DEWI MAUT : JILID-14


Sebetulnya, hanya pada lahirnya saja dia kelihatan tidak peduli akan keadaan kakaknya, karena dia memang sejak kecil dilatih untuk bersikap dingin. Namun, di lubuk hatinya, dia merasa sangat kasihan terhadap kakak iparnya, dan kasihan kepada kakak kandungnya yang tentu akan hancur hatinya kalau melihat isterinya tewas secara menyedihkan itu.

Maka dia sudah mengambil keputusan di dalam hatinya. Setelah dia mengantar Yalima ke Cin-ling-pai dan menyerahkan dara itu kepada Cia Bun Houw yang memang sepatutnya mengawini gadis ini, dia akan pergi untuk melakukan penyelidikan, mencari pembunuh kakak iparnya yang tadinya dia sangka tentulah Go-bi Sin-kouw akan tetapi yang belum ada buktinya itu. Dia hendak mencari pembunuh itu sampai ketemu, dan membalaskan dendam kematian kakak iparnya.

Dan dia pun akan menyelidiki Lima Bayangan Dewa, yaitu Toat-beng-kauw Bu Sit yang amat dibencinya, serta kawan-kawannya, dan mencoba untuk merampas pedang Siang-bhok-kiam kemudian menyerahkan pedang pusaka itu kepada gurunya. Dengan demikian barulah dia akan mengangkat nama gurunya, dan gurunya tentu akan merasa bangga sekali…..

********************

Dara remaja yang belum dewasa benar itu berjalan seorang diri di dalam hutan yang amat lebat. Wajahnya yang cantik jelita, terutama bentuk mulutnya yang manis, kini nampak pucat dan layu. Matanya agak kemerahan karena terlalu banyak menangis, rambutnya yang hitam panjang dan halus itu kusut, demikian pula pakaiannya yang agaknya sudah beberapa hari tidak pernah digantinya. Langkah-langkahnya gontai dan pandang matanya sayu, kosong melompong memandang ke depan, kadang kala dia menarik napas panjang yang bercampur isak.

Dara remaja ini adalah Yap Mei Lan, puteri Yap Kun Liong yang melarikan diri dari rumah orang tuanya dengan hati hancur. Dia bukan anak kandung ibunya! Kenyataan yang amat menyakitkan hati ini membuat dia lari pada malam hari itu, lari begitu saja tanpa sempat membawa apa-apa, juga tanpa tujuan karena dia hanya menurutkan dorongan hati yang kecewa, penasaran dan berduka.

Ibunya adalah orang pertama di dunia ini yang dicintainya, yang dibanggakannya sebagai wanita paling cantik di dunia, barulah ayahnya yang hanya menjadi orang kedua baginya. Akan tetapi ibunya, orang yang dicintanya serta dihormatinya, dijunjungnya tinggi-tinggi dan dibanggakannya itu ternyata bukan ibu kandungnya! Dia tidak mau pulang lagi! Biar dia mati di jalan dari pada harus menghadapi ibunya yang kini tidak lagi menjadi ibunya!

Dia anak haram, dia anak pungut, anak tidak sah. Rasa marah dan penasaran terhadap ayahnya timbul. Mengapa ayahnya menipunya? Mengapa tidak sejak kecil memberi tahu bahwa ibunya tercinta itu bukan ibu kandungnya!

Tubuhnya sudah lemas. Biar pun sejak kecil Mei Lan telah digembleng secara tekun oleh ayah bundanya yang memiliki kepandaian tinggi, dan tubuhnya yang laksana bunga mulai mekar, bagaikan buah mulai meranum itu amat kuat dan memiliki daya tahan yang luar biasa, menyembunyikan tenaga sinkang yang kuat sekali, namun karena dia menghadapi pukulan batin yang amat hebat, ditambah selama empat hari terus melakukan perjalanan sambil menangis tanpa makan atau minum, bahkan tak pernah tidur, kini tubuhnya hampir tidak kuat lagi dan dia melangkah seperti boneka hidup, kedua kakinya bergerak otomatis memasuki hutan yang besar dan lebat itu.

Teringat dia betapa ibunya juga amat mencintainya. Ibunya tidak mempunyai anak lain, dan kalau dia bukan anak kandung ibunya, berarti ibunya memang tidak mempunyai anak dan tentu saja dia amat disayang, tidak peduli bahwa dia bukan anak kandung ibunya.

"Ibuuuuu...!" Mei Lan tersandung, jatuh di bawah sebatang pohon dan ketika dia teringat ibunya, hatinya perih seperti ditusuk sehingga dia menangis, menelungkup di atas rumput. Tiba-tiba terdengar suara ketawa terkekeh-kekeh dan cekikikan di atas pohon.

Biar pun tubuhnya lemas sekali, berkat latihan ilmu silat sejak kecil, secara tiba-tiba saja tubuh Mei Lan dapat meloncat bangkit dan dia sudah duduk sambil memandang ke atas. Matanya yang masih basah air mata itu terbelalak, wajahnya yang sudah pucat menjadi makin pucat ketika dia melihat makhluk-makhluk seperti setan dan iblis ternyata sedang memenuhi pohon besar itu, ada yang berjongkok di atas cabang, ada yang bergantungan dengan kepala di bawah. Tubuh mereka itu seperti manusia, akan tetapi muka mereka sangat mengerikan, ada yang merah seperti darah, ada yang putih seperti kapas, dengan mata lebar dan mulut penuh gigi besar-besar bertaring!

Jantung Mei Lan berdebar bagaikan hendak melarikan diri dari dalam dadanya ketika dia melihat pemandangan yang sangat mengerikan itu. Sejenak dia hanya dapat memandang terbelalak ke atas, berganti-ganti memandang ketujuh makhluk aneh yang mengeluarkan suara tertawa-tawa itu.

Tujuh makhluk yang bertubuh manusia dan bermuka setan itu kini berloncatan ke bawah, gerakan mereka ringan sehingga sekejap saja mereka sudah mengepung Mei Lan sambil berjingkrak menari-nari dan tertawa-tawa. Di balik rasa ngeri serta takutnya yang hebat, timbul pula kemarahan di hati Mei Lan.

Setan atau bukan, mereka ini datang menggodaku, pikirnya marah dan tiba-tiba saja dara remaja ini mengeluarkan suara melengking nyaring, tubuhnya menerjang ke depan dan dia sudah menghantamkan tangan kanannya dengan jari-jari terbuka ke arah seorang iblis berwajah biru. Iblis itu tertawa dan menangkis.

"Plakkk! Desss...!"

Iblis muka biru itu terpelanting sambil berteriak kesakitan, sedangkan enam iblis lainnya mengeluarkan seruan aneh karena terkejut. Agaknya mereka sama sekali tak menyangka bahwa gadis cilik ini sudah memiliki kesaktian sedemikian hebatnya sehingga seorang di antara mereka sampai terpukul roboh!

Seorang di antara mereka yang berwajah merah mengeluarkan suara aneh dan kini enam orang itu yang berdiri mengurung Mei Lan, kemudian mereka mengangkat kedua lengan ke atas, jari-jari tangan mereka bergerak-gerak sambil mulut mereka mengeluarkan suara perlahan dengan bibir berkemak-kemik bagaikan orang membaca mantera, mata mereka yang melotot lebar itu mengeluarkan sinar yang berpengaruh dan aneh.

Mei Lan berdiri di tengah-tengah, memutar-mutar tubuh dan memandang mereka dengan dua mata terbelalak penuh kengerian dan ketakutan, kemudian pandang matanya terpikat oleh gerakan-gerakan jari tangan mereka dan telinganya dipenuhi dengan suara mereka yang tidak dia mengerti maknanya. Kemudian ketika enam orang itu bergerak mengelilingi dirinya dengan jari-jari tangan masih bergerak-gerak, dia merasa kepalanya pening dan pandang matanya berkunang.

Beberapa kali matanya terpejam kemudian dibukanya kembali dengan paksa, kepalanya diguncang-guncang keras untuk mengusir kepeningan karena dalam keadaan pening dan mengantuk, amatlah berbahaya menghadapi lawan, apa lagi lawan-lawan yang aneh dan menyeramkan ini.

Akan tetapi di antara suara perlahan seperti membaca mantera itu tiba-tiba saja terdengar suara yang jelas, perlahan akan tetapi berwibawa, "Nona kecil, engkau sangat lelah dan mengantuk, mengapa tidak tidur? Tidurlah!"

Mei Lan mendengar suara ini dan memang dia amat lelah dan mengantuk, maka anjuran itu amat menyenangkan dan otomatis dia menjawab, "Aku mau tidur."

"Ya, tidurlah! Rebahlah di atas rumput halus. Tidurlah...!"

Di sudut hatinya Mei Lan merasa aneh sekali dan tak semestinya kalau dia tidur padahal sedang menghadapi orang-orang atau setan-setan aneh ini. Akan tetapi rasa kantuknya tidak dapat dilawannya lagi dan seluruh tubuhnya sudah lelah seperti kehabisan tenaga. Maka dia lalu menjatuhkah diri berlutut, dan menggulingkan diri rebah miring dan suara itu masih terus mengiang di telinganya.

"...tidurlah... tidurlah dengan nyenyak... tidurlah...!"

Selanjutnya Mei Lan sudah tidak tahu apa-apa lagi. Dia tidur demikian nyenyaknya seperti orang pingsan atau mati sehingga dia tidak merasa lagi betapa dia sudah digotong oleh setan-setan berwajah menyeramkan itu, dibawa ke sebuah lereng bukit yang bersambung dengan hutan itu, dibawa ke sebuah perkampungan kecil yang hanya terdiri dari beberapa buah pondok.

"Nona, bangunlah...!"

Suara ini terdengar amat jauh, akan tetapi begitu jelas memasuki telinga Mei Lan dan dia membuka sepasang matanya. Tubuhnya terasa nyaman dan pikirannya tenang, dia tidak ingat apa-apa lagi, yang teringat hanya bahwa dia harus bangun!

Ketika dia bangkit dan duduk, ternyata dia berada di sebuah kamar dan tadi tidur di atas pembaringan. Beberapa orang yang mukanya mengerikan berada di kamar itu, dan salah seorang di antara mereka duduk tak jauh dari pembaringannya, yaitu si muka merah yang matanya mengeluarkan sinar penuh kekuatan mukjijat.

"Nona, perutmu lapar sekali, engkau makanlah. Makanan sudah tersedia di meja makan dan minumlah sekenyangnya, nona. Tak ada perasaan sungkan dan takut dalam hatimu. Makanlah."

Perut Mei Lan berkeruyuk. Memang sudah empat lima hari ini dia tidak makan dan tidak minum. Dan matanya melihat nasi dan masakan berada di atas meja dekat pembaringan, masih mengepulkan uap dan baunya sedap sekali. Seperti di dalam mimpi rasanya.

Maka tanpa sungkan-sungkan lagi, Mei Lan segera turun dari pembaringan, duduk di atas bangku menghadapi meja makan dan makanlah dara remaja ini sekenyangnya. Kini pulih kembali tenaganya dan wajahnya yang tadinya pucat kembali menjadi kemerahan. Akan tetapi ketika dia yang tidak biasa minum arak itu hanya minum air teh yang tersedia di situ, terdengarlah suara si muka merah,

"Arak wangi yang berada di depanmu itu dapat menambah tenaga. Kau minumlah arak itu, nona."

Suara itu meresap ke dalam hatinya dan tak dapat dilawannya lagi, otomatis tangannya meraih cawan terisi arak kemudian diminumnya arak itu. Akan tetapi, baru saja cawan itu menempel di bibirnya, bibir dan lidahnya merasakan sesuatu yang membuatnya terkejut.

Tak percuma Mei Lan menjadi puteri Pendekar Sakti Yap Kun Liong yang semenjak kecil selain sudah menerima gemblengan ilmu silat, juga oleh ibunya telah diberi tahu tentang tanda-tanda makanan mau pun minuman yang mengandung racun. Maka begitu bibir dan lidahnya merasai bahwa arak itu mengandung racun pembius, seketika dia teringat akan ayah ibunya dan teringat akan kesemuanya.

Bukan main terkejut dan herannya melihat betapa dia menurut saja kepada suara yang menyuruhnya itu, makan sampai kenyang dan hampir saja minum arak beracun. Adanya racun dalam arak yang disuruh minum oleh si muka merah itu sekaligus menyadarkannya bahwa dia berada di dalam cengkeraman orang-orang jahat!

Teringatlah dia betapa di dalam hutan dia telah merobohkan seorang di antara mereka, betapa kemudian enam orang itu dengan cara yang aneh telah membuat dia tidak dapat melawan, bahkan dia lalu tidak ingat apa-apa lagi. Dia tentu telah kena sihir! Ingatan ini membuat Mei Lan menjadi marah sekali dan tiba-tiba dia bangkit berdiri, membalik dan memandang si muka merah dan tiga orang lain yang agaknya menjaga di situ.

"Ehhhh...!"

Tiga orang penjaga yang mukanya juga mengerikan sudah bangkit dan menghampirinya, sedangkan si muka merah dengan mengangkat tangannya ke arah muka Mei Lan terus membuat gerakan-gerakan dengan jari tangannya.

"Nona... kau minumlah arak itu... minumlah... minum...!" Suaranya mengandung getaran yang amat berpengaruh.

Hampir saja Mei Lan menggerakkan tangan yang memegang cawan itu ke mulutnya. Akan tetapi karena dia sudah teringat dan sadar, dia maklum bahwa suara berpengaruh itu adalah suara musuh yang tidak seharuanya diturut, maka dengan marah dia langsung melemparkan cawan arak itu ke arah si muka merah sambil membentak,

"Minumlah sendiri!"

Si muka merah terkejut, cepat mengelak akan tetapi tetap saja arak yang muncrat dari cawan itu mengenai mukanya. Tiga orang lainnya sudah menubruk maju karena melihat bahwa dara itu sudah mampu melepaskan diri dari ikatan sihir. Akan tetapi kini Mei Lan sudah sadar benar dan dia menggerakkan kaki tangannya menghadapi tiga orang itu.

Kaki dan tangan Mei Lan berukuran kecil saja, namun mengandung tenaga yang sangat dahsyat karena dia menggerakkannya dengan pengerahan tenaga sinkang. Dua orang lantas roboh akibat tamparan kedua tangannya ada pun orang ketiga yang menubruk dari belakangnya, bertemu dengan kaki Mei Lan yang melakukan tendangan sambil memutar tubuh. Kakinya melayang tinggi ke atas, tepat menghantam muka orang ketiga itu.

"Desss... auughhh...!"

Orang itu terpelanting lantas roboh terguling dan Mei Lan melihat betapa tendangannya yang tepat mengenai dagu orang itu membuat topeng orang itu terbuka! Wajah-wajah menyeramkan itu ternyata hanyalah topeng belaka, topeng yang samhat baik buatannya sehingga kalau dipakai hampir tidak terlihat seperti topeng dan di balik topeng itu adalah wajah seorang laki-laki yang biasa saja!

Hal ini membesarkan hati Mei Lan dan dia sudah meloncat ke depan pada waktu melihat si muka merah menyambar sebatang toya kuningan dari sudut kamar. Toya itu langsung memapakinya dan menyambar secepat kilat ke arah leher. Mei Lan menundukkan muka, merendahkan sedikit tubuhnya dan dari bawah tangan kirinya yang dikepal menyambar ke depan, kakinya bergerak maju dan pukulan tangan kiri itu mengarah dada lawan.

Akan tetapi si muka merah itu agaknya pandai juga ilmu silat. Dia cepat-cepat meloncat ke samping dan toyanya kembali telah menyambar ke arah kaki Mei Lan dengan sebuah serampangan yang kuat sekali. Akan tetapi tiba-tiba si muka merah terkejut setengah mati karena dara itu lenyap dari depannya! Dia adalah seorang yang biasa menyamar seperti setan akan tetapi kini dia menjadi ngeri melihat dara itu bisa ‘menghilang’ seperti setan pula!

"Setan muka merah, aku di sini!" Mei Lan mengejek dan memang anak ini pada dasarnya berwatak jenaka. Kini setelah dia betul-betul sadar dan dapat menguasai keadaan, timbul kenakalannya sehingga dia mempermainkan si muka merah atau si topeng merah.

Lawannya menggereng marah, membalik sambil menggerakkan toyanya yang sekarang dimainkan secara cepat, diputar-putar dan secara bertubi-tubi menerjang ke arah Mei Lan yang meloncat dan mengelak ke sana ke mari dengan enak dan mudah saja.

"Sialan!" Mei Lan mengejek. "Kiranya kalian hanya setan-setan palsu saja! Aku tidak mau membunuh kalian hanya karena mengingat bahwa tadi kalian sudah memberi makan dan minum kepadaku. Hayo buka kedok merahmu itu!"

Akan tetapi si muka merah yang menjadi makin marah itu menyerang terus, dan Mei Lan menjadi repot juga. Cepat ia meloncat tinggi ke atas dan seperti tadi, dia hendak melewati kepala lawan. Akan tetapt sekali ini si muka merah sudah maklum bahwa gadis cilik itu lihai sekali ginkang-nya, maka dia sudah mengejarnya dengan sodokan toya dari bawah. Melihat ini, Mei Lan menangkap ujung toya dan kakinya menotok ke bawah.

"Aduhhhhh...!" Si muka merah berteriak, toyanya terlepas dan dia menggunakan kedua tangan untuk menutupi muka karena hidungnya yang tercium ujung kaki kiri Mei Lan telah remuk tulang mudanya sehingga berdarah!

Pada waktu Mei Lan meloncat turun ke bawah dan membalik, ternyata di pintu sudah muncul sembilan orang bertopeng setan dan dipimpin oleh seorang kakek bermuka putih yang cepat berkata, "Tangkap dia dan jangan lukai dia! Pangcu (ketua) menghendaki dia dalam keadaan utuh dan segar!"

Sembilan orang itu menubruk. Mei Lan melawan sekuatnya dan membagi-bagi pukulan akan tetapi karena sembilan orang itu maju berbareng dan meringkusnya, apa lagi kakek muka putih itu lihai sekali dan telah berhasil menotok pundaknya, akhirnya gadis cilik ini dapat diringkus dan dibelenggu kaki tangannya, kemudian digotong keluar dari kamar itu, menuju ke sebuah ruangan yang besar dan dia dibaringkan di atas sebuah dipan kayu.

Mei Lan berusaha mengerahkan tenaga untuk membebaskan diri dari belenggu itu, tetapi sia-sia belaka. Belenggu yang mengikat kedua kaki dan tangannya itu terbuat dari kulit kerbau yang sangat kuat sehingga memaksanya putus sama dengan melukai kulit kaki tangannya. Maka dia bersikap tenang dan memutar leher memandang ke ruangan itu.

Ruangan itu luas sekali dan tak jauh dari situ, di tengah ruangan, dia melihat beberapa orang duduk mengitari meja besar dan bercakap-cakap. Mereka terdiri dari lima orang, agaknya merupakan pimpinan dari perkumpulan manusia setan itu. Kakek tua bermuka putih yang tadi memimpin anak buah menangkapnya juga duduk di situ, bersama dengan tiga orang yang lain menghadap seorang kakek yang membuat Mei Lan menggigil karena merasa ngeri.

Kakek ini memang luar biasa sekali. Tubuhnya bongkok, pada punggungnya ada tonjolan, pakaiannya serba putih dan mukanya luar biasa mengerikan. Kepalanya gundul, matanya hanya tampak putihnya saja, tidak ada manik matanya, hidungnya bengkok dan mulutnya yang tidak bergigi lagi itu kelihatan mengejek. Mukanya sudah penuh dengan keriput dan dia kelihatan sudah tua sekali, terlalu tua untuk hidup! Dan ternyata bahwa kakek gundul ini adalah ketua mereka, karena terdengar kakek bermuka putih bertanya kepadanya.

"Pangcu, apa yang akan kita lakukan terhadap gadis cilik yang liar itu?"

Kakek gundul itu menoleh ke arah Mei Lan dan kembali Mei Lan menggigil. Setelah kakek itu sekarang menoleh sehingga wajahnya kelihatan jelas, benar-benar sangat menjijikkan dan menyeramkan.

Mata itu betul-betul tidak ada hitamnya, putih semua dan bergerak-gerak. Mata dan wajah seperti itu tidak pantas menjadi wajah manusia, pantasnya menjadi wajah setan di neraka! Akan tetapi jangan-jangan dia memakai topeng seperti anak buahnya, pikir Mei Lan.

"Heh-heh, kalian tidak tahu. Bocah seperti inilah yang selalu kucari-cari. Kebetulan sekali kalian menemukan dia di hutan pada saat kita hendak mengadakan upacara sembahyang pada bulan purnama. Selain dia ini seorang perawan yang berdarah bersih, juga tubuhnya sangat terlatih dan hawa murni yang dilatih mengitari tubuhnya membuat darahnya lebih bermanfaat lagi. Tunggu saja kalian malam nanti, beberapa tetes darahnya akan dapat memperkuat tenaga batin kalian dan akan meningkatkan kekuatan sihir kalian."

Mereka tertawa-tawa dengan girang sambil menoleh ke arah Mei Lan. Tentu saja Mei Lan menjadi terkejut dan juga takut sekali ketika mendengar percakapan itu. Mereka itu bukan manusia! Mereka adalah iblis-iblis yang ingin menghisap darahnya!

"Lepaskan aku...!" Mei Lan tiba-tiba menjerit dengan keras.

Lima orang itu bangkit dari bangku mereka dan memandang ke arah Mei Lan yang terus meronta-ronta. Kakek gundul lalu berkata,

"Biarkan dia mengerahkan tenaganya, itu baik sekali untuk memperkuat jalan darahnya sehingga kita akan memperoleh darah segar malam nanti."

Maka makin takutlah hati Mei Lan. Wajah lima orang kakek itu benar-benar menyeramkan sekali, dan membayangkan betapa darahnya akan disedot oleh iblis-iblis ini, dia merasa ngeri sehingga tanpa tertahankan lagi dia menjerit dengan pengerahan khikang-nya. Jerit melengking yang terdengar sampai jauh dan bergema di seluruh bukit.

Ketua itu sangat terkejut dan sekali dia meloncat, tubuhnya sudah melayang dekat Mei Lan, tangan yang kasar dan seperti dipenuhi koreng serta penyakit gatal, kemerahan dan bernanah itu langsung bergerak menotok jalan darah di leher Mei Lan. Seketika gadis itu kehilangan suaranya dan dia memandang penuh kengerian kepada kakek ini, kemudian memejamkan mata karena tidak tahan saking jijiknya.

Kakek itu lalu berjalan kembali ke meja di tengah ruangan sambil berkata, "Malam nanti kumpulkan semua anggota. Sesudah upacara sembahyang kita akan berpesta semeriah mungkin untuk menghormati semua arwah yang kita undang malam nanti. Apakah untuk keperluan hidangan dan lain-lain sudah cukup semua?"

"Sudah, pangcu. Para hartawan di Liong-si-jung sekali ini menyumbang sepuluh ekor babi di samping uang untuk segala keperluan makanan, sedangkan lurah dan hartawan dusun Beng-nam-jung di sebelah utara bukit menyumbangkan uang secukupnya dan lima puluh guci besar arak wangi."

"Bagus... tidak percuma kita melindungi kedua dusun itu," kakek gundul berkata.

Selanjutnya mereka bercakap-cakap mengatur rencana pesta malam nanti, akan tetapi Mei Lan sudah tidak mendengarkan lagi karena gadis ini sibuk dengan kekhawatirannya sendiri. Dia adalah seorang gadis yang pemberani, akan tetapi sekali ini, berada di dalam cengkeraman manusia-manusia seperti iblis itu, dia merasa ngeri dan takut sekali.

Air matanya mengalir dan diam-diam dia menyesal kenapa dia telah meninggalkan rumah ayahnya yang aman dan tenteram. Hatinya kini menjerit-jerit memanggil ayah dan ibunya, dan kenyataan bahwa ibunya bukanlah ibu kandungnya sudah tak teringat lagi pada saat seperti itu. Kalau ada ayahnya dan ibunya, iblis-iblis ini tentu akan dibasmi habis dan dia akan dapat diselamatkan!

"Ayah...! Ibu...! Tolonglah aku... tolonglah...!" hatinya menjerit-jerit karena mulutnya sudah tidak dapat mengeluarkan suara lagi.

Orang-orang macam apakah yang mendirikan perkumpulan seaneh ini? Kakek gundul itu adalah seorang bekas tokoh dari perkumpulan rahasia Pek-lian-kauw. Semua tokoh-tokoh Pek-lian-kauw mempelajari ilmu sihir dan kakek ini tadinya juga merupakan seorang tosu Pek-lian-kauw yang diusir dari perkumpulan kebatinan itu karena dia sudah menyeleweng dari peraturan Pek-lian-kauw dan menggunakan kepandaian demi keuntungan diri pribadi.

Setelah terusir dari Pek-lian-kauw dan tidak diakui lagi, tosu ini lalu menggunduli rambut kepalanya dan ia kemudian menggunakan kepandaian silat dan sihirnya untuk mendirikan perkumpulan baru, perkumpulan kebatinan yang memuja roh-roh dan melatih sihir yang katanya akan membuat batin menjadi kuat, dan dengan bantuan roh-roh itu kelak akan dapat memperoleh tempat yang menyenangkan setelah mati!

Dengan kepandaian silat dan ilmu sihirnya, bekas tokoh Pek-lian-kauw yang kini memakai nama julukan Jeng-hwa Sianjin (Manusia Dewa Beribu Bunga) itu bisa mengelabui rakyat di dusun-dusun sehingga banyaklah yang menjadi murid dan anak buahnya. Banyak pula suami isteri dari dusun-dusun yang suka rela menyumbangkan segala milik mereka untuk mengalami kenikmatan ‘sorga dunia’ di bawah pimpinan kakek yang kini mukanya seperti iblis itu.

Sebenarnya, sebelum dikeluarkan dari Pek-lian-kauw, tokoh ini sudah dihukum oleh para pimpinan Pek-lian-kauw hingga mukanya menjadi rusak, punggungnya bongkok dan dua matanya buta. Namun, berkat kepandaiannya yang tinggi, dia masih dapat menggunakan keburukan mukanya ini sebagai modal sehingga bahkan menimbulkan kepercayaan dari orang-orang yang selalu mengejar keanehan-keanehan di dunia ini.

Sedikit pelajaran sihir dan sulap, juga ilmu silat, membuat para anggotanya makin tunduk dan percaya kepada kakek ini yang kemudian membentuk perkumpulan yang diberi nama Jeng-hwa-pang (Perkumpulan Seribu Bunga). Salah satu di antara beberapa kepercayaan yang disebarkan oleh Jeng-hwa Sianjin adalah bahwa untuk dapat ‘bersahabat’ dengan para roh, setan dan iblis yang kelak akan menjadi pembantu-pembantu mereka, muka para anggota itu harus menggunakan topeng yang seburuk-buruknya, makin buruk makin baik sehingga para iblis dan setan tidak merasa rendah bercampuran dengan manusia-manusia yang mukanya buruk itu.

Inilah sebabnya maka semua anggota yang aktip membantu kakek itu, semua memakai topeng setan dan si ketua sendiri karena memang mukanya sudah buruk, tanpa topeng pun sudah paling jelek dan menakutkan di antara mereka semua. Dan memang sebab terutama yang menggerakkan ketua itu mengeluarkan kepercayaan aneh ini adalah untuk mengangkat harga dirinya yang dirasa menurun karena mukanya yang buruk.

Akan tetapi, bukan hanya karena sekedar menerima ilmu-ilmu sihir dan sulap saja yang telah menarik hati para anggota pembantu dan anggota luar yang terdiri dari orang-orang dusun. Berbondong-bondong mereka datang dan masuk menjadi anggota, bukan hanya sendirian melainkan membawa pula isteri-isteri mereka.

Yang sangat menarik hati mereka adalah setiap kali diadakan pesta pada waktu bulan purnama, pesta yang berlangsung sebulan sekali setelah diadakan upacara sembahyang kepada para roh dan dewa termasuk iblis-iblis yang berkeliaran di permukaan bumi. Pesta itulah yang menarik hati mereka karena dalam saat-saat pesta itu berlangsung, mereka benar-benar merasakan ‘sorga dunia’ yang amat luar biasa.

Pesta yang bagi orang-orang biasa tentunya dianggap mesum dan kotor, akan tetapi bagi mereka yang melakukan semua itu di luar kesadaran mereka akibat mereka telah berada di bawah pengaruh sihir mukjijat, sama sekali bukan mesum dan kotor, tetapi merupakan tanda betapa roh-roh itu benar-benar telah menjadi sahabat-sahabat mereka, dan merasa sebagai jaminan untuk kelak setelah mereka pun menjadi roh-roh tanpa jasmani lagi.

Di dalam pesta itu, setelah mereka semua berada dalam keadaan tidak sadar, roh-roh itu ‘meminjam’ tubuh mereka untuk bersenang-senang. Maka terjadilah kemesuman diantara mereka, di tempat terbuka sehingga terjadi permainan cinta yang kotor, bertukar isteri dan suami begitu saja tanpa ada yang merasa tersinggung, tanpa ada rasa malu karena yang melakukan itu adalah ‘roh-roh’ yang bersenang-senang. Mereka itu hanya ‘meminjamkan’ tubuh mereka saja untuk menyenangkan roh-roh dan setan-setan itu agar kelak para roh dan setan suka membantu mereka sesudah mereka meninggal dunia!

Malam itu bulan purnama muncul dengan cerahnya, tanpa ada awan yang menghalang, dan cahayanya sejuk menerangi seluruh ruangan terbuka yang menjadi tempat pesta dari perkumpulan Jeng-hwa-pang itu. Mei Lan masih terikat kaki tangannya dan sekarang dia dibaringkan terlentang di atas dipan yang diletakkan di pinggir lapangan terbuka itu.

Ketua Jeng-hwa-pang telah duduk di atas sebuah kursi, tersenyum-senyum dan wajahnya yang putih pucat itu bersinar-sinar, kelihatan girang sekali, akan tetapi dalam pandangan Mei Lan kelihatan makin mengerikan. Para pembantu kakek itu, si kakek muka putih dan beberapa belas orang yang mukanya bermacam-macam warnanya, sudah hadir pula di situ, jumlah mereka ada tujuh belas orang. Ada beberapa orang yang memukul tambur dan canang, dan sebagian lagi dari mereka membereskan meja-meja yang penuh dengan hidangan dan minuman arak.

Dari luar datanglah berbondong-bondong anggota-anggota luar, yaitu para penduduk dua buah dusun di selatan dan di utara bukit, yaitu dusun Liong-si-jung di selatan dan dusun Beng-nam-jung di utara. Tentu saja tidak semua penduduk merasa tertarik dan memasuki perkumpulan kebatinan ini, akan tetapi mereka yang tidak setuju tidak berani menentang sesudah tahu bahwa Jeng-hwa-pang yang hanya terdiri dari belasan orang pimpinan itu ternyata memiliki ketua yang sangat lihai. Lebih-lebih lagi setelah para penjahat di kedua dusun itu semuanya ditundukkan oleh Jeng-hwa-pang, maka tidak ada orang yang berani menentangnya.

Lebih dari tiga puluh pasang suami isteri, dan sebagian besar masih muda-muda karena orang-orang yang terlalu tua tak diperkenankan menjadi anggota, kini berbondong datang. Muka mereka semua tertutup topeng sehingga mereka itu tidak saling mengenal dan hal ini pun merupakan akal dari Jeng-hwa Sianjin karena dengan muka bertopeng, mereka dapat melakukan perbuatan mesum tanpa malu-malu atau takut-takut akan dikenal oleh tetangga atau teman-teman sedusun mereka!

Kalau pesta yang gila sudah memuncak dan tidak ada lagi tubuh yang tertutup pakaian, sedangkan semua wajah tersembunyi di balik topeng yang sama anehnya, siapakah yang akan saling mengenal? Biarkan para ‘roh’ yang menguasai mereka dan memilih pasangan masing-masing!

Dan dalam kesempatan itu, tentu saja ketujuh belas anggota pembantu Jeng-hwa Sianjin kebagian pasangan dalam pesta gila ini sebab mereka semua akan melakukan perbuatan mesum secara bergantian dan berapa kali saja sepuasnya hati mereka. Hanya Jeng-hwa Sianjin yang tidak ikut-ikut dalam pasta mesum ini, karena dia sendiri sudah tidak tertarik lagi melakukan kemesuman itu, lebih senang menonton sambil memanfaatkan keadaan itu untuk mengumpulkan hawa mukjijat dari semua kemesuman yang tiada taranya itu, di mana membubung tinggi hawa-hawa mukjijat dari kemaksiatan yang dapat ditampungnya dan dipergunakan untuk memperkuat ilmu hitamnya.

Sesudah semua orang berkumpul dan duduk bersila di atas lantai yang luas itu, semua menghadap ke arah Jeng-hwa Sianjin yang duduk di atas bangkunya, kakek gundul ini bangkit berdiri dan mengangkat kedua lengannya ke atas. Berhentilah semua suara, para pemukul tambur dan canang juga berhenti dan mereka semua menekuk tubuh ke depan memberi hormat kepada ketua mereka yang sekarang berdiri dengan punggung bongkok seperti iblis itu.

Mei Lan menoleh lantas memandang dengan jantung berdebar penuh rasa ngeri. Kakek gundul itu mengucapkan kata-kata yang tidak dimengertinya, yang merupakan kata-kata rahasia perkumpulan itu sebagai isyarat kepada para anggota untuk bersembahyang atau memuja kepada dewa bulan.

Kini semua orang mengangkat kedua lengan dengan tangan terbuka dan telapak tangan menghadap bulan purnama, kemudian mereka semua mengeluarkan nyanyian yang aneh dan pendek, dengan jari-jari tangan digerak-gerakkan.

Mei Lan terbelalak memandang jari-jari tangan yang menyeramkan itu dan melirik ke arah bulan. Kebetulan ada awan putih lewat di bawah bulan dan entah kenapa pemandangan ini menjadi amat menyeramkan, seolah-olah awan yang berbentuk aneh itu muncul tidak sewajarnya, seolah ada hubungannya dengan gerakan jari-jari tangan dan suara nyanyian pujian itu!

Suasana menjadi penuh hikmat dan orang-orang yang berlutut sambil bernyanyi memuja bulan itu mulai seperti orang-orang kesurupan, tubuh mereka mulai menggigil dan jari-jari tangan mereka bagaikah hidup di luar kekuasaan mereka. Wajah-wajah bertopeng yang sangat menyeramkan menambah suasana menjadi makin aneh.

Sang ketua menurunkan kedua lengannya sambil berseru keras dan semua orang kini juga menurunkan lengan mereka, kini kembali menghadap dan memandang kakek gundul itu.

"Anak-anakku semua...!" Suara kakek itu halus dan perlahan, namun karena dikeluarkan dengan dorongan tenaga khikang maka terdengar jelas oleh mereka semua dan suara itu menjadi penuh kekuatan yang bergetar.

"Pada malam hari ini kita semua patut bergembira karena malam ini semua roh-roh halus dan para dewa telah menurunkan berkahnya yang berlimpah kepada kita. Tandanya, lihat betapa dewi bulan tersenyum ramah kepada kita dan kedua, roh-roh halus yang mencintai kita malam ini sudah sengaja mengirim seorang anak dara yang berdarah murni kepada kita."

Kakek itu menuding ke arah Mei Lan sehingga semua mata memandang kepada gadis ini. Banyak di antara mereka, terutama yang pria, segera bersorak gembira. Akan tetapi ada beberapa orang, sebagian besar wanita, kelihatan meragu dan memandang dengan mata mengandung kegelisahan.

"Anak-anakku yang tercinta, harap kalian jangan khawatir." Jeng-hwa Sianjin yang entah bagaimana dengan kedua matanya yang seperti buta itu bisa mengerti akan kekhawatiran ini, berkata pula. "Roh-roh halus yang menjadi sahabat-sahabat kita selalu senang dengan korban, dan sekali ini mereka telah memilih sendiri korban yang berupa dara cantik jelita dan darahnya murni ini. Darah anak ini akan mengangkat kalian setingkat lebih tinggi dan lebih dekat dengan roh-roh halus yang malam ini pasti akan berdatangan dengan rasa bahagia."

"Akan tetapi saya… saya takut dengan pembunuhan..." Terdengar suara seorang wanita di antara mereka itu.

"Saya juga takut..." Dan dua tiga orang wanita lagi mengeluarkan suaranya yang semua menyatakan ngeri dan takut.

Jeng-hwa Sianjin tertawa dan mengangkat kedua lengannya ke atas. "Apa artinya mati dan hidup bagi roh-roh halus dan bagi kita yang telah bersahabat baik dengan mereka? Ahh, apakah selama ini menerima ajaran-ajaranku kalian masih belum mengerti? Tak ada yang membunuh atau dibunuh... anak dara ini hanya menyumbangkan darahnya kepada kita. Andai kata dia kemudian menjadi roh halus juga, jasanya sangat besar dan dia akan memperoleh tempat baik dan kelak juga akan menjadi sahabat kita di antara roh-roh halus lainnya. Nah, bersyukurlah untuk kemurahan roh-roh halus itu!"

Tujuh belas orang anak buah Jeng-hwa Sianjin bersorak dan segera diikuti oleh mereka semua. Agaknya jalan pikiran orang-orang dusun itu sudah begitu dikuasai oleh Jeng-hwa Sianjin sehingga apa pun yang diucapkan oleh kakek itu mudah saja mereka percaya dan telan bulat-bulat.

"Sekarang marilah kita mulai dengan mengundang roh-roh yang kita cintai untuk berpesta malam ini."

Ucapan kakek ini disambut dengan sorak gembira oleh mereka semua. Dengan bantuan beberapa orang anggota dalam, kakek itu lalu memasang lilin di empat penjuru sebuah meja yang sudah dipersiapkan, kemudian memasang dupa dan bersembahyang. Setelah menaruh hio (dupa) di atas tempat dupa di meja itu, delapan orang pembantunya duduk mengelilingi meja dan menaruh tangan mereka di atas meja.

Kakek gundul itu membaca mantera berulang-ulang, mengacungkan kedua tangannya ke atas dan delapan orang pembantunya itu memejamkan mata. Tak lama kemudian, meja itu mulai bergerak-gerak, keempat kakinya bergetar dan perlahan-lahan mulai terangkat dari atas lantai!

Seorang pembantu lain, kakek berambut dan bermuka pucat yang merupakan pembantu utama dari Jeng-hwa Sianjin, cepat maju sambil membawa sebuah keranjang yang telah diperlengkapi seperti kalau orang bermain jailangkung. Keranjang itu telah dipasangi kayu melintang seperti dua lengan, diberi baju dan pada tengahnya dipasangi sebatang pensil bulu.

Jeng-hwa Sianjin mengambil keranjang ini dan meletakkan keranjang di atas meja yang sudah bergerak-gerak itu, lalu dia menyalakan dupa, bersembahyang dan menancapkan dupa pada bagian atas keranjang. Dua orang pembantu maju memegangi keranjang dari kanan kiri dan sesudah mereka membaca mantera, keranjang itu pun mulai bergoyang-goyang!

Para anggota memandang semua ini dengan sinar mata penuh takjub dan kagum, dan kini mereka sudah diperbolehkan maju seorang demi seorang untuk minta kepada setan keranjang itu memanggilkan roh dari seorang yang mereka cintai, yaitu orang-orang yang telah mati. Ada yang memanggil roh ayahnya, ibunya atau saudara atau kawan-kawan mereka yang sudah mati. Setiap kali ada seorang anggota memanggil roh, keranjang itu bergerak-gerak, pensil di tengahnya turut bergerak dan setelah dicelupkan tinta lalu pensil itu menuliskan sebuah nama, yaitu nama roh orang yang dipanggil, ke atas kain putih yang sudah disediakan di depannya!

Sekarang berpuluh-puluh roh halus telah dipanggil dan mulailah ada yang kesurupan. Ada yang tiba-tiba saja jatuh dan berkelojotan, ada yang tertawa-tawa, dan tak lama kemudian keadaan di situ menjadi amat menyeramkan bagi Mei Lan yang semenjak tadi menonton sambil terlentang. Semua orang itu telah kesurupan atau kemasukan roh! Kacau-balau di situ, tingkah laku mereka seperti orang-orang gila.

"Sahabat-sahabat roh halus yang hadir dipersilakan untuk menikmati hidangan!" terdengar Jeng-hwa Sianjin berseru dan mulailah para anggota itu menyerbu hidangan-hidangan di atas meja-meja tadi dengan tingkah laku kasar, seolah-olah mereka itu sudah lama sekali tidak pernah makan. Mereka makan dengan lahap, menuang arak ke dalam mulut dan tempat itu menjadi kacau tidak karuan.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring seorang laki-laki. "Penjahat-penjahat keji, bebaskan gadis itu!"

Entah dari mana datangnya, tahu-tahu muncul seorang pemuda yang gerakannya gagah perkasa, berpakaian sederhana berwarna kuning, dan pemuda ini langsung melangkah ke arah Mei Lan yang terikat di atas dipan.

"Berhenti!" Tiba-tiba para pembantu Jeng-hwa Sianjin bergerak dan sudah menghadang di depan pemuda itu. Delapan orang sudah mengurungnya dipimpin oleh kakek berambut putih, karena para pembantu yang lainnya masih berada di sekeliling meja tadi dalam keadaan tidak sadar.

"Siapakah engkau berani mengotori tempat upacara kami yang suci ini?" Bentak kakek berambut putih tadi sambil memandang dengan mata melotot kepada pemuda itu.

"Aku siapa bukanlah soal penting. Akan tetapi kalian telah menawan seorang gadis yang tidak berdosa dan tadi aku mendengar bahwa dia hendak dijadikan korban dalam upacara sembahyang setan ini. Segera lepaskan dia, kalau tidak terpaksa aku akan turun tangan dan membasmi perkumpulan setan ini!"

"Tangkap dia!" Tiba-tiba Jeng-hwa Sianjin yang sejak tadi hanya menonton, kini berteriak marah.

Delapan orang itu lalu menubruk maju, akan tetapi berturut-turut terdengar suara mereka mengaduh dan tampaklah tubuh mereka terlempar ke belakang ketika pemuda itu sudah menggerakkan kaki tangannya. Cepat dan kuat bukan main gerakannya sehingga dalam segebrakan saja delapan orang itu semuanya sudah mendapat bagian pukulan mau pun tendangan. Kemudian dia meloncat mendekati dipan di mana Mei Lan rebah terlentang.

"Bocah lancang...!" Terdengar suara kakek berambut putih dan tubuhnya menerjang maju.

Mendengar datangnya angin pukulan yang dahsyat juga, pemuda itu langsung membalik, lalu menggunakan tangan menangkis pukulan kakek itu.

"Dukkkk!"

Kakek itu terkejut bukan main karena tangan itu kuat sekali, dan si pemuda sudah cepat menggerakkan kaki menendang, akan tetapi berhasil ditangkis pula oleh si kakek rambut putih.

Sementara itu, delapan orang yang tadi roboh sudah bangun kembali dan bahkan mereka yang tadi bertugas memanggil roh telah disadarkan oleh ketua mereka dan sekarang ikut mengepung pemuda itu. Bahkan mereka telah memegang senjata masing-masing dengan sikap mengancam. Anehnya, para penduduk dusun laki-laki dan wanita melihat ini seperti tidak peduli atau tidak melihat saja, dan mereka itu masih makan minum dengan gembira, tetap dengan sikap kasar seperti orang-orang yang tidak waras lagi otaknya.

"Tahan... jangan bunuh dia...!" Tiba-tiba Jeng-hwa Sianjin berseru dan dengan beberapa loncatan saja dia sudah tiba di tempat itu, membuka kepungan dan menghadapi pemuda itu.

Sejenak kedua orang itu saling pandang dan jelas bahwa wajah kakek itu telah membuat si pemuda perkasa menjadi ngeri dan jijik.

"Orang muda, aku adalah Jeng-hwa Sianjin, ketua dari Jeng-hwa-pang yang pada saat ini sedang mengadakan upacara sembahyangan. Siapakah engkau orang muda yang berani mengganggu upacara suci kami?" tanyanya, suaranya halus dan penuh wibawa.

"Namaku Tio Sun dan aku kebetulan saja lewat di tempat ini. Pangcu. Aku sama sekali tak ingin mencampuri urusan orang lain, apa lagi mengganggu upacara sembahyanganmu betapa pun anehnya hal itu. Akan tetapi melihat bahwa engkau telah menawan seorang gadis, tentu saja aku tidak dapat mendiamkannya saja dan aku menuntut agar gadis ini dibebaskan sekarang juga!"

"Ha-ha-ha-ha, engkau tidak tahu, orang muda. Ehh, Tio Sun, ketahuilah bahwa gadis ini memang dipilih oleh para roh halus untuk menjadi korban, dan engkau sendiri, Tio Sun, kedatanganmu ini adalah atas kehendak roh-roh halus yang datang sebagai undangan kami malam ini. Engkau adalah seorang pemuda perkasa, seorang perjaka murni yang tentu akan menggembirakan roh-roh wanita yang hadir pada malam ini."

Pemuda itu mengerutkan kedua alisnya yang tebal dan memandang tajam. "Apa... apa maksudmu...?" Dia bertanya bingung dan melihat kakek itu kini menggerakkan sepasang tangan ke atas, dengan jari-jari tangan bergerak cepat sambil mulutnya berkemak-kemik, dia bertanya lagi, "Apa... apa yang kau lakukan itu...?"

Pemuda itu boleh jadi seorang yang gagah perkasa dan berkepandaian tinggi, akan tetapi agaknya dia belum berpengalaman menghadapi ahli-ahli sihir seperti Jeng-hwa Sianjin ini. Tanpa disadarinya, perhatiannya itu membuat dia terjebak ke dalam perangkap kakek lihai itu.

"Tio Sun... berlututlah... engkau adalah pemuda pilihan roh-roh halus... berlututlah, karena engkau tak mungkin melawan kekuatan roh-roh halus yang memancar melalui sinar bulan purnama... berlututlah engkau...!"

Sungguh luar biasa sekali. Pemuda itu menjatuhkan dirinya berlutut! Melihat ini, Mei Lan yang tadinya sudah merasa girang sekali karena ada orang datang hendak menolongnya, tiba-tiba menjerit,

"Jangaaannn...!" Akan tetapi terlambat karena pemuda itu telah tunduk dan dicengkeram kekuatan gaib yang pada saat itu memenuhi suasana tempat itu.

"Tio Sun, engkau tidak akan melawan, engkau telah dipilih untuk menyenangkan hati para roh halus. Engkau layani mereka bersenang-senang dan engkau tidak ingat apa-apa lagi kecuali hanya menjadi pelayan mereka..." Suara ketua yang berkepala gundul itu penuh getaran. "Engkau mengerti...?"

Tio Sun yang masih berlutut menjawab dengan anggukan, "Aku mengerti..."

Jeng-hwa Sianjin tertawa dan meninggalkan Tio Sun yang masih berlutut di tempat itu. "Dia tidak berbahaya lagi dan akan menambah kemeriahan pesta nanti," katanya kepada anak buahnya. Pesta makan minum dilanjutkan lagi sampai habis semua masakan dan minuman di atas meja.

Atas isyarat ketua gundul itu, dua orang anak buahnya menabuh tambur dan canang, dan dengan mata terbelalak Mei Lan melihat mereka semua kini bangkit lantas menari-nari! Tarian lenggak-lenggok tidak karuan, hanya mengikuti irama tambur dan canang, akan tetapi makin lama mereka semakin bersemangat menari-nari, dan sebagian besar menari dengan mata terpejam.

Kemudian mulailah baju-baju beterbangan karena mereka itu mulai menanggalkan baju mereka sambil terus menari dan terdengar suara ketawa cekikikan ketika beberapa orang wanita yang hampir telanjang menghampiri Tio Sun yang masih berlutut, kemudian lima enam orang wanita itu sambil tertawa-tawa cekikikan mengeroyok pemuda ini, ada yang menciumi, memeluk dan ada yang mulai merenggut-renggut pakaian pemuda itu.

Dan yang lain-lain juga sudah memilih pasangan masing-masing sehingga terjadilah hal yang mengerikan di tempat itu. Mei Lan tak kuat memandang terus karena mereka itu ada yang mulai menanggalkan seluruh pakaiannya, bertelanjang bulat tanpa malu-malu lagi dan di atas semua kebisingan suara mereka, terdengar suara ketawa Jeng-hwa Sianjin!

"Siancai... siancai... betapa kotornya tempat ini...! Hai manusia-manusia tersesat, ingatlah akan kemanusiaan kalian...!" Ucapan yang tiba-tiba terdengar ini disusul pekik melengking yang amat dahsyat, yang mengejutkan semua orang bahkan membuat banyak di antara mereka yang roboh terguling seperti disambar petir.

Tio Sun juga sangat terkejut dan lebih kaget lagi ketika baru sekarang dia tersadar akan keadaannya, di-‘keroyok’ oleh enam orang wanita yang setengah telanjang, bahkan ada yang telanjang bulat sama sekali, sedangkan dia sendiri pun hampir telanjang.

"Aihhhh...!" Dia berteriak keras dan enam orang wanita itu terjengkang ke kanan kiri ketika pemuda itu meronta dan mendorong, kemudian sambil membereskan pakaiannya, Tio Sun meloncat dan menyambar pedangnya yang tadi menggeletak tak jauh dari situ.

Ketika pemuda itu menoleh ke arah gadis yang tadi terbelenggu di atas dipan, dia melihat seorang kakek tua renta berpakaian putih dengan rambut, kumis dan jenggotnya sudah putih semua, menghampiri dipan itu. Dia dapat menduga bahwa tentu kakek aneh inilah yang tadi mengeluarkan teriakan-teriakan dahsyat itu. Dia melihat betapa kakek gundul Jeng-hwa Sianjin mengeluarkan seruan keras sekali, segera menerjang kakek berpakaian putih sambil menggerakkan tongkat ular di tangannya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner