DEWI MAUT : JILID-12


Kota Leng-kok hanyalah sebuah kota kecil akan tetapi cukup ramai. Pendekar Yap Kun Liong, tokoh di dalam cerita Petualang Asmara, tinggal di kota ini, di rumah yang dahulu menjadi tempat tinggal dan toko obat dari mendiang kedua orang tuanya. Di kota ini dia pun melanjutkan usaha orang tuanya, membuka toko obat bersama isterinya serta anak mereka, yaitu Yap Mei Lan yang pada saat itu telah menjadi seorang dara remaja berusia empat belas tahun yang berwajah manis dan lincah.

Selain Kun Liong, isterinya yang bernama Pek Hong Ing dan Yap Mei Lan, masih ada dua orang lagi yang tinggal di rumah itu di waktu siang sampai malam setelah toko obat itu ditutup. Setelah itu, mereka berdua pulang ke rumah masing-masing.

Mereka berdua ini adalah seorang lelaki berusia lima puluh tahun, yang bertugas sebagai seorang pelayan dan pembantu toko dan juga merupakan seorang ahli pengobatan yang bekerja sama dengan Kun Liong. Laki-laki ini bernama Giam Tun dan di samping ilmu pengobatan, dia juga mengerti ilmu silat yang lumayan.

Ada pun orang kedua ialah seorang wanita setengah tua yang melayani keperluan rumah tangga keluarga itu, dan juga Khiu-ma ini kalau malam pulang ke rumah anaknya tak jauh dari tempat tinggal keluarga Yap Kun Liong.

Toko obat itu berjalan cukup baik dan mendatangkan hasil yang cukup. Di bagian depan merupakan toko, dan di belakang merupakan rumah tinggal yang cukup luas, bahkan di belakang rumah itu terdapat sebuah taman bunga yang kecil namun terpelihara rapi dan indah, penuh dengan bunga-bunga yang ditanam dan dipelihara sendiri oleh Yap Mei Lan.

Mei Lan memperoleh gemblengan ilmu silat dan ilmu surat dari ayah bundanya, dan tentu saja dalam hal ilmu silat dia dididik oleh ayahnya karena ibunya, biar pun pada umumnya memiliki ilmu kepandaian yang cukup tinggi, namun dibandingkan dengan ayahnya masih kalah jauh.

Mei Lan adalah seorang dara yang tekun sehingga dalam usia empat belas tahun, dia sudah memiliki tingkat kepandaian yang cukup tinggi, dan selain dapat membaca dengan lancar dan pandai pula menulis sajak, juga dia sudah mengerti tentang ilmu pengobatan. Sikapnya lincah dan gembira sehingga kadang-kadang ayahnya memandangnya dengan hati terharu, teringat akan ibu kandung anak ini, yaitu mendiang Lim Hwi Sian, yang lincah jenaka.

Pek Hong Ing juga sangat mencinta Mei Lan, dianggapnya seperti anaknya sendiri dan setelah belasan tahun dia tidak juga mempunyai anak, dia sudah melepaskan harapannya untuk melahirkan anak sendiri, maka kasih sayangnya kepada Mei Lan makin bertambah.

Malam itu gelap dan basah. Hujan turun sejak sore tiada hentinya. Karena sudah sebulan lamanya Yap Kun Liong mengunjungi Cin-ling-san setelah mendengar akan mala petaka yang menimpa Cin-ling-pai, dan karena hari hujan membuat toko sepi, maka Pek Hong Ing menyuruh menutup toko supaya kedua orang pembantunya dapat pulang tidak terlalu malam.

Mei Lan sedang asyik membaca kitab sajak kuno yang menuturkan tentang perjuangan patriot-patriot di waktu dahulu, sedangkan Hong Ing sendiri sedang menjahit sebuah baju untuk anaknya. Biar pun Mei Lan sendiri sudah pandai menjahit, akan tetapi ibunya suka menjahitkan pakaian anaknya ini dan Mei Lan juga selalu membiarkan ibunya menikmati kesukaan itu.

Giam Tun telah menutupkan tiam-tang (papan pintu toko) dan baru saja hendak berpamit kepada nyonya majikannya ketika tiba-tiba di depan pintu berdiri seorang wanita cantik yang sikapnya bagaikan orang sedang menahan kemarahan. Giam Tun adalah seorang pembantu dari Kun Liong yang sudah ikut keluarga itu selama bertahun-tahun, maka tentu saja dia mengenal wanita cantik ini dan dengan kaget dia lalu cepat menyambut dengan sikap hormat dan ramah.

"Ahh, kiranya Lie-toanio (nyonya Lie) yang datang! Silakan masuk... Yap-toanio berada di dalam..."

Mendengar suara Giam Tun ini, Pek Hong Ing cepat keluar dan wajahnya berseri gembira ketika dia melihat siapa yang malam-malam datang bertamu itu. Kiranya wanita cantik itu adalah Cia Giok Keng, puteri ketua Cin-ling-pai!

"Aihhh, enci Giok Keng kiranya! Selamat datang dan selamat malam, mari silakan masuk ke dalam, enci..." Pek Hong Ing menahan kata-katanya dan wajahnya yang tadi nampak berseri-seri dan penuh senyum itu menjadi berubah keheran-heranan saat melihat betapa tamunya itu memandangnya dengan sikap tak acuh dan matanya mencari-cari ke dalam.

"Mana suamimu? Mana Kun Liong? Aku ingin bertemu dan bicara dengan dia!"

Pek Hong Ing terkejut. Dia memang sudah tahu bahwa watak puteri ketua Cin-ling-pai ini keras sekali, akan tetapi sekarang tampak jelas bahwa dia sedang marah sekali sehingga dia merasa tidak enak dan tegang. Namun, sebagai seorang wanita yang berpandangan luas dan pada dasarnya memang berwatak lembut, Hong Ing masih dapat mengeluarkan senyum dan suaranya tetap halus.

“Mari kita masuk dan bicara di dalam, enci Giok Keng." Dia memegang lengan tamunya dan menariknya masuk. Giok Keng bersikap kaku, akan tetapi dia tetap mengikuti nyonya rumah itu masuk ke dalam.

Menyaksikan sikap tamu ini, Giam Tun dan Khiu-ma menjadi terheran-heran dan kaget, juga menjadi tidak senang. Mereka saling pandang, kemudian duduk di ruangan depan itu sambil memasang telinga, mendengarkan suara yang datang dari ruangan dalam tanpa dapat menangkap jelas kata-kata dua orang nyonya itu.

Setibanya di dalam Hong Ing lalu bertanya, "Enci Giok Keng, engkau mengejutkan hatiku. Apakah yang telah terjadi? Mengapa engkau kelihatan marah-marah, enci? Aku... aku… menyesal sekali mendengar tentang peristiwa yang menimpa Cin-ling-pai, dan suamiku... dia malah belum pulang setelah mendengar berita itu terus pergi ke sana."

"Hemmm, jadi dia tidak berada di rumah? Kalau begitu sia-sia saja kedatanganku!" kata Giok Keng dengan ketus karena dia kecewa sekali dan makin marah.

Memang kemarahannya sudah ditahan-tahan sejak dia meninggalkan rumah, tidak peduli akan cegahan suaminya, langsung saja sekembalinya mereka dari Wu-han dia terus pergi mengunjungi Leng-kok untuk memaki-maki Kun Liong karena kelakuan adik kandungnya. Akan tetapi betapa kecewa dan mendongkol hatinya bahwa orang yang dicarinya itu tidak berada di rumah.

"Ada urusan apakah, enci? Harap suka memberi tahukan kepadaku." Hong Ing bertanya, hatinya makin tidak enak.

"Bukan urusanmu! Ini urusan antara aku dan Kun Liong sendiri!"

Pada saat itu muncullah Mei Lan. Dara remaja ini memandang tamunya. Sudah beberapa tahun dia tidak bertemu dengan Giok Keng sehingga dia tidak lagi mengenal wanita ini. Mendengar ucapan yang ketus dari Giok Keng terhadap ibunya. Mei Lan yang lincah dan pandai bicara itu cepat mencela.

"Urusan ayah adalah urusan ibu juga, kenapa ada urusan ayah yang tidak boleh diketahui ibu? Bibi ini siapakah datang-datang marah kepada ibu padahal sebagai tamu semestinya menghormati nyonya rumah!"

"Mei Lan, jangan kurang ajar terhadap bibi Giok Keng!" bentak Hong Ing.

Gadis cilik itu kini memandang kepada tamunya dengan sepasang mata bersinar-sinar. "Ahh, kiranya bibi Giok Keng! Maafkan saya, bibi, akan tetapi lebih-lebih kalau bibi adalah bibi Giok Keng yang sudah saya dengar banyak dari ayah ibu sebagai seorang pendekar wanita, maka sikap ini sungguh tidak selayaknya. Kalau ada urusan sesuatu dengan ayah harap bibi suka memberi tahu kepada ibu, karena apa yang menjadi urusan ayah berarti menjadi urusan ibu pula dan sebaliknya."

"Engkau anak haram yang kurang ajar!" Giok Keng tidak dapat menahan kemarahannya lagi.

"Enci Giok Keng...!" Hong Ing menjerit dengan muka pucat.

Mei Lan memandang ibunya, lalu dengan mata penuh penasaran dia memandang Giok Keng, bahkan melangkah dekat, sedikit pun tidak merasa takut. "Bibi Giok Keng, dalam kitab-kitab aku membaca mengenai pendekar-pendekar dan pahlawan-pahlawan wanita yang gagah perkasa, bersikap lemah-lembut, dan berbudi mulia, tetapi kenapa bibi begini kasar dan suka memaki orang? Apa maksud bibi memaki saya sebagai anak haram?"

"Engkau ini kecil-kecil sudah kurang ajar! Dasar keturunan ayahmu yang juga tidak baik! Bibimu pun manusia tidak tahu sopan santun! Bibimu itu perlu dihajar dan akan kuhajar kalau ayahmu tidak bisa menghajarnya!"

"Bibi bohong! Aku bukan anak haram! Bibi tukang fitnah!"

"Mei Lan...! Enci Giok Keng...!" Hong Ing menjerit lagi penuh kengerian.

"Kau berani bilang aku bohong, ya? Kau kira engkau ini apa? Engkau ini memang anak haram. Engkau adalah anak ayahmu dari hubungan gelapnya dengan seorang wanita dan kau bukan anak ibumu!"

"Enci...! Kau...! Kau terlalu...!" Hong Ing menjerit lagi dan melangkah maju, bukan hendak menyerang melainkan hendak mencegah Giok Keng bicara terus.

Akan tetapi Giok Keng salah menduga, menduga bahwa Hong Ing akan menyerangnya. Maka tangannya bergerak mendorong cepat sekali dan Hong Ing terhuyung ke belakang.

Mei Lan memandang ibunya. Mukanya pucat sekali, matanya liar, "Ibu...! Ibu... katakan bahwa bibi ini bohong!"

Hong Ing terisak dan Giok Keng yang sudah meluap kemarahannya itu lalu berkata, "Ya, katakanlah aku bohong! Hendak kulihat siapa tukang bohong, siapa menyimpan rahasia busuk, keluargaku ataukah keluargamu!" Dia marah sekali teringat akan penghinaan yang merasa diterimanya dari In Hong di tempat pesta.

"Enci... ahhh... ya Tuhan, mengapa terjadi semua ini…? Mei Lan... ke sinilah, kau jangan dengarkan dia..."

Akan tetapi Mei Lan memandang ibunya dengan sinar mata aneh. "Ibu, harap katakan, benarkah aku bukan anak kandung ibu? Benarkah aku anak... anak haram?"

"Mei Lan...," keluh ibunya.

"Katakanlah, ibu! Katakan!" Anak itu menjerit-jerit.

Hong Ing mengeluh kemudian mengangguk. "Engkau bukan anak kandungku... ya Tuhan, mengapa begini...?"

Terdengar jerit melengking dan disusul isak tangis. Mei Lan meloncat dan lari keluar dari tempat itu.

"Mei Lan...!" Hong Ing meloncat bangun kemudian menghadapi Giok Keng dengan mata berapi. "Enci Giok Keng, engkau kejam! Engkau merusak hidupnya! Sungguh tak pernah kusangka engkau akan sekejam ini. Biarlah, engkau atau aku yang mati...!"

Dengan marah sekali Hong Ing yang dilanda kedukaan hebat itu lalu menyerang Giok Keng. Giok Keng menangkis lantas balas memukul. Pukul-memukul terjadilah di ruangan dalam itu dan keduanya yang sedang dikuasai kemarahan melakukan serangan-serangan yang amat dahsyat.

"Eh, eh... apa yang terjadi ini? Toanio, jangan berkelahi! Lie-toanio..." Khiu-ma yang sama sekali tidak tahu tentang ilmu silat itu secara nekat mendekati mereka dengan maksud hendak memisah. Akan tetapi sebuah tendangan mengenai perutnya dan wanita ini lantas terlempar dan terbanting roboh, pingsan!

"Lie-toanio, kau benar-benar keliru. Seorang tamu mana boleh..." Baru sampai di sini saja Giam Tun mencela, sebuah tamparan mengenai lehernya sehingga dia pun terpelanting dan pingsan pula.

"Enci Giok Kong, kau seperti kemasukan iblis!" Hong Ing memaki marah,

Ia lalu mengerahkan seluruh tenaga dan kepandaiannya untuk memukul roboh lawannya. Akan tetapi, memang pada dasarnya dia kalah setingkat kalau dibandingkan dengan Giok Keng. Setelah bertanding di dalam ruangan itu, membuat meja kursi jungkir-balik tidak karuan, sebuah tamparan tangan kiri Giok Keng mengenai bawah telinga nyonya rumah dan Pek Hong Ing terguling roboh dalam keadaan tak sadarkan diri.

Giok Keng mengebut-ngebut pakaiannya, agak puas hatinya, merasa bahwa dia sudah dapat membalas rasa penasarannya karena dihina oleh adik Kun Liong di depan orang banyak di tempat pesta. Dia tahu bahwa tiga orang itu hanya pingsan dan tidak terluka parah, maka setelah mendengus marah dia lalu meloncat dan keluar dari rumah itu…..

********************

Kalau kita bicara tentang sebab akibat, maka segala akibat apa pun yang terjadi di dalam dunia menimpa diri kita adalah disebabkan oleh diri kita sendiri. Oleh karena itu seorang bijaksana tak akan memandang akibat, melainkan selalu waspada dan sadar akan segala gerak-gerik dari setiap pikiran dan perbuatan dirinya sendiri lahir batin karena dari setiap pikiran dan badan itulah yang menjadi sebab dari semua akibat, yang terpenting adalah mengenal diri pribadi sehingga setiap detik kita dapat waspada akan semua pikiran dan sikap kita, baik gerak tubuh mau pun kata-kata.

Yang penting adalah caranya, bukan tujuannya, karena tujuan tak akan jauh dari caranya, atau akibat tidak berbeda dengan sebabnya! Apa bila caranya benar, maka akibat atau tujuan dari cara itu bukan merupakan persoalan lagi. Dan cara itu, cara hidup atau setiap gerak-gerik hati pikiran serta kata-kata perbuatan kita saat demi saat barulah benar apa bila terbebas dari segala macam bentuk kekotoran yang timbul karena nafsu keinginian pribadi, dan kekotoran ini lenyap oleh kesadaran serta pengertian yang timbul pula dari pengawasan kita, pengenalan kita terhadap diri sendiri setiap saat.

Cara yang tidak benar pasti akan menjadi sebab terjadinya akibat yang tidak benar pula, ini sudah pasti, sungguh pun cara itu sudah terlupa oleh kita, sudah tersembunyi di alam bawah sadar. Namun, pengertian ini bukan berarti bahwa kita lalu sengaja menggunakan cara yang benar untuk memperoleh akibat yang benar, apa bila demikian maka cara itu sudah menjadi tidak benar juga karena mengandung pamrih keuntungan pribadi sehingga menjadi palsu. Kalau demikian, maka hanya akan terbentuk lingkaran setan belaka, yaitu sebab menimbulkan akibat, dan akibat menjadi sebab pula dari akibat yang lain lagi!

Inilah apa yang dinamakan hukum karma, tanpa kita buat sendiri dengan merangkaikan kemarin memasuki hari ini untuk sampai kepada esok hari! Dan ini akan berulang terus dan kita terseret di dalamnya! Oleh karena itu, yang penting adalah saat ini, sekarang ini! Setiap saat harus awas terhadap diri sendiri, bukan dalam arti kata mengendalikan atau menekan, hanya waspada tanpa pamrih, tanpa maksud apa-apa, hanya waspada saja. Kewaspadaan setiap saat ini yang akan bekerja sendiri, tanpa pamrih dari si aku.

Setiap kali bencana menimpa diri kita, keluarga kita, kita akan merasa tidak adil. Kematian orang yang kita kasihi, mala petaka yang menimpa hingga membuat kita menjadi miskin, dan sebagainya, membuat kita merasa prihatin dan sengsara. Kita tidak membuka mata bahwa mala petaka itu setiap saat memang ada, menimpa kepada siapa pun juga dan selalu akan terasa ada kesengsaraan dan kedukaan selama tidak terjadi perobahan hebat di dalam batin kita. Karena kesengsaraan dan kedukaan itu timbul dari dalam pikiran kita sendiri!


Pada pagi hari itu terjadi geger di kota Leng-kok terutama sekali di rumah Yap Kun Liong. Pagi-pagi sekali pendekar ini sudah memasuki kota Leng-kok dan langsung dia menuju ke rumahnya. Semenjak hari kemarin, hatinya selalu tidak enak. Hal ini tadinya disangkanya sebagai akibat kunjungannya ke Cin-ling-pai dan mendengar mengenai mala petaka yang menimpa keluarga Pendekar Sakti Cia Keng Hong.

Dia menghadap pendekar yang telah dianggapnya seperti pengganti ayahnya sendiri, juga gurunya, kemudian dengan tegas menyatakan kesediaannya untuk pergi mencari kembali pusaka Cin-ling-pai yang hilang dan membuat perhitungan dengan Lima Bayangan Dewa. Akan tetapi dengan tulus Cia Keng Hong menolaknya, mengucapkan terima kasih dan menyatakan bahwa urusan itu adalah urusan keluarganya, urusan pribadi dan sekarang Cia Bun Houw telah pergi, bersama dengan empat orang murid kepala Cin-ling-pai, untuk melakukan tugas itu secara terpencar.

Kun Liong maklum bahwa orang tua itu sedang mengalami tekanan batin yang hebat dan menghibur pun tidak ada artinya. Maka dia tidak tinggal diam di Cin-ling-pai, lalu berpamit dan semenjak saat itulah hatinya selalu terasa tidak enak. Lebih-lebih lagi malam tadi, dia merasa gelisah sekali sehingga malam-malam pun dia tak mau berhenti dan melanjutkan perjalanan pulang ke Leng-kok.

Keadaan Cin-ling-pai membuat hatinya seperti terhimpit juga, maka dia ingin lekas-lekas berjumpa dengan isterinya karena di dunia ini hanya ada satu orang yang akan dapat meringankan perasaannya apa bila sedang terhimpit oleh keadaan. Orang itu adalah Pek Hong Ing, isterinya tercinta.

Kun Liong terkejut ketika melihat banyak orang berkumpul di rumahnya dan toko obatnya tidak dibuka seperti biasa. Matanya terbelalak bingung ketika melihat kain putih di pintu rumah, putih berkabung tanda bahwa ada yang mati. Lebih-lebih lagi ketika lapat-lapat dia mendengar suara tangis seorang wanita yang dikenalnya sebagai suara Khiu-ma!

Jantungnya bagaikan berhenti berdetak, kakinya seperti mendadak kehilangan tenaganya dan dia berjalan menghampiri pintu rumahnya dengan muka pucat dan kaki terhuyung. Begitu melihat dirinya, beberapa orang tetangga yang berada di depan kontan menangis tersedu-sedu, wanita-wanita sesenggukan dan tidak ada yang berani memandangnya.

"Ada apa...?" Suara ini jelas keluar dari mulutnya, akan tetapi dia sendiri bagaikan tidak mendengarnya, seolah-olah suaranya telah lenyap ditelan kecemasan yang mengerikan.

Dia melangkah masuk. Banyak orang di dalam dan kembali mereka ini menangis begitu melihatnya. Seorang wanita tetangga yang amat baik, seperti keluarga sendiri, menubruk kakinya, menjerit dan menangis sesenggukan tanpa bisa mengeluarkan suara.

"Ada apa...?" Kini suara yang keluar dari tenggorokan Kun Liong terdengar keras sekali, menjerit penuh ketakutan, penuh kecemasan, penuh bayangan yang bukan-bukan.

Tidak ada seorang pun menjawab, akan tetapi semua mata ditujukan ke arah kamarnya dari mana terdengar tangis Khiu-ma yang jelas sekali sekarang, diiringi suara keluh kesah seorang laki-laki yang dikenalnya sebagai suara Giam Tun.

"Apa yang terjadi...?" Kun Liong melangkah masuk ke pintu kamarnya dan tiba-tiba dia berdiri terpaku di ambang pintu.

Mukanya pucat sekali hingga seperti mayat dan matanya terbelalak memandang ke atas pembaringan di kamar itu, seakan-akan dia tidak mau percaya akan apa yang dilihatnya. Dikejap-kejapkannya matanya, kemudian digosok-gosoknya dengan kepalan tangan yang gemetar, akan tetapi tetap saja pemandangan itu tidak berobah.

"Taihiap... uhhuu-hu-huuuk...!" Giam Tun menoleh dan hanya dapat mengeluarkan seruan demikian, karena dia sudah berlutut dan menangis bergulingan diatas lantai. Khiu-ma juga menjerit.

"Apa ini...? Apa ini...? Bagaimana...? Kenapa...?" Kun Liong semakin terbelalak, bibirnya gemetar, banyak kata-kata yang keluar tanpa suara, lantas ditamparnya kepalanya sendiri untuk menyadarkannya dari mimpi buruk ini.

Ini tentu mimpi buruk, bantahnya. Tidak mungkin! Tidak mungkin Pek Hong Ing, isterinya tercinta, sekarang rebah di atas pembaringan itu dengan mata meram, bibir terkatup dan pakaian penuh darah yang sudah mengental. Tidak mungkin!

Akan tetapi tetap saja pemandangan itu tidak berobah. Dia meloncat ke depan, berlutut di pinggir pembaringan untuk memandang lebih tegas lagi. Dirabanya pipi isterinya. Dingin! Tangannya ditarik kembali seolah-olah dia menyentuh api, ditatapnya lagi wajah isterinya, lalu diliriknya dada yang terluka bekas tusukan pedang.

Tiba-tiba dia menjerit dan semua orang yang berada di dalam kamar itu terjungkal, ada yang pingsan karena jerit itu mengandung kekuatan yang maha dahsyat. Tubuh pendekar itu terkulai, kepalanya diguncang keras-keras untuk mengumpulkan tenaga, kemudian dia memandang kembali, dirangkulnya mayat itu dan kini dia mengeluh, lalu merintih perlahan dan tubuhnya terkulai lemas, terjatuh pingsan di bawah pembaringan!

Gegerlah kamar itu. Kegegeran dari mereka yang menolong orang-orang pingsan, dan ada pula yang menggotong tubuh Kun Liong, diletakkan di atas dipan di dalam kamar itu. Seperti mayat saja tubuh pendekar ini. Wajahnya sepucat wajah jenazah isterinya, dan dadanya tidak bergerak seolah-olah napasnya sudah putus.

Giam Tun yang tadi tidak pingsan oleh jerit melengking tadi, hanya roboh terguling dan menggigil, kini mendekati majikannya. Sebagai seorang ahli pengobatan dia tahu bahwa majikamya mengalami hantaman batin yang amat hebat. Dengan bercucuran air mata dia lalu mengambil obat dalam botol dan menggosok-gosokkan obat yang berbau keras itu di depan hidung majikannya. Semua orang memandang dengan terharu dan terutama kaum wanita tetangga mereka terisak-isak pilu.

Kun Liong berbangkis dan membuka matanya. Begitu siuman, dia memandang liar. Dan cepat dia bangkit duduk. "Tidak mungkin! Hong Ing...!"

Dia menoleh ke pembaringan dan meloncat. Berlutut di dekat jenazah isterinya. "Tidak mungkin! Sudah gilakah aku? Ehh, Giam-lopek, sudah gilakah aku? Hong Ing mati? Tidak mungkin...!" Dia memeluk isterinya, meraba-raba, dan memeriksa luka di ulu hati itu, luka yang menembus sampai ke punggung!

"Hong Ing... bagaimana ini...?"

"Taihiap.... harap tenangkan hati, taihiap...," Giam Tun berkata dengan suara gentar.

"Apa...? Tenang...? Keluarlah, harap semua keluar... biarkan aku sendirian berdua dengan isteriku!"

Giam Tun segera memberi isyarat kepada semua tetangga untuk keluar. Mereka semua menanti di luar, tidak ada yang bicara, yang terdengar hanya isak tangis.

Sesudah semua orang pergi, Kun Liong merangkul leher isterinya, menciumi muka yang sudah dingin itu, mengelus pipinya, dagunya, rambutnya, sambil bercucuran air mata.

"Hong Ing... isteriku... pujaanku... mengapa begini...? Mengapa...?"

Orang-orang yang berada di luar hanya mendengar suara pendekar itu yang puluhan kali mengajukan pertanyaan ‘mengapa’, dan suara ini makin lama semakin parau bercampur isak, membuat mereka menjadi terharu dan ikut pula menangis.

Dengan pengerahan kekuatan yang sangat hebat, barulah Kun Liong berhasil menguasai dirinya. Sesudah lebih dari tiga jam dia menangisi mayat isterinya, kemudian dia bangkit, lalu melangkah keluar, dan berdiri di pintu, seperti mayat hidup!

Wajahnya menjadi pucat sekali tanpa ada bayangan darah, matanya sayu tanpa cahaya kehidupan, mulutnya seperti orang menahan rasa nyeri yang hebat dan dia seperti orang kehilangan ingatan, berdiri di luar pintu, dengan mata kosong menatap jauh melampaui orang-orang yang kumpul di situ.

"Taihiap...!" Giam Tun berseru dan maju berlutut.

Seruan ini menyadarkannya. Dia cepat mengusap air matanya dengan punggung kepalan kedua tangannya, kanan kiri seperti seorang anak kecil kalau menangis. Khiu-ma segera menyeret sebuah kursi dan Kun Liong lalu menjatuhkan diri duduk di atas kursi itu.

"Paman Giam, Khiu-ma, ceritakanlah...! Tapi lebih dulu... mengapa aku tidak melihat Mei Lan menangisi jenazah ibunya?" Berkata demikian, air matanya kembali bercucuran.

Dengan suara meratap tangis, Khiu-ma berkata, "Siocia juga telah pergi sejak malam tadi, entah ke mana dan entah mengapa... tetapi tentu dia yang menyebabkannya, dialah yang membunuhnya... dia wanita yang tidak berperi kemanusiaan itu..."

"Diamlah Khiu-ma!" Giam Tun membentak wanita yang mulai histeris itu, maka Khiu-ma menundukkan mukanya, hanya masih terus terisak-isak.

"Kami berdua juga masih bingung memikirkannya, taihiap." Giam Tun mulai bercerita dan suaranya sudah tenang setelah dia melihat majikannya juga mulai tenang kembali.

"Ceritakan yang jelas semenjak semula, apa yang sudah terjadi. Dan saya minta dengan hormat kepada semua saudara sudilah menanti di ruangan depan agar saya dapat bicara dengan paman Giam Tun."

Para tetangga itu mengundurkan diri, keluar dan memberi kesempatan kepada pendekar itu untuk mendengarkan penuturan Giam Tun karena mereka semua sudah mendengar persoalan itu.

Dengan panjang lebar dan jelas Giam Tun lalu menuturkan tentang kunjungan nyonya Lie Kong Tek, puteri dari ketua Cin-ling-pai malam tadi ketika baru saja toko ditutup.

"Kedatangannya aneh sekali, Taihiap. Begitu datang dia marah-marah. Nyonya... ehhh…, mendiang..." Giam Tun merasa lehernya tercekik saat menceritakan nyonya majikannya.

"Paman Giam, kita harus dapat menghadapi kenyataan. Sekarang isteriku telah mati, kau bersikaplah tenang agar ceritamu jelas," Kun Liong berkata dengan suara lirih.

"Maaf, Taihiap." Giam Tun menarik napas panjang melegakan dadanya. "Nyonya keluar menyambutnya dengan ramah sambil menyabarkannya, bahkan menariknya untuk masuk ke dalam. Lie-toanio itu datang-datang langsung menanyakan Taihiap dengan cara yang kasar sekali. Sesudah keduanya masuk, tentu saja saya dan Khiu-ma tidak berani ikut masuk, hanya mendengarkan dari luar, akan tetapi tidak terdengar jelas apa percakapan mereka. Kemudian kami mendengar ribut-ribut seperti orang lagi bertengkar. Kami masih belum berani masuk, namun kami mendengar bahwa yang bertengkar itu adalah suara Lie-toanio dan suara siocia. Kemudian, kami berdua melihat siocia berlari keluar sambil menangis. Kami memanggil-manggilnya, akan tetapi siocia lari cepat sekali dan lenyap di dalam kegelapan malam. Kami bingung, lalu mendengar ribut-ribut di dalam. Kami berdua kemudian memasuki ruangan dalam dan kami melihat nyonya sedang bertempur dengan Lie-toanio!"

Kun Liong mengepal tinju tangannya. Dia penasaran, dan terheran-heran. Apa sebetulnya yang terjadi? Seperti dalam mimpi saja dia mendengar betapa isterinya bertempur dengan Giok Keng. Hal yang amat aneh dan mustahil kedengarannya!

"Khiu-ma berusaha melerai, akan tetapi Lie-toanio memukulnya sehingga Khiu-ma roboh pingsan. Saya lalu maju menegurnya, akan tetapi saya pun dipukulnya hingga saya tidak tahu apa-apa lagi, kemudian... kemudian... Khiu-ma, kau sadar lebih dulu dari pada aku, ceritakanlah."

Dengan suara megap-megap Khiu-ma melanjutkan cerita rekannya. "Saya... saya sadar dengan kepala pening dan pertama-tama yang saya ketahui adalah bahwa saya rebah di lantai dan keadaan ruangan ini morat-marit. Lalu saya teringat semuanya, saya bangkit berdiri dan... dan... saya melihat nyonya... rebah di lantai pula... mandi darah..."

Kun Liong memejamkan matanya untuk mencoba membayangkan apa yang terjadi, dan tiba-tiba, seperti halilintar datangnya, Khiu-ma dan Giam Tun berkata nyaring. "Dia yang membunuhnya, wanita kejam itu yang membunuh nyonya!"

"Benar, siapa lagi kalau bukan Lie-toanio!" Giam Tun berkata keras.

"Diam!" Kun Liong membentak, membuka matanya lalu sadar bahwa dia bersikap keras terhadap dua orang pembantunya yang setia itu. "Maaf, paman Giam dan Khiu-ma... eh, bagaimana kalian bisa menduga bahwa nyonya tewas oleh Lie-toanio?" Dia lalu bertanya seperti seorang anak bodoh bertanya kepada orang-orang dewasa yang lebih mengerti.

Memang pada saat itu Kun Liong merasa bingung dan bodoh. Segalanya berjalan begitu tidak masuk akal sungguh pun penuturan itu keluar dari mulut dua orang pembantunya yang tak mungkin berani berbohong. Baru membayangkan isterinya cekcok dengan Giok Keng saja sudah merupakan hal yang sukar dipercayanya, apa lagi isterinya itu sampai bertanding dengan Giok Keng! Biar pun dia dapat menduga bahwa andai kata bertanding sekali pun isterinya akan kalah setingkat, akan tetapi siapa dapat percaya bahwa Giok Keng membunuh isterinya?

“Taihiap, tidak ada siapa-siapa lagi di sini! Dan yang bertanding dengan nyonya adalah Lie-toanio. Dia kelihatan marah besar semenjak datang. Siapa lagi kalau bukan dia yang melakukan pembunuhan itu?"

"Apa lagi ada beberapa orang tetangga mengatakan bahwa mereka melihat berkelebatnya bayangan hitam yang jelas adalah bayangan seorang wanita sungguh pun mereka tidak melihat mukanya karena gelap di luar. Ada pula yang melihat bayangan wanita meloncat ke atas genteng seperti sedang tergesa-gesa. Sudah jelas bahwa nyonya keji itulah yang membunuh..." Khiu-ma memperkuat keterangan Giam Tun.

Kun Liong menjadi bingung sekali. Pukulan batin itu terlalu hebat baginya dan bertubi-tubi datangnya mala petaka itu. Isterinya yang tercinta mati terbunuh! Anaknya minggat dan tidak dapat ditemukan ketika dicari-cari. Dan menurut kesaksian dua orang pembantunya, pembunuh isterinya adalah Cia Giok Keng!

Kekuatan batinnya goyah dan pendekar ini selalu berdiam di kamar isterinya, merenungi wajah isterinya yang sudah menjadi mayat itu seperti orang linglung. Segala pertanyaan dua orang pembantunya yang mengurus perawatan jenazah, dibantu oleh para tetangga, hanya ditanggapi dengan anggukan kepala saja.

Semalam suntuk dia menjaga jenazah isterinya. Wajah itu demikian cantiknya, demikian tenang dan penuh damai, akan tetapi demikian pucat dan kehilangan cahaya kehidupan. Tidak teringat olehnya segala sesuatu, baik anaknya, mau pun pembunuh isterinya, atau apa pun juga, yang diketahui hanya bahwa isterinya sudah mati! Cahaya hidupnya sudah padam! Sumber kebahagiaannya sudah kering!

Semenjak mendengarkan cerita kedua orang pembantunya sampai berjalan dengan muka tunduk di belakang iring-iringan jenazah ketika isterinya akan dikuburkan, Kun Liong tidak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Semua pengurusan mengenai penguburan dan penyambutan para tamu yang ikut berduka cita dilakukan oleh kedua orang pembantu itu.

Kun Liong menjadi seperti mayat hidup. Dengan mata kosongnya dia melihat betapa peti jenazah isterinya dimasukkan ke dalam lubang, kemudian diuruk dengan tanah sehingga hanya nampak gundukan tanah tinggi. Dan setelah semua pengiring jenazah pulang Kun Liong masih saja berlutut di depan kuburan isterinya.

"Taihiap, semua sudah selesai, marilah kita pulang, Taihiap...," kata Giam Tun membujuk tuannya.

Khiu-ma hanya mengusap air matanya, merasa terharu dan kasihan sekali kepada Kun Liong yang begitu pucat dan kurus, rambutnya kusut dan matanya kosong. Dia bagaikan mayat hidup saja.

Betapa pun kedua orang yang setia itu membujuk, Kun Liong tidak pernah menjawab, dia hanya menggelengkan kepala. Akhirnya mereka takut kalau majikan mereka marah, maka mereka berpamit untuk mengurus rumah dan Kun Liong mengangguk.

Kini Kun Liong tinggal seorang diri di kuburan isterinya, duduk di atas tanah dan sampai berjam-jam lamanya memandang ke angkasa. Seolah-olah di sana tampak olehnya wajah isterinya tersenyum-senyum dan bersembunyi di antara awan, bahkan kadang-kadang dia melihat isterinya berlari-larian berkejaran dengan awan yang mencipta bermacam bentuk yang aneh.

Kemudian, pandangan matanya yang sudah tidak lumrah manusia biasa karena dikuasai oleh kedukaan yang begitu mendalam, sehingga seakan-akan terlepas dari penguasaan dirinya itu seperti melihat isterinya sedang bertanding dengan seorang wanita di antara awan putih, kemudian isterinya terpelanting roboh.

"Ouhhh...!" Tanpa disadarinya, Kun Liong mencengkeram tanah dan bayangan itu lenyap tertutup awan yang berarak. Lalu timbul kembali, sekarang dia melihat bayangan seorang wanita yang tidak jelas siapa, menggunakan pedang menusuk dada isterinya yang masih rebah terlentang.

"Heiiiii...!" Kun Liong berteriak sambil melompat bangun, seakan-akan dia hendak terbang ke angkasa untuk menolong isterinya. Akan tetapi dia terbanting kembali ke atas tanah.

"Hong Ing... ahhh, Hong Ing, isteriku... ceritakanlah, siapa yang telah membunuhmu dan mengapa? Benarkah dia Giok Keng...?" dia mengeluh sambil menubruk gundukan tanah kuburan isterinya dan tinggal menelungkup seperti itu sampai hujan turun!

Duhai... berat nian
derita hidup penuh sengsara
ditinggal pergi orang tercinta
seorang diri sunyi dan hampa.
Ke mana harus mencarimu, kekasih?
bila kita dapat saling bersua?
hidup tanpa cinta apa artinya?
dunia tanpa matahari
gelap gulita!


Malam yang gelap pekat dan basah oleh hujan lebat. Sunyi menyeramkan di atas tanah pekuburan itu, sunyi yang mencekam, kesunyian yang akan menjadi sangat mengerikan dengan bayangan-bayangan tentang iblis, setan dan siluman, tentang orang-orang mati yang hidup lagi, tentang roh penasaran yang berkeliaran, rangka-rangka manusia yang berjalan-jalan mencari mangsa. Penggambaran khayalan manusia yang membawa-bawa alam kesengsaraan sampai sesudah mati.

Kesengsaraan akan selalu ada selama kita menonjol-nonjolkan diri pribadi, karena segala bentuk kesengsaraan adalah buatan kita sendiri, buah pikiran kita sendiri! Kesengsaraan bukanlah suatu keadaan, melainkan suatu bayangan yang direka-reka oleh pikiran.

Kesengsaraan timbul dari perasaan iba diri, yaitu merasa kasihan terhadap diri sendiri, merasa betapa dirinya paling celaka. Kalau kita bebas dari penonjolan keakuan, bebas dari perasan iba diri, maka segala macam peristiwa yang terjadi atas diri kita, dapat kita hadapi dengan wajar dan bukan lagi merupakan kesengsaraan. Yang sengsara itu bukan keadaannya melainkan hatinya, dan ini merupakan permainan pikiran kita sendiri.

Orang akan berduka apa bila sang pikiran mengenangkan segala sesuatu tentang dirinya yang ditinggalkan kesenangan dan ditimbuni ketidak senangan, meremas-remas hati, dan perasaannya sendiri dengan rasa iba hati, kasihan kepada diri sendiri, kepada orang atau benda yang kita sayang, dan merasa sengsara.....


********************

Malam gelap pekat dan hujan turun demikian deras diterima sebagai sesuatu yang tidak menyenangkan oleh manusia, sebagai sesuatu yang tidak baik dan buruk. Hanya batin yang bebas dari perbandingan saja akan melihat bahwa di dalam segala sesuatu terdapat kesempurnaan dan kebenaran. Di dalam malam gelap dan hujan lebat pun sebenarnya terdapat kesempurnaan dan kebenaran, terdapat kemanfaatan yang tak terpikirkan oleh ingatan manusia yang hanya mencari senang.

Sunyi melengang malam itu di tanah pekuburan. Bahkan burung hantu pun bersembunyi dan mencari tempat perlindungan dari air hujan. Yang terdengar hanya suara hujan yang setiap detik berubah, suara yang hidup diseling keheningan yang syahdu.

Kalau pada saat itu ada orang biasa yang berada di dekat tempat itu, tentu dia akan lari tunggang langgang dan nekat menempuh hujan ketika dia melihat cahaya kecil bergerak-gerak ke kanan kiri di dalam kabut air hujan, makin lama makin mendekati tanah kuburan itu. Cahaya ini makin dekat dan kini tampak bayangan hitam yang besar dan aneh sekali bentuknya.

Dari pinggang ke bawah seperti bayangan orang biasa yang melangkah perlahan-lahan, selangkah demi selangkah. Akan tetapi dari pinggang ke atas amat luar biasa, membesar dan bulat!

Segala macam bentuk setan hanya ada kalau diadakan oleh pikiran kita sendiri. Memang banyak pengakuan orang-orang yang pernah melihat setan, akan tetapi sudah amat pasti bahwa yang dilihatnya itu tentu setan-setan seperti yang pernah dikenalnya, yaitu melalui pendengaran cerita, melalui gambar-gambar atau dongeng-dongeng orang tua. Pendek kata, tentu yang dilihatnya itu adalah gambaran yang sudah ada di dalam ingatannya!

Pikiran bisa mempengaruhi semua anggota badan, terutama sekali mata dan telinga. Bila pikiran telah mencekam kita dengan gambaran-gambaran tentang setan-setan yang amat menakutkan dan mengerikan, maka melihat bayangan pohon pun telah bisa menciptakan gambaran setan-setan itu, mendengar suara burung malam pun sudah bisa menciptakan gambaran yang dicetak oleh pikiran kita sendiri. Karena itu, kita harus awas dan sadar terhadap tipu muslihat yang dilakukan oleh sang pikiran yang lincah dan cerdik bagaikan monyet itu.


Setelah dekat benar, barulah tampak bahwa bayangan mengerikan itu bukan lain adalah kakek Giam Tun yang berjalan perlahan-lahan, tangan kanan memegang sebuah lentera, tangan kiri memegang sebuah payung. Dengan tubuh menggigil karena kedinginan, juga oleh rasa seram, kakek ini memaksa kakinya melangkah perlahan-lahan memasuki pintu gerbang tanah pekuburan.

Malam terlalu gelap ditambah kabut air hujan, maka penerangan lentera itu belum cukup kuat sinarnya untuk menembus kegelapan. Hanya karena hafal saja maka kakinya dapat melangkah satu-satu menuju ke tempat di mana nyonya majikannya dikubur sore tadi.

Bulu tengkuknya meremang. Hati siapa yang tak akan ngeri memasuki tanah pekuburan sedangkan nyonya majikannya baru sore tadi dikubur? Akan tetapi, rasa hutang budi yang mendatangkan rasa sayang dan setia kepada majikannya membuat kakek ini nekat dan memberanikan hatinya untuk mencari majikannya yang sampai malam hujan itu belum juga pulang.

"Taihiap...!" Suara yang keluar dari mulut Giam Tun ini menggema ditimpa suara hujan sehingga dari jauh terdengar lain, bunyinya seperti rintihan yang keluar dari dalam satu di antara gundukan-gundukan tanah kuburan itu.

Giam Tun memanggil beberapa kali dan ketika masih saja belum ada jawaban padahal sinar lenteranya sudah menimpa tubuh Kun Liong yang menelungkup di atas gundukan tanah kuburan baru itu, Giam Tun terkejut setengah mati. Tersaruk-saruk dia melangkah maju, payung dan lentera itu berguncang karena seluruh tubuhnya menggigil.

Kun Liong berada dalam keadaan antara sadar dan tidak. Dia merasa bagaikan sedang berperahu dengan isterinya dan isterinya demikian cantik dan bahagia, tersenyum sambil memandang padanya penuh dengan sinar mata mesra yang mengandung kasih sayang seperti kalau biasa isterinya memandangnya.

Akan tetapi tiba-tiba air sungai bergelombang dan perahu itu terbalik! Dia melihat isterinya hanyut dibawa air sungai. Sia-sia saja dia berusaha berenang mendekati, semakin lama isterinya makin jauh.

"Hong Ing...!" dia menjerit.

"Suamiku... kau cari Mei Lan...! Cari Mei Lan...!"

Hanya suara teriakan isterinya menyuruh dia mencari Mei Lan itu yang kini terdengar. Dia tidak ingat lagi bahwa tadi Mei Lan juga ikut di dalam perahu.

"Taihiap... bangunlah... kita perlu mencari nona Mei Lan...! Kita harus mencari nona Mei Lan...!"

Kun Liong menggerakkan tubuhnya dan menoleh, matanya silau oleh sinar lentera itu dan dia melihat wajah Giam Tun di atas lentera, wajah yang penuh rasa iba dan yang berkata dengan suara penuh permohonan,

"Pulanglah, Taihiap, nona Mei Lan belum juga datang, kita perlu mencarinya...!"

"Hong Ing... Mei Lan...!" Kun Liong mengeluh, teringat akan mimpinya dan dia lalu bangkit duduk di atas tanah yang becek. Pakaiannya basah kuyup dan kotor penuh lumpur, juga mukanya berlepotan lumpur.

Kini dia sadar sepenuhnya dan diam-diam dia berterima kasih kepada Giam Tun. Kakek ini biasanya amat takut akan setan-setan, dan kini sampai mati pun dia tidak akan berani disuruh memasuki tanah kuburan seorang diri di waktu malam dan hujan itu.

Pernah Hong Ing menggoda kakek ini saking penakutnya terhadap setan. Malam-malam dengan menggunakan kepandaiannya, Hong Ing meloncat ke atas genteng dan memakai kerudung putih menakut-nakuti Giam Tun sehingga kakek ini hampir terkencing-kencing saking takutnya, mengira ada setan. Memang kadang-kadang di waktu gembira Hong Ing suka bermain-main seperti anak kecil.

Akan tetapi kini kakek itu menempuh segala rasa takutnya, datang mencarinya. Kun Liong merasa betapa sikapnya terlalu menuruti hati sedih. Kesadarannya mulai timbul.

"Paman Giam Tun, aku memang hendak menemani nyonya majikanmu di malam pertama yang gelap dan dingin ini. Kasihan dia, paman... kasihan sekali dia, bukan?"

Giam Tun mengangguk dan dari balik lentera dia hanya mengangguk-angguk, akan tetapi sedu-sedannya terdengar melalui kerongkongannya.

"Sudahlah, paman. Sudah terlalu berlebihan aku menyedihi dan menangisi diriku sendiri, sekarang aku harus ingat kepadanya. Kau pulanglah. Aku tidak apa-apa, biar aku malam ini menjaga di sini. Besok kita bicarakan tentang Mei Lan, dan yang lain-lain."

Giam Tun mengusap matanya dengan ujung lengan baju. Hatinya merasa lega juga. Biar pun keadaan majikannya begitu menyedihkan dan mengharukan, akan tetapi suara serta kata-kata yang keluar dari mulut majikannya menunjukkan bahwa pendekar itu telah sadar kembali, suaranya tenang dan penuh wibawa seperti biasanya.

"Apa Taihiap tidak perlu ganti pakaian? Ini sudah saya bawakan... dan makanan... sejak dua hari yang lalu Taihiap belum makan atau minum apa-apa..."

Dengan jari-jari gemetar kakek itu hendak membuka bungkusan yang tadi dikempitnya.

Kun Liong menggelengkan kepalanya. "Bawa kembali saja, paman. Apa gunanya berganti pakaian sekarang? Pakaian kering akan basah lagi, pakaian bersih juga akan kotor lagi dan dalam keadaan seperti sekarang ini, bagaimana aku mampu menelan makanan atau minuman? Pulanglah dan biarkan aku sendirian untuk menghadapi dan merenung segala kepahitan hidup ini, paman."

Giam Tun memandang majikannya, beberapa kali menelan ludah dan tidak mampu lagi mengeluarkan perkataan. Dia merasa menjadi sepuluh tahun lebih tua dari pada biasanya semenjak terjadinya peristiwa mengerikan tiga hari yang lalu itu. Kakek itu mengangguk-angguk, membalikkan tubuhnya dan hendak pergi, akan tetapi berhenti lagi, menengok dan berkata,

"Apakah perlu lentera ini saya tinggalkan di sini, Taihiap?"

"Bawa pergi saja, paman. Sinarnya tak akan mampu menerangi kegelapan hatiku, malah menyilaukan mata saja."

Bibir kakek itu bergerak-gerak, dia sendiri tidak tahu apa yang hendak dikatakan lalu dia pergi tersaruk-saruk dengan langkah pendek-pendek dan punggung sedikit membongkok, meninggalkan tempat itu menuju ke pintu gerbang kuburan yang dari jauh tampak tinggi besar hitam seperti setan raksasa mementang kedua lengannya dan sangat mengerikan kalau tampak akibat tertimpa sinar kilat.

Setelah kakek Giam Tun pergi, Kun Liong merasa betapa tubuhnya dingin sekali. Dia baru sadar betapa belakangan ini dia telah mengabaikan kewajibannya yang terutama sebagai manusia hidup, yaitu menjaga kesehatan tubuhnya. Dia telah membiarkan dirinya terbuka terhadap semua serangan lahir batin, terlampau menenggelamkan diri ke dalam perasaan duka sengsara. Teringat akan ini, dia kemudian duduk bersila di depan kuburan isterinya, mengerahkan sinkang menghangatkan tubuhnya.

Setelah tubuhnya terasa sehat kembali, dia mulai mempergunakan mata batinnya untuk memandang keadaan dirinya, untuk menyelidiki semua keadaan yang baru saja menimpa dirinya. Setelah kini dia tidak lagi dijadikan permainan hati dan pikirannya, tampaklah oleh kesadarannya betapa dia hampir gila oleh rasa iba diri, bahwa selama ini dia menangisi diri sendiri, berkabung atas keadaan dirinya sendiri yang direnggut kesenangan hidupnya.

Dia tidak perlu menangisi kematian Hong Ing. Mengapa? Kini Hong Ing sudah terbebas dari segala ikatan duniawi dengan suka dukanya, dengan kesenangan yang singkat dan kesengsaraannya yang panjang. Terbayang dia akan wajah mayat isterinya yang demikian penuh damai dan ketenangan, lalu membandingkan dengan keadaan dirinya.

Mungkin sudah sepatutnya kalau Hong Ing di ‘sana’ menangisi dia karena keadaannya yang sengsara itu. Akan tetapi dia tidak patut menangisi Hong Ing yang sudah tidak terseret lagi oleh arus kesengsaraan duniawi lagi.

Setelah sadar akan ini, yang tinggal hanya penyesalan dan penasaran. Mengapa isterinya yang dia tahu amat jenaka, lemah lembut, baik budi dan ramah itu sampai dibunuh orang? Dan yang membunuhnya Giok Keng! Tidak salah lagi. Tidak mungkin orang-orang seperti kedua orang pembantunya itu, terutama sekali Giam Tun, akan membohong! Dia harus mencari Giok Keng. Membuat perhitungan!

Kini lain perasaan mengaduk hati Kun Liong, digerakkan oleh pikiran yang bekerja keras. Dia meloncat dan mengepal tinjunya.

"Giok Keng, kau perempuan keji! Aku akan membalaskan kematian Hong Ing!"

"Darrrrrrr...!"

Kilat menyambar sebagai penutup dari hujan yang mulai berhenti. Sekejap mata tempat itu menjadi terang menyilaukan mata sehingga Kun Liong terkejut, tersadar kembali dan menjatuhkan diri berlutut di depan kuburan sambil menutupkan kedua tangan yang kotor berlumpur di depan mukanya.

Terbayanglah dia akan wajah Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng, ayah beserta ibu Giok Keng, terbayang dia akan wajah Giok Keng pada waktu gadis dulu, terbayang pula akan semua hal, hubungannya dengan keluarga Cia. Dan dia baru saja mengeluarkan ancaman untuk membunuh Giok Keng.....!


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner