DEWI MAUT : JILID-23


"Kalau kau menyerang lagi, aku akan membunuh Yok-mo!" Tiba-tiba kakek itu mendengar suara In Hong.

Dia cepat menengok dan terbelalak memandang kepada gadis itu yang telah menangkap lengan Yok-mo dan menekankan pedangnya di leher kakek ahli obat itu!

"Dia harus memberi obat kepadaku terlebih dahulu. Kalau kau menentang, Lama, biar dia kubunuh lebih dulu dan kita sama-sama tidak memperoleh obat!"

Kok Beng Lama terbelalak, kemudian menggeram. "Bocah licik, kalau kau melakukan itu, engkau akan mati di tanganku!"

"Aku sudah berani berbuat berani pula bertanggung jawab, Lama. Mati bukanlah apa-apa bagiku, dan meski pun sesudah itu kau membunuhku, namun kematian tetap tidak akan menolong nyawa muridmu, bagaimana?"

Kok Beng Lama menjadi bengong. Semenjak dia menghadapi tekanan batin yang hebat, dimulai dari kematian puterinya sampai peristiwa di Cin-ling-san, dia sering kali menjadi bingung bahkan banyak hal-hal lampau yang dilupakannya.

"Wah, kau bocah memang cerdik! Ha-ha-ha, engkau memang hebat. Biar aku mengaku kalah. Heiii, Yok-mo, bukankah sudah sepatutnya kalau tua bangka-tua bangka semacam kita yang sudah mendekati lubang kubur ini mengalah terhadap anak muda? Hayo kau berikan obat untuk bocah cerdik ini, sesudah itu baru kau obati dan sembuhkan muridku!"

In Hong maklum bahwa seorang seperti pendeta Lama yang memiliki kelihaian hebat itu, walau pun wataknya aneh dan seperti orang gila, namun sudah tentu tidak sudi menarik omongannya kembali, sebab mempunyai keangkuhan besar dan tinggi hati, maka dia pun menarik kembali pedangnya dari leher Yok-mo.

Kakek ini menghela napas panjang dan mengomel, "Kekerasan...! Hemm... di mana-mana manusia mempergunakan kekerasan..."

In Hong tidak membuang-buang waktu lagi, segera dia menceritakan keadaan Bun Houw kepada kakek Setan Obat itu, menceritakan betapa pemuda itu sudah ditusuk dengan jarum yang mengandung racun kelabang hitam, menceritakan dengan jelas pada bagian mana yang ditusuk dan gejala-gejala apa yang nampak pada tubuh pemuda itu.

Yok-mo mengomel lagi. "Biar di dalam dongeng tentang neraka sekali pun, belum tentu ada iblis penyiksa di neraka yang sekejam itu! Jalan darah Tiong-cu-hiat di tengkuk yang ditusuknya, hal itu berarti bahwa si korban paling lama dapat hidup tiga hari saja. Tusukan di jalan darah itu pun mendatangkan siksaan luar biasa, seluruh tubuhnya akan terasa gatal-gatal di sebelah dalam seperti digigiti ribuan ekor semut. Hemm, kalau pemuda itu masih dapat bertahan, sungguh amat luar biasa..."

"Dua tulang pundaknya juga dikait dengan baja kaitan, Yok-mo." In Hong menceritakan lagi dengan nada suara bangga. Heran dia mengapa dia berbangga hati karena pemuda itu demikian tahan derita!

"Hemm, untung engkau datang kepadaku, nona. Bukan karena aku pandai mengobatinya, namun karena kebetulan sekali aku ada menyimpan obat yang mujarab untuk melawan racun kelabang hitam. Andai kata aku tidak manyimpan obat itu, biar aku sendiri tidak mungkin sanggup menolongnya, karena mencari obat itu harus di tempat asal kelabang hitam itu sendiri, yaitu tahi kelabang hitam yang menjadi bahan bakunya. Dan binatang seperti itu jarang sekali muncul di permukaan bumi, selalu bersembunyi di dalam tanah."

Kakek tua renta itu lalu masuk ke dalam gubuknya dan keluar lagi membawa beberapa butir obat pulung, semacam pil kasar yang berwarna hitam. "Ini ada sembilan butir pil, sehari beri dia tiga kali, setiap kali sebutir dan dalam waktu tiga hari, setelah pil ini habis, aku tanggung dia sembuh kembali."

In Hong gembira bukan main dan cepat menerima bungkusan pil itu, menjura kemudian menghaturkan terima kasih. "Harap engkau sudi memaafkan kekasaranku tadi, locianpwe, dan saya menghaturkan banyak terima kasih atas pertolonganmu!"

"Ha-ha-ha, betapa palsunya! Sebelum diberi marah-marah dan mengancam, setelah diberi merendah dan berterima kasih. Itulah manusia!" Kok Beng Lama tertawa bergelak.

In Hong memandang dengan muka berubah merah. Betapa pun kasarnya pendeta Lama itu, kata-katanya amat jitu menancap di ulu hatinya dan dia merasa malu kalau mengingat akan sikapnya sendiri tadi. Dia tidak segera pergi karena dia ingin melihat bagaimana Yok-mo akan menyembuhkan anak itu, yang dia yakin pasti sudah terluka oleh serangan Siang-tok-swa.

"Hayo kau obati muridku, Yok-mo. Jangan sampai aku harus mengancammu seperti yang dilakukan bocah liar itu," Kok Beng Lama berteriak.

Tanpa menjawab akan tetapi dengan mulut bersungut-sungut karena baru kali ini selama hidupnya dia dipaksa orang untuk mengobati, Yok-mo menghampiri tubuh anak itu dan berlutut, membuka bajunya, mencium dekat dada Lie Seng kemudian memeriksa denyut nadinya yang lemah. Lie Seng yang sudah siuman itu masih rebah dengan lemah, hanya matanya yang lebar itu memandang dan melirik ke mana-mana.

"Hemm, tepat seperti dugaanku. Dia terkena racun yang amat jahat, racun kembang yang berbau harum. Racun harum digunakan untuk melukai seorang bocah sekecil ini! Betapa kejamnya manusia di dunia ini."

"Memang kejam sekali iblis betina itu!" Kok Beng Lama berteriak. "Tidak mampu melawan aku, dia lalu melukai muridku. Awas dia, kalau lain kali bertemu dengannya, akan kupukul pecah kepalanya!"

Hati Yok-mo semakin tidak senang mendengar ancaman itu. Dia tidak mempedulikan dan kembali memeriksa tubuh Lie Seng lalu berkata, "Tentu saja aku sanggup menyembuhkan anak ini, akan tetapi dia harus dirawat di sini sedikitnya dua pekan. Racun yang menjalar di seluruh tubuhnya ini sangat halus dan lembut, akan tetapi cukup mematikan dan untuk membersihkannya sama sekali membutuhkan waktu lama..."

"Pendeta Lama yang kasar, aku mampu mengobati dia dan kutanggung dalam waktu tiga hari saja dia akan sembuh!" tiba-tiba In Hong berkata.

Tadinya dia menyangka bahwa anak itu tentu terluka oleh Siang-tok-swa. Sesudah dia mendengar teriakan pendeta Lama itu bahwa yang melukai anak itu adalah seorang iblis betina, dia menjadi yakin bahwa tentu gurunya yang melakukan itu.

Agaknya gurunya pernah bentrok dengan pendeta ini dan dia tidak akan merasa heran kalau gurunya sampai kewalahan menghadapi pendeta Lama yang memang amat hebat ilmu kepandaiannya ini. Di dunia ini, yang pandai menggunakan Siang-tok-swa hanyalah dia dan gurunya, maka siapa lagi kalau bukan Giok-hong-cu Yo Bi Kiok yang melukai seorang anak itu?

Dia sendiri merasa penasaran mengapa gurunya mau melukai seorang anak sekecil itu dengan Siang-tok-swa. Perbuatan ini pasti takkan dia lakukan karena hal itu dianggapnya terlalu keji dan curang.

Siang-tok-swa adalah pasir beracun yang hanya patut dipergunakan apa bila menghadapi pengeroyokan banyak orang atau bertemu dengan lawan yang tangguh. Akan tetapi sama sekali tidak pantas kalau dipergunakan untuk melukai seorang bocah yang masih begitu kecil dan tentu belum tahu apa-apa!

Rasa penasaran inilah yang membuat hatinya tergerak untuk mengobati anak itu dengan obat penawar Siang-tok-swa yang selalu dibawanya bersama pasir beracun itu sendiri. Akan tetapi dia memang seorang dara yang cerdik, tentu saja dia tidak mau mengobati begitu saja!

Kok Beng Lama dan Yok-mo keduanya terkejut mendengar ini. Kok Beng Lama terkejut bercampur girang, sedangkan Yok-mo terkejut dan marah.

"Bocah sombong engkau! Aku saja baru akan dapat menyembuhkannya dalam waktu dua pekan atau... baiklah, kuperpendek menjadi sepuluh hari!"

"Dan aku tetap dapat menyembuhkannya dalam waktu tiga hari."

"Akan kukeluarkan semua ilmuku... hemm, aku sanggup menyembuhkannya dalam waktu sepekan! Aku akan berbohong kalau mengatakan kurang dari sepekan!" Yok-mo kembali berseru, penasaran bukan main.

"Dan aku ulangi lagi, paling lama tiga hari obatku pasti akan menyembuhkannya, paling lama tiga hari, mungkin kurang dari tiga hari."

Kok Beng Lama menghampiri In Hong. "Nona, benarkah itu? Kau sanggup mengobatinya secepat itu?"

In Hong mengangguk.

"Kalau kau pandai mengobati muridku, kenapa kau sendiri datang minta bantuan kepada Yok-mo?"

"Luka yang diderita oleh... sahabatku dan luka yang diderita muridmu tidak sama, Lama. Dan aku kebetulan mempunyai obat yang paling mujarab untuk mengobati luka muridmu yang terkena racun itu. Racun itu tentu disebabkan oleh Siong-tok-swa, bukan?"

Yok-mo terkejut. Tidak memeriksa sudah mengerti, sungguh hebat dan tepat sekali.

"Benar, luka itu oleh senjata rahasia pasir yang mengandung racun harum," katanya.

"Kalau begitu, nona yang baik, kau obatilah muridku ini maka aku akan berterima kasih sekali kepadamu!" kata Kok Beng Lama.

"Ucapan terima kasih hanya merupakan kata-kata kosong belaka, apa gunanya bagiku, Lama? Sudah sepantasnya kalau orang memberi juga meminta, oleh karena itu, aku mau memberi obat untuk muridmu dengan jaminan bahwa paling lama tiga hari dia pasti sudah sembuh, sebaliknya aku pun ingin meminta sesuatu darimu."

Kok Beng Lama tertawa. "Ha-ha-ha, baru sekali ini aku bertemu dengan bocah secerdik engkau. Baiklah, kau mau minta apa?"

"Karena engkau seorang yang memiliki kesaktian luar biasa, maka aku minta diberi ilmu yang dapat mengalahkan semua ilmuku, termasuk ilmu pedangku."

Sepasang mata yang lebar dan besar itu terbelalak. "Wahhh... ilmu silatku banyak sekali macamnya, aku sendiri sampai tidak hafal lagi. Yang mana yang kau minta?"

"Yang mana saja, asal bisa menangkan semua ilmuku. Kau tadi mempergunakan kedua lengan kosong untuk menghadapi pedangku, nah, aku mau kau ajarkan ilmu sinkang itu kepadaku."

"Ha-ha-ha, menggunakan tangan kosong menghadapi senjata hanyalah mampu dilakukan orang yang mempunyai Thian-te Sin-ciang. Kau mau minta sinkang istimewa yang khas hanya dimiliki olehku ini?"

"Tidak peduli apa namanya dan bagaimana macamnya, pokoknya aku hendak menukar obatku dengan Ilmu Thian-te Sin-ciang itu. Kalau kau mau, boleh. Kalau tidak, aku mau pergi sekarang. Sahabatku sudah menunggu dan nyawanya tinggal dua hari lagi." Sambil berkata demikian, dengan lagak ‘jual mahal’ In Hong membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

"Eeiittt... nanti dulu...!" Sekali berkelebat Kok Beng Lama sudah mencelat dan melampaui tubuh In Hong, tahu-tahu sudah berdiri menghadang, membuat dara itu menjadi makin kagum. Pantas gurunya tidak mampu menandingi hwesio Lama ini, memang sangat luar biasa kepandaiannya.

"Kau mau atau tidak?" In Hong berkata.

"Kau kira mudah saja mempelajari Thian-te Sin-ciang? Untuk memperoleh ilmu ini engkau harus berlatih sedikitnya lima tahun!"

"Aku tidak peduli, pendeknya aku ingin memiliki ilmu itu, sekarang juga. Dan jangan kau mencoba untuk menipuku, Lama, karena aku cukup mengerti bahwa menurunkan sinkang kepada seseorang, sang guru dapat pula menyalurkan hawa murni kepada si murid dan dengan cara demikian akan dapatlah ilmu itu dikuasai secara langsung."

"Wah, kau minta yang bukan-bukan!"

"Mengapa yang bukan-bukan? Dengan memberikan ilmu itu kepadaku, engkau tidak akan kehilangan apa-apa dan tenaga yang hilang akibat penyaluran itu pun akan mudah terisi kembali."

"Ha-ha, agaknya engkau cukup tahu akan segala hal ihwal pengoperan tenaga sinkang, nona. Akan tetapi engkau tentu tahu pula bahwa ilmu simpanan seseorang hanya boleh diberikan kepada seorang muridnya."

"Aku tidak akan menjadi muridmu dan engkau bukan guruku. Tak ada hubungan guru dan murid di antara kita, bahkan saling mengenal nama pun tidak. Kita hanya saling menukar sesuatu yang berharga. Bagaimana, mau tidak kau menukar Thian-te Sin-ciang dengan obat untuk muridmu?"

Andai kata Kok Beng Lama masih waras pikirannya, tentu dia akan memikirkan hal ini lebih mendalam dan tidak akan memberikan ilmunya begitu saja. Akan tetapi dia dalam keadaan bingung, karena itu dia lalu menghela nafas. "Baiklah, baiklah... nah, kau obati muridku dan aku akan memberi Thian-te Sin-ciang kepadamu."

"Tidak, engkau serahkan dulu ilmu itu, baru aku obati muridmu."

"Hemm, kenapa begitu?"

"Pendeta Lama, di antara engkau dan aku, sudah jelas bahwa kepandaianmu jauh lebih tinggi. Kalau aku obati dulu muridmu dan engkau ingkar janji, aku tidak akan bisa apa-apa terhadapmu. Sebaliknya, kalau kau berikan dulu ilmu itu, aku tentu tidak mungkin berani ingkar janji terhadapmu sebab dengan mudah engkau akan dapat mengalahkan aku. Nah, ini sudah sangat adil, bukan? Dan lagi, setelah kau memberikan ilmu Thian-te Sin-ciang kepadaku, aku akan menyerahkan obat kepadamu lalu pergi karena sudah selama satu hari satu malam aku meninggalkan sahabatku yang terluka itu. Nyawanya tinggal dua hari lagi umurnya, maka aku harus cepat pergi."

"Wah-wah, kau memang cerdik dan banyak akal bulusmu. Mana bisa kau mau menipu aku? Bagaimana kalau obat yang kau berikan itu palsu dan ternyata tidak bisa menolong muridku dalam tiga hari?"

"Habis, hadirnya Yok-mo ini untuk apa? Dialah saksi yang paling berharga. Dia akan tahu apakah obatku itu betul mujarab atau tidak setelah kuobatkan kepada muridmu."

Yok-mo yang semenjak tadi mendengarkan perbantahan itu, ingin cepat-cepat terbebas dari dua orang muda dan tua yang sama-sama tidak disenanginya itu. Dia mengangguk. "Benar, kalau obat itu palsu dan tidak mujarab, aku tentu akan segera tahu. Aku pun ingin melihat apakah dia tidak membohongi orang-orang tua."

"Kalau aku bohong, apa sukarnya bagi Lama ini untuk membunuhku?" In Hong langsung membantah.

Kok Beng Lama merasa kalah bicara. Dia mengangguk-angguk lalu duduk bersila. "Kau ke sinilah dan duduk bersila di depanku," dia berkata dengan nada memerintah.

In Hong girang sekali dan cepat dia duduk bersila di hadapan kakek itu. Si kakek menarik napas panjang. Duduk berhadapan demikian dekatnya dengan dara muda yang cantik jelita ini membuat dia teringat akan puterinya dan tiba-tiba dia menangis!

Tentu saja In Hong menjadi terkejut dan mengangkat muka. Melihat kakek itu menangis terisak-isak dan air matanya bercucuran, In Hong bergidik dan merasa seram. Tentu ada suatu hal yang luar biasa hebat menimpa diri kakek sakti ini sehingga membuat batinnya terguncang dan membuat kakek setua itu dapat menangis mengguguk seperti ini.

Karena gemblengan paksaan, In Hong menjadi seorang dara yang berhati dingin, akan tetapi pada dasarnya dia memiliki watak yang lincah, halus dan perasa seperti mendiang ibunya. Maka kini menghadapi keadaan kakek tua renta itu, tanpa dapat dicegah lagi air matanya pun bercucuran!

Ternyata hal ini amat menguntungkan In Hong. Kok Beng Lama yang sudah agak sinting itu merasa seolah-olah kini berhadapan dengan puterinya. Dia merangkul dan mengeluh. "Anakku... ahhh, anakku..."

Dan In Hong balas merangkul. Sejenak mereka saling berpelukan sambil menangis.

“Gila...! Gendeng orang-orang kang-ouw ini..." Yok-mo yang menonton pertunjukan aneh itu menggeleng-gelengkan kepalanya berkali-kali.

"Harap... harap kau berikan ilmu itu kepadaku..." In Hong berbisik, hatinya masih terharu sekali.

Hal ini adalah karena kakek itu tadi menyebutnya ‘anakku’ yang tentu saja mengingatkan dia bahwa dia sudah tidak berayah ibu lagi, bahkan dia belum pernah melihat atau tidak ingat lagi bagaimana wajah ayahnya dan ibunya. Oleh karena itu, saat mendengar kakek ini menganggap dirinya sebagai anaknya, tentu saja langsung mengingatkan dia kepada ayahnya sehingga menimbulkan keharuan.

"Terimalah, anakku... terimalah... kau bukalah seluruh jalan darahmu, buka pusarmu dan jangan melawan aku... aku akan memasukkan Thian-te Sinkang kepadamu yang menjadi dasar Ilmu Pukulan Thian-te Sin-ciang..."

In Hong bersila dan ‘membuka’ semua jalan darah dan pusarnya. Tiba-tiba kedua telapak tangan yang amat lebar dari pendeta itu menyentuh ubun-ubun kepalanya dan pusarnya. Terasa olehnya hawa yang hangat dan sangat kuat mamasuki tubuhnya, berputaran di seluruh tubuh untuk kemudian berkumpul di pusar, bercampur dengan hawa sakti miliknya sendiri. Tubuhnya tergetar, kemudian menggigil dan berkelojotan. Hampir dia tidak kuat menahan, kemudian terdengar bisikan suara kakek itu,

"Perlahan-lahan kerahkan tenaga dari pusar, kuasai tenaga yang meliar itu sampai bisa berputaran di pusar, pusatkan kekuatan dan seluruh perhatianmu..."

Dengan membuta In Hong mentaati perintah ini, dan dia terus mendengarkan perintah kakek itu yang merupakan petunjuk dan teori mengendalikan tenaga Thian-te Sinkang. Hampir tiga jam mereka duduk bersila saling berhadapan hingga akhirnya In Hong dapat menguasai tenaga sakti mukjijat yang liar itu.

Keadaan itu hampir sama dengan menaklukkan seekor kuda liar. Pada mulanya kuda itu meronta dan melawan, meloncat dan hendak membedal, akan tetapi sesudah akhirnya dapat dijinakkan, menjadi penurut dan bergerak ke mana saja menurut kemauan yang menguasainya.

Sesudah membuka matanya, dan wajahnya masih pucat sekali, In Hong dengan penuh perhatian mendengarkan petunjuk-petunjuk tentang teori Thian-te Sin-ciang. Cukup ruwet teori ilmu silat ini, akan tetapi sebagai seorang gadis yang cerdas dapat menerima dan menghafal teori itu dalam waktu dua jam. Tentu saja teori itu membutuhkan latihan, akan tetapi dengan dasar tenaga sinkang Thian-te Sinkang yang sudah dikuasainya, dia akan dapat melatih ilmu itu dengan cepat.

Kok Beng Lama bangkit berdiri dengan tubuh agak lemas dan mukanya pucat. Dia telah mempergunakan banyak tenaga, bahkan kehilangan banyak sinkang, tetapi hatinya puas sebab anak perempuan yang seperti anaknya ini bisa menerima ilmu demikian cepatnya.

"Sudah cukup... kau telah menguasai Thian-te Sin-ciang asal kau rajin berlatih..."

Hati In Hong masih diliputi keharuan. Dia tadi merasa betapa kakek itu menurunkan ilmu kepandaiannya dengan penuh kasih sayang seperti terhadap anaknya sendiri. Memang demikianlah keadaannya. Andai kata tidak ada kasih sayang ini, kiranya tak mudah untuk menerima penyaluran tenaga mukjijat seperti Thian-te Sinkang tadi. Maka segera In Hong menjatuhkan diri berlutut di depan kakek itu sambil berkata,

"Locianpwe, teecu menghaturkan banyak terima kasih kepada locianpwe."

"Hushhh, ingat. Kita bukan guru dan murid, bukan apa-apa, bukan sanak bukan kadang bahkan tidak saling mengenal. Hayo, cepat kau obati muridku."

In Hong tidak berani bersikap kasar lagi. Dia mengangguk, kemudian mengeluarkan obat penawar Siang-tok-swa, menghampiri Lie Seng dan memeriksa. Diam-diam dia menyesal sekali atas tindakan gurunya yang terlalu kejam. Anak ini terkena Siang-tok-swa di dada, muka dan perutnya! Cepat dia menaruhkan obat bubuk yang dicampur air dan diborehkan ke tempat-tempat yang terluka dan menghitam itu, kemudian dia memasak satu bungkus obat dan meminumkan obat itu kepada Lie Seng.

Diam-diam dara ini pun kagum bukan main karena sejak tadi dia tidak mendengar anak itu mengeluh sedikit pun! Benar-benar seorang bocah yang luar biasa dan sudah patut menjadi murid seorang sakti seperti pendeta Lama itu.

Satu jam kemudian, hari sudah mulai sore dan Yok-mo memeriksa keadaan Lie Seng. Dia mengangguk-angguk. "Lama, kau percayalah. Obat boreh dan obat minum itu betul-betul manjur sekali dan agaknya memang khusus dibuat untuk mengobati luka karena Siang-tok-swa. Muridmu sudah hampir sembuh dan dalam waktu dua hari saja kurasa dia sudah akan terbebas dari pengaruh racun."

Kok Beng Lama tertawa girang sekali. "Ha-ha-ha, kalau memang begitu, tidak percuma aku menyerahkan ilmu kepadamu, nona. Ha-ha-ha!"

In Hong lalu menyerahkan obat untuk Lie Seng kepada Yok-mo, kemudian dia berpamit setelah menjura kepada Yok-mo dengan ucapan terima kasih, kemudian memberi hormat kepada Kok Beng Lama sambil berkata,

"Sungguh pun teecu bukan murid locianpwe, namun teceu berjanji bahwa Ilmu Thian-te Sin-ciang tidak akan teecu pergunakan secara sembarangan dan akan merupakan ilmu simpanan teecu. Sekali lagi teecu menghaturkan terima kasih."

"Ha-ha-ha-ha, apa bila kau pergunakan dengan sembarangan, apa sukarnya bagiku untuk mencarimu dan mencabutnya kembali berikut nyawamu? Ha-ha-ha!"

In Hong menjura kemudian membalikkan tubuhnya dan berkelebat lenyap dari tempat itu. Yok-mo bengong dan menggeleng-gelengkan kepala.

"Nona itu dahsyat bukan main, sinar dingin di wajahnya menunjukkan dendam kebencian yang mendalam. Kini ditambah ilmu pemberianmu, Lama, sama dengan memberi sayap kepada seekor harimau."

Akan tetapi Kok Beng Lama tidak memperhatikan ucapan itu. Hatinya terlampau girang melihat Lie Seng tertolong karena dia sudah menganggap bocah itu sebagai muridnya. Memang Kok Beng Lama telah berubah sekali dibandingkan dengan wataknya sebelum dia mengalami pukulan batin yang hebat.

Dulu tidak mudah bagi siapa pun untuk menjadi murid kakek sakti ini. Akan tetapi kini, begitu bertemu dengan Lie Seng, tanpa tanya-tanya dulu apakah bocah itu mau atau tidak menjadi muridnya, tanpa menyelidiki lebih dulu siapa bocah itu dan anak siapa, dia sudah begitu saja menganggap bocah itu sebagai muridnya! Dan tanpa menanyakan nama In Hong, sama sekali tidak mengenal dara itu, dia sudah begitu saja menyerahkan ilmu yang merupakan satu di antara ilmu-ilmunya yang paling rahasia dan ampuh…..

********************

“Ah, untung engkau keburu datang, lihiap!" pemuda murid Bu-tong-pai itu berseru dengan suara lega. "Aku khawatir dia sudah dalam sekarat..."

In Hong kaget sekali mendengar sambutan murid Bu-tong-pai itu dan cepat dia mengikuti masuk ke dalam kuil tua itu. Dan benar saja, orang yang tersiksa itu rebah dengan mata tertutup, muka kehitaman dan napas tinggal satu-satu.

Dua orang murid Bu-tong-pai yang sedang menjaga di situ juga kelihatan girang melihat datangnya penolong mereka. Cepat mereka itu membantu In Hong mencari dan memasak air, kemudian dengan paksa mereka membantu In Hong mencekokkan obat yang dibawa oleh In Hong itu ke dalam perut pemuda yang sedang sekarat melalui mulutnya yang dibuka secara paksa.

Mereka berempat menanti dengan hati tegang, ingin menyaksikan bagaimana pengaruh obat yang didapatkan dari Yok-mo yang terkenal itu. Satu jam mereka menunggu penuh ketegangan, karena mereka seakan-akan melihat pemuda itu bergulat melawan elmaut. Detik jantung pemuda itu amat lemah dan napasnya sudah senin kemis, kadang-kadang menggeliat-geliat seperti orang dalam sekarat.

Tiba-tiba saja terdengar suara berkeruyuk dari perut Bun Houw. Empat orang muda itu memperhatikan. Suara berkeruyuk itu sambung-menyambung, sedangkan perut pemuda itu bergerak-gerak, terus bergerak dan kini naik ke dada.

Tiba-tiba pemuda itu muntah dan cepat sekali In Hong melompat lalu membantu pemuda itu duduk sehingga pemuda itu dapat muntah ke pinggir dalam keadaan setengah rebah miring. Lengan In Hong terkena muntahan yang ternyata adalah darah hitam yang berbau busuk!

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu benar-benar merasa kagum sekali melihat betapa tekun dan penuh perhatian In Hong merawat Bun Houw. Padahal wanita sakti penolong mereka itu sama sekali tidak mengenal pemuda itu, seperti juga tidak mengenal mereka. Juga mereka melihat betapa sinar mata yang biasanya dingin itu menjadi berseri ketika melihat bahwa pernapasan Bun Houw kini menjadi lebih tenang dan detik jantungnya lebih kuat, tanda bahwa obat itu memang manjur sekali.

"Dia tertolong, dan kalian bertiga boleh pergi sekarang," kata In Hong setelah melihat Bun Houw tidur nyenyak dengan napas tenang dan muka pemuda itu tidak begitu menghitam lagi.

Dua orang gadis Bu-tong-pai itu memandang dengan mata terharu dan pemuda yang menjadi suheng mereka memandang kagum.

"Lihiap, kami akan kembali ke Bu-tong-pai untuk melapor kepada suhu kami. Sesudah menerima pertolongan lihiap dan berkumpul beberapa lama, mustahil kalau kami tidak memperkenalkan diri. Saya bernama Sim Hoat, ini adalah sumoi Lim Soan Li, dan dia itu adalah sumoi Coa Gin Hwa. Kami bertiga masih tinggal di Bu-tong-san karena belum tamat belajar dari suhu kami, ketua Bu-tong-pai Thian Cin Cu Tojin. Sudilah kiranya lihiap memperkenalkan nama, karena tanpa ada pertolongan lihiap, kami bertiga tentu sudah tidak hidup lagi. Kami berhutang budi dan tentu suhu akan marah kalau kami tidak dapat memberi tahu kepada beliau siapa lihiap yang telah menyelamatkan nyawa kami."

In Hong mengerutkan alisnya. Ia telah berkali-kali mengalami bahwa jika orang mengenal dia sebagai murid ketua Giok-hong-pang, orang akan menggolongkan dia sebagai orang sesat atau golongan hitam. Dia merasa malu untuk digolongkan dengan kaum sesat yang selalu mengumbar nafsu tidak segan-segan melakukan kejahatan. Tidak, dia bukan orang macam itu!

"Terima kasih atas kebaikan sam-wi. Akan tetapi aku tidak punya nama dan peristiwa kecil itu tidak perlu mengikat kita. Sebaiknya kita melupakan saja hal yang telah lalu dan anggaplah aku tidak pernah menolong sam-wi. Baik ikatan budi mau pun ikatan dendam hanya merepotkan hidup saja. Pergilah dan di antara kita tidak ada hubungan apa-apa lagi."

Tiga orang murid Bu-tong-pai itu saling pandang dan menarik napas panjang. Banyak terdapat orang sakti yang berwatak aneh di dunia ini, akan tetapi penolong mereka ini masih begini muda, lebih muda dari mereka, akan tetapi berwatak begini dingin dan aneh, seolah-olah tidak suka berhubungan dengan manusia lain, akan tetapi yang jelas sanggup mengorbankan apa saja untuk menolong orang lain yang sama sekali belum dikenalnya. Seorang dara yang luar biasa!

Apa lagi bagi Sim Hoat pemuda Bu-tong-pai ini, dia sekaligus sudah jatuh cinta kepada dara luar biasa yang di samping sakti juga amat cantik jelita ini! Terpaksa mereka lalu berpamit, memberi hormat meninggalkan kuil di dalam hutan lebat itu untuk berangkat ke Bu-tong-pai dan melaporkan kepada suhu mereka tentang kematian suheng mereka di Lembah Bunga Merah dan tentang kegagalan mereka membalas dendam.

Sesudah mereka itu pergi, In Hong merawat Bun Houw seorang diri dengan tekun dan penuh perhatian. Setiap kali dia mencekokkan pil hitam yang dicampur air matang ke dalam perut pemuda itu, Bun Houw muntahkan darah hitam. Sampai dua hari pemuda itu terus muntah setiap habis makan pil, akan tetapi sesudah dicekoki pil yang ketujuh, dia tidak muntah lagi dan mukanya sudah menjadi bersih dari warna hitam!

Pada hari ketiga, mukanya mulai agak kemerahan dan kini napasnya sudah teratur sehat dan detik jantungnya juga sudah menjadi kuat. Tentu saja In Hong menjadi girang sekali. Sudah tiga hari tiga malam lamanya dia tidak tidur, maka kini saking lelahnya, dia tertidur menyandar tembok tidak jauh dari Bun Houw yang masih rebah tidak sadar di atas lantai.

Sehabis memberi minum pil yang kedelapan di siang hari, In Hong tertidur sambil duduk bersandar tembok. Saking lelahnya, dia telah tidur setengah hari dan siang telah terganti senja hampir gelap, namun dia masih juga belum bangun.

Di dalam tidurnya In Hong bermimpi. Dia diajak berjalan-jalan di dalam sebuah taman bunga yang indah, penuh bunga-bunga mekar semerbak harum, tangannya digandeng oleh Bun Houw dan dia mandah saja. Bahkan dia merasakan suatu kebahagiaan yang belum pernah dialami sebelumnya.

Wajah Bun Houw berseri-seri, demikian tampan, sikapnya begitu gagah dan melindungi. Dia sudah begitu hafal akan wajah Bun Houw yang setiap saat dipandangnya itu, hafal akan garis dan lekak-lekuk wajah itu, dan kini wajah pemuda itu demikian dekat dengan wajahnya, mata yang bersinar-sinar tajam itu menatap mesra, seolah-olah membelainya dengan pandang mata, dan senyum yang menawan itu khusus ditujukan kepadanya. Dia menjadi malu, perasaan malu yang luar biasa, perasaan malu dan jengah yang sangat mengguncang hatinya, mengusap kalbu dan mendatangkan perasaan bahagia yang sulit dituturkan dengan kata-kata. Akan tetapi tiba-tiba pemuda itu mengeluh.

In Hong terkejut dan... dia pun tersadar, membuka mata, memandang ke kanan, ke arah pemuda yang tadi masih rebah tak sadar. Oleh karena sebelum tidur seluruh perhatiannya tercurah kepada Bun Houw, maka biar pun dia tidur nyenyak sekali, sedikit saja pemuda itu mengeluh sudah cukup untuk menyadarkannya.

"Kenapa kau tidak membunuhku? Bunuh saja aku, tidak ada gunanya kau siksa dan kau bujuk. Kau... perempuan hina dina, perempuan keparat jahanam!" Pemuda itu memaki, pandang matanya penuh kebencian ditujukan ke arah In Hong.

Di dalam ruangan kuil itu sudah mulai gelap. In Hong cepat meloncat bangun, menjenguk keluar jendela butut untuk mengira-ngira waktu. Cuaca sudah mulai gelap, sudah tiba waktunya pemuda itu menelan pil hitam ke sembilan, pil yang terakhir dan dia gembira sekali karena pemuda itu kini sembuh, buktinya sudah sadar dan sudah penuh semangat hidup kembali, sudah dapat marah-marah dan memaki-maki! Dia tahu bahwa pemuda itu mengira dia seorang di antara para musuh-musuh yang menyiksanya, maka makian itu tidak menyakitkan hati, bahkan menggelikan.

Tanpa menjawab In Hong mengambil air matang dari panci butut di sudut ruangan, lalu menuangkan ke dalam mangkok, mengambil obat pil terakhir dan berjalan menghampiri Bun Houw.

Seperti biasanya, tanpa bicara sepatah kata pun dia meletakkan mangkok di atas lantai, menggenggam pil di tangan kanan dan lengan kirinya menyangga punggung pemuda itu dan diangkatnya pemuda itu untuk bangkit setengah duduk. Akan tetapi Bun Houw yang dirangkul itu meronta.

"Aku tidak sudi...! Lepaskan, kau perempuan hina...!"

Pemuda itu menggerakkan tangannya hendak memukul, akan tetapi dia mengeluh dan dua lengannya tergantung lemas karena luka di kedua pundaknya masih belum sembuh benar sehingga sedikit gerakan saja langsung membuat tulang-tulang pundaknya seperti ditusuk-tusuk rasanya.

"Tenanglah, engkau harus menelan pil sebutir lagi dan engkau akan sembuh sama sekali. Buka mulutmu, telah pil ini dan minum air ini."

Akan tetapi Bun Houw menggelengkan kepalanya dan memandang wajah yang cantik itu dengan sinar mata penuh kebencian dan kemarahan. "Perempuan hina, percuma saja Thian mengaruniai padamu wajah secantik ini, ternyata engkau hanya seorang manusia berhati iblis, seperti ular beracun, hamba dari nafsu yang cabul!" Bun Houw menyangka bahwa gadis yang amat cantik ini tentu saudara seperguruan dari Ai-kwi dan Ai-kiauw.

Wajah In Hong menjadi merah sekali. Kalau saja bukan pemuda ini yang memakinya seperti itu, kalau saja dia tidak tidak tahu benar bahwa pemuda ini salah sangka, kalau saja dia masih seperti In Hong beberapa hari yang lalu, makian itu sudah cukup baginya untuk membunuh laki-laki ini! Huh, laki-laki berani memaki dia secara demikian menghina!

Akan tetapi sekarang dia tahu betul bahwa pemuda ini bukanlah laki-laki perusak wanita, bahkan sebaliknya, dia mempertahankan diri terhadap bujuk rayu wanita-wanita cabul dan hina. Makiannya itu hanya menunjukkan betapa pemuda ini pada saat terakhir pun masih tetap tak sudi melayani bujuk rayu itu, masih tetap teguh mempertahankan kegagahannya dengan menentang maut! Makin kagumlah hati In Hong.

"Orang she Bun, engkau salah kira..." Dia berkata lirih. "Engkau sudah bukan tawanan lagi, dan aku hanya membantumu menelan pil ke sembilan ini yang telah menyelamatkan nyawamu dari ancaman racun kelabang hitam."

Bun Houw mendengarkan suara ini kemudian matanya perlahan-lahan terbuka lebar. Dia memandang wajah itu, yang tidak begitu jelas karena cuaca yang mulai gelap, dan dia memandang ke sekeliling dan mendapat kenyataan bahwa dia berada di sebuah ruangan kuil yang rusak.

"Kau... kau... siapakah...? Kau... bukan... seorang di antara mereka...?"

Ing Hong tersenyum dan giginya yang putih sempat berkilau di dalam gelap. Dia lantas menggeleng kepalanya. "Telanlah dulu pil ini, dan minum air di mangkok ini...," katanya lirih.

Bun Houw masih bingung, akan tetapi sekarang mulailah kesadarannya kembali. Siapa pun adanya wanita ini, jelas bahwa wanita ini tidak berniat buruk terhadap dirinya, bukan meracuni atau pun merayu. Bukan demikian sikap orang merayu, biar pun lengan wanita ini merangkul punggungnya. Kalau wanita ini hendak membunuhnya atau meracuninya, bukan demikian pula sikapnya. Dan lagi, setelah mengalami siksaan seperti itu, apa lagi yang ditakutinya.

Dia lalu membuka bibirnya menerima pil yang dimasukkan ke dalam mulutnya, pil yang berbau sedap dan terasa pahit, kemudian menelan pil itu bersama air dari mangkok yang ditempelkan di bibirnya oleh wanita itu. Kemudian wanita itu merebahkan dia kembali ke atas lantai.

Tanpa bicara In Hong mengembalikan mangkok kosong ke sudut ruangan, lalu membuat api dari kayu-kayu kering di sudut ruangan itu, agak jauh dari Bun Houw. Dengan alat seadanya yang disediakan oleh murid-murid Bu-tong-pai, dia memasak bubur dan semua pekerjaan ini dilakukan dengan mulut tertutup, walau pun dia maklum bahwa sepasang mata selalu mengikuti setiap gerakannya, memandangi dirinya di bawah penerangan api unggun yang kemerahan. Sepasang mata yang memandang penuh keheranan, penuh pertanyaan dan keraguan.

Pada waktu In Hong menyuapkan bubur ke mulut pemuda itu, sepasang mata itu terus memandanginya seperti mata seorang anak kecil memandang orang yang baru pertama kali dijumpainya. Akhirnya sepasang mata itu tertutup kembali, tertidur nyenyak.

In Hong segera makan pula, makan bubur dengan sayur asin sederhana sebagai lauknya, akan tetapi karena hatinya lega dan perutnya lapar, rasanya belum pernah dia makan selezat itu. Kemudian dia pun tidur tidak jauh dari Bun Houw, tidur dengan nyenyak tanpa mimpi semalam suntuk.

Pada keesokan harinya, pagi-pagi sekali In Hong sudah bangun. Tubuhnya terasa segar dan cepat dia keluar dari kuil, kini berlatih ilmu yang baru saja dipelajarinya dari pendeta Lama raksasa itu. Dia bersila sambil mengumpulkan hawa murni, menggerak-gerakkan sinkang yang sudah terkumpul di dalam pusarnya, melatih perlahan-lahan sehingga ‘kuda liar’ yang amat kuat itu tunduk kepada kemauannya dan dia dapat mengalirkan Thian-te Sinkang itu sampai ke ujung-ujung jari tangannya, akan tetapi belum dapat sepenuhnya.

Setelah merasa cukup berlatih, dia kemudian pergi ke sumber air di tengah hutan, lalu menanggalkan pakaiannya dan mandi sampai bersih. Segar bukan main rasanya, lenyap seluruh sisa kelesuan dan kelelahan tubuhnya. Sambil berdendang In Hong mencuci pula rambutnya yang dianggapnya tentu sudah mulai kotor.

Tiba-tiba saja dia berhenti di tengah-tengah dendangnya dan mukanya terasa panas. Dia menengok ke kanan kiri, menarik napas lega karena tidak ada orang lain yang melihat dan mendengarnya, lalu cepat-cepat menyelesaikan pekerjaannya membersihkan seluruh tubuh dan memakai kembali pakaiannya, duduk memeras air dari rambutnya yang hitam panjang, mengurai rambut itu agar cepat kering sambil melamun.

Baru sadar dia akan keadaan dirinya sendiri. Dia berdendang? Belum pernah dia melihat dirinya sendiri seperti ini! Sejak kecil dia tidak pernah bernyanyi, sungguh pun dia tahu bahwa dia pandai menirukan semua nyanyian yang didengarnya dinyanyikan oleh para anggota Giok-hong-pang dan bahwa suaranya cukup merdu.

Selama hidupnya tidak pernah dia merasa begini gembira, begini bebas, begini lapang dadanya. Belum pernah selama hidupnya dia melihat pagi seindah itu, secerah itu sinar keemasan matahari pagi, semerdu itu suara kicau burung dan gemericik air dari sumber air, secantik itu daun-daun hijau terhias embun pagi dan bunga-bunga beraneka warna, senyaman itu tarikan napasnya, membawa bau sedap pohon-pohonan dan keharuman bunga-bunga.

Mengapa begini? Mengapa setelah melihat pemuda she Bun... dia terkejut dan cepat dia meloncat bangun pada saat teringat kepada pemuda itu. Tentu pemuda itu telah bangun! Seperti orang takut kehilangan sesuatu yang amat berharga, In Hong meloncat dan berlari cepat ke arah kuil, memegangi rambutnya yang masih terurai lepas sehingga terbang melambai-lambai di belakang tubuhnya ketika dia berlari cepat.

Dengan berindap-indap dia memasuki kuil, seolah-olah khawatir kalau-kalau mengejutkan pemuda itu dan dia menarik napas lega ketika melihat betapa Bun Houw masih rebah terlentang di atas lantai. Dia lalu duduk dengan perlahan, menyanggul rambutnya yang menjadi agak kering karena dibawa lari tadi, sambil menatap wajah pemuda itu.

Betapa dia sudah hafal akan wajah yang tampan dan gagah itu, wajah agak kurus dan pucat karena banyak menderita dan hanya makan bubur sedikit setiap hari selama lima hari ini. Akan tetapi warna gelap sudah lenyap sama sekali dan kini wajah itu kelihatan makin tampan, ada warna merah sedikit pada pipi dan bibir itu, tanda bahwa dia sudah sehat benar, hanya tinggal memulihkan tenaga saja.

Hati In Hong dilanda rasa iba melihat pakaian yang kotor itu, rambut yang kusut serta dua pundak yang masih dibalut. Ada bekas-bekas darah di pakaiannya dan keadaan pemuda itu amat mengharukan. Pakaian itu perlu dicuci, pikir In Hong yang sudah membayangkan betapa dia akan dengan senang hati mencucikan pakaian pemuda itu.

Tiba-tiba In Hong menghentikan lamunannya lalu memandang dengan penuh perhatian. Jantungnya berdebar tegang. Pemuda itu menggeliat, tubuhnya yang kuat seperti tubuh seekor harimau itu menggeliat dan menegang, akan tetapi pada waktu kedua lengannya direnggangkan, dia menahan rintihan dan membuka mata karena kedua pundaknya itu terasa nyeri.

Begitu membuka mata, bagaikan orang yang baru sadar dari mimpi buruk, Bun Houw bangkit duduk, menggigit bibir ketika merasa pundaknya kembali nyeri. Dia menoleh ke kanan kiri, lalu ke arah kaki tangan dan pundaknya, dan kini dia menatap wajah In Hong yang duduk dengan tenang-tenang saja itu dengan mata penuh selidik. Seperti teringat sebuah mimpi, Bun Houw mengenal wajah ini yang pernah dilihatnya secara remang-remang, lalu dia menoleh ke sudut di mana terdapat panci dan mangkok, ke sudut lain di mana terdapat bekas api unggun dan dia teringat.

"Kau... ehh, nona... apakah yang sudah terjadi dengan diriku? Di mana aku sekarang ini berada...?" tanyanya.

Kesadarannya membuat dia bingung melihat betapa dia yang tadinya ditawan dan disiksa oleh dua orang musuh besarnya itu tahu-tahu bisa berada di sini terbebas dari belenggu dan tubuhnya terasa sehat sama sekali, kecuali rasa nyeri pada kedua tulang pundaknya yang masih terbalut.

Dengan sikap dingin, bukan dingin sewajarnya seperti yang sudah menjadi sikapnya sejak kecil menurut gemblengan gurunya, melainkan sekali ini dingin buatan, seperti orang acuh tak acuh, seperti orang memandang rendah, In Hong menjawab lirih, "Di dalam sebuah kuil rusak..." Lalu dia menunduk dan merapikan bajunya, kemudian merapikan rambutnya yang tadi digelung, dan dipasangnya tusuk konde burung hong kumala di rambutnya.

Bun Houw tentu saja melihat betapa cantik jelitanya dara yang duduk di depannya itu, akan tetapi pada saat itu dia lebih memperhatikan keadaan luar kuil dari jendela ruangan itu yang terbuka karena hatinya masih diliputi keheranan besar. Dia melihat pohon-pohon lebat dan tahulah dia bahwa kuil tua ini berada di tengah hutan.

"Hemmm... di dalam sebuah kuil tua di tengah hutan. Dan... bagaimana aku bisa berada di sini? Bukankah tadinya aku berada dalam kamar tahanan di Lembah Bunga Merah?"

In Hong tak menjawab, hanya memandang dan dua pasang mata saling bertemu, sejenak bertaut dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya. Melihat dara itu tidak menjawab, timbul pula kecurigaan Bun Houw dan dia lantas menduga-duga. Apakah dara ini murid Hui-giakang Ciok Lee Kim? Akan tetapi agaknya tidak mungkin, karena jelas bahwa dara ini memperlakukan dirinya dengan baik, memberi obat dan menyiapkan bubur!

"Ahhh, tentu ada yang menolongku keluar dari tempat itu, betapa pun anehnya hal itu, mengingat bahwa aku tersiksa dan dibelenggu, kedua tulang pundakku dikait dengan besi kaitan..." Tiba-tiba dia teringat akan bayangan rahasia yang memiliki gerakan cepat luar biasa, yang telah menyelamatkan dan membebaskan tiga orang tawanan Lembah Bunga Merah, yaitu tiga murid-murid Bu-tong-pai.

"Nona, apakah engkau yang telah membebaskan tiga orang anak murid Bu-tong-pai dari Lembah Bunga Merah?" Dia memandang tajam penuh selidik.

In Hong mengangkat muka, pada saat pandang matanya bertemu dengan pandang mata penuh selidik itu, dia merasakan sesuatu yang aneh pada jantungnya. Dia berdebar malu, dan... bangga! Sungguh dia hampir tidak mengenal diriya sendiri, perasaannya sendiri, mengapa sekarang menjadi begini aneh? Dia hanya mengangguk dan menunduk lagi.

"Kalau begitu... agaknya engkau pula yang telah menolong aku, nona?" pertanyaan ini diajukan oleh Bun Houw dengan pandang mata penuh keheranan, hampir tidak percaya.

Mana mungkin seorang gadis muda seperti ini, yang begini cantik jelita, begini pendiam dan agaknya pemalu, bisa menolong dia yang telah terbelenggu dan tulang punggungnya dikait dari tangan lima orang sakti dan anak buah Lembah Bunga Merah?

Akan tetapi kembali dara itu mengangguk!

Hening sejenak karena Bun Houw terlalu heran dan terkejut sehingga sampai lama dia hanya bengong saja memandang wajah dara itu. Kalau yang menolongnya itu gurunya, Kok Beng Lama misalnya, atau ayahnya dan ibunya sendiri, masih tidak terlalu aneh. Akan tetapi dara ini!

Dan bukan hanya menolongnya keluar dari tahanan yang berbahaya itu, malah sudah menyembuhkannya, padahal dia masih ingat betul betapa dia tersiksa hebat oleh rasa nyeri dan tahu bahwa dia keracunan, bahkan menurut Hui-giakang Ciok Lee Kim dia hanya dapat bertahan hidup tiga hari saja! Buktinya sekarang dia sudah sembuh! Gadis ini pulakah yang menyembuhkannya? Tiba-tiba dia teringat dan cepat Bun Houw bangkit berdiri ketika dia melihat dara itu yang agaknya merasa tidak enak dipandanginya terus seperti itu telah bangkit berdiri di dekat jendela, memandang keluar, membelakanginya.

"Kalau begitu... aku telah kau tolong, nona. Kau telah menyelamatkan nyawaku...! Betapa hebat dan besar budimu terhadap diriku, nona. Bagaimana aku harus mengatakan terima kasihku?" kata Bun Houw gagap karena hatinya terharu, tahu betul dia betapa bahayanya menolong dia dari lembah maut itu, bahaya yang hanya dapat ditempuh dengan taruhan nyawa.

"Kenapa mesti bingung-bingung?" In Hong menjawab tanpa menoleh. "Sudah saja jangan menyatakan terima kasih, aku tidak membutuhkan itu..."

Bun Houw menjadi makin bingung. Sikap gadis ini sungguh aneh. Melihat budinya yang begitu besar, jelas bahwa dara ini adalah seorang yang berhati mulia, akan tetapi kenapa sikapnya demikian dingin? Jangan-jangan ada maksud tertentu di balik pertolongannya itu! Akan tetapi, tak mungkin.....!


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner