DEWI MAUT : JILID-10


"Hyaaaaatttt…!"

"Haiiiiiiikkkkk…!"

Cia Keng Hong dan isterinya memekik nyaring ketika pukulan Bun Houw menyambar ke arah mereka. Mereka tidak mengelak melainkan menyambut pula dengan telapak tangan mereka sehingga sepasang tangan pemuda itu menempel pada tangan ayah dan ibunya. Suami isteri itu mengerahkan tenaga dan tubuh Bun Houw terangkat, kedua tangannya masih menempel di tangan ayah bundanya dan kakinya ditarik ke atas.

"Aaaaahhhhh…!"

Suami isteri itu mengerahkan tenaga lantas melemparkan tubuh putera mereka dengan dorongan keras. Tubuh Bun Houw terlempar ke atas, akan tetapi bukannya terbanting jatuh, sebaliknya malah berjungkir balik di udara sampai dua kali dan pada saat tubuhnya melayang turun, kedua kakinya sudah mengancam pundak kedua orang tua mereka!

"Ihhhhh...!" Sie Biauw Eng memekik kaget dan cepat dia menangkap kaki yang hendak menotok pundaknya itu.

Juga Keng Hong menangkap kaki kedua dan kembali mereka mendorong kedua kaki itu ke atas. Kini Bun Houw terlempar jauh dan dia berjungkir balik lagi, lalu hinggap di atas lantai dengan kedua kakinya agak dibengkokkan.

Pada saat itu, ayah bundanya sudah meloncat ke atas dan membalas dengan serangan kaki dari atas. Ini memang merupakan jurus yang amat berbahaya dan yang tadi sudah digunakan oleh Bun Houw dengan baik sekali sehingga kalau saja bukan ayah bundanya yang diserang, tentu akan roboh terkena totokan ujung kakinya.

Kini ayah bundanya menyerang dengan berbareng. Bun Houw terkejut sekali, akan tetapi dia pun dapat menangkap dua buah kaki, masing-masing sebuah dari ayah bundanya dan tanpa menanti kaki kedua menyerang, dia sudah melemparkan ayah bundanya dengan pengerahan tenaga sinkang.

Kakek dan nenek itu terlempar dan berjungkir balik seperti yang dilakukan putera mereka tadi. Mereka hinggap di atas lantai dan memandang dengan wajah berseri dan kagum.

"Jaga ini...!" Tiba-tiba Cia Keng Hong berseru keras dan dia sudah kembali menerjang sendirian sambil mengirim pukulan ke arah puteranya. Bun Houw cepat-cepat menangkis dan kembali bertemulah lengan mereka.

"Dukkk!"

Bun Houw terkejut karena lengannya melekat pada lengan ayahnya dan dia langsung merasakan tenaga sedotan hebat sekali. Tahulah dia bahwa ayahnya telah menggunakan Thi-khi I-beng, ilmu yang paling hebat dan mukjijat dari ayahnya.

"Wuuutttt…! Plakkk!"

Dia mengerahkan tenaga, membuat gerakan memutar lantas cepat sekali jari tangannya menotok ke arah dada ayahnya. Totokan maut yang sangat berbahaya dan pada waktu Cia Keng Hong menangkisnya, tahu-tahu Bun Houw telah berhasil melepaskan lengannya yang menempel tadi!

Cia Keng Hong terkejut dan heran, kembali menyerang dan setiap kali lengan mereka bersentuhan, dia cepat menggunakan Thi-khi I-beng, akan tetapi selalu Bun Houw dapat melepaskan bagian tubuhnya yang melekat pada tubuh ayahnya. Akhirnya mengertilah Cia Keng Hong bahwa Thi-khi I-beng tidak lagi mampu mengalahkan pemuda itu, maka dia meloncat ke belakang dan berkata,

"Cukup!"

Bun Houw maju dengan muka gembira. "Bagaimana pendapat ayah dan ibu? Luluskah aku?"

"Engkau hebat, aku tidak lagi sanggup menandingimu, Houw-ji (anak Houw)!" Sie Biauw Eng berseru gembira.

"Aku girang sekali melihat bahwa gurumu telah membimbingmu sehingga engkau bahkan dapat menghadapi Thi-khi I-beng! Engkau tahu mengapa aku tidak menurunkan ilmu itu kepadamu, anakku?" Cia Keng Hong berkata.

"Aku mengerti, ayah. Ilmu itu hanya dapat diturunkan kepada satu orang saja, dan ayah sudah memberikannya kepada suheng Yap Kun Liong. Aku tidak merasa iri, ayah."

"Bagus, kalau engkau sudah mengerti. Sekarang coba kau bersilat pedang, aku hendak melihat sampai di mana kemajuanmu."

Ayah dan ibu itu sudah mandi keringat ketika mengeroyok Bun Houw tadi, akan tetapi Bun Houw hanya berkeringat di leher dan dahi saja, dan sama sekali tidak kelihatan lelah. Dia mengangguk, meloncat ke tengah ruangan, lalu mencabut pedangnya dan dia pun mulai bersilat pedang.

Mula-mula Kwee Kin Ta dan tiga orang sute-nya masih dapat mengenal gerakan pedang yang indah dari ilmu pedang Cin-ling-pai yang juga mereka kuasai, kemudian meningkat pada Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut yang gerakannya membuat pedang itu berubah menjadi gulungan sinar yang selalu bersilang-silang. Memang keistimewaan Ilmu Pedang Siang-bhok Kiam-sut terdapat pada gerakannya yang bersilang-silang.

Akan tetapi ketika makin lama Bun Houw mempercepat gerakannya dan merobah ilmu pedangnya, empat orang murid tertua dari Cin-ling-pai itu menjadi bengong karena selain mata mereka menjadi silau, juga mereka tidak mampu lagi mengenali ilmu pedang yang dimainkan oleh Bun Houw. Yang tampak hanyalah gulungan sinar pedang disertai angin menyambar-nyambar, bahkan mereka yang berada di sudut ruangan itu dapat merasakan sambaran angin dingin itu.

Sesudah Bun Houw menghentikan permainan pedangnya, Cia Keng Hong mengangguk-angguk. Tadi dia telah saling berbisik dengan isterinya bahwa kepandaian putera mereka itu sudah cukup tinggi dan boleh diandalkan, sudah lebih dari cukup untuk putera mereka pergi menentang bahaya mencari dan merampas kembali pusaka Cin-ling-pai.

"Baiklah, kau boleh pergi mencari mereka dan merampas kembali pedang kita, Houw-ji. Akan tetapi ingatlah baik-baik bahwa hanya ilmu silat tinggi saja masih belum cukup kuat untuk menjaga diri. Engkau harus berhati-hati terhadap segala macam tipu muslihat lawan yang curang dan untuk menghadapi itu bekalnya hanya ketenangan dan kewaspadaan."

Selama dua hari beristirahat di Cin-ling-san, tiada hentinya Bun Houw menerima nasehat dan pesan-pesan dari ayah dan bundanya mengenai keadaan di dunia kang-ouw, tentang kecurangan-kecurangan para tokoh kaum sesat dengan menuturkan pengalaman mereka pada waktu muda. Sungguh pun puteranya itu sudah pula mewarisi ilmu pukulan beracun Ngo-tok-ciang, akan tetapi karena maklum betapa banyaknya ahli tentang racun di dunia kaum sesat, Sie Biauw Eng lalu memberikan tusuk kondenya yang berbentuk bunga bwee kepada puteranya.

"Setiap makanan atau minuman yang mencurigakan, kau coba dengan ujung tusuk konde ini. Bila ujungnya berwama hijau, di situ terdapat racun yang membius atau memabokkan, kalau berwarna hitam, terdapat racun yang mematikan," pesannya.

Sesudah beristirahat selama dua hari, maka berangkatlah Cia Bun Houw meninggalkan Cin-ling-san untuk menyelidiki tentang Lima Bayangan Dewa, membawa bekal pakaian, uang, dan pedangnya. Sehari setelah dia berangkat, Kwee Kin Ta dan tiga orang sute-nya juga berpamit dari guru atau ketua mereka untuk berusaha mencari jejak musuh-musuh besar itu, dan mengingat akan kedukaan serta kehilangan para muridnya ini, Cia Keng Hong tidak tega untuk menolak.

Maka berangkat pulalah keempat orang tua ini, dan mereka berempat sudah bersepakat bahwa mereka tidak akan kembali ke Cin-ling-pai sebelum mereka berhasil melaksanakan tugas, yaitu mendapatkan di mana adanya musuh-musuh besar itu, membalas dendam dan merampas kembali pedang pusaka.

Cia Keng Hong sendiri bersama isterinya yang sudah berusia lanjut itu hanya menanti di Cin-ling-san dan hanya dapat berprihatin sambil berjaga-jaga kalau-kalau ada lagi musuh yang datang mengacau Cin-ling-pai…..

********************

In Hong memasuki pasar di kota I-kiang itu sambil melihat-lihat orang berjual beli. Pasar itu cukup ramai, penuh dengan orang berdagang sayur-mayur dan buah-buahan, terutama sekali di bagian ikan, bukan main ramainya dan juga baunya amis sekali sebab pasar itu merupakan pusat perdagangan ikan hasil kaum nelayan di Sungai Yang-ce-kiang karena kota I-kiang itu memang merupakan kota pelabuhan sungai besar itu.

Mungkin sudah menjadi watak seluruh wanita di dunia ini, mereka senang sekali untuk mengunjungi pasar, berbelanja atau hanya melihat-lihat saja! Agaknya In Hong pun tidak terkecuali. Dara ini suka sekali memasuki pasar untuk sekedar melihat-lihat dan kadang-kadang membeli buah-buahan atau apa saja yang menarik hatinya. Demikian pula ketika perantauannya membawa dia ke I-kiang dan kebetulan dia melewati sebuah pasar yang ramai, ia merasa tertarik lalu memasuki pasar itu, berdesak-desakan dengan orang-orang lain yang sebagian besar adalah wanita-wanita berbelanja.

Sesudah membeli beberapa biji buah apel yang merah dan kelihatan segar, In Hong lalu memasuki bagian perdagangan ikan yang sangat ramai dan penuh orang. Kiranya, di situ memang pusatnya, bukan hanya perdagangan eceran, melainkan partai besar dan di sini terdapat banyak pedagang dari luar kota yang datang untuk memborong banyak ikan dan akan dibawa keluar kota.

Ratusan keranjang ikan ditimbang dan ramai orang bercakap-cakap. Mereka semua sibuk dengan urusan mencari untung sehingga kemunculan seorang dara cantik seperti In Hong pun tidak begitu menarik perhatian secara menyolok.

Tiba-tiba In Hong menahan senyumnya. Dia mengenal seorang laki-laki tua bertopi, yang menyelinap di antara banyak orang yang sedang menimbang ikan-ikan dalam keranjang itu. Dia lalu mendekati sambil menyelinap di belakang orang-orang dan mengikuti semua gerak-gerik laki-laki tua bertopi itu dengan pandang matanya. Hampir saja dia tertawa geli ketika melihat pemandangan itu.

Seorang laki-laki gendut berpakaian mewah, agaknya seorang saudagar ikan yang kaya, agaknya seorang pendatang dari kota lain yang sengaja memborong ikan-ikan di sana, mengalahkan pedagang lainnya karena dia berani membayar lebih tinggi, berdiri di antara orang banyak dengan lagak sombong seorang yang merasa lebih berkuasa dibandingkan dengan orang lain, dan memang di pasar itu dia berkuasa dengan uangnya.

Laki-laki tua bertopi itu longak-longok, menyelinap ke belakang pedagang gendut itu dan dia lalu bersembunyi di belakang beberapa orang yang berada di belakang si pedagang gendut. Akan tetapi lucunya, lengan kakek bertopi itu dapat menyusup seperti seekor ular melalui belakang tubuh orang lain dan tiba-tiba saja tangannya sudah tersembul di atas kantong baju si pedagang gendut!

In Hong tersenyum dan hampir terbatuk-batuk karena waktu itu dia sedang makan apel yang manis. Karena geli hatinya hampir saja buah apel yang digigitnya itu salah masuk. Sambil memandang dan terus mengikuti gerak-gerik kakek bertopi itu, In Hong menjepit biji apel yang kecil dengan jari tangannya, menunggu sampai tangan yang seperti kepala ular itu merayap memasuki kantong baju si pedagang gendut, kemudian tiba-tiba saja dia menyentil dengan jari tangannya.

"Tukk...! Auuhhh...!" Pencopet tua itu menjerit akan tetapi cepat menahan suaranya dan menutupi mulutnya sambil menggosok-gosok punggung tangannya yang menjadi merah dan terasa panas dan nyeri sekali.

Semua orang menengok, akan tetapi mereka hanya melihat seorang kakek bertopi yang terbatuk-batuk, menutupi mulutnya, agaknya kumat batuknya karena bau ikan yang amis itu, maka dia tidak lagi menjadi perhatian orang.

Kakek bertopi itu bersungut-sungut dan dengan mulut cemberut dia menoleh ke kanan dari mana tadi sebuah benda kecil menyambar tangannya. Matanya terbelalak dan dia tiba-tiba tertawa, lalu mendesak orang di kanan kirinya untuk lari menghampiri In Hong. Banyak orang memakinya gila, tadi terbatuk-batuk keras dan kini lari mendorong orang ke kanan kiri.

Entah bagaimana, melihat wajah Jeng-ci Sin-touw Can Pouw, tiba-tiba saja hati In Hong terasa gembira dan tadi dia memang menggoda pencopet lihai itu.

"Hemmm... si seniman kembali mempertunjukkan kemahiran seninya!" In Hong mengejek.

"Ssstttt... lihiap, mari kita bicara di luar pasar...," kakek itu mendahului.

Ketika melihat sikapnya yang sungguh-sungguh itu, biar pun hatinya merasa geli, In Hong mengikutinya juga. Mereka tiba di tempat sunyi dan kakek itu memandang In Hong sambil menghela napas panjang.

"Wah, aku telah gagal total! Tahukah Lihiap apa yang berada di kantongnya itu? Seuntai kalung mutiara yang sangat mahal, agaknya dibelinya dari toko untuk diberikan kepada isteri mudanya yang entah keberapa."

In Hong menggelengkan kepala. "Paman Can Pouw, kulihat engkau adalah seorang yang cerdik dan pintar, apakah engkau tidak bisa bekerja lain untuk mendapatkan penghasilan kecuali mencopet dan mencuri?"

"Tentu saja bisa, akan tetapi, ahhh... seninya itu! Lihiap tidak dapat merasakan alangkah nikmat rasa hatiku pada waktu mencopet. Tegang, penuh harapan, penuh hal yang tidak terduga-duga, penuh dugaan apa gerangan yang akan disentuh tangan setelah memasuki saku, apa yang akan dihasilkan dari jari-jari tangan yang penuh getaran perasaan. Wah, pendeknya... ada seninya! Tetapi, sekali ini aku memang butuh sekali, butuh uang..."

"Untuk memberi makan isterimu dan belasan orang anakmu yang kelaparan?" In Hong menggoda.

Pencopet lihai itu menggeleng kepala. "Ahh, bukan... bukan...! Aku tidak pernah beristeri dan tidak punya anak..." Dia teringat dan menyambung cepat, "memang kadang-kadang perlu juga membohong untuk menyelamatkan nyawa. Akan tetapi sekali ini benar-benar Lihiap merugikan aku! Aku perlu mendapatkan uang untuk membeli pakaian dan membeli barang sumbangan untuk hari ulang tahun Phoa-taihiap."

"Hemmm, Phoa-taihiap?" In Hong tidak mengerti.

"Ahh, benar! Lihiap sebaiknya ikut bersamaku ke sana! Phoa-taihiap dikenal oleh semua golongan, baik dari golongan putih mau pun golongan hitam. Tentu kedua golongan akan bertemu di sana dan akan terjadi hal-hal yang menarik, apa lagi setelah terjadinya geger di Cin-ling-pai itu. Siapa tahu kalau-kalau fihak Cin-ling-pai dan fihak Lima Bayangan Dewa, atau setidaknya kerabat-kerabat mereka, akan hadir pula di Wu-han."

"Wu-han?"

"Aihhh, aku lupa. Lihiap yang luar biasa lihainya ini ternyata masih belum berpengalaman apa-apa. Sesudah aku berpisah dari Lihiap dan kutanya-tanyakan, tidak ada seorang pun tokoh kang-ouw yang mengenal nama Lihiap, padahal kepandaian Lihiap sudah setinggi langit! Phoa-taihiap adalah Phoa Lee It, seorang tokoh Go-bi-pai yang tersohor dengan ilmu pedangnya Go-bi Kiam-sut, juga dua orang puteranya terkenal gagah perkasa dan tampan. Kini Phoa-taihiap sedang merayakan hari ulang tahun dan mengundang semua orang gagah dari kedua golongan, agaknya di samping ingin mempererat perkenalan, juga hendak mencarikan jodoh bagi kedua orang puteranya, demikian agaknya. Ini kesempatan baik bagi Lihiap, mari bersamaku pergi mengunjungi perayaan itu di rumahnya, yaitu di kota Wu-han."

In Hong mengerutkan sepasang alisnya. Dia sama sekali tidak tertarik. "Akan tetapi aku tidak diundangnya."

"Aku pun tidak, Lihiap! Siapa yang membutuhkan undangan? Sudah menjadi lazim dalam perayaan seorang tokoh, maka kaum kang-ouw akan berdatangan dan membawa sekedar sumbangan untuk ditukar dengan hidangan, ha-ha-ha!"

"Paman Can, jangan kau main-main. Ceritakan yang sebenarnya, bagaimana kebiasaan itu dan mengapa pula paman mengajak aku untuk mengunjungi perayaan itu?"

"Lihiap, mari kita berbicara sambil makan di rumah makan itu. Ayam panggangnya enak sekali dan perutku sudah lapar. Kita duduk makan sambil bercakap-cakap, lebih enak dari pada berdiri begini, bukan?"

In Hong mengangguk dan setelah tiba di dekat restoran, Can Pouw berbisik, "Bekal uang emas dan perak lihiap itu masih ada, bukan?"

In Hong memandang tajam dan mengangguk.

"Syukurlah, sebab aku sedang tidak mempunyai uang sama sekali," si pencopet berkata menyeringai. In Hong tersenyum. Hidup menjadi ramai dan gembira kalau dekat dengan tukang copet ini.

Mereka kemudian makan minum sambil bercakap-cakap atau lebih tepat lagi, In Hong mendengarkan penuturan tukang copet itu.

"Wah, banyak yang terjadi sejak kita berpisah, nona," katanya, kadang-kadang menyebut siocia (nona) dan kadang kala menyebut lihiap (pendekar wanita). "Lima Bayangan Dewa telah mengumpulkan tokoh-tokoh dunia hitam, agaknya ingin memperkuat kedudukannya. Mereka bahkan tidak nampak berada di sarang mereka yang dikosongkan, tentu sedang pergi ke sana-sini mengumpulkan kekuatan. Dan belum terdengar ada gerakan apa pun dari Cin-ling-pai! Namun keadaan dunia kang-ouw sangat panas dan tegang, seolah-olah menanti terjadinya bentrokan yang hebat sebagai akibat dicurinya Siang-bhok-kiam dari golongan putih oleh gologan hitam. Maka, perayaan di rumah Phoa Lee It ini merupakan kesempatan baik untuk melihat-lihat! Nona lihai sekali, sayang bila tidak bertemu dengan tokoh-tokoh dan datuk-datuk dunia kang-ouw. Marilah ikut pergi bersamaku, Lihiap, asal engkau suka menanti sebentar. Aku akan mencari uang dulu untuk membeli pakaian baru dan barang hantaran."

"Dengan mencuri?"

Can Pouw menggeleng sambil menyeringai. "Hanya mempergunakan seni memindahkan barang orang yang lengah."

In Hong tersenyum. "Aku mau pergi bersamamu untuk melihat-lihat, akan tetapi dengan janji bahwa selama engkau melakukan perjalanan dengan aku, engkau dilarang mencopet atau mencuri, atau hendak kau namakan dengan istilah apa pun. Aku mempunyai cukup uang untuk membeli pakaianmu dan sekedar barang hantaran."

Muka Jeng-ci Sin-touw Can Pouw menjadi berseri dan matanya bersinar-sinar. "Bagus...! Aku gembira sekali, Lihiap! Soal berhenti bekerja sementara waktu tidak mengapa. Akan tetapi melakukan perjalanan dengan Lihiap, dan hadir di sana bersama Lihiap, merupakan kehormatan besar sekali bagiku!"

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw adalah seorang perantau yang selamanya hidup membujang. Mudah mencari uang dengan jalan menggunakan kepandaiannya yang lihai, akan tetapi mudah pula membuangnya. Sebenarnya dia sudah merasa bosan dengan segala macam kesenangan, dan kebiasannya mencopet atau mencuri hanya untuk memenuhi kegatalan tangannya saja. Bahkan sering kali, hasil dari pencuriannya itu dia bagi-bagikan kepada orang miskin tanpa mereka ketahui pula, dan dia tetap tinggal miskin.

Kini, bertemu dengan seorang dara yang memiliki kepandaian amat hebat dan dia sudah menyaksikan ini, dia menjadi tertarik dan suka serta sayang sekali seperti rasa sayang seorang ayah terhadap anaknya. Ada sesuatu yang menarik pada diri gadis ini, entah sikapnya yang dingin, ketidak acuhannya terhadap dunia, kecantikannya yang luar biasa atau kepandaiannya yang sangat tinggi itu. Pendek kata, Can Pouw merasa girang sekali dapat berkenalan dengan dara ini, apa lagi kini mendapat kesempatan untuk melakukan perjalanan bersama dan mengunjungi perayaan bersama.

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw selain memiliki ‘seribu jari tangan’ juga mempunyai ketajaman pandangan dan pendengaran yang luar biasa, di samping hubungannya memang banyak dan erat dengan semua tokoh di dunia kang-ouw. Karena itu segala keterangan yang dia berikan kepada In Hong tentang Phoa Lee It di Wu-han itu tidak banyak selisihnya dengan kenyataan.

Phoa Lee It adalah seorang tokoh dari partai Go-bi-pai yang besar dan terkenal. Sudah belasan tahun dia tinggal di Wu-han, membuka perusahaan piauw-kiok (pengawal barang kiriman atau pelancong) yang memakai nama Go-bi Sam-eng (Tiga Pendekar Go-bi) dan karena hubungannya amat erat dengan semua fihak di dunia kang-ouw, baik dari kalangan pendekar mau pun golongan penjahat, maka tidak ada yang mau mengganggu selama dia menjalankan pekerjaannya ini.

Kalangan penjahat tidak ada yang mau mengganggu semua barang kawalannya, karena selain amat berbahaya bermusuhan dengan Phoa Lee It dan dua orang puteranya yang memiliki kepandaian tinggi, juga setiap kali mereka minta sumbangan kepada piauw-kiok ini pasti akan dipenuhi. Juga orang she Phoa ini selalu membuka tangannya kepada para tokoh kang-ouw yang membutuhkan bantuan, maka dia pun terkenal sebagai seorang yang pandai bergaul dan gagah perkasa.

Seperti yang telah diceritakan di bagian depan, peristiwa pencurian Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai dan pembunuhan atas diri tujuh anggota Cap-it Ho-han sudah menggegerkan dunia kang-ouw. Tentu saja ada fihak yang membela Cin-ling-pai, namun ada pula yang membela Lima Bayangan Dewa!

Melihat ketegangan dan bahaya perpecahan secara terbuka ini di dunia kang-ouw, Phoa Lee It sendiri menjadi cemas, maka timbullah niat di hatinya untuk mengadakan perayaan ulang tahun perusahaannya yang sudah dua windu (enam belas tahun) lamanya dengan selamat. Dia lalu mengundang semua tokoh kang-ouw dan liok-lim (para perampok) baik dengan undangan khusus atau dengan undangan umum untuk hadir dalam perayaan itu.

Di samping untuk membuyarkan suasana tegang di antara orang kang-ouw di daerahnya yang tentu saja akan mengganggu pekerjaannya, juga pendekar yang menjadi piauwsu ini ingin sekali bertemu dengan sahabat-sahabat lama, para tokoh besar di dunia persilatan dengan maksud hendak mencarikan jodoh bagi kedua orang puteranya yang sudah lebih dari dewasa.

Phoa Lee It adalah seorang duda dengan dua orang anak laki-laki yang sudah mewarisi ilmu kepandaiannya, bahkan selama bertahun-tahun ini dua orang puteranya itulah yang mewakili dia melakukan pengawalan terhadap barang-barang kiriman yang berharga.

Yang pertama bernama Phoa Kim Cai, seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun, bertubuh tinggi besar seperti ayahnya, tampan dan gagah seperti tokoh sejarah Bu Siong, sikapnya kasar, terbuka dan jujur.

Ada pun putera ke dua bernama Phoa Kim Sui, tubuhnya sedang dan wajahnya tampan halus seperti mendiang ibunya, juga seperti kakaknya, sangat lihai bermain silat pedang Go-bi Kiam-sut, hanya sikapnya berbeda dengan kakaknya, dia halus dan agak pendiam.

Pada hari yang ditentukan untuk perayaan itu, semenjak pagi sekali kedua orang pemuda itu sudah menyambut kedatangan para tamu di ruangan depan, sedangkan ayah mereka menyambut di bagian dalam, mempersilakan para tamu duduk dan tentu saja hanya para tokoh besar yang dipersilakan duduk di bagian kehormatan, yaitu tempat teratas di dekat tempat duduk untuk tuan rumah. Beberapa orang pimpinan piauw-kiok itu, para pembantu keluarga Phoa, menerima sumbangan-sumbangan yang diatur di atas meja.

Dan tepat seperti telah diduga semula, banyak sekali tamu yang datang, dan kedatangan mereka bukan semata-mata karena hubungan perkenalan mereka dengan Phoa piauwsu, akan tetapi terutama sekali terdorong oleh keinginan mereka menemui tokoh-tokoh dari dua golongan berhubung dengan terjadinya peristiwa mengegerkan di dunia kang-ouw itu, terutama sekali ketika terdapat berita angin bahwa Phoa-piauwsu juga telah mengundang keluarga darl Cin-ling-pai!

Jeng-ci Sin-touw Can Pouw, Si Malaikat Copet yang banyak akalnya itu, pagi-pagi sudah mengajak In Hong datang ke tempat pasta. In Hong mengenakan pakaian bekalnya yang agak baru dan meninggalkan buntalan pakaiannya di rumah penginapan, hanya membawa pedangnya saja dan memakai burung hong kemala di kepalanya.

Can Pouw yang kelihatan gembira sekali itu mengenakan pakaian baru yang dibelikan oleh In Hong dan sebelum berangkat dia berkata, "Bagus sekali! Tanpa kuperkenalkan, tentu semua orang mengenal burung hong di rambutmu itu, Lihiap."

"Hemm, aku tak ingin membawa-bawa Giok-hong-pang untuk berlagak," In Hong berkata. "Perhiasan ini kupakai karena ini pemberian subo dan aku suka memakainya. Harap kau jangan menyebut-nyebut Giok-hong-pang kepada orang lain, paman."

"Baik, baik... engkau memang seorang dara yang luar biasa dan aneh, Lihiap, mari kita berangkat."

Phoa Kim Cai dan Phoa Kim Sui menyambut mereka dengan penuh hormat dan kedua orang pemuda itu tentu saja mengenal Jeng-ci Sin-touw. "Selamat pagi, Sin-touw," Phoa Kim Cai menyambut dengan senyum gembira. "Kami girang sekali menerima kunjungan Malaikat Copet, asal seribu jari tanganmu jangan gatal-gatal di sini, Sin-touw!"

Can Pouw tersenyum dan menoleh kepada In Hong. "Lihat, betapa gagah dan ramahnya putera-putera tuan rumah, Lihiap!"

In Hong hanya membalas penghormatan mereka dengan mengangkat kedua tangan di depan dada dan memandang tak acuh.

"Sin-touw, harap kau suka memperkenalkan nona ini kepada kami!" tiba-tiba Phoa Kim Cai berkata.

"Ha-ha-ha, dia ini adalah... keponakanku bernama Yap In Hong. Lihiap, ini adalah putera pertama tuan rumah. Phoa Kim Cai kongcu dan ini adiknya, Phoa Kim Sui kongcu."

Kembali In Hong membalas penghormatan mereka dan Phoa Kim Sui berkata dengan sikap hormat dan halus, "Silakan siocia duduk di dalam!"

In Hong hanya mengangguk dan diiringkan oleh Can Pouw yang berjalan di sebelahnya dengan lagak bangga, membusungkan dadanya yang kerempeng, tidak tahu bahwa topi di atas kepalanya agak miring sehingga dia kelihatan lucu sekali. In Hong bersikap dingin pada saat tadi melihat betapa dua pasang mata tuan rumah itu memandang kepadanya dengan penuh kekaguman. Hemm, biar kalian sepuluh kali lebih gagah dan tampan, aku tidak peduli, bisik hatinya yang merasa tidak senang melihat pandang mata mereka itu.

"Paman, engkau masih saja menyebutku lihiap," In Hong berbisik.

Mereka tadi sudah bersepakat untuk mengaku keponakan dan paman, akan tetapi karena pencopet itu selalu menyebut lihiap kepadanya, tentu saja mengertilah dua orang pemuda tadi bahwa hubungan paman dan keponakan itu hanya aku-akuan saja. Apa lagi pencopet tua itu jelas begitu membanggakan dara yang luar biasa cantiknya itu.

Phoa Lee It menyambut mereka dan karena piauwsu ini sudah lama tidak pernah keluar, maka dia tidak mengenal Jeng-ci Sin-touw yang datang bersama seorang nona muda yang amat cantik. Melihat gerak-gerik Can Pouw dan karena tidak mengenalnya sebagai tokoh besar, maka dia lalu mempersilakan pencopet itu duduk di ruangan biasa bersama tamu-tamu lain.

In Hong menganggapnya biasa saja, akan tetapi diam-diam Can Pouw lantas mengomel panjang pendek. "Boleh saja dia suruh aku duduk di sini, akan tetapi engkau? Ruangan kehormatan itu pun masih kurang layak bagimu!"

"Ssstttt... paman, mengapa mengomel tidak karuan? Aku tidak ingin duduk di sana," In Hong menegur dengan hati geli. "Ehh, ke mana bungkusan hadiah sumbangan kita?"

Can Pouw lalu mengeluarkan bungkusan itu dari balik jubahnya. "Kalau kita tidak diberi tempat di sana, aku juga tidak akan menyerahkan ini!"

"Hushhh, paman Can, engkau membikin kita malu saja. Hayo cepat kau berikan barang sumbangan itu kepada penjaganya. Lihat, setiap orang yang datang tentu menyerahkan bungkusan, akan tetapi kita sendiri tidak! Si penjaga sudah semenjak tadi memandang ke arah kita saja."

Ucapan gadis ini memang benar. Tiga orang penjaga dan penerima sumbangan sejak tadi memandang ke arah mereka tapi bukan karena mereka belum menyerahkan sumbangan, melainkan karena mereka merasa kagum dan menduga-duga siapa gerangan dara cantik jelita yang datang bersama Si Malaikat Copet itu.

Sambil bersungut-sungut Can Pouw bangkit berdiri, akan tetapi pada saat itu terdengar suara berisik mengikuti masuknya sepasang tamu baru yang menarik perhatian. Semua orang memandang penuh perhatian pada saat laki-laki dan wanita itu memasuki ruangan depan, disambut penuh penghormatan oleh kedua orang putera tuan rumah lalu diantar masuk. In Hong juga memandang penuh perhatian.

Wanita itu cantik luar biasa, cantik dan bersikap gagah penuh semangat dan agak angkuh memandang ke kanan kiri dengan cara menggerakkan matanya melirik dan menyambar-nyambar penuh selidik. Pada pinggangnya tergantung sebatang pedang yang sarungnya terukir indah, pakaiannya juga dari sutera indah dengan potongan yang ketat sehingga mencetak tubuhnya yang sudah matang dengan lekuk lengkung sempurna itu. Wanita itu sebetulnya sudah berusia tiga puluh lima tahun, akan tetapi bentuk tubuhnya padat dan ramping seperti tubuh gadis remaja saja.

Di sampingnya berjalan seorang pria yang bertubuh tinggi besar bagaikan tokoh Kwan Kong, sikapnya pendiam, wajahnya tampan, tampan dan ganteng, pakaiannya sederhana dan di pinggangnya juga tergantung sebatang pedang. Dari sikap dan gerak-gerik mereka mudah saja diduga bahwa suami isteri ini adalah orang-orang gagah yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan nama besar.

"Mereka siapa...?" In Hong tertarik sekali dan bertanya kepada Can Pouw pada waktu rombongan suami isteri ini menyerahkan sebuah bingkisan kepada para penjaga penerima sumbangan.

"Engkau tidak mengenalnya...? Eh, ya, sampai lupa aku siapa engkau yang sama sekali belum mengenal orang-orang kang-ouw. Wanita gagah itu ialah puteri ketua Cin-ling-pai, kepandaiannya hebat bukan main, ada pun pria itu adalah suaminya, seorang yang lihai bernama Lie Kong Tek. Mereka tinggal di dekat kota ini, yaitu di Sin-yang, dekat Sungai Huai, di kaki Bukit Tapie-san, terhitung tetangga dengan kota ini. Merekalah yang menjadi sumber perhatian karena mereka keluarga Cin-ling-pai."

In Hong tidak mendengarkan lagi dan memandang kepada wanita itu penuh perhatian. Kiranya itulah puteri ketua Cin-ling-pai dan dia teringat akan pertemuannya dengan kakak kandungnya. Dia dijodohkan dengan putera Cin-ling-pai? Tentu adik dari wanita cantik ini! Siapa namanya? Dia lalu mengingat-ingat dan akhirnya dapat teringat juga, nama putera Cin-ling-pai itu adalah Cia Bun Houw!

"Siapa namanya...?" Dia berbisik lagi.

"Nama siapa? Ahh, puteri Cin-ling-pai itu? Dia hanya terkenal sebagai nyonya Lie, akan tetapi aku tahu bahwa nama aslinya adalah Cia Giok Keng. Ilmu pedangnya dan ilmunya memainkan sabuk merah tidak ada tandingannya di dunia, bahkan suaminya sendiri kalah jauh dalam ilmu silat dibandingkan dengan dia!"

Phoa Lee It cepat-cepat menyambut suami isteri keluarga Cin-ling-pai itu dengan penuh penghormatan, membungkuk-bungkuk kemudian mempersilakan mereka duduk di tempat kehormatan!

"Huh, menjilat-jilat...!" In Hong berkata lirih tanpa disengaja.

"Hemmm... memang, akan tetapi biarlah, tunggu saja!" Malaikat Copet itu lalu membawa bungkusan hadiahnya dan melangkah.

"Ke mana kau?"

"Menyerahkan hadiah, kau tunggu di sini!" Dia lalu pergi, diikuti pandang mata In Hong.

Gadis ini menduga bahwa si pencopet tentu akan melakukan sesuatu, entah apa, karena dia dapat melihat ini dalam sikapnya yang begitu bersungguh-sungguh dan agaknya dia mendongkol atau marah sekali melihat betapa tuan rumah menyambut tamu lain begitu menghormat dan menjilat sedangkan mereka berdua ‘dilempar’ ke tempat tamu biasa.

Dia lalu melihat Can Pouw menghampiri meja tempat penerima hadiah, bahkan setelah dicatatkan namanya lalu menumpuk sendiri bungkusan itu di atas meja di antara hadiah-hadiah lain, dan pencopet itu bercakap-cakap dan beramah-tamah dengan para piauwsu yang menjaga di situ, menuding dan agaknya memeriksa nama-nama pada kartu nama yang terdapat di bungkusan-bungkusan hadiah itu. Kemudian, sambil tersenyum-senyum ramah dia mengangguk, kemudian meninggalkan meja itu, bukan untuk kembali kepada In Hong, melainkan untuk menuju ke ruangan kehormatan di atas!

Phoa Lee It memandangnya, akan tetapi dia mengangguk dan menuding ke arah seorang nenek tua yang juga duduk di ruangan kehormatan itu bersama seorang gadis remaja cantik yang melihat pakaiannya adalah seorang gadis Suku Bangsa Tibet. Phoa Lee It mengangguk karena si pencopet itu menyatakan hendak menemui nenek itu yang tentu saja adalah seorang tokoh besar yang dikenal baik oleh tuan rumah.

Nenek itu bukan lain adalah Go-bi Sin-kouw! Seorang tokoh dari Go-bi-san yang terkenal sekali sebagai seorang datuk golongan hitam. Nenek ini usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, tubuhnya sudah sedikit bongkok, pakaiannya dari sutera serba hitam dan tangan kanannya memegang sebatang tongkat butut. Wajahnya bengis penuh keriput dan kedua matanya hampir tidak nampak bersembunyi di dalam rongga mata yang cekung, mulutnya sering kali bergerak-gerak seperti orang makan dan bibirnya sudah ‘nyaprut’ karena mulut itu tidak bergigi lagi.

Di dekatnya duduk seorang gadis cantik sekali, baru berusia lima belas tahun, berpakaian seperti gadis Tibet, dan kecantikannya adalah kecantikan khas Bangsa Tibet sehingga amat menarik perhatian. Gadis itu kelihatan diam dan bahkan agak berduka yang ditekan-tekannya. Juga dia kelihatan takut kepada nenek itu yang memperkenalkannya sebagai muridnya.

"Aihhh... sungguh berbahagia sekali hidupku, dapat bertemu dengan seorang tokoh besar yang namanya menjulang tinggi sampai ke angkasa! Locianpwe tentulah Go-bi Sin-kouw yang namanya terkenal di empat penjuru dunia bukan? Siauwte sudah menduga bahwa sebagai tokoh Go-bi, pasti locianpwe akan datang menghadiri perayaan seorang tokoh Go-bi-pai. Perkenankan siauwte Jeng-ci Sin-touw Can Pouw menghaturkan hormat dan selamat datang."

Go-bi Sin-kouw yang sudah tua sekali itu memandang dengan matanya yang hampir tidak terlihat akibat tersembunyi di balik lipatan-lipatan kulit. Ia senang juga menyaksikan sikap ramah luar biasa dari laki-laki yang mukanya kelihatan ramah menyenangkan ini, apa lagi ketika mendengar julukannya.

“Ehh, kau pencopet? Heh-heh-heh, pencopet yang ramah. Duduklah di sini, matamu awas benar dapat mengenali aku." Go-bi Sin-kouw yang biasanya galak itu kini menjadi lunak hatinya oleh sikap Can Pouw.

Can Pouw menghaturkan terima kasih dan duduklah dia di atas ruangan kehormatan itu dan sekejap saja, dari jauh In Hong melihat dia telah asyik sekali bercakap-cakap dengan nenek itu, bahkan gadis Tibet yang cantik manis itu pun terbawa-bawa dalam percakapan.

In Hong tersenyum dalam hatinya. Memang dia tahu betapa pandainya ‘pamannya’ tukang copet itu dalam pergaulan, pandai menarik hati orang dan pandai pula bersahabat. Sampai lama mereka bercakap-cakap, kadang kala diseling pencopet itu tertawa dan memandang kepada si nenek dengan sinar mata kagum penuh pujian, bahkan nenek itu pun kadang-kadang tersenyum lebar. Juga In Hong melihat betapa mereka itu kadang-kadang melirik ke arah keluarga Cin-ling-pai seolah-olah sedang membicarakan mereka itu.

Sesudah lama bercakap-cakap dengan nenek itu sehingga membuat para tamu lainnya terheran juga kenapa seorang tamu dari ruangan biasa beromong-omong begitu akrabnya dengan seorang tamu ruangan kehormatan, akhirnya Can Pouw kembali ke tempatnya dan pada waktu berjalan dia mengangkat muka membusungkan dada seolah-olah hendak berkata bahwa tuan rumah telah keliru menempatkan dia di ruangan biasa!

Akan tetapi Phoa Lee It bersikap tak acuh karena dia merasa bertindak benar. Dia tidak mengenal orang bertopi itu yang datang bersama seorang gadis cantik yang juga tidak terkenal, lalu bagaimana dia dapat menerima mereka sebagai tamu kehormatan? Juga agaknya para piauwsu yang mengenal orang ini menganggapnya tamu biasa, kalau tidak tentu mereka sudah melapor kepadanya agar supaya kesalahan itu dapat dibetulkan. Dan memanglah, siapa di antara para piauwsu yang menganggap bahwa pencopet ini seorang tamu agung?

Sesudah duduk kembali di dekat In Hong, dengan suara bisik-bisik dan wajah sungguh-sungguh Can Pouw berkata, "Wah, ada berita hebat! Engkau tahu siapa dara Tibet yang manis sekali yang duduk bersama nenek hitam itu? Dia itu adalah tunangan dari putera ketua Cin-ling-pai!"

"Ehh...?" In Hong cepat menekan debar jantungnya dan bersikap biasa lagi, seolah-olah dia hanya tercengang mendengar berita penting akan tetapi yang sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan dirinya.

"Hemm, tentu ketua Cin-ling-pai itu banyak sekali anaknya."

"Ah, tidak sama sekali. Hanya ada dua orang, yang pertama adalah nyonya gagah itu dan yang kedua adalah seorang pria, adik nyonya itu yang kabarnya memiliki ilmu kepandaian lebih hebat lagi dan berguru kepada seorang suci yang sakti di Tibet."

"Hemmm, agaknya engkau tahu segala hal mengenai Cin-ling-pai, paman. Tentu engkau mengenal pula nama puteranya itu."

"Tentu saja! Tidak percuma aku menyelidiki sesudah terjadi peristiwa menggegerkan itu. Namanya adalah Cia Bun Houw dan... ehh…, kau kenapa?"

"Tidak apa-apa, aku sudah merasa muak mendengar kau bercerita terlalu banyak tentang keluarga orang lain. Sekarang ceritakan tentang nenek itu. Menyeramkan benar, siapa sih dia?"

"Dia itu adalah seorang datuk kaum hitam yang luar biasa! Dialah Go-bi Sin-kouw! Kau lihat betapa tadi dia bercakap-cakap secara akrab denganku? Ha-ha-ha, dia menceritakan segala hal sampai-sampai saat secara kebetulan dia menemukan gadis Tibet yang manis itu. Gadis yang cantik sekali, cantik dan lembut, kecantikan yang asli dan khas, pantas saja kalau putera ketua Cin-ling-pai itu tergila-gila. Ha-ha-ha! Dan sekarang pacarnya itu menjadi murid Go-bi Sin-kouw, betapa lucu dan anehnya dunia ini!"

In Hong tak bicara lagi, diam saja untuk menenangkan hatinya yang bergelora. Dia sendiri merasa heran mengapa hatinya menjadi panas dan sakit mendengar bahwa putera ketua Cin-ling-pai sudah mempunyai pacar! Dia bukan cemburu, hanya merasa terhina.

Sudah mempunyai pacar, seorang kekasih gadis Tibet yang cantik manis, tapi tidak malu untuk melamar dia menjadi calon jodoh! Hatinya panas dan sekarang dia memandang ke arah keluarga Cin-ling-pai yang hadir di situ tidak seperti tadi, penuh kagum, kini menjadi dingin dan disertai senyum mengejek.

Gadis Tibet yang cantik manis itu memang bukan lain adalah Yalima, puteri kepala dusun yang menjadi sahabat baik Cia Bun Houw itu! Bagaimana tiba-tiba saja dia bisa datang sebagai tamu di tempat pesta perayaan Phoa Lee It bersama dengan seorang nenek iblis seperti Go-bi Sin-kouw itu?

Seperti telah kita ketahui, dara remaja ini hancur perasaan hatinya ketika ditinggal pergi oleh Cia Bun Houw yang harus memenuhi panggilan orang tuanya meninggalkan Tibet, kembali ke Cin-ling-san. Dan lebih celaka lagi baginya, dua hari sesudah pemuda yang dicintanya itu pergi, ayahnya menyatakan bahwa dia akan diajak pergi ke Lhasa untuk dipersembahkan kepada seorang pangeran tua.

"Akan tetapi, Ayah..." Dia membantah. "Ayah sudah berjanji kepada Houw-koko untuk tidak membawaku ke Lhasa!"

"Hemm, kau tahu apa! Aku berjanji kepadanya hanya memenuhi perintah Kok Beng Lama dan aku tidak melanggar janji. Aku berjanji tidak akan membawamu ke Lhasa selama dia berada di sini. Sekarang dia tidak lagi berada di sini, maka aku boleh melakukan apa saja terhadap anak perempuanku sendiri. Dan dia itu pun seorang laki-laki tidak bertanggung jawab. Apa bila dia memang cinta kepadamu, mengapa dia tidak melamar kepadaku dan membawamu ke negerinya?"

Yalima tidak dapat membantah lagi dan dia berlari ke kamarnya, menangis sehari penuh sampai air matanya tidak ada lagi. Maka pada malam hari itu juga, gadis yang sudah terperosok ke dalam perangkap cinta ini dengan nekat lalu minggat meninggalkan rumah dan dusunnya, pergi menuju ke timur dengan niat di hati akan menyusul dan mencari Cia Bun Houw, kekasihnya dan satu-satunya orang yang bisa diharapkan akan menolongnya!

Yalima adalah seorang gadis Tibet asli yang sudah biasa hidup di pegunungan dan biasa pula berjalan naik turun bukit. Akan tetapi perjalanan yang dilakukannya tanpa persiapan, secara nekat serta dengan hati penuh duka dan kecemasan, melalui daerah-daerah yang liar dan buas. Perjalanan yang amat sulit ini, membuat dia mengalami kesengsaraan lahir batin yang amat hebat.

Dia tidak tahu arah jalan, hanya mengikuti arah dari mana matahari timbul, juga makan seadanya asal tidak kelaparan, dan melewatkan malam-malam gelap mengerikan seorang diri saja di dalam hutan-hutan lebat, bersembunyi di antara daun-daun di pohon-pohon besar. Dia pergi hanya membawa buntalan pakaiannya dan tidak membawa bekal lain, kecuali tekad bahwa dia akan hidup di sisi Cia Bun Houw atau mati terlantar di tengah jalan!

Setelah melakukan perjalanan berpekan-pekan, entah berapa lamanya dia tidak tahu lagi, pada suatu pagi di dalam hutan yang besar, dia berdiri terbelalak dengan muka pucat, kedua kakinya menggigil ketakutan di depan seekor harimau besar yang muncul secara tiba-tiba dari rumpun alang-alang. Rasa kaget dan takut membuat gadis itu tak lagi dapat menggerakkan kedua kakinya dan pada saat harimau itu bergerak ke depan, dia menjerit sekuat tenaganya!

"Desss...! Plak-plak-plak...!"

Tubuh harimau itu terlempar ke belakang ketika sinar hitam bertubi-tubi menghantamnya dan memukul kepalanya. Seorang nenek berpakaian serba hitam tahu-tahu telah berada di situ, menggunakan tongkatnya menghalau binatang buas itu.

Agaknya harimau itu dapat merasakan pukulan yang amat keras, tahu pula bahwa nenek hitam itu berbahaya sekali, dan mungkin juga karena dia tidak terlalu lapar, maka setelah mengaum marah satu kali dia lalu membalikkan tubuhnya dan pergi dari situ.

"Bangunlah...!" nenek itu berkata dalam Bahasa Tibet kepada Yalima.

Yalima lalu menubruk kaki nenek itu, berlutut sambil menangis dan menghaturkan terima kasih dalam Bahasa Han karena dia melihat nenek itu bukan Bangsa Tibet.

Nenek itu agak terkejut. "Hemm, engkau pandai berbahasa Han?"

"Nenek yang baik, Houw-koko pernah mengajarkan bahasa ini kepadaku. Nenek, engkau telah menyelamatkan nyawaku, harap selanjutnya nenek suka menolong aku yang amat sengsara ini..."

Nenek itu adalah Go-bi Sin-kouw. Di dalam cerita Petualang Asmara sudah diceritakan dengan jelas siapa adanya nenek berpakaian hitam ini. Dia adalah seorang wanita lihai yang mempunyai kepandaian tinggi dan yang kini tinggal di dalam sebuah istana terpencil yang dulu menjadi milik Go-bi Thai-houw.

Go-bi Sin-kouw ini adalah guru dari Pek Hong Ing, isteri pendekar sakti Yap Kun Liong. Wataknya aneh sekali, juga kejam dan dapat melakukan apa saja menurut kesenangan hatinya sendiri. Akan tetapi dia selalu merasa sayang kalau melihat gadis cantik, karena di balik kekejaman dan kesepian hidupnya itu tersembunyi kerinduan besar akan seorang anak dan seorang cucu! Kini melihat keadaan gadis Tibet ini, timbul rasa sukanya dan dia lalu berkata,

"Tenangkan hatimu, aku akan menolongmu. Siapakah namamu?"

"Nama saya Yalima, nenek yang baik."

"Jangan sebut aku nenek yang baik, panggil aku subo (ibu guru), karena sejak sekarang engkau menjadi muridku. Maukah engkau?"

"Saya akan mentaati semua perintah Subo asal Subo sudi menolong saya, supaya kita dapat mencari Houw-koko."

"Hemm, kila lihat saja nanti. Sekarang ceritakan dulu siapa itu Houw-koko dan mengapa engkau seorang gadis Tibet sampai tiba di tempat ini seorang diri."

Yalima lalu menceritakan riwayatnya, betapa dia adalah puteri seorang kepala dusun dan bersahabat baik dengan seorang pemuda Han bernama Cia Bun Houw. Betapa pemuda itu akhirnya dipanggil pulang oleh ayahnya dan pergi meninggalkannya, betapa dia akan dipersembahkan kepada pangeran tua oleh ayahnya, maka dia lalu minggat dan hendak mencari pemuda yang dicintanya itu. Semua dituturkannya secara panjang lebar dan jelas kepada Go-bi Sin-kouw.

Mendengar penuturan ini, Go-bi Sin-kouw menggeleng-geleng kepalanya. "Anak bodoh, apakah engkau amat mencintanya?"

"Teecu (murid) amat mencinta Houw-koko, Subo, dan lebih baik mati saja dari pada tidak bertemu kembali dengan dia."

"Anak bodoh, begini percaya kepada laki-laki. Apakah kau yakin bahwa dia itu juga cinta padamu?"

"Teecu yakin sekali, sungguh pun dia... dia tidak pernah mengatakan dengan mulutnya. Teecu merasa bahwa teecu sudah menjadi miliknya, lahir dan batin!"

Melihat kenekatan gadis itu, Go-bi Sin-kouw lalu mengerutkan dahinya. "Hemmm, betapa banyaknya wanita menjadi korban bujukan mulut manis dan palsu dari kaum pria, Yalima, siapakah sebenarnya pemuda itu? Mengapa seorang pemuda Han berada di Tibet?"

"Dia bukan seorang biasa, Subo. Dia adalah seorang pemuda yang memiliki kepandaian seperti dewa! Dia murid dari Kok Beng Lama..."

"Haiiiii…!!!" Go-bi Sin-kouw terkejut setengah mati mendengar nama pendeta Lama ini.

Pernah dia bertemu dengan pendeta yang memiliki kesaktian luar biasa itu dan untung dia tidak mati di tangan manusia luar biasa itu, maka kini mendengar namanya saja dia sudah merasa gentar.

"Mu... muridnya? Dan sekarang ke mana pemuda itu?"

“Dia pulang ke Cin-ling-san..."

"Eihhh...!" Untuk kedua kalinya Go-bi Sin-kouw berseru kaget. "Tahukah kau anak siapa dia dan mengapa pulang ke Cin-ling-san...?"

"Houw-ko tidak menyebutkan nama ayahnya, hanya pernah mengatakan bahwa ayahnya bukan orang biasa, melainkan ketua Cin-ling-pai yang terkenal..."

"Aahhh...!" Untuk ketiga kalinya nenek itu berseru kaget, membuat Yalima terheran-heran.

Sampai lama nenek itu tidak berkata-kata, kemudian mengangguk-angguk. Baru saja dia telah dikunjungi oleh Hek I Siankouw bersama Lima Bayangan Dewa, diminta bantuannya untuk menghadapi fihak Cin-ling-pai dan dia sudah menyatakan kesanggupannya.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner