DEWI MAUT : JILID-30


Bun Houw menjadi bingung dan dia mengusap pundak dara itu untuk menghibur. "Bahaya telah lewat, musuh telah tewas. Kenapa kau berduka, Eng-moi? Kau kan tidak... belum... tertimpa bahaya..."

Tetapi tangis itu kini bahkan semakin mengguguk. Bun Houw memegang kedua pundak dara itu, mengguncangnya halus dan berkata, "Eng-moi, kenapakah? Katakan kepadaku, mengapa kau begini berduka?"

Perlahan-lahan Kwi Eng mengangkat mukanya. Dari balik tirai air mata dia memandang. Dua pasang mata bertemu, bertaut ketat lalu dua pasang sinar itu saling melekat, saling menyelami dan perlahan-lahan Kwi Eng berkata dengan suara menggetar, "Houw-koko, kau... kau sudah... menyelamatkan aku... dari mala petaka yang bahkan lebih hebat dari pada maut... Houw-koko, bagaimana aku dapat membalas budimu...?"

"Hushhhh... apakah hal itu perlu dibicarakan lagi, moi-moi? Engkau yang membantu aku menghadapi musuh-musuhku, sampai-sampai engkau hampir mengorbankan nyawa, dan sekarang kau bicara tentang budi? Sudahlah, mari kita kembali ke tempat kawan-kawan. Aku yakin semua penjahat telah terbasmi. Tahukah engkau siapa yang datang membantu kita? Enci-ku Cia Giok Keng dan suheng-ku Yap Kun Liong!"

Kwi Eng mengangguk dan berusaha untuk berdiri dengan satu kaki. "Ah, jangan gunakan kakimu yang patah tulangnya. Mari kupondong."

Bun Houw kemudian menggunakan kedua lengannya, memondong tubuh dara itu. Kwi Eng menyandarkan kepalanya di dada Bun Houw dan sejenak pemuda ini memejamkan matanya ketika hidungnya mencium bau harum dari rambut dan muka yang begitu dekat dengan mukanya.

"Houw-koko...!"

Bun Houw melangkah perlahan dan menjawab, "Hemmm...?"

Jantungnya berdebar karena tubuh yang hangat itu terasa begitu ketat di kedua lengan dan dadanya, maka dalam keadaan seperti itu sukar dia mengeluarkan kata-kata.

"Di dunia ini... hanya ada dua orang pria yang telah melihat tubuhku... yang seorang telah mampus... dan orang kedua adalah engkau... dan aku bersumpah, tidak akan ada laki-laki ketiga yang akan melihatku..."

Bun Houw terkejut, juga bingung. "Apa... apa yang kau maksudkan, moi-moi?"

Tiba-tiba Kwi Eng sesenggukan lagi dan kedua lengannya seperti dua ekor ular merayap dan merangkul leher pemuda itu. Tentu saja Bun Houw menjadi berdebar-debar, seluruh tubuhnya tergetar oleh gelora darah mudanya. Otomatis pelukan kedua tangannya makin dipererat seolah-olah dia hendak mendekap tubuh dara yang cantik jelita itu makin ketat. Rasa rindu akan seorang wanita yang selama ini ditahannya, rindunya kepada Yalima, wanita pertama yang dicintanya, kini seolah-olah memperoleh pelepasan pada diri Kwi Eng!

"Koko... engkaulah satu-satunya pria hidup yang melihat aku... seperti tadi... dan hanya engkaulah yang boleh melihatku seperti itu... untuk selama hidupku."

"Hemmm... maksudmu?"

"Engkau telah menyelamatkan diriku dari bencana yang amat hebat, engkau telah melihat aku dalam keadaan seperti tadi... semua itu hanya dapat kutebus dengan penyerahan jiwa ragaku, koko... jika kau sudi menerimanya..."

Hampir saja pondongan itu terlepas saking kagetnya hati Bun Houw. Ternyata demikian ‘mendalam’ perasaan hati dara ini. Ternyata Kwi Eng hendak menyatakan bahwa dara yang cantik ini jatuh cinta kepadanya!

"Maksudmu... kau... kau cinta padaku?" Dia menjelaskan sambil memandang. Kwi Eng juga mengangkat muka memandang.

Dua muka saling berdekatan. Otomatis langkah kaki Bun Houw terhenti dan tiba-tiba saja sepasang lengan Kwi Eng yang merangkul leher itu menarik leher Bun Houw makin kuat sehingga muka pemuda itu makin menunduk dan tak terhindarkan lagi, sukar dikatakan siapa yang lebih dahulu bergerak, muka yang tampan dan cantik itu saling bertemu, dua mulut dengan bibir yang penuh gairah hidup itu saling berciuman, terdorong oleh getaran perasaan hati mereka.

Mereka lupa diri, lupa keadaan, seperti dalam keadaan mabok sehingga seakan-akan ciuman itu tak akan pernah berakhir, seolah-olah dalam ciuman itu mereka hendak saling mempersatukan diri, selamanya tidak akan terpisah lagi. Namun kebutuhan akan napas dan gelora perasaan yang melonjak membuat mereka terpaksa melepaskan bibir dengan napas terengah-engah.

Sejenak mereka saling pandang. Sepasang pipi mereka menjadi merah sekali, pandang mata mereka menjadi sungkan dan kemalu-maluan. Kwi Eng menunduk dan Bun Houw menengadah, degup jantung mereka dapat saling mereka rasakan karena dada mereka berdekapan.

"Eng-moi..."

"Koko..."

"Jangan... tak benar ini..."

"Mengapa tak benar...? Aku rela..."

"Tidak boleh... kita baru saja bertemu dan saling berkenalan..."

"Bagiku engkau sudah selamanya kukenal..."

"Sudahlah, harap kau jangan bicara tentang urusan kita ini dulu, moi-moi. Kau tahu bahwa tugasku masih jauh dari pada selesai, aku... aku tidak mungkin bisa membagi perhatian terhadap soal lain. Kita tunda saja dulu urusan ini, maukah kau berjanji?"

Kembali dua pasang mata saling bertemu dan Kwi Eng pun tersenyum. Senyum penuh kebahagiaan karena ciuman tadi baginya sudah lebih dari cukup sebagai tanda bahwa pemuda yang telah menjatuhkan cinta kasihnya ini, ternyata juga mencintanya. Apa bila tidak demikian, tak mungkin terjadi ciuman seperti tadi! Terasa benar olehnya menembus sampai ke dasar hatinya. Maka dia mengangguk sambil tersenyum.

Bukan main manisnya dan penuh daya pikat sehingga terpaksa Bun Houw harus segera mengangkat kepala memandang ke atas. Tidak kuat dia untuk memandang wajah yang sedemikian manisnya, demikian dekatnya, bibir yang segar merah basah, sedikit terbuka, mulut yang seolah-olah menantang, dan seolah-olah diciptakan untuk dicium penuh kasih sayang, memandang kesemuanya ini tanpa menciuminya!

Dan Kwi Eng kembali tersenyum. Senyum kemenangan seorang wanita yang mempunyai naluri kewanitaannya, yang tahu benar saat-saat seorang pria bertekuk lutut tanpa syarat! Rangkulannya semakin ketat dan sambil tersenyum-senyum, mata yang masih basah air mata itu pun tersenyum malu-malu, dara ini menyembunyikan mukanya di dada kekasih pujaan hatinya!

Pada saat itu pula, ketika Bun Houw melanjutkan langkahnya dan matanya memandang ke depan, dia melihat berkelebatnya bayangan orang di antara pohon-pohon. Dia cepat mengejar dengan pandang matanya dan dilihatnya bayangan itu berdiri tegak di samping sebatang pohon, bayangan seorang wanita dengan sinar mata berapi-api yang ditujukan kepada tubuh Kwi Eng yang dipondongnya. Tentu saja dia segera mengenal gadis yang berdiri dengan sinar mata berapi-api itu.

"Hong-moi...!" Tanpa terasa lagi dia berseru memanggil. Akan tetapi bayangan itu cepat berkelebat dan lenyap di balik pohon-pohon di dalam hutan di tepi sungai itu.

"Ehh, kau memanggil siapa, Houw-koko?" Kwi Eng bertanya dan memandang ke kanan kiri.

Bun Houw mengerutkan alisnya. "Pendekar wanita yang pernah menolongku, Eng-moi. Sepertinya kulihat dia tadi berkelebat di dalam hutan. Akan tetapi mungkin juga aku salah lihat..." Namun hatinya merasa yakin bahwa gadis penolongnya itulah yang dilihatnya tadi, dengan sinar mata tajam penuh kemarahan dan kebencian ditujukan kepada Kwi Eng.

Bun Houw mengerutkan alisnya dan makin kuat dugaannya. Tidak salah lagi. Tentu gadis itulah yang pernah menyerang Kwi Eng, dan bahkan yang telah membunuh gadis she Ma itu. Jantungnya berdebar-debar penuh ketegangan. Andai kata betul demikian, alasannya hanya satu, yaitu cemburu!

Gadis yang bernama Hong itu agaknya selalu membenci setiap wanita yang berdekatan dengan dirinya! Cemburu, berarti gadis itu cinta kepadanya! Bun Houw bergidik dan kalau tadinya dia merasa sangat tertarik kepada In Hong, kini dia mulai merasa jijik dan tidak suka.

Dicinta oleh seorang wanita yang demikian besar cemburunya, yang demikian kejamnya, sungguh mengerikan sekali. Meski pun cantik seperti dewi, akan tetapi selalu melakukan kekejaman seperti setan, Dewi Maut! Biar pun gadis itu amat cantik, amat tinggi ilmunya, dan sudah pernah menolongnya, menyelamatkannya dari bahaya maut, akan tetapi kalau sekejam itu perangainya, pasti kelak dia akan menegurnya kalau dia sempat bertemu lagi dengan Si Dewi Maut itu.

Akan tetapi... kematian Bu Sit tadi! Siapakah yang tadi telah melepas pasir beracun dan merobohkan Bu Sit, dengan demikian menyelamatkan Kwi Eng? Apakah bukan Si Dewi Maut itu pula?

Memang tidak keliru dugaan Bun Houw. Bayangan yang berkelebat di antara pepohonan dan yang tadi sejenak memandang tajam ke arah Bun Houw yang memondong Kwi Eng, adalah In Hong. Baru saja gadis perkasa ini juga menyelamatkan Kwi Beng dari ancaman maut di tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim.

Seperti kita ketahui, Kwi Beng, seperti juga Kwi Eng yang dipancing menjauhi gelanggang pertempuran oleh Bu Sit, juga dipancing oleh Hui-giakang Ciok Lee Kim si nenek cabul yang tergila-gila oleh ketampanan pemuda itu. Kemudian pemuda itu pun roboh pingsan dan dipondong serta dilarikan oleh Ciok Lee Kim, dibawa ke dalam hutan di belakang dusun Ngo-sian-chung. Ketika tiba di tempat sunyi, Ciok Lee Kim menyandarkan pemuda itu dan dia mulai merayu Kwi Beng. Makin dipandang, Si Kelabang Terbang itu semakin tergila-gila kepada pemuda ini.

Kwi Beng yang sudah siuman akan tetapi dalam keadaan lemas tertotok, memandang marah dan memaki, "Perempuan iblis, sesudah aku kalah, kau bunuhlah aku!" bentaknya dan berusaha menggerakkan kedua kaki dan tangannya, akan tetapi anggota badannya itu terasa seperti lumpuh.

Ciok Lee Kim membelai pipi serta leher pemuda itu. "Aihhh, sayang kalau orang seperti engkau ini dibunuh. Orang muda yang ganteng, aku suka sekali kepadamu. Kau layanilah aku, maka aku bersumpah akan menjamin keselamatanmu dan selamanya engkau akan menjadi kekasihku, sahabatku, dan muridku."

"Cih, perempuan tak tahu malu!" Kwi Beng memaki. "Kau sudah gila!"

"Hi-hik, memang aku sudah gila, tergila-gila kepadamu, sayang. Apa perlunya mati sia-sia dalam usia begini muda? Biar pun aku lebih tua darimu, aku adalah seorang ahli dalam permainan cinta, dan kau akan menjadi muridku, kau akan menikmati hidup dan apa pun permintaanmu akan kupenuhi, sayang."

Ciok Lee Kim berlutut, merangkul dan menciumi. Wanita ini benar-benar sudah tergila-gila melihat mata kebiruan dan rambut agak pirang itu. Sepuluh jemari tangannya yang sudah mulai keriputan itu kini mulai meraba-raba.

"Bedebah! Tua bangka gila! Pergilah, atau bunuhlah aku!" Kwi Beng merasa amat jijik dan muak sekali, akan tetapi tentu saja dia tidak mampu mencegah jari-jari tangan wanita itu menggerayangi tubuhnya, hal yang membuat pemuda itu merasa ngeri dan jijik sekali.

Sudah sejak tadi ada sepasang mata jeli dan tajam yang menonton peristiwa ini. Bahkan sejak Ciok Lee Kim memasuki hutan memondong tubuh Kwi Beng yang pingsan, pemilik mata jeli itu sudah membayanginya.

In Hong yang melihat peristiwa ini, diam-diam merasa kagum kepada Kwi Beng. Untuk ke sekian kalinya dia tercengang. Setelah dia kagum melihat murid-murid Bu-tong-pai yang gagah perkasa, kemudian melihat pula Bun Houw yang lebih baik mati dari pada tunduk terhadap rayuan wanita, kini dia melihat Kwi Beng yang sama sekali tidak mau tunduk terhadap rayuan Ciok Lee Kim. Rasa kagum dan simpatinya sudah timbul dan tentu saja sekaligus menimbulkan perasaah muak dan marah kepada Si Kelabang Terbang itu.

Memang sudah lama dia merasa benci sekali terhadap Hui-giakang Ciok Lee Kim yang dianggapnya seorang wanita tak tahu malu, jahat dan keji. Kini, melihat betapa Ciok Lee Kim secara tak tahu malu menggerayangi tubuh pemuda yang terang-terangan menolak rayuannya itu, dan betapa jari-jemari tangan nenek itu mulai membuka kancing baju Kwi Beng, In Hong tidak dapat menahan rasa jijiknya.

"Iblis betina cabul tak tahu malu!" bentaknya sambil meloncat dekat.

Ciok Lee Kim terkejut bukan main, segera dia pun meloncat berdiri sambil membalikkan tubuhnya. Di antara Lima Bayangan Dewa yang pernah bertemu dan berkenalan dengan dara perkasa ini hanyalah Toat-beng-kauw Bu Sit. Ciok Lee Kim belum pernah melihat In Hong, maka kini melihat bahwa yang muncul hanya seorang gadis muda belia yang cantik jelita, dia memandang rendah dan menjadi marah bukan main, kemarahan yang didorong rasa jengah dan malu karena perbuatannya merayu pemuda itu ketahuan orang lain.

Dengan gerakan galak dan angkuh dia lalu mencabut keluar sepasang senjatanya, yaitu sepasang sapu tangan sutera merah. Begitu kedua tangannya bergerak, terdengar suara bersiutan dan sapu tangan itu diputarnya sedemikian cepat sehingga lenyap bentuknya dan berubah menjadi dua gulungan sinar merah.

Dengan demonstrasi tenaga sinkang ini agaknya Ciok Lee Kim hendak menakut-nakuti gadis muda itu. Sungguh menggelikan! Dia tidak tahu siapa adanya wanita muda ini, dan tentu saja bagi Yap In Hong, murid tunggal ketua Giok-hong-pang yang sudah mewarisi ilmu-ilmu simpanan dari bokor pusaka Panglima The Hoo, permainan nenek itu bagaikan permainan kanak-kanak saja.

"Bocah yang bosan hidup, siapakah kau mengantar nyawa sia-sia dengan mencampuri urusanku?" bentak Ciok Lee Kim, karena biar pun dia marah sekali, timbul pula keinginan tahunya siapa adanya gadis muda yang begini berani mengganggunya. Padahal banyak orang kang-ouw yang langsung menggigil ketika baru mendengar namanya saja.

"Hui-giakang Ciok Lee Kim, sesudah engkau lari terbirit-birit dari Lembah Bunga Merah, ternyata engkau bersembunyi di Ngo-sian-chung, hanya untuk melanjutkan perbuatanmu yang tidak tahu malu. Tak perlu kau tahu aku siapa, hanya yang jelas, akulah yang akan mengantar nyawa kelabangmu terbang ke neraka."

Tentu saja Ciok Lee Kim menjadi marah bukan kepalang mendengar ucapan yang sangat memandang rendah dan menghina ini. Kedua matanya melotot, mulutnya mengeluarkan teriakan yang merupakan lengking tinggi nyaring dan tahu-tahu tubuhnya sudah mencelat ke depan, seperti seekor burung terbang saja dan bayangan tubuhnya yang berkelebat itu didahului oleh sinar merah dari kanan kiri, yaitu gerakan sapu tangannya yang di dalam tangannya dapat berubah lemas atau kaku menurut penyaluran tenaganya.

Kini ujung sapu tangan merah yang kiri menotok ke arah ubun-ubun kepala In Hong, ada pun yang kanan menotok ke arah buah dada kiri. Serangan maut yang amat berbahaya dan Kwi Beng yang menyaksikan ini, menjadi terkejut bukan main dan mengkhawatirkan nasib dara yang agaknya hendak menolongnya itu.

Gerakan Ciok Lee Kim memang hebat sekali. Wanita ini mendapat julukan Si Kelabang Terbang, mungkin dijuluki kelabang karena jahatnya sehingga pantas menjadi kelabang yang beracun, dan gerakannya memang amat cepat, ginkang-nya amat tinggi seolah-olah dia pandai terbang. Karena itu serangan yang ditujukan kepada In Hong dalam keadaan marah itu pun hebat bukan main, cepat laksana kilat menyambar.

Akan tetapi, In Hong yang memiliki tingkat kepandaian jauh lebih tinggi dari pada Ciok Lee Kim, hanya berdiri dengan tenang dan menunggu datangnya serangan lawan itu seperti seorang dewasa memandang lagak seorang kanak-kanak saja layaknya. Begitu serangan dengan dua helai sapu tangan itu tiba, In Hong menggerakkan sepasang tangannya, yang satu menyampok sapu tangan yang menotok ubun-ubun kepala, sedangkan tangan yang ke dua menangkis sapu tangan yang menotok dada, terus dilanjutkan dengan dorongan tangannya dengan pengerahan tenaga sakti.

"Desss...! Brukkkk!"

Tubuh Ciok Lee Kim terbanting ke atas tanah. Wajah nenek itu menjadi luar biasa sekali, kaget, heran, tak percaya, dan juga kesakitan karena pantatnya yang tepos (tipis) itu telah terbanting keras ke atas tanah sehingga ujung bawah tulang pinggulnya terasa bagaikan remuk!

Akan tetapi semua perasaan ini dilebur menjadi satu, menjadi perasaan kemarahan yang meluap-luap. Dia melupakan rasa nyeri pada pantatnya dan sudah meloncat lagi dengan amat cepat, terus dia menerjang kalang kabut dengan mengerahkan seluruh tenaga dan kecepatannya, mengeluarkan semua jurus-jurus simpanannya yang paling ampuh.

Amat indah tampaknya karena bayangan nenek ini lenyap, yang nampak hanya bayangan sapu tangannya yang seperti dua ekor kupu-kupu merah beterbangan cepat mengelilingi tubuh In Hong yang masih berdiri tegak dan hanya kadang-kadang saja kedua tangannya bergerak menangkis.

Kwi Beng menonton sambil melongo. Dia melihat seolah-olah In Hong merupakan seorang dewi yang sedang menari-nari. Tarian menangkap sepasang kupu-kupu agaknya!

Padahal nenek itu sudah melakukan penyerangan yang amat dahsyat dan mati-matian, akan tetapi anehnya, dara itu hanya bergerak sedikit saja, kedua kakinya bahkan jarang melangkah, hanya kedua lengannya saja bergerak-gerak seperti orang menari dan semua serangan tidak ada yang mengenai sasaran.

"Nenek menjemukan, mampuslah!" tiba-tiba gadis itu berseru nyaring.

Tiba-tiba nampak sinar yang amat menyilaukan mata, sinar emas yang entah dari mana datangnya tahu-tahu telah berada di tangan dara itu dan sekali sinar emas itu berkelebat, nampak darah memancar kemudian tubuh nenek itu roboh, lehernya hampir putus terkena sambaran sebatang pedang yang dengan cepat sekali sudah lenyap menjadi sabuk dara itu!

Dengan langkah ringan In Hong menghampiri Kwi Beng, menotoknya hingga seketika Kwi Beng terbebas dari totokan. Kwi Beng segera bangkit dan memandang mayat Ciok Lee Kim dengan mata terbelalak, kemudian dia memandang gadis itu dengan mata kagum. Bukan main cantiknya dara ini, cantik jelita dan gagah perkasa, belum pernah dia melihat seorang gadis seperti ini! Cepat Kwi Beng maju dan menjura dengan hormat kepada In Hong.

"Saya Souw Kwi Beng menghaturkan rasa terima kasih atas budi pertolongan lihiap yang gagah perkasa. Kalau saja tidak ada pertolongan lihiap, tentu saat ini saya telah menjadi mayat."

In Hong balas memandang lantas tersenyum. "Belum tentu iblis ini akan membunuhmu. Betapa pun juga, kau seorang laki-laki jantan dan siapa pun tentu akan menentang iblis tak tahu malu ini!"

Dengan gemas In Hong menggunakan kakinya menendang mayat Ciok Lee Kim sehingga diam-diam Kwi Beng bergidik, merasa betapa dara cantik jelita yang seperti dewi ini amat ganas terhadap musuh! Akan tetapi, rasa kagumnya mengusir kengerian ini dan dia pun memandang dengan rasa kagum yang tak disembunyikannya. In Hong yang menangkap pandangan mata itu menjadi agak merah kedua pipinya sehingga tentu saja menambah kejelitaannya.

"Lihiap sungguh memiliki kepandaian laksana Dewi Kwan Im! Dia ini adalah Hui-giakang Ciok Lee Kim, orang keempat dari Lima Bayangan Dewa. Kepandaiannya amat dahsyat, akan tetapi lihiap dapat membunuhnya hanya dalam waktu singkat saja, bahkan bila saya tak salah lihat, lihiap hanya satu kali saja mempergunakan pedang! Bukan main! Sungguh kepandaian lihiap seperti dewi..."

"Sudah, saudara Souw, urusan ini tidak perlu dibicarakan lagi dan harap kau lupakan saja semua ini." Berkata demikian, In Hong membalikkan tubuhnya dan hendak pergi dari situ.

"Nanti dulu, lihiap! Betapa mungkin saya melupakan... peristiwa ini, melupakan lihiap yang sudah melepas budi pertolongan kepada saya? Harap lihiap sudi memperkenalkan diri."

In Hong mengerutkan alisnya. Pemuda ini tampan dan gagah sekali, akan tetapi mengapa begitu bertemu lantas menaruh perhatian dan kekaguman yang demikian berlebihan? Dia segera teringat kepada Bun Houw maka dia lalu menjawab singkat,

"Namaku Hong, dan pertemuan kita sampai di sini saja. Selamat berpisah."

"Hong-lihiap... harap jangan pergi dulu...! Saya... kalau boleh saya ingin berkenalan lebih erat denganmu, karena... saya kagum sekali dan saya ingin memperkenalkan Hong-lihiap kepada adikku, kepada teman-teman di sana. Lihiap, percayalah, saya tidak mempunyai niat yang buruk, melainkan hanya terdorong oleh kekaguman hati dan mudah-mudahan saja saya akan berkesempatan untuk membalas budi kebaikan lihiap..."

"Cukup!" Tiba-tiba In Hong berkata agak keras dan dengan wajah dingin. "Saudara Souw Kwi Beng terlalu membesar-besarkan urusan kecil ini. Sudah, aku mau pergi!"

"Nona Hong...!" Kwi Beng memanggil.

Pada saat itu, muncul Tio Sun yang dari jauh sudah berteriak girang melihat Kwi Beng. Melihat munculnya Tio Sun, In Hong lalu berkelebat dan sekali bergerak saja dia sudah lenyap dari hadapan Kwi Beng yang menjadi kebingungan, mencari-cari dengan pandang matanya namun tetap saja tidak nampak bayangan nona yang amat lihai itu. Dia merasa menyesal dan kecewa sekali, merasa kehilangan sesuatu yang amat berharga sehingga berulang-ulang dia menarik napas panjang.

"Aihhhh, kau berhasil membunuh dia? Hebat sekali, Beng-te, hebat sekali kau!" Tio Sun berteriak girang pada saat melihat mayat Ciok Lee Kim yang menggeletak di situ dengan leher hampir putus.

Kembali Kwi Beng menarik napas panjang dan sekarang dia malah duduk di atas rumput, termenung seperti orang kehilangan semangat.

"Ehh, apa yang terjadi, adik Beng? Kau kenapakah?"

Kwi Beng mengangkat muka memandang sahabatnya itu. "Hampir saja aku mati di sini, Tio-twako. Kalau tidak ada dewi yang menolongku, tentu aku sudah mati oleh iblis betina itu." Dia menuding ke arah mayat Ciok Lee Kim.

"Hehh? Jadi bukan kau yang membunuhnya? Dewi? Dewi siapa?"

"Dewi Maut agaknya..." Kwi Beng berkata karena masih ngeri membayangkan kehebatan nona cantik tadi.

"Harap jangan main-main, Beng-te. Siapakah yang telah membunuh iblis ini?"

"Aku sendiri tidak mengenalnya dengan baik. Pada waktu aku terancam maut dan sudah tidak berdaya, tiba-tiba saja muncul seorang gadis cantik jelita yang lihai bukan main. Dia mempermainkan Si Kelabang Terbang seperti mempermainkan anak kecil saja, kemudian sekali dia mencabut pedang dan hanya satu kali pedangnya bergerak dan... mampuslah iblis itu. Kemudian dia pergi..." Kembali pemuda ini termangu-mangu.

"Siapa dia? Siapa gadis yang amat lihai itu?"

Kwi Beng menggeleng kepala. "Aku tidak berhasil menahannya. Setelah membunuh iblis itu, dia lalu pergi, hanya meninggalkan namanya, yaitu Hong."

"Hong begitu saja?"

Kwi Beng mengangguk dan termenung lagi.

"Kita harus bersyukur bahwa engkau selamat dan iblis betina ini sudah tewas, adik Kwi Beng. Akan tetapi di mana adik Eng? Aku sedang mencarinya, dan tadi pun terpisah saat aku melawan Bu Sit."

Mendengar ini, seketika timbul semangat Kwi Beng. Dia amat mencinta adiknya, maka mendengar bahwa adiknya lenyap, seketika dia lupa akan urusannya sendiri, lupa akan kerinduannya terhadap dara penolongnya yang seperti dewi tadi. Dia meloncat berdiri dan berseru, "Celaka! Kita harus mencarinya, twako!"

Akan tetapi Tio Sun tidak menjawab dan pemuda ini berdiri seperti patung, mukanya agak pucat, memandang ke depan. Kwi Beng cepat memandang pula dan wajahnya menjadi berseri gembira ketika melihat bahwa yang dipandang itu adalah Bun Houw yang datang berjalan cepat sambil memondong Kwi Eng!

Tio Sun merasa betapa ada sesuatu yang menusuk ulu hatinya. Melihat Kwi Eng di dalam pondongan Bun Houw, dan gadis itu merangkulkan kedua lengan ke leher pemuda itu dan menyandarkan muka di dadanya. Begitu mesra! Hanya inilah yang tampak dan teringat oleh Tio Sun, yang membuat rongga dadanya terasa sesak dan hatinya terasa panas!

Akan tetapi Kwi Beng melihat hal lain. Cepat dia menyongsong dan berteriak, "Eng-moi, kau terluka...?"

Kwi Eng melepaskan rangkulan kedua lengannya dari leher Bun Houw dan mengangkat muka. Kedua pipinya merah sekali, matanya bersinar, wajahnya berseri-seri dan bibirnya tersenyum. "Hanya tulang kaki kiriku... patah..."

"Tulang kakimu patah?" Kwi Beng bertanya penuh kekhawatiran, akan tetapi juga penuh keheranan. Tulang kakinya patah kenapa masih bisa tersenyum-senyum dan berseri-seri wajahnya?

Melihat Kwi Beng dan Tio Sun, Bun Houw menjadi malu dan cepat dia menyerahkan Kwi Eng kepada kakak kembarnya. Kwi Beng cepat memondong adiknya yang masih berseri dan bercerita kepadanya.

"Hampir saja aku celaka oleh si laknat muka monyet itu, untung datang Houw-koko yang berhasil membunuhnya..."

"Ahh, Hui-giakang juga sudah tewas? Sungguh sayang sekali...," tiba-tiba Bun Houw yang melihat mayat wanita itu berseru.

"Sayang?" Tio Sun bertanya heran. "Mengapa sayang?"

"Tio-twako, aku terpaksa merobohkan Toat-beng-kauw tanpa dapat menanyainya terlebih dahulu dan sekarang tahu-tahu Hui-giakang juga sudah mati. Padahal aku membutuhkan keterangan mereka mengenai Siang-bhok-kiam... akan tetapi, masih ada Liok-te Sin-mo. Tentu suheng dan enci berhasil membekuknya. Mari kita ke sana!"

"Beng-koko, siapa yang membunuh iblis betina itu? Engkau ataukah Tio-twako?" tanya Kwi Eng yang kini dipondong oleh kakaknya sendiri.

"Bukan aku bukan pula Tio-twako, melainkan seorang dewi."

"Ehh? Dewi? Dewi siapakah?"

"Seorang gadis yang amat lihai, dan jika tidak ada dia yang menolongku, tentu kakakmu ini sudah menjadi mayat."

"Ihhhh...! Seperti keadaanku, kalau tidak ada Houw-koko..."

Mendengar percakapan itu, Bun Houw bertanya, "Adik Kwi Beng, siapakah gadis yang menolongmu dan membunuh Hui-giakang itu?" Sebetulnya dia sudah dapat menduganya, akan tetapi dia mendesak untuk merasa yakin.

"Dia seorang yang aneh sekali, sesudah membunuh iblis itu langsung pergi dan hanya meninggalkan namanya, yaitu Hong."

"Aihh, dia... ya, tentu saja, siapa lagi..." Bun Houw menggumam.

Kwi Eng mengerutkan alisnya. "Houw-koko, apakah yang kau panggil nona Hong tadi?"

Bun Houw mengangguk. "Dia seorang pendekar wanita yang amat lihai akan tetapi penuh rahasia, tidak mau mengenal orang."

Berkata demikian, Bun Houw meraba hiasan rambut burung hong yang berada di saku bajunya sebelah dalam. Betul-betul seorang nona yang amat aneh, dan lihai, dan ganas, dan... benarkah sekejam itu membunuh gadis she Ma karena cemburu?

Mereka tiba di Ngo-sian-chung dan ternyata pertempuran sudah berhenti. Banyak anak buah Ngo-sian-chung yang malang melintang, ada yang tewas dan banyak yang terluka, selebihnya melarikan diri. Liok-te Sin-mo Gu Lo It, Bouw Thaisu, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, juga berhasil melarikan diri.

"Enci Keng...!" Bun Houw lari menghampiri kakaknya dan memberi hormat.

"Bun Houw...!" Giok Keng merangkul dan memeluk adiknya.

Ada pun Yap Kun Liong yang duduk di tempat yang agak jauh sambil termenung karena sejak tadi Giok Keng sama sekali tidak mau memandangnya, apa lagi bicara dengannya, kini dihampiri oleh Tio Sun dan Kwi Beng yang memondong Kwi Eng. Mereka bertiga tak mau mengganggu pertemuan kakak dan adik yang penuh kemesraan itu, dan mendengar bahwa pendekar yang datang membantu itu adalah Yap Kun Liong, yang mereka bertiga sudah lama dengar dari orang tua masing-masing dan yang mereka kagumi, kini mereka menghampiri pendekar itu. Kun Liong menerima kedatangan tiga orang muda itu sambil tersenyum tenang.

"Apakah kami berhadapan dengan Yap Kun Liong taihiap yang mulia?" Tio Sun bertanya penuh hormat. Juga Kwi Beng menurunkan adiknya dan mereka berdua memberi hormat.

Kun Liong menggerak-gerakkan tangannya. "Harap kalian bertiga jangan terlalu sungkan. Agaknya kalian orang-orang muda adalah sahabat-sahabat sute Bun Houw, dan melihat gerakanmu tadi, apakah hubunganmu dengan Tio Hok Gwan locianpwe?"

Tio Sun semakin kagum. Tadi dia berkesempatan untuk mengamuk bersama pendekar ini dan kakak perempuan Bun Houw, dan agaknya dalam gerakan-gerakannya pendekar ini sudah mengenal ilmu ayahnya!

"Memang sudah lama ayah menceritakan saya tentang taihiap, maka sungguh gembira hari ini saya dapat bertemu dengan Yap-taihiap."

"Aih, jadi engkau adalah putera Tio-lo-enghiong?" Kun Liong berseru girang, kemudian dia memandang Kwi Beng dan Kwi Eng.

Alisnya agak berkerut melihat warna mata dan rambut kedua orang kakak beradik yang wajahnya sama-sama tampan dan cantik itu, yang menunjukkan bahwa dua orang muda ini adalah peranakan-peranakan barat.

"Dan siapakah kalian berdua?"

"Ayah dan ibu mengenal paman dengan baik sekali!" Kwi Eng yang lebih lincah dan berani itu telah berseru sambil memegangi lengan kakaknya karena dia tak berani menggunakan kakinya yang masih belum sembuh. "Ayah dan ibu adalah sahabat-sahabat dari paman Yap Kun Liong yang gagah perkasa."

Kun Liong menjadi kaget dan juga bingung. "Siapa? Siapakah ayah bundamu?"

Kini Kwi Beng yang menjawab, "Ayah adalah Yuan de Gama sedangkan ibu..."

"Souw Li Hwa...! Ya Tuhan...! Mereka... mereka... kukira mereka sudah tidak ada lagi..."

Kun Liong makin bingung karena dia sendiri yang dulu membujuk-bujuk kedua orang itu agar meninggalkan kapal akan tetapi mereka tidak mau, dan dengan matanya sendiri dia menyaksikan betapa Yuan de Gama dan Souw Li Hwa tenggelam bersama kapalnya.

"Ayah dan ibu tidak tewas bersama kapal itu, paman, tertolong seorang nelayan pandai dan sampai kini masih hidup. Kami berdua adalah putera-puteri mereka, kakak kembarku ini bernama Richardo de Gama atau Souw Kwi Beng dan saya bernama Maria de Gama atau Souw Kwi Eng."

Bukan main girangnya hati Kun Liong mendengar cerita ini dan dia pun melangkah maju, memegangi lengan Kwi Eng dan Kwi Beng, memandang wajah keduanya kemudian dia mengangguk-angguk. "Engkau persis ibumu, tetapi matamu persis mata ayahmu... aihh, betapa bahagia rasa hatiku mendengar bahwa mereka masih hidup..." Suara Kun Liong tergetar karena terharu.

Tiga orang muda itu lalu menengok ke arah Cia Giok Keng.

"Kami belum menghadap Cia-lihiap puteri ketua Cin-ling-pai..." kata Tio Sun.

Akan tetapi tidak perlu lagi karena kini Bun Houw yang menggandeng tangan enci-nya sudah menghampiri Kun Liong dengan air muka muram dan merah, pandang matanya marah, sedangkan Giok Keng jelas baru saja menangis sebab matanya masih merah dan kedua pipinya basah.

"Yap-suheng...!" begitu tiba di situ Bun Houw menghadapi Kun Liong dan berkata dengan suara keras dan kaku.

"Sudahlah, adikku, sudahlah...!" Giok Keng memegang tangan adiknya sambil berusaha mencegah.

Akan tetapi agaknya Bun Houw tidak mampu mengendalikan kemarahannya lagi. Tadi dia sudah mendengar penuturan enci-nya mengenai kematian kakak iparnya, Lie Kong Tek yang membunuh diri untuk menebus ‘dosa’ enci-nya yang sebetulnya tak berdosa. Dapat dibayangkan betapa hancur hati pemuda ini ketika mendengar betapa enci-nya dituntut oleh Kun Liong dan gurunya, Kok Beng Lama, dituduh membunuh isteri suheng-nya atau puteri gurunya itu.

"Sute, engkau hendak bicara apakah?" Kun Liong bertanya, sungguh pun dia sudah dapat menduga akan kemarahan pemuda ini. Dia bertanya dengan sikap tenang.

"Yap-suheng, perbuatanmu yang langsung menjatuhkan tuduhan kepada enci Keng tanpa bukti-bukti nyata itu sungguh tak kusangka dapat dilakukan oleh seorang seperti suheng! Apakah suheng tidak menyadari bahwa kematian Lie-cihu (kakak ipar Lie) disebabkan oleh suheng, seolah-olah suheng yang membunuhnya dengan tangan suheng sendiri?"

"Houw-te, jangan... jangan bicara demikian..." Giok Keng cepat-cepat merangkul adiknya dan menangis. "Kau... kau tidak tahu..."

"Biarlah, enci!" Bun Houw berkata sambil melepaskan rangkulan enci-nya. "Aku tidak bisa mendiamkannya saja, dan jika Yap-suheng sudah berubah menjadi begitu kejam, biarlah aku tewas di tangannya pun tidak mengapa!"

"Sute, apakah maksudmu dengan kata-kata itu?" Kun Liong bertanya, memandang tajam penuh selidik, akan tetapi menekan kemarahannya mengingat bahwa Bun Houw hanyalah seorang pemuda yang masih sangat muda dan kini sedang dicengkeram oleh kedukaan dan kemarahan mendengar akan nasib yang menimpa kakak kandungnya.

"Maksudku, aku tidak akan menerima begitu saja suheng menyebabkan kematian cihu dan membuat hidup enci-ku menderita. Marilah kita selesaikan hal ini antara kita sebagai laki-laki jantan!" Bun Houw menantang dan melompat ke depan, siap untuk menghadapi suheng-nya yang selama ini amat dikaguminya.

"Sute, yang memaksaku menuntut enci-mu adalah ayah mertuaku, yaitu gurumu sendiri. Apakah kelak engkau pun akan menantang gurumu?" Kun Liong bertanya dengan suara tenang dan sikap sabar.

"Suhu tidak akan bertindak demikian kalau tidak suheng yang memberi tahu!"

Kun Liong menarik napas panjang. "Sute, peristiwa yang telah terjadi itu sungguh amat menyedihkan, terlalu menyedihkan. Bila engkau menyalahkan aku, biarlah, aku menerima salah, akan tetapi jangan harap aku akan mau melayani tantanganmu yang mentah itu..."

Kun Liong lalu membalikkan tubuhnya dan melangkah pergi dari situ.

"Yap Kun Liong! Berhenti kau...!"

Bun Houw membentak, akan tetapi Kun Liong tidak menoleh.

"Bun Houw, jangan... aihhh, jangan...! Ingat, kita masih memiliki tugas yang lebih penting. Lagi pula, Kun Liong tidak bersalah..."

"Tapi, enci...," Bun Houw bersikeras.

"Bun Houw! Kau tidak mau mentaati enci-mu?"

Melihat enci-nya marah, Bun Houw menjadi lemas, menunduk dan memegang kedua tangan enci-nya.

"Maaf, enci, aku terlalu marah dan hancur hatiku mengingat akan nasibmu."

"Kau sungguh terlalu! Kau hanya ingat akan kedukaan kita sendiri, lupa bahwa Kun Liong sudah terlebih dahulu kehilangan isterinya yang dibunuh orang secara kejam." Wanita itu menghapus air matanya, "Dan kau telah berani menghinanya!"

Bun Houw menunduk. "Maafkan, enci... maafkan..."

"Sudahlah. Aku melihat Lima Bayangan Dewa, biar pun dua orang di antara mereka telah tewas, namun yang tiga masih hidup dan malah mereka dibantu orang-orang yang begitu pandai. Hal ini tidak mungkin dapat kita hadapi sendiri saja. Sekarang aku akan kembali ke Cin-ling-pai untuk melaporkan hal ini kepada ayah."

"Baik, enci. Aku akan menyelidiki mereka."

"Akan tetapi jangan bertindak ceroboh seperti tadi, Bun Houw. Kalau saja tidak datang aku kemudian datang pula Kun Liong, tentu teman-temanmu itu akan terancam bahaya hebat."

Setelah mendengar tiga orang itu memperkenalkan diri, Giok Keng segera meninggalkan tempat itu. Sejak tadi Tio Sun, Kwi Beng dan Kwi Eng hanya terbelalak mendengarkan dan menonton saja, sama sekali tidak berani mencampuri, bahkan setelah Kun Liong dan Giok Keng pergi, mereka tidak berani bertanya-tanya kepada Bun Houw yang kini menjadi amat keruh wajahnya.

Penuturan enci-nya hanya diambil singkatnya saja, maka dia sendiri pun belum tahu betul duduknya persoalan. Akan tetapi hati siapa yang tidak akan berduka mendengar betapa suhu-nya kini berhadapan dengan keluarganya sebagai dua fihak yang bertentangan?

"Kedua adik Souw sebaiknya sekarang beristirahat. Saudara Kwi Beng, melihat tulang pergelangan kaki adikmu patah, maka harap kau suka membawa adikmu ke tempat aman dan merawatnya sampai sembuh. Setelah itu, kalian sebaiknya menanti sampai orang tua kalian pulang. Aku hendak melanjutkan penyelidikanku, mengejar Lima Bayangan Dewa yang tinggal tiga orang itu."

"Akan tetapi, aku ingin sekali membantumu, Houw-koko!" Kwi Eng berkata, suaranya agak manja dan penuh permohonan.

Bun Houw tersenyum memandang dara itu. "Terima kasih, Eng-moi. Akan tetapi, tulang kakimu itu sedikitnya dua pekan lagi baru dapat bersambung kembali, itu pun kalau terus mempergunakan obat penyambung tulang yang baik. Selain itu, fihak musuh amat lihai, mempunyai banyak teman yang berilmu tinggi. Enci-ku benar, aku tak boleh ceroboh dan sekarang aku hanya hendak menyelidiki lebih dulu. Kalau keadaan musuh terlalu kuat aku harus minta bantuan ayah ibuku."

"Aku akan menyertaimu, Houw-te."

Bun Houw memandang Tio Sun dengan girang. Kepandaian putera Ban-kin-kwi ini cukup tinggi sehingga merupakan pembantu yang sangat baik. "Terima kasih, twako. Nah, kau bawalah adikmu pergi ke tempat aman, saudara Kwi Beng. Sekarang juga kami berdua hendak berangkat. Lain hari kita pasti saling dapat berjumpa kembali."

Bun Houw dan Tio Sun segera berangkat.

"Houw-koko...!" Kwi Eng berseru memanggil.

Bun Houw berhenti, menoleh. Dara itu menangis!

"Selamat tinggal Eng-moi, sampai jumpa kembali," kata Bun Houw.

Dengan suara terisak, Kwi Eng berkata, "Kalau... kalau terlalu... lama kau tidak datang... aku akan mencarimu..."

Bun Houw hanya mengangguk, kemudian melanjutkan perjalanannya bersama Tio Sun. Dia hanya merasa kasihan kepada Kwi Eng, dan sama sekali tidak tahu betapa pemuda yang berjalan di sebelahnya itu memandang ke depan dengan pandangan mata kosong, dengan hati yang tertusuk dan semangatnya seperti tertinggal bersama Kwi Eng, dara yang telah menjatuhkan hatinya itu…..

********************

Pria itu berjalan di dalam hutan sambil menundukkan mukanya. Wajahnya yang tampan dan gagah terlihat keruh dan muram, pandang matanya sayu diliputi kedukaan mendalam. Yap Kun Liong, pria itu, merasa seakan-akan semangatnya melayang-layang, tubuhnya kosong dan pikirannya membayangkan semua hal yang lalu dalam hidupnya.

Sejak kecil hidupnya seolah-olah merupakan sebuah perahu kecil yang selalu dihantam dan dilanda ombak kehidupan yang membadai, yang terus mengombang-ambingkannya, kadang-kadang hampir menenggelamkannya. Selama ini dia masih mampu mengatasi itu semua, walau pun perahu hidupnya pecah-pecah, koyak-koyak, akan tetapi masih belum tenggelam.

Semenjak peristiwa terakhir yang amat meremukkan hatinya, yaitu kematian isterinya dan disusul peristiwa di Cin-ling-pai di mana Giok Keng juga harus kehilangan suaminya yang membunuh diri, dia menjadi seorang pelamun dan pendiam. Hidupnya telah berubah sama sekali dan di dalam perjalanannya mencari anaknya, Yap Mei Lan, dia lebih banyak duduk melamun di tempat-tempat sunyi, di mana tak ada seorang pun manusia lain mengganggu lamunannya.

Kita manusia tidak menyadari bahwa hidup pasti merupakan medan pertentangan antara susah dan senang, lebih banyak dukanya dari pada sukanya, lebih banyak kecewanya dari pada puasnya, karena tanpa kita sadari sendiri, kita memang telah mengikatkan diri dengan lingkaran setan yang berupa sebab akibat dan im-yang (atau dwi unsur), yang dapat juga disebut kebalikan-kebalikan. Kita selalu menghendaki yang satu tapi menolak yang lain, kita selalu mengejar kesenangan namun menghindari kesusahan, mencari-cari kepuasan menolak kekecewaan dan sebagainya.

Padahal, suka duka, senang susah, puas kecewa tidaklah pernah terpisah-pisah, seperti sebuah tangan yang memiliki dua permukaan, yaitu telapak tangan dan punggung tangan. Mencari yang satu sudah pasti akan bertemu dengan yang lain.

Sudah menjadi kebiasaan kita semenjak kecil, menjadi suatu hal yang kita terima sebagai sudah semestinya dan seharusnya, yaitu bahwa di dalam segala gerak perbuatan kita, selalu didasari atas pamrih demi kepentingan, kepuasan, kesenangan diri pribadi. Setiap perbuatan yang didasari pamrih seperti itu adalah palsu, hanyalah suatu alat belaka untuk mencapai keinginan kita, dan perbuatan seperti itu, betapa pun baik kelihatannya, sudah pasti menimbulkan konflik, pertentangan lahir dan batin.

Mari kita tengok diri sendiri, mari kita perhatikan diri kita sendiri, bukan orang lain. Kita lihat saja segala gerak tubuh, gerak pikiran, dan gerak mulut atau kata-kata kita. Tidakkah semuanya itu mengandung kepalsuan belaka? Sikap kita bersopan-santun kepada tamu misalnya, kalau kita mau memandang diri sendiri secara bebas, kita akan melihat bahwa kesopanan kita itu bukan timbul dari kasih atau keakraban, melainkan merupakan bentuk penjilatan karena tamu itu lebih tinggi atau lebih kaya atau lebih pintar, atau pun bentuk perendahan diri karena takut, dan sebagainya. Kalau kita melakukan sesuatu demi orang lain sekali pun, di situ tersembunyi pamrih, agar kita dipuja, agar kita menjadi orang baik, agar kita kelak menerima balas jasa.

Tidak dapatkah kita hidup dengan wajar, apa adanya, tanpa segala kepalsuan ini? Tidak dapatkah kita melakukan segala macam gerak tanpa dasar kepentingan diri pribadi? Hal ini hanya mungkin apa bila terdapat CINTA KASIH di dalam diri kita! Dengan cinta kasih, segala apa pun yang kita lakukan, yang kita pikirkan, yang kita ucapkan, adalah BENAR, karena CINTA KASIH adalah KEBENARAN. Tanpa cinta kasih, matahari akan kehilangan cahayanya, tumbuh-tumbuhan akan kehilangan warnanya, bunga-bunga akan kehilangan harumnya, dunia akan kehilangan keindahannya. Dengan adanya cinta kasih, kita tidak membutuhkan lagi kebahagiaan karena CINTA KASIH adalah KEBAHAGIAAN!

Namun sayang! Yang kita miliki bukanlah cinta kasih yang murni, yang suci, yang sejati, yang tidak ada kebalikannya, melainkan kita hanya mengenal cinta terhadap seseorang atau sesuatu benda hidup atau benda mati, suatu yang abstrak dan yang kita puja-puja. Cinta kasih macam ini sesungguhnya bukanlah cinta kasih, melainkan hanya alat untuk menyenangkan diri pribadi, hanya untuk mencari kepuasan seksuil, kepuasan lahirlah, kepuasan hiburan, atau juga kepuasan batiniah yang sesungguhnya hanyalah merupakan harapan-harapan untuk masa depan belaka!

Tentu saja cinta kasih macam ini, yang sebetulnya bukan cinta kasih namun nafsu-nafsu keinginan untuk kesenangan diri pribadi belaka, cinta kasih macam ini mengandung dwi unsur, yaitu senang dan susah, puas dan kecewa, dan karenanya selalu mendatangkan pertentangan yang tiada habis-habisnya. Sebab dan akibat adalah suatu lingkaran setan yang tiada putus-putusnya, akibat dapat menjadi suatu sebab untuk akibat berikutnya, dan si sebab itu pun dapat menjadi akibat dari sebab sebelumnya.

Celakalah kita bila mengikatkan diri dan terjebak dalam lingkaran setan ini. Sebab akibat berada di dalam tangan kita sendiri! Kitalah yang menentukan apakah sebab akibat itu akan berlarut-larut ataukah akan habis sampai di situ saja! Apa bila kita menghadapi setiap peristiwa di dalam hidup kita dan menyelesaikannya setiap saat, setiap detik peristiwa itu timbul, dan mau menghabiskannya sampai di situ saja, tanpa mengingat yang lalu dan tanpa membayangkan masa depan, maka sebab akibat sebagai rantai akan pecah berantakan dan lenyap!

Marilah kita belajar untuk mengenal diri sendiri, setiap saat, dengan memandang penuh kewaspadaan serta kesadaran terhadap diri sendiri, setiap saat pula, dengan perhatian sepenuhnya tercurah pada tiap gerak perbuatan, kata-kata dan pikiran kita sendiri tanpa campur tangan.

Dengan perhatian setiap waktu, perhatian sepenuhnya, yang timbul dari pengertian yang mendalam, maka pandangan mata kita akan menembus sampai sedalamnya, pengertian kita akan bangkit dan kita pun akan terbebas dari segala ikatan karena kita mengerti bagaimana bahayanya ikatan-ikatan itu, dan kebebasan diri dari segala ikatan akan memungkinkan kita mengenal apa artinya CINTA KASIH tadi.

Bukan cinta kasih terhadap sesuatu, atau terhadap semua, yang ada hanya cinta kasih saja. Cinta kepada seseorang, kepada semua orang, terhadap alam, kemesraan, semua itu tidak terpisah-pisah dan sudah tercakup di dalamnya.


Kun Liong, seorang pendekar sakti yang sudah banyak menerima gemblengan hidup, biar pun dia berilmu tinggi dan berjiwa pendekar, namun dia belum sadar akan hal ini. Oleh karena itu, betapa pun gagah perkasanya dia, tetap saja dia terseret dan terjebak dalam lingkaran setan sebab akibat itu sehingga hidupnya menjadi permainan suka duka yang sesungguhnya hanyalah merupakan penonjolan si aku yang dikecewakan atau sebaliknya aku yang dipuaskan! Kalau saja dia mau mengenal diri pribadi setiap saat, maka segala ilmu di dunia ini sudah berada di dalam diri!

Kun Liong terbenam di dalam kedukaan karena dia mengingat akan sikap Giok Keng dan Bun Houw. Dua orang sumoi dan sute-nya itu, putera-puteri ketua Cin-ling-pai yang boleh dibilang juga gurunya, jelas amat membencinya! Dan dia tidak bisa menyalahkan mereka.

Dia tidak mungkin dapat menyalahkan Bun Houw yang menghinanya, karena dia dapat membayangkan betapa hancur dan sakit rasa hati pemuda itu mendengar bahwa kakak iparnya sampai membunuh diri karena enci-nya didakwa membunuh orang. Padahal dia sendiri kini merasa yakin bahwa bukan Giok Keng yang membunuh isterinya.

Sejak peristiwa itu terjadi, dia memang sudah tidak percaya kalau Giok Keng membunuh isterinya! Dia mengenal benar wanita ini, seorang wanita yang biar pun keras hati, namun gagah perkasa dan tak mungkin mau melakukan perbuatan yang rendah, keji dan curang. Apa lagi membunuh isterinya dalam keadaan pingsan. Tidak mungkin dilakukan oleh Cia Giok Keng!

Akan tetapi ayah mertuanya tidak dapat menahan kemarahan dan telah memaksa Giok Keng, juga menuntut kepada ketua Cin-ling-pai sehingga terjadi peristiwa yang demikian menyedihkan, yaitu suami Giok Keng membunuh diri untuk menebus ‘dosa’ isterinya.....!


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner