DEWI MAUT : JILID-29


Melihat ini, tiga orang Bayangan Dewa menjadi kaget juga. Akan tetapi begitu melihat tiga orang muda itu menggerakkan senjata, Liok-te Sin-mo Gu Lo It maklum bahwa di antara mereka, putera Ban-kin-kwi Tio Hok Gwan itulah yang paling lihai.

Maka dia pun segera meloncat ke depan, menyerang Tio Sun dengan kedua ujung lengan bajunya yang merupakan senjatanya yang istimewa, karena di kedua ujung lengan baju hitam itu dipasangi baja-baja yang kuat dan tersembunyi sehingga tidak kelihatan oleh lawan, akan tetapi kalau mengenai tubuh lawan sama bahayanya dengan senjata tajam mana pun juga.

Melihat gerakan orang kedua dari Lima Bayangan Dewa ini, Tio Sun cepat menyambut dan di antara mereka segera terjadi pertandingan yang amat hebat dan seru. Akan tetapi atas isyarat Gu Lo It, beberapa orang anak buahnya sudah turun tangan pula membantu sehingga Tio Sun kembali dikepung dan sekali ini dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan andalannya karena pengepungan itu dipimpin oleh Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang amat lihai.

Sementara itu, Ciok Lee Kim dan Bu Sit girang bukan main ketika mendapat kenyataan bahwa biar pun dua orang kakak beradik kembar itu memiliki ilmu kepandaian yang tinggi pula, namun dibandingkan dengan dua orang muda lainnya, mereka ini paling lunak dan kedua orang ini segera terjun ke dalam medan pertempuran, dan otomatis Bu Sit sudah menggerakkan pecut bajanya menahan pedang di tangan Kwi Eng, sedangkan Ciok Lee Kim mainkan dua helai sapu tangan suteranya menandingi Kwi Beng sambil tersenyum-senyum penuh gairah!

Dengan cara memecah-mecah, pertandingan terbagi menjadi empat dan memang Liok-te Sin-mo beserta kawan-kawannya merupakan orang-orang yang selain berilmu tinggi, juga amat pandai bersiasat. Andai kata pertempuran itu dilakukan dengan pengeroyokan biasa, maka dengan gabungan kepandaian mereka, terutama dengan adanya Bun Houw yang amat lihai dan Tio Sun yang juga bukan orang lemah, maka fihak para pengeroyok akan mengalami kesukaran dan tentu akan banyak anak buah mereka yang dirobohkan empat orang muda itu.

Akan tetapi, setelah dipecah-pecah dan setiap orang muda itu dikepung oleh fihak lawan yang disesuaikan, tentu saja mereka berempat menjadi kerepotan juga! Terutama sekali Kwi Beng dan Kwi Eng! Tingkat kepandaian Kwi Beng dan Kwi Eng masih kalah jauh bila dibandingkan dengan tingkat kepandaian Ciok Lee Kim dan Bu Sit. Tanpa dikeroyok pun mereka berdua akan kalah oleh dua orang Bayangan Dewa itu. Terlebih lagi kini mereka dikeroyok oleh lima orang yang dipimpin oleh dua orang lihai itu!

"Awas! Jangan lukai dia, tangkap hidup-hidup!" Pesan Ciok Lee Kim kepada lima orang pembantunya yang mengeroyok Kwi Beng dan dia sendiri menujukan sambaran kedua ujung sapu tangan suteranya ke arah jalan darah untuk menotok pemuda itu dan untuk menangkapnya. Kwi Beng repot sekali melindungi dirinya, dan tidak memiliki kesempatan menyerang sama sekali.

“Hati-hati jangan sampai kulitnya yang putih itu lecet!" Bu Sit tertawa-tawa memesan lima orang pembantunya pula, dan dia sendiri dengan pecut baja di tangannya yang meledak-ledak, beberapa kali hampir dapat merampas pedang di tangan Kwi Eng.

Dara ini menjadi semakin marah sekali, mukanya berubah merah dan matanya berapi-api mendengar kata-kata Bu Sit yang ditujukan kepadanya, kata-kata bujuk rayu, pujian dan lain-lain ucapan yang menusuk hati dan cabul.

Bun Houw sendiri dikeroyok oleh Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, serta Hek I Siankouw, masih ditambah oleh sepuluh orang anak buah Ngo-sian-chung yang menyerangnya dari lingkungan luar. Pemuda ini sama sekali tidak menjadi gentar. Gerakannya tangkas dan cepat laksana kilat menyambar sehingga diam-diam tiga orang tokoh tua itu terkejut dan kagum bukan main.

Sekarang, sesudah pemuda itu dalam keadaan bebas, tidak dirintangi oleh orang seperti ketika di Lembah Bunga Merah dahulu, ketika dia dipeluk mati-matian oleh murid Ciok Lee Kim, maka baru ternyata oleh tiga orang tokoh tua ini betapa lihainya pemuda ini. Mereka terkejut bukan main dan mulai menduga-duga siapa gerangan adanya pemuda ini.

Mereka tadinya hendak membalas dendam kepada Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai dan mereka membayangkan bahwa tingkat kepandaian ketua Cin-ling-pai itu tentu tidak jauh selisihnya dengan tingkatan mereka sendiri. Akan tetapi sekarang, baru seorang pemuda Cin-ling-pai saja telah memiliki ilmu kepandaian yang begini hebat sehingga Bouw Thaisu sendiri, orang yang terpandai di antara mereka, secara diam-diam merasa sangsi apakah dia akan dapat menang melawan pemuda ini kalau pertandingan itu dilakukan satu lawan satu!

Beberapa kali lengannya tergetar apa bila ujung lengan bajunya bertemu dengan jari-jari tangan kiri pemuda itu, tanda bahwa tenaga sinkang pemuda itu luar biasa kuatnya, mungkin lebih kuat dari pada tenaganya sendiri! Hal ini dianggapnya luar biasa dan tentu tidak akan dipercayanya kalau dia tidak mengalaminya sendiri!

Maka dengan hati penuh penasaran, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw mengeluarkan kepandaian mereka sehingga betapa pun lihainya Bun Houw, dia menjadi repot juga dan hatinya mulai merasa khawatir akan keselamatan kawan-kawannya. Dia melihat betapa Tio Sun juga terdesak oleh para pengeroyoknya, sedangkan kedua orang kakak beradik Souw juga amat repot dan terancam bahaya.

Memang Tio Sun juga mendapatkan tandingan yang berat dari orang kedua dari Lima Bayangan Dewa. Akan tetapi, dengan ilmunya Ban-kin-kiat, andai kata Liok-te Sin-mo Gu Lo It tidak dibantu oleh lima orang anak buah Lima Bayangan Dewa yang mempunyai kepandaian lumayan, agaknya pemuda ini masih akan sanggup mengalahkan lawannya.

Memang hebat bukan main pertandingan antara Tio Sun dengan Liok-te Sin-mo. Orang kedua dari Lima Bayangan Dewa ini terkenal sebagai seorang yang mempunyai tenaga besar, maka merupakan lawan yang cocok sekali karena Tio Sun juga mewarisi tenaga mukjijat yang sangat kuat dari ayahnya. Sudah berkali-kali pecut baja di tangan pemuda ini bertemu dengan dua ujung lengan baju yang dipasangi potongan baja dan akibatnya, terdengar suara nyaring sekali, bunga api berpijar dan tubuh kedua orang itu terhuyung ke belakang.

Para pengeroyoknya, seperti juga para pengeroyok yang membantu tiga orang kakek mengepung Bun Houw, tidak lagi berani menyerang terlampau dekat karena pedang dan joan-pian di tangan Tio Sun merupakan tangan-tangan maut yang sangat mengerikan. Sudah banyak anak buah yang roboh oleh Tio Sun dan Bun Houw, maka mereka itu hanya bertugas sebagai pengacau saja agar memecah-belah perhatian para muda yang perkasa itu.

Yang merasa paling tidak enak dalam pertempuran itu adalah Bun Houw. Diam-diam dia merasa menyesal mengapa tiga orang muda itu dia perbolehkan membantunya menyerbu Ngo-sian-chung, karena sebelumnya dia pun maklum akan berbahayanya pekerjaan ini, bahkan Tio Sun sendiri pun sudah menyatakan betapa fihak lawan amat berbahaya dan lihai.

Bagi dirinya sendiri, dia akan rela mengorbankan nyawa kalau perlu demi untuk mencari Siang-bhok-kiam serta membasmi musuh-musuh Cin-ling-pai, untuk mencuci penghinaan yang diderita oleh orang tuanya. Akan tetapi, tiga orang muda itu, terutama sekali Kwi Eng, hanyalah orang-orang muda yang merasa bersahabat dengan dia dan dengan orang tuanya. Kalau kini mereka sampai menjadi korban, benar-benar membuat dia merasa tak enak sekali. Pikiran ini membuat Bun Houw menjadi marah terhadap para musuhnya.

"Tio-twako...! Adik Kwi Beng dan Kwi Eng...! Larilah kalian bertiga, biar aku sendiri yang membasmi mereka!" Teriaknya dengan suara nyaring sekali.

Pedangnya berkelebat seperti halilintar membabat ke arah tubuh Bouw Thaisu dan Hek I Siankouw dengan kekuatan yang sangat hebat sehingga pedang itu mengeluarkan suara mengaung laksana ribuan ekor lebah beterbangan. Dua orang sakti ini terkejut, maklum betapa berbahaya sambaran pedang ini sehingga mereka tidak berani menangkis, dan cepat mereka meloncat ke belakang untuk menyelamatkan diri.

Akan tetapi, pedang itu meluncur lepas dari tangan Bun Houw, merupakan sinar panjang berkelebat dan terbang dengan amat cepatnya, menyambar tubuh tiga orang pengeroyok, merobohkan mereka itu dengan leher hampir putus namun masih terus ‘terbang’ seperti seekor naga hidup, membuat gerakan memutar dan kembali lagi ke arah Bun Houw yang begitu pedang dilepaskan lalu menghantam ke arah kanan kiri, depan belakang dengan kedua kepalan tangannya sambil mengeluarkan pekik melengking amat dahsyatnya.

Sambaran kedua tangan Bun Houw yang memukul ini membuat Hwa Hwa Cinjin yang menggerakkan kebutannya dengan pengerahan tenaga lweekang sebagai seorang ahli lweekeh yang kuat, tak dapat menahan sehingga kakek ini terhuyung dengan muka pucat, sedangkan empat orang pengeroyok lain roboh pula seperti pohon-pohon ditebang! Itulah jurus Hong-tian Lo-te (Badai Mengamuk di Bumi) yang liar biasa hebat, merupakan jurus mukjijat dan ampuh sekali dari ilmu pedangnya.

Ketika pedang yang telah merobohkan tiga orang pengeroyok itu ‘terbang’ membalik, Bun Houw sudah menangkapnya kembali dan karena para pengeroyoknya gentar dan terpaku menghadapi jurus Hong-tian Lo-te yang mukjijat tadi, dia cepat-cepat meloncat ke depan untuk merobohkan dua orang pengeroyok yang sedang mengepung Tio Sun.

Hal ini membuat kepungan yang mendesak Tio Sun menjadi bobol dan Tio Sun kembali dapat menguasai keadaannya, akan tetapi segera Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw bersama para pembantu lainnya sudah kembali mengepung Bun Houw dengan serangan-serangan maut dan kepungan ketat.

Bun Houw gelisah sekali melihat betapa Kwi Beng dan Kwi Eng didesak serta dipancing sehingga menjauhi tempat dia bertempur. Dan memang demikianlah siasat yang sedang dijalankan oleh para tokoh kaum sesat itu. Kwi Beng terus didesak oleh Ciok Lee Kim dan dipaksa menjauhi tempat itu, demikian pula Kwi Eng terus didesak oleh Bu Sit sampai keluar dari lapangan itu dan tidak kelihatan oleh kawan-kawanannya.

Ketika Kwi Eng dengan kemarahan meluap-luap mencoba untuk membuka jalan darah, menerobos dari kepungan, dia berhasil melukai dua orang pengeroyok yang membantu Bu Sit, akan tetapi tiba-tiba pergelangan tangannya terasa sakit, terbelit ujung cambuk baja di tangan Bu Sit.

Orang termuda dari Lima Bayangan Dewa ini tertawa mengejek, lalu sekali dia menarik senjatanya, Kwi Eng lantas menjerit dan pedangnya terlepas karena pergelangan tangan kanannya seperti hendak patah rasanya. Pada saat itu pula, seorang pengeroyok lainnya menggunakan gagang tombak memukul ke arah kakinya dari belakang. Serangan ini tak dapat dihindarkan oleh Kwi Eng. Terdengar suara tulang patah dan dara ini mengeluh perlahan lalu terguling, tulang kaki kirinya dekat pergelangan telah patah.

"Desss…!" Bu Sit menendang orang yang mematahkan tulang kaki Kwi Eng itu.

"Keparat, kau lukai dia?" bentaknya.

Para pengeroyok itu menjadi ketakutan dan mereka lalu mundur dan membantu teman-temannya yang lain, yang masih mengeroyok tiga orang muda lainnya, sedangkan Bu Sit sudah menubruk Kwi Eng, ditotoknya pundak dara itu, kemudian dia memondong tubuh Kwi Eng dan dibawa berlari keluar dari dusun menuju ke sebuah hutan kecil di lembah sungai.

"Adik Beng...! Di manakah Eng-moi...?" Bun Houw yang dikepung ketat itu masih sempat berteriak dan bertanya kepada Kwi Beng yang dilihatnya makin didesak menjauhinya oleh Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim.

Akan tetapi Kwi Beng hampir tidak sempat menjawab. "Tidak tahu...!" hanya demikianlah dia mampu menjawab karena Ciok Lee Kim dengan dua helai sapu tangan suteranya sudah membuat dia terengah-engah kehabisan napas dan pandang matanya berkunang.

"Pemuda ganteng, marilah kau ikut aku bersenang-senang..." Ciok Lee Kim berbisik dan sapu tangannya yang berbau harum itu mengelus dagu Kwi Beng.

Sudah sejak tadi Ciok Lee Kim membentak para pembantunya untuk mundur dan kini dia seorang diri mendesak Kwi Beng yang telah kewalahan. Kwi Beng kini juga mulai merasa kehilangan adiknya dan dia mulai bingung, memandang ke sana ke mari untuk mencari adiknya. Tentu saja sikapnya ini amat tidak menguntungkan dirinya karena dengan penuh perhatian saja daya tahannya sudah mulai lemah menghadapi hujan totokan kedua sapu tangan Ciok Lee Kim, apa lagi sekarang dia memecah perhatiannya.

"Cuss-cuss...! Plakk!"

Dua kali ujung sapu tangan itu menotok jalan darah di leher dan pundak, sedangkan telapak tangan Ciok Lee Kim menampar belakang telinga dan tanpa mengeluh lagi Kwi Beng roboh pingsan dalam pelukan Ciok Lee Kim dan seperti juga Bu Sit, wanita yang tak dapat menahan diri setiap kali melihat pemuda tampan ini segera memondong tubuh Kwi Beng dengan girang dan membawanya pergi dari dusun itu.

Andai kata melihat bahwa fihak mereka terancam bahaya oleh musuh, tentu saja dua orang Bayangan Dewa itu tidak akan meninggalkan gelanggang pertempuran dan betapa pun mereka tergila-gila kepada orang-orang muda yang menjadi korban mereka itu, tentu mereka akan membantu teman-teman untuk menundukkan fihak musuh terlebih dahulu.

Akan tetapi mereka tadi sudah melihat jelas bahwa sungguh pun pemuda she Bun dan pemuda putera pengawal Tio Hok Gwan itu memiliki kepandaian tinggi, namun mereka pun sudah terkurung dan terdesak, tinggal menanti robohnya saja maka mereka berdua tidak perlu lagi membantu.

Memang Si Kelabang Terbang Ciok Lee Kim dan si kepala monyet Bu Sit tidak keliru dengan dugaan mereka bahwa fihak musuh sudah terdesak hebat. Bun Houw sendiri yang memiliki kepandaian amat tinggi, sekarang mulai terdesak hebat. Dia makin marah dan menyesal sekali apa bila mengingat bahwa yang mengurungnya bukan orang-orang Lima Bayangan Dewa, melainkan tiga orang tokoh tua yang berilmu tinggi. Maka mulailah dia mengambil keputusan untuk menurunkan tangan maut terhadap tiga orang musuhnya ini.

Tadinya dia selalu menghindarkan serangan maut karena dia selalu teringat akan pesan ayah ibunya agar jangan sampai menanam bibit permusuhan dengan golongan lain dan hanya menghadapi Lima Bayangan Dewa saja. Sebagai contoh, ayahnya menceritakan betapa ayahnya dulu terlampau banyak menentang golongan sesat sehingga akibatnya, sampai tua pun dia masih dimusuhi orang!

"Tahan...!" bentak Bun Houw sambil memutar pedang yang berubah menjadi gulungan sinar berkilauan sehingga musuh-musuhnya cepat mundur. "Sam-wi tiga orang tua kenapa berkeras mencampuri urusan kami dari Cin-ling-pai dengan Lima Bayangan Dewa? Saya sama sekali bukannya takut, hanya saya tidak ingin menanam bibit permusuhan dengan orang-orang yang bukan dari Lima Bayangan Dewa."

Bouw Thaisu mengangguk-angguk, hatinya kagum bukan main karena selama hidupnya baru sekarang dia bertemu lawan yang begini muda namun yang ternyata memiliki ilmu kepandaian yang amat hebatnya.

"Orang muda, kalau saja tidak ada alasan kuat yang memaksa aku orang tua mati-matian menghadapimu, tentu aku akan malu sekali mengeroyok seorang pemuda seperti engkau yang sepantasnya menjadi cucuku. Ketahuilah, seorang sahabat baikku yang melebihi saudara kandungku sendiri, yaitu Thian Hwa Cinjin, telah tewas di tangan keluarga ketua Cin-ling-pai! Kami di waktu muda pernah bersumpah bahwa kami akan saling membela, maka mendengar kematiannya, tentu saja aku tidak mau melanggar sumpah dan sebelum aku mati, aku harus menghadapi ketua Cin-ling-pai dan keluarganya."

Bun Houw mengerti bahwa kembali hal ini adalah sebagai akibat dari orang tuanya yang terlalu banyak menentang golongan hitam.

"Dan kau boleh mengetahui bahwa pinto (aku) adalah sute dari Toat-beng Hoatsu yang biar pun tewas di tangan mendiang The Hoo, akan tetapi juga menjadi musuh dari ketua Cin-ling-pai dan golongannya. Dan Hek I Siankouw ini adalah tangan kananku, sehidup semati denganku."

Bun Houw mengerutkan alisnya. "Sam-wi adalah tiga orang tua yang berilmu tinggi, akan tetapi mengapa berpandangan picik dan dikuasai oleh dendam kosong yang tidak ada artinya? Apakah sam-wi tidak tahu bahwa sam-wi diperalat oleh Lima Bayangan Dewa?"

"Cukup, kalau kau takut, menyerahlah, orang muda yang sombong!" Hwa Hwa Cinjin yang walau pun sikapnya halus akan tetapi sebenarnya hatinya dipenuhi rasa penasaran dan malu karena menghadapi seorang pemuda saja, biar pun telah mengeroyok bersama Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu masih belum dapat menang, sudah menerjang lagi dengan kebutannya.

"Wiir... siuuuuttt...!"

Ujung kebutan menyambar ke arah mata Bun Houw, akan tetapi begitu dielakkan, seperti ekor ular yang hidup saja ujung kebutan itu sudah membalik dan menotok ke arah ulu hati!

"Kalau begitu, maaf kalau aku menjadi sebab kematian sam-wi!" Bun Houw membentak. Tiba-tiba tangan kirinya mendorong dan ujung kebutan itu seperti digerakkan tangan yang tidak kelihatan, membalik dan menotok ke arah dada Hwa Hwa Cinjin sendiri!

"Aihhh...!" Bukan main kagetnya hati kakek ini dan cepat-cepat dia menggerakkan tangan menarik kebutannya yang hendak menyerang dirinya sendiri.

"Singgg... tranggg...!”

“Aihhhh…!" Hek I Siankouw menjerit karena pedangnya yang sudah dia gerakkan untuk menyusul serangan Hwa Hwa Cinjin tadi kini kena disentil oleh kuku jari tangan kiri Bun Houw. Pedang itu tergetar dan selagi nenek itu terkejut, pedang pada tangan kanan Bun Houw sudah menyambar ke arah lehernya!

"Plakkk...!”

“Hemmm, kau hebat, orang muda!" Bouw Thaisu masih sempat menangkis pedang yang mengancam nyawa Hek I Siankouw tadi dengan tangkisan ujung lengan bajunya, akan tetapi ketika dia melihat, ternyata ujung lengan bajunya itu sudah terobek!

Kini Bun Houw yang sudah marah sekali itu telah mengerahkan Thian-te Sin-ciang, yaitu ilmu sinkang simpanan yang dia latih selama bertahun-tahun di bawah gemblengan Kok Beng Lama. Thian-te Sin-ciang ini merupakan ilmu tangan kosong yang sangat mukjijat, mengandung tenaga dahsyat dan ketika pemuda ini diuji oleh ayahnya sendiri, tenaga Thian-te Sin-ciang ini bahkan mampu menghadapi Thi-khi I-beng, yaitu ilmu sinkang yang tiada taranya, yang dapat menyedot hawa murni lawan!

Karena itu tidaklah terlalu mengherankan ketika pemuda perkasa ini mulai mengerahkan Thian-te Sin-ciang, dia sekaligus mampu membuat tiga orang lawannya yang amat lihai itu terdesak mundur! Akan tetapi, kini mereka bertiga sudah maju lagi dan kehebatan Bun Houw bahkan membuat mereka menjadi makin berhati-hati dan kini mereka melakukan penyerangan secara teratur bahkan saling membantu karena mereka maklum bahwa biar pun mereka bertiga maju bersama, tanpa kerja sama dan saling bantu, maka sangatlah berbahaya bagi mereka!

Bun Houw menjadi semakin gelisah. Bukan gelisah memikirkan dirinya sendiri, melainkan gelisah karena tidak lagi melihat Kwi Beng dan Kwi Eng, ada pun Tio Sun agaknya sudah kewalahan dan tentu tak lama lagi akan roboh. Celaka, pikirnya dan kini dia benar-benar menyesal mengapa dia menyeret mereka bertiga ke tempat berbahaya ini.

Kalau sampai tugasnya gagal, dia tidak begitu menyesal karena dia sudah melakukannya dengan sepenuh hati dan dengan pengorbanan nyawa. Akan tetapi jika sampai tiga orang muda itu tewas, bukan hanya dia yang akan menyesal, bahkan ayah ibunya juga tentu akan menyalahkan dia!

"Ayah...! Ibu...! Maafkan kegagalanku...!" Tiba-tiba dia berteriak dan mengamuk semakin hebat, pedangnya sekaligus merobohkan empat orang anak buah Ngo-sian-chung hingga tiga orang tua lihai itu makin berhati-hati.

"Adikku, jangan putus asa. Enci-mu datang membantumu!" Tiba-tiba nampak bayangan berkelebat didahului sinar merah yang panjang yang melakukan totokan ke arah pelipis Hek I Siankouw dan sinar kilat seperti perak menyambar ke arah leher Bouw Thaisu!

"Keng-cici (kakak Keng)...!" Bun Houw berteriak, gembira bukan main karena meski pun bayangan itu belum kelihatan jelas siapa orangnya, tapi dia sudah mengenal sinar merah panjang dari sabuk merah muda dan sinar pedang Gin-hwa-kiam yang putih seperti perak itu.

Hek I Siankouw dan Bouw Thaisu terkejut, maklum bahwa serangan itu pun tidak boleh dipandang ringan, maka mereka cepat mengelak sambil membalas. Akan tetapi, Cia Giok Keng, wanita itu, adalah seorang wanita yang luar biasa lincah dan beraninya. Walau pun dibandingkan dengan adiknya, kepandaiannya belumlah dapat menandingi, tetapi sebagai puteri dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong dan pendekar wanita Sie Biauw Eng, tentu saja kepandaian Cia Giok Keng cukup hebat.

Kegembiraan hati Bun Houw membuat gerakannya makin kuat sehingga tamparan tangan kirinya yang penuh dengan tenaga mukjijat Thian-te Sin-ciang menyerempet pundak Hwa Hwa Cinjin, membuat tosu tua itu terhuyung.

"Mampuslah...!" melihat tosu itu terhuyung Cia Giok Keng sudah menerjang dengan sabuk sutera dan pedangnya.

"Hayaaaaa...!" Hwa Hwa Cinjin terkejut akan kegalakan wanita ini yang sama sekali tidak memberi kesempatan padanya. Akan tetapi dia sudah memutar kebutannya menangkis dan sekaligus membelit ujung pedang Gin-hwa-kiam.

"Plakk!" Ujung sabuk sutera merah menotok lehernya membuat tosu itu merasa separoh tubuhnya seperti lumpuh.

"Sratttt...!"

Giok Keng yang cerdik secara tiba-tiba menarik pedangnya dan ujung tali kebutan putus, bulu kebutannya berhamburan. Hal ini mengejutkan Hwa Hwa Cinjin dan dia meloncat ke belakang, mengambil sikap mempertahankan diri.

"Enci, aku tidak perlu dibantu. Kau bantulah Tio-twako... dia terdesak!" Bun Houw berkata.

Giok Keng menoleh. Dia tidak mengenal siapa pemuda jangkung berpakaian kuning yang didesak oleh seorang kakek yang dibantu oleh banyak anak buahnya itu. Akan tetapi dia menduga bahwa tentu pemuda itu teman adiknya, maka sekali meloncat dia sudah tiba di gelanggang pertempuran di mana Tio Sun terdesak, dan sabuk merahnya yang dikawani pedang peraknya mengamuk, merobohkan tiga orang pengeroyok dalam waktu singkat saja.

Kepungan ketat terhadap diri Tio Sun menjadi kacau dan kini pertandingan berjalan makin seru dan mati-matian. Tio Sun berterima kasih dan girang sekali, ada pun Liok-te Sin-mo yang sudah hampir dapat mengalahkan Tio Sun menjadi marah bukan kepalang. Cepat dia meneriaki anak buahnya agar makin ketat mengepung dua orang itu.

Bun Houw masih gelisah memikirkan dua orang saudara Souw. Keadaan Tio Sun sudah mendingan, karena dia tahu bahwa enci-nya juga bukan orang sembarangan dan dengan bantuan enci-nya, tentu Tio Sun dapat membela diri lebih baik.

"Bun Houw, engkau terlalu sembrono!" sambil membantu Tio Sun, Giok Keng berteriak menegur adiknya. "Pengecut-pengecut macam ini selalu main keroyok dan curang!"

Bun Houw tersenyum. Kakaknya itu sejak dahulu galaknya bukan main! Masa, baru saja datang dan masih menghadapi pengeroyokan musuh begitu banyaknya, ehh, masih ada kesempatan untuk marah-marah dan menegurnya.

"Cici, maaf!" Teriaknya kembali. "Tetapi setelah engkau datang, mari kita basmi mereka. Yang kau hadapi itu adalah Liok-te Sin-mo Gu Lo It!"

Mendengar bahwa kakek yang bertubuh tinggi besar, berjubah hitam, kepalanya memakai topi, dan ujung lengan bajunya dipasangi baja, yang amat lihai ini adalah orang kedua dari Lima Bayangan Dewa, Giok Keng amat terkejut dan kemarahannya memuncak, wajahnya merah, matanya berapi-api.

"Kiranya Si Iblis Kuburan!" bentaknya dan dia menggerakkan kedua senjatanya semakin cepat lagi mendesak Liok-te Sin-mo.

Kakek ini marah dan mendongkol bukan main. Julukannya adalah Iblis Bumi, akan tetapi wanita yang cantik jelita, gagah dan galak ini memakinya Iblis Kuburan. Belum pernah dia dihina orang seperti ini.

"Keparat, siapa engkau?" bentaknya sambil mengelak dari sambaran ujung sabuk merah dan menangkis tusukan pedang Tio Sun dengan ujung lengan baju kiri.

"Aku she Cia, mewakili ayah untuk memenggal leher Lima Bayangan Monyet!" bentak Cia Giok Keng sambil menyerang makin hebat.

Kini terkejutlah semua tokoh itu. Ternyata wanita ini adalah puteri Cia Keng Hong, dan melihat hubungan antara wanita ini dengan pemuda itu, jelas bahwa pemuda itu kiranya adalah putera ketua Cin-ling-pai! Pantas begitu lihai!

"Bagus...! Jadi engkau Cia Giok Keng yang membunuh sahabatku Thian Hwa Cinjin...?"

Tiba-tiba Bouw Thaisu meloncat tinggi, meninggalkan Bun Houw dan dari atas dia sudah mengebutkan kedua lengan bajunya ke arah kepala dan dada Giok Keng.

"Enci, awassss...!" Bun Houw terkejut dan memperingatkan kakaknya.

"Plak-plak, cringgg... bresss...!"

Serangan Bouw Thaisu tadi memang hebat bukan main. Walau pun Giok Keng sudah mengelak, namun ujung lengan baju dari kakek ini bagaikan hidup. Tio Sun sudah cepat memapaki dengan pedangnya, akan tetapi juga pedangnya terpukul ke samping seperti pedang Giok Keng dan totokan sabuk merah Giok Keng pada pundak kakek itu seperti mengenai baja tebal saja. Sekarang ujung lengan baju kiri Bouw Thaisu telah mengancam ubun-ubun kepala Giok Keng dengan pukulan maut.

Tiba-tiba ujung lengan baju itu terpental kembali dan lengan kakek itu bertemu dengan sebuah lengan lain yang dengan cepat menangkis. Kakek itu lantas terpental dan hampir terbanting roboh. Dia terkejut bukan main dan melihat. Ternyata seorang laki-laki gagah dan tampan, berusia hampir empat puluh tahun, telah berdiri di situ sambil memandang kepadanya dengan sikap tenang.

"Kau...? Huh...!" demikian kata Giok Keng.

Dan wanita ini tidak mempedulikan lagi laki-laki yang sebenarnya sudah menyelamatkan nyawanya itu. Dengan kemarahan hebat Giok Keng kini menyerang Bouw Thaisu yang masih bengong terlongong dan kaget bukan main. Tangkisan laki-laki yang masih belum tua ini telah membuat seluruh tubuhnya bagai digerayangi tenaga mukjijat yang membuat napasnya sesak. Oleh karena itu, ketika Giok Keng menyerang, dia cepat meloncat jauh ke belakang.

"Yap-suheng...!" Bun Houw berteriak girang. Biar pun sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan laki-laki gagah perkasa itu, dia masih mengenalnya.

"Sute, engkau sekarang hebat bukan main!" Yap Kun Liong, pria itu, memujinya sambil tersenyum.

Kemudian sekali tubuhnya berkelebat, Kun Liong sudah meloncat dan menyerang Bouw Thaisu yang dia lihat tadi gerakannya paling lihai. Bouw Thaisu terpaksa menyambut serangannya dan keduanya segera bertanding mati-matian tidak mempergunakan senjata karena Bouw Thaisu menggunakan sepasang lengan baju sedangkan Kun Liong hanya menggunakan dua lengannya saja. Terdengar suara dak-duk-dak-duk setiap kali lengan mereka saling bertemu bagaikan dua pasang lengan baja yang amat kuat dan berkali-kali Bouw Thaisu tergetar tubuhnya dan terhuyung ke belakang!

Melihat kedatangan wanita dan pria yang gagah perkasa itu, Liok-te Sin-mo Gu Lo It terkejut dan takut setengah mati. Dia mengerti bahwa Bun Houw dan Giok Keng adalah putera-puteri ketua Cin-ling-pai yang berilmu tinggi, dan setelah mendengar teguran Bun Houw tadi, dia dapat menduga siapa adanya laki-laki perkasa yang kini mendesak Bouw Thaisu. Dia sudah mendengar akan nama Yap Kun Liong, maka gentarlah hatinya dan diam-diam dia memaki sumoi dan sute-nya yang tidak nampak batang hidungnya lagi.

"Maju semua...! Kepung dan keroyok...!" teriaknya dan anak buahnya yang sesungguhnya juga merasa gentar, apa lagi terhadap sikap Giok Keng yang demikian ganas memainkan pedang dan sabuk merahnya, terpaksa maju mengurung lagi. Jumlah mereka masih ada dua puluh orang lebih, maka pengepungan mereka cukup memberi kesempatan kepada Liok-te Sin-mo untuk diam-diam melarikan diri!

Melihat ini Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw mendongkol sekali. Tiga orang dari Lima Bayangan Dewa, fihak yang mereka bantu, diam-diam telah melarikan diri semua. Maka Hwa Hwa Cinjin memberi isyarat kepada tokouw berpakaian hitam itu, lalu mereka pun meloncat ke belakang dan melarikan diri.

"Hemmm, kelak aku ingin bertemu dan bertanding langsung berhadapan sendiri dengan ketua Cin-ling-pai!" Bouw Thaisu berkata dan dia pun meninggalkan Kun Liong yang sibuk dikeroyok banyak anak buah Ngo-sian-chung.

"Cici, suheng, harap tahan mereka, aku hendak mencari dan menolong kedua saudara Souw!" Bun Houw berteriak dan tubuhnya mencelat dan lenyap dari tempat itu.

Melihat ini, Giok Keng girang dan kagum sekali, sedangkan Kun Liong menarik napas panjang. Murid ayah mertuanya itu sekarang benar-benar sangat lihai. Kini dengan enak saja Tio Sun, Giok Keng, serta Kun Liong menghadapi pengeroyokan dua puluh lebih orang-orang Ngo-sian-chung dan Lembah Bunga Merah.

Diam-diam Kun Liong memperhatikan dan dia merasa lega bahwa sungguh pun masih kelihatan amat galak dan ganas, akan tetapi Cia Giok Keng bukanlah gadis belasan tahun yang lalu, yang seolah-olah merupakan harimau betina haus darah. Dahulu, menghadapi musuh-musuhnya, apa lagi anak buah Lima Bayangan Dewa yang merupakan musuh besar, tentu gadis itu akan memperlihatkan sikap kejam tak mengenal ampun lagi, tentu ujung sabuk merah itu akan mencari sasaran jalan darah kematian, sedangkan pedang Gin-hwa-kiam tentu akan berlepoton darah sampai ke gagangnya.

Akan tetapi sekarang, meski pun masih tetap ganas, Giok Keng hanya merobohkan para pengeroyok tanpa menimbulkan kematian. Demikian pula Tio Sun membuat Kun Liong diam-diam kagum karena meski pun masih muda, Tio Sun juga jelas tidak menghendaki kematian terhadap para pengeroyoknya, hanya menjatuhkan mereka dengan mematahkan tulang dan mendatangkan luka yang ringan saja.

Sementara itu, Bun Houw sudah mencari di seluruh perkampungan Ngo-sian-chung, akan tetapi sia-sia belaka. Akhirnya terpaksa dia menangkap seorang wanita anggota keluarga anak buah Ngo-sian-chung dan menghardik,

"Hayo cepat katakan di mana adanya Toat-beng-kauw But Sit dan Hui-giakang Ciok Lee Kim!" Sengaja dia menempelkan pedangnya di leher wanita itu yang tentu saja menjadi ketakutan sekali.

"Hamba... hamba tidak tahu... tadi... mungkin... ke hutan di sebelah sana..."

Bun Houw melepaskannya dan cepat dia berlari seperti terbang menuju ke dusun kecil di sebelah timur dusun itu. Ketika dia tiba di tepi sungai, di atas lapangan rumput yang tebal menghijau dan sunyi sekali, lapangan yang dihimpit oleh sungai dan hutan kecil, tiba-tiba dia berdiri seperti patung dan matanya terbelalak, mukanya pucat, kemudian pelan-pelan menjadi merah sekali.

Dia melihat Toat-beng-kaw Bu Sit sedang menanggalkan bajunya sambil tertawa-tawa, sedangkan di atas rumput rebah Kwi Eng yang sudah tidak berpakaian! Pakaian gadis itu tertumpuk di sebelahnya dan dia melihat dara itu terbelalak memandang si muka monyet dengan air mata bercucuran, akan tetapi agaknya dalam keadaan tertotok karena tidak mampu bergerak sama sekali!

Saking marahnya, Bun Houw mengayun pedang pemberian In Hong ke depan. Terdengar suara berdesing nyaring dan Bu Sit terkejut sekali. Cepat dia menoleh dan melihat sinar terang menyambar, dia mengelak, akan tetapi karena dia sedang membuka baju atasnya, pedang itu menerobos bajunya dan terus mcluncur ke depan, menancap ke atas tanah berumput sampai ke gagangnya. Tentu saja Bu Sit menjadi pucat sekali wajahnya ketika mengenal siapa yang datang.

"Hyaaaaaatttt...!" Dalam kemarahan yang sukar dilukiskan hebatnya, Bun Houw langsung meloncat dan bagaikan seekor garuda terbang saja dia menerjang Bu Sit dengan kedua tangan di depan, jari-jarinya terbuka seperti cakar garuda.

"Heiittttt...!"

Bu Sit yang sudah melempar jubahnya itu menyambar senjatanya, yaitu joan-pian atau pecut baja, lalu dia menggerakkan pecut itu. Terdengar suara meledak, pecut itu dengan tepat menghantam tubuh Bun Houw yang sedang melayang datang, namun Bun Houw menggerakkan tangan menangkap ujung pecut baja!

Bu Sit hampir tidak dapat percaya. Pemuda itu menangkap ujung pecut baja! Padahal perbuatan ini lebih berbahaya dari pada menangkap pedang telanjang. Dia mengerahkan tenaga, menggetarkan pecutnya untuk membikin telapak tangan Bun Houw pecah atau mungkin tangan itu akan putus. Akan tetapi sia-sia belaka dan tahu-tahu pecutnya sendiri sudah melingkar di lehernya!

"Augghhkkkk...!" Bu Sit mendelik karena lehernya terbelit pecutnya sendiri, menghentikan pernapasan. Dia melihat lawannya berdiri di hadapannya, maka dia cepat menggerakkan kedua tangannya, dikepal dan menghantam ke arah perut dan dada Bun Houw.

"Bukkk! Dessss...!"

Sedikit pun tubuh pemuda itu tidak bergoyang, akan tetapi pergelangan tangan kanan Bu Sit yang memukul dada tadi menjadi patah tulangnya!

"Auukhhh... auukhhhhh...!" Toat-beng-kauw Bu Sit mendelik, lidahnya terjulur keluar.

Mengingat penyiksaan Toat-beng-kauw kepadanya masih belum begitu memarahkan hati Bun Houw, akan tetapi melihat si muka monyet ini menelanjangi Kwi Eng dan hampir saja memperkosanya, membuat dia menjadi mata gelap dan marah bukan main. Akan tetapi, terngiang di telinganya segala nasehat orang tuanya, maka dia terengah-engah menahan kemarahan dan melepaskan libatan pecut itu yang dirampasnya dari tangan Bu Sit.

Begitu dilepaskan libatan lehernya, Bu Sit memegangi lehernya dengan kedua tangan, megap-megap seperti seekor ikan dilempar ke darat, kemudian tanpa malu-malu lagi dia menjatuhkan dirinya berlutut!

"Ampun... ampunkan aku..."

Bun Houw meludah penuh rasa jijik. Kemudian, teringat akan keadaan Kwi Eng, segera dia menoleh dan dia seperti silau melihat keadaan tubuh dara itu yang rebah terlentang dalam keadaan polos sama sekali. Cepat dia melempar pandangan matanya ke bawah, menghindari penglihatan itu, lalu mengambil pakaian Kwi Eng, tanpa memandangnya lalu melempar pakaian itu menutupi tubuh Kwi Eng, kemudian dengan muka masih berpaling dan pandang mata terbuang ke samping dia membebaskan totokan tubuh Kwi Eng.

Terdengar sedu-sedan dari leher dara itu. Kwi Eng cepat-cepat mengenakan pakaiannya, kemudian dia terpincang-pincang berloncatan dengan sebelah kaki ke arah pedang Bun Houw yang menancap di tanah, mencabut pedang itu dan terpincang-pincang melangkah menghampiri Bu Sit.

Bu Sit bukanlah seorang yang bodoh. Sama sekali tidak. Dia adalah seorang datuk kaum sesat yang amat cerdik. Dia masih terus berlutut setengah menangis minta-minta ampun, seolah-olah tak melihat dara yang hampir diperkosanya tadi sekarang terpincang-pincang menghampirinya dengan pedang di tangan!

Akan tetapi, begitu Kwi Eng telah tiba mendekat dan mengayun pedang ke arah lehernya, cepat sekali Bu Sit mengelak dengan menggulingkan tubuh dan saat pedang menyambar, dia lantas meloncat bangun dan sudah menangkap kedua tangan Kwi Eng, memutarnya ke belakang tubuh dan kini jari tangannya mengancam ke ubun-ubun kepala dara itu.

"Ha-ha-ha, engkau majulah dan gadis ini akan mampus dengan kepala berlubang!" Bu Sit mengancam Bun Houw.

Bun Houw memandang pucat, tidak mengira bahwa orang termuda dari Lima Bayangan Dewa itu akan melakukan hal securang itu.

"Serang dia, Houw-ko! Jangan pedulikan aku! Serang dia dan bunuh si jahanam keparat ini!" Kwi Eng berteriak-teriak sambil memandang pemuda itu.

"Cobalah, majulah maka jari-jari tanganku akan menembus ubun-ubunnya, otaknya akan bereeceran keluar!" Bu Sit menghardik.

Bun Houw masih memandang dengan muka pucat dan mata terbelalak, tidak tahu harus berbuat bagaimana. Tentu saja dia tidak mau memenuhi permintaan Kwi Eng, menyerang dan membunuh Bu Sit karena dia tahu bahwa sebelum dia berhasil membunuh penjahat keji itu, tentu Kwi Eng akan tewas lebih dulu.

"Jangan maju, selangkah saja aku akan membunuh dia!" Bu Sit berkata lagi dan kini dia menyeret Kwi Eng mundur-mundur menjauhi Bun Houw yang diam tak bergerak.

Kwi Eng meronta, akan tetapi sia-sia saja. "Houw-koko, kau serang dia, kau bunuh dia! Aku lebih suka mati dari pada diculik dan dibawanya!"

Akan tetapi Bun Houw tetap tak bergerak, seluruh urat syaraf di tubuhnya menegang dan siap untuk menyerang apa bila dia diberi kesempatan. Akan tetapi dengan jari-jari tangan Bu Sit menempel pada ubun-ubun Kwi Eng, bagaimana mungkin dia berani bergerak? Betapa pun cepat gerakannya, tak mungkin dapat menang cepat dengan jari tangan yang sudah menempel di ubun-ubun itu.

"Ha-ha-ha, sampai bagaimana pun engkau tak akan mampu menandingi Lima Bayangan Dewa, ha-ha-ha..." Pada saat itu, dari belakang tampak sinar hijau menyambar bagaikan cahaya halilintar, mengenai punggung Bu Sit yang masih telanjang karena tadi si muka monyet ini telah menanggalkan bajunya.

"...ha-ha-ha... augghhh...!" Suara tawa dari Bu Sit disambung pekik melengking, matanya yang kecil bulat terbelalak, mulutnya menyeringai kesakitan, mukanya pucat dan kini dia mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menghantam kepala Kwi Eng!

Akan tetapi, kesempatan yang hanya beberapa detik ini cukuplah bagi Bun Houw. Kalau tadi dia tidak berani bergerak karena jari-jari tangan Bu Sit menempel di ubun-ubun dara itu, sekarang, sesudah iblis itu menerima serangan sinar hijau dari arah belakang yang membuatnya terkejut dan mengangkat tangan baru akan memukul kepala Kwi Eng, sudah cukuplah kesempatan itu bagi Bun Houw.

Bagaikan terbang dia meloncat ke depan, tangannya bergerak dan hawa pukulan dahsyat menyambar, membuat tangan Bu Sit yang memukul itu tertahan di udara dan di lain saat Bun Houw sudah menyambar pinggang Kwi Eng, dipondongnya dan dari telapak tangan itu keluar serangkum hawa pukulan yang amat panas mengarah dada lawan.

Pada saat itu Bu Sit berdiri limbung dengan muka pucat sekali. Dalam keadaan sehat saja tak mungkin dia dapat menahan pukulan Bun Houw ini, apa lagi dalam keadaan seperti ini, yaitu setelah dia mengalami luka yang amat hebat di punggungnya.

"Dessss...!"

Tubuhnya terjengkang dan terbanting ke atas tanah, roboh dan tak dapat bergerak lagi karena dia telah tewas seketika, isi dada dan perutnya hancur oleh getaran hawa pukulan dahsyat tadi.

Bun Houw memandang ke sekeliling, terutama ke arah belakang Bu Sit dari mana tadi datang sinar hijau, akan tetapi dia tak melihat sesuatu apa pun. Dengan lengan kiri masih merangkul Kwi Eng, dia menggunakan kakinya membalikkan tubuh Bu Sit dan tampaklah olehnya betapa punggung laki-laki bermuka monyet itu penuh dengan lubang-lubang kecil dan luka-luka kecil itu melepuh dan membengkak berwarna kehijauan.

Dia tahu bahwa Bu Sit telah terkena serangan senjata rahasia beracun, agaknya seperti senjata pasir beracun, akan tetapi dia tidak tahu bahwa Toat-beng-kauw Bu Sit sudah menjadi korban serangan Siang-tok-swa (Pasir Racun Harum), yaitu senjata rahasia khas dari Giok-hong-pang!

Tiba-tiba suara isak tertahan membuat dia memandang Kwi Eng yang masih dia peluk pinggangnya. Dia terkejut melihat dara itu menangis dan baru teringat bahwa dia masih merangkul pinggang yang ramping itu, maka cepat-cepat dia melepaskan rangkulannya. Kwi Eng terhuyung dan hampir saja jatuh, maka cepat Bun Houw memegang lengannya, menahannya.

"Ahh, kau... kau terluka, adik Kwi Eng?" Bun Houw bertanya penuh kekhawatiran.

Kwi Eng menggigit bibirnya. "Hanya... hanya kakiku... agaknya patah tulang pergelangan kakiku... terpukul gagang tombak tadi..." Dia lalu duduk di atas tanah.

Bun Houw cepat berlutut memeriksa. Ternyata benar. Tulang pergelangan kaki kiri dara itu patah!

"Ah, benar saja. Kakimu yang kiri ini... tulangnya patah. Harus cepat diobati, Eng-moi. Kau tahankan rasa nyeri sedikit..."

Dara itu mengangguk dan Bun Houw lalu menyingkap pipa celana kaki kiri itu. Berdebar juga hatinya ketika jari-jari tangannya meraba kulit kaki yang halus sekali, halus lunak dan hangat itu, dengan kulit tipis putih, begitu tipis dan halusnya sehingga seolah-olah dia bisa melihat urat-urat darah di bawahnya.

Namun dia mengusir semua ingatan tentang yang indah-indah itu dan cepat dia menotok jalan darah di dekat lutut, kemudian dia meraba pergelangan kaki yang tulangnya patah, dengan cekatan dan tanpa ragu-ragu lagi dia menarik lantas membenarkan letak tulang yang patah itu, kemudian mengambil bungkusan obat untuk penyambung tulang. Setelah mencampur obat dengan air, kemudian menaruh obat di sekeliling pergelangan kaki itu, dibalutnya pergelangan kaki itu dengan kain yang dia ambil dari robekan bajunya dan sebagian sabuknya, dibalut dengan kuat-kuat dan kanan kiri kaki itu diganjal dengan kayu sehingga kedudukan tulang yang patah itu tidak akan berubah lagi.

Semua ini dikerjakan oleh Bun Houw tanpa berkata-kata dan dengan cepat sekali. Dia kagum karena sedikit pun tidak terdengar keluhan dari bibir dara itu dan setelah selesai membalut, baru dia mengangkat muka memandang. Dara itu ternyata sedang menatap wajahnya dengan bulu-bulu mata terhias butiran air mata!

"Sakit...?" Kini Bun Houw bertanya.

Kwi Eng menggelengkan kepalanya. "Sedikit...," bisiknya.

Akan tetapi dia lalu menahan tangis, bibirnya yang merah itu tergetar dan akhirnya dia menangis sesenggukan sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan. Butiran-butiran air mata mengalir turun melalui celah-celah jari tangannya.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner