya sendiri dan tiba-tiba mukanya telah menjadi merah sekali. Dara ini demikian cantik jelita, sedangkan dia seperti badut!

"Maaf... aku... aku tentu kelihatan seperti seorang badut wayang!" Akhirnya dia berkata ketika dia melihat betapa dara itu pun memperhatikannya.

Yuanita tertawa. Tertawa dengan bebas lepas, tidak malu-malu atau menutupi mulut yang tertawa dengan tangan seperti kebiasaan dara-dara pribumi. Namun anehnya, kebebasan dara ini tidak membayangkan kekasaran, padahal tertawa seperti itu kalau dilakukan oleh seorang gadis pribumi, tentu akan kelihatan kasar dan tidak sopan!

Kun Liong menjadi semakin kikuk, mengira bahwa dara itu tentu mentertawakan keadaan pakaiannya yang lucu dan tidak cocok untuknya itu. "Aku seperti badut dan... dan Nona... begitu cantik seperti bidadari...!"

Yuanita menghentikan tawanya dan kini dia memandang kepada pemuda itu dengan sinar mata penuh kagum. "Yap-taihiap, engkau mengingatkan aku kepada seorang panglima muda di Thian-cin yang menjadi utusan Kaisar menemui Ayah. Aku amat kagum kepada panglima muda itu, tampan, gagah perkasa dan... seperti engkau. Hanya bedanya, dia angkuh sedangkan engkau begini rendah hati. Hal ini membuat aku merasa makin kagum kepadamu, Taihiap. Engkau sudah memperlihatkan kegagahan, menolong kami, engkau begini gagah dan tampan akan tetapi engkau bahkan merendahkan diri dan memuji-muji orang lain."

Kata-kata ini membuat Kun Liong makin merasa canggung. "Ahhh, aku... aku orang biasa saja... seorang gundul yang..."

Kembali Yuanita tertawa dan melangkah maju, menggandeng lengan Kun Liong sambil berkata, "Sudahlah, kalau engkau merendah terus seperti itu, aku bisa menjadi bersedih dan menangis! Ayah sudah menanti kita di ruangan makan. Hayolah!"

Jantung Kun Liong berdebar tidak karuan. Sikap dara ini begini bebas. Mana ada seorang dara jelita yang baru saja dikenalnya telah berani menggandeng-gandengnya seperti itu. Lengan mereka saling bergandengan, pada saat berjalan kadang-kadang si pinggul yang meliuk-liuk itu menyentuh pahanya.

Ketika mereka memasuki ruangan di mana tampak Richardo de Gama sedang duduk menghadapi meja besar, Kun Liong hendak merenggut tangannya. Apa akan kata ayah dara itu apa bila melihat mereka bergandengan tangan seperti itu? Akan tetapi agaknya Yuanita merasa akan gerakannya, maka dara itu menggandeng lebih erat lagi! Hal ini membuat Kun Liong khawatir sekali dan dia memandang ke arah kakek asing itu dengan bingung.

Akan tetapi Richardo segera bangkit menyambutnya dengan tertawa lebar dan wajahnya berseri-seri. "Aahhh... Yap Kun Liong-taihiap, engkau sudah berganti pakaian kering? Kau gagah sekali. Silakan duduk dan mari kita makan bersama."

Yuanita melepaskan tangannya dan berkata kepada ayahnya, sengaja berbicara dalam bahasa pribumi supaya tamunya mengerti, "Ayah, Taihiap terlalu merendahkan diri, bikin orang penasaran saja!"

"Ha-ha-ha-ha, demikianlah sikap seorang pendekar sejati dari negeri ini, Anakku! Dalam bicaranya merendah sampai tidak kelihatan, akan tetapi sepak terjangnya menonjol tinggi penuh kegagahan."

Kun Liong duduk bersama ayah dan anak itu dan kembali dia merasa kikuk sekali ketika harus makan dari piring dan menggunakan garpu, pisau dan sendok. Sambil tertawa-tawa Yuanita mengajarinya, akan tetapi karena tetap kikuk sekali akhirnya Richardo menyuruh pelayan mengambil sepasang sumpit. Barulah lega hati Kun Liong dan dia dapat makan seperti yang dikehendakinya.

Mereka makan sambil bercakap-cakap dan dalam pembicaraan ini Kun Liong mendengar bahwa ternyata Richardo de Gama adalah pemimpin rombongan saudagar yang hendak berdagang di Tiongkok. Malah setelah pemberontakan yang dibantu oleh beberapa orang asing, hal yang tidak disetujui Richardo itu gagal, Richardo sendiri kemudian mengajukan permohonan kepada Kaisar menemui pejabat, dan akhirnya dapat bicara dengan utusan Kaisar sendiri serta memperoleh ijin untuk berdagang di pantai Teluk Pohai.

"Kami sekarang sedang mencari Kapal Kuda Terbang yang telah disewa oleh rombongan Legaspi Selado," kakek itu melanjutkan.

"Yang dipimpin oleh Yuan de Gama?" Kun Liong bertanya.

Kakek itu menghela napas. "Benar dan itulah kesalahan kami. Kami sudah menyewakan kapal itu kepada rombongan Selado yang ternyata amat jahat sehingga anakku Yuan ikut pula terbawa-bawa dan terseret dalam petualangan Legaspi Selado. Mendengar betapa Legaspi Selado sudah bersekutu dengan pemberontak, aku segera menyusul ke sini dan hendak membatalkan kontrak persewaan Kapal Kuda Terbang itu karena telah digunakan untuk pekerjaan buruk."

"Siapakah sebenarnya Legaspi Selado yang berilmu tinggi itu?" Kun Liong bertanya lagi.

Sebetuinya dia adalah bekas seorang jenderal yang telah dipecat oleh pemerintah karena perbuatannya yang kotor dan berkhianat. Sedangkan anak-anak buahnya itu pun ternyata adalah orang-orang jahat yang menjadi buruan pemerintah di negara kami. Anakku Yuan de Gama terpaksa terlibat karena selain dia mewakili aku menjadi kapten kapal, juga dia menjadi murid Legaspi Selado."

Kun Liong mengangguk-angguk dan sekarang mengertilah dia mengapa seorang pemuda sebaik Yuan de Gama sampai membantu orang jahat seperti Legaspi Selado kakek botak yang lihai itu. "Akan tetapi persekutuan pemberontak itu telah dihancurkan, tentu Legaspi Selado tidak akan menyusahkan Yuan lagi."

Kakek itu mengelus jenggotnya. "Hemm... siapa yang tahu isi hati orang seperti Legaspi Selado? Selama dia masih menyewa Kapal Kuda Terbang, maka Yuan akan terus terikat. Sebagai kapten kapal, tentu Yuan tidak akan dapat meninggalkan kapalnya dan apa pun yang dilakukan oleh Legaspi Selado, berarti Yuan akan ikut terseret."

Setelah makan mereka bercakap-cakap dan Kun Liong merasa makin suka kepada kakek yang luas pengetahuannya itu, sebaliknya Richardo juga kagum kepada Kun Liong yang berwajah jujur dan polos, sepolos kepalanya yang gundul! Mereka bercakap-cakap di dek perahu itu. Ketika Yuanita muncul, gadis itu berkata,

"Ahh, kalian berdua bercakap-cakap sejak tadi tiada sudahnya. Ayah, biasanya Ayah tidak berani terlalu lama terkena angin malam yang membuat Ayah sakit." Dengan gaya manja gadis itu merangkul leher ayahnya.

Richardo tertawa, kemudian bangkit berdiri. "Wah, asyik benar bicara dengan Yap-taihiap, sampai aku lupa waktu. Yap-taihiap, aku hendak mengaso dahulu, biarlah Yuanita yang menemanimu bercakap-cakap." Orang tua itu lalu meninggalkan dek dan bangku tempat duduknya kini diduduki oleh Yuanita.

Berdebar jantung Kun Liong menyaksikan kebebasan kedua orang ayah dan anak itu. Baru sekarang dia melihat betapa seorang ayah meninggalkan anak gadisnya begitu saja untuk menemani seorang pemuda bercakap-cakap di dek yang sunyi, pada waktu malam hari lagi!

"Nona..."

Yuanita menoleh kepada Kun Liong dan memandang dengan senyum, akan tetapi alisnya berkerut ketika dia menegur pemuda itu, "Namaku Yuanita, dan setelah menjadi sahabat, harap jangan menyebut nona lagi kepadaku, Taihiap."

Kun Liong tersenyum. "Kau mau menang sendiri saja, Yuanita. Aku bukanlah pendekar besar tapi kau selalu menyebutku taihiap, sedangkan kau, seorang nona yang cantik dan kaya raya, lagi pula terpelajar dan pandai, begitu merendah minta disebut namanya saja. Di mana keadilan kalau begini? Kau pun sudah tahu bahwa namaku Kun Liong."

Yuanita tertawa dan memegang tangan pemuda itu. "Kau lucu dan baik sekali, Kun Liong. Aku sungguh merasa gembira dapat bersahabat denganmu. Sama sekali aku tak mengira bahwa di antara bangsa pribumi di negara ini terdapat seorang seperti engkau. Aku selalu membayangkan bahwa semua penduduk pribumi memandang rendah pada semua orang asing, menganggap semua orang asing sebangsa manusia biadab. Aku membayangkan bahwa semua orang yang disebut pendekar di negaramu adalah orang-orang kejam yang mudah memainkan pedang memenggal kepala orang dan mengirim kepala itu sebagai hadiah kepada keluarga musuhnya! Kiranya engkau sangat baik dan rendah hati, engkau seperti seorang kanak-kanak yang berhati tulus dan wajar..."

"Wah, karena kepalaku gundul kau menganggap aku kanak-kanak?" Kun Liong tertawa.

Yuanita juga tertawa. "Maaf, aku tahu kau bukan kanak-kanak lagi. Tiga orang pelayan itu menceritakan sikapmu pada waktu kau mandi..."

Kun Liong cepat menoleh ke kanan dan kiri. "Tiga orang wanita genit itu? Ihhh…, mereka membikin aku merasa ngeri sekali. Mengapa ada kebiasaan seaneh itu pada bangsamu, Yuanita?"

"Ah, mereka hanya pelayan-pelayan dan mereka sudah biasa melayani majikan dan para tamu pria yang manja."

"Aku pun tadinya mendengar kabar yang menyeramkan tentang bangsamu, bangsa kulit putih yang berambut berwarna dan bermata biru. Bahkan aku mendengar bahwa mereka itu adalah bangsa biadab yang senang makan daging manusia, sebangsa siluman yang berbahaya dan yang datang ke negeri kami hanya untuk menipu bangsa kami saja. Akan tetapi setelah bercakap-cakap dengan ayahmu, aku mendapat kenyataan bahwa ayahmu adalah seorang tua yang luas pengetahuannya, pandai dan bijaksana. Apa lagi melihat engkau..."

"Bagaimana?" Yuanita menyambung ketika Kun Liong tiba-tiba berhenti bicara. "Apakah aku seperti siluman berambut kuning berkulit putih bermata biru yang suka makan daging manusia?"

"Wah, sama sekali tidak! Sungguh tolol aku kalau dulu pernah merasa ngeri mendengar kabar bohong itu. Ternyata di antara bangsamu yang dikabarkan menakutkan itu terdapat orang-orang seperti ayahmu yang amat bijaksana, seperti Yuan yang tampan dan gagah berani, seperti engkau yang... yang begini cantik jelita, jujur dan amat ramah dan baik hati."

"Benarkah engkau menganggap aku cantik jelita? Bukankah karena perbedaan kulit dan warna rambut serta mata akan membedakan pula selera pandangan terhadap kecantikan seseorang?"

"Engkau memang cantik sekali, Yuanita," berkata Kun Liong sambil memandang penuh perhatian wajah yang tertimpa cahaya merah dari lampu gantung itu. "Dan kurasa, cantik tidaknya seseorang tergantung dari rasa suka di hati. Kalau hati merasa cocok dan suka, tentu kelihatan cantik, sebaliknya kalau tidak tentu akan kelihatan buruk. Dan agaknya watak dan sikap seseoranglah yang menentukan cantik tidaknya orang itu. Dan engkau... amat manis dan baik hati, siapa yang tak akan merasa suka sehingga engkau kelihatan selalu cantik jelita?"

Dara itu memandang dengan sinar mata bercahaya dan wajah berseri. "Wah, engkau memang mengagumkan sekali, Kun Liong! Yuan tentu senang sekali denganmu, engkau tentu menjadi sahabat baiknya!"

"Sayang bahwa pertemuan antara kami hanya berlangsung sebentar saja," Kun Liong lalu menceritakan pertemuannya dengan Yuan de Gama yang mengakibatkan mereka untuk beberapa gebrakan mengadu tenaga.

"Ahhh, kasihan sekali kakakku itu..." Yuanita berkata sesudah Kun Liong menyelesaikan penuturannya. "Dia adalah seorang yang berhati baik, akan tetapi karena dia terlalu suka mempelajari ilmu berkelahi, dia menjadi murid Kakek Legaspi Selado yang mengerikan itu. Pada waktu kapal Ayah disewa oleh rombongan Legaspi, Yuan menjadi kapten kapal menggantikan Ayah. Sama sekali kami tidak tahu bahwa rombongan Legaspi terdiri dari orang-orang jahat. Juga Yuan sama sekali tidak akan menyangka bahwa gurunya dan rombongannya yang katanya hanyalah orang-orang pedagang itu bertualang di negaramu dan bersekutu dengan pemberontak. Yuan terkenal sebagai seorang yang kuat, bahkan Hendrik, pemuda sombong dan kejam putera Legaspi itu sendiri merasa sungkan kepada Yuan. Akan tetapi aku tahu bahwa bertemu dengan engkau, dia kalah jauh!"

"Aahhh, tidak begitu, Yuanita. Kakakmu itu kuat sekali, hanya di antara kami tidak ada permusuhan, maka kami tak melanjutkan pertandingan itu. Aku hanya seorang biasa yang bodoh, apa lagi mengenai pengalaman dan ilmu pengetahuan. Jika dibandingkan dengan Yuan atau engkau, aku bukan apa-apa."

Yuanita memegang tangan Kun Liong dan memandang dengan sungguh-sungguh.

"Engkau terlalu merendahkan diri dan inilah yang membuat aku kagum sekali, Kun Liong. Aku suka kepadamu, dan aku akan... kalau diberi kesempatan... mungkin bisa jatuh cinta kepada seorang pria seperti engkau ini. Engkau telah menyelamatkan aku, bukan hanya aku, melainkan juga Ayah serta semua anak-anak perahu ini. Ayah sendiri yang berkata demikian kepadaku. Orang-orang Nepal itu sangat ganas, kejam dan kuat, kalau tidak ada engkau, kami semua pasti menjadi korban. Tetapi engkau masih selalu merendahkan diri. Betapa kuatnya kedua tanganmu yang tidak kelihatan kasar ini, seperti tangan wanita..." Yuanita menarik kedua tangan Kun Liong dan mencium tangan itu dengan bibirnya.

Dengan bibirnya! Kun Liong merasa kecupan bibir hangat pada tangannya dan wajahnya menjadi merah sampai ke kepalanya, jantungnya berdebar dan dia segera menarik kedua tangannya.

"Ahhh, engkau jangan berlebihan, Yuanita..." katanya agak terharu karena perbuatan dara itu dianggapnya terlalu merendah.

Yuanita bangkit berdiri sambil menarik tangan Kun Liong. Mereka berdiri berhadapan, dan Yuanita merapatkan tubuhnya.

"Kun Liong... kami sudah berhutang nyawa kepadamu dan sebagai tanda terima kasih, baru mencium tanganmu saja engkau sudah merasa aku berlebihan. Kun Liong, aku tahu bahwa orang seperti engkau ini, seorang pendekar dari bangsamu, seorang jantan yang berhati lembut, tentu tak mungkin bisa jatuh cinta kepadaku, seorang wanita asing yang serba kasar, tidak selembut wanita-wanita bangsamu yang seperti batang pohon yangliu ditiup angin lembut, yang bersikap malu-malu dan agung... akan tetapi, untuk menyatakan terima kasihku dengan setulus hatiku, kau... kau boleh... kalau engkau suka... kau boleh menciumku, Kun Liong."

Kun Liong terkejut. Ucapan seperti ini sama sekali tak pernah disangka-sangkanya. Tak pernah dia berani membayangkan untuk mencium dara itu, seorang dara asing, puteri seorang hartawan besar dan puteri seorang yang bijaksana dan pandai seperti Richardo de Gama!

Tentu saja dia tidak tahu bahwa dara asing dari Barat ini mempunyai kesan lain terhadap dirinya. Semenjak kecil, seperti anak-anak bangsanya yang lain, Yuanita telah sering kali mendengar dongeng tentang ksatria-ksatria berbaju besi yang menyelamatkan puteri dari tangan makhluk-makhluk buas, dan setiap kali seorang ksatria membebaskan seorang puteri cantik dari tangan makhluk buas dari ancaman mengerikan yang lebih hebat dari maut, Si Puteri akan menghadiahkan ciuman mesra dan hal ini biasanya bahkan menjadi tuntutan setiap orangi ksatria!

Kesan ini amat mendalam sehingga ketika melihat betapa dengan gagah perkasanya Kun Liong menyelamatkan dia, bahkan juga ayahnya dan seisi perahu dari keganasan bajak, apa lagi sesudah bercakap-cakap dan melihat sikap Kun Liong yang rendah hati, timbul keinginan di hati Yuanita unluk bersikap seperti seorang puteri yang tertolong oleh ksatria, dia menawarkan ciuman kepada pemuda gundul itu.

"Be... benarkah pendengaranku tadi, Yuanita?" Kun Liong bertanya, suaranya gemetar karena jantungnya sudah bergelora. Sejak tadi merasakan betapa bibir yang hangat dan lunak itu mencium tangannya, jantung Kun Liong sudah berdebar tidak karuan, apa lagi mendengar betapa dara yang mempunyai kecantikan aneh ini menawarkan ciuman!

"Pendengaran apa, Kun Liong?" Yuanita bertanya, mengangkat mukanya sehingga makin mendekat dengan wajah pemuda itu, senyumnya menggoda, matanya setengah terpejam sehingga bulu matanya hampir merapat dan menjadi tebal menimbulkan bayang-bayang indah di atas pipinya ketika tertimpa sinar lampu.

"Aku mendengar bahwa... bahwa... aku boleh menciummu?"

"He-hemmm... kalau kau suka..."

"Kalau aku suka...? Tentu saja aku suka..."

"Ihhh, canggung benar kau..." Yuanita tersenyum lebar mendengar kata-kata dan melihat sikap pemuda itu.

Kedua lengannya bergerak merangkul leher Kun Liong dan dara itu dengan tarikan halus membuat muka Kun Liong menunduk, maka tergetarlah seluruh tubuh Kun Liong ketika merasa betapa dara itu yang menciumnya! Mencium bibir dengan penuh kemesraan dan kehangatan.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner