DEWI MAUT : JILID-02


Di atas kursi yang lain, yaitu di sebelah kiri pangcu (ketua) dari Giok-hong-pang ini, duduk seorang wanita lain. Mata siapa pun, terutama sekali mata kaum pria, pasti akan langsung terpesona jika memandang wanita ini.

Dia seorang gadis yang masih muda, tidak akan lebih dari delapan belas atau sembilan belas tahun usianya, dan wajahnya cantik sekali, seakan-akan tidak ada cacat celanya. Wajah ketua Giok-hong-pang yang sudah amat cantik itu seolah-olah menjadi suram jika dibandingkan dengan kecantikan wajah gadis remaja ini.

Setiap anggota di tubuhnya seolah-olah memiliki daya tarik yang khas dan luar biasa, dan terutama sekali sepasang mata serta mulutnya, takkan ada jemunya mata memandang, dan setiap kerling mata serta gerak bibirnya mengandung suatu daya pikat yang mampu membangkitkan gairah dan birahi pria yang mana pun. Pendek kata, jarang dapat ditemui seorang gadis secantik dia.

Seperti juga sang ketua, di rambut gadis ini terdapat hiasan burung hong kemala yang amat bagus, jauh lebih bagus dari pada yang dipakai oleh para anggota Giok-hong-pang, meski pun masih kalah indah kalau dibandingkan dengan hiasan yang menghias rambut kepala ketua Giok-hong-pang itu.

Dara jelita ini adalah Yap In Hong, murid dalam arti yang sebenarnya dari Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, karena para anggota Giok-hong-pang yang lain hanya menerima ilmu silat yang diseragamkan sehingga merupakan 'kulitnya' saja, sedangkan In Hong seoranglah yang digembleng oleh gurunya secara sungguh-sungguh, malah dara ini telah hampir mewarisi semua ilmu yang dimiliki gurunya.

Yap In Hong ini sebetulnya adalah adik kandung satu-satunya dari Pendekar Sakti Yap Kun Liong, yaitu pria yang menjadi gara-gara kepatahan hati Yo Bi Kiok. Ayah bunda Yap Kun Liong dan Yap In Hong ini dahulu terbunuh oleh para datuk kaum sesat, dan sejak masih kecil sekali, Yap In Hong tak pernah berkumpul dengan kakak kandungnya sampai dia ditolong oleh gurunya itu. Pada waktu melihat gurunya dan kakak kandungnya saling bertentangan memperebutkan dirinya, dia memihak gurunya atau penolongnya itu, tidak mau dibawa pergi oleh kakak kandungnya.

Semenjak kecil Yap In Hong telah digembleng oleh Yo Bi Kiok yang mencintanya seperti keponakan atau seperti adik sendiri, bahkan seperti anak sendiri. Demikian pula In Hong mencinta gurunya dan sekaligus seperti menemukan pengganti ayah bundanya.

Akan tetapi, keadaan di sekeliling kita selalu membentuk perwatakan kita! Bagi seorang wanita yang sudah menghayati kebebasan sejati, yaitu bebas dari segala bentuk ikatan, keadaan sekelilingnya tentu saja tidak mendatangkan pengaruh apa-apa. Akan tetapi bagi kebanyakan dari kita, keadaan sekeliling merupakan guru yang paling berkuasa sehingga tanpa kita sadari, kita terhanyut dan terbawa-bawa sehingga mau tidak mau kita menjadi ‘anggota’ dari keadaan sekeliling itu yang membentuk watak dan kepribadian kita.

Demikian pula dengan In Hong, dara jelita itu. Karena sejak kecil dia ikut dengan gurunya, yaitu seorang wanita yang membenci kaum pria, kemudian sesudah gurunya mendirikan perkumpulan, In Hong berada di tengah-tengah sekumpulan wanita yang amat membenci pria, maka secara otomatis In Hong menjadi dewasa dalam suasana seperti itu sehingga wataknya pun terbentuk sebagai seorang dara pembenci kaum pria!

Memang aneh kalau dipikir, oleh karena dara ini sama sekali belum pernah berhubungan dengan pria, apa lagi disakitkan hatinya. Akan tetapi, karena setiap hari melihat sikap dan mendengar cerita serta dongeng dari para anggota Giok-hong-pang mengenai kebusukan kaum pria dan betapa mereka membencinya, juga gurunya membencinya, maka dia pun sangat membenci kaum pria yang dianggapnya sebagai makhluk yang sejahat-jahatnya dan seganas-ganasnya!

Pada pagi hari itu, guru dan murid yang kini duduk di atas kursi itu memandang seorang wanita yang berlutut sambil menangis terisak-isak di depan sang ketua. Giok-hong-cu Yo Bi Kiok mengepal tangan kanannya, matanya mengeluarkan sinar berapi-api, sedangkan In Hong juga terbelalak memandang wanita itu, kedua tangan dikepal dan kemarahannya jelas nampak di wajahnya yang cantik.

"Lui Hwa, ceritamu sukar untuk dapat kupercaya!" terdengar Yo Bi Kiok berkata, suaranya halus, tetapi mengandung getaran yang mengiris jantung. "Coba kau ulangi lagi apa yang telah terjadi dengan kalian berlima!"

Wanita itu, yaitu Lui Hwa yang telah kita kenal, orang yang termuda di antara lima orang anggota Giok-hong-pang yang pergi menyelidik ke Telaga Setan, kini menggunakan ujung lengan bajunya untuk menghapus air matanya dan berusaha untuk bicara tanpa diganggu isaknya, lalu menuturkan dengan sejelas-jelasnya. Dia menceritakan pengalaman mereka semenjak merampas perahu sampai kemudian terpaksa mereka menyerah kalah karena kedua buah perahu itu digulingkan oleh para anggota Kwi-eng-pang.

Dengan suara terputus-putus dia mengulangi ceritanya, betapa keempat orang temannya direjang dan diperkosa oleh para anggota Kwi-eng-pang seperti empat ekor domba yang diserbu segerombolan serigala di tembat terbuka, bahkan di hadapan matanya karena dia dipaksa untuk menonton oleh ketua Kwi-eng-pang, melihat betapa empat orang teman itu tak mampu melawan sama sekali sehingga keempatnya tewas dalam keadaan yang amat mengerikan, terhina secara memalukan sekali.

Kemudian betapa dia hanya dapat menangis ketika dia sendiri terpaksa melayani segala kehendak Kiang Ti yang mempermainkan dirinya, memperkosanya, menghinanya bahkan kemudian menyerahkan dia untuk dipermainkan serta diperkosa pula oleh empat orang pembantu ketua itu sebagai balas jasa atas penangkapan lima orang wanita itu!

"Sepekan lamanya saya ditahan, mengalami penghinaan siang malam, dan akhirnya saya dibebaskan, diantar dengan perahu ke tepi telaga oleh empat orang pembantu ketua yang lihai itu. Dan di dalam perahu itu pun saya harus mengalami penghinaan dan perkosaan yang sudah tak terhitung lagi banyaknya..." Lui Hwa menangis terisak-isak.

"Plakkk!"

Tubuh Lui Hwa terpelanting dan tangisnya semakin mengguguk ketika dia bangkit berlutut lagi. Bibirnya mengalirkan darah dan pipinya yang ditampar oleh Bi Kiok menjadi merah sekali.

"Perempuan tak tahu malu! Dan engkau masih ada muka untuk pulang dan menceritakan semua itu kepadaku, ya? Seratus kali mampus masih lebih baik dari pada kau tetap hidup mengenang penghinaan itu!"

"Ampun, pangcu...! Sama sekali saya tidak ingin hidup lagi... sama sekali saya tidak sudi mengenangkannya... saya menyerah kepada mereka, saya terus mempertahankan hidup sampai saat ini... hanya.... hanya supaya dapat melapor kepada pangcu... karena hanya itulah harapan saya agar dendam kami terbalas... harap pangcu tidak melupakan mereka, Kiang Ti si jahanam beserta empat orang pembantunya... kami .... kami berlima menanti pembalasan itu..."

Tiba-tiba Lui Hwa meloncat ke belakang, mencabut pedangnya dan sekali menggerakkan kedua tangan yang memegang gagang pedang, dia membalikkan pedangnya menusuk dada sendiri.

"Crotttttt...!"

Pedang itu menembus ulu hatinya sampai ujung pedang keluar dari punggungnya!

Guru dan murid itu tidak bergerak sedikit pun. Mata mereka menerima kenyataan yang mengerikan itu tanpa berkedip dan hal ini saja sudah membuktikan betapa kerasnya hati mereka, dan betapa kuat perasaan mereka. Yo Bi Kiok tersenyum mengangguk, agaknya girang melihat bahwa anggota atau muridnya itu bukan seorang wanita lemah yang takut mati. Sambil memandang tubuh yang tertembus pedang itu, dia berkata lirih,

"Tenangkan hatimu, Lui Hwa, mereka akan menebus semua ini!"

Dengan anggukan kepala ketua Giok-hong-pang ini memberi isyarat kepada para penjaga wanita yang berada di situ untuk menyingkirkan dan mengurus baik-baik jenazah Lui Hwa, setelah dia mencabut pedang Lui Hwa dan menyuruh In Hong menyimpan pedang itu.

"Pedang inilah yang akan menghukum mereka," katanya. "Simpan baik-baik, In Hong."

"Subo, mengapa tidak sekarang juga kita berangkat ke Kwi-ouw dan membasmi iblis-iblis Kwi-eng-pang?" In Hong sudah bangkit berdiri dan mengangkat pedang Lui Hwa itu ke atas kepala.

"Duduklah, In Hong. Ingat, hati boleh saja panas akan tetapi kepala harus tetap dingin, itu merupakan syarat yang terutama bagi seorang ahli silat. Jika menuruti perasaan amarah, pikiran menjadi kalut dan kita tidak dapat menguasai gerakan kita dengan sempurna dan hal ini berarti sudah kehilangan sebagian dari daya tahan dan kewaspadaan kita."

In Hong menunduk, kagum dan harus membenarkan pendapat gurunya itu. "Baik, Subo, dan maafkan kesembronoan teecu (murid)."

"Tidak apa, muridku. Ketahuilah, si bedebah Kiang Ti yang sekarang telah menjadi ketua Kwi-eng-pang adalah murid kepala dari mendiang Kwi-eng Niocu pendiri Kwi-eng-pang. Ilmunya cukup hebat, terutama sekali Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang menjadi andalannya. Selain beracun tangannya juga amat kuat, bahkan dia berani menggunakan tangannya untuk langsung menangkis senjata tajam. Kiang Ti memang sengaja melepas dan membebaskan Lui Hwa, tak dibunuhnya seperti empat orang yang lain, tentu karena kesombongannya dan dia sengaja memberi kesempatan kepada Lui Hwa untuk melapor ke sini. Hal itu berarti sebuah tantangan! Dan orang yang sudah berani menantang tentu sudah percaya kepada kekuatan sendiri dan tentu sudah siap sedia menanti kedatangan kita! Maka kita tidak boleh bodoh dan sembrono, muridku."

"Perlukah kita takut, subo?" In Hong bertanya penasaran. "Biarkan teecu berangkat untuk memimpin semua anggota kita menyerbu dan membasmi Kwi-eng-pang sampai habis!"

"Berhati-hati dan bersiasat bukanlah tanda takut, In Hong, melainkan tanda kecerdikan. Kiang Ti bersama anak buahnya tidak perlu ditakuti, akan tetapi kedudukan Telaga Setan benar-benar sangat berbahaya. Tidak ingatkah kau akan cerita Lui Hwa betapa mereka menjadi tak berdaya karena perahu-perahu mereka digulingkan? Kita sendiri, bahkan aku sekali pun, akan mampu berbuat apa kalau sampai terjatuh ke dalam air yang dalam dan kita tidak pandai renang? Tentu semua ilmu kita tidak akan banyak gunanya! Kesukaran kita menyerbu Kwi-eng-pang adalah pada penyeberangannya. Apa bila telah mendarat di pulau itu, tidak ada kesulitan apa-apa lagi. Karena itu kita harus menggunakan siasat."

In Hong kembali mengangguk-angguk membenarkan gurunya. Dia merasa ngeri juga bila membayangkan betapa sebelum berhasil mendarat di pulau sarang musuh itu, dia sudah terjatuh ke dalam air yang amat dalam!

Bi Kiok lalu mengumpulkan semua anak buahnya yang berjumlah lima puluh orang. Saat mereka semua diberi tahu akan keputusan ketua mereka untuk menyerbu Kwi-eng-pang, wanita-wanita itu bersorak girang karena semua telah mendengar akan kematian Lui Hwa dan empat orang temannya yang mengerikan, dan mereka semua merasa sakit hati ingin membalaskan kematian teman-teman mereka.

Dengan penuh perhatian mereka mendengarkan siasat yang diatur oleh ketua mereka dan pada hari yang sudah ditentukan, berangkatlah semua anggota Giok-hong-pang ini secara berpencaran merupakan kelompok-kelompok kecil supaya tidak menarik perhatian orang, menuju ke Telaga Setan.

Ketika semua anggota tiba di hutan di tepi telaga itu sebagaimana yang telah ditentukan semula, Bi Kiok dan In Hong telah lebih dahulu tiba dan menanti di tempat itu. Guru dan murid ini sekali lagi merundingkan siasat dengan para anak buah Giok-hong-pang, lalu Yo Bi Kiok mengajak muridnya untuk menggunakan ilmu berlari cepat menuju ke tepi telaga sebelah utara dan perjalanan ini biar pun dilakukan dengan cepat sekali masih memakan waktu sampai setengah hari lamanya!

Pada menjelang tengah hari, seperti yang direncanakan pagi tadi sebelum ketua mereka pergi meninggalkan mereka, lima puluh orang anggota Giok-hong-pang itu mulai bersolek, menambah pupur dan yanci (pemerah pipi) dan membereskan pakaian mereka, kemudian beramai-ramai mereka memperlihatkan diri di pinggir pantai telaga sambil berteriak-teriak menantang Kwi-eng-pang!

Para anggota Kwi-eng-pang yang sedang bertugas menjaga di sekeliling telaga itu tentu saja sudah mengetahui akan kedatangan rombongan wanita Giok-hong-pang ini. Saat itu para anggota mereka yang bertugas mencari ikan juga telah mendengar ribut-ribut di tepi telaga.

Dengan jantung berdebar-debar penuh ketegangan, juga penuh gairah ketika melihat lima puluh orang wanita yang hampir semua cantik-cantik dan muda-muda itu, para anggota Kwi-eng-pang cepat-cepat melaporkan hal ini kepada ketua mereka dengan harapan nanti mereka itu akan kebagian kalau wanita-wanita itu dapat ditawan seperti yang telah terjadi dengan lima orang tawanan tempo hari. Kini melihat banyaknya anggota Giok-hong-pang yang cantik-cantik itu, mereka semua tentu akan memperoleh bagian!

Kiang Ti tertawa bergelak ketika mendengar laporan bahwa di tepi selatan telaga itu telah datang kurang lebih lima puluh orang wanita cantik para anggota Giok-hong-pang yang kini sedang berteriak-teriak, memaki-maki dan menantang.

"Ha-ha-ha-ha, mereka datang dan hanya menantang di tepi telaga? Ha-ha-ha-ha, mereka tidak dapat menyeberang, akan tetapi akan memalukan sekali jika kita tidak menyambut tantangan mereka. Apa sih kemampuan wanita-wanita itu kecuali menghibur kita di dalam kamar? Kita berjumlah lebih banyak! Sambut mereka dengan seratus orang dan sedapat mungkin tawan mereka hidup-hidup. Mereka cantik-cantik dan muda-muda? Bagus, hal ini berarti kalian tidak perlu repot-repot menculiki gadis-gadis dusun lagi, ha-ha-ha!"

Kiang Ti mengumpulkan anggota-anggota perkumpulannya dan memerintahkan seorang pembantunya untuk membawa seratus orang menghadapi para anggota Giok-hong-pang. Dia bukan seorang bodoh. Dahulu sebelum menjadi ketua Kwi-eng-pang, dia sudah lama menjadi ketua Ui-hong-pang dan sudah berpengalaman, maka ketika mendengar laporan bahwa lima puluh orang wanita Giok-hong-pang itu datang tanpa ketua mereka, dia pun merasa curiga.

Karena itulah dia hanya mengirim seratus orang anggota yang dianggapnya sudah cukup untuk menghadapi lima puluh wanita itu, ada pun dia sendiri bersama-sama sisa anggota perkumpulannya, kurang lebih ada tiga puluh orang, tetap berada di pulau untuk menjaga kalau-kalau ketua Giok-hong-pang menggunakan siasat ‘memikat harimau meninggalkan sarang’.

Berbondong-bondong seratus orang anggota Kwi-eng-pang itu pergi meninggalkan pulau, menggunakan perahu-perahu besar kecil menuju ke pantai telaga di mana para wanita itu masih berteriak-teriak menantang. Dengan sebuah teropong di tangannya Kiang Ti sendiri mengamati dari tepi pulau.

Dia bangga sekali dengan teropong ini, teropong milik seorang asing dari barat, seorang yang bermata biru berambut kuning, yang pernah menjadi tamu gurunya di pulau itu dan yang sudah meninggalkan teropong itu di situ sehingga kini menjadi miliknya. Dengan alat ini yang pada waktu itu masih langka, dia dapat mengikuti gerakan orang-orangnya di tepi telaga.

Sambil berteriak-teriak penuh kegarangan, seratus orang anggota Kwi-eng-pang itu sudah menyerbu ke darat, langsung disambut oleh para wanita Giok-hong-pang. Segera terjadi pertempuran kacau-balau yang sangat seru di tengah-tengah debu yang mengebul tinggi dan teriakan-teriakan mereka yang bercampur aduk.

Karena jumlah orang-orang Kwi-eng-pang dua kali lipat lebih banyak, maka boleh dibilang setiap orang wanita Giok-hong-pang dikeroyok oleh dua orang pria. Akan tetapi, dengan gerakan pedang yang cepat dan rapi, para anggota Giok-hong-pang itu mampu membela diri dengan baik sekali dan dengan kagum Kiang Ti melihat betapa wanita-wanita itu sama sekali tidak terdesak oleh jumlah lawan yang lebih banyak.

"Kiang Ti manusia hina, bersiaplah engkau untuk mampus!"

Suara yang halus akan tetapi nyaring dan menggetar aneh ini membuat Kiang Ti terkejut sekali. Cepat dia membalikkan tubuhnya dan dengan kaget melihat bahwa di hadapannya sudah berdiri dua orang wanita yang sangat luar biasa cantiknya, terutama sekali yang muda!

Meski pun sudah belasan tahun tidak pernah bertemu, namun dia masih dapat mengenal Yo Bi Kiok, yang dahulu merupakan seorang gadis yang cantik sekali dan pernah tinggal di pulau sebelah utara. Dia tersenyum mengejek. Dugaannya ternyata tepat sekali. Yo Bi Kiok hendak menggunakan siasat memancing orang-orangnya berikut dia meninggalkan pulau kemudian secara diam-diam wanita ini mendarat di pulau melalui utara yang tentu saja tak terjaga karena semua perhatian ditujukan kepada wanita-wanita Giok-hong-pang yang sengaja mengacau di tepi selatan.

Akan tetapi, melihat bahwa yang muncul hanyalah Yo Bi Kiok seorang bersama seorang gadis muda, hatinya menjadi besar dan segera dia bersuit memberi tanda. Berserabutan datanglah tiga puluh orang yang sudah dipersiapkan dan dalam sekejap mata saja Yo Bi Kiok dan In Hong sudah dikepung!

Yo Bi Kiok tersenyum mengejek. "Kiang Ti, tentu engkau sudah tahu akan dosa-dosamu terhadap lima orang anggota kami, lekas kau berlutut dan menyerah!" kembali Yo Bi Kiok berkata halus, akan tetapi di dalam kehalusan suaranya itu terkandung sesuatu yang sangat menyeramkan karena senyum mengejek dan pandang mata seperti ujung pedang itu mengandung ancaman maut.

"Ha-ha-ha-ha! Bukankah engkau Giok-hong-cu Yo Bi Kiok yang dulu itu? Hemmm, sudah belasan tahun tidak jumpa, engkau menjadi makin matang dan cantik saja! Giok-hong-cu, jangan salahkan aku tentang lima orang anggotamu itu. Engkaulah sendiri yang bersalah. Di antara kita masih ada ikatan, engkau murid Siang-tok Mo-li ada pun aku murid Kwi-eng Niocu, kenapa engkau mengirim orang-orang untuk menyelidiki tempatku dan melakukan penghinaan serta membunuh empat orangku? Apa bila engkau bersama para anggotamu memang ingin pindah ke sini, mengapa tidak datang secara baik-baik dan berdamai saja? Jika kita bersatu, bukankah kita akan merupakan kekuatan yang hebat? Engkau menjadi isteriku, dan para anggotamu boleh memilih suami di antara anggotaku, bukankah itu baik sekali?"

"Tutup mulutmu yang busuk itu!" Yo Bi Kiok memaki marah, akan tetapi Kiang Ti hanya tertawa mengejek.

"Yo Bi Kiok, tak perlu engkau bersikap sombong seperti ini. Jumlah orang-orangmu hanya lima puluh orang dan sekarang tentu telah ditawan semua oleh seratus orang anggotaku, dan engkau sendiri bersama nona jelita ini telah dikepung...!"

"Engkau yang buta dan tidak tahu bahwa kematian telah berada di depan hidung! Lihatlah baik-baik apa yang terjadi di seberang sana." Yo Bi Kiok menunjuk ke arah tepi telaga di mana terjadi pertempuran.

Dengan teropongnya Kiang Ti langsung menengok ke arah seberang telaga dan seketika mukanya berubah. Dengan jelas dia melihat betapa sebagian dari orang-orangnya sudah roboh dan sebagian lagi kini telah menyerah, ditodong pedang dan tidak ada seorang pun di antara anggotanya yang berani melawan lagi! Tidak disangkanya pertempuran berjalan secepat itu dengah kekalahan fihaknya yang berjumlah dua kali jumlah lawan banyaknya.

"Pengecut...!" Dia berteriak, lalu menurunkan teropongnya dan membalik menghadapi dua orang wanita itu sambil berseru kepada para pembantunya, "Tangkap mereka berdua!"

Melihat kekalahan fihaknya, timbul keinginan di hati Kiang Ti untuk menawan hidup-hidup ketua Giok-hong-pang ini dan menjadikannya sebagai sandera untuk menaklukkan semua anggota Giok-hong-pang.

Tiga puluh orang anak buah Kwi-eng-pang mengepung ketat dan mereka telah siap untuk menangkap dua orang wanita itu. Hati mereka masih terasa besar karena mereka yang tidak menggunakan teropong tentu saja masih belum tahu apa yang telah terjadi dengan kawan-kawan mereka yang menyerbu ke darat. Sekarang, menghadapi hanya dua orang wanita cantik saja, tentu mereka memandang rendah.

"In Hong, kau hajar anjing-anjing itu, biar aku yang menangkap serigalanya!" Yo Bi Kiok berkata sambil tersenyum kepada muridnya.

Sikap mereka tenang sekali seakan-akan yang mengepung dan mengancam mereka itu bukan manusia, hanya boneka-boneka hidup belaka yang tidak perlu dikhawatirkan!

Kiang Ti yang terlalu percaya pada kepandaian sendiri dan mengandalkan jumlah banyak, menjadi marah sekali. Dia ingin menangkap hidup-hidup dua orang musuh ini, maka dia pun berkata nyaring, "Kalian semua tangkap nona muda itu, awas jangan sampai kulitnya yang halus itu lecet-lecet! Kalian berempat membantu aku menghadapi iblis cantik ini!" Perintah yang terakhir ini dia tujukan kepada empat orang pembantunya yang merupakan tokoh-tokoh terpandai sesudah dia di Kwi-eng-pang.

Tanpa menjawab In Hong mentaati perintah gurunya, dan sekali meloncat tubuhnya telah mencelat ke kiri, menjauhi gurunya sehingga para pengepung yang kini juga berpencar dan terpecah menjadi dua itu cepat mengepung gadis ini dengan ketat, dengan pandang mata bersinar-sinar penuh gairah karena biar pun mereka ini tahu bahwa gadis secantik ini tentu akan diambil sendiri oleh sang ketua, namun setidaknya dalam menangkapnya mereka memperoleh kesempatan untuk memuaskan tangan-tangan mereka.

Dua puluh enam orang lelaki yang merupakan pasukan inti dari Kwi-eng-pang, sekaligus pengawal-pengawal setia dari Kiang Ti karena mereka ini semua adalah bekas anggota Ui-hong-pang, kini mengepung seorang dara remaja yang kelihatan sangat tenang berdiri di tengah kepungan, sedikit pun tidak kelihatan gentar, bahkan masih tak mau mencabut pedangnya, berdiri dengan kedua kaki agak terpentang lebar, kedua tangan tergantung di kanan kiri tubuh, renggang dari badan, tegak dengan muka menghadap ke depan, sama sekali tidak bergerak, dan hanya sepasang mata yang indah seperti mata burung hong itu saja yang bergerak, melirik ke kanan dan kiri dengan lambat, dan ada bayangan senyum tersembunyi di balik sepasang bibir yang merah membasah itu.

Demikian pula dengan Yo Bi Kiok. Wanita ini pun berdiri seperti sikap muridnya, hanya bedanya, bila In Hong berdiri dengan wajah dingin dan senyum yang seolah membayang atau bersembunyi di balik bibirnya itu hanya tampak karena memang bentuk mulutnya amat manis seolah-olah selalu tersenyum, sebaliknya Bi Kiok memang benar tersenyum, senyum mengejek dan sepasang matanya bersinar-sinar penuh semangat, atau mungkin itu adalah suatu kemarahan yang terselubung di balik ejekan sikapnya.

Matanya melirik ke arah Kiang Ti dan keempat orang pembantunya itu berganti-ganti dan di dalam telinganya berdengung kembali ucapan terakhir Lui Hwa, "...harap pangcu tidak melupakan mereka, Kiang Ti si jahanam dan empat orang pembantunya..."

"Tidak, Lui Hwa, aku tidak akan melupakannya!" Tiba-tiba dia berkata pada saat Kiang Ti dan empat orang pembantunya menerjangnya dari lima penjuru.

Kiang Ti yang dahulu pernah mengenal Yo Bi Kiok, memandang rendah. Maka dia dan keempat orang pembantunya tidak menggunakan senjata, melainkan langsung menerjang dengan tangan kosong. Pertama, karena dia memandang rendah dan merasa amat yakin bahwa mereka berlima sudah pasti akan dapat mengalahkan ketua Giok-hong-pang ini, dan kedua, karena memang dia ingin menawan hidup-hidup wanita yang amat cantik ini.

Kepercayaan pada diri sendiri diperkuat pula dengan adanya Ilmu Hek-tok-ciang (Tangan Racun Hitam) yang dahsyat, apa lagi karena empat orang pembantu itu juga merupakan murid-murid kepala yang sudah melatih diri mereka dengan Hek-tok-ciang pula, sungguh pun keampuhan tangan beracun mereka masih belum dapat menyamai guru mereka.

Akan tetapi, Bi Kiok menghadapi serangan bertubi mereka itu dengan sikap tenang saja, tubuhnya hanya mengelak sedikit dan kedua tangannya dikebutkan ke kanan kiri serta ke atas bawah.

"Plak-plak-plak-plak-plak...!"

Beruntun lima kali tangan lima orang pria yang mengandung getaran tenaga Hek-tok-ciang itu bertemu dengan bayangan tangan Bi Kiok dan akibatnya, keempat orang pembantu Kiang Ti terhuyung ke belakang dengan mulut menyeringai kesakitan, sedangkan Kiang Ti sendiri meloncat ke belakang dan memegangi lengan kanannya yang terasa panas dan nyeri! Dia memandang dengan mata terbelalak, akan tetapi Bi Kiok hanya berdiri tegak sambil tersenyum, memandang mereka bergantian dengan sikap mengejek sekali.

"Aughhh...!" Kiang Ti menggerakkan kedua lengannya yang membentuk gerakan-gerakan saling bersilang, kedua tangan laksana cakar harimau dan kedua lengan tergetar makin lama makin keras dan lengan itu mulai berubah menjadi hitam! Inilah pengerahan tenaga Hek-tok-ciang yang dahsyat!

Karena tadi mereka memandang rendah, tentu saja mereka hanya ingin mengalahkan wanita ini tanpa harus menggunakan Hek-tok-ciang. Akan tetapi, begitu merasa betapa kuatnya tangkisan wanita itu, kuat dan cepat sekali, mereka segera maklum bahwa ketua Giok-hong-pang ini memang amat hebat, maka Kiang Ti Ialu mengerahkan Hek-tok-ciang. Empat orang pembantunya pun kemudian mengeluarkan pekik dahsyat dan seperti yang dilakukan ketua mereka, empat orang ini pun menggerak-gerakkan kedua lengan sampai lengan mereka mulai tampak kehitaman, sungguh pun tidak sehitam lengan Kiang Ti.

"Hemm, itukah Hek-tok-ciang? Hanya permainan anak-anak saja!" Yo Bi Kiok mengejek.

"Serang perempuan sombong ini!" Kiang Ti memberi aba-aba.

Dia masih tidak ingin sekaligus membunuh wanita cantik ini, maka dia hanya menyuruh empat orang pembantunya, karena kalau dia sendiri yang maju menyerang menggunakan Hek-tok-ciang, ia khawatir kalau wanita ini akan roboh tewas seketika!

Empat orang pembantunya juga menjadi penasaran dan mulai marah oleh ejekan wanita itu. Mereka tidak memperdulikan lagi perintah guru dan ketua mereka untuk menangkap Bi Kiok, maka sekali maju, mereka langsung mengerahkan tenaga Hek-tok-ciang untuk menyerang dengan pukulan-pukulan maut!

"Haaaaiiiiikkkkk…!"

Hampir berbareng mereka mengeluarkan teriakan keras, lantas menerkam maju sambil memukul dengan tangan terbuka yang berwarna kehitaman dan mengeluarkan bau amis seperti darah membusuk.

Dengan tenang Bi Kiok mengelak ke kanan kiri, dan tiba-tiba tubuhnya berkelebat cepat, lenyap dari dalam kepungan empat orang itu! Empat orang itu terkejut, memandang ke kanan kiri mencari-cari.

"Dia di atas...!" Kiang Ti berseru, kaget juga melihat betapa tadi tubuh wanita itu mencelat ke atas dengan kecepatan kilat.

Empat orang itu cepat memandang ke atas dan melihat bayangan lawan menukik turun. Dengan penuh kemarahan mereka menyambut dengan pukulan-pukulan Hek-tok-ciang, akan tetapi kembali tubuh itu berkelebat dan lenyap.

"Robohlah...!" Terdengar bentakan halus dan berturut-turut empat orang itu terpelanting dalam keadaan lemas karena jalan darah pada belakang pundak mereka sudah tertotok, membuat mereka roboh tanpa dapat bergerak lagi, lemas seluruh tubuh dan hanya mata mereka saja yang dapat melotot memandang kepada wanita itu dengan penuh kengerian.

Kiang Ti menjadi marah bukan main. Dia menyangka bahwa wanita itu takut menghadapi Hek-tok-ciang, maka tadi telah mempergunakan ginkang (ilmu meringankan tubuh) yang amat luar biasa untuk mengalahkan para pembantunya. Tapi kalau hanya mengandalkan ginkang, dia tidak takut, karena Hek-tok-ciang di tangannya luar biasa kuatnya, dan sekali saja wanita ini kena dipukul olehnya, bahkan terkena sambaran hawa pukulannya saja, tentu akan roboh!

Sementara itu, In Hong juga sudah dikeroyok oleh dua puluh enam orang pria. Karena hendak mentaati perintah ketua mereka, juga karena berebut ingin dapat memeluk dan menggerayangi tubuh gadis yang cantik sekali itu dengan tangan mereka yang sudah gatal-gatal rasanya, dua puluh enam orang itu tidak menggunakan senjata, bahkan tidak memukul hanya menubruk dan hendak memeluk dan menangkap In Hong. Akan tetapi, terjadilah keanehan luar biasa.

Gadis itu hanya mengelak ke sana-sini dan tidak ada sebuah pun di antara tangan yang sebegitu banyaknya itu pernah berhasil menyentuhnya! Bahkan kalau ada tangan yang tidak keburu dielakkan saking banyaknya, belum sampai tangan itu menyentuh kulit tubuh In Hong, tangan itu sudah terpental seperti ada yang menangkis, seperti terdorong oleh tangan yang tidak kelihatan.

In Hong sama sekali tidak membalas, hanya mengelak, bukan karena takut tertangkap karena dengan sinkang-nya yang mukjijat dia sanggup melindungi kulitnya dengan hawa yang cukup kuat untuk membuat tangan mereka terpental, akan tetapi dia mengelak untuk menjauhkan diri, karena dikepung seperti itu dia merasa jijik, apa lagi karena kepungan ketat oleh dua puluh enam orang pria itu menimbulkan bau apek dan kecut dari keringat dan mulut mereka!

In Hong adalah seorang dara yang amat mencinta gurunya. Bagi dia, Yo Bi Kiok adalah seorang guru, seorang ketua, sahabat, dan juga kakak atau pengganti ibu sendiri! Hanya Bi Kiok seoranglah yang dipandangnya di dunia ini. Maka tidak mengherankan apa bila dia amat mencinta dan taat kepada gurunya ini.

Di dalam pertandingan ini, ketika melihat gurunya dikeroyok oleh ketua Kwi-eng-pang dan empat pembantunya yang dia tahu jauh lebih lihai dari pada dua puluh enam orang yang mengeroyoknya, maka dia tidak mau merobohkan seorang pun lawan sebelum gurunya lebih dahulu merobohkan para pengeroyoknya. Dia tidak mau mendahului gurunya karena hal ini dianggapnya akan dapat menimbulkan perasaan tak senang di hati gurunya! Inilah sebabnya mengapa In Hong hanya menghindarkan diri dari semua tangan itu tanpa mau membalas sama sekali.

Haiiiiitttttttt...!"

Tiba-tiba saja Kiang Ti memekik keras saking marahnya ketika pukulan-pukulannya selalu mengenai tempat kosong. Kedua tangannya kini mendorong ke depan, ke arah dada Bi Kiok dan dari kedua telapak tangannya yang sangat hitam itu menyambar hawa pukulan dahsyat disertai bau yang amat amis.

Sekali ini Bi Kiok tidak mengelak, bahkan dia juga menggerakkan kedua lengan, dengan kedua tangan terbuka menyambut dorongan telapak tangan lawan itu.

"Ahh, engkau mau mencari mampus," demikian suara hati Kiang Ti sambil mengerahkan Hek-tok-ciang sekuat tenaganya hingga kedua lengannya berubah menjadi hitam sekali, mengkilap dan mengeluarkan bau yang amis memuakkan.

"Plakkkk!"

Dua pasang telapak tangan itu bertemu, saling tempel dan saling dorong dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Tubuh Kiang Ti tergetar hebat dan ketua Kwi-eng-pang ini segera mengerahkan seluruh tenaganya dengan keyakinan bahwa wanita ini tentu akan roboh dengan tubuh hitam semua karena racun dari hawa pukulan Hek-tok-ciang.

Akan tetapi Bi Kiok berdiri tegak dengan kedua lengan lurus, tubuhnya sedikit pun tidak bergoyah, sedangkan mata dan mulutnya membayangkan ejekan yang membuat Kiang Ti makin penasaran dan makin marah.

"Haaaahhhhhhhh…!"

Dia kembali mengerahkan tenaga dan bukan main kagetnya pada saat dia merasa bahwa dua tangannya bertemu dengan hawa yang amat panas dan tenaga yang amat dahsyat sehingga membendung semua tekanan hawa pukulan Hek-tok-ciang, bahkan mendorong tenaga Hek-tok-ciang membalik, kemudian hawa panas itu mulai menyerangnya, keluar dari telapak tangan halus itu, mula-mula memasuki ujung jari-jari tangannya, kemudian makin lama makin jauh memasuki tangannya.

Kiang Ti terkejut bukan main. Jari-jari tangannya seperti dibakar rasanya. Dia cepat-cepat berusaha untuk melepaskan kedua tangannya, akan tetapi ternyata dua tangan itu sudah melekat pada tangan lawan, sedikit pun tidak dapat direnggangkan, apa lagi dilepaskan! Beberapa kali dia berusaha menarik kembali kedua tangan, namun akhirnya dia maklum bahwa hal itu tidak mungkin.

Maka dia menjadi nekat, tenaga Hek-tok-ciang makin dia kerahkan, namun semua sia-sia belaka. Hawa panas mendesak semakin jauh, melalui pergelangan tangan, terus naik ke lengannya dan ketika sampai di atas siku, dia tidak kuat lagi bertahan saking panas dan nyerinya sehingga Kiang Ti, ketua Kwi-eng-pang itu menjerit-jerit!

"Aduhh... panas... panasss... aduhhhh, lepaskan...!" Tanpa malu-malu lagi Kiang Ti yang selama ini terkenal sebagai seorang ketua Kwi-eng-pang yang sangat ditakuti, sekarang berteriak-teriak. Mukanya pucat sekali dan penuh dengan keringat dingin, dua lengannya kemerahan seperti dipanggang api, kedua kaki menggigil menahan kenyerian yang amat hebat.

Bi Kiok tersenyum lebar, sepasang tangannya menggigil ketika dia mengerahkan tenaga sinkang-nya sehingga serangannya menjadi makin hebat, membuat kedua lengan Kiang Ti ikut menggigil.

"Aduhhh... aduhhhh... am... punnn...!" Kiang Ti yang kini merasa betapa seturuh tubuhnya seperti ditusuki jarum dan dipanggang di atas api itu mengeluh dan minta-minta ampun.

"Krekk! Krekk! Augghhhh...!"

Tubuh Kiang Ti menjadi lemas, lantas dia roboh pingsan ketika Bi Kiok menarik kembali kedua tangannya setelah dengan pengerahan sinkang-nya dia membuat tulang-tulang dari kedua lengan lawannya itu retak-retak.

"In Hong, sudahi main-mainmu dengan mereka!" Bi Kiok berkata kepada muridnya ketika dia menengok dan melihat betapa muridnya itu masih dikepung dan dikeroyok dua puluh enam orang pria itu tanpa membalas, hanya mengelak ke sana-sini dengan cekatan bagai seekor burung walet.

"Baik, Subo!" In Hong berkata sesudah dia melihat betapa subo-nya sudah merobohkan semua orang lawannya. Dia menggerakkan kedua tangannya berkali-kali sambil berseru, "Robohlah...!"

Hebat bukan main akibatnya. Berturut-turut dua puluh enam orang itu roboh dan tidak dapat bangun kembali sehingga tubuh mereka malang-melintang dan tumpang-tindih di atas tanah. Cepat sekali pengeroyokan itu selesai dan kini yang tampak hanya In Hong di tengah-tengah dua puluh enam tubuh orang yang malang-melintang di sekelilingnya.

Mereka semua menjadi korban sasaran Siang-tok-swa (Pasir Racun Harum) yang tadi disebar oleh dara itu. Racun yang berupa pasir ini memang hebat sekali, mengeluarkan sinar dingin hijau dan berbau harum, tetapi tidak hanya dapat merobohkan dan membuat lawan pingsan seperti halnya dua puluh enam orang itu, bahkan kalau dikehendaki oleh In Hong, dapat pula mencabut nyawa lawan! Tadi melihat betapa gurunya merobohkan lima orang pengeroyoknya tanpa membunuh, dia pun hanya merobohkan kedua puluh enam orang itu dengan pasir tanpa membunuh, hanya membuat mereka pingsan saja.

Pada saat itu, perahu-perahu yang ditumpangi oleh anak buah Giok-hong-pang telah tiba di pulau. Berkat petunjuk para tawanan, yaitu orang-orang Kwi-eng-pang yang menyerah dan takluk, para anggota Giok-hong-pang dapat mendarat di pulau dengan selamat.

Bi Kiok lalu memerintah para anak buahnya membawa semua tawanan itu ke ruangan besar di mana dia dan In Hong duduk di atas kursi, juga memerintahkan supaya semua keluarga anggota Kwi-eng-pang, baik yang terluka atau yang tidak, pendeknya mereka yang belum mati, dikumpulkan di ruangan itu, dijaga oleh para anggota Giok-hong-pang.

Kiang Ti dan para anggotanya sudah siuman kembali dan kini dia duduk di atas lantai di depan Bi Kiok dengan muka pucat. Segera tahulah dia bahwa riwayatnya sebagai ketua Kwi-eng-pang habis sampai di situ saja. Tidak pernah diduganya bahwa kini Yo Bi Kiok memiliki ilmu kepandaian yang sedemikian hebatnya, jauh lebih hebat dari kepandaiannya sendiri, bahkan dia yakin lebih hebat dari pada tingkat kepandaian mendiang gurunya, Kwi-eng Niocu atau guru Bi Kiok, Siang-tok Mo-li!

Kalau saja dia tahu akan hal itu, tentu saja tidak akan begitu bodoh untuk melawannya. Dan dia bergidik kalau mengingat akan apa yang sudah dia lakukan terhadap lima orang wanita anggota Giok-hong-pang beberapa hari yang lalu itu!

Rasa takut mendatangkan kebencian yang hebat dan sekiranya kedua lengan tangannya tidak patah-patah tulangnya sehingga kedua lengannya itu lumpuh tidak dapat digerakkan lagi, tentu Kiang Ti akan mengamuk dan melawan sampai tewas. Dia mengerti bahwa dirinya tidak tertolong lagi dan dia tidak mungkin bisa mengharapkan pengampunan dari wanita yang seperti iblis itu, wanita cantik yang sikapnya dingin menyeramkan, yang kini bersama dara jelita yang amat lihai itu duduk di hadapannya, memandang dengan mata seperti hendak membunuhnya dengan sinar matanya.

Suasana sunyi, tidak ada seorang pun yang berani bergerak, bahkan semua anak buah Kwi-eng-pang seperti menahan napas saking tegang dan takutnya. Di sana-sini terdengar isak tertahan dari isteri dan keluarga para anggota Kwi-eng-pang yang telah tewas dalam penyerbuan anak buah Giok-hong-pang itu.

"Kiang Ti, apakah engkau sudah mengetahui akan dosamu?" Tiba-tiba terdengar suara halus ketua Giok-hong-pang, membuat para pendengarnya terkejut dan semua mata kini tertuju kepada Kiang Ti yang duduk di atas lantai sambil menundukkan mukanya. Ketua Kwi-eng-pang itu mengangkat muka.

"Yo Bi Kiok, aku sudah kalah, mau bunuh terserah, tak perlu lagi banyak cakap!"

Yo Bi Kiok tersenyum. "Engkau dan keempat orang pembantumu ini melakukan kekejian terhadap Lui Hwa, dan sekarang dia sedang menanti kalian berlima di alam baka untuk membuat perhitungan dengan kalian."

Kiang Ti menunduk. Maklumlah dia bahwa perbuatannya itu merupakan kebodohan dan kelalaiannya, memandang rendah kepada orang lain. Kesenangan dan kenikmatan yang didapatnya saat dia mempermainkan Lui Hwa sungguh tak sepadan dibandingkan dengan hukumannya, dengan kematian yang sudah membayang di depan mata.

Menyesal? Tidak, orang seperti Kiang Ti tidak pernah mengenal sesal, karena bagi orang seperti dia, hidup berarti pengejaran kesenangan, dan mati adalah resikonya!

"Memang aku telah melakukan itu, habis kau mau apa?" tantangnya untuk menutupi rasa takutnya, karena betapa pun juga, ada perasaan takut dan ngeri menghadapi kematian, meninggalkan semua kesenangan dunia dan menghadapi suatu keadaan lain yang masih rahasia, yang tidak dapat dibayangkannya akan bagaimana jadinya sesudah mati, akan tetapi banyak dongeng tentang neraka telah membuatnya ngeri juga.

"Pangcu... harap pangcu sudi mengampuni hamba...," seorang di antara empat pembantu Kiang Ti terdengar memohon dengan suara ketakutan.

"Pangcu, ampunkan kami... kami hanya menjalankan tugas..."

"Kami hanya diperintah oleh pangcu kami..."

Bibir yang tersenyum manis itu tiba-tiba saja berubah menjadi cemberut. Sejenak Bi Kiok menyapu empat orang itu dengan tatap mata penuh penghinaan, melihat betapa empat orang itu sambil berlutut mengangguk-anggukkan kepala sampai dahi mereka menyentuh lantai dan mulut mereka tiada henti-hentinya mengeluarkan suara seperti orang menangis sambil minta-minta pengampunan.

"Pengecut hina dan busuk!" Tiba-tiba Bi Kiok membentak, cepat tangannya bergerak dan tampaklah sinar berkilat menyambar ke arah empat orang itu yang segera menjerit dan roboh terlentang, berkelojotan seperti ayam-ayam disembelih dengan leher putus!

Kiang Ti memandang empat orang pembantunya itu dengan muka berubah pucat, akan tetapi hatinya puas karena dia pun mendongkol sekali menyaksikan sikap mereka tadi.

"Kiang Ti, engkau manusia busuk dan kejam, akan tetapi sikapmu cukup gagah, maka engkau patut menerima hukuman yang lebih ringan. Nah, kau temuilah Lui Hwa di sana!"

Kembali sinar kilat menyambar dari tangan Bi Kiok disusul robohnya Kiang Ti yang tidak dapat bergerak lagi karena lehernya sudah terbabat putus oleh sinar pedang tadi. Hebat bukan main cara Bi Kiok mencabut dan menggerakkan pedangnya sehingga tidak dapat diikuti pandang mata semua orang yang berada di situ kecuali In Hong.

Cepat bukan main gerakannya sehingga yang tampak hanyalah sinar berkilat dari pedang Lui-kong-kiam (Pedang Sinar Kilat) yang menyilaukan mata. Kemudian dengan tepatnya pedang itu menyambar, merobohkan empat orang yang baru mati sesudah berkelojotan dan mengalami siksaan yang agak lama, sedangkan Kiang Ti roboh dan tewas seketika sehingga mungkin saja arwahnya masih belum sadar bahwa dia telah meninggalkan raga karena selain lehernya putus juga lebih dulu jantungnya tertembus pedang!

Semua orang memandang dengan wajah pucat lalu menundukkan muka. Orang-orang Kwi-eng-pang gemetar dan ketakutan, bahkan para anggota Giok-hong-pang juga tidak ada yang berani bersuara. Mereka maklum bahwa kalau ketua mereka yang cantik itu sedang marah, dia menjadi berbahaya bukan main.

"Sekarang, mereka yang dahulu memperkosa dan mempermainkan empat orang anggota Giok-hong-pang sampai mati, majulah semua!" Suara ini halus, akan tetapi mengandung sesuatu yang membuat mereka yang merasa berdosa menggigil ketakutan. Tentu saja tak ada seorang pun di antara mereka yang berani berkutik, apa lagi maju ke depan wanita luar biasa itu.

Bi Kiok mengerutkan alisnya. Dari penuturan mendiang Lui Hwa, dia mendengar bahwa Lui Hwa diperkosa dan dihina oleh Kiang Ti dan empat orang pembantunya yang semua sudah dia bunuh sebagai hukuman. Akan tetapi menurut Lui Hwa pula, empat orang anak buahnya yang lain itu telah direjang dan diperkosa di tempat terbuka oleh banyak sekali anggota Kwi-eng-pang, diperkosa di depan umum secara bergantian sehingga mereka itu tewas dalam keadaan mengerikan dan menyedihkan.

Bi Kiok mulai menyapu semua orang yang berada di ruangan luas itu dengan pandang matanya dan pandang mata itu berhenti di kelompok keluarga ini. Dari nenek dan kakek sampai anak-anak semuanya menundukkan muka dan kelihatan ketakutan serta berduka, kecuali seorang wanita muda yang berwajah manis dan berusia paling banyak tiga puluh tahun. Wanita ini memandang ke arah tubuh Kiang Ti yang tak berkepala lagi dan tubuh empat orang pimpinan Kwi-eng-pang yang berkelojotan dalam sekarat itu dengan mata bersinar-sinar penuh kepuasan dan kebencian!

“Heiiii, kau ke sinilah!" Bi Kiok menggapai dengan tangannya.

Wanita itu terkejut dan baru sekarang kelihatan ketakutan. Akan tetapi Bi Kiok tersenyum dan berkata, "Jangan takut karena mulai saat ini juga engkau kuangkat menjadi seorang pelayanku. Engkau akan terlindung dan tak seorang pun akan berani mengganggumu!"

Wanita cantik itu melangkah maju lalu menjatuhkan diri berlutut di depan Bi Kiok, "Terima kasih atas kebaikan pangcu yang terhormat." Sikap dan kata-kata wanita ini menunjukkan bahwa dia adalah seorang wanita yang pernah terdidik, bukan seorang wanita kasar isteri penjahat atau perkumpulan sesat.

"Siapa namamu?"

"Saya bernama Bhe Kiat Bwee, pangcu."

"Bagaimana engkau bisa berada di tempat ini?"

Mendengar pertanyaan ini, air mata bercucuran dari sepasang mata Kiat Bwee dan dia lalu bercerita dengan suara tersendat-sendat. Kiranya wanita muda ini, yang menjadi isteri seorang di antara empat pembantu Kiang Ti, merupakan wanita culikan seperti sebagian besar wanita lain yang berada di situ. Dia sedang menjadi pengantin ketika orang-orang Kwi-eng-ang menyerbu perkampungannya dan dia dilarikan, kemudian dipaksa menjadi isteri seorang di antara empat pembantu Kiang Ti. Dia merasa sakit hati, dia membenci suaminya dan semua orang Kwi-eng-pang, akan tetapi tentu saja dia tidak berdaya dan harus menelan segala kesengsaraannya.

"Hari ini, dengan mata kepala sendiri saya menyaksikan betapa semua sakit hati saya terbalas oleh pangcu, betapa puas dan berterima kasih hati saya terhadap pangcu..." Dia menangis lagi.

Bi Kiok tersenyum. Tidak salah dugaannya. "Kiat Bwee, mulai sekarang engkau menjadi anggota Giok-hong-pang. Engkau sendiri mengalami kebiadaban kaum pria Kwi-eng-pang ini, maka sekaranglah tiba saatnya untuk menghukum mereka. Engkau tentu tahu siapa di antara mereka yang dahulu telah melakukan pemerkosaan biadab terhadap empat orang rekanmu itu."

Kiat Bwee mengangguk. "Saya tahu, pangcu, saya juga menyaksikan semua perbuatan biadab itu dengan mata kepala sendiri."

"Nah, kau tunjuklah mereka seorang demi seorang." Bi Kiok lantas menunjuk tiga orang pembantunya. "Kalian melaksanakan hukumannya!"

Tiga orang wanita yang ditunjuk itu tersenyum, mengangguk kemudian mencabut pedang masing-masing. Mereka lalu mengikuti Kiat Bwee yang tampak sangat gembira dan tidak kalah ganasnya dibandingkan dengan ketiga orang wanita Giok-hong-pang yang dengan penuh gairah hendak melaksanakan hukuman sebagai algojo-algojo bagi orang-orang Kwi-eng-pang itu.

"Nah, ini dia, dan itu, dan itu...!" Kiat Bwee menudingkan telunjuknya.

Setiap kali Kiat Bwee menuding, tampaklah cahaya pedang berkelebat disusul suara jerit mengerikan dan robohlah lelaki yang dituding oleh Kiat Bwee, roboh dalam keadaan amat mengerikan karena tiga batang pedang itu selalu menyambar ke bawah dan membacok ke arah anggota kelamin para pria itu.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner