DEWI MAUT : JILID-26


Malam itu bulan purnama muncul di langit yang cerah. Sinar bulan yang sejuk menerangi permukaan kapal yang meluncur dengan tenangnya, dan Tio Sun yang berdiri di geladak kapal itu asyik memandangi bayangan bulan yang menari-nari di atas permukaan air laut, membuat jalur jalan keemasan. Air hanya berkeriput sedikit saja dan agaknya kalau tidak ada kapal yang meluncur itu, air laut mungkin akan diam seperti kaca.

"Sebentar lagi barulah air laut akan bergelombang besar," kata Kwi Eng yang tiba-tiba muncul di dekat Tio Sun.

"Indah sekali pemandangannya, nona. Mengagumkan sekali."

Kwi Eng tertawa ditahan. "Memang demikianlah bagi yang belum pernah melihatnya. Hidup merupakan pengulangan-pengulangan yang membosankan sehingga hanya hal-hal yang baru saja yang akan menarik hati. Cobalah twako tanyakan kepada setiap orang nelayan atau mereka yang biasa hidup di atas lautan, malam bulan purnama seperti ini sama sekali tidak ada keindahannya. Para pelaut tentu akan lebih mengagumi keindahan di pegunungan, akan tetapi sebaliknya para penghuni gunung sama sekali tidak lagi dapat menikmati tamasya alam di pegunungan."

Tio Sun menghela napas panjang. "Agaknya engkau suka berfilsafat, nona."

Kwi Eng tertawa lagi. "Mungkin hanya terpengaruh oleh kitab-kitab yang diajarkan oleh ibu kepadaku. Lihat, air laut mulai bergelombang, twako. Sebentar lagi tentu gelombang akan cukup besar sehingga berdiri di sini tidak menyenangkan lagi. Apa lagi bagi twako yang tidak biasa, jangan-jangan malah memabokkan. Mari kita masuk saja ke dalam, twako."

Tio Sun melihat bayangan bulan tadi sudah pecah-pecah dan merasakan goyangan kapal ke kanan kiri. Dia mengangguk dan keduanya lantas memasuki bilik yang cukup besar di mana tersedia meja kursi.

"Bagaimana kau bisa tahu bahwa gelombang akan datang, nona? Padahal tadi tenang-tenang saja, bahkan air laut hampir tidak bergerak sama sekali."

"Karena belum tiba saatnya, twako. Akan tetapi setiap malam terang bulan, air laut pasti bergelombang besar. Karena itu para nelayan lebih senang mencari ikan di waktu malam gelap."

Kwi Eng sengaja memberangkatkan kapal itu di malam hari agar tidak menarik perhatian orang-orang di pantai, karena dia tahu bahwa sudah pasti di antara anak-anak buah bajak Tengkorak Hitam, ada yang memata-matai gerakannya. Dia mengerahkan anak buahnya kurang lebih lima puluh orang, sebagian besar adalah pribumi ditambah belasan orang anak buah bangsa asing yang bekerja pada perusahaan ayahnya.

Dia sendiri memakai pakaian ringkas, dengan sepatu yang hitam mengkilap, sepatu boot yang tinggi sampai di lututnya. Sebatang pedang tergantung di punggungnya dan Tio Sun memandang kagum karena dara itu benar-benar kelihatan gagah perkasa.

Malam itu gelombang amat besar dan kapal Angin Timur yang besar itu tidak dapat laju, harus menentang gelombang dan perlahan-lahan mendekati sebuah pulau yang terpencil jauh dari pulau-pulau lain. Menjelang pagi, ombak telah mereda dan kapal itu baru berani membuang sauh di dekat pulau, menanti sampai datangnya pagi.

Setelah bola emas besar sekali itu muncul dari permukaan air di sebelah timur, membakar lautan menjadi merah menyala, barulah kapal itu kembali bergerak menuju ke pulau yang memanjang dan dari jauh kelihatan seperti seekor ikan hiu sedang meliuk. Yang berada di atas dek hanya Kwi Eng, Tio Sun bersama beberapa orang anak buah yang bertugas memegang kemudi dan mengatur layar.

Kapal besar itu kelihatan sunyi sekali dan kosong, karena yang berada di atas geladak tidak sampai sepuluh orang. Selebihnya, atas perintah Kwi Eng, menyembunyikan diri di bawah dan di balik bilik. Pembantu yang mengemudikan kapal itu telah hafal akan tempat ini, maka dengan hati-hati dia dapat memilih jalan yang aman dan menempelkan kapal di tepi pulau yang airnya dalam.

Di situ nampak beberapa buah perahu besar yang bercat hitam. Beberapa orang yang tadinya berada di situ, segera berlari-lari ke daratan ketika melihat Kapal Angin Timur itu.

Tak lama kemudian, muncullah seorang laki-laki setengah tua, usianya kurang lebih lima puluh lima tahun, bertubuh pendek tegap, kelihatan kokoh kuat dengan kedua lengannya yang pendek agak membengkok ke dalam. Dia memakai pakaian yang berlengan pendek sampai ke siku dan berkaki pendek sampai ke lutut hingga nampaklah otot-otot di lengan serta kakinya yang melingkar-lingkar dan besar menggembung, tanda bahwa orang itu bertubuh kuat dan bertenaga besar.

Rambutnya diikat pada bagian atas kemudian dibiarkan terurai di belakang lehernya, dan di pinggangnya nampak sebatang pedang melengkung panjang, yaitu sebatang pedang samurai bergagang panjang. Kedua kakinya memakai sandal sederhana, dan mukanya tertutup kumis dan brewok yang membuat orang ini kelihatan menyeramkan. Inilah dia Tokugawa, kepala bajak laut Tengkorak Hitam yang amat ditakuti oleh para pemilik kapal karena kejamnya.

Oleh karena itu, melalui perantara kepala bajak laut ini yang bukan lain adalah pembesar di kota Yen-tai sendiri, para pedagang dan pemilik kapal rela membayar uang sumbangan atau hadiah kepada kepala bajak ini agar kapal-kapal mereka dibebaskan dari gangguan Tengkorak Hitam. Tentu saja hal ini membuat Tokugawa menjadi seorang yang kaya raya dan hanya karena permusuhannya dengan Yuan de Gama beserta isterinya saja yang akhirnya membuat Tokugawa sampai terpaksa melarikan diri ke Pulau Hiu, di mana dia kemudian membangun sebuah rumah besar dan menjadikan pulau itu sebagai tempat persembunyiannya atau sebagai pusat dari gerombolan bajak Tengkorak Hitam.

Tokugawa tadinya adalah seorang jagoan samurai di Jepang. Golongan samurai ini amat termasyhur di Jepang yang muncul pada abad ke sebelas. Pertama-tama muncul para pimpinan golongan-golongan dan menamakan diri mereka sebagai pendekar yang disebut daimyo (yang bernama besar) dan para daimyo ini yang karena sifatnya seperti seorang jenderal pemimpin pasukan, maka muncullah golongan samurai (mereka yang mengabdi).

Senjata utama para pendekar ini adalah pedang panjang yang bergagang panjang pula, yang bentuknya agak melengkung. Banyak di antara jagoan-jagoan samurai yang sudah tidak bertugas dalam pasukan seorang daimyo, lalu menjadi perantau. Sifat mereka amat menjunjung tinggi nama baik mereka sebagai jagoan samurai, mengutamakan kagagahan, seperti halnya para pendekar di Tiongkok.

Akan tetapi, setelah tidak ada lagi disiplin kelompok yang mengikatnya, berubahlah watak Tokugawa akibat mabok akan wajah cantik wanita dan mabok akan kesenangan duniawi, sehingga dia lalu dimusuhi oleh para jagoan samurai lainnya, karena dianggap sebagai seorang yang mencemarkan nama samurai. Tokugawa lalu melarikan diri dan akhirnya dia muncul sebagai kepala bajak yang disegani di sepanjang pantai Teluk Po-hai.

Benar seperti diceritakan oleh Kwi Eng kepada Tio Sun, bekas jagoan samurai ini ketika bentrok dengan Yuan de Gama dan bertanding satu melawan satu dengan Souw Li Hwa, samurainya tidak mampu menandingi Li Hwa dan tentu saja dia menjadi kagum bukan main. Di samping suka akan wanita dan kedudukan serta kehormatan, juga bekas jagoan samurai ini suka sekali akan kegagahan, maka melihat kegagahan Li Hwa, dia menjadi tergila-gila kepada nyonya itu!

Akan tetapi ternyata dia selalu gagal menghadapi pendekar wanita dan suaminya itu. Dan akhirnya, saat melihat puteri pendekar wanita itu yang sudah besar, dia lalu mengalihkan harapannya kepada Kwi Eng karena dia tahu bahwa dara cantik ini pun sudah mewarisi kepandaian ibunya. Hal ini membuat Yuan de Gama dan Souw Li Hwa marah sekali, lalu dengan terang-terangan mereka ini memusuhi Tokugawa dan hendak membunuh serta membasmi gerombolannya. Tokugawa berkali-kali mengalami kekalahan dan akhirnya dia melarikan diri ke Pulau Hiu itu.

Ketika dia mendengar berita bahwa Souw Li Hwa yang ditakutinya itu bersama suaminya pergi ke barat, timbul kembali niatnya dan akhirnya, dengan menggunakan pengeroyokan anak buahnya, dia berhasil mengalahkan dan menculik Richardo de Gama, kakak kembar dari Kwi Eng dan membawanya sebagai tawanan ke Pulau Hiu. Mulailah dia melakukan pembalasan terhadap keluarga itu dengan jalan menggunakan Richardo sebagai sandera dan dia minta ditukar dengan kapal Angin Timur, kapal terbesar di pantai itu!

Kalau saja dia dapat memiliki kapal itu, tentu dia akan leluasa melakukan pembajakan, mengejar kapal-kapal lain yang tidak memberi sumbangan kepadanya! Dan tentu saja dia akan menggunakan pemuda itu untuk mendapatkan gadis yang dirindukannya, yaitu Kwi Eng si cantik jelita!

Dapat dibayangkan betapa girang hati Tokugawa ketika mendengar dari penjaga di pantai pulaunya bahwa kapal Angin Timur yang dinanti-nantinya telah muncul! Dan lebih girang lagi hatinya ketika dia mendengar laporan bahwa di antara delapan orang yang membawa perahu dan tampak di atas geladak itu terdapat Souw Kwi Eng, dara yang membuatnya tergila-gila sebagai pengganti ibu dara itu! Dia menggosok-gosok kedua tangannya.

"Bagus, sekali tepuk dua lalat ini namanya, ha-ha-ha-ha!" Maka cepat dia mengumpulkan orang-orangnya yang berjumlah empat puluh orang lebih menuju ke pantai menyambut datangnya kapal itu.

Melihat munculnya musuh besar yang amat dibencinya itu, Souw Kwi Eng mengerahkan khikang-nya lantas berseru dengan suara lantang, "Heiiiii...! Tokugawa, manusia curang! Hayo lekas bebaskan kakakku, baru aku akan menyerahkan kapal ini kepadamu. Kalau tidak, aku akan memutar kembali kapal ini!"

"Ha-ha-ha, nona manis. Engkau menjadi tamu kehormatan, silakan turun dan kita bicara dulu."

"Siapa percaya omonganmu! Hayo lekas kau bebaskan kakakku!"

"Omongan seorang pendekar samurai boleh dipercaya seratus prosen seperti percaya kepada pedangnya!" Tokugawa berseru agak marah karena kehormatannya tersinggung.

Dia segera memberi aba-aba dalam Bahasa Jepang kepada anak buahnya dan tak lama kemudian tampaklah seorang pemuda yang tampan dan yang mukanya persis Kwi Eng, hanya lebih besar dan tegap karena dia adalah seorang lelaki yang gagah, juga matanya berwarna biru dan rambutnya keemasan. Pemuda ini adalah Souw Kwi Beng dan kini dia digiring ke pantai dengan kedua tangan terbelenggu ke belakang.

"Koko...!" Kwi Eng berseru girang ketika melihat kakaknya dalam keadaan selamat walau pun menjadi tawanan musuh.

"Moi-moi... jangan terjebak oleh jahanam Tokugawa! Jangan kau dengarkan omongannya yang palsu! Bawa anak buah sebanyaknya dan serbu saja, atau tunggu sampai ayah ibu pulang. Mati pun aku tak akan penasaran kalau kelak dia dan gerombolannya terbasmi!"

Diam-diam Tio Sun kagum melihat pemuda itu yang demikian tabah dan bersemangat, persis seperti sikap dara jelita itu. Sudah berada di tangan musuh, berarti jiwanya berada di tangan musuh, masih berani bersikap menentang seperti itu.

"Ha-ha-ha!" Tokugawa tertawa bergelak. "Nona manis, engkau tinggal pilih saja. Engkau serahkan kapal itu baik-baik dan menjadi tamu kehormatanku, atau kau boleh bawa pergi kapal itu akan tetapi lebih dahulu kau akan melihat leher kakakmu kupenggal di sini, di depan matamu!" Tokugawa menggerakkan tangan kanannya dan…

"Srattt…!" pedang samurai yang melengkung penjang itu telah dihunusnya dan berkilauan tertimpa sinar matahari pagi. Sebatang pedang yang terbuat dari baja pilihan, pikir Tio Sun.

"Tokugawa, aku tidak takut akan ancamanmu. Aku memang mau menyerahkan kapal ini kepadamu sebagai penukar kakakku, akan tetapi suruh kakakku mendekat dan kau harus menjauhinya agar kau tidak bermain curang. Baru aku mau turun bersama kakakku."

"Moi-moi, jangan...!" Kwi Beng berteriak penuh kekhawatiran.

"Biarlah, koko, mati pun tidak kenapa, asal kita bisa bersama. Lagi pula, seorang jagoan samurai tentu tidak akan mencemarkan samurainya sendiri dengan jalan melanggar janji dan bertindak curang."

"Ha-ha-ha-ha, kau benar, nona manis. Ha-ha-ha!" Tokugawa menyarungkan samurainya dan mendorong tubuh Kwi Beng ke arah pantai. "Kau sambutlah adikmu yang manis dan kalian akan kusambut sebagai tamu-tamu kehormatan, ha-ha-ha!"

Kwi Beng terhuyung dan menghampiri adiknya dengan kedua tangan masih terbelenggu ke belakang. Pada saat itu pula, Tio Sun segera mengeluarkan pekik melengking nyaring dan tubuhnya segera melayang dari atas kapal ke darat, langsung dia menerkam dan menyerang Tokugawa!

Tokugawa terkejut bukan main, cepat dia menggerakkan lengannya yang amat kuat untuk menangkis.

"Dukkk!"

Benturan dua tenaga yang sama kuatnya itu membuat Tokugawa dan Tio Sun keduanya terlempar ke belakang. Tokugawa makin kaget dan cepat dia memberi aba-aba kepada anak buahnya untuk menyerbu dan menangkap kakak beradik itu.

Akan tetapi tiba-tiba berserabutan anak buah Kwi Eng keluar dari kapal dengan jumlah yang sama besarnya dengan jumlah anak buah bajak. Bahkan di antara mereka ada pula yang memegang pistol seperti juga anak buah Tokugawa. Kwi Eng sendiri cepat-cepat membebaskan kakaknya dari belenggunya, menyerahkan sebatang pedang dan bersama kakaknya dia lalu berlari ke depan.

"Tahaaann...!" Tiba-tiba Tokugawa berseru sebelum anak buahnya bertempur melawan anak buah Kwi Eng. Dia mengangkat langan ke atas dan Kwi Eng juga cepat memberi aba-aba agar orang-orangnya menahan senjata.

"Nona Souw, engkau ternyata curang! Engkau menyembunyikan kaki tanganmu di dalam kapal yang katanya hendak kau tukarkan dengan kakakmu!" Tokugawa berteriak, secara diam-diam matanya menghitung dan mengukur kekuatan lawan, kemudian dia mengerling tajam ke arah pemuda berpakaian kuning sederhana yang mempunyai kekuatan dahsyat tadi.

"Tokugawa, manusia tak tahu malu, kau masih berani bicara tentang kecurangan orang lain? Engkau lari bersembunyi ketika ayah ibu kami masih berada di Yen-tai, kemudian engkau muncul ketika mareka melakukan perjalanan ke luar negeri, dan engkau menculik kakakku. Adakah yang lebih curang dari pada itu? Sekarang aku datang dengan semua pasukanku untuk membasmimu, dan engkau bilang aku curang?"

"Bocah she Souw yang sombong! Karena aku kagum kepada ibumu dan karena aku cinta kepadamu maka aku tidak membunuh kakakmu, aku perlakukan dengan baik. Dari pada engkau dan kakakmu mati konyol, lebih baik engkau menurut saja menjadi isteriku dan kita semua menjadi keluarga, bukankah kedudukan kita akan menjadi lebih kuat?"

"Jahanam hina! Manusia macam engkau hendak memperisteri aku? Lebih baik aku mati bersama kakakku dari pada dijamah tangan kotormu yang berlumuran darah manusia tak berdosa itu. Kau adalah orang hina dan curang, yang hendak bersembunyi di belakang samuraimu yang sudah berkarat!"

Hebat bukan main hinaan ini bagi seorang jagoan samurai. Tio Sun pun menjadi terkejut mendengar ucapan dara itu, karena kata-kata itu luar biasa tajamnya menusuk perasaan.

"Bocah bermulut lancang! Kau menghina Tokugawa? Ayahmu sendiri seorang pengecut, bersembunyi di balik nama seorang kapten gagah perkasa yang tewas bersama kapalnya, namun diam-diam melarikan diri dan hidup dengan sembunyi-sembunyi...! Kalau memang kalian keluarga gagah, hayo lawan Tokugawa satu lawan satu!"

"Keparat, siapa takut padamu?!" kini Souw Kwi Beng hendak meloncat ke depan, akan tetapi adiknya memegang lengannya dan menoleh ke arah Tio Sun.

"Tio-twako, maukah kau mewakili kami memberi hajaran kepada bajak sombong ini?" katanya.

Tio Sun mengangguk dan dia cepat melangkah maju menghadapi Tokugawa. "Tokugawa, akulah lawanmu. Kita bertanding satu lawan satu ataukah hendak main keroyokan?"

"Siapakah kau?" Tokugawa membentak dengan suara yang agaknya keluar dari dalam perutnya yang gendut.

"Namaku Tio Sun."

"Kenapa kau mencampuri urusan ini? Apakah engkau kaki tangan bayaran dari keluarga berdarah campuran ini? Sungguh memalukan sekali ada seorang pendekar menjadi antek orang asing!"

"Tokugawa, mulutmu kotor seperti pecomberan!" Kwi Eng membentak, akan tetapi Tio Sun tersenyum kepadanya.

"Tokugawa, kau dengar baik-baik. Ayahku adalah seorang bekas pengawal yang paling dipercaya dari mendiang Panglima Besar The Hoo. Oleh karena itu, biar pun aku tidak bekerja kepada pemerintah, namun melihat bahwa engkau adalah kepala bajak laut yang jahat dan mengganggu ketenteraman, sudah menjadi kewajibanku untuk menentang dan membasmimu."

"Keparat, bocah sombong engkau. Sudah bosan hidup agaknya. Hyaaaaattttt...!"

Dengan tiba-tiba Tokugawa menyerang dengan kedua lengannya yang pendek-pendek namun kuat sekali itu. Caranya menyerang seperti seekor kerbau hendak menyeruduk, kepalanya di depan dan kedua lengannya menyambar dari kanan kiri, agaknya hendak meringkus tubuh Tio Sun yang dibandingkan dengan dia hanya kecil saja meski pun jauh lebih jangkung.

Tio Sun yang maklum bahwa orang ini mungkin ahli bermain pedang, akan tetapi bukan ahli berkelahi dengan tangan kosong, hanya mengandalkan tenaga kasarnya saja, maka dia sengaja tidak mau mengelak, melainkan menangkis pula dengan sepasang lengannya yang dikembangkan ke kanan kiri.

"Plakk! Plakkk!"

Untuk kedua kalinya mereka mengadu tenaga, kini dengan kedua lengan, dan akibatnya, lengan mereka terpental. Akan tetapi, tiba-tiba saja Tio Sun menjadi terkejut bukan main karena entah bagaimana, tahu-tahu tangan Tokugawa telah dapat menangkap lengannya dengan cara yang aneh, kemudian cepat lengannya diputar dan sebelum Tio Sun sempat membebaskan diri, tubuhnya sudah terlempar!

Untung pemuda ini memiliki ginkang yang baik sekali, maka cepat dia dapat menguasai keseimbangan tubuhnya sehingga dia bisa terhindar dari bantingan, dan juga dari kejaran Tokugawa yang sudah tertawa-tawa.

“Plakk! Desss…!"

Tokugawa yang kini terkejut pada saat tubuhnya terkena tamparan dan perutnya tercium ujung kaki lawan pada waktu dia hendak mengejar lawan yang baru saja dibantingnya itu. Keduanya lalu meloncat bangun lagi, saling pandang dengan sinar mata saling mengukur dan marah seperti lagak dua ekor ayam jago yang berlaga hendak saling terjang.

Tio Sun merasa kecelik. Walau pun mungkin Tokugawa tidak memiliki ilmu pukulan yang membahayakan, namun ternyata kepala bajak ini memiliki kepandaian gulat dan gerakan seperti Ilmu Kim-na-jiu yang mengandalkan kecepatan kedua tangan serta mematahkan kedudukan kaki lawan.

Tahulah dia bagaimana harus menghadapi lawan yang pandai Ilmu Kim-na-jiu (Ilmu Silat Cengkeraman dan Pegangan) ini. Sama sekali dia tidak boleh merapat atau mengadu tangan! Maka Tio Sun lantas menerjang dengan cepat sekali, mengirim pukulan-pukulan mengandalkan kecepatan gerakannya dan sama sekali tak memberi kesempatan kepada lawan untuk merapat.

"Bukkk! Desss...!"

Tubuh Tokugawa terpelanting, akan tetapi tubuhnya memang kuat dan kebal sehingga hantaman tangan kiri Tio Sun yang mengenai pundak kanannya dan disusul tendangan pemuda itu yang mengenai lambungnya tidak membuat si kate kekar ini langsung kalah. Dia terpelanting dan bergulingan lalu meloncat ke dekat lawan, langsung dia menerkam seperti seekor burung garuda menyambar anak kambing.

Sekarang Tio Sun mengelak cepat, meloncat ke kiri dan sengaja berlaku sedikit lambat sehingga lawan lewat dekat di sampingnya. Sikunya menyambar disusul tamparan pada tengkuk lawan.

"Plakkk...! Desss...!"

Kembali tubuh Tokugawa terjungkal dan bergulingan, akan tetapi tetap saja dia meloncat bangun lagi. Kedua matanya menjadi merah, mulutnya mengeluarkan busa dan jenggot serta kumisnya bergerak-gerak, dari mulutnya terdengar bunyi kerot gigi beradu. Kedua tangannya direnggangkan dengan jari-jari tangan terbuka, semua buku jari-jari tangannya mengeluarkan bunyi berkerotokan dan tiba-tiba tampak sinar kilat menyambar ketika dia mencabut samurainya yang gemerlapan saking tajamnya itu.

Sesudah mencabut samurainya, agaknya bangkit semangat jagoan samurai di dalam diri Tokugawa. Sikapnya menjadi gagah sekali, gagah dan tenang, agaknya dia telah mampu menguasai kemarahannya sesudah melihat samurainya yang diagungkannya itu. Kedua tangan memegang gagang samurai yang panjang, tubuhnya agak membongkok, kedua kakinya memasang kuda-kuda, matanya terang dan tajam memandang gerak-gerik lawan dan sedikit pun dia tidak bergerak seolah-olah telah berubah menjadi arca batu.

Tio Sun juga telah mencabut pedangnya. Pemuda itu sama sekali tak berani memandang rendah karena meski pun cara memegang pedang lawannya begitu aneh, menggunakan dua tangan, akan tetapi sikap lawannya, pasangan kuda-kudanya, gerak-geriknya, jelas membayangkan keahlian. Lagi pula, selama hidupnya belum pernah dia bertemu dengan lawan yang menggunakan pedang samurai, maka dia belum tahu bagaimana sifat ilmu pedang ini.

Oleh karena itu, setelah menghunus pedangnya dan memegang pedang dengan tangan kanannya, Tio Sun juga memasang kuda-kuda yang gagah, kaki kiri tegak, kaki kanan diangkat kemudian ditekuk lututnya sehingga ujung sepatu kanan menyentuh lutut kiri. Pedangnya di depan tubuh menuding ke bawah, ujungnya menyentuh tanah dan tangan kiri di atas kepala menuding ke langit, mata mengerling ke kanan, ke arah lawan dengan pandang mata tajam. Inilah pembukaan kuda-kuda yang disebut Menunjuk Bumi dan Langit yang merupakan pembukaan pertahanan yang amat kuat.

Melihat lawannya tidak dapat dipancing untuk menyerang terlebih dahulu, Tokugawa yang menjadi penasaran itu lalu menggerakkan pedangnya.

"Singgg...! Hyaaaatttttt…!"

Dia berlari ke depan, pedangnya digerakkan dengan cepat sekali, berputar-putar berubah menjadi gulungan sinar pedang kilat yang bergulung-gulung sambil mengeluarkan bunyi dahsyat.

"Sing-singggg... wuuutt-wuuutt-wuutt...!"

Tio Sun cepat mengelak dan kini dia mulai mengerti akan kedahsyatan ilmu pedang yang dimainkan oleh dua tangan itu. Pedang itu agak melengkung dan panjang, lagi berat, digerakkan oleh kekuatan dua buah tangan maka tentu saja sangat hebat dan dahsyat, sekali saja mengenai tubuh lawan pasti berarti maut dan gerakan lawan itu sembilan puluh prosen berupa serangan, dan sedikit sekali mementingkan pertahanan karena tentu menurut perhitungan Tokugawa, serangannya yang amat dahsyat dan bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada lawan itu pasti membuat lawan tidak akan mampu balas menyerang. Jadi inti gerakan Tokugawa itu adalah semata-mata menekan lawan dan tidak memberi kesempatan kepada lawan untuk membalas!

Sejak kecil Tio Sun digembleng oleh ayahnya sendiri dan ayahnya itu, Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan, adalah seorang bekas pengawal Panglima Besar The Hoo sehingga sudah melakukan ribuan pertempuran dan telah mempunyai pengalaman yang luas sekali dalam menghadapi orang-orang pandai dari berbagai aliran.

Karena tak mungkin baginya untuk menceritakan semua teori aliran-aliran ilmu silat yang demikian banyaknya, maka dia hanya memesan kepada puteranya itu supaya setiap kali menghadapi lawan yang tak dikenal ilmunya, janganlah terburu nafsu untuk mengalahkan lawan itu sebelum benar-benar tahu akan kelemahan-kelemahannya. Sikap terburu nafsu ini mungkin akan mencelakakan diri sendiri karena dalam keadaan terdesak, lawan itu mungkin memiliki suatu ilmu simpanan yang akan berbalik mencelakakan penyerangnya.

Karena itu, biar pun Tio Sun sudah tahu bahwa lawannya lebih menekankan penyerangan sehingga pertahanannya menjadi lemah, dia tidak mau tergesa-gesa membalas serangan lawannya, apa lagi karena dia maklum bahwa lawannya ini memiliki ilmu yang aneh-aneh dan tentu saja sebagai seorang tokoh sesat telah memiliki pengalaman pertempuran yang amat luas. Sebab itu dia hanya mengelak dan kadang-kadang menangkis dan setiap kali tangkisan, pedangnya tentu segera terpental karena betapa pun kuatnya, tenaga sebelah tangannya tidak mampu menandingi tenaga kedua tangan Tokugawa.

"Sing-sing-wuuut-wuuuttt... trang-cringggg...!"

Sampai lewat lima puluh jurus Tio Sun kelihatan seolah-olah terdesak oleh Tokugawa dan anak-anak buah Tokugawa telah menyeringai dan tersenyum girang. Mereka itu agaknya maklum bahwa pemuda itu adalah ‘jagoan’ yang dibawa oleh musuh, dan kalau sang jagoan itu sudah dirobohkan, tentu akan mudah membasmi pasukan lawan yang sudah kehilangan jagoannya yang diandalkan.

Akan tetapi, di fihak Kwi Eng dan Kwi Beng, hanya para anak buah mereka saja yang kelihatan gelisah melihat Tio Sun terus didesak mundur, bahkan sering kali samurai yang tajam bukan main itu hanya berselisih sedikit dari tubuh jagoan mereka! Akan tetapi Kwi Eng dan Kwi Beng menonton dengan tenang-tenang saja.

Dua orang muda ini adalah putera-puteri pendekar wanita Souw Li Hwa dan mereka itu dapat melihat betapa kini Tio Sun bertanding dengan hati-hati dan tenang, tanda bahwa pemuda itu memang mempunyai kepandaian tinggi dan tidak sembarangan main seruduk saja yang kemudian akan mengakibatkan kekalahan di fihaknya.

Kini Tio Sun mulai dapat mempelajari inti gerakan lawan. Juga dengan girang dia melihat betapa lawannya sudah mulai berkeringat dan napasnya mulai memburu. Hal ini tidaklah mengherankan karena Tokugawa sudah berusia lima puluh tahun lebih, menggerakkan samurainya dengan dua tangan dan dengan sepenuh tenaga, ditambah lagi cara hidupnya yang tidak sehat, maka tentu saja ketangkasan dan daya tahannya tidak seperti di waktu dia masih menjadi seorang jagoan samurai di negerinya.

Tokugawa juga maklum bahwa lawannya ini hebat bukan main, tidak boleh dipandang ringan saja. Dahulu pernah dia memandang ringan kepada Souw Li Hwa dan dia kalah, hampir saja dia tewas. Maka kini dia harus bersikap hati-hati.

Setelah mendesak selama lima puluh jurus dan sama sekali tidak ada tanda-tanda pada lawan untuk kewalahan menghadapi samurainya, malah gerakan lawan makin lama makin cepat dan ringan, Tokugawa lalu berpikir untuk menggunakan siasat. Maka dia sengaja memperberat napasnya dan memperlambat gerakannya.

Bagaimana pun juga, Tio Sun adalah seorang pemuda yang baru saja keluar dari rumah ayahnya, seperti seekor burung yang baru saja keluar dari sarang. Meski pun dia sudah mempelajari banyak teori, akan tetapi dia belum banyak pengalaman, maka dia tidak tahu bahwa lawannya itu berpura-pura kehabisan tenaga. Dia menjadi gembira sekali melihat kelambatan gerakan samurai, maka mulailah dia menyerang!

"Heiiiiittttt...!" Pedangnya meluncur seperti kilat.

"Cring-cringgg... ciuuuutttt...!"

Samurai itu menangkis dua kali dan tiba-tiba dari pinggir gagangnya meluncur sebatang paku ke arah Tio Sun.

"Aduhhh...!" Tio Sun terpekik karena kaget ketika tahu-tahu paku itu menancap di pundak kirinya. Pedangnya lantas berkelebat cepat laksana kilat dan kini giliran Tokugawa yang berteriak, tangannya berdarah dan terpaksa dia melepaskan samurainya.

Pada saat itu pula Tio Sun yang telah terluka pundaknya itu secepat kilat menusukkan pedangnya ke arah dada lawan. Tokugawa miringkan tubuhnya membiarkan pedang itu menancap di pundaknya akan tetapi pada saat itu, kedua tangannya menyambar dan dia sudah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan Tio Sun! Cengkeramannya itu kuat sekali dan Tio Sun maklum bahwa agaknya tidak mungkin melepaskan kedua lengannya dari cengkeraman itu, maka secara diam-diam dia lalu mengerahkan sinkang-nya untuk memberatkan tubuhnya.

Tokugawa tertawa bergelak. Jagoan samurai ini pun maklum bahwa bagi ahli silat, yang berbahaya adalah kedua tangannya. Maka kini dia menjadi girang karena telah berhasil menangkap kedua pergelangan tangan lawan, membuat lawannya tidak berdaya.

Dia sama sekali tidak berani melepaskan lengan lawannya, karena maklum bahwa begitu terlepas, tangan itu akan dapat mengirim pukulan maut dengan cepat sekali dan hal ini amat membahayakan dirinya. Maka sesudah kini berhasil menangkap lengan lawan, dia tertawa.

"Ha-ha-ha-ha, hayo, kau lepaskan dirimu kalau bisa! Dan bersiaplah kau untuk mampus kubanting!"

Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng memandang dengan kaget sekali. Tadi mereka sama sekali tidak khawatir karena ilmu silat pemuda yang membantu mereka itu ternyata tinggi sekali. Akan tetapi sekarang, dengan kedua pergelangan tangan dicengkeram, ilmu silat tidak ada gunanya lagi, karena kedua lengan tidak dapat digerakkan.

Kwi Beng dan Kwi Eng merasa heran mengapa pemuda itu tidak mau menggunakan kakinya untuk menendang. Dan Tokugawa juga bahkan mengharapkan agar lawannya itu menggerakkan kaki menendangnya.

Akan tetapi Tio Sun berpendapat lain. Setelah bertempur, dia maklum bahwa dia dapat mengatasi ilmu silat kepala bajak ini, akan tetapi yang sangat diandalkan oleh lawannya dan tidak dapat diatasinya hanyalah ilmu gulat yang aneh itu. Karena itu dia tidak mau mengangkat kaki menendang, karena dia menduga bahwa pada saat dia menendang, maka kekuatan bawah tubuhnya lenyap dan dia akan mudah diangkat dan dibanting oleh lawan yang bertenaga gajah ini.

Dan dugaannya memang benar, sebab Tokugawa juga menanti-nanti saat itu. Karena dia mendapat kenyataan bahwa lawannya tetap tidak mau menendangnya bahkan kelihatan seperti memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, Tokugawa tertawa, kemudian mendadak mengeluarkan suara dari perut sambil kedua lengannya bergerak, otot-otot sebesar jari tangan di sekitar lengannya menonjol.

"Haaaaaiiiiikkkkk... hyaaaaatttt...!"

Dia mengerahkan seluruh tenaganya, dengan ilmu gulat dia berusaha mengangkat tubuh pemuda itu untuk dilemparkannya atau dibantingnya. Akan tetapi, sedikit pun kedua kaki Tio Sun tidak terangkat!

Pemuda ini adalah putera tunggal, sekaligus juga murid dari Tio Hok Gwan yang berjuluk Ban-kin-kwi (Setan Bertenaga Selaksa Kati), maka tentu saja dia sudah melatih dirinya dengan ilmu kebanggaan keluarganya ini sehingga kini jangankan baru tenaga seorang Tokugawa, meski kepala bajak itu menggunakan bantuan sepuluh orang kaki tangannya, belum tentu akan mampu mengangkat tubuh Tio Sun!

Tentu saja Tokugawa menjadi penasaran sekali. Dia adalah seorang jagoan samurai yang terkenal memiliki tenaga hebat dan jarang ada lawan yang dapat menandingi tenaganya. Akan tetapi sekarang, setelah menguasai kedua lengan lawan ini, seorang pemuda yang masih sangat muda, bertubuh kecil saja, seorang pemuda yang belum ternama, dia tidak mampu mengangkatnya! Saking marahnya, dia mengerahkan seluruh tenaga dalam dan tenaga otot, perutnya mengeluarkan gerengan seperti seekor harimau terluka.

"Auggghhhh... haaaiiiikkkkk... prott!"

Sebagai seorang gadis yang wataknya jenaka dan periang, Kwi Eng tak mampu menahan kegelian hatinya mendengar suara terakhir tadi, karena suara berperopot itu keluar dari pantat Tokugawa!

"Hi-hi-hik, tidak tahu malu...!" Kwi Eng terkekeh sambil menutupi hidungnya, menjepitnya dengan ibu jari dan telunjuknya.

Pada saat itu, Tio Sun mengeluarkan pekik dahsyat melengking, tanda bahwa dia telah mengerahkan Ban-kin-kang (Tenaga Selaksa Kati) sepenuhnya dan tiba-tiba saja tubuh Tokugawa terangkat ke atas kemudian sekali Tio Sun menggerakkan kedua lengannya, terlepaslah pegangan kedua tangan Tokugawa dan tubuh kepala bajak itu terlempar ke depan sampai enam tujuh meter jauhnya, terbanting ke atas tanah hingga berdebuk dan mengebullah debu di atas tanah yang tertimpa tubuhnya itu. Sebelum Tokugawa sempat merangkak bangun, tampak sinar menyambar dibarengi suara ledakan.

"Tarr-tarrr...!"

Dan tubuh itu roboh kembali dengan kepala pecah disambar pecut baja, yaitu joan-pian yang merupakan pecut yang dipakai oleh Tio Sun sebagai ikat pinggang!

Tentu saja peristiwa ini mengejutkan hati para bajak laut dan serentak mereka menyerbu ke depan didahului oleh tembakan-tembakan dari pistol beberapa orang anak buah bajak.

"Tio-twako, awas pistol...!" Kwi Eng menjerit. Akan tetapi Tio Sun yang bersikap waspada sudah cepat meloncat ke belakang, kemudian bertiarap di dekat Kwi Eng dan Kwi Beng.

Kwi Beng yang merupakan seorang jagoan tembak, cepat menyambar sepucuk pistol dari tangan seorang anak buahnya, dan bersama para anak buahnya yang memegang pistol dia lalu maju. Terjadilah tembak-menembak, akan tetapi hanya sebentar saja karena Kwi Eng yang tahu bahwa fihak lawan sudah kehabisan peluru tak mau memberi kesempatan kepada lawan untuk mengisi kembali senjata api mereka dan sudah mengerahkan anak buahnya menyerbu ke depan. Dia sendiri bersama kakaknya dan Tio Sun sudah meloncat ke depan dan mengamuklah tiga orang muda ini dengan hebatnya.

Perang tanding kini terjadi dengan amat seru. Akan tetapi sebentar saja para bajak yang sudah kehilangan kepalanya itu menjadi kocar-kacir. Banyak di antara mereka yang tewas dan sebagian lagi berhasil melarikan diri dari Pulau Hiu dengan perahu-perahu mereka. Kwi Eng hendak mengerahkan anak buahnya untuk melakukan pengejaran, akan tetapi dicegah oleh Tio Sun.

"Nona, tidak perlu mereka dikejar. Niat kita hanya ingin menyelamatkan kakakmu dan hal itu sudah berhasil, sedangkan Tokugawa juga telah tewas."

Kwi Beng membenarkan pendapat Tio Sun ini dan mereka lalu membakar bekas sarang gerombolan bajak laut itu, kembali lagi ke kapal membawa teman-teman yang tewas atau luka dalam pertempuran tadi dan kembali ke pantai daratan.

Sesudah tiba kembali di dalam gedung mereka, dengan hati penuh rasa kagum, kakak beradik kembar ini menghaturkan terima kasih kepada Tio Sun yang diterima oleh pemuda sederhana ini dengan sikap merendahkan diri. Kwi Beng juga gembira mendengar bahwa pemuda ini ternyata adalah putera pengawal setia dari Panglima Besar The Hoo, guru dari ibunya sendiri.

"Tio-twako hendak pergi ke manakah maka kebetulan dapat lewat di Yen-tai dan dapat bertemu dengan Eng-moi kemudian menolongku?" Kwi Beng bertanya.

Tio Sun menarik napas panjang. "Sebenarnya aku sedang memikul tugas yang sangat penting sebagai wakil dari ayahku yang sudah tua dan yang tidak suka lagi mencampuri urusan dunia. Oleh karena ayah merasa penasaran akan peristiwa dan mala petaka yang menimpa keluarga ketua Cin-ling-pai yang sangat dihormati dan disayangnya, maka ayah menyuruh aku untuk pergi melakukan penyelidikan dan membantu Cin-ling-pai."

Kwi Beng dan Kwi Eng kelihatan terkejut dan tertarik sekali. "Apakah twako maksudkan Pendekar Sakti Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?" tanya Kwi Beng.

Tio Sun tidak merasa heran kalau dua orang kakak beradik ini sudah pernah mendengar tentang nama Cia Keng Hong. Siapakah yang tidak pernah mendengar nama besar ketua Cin-ling-pai yang merupakan pendekar atau tokoh besar di dunia persilatan pada masa itu?

"Jadi ji-wi (anda berdua) sudah mengenal beliau?"

"Mengenal sih belum," jawab Kwi Eng. "Akan tetapi ibu sering kali bercerita kepada kami mengenai pendekar-pendekar sakti dan budiman di dunia kang-ouw, di antaranya adalah Cia Keng Hong locianpwe, ayahmu bekas pengawal Tio Hok Gwan, dan pendekar Yap Kun Liong. Karena ibu sering bercerita, kami jadi mengenal nama-nama besar itu walau pun belum pernah berjumpa dengan mereka dan baru sekarang secara kebetulan kami dapat bertemu dan berkenalan dengan twako."

"Apakah yang sudah terjadi dengan Cin-ling-pai? Mala petaka apa yang dapat menimpa ketua Cin-ling-pai yang menurut ibu mempunyai kepandaian yang amat tinggi?" tanya Kwi Beng.

"Peristiwa itu terjadi sewaktu Cia-locianpwe (orang tua sakti Cia) beserta isterinya tidak berada di Cin-ling-san. Lima orang datuk sesat dari dunia hitam yang agaknya menaruh dendam kepada keluarga Cia-locianpwe menggunakan kesempatan itu untuk menyerbu dan mengacau Cin-ling-pai, mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam dan membunuh tujuh orang dari Cap-it Ho-han di Cin-ling-pai." Tio Sun mulai dengan penuturannya dan kemudian dia menceritakan semua peristiwa yang terjadi di Cin-ling-san sebagaimana yang didengar dari ayahnya.

Kedua orang kakak beradik itu mendengarkan dengan penuh perhatian, dan dengan hati diliputi penuh rasa penasaran karena cara-cara Lima Bayangan Dewa yang mengganggu Cin-ling-pai itu mereka anggap amat pengecut.

“Dan twako sekarang hendak menyelidiki Lima Bayangan Dewa itu dan berusaha untuk mendapatkan kembali pedang Siang-bhok-kiam?” tanya Kwi Beng dengan kagum.

Tio Sun mengangguk dan Kwi Eng bertanya, “Kalau begitu, apa yang mendorong twako sampai di Yen-tai ini? Apakah mereka itu tinggal di sini…?”

“Aku mendengar bahwa seorang di antara mereka yang berjuluk Liok-te Sin-mo Gu Lo It berasal dari pantai timur daerah sini, maka aku melakukan penyelidikan sampai Yen-tai. Ji-wi yang tinggal di sini semenjak lahir, tentu akan bisa membantuku menyelidiki di mana adanya Liok-te Sin-mo Gu Lo It itu yang merupakan orang ke dua dari Lima Bayangan Dewa.”

“Tentu saja! Walau pun kami sendiri belum pernah mendengar nama itu, akan tetapi kami akan mengerahkan orang-orang kami untuk melakukan penyelidikan,” Kwi Beng berkata.

Pada hari itu juga Kwi Beng menyebar orang-orangnya untuk menyelidiki di sekitar kota Yen-tai kalau-kalau ada yang tahu di mana tinggalnya datuk kaum sesat yang berjulukan Liok-te Sin-mo itu.

Dengan ramah kedua kakak beradik itu mempersilakan Tio Sun tinggal di gedung mereka sambil menanti hasil penyelidikan orang-orang mereka dan setiap hari Kwi Beng dan Kwi Eng mengajak Tio Sun berjalan-jalan dan melihat-lihat keindahan alam sepanjang pantai di tepi laut. Hubungan di antara mereka menjadi semakin akrab dan perasaan aneh di hati Tio Sun terhadap Kwi Eng jadi makin terbakar.

Tiga hari kemudian terdapatlah berita tentang datuk kaum sesat yang mereka selidiki itu. Di antara para penyelidik ada yang dapat mengabarkan bahwa orang yang dicari itu, yaitu Liok-te Sin-mo Gu Lo It, memang tadinya tinggal di tempat sunyi di pinggir laut timur, akan tetapi semenjak beberapa bulan yang lalu telah lenyap dari goa pertapaannya dan tidak ada orang yang tahu ke mana perginya. Hanya ada dugaan bahwa kakek itu sudah pergi ke pedalaman.

“Kalau begitu, aku akan mencari di tempat lain,” kata Tio Sun kecewa.

Mendadak seorang pelayan memberi tahu bahwa ada seorang utusan dari Ciang-tikoan, yaitu pembesar setempat di kota Yen-tai, datang hendak bertemu dengan dua orang saudara kembar itu.

Kwi Beng dan Kwi Eng, diikuti Tio Sun segera keluar menemui utusan tikoan yang segera menyerahkan sesampul surat dari sang pembesar. Kwi Beng segera membuka surat itu dan alisnya berkerut, kemudian berkata pada utusan itu,

“Baik, sampaikan kepada tikoan bahwa sebentar lagi kami akan datang menghadap.”

Setelah utusan itu pergi, Kwi Beng memperlihatkan surat itu kepada adiknya, kemudian Tio Sun juga dipersilakan membacanya. Kiranya itu adalah surat panggilan yang nadanya keras terhadap dua orang asing yang bernama Richardo de Gama dan Maria de Gama!

"Dengan menyebutkan nama asing kami, jelas bahwa pembesar korup ini tidak memiliki niat yang baik," kata Kwi Beng.

"Pembesar busuk!" Kwi Eng memaki. "Sungguh dia berani menghina kita setelah ayah ibu tidak berada di sini. Lupakah dia betapa ibu sudah membersihkan Yen-tai dari gangguan para penjahat dan betapa sudah banyak dia makan uang hadiah dari ayah?"

Tio Sun merasa khawatir sekali. "Apa bila sekiranya dia mempunyai niat buruk, lebih baik ji-wi tidak usah datang menghadapnya."

"Kita tidak mempunyai pilihan lain," Kwi Beng berkata. "Kalau tidak datang tentu dianggap membangkang dan memberontak. Biarlah kami berdua datang ke sana untuk mendengar apa yang akan dikatakannya."

"Dan aku akan membawa bekal untuk menutup mulutnya kalau perlu," kata pula Kwi Eng.

Mereka lalu mempersiapkan segalanya, tidak lupa sekantong terisi uang emas, kemudian minta kepada Tio Sun supaya menanti sebentar di gedung mereka. Tak lama kemudian berangkatlah kakak beradik itu menghadap pembesar setempat, diantar pandangan mata penuh kekhawatiran oleh Tio Sun.

Sampai hampir sore dua orang kakak beradik itu belum juga pulang dan hati Tio Sun telah merasa gelisah sekali. Tidak lama kemudian, datang seorang anggota atau anak buah keluarga itu berlarian lalu dengan terengah-engah dia menceritakan betapa Kwi Beng dan Kwi Eng telah ditangkap dengan tuduhan memberontak, bahkan para anak buahnya yang malam tadi menyerbu Pulau Hiu juga ditangkap semua!

"Celaka...!" Tio Sun berseru kaget dan pada saat itu, sepasukan prajurit keamanan kota datang menyerbu gedung tempat tinggal Kwi Eng dan Kwi Beng.

"Tio-taihiap, cepat larilah... kalau tidak taihiap tentu akan ditangkap pula!" kata orang yang datang pertama tadi.

Tio Sun maklum bahwa tidak mungkin dia melawan prajurit-prajurit pemerintah. Dia putera bekas pengawal setia dari kerajaan, maka tentu saja tak mungkin bagi dia untuk melawan prajurit pemerintah, sungguh pun sekali ini para prajurit itu sudah digunakan oleh seorang pembesar yang agaknya sewenang-wenang.

"Kalau begitu, hayo kau ikut aku melarikan diri!" Tio Sun menyambar lengan orang itu dan segera membawanya lari lewat pintu belakang sesudah mengambil buntalan pakaian dan pedangnya. Karena dia dapat bergerak cepat sekali, biar pun dia mengajak seorang anak buah Kwi Beng, dia dapat lolos melalui tembok belakang ketika para prajurit menyerbu gedung itu, menangkapi pelayan dan menyita gedung seisinya.

Apakah sesungguhnya yang telah terjadi atas diri Souw Kwi Beng dan Souw Kwi Eng? Mereka berdua pergi menghadap Ciang-tikoan, akan tetapi begitu mereka tiba, segera keduanya dikepung oleh sepasukan prajurit kemudian ditangkap dengan tuduhan sudah membunuhi para nelayan di Pulau Hiu! Tentu saja Kwi Beng menjadi marah sekali dan hampir saja dia mengamuk kalau tidak dilarang oleh Kwi Eng.

"Kita difitnah, Beng-ko, dan kita dapat membela diri di pengadilan. Kalau kita menentang, berarti kita sudah memberontak terhadap penguasa setempat yang mewakili pemerintah." Demikian kata Kwi Eng dan gadis ini lalu menyerahkan bungkusan uang emas kepada kepala pasukan supaya disampaikan kepada Ciang-tikoan. Akan tetapi mereka tetap saja ditawan, dibelenggu dan dihadapkan kepada tikoan, sedangkan kantong yang berisi uang itu entah ke mana larinya!

Dengan suara kereng tikoan membentak kedua orang kakak beradik yang sudah dipaksa berlutut di depannya itu. "Kalian ini keturunan orang-orang asing sudah berani membuat keonaran di daerah kami? Kalian telah mengandalkan kekuatan, membunuh para nelayan di Pulau Hiu dan merampok harta benda mereka."

Kedua orang kakak beradik itu mengangkat muka lantas memandang kepada tikoan itu dengan heran dan penasaran. Ciang-tikoan ini sudah mengenal baik orang tua mereka, juga sudah pernah datang ke gedung mereka dan telah banyak memperoleh hadiah, akan tetapi sikapnya sekarang ini seolah-olah seperti belum pernah kenal saja, seperti sedang menghadapi dua orang penjahat.....!


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner