DEWI MAUT : JILID-27


"Maaf, taijin (sebutan pembesar). Kami sama sekali tidak merasa membunuhi nelayan, apa lagi merampok harta mereka," jawab Kwi Beng.

"Brakkk…!" Tikoan menggebrak mejanya.

"Kau masih berani membohong, Richardo de Gama? Beberapa orang nelayan dari Pulau Hiu berhasil lolos dan mereka menjadi saksi-saksi utama. Kau tidak mengaku bahwa tadi malam kalian berdua membawa anak buah, dan naik kapal Angin Timur menyerbu Pulau Hiu dan membunuhi banyak nelayan tak berdosa di sana?"

"Tidak! Itu hanya fitnah semata!" kini Kwi Eng menjawab dengan suara lantang. "Sayalah yang membawa anak buah naik kapal Angin Timur menyerbu Pulau Hiu, akan tetapi sama sekali bukan untuk membunuhi nelayan, melainkan untuk menolong kakak saya ini yang diculik oleh gerombolan bajak laut yang dipimpin oleh Tokugawa."

"Ha! Jadi kalian sudah mengaku telah menyerbu Pulau Hiu, bukan? Sudah ada bukti dan pengakuan, jadi sudah jelas dosa kalian! Jangan mencoba memutar balikkan kenyataan, ya? Di Pulau Hiu tidak ada bajak, yang ada hanya beberapa orang petani dan nelayan Bangsa Jepang dan pribumi yang hidup tenteram."

"Taijin! Mereka itu benar-benar kawanan bajak yang dipimpin oleh Tokugawa!" Kwi Beng berseru.

Ciang-tikoan mengangkat tangannya. "Kau hendak membantah? Mana buktinya bahwa ada bajak laut di sana? Kalau ada bajak laut tentu sudah kusuruh basmi!"

"Tapi benar-benar kakak saya diculik, taijin!" Kwi Eng membantah.

"Diam! Tanpa bukti, kalian tidak boleh bicara seenaknya saja. Karena masih mengingat kebaikan orang tua kalian, aku tidak akan menyuruh hukum rangket kepada kalian, akan tetapi karena telah melakukan pembunuhan besar-besaran ini kalian harus diadili di kota raja sebagai pemberontak-pemberontak!"

"Taijin...!" Kwi Beng berteriak marah.

"Kau akan memberontak pula di sini?" pembesar itu mengangkat tangan dan para prajurit pengawal telah mengurung pemuda yang kedua tangannya terbelenggu di belakang tubuh itu.

"Tidak, taijin, kami tidak akan memberontak dan kami tidak pernah memberontak," Kwi Eng berkata dengan suara halus. "Jika perbuatan kami di Pulau Hiu itu tidak berkenan di hati taijin, harap Ciang-taijin sudi memaafkan dan suka memandang muka orang tua kami memberi ampun. Tentu saja kami tidak akan melupakan semua budi kebaikan taijin ini." Dengan halus Kwi Eng membujuk dan menjanjikan ‘balas jasa’ yang besar.

Ciang-taijin mengurut kumisnya yang panjang melengkung ke bawah seperti kumis anjing laut jantan itu. "Ha-ha-ha, kebaikan apa yang dapat dilakukan oleh kalian ini, peranakan-peranakan asing yang sudah berani memberontak? Seluruh rumah dan seisinya sudah kami sita sebagai milik pemerintah dan kalian akan diadili di kota raja. Pengawal, kurung mereka sambil menanti saat mereka dikirim sebagai tawanan pemberontak ke kota raja."

"Penasaran! Tidak adil...!" Kwi Beng meloncat berdiri akan tetapi belasan orang pengawal sudah meringkusnya kembali.

"Beng-ko, tenanglah dan jangan melawan," kata Kwi Eng dan mereka lalu digusur keluar dari ruangan itu.

"Tangkap semua anak buahnya yang menyerbu ke Pulau Hiu!" Ciang-taijin memerintah pasukannya.

Mengapa pembesar she Ciang itu demikian keras dan menekan terhadap kedua orang muda itu? Ada beberapa sebab yang mendorong pembesar itu berlaku sedemikian rupa terhadap Kwi Beng dan Kwi Eng.

Pertama-tama, sebenarnya memang terdapat rasa tidak puas dan tidak senang di dalam hati pembesar itu terhadap keluarga Yuan de Gama, apa lagi setelah Souw Li Hwa selalu menentang para penjahat dan bajak yang berkeliaran di Yen-tai. Lebih-lebih lagi setelah terjadi bentrok antara keluarga pendekar ini dengan Tokugawa, diam-diam Ciang-tikoan menjadi semakin tidak senang.

Tokugawa merupakan ‘tangan kanannya’ secara rahasia dan dari bajak laut inilah segala keinginan hati Ciang-tikoan dapat terlaksana. Mau kekayaan? Mau wanita-wanita muda yang cantik? Mau membunuh orang yang tidak disukainya? Hanya tinggal menyuruh para bajak itu, tanggung beres!

Maka kemudian Souw Li Hwa dan suaminya yang menentang kejahatan dianggap sebagai ancaman yang dapat menggoyahkan kedudukannya. Akan tetapi dia tidak berani secara terang-terangan menentang karena Souw Li Hwa dan suaminya merupakan orang-orang gagah dan berpengaruh, pula tidak ada alasannya. Kini, suami isteri perkasa itu pergi, dan terjadi peristiwa pembasmian di Pulau Hiu, maka Ciang-tikoan mendapat kesempatan baik untuk membalas dan melampiaskan semua kebenciannya.

Dia kehilangan Tokugawa, maka dia segera menangkap Kwi Beng dan Kwi Eng dengan tuduhan pemberontak, dan tentu saja rumah gedung dan seisinya itulah yang merupakan dorongan besar pula untuk menangkap dua orang muda itu. Dia tidak khawatir bila kelak orang tua dua muda-mudi kembar itu pulang, karena sudah ada bukti dan banyak saksi betapa dua orang kakak beradik itu membunuhi orang-orang yang disebutnya ‘nelayan-nelayan tak berdosa’ di Pulau Hiu.

Semenjak sejarah berkembang, tidak peduli di negara mana pun di bagian dari dunia ini, terdapat banyak sekali pembesar-pembesar seperti Ciang-tikoan ini. Terutama sekali di waktu pusat pemerintahan sedang kalut dan pengawasan dari atasan kurang ketat, maka para pembesar setempat lalu mempergunakan kekuasaannya untuk bertindak sewenang-wenang terhadap rakyat jelata.

Segala sesuatu kebutuhan rakyat yang harus terlebih dahulu mendapatkan ijin dari para pembesar, pasti dipersulit sedemikian rupa sehingga rakyat yang membutuhkan ijin itu secara terpaksa harus mengeluarkan sebagian miliknya untuk ‘memberi hadiah’ atau istilah umumnya sogokan atau suapan kalau dia menghendaki pekerjaannya dapat lancar dan ijin yang dibutuhkannya dapat diberi oleh pembesar yang berwenang. Tentu saja ada pembesar-pembesar yang betul-betul merupakan pemimpin rakyat, pelindung rakyat yang bijaksana dan menunaikan tugas kewajibannya dengan baik, yang berhati bersih dan tidak menyalah gunakan kekuasaan dan kedudukannya, akan tetapi sayang, pembesar seperti ini hanya dapat dihitung dengan jari tangan saja!


Mengapa keadaan di Yen-tai dan di kota-kota lainnya di seluruh Tiongkok yang dikuasai Kerajaan Beng-tiauw seperti itu penuh dengan para pembesar yang menyalah gunakan kedudukannya untuk memenuhi kesenangan diri pribadi saja tanpa menghiraukan nasib rakyatnya? Hal ini adalah karena pengaruh dari keadaan di pemerintahan pusat, yaitu di Kota Raja Peking, di mana pusat pemerintahan di tangan kaisar juga sedang mengalami kekacauan dan kelemahan.

Seperti tercatat dalam sejarah, kota Peking dibangun oleh Kaisar Yung Lo yang gagah perkasa. Bukan saja kaisar ini membangun tembok besar, terutama di bagian timurnya, akan tetapi juga membangun kota raja yang tadinya menjadi kota raja Bangsa Mongol itu, dibongkar dan dirubah secara hebat sehingga merupakan sebuah kota raja yang terbesar dan termegah di dunia.

Kerajaan Beng-tiauw mengalami kejayaannya sewaktu Kaisar Yung Lo yang memegang kendali pemerintahan, yang dilakukannya dengan cara tangan besi dan dengan adil, tidak segan-segan menghukum para pejabat yang bersalah sehingga sebagian besar pejabat melakukan tugasnya dengan baik. Pada masa itu, rakyat dapat mengecap kenikmatan hidup di bawah pemerintahan yang adil.

Pada tahun 1425, di dalam perjalanan pulang dari penyerbuan musuh di Mongolia luar, Kaisar Yung Lo meninggal dunia. Kedudukan kaisar kemudian diwariskan kepada putera mahkota, yaitu Kaisar Hung Shi yang sudah sakit-sakitan dan kaisar ini pun meninggal dunia setelah menjadi kaisar selama sepuluh bulan saja.

Kembali kedudukan kaisar diwariskan kepada salah seorang cucu Yung Lo yang bernama Hian Tek Ong. Kaisar ini mencoba mempertahankan kebesaran kakeknya, akan tetapi Kaisar Hian Tek Ong ini pun hanya memegang kekuasaan selama sebelas tahun saja.

Kini singgasana diserahkan kepada seorang buyut dari Yung Lo, seorang pangeran yang baru berusia delapan tahun, yang menjadi Kaisar Cheng Tung. Penggantian kekuasaan yang berusia pendek ini melemahkan Kerajaan Beng-tiauw, karena dengan perubahan kaisar berarti terjadi pula perubahan politik dan wibawa.

Apa lagi karena kaisar yang terakhir ini, yaitu Cheng Tung, masih kanak-kanak sehingga pemerintah dipegang dalam kekuasaan ibu suri yang tentu saja sebagai seorang wanita kurang pandai mengatur pemerintahan dan seperti biasa, sesungguhnya yang berkuasa di istana adalah para thaikam, yaitu para pembesar yang bertugas di dalam istana dan para petugas pria ini semua dikebiri agar jangan sampai terjadi hal-hal yang melanggar susila antara para petugas ini dengan para wanita istana.

Ketika Kaisar Cheng Tung sudah mulai dewasa, dia sudah terbiasa oleh pengaruh para thaikam ini, karena itu boleh dibilang dia berada dalam cengkeraman yang membius dari seorang thaikam yang paling dipercayainya, yaitu Thaikam Wang Cin, seorang thaikam yang berasal dari kota Huai Lai di utara, di daerah Mongol.

Demikianlah, karena kaisarnya seperti boneka, hanya tahu menanda tangani saja semua hal yang disetujui dan direncanakan oleh Wang Cin, maka pemerintahannya amat lemah. Orang macam Wang Cin mana mungkin mau memikirkan keadaan rakyat? Setiap gerak perbuatannya selalu bersumber kepada kepentingan pribadinya.

Dengan adanya pemerintah pusat seperti ini, tentu saja para pejabat di daerah menjadi raja-raja kecil yang berdaulat penuh dan sewenang-wenang seperti yang dilakukan oleh Ciang-tikoan di Yen-tai yang tentu saja cukup cerdik untuk ‘menempel’ para pembesar di kota raja, terutama mencari muka terhadap yang dipertuan Wang Cin.

Kini kedua saudara Kwi Eng dan Kwi Beng menjadi korban dari kesewenang-wenangan pembesar lalim ini. Beberapa hari kemudian, dalam keadaan terbelenggu kaki tangannya, dua orang kakak beradik ini diberangkatkan menuju ke kota raja dengan sebuah kereta milik mereka sendiri yang telah dirampas dan dikawal ketat oleh tiga losin orang prajurit, dipimpin oleh seorang perwira yang membawa surat-surat laporan mengenai ‘dosa-dosa’ dua orang tawanan itu untuk disampaikan kepada pembesar atasan di kota raja yang berwenang mengadili perkara-perkara besar.

Banyak rakyat memandang dengan mata merah bahkan ada yang mengucurkan air mata melihat dua orang muda yang dermawan dan budiman itu menjadi orang-orang pesakitan diseret ke dalam kereta dan dibawa pergi dari tempat tinggal mereka. Akan tetapi, seperti biasa, rakyat kecil hanya mampu menangis dan mengeluh, paling-paling hanya mampu mengepal tinju dengan diam-diam karena mereka tahu bahwa mereka itu tidak berkuasa atas kehidupan mereka sendiri!

Dapat dibayangkan betapa marahnya hati Kwi Beng ketika dalam keadaan terbelenggu kuat dia bersama adiknya diseret ke dalam kereta itu. Mereka duduk saling berhadapan dan saling pandang.

"Moi-moi, kalau saja kita memberontak sejak pertama kali dipanggil..." Kwi Beng segera menyatakan penyesalannya.

"Tenanglah, koko. Belum tentu kita akan celaka, kita bersabar saja sambil melihat semua perkembangannya. Tentu nanti akan ada kesempatan bagi kita, dan lagi... aku percaya bahwa Tio-twako tidak akan tinggal diam saja."

Seorang pengawal menghardik dan melarang mereka bicara. Kereta lalu diberangkatkan dan sebelum tirai kereta ditutup oleh pengawal, Kwi Eng sempat melihat berkelebatnya bayangan seorang pemuda jangkung berpakaian kuning di antara rakyat yang menonton dan legalah hati gadis ini. Kwi Beng hanya memandang heran mengapa ada senyum di bibir adiknya itu dalam keadaan seperti itu…..

********************

Beberapa hari kemudian, pasukan yang mengawal kereta berisi dua orang tawanan itu tiba di kota Cin-an. Di sini para pengawal berganti kuda dan membawa perlengkapan dan bekal makanan baru dari para pembesar di Cin-an. Sesudah bermalam di kota Cin-an, pada keesokan harinya pasukan melanjutkan perjalanan menuju ke utara, ke kota raja.

Pada sorenya, mereka sudah tiba di tepi Sungai Huang-ho di mana telah tersedia perahu-perahu besar untuk menyeberangkan mereka. Akan tetapi karena hari telah mulai gelap, mereka berhenti dan berkemah di dekat sungai sambil beristirahat. Seperti biasa, kedua orang tawanan itu menerima makanan dan minuman dan mereka diperbolehkan makan minum dengan dua pergelangan tangan dibelenggu di depan tubuh mereka dan dipasangi rantai baja yang panjang dan berat. Demikian pula kedua kaki mereka dibelenggu dengan rantai panjang.

Walau pun kedua orang kakak beradik ini dijaga ketat sekali, akan tetapi di sepanjang perjalanan mereka diperlakukan dengan baik dan sopan. Hal ini adalah karena si perwira yang memimpin pasukan pengawal itu tahu siapa adanya mereka berdua ini, tahu pula bahwa ibu dua orang muda itu adalah seorang pendekar wanita yang amat lihai, demikian pula ayah mereka adalah seorang asing yang berpengaruh dan dermawan. Akan tetapi dia pun maklum betapa penting dan beratnya perkara yang membuat mereka dikirim ke kota raja, yaitu tuduhan memberontak dan membunuhi banyak nelayan tidak berdosa!

Tentu saja dia pun tahu bahwa yang dimaksudkan dengan ‘nelayan-nelayan tak berdosa’ itu sebenarnya adalah Tokugawa dan kawanan bajak laut. Akan tetapi sebagai seorang bawahan, dia tidak dapat berbuat apa-apa dan tidak berani menentang atasannya.

Pada keesokan harinya, masih pagi-pagi sekali rombongan itu melakukan penyeberangan dengan menggunakan perahu besar yang telah tersedia di pantai sungai yang amat luas itu.

"Sekarang tiba kesempatan bagi kita, koko. Kau bersiaplah. Rantai tangan dan kaki kita ini cukup panjang, memudahkan kita bergerak di air."

"Akan tetapi juga cukup berat untuk membuat kita tenggelam," bisik kembali Kwi Beng.

"Kita harus berani mengambil resiko. Kesempatan ini yang terbaik dengan mengandalkan kepandaian kita di air," bisik lagi Kwi Eng.

Karena perwira pengawal mendekati mereka, keduanya menghentikan bisikan dan hanya saling pandang. Akan tetapi mereka sudah bersepakat untuk menggunakan kesempatan penyeberangan itu untuk melarikan diri.

Ketika perahu besar yang menyeberang itu mulai meluncur ke tengah sungai, nampak sebuah perahu kecil juga meluncur cepat sekali seiring dengan perahu besar itu. Perahu ini ditumpangi dan didayung oleh seorang pemuda berpakaian kuning yang sama sekali tidak mencurigakan. Para pengawal yang melihat pemuda ini mengira bahwa dia adalah seorang nelayan atau seorang pelancong saja. Akan tetapi Kwi Eng menyentuh lengan kakaknya ketika dia mengenal bahwa pemuda itu bukan lain adalah Tio Sun.

Akan tetapi Tio Sun tidak segera turun tangan melainkan terus saja mengikuti perahu itu sampai tiba di dekat pantai sebelah utara. Di pantai selatan dia tidak berani turun tangan karena tempat itu ramai dan dekat dengan kota Cin-an, berbeda dengan pantai sebelah utara yang sunyi.

Setelah perahu besar yang membawa dua orang sahabatnya sebagai tawanan itu berada kurang lebih tiga ratus meter lagi dari pantai, tiba-tiba Tio Sun meloncat ke atas perahu besar kemudian tanpa banyak suara lagi dia meloncat ke arah Kwi Eng dan Kwi Beng yang duduk di atas dek terjaga oleh lima orang pengawal.

"Heii, siapa kau...?!" Seorang pengawal membentak dan suasana menjadi geger.

Para prajurit pengawal segera meloncat bangun dan mencabut senjata masing-masing. Akan tetapi pada saat itu pula, Kwi Eng dan Kwi Beng sudah bangkit berdiri, dengan kaki tangan mereka yang terbelenggu itu mereka berhasil menampar dan menendang roboh lima orang penjaganya.

Tio Sun menggunakan pedangnya, dengan cepat mematahkan belenggu kaki dan tangan mereka sambil merobohkan setiap orang pengawal yang mencoba untuk menghalanginya.

"Cepatlah menyingkir...!" Tio Sun berkata sambil menyerahkan dua batang pedang yang sengaja dibawanya kepada Kwi Eng dan Kwi Beng.

Perwira pengawal berteriak mengumpulkan anak buahnya dan mulailah mereka itu maju mengepung dan mengeroyok.

"Apakah kalian berani hendak memberontak?!" Perwira muda itu berteriak. "Harap ji-wi jangan menambah dosa ji-wi."

"Kalian mundurlah!" Kwi Beng yang maklum akan kebaikan perwira itu berseru. "Kalian tahu bahwa kami bukanlah pemberontak, melainkan Ciang-tikoan yang bersekutu dengan bajak-bajak laut! Mundurlah!"

"Kami hanya menjalankan tugas, kalau sampai kalian lolos tentu kami dihukum!" sang perwira membantah dan terus mengepung ketat.

Kwi Eng, Kwi Beng, dan Tio Sun mengamuk dengan pedang mereka.

"Jangan membunuh orang, mereka hanya petugas-petugas biasa," kata Kwi Eng.

Tentu saja hal ini disetujui oleh Tio Sun yang juga segan untuk memusuhi dan membunuh prajurit pemerintah. Karena itu mereka itu hanya mempergunakan pedang mereka untuk menghalau semua serangan senjata lawan, dan hanya merobohkan para pengeroyok itu dengan tendangan kaki atau tamparan tangan kiri saja.

Akan tetapi tiga losin orang prajurit pengawal itu yang tentu saja merasa takut bila sampai tawanan itu lolos, dengan nekatnya mengeroyok terus tanpa mempedulikan keselamatan mereka sendiri dan hal ini membuat tiga orang muda itu merasa repot juga. Andai kata mereka bertiga itu mau membagi-bagi pukulan maut dan merobohkan para pengeroyok itu, agaknya mereka akan berhasil membasmi puluhan orang itu. Tetapi tanpa membunuh para pengeroyok yang nekat itu, tentu saja amat sukar bagi mereka untuk meloloskan diri, bahkan kalau pertandingan itu terus dilanjutkan, tentu mereka akan terancam bahaya oleh hujan serangan itu.

"Tio-twako, kau pergilah dulu dengan perahumu!" teriak Kwi Eng dan mereka kini mulai bergerak ke pinggir perahu besar.

"Tidak, aku takkan meninggalkan kalian!" jawab Tio Sun sambil mengelak dari sambaran dua batang golok dan menggerakkan kakinya menendang roboh seorang pembokong dari belakang.

"Twako, pergilah dulu dengan perahumu, kami akan mengambil jalan dalam air," kata Kwi Beng dan kini mengertilah Tio Sun.

Teringat dia akan penuturan Kwi Eng betapa kedua orang saudara kembar itu pernah belajar ilmu di dalam air dari nelayan yang dulu pernah menyelamatkan ayah ibu mereka, maka dia mengangguk dan mengamuk dengan pedangnya hingga semua pengeroyoknya dipaksa mundur.

Setelah sampai di tepi perahu besar dan melihat perahu kecilnya masih berada di dekat perahu besar itu, dia berseru, "Berhati-hatilah kalian! Aku pergi dulu!" Sekali mengayun tubuhnya Tio Sun sudah meloncat keluar dari perahu besar, tepat di atas perahunya yang segera didayungnya menuju ke seberang sungai.

Kwi Beng dan Kwi Eng juga mencontoh perbuatan Tio Sun tadi, mereka mengamuk dan makin mendekati pinggiran perahu, lalu setelah merobohkan beberapa orang pengeroyok, mereka pun cepat-cepat meloncat keluar dari perahu besar, langsung terjun ke dalam air dengan kedua tangan lebih dulu.

"Cluppp! Cluppp!"

Laksana dua ekor ikan lumba-lumba saja mereka terjun tanpa menimbulkan banyak suara dan air pun tidak muncrat banyak, tanda bahwa keduanya memang ahli bermain di air. Lenyaplah kedua orang muda itu dari permukaan air dan para pengawal yang bergegas menuju ke pinggir perahu sambil membawa anak panah, tidak melihat mereka lagi.

Akan tetapi perwira pasukan pengawal itu bersikap tenang-tenang saja. "Cepat jalankan kembali perahu ke seberang. Mereka tentu sudah ditangkap kembali di sana!"

Semua anak buahnya merasa heran mendengar ucapan ini dan mereka lantas bersicepat meluncurkan perahu besar di tepi sungai sebelah utara. Ketika tiba di tempat itu, benar saja mereka melihat ketiga orang muda tadi sudah dikepung dan dikeroyok oleh kurang lebih lima puluh orang prajurit yang bersenjata lengkap! Tentu saja mereka menjadi girang dan serentak mereka berbondong-bondong mendarat dan membantu mengeroyok pula.

Ternyata siasat dari tiga orang muda itu sia-sia belaka. Mereka tidak memperhitungkan kecerdikan Ciang-tikoan. Pembesar ini tentu saja mengerti betul akan kelihaian dua orang tawanannya, mendengar pula akan keahlian mereka bermain di air, maka diam-diam dia telah mengutus seorang pembantu secara rahasia menghubungi rekannya di Cin-an untuk menjaga di seberang sungai kalau-kalau dua orang tahanannya itu mencoba-coba untuk meloloskan diri ketika diseberangkan, mengingat akan kelihaian mereka bermain di air.

Dan memang dugaannya tepat sekali, maka pembesar di Cin-an sudah mempersiapkan pasukan dari lima puluh orang yang bersembunyi di pantai sungai sebelah utara. Begitu Tio Sun yang sudah mendarat lebih dahulu dengan perahunya itu menyambut dua orang kawannya yang muncul dari dalam air bagaikan dua ekor ikan itu, mereka langsung menyergap sehingga terjadilah pengeroyokan hebat di tepi sungai sebelah utara itu.

Tentu saja mereka bertiga menjadi kaget sekali, dan mereka melawan mati-matian. Akan tetapi, setelah perahu besar pasukan pengawal mendarat pula dan pengeroyokan menjadi makin ketat, mereka benar-benar terdesak hebat dan keadaan mereka amat berbahaya, kalau tidak tertawan kembali tentu akan tewas, atau setidaknya terluka hebat di bawah pengeroyokan lebih dari lima puluh orang itu.

Tanpa dikomando mereka lalu membela diri dengan cara saling melindungi, berdiri saling membelakangi dan dengan senjata pedang mereka, dibantu oleh joan-pian di tangan kiri Tio Sun, mereka menangkis semua senjata yang datang bagaikan hujan dan sekali ini terpaksa mereka menggunakan senjata untuk merobohkan pengeroyokan, sungguh pun pedang mereka itu hanya ditujukan kepada bagian-bagian tubuh yang tidak berbahaya.

Belasan orang pengeroyok sudah roboh dengan pundak, lengan atau kaki terluka parah akan tetapi pengeroyokan masih cukup ketat dan tiga orang itu mulai menjadi lelah sekali, bahkan Kwi Beng telah terluka pahanya dan Kwi Eng telah terluka pangkal lengan kirinya. Tetapi mereka tak mau menyerah karena ketiganya maklum bahwa urusan telah menjadi semakin berat sehingga jika mereka tertawan kembali, hukuman mereka tentu akan jauh lebih berat lagi, mungkin akan dihukum mati sebagai pemberontak-pemberontak hina.

"Tio-twako, kau larilah...!" Tiba-tiba Kwi Eng berkata kepada Tio Sun.

“Benar, kau pergilah, twako dan jangan mengorbankan diri untuk urusan kami!" Kwi Beng juga berkata.

Hati Tio Sun rasanya bagai ditusuk, dia merasa terharu dan juga kagum akan kegagahan dua orang kakak beradik ini yang dalam keadaan seperti itu masih ingat kepadanya dan tidak mau membawa-bawanya mengalami kecelakaan.

"Tidak! Aku akan membela kalian sampai titik darah terakhir!" bentaknya.

Pedang dan joan-pian di tangannya bergerak cepat maka robohlah tiga orang pengeroyok. Akan tetapi, karena di dalam kemarahannya ini dia mencurahkan seluruh perhatian untuk merobohkan lawan sebanyak mungkin, Tio Sun tak dapat menghindarkan bacokan golok dari samping yang mengenai pundaknya.

"Tio-twako...!" Kwi Eng menjerit ketika melihat darah muncrat dari pundak pemuda itu.

Tio Sun membalikkan pedangnya dan penyerangnya itu menjerit roboh ketika lengannya terbabat pedang hampir putus.

"Tidak apa-apa, nona." Tio Sun tersenyum dan mereka bertiga terus mengamuk biar pun mereka telah terluka semua.

"Bunuh saja tiga pemberontak ini!" tiba-tiba terdengar komandan pasukan Cin-an berteriak marah.

Tadinya perintah atasannya hanyalah untuk membantu para pengawal dari Yen-tai untuk menangkap kembali tawanan itu jika melarikan diri. Akan tetapi kini melihat betapa tiga orang itu memberontak dan merobohkan banyak anak buahnya, dia menjadi khawatir dan marah sekali, maka dia lantas mengeluarkan perintah untuk membunuh mereka. Dengan adanya perintah ini, para prajurit kini mendesak makin ketat dan senjata mereka datang bagaikan hujan menyerang tiga orang muda yang membela diri mati-matian itu.

"Twako, kita pun harus membuka jalan darah!" terdengar Kwi Eng berteriak dan terpaksa Tio Sun tidak membantah. Karena kini para pengeroyok menghendaki nyawa mereka, tentu saja mereka bertiga harus pula menjaga dan menyelamatkan diri, bahkan bila perlu dengan jalan membunuh para pengeroyok.

Tio Sun menggerakkan pedang serta joan-pian-nya secara hebat, demikian pula Kwi Eng dan Kwi Beng mengamuk dengan pedang mereka. Terdengarlah pekik-pekik mengerikan ketika beberapa orang prajurit roboh untuk tidak bangun kembali! Pertandingan menjadi makin seru dan kini merupakan pertempuran mati-matian. Namun karena tiga orang muda itu sudah terluka dan fihak pengeroyok amat banyaknya, mereka semakin terdesak dan makin terkurung sehingga ruang gerak mereka menjadi makin sempit.

Pada saat yang amat kritis dan berbahaya bagi keselamatan tiga orang muda itu, tiba-tiba terdengar bentakan-bentakan nyaring kemudian keadaan para pengeroyok di sebelah luar menjadi kacau-balau. Ketika Tio Sun melirik, dia terkejut dan juga kagum sekali melihat seorang pemuda tampan dan gagah mengamuk, hanya mempergunakan kedua tangan kosong saja melempar-lemparkan para prajurit seperti orang melempar-lemparkan rumput kering saja, sama sekali tidak mempedulikan hujan senjata tajam yang menyambar ke tubuhnya.

Para prajurit merasa terkejut dan gentar karena pendatang baru ini benar-benar sangat lihai, bacokan-bacokan senjata tajam hanya ditangkis oleh lengan yang kulitnya seperti baja kerasnya dan setiap kali tangan kaki pemuda ini bergerak, mereka terlempar sampai beberapa meter jauhnya!

"Hai, pemberontak dari mana yang berani menentang pasukan pemerintah?" Komandan pasukan menerjang ke depan.

Akan tetapi pedangnya ditangkap oleh tangan kiri pemuda itu dan sekali remas pedang itu sudah patah-patah. Kemudian pemuda itu menangkap komandan ini pada pinggangnya dan mengangkatnya tinggi-tinggi.

"Pasukan pemerintah yang hanya menyalah gunakan kedudukannya sama sekali tak ada bedanya dengan penjahat-penjahat! Pergilah kalian!" Pemuda itu melemparkan komandan itu sampai jauh dan jatuh terbanting sampai pingsan. Tentu saja semua prajurit menjadi makin gentar, kurungan mereka melonggar.

"Sam-wi yang terkurung, tidak lekas-lekas lari mau tunggu apa lagi?" Pemuda tampan itu berseru dan mendahului lari, cepat diikuti oleh Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng. Karena mereka berempat mempergunakan ilmu berlari cepat, sebentar saja para prajurit sudah kehilangan jejak mereka.

Di tengah sebuah hutan, empat orang muda itu berhenti. Pada saat pemuda tampan itu hendak melanjutkan larinya tanpa mempedulikan tiga orang yang sudah ditolongnya, Tio Sun cepat mengejar dan berseru,

"Sahabat yang gagah harap suka berhenti dulu!"

Pemuda tampan itu menoleh dan melihat pandang mereka penuh harapan, terpaksa dia berhenti.

"Sam-wi sudah beruntung dapat terbebas dari kepungan para pasukan itu, ada urusan apa lagikah dengan aku?"

Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng cepat-cepat menghampiri dan kini mereka berhadapan. Sepasang mata pemuda tampan itu terbelalak dan jelas dia kelihatan kaget, heran dan bingung ketika dia memandang kepada Kwi Beng dan Kwi Eng secara bergantian.

"Aihh... kiranya kalian bukan... bukan..." Dia tidak melanjutkan kata-katanya sebab hatinya merasa sangsi. Melihat pakaian dan bentuk tubuhnya, pemuda tampan dan dara jelita ini jelas adalah orang-orang Han, akan tetapi, mengapa matanya kebiruan dan rambutnya agak pirang?

Souw Kwi Eng adalah seorang gadis peranakan barat yang tak dapat disamakan dengan gadis-gadis pribumi yang biasanya bersikap pendiam dan pemalu. Apa lagi dia bersama kakak kembarnya mewakili pekerjaan ayahnya sehingga dia sudah biasa bergaul dan tak malu-malu lagi, bersikap polos dan jujur di samping juga memiliki kecerdasan sehingga dia sudah segera maklum mengapa pemuda gagah perkasa yang menolong mereka itu kelihatan begitu kaget, heran dan bingung. Cepat dia melangkah maju dan mengangkat kedua tangan di depan dada sambil tersenyum manis sekali dan berkata,

"Harap saudara yang gagah perkasa dan yang telah menyelamatkan kami tidak menjadi curiga. Sungguh pun mungkin warna mata dan rambut kami kakak beradik kembar agak berbeda, namun kami berdua adalah berdarah Han, kakak kembarku ini bernama Souw Kwi Beng dan aku sendiri bernama Souw Kwi Eng. Sedangkan dia itu adalah Tio-twako bernama Tio Sun. Kami bertiga telah kena fitnah dan hendak dibawa ke kota raja sebagai tawanan pemberontak, maka pertolonganmu tadi merupakan budi yang amat besar bagi kami."

Mendengar ucapan yang lancar dan tidak kaku, pemuda itu merasa lega. Gadis ini luar biasa cantiknya, cantik dan aneh, akan tetapi kata-katanya jelas menunjukkan bahwa dia seorang Han tulen.

Melihat pemuda yang usianya masih amat muda dan sikapnya seperti pemalu itu namun yang telah memiliki kepandaian demikian hebatnya, Tio Sun yang merasa kagum sudah maju dan berkata, "Saudara yang muda memiliki kelihaian yang amat mengagumkan hati kami, dan sudah menyelamatkan kami dari bahaya maut. Bolehkan kami mengetahui she dan namamu yang mulia?"

Pemuda itu kelihatan meragu. Dia tadi menolong karena melihat ketiga orang muda itu sedang terancam bahaya, sama sekali tidak mempunyai keinginan lainnya. Akan tetapi menyaksikan keramahan mereka, terutama sekali keramahan dara jelita yang dengan mata birunya memandangnya dengan sinar mata penuh rasa kagum dan terima kasih, dia merasa tidak enak bila pergi begitu saja setelah mereka memperkenalkan nama masing-masing. Akan tetapi dia pun tidak ingin memperkenalkan namanya, maka dia lalu teringat akan nama yang dulu diperkenalkan kepada gadis aneh bernama ‘Hong’ saja yang baru dijumpainya, maka dia lalu menjura dan berkata,

"Nama saya Houw, she... Bun."

Pemuda ini bukan lain adalah Cia Bun Houw, putera ketua Cin-ling-pai. Seperti yang telah diceritakan pada baglan depan, Bun Houw berpisah dengan In Hong, atau lebih tepat lagi dara itu yang meninggalkannya karena tidak mau melakukan perjalanan bersama setelah Bun Houw suka mencegahnya membunuh musuh-musuhnya di perjalanan.

Bun Houw merasa kecewa sekali bahwa dara yang telah menjadi penolongnya itu pergi meninggalkannya. Akan tetapi karena teringat akan tugasnya mencari serta menyelidiki musuh-musuh besarnya, yaitu Lima Bayangan Dewa, dia pun melanjutkan perjalanannya dan pada hari itu dia menyeberangi Sungai Huang-ho, dan kebetulan melihat tiga orang muda yang terancam bahaya oleh pengeroyokan para prajurit itu, kemudian turun tangan menolong mereka.

Tio Sun merasa makin kagum dan heran. Pemuda tampan ini sikapnya begitu sederhana, masih amat muda dan agaknya dia belum pernah mendengar nama pemuda ini di dunia kang-ouw, akan tetapi melihat kepandaiannya tadi, walau pun hanya bergebrak dengan para prajurit, dia dapat menduga bahwa pemuda ini bukan orang sembarangan, tentulah murid seorang yang sakti.

"Bun-enghiong masih begini muda akan tetapi sudah mempunyai kepandaian luar biasa, sungguh membuat kami merasa kagum sekali. Jika sekiranya tidak menjadikan halangan dan kalau sekiranya kami cukup pantas menjadi sahabatmu, kami ingin sekali bersahabat dengan Bun-enghiong," kata Tio Sun.

Souw Kwi Beng yang sejak tadi diam saja kini pun berkata, "Kami kakak beradik kembar pun akan merasa terhormat sekali kalau bisa menjadi sahabat Bun-taihiap."

Bun Houw merasa kikuk sekali. Tiga orang muda ini jelas merupakan orang-orang gagah yang sopan dan terpelajar, maka akan keterlaluanlah di fihaknya kalau dia tidak melayani uluran tangan mereka. Pula, dara bermata biru itu benar-benar mempesonakan! Selama hidupnya baru sekarang dia berhadapan dengan seorang dara yang begitu jelita, matanya bening lebar kebiru-biruan dan rambutnya agak pirang dan berkilauan halus.

Bun Houw lalu menjura dengan hormat. "Tentu saja saya suka sekali bersahabat dengan sam-wi (kalian bertiga). Mengapakah kalian tadi dikeroyok prajurit di pinggir sungai dan di mana sam-wi tinggal?"

"Mari kita duduk di tempat yang teduh agar leluasa bicara," kata Tio Sun dan mereka lalu memilih tempat di bawah pohon yang rindang, duduk di atas batu-batu di bawah pohon itu.

Secara singkat Kwi Eng yang pandai bicara itu lalu menceritakan urusannya, mula-mula dengan Tokugawa ketika kepala bajak itu menculik kakak kembarnya, kemudian dengan bantuan Tio Sun, dia berhasil menyelamatkan kakaknya. Kemudian betapa dia difitnah oleh pembesar setempat sebagai pemberontak dan pembunuh kaum nelayan yang bukan lain hanya bajak-bajak laut. Sampai akhirnya mereka ditangkap dan akan dikirim ke kota raja, kemudian mereka berusaha meloloskan diri dan dikeroyok di tepi Sungai Huang-ho.

Bun Houw menarik napas panjang. "Sudah kudengar akan kekacauan yang mulai terjadi di mana-mana karena lemahnya pemerintah pusat di kota raja. Jadi ji-wi adalah putera-puteri seorang ayah bangsa barat dan ibu bangsa pribumi? Pantas saja keadaan ji-wi agak lain."

"Biar pun kedua saudara Souw ini putera orang barat, akan tetapi ayahnya bukan orang sembarangan, karena ayahnya adalah Yuan de Gama, seorang tokoh bangsa barat yang disegani dan dihormati. Apa lagi ibunya. Ibunya adalah pendekar wanita terkenal, Souw Li Hwa murid mendiang Panglima Besar The Hoo..."

"Ahhhh...!" Bun Houw kaget bukan main mendengar ini. Tentu saja pemuda ini pun sudah pernah mendengar dari ayah dan ibunya tentang Yuan de Gama dan Souw Li Hwa yang dikabarkan mati tenggelam secara gagah bersama kapalnya.

"Apakah kau pernah mendengar nama ayah dan ibu, Bun-taihiap?" tanya Kwi Eng sambil memandang tajam.

Bun Houw menggelengkan kepala. "Saya terkejut mendengar nama mendiang Panglima Besar The Hoo." Kemudian dia memandang kepada Tio Sun. "Tio-twako agaknya juga bukan keturunan sembarangan dan ternyata engkau adalah seorang pendekar yang suka menolong orang lain yang sedang tertimpa mala petaka seperti yang sudah kau lakukan terhadap kedua orang saudara Souw ini."

Merah wajah Tio Sun menerima pujian ini, dan dia menarik napas panjang. "Persoalan yang kuhadapi tadi benar-benar membuat aku bingung, Bun-hiante. Terus terang saja, ayahku adalah seorang bekas pengawal kepercayaan Panglima Besar The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan..."

"Ban-kin-kwi...?" Bun Houw kelepasan bicara karena tentu saja mengenal baik nama ini, nama seorang sahabat baik ayahnya!

"Kau sudah mendengar pula julukan ayah? Ayah seorang bekas pengawal yang setia, tentu saja aku pun segan untuk melawan prajurit pemerintah. Akan tetapi melihat sikap Ciang-tikoan yang sewenang-wenang, terpaksa aku harus menentangnya. Kini, sesudah terjadi peristiwa ini, kedua orang saudara Souw tak mungkin lagi kembali ke Yen-tai, dan inilah yang membikin aku menyesal sekali."

"Ah, mengapa menyesal, twako? Kami berdua tidak menyesal. Biarlah kami tidak dapat kembali ke Yen-tai dan menanti sampai ayah ibu pulang dari barat. Kami berdua malah sudah mengambil keputusan untuk membantu Tio-twako dalam mencari musuh-musuh Cin-ling-pai itu dan mengerahkan semua kemampuan kami untuk mencari Lima Bayangan Dewa yang menjadi musuh-musuh besar Cin-ling-pai. Ayah dan ibu tentu akan bangga kalau mendengar akan sikap kami ini," kata Kwi Eng.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa hati Bun Houw mendengar percakapan mereka itu. Dia sampai bengong memandang mereka tanpa mampu mengeluarkan satu kata pun. Kwi Eng yang kebetulan memandang kepada pemuda itu tiba-tiba saja menjadi merah mukanya dan menunduk karena melihat betapa pemuda tampan itu memandang kepadanya dengan mata terbelalak seolah-olah hendak menelannya bulat-bulat!

"Bun-taihiap, engkau... mengapakah?" Kwi Eng yang tidak pemalu itu menegur halus.

Bun Houw terkejut, mukanya menjadi merah sekali dan dia memandang kepada mereka bertiga dengan mata bersinar-sinar. "Sungguh mati saya amat terkejut mendengar betapa sam-wi menyebut-nyebut soal Lima Bayangan Dewa dan hendak membela Cin-ling-pai. Kalau boleh saya bertanya, apakah hubungan antara sam-wi dengan Cin-ling-pai?"

Kini Tio Sun dan dua orang saudara kembar itu yang menatap wajah Bun Houw dengan tajam penuh selidik. "Bun-hiante... tahu soal... Lima Bayangan Dewa dan Cin-ling-pai?" Tio Sun bertanya.

Bun Houw mengangguk. "Tentu saja, dan saya bahkan tersangkut secara langsung. Akan tetapi sebelum aku dapat menceritakan hal itu, harap sam-wi lebih dulu menerangkan apa hubungan sam-wi dengan Cin-ling-pai?"

Tio Sun menghadapi Bun Houw, sejenak memandang dengan sinar mata tajam, lalu dia berkata, "Biar pun baru berjumpa pertama kali dan tidak mengenal benar siapa adanya dirimu, Bun-hiante, akan tetapi aku sudah percaya benar kepadamu, maka biarlah aku mengaku terus terang. Seperti telah kukatakan kepadamu, aku adalah putera dari bekas pengawal Panglima The Hoo, ayahku bernama Tio Hok Gwan dan ayah adalah seorang sahabat baik dari Cia Keng Hong locianpwe, ketua Cin-ling-pai. Agaknya tentu engkau juga telah mendengar kegemparan di dunia kang-ouw dengan adanya penyerbuan Lima Bayangan Dewa di Cin-ling-san yang membunuh anak-anak murid Cin-ling-pai, bahkan telah mencuri pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Nah, mengingat hubungan persababatan yang amat baik dengan Cin-ling-pai, ayah kemudian mengutus aku untuk mewakili ayah, membantu Cin-ling-pai mencari Lima Bayangan Dewa dan apa bila mungkin merampas kembali pedang pusaka Siang-bhok-kiam. Maka, demi persahabatan itu, aku melupakan kebodohanku sendiri, melakukan penyelidikan sampai di Yen-tai di mana aku bertemu dan berkenalan dengan kedua orang saudara Souw ini yang ternyata adalah cucu murid sendiri dari mendiang Panglima The Hoo."

"Ada pun kami berdua, setelah terjadi peristiwa di Yen-tai, kami juga telah sepakat untuk membantu Tio-twako mencari Lima Bayangan Dewa, karena ibu kami pernah bercerita kepada kami tentang kegagahan ketua Cin-ling-pai yang patut kami bantu pula," kata Kwi Eng.

Mendengar ini, Bun Houw segera bangkit dari atas batu. Dia lalu memberi hormat kepada tiga orang itu dengan menjura. Hal ini mengejutkan serta mengherankan mereka yang segera bangkit pula untuk membalas penghormatan itu. Dengan suara terharu Bun Houw lalu berkata,

"Atas nama Cin-ling-pai, saya menghaturkan banyak terima kasih atas bantuan sam-wi yang demikian budiman."

"Eh, siapakah sesungguhnya Bun-taihiap?" tanya Tio Sun yang kembali menyebut taihiap karena dia menduga bahwa pemuda ini tentulah bukan orang sembarangan.

"Maafkan kalau saya tadi kurang berterus terang. Sebetulnya saya she Cia dan bernama Bun Houw..."

“Aihhhh...! Kiranya Cia-taihiap, putera dari ketua Cin-ling-pai?" Tio Sun berteriak girang. "Pantas saja demikian lihainya, kiranya Cia-taihiap sendiri orangnya! Maafkan kalau kami bersikap kurang hormat."

"Putera Pendekar Sakti Cia Keng Hong...?" Kwi Eng berseru sambil memandang dengan wajah bersinar penuh kekaguman. Juga Kwi Beng memandang penuh kagum dan hal ini membuat Bun Houw menjadi makin sungkan dan malu.

"Harap sam-wi jangan berlebihan. Marilah kita duduk kembali dan bicara dengan leluasa."

Mereka duduk kembali dan Bun Houw lalu memandang mereka dengan bergantian. "Tak kusangka bahwa ayah mempunyai demikian banyak sahabat yang diam-diam membela Cin-ling-pai sehingga hal ini sangat mengharukan hatiku. Akan tetapi sebelum kita bicara, di antara kita adalah orang satu golongan, apa lagi sam-wi adalah penolong-penolong Cin-ling-pai, maka harap tinggalkan saja sebutan taihiap yang tidak pada tempatnya itu. Tio-twako, harap kau suka menyebutku adik saja, dan kedua adik Souw juga hendaknya menyebutku kakak saja. Bukankah sebagai orang-orang satu golongan kita boleh dibilang bersaudara atau bersahabat baik?"

Tiga orang gagah itu menjadi girang melihat sikap putera ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi akan tetapi bersikap sederhana dan tidak tinggi hati itu.

"Baiklah, Houw-te (adik Houw)," kata Tio Sun.

"Terima kasih, Houw-ko," kata Kwi Eng dan Kwi Bun hampir berbareng.

Bun Houw menghela napas. "Niat kalian untuk membantu kami amat baik dan tentu saja saya merasa sangat bersyukur. Akan tetapi apakah kalian tahu di mana tinggalnya Lima Bayangan Dewa dan ke mana kalian hendak mencari mereka?"

"Tadinya kami mendengar bahwa seorang di antara mereka yang bernama Liok-te Sin-mo Gu Lo It tinggal di pantai Laut Timur, akan tetapi setelah kami selidiki, ternyata dia sudah pergi ke pedalaman dan kami hendak mencari jejaknya di pedalaman."

"Pedalaman Tiongkok berarti merupakan daerah yang luasnya puluhan ribu mil, lalu bagai mana kita dapat menyelidiki mereka? Pula, tingkat kepandaian Lima Bayangan Dewa itu sangat tinggi sehingga kalau sam-wi membantu kami, besar bahayanya sam-wi akan menghadapi mala petaka. Bukan aku tidak tahu berterima kasih, akan tetapi ayahku yang telah menugaskan aku untuk menghadapi mereka tentu akan marah kepadaku kalau aku membiarkan orang lain menjadi korban kejahatan Lima Bayangan Dewa. Maka, kuharap sam-wi suka kembali saja," Bun Houw berkata dengan suara sungguh-sungguh.

"Adik Cia Bun Houw, mengapa berkata demikian?" Tio Sun membantah dengan suara keras. "Walau pun kepandaianku masih amat rendah, akan tetapi aku bukan orang yang takut menghadapi bahaya. Ayah sudah menugaskan kepadaku, bagaimana bisa pulang sebelum lecet kulitku, sebelum patah tulangku? Demi melaksanakan tugas yang sudah diperintah ayah, selembar nyawaku menjadi taruhan!"

"Kami berdua pun tidak mempunyai tempat tinggal lagi sebelum orang tua kami pulang, maka harap Houw-ko tidak menolak bantuan kami yang juga tidak takut bahaya dalam menentang kejahatan!" Kwi Eng berkata, sikapnya gagah sekali dan Bun Houw menjadi makin kagum saja.

"Kalau begitu besar tekad sam-wi, saya tidak berani mencegah dan saya makin berterima kasih. Ketahuilah bahwa saya sendiri telah memperoleh jejak mereka, bahkan juga telah bertemu dengan dua orang di antara mereka. Sayang pada saat itu saya tidak berhasil merobohkan mereka dan sekarang mereka sudah melarikan diri. Menurut penyelidikan saya, Lima Bayangan Dewa itu kini agaknya berkumpul di Ngo-sian-chung, tidak jauh dari sini, di lembah muara Huang-ho."

"Bagus! Kalau begitu mari kita berempat menyerbu ke sana, Houw-te!" Tio Sun berseru penuh semangat.

"Mereka itu selain lihai juga amat curang, maka kita harus berlaku hati-hati sekali!" Bun Houw menerangkan. "Belum lama ini aku sendiri terjebak dan hampir tewas oleh mereka, kalau tidak tertolong oleh seorang sahabat. Dan saya minta kepada sam-wi agar nama saya dirahasiakan sebagai putera ketua Cin-ling-pai sebab selama ini saya hanya dikenal sebagai seorang she Bun bernama Houw. Sebelum berhasil meringkus atau membasmi mereka, saya tak akan menggunakan nama sendiri, dan hanya kepada sam-wi saja yang saya tahu adalah putera-puteri sahabat dari ayah maka saya memperkenalkan diri secara sesungguhnya."

Empat orang muda itu lalu melanjutkan perjalanan sepanjang Sungai Huang-ho menuju ke timur. Kwi Eng yang memiliki watak terbuka dan tidak pemalu, dengan terang-terangan mengatakan sikap kagumnya terhadap putera ketua Cin-ling-pai ini, selalu berjalan di dekat Bun Houw dan ada saja hal yang dibicarakan, nampaknya begitu akrab dan sedikit pun Kwi Eng tidak menyembunyikan rasa tertarik dan sukanya.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner