DEWI MAUT : JILID-07


Akan tetapi, munculnya Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan isterinya yang membicarakan soal perjodohan antara putera ketua Cin-ling-pai itu dengan adik kandungnya menggugah semangatnya. Bagaimana pun juga, adik kandungnya adalah puteri dari ayah bundanya, sepasang pendekar ternama!

Tidak mungkin dia membiarkan saja adiknya itu terseret ke dalam dunia kaum sesat dan berjodoh dengan seorang tokoh hitam! Tidak, ini merupakan tugas dan kewajibannya yang terakhir untuk berbakti kepada mendiang orang tuanya, yaitu mengatur supaya In Hong berjodoh dengan putera ketua Cin-ling-pai, sahabat-sahabat baik sekali dari orang tuanya dahulu.

Pagi hari itu Kun Liong sudah sampai di tepi Telaga Kwi-ouw dan termenung mengingat semua peristiwa yang terjadi dan yang dialaminya pada saat dia masih menjadi seorang pemuda dahulu, belasan tahun yang lalu di telaga ini. Teringat dia akan perebutan bokor emas yang merupakan pusaka milik Panglima The Hoo yang diperebutkan oleh seluruh tokoh kang-ouw baik dari kalangan putih mau pun hitam sehingga akhirnya bokor emas itu tanpa ada yang mengetahuinya terjatuh ke tangan Yo Bi Kiok.

Dahulu dia pernah menyerbu pulau di tengah Telaga Kwi-ouw itu, maka kini dia pun tidak ragu-ragu lagi karena sudah tahu bagaimana cara mendatangi pulau di tengah telaga itu tanpa terjebak perangkap yang banyak dipasang orang di sekitar daerah Telaga Setan ini.

Pada saat itu, telah lebih dari tiga bulan Giok-hong-pang merampas Telaga Kwi-ouw dan menjadikan pulau di tengah telaga itu sebagai markas besarnya. Yo Bi Kiok tinggal di telaga itu, di dalam gedung mewah di tengah pulau bersama muridnya Yap In Hong yang telah memperlihatkan kelihaiannya pada waktu bersama gurunya menyerbu pulau itu dan menaklukkan orang-orang Kwi-eng-pang.

Seperti telah diceritakan pada bagian depan, para anggota Giok-hong-pang yang menjadi wanita-wanita kejam pembenci pria akibat hati mereka disakiti oleh kaum pria, kini setelah mempunyai hamba-hamba taklukan dari para anggota Kwi-eng-pang, mulai tergoda oleh nafsu birahi mereka sendiri sebagai manusia-manusia biasa yang perlu menyalurkan nafsu birahinya itu sehingga mulailah mereka mempergunakan pria-pria taklukan itu untuk menjadi pelayan mereka dalam bermain cinta yang hanya didasari atas nafsu birahi saja.

Yo Bi Kiok sendiri tidak pernah melakukan hal ini, akan tetapi tidak melarang terjadinya hal itu karena dia maklum akan keadaan para anak buahnya dan sangatlah berbahaya kalau hal itu dilarangnya. Akan tetapi In Hong menjadi muak dan jijik melihat betapa para anggota itu kini menjadi pemerkosa-pemerkosa, menjadi budak-budak nafsu birahi yang melampiaskannya dengan cara memaksa para pria tawanan itu. Dia mulai muak dan tidak tahan terhadap segala kekasaran serta kekejaman para anggota Giok-hong-pang, merasa tidak puas melihat sikap dingin seperti mayat hidup dari gurunya dan mulailah dia merasa tidak kerasan tinggal di sana bersama gurunya dan para anggota Giok-hong-pang yang merupakan wanita-wanita kejam.

Yo Bi Kiok tidak melarang saat In Hong menyatakan keinginannya untuk merantau. "Aku tidak keberatan, muridku. Akan tetapi hati-hatilah engkau melakukan perjalanan seorang diri. Dunia ini amat kejam, terutama bagi wanita. Memang engkau perlu untuk meluaskan pengetahuanmu dan melihat dunia ramai, berhubungan dengan masyarakat. Akan tetapi, engkau sudah memiliki bekal ilmu kepandaian yang kurasa akan cukup untuk melindungi keselamatanmu. Dengan ilmu-ilmu yang selama ini kuajarkan kepadamu, tidak akan ada orang yang dapat mudah mengalahkanmu. Akan tetapi engkau tetap harus waspada dan hati-hati, terutama sekali menghadapi pria! Bukan kekasarannya yang perlu ditakuti, akan tetapi justru bujukan mulut manisnya! Lihat betapa banyaknya kaum wanita yang rusak hidupnya oleh bujukan manis mulut pria."

"Teecu mengerti, Subo," jawab In Hong karena peringatan akan berbahayanya bujukan mulut manis pria ini sudah didengarnya ratusan kali sejak dia kecil, tidak hanya dari mulut gurunya melainkan juga dari mulut para anggota Giok-hong-pang hingga di dalam hatinya tumbuh pula perasaan tidak senang dan tidak percaya terhadap kaum pria.

"Dan setahun sekali engkau harus kembali ke sini agar aku dapat melihat keadaanmu. Kalau engkau tidak pulang, aku akan mencarimu dan menegurmu, In Hong."

"Teecu tidak akan melupakan pesan Subo."

"Kalau begitu bersiaplah, sepekan lagi engkau boleh pergi meninggalkan tempat ini untuk mulai dengan perantauanmu."

Hari itu, ketika Kun Liong tiba di tepi Telaga Kwi-ouw, In Hong masih belum berangkat, waktunya untuk pergi masih dua hari lagi. Akan tetapi dia sudah bersiap-siap dan hatinya sudah diliputi ketegangan dan kegembiraan karena dia akan segera meninggalkan tempat yang membosankan itu dan akan hidup bebas bagaikan seekor burung yang terlepas di angkasa, sendirian saja menghadapi segala tantangan, bertanggung jawab sendiri tanpa menurut siapa pun juga. Betapa akan senangnya hidup seperti itu!

Akan tetapi pada hari itu menjelang tengah hari ketika Bi Kiok sedang duduk di beranda depan yang teduh, dan In Hong duduk tidak jauh dari gurunya, keduanya membaca kitab tentang sejarah kuno karena sejak kecil In Hong juga dilatih kesusasteraan oleh Bi Kiok, tiba-tiba terdengar suara orang bagaikan suara setan saja karena tidak diketahui kapan orang itu tiba di dekat mereka.

"Tidak salah lagi, engkau tentulah Yo Bi Kiok dan dia... dia itu tentu In Hong."

Bagai disambar halilintar Bi Kiok melempar kitabnya dan meloncat bangun, menghadapi Kun Liong yang sudah muncul di sana, berdiri di hadapannya sambil tersenyum, dengan senyum dan pandang matanya yang masih seperti dulu, begitu jenaka dan nakal!

"Kau...? Bagaimana kau..." Bi Kiok berseru dengan kaget dan heran sekali bukan hanya karena dia bertemu kembali dengan Kun Liong secara begitu mendadak, juga bagaimana orang ini dapat muncul di situ tanpa diketahui penjaga, padahal tempat itu dijaga sangat ketat dan penuh dengan tempat-tempat rahasia penuh perangkap.

"Hemm, agaknya engkau lupa bahwa dahulu aku sudah pernah menyerbu ke tempat ini ketika tempat ini masih dikuasai oleh Kwi-eng Niocu. Apakah engkau sudah lupa lagi, Bi Kiok?"

Bi Kiok memandang dengan muka sebentar pucat sebentar merah. Suara itu, pandang mata itu, masih seperti dulu, penuh sikap bergurau!

"Aku sangat berterima kasih padamu, Bi Kiok. Ternyata engkau merawat adikku baik-baik sehingga dia telah menjadi seorang dara yang cantik jelita dan gagah. In Hong, engkau tentu tidak lupa kepada kakak kandungmu, bukan?"

Akan tetapi In Hong hanya memandang dengan wajah pucat. Dia tahu siapa laki-laki gagah dan gembira ini. Biar pun baru satu kali dia bertemu dengan kakak kandungnya, akan tetapi wajah kakaknya tidak pernah dapat dia lupakan. Akan tetapi dia tahu harus bersikap bagaimana karena dia tahu betapa bencinya wanita yang menjadi gurunya itu terhadap kakak kandungnya, maka dia hanya berdiri mematung dan memandang dengan wajah pucat.

Akan tetapi Bi Kiok sudah dapat menenangkan kembali hatinya yang tadi terguncang dan panik tidak karuan karena pertemuan yang begitu tiba-tiba dengan satu-satunya pria yang pernah dicintanya itu. Kini wajahnya sudah kembali menjadi dingin, dan suaranya dingin menyeramkan ketika dia berkata,

"Bagus sekali, Yap Kun Liong! Aku belum sempat mencarimu untuk mencabut nyawamu, sekarang engkau sendiri telah datang mengantar nyawa!"

Kun Liong merasa betapa suara itu amat dingin mengandung kebencian mendalam. Dia pun menarik napas panjang dan berkata, "Aih, Yo Bi Kiok, urusan belasan tahun yang lalu antara kita hanyalah urusan orang-orang muda yang hidupnya masih belum matang. Kini kita sudah sama-sama hampir tua, apakah engkau masih saja menyimpan urusan itu di hatimu?"

"Semenjak dulu engkau memang pandai sekali membujuk. Aku tidak perlu banyak bicara lagi denganmu karena aku yakin bahwa kedatanganmu ini tentu berniat buruk. Nah, kau bersiaplah untuk mampus!"

"Bi Kiok, nanti dulu! Lupakah engkau akan persahabatan antara kita yang amat akrab di waktu muda dahulu? Aku datang bukan dengan maksud buruk. Aku hanya datang untuk menengok adik kandungku yang hanya satu-satunya ini dan untuk bicara dengan dia. Aku tidak akan mengganggu ketenangan di sini dan..."

Akan tetapi Bi Kiok sudah bertepuk tangan, maka muncullah belasan orang murid atau pengawalnya. "Kalian bodoh dan lengah! Lihat, ada orang jahat masuk ke sini dan kalian sama sekali tidak tahu. Hayo serbu dan bunuh dia!"

Kun Liong tidak dapat banyak protes lagi karena dia telah dikurung dan diserbu oleh lima belas orang wanita dengan pedang di tangan. Karena mereka menerima perintah ketua atau guru mereka, tentu saja lima belas orang wanita yang kesemuanya pembenci pria itu segera menyerang kalang kabut dengan pedang mereka.

Sungguh pun kelihatannya kalang kabut penuh dengan semangat dan nafsu membunuh, namun gerakan mereka itu teratur karena lima belas orang ini semua adalah anggota-anggota Ngo-heng-tin, yaitu barisan pedang yang diciptakan oleh Bi Kiok dan terdiri dari masing-masing lima orang yang dapat bekerja sama dengan lihai sekali. Karena mereka berjumlah lima belas, otomatis di situ terdapat tiga kelompok barisan pedang Ngo-heng-tin dan lima belas batang pedang itu berkelebatan dan menyerang dengan bertubi-tubi dan sambung-menyambung dengan kecepatan yang makin lama makin hebat sehingga tubuh Kun Liong lenyap terbungkus gulungan sinar pedang-pedang itu.

Sambil mengelak ke kanan kiri, Kun Liong masih berusaha mengingatkan Bi Kiok dengan suara nyaring, "Yo-pangcu (ketua Yo), aku datang sebagai tamu yang tidak ingin mencari permusuhan, pantaskah kalau disambut seperti ini?" Dia sengaja menyebut Yo-pangcu untuk menghormati Bi Kiok di depan para anak buahnya.

Namun Bi Kiok hanya berdiri dengan wajah dingin, menyaksikan gerakan anak buahnya, sedangkan In Hong berdiri meremas-remas tangannya sendiri, tak tahu harus berbuat apa melihat kakak kandungnya dikeroyok belasan orang dengan barisan Ngo-heng-tin yang dia tahu amat lihai itu.

Melihat betapa seruannya tidak dipedulikan dan lima belas orang wanita itu menyerang makin hebat dengan tusukan dan bacokan maut yang benar-benar menghendaki jiwanya, Kun Liong terpaksa menunjukkan kelihaiannya. Dia mengeluarkan pekik melengking yang amat keras.

In Hong terkejut bukan main dan cepat dia mengerahkan sinkang-nya untuk bertahan karena mendengar suara ini, jantungnya berdebar telinganya terngiang-ngiang dan kedua kakinya menggigil. Setelah dia mengerahkan sinkang baru dia dapat bertahan, akan tetapi dia melihat dengan penuh kekagetan betapa lima belas orang wanita yang mengeroyok kakak kandungnya itu semua robon bergulingan dan seperti lumpuh kaki tangannya!

Kun Liong berdiri dengan sikap tenang dan baru menghentikan lengking suaranya setelah melihat semua pengeroyoknya terguling. Suasana menjadi sunyi sekali setelah pendekar itu menghentikan suaranya, sunyi yang amat tidak enak dan terasa mencekam sesudah suara mukjijat tadi dihentikan.

Mengertilah In Hong sekarang bahwa kakaknya tadi menggunakan Ilmu Sai-cu Ho-kang, semacam bentakan yang mengandung khikang seperti gerengan seekor singa yang dapat melumpuhkan calon korban dan mangsanya. Di dalam hutan, singa-singa dan harimau-harimau cukup menggereng saja untuk membuat korbannya lumpuh dan tak mampu lari, dan sekarang Kun Liong telah memgunakan ilmu itu untuk merobohkan lima belas orang pengeroyoknya. Bukan main kagumnya hati In Hong!

Pada waktu para wanita itu merangkak bangun kembali dan mengumpulkan pedang, siap hendak mengeroyok lagi, dengan muka merah Bi Kiok cepat membentak, "Pergilah kalian manusia-manusia tak berguna!"

Setelah para anak buahnya itu menyingkir dengan muka pucat dan tunduk, Bi Kiok lantas menggerakkan tangannya.

"Singgggg...!"

Tampak sinar berkilauan dan tangan kanan ketua Giok-hong-pang ini sudah memegang sebatang pedang yang menggetar-getar dan mengeluarkan dengung menggema.

Kun Liong terkejut. "Bi Kiok, nanti dulu! Sungguh mati jauh-jauh aku datang ke sini bukan untuk memusuhimu. Maafkan aku kalau tadi terpaksa merobohkan anak buahmu, habis... hemmm, aku ngeri sih dikeroyok demikian banyaknya wanita cantik!"

In Hong mengerutkan alisnya. Kakak kandungnya ini memang pandai sikapnya, lincah, jenaka dan lucu.

"Kun Liong, bersiaplah untuk mengadu nyawa. Aku tahu engkau lihai, akan tetapi jangan mengira bahwa aku takut menghadapimu!"

"Aihh... aihhh... Bi Kiok, mengapa engkau berkeras hendak membunuhku? Ingat, dahulu engkau sudah menolong nyawaku, masa sekarang engkau tega hendak mencabutnya? Lupakah engkau dahulu? Engkau baru berusia delapan tahun, aku seorang bocah gundul sepuluh tahun. Engkau dan kakek Yo Lokui menyelamatkan aku dari air sungai dan aku berhutang nyawa kepadamu. Kemudian engkau lagi-lagi menyelamatkan aku dari kejaran para datuk hitam. Dan aku menyelamatkan engkau dari Toat-beng Hoatsu. Ehh, Bi Kiok, ingatkah engkau ketika kita bersembunyi di dalam goa itu? Aihh, dan sekarang engkau tega hendak membunuhku?"

Gemetar tangan wanita yang memegang pedang itu. Dia pejamkan matanya, terbayang semua pengalamannya bersama pemuda ini, terbayang betapa saat mereka bersembunyi di goa terancam bahaya maut, pemuda itu telah mencium matanya yang selalu dipuji-puji keindahannya oleh Kun Liong!

Hatinya terasa tertusuk, kebekuan dan kekerasannya bobol dan dia mengejap-ngejapkan mata, menahan air mata namun tetap saja dua butir air mata menitik turun ketika dia membuka matanya yang indah. Sekarang mata itu memandang kepada Kun Liong penuh permohonan.

"Yap Kun Liong, tentu saja aku masih ingat sekali dan justru karena itulah aku menderita kesengsaraan hidup yang tetap kupertahankan sampai detik ini. Kun Liong, katakanlah bahwa engkau akan suka menemani aku hidup di sini... setahun saja... dan aku akan menurut segala perintahmu, akan kembali ke jalan benar dan aku akan mengusahakan agar adikmu kembali kepadamu..."

"Bi Kiok, aku sudah menikah..."

"Kun Liong, setahun saja, kuminta padamu..."

"Betapa mungkin itu..."

"Setengah tahun saja, supaya... terobati penyakit batinku... kemudian, mati pun aku akan rela... Kun Liong, aku mohon kepadamu, setengah tahun saja..."

In Hong yang melihat dan mendengar itu semua, tak dapat menahan keharuan hatinya. Dia menggigit bibirnya dan matanya terasa panas. Betapa besar rasa cinta di hati gurunya terhadap kakaknya! Alangkah akan bahagianya hati gurunya apa bila dapat menjadi isteri kakak kandungnya. Dan dia sendiri pun akan merasa bahagia!

Terimalah dia, koko! Terimalah dia! Demikian bisik hatinya.

Akan tetapi Kun Liong berkata dengan suara sungguh-sungguh, "Yo Bi Kiok, tidak nanti kau mau menggunakan kesempatan berbuat seperti itu, dan aku tahu bahwa engkau pun adalah seorang wanita yang mulia dan terhormat. Engkau hanya terseret oleh keadaan sekelilingmu setelah engkau menjadi murid Siang-tok Mo-li Bu Leng Ci. Kini kita tinggal menjadi sahabat dan meski pun engkau sekarang tidak begitu muda lagi, kiranya engkau akan dapat memilih seorang pria yang bebas, yang tepat menjadi jodohmu. Insyaflah, Bi Kiok, kita berdua tidak berjodoh dalam penghidupan ini, entah di lain kehidupan kelak."

"Kau... kau... tetap menolak?"

Kun Liong menarik napas panjang. "Tidak ada jalan lain, Bi Kiok. Kau kasihanilah aku dan dirimu sendiri, kita bukan jodoh..."

"Cukup! Manusia keji, laki-laki kejam! Setelah engkau mencuri hatiku, menjatuhkan hatiku, kemudian engkau mengingkari! Setelah engkau dulu bermanis-manis kepadaku, bahkan... menciumku di dalam goa, sekarang mengatakan tidak jodoh! Engkau manusia rendah, Kun Liong! Aku masih menanti-nanti, bahkan hingga tadi aku masih memohon kepadamu, bukan selamanya melainkan setahun saja, setengah tahun saja, aku telah merendahkan diriku, mengemis cinta sedikit saja, namun engkau tetap menolak. Kini, engkau atau aku yang harus mampus!" Bi Kiok berkata-kata setengah menjerit dan pedangnya langsung meluncur karena dia sudah mulai menyerang.

"Bi Kiok...!" Kun Liong memprotes akan tetapi percuma saja, pedang itu telah menyerang lehernya dengan kecepatan yang amat mengejutkan sekali sehingga biar pun dia sudah mengelak cepat, tetap saja bajunya di pundak terobek ujung pedang!

"Ah, engkau terlalu memaksaku, Bi Kiok." Kun Liong berkata, meloncat tinggi ke belakang. Bi Kiok mengejar dengan geseran-geseran kaki cepat sekali, lalu pedangnya menusuk ke arah dada Kun Liong yang masih meloncat itu.

“Cringgg...!" Bunga api berpijar ketika pedang Bi Kiok yang menusuk itu ditangkis oleh pedang di tangan Kun Liong yang mencabutnya ketika meloncat tadi.

Kini kedua orang yang memiliki kepandaian hebat itu mulai bertanding. Mula-mula Kun Liong hanya menggunakan pedangnya untuk membela diri saja, akan tetapi dengan kaget dia mendapat kenyataan bahwa gerakan Bi Kiok sungguh-sungguh luar biasa cepat dan anehnya, juga tenaga sinkang-nya kini amat kuat. Hampir dia tidak percaya bahwa ini adalah Bi Kiok yang dahulu itu!

Untuk mempercepat pertandingan itu dan menyudahinya, Kun Liong lalu menggerakkan pedangnya dan mainkan Siang-liong-kiam yang diimbangi dengan totokan-totokan tangan kirinya, ilmu silat tinggi yang dia pelajari dari kakek Bun Hwat Tosu. Akan tetapi ternyata ilmu pedang ini sama sekali tidak dapat mengatasi ilmu pedang yang dimainkan oleh Bi Kiok, bahkan perlahan-lahan dia mulai terdesak.

Sesungguhnya ilmu yang dimainkannya itu aslinya adalah Siang-liong-pang atau Tongkat Sepasang Naga yang harus dimainkan dengan sepasang tongkat, maka kini dimainkan hanya dengan sebatang pedang dibantu tangan kiri masih kurang kuat seakan kehilangan keasliannya, sedangkan ilmu pedang yang dimainkan oleh Bi Kiok merupakan ilmu silat pedang asli yang amat tinggi mutunya.

Sesudah lewat lima puluh jurus, Kun Liong semakin terdesak! Hal ini adalah karena dia mengirim serangan-serangan balasan hanya untuk mengurangi gelombang serangan Bi Kiok dan sama sekali bukan dengan niat melukai wanita itu.

Cepat Kun Liong merobah permainan pedangnya, kini pedangnya berkelebat merupakan bianglala atau sinar pelangi melengkung panjang yang laksana seekor naga menyambar ke mana pun sinar pedang lawan berkelebat. Inilah ilmu pedang gabungan yang sudah diciptakannya sendiri, diambil dari gerakan-gerakan semua ilmu pedang yang dikenalnya lalu dihimpun dengan dasar Ilmu Sakti Keng-lun Tai-pun, yaitu kitab peninggalan Bun Ong yang terjatuh ke tangannya.

"Aihhh...!" Bi Kiok berseru, kaget dan kagum sekali.

Sinar pedang melengkung itu lihai bukan main. Semua desakannya menghadapi benteng sinar yang sangat kuat, bahkan beberapa kali pedangnya menyeleweng dan mengancam dirinya sendiri! Kalau saja tidak sedemikian besar kebenciannya terhadap Kun Liong yang dianggapnya manusia yang telah menghancurkan hidupnya, tentu tidak malu-malu lagi dia mengaku kalah. Dia maklum bahwa kalau Kun Liong menghendaki, pendekar sakti itu akan mampu merobohkannya dengan ilmu pedang mukjijat yang sangat kuat ini, namun Kun Liong tidak pernah melakukan serangan maut.

"Mampuslah!" teriaknya dan ketika terdapat lowongan, pedangnya menusuk dengan cepat sedangkan tangan kirinya segera melakukan pukulan tangan kosong dengan jari terbuka didorongkan ke arah dada Kun Liong.

"Cringggg...!"

Pedangnya terpental dan lagi-lagi bertemu dengan sinar pedang yang seperti bianglala itu, akan tetapi hantaman jarak jauh tangan kirinya berhasil karena Kun Liong agaknya tak menyangka bahwa pukulan sinkang itu akan sehebat itu.

"Desssss...!"

Hawa pukulan yang amat kuat dan dahsyat tepat menghantam dada Kun Liong sehingga membuat pendekar ini terjengkang roboh bergulingan. In Hong menggigit jari tangannya, membayangkan kakak kandungnya akan dibunuh di depan matanya. Dia tidak tahu harus membantu siapa!

"Hebat sekali engkau...!" Kun Liong memuji.

Dia sudah meloncat bangun dan kembali cahaya pedangnya membentuk benteng kokoh kuat. Dia benar-benar merasa kagum karena tidak disangkanya tamparan atau dorongan telapak tangan kiri dari Bi Kiok itu sedemikian dahsyat dan kuatnya, agaknya tidak kalah dibandingkan dengan ilmunya Pek-in-ciang (Tangan Awan Putih)!

Kun Liong mulai merasa bingung. Bagaimana dia akan dapat menyudahi pertandingan ini tanpa melukai Bi Kiok kalau wanita ini sedemikian lihainya? Tidak ada jalan lain, pikirnya, kecuali mempergunakan Ilmu Mukjijat Thi-khi I-beng!

Ilmu Thi-khi I-beng ini merupakan ilmu mukjijat yang berdasarkan tenaga sinkang yang amat kuatnya, dipelajarinya dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong. Puluhan tahun yang lalu, ilmu ini menjadi ilmu yang diperebutkan di dunia persilatan, akan tetapi akhirnya hanya pendekar Cia Keng Hong seorang saja yang menguasainya.

Kemudian, karena melihat puterinya, Cia Giok Keng, kurang kuat untuk mewarisi ilmu ini, dan melihat bakat pada diri Kun Liong, Cia Keng Hong lalu mengajarkannya kepada Yap Kun Liong. Kehebatan ilmu ini, di samping membuat tubuh kebal terhadap segala macam senjata juga dapat menyedot tenaga sinkang lawan apa bila bagian tubuh mereka saling bersentuhan sehingga tubuh lawan melekat dan tenaga sinkang-nya disedot habis!

Kun Liong yang tidak ingin melukai Bi Kiok, menanti kesempatan baik. Pada saat pedang lawan itu menyambarnya, dia segera menindih pedang itu dari atas lantas mengerahkan sinkang-nya sehingga pedang itu melekat dengan pedangnya, tidak dapat dilepaskan lagi.

Betapa pun Bi Kiok mengerahkan tenaganya, akan tetapi pedangnya tetap melekat pada pedang Kun Liong. Hal ini membuat dia makin marah, maka sambil berseru keras tangan kirinya yang kuat itu menghantam lagi, kini mengarah lambung Kun Liong.

"Bhukkkk!"

Kun Liong sengaja menerima pukulan tangan kiri Bi Kiok itu dengan lambungnya sambil mengerahkan Thi-khi I-beng. Tangan Bi Kiok langsung melekat! Biasanya dalam keadaan begini, melalui bagian tubuh yang dipukul itu, Kun Liong dapat menyedot tenaga lawan.

"Huhhhhh...!"

Tiba-tiba saja Bi Kiok mengeluarkan suara aneh dari kerongkongannya, kakinya menekan tanah dengan keras, tubuhnya memutar dan tangannya yang melekat pada lambung Kun Liong terlepas! Di lain saat, pedangnya yang juga sudah terlepas itu sudah menyambar lagi menusuk ke arah mata Kun Liong, disusul tamparan maut yang menyerang perut!

"Ehhh...?!" Kun Liong terkejut bukan main.

Cepat-cepat dia meloncat ke belakang dan berjungkir balik beberapa kali, baru dia dapat menyelamatkan diri dari serangan yang susul-menyusul itu. Bukan main! Bi Kiok malah sudah menguasai ilmu yang merupakan tandingan dari Thi-khi I-beng! Tidak mempan lagi diserang dengan ilmu itu!

Diam-diam Kun Liong menjadi semakin kagum. Kiranya bokor emas itu sudah memberi ilmu-ilmu yang demikian hebatnya kepada Bi Kiok. Namun, tetap saja wanita ini hidupnya sengsara karena... dia! Padahal, menjadi pewaris bokor emas yang ternyata merupakan pusaka luar biasa itu sebetulnya merupakan hal yang amat hebat dan beruntung sekali.

Kini dia maklum bahwa mengalahkan Bi Kiok tanpa melukainya adalah hal yang sama sekali tak mungkin. Tingkat kepandaiannya tidaklah terlalu jauh selisihnya dengan tingkat kepandaian Bi Kiok, dan andai kata dia akan memaksakan kemenangan dengan melukai wanita ini pun agaknya bukan pula merupakan hal yang cukup mudah. Dan hal itu sama sekali tidak dikehendakinya, karena tentu akan membuat Bi Kiok merasa makin sakit hati kepadanya.

Kun Liong lalu memperhebat gerakan pedangnya. Hanya dengan ilmu pedang ciptaannya yang berdasarkan pada ilmu dari kitab Keng-lun Tai-pun saja dia dapat menahan semua serangan yang dilancarkan oleh Bi Kiok, dapat menutupi tubuhnya dengan benteng sinar pedangnya yang melengkung panjang seperti bianglala.

"In Hong, demi mendiang ayah dan bunda kita, engkau harus menemui aku! Kita harus saling bicara... demi masa depanmu... ingatlah pada orang tua kita, adikku...!" Kun Liong berkata dan In Hong yang mendengar ini tidak menjawab, hanya berdiri dengan muka pucat.

"In Hong, hayo cabut pedangmu dan bantu aku!" Bi Kiok berseru, suaranya penuh dengan wibawa.

"Subo...!" Suara In Hong terdengar gemetar dan matanya terbelalak.

"Kau melawan perintah subo-mu? Hayo cepat pilih, kau bantu aku atau bantu dia!" Bi Kiok membentak sambil terus menyerang Kun Liong.

"Baik, Subo!" In Hong mencabut pedangnya dan menyerang ke depan.

"Cringgg... tranggg...!"

Kun Liong terkejut bukan main. Setelah In Hong turut menyerang, sekarang terdapat dua kekuatan yang menerjang gulungan sinar pedangnya dan ternyata gerakan dara itu sama cepat dan sama kuatnya dengan Bi Kiok sehingga pertahanan gulungan sinar pedangnya bobol. Dua kali dia menangkis pedang Bi Kiok dan In Hong hingga dia terdesak mundur!

Celaka, pikirnya. Apa bila kepandaian adik kandungnya sudah sehebat ini dan betul-betul mengeroyoknya, bukan tidak mungkin dia akan tewas di ujung pedang dua orang wanita itu!

"In Hong, engkau adik kandungku... engkau menyerang aku...?" Kun Liong membentak, akan tetapi sebenarnya dia tidak begitu heran melihat ini, mengingat betapa sejak kecil dara itu dipelihara dan dididik penuh kasih sayang oleh Bi Kiok.

"Kau penuhilah permintaan Subo!" In Hong berkata, lirih dan gemetar suaranya.

Kun Liong segera meloncat jauh ke luar dari tempat itu, dikejar oleh Bi Kiok. "Keparat, engkau hendak lari ke mana? Jangan harap akan dapat terlepas dari tanganku! In Hong, mari kita kejar!"

Akan tetapi sekali ini In Hong tidak memenuhi perintah subo-nya. Dia memang bergerak juga, akan tetapi tidak cepat dan tertinggal jauh oleh Kun Liong dan Bi Kiok yang berlari cepat menuju ke pantai telaga.

"Kun Liong, berhenti kau! Seorang di antara kita harus mampus sekarang juga!" Bi Kiok berteriak-teriak.

Beberapa kali dia menyerang dengan Siang-tok-swa, yaitu senjata rahasia pasir harum yang beracun, dan juga beberapa kali dia menimpukkan hui-kiam (pedang terbang), yaitu pedang-pedang pendek yang disambitkan, yang cepat dan bahayanya tidak kalah dengan anak panah.

Namun semua itu dapat dihindarkan dengan mudah oleh Kun Liong yang terus melarikan diri. Untung baginya bahwa dalam hal ilmu berlari cepat, tampaknya Bi Kiok masih belum mampu menandinginya, maka dia dapat meninggalkan wanita itu, kembali ke pantai, lalu meloncat ke perahu dan mendayung perahu dengan cepat meninggalkan pulau.

Bi Kiok membanting-banting kaki di pinggir telaga, lantas berteriak-teriak memanggil anak buahnya, memerintahkan mereka untuk melakukan pengejaran. Akan tetapi, perahu Kun Liong sudah meluncur jauh sekali karena pendekar itu mempergunakan tenaga saktinya untuk mendayung sehingga perahunya meluncur luar biasa cepatnya.

Sambil membanting-banting kaki di tepi telaga, Bi Kiok memandang ke arah perahu Kun Liong yang makin menjauh.

"Subo, biarkan saja dia pergi dan mari kita melupakan dia."

Bi Kiok membalikkan tubuhnya, memandang muridnya dengan mata bersinar-sinar penuh kemarahan. "Kenapa engkau tidak ikut mengejar tadi?"

"Subo, bagaimana pun juga, dia adalah kakak kandungku sendiri..." In Hong menjawab dengan muka tunduk.

Tiba-tiba Bi Kiok menangis, In Hong terkejut bukan main dan cepat dia memeluk pundak subo-nya.

"Aku... aku... aku mencintainya... aku cinta kepadanya..." demikian keluhan dan rintihan yang terdengar oleh In Hong.

Peristiwa itu berkesan dalam sekali di hati In Hong, membuat dia semakin ngeri akan hubungan pria dengan wanita yang dianggapnya hanya mendatangkan mala petaka dan kesengsaraan belaka, membuat dia makin tidak suka kepada pria, sungguh pun dia tidak dapat melihat kesalahan kakak kandungnya terhadap Bi Kiok.

Kakak kandungnya sudah berterus terang bahwa dia tidak berjodoh dengan gurunya ini, bahkan sudah menikah dengan orang lain, dan kakak kandungnya tidak mau menerima uluran tangan Bi Kiok karena menjaga kehormatan mereka berdua. Dan dia tahu pula bahwa kalau kakaknya menghendaki, bukan tidak mungkin kalau subo-nya akan terluka atau tewas. Diam-diam dia amat kagum akan kelihaian kakak kandungnya itu.

Dua hari kemudian, ketika In Hong berpamit kepada subo-nya, Bi Kiok yang masih pucat dan lemah seperti orang yang baru saja menderita sakit keras itu memandangnya dengan wajah muram. Karena sudah memberi persetujuan sebelumnya, dia tidak mau menarik kembali, hanya dia minta supaya In Hong berjanji kepadanya untuk tidak kembali kepada kakaknya dan pulang ke Kwi-ouw setahun sekali. Dan In Hong dengan hati tulus berjanji kepada subo-nya, karena memang tidak ada niat di hatinya untuk ikut kakaknya.

Dengan diantar pandang mata subo-nya maka berangkatlah In Hong meninggalkan pulau, menumpang perahu yang didayung oleh anggota-anggota Giok-hong-pang. Sebenarnya ada rasa rindu di hati Bi Kiok kepada dunia, untuk merantau seperti dulu, namun teringat akan sakit hatinya, dia membaikkan tubuhnya dan kembali ke dalam gedung, memasuki kamarnya.

Sementara itu, In Hong melambaikan tangannya kepada para anggota Giok-hong-pang yang mengantar dirinya sampai ke seberang telaga. Setelah memasuki hutan, barulah In Hong merasa betapa dia berjalan seorang diri dan mulailah dia merasakan kegembiraan dan ketegangan, seakan-akan dengan hutan yang dimasukinya itu dia memulai sebuah kehidupan baru dan dia bisa segera melupakan semua kehidupan di pulau tengah Telaga Kwi-ouw yang makin membosankan hatinya itu…..

********************

Kota Tai-lin di tepi Sungai Kuning itu cukup ramai, meski pun kota itu jauh dari kota-kota lain dan kota terdekat dengan Tai-lin adalah kota besar Tai-goan yang letaknya di utara dan masih ada seratus li jauhnya. Keramaiannya adalah karena terletak di pinggir Sungai Huang-ho itulah karena sungai ini merupakan alat perhubungan yang amat ramai, selain untuk mengangkat barang-barang dagangan juga karena daerah ini kaya dengan ikan.

Pada pagi hari itu, di sebuah restoran besar, satu-satunya restoran di kota Tai-lin, sudah dipenuhi tamu yang makan pagi sambil bercakap-cakap. Keadaan di restoran itu atau di seluruh kota Tai-lin kelihatannya tenang dan tenteram saja, dan di antara para tamu itu yang terdiri dari penduduk Tai-lin dan juga para pedagang, tidak menyangka sama sekali bahwa di antara mereka itu terdapat orang-orang yang sesungguhnya bukan tamu-tamu biasa, melainkan orang-orang dari golongan hek-to (jalan hitam), yaitu orang-orang dari kalangan Liok-lim (kaum penjahat) yang mulai berani bermunculan lagi di kota-kota untuk mencari mangsa.

Memang hanya golongan hitam saja yang tahu akan perubahan besar di dunia kang-ouw yang sudah terjadi di saat itu. Berita tentang dirampasnya Siang-bhok-kiam, pusaka atau lambang kebesaran Cin-ling-pai yang ditakuti semua penjahat, juga mengenai tewasnya Cap-it Ho-han seperti dikabarkan, tewas oleh datuk-datuk baru dari dunia kaum sesat, merupakan suatu kemenangan golongan hitam.

Hal ini tidak saja disambut dengan gembira oleh kaum penjahat karena merasa bahwa dunia mereka kini lebih kuat dari pada golongan putih, akan tetapi juga membesarkan hati mereka dan mereka merasa lebih leluasa untuk melakukan pekerjaan mereka secara lebih terbuka karena bukankah kini fihak kaum sesat lebih kuat?

Seperti memperoleh dorongan semangat baru, kaum penjahat di sekitar kota Tai-lin kini juga mulai beraksi. Maka tidaklah mengherankan apa bila di antara para tamu di restoran itu terdapat beberapa orang golongan hitam yang ikut makan pagi tanpa diketahui orang lain.

Di dalam dunia kaum sesat, hanya penjahat-penjahat kecil sajalah yang bersikap kasar dan berlagak jagoan, akan tetapi penjahat-penjahat yang lebih tinggi tingkatnya, tidak ada yang mengenalnya karena mereka itu kadang kala menyamar sebagai pedagang, sebagai pelajar dan orang-orang yang tergolong tinggi derajatnya. Penjahat-penjahat yang seperti ini tidak mau melakukan pekerjaan-pekerjaan remeh seperti yang dilakukan oleh penjahat rendahan, misalnya seperti tidak mau membayar makanan di restoran atau sewa kamar di hotel, mencopet dan mencuri barang-barang yang tidak begitu berharga, dan sebagainya. Mereka ini tidak serakah akan barang-barang kecil, akan tetapi menunggu saatnya dan sekali pukul harus memperoleh hasil yang cukup banyak.

Tiba-tiba semua tamu di restoran itu menghentikan percakapan mereka dan semua mata memandang keluar ketika seorang dara muda memasuki pintu depan restoran itu. Mata para tamu itu terbelalak, mulut mereka ternganga, dan mereka tak menyembunyikan rasa kagum mereka ketika melihat dara itu melangkah memasuki restoran. Hal ini memang tak mengherankan karena dara itu memang cantik bukan main.

Wajahnya yang bulat telur berkulit putih halus tanpa bedak, sepasang pipinya kemerahan tanpa yanci dan bibirnya merah tanpa gincu. Wajah itu agak berkeringat, dan rumbutnya agak kusut dengan anak rambut berjuntai di atas dahi yang agak basah oleh peluh akan tetapi kekusutan rambut dan wajah berkeringat itu malah menambah keaslian wajah yang cantik jelita itu. Hanya sayangnya, mata yang tajam dan mulut yang manis itu kelihatan membayangkan hati yang dingin dan tidak acuh terhadap sekelilingnya.

Rambutnya digelung ke atas, panjang sekali rambut itu hingga gelungnya juga menjulang tinggi di atas kepala, dihias oleh sebuah perhiasan dari batu kemala yang indah berbentuk seekor burung hong. Sebatang pedang dengan hiasan ronce-ronce merah tergantung di punggungnya, menambah angker dan gagah wajah yang dingin itu.

Tubuhnya tinggi semampai dengan lekuk lengkung kematangan sempurna seorang dara. Pakaiannya sederhana namun bersih dan tangan kanannya memegang sebuah buntalan kain kuning yang agaknya berisi pakaian namun juga kelihatan agak berat sungguh pun dara itu membawanya dengan mudah.

Pada waktu dia melangkah masuk mencari sebuah meja kosong, lenggangnya yang seenaknya itu membayangkan tubuh yang lemah gemulai. Pinggulnya bergerak seperti menari-nari, dan lenggang yang tidak dibuat-buat melainkan sewajarnya itu demikian indah bagaikan sebuah tarian yang terlatih. Bagi beberapa orang yang mengerti ilmu silat dan yang duduk di tempat itu, akan maklum bahwa memang demikianlah langkah seorang wanita yang ‘berisi’, yaitu di balik keluwesan serta kelemasan tubuhnya itu bersembunyi tenaga yang hebat, yang membuat dia dapat bergerak dan melangkah seenaknya dengan wajar tetapi penuh keagungan dan gaya.

Melihat dara ini melakukan perjalanan seorang diri dan membawa-bawa pedang, semua orang dapat menduga bahwa dara ini tentulah seorang dara kang-ouw yang melakukan perjalanan seorang diri mengandalkan pedang serta kepandaiannya. Dan sikap pendiam dan dingin, terutama pedang panjang yang kini dilepaskan dari punggung dan diletakkan di atas meja bersama buntalannya itu, membuat orang-orang tidak berani memandang secara langsung.

Dara ini bukan lain adalah Yap In Hong! Telah hampir selama dua pekan dia melakukan perantauannya dan tiba di kota itu, kota besar pertama kali yang dimasukinya semenjak meninggalkan Kwi-ouw. Kini dia lelah sekali karena telah melakukan perjalanan jauh naik turun gunung dan masuk keluar hutan, dan sudah dua hari dua malam dia hanya makan hasil buruan di hutan dan buah-buah yang dapat dia temukan di dalam hutan, bersama air jernih saja.

Begitu dia memasuki restoran, seleranya segera bangkit. Perutnya sudah berbunyi ketika hidungnya mencium bau bumbu masakan yang mengepul keluar dari dalam dapur.

Seorang pelayan tua terbungkuk-bungkuk menghampiri In Hong. "Nona hendak makan dan minum apakah?" tanyanya sambil mengerling ke arah pedang di atas meja.

"Nasi putih, mi bakso dan daging ayam rebus dengan saus tomat. Minumnya teh wangi yang hangat saja."

Pelayan itu mengangguk-angguk dan karena merasa heran mendengar seorang wanita kang-ouw tidak memesan arak, dia bertanya hati-hati, "Tidak pakai arak, nona?"

In Hong memang tidak begitu doyan arak yang keras. "Apakah ada anggur yang tidak keras?" tanyanya.

Pelayan itu menggeleng kepala. "Hanya ada arak yang wangi dan tua, arak kami terkenal sekali, nona!"

"Tidak, aku tidak suka. Eh, kalau ada tolong aku minta disediakan satu panci air hangat untuk cuci muka, paman."

"Baik, baik..." Pelayan itu pergi dengan hati senang.

Sikap dara kang-ouw itu tidak seperti wanita-wanita kang-ouw lainnya yang angkuh dan kasar, bahkan ketika minta air hangat memakai kata ‘tolong’. Hatinya senang dan setelah dia menyampaikan pesanan In Hong ke bagian dapur, dia sendiri membawa sepanci air hangat untuk nona itu.

In Hong menaruh air itu di atas bangku, kemudian mencuci mukanya, menggosok-gosok mukanya dengan keras untuk menghilangkan debu dari muka serta lehernya, juga kedua tangannya. Setelah itu dia lalu menggosok leher, muka dan tangan itu dengan selembar sapu tangan bersih sampai kering. Kini mukanya semakin berseri, kedua pipinya makin merah sehingga kagumlah semua orang yang duduk tak jauh dari tempat itu.

In Hong duduk kembali dan mengerling ke kiri. Dia tahu bahwa sejak tadi ada seorang lelaki tua bertopi hitam yang terus mengikuti gerak-geriknya dengan sikap mencurigakan. Melihat orang-orang lain memandangnya dengan kagum, dia tidak menganggap aneh biar pun hatinya muak menyaksikan sikap laki-laki itu karena semenjak dia merantau, hampir setiap kali berjumpa dengan pria dia selalu melihat pandang mata seperti itu. Akan tetapi laki-laki tua bertopi itu lebih memperhatikan buntalannya! Dan itulah yang mencurigakan hatinya.

Laki-laki tua itu sedang makan mi dengan sumpitnya. Cepat sekali sumpitnya bergerak menjepit mi dan mendorongnya ke mulut. In Hong menelan ludah. Perutnya rasa makin lapar melihat orang makan selahap itu.

Kecepatan jari-jari tangan kanan mempermainkan sepasang sumpit itu menarik hatinya. Cepat sekali dan amat kuat, pikirnya. Berbeda dengan gerak tangan orang-orang biasa. Tentu bukan orang biasa, pikirnya pula dengan hati makin curiga. Akan tetapi dia duduk tenang saja, tidak menoleh ke kanan atau kiri, tidak membalas pandang mata banyak pria yang ditujukan kepadanya dengan kagum.

Walau pun baru setengah bulan dia melakukan perjalanan, dia sudah melihat banyak tentang kehidupan di luar lingkungan Giok-hong-pang dan diam-diam dia menjadi makin tidak suka melihat kenyataan tentang kekuasaan kaum pria terhadap wanita. Dia melihat wanita-wanita sebagai kaum lemah yang diperbudak laki-laki, yang bersikap mengalah, manja, dan minta dilindungi. Di mana-mana dia melihat gejala ini, dan melihat sikap pria yang selalu ingin menang, yang memandang wanita seperti benda permainan belaka.

Hampir semua pria yang dijumpainya memandang kepadanya dengan mata buas, tidak terkecuali, baik yang sudah beristeri mau pun yang belum. Pandang mata yang haus dan kurang ajar, yang seolah-olah hendak menelanjangi dan menggerayangi tubuhnya.

Pantas kalau subo dan para bibi di Giok-hong-pang membenci pria, pikirnya. Mulailah dia melihat betapa perbuatan para bibi di Kwi-ouw terhadap pria-pria Kwi-eng-pang yang menjadi budak itu sebagai pembalasan dendam dari mereka terhadap kaum pria! Betapa pun juga, dia bukanlah seekor binatang buas yang haus akan darah pria seperti mereka itu, pikirnya. Dia belum pernah disakiti hatinya oleh pria, maka biar pun dia tidak senang, namun dia tidak memiliki perasaan benci terhadap pria pada umumnya seperti mereka.

Tidak semua pria sejahat itu, pikirnya pula. Buktinya, sikap kakak kandungnya yang baik dan jenaka, dan subo-nya yang terkenal pembenci pria itu ternyata masih cinta kepada kakak kandungnya!

Makanan yang dipesannya datang diantarkan oleh pelayan tadi yang mempersilakannya dengan sikap hormat.

"Silakan, nona."

"Terima kasih, paman. Engkau baik sekali," jawab In Hong. Karena sikap sopan itu dia menganggap si pelayan jauh lebih baik dari pada semua pria yang berada di situ.

Pelayan itu gembira dan mengangkat pergi panci air hangat yang tadi dipakai mencuci muka In Hong. Dara itu pun mulai makan. Bukan main lezatnya makan di waktu perut sudah lapar sekali dan selera sudah penuh keinginan sejak tadi.

Dia tidak peduli betapa banyak mata mengincarnya, seolah-olah gerakan mulutnya ketika makan amat menarik hati mereka. Bagaimana pun juga, dia merasa tidak enak sehingga dia menutupi mulutnya dengan mangkok nasi dan ketika mengunyah makanan dia tidak membuka mulutnya. Mi bakso itu enak, terutama baksonya yang pulen dan gurih, daging ayam rebus saus tomat itu pun lezat, empuk dan manis sausnya sedang baunya harum dan sedap karena dicampur sedikit arak.

Setelah selesai makan, In Hong memanggil pelayan, membayar harga makanan dengan menambah persen untuk pelayan itu. Dia mengambil uang perak dari dalam pundi-pundi uangnya yang terisi perak dan emas, bekal yang diberikan oleh subo-nya. Pelayan itu melongo ketika melihat demikian banyaknya emas dan perak dalam pundi-pundi, dan dia berkata perlahan.

"Aihh, nona membawa uang begitu banyak, harap hati-hati di jalan."

In Hong tersenyum dan orang-orang yang kebetulan melihatnya menjadi terpesona. Nona itu mempunyai senyum yang bukan main manisnya, dan lenyaplah semua sifat dingin itu begitu dia tersenyum, seakan-akan awan-awan hitam yang lenyap oleh sinar matahari yang cerah dan yang muncul tiba-tiba. Sayang bahwa nona itu jarang tersenyum!

"Terima kasih, paman. Jangan khawatir." Sambil berkata demikian, In Hong menyambar pedangnya dan kembali menggantungkannya di punggung, mengikatkan kain pengikat pedang di depan dada, di antara sepasang buah dadanya sehingga talian itu membuat pakaiannya makin mengetat dan tonjolan dadanya makin tampak membusung. Kemudian dia memanggul buntalan pakaiannya dan hendak pergi dari sana ketika telinganya yang berpendengaran tajam itu menangkap bisikan halus dari arah kiri,

"...Giok-hong-pang..."

In Hong bertanya kepada pelayan itu dengan suara cukup keras sambil menoleh ke kiri, sekaligus pandang matanya menyapu ke arah orang yang menyebut nama perkumpulan subo-nya itu, "Paman, berapa jauhnya perjalanan dari sini ke kota Tai-goan?"

"Wah, masih jauh sekali, nona. Ke utara dulu lalu membelok ke timur, lebih dari seratus li jauhnya. Apakah nona membutuhkan seekor kuda?"

"Tidak, paman. Aku akan berjalan kaki saja."

Sekarang In Hong sudah melihat dengan jelas bahwa dua orang yang tadi membisikkan nama perkumpulan subo-nya adalah dua orang lelaki muda, yang seorang berkumis dan berjenggot pendek, bertubuh tinggi besar dan matanya lebar, yang kedua masih muda, memakai topi, mukanya kurus dan tampan agak pucat.

Sesudah melihat jelas, In Hong bersikap seperti tidak ada apa-apa, kemudian dia keluar dari restoran itu dan melanjutkan perjalanannya.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner