PETUALANG ASMARA : JILID-33


Ketika dia mencium bibir Hwi Sian dahulu itu, terdapat kecanggungan dan meski pun dia senang melakukannya dengan Hwi Sian, namun karena dara itu sendiri pun takut dan tidak tahu caranya, maka perbuatan mereka itu jauh sekali bedanya kalau dibandingkan dengan apa yang dia alami sekarang.

Ciuman Yuanita ini seolah-olah merupakan pertemuan lebih mendalam, antara kedua hati dan kalbunya, seolah-olah dia merasa dilebur menjadi satu dengan dara ini, seolah-olah tak ada pemisah lagi antara kedua tubuh mereka. Seperti naik sedu-sedan dari dada Kun Liong, kedua lengannya mendekap tubuh itu, seluruh tubuhnya menggigil dan dia tidak dapat menguasai lagi kedua kakinya yang gemetar dan lemas, membuatnya terhuyung dan akhirnya dia jatuh berlutut sambil memeluk Yuanita.

"Hmmm... Kun Liong..." Yuanita berbisik, hanya untuk bernapas saja dan mereka sudah berciuman pula, kini Kun Liong duduk di atas papan perahu dan dara itu dipangkunya.

Entah apa yang akan terjadi dengan dua orang muda yang dilanda perasaan mesra yang biasanya tentu akan membangkitkan birahi itu kalau dibiarkan terlalu lama dalam keadaan seperti itu. Bagi Kun Liong, Yuanita merupakan seorang dara yang panas, segar dan berani, seperti gelora air laut di luar perahu itu, merupakan seorang makhluk aneh yang mempunyai kekuatan luar biasa sehingga membawanya terseret, hanyut dan tenggelam.

Kun Liong sudah tidak mampu menguasai hati dan pikirannya sendiri, yang sepenuhnya terasa hanyalah kelembutan bibir yang mengecup bibirnya, kepanasan hawa dari mulut yang memabokkan, kehangatan dan kepadatan tubuh yang merapat dengan tubuhnya, dan dia pun mabuk dibuai alunan nafsu birahi yang belum pernah menyerangnya sehebat itu!

Nafsu birahi memang seperti api menjalar, begitu bertemu dengan bahan bakarnya, maka makin dibiarkan makin menjadi, makin diberi makin menuntut dan tak akan pernah mau berhenti, tak akan mau sudah kalau belum sampai titik terakhir.

Bagi Yuanita sendiri Kun Liong merupakan seorang pemuda yang asing dan aneh, dan karenanya mendatangkan daya tarik yang luar biasa. Sebagai seorang dara berbangsa Portugis yang jauh lebih bebas dalam pergaulan antara pria dan wanita, sudah tentu saja dia pernah berkenalan dengan teman pria dan ciuman bukan merupakan hal baru dan aneh baginya.

Akan tetapi, belum pernah Yuanita mengalami guncangan perasaan seperti saat itu. Hal ini terdorong oleh rasa terima kasihnya, rasa kagumnya terhadap Kun Liong, ditambah keadaan Kun Liong yang asing dan aneh yang membuat pemuda itu merupakan seorang pemuda atau pria yang lain dari pada yang telah dikenalnya sebelum itu.

Karena itu dia pun terhanyut oleh gelombang perasaannya sendiri sehingga bersama Kun Liong dia pun hampir lupa segalanya, hampir tidak mempedulikan lagi segala hal yang terjadi di luar mereka, dan yang ada hanyalah membiarkan diri terseret oleh nafsu birahi yang membuai dan melayangkan mereka ke tengah-tengah awan kenikmatan.

"Tuuuttt... tuuuut... tuuutttt...!"

Suara bunyi tanda peluit dari tempat penjagaan di atas ini mengejutkan sepasang orang muda itu dan serentak Kun Liong melepaskan pelukannya. Untuk sejenak mereka saling pandang, seperti baru sadar dari sebuah mimpi muluk dan pertukaran pandang ini cukup menyadarkan mereka benar-benar.

"Ahh... Yuanita... maafkan aku..."

"Bukan salahmu... Kun Liong... aku pun membiarkan diriku terseret..."

"Untung kita lekas sadar, Yuanita. Hampir saja...!" Kun Liong cepat merapikan pakaiannya sendiri kemudian membantu merapikan pakaian dara itu yang dia sendiri tidak ingat lagi bagaimana bisa menjadi tidak karuan dan setengah terbuka seperti itu!

Yuanita membiarkan dirinya digandeng dan ditarik ke atas. Mereka berdiri berhadapan dan saling berpandangan. Yuanita memegang kedua tangan Kun Liong.

"Memang... hampir saja, Kun Liong. Akan tetapi... andai kata terjadi pun, aku.. aku akan merasa bahagia dan bangga, kalau... kalau... engkau menjadi pria pertama..."

"Husshh...! Bagaimana kau bisa bilang begitu, Yuanita? Kita bukan suami isteri, kita tidak saling mencinta... betapa besar dosaku bila sampai terjadi. Engkau tentu akan menyesal seumur hidup, dan aku... aku... selamanya akan merasa berdosa kepadamu."

"Mungkin. Akan tetapi, kurasa tidak akan sukar bagiku untuk belajar mencintamu, Kun Liong."

Kun Liong memandang bingung. Segala ucapan dara asing ini mendatangkan perasaan aneh dan membingungkan. "Aku tidak tahu... apakah mungkin cinta itu dipelajari? Betapa pun juga, maafkan aku, Yuanita, aku tadi lupa diri... dan percayalah, selama hidupku aku tak akan melupakan engkau. Engkau akan selalu kukenang sebagai seorang perempuan yang amat baik, ramah, lembut dan cantik, jelita, seorang sahabatku yang luar biasa..."

"Tuut... tuut... tuuuutttt…!"

Mereka menengok ke atas kanan dan melihat penjaga di atas tali-temali layar meniupkan terompetnya yang panjang.

"Ada apakah?" Kun Liong tertanya, tidak mengerti apa artinya itu.

"Tentu penjaga itu melihat sesuatu," kata Yuanita.

Terdengar derap langkah sepatu ke luar dari dalam dan muncullah Richardo de Gama beserta orang-orang lain. Kakek ini memandang kepada puterinya, kemudian kepada Kun Liong sejenak, lalu bertanya, "Apa yang terjadi? Kenapa terompet ditiup? Haiii! Ada apa?" Teriaknya ke atas dalam bahasanya sendiri.

Penjaga di atas menjawab dengan teriakan parau, "Ada kapal di sebelah kiri!"

"Lekas nyalakan lampu sorot!" Richardo de Gama memerintah.

Terjadi kesibukan di situ dan tidak lama kemudian kapal besar itu tampak bayangannya, seperti seorang raksasa muncul dari dalam kegelapan malam di tengah lautan. Mula-mula terjadilah pertukaran isyarat melalui gerakan lampu kemudian sesudah makin mendekat, antara kedua kendaraan air itu terjadi kontak dengan menggunakan corong dan teriakan mulut.

Terdengar sorak-sorai di kedua pihak dan semua orang di perahu yang ditumpangi Kun Liong bergembira ria.

"Apakah yang terjadi, Yuanita?" tanya Kun Liong kepada dara yang berdiri di dekatnya.

Yuanita juga berseri wajahnya ketika menjawab, "Kapal itu adalah Kuda Terbang!"

Tentu saja Kun Liong terkejut dan juga gembira mendengar ini. "Dan aku akan dapat berjumpa dengan Yuan di sana?" Dia menuding ke arah bayang-bayang hitam besar itu.

Yuanita mengangguk manis "Bukan hanya Yuan kakakku, juga di sana ada pula Legaspi Selado dan isteri mudanya yang bernama Nina, dan puteranya bernama Hendrik, dan masih banyak lagi karena semua bangsa kami yang berada di sini sudah berkumpul di kapal itu."

Terjadi kesibukan luar biasa ketika perahu besar dan kapal itu saling merapat. Sebuah anak tangga dipasang dan Richardo de Gama mengajak Kun Liong serta Yuanita untuk menyeberang ke Kapal Kuda Terbang yang jauh lebih besar dan lebih lengkap itu.

Kun Liong turut bergembira melihat Yuan de Gama yang menyambut ayahnya dan adik perempuannya. Ia amat terharu melihat Yuanita berpelukan dengan kakaknya, terkenang betapa beberapa saat yang lalu dara yang cantik itu sudah berpelukan dan berciuman dengan dia! Pada waktu Yuanita membisiki sesuatu kepada kakaknya dan menoleh, Yuan mengangkat muka memandang.

"Haloooo...! Bukankah kau Yap Kun Liong-taihiap?" serunya sambil melepaskan adiknya, kemudian melangkah lebar menghampiri Kun Liong dan mengulur lengan kanannya.

Kun Liong tidak kaget lagi melihat ini. Dia sudah tahu sekarang bahwa cara pemberian hormat, atau bersalaman dari orang-orang asing ini adalah dengan jalan berjabat tangan dan mengguncang-guncangnya. Maka dia menyambut sodoran tangan itu dan mereka pun berjabat tangan.

"Tuan Yuan de Gama, sungguh tak menyangka akan bertemu denganmu di sini," kata Kun Liong gembira.

Yuanita telah mendekat dan dengan sibuk menceritakan dalam bahasanya sendiri kepada kakaknya tentang pertolongan yang diberikan oleh Kun Liong kepada anak buah Perahu Ikan Duyung, yaitu perahu ayahnya itu, ketika Perahu Ikan Duyung diserbu penjahat.

"Ahhh, terima kasih banyak, Yap-taihiap..."

"Jangan menyebutnya taihiap, dia bisa marah. Namanya Kun Liong!" Yuanita mencela kakaknya.

"Dia benar, Yuan. Kita adalah sahabat, sebut saja namaku," kata Kun Liong.

Yuan memandang kepada adiknya, kemudian kepada Kun Liong, lalu tersenyum lebar. "Apa pula ini? Eihhh, jangan main-main kau, Yuanita. Apakah kau hendak mengatakan bahwa kau sudah menjatuhkan hatimu di depan kaki pendekar perkasa ini?" Dia tertawa bergelak.

"Andai kata benar demikian, apakah engkau tidak setuju?" Yuanita juga berkata sambil tertawa.

"Tentu saja!"

Kun Liong benar-benar terkejut bukan main. Kelakar kakak beradik itu dianggapnya agak keterlaluan dan luar biasa sekali sehingga muka dan kepalanya menjadi merah semua. Mengapa mereka bicara demikian bebas, seakan-akan urusan cinta merupakan hal yang boleh dianggap main-main?

Mereka menghentikan senda guraunya ketika melihat Legaspi Selado dan seorang wanita berusia tiga puluh tahun yang amat cantik dan berpakaian mewah, sedangkan Hendrik Selado berjalan di sebelah wanita ini. Mata pemuda itu memandang kepada Kun Liong dengan penuh perhatian.

Kun Liong tidak mempedulikan yang lainnya, dia hanya menatap tajam ke arah Legaspi Selado, kakek botak gendut yang dia tahu memiliki ilmu kepandaian tinggi itu.

"Heiii! Bukankah ini penjahat itu...?"

Tiba-tiba Hendrik berseru ketika dia sudah datang dekat dan telunjuknya menuding ke arah muka Kun Liong. "Tidak salah lagi, inilah dia Si Gundul yang dahulu menolong dan melarikan mata-mata wanita di Ceng-to!"

Ucapan itu dikeluarkan dalam bahasa asing sehingga Kun Liong tak mengerti maksudnya. Akan tetapi karena sejak tadi pemuda ini memperhatikan Legaspi Selado maka dia dapat melihat ketika kakek itu menggerakkan tangan yang memegang cambuk kuda.

"Tar-tar-tarrr...!"

Kun Liong sudah mengelak cepat sehingga tiga kali serangan itu luput.

"Tuan Selado, engkau tidak boleh menyerang dia!" Tiba-tiba saja Yuanita lari ke depan, menghadang di depan kakek yang memegang cambuk itu dengan sikap menantang dan membusungkan dadanya yang sudah membusung penuh itu.

Cepat sekali Yuan meloncat ke depan sambil berteriak. "Hendrik, jangan...!" Pemuda itu sudah memegang tangan Hendrik yang sudah mencabut pistolnya. "Jangan ganggu dia, dia telah menyelamatkan Perahu Ikan Duyung, menyelamatkan ayahku dan adikku!"

Menyaksikan keributan ini Richardo langsung melangkah maju, kemudian segera terjadi percakapan dan perbantahan antara orang-orang asing itu, ditonton dan didengarkan oleh Kun Liong yang tidak mengerti artinya, namun dia dapat menduga dengan mudah, bahwa terjadi perbantahan antara pihak Legaspi dan Hendrik melawan pihak Richardo dan dua orang anaknya yang membela dia! Terutama sekali yang sangat mengharukan hatinya adalah sikap Yuanita yang seperti sudah menjadi seekor harimau betina, sepasang mata biru itu menyinarkan api, rambutnya yang terkena angin laut itu berkibar-kibar, sikapnya penuh semangat.

Pada saat terjadi percekcokan itu, nyonya muda cantik yang tadi datang bersama Legaspi Selado dan Hendrik, mendekati Kun Liong dan menatap wajah pemuda ini dengan penuh perhatian. Kun Liong dapat menduga tentu inilah yang bernama Nina Selado, isteri muda Si Kakek Botak itu. Hemmm, seorang wanita yang cantik dan sikapnya berani dan masak, pikirnya.

"Jadi engkau adalah seorang yang biasa disebut pendekar-pendekar itu?" tanya wanita itu dengan suara kaku namun suaranya yang basah dan agak parau mendatangkan sesuatu yang memikat, juga menyeramkan bagi Kun Liong.

Kun Liong tidak menjawab, hanya membalas pandang mata itu dengan waspada, karena dia tidak tahu apakah wanita cantik ini berbahaya pula seperti Legaspi Selado.

Kakek itu memanggil, "Nina...!" dan wanita itu pergi meninggalkan Kun Liong. Kemudian, Legaspi Selado, Nina, dan Hendrik pergi memasuki kamar kapal dengan sikap tidak puas.

Yuan dan Yuanita menghampiri Kun Liong. "Kun Liong, untung Ayah berhasil menekan kemarahan Tuan Selado," kata Yuanita. "Dan terutama sekali Yuan sebagai kapten Kapal Kuda Terbang berkuasa penuh untuk menanggungmu sebagai seorang tamu yang tidak boleh diganggu."

"Terima kasih, Yuan. Engkau baik sekali. Akan tetapi, bukankah dia itu adalah gurumu? Bagaimana engkau dapat menantang gurumu sendiri?"

"Sungguh pun dia guruku, akan tetapi sebagai kapten kapal, akulah yang menjadi orang pertama yang berkuasa menentukan segala yang terjadi di atas kapal ini. Aku memberi tahukan guruku bahwa permusuhan antara dia dan kau terjadi ketika kami masih bekerja sama dengan para pemberontak di Ceng-to. Karena kita semua berada di kapal, tidak ada sangkut-pautnya dengan masalah pemberontakan di darat, maka saat itu engkau tak bisa dianggap musuh. Mari kita masuk ke kamarku dan kita berunding bagaimana baiknya."

Kun Liong mengikuti Yuan, Yuanita dan Richardo de Gama memasuki kamar Yuan yang cukup luas dan mereka lalu duduk menghadapi meja sambil bercakap-cakap. Dari Yuan, mereka semua mendengar penuturan mengenai pemberontakan yang gagal dan tentang usaha pendekatan para pedagang asing itu terhadap pembesar pemerintah.

"Kaisar sudah bersikap baik sekali kepada kami," Yuan menutup penuturannya dengan menarik panjang. "Setelah keributan mereda, kami masih diperkenankan untuk mendarat dan berdagang di sekitar pantai Teluk Pohai. Karena itu, maka aku tadinya mengambil keputusan untuk kembali ke barat dan mengabarkan kepada para pedagang yang berniat membawa berang dagangan ke timur. Akan tetapi yang masih memusingkan adalah sikap guruku, Tuan Legaspi Selado bersama kawan-kawannya. Mereka itu tidak merasa puas dengan keputusan dan kebijaksanaan Kaisar. Mereka menganggap bahwa perdagangan di tempat terbatas, yaitu di pantai itu, tidak akan mendatangkan cukup keuntungan, tidak seperti kalau kita dapat mendarat sampai ke pedalaman dan langsung membeli rempah-rempah dari para penduduk pribumi, juga secara langsung menjual barang-barang kepada mereka, tidak melalui perantara-perantara yang akan memeras di pantai. Karena itu, aku khawatir sekali akan timbul hal-hal tidak menyenangkan seperti pemberontakan yang ke dua dan sebagainya..."

"Apa pun yang akan mereka lakukan asal engkau tidak mencampurinya, Yuan. Lebih baik engkau membentuk kelompok tersendiri dengan pedagang-pedagang yang jujur dan yang memang beritikad baik, semata-mata untuk berdagang saja dan tidak ingin mencampuri urusan pemerintah dan pemberontakan," kata Kun Liong.

"Apa yang dikatakan Yap-taihiap memang benar, Yuan," kata Richardo de Gama. "Sejak dulu kita bukan keluarga pemberontak dan petualang. Kita adalah keluarga pedagang."

Yuan mengangguk-angguk. "Aku pun tidak suka kalau terseret ke dalam pemberontakan pribumi terhadap kaisar mereka. Akan tetapi sayang, hal itu telah terjadi dan tentu kami sudah mendapatkan kesan buruk dari Kaisar. Andai kata tidak pernah terjadi persekutuan dengan pemberontak terkutuk itu, agaknya pihak pemerintah akan lebih longgar terhadap kita, apa lagi mengingat akan hubungan pemerintah yang makin luas dengan luar negeri berkat pelayaran-pelayaran Laksamana The Hoo yang bijaksana..."

"Ahhhh... ada jalan untuk berjasa kepada Panglima Besar The Hoo!" Tiba-tiba Kun Liong berkata, teringat akan bokor emas di Pulau Ular. "Bokor emas pusaka milik Panglima The Hoo yang hilang itu terampas orang dan kini berada tidak jauh dari tempat ini. Kalau saja engkau dapat mengembalikan bokor itu dan menyerahkannya kembali kepada Panglima The Hoo, agaknya engkau akan berjasa besar dan soal ijin perdagangan ke pedalaman tentu akan ditinjau kembali."

"Ha-ha-ha! Pendapat yang bagus sekali! Aku setuju seratus persen. Di mana bokor itu?" Tiba-tiba terdengar suara nyaring dan tubuh gendut Legaspi Selado memasuki kamar itu.

Yuan bangkit berdiri. "Tuan, terpaksa saya menyatakan tidak setuju kalau Tuan hendak membawa kita memperebutkan bokor emas yang menghebohkan itu, yang bukan menjadi hak kita!"

Legaspi Selado menggerakkan tangannya mencela. "Aihh, Yuan. Mengapa begitu bodoh? Siapa yang ingin merampas bokor? Segala yang sudah kita lakukan, dari memperebutkan bokor sampai ikut pemberontak, tiada lain hanya untuk mendapat kesempatan berdagang sebaiknya. Semua usaha kita gagal, sekarang sahabat muda ini telah menunjukkan jalan yang sangat baik. Kita usahakan agar bokor emas itu dapat kita peroleh, kemudian kita haturkan kepada Panglima The Hoo, tentu kita mendapat jasa dan tentang perdagangan, akan mudah saja. Ha-ha-ha! Sahabat Yap Kun Liong yang baik, di manakah bokor itu?"

Kun Liong adalah seorang muda yang cerdik. Dia sudah terlanjur bicara, apa bila kini dia merahasiakan, kakek aneh yang sakti ini tentu akan menjadi penghalang dan musuh, dan sangat tidak enak kalau terjadi perpecahan di kapal itu. Kakek itu lihai, baik sekali kalau diajak bersama-sama merampas bokor karena Pulau Ular merupakan tempat yang amat berbahaya. Apa lagi dua orang datuk itu, Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan puteranya, Ouwyang Bouw, dibantu lagi oleh Toat-beng Hoatsu beserta semua anak buah mereka, bukan merupakan lawan ringan.

"Memang kita harus bekerja sama," akhirnya dia berkata setelah semua duduk. "Bokor emas itu berada di tangan dua orang datuk kaum sesat, yaitu Ouwyang Kok yang berjuluk Ban-tok Coa-ong dan Toat-beng Hoatsu. Sekarang mereka bersama anak buah mereka bersembunyi di Pulau Ular, tidak jauh dari sini, di sebelah selatan Teluk Pohai."

Legaspi Selado bangkit berdiri, "Yuan de Gama! Kalau begitu kita menunggu apa lagi? Kita putar haluan, ke selatan mencari Pulau Ular!"

Kun Liong menyambut pandang mata penuh pertanyaan dari Yuan itu dengan anggukan kepala, maka Yuan lalu meneriakkan perintah melalui corong supaya kapal itu diputar dan digerakkan ke selatan, sedangkan Perahu Ikan Duyung mengikuti dari betakang. Sesudah Legaspi Selado yang kelihatan gembira dan bersemangat itu meninggalkan kamar, Yuan de Gama berkata lirih.

"Kun Liong, kenapa engkau membuka rahasia itu kepada guruku?"

"Ssttt... dia dapat merupakan pembantu yang amat kuat, Yuan. Ketahuilah, bukan hanya bokor emas itu yang penting. Kita memang harus menyerbu ke Pulau Ular, sedangkan di sana terdapat dua orang datuk yang sakti bersama anak buah mereka yang kuat."

"Aku tidak inginkan bokor emas!"

"Hussshhh, engkau tidak menginginkannya, akan tetapi kalau kau dapat mengembalikan kepada Panglima Besar The Hoo, maka jasamu besar sekali. Selain itu, engkau tidak tahu bahwa kita juga harus menolong Nona Souw Li Hwa..."

Wajah Yuan de Gama berubah dan dia memegang lengan Kun Liong, mencengkeramnya erat-erat. "Apa katamu?! Dia... dia... kenapa?"

Yuanita membelalakkan mata. "Yuan! Siapakah nona itu?"

"Dia sahabat baikku. Dia seorang panglima wanita yang hebat. Kun Liong, lekas katakan apa yang terjadi dengan dia?"

"Aku sendiri belum tahu, akan tetapi yang jelas, Nona Souw Li Hwa sudah melakukan penyelidikan sendiri ke Pulau Ular yang berbahaya itu sehingga aku khawatir sekali dia akan menghadapi mala petaka di sana. Karena itu, bukankah tepat sekali kalau kita pergi ke sana, selain untuk membantu mendapatkan kembali pusaka Panglima The Hoo, juga untuk melindungi Nona Souw Li Hwa?"

"Jika begitu kita harus cepat ke sana!" Yuan de Gama kembali menyambar corong untuk memerintahkan anak buahnya agar melakukan pelayaran secepatnya.

Richardo de Gama menghela napas panjang, mendekati Kun Liong dan berbisik, "Apakah dia sudah jatuh cinta kepada panglima wanita itu?" Kun Liong hanya mengangguk sambil tersenyum, kemudian setelah minta diri, dia mundur dan memasuki kamarnya yang sudah dipersiapkan untuk dia.

Kun Liong meniup padam lilin di atas meja kamar kecil itu, lalu menanggalkan pakaian luarnya dan sepatunya. Setelah dia merebahkan diri di atas pembaringan, dia termenung. Sungguh banyak pengalaman yang dialaminya selama ini, pengalaman yang aneh-aneh, terutama sekali pengalaman dengan wanita-wanita cantik. Masih terasa olehnya saat-saat saling bertukar cumbu rayu dengan Yuanita.

Dalam kegelapan kamarnya itu, terbayanglah wajah Yuanita yang cantik, juga terdengar bisikan halus menggetar yang suaranya asing itu. Akan tetapi tak lama kemudian, wajah wanita yang dibayangkannya ini sudah berganti rupa, berubah menjadi wajah Yo Bi Kiok, kemudian berubah lagi menjadi wajah Souw Li Hwa, wajah Cia Giok Keng, dan akhirnya berubah menjadi wajah Lim Hwi Sian yang tak akan pernah dilupakannya! Diam-diam Kun Liong menghela napas panjang.

Kenapa hidupnya terisi oleh pertemuan-pertemuan yang mengesankan dengan berbagai gadis cantik itu? Dan mengapa setiap kali bertemu dengan dara jelita, dia merasa tertarik dan suka? Apakah ini yang disebut mata keranjang? Apakah dia mata keranjang? Adakah di dunia ini seorang pemuda yang tidak suka melihat dara jelita? Apakah hanya dia yang selalu merasa tertarik, ingin bercakap-cakap dengan mereka, ingin bersahabat dengan mereka dan ingin... mencium bibir yang segar kemerahan itu? Kotorkah pikiran seperti ini? Dia tidak dapat menjawab dan kembali dia menarik napas panjang.

Kau mata keranjang, tolol, dan anak durhaka! Dia memaki diri sendiri. Sampai selama ini, dia masih belum berhasil mendengar berita tentang ayah bundanya. Dan tak ada sebuah pun di antara tugas-tugasnya yang dapat dia selesaikan dengan baik! Mencari orang tua belum ada hasilnya. Urusan bokor emas yang sudah berada di tangannya malah menjadi berlarut-larut dan makin sulit diperoleh. Usaha mengembalikan pusaka Siauw-lim-pai dan minta pusaka itu kembali dari Kwi-eng-pang juga belum berhasil. Sekarang ditambah lagi dengan tugas membantu dan menyelamatkan Souw Li Hwa!

Sekali ini dia harus berhasil. Meski pun Pulau Ular kabarnya berbahaya, akan tetapi Kapal Kuda Terbang itu amat besar dan kuat, diperlengkapi pula dengan senjata meriam. Juga dia memperoleh bantuan orang-orang pandai seperti Legaspi Selado, Hendrik, Yuan dan semua anak buah mereka.

Kalau dia berhasil membantu Li Hwa, apa lagi berhasil merampas kembali bokor emas, berarti semua jerih payahnya tidak sia-sia. Dia harus segera menyelesaikan urusan ini, kemudian dia harus mencari orang tuanya. Dia harus mengerahkan seluruh perhatiannya untuk mencari jejak orang tuanya.

Urusan pribadi ini sebetulnya paling penting dan jantungnya berdebar agak tegang penuh kekhawatiran bila dia teringat akan ucapan Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Bukan hanya kekhawatiran kosong yang diucapkan supek-nya itu. Jika memang ayah bundanya masih hidup di dunia ini, kenapa sampai sekian lamanya mereka diam saja dan tidak ada kabar beritanya sama sekali? Orang-orang gagah perkasa seperti ayah bundanya tidak mungkin menyembunyikan diri karena takut akan sesuatu!

Malam mulai larut dan Kun Liong yang tenggelam dalam lamunannya, mulai berselubung rasa kantuk. Dia sudah memiliki pegangan atau rencana masa mendatang, yaitu setelah selesai dengan urusan Pulau Ular, dia akan meninggalkan semua urusan lain kemudian mencurahkan perhatian seluruhnya dalam mencari orang tuanya. Rencana yang menjadi pegangan ini melegakan hatinya.

Dia hampir tertidur pulas ketika tiba-tiba pintu biliknya dibuka orang dari luar. Mula-mula, sesuai dengan ilmu silat yang telah mendarah daging dalam tubuhnya, pada saat itu juga semua urat syarafnya telah menegang dalam kesiap siagaan menghadapi suatu ancaman bahaya. Namun ketika melihat bayangan tubuh yang tersorot penerangan dari luar kamar, ketegangannya menjadi meningkat tapi sifatnya berubah, bukan tegang karena khawatir, melainkan karena heran.

Jelas tampak sesosok bayangan tubuh yang berpinggang ramping, tubuh seorang wanita! Yuanita? Dadanya berdebar keras. Benarkah Yuanita yang masuk? Alangkah beraninya memasuki kamarnya yang gelap. Akan terulang lagikah peristiwa yang memabokkan itu? Sekarang amat berbahaya karena mereka berada di dalam kamamya, kamar yang gelap!

Timbul kekhawatiran dalam hati Kun Liong. Dia ingin melompat, ingin menyalakan lampu di kamarnya, ingin membujuk agar Yuanita tidak melanjutkan niatnya, agar dara itu keluar dari kamar, pergi meninggalkannya. Akan tetapi semua keinginannya itu tertunda ketika dia mendengar suara lirih, suara wanita yang basah merdu,

"Tuan... kekasihku..." Suara yang basah parau namun lunak merdu, suara Nina!

Kun Liong terpesona dan seperti seekor kelinci mencium bau harimau, dia bangkit duduk, kemudian mengambil keputusan untuk cepat meninggalkan kamar itu karena keadaannya amat ‘berbahaya’. Tanpa berkata apa-apa dia lalu meloncat dan lari dari kamarnya.

Akan tetapi baru saja keluar dari pintu, dia sudah diserbu wanita itu, dirangkul dan ditarik kembali ke dalam kamar yang gelap! Wanita itu melempar daun pintu tertutup, kemudian terdengar langkahnya mendekatinya, membuat Kun Liong menggigil dan duduk di atas pembaringannya, tak dapat mengeluarkan suara sedikit pun.

"Yuan... gelap amat..." wanita itu berbisik lagi.

Akan tetapi kini dua buah tangan meraba pundak Kun Liong. Dua buah lengan merangkul dan sebuah tubuh yang lunak hangat mendekapnya, sepasang bibir yang basah dengan napas terengah-engah menjelajahi mukanya untuk kemudian berhenti mengecup bibirnya dalam sebuah ciuman yang membuat Kun Liong hampir pingsan!

Tak pernah Kun Liong dapat membayangkan akan ada ciuman seperti itu! Yuanita sudah merupakan pengalaman luar biasa ketika menciumnya, akan tetapi dibandingkan dengan ini, Yuanita bukan apa-apa! Ciuman wanita ini seolah-olah menembus jantungnya, terasa sampai di tulang sumsum sehingga membuat seluruh tubuh Kun Liong panas dingin, kaki tangannya menggigil, kepalanya berdenyut dan pandang matanya berkunang! Dahsyat!

"Haiiiii...!" Mendadak Nina berteriak lirih, tangan wanita yang halus itu membelai, meraba muka dan kepala yang gundul, kemudian terdengar wanita itu menahan tawa, terkekeh genit. "Kaukah ini...? Kau... pemuda yang katanya seorang pendekar yang sakti? Ahhh, aku mendengar bahwa seorang pendekar memiliki kekuatan yang luar biasa... aku kagum padamu..."

Kun Liong gelagapan ketika wanita itu merayunya, membelai, memeluk dan menciumnya. Ucapan Nina dalam bahasa daerah bercampur bahasa asing membuatnya bingung. Bau minyak wangi yang aneh memabokkannya, dan terutama sekali tubuh wanita yang hidup mendekapnya itu membuat Kun Liong kehilangan akal.

"Jangan... Nyonya... jangan... maafkan aku, harap suka tinggalkan aku, aku... aku takut kalau ketahuan orang..." katanya gagap.

"Hi-hik-hik, beginikah pendekar? Mengapa penakut? Tidak sukakah kau kepadaku? Tidak senangkah kau kucium seperti ini?"

Nina kembali menciuminya, mencium kepalanya, mukanya, bibirnya dan kedua lengannya merangkul ketat sehingga tubuh Kun Liong menjadi panas dingin dibuatnya.

Kun Liong hanyalah seorang manusia biasa, seorang pria muda yang tentu saja berdarah panas. Menghadapi rayuan yang amat luar biasa itu, hampir dia tidak mampu menahan dirinya. Tubuhnya panas dingin dan gemetar, dan seperti seorang yang mabok, pandang matanya berkunang.

Tubuh wanita yang masak itu kelihatan luar biasa menariknya tersorot cahaya remang-remang dari sinar lampu yang memasuki kamar itu melalui celah-celah jendela dan pintu. Akan tetapi dia masih teringat bahwa wanita ini adalah isteri dari Legaspi Selado, bahwa merupakan perbuatan terkutuk untuk berjinah dengan isteri orang lain! Ingatan ini lantas mengeraskan hatinya dan dia mendorong tubuh wanita itu dengan halus.

"Nyonya, jangan lakukan ini! Jangan lanjutkan perbuatan gila ini!" katanya lirih.

"Ahhhh... berani engkau menolak aku? Engkau yang sudah menggigil penuh nafsu ini... hi-hi-hik, orang muda yang kuat, jangan kau berpura-pura alim..."

Mereka seperti bergulat. Kun Liong mencegah ada pun wanita itu hendak menggelutinya. Pada saat itu terdengar suara Yuan,

"Kun Liong, dengan siapakah kau di dalam?"

Kun Liong terkejut bukan main. Apa lagi pintu kamar itu terbuka dari luar dan Yuan de Gama masuk membawa sebuah lampu! Kun Liong cepat meloncat menjauhi Nina dan membetulkan kancing bajunya yang hampir terlepas semua. Wanita itu hanya tersenyum dengan mulut agak terengah, matanya seperti mata seekor singa kelaparan!

"Yuan... dia... dia ini..." Kun Liong berkata gagap.

Yuan mengangguk. "Aku tahu, Kun Liong. Karena itu aku masuk ke sini untuk menolong dan membebaskanmu dari harimau betina kelaparan!"

Lega rasa hati Kun Liong. Dia memandang kepada sahabatnya itu penuh terima kasih, kemudian tanpa berkata apa-apa dia meloncat keluar dari kamar, langsung menuju ke dek kapal untuk mencari ‘hawa segar’.

"Nina, sungguh kau terlalu sekali! Dia adalah penolong dan tamu terhormat, mengapa kau begitu tidak tahu malu untuk..." Yuan de Gama menegur wanita muda yang kini duduk di pembaringan Kun Liong dengan baju atas setengah terbuka membayangkan dada yang membusung penuh, yang tersenyum dengan muka kemerahan, dengan mata mengerling basah ke arah Yuan, senyum yang penuh ejekan dan tantangan!

"Yuan, kau tidak tahu. Semua ini gara-gara engkaulah! Betapa rinduku kepadamu hampir tak dapat aku menguasai diriku lagi, dan kau selalu berpura-pura, selalu menjauhkan diri setelah dahulu..."

"Cukup, Nina! Satu kali itu saja sudah cukup. Aku pernah gila, akan tetapi semua adalah karena bujuk rayumu. Aku tidak akan mengulanginya lagi perbuatan terkutuk kita itu!"

"Hi-hi-hik, Yuan! Ketahuilah, aku tidak sengaja masuk ke kamar ini. Siapa sudi bercumbu dengan Si Gundul itu kalau ada engkau di sini? Kukira ini kamarmu, aku lupa bahwa kau memberikan kamar ini kepada Si Gundul. Aku salah masuk, dan karena sudah terlanjur, untuk menutupi maluku, aku... hemmm... dia pun..."

"Sudahlah, Nina. Tak perlu kau berpura-pura. Aku mengenal pemuda seperti Kun Liong, seorang pendekar sakti, seorang jantan sejati yang tak mungkin akan sudi mengganggu seorang wanita kalau tidak kau bujuk rayu. Keluarlah dari kamar ini sebelum Tuan Selado mengetahuinya sehingga terjadi hal yang memalukan."

Tetapi Nina malah bangkit, dengan melenggang-lenggok menggairahkan dia menghampirl Yuan de Gama, merangkulnya dan berkata dengan sikap dan suara manja. "Yuan, tidak kasihankah kau kepadaku? Aku rindu kepadamu, aku cinta kepadamu..."

"Diam!" Yuan merenggutkan tubuhnya terlepas dari pelukan wanita itu. "Orang seperti kau tidak patut bicara tentang cinta! Dan aku tidak cinta kepadamu! Ketahuilah, hanya ada seorang wanita saja di dunia ini yang benar-benar patut kucinta, yang kucinta sepenuh nyawaku. Dia adalah Souw Li Hwa!"

Kun Liong yang sudah kembali dan mendengar dari luar, terkejut dan menyelinap pergi, akan tetapi dia tidak mengira bahwa pemuda asing itu akan terang-terangan mengaku di depan Nina bahwa dia hanya mencinta Li Hwa seorang. Diam-diam Kun Liong merasa terharu dan kasihan kepada Yuan de Gama.

Li Hwa adalah seorang gadis gagah perkasa dan keras hati, murid tunggal Pendekar Sakti The Hoo yang berkedudukan tinggi. Mungkinkah seorang dara seperti Li Hwa akan dapat membalas cinta seorang pemuda asing seperti Yuan de Gama?

Terjadi kegaduhan di kamar itu karena dengan berkeras Yuan menolak bujuk rayu Nina. Akhirnya tampak oleh Kun Liong yang menyelinap bersembunyi betapa Nina berlari keluar dari kamar itu sambil terisak menangis. Diam-diam Kun Liong merasa kasihan juga pada wanita itu, maka dia menyelinap dan membayangi dari jauh untuk melihat apa yang akan terjadi dengan wanita yang dianggapnya bernasib malang itu.

Biar pun dia sendiri belum berpengalaman, namun dia dapat merasakan bahwa wanita itu tersiksa oleh nafsunya sendiri, nafsu yang mendesak-desaknya sehingga membutuhkan penyaluran. Akan tetapi celaka bagi wanita itu, dua orang pria muda yang ditemuinya, dia sendiri dan Yuan de Gama, tidak bersedia melayaninya.

Nina berlari menuju ke sebuah kamar di sudut depan, akan tetapi sebelum dia mengetuk pintu kamar itu, pintu kamar dibuka orang dan keluarlah Legaspi Selado! Kakek botak itu membawa sebuah botol yang isinya tinggal sedikit, mukanya merah dan begitu melihat Nina, dia mengayun tangan kirinya menampar.

"Plakkk!"

"Aughhh...!" Nina menjerit lirih dan mengelus pipinya yang membengkak merah, matanya terbelalak memandang suaminya.

Melihat ini, Kun Liong merasa tangannya gatal dan hatinya panas. Kalau dia tidak ingat bahwa yang menampar adalah suami sedangkan yang ditampar adalah isterinya tentu dia sudah keluar menegur kakek botak itu!

"Perempuan rendah! Perempuan tak tahu malu!" Legapsi Selado memaki lalu menenggak minuman keras yang masih tinggal sedikit di dalam botol, sesudah itu sekali mengayun tangan, botol yang sudah kosong itu melayang jauh sekali keluar dari kapal menuju ke laut gelap.

Kun Liong mendengar betapa Nina bicara dengan penuh semangat, agaknya wanita itu marah-marah, mengata-ngatainya dengan gerakan tangan sambil bercucuran air mata. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dikatakan wanita itu, akan tetapi dia melihat betapa Nina kelihatan berduka, penasaran, dan marah sekali, sedangkan Legaspi Selado hanya menunduk, kemudian kakek itu menggerakkan pundak dengan acuh tak acuh dan pergi meninggalkan Nina.

Wanita itu membanting-banting kaki, berteriak-teriak dan menangis. Tak lama kemudian muncullah seorang pemuda yang bukan lain ialah Hendrik Selado, putera Legapsi Selado. Melihat pemuda ini, Nina menubruk dan merangkulnya, bergantung pada pundak pemuda itu, dan menangis terisak-isak.

Hendrik mengeluarkan kata-kata menghibur, bahkan mencium pipi ibu tirinya. Kemudian dia menarik tubuh ibu tirinya, diajak memasuki kamar dan lenyaplah kedua orang itu di balik pintu kamar yang tertutup.

Kun Liong berdiri tertegun. Semua pengalaman tadi merupakan hal yang baru dan aneh sekali. Kelakuan Nina benar-benar mengejutkan hatinya. Tiba-tiba terdengar suara tarikan napas panjang di belakangnya. Dia cepat menengok dan melihat bahwa Yuanita sudah berdiri tak jauh dari situ.

"Keluarga yang luar biasa..." Yuanita berkata lirih, "Kotor dan mengerikan sekali..."

Kun Liong menghampiri. "Apa maksudmu, Yuanita? Aku tidak mengerti."

"Mereka itu..." Yuanita mengangkat mukanya ke arah pintu kamar di mana ibu tiri dan pemuda itu tadi lenyap. "Sungguh mengerikan sekali! Tentu engkau tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Nina tadi kepada suaminya."

Kun Liong menggelengkan kepalanya dan memandang wajah dara itu penuh perhatian. Wajah yang cantik sekali, agak pucat tertimpa sinar bulan, agaknya dara itu terkejut menyaksikan adegan yang menegangkan tadi antara Nina, suaminya dan putera tirinya.

"Dia menegur dan menyalahkan suaminya. Dia berkata bahwa dia tidak pernah mendapat kepuasan batiniah dari suaminya. Dia mengatakan bahwa suaminya hanya namanya saja suami, akan tetapi tak pernah mencintanya, tak pernah memperlakukannya sebagai isteri, tidak pernah tidur dengannya. Dia bilang... suaminya yang terkenal sebagai seorang sakti dan kuat itu hanyalah seorang yang mati kejantanannya, tidak mampu lagi melakukan kewajiban seorang suami terhadap isterinya. Nina menuntut dan mengatakan bahwa dia adalah seorang wanita yang masih muda, yang membutuhkan cinta kasih seorang pria. Dia tidak mau disiksa lebih lama lagi dan katanya kalau dia mencari pria lain yang suka melayani kebutuhan tubuhnya sebagai seorang wanita muda, bukan semata-mata karena dia serong dan suka berjinah, melainkan karena kesalahan suaminya yang tidak pernah dapat melayani nafsu birahinya..."

"Sudahlah, Yuanita... sudah cukup..." kata Kun Liong yang menjadi merah sekali mukanya sampai kepalanya.

Dia merasa heran sekali akan kebebasan sikap dan kata-kata wanita barat ini. Begitu bebas bicara tentang urusan yang bagi bangsanya merupakan pelanggaran susila yang memalukan! Sungguh pun dia sendiri tidak melihat sebabnya mengapa urusan manusia ini dianggap pantang untuk dibicarakan!

Yuanita memegang lengan Kun Liong dan tanpa berkata-kata kedua orang muda ini berjalan bergandeng tangan menuju ke ujung kapal yang sunyi.

"Kasihan sekali Nina," kata Yuanita. "Dia hanya dipermainkan oleh nafsu birahi, dan tidak mengenal cinta kasih. Aku merasa jauh lebih berbahagia karena aku mengenal cinta. Kun Liong, engkau tahu siapa yang kumaksudkan. Tadinya sebelum berjumpa denganmu, aku pun hanya melamunkan cinta, tak pernah aku mengenalnya. Akan tetapi, begitu bertemu denganmu, tahulah aku apa yang disebut cinta itu, Kun Liong, dan sesudah mengenal cinta, nafsu birahi sama sekali bukan hal yang terpenting."

Mereka duduk di atas dek di ujung kapal yang sunyi dan agak gelap karena terselimut bayangan tiang-tiang layar sehingga tidak tampak dari tempat penjagaan di atas. Duduk berdampingan dan sejenak mereka tidak bicara, hanya saling pandang dengan bantuan cahaya bulan yang menimpa di atas wajah masing-masing. Kemudian Kun Liong menarik napas panjang dan berkata,

"Tetap saja aku harus mengecewakan hatimu, Yuanita. Aku tidak dapat membalas cinta kasihmu yang demikian murni, bahkan agaknya aku tidak akan pernah dapat jatuh cinta kepada wanita yang mana pun juga."

Yuanita menatap wajah pemuda gundul itu dengan tajam penuh selidik, lalu dia berbisik, "Aku tahu bahwa engkau tidak dapat mencintaku, Kun Liong. Mungkin seleramu berbeda dan kau tidak dapat memandang aku sebagai seorang wanita cantik yang menarik hatimu karena aku memang seorang asing. Mataku kebiruan, tidak seperti matamu yang hitam. Rambutku keemasan, tidak seperti rambutmu yang hitam arang dan kulit tubuhku putih berbulu halus tidak seperti kulitmu yang kekuningan dan halus licin tidak berbulu. Tetapi, kalau kau bilang bahwa kau tak akan pernah dapat jatuh cinta kepada wanita yang mana pun, hal itu... ahhh, bagaimana aku dapat percaya?"

"Percaya atau tidak terserah, Yuanita, akan tetapi sesudah aku melihat segala peristiwa tentang cinta, aku menjadi ngeri untuk jatuh cinta!"

"Aihh, mengapa?"

"Karena melihat cinta yang ada sekarang ini bagiku tampak palsu, hanya mendatangkan kesengsaraan belaka. Cinta yang banyak disebut-sebut orang, cinta antara wanita dan pria, cinta antara sahabat, cinta antara orang tua dan anak-anaknya, cinta antara manusia dengan Tuhannya, antara manusia dengan tanah airnya, antara manusia dengan dunia, harta, kemuliaan, kedudukan dan lain-lain, ternyata hanyalah pengikatan diri belaka. Cinta yang ada sekarang ini adalah pengikatan diri, dan dengan apa pun juga kita mengikatkan diri, berarti kita menanam bibit kesengsaraan. Bibit itu berakar dalam hati, kita terikat, dan sekali waktu tentu akan datang saat perpisahan sehingga akar yang sudah mengikat itu akan membuat hati kita terluka dan akhirnya membuat kita sengsara. Ikatan itu akan mendatangkan cemburu, iri hati, dendam dan kebencian, karena itu cintakah ikatan itu? Kurasa bukan!"

Yuanita memandang kepada Kun Liong dengan mata terbelalak. "Tentu saja itu cinta! Cinta antara pria dan wanita yang disebut asmara! Cinta seperti itu memang mengandung pengikatan diri, ingin memilikinya sendiri, ingin memberi sekaligus diberi, ingin menikmati kesenangan, dan tentu saja di sana terdapat pula cemburu, iri, dendam dan kebencian. Memang itulah cinta!"

Kun Liong tersenyum dan memandang wajah yang cantik itu. "Jika begitu, kasihan sekali orang yang terjun ke dalam jurang cinta, berarti dia hanya menunggu kesengsaraan hidup belaka. Aku tidak mau terperosok ke dalam perangkap cinta yang hanya menimbulkan kesengsaraan seperti itu, Yuanita."

"Habis kalau menurut pendapatmu, apakah cinta itu?"

Kun Liong menggelengkan kepalanya yang gundul. "Aku sendiri tidak tahu, Yuanita. Aku belum mengenal cinta, karenanya aku tidak berani jatuh cinta."

Yuanita merangkul dan merebahkan dirinya di atas pangkuan Kun Liong, menarik napas panjang. "Orang yang menajiskan cinta asmara seperti engkau ini, Kun Liong, sekali jatuh cinta benar-benar tentu akan hebat luar biasa! Ahh, sungguh buruk nasibku, tidak dapat memiliki cinta seorang pria seperti engkau."

"Jangan berduka, Yuanita. Betapa pun juga, aku tetap sahabatmu, sahabat yang baik yang siap mengorbankan nyawa demi untuk membelamu."

Mendengar ucapan ini, ucapan yang sebenarnya biasa saja bagi seorang yang berwatak pendekar, membuat hati Yuanita terharu sekali dan dia terisak menangis di atas dada Kun Liong yang memeluk dan menghiburnya, mengelus-elus rambutnya. Sampai lama mereka berdiam diri, karena bagi mereka, kata-kata sudah tidak ada artinya lagi, detak jantung dan perasaan mereka melebihi seribu kata-kata indah.

Tak tama kemudian, Kun Liong berkata, "Yuanita, kembalilah kau ke kamarmu. Biar pun aku suka sekali berada di sini bersamamu, akan tetapi kau tahu bahwa pertemuan seperti ini sangatlah berbahaya bagi kita berdua dan tidak baik bagi namamu. Engkau adalah seorang dara terhormat, tidak seperti Nina. Maka kalau ada yang melihatnya, namamu tentu akan tercemar. Pergilah tidur, sahabatku yang baik."

Yuanita menghela napas, melepaskan diri dari atas pangkuan Kun Liong, bangkit berdiri dan membereskan rambutnya yang kusut. Sejenak dia memandang wajah pemuda itu lalu berkata, "Selama hidupku, pertemuan kita malam ini takkan pernah kulupakan, Kun Liong. Apa pun yang terjadi dengan diriku, di dalam lubuk hati ini selalu tersimpan cinta kasih murni untukmu."

"Ahhh, engkau memang seorang dara yang baik sekali." Kun Liong lalu merangkul dan mencium dahi dara itu. Ciuman yang mesra dan lembut bagaikan ciuman seorang kakak kepada adiknya, akan tetapi sikap dan ciuman ini seperti merobek hati Yuanita. Dara itu terisak, merenggutkan dirinya lalu membalik dan melarikan diri kembali ke kamarnya.

Kun Liong berdiri tertegun, menyesal bahwa dia terpaksa harus menyakiti hati seorang dara sebaik Yuanita dengan menolak cintanya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner