DEWI MAUT : JILID-24


"Sudikah engkau menceritakan bagaimana engkau dapat membebaskan aku dari tahanan itu, nona?"

In Hong membalikkan tubuhnya. Karena dia berdiri miring, sinar matahari yang menerobos masuk dari jendela tua itu menimpa separuh mukanya dan kelihatan cantik bukan main. Rambut yang baru saja dicuci itu berkilauan, anak rambut banyak yang bergumpal-gumpal kacau dan awut-awutan di sekitar dahi, pelipis dan leher. Manisnya sukar dilukiskan!

"Apa yang dapat diceritakan? Aku melihat engkau ditawan dan disiksa, kemudian aku menggunakan kesempatan selagi lima orang sakti itu tidak menjagamu, aku merobohkan semua penjaga, anak buah Lembah Bunga Merah, lalu membawamu ke sini." Kata-kata yang keluar dari mulut dara itu begitu bersahaja, seolah-olah menceritakan hal yang biasa saja, demikian penuh kerendahan hati sehingga Bun Houw menjadi makin terheran-heran dan kagum.

"Akan tetapi... apakah tidak ada di antara mereka yang merintangimu?"

In Hong mengangguk. "Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw menghadangku, akan tetapi aku dapat melewati mereka dengan selamat."

Bun Houw terbelalak. Kakek dan nenek pertapa itu lihai bukan main, dan tentu dara ini memanggulnya pada saat melarikan dia, akan tetapi toh sanggup membebaskan diri dari mereka. Bukan main!

Cepat dia menjura dengan penuh hormat yang dibalas oleh In Hong dengan kaku dan sembarangan. "Ah, kiranya aku berhadapan dengan seorang pendekar wanita yang amat lihai! Sungguh beruntung sekali, karena tanpa pertolonganmu aku tentu tewas di tangan mereka. Terimalah ucapan terima kasihku yang sedalam-dalamnya, nona."

Melihat pemuda itu kembali menjura dengan hormat, In Hong membalas dan berkata, "Sudah kukatakan, aku tidak membutuhkan terima kasih."

"Dan aku telah keracunan, Toat-beng-kauw Bu Sit menusukkan jarum mengandung racun kelabang hitam di tengkukku, sakitnya bukan main, seperti ribuan ekor semut menggigit dari dalam tubuhku, sampai aku tidak tahan... dan... aku tidak berdaya, tulang pundakku dikait baja pengait dan Hui-giakang Ciok Lee Kim mengatakan bahwa aku hanya dapat hidup tiga hari lagi saja. Akan tetapi sekarang..." Bun Houw memandang kaki tangan dan pundaknya, "sama sekali tak ada bekas-bekasnya lagi! Agaknya engkau pula yang telah menyembuhkan aku dari ancaman racun kelabang hitam itu, nona?"

"Bukan aku, melainkan Yok-mo. Aku pergi ke puncak Gunung Cemara di mana tinggal Yok-mo, ahli obat gila. Aku memaksa dia memberikan obat untukmu dan ternyata kau sembuh."

"Dan nona meninggalkan aku di sini ketika pergi mencari obat?"

"Tidak, tiga anak murid Bu-tong-pai menjagamu di sini. Sesudah aku kembali membawa obat, baru mereka pulang ke Bu-tong-pai."

"Aihhhh... dua kali engkau menyelamatkan nyawaku, nona!" Kembali Bun Houw menjura dengan terheran-heran dan kagum sekali.

"Sudahlah, capek aku kalau terus menerus harus membalas penghormatanmu!" In Hong mengomel dan cemberut, akan tetapi sesungguhnya belum pernah dia merasa demikian girang hatinya.

"Sungguh hebat... sungguh mengherankan sekali... engkau yang masih begini muda... bolehkah aku mengetahui namamu yang mulia dan terhormat, nona?"

"Hemmm, pertemuan antara kita hanya kebetulan saja. Aku hanya tahu engkau seorang she Bun, dari percakapan mereka di Lembah Bunga Merah. Biarlah aku mengenalmu sebagai orang she Bun, dan engkau tidak perlu mengetahui namaku..."

"Aihh, mengapa begitu, nona?" Bun Houw bertanya dengan heran lagi.

Diam-diam dia pun tidak ingin memperkenalkan namanya. Dia tahu betapa bahayanya kalau namanya dikenal orang, apa lagi kalau sampai dikenal oleh Lima Bayangan Dewa, sedangkan nona jelita ini begini aneh dan penuh rahasia.

"Habis, bagaimana aku harus mengingatmu, harus memanggilmu, kalau aku tidak tahu namamu, nona?"

In Hong tereenyum. "Jangan mengingat, jangan memanggil..."

Melihat sikap yang dingin, kata-kata yang singkat ini, Bun Houw menjadi khawatir sekali kalau-kalau penolongnya itu marah. Maka dia segera membelokkan percakapan dan dia bertanya, "Aku sudah tidak memiliki harapan ketika ditusuk jarum beracun itu, akan tetapi buktinya aku sembuh, sungguh hebat obat itu, bagaimana macamnya dan bagaimana pula cara kerjanya ketika engkau mengobatiku, nona?"

"Aku menerima sembilan butir pil hitam dari Yok-mo. Ketika engkau menelan pil pertama sampai ke enam, setiap kali menelan pil hitam itu kau muntah darah hitam yang berbau busuk, akan tetapi mulai dengan pil ke tujuh engkau tidak muntah lagi."

"Aihh... sungguh menjijikkan... akan tetapi mengapa lantai ini bersih?"

"Aku sudah membersihkannya setiap kali kau muntah..."

"Ahh...! Dan nona merawatku, menjagaku, memberi obat, menyuapkan bubur selama tiga hari tiga malam... dan..."

Serasa hampir meledak jantung di dalam dada In Hong melihat pemuda itu menatapnya dengan mata terbelalak penuh keharuan, penuh rasa syukur dan terima kasih.

"Sudahlan, pakaianmu kotor, mari... mari... kucucikan... dan kau dapat mandi di sumber air di dalam hutan..."

Mata yang sudah terbelalak itu semakin terbelalak berisi penuh dengan sinar keharuan, kekaguman dan kini bahkan bercampur dengan keheranan. "Apa? Nona... nona hendak... mencucikan pakaianku...? Ahh, tidak..."

"Mengapa tidak?" Sikap In Hong biasa saja. "Aku seorang wanita, sudah biasa mencuci pakaian..."

"Tidak, tidak boleh nona begitu merendahkan diri. Di mana sumber air itu? Aku akan membersihkan tubuh dan pakaian ini..."

In Hong menudingkan telunjuknya dan Bun Houw cepat bangkit lalu melangkah lebar ke dalam hutan. Pundaknya masih terasa nyeri sedikit kalau dia terlalu keras menggerakkan kedua tengannya.

Setelah tiba di sumber air, dia menanggalkan pakaiannya, membersihkan tubuhnya dan tubuhnya terasa segar kembali. Dia merendam tubuh di dalam air, lalu mengumpulkan hawa murni, mempergunakan sinkang-nya untuk melancarkan jalan darah dan dengan kekuatan sinkang-nya ini dia dapat melindungi tulang-tulang pundaknya.

Untung bahwa di dalam sakunya masih terdapat obat lukanya yang mujarab pemberian ayahnya. Maka dia segera membuka balutan pundaknya, lalu memberi obat luka setelah mencucinya bersih, membalutnya kembali setelah dia mandi sampai bersih.

Kemudian dia baru mencuci pakaiannya, memeras air dengan kekuatan besar sehingga sebentar saja pakaian itu hampir kering karena semua air dapat diperasnya keluar. Dia menjemur pakaian ini di atas batu dan sambil menanti keringnya pakaian itu, dia kembali bersemedhi mengumpulkan hawa murni. Tidak lama kemudian, tenaganya pulih kembali dan ketika dia menggerakkan kedua lengan, rasa nyeri di pundak hanya tinggal sedikit. Akan tetapi perutnya terasa lapar bukan main.

Kurang lebih dua jam kemudian, dia kembali ke kuil dengan baju dan pakaian bersih, juga sudah kering. Baru saja nampak dinding kuil itu, hidungnya sudah mencium bau sedap yang membuat perutnya terasa semakin lapar.

Dia mempercepat langkahnya dan... di depan kuil itu, di bawah pohon, nampak dara itu sedang memanggang seekor ayam hutan yang gemuk sekali, ada pun dari panci bekas tempat air itu kelihatan nasi mengepul panas. Bun Houw berdiri memandang, menelan ludahnya dua kali.

"Kau sudah selesai?" In Hong menengok dan sejenak pandang mata mereka bertemu. Gadis itu menunduk dan di lehernya menjalar warna merah terus ke kepalanya, kemudian terdengar suaranya tanpa dia mengangkat muka. "Tadi aku berhasil menangkap seekor ayam..."

Bun Houw tidak menjawab, hanya memandang dara itu, hatinya diliputi keheranan besar. Sungguh amat sulit untuk mengerti watak dan sifat wanita cantik ini pikirnya. Masih begitu muda, tentu lebih muda darinya, namun sudah memiliki kepandaian yang sangat hebat, sungguh pun dia belum menyaksikan sendiri, tapi dari caranya menolong dia dari Lembah Bunga Merah saja sudah dapat diduga bahwa kepandaiannya tentu hebat sekali.

Kadang-kadang wanita ini demikian dingin dan tak acuh, sehingga agaknya sama sekali tak mau saling berkenalan, tidak mau memperkenalkan nama dan tidak pula menanyakan namanya, padahal wanita ini sudah mempertaruhkan nyawa untuk monolongnya, bahkan selama tiga hari tiga malam merawatnya sedemikian rupa! Akan tetapi ada pula saat-saat tertentu wanita itu kelihatan begitu lemah lembut, seperti sekarang ini, sama sekali tidak patut menjadi seorang wanita kang-ouw yang perkasa dan aneh sekali.

"Kau tentu lapar sekali..."

Bun Houw sadar dari lamunannya, sadar betapa semenjak tadi dia hanya berdiri bengong memandang dara itu yang sedang memanggang daging ayam.

"Ohh, lapar...? Lapar sekali...! Dan panggang ayam itu begitu sedap!"

"Kalau begitu, mari kita makan. Ayam ini lebih enak dimakan panas-panas sebagai teman nasi. Sayang tidak ada arak..."

"Ahh, itu sudah cukup, nona. Air pun sudah cukup menyegarkan," jawab Bun Houw yang lalu duduk di dekat dara itu.

Mereka lalu makan nasi dan panggang daging ayam, tidak menggunakan sumpit karena memang tidak ada, hanya menggunakan lima batang sumpit alam alias lima jari tangan kanan. Nasinya mengepul panas, daging ayam panggang juga masih mengepul panas, empuk dan gurih, ditambah kesunyian di pagi indah itu, hadirnya mereka berdua, perut lapar, semua ini membuat nasi dan daging ayam menjadi lezat bukan main.

Dalam waktu pendek saja habislah semua nasi beserta daging ayam memasuki perut mereka, tidak ada ketinggalan sebutir pun nasi dan secuil pun daging. Bun Houw menjilati jari-jari tangannya yang terbalut gajih panggang ayam dan In Hong memandang sambil menabur senyum.

Satu di antara kelemahan wanita adalah, selain senang dipuji-puji tentang kecantikannya, juga senang dipuji-puji mengenai kelezatan hasil masakannya! Sekarang, ketika melihat Bun Houw menjilati jari-jari tangannya, In Hong merasa mendapat pujian yang jauh lebih mengesankan dari pada kata-kata.

"Kau belum kenyang? Masih kurang?" tanyanya lirih, tersenyum dan tampak deretan gigi mutiara.

Bun Houw tertawa. "Makan sesedap ini, agaknya aku tak akan mengenal kenyang. Akan tetapi sementara ini cukuplah, dan terima kasih." Dia kemudian minum air tawar dengan segarnya.

"Beras yang ditinggalkan oleh para murid Bu-tong-pai tinggal itu, aku belum sempat pergi membeli ke dusun."

Kembali Bun Houw tersenyum. Percakapan di antara mereka itu seolah-olah percakapan dua orang sahabat lama yang hidup bersama di suatu tempat. Setelah mencuci tangan dan mulut, dia lalu berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Nona, setelah semua yang kau lakukan untukku, setelah kau menyelamatkan nyawaku dengan mempertaruhkan keselamatanmu sendiri..."

"Cukup, aku tidak mau bicara tentang itu...," In Hong memotong.

Bun Houw menunduk. Melihat wajah nona ini ketika itu, dia menduga bahwa di samping semua keanehannya, gadis ini mempunyai kekerasan hati yang luar biasa. Sebaliknya, melihat pemuda itu menunduk dan tidak berani bicara lagi, In Hong merasa kasihan dan sadar bahwa dia terlalu keras.

Betapa pun juga, tidak aneh kalau pemuda ini amat berterima kasih kepadanya dan ingin membicarakan tentang pertolongan itu. Akan tetapi justru dia tidak mau membicarakan urusan itu, karena pertolongannya itu memang terasa aneh olehnya sendiri, mengapa dia mau begitu bersusah payah untuk pemuda ini. Kejanggalan ini membuat dia merasa malu sendiri sehingga dia tidak ingin lagi membicarakannya. Akan tetapi, melihat pemuda itu bingung dan kecewa, dia lalu ingin membicarakan lain dari pada pertolongan itu sendiri.

"Kenapa engkau begitu nekat, menentang lima orang yang mempunyai kepandaian tinggi itu sehingga engkau ditawan dan disiksa?" tiba-tiba In Hong bertanya.

Bun Houw memandang dan hatinya merasa gembira lagi. Kiranya dara ini bukan marah atau bersikap dingin, hanya agaknya tidak mau menyinggung mengenai pertolongan itu, Betapa rendah hati, tidak ingin menonjolkan jasa, pikirnya.

Dia belum mengenal dara ini, sungguh pun dia sudah percaya sepenuhnya, namun tidak baik kalau dia memperkenalkan diri dan menceritakan urusan pribadinya. Maka dia lalu menarik napas panjang dan menjawab, "Yang menjadi gara-gara adalah lenyapnya tiga orang murid Bu-tong-pai yang kau tolong itu. Ketika mereka ditawan dan hendak dibunuh, Liok-twako mencegah dan memperingatkan mereka supaya tidak menanam permusuhan dengan Bu-tong-pai..."

"Siapa itu Liok-twako?"

"Dia adalah Kiam-mo Liok Sun, dia... ehh, majikanku..."

"Yang datang bersamamu? Aku hanya mendengar bahwa engkau orang she Bun adalah pengawal pribadinya."

"Karena mencegah itulah, setelah tiga orang murid Bu-tong-pai melarikan diri, Liok-twako dicurigai dan akhirnya dibunuh. Sebagai... ehh, pengawalnya, tentu aku melawan dan aku lalu ditawan dan disiksa."

"Orang she Liok itu dibunuh, akan tetapi mengapa engkau ditawan dan disiksa pula? Apa yang mereka kehendaki?"

"Mereka memaksa aku mengaku siapa yang membebaskan tiga orang murid Bu-tong-pai dan apa maksud kedatangan Liok-twako di Lembah Bunga Merah."

"Ataukah karena perempuan-perempuan hina itu hendak memaksamu melayani semua bujuk rayu mereka?"

Bun Houw memandang dengah mata terbelalak, "Kau... kau tahu pula akan hal itu?"

"Aku tahu penolakanmu terhadap murid-murid Ciok Lee Kim yang tak tahu malu itu, juga terhadap nenek cabul itu sendiri, dan mungkin karena itulah aku membebaskanmu dari tahanan."

"Dua orang wanita murid Ciok Lee Kim itu telah tewas di tanganku, sayang bahwa aku tak sempat membunuh gurunya. Akan tetapi, aku akan mencari mereka! Aku akan mencari Ciok Lee Kim serta teman-temannya, terutama sekali dia sendiri dan Bu Sit, dua orang yang menyiksaku. Kalau bertemu, mereka harus tewas di tanganku!"

Bun Houw teringat akan penyiksaan itu dan timbul kemarahannya, otomatis tangannya meraba pinggang dan tampaklah sinar kilat berkelebat ketika dia tahu-tahu telah melolos pedangnya, yaitu pedang Hong-cu-kiam. Pedang ini dia dapatkan dari gurunya, sebatang pedang pusaka yang terbuat dari baja murni, tipis sekali sehingga dapat digulung dan dibuat menjadi sabuk pinggang, maka senjata ini tidak ketahuan dan tidak terampas oleh musuh-musuhnya.

"Aihhh, pedang yang bagus!" In Hong berseru memuji. "Boleh aku melihatnya?"

Bun Houw menyerahkan pedangnya. In Hong menerima kemudian menggerak-gerakkan pedang sampai berbunyi berdesing dan berubah menjadi kilat. Dia kembali memuji, lalu menimang-nimang pedang dan memeriksanya. Pada waktu melihat ukiran gambar burung hong di dekat gagang pedang, dia memuji lagi.

"Sama benar dengan ini...!" Dia meloloskan hiasan rambutnya yang berupa burung hong kumala, lalu membandingkan burung hong kumala itu dengan lukisan burung hong pada pedang Hong-cu-kiam.

"Apanya yang sama, nona?" Bun Houw tentu saja merasa bingung dan tidak mengerti. Bagaimana sebatang pedang dipersamakan dengan sebuah hiasan rambut wanita?

"Burung hong-nya yang sama. Indah bukan main pedangmu ini...!" In Hong menggerakkan pedang itu dan Bun Houw menjadi kagum.

Memang sungguh tepat dugaannya. Dara ini bukan sembarang ahli silat. Dari cara dia menggerakkan pedang saja sudah dapat dikenal sebagai seorang ahli pedang yang lihai.

"Sing-sing-wirrrrr... crakk!"

Sebatang pohon sebesar paha manusia yang berdiri dalam jarak jauh langsung roboh hanya tersambar hawa pedang yang digerakkan dengan sinkang yang amat kuat.

"Bukan main...! Engkau lihai sekali, nona...!" Bun Houw memuji karena dia maklum bahwa hanya seorang yang memiliki sinkang amat kuat saja mampu merobohkan pohon hanya dengan sinar pedang.

In Hong menimang-nimang pedang itu, juga meraba-raba mata pedang yang amat tajam. "Hemmm... pedang ini yang lihai..."

Saking kagumnya dan senang hatinya, lantas terloncat saja ucapan dari mulut Bun Houw. "Kalau nona suka, biarlah pedang Hong-cu-kiam ini kupersembahkan kepadamu, nona."

In Hong terkejut dan memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik. "Apa?"

"Nona telah..." Dia teringat dan tidak mau mengulangi tentang pertolongan itu, maka dia melanjutkan, "...kita telah menjadi kenalan, bukan? Karena itu, dengan hormat aku ingin menyerahkan pedang Hong-cu-kiam itu padamu. Pedang itu ringan dan lemas, memang lebih tepat dipergunakan oleh wanita, pula dapat dipakai sebagai ikat pinggang..."

Wajah In Hong berseri dan tangannya masih membelai pedang itu dengan rasa sayang, akan tetapi pandangan matanya kepada Bun Houw masih ragu-ragu dan penuh selidik. Melihat wajah pemuda itu yang terbuka dan polos, dengan pandang mata yang tajam dan membayangkan kejujuran, dia lalu berkata, "Apakah dengan tulus ikhlas...?"

"Tentu saja nona, dengan sepenuh hatiku yang tulus ikhlas."

"Terima kasih...!" In Hong kelihatan girang sekali.

Dia lalu memakai pedang Hong-cu-kiam itu sebagai ikat pinggangnya, kemudian ditutupi jubahnya sehingga tidak nampak dari luar. Dia lalu meraba-raba pedangnya, akan tetapi tidak jadi diambil dan dia pun berkata,

"Pedangku ini hanya pedang biasa, sama sekali tak pantas untuk ditukar dengan pedang pusaka seperti Hong-cu-kiam, akan tetapi ini... Giok-hong-cu (burung hong kumala) ini tak pernah terpisah dari aku semenjak aku kecil sehingga bagiku merupakan benda pusaka. Biarlah kuberikan ini kepadamu, Bun-twako (kakak Bun)." Dia menyerahkan burung hong kumala itu kepada Bun Houw.

Bun Houw terkejut dan seketika mukanya menjadi merah sekali, jantungnya berdebar. Dia merasa seolah-olah ada sesuatu yang amat aneh dalam tukar-menukar benda pusaka ini! Akan tetapi karena maklum akan keanehan watak wanita ini yang agaknya pasti akan merasa tersinggung dan terhina apa bila dia menolaknya, dia segera menerimanya dan memandangi perhiasan rambut itu dengan kagum.

"Sebuah perhiasan yang indah sekali... terima kasih, nona. Sekarang kita benar-benar sudah menjadi sahabat, bukan?" Bun Houw bertanya sambil menatap wajah yang cantik jelita dan gagah itu.

In Hong balas memandang, tersenyum dan mengangguk. Sejak pertama kali melihat Bun Houw marah-marah serta menolak bujuk rayu kedua orang murid wanita yang genit itu, hatinya sudah kagum dan tertarik sekali. Kini, setelah pemuda itu siuman dari pingsannya dan sembuh, dia mendapat kenyataan bahwa pemuda ini benar-benar tidak sama seperti kaum lelaki seperti yang disangkanya semula, yaitu seperti yang sering kali dibicarakan oleh gurunya dan para anggota Giok-hong-pang, yaitu mata keranjang, cabul, pengganggu wanita dan pengrusak kehidupan wanita. Pemuda ini tidak pernah memperlihatkan sikap kurang ajar, mata keranjang dan sama sekali tidak pernah mengganggunya.

"Setelah kita menjadi sahabat, apakah engkau masih juga tidak percaya kepadaku dan tidak mau memperkenalkan namamu kepadaku?"

In Hong meraba pedang Hong-cu-kiam di pinggangnya lalu memandang perhiasan burung hong kumala di tangan pemuda itu, kemudian berkata "Pedang Hong-cu-kiam kau berikan kepadaku dan perhiasan Giok-hong-cu sudah kuberikan kepadamu, keduanya merupakan lambang burung hong. Karena itu, biarlah aku mengenalmu sebagai Bun-twako dan kau mengenalku sebagai Hong."

"Hong saja? Apakah namamu Hong?"

In Hong mengangguk.

Bun Houw tidak berani mendesak lagi. "Baiklah, Hong-moi (adik Hong), memang apakah artinya nama? Persahabatan adalah antara pribadi, bukan antara nama! Tentu tidak perlu pula aku menceritakan riwayatku atau mendengar riwayatmu, bukan?"

In Hong mengangguk dan Bun Houw menarik napas panjang. Dia mulai tertarik sekali akan pribadi nona ini yang sangat aneh, seakan-akan hendak merahasiakan dirinya dan seolah-olah tidak suka berurusan dengan orang-orang lain. Bagaimana pun juga, di balik sikap dingin dan tidak pedulian itu, dia tahu bahwa pada dasarnya dara ini mempunyai kegagahan luar biasa dan memiliki jiwa pendekar penentang kejahatan, juga mempunyai sifat-sifat yang budiman dan mulia.

"Kalau begitu, agaknya engkau tidak keberatan untuk mengatakan ke mana tujuanmu sekarang? Kau hendak pergi ke mana, Hong-moi?"

In Hong termenung. Pertanyaan itu dengan tepat mengenai hatinya sehingga dia menjadi bingung. Hendak ke manakah dia pergi? Apakah tujuan hidupnya? Tidak ada! Tidak ada ketentuan!

"Aku seperti seekor burung di udara," katanya sambil memandang seekor burung dada kuning yang beterbangan dari dahan ke dahan, mencari-cari ulat di antara daun-daun hijau. "Entah ke mana aku hendak pergi, aku sendiri pun tidak tahu, Bun-ko."

Bun Houw termenung juga, heran mendengar jawaban yang sangat aneh ini. "Apakah engkau tidak mempunyai tempat tinggal yang tetap, Hong-moi?"

Dara itu menggelengkan kepala.

"Tidak mempunyai keluarga?"

Kembali gelengan kepala.

"Tidak mempunyai orang tua?"

In Hong menggeleng lagi, pandang matanya masih mengikuti burung dada kuning yang telah mendapatkan seekor ulat gemuk yang kini dipatuknya dan dibanting-bantingnya ke atas ranting pohon.

"Ahhhh...!" Bun Houw berseru penuh perasaan haru.

"Kenapa?" In Hong menoleh dan memandangnya, memandang tajam.

"Kasihan kau, Hong-moi."

"Mengapa kasihan? Kasihankah engkau kepada burung itu?" In Hong membuang muka. "Sudahlah, aku tidak mempunyai tujuan tertentu, akan tetapi engkau sendiri hendak ke manakah, Bun-ko?"

"Yang jelas, aku akan pergi ke Lembah Bunga Merah!"

"Hemm... kau hendak membalas dendam kepada mereka? Berbahaya sekali, Bun-koko, mereka itu lihai."

"Aku tidak peduli, aku harus membalas penghinaan dan penyiksaan mereka itu, terutama kepada dua Bayangan Dewa itu."

"Dua Bayangan Dewa? Kau tahu itu?"

"Aku mendengar dari Liok-twako bahwa Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit adalah dua orang di antara Lima Bayangan Dewa yang tersohor itu."

"Hemm... aku pun akan ke sana, twako."

"Apa? Apakah hubunganmu dengan mereka?"

"Aku pun ingin mencari Lima Bayangan Dewa."

Bun Houw terkejut sekali. "Kenapa?"

"Tidak apa-apa. Aku pernah mendengar bahwa mereka sudah mencuri pedang Siang-bhok-kiam dari Cin-ling-pai."

"Hemmm... aku pun mendengar itu. Lalu bagaimana kalau begitu?"

"Aku ingin merampas pedang itu, aku mendengar bahwa pedang Siang-bhok-kiam adalah pedang pusaka yang amat hebat dan dahulu pernah diperebutkan oleh para datuk dunia persilatan. Aku ingin merampasnya..."

"Untuk apa, moi-moi?"

"Untuk apa? Mungkin kelak kukembalikan kepada ketua Cin-ling-pai." In Hong kemudian teringat akan kunjungannya ke Cin-ling-pai. "Aku... sekali waktu aku pasti akan pergi ke Cin-ling-san dan aku akan mengembalikan pedang itu kepada Cin-ling-pai kalau ternyata aku berhasil merampasnya."

"Engkau aneh sekali, Hong-moi. Tanpa alasan engkau hendak merampas pedang itu dari tangan Lima Bayangan Dewa. Apakah itu tidak amat berbahaya?"

"Justru karena berbahaya aku menempuhnya. Lima Bayangan Dewa itu, apa bila melihat yang dua ini, pastilah orang-orang jahat. Kalau aku tidak merampas kembali pedang itu, mereka akan menjadi sombong, mengira bahwa tidak ada orang berani terhadap mereka setelah mereka menggegerkan dunia kang-ouw dengan serbuan mereka ke Cin-ling-pai."

"Kalau begitu, mari kita sama-sama pergi ke Lembah Bunga Merah, Hong-moi."

In Hong mengangguk, maka berangkatlah pasangan muda-mudi ini meninggalkan kuil itu. Di tengah perjalanan, tiba-tiba In Hong berhenti.

"Bun-ko, bagaimana dengan kedua pundakmu?"

Bun Houw menggerakkan kedua tangannya, mengayun-ayunkan kedua lengannya. Tidak terasa nyeri lagi.

"Sudah sembuh sama sekali, Hong-moi," katanya.

"Akan tetapi masih berbahaya kalau bertemu dengan lawan tangguh, dan mereka itu amat lihai. Karena itu, kalau tiba di sana, biarkan aku yang turun tangan, kau boleh lihat saja, twako."

Bun Houw tersenyum dan mengangguk. Mereka kembali melanjutkan perjalanan dan In Hong menggunakan ilmunya berlari cepat. Bun Houw tak ingin menonjolkan diri sehingga menimbulkan kecurigaan kepada dara itu. Bukankah dia hanya dikenal sebagai seorang pengawal pribadi Liok Sun yang tentunya hanya mempunyai kepandaian silat biasa saja? Karena itu dia pura-pura mengerahkan tenaganya untuk mengimbangi kecepatan dara itu, akan tetapi dengan terengah-engah dia tertinggal jauh.

"Aihhh... Hong-moi, harap jangan berlari terlalu cepat...!"

In Hong yang memang hanya ingin mengukur kepandaian pemuda itu lalu memperlambat larinya dan diam-diam dia tahu bahwa pemuda yang bernyali besar ini sama dengan mengantar kematian bila ingin mencari lima orang di Lembah Bunga Merah yang berilmu tinggi itu.

Maka diam-diam dia mengambil keputusan untuk melindungi pemuda ini, yang di samping tenaganya belum pulih serta pundaknya baru saja sembuh, juga tingkat kepandaiannya masih terlampau rendah untuk menghadapi lawan-lawan tangguh seperti Lima Bayangan Dewa dan sekutu-sekutunya.

"Pedangku ini biar pun bukan pedang pusaka, akan tetapi terbuat dari baja yang cukup baik. Kau bawalah pedangku ini untuk menjaga diri, Bun-ko!" In Hong berkata kemudian menyerahkan pedangnya. "Aku sendiri sudah mempunyai Hong-cu-kiam."

Bun Houw tidak mau membantah sungguh pun sebetulnya untuk menghadapi lawan yang betapa tangguh pun, dia tidak begitu membutuhkan senjata. Kalau tempo hari dia sampai bisa dirobohkan dan ditawan, hal itu adalah akibat kenekatan Ai-kiauw. Dia mengucapkan terima kasih dan menggantungkan pedang itu di pinggangnya.

Pada waktu mereka sampai di daerah Lembah Bunga Merah, suasana di sana sunyi saja dan mereka cepat memasuki daerah itu menuju ke perkampungan yang menjadi sarang Hui-giakang Ciok Lee Kim dan anak buahnya. Akan tetapi di dalam bangunan-bangunan ini pun sunyi tidak kelihatan ada manusianya.

"Hati-hati, mungkin mereka bermaksud hendak menjebak kita!" Bun Houw berkata dan In Hong mengangguk.

Bun Houw mencabut senjatanya karena kalau tidak dia khawatir gadis itu akan menjadi curiga akan ketenangannya. Dengan berindap mereka memasuki ruangan depan rumah besar yang tadinya dihuni oleh Ciok Lee Kim dan di mana dia menjamu para tamunya.

"Ada orang-orang mengepung kita... " In Hong berbisik. Tentu saja Bun Houw juga sudah dapat menangkap gerakan orang-orang itu akan tetapi dia diam saja.

"Awas senjata rahasia...!" In Hong berseru dan dara ini cepat meloncat untuk melindungi Bun Houw.

Akan tetapi anak panah dan senjata-senjata rahasia yang bagaikan hujan itu datang dari empat penjuru. In Hong menangkisi senjata-senjata rahasia itu dengan hawa pukulan dari kedua tangannya, sedangkan Bun Houw dengan ‘sibuknya’ menangkisi dengan pedang di tangan yang diputar-putarnya. Sampai habis senjata-senjata rahasia itu, Bun Houw masih memutar-mutar pedang.

"Bersiaplah, Bun-ko, biar aku melindungimu, mereka tentu akan muncul." In Hong yang merasa geli melihat bagaimana pemuda itu memutar-mutar pedang, memegang lengan pemuda itu dan dia berdiri melindungi Bun Houw.

Benar saja, dari empat penjuru muncul belasan orang anak buah Lembah Bunga Merah dengan segala macam senjata di tangan. Melihat Bun Houw, mereka terkejut bukan main, maklum bahwa pemuda yang pernah ditawan dan disiksa ini memiliki kepandaian tinggi. Akan tetapi karena pemuda itu baru saja terluka parah, bahkan dua tulang pundak juga dikait, mereka kini memandang rendah. Juga mereka memandang rendah kepada gadis muda cantik yang datang bersama pemuda itu.

"Ha-ha-ha, kau sudah berhasil lolos kini kembali lagi hendak mengantar kematian?" teriak seorang di antara mereka yang berhidung besar terhias kumis kecil. "Toanio tentu akan senang sekali. Hayo kawan-kawan, lekas tangkap tikus ini!"

Dua belas orang itu menyergap ke depan.

"Bun-ko, biarkan aku membereskan mereka!" In Hong berseru dan tubuhnya berkelebat cepat sekali, bagai halilintar menyambar-nyambar dan terdengarlah pekik-pekik kesakitan.

Bun Houw hanya berdiri menonton dan diam-diam dia pun terkejut. Dia dapat menduga bahwa gadis yang bernama Hong ini memiliki kepandaian tinggi, akan tetapi tidak pernah disangkanya akan selihai itu. Gerakannya sungguh aneh sekali, gerakan ilmu silat yang sama sekali tak dikenalnya, akan tetapi kecepatannya belum tentu kalah oleh dia sendiri.

Jari-jari tangan yang halus itu seolah-olah berubah menjadi baja-baja yang ampuh. Setiap tamparan pasti membuat lawan terguling roboh, setiap tangkisan membuat lengan lawan patah-patah sehingga dalam waktu singkat saja, dua belas orang itu sudah roboh semua, merintih-rintih dan mengaduh-aduh!

"Mari kita cari mereka!" In Hong berkata kepada Bun Houw yang masih berdiri bengong, memegang tangan pemuda itu dan menariknya ke dalam.

Mereka hanya mendapatkan bangunan kosong. Biar pun In Hong sudah mengajak Bun Houw menggeledah dan memeriksa di seluruh perkampungan itu, namun tidak menemui lima orang sakti yang mereka cari. Dengan penasaran In Hong lalu mengajak Bun Houw kembali ke ruangan depan di mana dua belas orang anak buah Lembah Bunga Merah itu masih rebah malang-melintang dan mengeluh kesakitan.

"Hayo katakan di mana adanya nenek cabul Ciok Lee Kim dan teman-temannya!" In Hong membentak sambil mendekati seorang yang patah-patah tulang lengannya.

Orang itu nampak ketakutan, berlutut sambil merintih-rintih. "Ampunkan kami, lihiap... ampunkan kami... Ciok-toanio dan yang lain telah pergi dua hari yang lalu... meninggalkan kami dua belas orang menjaga di sini..."

"Ke mana mereka pergi?" In Hong membentak lagi.

"Tidak... tidak... tahu..."

"Keparat, kalian layak mampus!" In Hong mengangkat tangan.

Akan tetapi tiba-tiba Bun Houw berkata, "Hong-moi, nanti dulu..."

In Hong menurunkan kembali tangannya dan menoleh, Bun Houw lalu menghampiri orang itu.

"Srattttt...!" Dicabutnya pedang In Hong yang diberikan kepadanya itu dan dengan sikap mengancam dia menempelkan mata pedang di leher orang itu.

"Hayo lekas kau mengaku terus terang, ke mana perginya Hui-giakang Ciok Lee Kim dan Toat-beng-kauw Bu Sit! Kalau engkau tidak mau mengaku, pedang ini akan memenggal lehermu dan leher semua orang di sini!"

"Ampunkan kami... taihiap, ampunkan kami..." Dua belas orang itu meminta-minta dan salah seorang di antara mereka lalu berkata, "Ciok-toanio dan yang lain-lain tentu pergi mengunjungi tempat tinggal Phang-loya (tuan besar Phang)..."

"Hemmm, kau maksudkan Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok?" Bun Houw membentak.

"Benar... benar, taihiap..."

"Di mana tempat tinggalnya?"

"Di dusun Ngo-sian-chung, di lembah muara Sungai Huang-ho..."

"Hayo katakan yang jelas, di mana tempat itu!"

"Benar... taihiap... di sebelah timur kota Cin-an... kurang lebih dua puluh lima li jauhnya... saya tidak membohong..."

Bun Houw mengangguk girang. Kiranya dua orang Bayangan Dewa itu pergi ke tempat tinggal orang pertama dari Lima Bayangan Dewa! Alamat orang tertua dari Lima Bayangan Dewa itu saja sudah merupakan keterangan yang amat penting baginya.

"Mari kita menyusul mereka, Hong-moi."

"Tetapi... lebih baik kita bunuh dulu mereka ini!" In Hong berkata dan kembali tubuhnya bergerak. Akan tetapi lengannya sudah dipegang oleh Bun Houw.

"Jangan, Hong-moi. Mereka tidak perlu dibunuh."

In Hong mengerutkan alisnya, sejenak mereka saling berpandangan sehingga Bun Houw merasa betapa sinar mata gadis itu berapi-api penuh kemarahan dan kebencian, amat mengerikan hatinya. Akan tetapi dia memandang dengan tenang. menentang pandangan mata yang berapi-api itu. Perlahan-lahan api di dalam mata itu mengecil dan akhirnya In Hong menundukkan mukanya, merenggutkan lengannya kemudian melompat keluar dan meninggalkan ruangan itu.

Bun Houw segera meloncat keluar mengikutinya. Tanpa mengeluarkan kata-kata, mereka meninggalkan Lembah Bunga Merah. In Hong berjalan sambil menundukkan mukanya. Bun Houw berjalan di sebelahnya. Sampai lama mereka tidak mengeluarkan kata-kata.

Tiba-tiba In Hong berhenti melangkah. Bun Houw juga berhenti. In Hong mengangkat muka memandang, alisnya berkerut. "Mengapa engkau tadi menghalangi aku membunuh mereka? Mengapa engkau berani menghalangi aku?"

Bun Houw memandang heran. "Moi-moi, mereka tidak perlu dibunuh."

"Heran aku, mengapa aku mau menuruti permintaanmu? Belum pernah ada yang berani menghalangi kehendakku. Hayo katakan, kenapa mereka tidak perlu dibunuh?"

Diam-diam Bun Houw bergidik. Gadis aneh dan agaknya gadis ini biasanya tidak pernah mau memberikan ampun kepada musuh-musuhnya dan kalau dia membayangkan betapa gadis itu tadi hendak membunuh dua belas orang anak buah Lembah Bunga Merah itu dengan darah dingin, begitu saja, dia bergidik ngeri.

"Hong-moi sebelum aku menjawab, lebih dahulu katakanlah, apakah engkau tadi hendak membunuh mereka karena engkau membenci mereka?"

"Tentu saja! Aku benci mereka, dan… dan sepatutnya mereka dibunuh!"

"Hong-moi, karena itulah aku tadi mencegahmu. Di antara kita dan mereka itu tidak ada permusuhan langsung, mereka hanyalah orang-orang yang mentaati perintah pemimpin mereka. Dan pula, kita harus turun tangan menghadapi siapa pun dengan dasar membela kebenaran dan keadilan, menentang kejahatan. Apa bila hati kita dikuasai oleh kebencian, mungkin kita akan membunuh orang yang tidak bersalah hanya berdasarkan perasaan benci itu."

In Hong masih mengerutkan alisnya, seakan-akan dia tidak mempedulikan kata-kata itu. "Baiklah, lain kali harap kau tidak mencegah aku lagi. Sekarang kita hendak ke mana?"

"Aku akan menyusul mereka ke Ngo-sian-chung. Dan kau...?"

"Aku pun akan mencari mereka, mungkin Lima Bayangan Dewa berkumpul di sana dan pedang Siang-bhok-kiam disimpan di sana pula."

"Kalau begitu, mari kita melakukan perjalanan bersama, Hong-moi."

In Hong tiba-tiba menggeleng kepalanya. "Tidak! Aku akan pergi sendiri. Sampai jumpa!" Gadis itu hendak membalikkan tubuh untuk pergi meninggalkan Bun Houw.

"Akan tetapi, mengapa, moi-moi? Bukankah tujuan kita sama?"

"Kalau kita melakukan perjalanan bersama, kita tentu akan saling bentrok!"

"Tidak mungkin!"

"Kau mau berjanji bahwa lain kali tidak akan mencegah aku lagi?"

"Kalau aku melihat engkau melakukan sesuatu yang tidak benar, sudah semestinya aku mencegah dan mengingatkan engkau, Hong-moi."

"Nah, kalau begitu, selamat tinggal!"

"Hong-moi...!" Bun Houw berteriak memanggil namun bayangan gadis itu sudah lenyap.

Dia hanya dapat menarik napas panjang dan menggeleng-gelengkan kepala. Gadis yang sangat hebat, lihai sekali dan cantik jelita pula, akan tetapi juga liar dan kadang-kadang berwatak aneh dan dingin sekali, seperti setan!

Terpaksa dia melanjutkan perjalanan seorang diri dengan perlahan-lahan, kadang-kadang berhenti untuk memulihkan tenaganya, terutama sekali menyembuhkan luka pada kedua pundaknya…..

********************

Semenjak kematian Panglima Besar The Hoo, walau pun bekas kebesaran panglima itu mendatangkan banyak kemakmuran dan kemajuan dalam perdagangan serta hubungan dengan luar negeri, namun tetap saja pengaruh Kerajaan Beng menurun. Kemajuan yang dipupuk oleh kebesaran The Hoo memang tampak menonjol, membuat Kerajaan Beng terkenal di seluruh negeri tetangga.

Pada masa itu, semenjak tewasnya Timur Leng yang amat terkenal di barat, yaitu pada tahun 1404, hubungan dagang dengan Negara Iran dan lain negara barat dapat dilakukan melalui darat. Oleh karena itu, maka perkembangan armada Kerajaan Beng dipandang tidak begitu perlu lagi dan perdagangan melalui lautan dilakukan oleh bangsa-bangsa lain, yaitu bangsa kulit putih dan Jepang. Pemerintah Beng hanya menerima barang-barang ini di pantai-pantai sehingga banyak timbul kota-kota besar di pantai lautan yang makin lama menjadi makin ramai dengan perdagangan dengan bangsa-bangsa asing ini.

Bagaimana pun juga, bangsa-bangsa asing itu yang masih terkesan oleh kebesaran serta kekuatan bala tentara yang dulu dipimpin oleh Panglima The Hoo dan para pembantunya, tidak ada yang berani bermain gila atau mengacau secara berterang, terlebih lagi karena perdagangan mereka mendatangkan banyak untung, yaitu dengan mengangkut rempah-rempah dan hasil bumi lain dari pedalaman, serta menjual barang-barang luar negeri yang masih merupakan benda-benda aneh di masa itu.

Di pantai-pantai selatan dan timur, banyak kota-kota dan dusun-dusun pelabuhan yang menjadi ramai, setiap hari didatangi perahu-perahu asing yang membawa barang-barang dagangan dan pajak mereka cukup dengan pemberian hadiah terhadap para pembesar setempat.

Kota Yen-tai merupakan sebuah kota pelabuhan yang ramai di pantai Lautan Po-hai yang banyak disinggahi kapal-kapal dari luar negeri. Di tempat ini banyak terdapat pedagang-pedagang, di dalam kotanya banyak pula berkeliaran orang-orang asing yang rambutnya beraneka warna, demikian pula matanya. Rambutnya ada yang berwarna keemasan dan kuning muda, dan mata mereka berwarna biru atau coklat. Tidak ada di antara mereka yang berambut dan bermata hitam.

Pakaian mereka juga beraneka warna, dan mereka ini adalah pekerja-pekerja kapal atau pedagang-pedagang yang datang bersama kapal-kapal yang berlabuh, bahkan ada pula yang menetap di kota itu sebagai pedagang. Akan tetapi jarang kelihatan wanita bangsa asing, semuanya pria, tua dan muda, dengan muka penuh brewok dan gaya mereka yang bagi penduduk setempat tampak kasar dan biadab!

Ada pula orang-orang yang muka serta kulitnya sama dengan pribumi, akan tetapi tubuh mereka pendek-pendek dan pakaian mereka agak berbeda. Mereka adalah orang-orang yang berasal dari negara Jepang, negara yang terdiri dari banyak pulau-pulau.

Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, keadaan Yen-tai sudah ramai karena semalam banyak kapal asing berlabuh di pantai. Pagi-pagi sudah tampak kesibukan di kota itu, ada yang menurunkan barang dari kapal-kapal dan ada pula yang menaikkan rempah-rempah dan hasil-hasil bumi lainnya, juga barang-barang kerajinan dari pedalaman, terutama sutera dan barang-barang ukiran yang serba indah dan mahal.

Di antara banyak sekali orang-orang yang beraneka macam bahasanya, bermacam pula pakaiannya, terdapat seorang pemuda yang berusia kurang lebih dua puluh satu tahun, bertubuh tinggi tegap dan bersikap gagah, akan tetapi amat sederhana gerak-gerik dan pakaiannya yang berwarna kuning itu, dengan sebatang pedang di pinggangnya. Pemuda itu adalah Tio Sun, yaitu putera tunggal dari Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan bekas pengawal panglima Besar The Hoo yang paling dipercaya.

Seperti kita ketahui, secara kebetulan Tio Sun menolong Yap Mei Lan kemudian dia pun tertawan oleh orang-orang liar yang dipimpin Jeng-hwa Sianjin Si Ahli Sihir dan hampir saja dia celaka oleh kawanan Jeng-hwa-pang di dalam hutan itu kalau saja tidak tiba-tiba muncul seorang yang luar biasa saktinya, tokoh tua yang sudah tidak pernah muncul di dunia kang-ouw, yaitu Bun Hwat Tosu.

Pemuda ini mewakili ayahnya untuk membantu Cin-ling-pai mencari musuh-musuh besar Cin-ling-pai, yaitu Lima Bayangan Dewa yang telah menyerbu dan mengacau Cin-ling-pai, membunuh murid-murid Cin-ling-pai serta mencuri Siang-bhok-kiam. Karena dia sudah mengetahui akan nama-nama Lima Bayangan Dewa, Tio Sun menyelidiki dan akhirnya dia mendengar berita bahwa Liok-te Sin-mo Gu Lo It, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, tinggal di sekitar pantai Po-hai. Berita inilah yang membawa Tio Sun pergi ke pantai Po-hai dan pada pagi hari itu tibalah dia di kota Yen-tai.

Dengan tenang Tio Sun melangkah dan berjalan di atas jalan raya, sambil mengagumi keramaian kota itu dan terheran-heran melihat banyaknya orang-orang asing yang warna rambut, mata dan kulitnya demikian mengerikan hatinya itu! Memang belum pernah dia bertemu dengan orang asing kulit putih, meski pun sudah banyak dia mendengar tentang mereka dari ayahnya.

Gembira hati Tio Sun menyaksikan kota pantai yang sangat ramai itu. Sering kali dia berhenti untuk menonton keramaian, melihat orang-orang berdagang dan mendengarkan kata-kata yang terdengar agak kaku dan asing keluar dari mulut orang-orang berkulit putih itu. Juga dia melihat-lihat banyak barang yang aneh dan indah dipamerkan di toko-toko di sepanjang jalan.

Akan tetapi, setelah setengah hari berjalan-jalan melihat kota yang ramai ini, akhirnya dia merasa bosan juga. Kemudian, menjelang senja itu, dia berjalan-jalan di tepi pantai laut yang hawanya lebih sejuk karena angin bertiup dan tempat ini agak sunyi tidak terdapat terlalu banyak orang.

Tio Sun memasuki sebuah warung di tepi laut, warung yang agak sunyi dan ketika dia masuk, hidungnya disambut oleh bau arak wangi yang memenuhi tempat itu. Suara tawa bergelak disusul munculnya dua orang asing kulit putih keluar dari dalam warung makan itu, keduanya membawa seguci arak. Sambil tertawa-tawa mereka bicara dalam bahasa yang sama sekali tidak dimengerti oleh Tio Sun.

Ketika berpapasan, Tio Sun mendapat kenyataan betapa tingginya kedua orang itu. Dia sendiri sudah terhitung seorang pemuda yang bertubuh jangkung, akan tetapi ternyata tubuhnya hanya mencapai pundak kedua orang raksasa berkulit putih dan bermata biru itu.

Tio Sun segera melupakan mereka dan dia lalu duduk di atas sebuah bangku, memesan makanan dan minuman kepada pelayan. Tidak banyak tamu sore itu di warung ini, hanya beberapa orang yang pakaiannya seperti nelayan dan ketika mereka itu berbicara tentang hasil penangkapan ikan, maka jelaslah apa pekerjaan mereka itu.

Ketika Tio Sun sedang makan, tiba-tiba terdengar suara jeritan wanita yang kedengaran agak jauh dari situ. Seketika Tio Sun bangkit berdiri. Jerit itu terulang lagi.

"Toloooooonggg...!"

Tio Sun menggeser bangkunya, siap untuk lari keluar. Akan tetapi para nelayan yang juga menghentikan percakapan mereka dan memperhatikan jeritan itu, menoleh ke arah Tio Sun dan seorang di antara mereka yang usianya sudah lima puluh tahun lebih berkata,

"Harap kongcu jangan memperhatikan dan mencampuri urusan kotor itu."

Tio Sun memandang heran, "Mengapa kau berkata demikian, lopek?"

Pada saat itu kembali jerit tadi terulang. Kakek nelayan itu hanya menarik napas panjang dan tidak menjawab, lalu terdengar ucapan pelayan warung.

"Memang omongan paman nelayan ini benar, kongcu. Tentu keributan itu dilakukan oleh setan-setan kulit putih pemabok itu, dan yang menjerit itu hanya perempuan-perempuan lacur. Memalukan sekali dan kongcu akan mendapat malu saja kalau mencampuri urusan pelacur-pelacur dengan setan-setan pemabok itu. Kalau melihat itu, lebih baik kita tulikan telinga dan butakan mata."

"Tolonggggg...!"

"Bagaimana kita dapat menulikan telinga dan membutakan mata kalau mendengar jerit wanita minta tolong?" Tio Sun berkata dan tanpa menunggu jawaban dia sudah berlari keluar, langsung ke kanan dari mana dia tadi mendengar suara jeritan itu.

Cuaca senja sudah mulai remang-remang, akan tetapi dia masih dapat melihat dua orang laki-laki yang sedang menarik dan menyeret seorang perempuan di dekat pantai, agaknya hendak memaksa wanita itu naik ke sebuah perahu.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner