DEWI MAUT : JILID-05


Kini mereka tidak lagi mengucurkan air mata dan meratap, terutama sekali hal ini mereka paksakan terhadap perasaan mereka sendiri untuk memperlihatkan sikap gagah kepada para penghuni dusun yang datang untuk memberikan penghormatan terakhir kepada para korban. Bukan hanya para penghuni dusun-dusun pegunungan di sekitar tempat itu, juga dari kota Han-tiong datang tamu berduyun-duyun untuk bersembahyang dan tidak lupa memberi sumbangan kepada keluarga yang ditimpa duka nestapa itu.

Sejak pagi hingga tengah hari tiada hentinya para tamu datang, bersembahyang, memberi sumbangan sambil mengucapkan kata-kata yang nadanya menghibur, memuji kegagahan Cap-it Ho-han sebaliknya mengutuk penjahat-penjahat yang melakukan pembunuhan keji, kemudian pergi lagi dengan perasaan lega bagaikan orang-orang yang sudah melakukan sesuatu yang amat baik dan berharga. Bahkan komandan penjaga keamanan dari kota Han-tiong juga datang menyatakan duka cita dan dia mengatakan kepada para anggota Cin-ling-pai bahwa dia akan mengerahkan pasukannya untuk mencari serta menangkap penjahat-penjahat yang menamakan dirinya Lima Bayangan Dewa itu.

Akan tetapi, para murid Cin-ling-pai maklum bahwa ucapan komandan itu tidak mungkin dapat diandalkan dan harapan satu-satunya bagi mereka untuk dapat membalas dendam kematian ini hanyalah guru mereka, karena para penjahat itu adalah orang-orang lihai ada pun para petugas keamanan itu biasanya, sebagian besar hanya galak kalau menghadapi rakyat lemah yang tidak mampu melawan dan yang dapat diharapkan menjadi sapi-sapi perahan.

Sesudah lewat tengah hari, makin berkuranglah tamu yang datang bersembahyang dan menjelang senja sudah tidak ada lagi tamu yang datang. Dengan bergiliran, murid-murid Cin-ling-pai melakukan penjagaan karena yang lain harus beristirahat, akan tetapi tentu saja para keluarga korban tetap di dekat peti mati dalam keadaan berkabung.

Sesudah semua orang mengira bahwa tidak akan ada lagi tamu yang datang, tiba-tiba muncullah dua orang dari pintu depan. Mereka ini adalah orang-orang tua, yang seorang adalah wanita tua, nenek-nenek yang usianya tentu telah enam puluh tahun lebih dengan pakaian serba hitam dan kain kepala berwarna hitam pula, berjalan sambil menundukkan muka, sedangkan yang kedua adalah seorang kakek tinggi kurus yang berpakaian seperti seorang tosu (pendeta To), yang melangkah masuk kemudian mengangkat kedua tangan di depan dada membalas penghormatan para penjaga pintu yang mempersilakan kedua orang ini terus memasuki ruangan di mana terdapat tujuh peti mati yang berjajar-jajar.

Nenek itu menerima beberapa batang hio yang sudah dinyalakan oleh seorang murid Cin-ling-pai yang bertugas melayani mereka yang hendak bersembahyang, ada pun kakek tosu itu dengan suaranya yang amat halus bertanya tentang mereka yang mati sehingga seorang murid Cin-ling-pai lain menceritakan bahwa yang tewas adalah enam orang di antara Cap-it Ho-han dan seorang anak murid Cin-ling-pai lainnya. Tosu itu mengangguk-angguk dan mengerutkan alisnya, kelihatan tidak senang.

Sementara itu, nenek tua yang berpakaian serba hitam sudah bersembahyang di depan peti mati itu, kemudian berhenti di depan peti mati pertama yang terisi mayat Sun Kiang. Di sini dia berdiri dan berkata lirih,

"Sayang, sayang... sungguh penasaran sekali kenapa kalian mati di tangan orang lain...!"

Semua anak murid Cin-ling-pai terkejut dan heran sekali mendengar ucapan aneh itu, dan mereka makin heran ketika melihat betapa nenek itu kini menancap-nancapkan hio atau dupa biting itu ke atas peti mati yang terbuat dari kayu tebal dan keras. Sukar dipercaya betapa dupa biting yang rapuh itu dapat ditancapkan ke atas peti mati, seolah-olah papan peti mati yang sangat keras itu hanya terbuat dari agar-agar saja! Dan perbuatan ini selain mendatangkan kekagetan serta keheranan, juga membuat para anak murid Cin-ling-pai menjadi marah sekali.

Nenek itu mundur tiga langkah setelah menjura ke arah peti-peti mati, kemudian tosu itu melangkah mendekati peti-peti itu, tangan kanannya menepuk-nepuk tutup setiap peti dan mulutnya berkata lirih akan tetapi cukup keras untuk terdengar oleh mereka yang berada di ruangan itu. "Memang sayang sekali, akan tetapi kalian mati di tangan Lima Bayangan Dewa sudah cukup terhormat, karena yang pantas mati di tangan pinto (aku) hanyalah ketua Cin-ling-pai..."

Semua orang semakin kaget, apa lagi melihat betapa di setiap peti kini terdapat bekas telapak tangan kakek itu yang tadi menepuk-nepuk tutup peti mati, tampak tanda telapak tangan menghitam di atas peti, melesak sedalam satu senti seperti diukir saja!

Para anak murid Cin-ling-pai adalah orang-orang yang sudah lama mengenal ilmu silat, maka tentu saja mereka mengerti bahwa tosu dan nenek yang agaknya seorang pertapa pula itu adalah orang-orang yang berilmu tinggi. Akan tetapi karena jelas bahwa mereka berdua sudah menghina Cin-ling-pai dan bersikap memusuhi guru mereka, para murid itu sudah menjadi marah sekali dan siap untuk turun tangan mengeroyok!

Akan tetapi dengan terjadinya peristiwa hebat itu membuat mereka seperti pasukan yang kehilangan komandan, merasa tak berdaya dan bingung, sehingga sekarang mereka pun ragu-ragu dan menunggu sampai ada seorang di antara mereka yang memulai. Tiba-tiba saja terdengar suara nyanyian dari luar, suaranya dekat sekali akan tetapi orangnya tidak nampak!

Sikap, nama, harta dan kedudukan
bukanlah ukuran jiwa
seorang manusia,
semua itu hanya kulit belaka
yang tidak dapat menentukan
nilai isi.
Betapa banyaknya berkeliaran
di dunia
hartawan yang jiwanya miskin
pembesar yang jiwanya kecil
dan pendeta yang menumpuk dosa!


Kakek dan nenek itu kelihatan terkejut, saling pandang kemudian membalikkan tubuhnya ke arah pintu depan. Kini tampak muncullah dua orang kakek lain, yang pertama sangat menarik hati karena anehnya.

Dia seorang kakek tua yang usianya tentu sudah tujuh puluh tahun lebih. Pakaiannya kedodoran terlalu besar, dan warna pakaiannya amat menyolok mata! Bajunya kembang-kembang, celananya kotak-kotak, kepalanya yang berambut putih itu tertutup topi kopyah seperti yang biasanya dipakai oleh seorang bayi, mukanya selalu tersenyum dan matanya bersinar-sinar!

Ada pun orang kedua juga seorang kakek yang juga sudah tua, tentu sudah enam puluh tahun lebih, namun sikapnya masih gagah. Tubuhnya tinggi kurus, pakaiannya sederhana dan matanya sipit seperti dipejamkan.

Dua orang kakek yang baru datang ini agaknya tidak mempedulikan tosu serta tokouw (pendeta wanita) itu, mereka langsung bersembahyang seperti biasa, kemudian menaruh hio di tempat dupa di depan peti. Akan tetapi tiba-tiba kakek yang pakaiannya aneh itu tertawa, menuding ke arah hio-hio yang tertancap di atas peti mati pertama tadi sambil berkata,

"Ehh, dupa-dupa jahat, mengapa kalian begitu kurang ajar, berada di tempat yang tidak semestinya? Hayo kalian turun dan berkumpul dengan teman-temanmu di bawah!"

Ucapan ini sudah aneh, seperti ucapan seorang gila karena ditujukan kepada hio-hio itu. Akan tetapi kenyataannya lebih aneh lagi sehingga membuat semua orang jadi melongo. Siapa yang tak akan terkejut dan merasa heran saat mereka melihat betapa hio-hio yang tadi oleh tokouw itu ditancapkan secara luar biasa di atas peti mati yang keras, sekarang seolah-olah bernyawa dan hidup, mentaati perintah kakek berpakaian kembang-kembang, bergerak dan ‘berjalan’ turun dari peti mati lalu menancapkan diri sendiri di tempat hio bersama hio-hio yang lain!

Sebelum orang-orang yang berada di situ habis keheranan mereka, kakek yang kedua itu berjalan-jalan di antara peti-peti mati, berkata perlahan, "Hemm, kenapa buatan peti-peti ini demikian kasar sehingga masih ada telapak tangannya? Biarlah kuratakan."

Dengan tangannya dia lantas mengusap di atas bekas telapak tangan tosu tadi sehingga lenyaplah bekas-bekas telapak tangan menghitam tadi meski pun tentu saja permukaan peti yang sudah rusak itu tidak dapat menjadi rata dan halus kembali.

Tosu dan tokouw yang menyaksikan perbuatan dua orang kakek yang baru datang itu, terkejut dan segera maklum bahwa mereka berhadapan dengan dua orang pandai. Tosu itu menjura dari jauh dan berkata, "Siapakah di antara ji-wi (anda berdua) yang bernama Cia Keng Hong?"

Kakek yang memakai baju kembang menjawab tertawa, "Pertanyaan aneh! Seorang tamu tidak mengenal tuan rumahnya. Betapa aneh! Kami berdua pun hanya tamu, akan tetapi tentu saja kami mengenal Cia Keng Hong yang ternyata tidak berada di rumah."

Tosu dan tokouw itu segera saling pandang. Mereka tidak ingin melibatkan diri dengan permusuhan terhadap orang-orang lain lagi yang begini lihai, sedangkan Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai itu saja sudah merupakan musuh yang amat tangguh.

"Kami hanya membutuhkan Cia Keng Hong, bukan orang lain!" Setelah berkata demikian, tosu itu menjura lalu melangkah keluar, diikuti oleh tokouw tadi.

Dua orang kakek itu hanya memandang dan tidak berkata apa-apa. Setelah mereka yakin bahwa dua orang itu sudah pergi jauh, kakek tinggi kurus yang lebih muda itu menghela napas panjang dan berkata, "Sungguh berbahaya...!"

Kakek berbaju kembang-kembang juga menghela napas. "Kita harus memetik buah dari pohon yang kita tanam sendiri, tak mungkin dapat dihindarkan lagi! Cinke (sebutan untuk besan) Cia Keng Hong di waktu mudanya menanam banyak sekali permusuhan sehingga sampai dia menjadi kakek-kakek sekali pun selalu masih ada musuh yang mencarinya! Sayang sekali..." Dia menggeleng-geleng kepala.

Para murid Cin-ling-pai sekarang baru berani maju dan murid-murid tertua segera berlutut di depan dua orang kakek itu. Seorang di antara mereka berkata kepada kakek berbaju kembang-kembang, "Locianpwe, mengapa locianpwe tidak memberi hajaran kepada dua orang penjahat berpakaian pendeta tadi?"

Kakek itu tertawa. "Ho-ho-ho, mudah saja bicara! Kalian kira aku dapat menang melawan mereka? Aha, kalau tidak dengan sedikit permainan hoatsut (sihir) dan berhasil membikin jeri mereka, agaknya kalian terpaksa harus menyediakan sebuah peti mati baru lagi untuk mayatku!"

Para murid Cin-ling-pai itu mengenal kakek berbaju kembang ini karena kakek ini bukan lain adalah Hong Khi Hoatsu, seorang kakek aneh yang lihai dan ahli dalam ilmu hoatsut (sihir), yang selalu tertawa dan gembira, yang sudah beberapa kali datang mengunjungi Cin-ling-pai karena dia adalah besan dari ketua Cin-ling-pai.

Ketua Cin-ling-pai, yakni Pendekar Sakti Cia Keng Hong, mempunyai dua orang anak, yang pertama adalah Cia Giok Keng dan yang kedua adalah Cia Bun Houw yang kini sedang belajar memperdalam ilmu silatnya di Tibet. Anak pertama, seorang puteri yang bernama Cia Giok Keng telah menikah dengan murid yang sudah dianggap anak sendiri oleh Hong Khi Hoatsu, yaitu yang bernama Lie Kong Tek. Semua ini sudah dituturkan dengan jelas di dalam cerita Petualang Asmara. Karena itu maka murid-murid Cin-ling-pai mengenal baik pendeta perantau berbaju kembang ini.

Ada pun kakek kedua yang lebih muda dari Hong Khi Hoatsu, yang tadi dengan usapan tangannya dapat meratakan kembali permukaan peti-peti mati dari bekas telapak tangan tosu tadi, juga merupakan seorang tokoh besar dalam cerita Petualang Asmara. Namanya adalah Tio Hok Gwan, bekas pengawal dari Panglima Besar The Hoo. Dia memiliki ilmu kepandaian yang sangat tinggi serta bertenaga besar sekali sehingga mendapat julukan Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati).

Sudah sering kali dia bekerja sama dengan Cia Keng Hong di waktu dahulu sehingga dia menjadi sahabat ketua Cin-ling-pai itu. Sekarang kakek ini telah pensiun. Ia meninggalkan pekerjaannya sebagai pengawal beberapa tahun yang lalu semenjak Panglima Besar The Hoo meninggal dunia.

Pengalaman orang she Tio ini hebat bukan main, karena dia telah mengikuti perantauan Panglima The Hoo ketika menjelajahi banyak negara aneh di seberang lautan, mengalami banyak pertempuran dan sudah menghadapi banyak sekali orang-orang yang mempunyai kepandaian aneh dan hebat di bagian-bagian dunia lain di seberang lautan itu.

Karena itu dia sudah memiliki pandangan yang awas, dan dia pun maklum bahwa tingkat kepandaian tokouw dan tosu tadi amat tinggi sehingga andai kata terjadi bentrokan antara mereka dengan dia, dia tidak berani memastikan apakah dia yang akan keluar sebagai pemenang. Itulah sebabnya dia bersikap hati-hati dan membiarkan dua orang itu pergi, sungguh pun dia maklum bahwa dua orang itu tentulah musuh-musuh dari sahabatnya, Cia Keng Hong.

Sebagai besan dari ketua Cin-ling-pai, Hong Khi Hoatsu lalu dipersilakan duduk bersama Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan. Kakek berbaju kembang itu segera bertanya apa yang telah terjadi di Cin-ling-pai sampai ada tujuh anggotanya yang tewas terbunuh. Beberapa murid Cin-ling-pai segera menceritakan tentang semua mala petaka yang terjadi dan menimpa perkumpulan itu.

Terkejut juga hati kedua orang kakek itu ketika mendengar bahwa pedang pusaka Siang-bhok-kiam telah dicuri orang dan bahwa pembunuh-pembunuh itu adalah Lima Bayangan Dewa yang memiliki kepandaian tinggi. Pada waktu mendengar bahwa pencuri pedang itu mengaku bernama Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Tio Hok Gwan mengepal tinjunya.

"Ahhh, pantas...! Aku pernah mendengar nama Dewa Tua Berlengan Delapan itu! Dia adalah sute dari datuk kaum sesat Ban-tok Coa-ong (Raja Ular Selaksa Racun) Ouwyang Kok yang dulu tewas di tangan Cia-taihiap! Tentu dia datang mengacau Cin-ling-pai untuk membalas dendam kematian suheng-nya. Akan tetapi, siapakah empat orang temannya yang bersama dia memakai nama Lima Bayangan Dewa itu?"

Akan tetapi tidak ada seorang pun di antara para murid Cin-ling-pai yang tahu.

"Yang mengetahui tentu hanya ketujuh orang suheng yang menjumpai mereka di restoran Koai-lo di Han-tiong, akan tetapi enam di antara mereka tewas dan yang seorang lagi luka parah..." murid Cin-ling-pai menerangkan.

"Di mana dia yang terluka itu? Biar kami memeriksanya," Hong Khi Hoatsu berkata.

Dengan hati girang dan penuh harapan, para murid Cin-ling-pai lalu mengantarkan Hong Khi Hoatsu dan Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan ke dalam kamar di mana Coa Seng Ki rebah dalam keadaan empas-empis napasnya dan mukanya pucat kebiruan, matanya terpejam.

Beberapa orang murid Cin-ling-pai menjaga di kamar itu dengan muka penuh khawatir karena biar pun mereka sudah berusaha sedapatnya untuk mengobati korban ini, tetap saja keadaan Coa Seng Ki tidak kelihatan menjadi baik. Mereka sudah menjadi putus asa dan mereka kini hanya menanti datangnya ketua mereka cepat-cepat dan mengharapkan Coa Sang Ki akan bisa bertahan sampai ketua mereka pulang. Orang termuda dari Cap-it Ho-han itu masih belum sadar, masih pingsan sejak dia rebah di ruang atas rumah makan Koai-lo sampai saat itu.

Hong Khi Hoatsu dan Tio Hok Gwan bergantian memeriksa keadaan Coa Sang Ki. Akan tetapi mereka berdua segera maklum bahwa keadaan orang itu sudah tidak ada harapan lagi, bahwa luka-luka yang diderita oleh orang itu amat hebat dan tak dapat disembuhkan lagi karena selain di sebelah dalam tubuhnya sudah terluka parah juga darahnya sudah keracunan. Paling lama Coa Seng Ki hanya akan bertahan sampai dua tiga hari lagi saja.

"Bagaimana pendapatmu, Hoatsu?" tanya Tio Hok Gwan kepada temannya.

Hong Khi Hoatsu menggeleng-geleng kepalanya. "Seperti telah kau ketahui, dia tak dapat disembuhkan lagi, luka-luka di sebelah dalam terlampau parah."

Tio Hok Gwan menarik napas panjang. "Hanya dia seorang yang mengetahui nama-nama empat orang di antara Lima Bayangan Dewa."

Hong Khi Hoatsu mengerutkan alisnya. "Dengan kekuatan sihir mungkin aku masih dapat membuat dia sadar dan membantunya untuk menceritakan siapa adanya empat orang itu, akan tetapi pengerahan tenaga paksaan itu mungkin akan membuat luka-lukanya makin parah."

Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan berpikir sejenak, lalu berkata, "Betapa pun juga, dia tak dapat disembuhkan lagi sedangkan nama-nama empat orang penjahat itu sangat penting untuk diketahui. Kalau dia dibiarkan demikian saja sampai mati, tidak ada gunanya sama sekali. Kurasa Hoatsu tentu mengerti akan hal ini."

Hong Khi Hoatsu mengangguk. "Memang aku pun berpikir demikian. Ehh, bagaimanakah pendapat kalian?" tanyanya kepada para murid Cin-ling-pai yang menunggu di kamar itu.

Mereka saling pandang. Mereka tadi sudah mendengarkan percakapan antara dua orang kakek itu dan mengerti apa yang mereka maksudkan. Kemudian salah seorang di antara mereka berkata,

"Karena Ketua tidak ada dan Cap-it Ho-han yang mewakili suhu juga tidak ada lagi, yang ada hanya Coa-suheng yang sakit ini, maka kami semua juga tidak dapat mengambil keputusan. Terserah kepada Ji-wi locianpwe saja yang kami percaya sepenuhnya."

"Baiklah, dan kami pun bertanggung jawab penuh terhadap cinke (besan) atas perbuatan kami ini. Nah, sekarang mundurlah kalian, biarlah aku mencoba untuk menyadarkan dia. Siapa namanya tadi?"

Seorang murid memberi tahukan nama si sakit kepada kakek aneh itu.

Hong Khi Hoatsu segera mendekati si sakit, mengurut-urut serta memijit-mijit kepala dan punggung orang sakit itu, kemudian dengan dua tangan terbuka, menggetar dan digerak-gerakkan di atas kepala si sakit, terdengarlah dia berkata, suaranya penuh wibawa dan mengandung getaran amat kuat hingga semua orang yang berada di situ merasa seram dan ikut tergetar batinnya, terbawa oleh pengaruh yang terkandung di dalam suara itu.

"Coa Seng Ki...! Dengarkan baik-baik... dengar dan lakukan apa yang kuminta...! Aku mewakili suhu-mu, aku adalah besan suhu-mu, engkau harus taat kepadaku. Dengarkah engkau? Jawablah...!"

Semua mata ditujukan ke arah wajah Coa Seng Ki yang pucat membiru, wajah yang diam tidak bergerak seperti mayat. Perlahan-lahan tampaklah cahaya kemerahan membayang pada wajah itu, mula pada lehernya, terus naik ke atas pipi sampai ke dahinya, lalu bulu mata itu menggetar, bibir itu bergerak-gerak!

"Jawablah, Coa Seng Ki, jawablah... demi kesetiaan dan kebaktianmu terhadap suhu-mu dan Cin-ling-pai, jawablah...!" Hong Khi Hoatsu berkata lagi, suaranya semakin kuat dan kedua tangannya menggigil, mukanya penuh dengan keringat.

Dia telah mengerahkan seluruh kekuatan sihirnya yang membutuhkan penyaluran tenaga sakti dari dalam pusarnya dan dia harus menyatukan seluruh kemauannya supaya dapat memaksa si sakit, seperti membangunkannya, seperti membangkitkan lagi orang yang sudah tiga seperempat mati ini untuk hidup kembali. Hal ini membutuhkan tenaga mukjijat yang amat kuat sehingga kakek itu kelihatan berkeringat dan mukanya menjadi pucat, dan dari kepala yang tertutup kopyah itu mengepul uap putih.

Diam-diam Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan memandang penuh kekhawatiran. Walau pun dia tidak mengenal ilmu hoatsut, akan tetapi dia maklum betapa kakek itu telah mengerahkan sinkang sekuatnya, hal yang amat berbahaya. Tetapi dia tidak berani membantu, khawatir kalau-kalau malah mengacaukan usaha Hong Khi Hoatsu.

"Jawablah, Coa Seng Ki...! Apakah engkau mendengarku?"

Bibir yang bergerak-gerak dari si sakit itu sekarang bergerak semakin lebar dan terdengar jawaban seperti bisikan, "...teecu (murid) mendengar..."

"Bagus, Coa Seng Ki, sekarang jawablah baik-baik semua pertanyaanku ini. Amat penting bagi suhu-mu kelak untuk mengetahui siapakah adanya empat orang yang membunuh enam orang suheng-mu di restoran Koai-lo di kota Han-tiong. Siapakah Lima Bayangan Dewa itu?"

Hening sejenak. Bibir pucat itu tergetar hebat, menggigil bagaikan orang sakit kedinginan, kemudian terdengar jawaban yang lemah dan gemetar, namun cukup dapat dimengerti, "...iblis-iblis itu... Liok-te Sin-mo Gu Lo It... Sin-cian Siauw-bin-sian Hok Hosiang... lalu Hui-giakang Ciok Lee Kim... ahhhh..." Suara itu kini berobah menjadi seperti suara orang mengeluh dan mengerang.

"Pertahankan, Coa Seng Ki. Siapa yang seorang lagi?"

Dada itu turun naik, terengah-engah dan akhirnya bibir itu dapat juga mengeluarkan suara lagi, "...Toat... beng... kauw... Bu Sit... dan orang pertama adalah... adalah... Pat-pi.... uhhhhh...!"

Kini kepala itu terkulai lemas dan Hong Khi Hoatsu menurunkan kedua tangannya, cepat memeriksa nadi tangan dan meraba dada. Dengan muka pucat dan tubuh basah kuyup oleh peluhnya sendiri dia menggeleng kepala dan memandang kepada Ban-kin-kwi.

"Berakhirlah sudah...," katanya.

Tio Hok Gwan lalu menggunakan jari tangannya untuk menutupkan mata dan mulut yang agak terbuka itu dan terdengar isak tangis dari para anak murid Cin-ling-pai ketika mereka maklum bahwa Coa Seng Ki sudah menghembuskan napas terakhir!

"Harap kalian tidak terlalu berduka." Hong Khi Hoatsu berkata setelah mengatur kembali pernapasannya. "Dia memang tidak dapat disembuhkan lagi dan kematiannya yang lebih cepat ini hanya mengurangi penderitaannya dan kalian harus berterima kasih kepadanya karena sebelum mati dia masih sempat meninggalkan nama para musuh besar itu."

Dua orang kakek itu lalu keluar dari kamar dan duduk di ruangan depan, sedangkan para anak murid segera mengurus jenazah Coa Seng Ki. Kini semua murid Cin-ling-pai sudah tahu siapa saja nama kelima orang musuh besar itu, yang menamakan diri mereka Lima Bayangan Dewa. Karena biar pun orang pertama tidak sempat disebutkan namanya oleh Coa Seng Ki, tapi mereka semua tahu bahwa yang dimaksudkan tentulah Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok yang telah mencuri pedang Siang-bhok-kiam.

"Sayang bahwa Cia-taihiap tidak berada di sini. Andai kata dia ada, tidak mungkin terjadi hal yang menyedihkan ini," Tio Hok Gwan berkata. "Aku sudah terlalu tua, sudah malas untuk bertanding, akan tetapi mengingat akan mala petaka yang telah menimpa keluarga Cin-ling-pai, biarlah aku akan menyuruh puteraku untuk membantu, menyelidiki keadaan Lima Bayangan Dewa itu dan membantu menghadapi mereka. Aku akan pulang kembali ke kota raja, Hoatsu."

Hong Khi Hoatsu mengangguk dan dia lalu berkata, "Baiklah, Tio-taihiap. Dan aku sendiri akan pergi mengunjungi murid dan mantuku di Sin-yang. Siapa tahu kalau-kalau lima iblis itu akan mengganggu mantuku sebagai puteri cinke Cia Keng Hong."

Yang dimaksudkan oleh Hong Khi Hoatsu itu adalah Cia Giok Keng, puteri Cia Keng Hong yang kini sudah menjadi isteri Lie Kong Tek muridnya, dan suami isteri itu tinggal di kota Sin-yang di kaki Pegunungan Tapie-san.

Maka berangkatlah dua orang kakek itu meninggalkan Cin-ling-san, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan menuju ke utara untuk pergi ke kota raja di mana dia hidup bertiga dengan putera tunggalnya dan isterinya yang jauh lebih muda darinya karena dia memang menikah agak terlambat, hidup di kota raja sebagai seorang pensiunan pengawal yang terhormat dan terjamin.

Ada pun Hong Khi Hoatsu menuju ke timur untuk mengunjungi Sin-yang, tempat tinggal muridnya. Mereka berangkat setelah lebih dulu menghadiri pemakaman delapan jenazah murid-murid Cin-ling-pai itu…..

********************

Seluruh wilayah Negara Tibet berupa daerah pegunungan yang sambung-menyambung, pegunungan yang tinggi dan luas sekali dengan Pegunungan Himalaya sebagai benteng panjang yang menjulang tinggi di perbatasan selatan. Ibu kota atau kota rajanya adalah Lhasa di mana terdapat istana kerajaan, ada pun golongan yang paling berkuasa di sana adalah para pendeta Lama.

Karena seperti lajimnya di dunia ini, yang berkuasa tentu memperoleh kedudukan tinggi serta mulia, maka tentu saja terjadi pula perebutan kekuasaan di antara para pendeta Lama sehingga terjadilah pemecahan dan terbentuklah golongan-golongan yang kadang kala saling bertentangan untuk memperoleh kekuasaan. Pada waktu itu, yang berkuasa di samping raja adalah para pendeta Lama golongan Jubah Kuning dan kedudukan mereka sedemikian kuatnya sehingga tidak ada golongan lain yang berani memberontak.

Beberapa puluh li jauhnya dari Lhasa, di sebelah selatan, di mana sungai yang mengalir memasuki sungai besar Yalu-cangpo, terdapat sebuah kuil besar. Dahulu kuil ini menjadi pusat dari gerakan Lama Jubah Merah yang pernah memberontak, akan tetapi berhasil dibasmi oleh pasukan Tibet yang dibantu oleh Pemerintah Beng. Kini para Lama Jubah Merah masih ada, namun mereka tidak lagi aktip dan hidup dengan penuh tenteram dan damai, bertani dan menekuni hidup sebagai pertapa yang saleh.

Ketua dari para Lama yang jumlahnya hanya tinggal dua puluh orang lebih ini adalah seorang yang memiliki kesaktian luar biasa dan bernama Kok Beng Lama. Di dalam cerita Petualang Asmara telah diceritakan bahwa Kok Beng Lama ini adalah ayah kandung dari Pek Hong Ing isteri dari Pendekar Sakti Yap Kun Liong. Sekarang usia pendeta Lama ini sudah delapan puluh tiga tahun akan tetapi tubuhnya masih sehat, kokoh kekar dan tinggi besar seperti raksasa.

Karena ketuanya tidak mempunyai keinginan sesuatu, maka semua anggota Lama Jubah Merah juga tak menginginkan sesuatu kecuali hidup aman tenteram dan sehat di lembah pegunungan dekat sungai yang tanahnya subur itu. Melihat betapa Kok Beng Lama hanya tekun melatih ilmu kepada murid tunggalnya, maka para Lama itu pun ikut terbawa-bawa, tekun melatih ilmu-ilmu mereka yang memang sudah tinggi sehingga kepandaian mereka menjadi semakin masak.

Murid tunggal dari Kok Beng Lama ini adalah Cia Bun Houw, putera dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai. Semenjak berusia lima belas tahun, tepat seperti telah dijanjikan oleh Cia Keng Hong dan isterinya, maka Bun Houw dikirim ke tempat sunyi ini untuk belajar ilmu dari Kok Beng Lama selama lima tahun. Perjanjian ini diadakan ketika Bun Houw diculik oleh para Lama yang dahulu memberontak terhadap Pemerintah Tibet.

Dengan amat tekunnya pendeta itu menurunkan ilmu-ilmunya yang paling tinggi sehingga makin meningkat pula kepandaian Bun Houw yang sebelumnya sudah sangat tinggi, hasil penggemblengan ayah bundanya yang sakti di Cin-ling-pai. Pemuda itu pun sangat suka akan ilmu silat, karena itu dia pun rajin sekali berlatih sehingga dengan mudahnya semua ilmu-ilmu yang diberikan oleh gurunya dapat dia terima dan kuasai dengan mudahnya.

Tanpa terasa, lima tahun telah hampir lewat selama Bun Houw hidup di tempat sunyi itu. Tetapi dia tidak merasa kesunyian karena dia diberi kebebasan secukupnya oleh gurunya, bahkan dia diperkenankan mengunjungi dusun-dusun di sekitar tempat itu sehingga dia dapat berhubungan dengan rakyat Tibet yang cara hidupnya aneh dan asing baginya. Berkat pergaulan ini, sebentar saja Bun Houw sudah pandai berbahasa Tibet dan setelah tinggal di situ selama lima tahun, dia telah mempunyai banyak kenalan dan sahabat.

Kini Cia Bun Houw telah menjadi seorang pemuda berusia dua puluh tahun. Karena ayah dan ibunya dulu terkenal sebagai pria yang tampan dan wanita yang cantik sekali, maka tidaklah mengerankan apa bila pemuda ini memiliki bentuk tubuh yang gagah dan wajah yang tampan pula. Dan berbeda dengan watak enci-nya Cia Giok Keng yang galak dan keras hati, sebaliknya watak pemuda in halus dan manis budi, romantis dan sama sekali tidak suka akan kekerasan!

Agaknya watak ini terbentuk karena selama lima tahun dia hidup di tengah-tengah para Lama yang hidup penuh damai itu, serta pergaulannya dengan rakyat Tibet yang masih jujur, polos dan wajar sikapnya dalam cara hidupnya sehari-hari. Bun Houw suka akan segala yang indah-indah, dia dapat menikmati keindahan alam sampai berjam-jam tanpa bosan, melihat keindahan matahari terbit mau pun matahari terbenam, melihat keindahan kembang-kembang, atau duduk termenung di tepi sungai melihat air yang mengalir tiada hentinya sambil berdendang gembira.

Kegagahannya, ketampanannya, dan kemanisan budinya itu tentu saja membuat semua orang suka kepadanya, terutama sekali dara-dara Tibet yang berwatak polos dan wajar. Diam-diam banyak sekali dara Tibet yang jatuh cinta kepada Bun Houw. Akan tetapi Bun Houw bersikap manis kepada mereka semua, dan terutama sekali kepada seorang dara puteri ketua dusun yang bernama Yalima, seorang dara berusia lima belas tahun, cantik rupawan seperti setangkai bunga teratai ungu.

Dara ini begitu cantik dan selalu gembira sehingga Bun Houw merasa suka sekali kepada Yalima, dan sering kali dua orang muda ini berjalan-jalan, bersenda gurauan, bahkan Bun Houw berkenan mengajarkan ilmu silat sekedarnya kepada dara ini. Atas permintaan Bun Houw, dara Tibet ini menyebutnya koko (kakak) sedangkan dia sendiri menyebut moi-moi (adik) kepada dara itu.

Mereka masing-masing saling mengajar Bahasa Han dan Tibet, dan berkat bantuan dara inilah maka Bun Houw pandai berbicara dalam Bahasa Tibet secara lancar sedangkan Yalima, biar pun dapat juga mengerti Bahasa Han, namun dia hanya dapat mengucapkan kata-kata Han dengan kaku dan lucu. Tidak pernah ada sepatah pun kata cinta keluar dari mulut kedua orang muda ini, akan tetapi tidak saling berjumpa dua tiga hari saja mereka merasa tersiksa dan rindu!

Pada suatu senja, pada waktu Bun Houw sudah lelah berlatih ilmu pedang dan duduk beristirahat seorang diri di tempat yang disukainya, yaitu di sebuah puncak dari mana dia dapat menyaksikan matahari terbenam, pemuda ini termenung dan tenggelam ke dalam keindahan pemandangan alam yang dihadapinya.

Jauh di balik puncak-puncak gunung di barat, matahari terbenam meninggalkan cahaya merah, kuning, biru yang luar biasa indahnya. Gumpalan-gumpalan mega dan awan yang biasanya berwarna kehitaman dan putih, kini seakan-akan terbakar oleh cahaya matahari itu, menimbulkan percampuran warna sehingga terciptalah segala macam warna di dunia ini, terlukiskan di langit yang biru muda.

Gumpalan-gumpalan awan itu menciptakan bermacam bentuk yang berubah-ubah dan bergerak perlahan, hampir tidak dapat diikuti pandangan mata sehingga bentuk-bentuk itu tahu-tahu telah berobah. Warna yang tak menyilaukan mata, sedap dipandang dan amat berkesan di dalam hati. Keindahan yang serba baru, yang tidak ada hubungannya dengan keindahan matahari terbenam di waktu kemarin atau yang sudah-sudah karena memang tidak pernah sama. Keindahan yang hidup, tidak mati seperti lukisan tangan manusia.

"Koko...!"

Suara itu dikenalnya seketika. Siapa lagi yang mempunyai suara merdu jernih seperti itu, yang menyebut kata ‘koko’ dengan tekanan suara dan nada seperti itu kalau bukan Yalima? Suara yang merupakan keindahan baru bagi telinga, dan ketika dia menoleh dan memandang, agaknya keindahan alam pada waktu matahari terbenam itu masih kalah indahnya oleh dara yang kini berdiri di depannya.

Akan tetapi, mendadak Bun Houw meloncat bangun dan memandang dengan kaget dan heran. Wajah yang biasanya segar, dengan sepasang pipi merah muda, sepasang mata yang bersinar-sinar, bibir merah basah yang tersenyum manja penuh tantangan terhadap kehidupan, sekarang tampak layu dan tak bersinar lagi, biar pun masih seindah matahari terbenam!

"Moi-moi! Ada apakah...?" tanyanya sambil meloncat mendekat dan memegang tangan yang halus kulitnya akan tetapi agak kasar telapak tangannya karena setiap hari harus bekerja berat itu.

Mendengar pertanyaan orang yang selalu dikenangnya ini, tiba-tiba saja Yalima menangis sesenggukan sambil menyembunyikan mukanya di dada Bun Houw! Sejenak Bun Houw menengadah dan memejamkan matanya. Aneh rasanya! Baru sekali ini dia begitu dekat dengan Yalima, meski pun hampir setiap hari mereka bersenda gurau. Dara ini merangkul pinggangnya dan mendekapkan muka pada dadanya, terisak menangis dengan penuh kesedihan.

Bun Houw menekan jantungnya yang berdebar tegang sehingga dia berhasil melupakan ketegangan yang aneh itu, namun sekarang kekhawatiran menguasai hatinya. Tangannya mengusap rambut hitam halus yang sangat panjang dan dikuncir jadi dua itu. Diusapnya rambut di kepala yang berbau harum bunga itu.

"Aih, moi-moi, tenangkanlah hatimu dan ceritakan apa yang terjadi maka engkau yang belum pernah kulihat menangis menjadi begini berduka. Ceritakanlah dan aku pasti akan menolongmu."

Mendengar ucapan ini, Yalima melepaskan rangkulan kedua lengannya pada pinggang pemuda itu dan melangkah mundur. Mukanya menjadi merah sekali, matanya juga agak merah dan air mata membasahi sepasang pipinya, juga baju dalam Bun Houw menjadi basah. Sepasang alis kecil hitam melengkung indah seperti dilukis itu agak berkerut, akan tetapi terkilas di pandang matanya sikap yang agak canggung dan malu, agaknya baru teringat olehnya betapa tadi dia memeluk pemuda itu dan mendekap begitu erat.

Bun Houw lalu menuntun tangan dara itu duduk di atas batu-batu licin bersih yang sering mereka gunakan sebagai bangku-bangku di waktu mereka bercakap-cakap dan bersenda gurau di tempat itu. Bun Houw mengeluarkan sehelai sapu tangan bersih dan kering dari sakunya karena dara itu memegang sapu tangan yang sudah basah semua.

"Keringkanlah air matamu dan hidungmu!" katanya tersenyum menghibur.

Yalima menerima sapu tangan itu, menyusut air matanya, juga hidungnya karena di waktu menangis tadi, bukan hanya matanya yang mengeluarkan air, melainkan juga hidungnya. Tanpa malu-malu karena memang mereka sudah akrab, Yalima lalu menyusut hidungnya yang kecil mancung, kemudian dia mengembalikan sapu tangan yang menjadi basah itu akan tetapi sebelum Bun Houw menerimanya, dia telah menariknya kembali dan berkata, suaranya agak parau karena tangis,

"Biar kucuci dulu!"

"Ahhh, mengapa pula kau ini? Tidak usah dicuci juga tidak apa!" Bun Houw mengambil kembali sapu tangannya dan memasukkannya ke dalam saku bajunya.

"Terima kasih...," dara itu berkata, menyedot hidungnya dan menahan isak.

"Moi-moi, apakah yang terjadi? Kau benar-benar mengejutkan hatiku."

"Koko, benarkah engkau akan menolongku?"

"Tentu saja!"

Gadis cilik itu menggelengkan kepalanya dengan muka sedih. "Tidak mungkin, koko. Kau tidak akan bisa menolongku."

"Ceritakanlah dulu apa persoalannya, jangan kau mudah putus harapan."

Dara itu memandang wajah Bun Houw, lalu tiba-tiba dia memegang tangan pemuda itu. Dikepalnya tangan kanan pemuda itu dengan jari-jari kedua tangannya yang kecil, lantas diguncangnya dan didekapnya sekuat tenaganya ketika dia berkata, "Koko, kau tolonglah aku, tolonglah aku! Ayah hendak membawaku ke Lhasa!"

Bun Houw memandang aneh. "Ah, kenapa engkau minta tolong? Bukankah sudah sering engkau diajak ayahmu ke Lhasa?"

"Akan tetapi sekali ini untuk selamanya, koko. Aku tidak akan kembali ke sini lagi."

"Ehh? Mengapa begitu?"

"Aku... aku... akan dihaturkan kepada seorang pangeran..." Gadis itu kembali terisak dan memandang Bun Houw dengan mata basah. "Koko, kau… tolonglah aku... akan tetapi... bagaimana mungkin... ahh, bagaimana baiknya, koko?"

Bun Houw memegang kedua pundak dara itu sambil temenyum. "Engkau ini aneh sekali, moi-moi. Setiap orang wanita di daerah ini tentunya akan menceritakan berita ini sambil tertawa-tawa penuh bahagia. Bukankah setiap wanita, terutama setiap orang gadisnya di daerah ini selalu mengharapkan supaya dapat dihaturkan kepada seorang pangeran yang berkuasa di Lhasa? Kau akan berganti pakaian indah setiap hari, tidak usah bekerja di sawah dan bekerja berat, berenang di atas uang dan perhiasan, terhormat dan senang..."

"Aku tidak mau! Aku tidak suka!"

"Hemmm, kau lebih suka tetap menjadi seorang petani miskin di sini...?"

"Biar! Aku lebih suka menjadi petani miskin di sini!"

"Dan... kelak menikah dengan seorang petani miskin pula, lalu selama hidup menderita kurang makan dan pakaian?"

"Tidak! Ayahku kepala dusun, dia sudah cukup..."

"Tetap saja kelak engkau akan menikah dengan seorang petani..."

"Tidak! Aku tidak sudi menikah dengan petani!"

"Habis, dapat pangeran tidak mau, petani tidak mau..."

"Pendeknya aku tidak mau pergi meninggalkan tempat ini, tidak mau pergi meninggalkan engkau, koko!"

Bun Houw tersentak kaget, sejenak termenung memandang langit yang telah mulai gelap, cahaya kemerahan sudah mulai menipis. Dara itu terisak lagi.

"Moi-moi, bagaimana... aku dapat menolongmu?"

"Hu-hu-huuuk... aku sudah tahu... kau tidak akan dapat menolongku... hu-huuh!" Yalima menangis lagi.

"Tenang dan dengarlah, moi-moi. Aku akan berusaha. Besok aku akan menemui ayahmu dan membujuknya. Akan tetapi lebih dulu ceritakan, mengapa ayahmu yang telah menjadi kepala dusun, yang tidak kekurangan sesuatu, hendak mempersembahkan engkau pada seorang pangeran?"

Yalima menyusuti air matanya dan menghentikan tangisnya, kemudian sesudah berulang kali menghela napas dia berkata, "Seperti sudah kau ketahui, koko, aku mempunyai dua orang kakak laki-laki. Ayah ingin agar kedua orang kakakku itu kelak berhasil memperoleh kedudukan baik di Lhasa dan jalan satu-satunya hanyalah memasukkan mereka bekerja membantu seorang pangeran yang berpengaruh. Untuk dapat mengambil hati pangeran itu, uang tidak ada gunanya karena kekayaan ayah hanya sedikit dan pangeran itu tidak membutuhkan uang. Maka ayah lalu mengambil keputusan untuk mempersembahkan aku kepadanya. Pangeran itu sangat berpengaruh sehingga kalau aku dapat berada di sana tentu semua keluarga akan terangkat dan terutama kedua orang kakakku akan mudah memperoleh kedudukan yang baik. Pangeran itu kabarnya tua sekali, tapi kedudukannya tinggi. Aku tidak suka, koko, sungguh mati, aku tidak suka!"

Bun Houw menarik napas panjang. "Moi-moi, ingatkah engkau bahwa dulu kita pernah membicarakan nasib wanita di sini? Di sini, bahkan juga di negeriku sana, wanita seperti barang dagangan saja, tidak seperti manusia. Kaum wanita tidak mempunyai hak untuk menentukan nasib dirinya sendiri, hanya menurut saja kepada orang tua untuk diberikan atau dijual kepada siapa pun juga. Jelas bahwa demi kemakmuran keluargamu, engkau hendak dikorbankan oleh ayahmu, dijual dengan cara halus kepada pangeran itu. Tentu ayahmu menganggap hal itu wajar dan baik saja, karena kebiasaan itu sudah berjalan ratusan tahun. Kaulah yang aneh dan dianggap salah kalau kau menolak, hal itu dianggap sebagai suatu pemberontakan terhadap kebiasaan yang sudah turun-menurun dan akan dianggap tidak berbakti terhadap orang tua."

"Akan tetapi aku tidak suka meninggalkan... engkau, koko!"

Bun Houw menggigit bibirnya, hatinya terguncang tanpa dia tahu mengapa. Ucapan itu bagai menusuk hatinya. "Moi-moi, besok pagi-pagi aku akan menemui ayahmu. Sekarang pulanglah agar engkau tidak dicari dan dimarahi ayahmu. Biasanya dia sangat suka dan hormat kepadaku, siapa tahu dia akan mendengar bujukanku dan merobah niatnya itu."

"Ahh, terima kasih, koko! Malam ini aku tidak akan tidur, aku akan terus bersembahyang semalam suntuk agar ayah suka menurut kata-katamu." Setelah berkata demikian, dara itu bangkit berdiri, melepaskan tangan Bun Houw dengan perlahan-lahan dan ragu-ragu seakan-akan dia merasa sayang melepaskannya, kemudian dia barlari dari situ dengan lincahnya.

Sampai lama Bun Houw mengikuti bayangan dara itu menuruni puncak. Setelah bayangan itu menghilang di balik batu besar, barulah dia bangkit berdiri dan dengan gerakan cepat sekali dia berlompatan dan berlari-lari pulang ke kuil. Hatinya terasa tidak enak sekali sehingga malam itu dia tidak bisa makan dan setelah berada di dalam kamarnya dia tidak dapat tidur nyenyak.

Sepanjang malam dia gelisah dan kalau dapat pulas terganggu oleh mimpi buruk tentang Yalima. Hatinya gelisah dan penuh penasaran mengingat betapa Yalima akan diberikan sebagai sebuah benda berharga kepada seorang pangeran tua. Terbayanglah olehnya betapa dara muda itu dengan penuh kengerian harus menyerahkan diri dijadikan barang permainan seorang pangeran tua! Betapa mengerikan!

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali dia telah keluar dari kuil dan berlatih silat pedang di belakang kuil. Hatinya dipenuhi dengan rasa penasaran yang mendekati kemarahan. Bayangan betapa Yalima menangis dan meronta-ronta dalam pelukan seorang pangeran tua, merintih dan minta tolong kepadanya, membuat Bun Houw seperti diamuk api yang panas hatinya.

Dia bersilat pedang dengan sangat ganasnya. Pedang pada tangannya lenyap berubah menjadi cahaya putih bergulung-gulung sangat panjang dan lebarnya, menimbulkan angin yang mengeluarkan bunyi bercuitan memekakkan telinga, dan daun-daun pohon tergetar bahkan ujungnya berhamburan ke bawah seperti dibabat senjata tajam ketika pedang itu bergerak dengan sinarnya ke atas.

Berkali-kali Bun Houw meneriakkan bentakan-bentakan nyaring seakan-akan dia sedang merobohkan semua orang yang sedang memaksa Yalima menuju ke pelukan pangeran tua. Akan tetapi, betapa pun kemarahan sedang menguasai dirinya, dia tidak melupakan ilmu pedang yang sudah diajarkan oleh gurunya, bahkan dengan semangat meluap-luap dia mencoba mainkan jurus simpanan yang amat sukar dilatih, yaitu jurus rahasia yang oleh suhu-nya dinamakan jurus Hong-tian Lo-te (Angin dan Kilat Mengacau Bumi).

Tiba-tiba terdengar bunyi berdesing, pedang itu melayang ke udara dan pada waktu itu, kedua tangan Bun Houw terkepal, dengan tenaga sinkang yang dahsyat kepalan kirinya menghantam ke arah pohon besar dan kepalan tangan kanannya melayang ke arah batu di tempat itu.

"Krakkk...! Pyarrrr...!"

Pohon itu tumbang dan batu pecah berhamburan, sedangkan pedang itu sudah melayang turun kembali, cepat disambar oleh tangan kanan pemuda itu dan empat kali pedang itu berkelebat maka sisa batang pohon terbabat putus dua kali dan sisa batu juga pecah dua kali oleh pedang itu!

Mata Bun Houw terbelalak dan mukanya agak pucat, hatinya terkejut bukan main ketika menyaksikan akibat latihannya mainkan jurus ampuh itu. Bukan saja jurus itu dapat dia mainkan dengan baik, juga sesaat tadi dia lupa sama sekali, lupa diri hingga dia merusak pohon dan batu yang sama sekali tak bersalah, bahkan yang merupakan penghias tempat itu.

Dengan mata kosong dia memandang bekas tempat pohon dan batu besar dan merasa malu kepada diri sendiri. Dia mengerti bahwa kebingungan dan kemarahan membuat dia lupa diri dan bertindak seperti orang gila.

"Omitohud... mengerikan sekali melihat engkau mainkan Hong-tian Lo-te!"

Bun Houw membalikkan tubuhnya dan cepat menjatuhkan diri berlutut di depan Kok Beng Lama.

"Harap suhu sudi memaafkan teecu. Teecu telah berhasil melatih Hong-tian Lo-te, akan tetapi teecu telah merusakkan batu dan pohon ini."

"Siancai... pinceng (aku) melihat engkau seperti sedang kemasukan setan. Muridku, ayo cepat katakan kepada gurumu, kenapa engkau tiba-tiba berubah menjadi pemarah seperti ini!"

Bun Houw tidak sanggup mengelabui pandang mata gurunya yang walau pun sudah tua akan tetapi masih amat tajam itu, dan ia pun berpendapat bahwa mungkin gurunya dapat memberi jalan yang baik, bagaimana supaya Yalima tidak sampai dipaksa menjadi selir pangeran tua di Lhasa.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner