DEWI MAUT : JILID-17


Muka Yalima menjadi merah sekali akan tetapi karena dia sudah bertekad untuk mencari Bun Houw, maka dengan suara lancar namun agak kaku, dia lalu menceritakan tentang keadaan dirinya, betapa dia dengan Bun Houw sudah saling mencinta, betapa Bun Houw menolong dia ketika dia hendak diserahkan kepada pangeran di Lhasa oleh ayahnya dan betapa sesudah Bun Houw pulang, kembali dia hendak dipaksa ayahnya untuk menjadi selir pangeran di Lhasa. Maka dia lalu minggat dan ditolong oleh Go-bi Sin-kouw, betapa kemudian dia hampir diperkosa oleh orang jahat dan ditolong oleh In Hong.

"Demikianlah, locianpwe, karena satu-satunya orang di dunia ini yang saya percaya dan saya cinta ialah Houw-koko seorang, maka saya berusaha untuk menemuinya dan untuk menghambakan diri selama hidup saya kepadanya," akhirnya Yalima menutup ceritanya dengan kata-kata yang diucapkan dengan suara penuh harapan ini.

Sie Biauw Eng mengerutkan alisnya, hatinya amat kecewa dan tidak senang sama sekali mendengar semua itu. Tidak jadi bermantukan Yap In Hong tak apa-apa baginya, bahkan menyaksikan sikap nona itu dia pun tidak sudi lagi untuk mengambilnya sebagai mantu, akan tetapi kalau puteranya harus berjodoh dengan gadis Tibet ini, tanpa campur tangan dia dan suaminya, sungguh dia merasa terhina dan tidak setuju!

Akan tetapi, Cia Keng Hong yang bijaksana melihat betapa Yalima benar-benar setia dan mencinta Bun Houw, sungguh pun gadis itu masih terlampau muda dan dia sendiri bukan berarti suka mempunyai mantu gadis Tibet ini. Akan tetapi untuk menyudahi urusan yang bisa menimbulkan keruwetan dengan In Hong yang sikapnya amat keras itu, dia berkata kepada In Hong,

"Nona Yap In Hong, urusan jodoh adalah urusan pribadi keluarga kami. Hubungan antara kami dengan nona hanyalah mengenai jodoh antara nona dan putera kami. Karena jelas bahwa nona tidak menerima ikatan jodoh itu, maka mulai saat ini rencana perjodohan itu kita batalkan saja. Ada pun mengenai jodoh putera kami selanjutnya, tidak ada orang lain yang boleh mengaturnya. Harap saja engkau maklum akan hal ini!" Suara Cia Keng Hong ketika mengatakan kalimat terakhir itu bernada keras dan sejenak dia dan Yap In Hong saling beradu pandang mata.

Akhirnya In Hong menundukkan matanya, tidak tahan menghadapi sinar mata yang tajam dan penuh wibawa itu dan dia berkata, "Saya tidak hendak mencampuri perjodohan orang lain, akan tetapi bagaimana dengan adik Yalima ini? Sebagai sesama wanita saya harus memperhatikan nasib dirinya yang terlunta-lunta karena mencari putera Locianpwe."

"Itu pun adalah urusan kami sendiri. Sebagai sahabat putera kami tentu saja Yalima kami terima sebagai tamu dan biarlah dia menunggu di sini sampai putera kami pulang. Saya ulangi lagi, hal jodoh di antara mereka adalah urusan kami sekeluarga sendiri!"

Yap In Hong mengerutkan alisnya, akan tetapi dia maklum bahwa kalau dia bersikeras, berarti dialah yang tidak benar, maka dia hanya mengangguk pendek dan berkata, "Baik, saya akan pergi sekarang. Saya percaya bahwa adik Yalima berada di tangan keluarga baik-baik. Akan tetapi kelak saya pasti akan menyelidiki tentang nasibnya di sini. Selamat tinggal dan maafkan saya, Locianpwe." Sesudah berkata demikian, Yap In Hong segera membalikkan tubuhnya pergi dari situ dengan sikap angkuh.

"Setan...!" dengan pedang terhunus Giok Keng hendak mengejar.

Juga Sie Biauw Eng memandang dengan kemarahan meluap. "Memang bocah itu kurang ajar benar!"

Akan tetapi Cia Keng Hong meloncat dan menghadang mereka. "Ingat, dia adalah puteri mendiang Yap Cong San dan Gui Yan Cu, dan sikapnya seperti itu bukanlah pembawaan wataknya. Tidak mungkin keturunan mereka berwatak demikian. Dia seperti itu tentulah karena gemblengan gurunya yang sejak kecil diikutinya. Sungguh kasihan dia..."

Yalima yang melihat ini semua menjadi bingung. Dia merasa kehilangan saat ditinggalkan In Hong, akan tetapi dia pun tidak mau meninggalkan orang-orang tua yang dia tahu adalah ayah dan ibu Bun Houw itu. "Enci In Hong adalah seorang yang amat baik budi, dia telah melawan dan menentang Go-bi Sin-kouw dan teman-temannya yang jahat untuk menolong saya. Memang sikapnya dingin, akan tetapi hatinya terbuat dari emas..."

Ucapan Yalima ini diterima oleh Cia Keng Hong dengan mengangguk-angguk, akan tetapi Sie Biauw Eng dan Cia Giok Keng tidak setuju sungguh pun mereka hanya menyimpan rasa mendongkol dan tak senangnya di dalam hati saja.

"Ayah dan Ibu, saya pun hendak mohon diri untuk pergi sekarang juga!" Tiba-tiba Giok Keng berkata.

Ayah dan ibunya terkejut, cepat menoleh dan memandang penuh selidik. "Keng-ji, sudah kukatakan bahwa tidak perlu engkau melanjutkan permusuhanmu yang tidak ada artinya itu terhadap In Hong. Dia marah kepada Bun Houw karena mendengar bahwa Bun Houw sudah mencinta gadis lain, hal itu adalah lumrah!" Ayahnya menegur, menyangka bahwa puterinya hendak mengejar In Hong, padahal dia tahu benar bahwa puterinya itu sama sekali bukan lawan In Hong yang dia tahu amat lihai.

"Tidak, Ayah. Aku bukan hendak mengejar dan memusuhi In Hong, tetapi aku ingin pergi melakukan penyelidikan dan berusaha menangkap pembunuh isteri Kun Liong. Sebelum pembunuhnya tertangkap, hatiku takkan merasa lega dan hidupku selalu akan menderita batin. Seakan-akan roh suamiku mendesak kepadaku untuk mencari pembunuh itu, Ayah dan Ibu. Maka, boleh atau tidak, aku harus pergi mencari pembunuh Hong Ing, karena hanya dengan tertangkapnya pembunuh itulah maka nama keluarga kita akan tercuci dari noda."

Sie Biauw Eng memegang lengan puterinya sambil terisak. "Engkau benar, anakku, dan andai kata ayahmu memperbolehkan, aku akan menemanimu."

"Tidak! Biarkan dia pergi sendiri. Dan aku pun setuju dengan tekadmu itu, Keng-ji. Bahkan aku bangga dengan keputusanmu itu, karena engkau pun turut bertanggung jawab atas kematian Hong Ing."

"Aku hanya titip... titip anak-anakku... ibu..."

Kedua orang wanita itu saling berpelukan. "Jangan khawatir, anakku. Aku akan menjaga cucu-cucuku...," kata Sie Biauw Eng.

"Keng-ji, niatmu itu baik sekali. Akan tetapi ingatlah baik-baik akan pesanku ini. Suamimu sudah mati dan tidak ada orang lain yang membunuhnya. Kun Liong dan Kok Beng Lama hanya menuntut keadilan dan sama sekali tidak memaksa suamimu membunuh diri. Oleh karena itu, kalau engkau kelak menaruh dendam dan memusuhi mereka, hal itu berarti bahwa engkau sudah menanam bibit permusuhan yang akan mendatangkan akibat yang panjang."

"Aku mengerti, ayah."

"Dan In Hong, dia pun bukan musuhmu. Dia bersikap marah-marah kepada Bun Houw karena menganggap Bun Houw menyia-nyiakan Yalima dan mempermainkannya. Tidak ada permusuhan pribadi antara dia dan kita. Jangan engkau memusuhi dia pula."

Agak berat kini Giok Keng menjawab, akan tetapi akhirnya keluar juga dari bibirnya. "Baik, Ayah."

Maka berangkatlah Giok Keng diantar tangis ibunya yang merasa kasihan sekali kepada puterinya itu. Akan tetapi kepergian Giok Keng memang perlu dan penting sekali, bukan hanya untuk menebus kesalahan tindakannya akan tetapi juga untuk mencuci bersih noda yang mengotori keharuman nama keluarga mereka.

Tak lama, hanya dua hari setelah Giok Keng pergi, muncul Hong Khi Hoatsu, guru dari Lie Kong Tek di Cin-ling-pai! Kakek yang biasanya gembira dan jenaka ini telah mengunjungi muridnya di Sin-yang, akan tetapi mendengar dari para tetangga bahwa semua keluarga pergi ke Cin-ling-pai, maka dia cepat menyusul ke Cin-ling-pai.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan duka hatinya ketika dia mendengar akan kematian muridnya! Kakek yang usianya sudah tujuh puluh tiga tahun ini menjatuhkan diri di atas kursi, mukanya pucat dan seperti kehilangan semangatnya pada saat dia mendengarkan penuturan Cia Keng Hong yang menceritakan semua dengan sejelas-jelasnya sehingga mengakibatkan Lie Kong Tek membunuh diri untuk mewakili isterinya yang disangka telah membunuh orang itu.

Namun, sebagai seorang ahli kebatinan yang bertingkat tinggi, akhirnya kakek ini menarik napas panjang dan menggoyangkan pundak.

"Aihh, begitulah hidup manusia! Ribut-ribut di kala masih hidup, kalau sudah mati habislah semuanya! Kematian datang tanpa disangka-sangka... ahhh, keadaanmu jauh lebih hebat dari pada penderitaan batinku mendengar kematian muridku yang seperti anakku sendiri, Cia-taihiap. Baru saja delapan orang muridmu tewas, pusaka dicuri orang, kini puterimu kehilangan suami secara menyedihkan. Ahhh, di mana adanya cucu-cucuku?"

Ketika Lie Seng dan Lie Ciauw Si yang diberi tahu datang berlarian lalu menangis sambil memeluk kakek yang telah mereka kenal baik dan yang mereka sayang karena Hong Khi Hoatsu juga sering sekali mengunjungi mereka, amat menyayang mereka dan kakek yang lucu ini pandai menghibur mereka, tak dapat kakek itu menahan keharuan hatinya dan air matanya bertitik di atas kedua pipinya yang penuh keriput!

Beberapa hari kemudian, Hong Khi Hoatsu minta dengan sangat kepada Cia Keng Hong supaya diperkenankan membawa Lie Seng bersamanya, kembali ke Sin-yang menempati rumah muridnya itu sampai Giok Keng kembali. Dia merasa kesunyian setelah muridnya meninggal dan menantunya pergi, padahal kakek yang suka merantau ini menganggap rumah muridnya di Sin-yang sebagai tempat peristirahatan terakhir pada hari tuanya. Dia ingin ditemani oleh cucunya yang disayangnya itu.

Cia Keng Hong maklum akan penderitaan kakek itu. Setelah bersepakat dengan isterinya dan melihat betapa Lie Seng juga suka ikut bersama kakek itu, maka mereka menyetujui dan berangkatlah Hong Khi Hoatsu bersama Lie Seng kembali ke Sin-yang…..

********************

Suasana berkabung masih meliputi Cin-ling-pai. Sejak terjadi peristiwa yang bertubi-tubi menimpa keluarganya itu, Cia Keng Hong lebih sering berada di dalam kamarnya untuk bersemedhi.

Kalau dia teringat akan nasib yang menimpa suami isteri Yap Cong San dan Gui Yan Cu, dua orang yang paling dikasihinya di samping isteri dan anak-anaknya sendiri, dia merasa terharu dan kasihan sekali. Peristiwa-peristiwa menyedihkan menimpa suami isteri itu, kemudian mereka berdua itu terbunuh musuh-musuh di waktu usia mereka masih muda. Dan sekarang putera mereka juga mengalami nasib yang buruk, kematian isterinya yang tercinta secara tidak wajar karena terbunuh orang dengan menggelap, dan puteri mereka berobah menjadi seorang dara yang walau pun berkepandaian sangat tinggi akan tetapi wataknya dingin dan menyeramkan!

Sie Biauw Eng juga mengalami pukulan batin yang berat, akan tetapi berkat adanya cucunya, Lie Ciauw Si, dia memperoleh hiburan dan setiap hari dia tidak pernah terpisah dari cucunya ini yang digemblengnya sendiri dengan ilmu-ilmu bun (tulis) dan bu (silat). Cin-ling-pai berada dalam keadaan prihatin…..!

********************

Kota Kiang-shi bukan hanya terkenal karena kota itu cukup ramai dengan perdagangan, akan tetapi terutama sekali terkenal karena kota itu merupakan kota tempat hiburan. Ingin mencari wanita-wanita pelacur yang terkenal paling cantik serta pandai melayani kaum pria, golongan paling rendah hingga paling tinggi? Kiang-shi tempatnya! Hendak mengadu peruntungan dengan perjudian sehingga dalam waktu semalam saja seorang jutawan bisa kehabisan seluruh uangnya dan sebaliknya seorang biasa mungkin saja, walau pun agak langka, mendadak menjadi jutawan? Di Kiang-shi pula tempatnya!

"Trak-tak-trak-tak-tak!" terdengar suara berirama yang ditimbulkan dari dua potong bambu yang dijepit di antara jari-jari tangan.

Seorang seniman jalanan sedang menceritakan keadaan kotanya yang tercinta itu dengan sajak-sajak sederhana yang dinyanyikan dengan suara serak dan iramanya dituntun oleh suara tadi, bernyanyi-nyanyi di depan toko-toko dan warung-warung sambil mengharapkan sedekah orang.

Penyanyi-penyanyi jalanan seperti ini kadang-kadang bisa menggambarkan keadaan kota Kiang-shi dengan hidup sekali, bahkan tidak jarang di antara mereka yang memasukkan di dalam nyanyiannya itu cerita-cerita sensasi dan gosip tentang orang-orang tertentu di dalam kota itu sehingga banyak juga orang yang berminat mendengarkan mereka untuk sekedar mengetahui berita apa yang sedang hangat dan yang dapat memancing ketawa sinis mereka hanya dengan mengeluarkan sepotong uang kecil.

Pada malam hari itu, seorang pemuda yang berpakaian sederhana dan berwajah tampan berjalan-jalan menyusuri jalan raya yang dipenuhi orang-orang yang berjalan hilir-mudik di kedua tepi jalan, di mana toko-toko berjajar penuh dengan segala jenis barang dagangan. Sinar-sinar penerangan berpencaran keluar dari toko-toko itu sehingga suasana menjadi meriah dan semua orang yang lalu lalang itu rata-rata berwajah gembira.

Sudah beberapa pekan lamanya pemuda itu yang bukan lain adalah Cia Bun Houw, pergi meninggalkan Cin-ling-san dan pada sore hari itu sampailah dia di kota Kiang-shi dalam penyelidikannya hendak mencari musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Lima Bayangan Dewa yang hanya dia ketahui nama-nama serta julukan mereka akan tetapi sama sekali tidak diketahuinya di mana tempat tinggal mereka itu.

Setiap tokoh kang-ouw yang ditanyai, tidak ada yang tahu dan agaknya mereka itu seperti takut-takut membicarakan tentang mereka, sehingga Bun Houw menduga bahwa andai kata ada yang mengetahui tempat tinggal mereka pun, agaknya dia itu tidak akan berani menceritakan kepadanya. Maka pemuda itu lalu mengambil keputusan untuk menyelidiki dengan cara lain, yaitu dia akan mendekati kaum sesat dan akan masuk sebagai anggota kaum sesat sehingga dia akan dianggap ‘orang dalam’ dan tentu akan lebih mudah untuk menyelidiki mereka.

Tiba-tiba Bun Houw tertarik oleh seorang laki-laki setengah tua yang bernyanyi-nyanyi di depan toko besar di mana banyak berkerumun orang-orang yang mendengarkan nyanyian yang diiringi suara berketraknya bambu-bambu di antara jari-jari tangan orang itu. Bun Houw segera mendekati dan ikut pula mendengarkan.

Suara orang ini cukup merdu dan kata-kata yang keluar dari mulutnya lancar dan jelas sehingga menarik perhatian banyak orang. Seperti para penyanyi jalanan lainnya, orang ini pun menggambarkan keadaan kota Kiang-shi, akan tetapi kata-katanya agak berbeda dengan para penyanyi-penyanyi lainnya yang hanya menghafal sehingga syair yang terus diulang-ulang itu tidak menarik lagi. Orang ini agaknya lain. Dia pandai mencari kata-kata sendiri yang selalu berubah-ubah, jadi bukan hafalan.

Trak-tak, trak-tak, trak-tak-tak…
Kiang-shi kota tersayang
hidup malam dan siang
Kiang-shi di waktu siang
orang-orang berdagang
saling catut dan kemplang
bahkan di waktu malam
berdagang kesenangan
Kiang-shi sebagai sorga
juga mirip neraka
pusat suka dan duka
panggung tangis dan tawa!


Bun Houw tersenyum mendengar syair sederhana yang dinyanyikan orang itu. Dia pun melemparkan sekeping uang tembaga ke dalam topi yang ditelentangkan di atas tanah seperti yang dilakukan oleh para penonton lainnya. Penyanyi ini bernyanyi terus, kini lebih bersemangat. Syairnya lebih bebas, tidak lagi merupakan baris-baris dari tujuh suku kata untuk mengimbangi bunyi iringan suara bambu yang tujuh kali, melainkan kini merupakan syair dan nyanyian bebas yang seperti kata-kata berirama, kadang-kadang diseling suara berketraknya bambu-bambu di jari tangannya.

Isteri anda di rumah cerewet
dan marah?
jangan khawatir, pergilah kepada
rumah merah terpencil
di belakang kuil,
di sana kerling dan senyum manis
dijual murah,
besok pagi ciuman mesra mengiring,
anda pulang dengan saku
dan tulang punggung kering!


Semua orang tertawa mendengar kata-kata yang lucu ini. Bun Houw sendiri belum dapat menangkap dengan jelas arti dari nyanyian itu, dan kalau pun dia ikut tersenyum adalah karena dia mendengar dan melihat orang-orang lain tertawa. Memang suasana di tempat itu sangat menggembirakan.

Bun Houw memandang ke kanan kiri. Dia ingin mencari tempat penginapan dan dia tahu bahwa rumah merah terpencil di belakang kuil, rumah Ciauw-mama itu, di mana kerling dan senyum manis dijual murah, pasti bukanlah merupakan rumah yang dibutuhkan untuk bermalam di malam itu. Akan tetapi sebelum dia meninggalkan tempat itu, dia mendengar lagi orang itu melanjutkan nyanyiannya.

Anda ingin menjadi jutawan?
Pergilah ke Hok-po-koan!
Kalau bintang anda terang
dalam semalam anda menjadi hartawan!
Kalau bintang anda gelap?
Dalam semalam
Menjadi jembel kelaparan!


Kembali semua orang tertawa. Kembali Bun Houw menaruh perhatian ketika penyanyi itu melanjutkan nyanyiannya sesudah tersenyum lebar, menyambut suara ketawa penonton dan pendengarnya.

Akan tetapi hati-hatilah
jangan main gila di Hok-po-koan!
Salah-salah leher bisa putus
disambar sinar pedang setan
belum lagi kalau ketahuan
oleh Lima Bayangan!


Bun Houw terkejut sekali dan dia memandang penyanyi itu lebih teliti. Dia itu orang biasa saja dan kini setelah nyanyiannya habis, dia mengumpulkan kepingan uang tembaga dan berjalan meninggalkan tempat itu, agaknya untuk bernyanyi di lain tempat lagi.

"Twako, perlahan dulu..." Bun Houw menegurnya dari belakang.

Orang itu segera berhenti dan membalikkan tubuhnya, memandang penuh keheranan dan keraguan. Akan tetapi karena yang menegurnya itu hanya seorang pemuda berpakaian biasa dan sederhana, hatinya lega dan dia bertanya apa yang dikehendaki oleh pemuda itu.

"Twako, aku tadi mendengar nyanyianmu yang amat indah dan aku ingin mengundangmu minum arak sambil mengobrol..."

"Ahh, hiante, engkau terlalu memuji. Aku hanya seorang miskin yang..."

"Jangan merendahkan diri, twako. Engkau seorang seniman."

"Aku? Seniman? Ha-ha-ha, jangan mengejek, hiante."

"Marilah, twako. Ataukah engkau memandang rendah padaku sehingga menolak tawaran dan ajakanku?"

"Ahh, mana aku berani? Baiklah, dan terima kasih, hiante."

Mereka lalu memasuki sebuah kedai arak. Bun Houw memesan mi, daging, serta arak. Mereka makan minum dengan lahap dan setelah minum araknya dan mengelus perutnya, orang itu berkata,

"Aihhh, dasar perutku yang malam ini bernasib baik, bertemu dengan seorang dermawan seperti engkau, hiante. Sekarang aku hendak bertanya secara sungguh-sungguh, apakah benar engkau menganggap aku seorang seniman, hiante?"

"Tentu saja! Mengapa tidak? Engkau seorang seniman dan kiraku tidak ada seorang yang akan dapat membantah kenyataan ini," kata Bun Houw, bersungguh-sungguh pula karena dia memang bukan berpura-pura atau menjilat.

"Ahh, kalau saja semua orang mau berpendapat seperti engkau, alangkah menghiburnya pendapat itu. Akan tetapi, orang muda, tidak banyak yang sudi menganggap aku seorang seniman. Apa lagi mereka yang duduk di tempat tinggi, mereka yang menganggap diri mereka kaum cendekiawan, kaum sasterawan, dan para sarjana dan siucai. Mereka itu memandang rendah orang-orang macam kami, bahkan menganggap kami merusak seni, menganggap kami seniman kampungan, picisan dan rendah, yang katanya hanya menjual kesenian belaka, seorang pengemis yang mencari sesuai nasi dengan menjual suara..."

"Itu hanya pendapat orang-orang yang kepalanya besar akan tetapi berisi angin kosong belaka, orang-orang yang menganggap diri sendiri sebagai sepandai-pandainya orang dan sebersih-bersihnya orang. Orang-orang macam inilah yang sangat berbahaya, mereka ini adalah orang-orang sombong yang tinggi hati, dan tidak ada yang lebih bodoh dari pada mereka yang menganggap dirinya sendiri pandai. Tidak ada orang yang lebih kotor dari pada mereka yang menganggap dirinya sendiri bersih."

"Hayaaa...! Sungguh baru sekarang aku mendengar pendapat seperti engkau ini, hiante! Aku hanya penyanyi yang menjual suara..."

"Apa salahnya dengan seorang seniman yang mendapatkan nafkah hidupnya dari karya seninya? Seniman pun manusia biasa yang memerlukan makanan, pakaian dan rumah!"

"Hiante, jika begitu pendapatmu, bagimu apakah artinya kesenian? Apakah kesenian itu?"

"Karya seni adalah suatu karya yang mengandung keindahan keadaan dan macamnya tidak bisa ditentukan oleh manusia, segi-segi keindahannya pun tidak bisa ditentukan dan digariskan, karena kalau sudah digariskan itu bukan seni lagi namanya. Kalau sifat karya seni ditentukan, maka yang menentukan itu ialah orang-orang yang memiliki kecondongan suka atau tidak suka dan memang penilaian tergantung sepenuhnya kepada rasa suka dan tidak suka itu. Alam merupakan seniman yang maha besar dan satu di antara karya seninya adalah hujan. Apakah semua orang menyukai hujan atau membencinya? Belum tentu! Tergantung dari untung rugi yang diakibatkan oleh hujan itu bukan? Nah, karya seni pun demikian. Yang jelas, jika sesuatu mengandung keindahan yang dapat dinikmati oleh segolongan orang, itulah seni. Nyanyianmu tadi banyak yang menikmatinya dan bagi yang menikmatinya tentulah dianggap baik, akan tetapi bagi orang lain mungkin saja dianggap bukan seni bahkan merusak."

Penyanyi itu bangkit berdiri lantas menjura kepada Bun Houw. "Sungguh hebat! Terima kasih sekali, hiante. Engkau masih begini muda akan tetapi pandanganmu mengandung keadilan besar dan sekaligus engkau sudah mengangkat aku dari dasar jurang di mana aku selalu merasa rendah diri dan hina. Kini, aku akan lebih berani lagi mengungkapkan segala keadaan dan kepincangan peri kehidupan manusia di kota Kiang-shi, biarlah aku mewakili semua keadaan yang tidak adil itu dan akan kunyatakan dalam nyanyianku. Kau dengar saja nanti!" Dia bersemangat sekali nampaknya.

"Akan tetapi apa kau tidak takut akan sinar pedang setan dan Lima Bayangan, twako?" Bun Houw kini mengarahkan percakapan kepada tujuan penyelidikannya.

"Heh? Apa maksudmu?" orang itu bertanya.

Bun Houw tersenyum. "Aku tak bermaksud apa-apa, hanya aku teringat tadi engkau juga menyebut-nyebut sinar pedang setan dan Lima Bayangan di dalam nyanyianmu. Bagian-bagian itu belum kumengerti benar. Apa dan siapakah pedang setan di Hok-po-koan itu, twako?"

"Hemm, agaknya engkau bukan orang Kiang-shi..."

"Memang bukan. Aku baru saja memasuki Kiang-shi, maka aku mengharapkan petunjuk darimu, twako."

"Jangan khawatir, hiante. Aku lahir di sini dan aku mengenal semua keadaan di kota yang kucinta ini. Kau boleh bertanya apa saja kepadaku."

"Aku kadang-kadang suka juga bermain judi, twako. Hanya untuk iseng-iseng saja, bukan ingin menjadi jutawan, apa lagi menjadi jembel kelaparan seperti dalam nyanyianmu tadi."

Orang itu tertawa.

"Aku ingin mencoba peruntungan di Hok-po-koan, akan tetapi aku ragu-ragu mendengar nyanyianmu mengenai sinar pedang setan dan Lima Bayangan. Harap kau menjelaskan kepadaku."

"Ahh, itukah?" Penyanyi itu menengok ke kanan kiri, lalu berbisik, "Sebaiknya kita keluar dari sini dan bicara di jalan yang sunyi."

Bun Houw mengangguk, membayar makanan dan mereka lalu berjalan keluar, menuju ke jalan yang sunyi dan meyimpang dari jalan raya itu.

"Pemilik Hok-po-koan adalah seorang bernama Liok Sun dan dia berjuluk Kiam-mo (Setan Pedang). Kabarnya dia berkepandaian tinggi sekali dan karena itu di tempat perjudiannya tidak ada yang berani bermain gila. Bahkan dahulu pernah ada tujuh orang penjahat yang hendak merampas banyak uang di po-koan (tempat perjudian), akan tetapi mereka semua roboh oleh pedang di tangan orang she Liok itu! Di Kiang-shi, nama orang itu terkenal sekali, bahkan para pembesar bersahabat dengannya. Nah, karena itu maka kusinggung dalam nyanyian agar orang yang bermain judi di Hok-po-koan jangan bermain gila."

Bun Houw mengangguk-angguk. "Dan tentang Lima Bayangan itu?" dia bertanya sambil lalu seperti tidak menaruh perhatian khusus.

"Ah, kau tidak tahu, hiante. Pada waktu itu, di dunia kang-ouw timbul kegemparan karena Lima Bayangan..."

"Dewa? Lima Bayangan Dewa kau maksudkan?"

"Ehhh...?" Orang itu memandang Bun Houw dengan mata terbelalak. "Kau... tahu?"

Bun Houw menggelengkan kepala. "Aku hanya mendengar bahwa ada tokoh-tokoh besar muncul di dunia dan disebut Lima Bayangan Dewa! Mengapa kau sebut-sebut mereka di dalam nyanyianmu?"

"Aku hanya sering menengar bahwa Kiam-mo Liok Sun itu suka sekali memamerkan dan menyombongkan di luaran bahwa dia adalah sahabat dari Lima Bayangan Dewa! Semua orang tidak percaya, termasuk pula aku, maka untuk mengejek kesombongannya itu, aku membawa Lima Bayangan dalam nyanyianku."

Bun Houw memandang tajam. "Jadi engkau tidak tahu apa-apa tentang Lima Bayangan Dewa?"

Orang itu menggeleng.

"Dan majikan Hok-po-koan (Tempat Perjudian Mujur) itu bilang bahwa dia sahabat Lima Bayangan Dewa?"

Orang itu mengangguk. "Demikian yang dikatakan orang."

"Banyak terima kasih, twako. Nah, selamat malam dan jangan lupa bahwa engkau adalah seorang seniman tulen dan jangan pedulikan mereka yang mencemoohkanmu. Anggap saja mereka itu anjing-anjing menggonggong."

"Akan tetapi mereka itu kaum sasterawan cabang atas, kaum cendekiawan..."

"Jika begitu mereka itu pun hanya merupakan sekumpulan anjing-anjing bangsawan yang menggonggong belaka dan anjing apa pun, gonggongannya tetap sama saja!" Bun Houw berkata sambil membalikkan tubuh dan pergi meninggalkan penyanyi itu.

Dia langsung mencari keterangan mengenai tempat perjudian Hok-po-koan yang mudah saja dia dapat dari orang yang berlalu-lalang karena semua orang tahu belaka di mana adanya Hok-po-koan itu.

Hok-po-koan adalah sebuah tempat judi terbesar di Kiang-shi. Kebetulan sekali tempat itu berada di dekat sebuah losmen, maka Bun Houw lalu menyewa sebuah kamar di losmen itu. Setelah mandi dan bertukar pakaian yang lebih bersih, pemuda ini langsung pergi ke Hok-po-koan dengan lagak seperti seorang pemuda beruang yang sudah biasa dengan perjudian. Tentu saja sebelumnya dia tidak pernah memasuki tempat judi, apa lagi berjudi.

Dua orang pelayan menyambutnya dengan senyum lebar dibuat-buat dan mempersilakan Bun Houw masuk ke ruangan dalam. Dengan sikap dan lagak seorang kongcu, Bun Houw mengangguk dan memasuki ruangan judi yang dipasangi lampu penerangan yang besar dan banyak itu sehingga keadaan di situ seperti siang hari saja terangnya. Kebisingan di antara kelompok-kelompok tamu yang sedang berjudi itu memenuhi ruangan dan keringat mengalir di wajah-wajah yang penuh ketegangan.

Bun Houw yang selama hidup baru pertama kali ini memasuki tempat seperti itu, dengan jelas dapat melihat keadaan yang tidak nampak oleh mata orang-orang yang sudah biasa berada di situ. Segala macam nafsu perasaan terbayang jelas pada wajah-wajah mereka yang berkumpul di meja-meja judi.

Tawa riang, kegembiraan melihat kemenangan sendiri dan kekalahan orang lain, kegelian hati yang kejam menyaksikan penderitaan orang lain, harapan-harapan besar yang sering terpancar dari mata mereka, keputus asaan yang mulai menyelubungi wajah beberapa orang di antara mereka, kerling-kerling tajam mata yang membayangkan kecerdikan dan kelicikan, kehausan akan uang yang bertumpuk di meja, semua ini seolah-olah menampar mata dan hati Bun Houw.

"Kongcu ingin bermain apa?" Seorang pelayan atau tukang pukul bertanya manis ketika melihat Bun Houw yang baru masuk itu memandang ke kanan kiri, tahu bahwa pemuda ini merupakan seorang tamu baru dan karenanya merupakan makanan lunak.

"Aku... mau melihat-lihat dulu," jawab Bun Houw dan dia menghampiri sebuah meja besar di mana diadakan permainan dadu.

Biar pun selamanya Bun Houw belum pernah melihat perjudian dadu, akan tetapi karena amat mudah, maka baru melihat sebentar saja dia sudah mengerti. Bandar judinya adalah seorang pria pegawai po-koan itu yang bertubuh kurus dan berwajah kekuning-kuningan, matanya tajam dan liar mengerling ke sana-sini, kumisnya kecil panjang kelihatan seperti kumis palsu yang pemasangannya tidak rapi, kedua lengan bajunya digulung sampai ke siku sehingga tampak kedua lengannya yang hanya tulang terbungkus kulit dan jari-jemari tangannya yang panjang dan cekatan.

Bandar ini memegang sebuah mangkok dan di atas meja terdapat dua buah dadu. Setiap dadu yang persegi itu pada enam permukaannya ditulisi nomor satu sampai nomor enam. Di atas meja, bagian luar dan dekat dengan para tamu, terdapat lukisan petak-petak yang ada nomornya pula, yaitu nomor satu sampai dengan nomor dua belas. Ada pula dua petak di kanan kiri, dibagi dua dan bertuliskan huruf-huruf GANJIL dan GENAP.

"Hayo pasang... pasang... pasang...!" Si bandar kurus kering dan dua orang pembantunya di kanan kiri yang bertugas menarik uang kemenangan dan membayar uang kekalahan, berteriak-teriak dengan gaya dan suara yang khas. Seolah-olah ada daya tarik terkandung dalam suara mereka yang agak serak itu.

Bun Houw melihat betapa belasan orang tamu yang merubung meja itu segera menaruh setumpuk uang di atas nomor pilihan masing-masing, ada yang sedikit akan tetapi ada pula yang banyak. Sesudah semua orang meletakkan uang taruhan mereka, si bandar kurus berteriak nyaring,

"Pemasangan berhenti... dadu diputar...!"

"Kratak-kratak-kratakkk...!"

Dua buah dadu itu dimasukkan ke dalam mangkok, ditutup telapak tangan kiri kemudian dikocok sehingga mengeluarkan bunyi berkeratak, lalu dengan gerakan yang cekatan dan cepat sekali mangkok dibalikkan dan ditaruh menelungkup di atas meja, dengan dua butir dadu di bawahnya.

"Boleh tambah pasangan...!" Dua orang pembantu bandar berteriak menantang.

Sibuk orang-orang yang berjudi itu menambahkan sejumlah uang di atas tumpukan uang pasangan mereka.

"Berhenti semua... dadu dibuka...!"

Bandar kurus berteriak dan tangan kanannya dengan jari-jari yang panjang itu membuka mangkok. Semua mata memandang ke arah meja di mana kini tampak dua butir dadu itu setelah mangkoknya dibuka. Yang sebutir memperlihatkan angka enam di atas dan yang kedua memperlihatkan angka satu.

"Tujuh menang... ganjil menang...!" bandar berteriak.

Terdengar banyak mulut mengeluh dan muka-muka berkeringat dan muram ketika mata mereka melihat dua orang pembantu bandar menarik semua uang pasangan yang berada di atas nomor lain, kecuali yang berada di atas nomor tujuh dan kotak ganjil.

Akan tetapi Bun Houw melihat bahwa yang menang hanya taruhan kecil saja dan biar pun kepada yang menang itu pembayaran bandar membayar enam kali lipat, akan tetapi jelas bahwa kemenangannya sekali tarik itu besar sekali. Juga yang menang dalam bertaruh angka ganjil hanya mendapat jumlah kemenangan yang sama dengan taruhannya.

Akan tetapi semua ini tidak begitu menarik hati Bun Houw. Yang sangat mengherankan, mengagetkan dan juga memarahkan hatinya adalah ketika tadi dia melihat cara si kurus itu membuka mangkok. Mangkok dibuka cepat sekali, akan tetapi dalam keadaan miring sehingga sebelum orang lain melihat letak dadu, si bandar lebih dulu melihatnya dan Bun Houw yang menaruh tangannya di atas meja merasa ada getaran aneh pada permukaan meja itu dan matanya yang berpenglihatan tajam itu dapat melihat sebutir di antara dadu itu bergerak membalik, dari angka empat menjadi angka satu.

Apa bila tidak terjadi keanehan itu, tentu dadu itu menunjukkan adalah angka enam dan empat, berarti yang menang adalah angka sepuluh dan angka genap. Dia melihat betapa tadi pemasang angka sepuluh paling banyak, dan yang berpasang pada genap jauh lebih banyak dari pada yang berpasang pada ganjil!

Biar pun Bun Houw belum pernah berjudi, namun kecerdasannya membuat dia mengerti bahwa bandar itu sudah berlaku curang dengan mempergunakan tenaga lweekang yang digetarkan lewat permukaan meja untuk membalik-balik dadu agar keluar nomor seperti yang dikehendakinya! Kini para pembantu bandar telah berteriak-teriak lagi, menganjurkan para tamu supaya menaruh pasangan mereka.

Ada suatu keanehan di dalam perjudian dan bagi yang mempunyai kepercayaan tahyul bahwa di tempat seperti itu terdapat setannya. Karena itu maka fihak bandar judi selalu memasang dupa, bukan hanya untuk menimbulkan suasana sedap di ruangan itu, akan tetapi juga untuk menyenangkan setan-setan agar membantunya! Ada atau tidak adanya setan, bukanlah hal penting, akan tetapi yang jelas ‘setan-setan’ di dalam diri sendiri yang bersimaharajalela di dalam perjudian.

Mereka yang kalah menjadi semakin serakah karena ingin membalas kekalahan mereka, membayangkan bahwa satu kali saja taruhan mereka mengena dan mereka menerima pembayaran enam kali lipat, kekalahan mereka akan tertebus sama sekali atau sebagian. Sebaliknya, mereka yang tadi menarik kemenangan karena pasangan mereka mengena, merasa menyesal dan kecewa mengapa mereka tadi memasang hanya sedikit.

Kemenangan sedikit itu tidak membuat mereka menjadi puas, sebaliknya mereka menjadi semakin serakah, ingin memperoleh keuntungan atau kemenangan lebih banyak. Karena itu, kebanyakan dari mereka yang kegilaan judi ini, baik yang pada permulaannya menang atau kalah, sebagian besar berakhir dengan kantong kosong, tubuh lesu dan putus asa!

Judi merupakan permainan yang dengan amat jelas menggambarkan watak masyarakat, watak manusia-manusia pembentuk masyarakat. Hanya satu sifat yong menonjol, yang dapat dilihat jelas dalam perjudian akan tetapi agak tersamar dan tersembunyi di dalam kehidupan sehari-hari, sungguh pun sifat yang tersembunyi itu bukan berarti lemah, yaitu sifat SERAKAH, ingin memenuhi nafsu keinginan.

Seperti juga di dalam perjudian, kita hidup sehari-hari mengejar keinginan kita yang dapat saja berupa harta benda, kedudukan, nama besar, atau keinginan yang lebih tinggi lagi menurut pandangan kita, seperti misalnya kedamaian, ketenteraman, keabadian, nirwana atau sorga. Di dalam setiap pengejaran keinginan ini, kepuasan hanya berlaku sementara saja sebab makin dituruti, keinginan makin membesar dan meluas, makin haus sehingga apa yang diperoleh masih selalu kurang dan tidak mencukupi.

Dan celakanya, di dalam kenyataan hidup ini, demi mengejar keinginan yang sebutannya diperhalus dan diperindah menjadi cita-cita atau ambisi dan sebagainya, demi mencapai apa yang diinginkan itu kita main sikut-sikutan, jegal-jegalan dan gontok-gontokan antara manusia, antara bangsa, bahkan antara saudara sendiri! Kenyataan pahit ini hampir tidak tampak lagi, tapi bagi siapa pun yang mau membuka mata melihat kenyataan, peristiwa menyedihkan itu terjadi setiap saat, setiap hari, di mana saja di seluruh bagian dunia ini, dan dekat sekali di sekeliling kita, bahkan di dalam diri kita sendiri!


Bun Houw mengikuti semua gerak-gerik bandar kurus itu dengan penuh perhatian. Kini dia melihat bahwa para penjudi itu sebagian besar memasangkan uang mereka kepada angka sembilan karena ada di antara mereka yang berbisik bahwa biasanya di meja ini, setelah keluar angka tujuh lalu disusul angka sembilan!

Tentu saja hal itu hanya merupakan kebetulan saja, namun di dunia ini memang banyak terjadi hal-hal yang kebetulan seperti itu. Sesudah semua orang menaruh pasangannya dan bandar menelungkupkan mangkok di atas meja, dan tidak ada lagi yang menambah pasangan, waktu ini tentu saja digunakan oleh bandar untuk meneliti, nomor mana yang paling banyak dipasangi orang dan nomor mana yang sebaliknya. Maka dia tahu bahwa jika biji-biji dadu menunjukkan angka sembilan, berarti bandar akan menderita kekalahan yang tidak sedikit. Jadi baginya yang panting hanya menjaga agar jangan sampai keluar angka sembilan!

"Berhenti semua... dadu dibuka...!" Bandar itu seperti biasa berteriak dan cepat membuka mangkok.

Dapat dibayangkan alangkah kagetnya bandar itu melihat bahwa ketika mangkok dibuka miring, dua dadu itu menunjukkan angka empat dan lima! Akan tetapi tentu saja dia cepat menggetarkan tangan kirinya yang menekan meja sehingga permukaan meja tergetar dan dadu itu bergerak.

Dia sudah merasa yakin bahwa sebutir di antara dadu-dadu itu tentu akan rebah miring dan memperlihatkan nomor lainnya sehingga jumlahnya bukan sembilan lagi. Akan tetapi pada saat dia buka, jelas nampak bahwa nomor dua butir dadu itu masih lima dan empat, berjumlah sembilan, sama sekali tidak berobah!

"Sem... sem... bilan menang...!" Bandar berseru dengan suara gemetar dan kedua mata terbelalak heran. Jelas bahwa dia tadi sudah menggetarkan tangannya, mempergunakan lweekang untuk membuat dadu itu rebah, tetapi sekali ini dadu-dadu itu ‘membangkang’!

Dua orang pembantu bandar memandang kepada si bandar kurus dengan mata melotot, marah dan heran. Terpaksa mereka membayarkan kekalahan bandar kepada beberapa orang yang menerima kemenangan mereka dengan pandang mata berseri-seri dan muka kemerahan. Sejenak mereka yang menang itu lupa bahwa kemenangan mereka belum tentu berlangsung lama dan bahwa di antara mereka ada yang kalah jauh lebih banyak dari pada yang mereka terima sekali ini.

Kembali orang memasang. Kembali bandar mengocok dadu dan pada waktu dibuka, si bandar sengaja memperlambat gerakannya. Matanya yang terlatih melihat betapa getaran tenaga lweekang-nya membuat sebutir dadu terguling, akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat dadu yang sudah roboh itu bangkit lagi dan memperlihatkan nomor semula!

Biar pun sekali ini bandar tidak kalah banyak, namun hal itu membuat dia mengeluarkan keringat dingin dan matanya mulai memandang para tamu yang merubung meja. Sejenak pandangan matanya beradu dengan sinar mata Bun Houw yang masih berdiri dengan tangan di atas meja dan menonton dengan asyik.

Akan tetapi si bandar kurus melihat pemuda ini biasa saja, bahkan tidak ikut menaruh pasangan maka kecurigaannya lenyap. Betapa pun juga, karena dia mendapat kenyataan bahwa yang meletakkan tangannya di atas meja hanya pemuda itu, maka sekarang dia memperhatikan sekali.

"Dadu dibuka...!" Sekali ini bandar itu menekankan tangan kanan di atas meja sedangkan tangan kiri yang membuka mangkok. Dia mengerahkan tenaga sekuatnya sambil mencuri lihat dua butir dadu yang menunjuk angka satu dan tiga. Nomor empat merupakan nomor yang lebih banyak dipasangi orang, maka kini dia kembali mengerahkan lweekang-nya.

Akan tetapi kedua butir dadu ini sama sekali tak berkutik! Dia masih terus mengerahkan lweekang sambil memandang ke arah Bun Houw, dan dia melihat pemuda itu tersenyum kepadanya, bahkan memberi tanda dengan memicingkan sebelah mata, ada pun tangan kiri pemuda itu menekan meja.

Kini jelas terasa oleh si bandar betapa ada getaran bergelombang yang amat kuat datang dari arah pemuda itu dan tahulah dia siapa orangnya yang sedang ‘main-main’ dengan dia. Mangkok dibuka dan tetap saja dua butir dadu itu menunjukkan angka empat.

Bandar memberi isyarat kepada para tukang pukul yang berada di sekitar tempat itu. Meja judi yang istimewa ini, karena memberi kemenangan berturut-turut kepada banyak tamu, sekarang makin dirubung orang yang ingin pula merasakan kemenangan.

Melihat isyarat bandar, empat orang tukang pukul mendekati Bun Houw. Mereka adalah orang-orang yang mempunyai bentuk tubuh tinggi besar, dengan lengan baju tergulung sehingga nampak otot-otot lengan yang besar menggembung, wajah mereka seram dan mencerminkan kekejaman orang yang biasa mengandalkan kekuatan untuk memaksakan kehendak.

"Yang tidak ikut berjudi harap keluar!" bentak bandar kurus sambil menuding ke arah Bun Houw. "Orang muda, aku melihat engkau tidak pernah ikut bertaruh, maka engkau tidak boleh berada di sini!"

Bun Houw tersenyum tenang. Dia memang sedang memancing perhatian, maka dia lalu berkata, "Kenapa di luar tidak dipasang peringatan seperti itu? Memang aku datang ingin melihat-lihat dulu, mengapa disuruh keluar? Apakah kalian takut kalau aku melihat ada yang main curang?"

"Mulut lancang, siapa yang main curang? Hayo lekas pergi dari sini, atau kau ingin kami memaksamu?" bentak salah seorang di antara empat tukang pukul itu. Melihat peristiwa ini, para tamu menjauhkan diri, takut terlibat.

"Wah, wah, apakah Hok-po-koan biasa mempergunakan kekerasan seperti ini? Hendak kulihat, bagaimana cara kalian empat orang kasar hendak memaksaku keluar!" Bun Houw mengejek dan menunjukkan lagak jagoan, seolah-olah dia telah biasa pula mengandalkan kepandaiannya untuk menghadapi tantangan, lagak seorang ‘jagoan’.

"Eh, si keparat, kau menantang?" bentak seorang di antara empat orang tukang pukul itu dan serentak mereka maju memegang kedua lengan serta kedua pundak Bun Houw, hendak diseretnya pemuda itu dan dilempar keluar.

Akan tetapi, segera empat orang itu terkejut bukan main karena pemuda yang mereka pegang itu sedikit pun tidak berkutik dan meski pun mereka sudah mengerahkan tenaga sepenuhnya untuk menyeret dan menggusur, akan tetapi pemuda itu tidak dapat berkisar sedikit pun dari tempatnya, seolah-olah mereka berempat sedang berusaha menarik arca arca dari baja yang amat berat dan kokoh!

Empat orang itu adalah tukang-tukang pukul yang sudah biasa menggunakan kekerasan kepada orang-orang yang dianggap menantang tempat judi itu, mereka adalah kumpulan orang kasar yang hanya memiliki tenaga kasar akan tetapi pandangan mereka dangkal sehingga mereka tidak insyaf bahwa pemuda itu jelas mempunyai kepandaian yang jauh lebih tinggi dari pada kekuatan mereka.

"Kau ingin mampus?" bentak seorang di antara mereka dan seperti diberi komando saja empat orang itu lalu bergerak menerjang dan memukul Bun Houw.

Akan tetapi, kedua tangan pemuda ini bergerak cepat sekali dan semua orang di situ, termasuk si empat orang tukang pukul, tidak tahu bagaimana dapat terjadi, akan tetapi tahu-tahu empat orang itu terlempar dan terbanting ke atas lantai sambil mengaduh-aduh dan memegang lengan kanan dengan tangan kiri, tidak berani bangkit lagi karena lengan kanan mereka rasanya seperti remuk-remuk tulangnya!

Melihat ini segera para tukang pukul yang lain mengepung Bun Houw. Jumlah mereka ada belasan orang dan seorang bandar judi cepat masuk ke dalam untuk melaporkan hal ini kepada majikan mereka yang tinggal di rumah mewah terletak di belakang rumah judi itu.

Bun Houw tersenyum saat melihat dirinya dikurung oleh para tukang pukul, juga beberapa orang bandar judi yang tentu memiliki kekuatan lebih tinggi dari pada tukang-tukang pukul kasar itu. Bahkan mereka semua sudah mencabut senjata, ada yang memegang golok, pedang, dan toya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner