DEWI MAUT : JILID-31


Akan tetapi, dia pun tidak dapat menyalahkan mertuanya yang kemudian bahkan menjadi terguncang batinnya dan berubah ingatannya oleh peristiwa-peristiwa itu! Ahh, semua itu terjadi karena aku, pikirnya sedih. Karena diriku yang sial dan selalu mendatangkan mala petaka bagi orang lain, sejak dahulu!

Mula-mula, pada waktu dia masih kecil, dia telah mendatangkan mala petaka bagi ayah bundanya sendiri. Kemudian, saat dia berusia muda, hubungannya dengan banyak orang terutama dengan beberapa dara cantik, dia pun hanya mendatangkan mala petaka bagi mereka. Teringat akan semua ini, Kun Liong menutupi mukanya dengan kedua tangan dan dia duduk seperti patung dalam keadaan demikian sampai lama sekali.

Dia sudah kehilangan segala-galanya dalam hidupnya. Dia kehilangan isteri yang dibunuh orang, sekaligus juga kehilangan anak kandungnya yang lari entah ke mana, kemudian dia kehilangan mertuanya yang menjadi gila, dan sekarang kehilangan hubungan dengan Cin-ling-pai sekeluarga.

Pada saat dia menutupi mukanya, terbayanglah wajah Giok Keng yang kurus pucat, dan perasaan iba memenuhi hatinya. Aihhh, dia menjadi sumber segala kesengsaraan hidup orang-orang lain. Kalau memang demikian, apa pula artinya hidup baginya? Tiba-tiba dia menurunkan kedua tangannya dan mengepal tinju. Kalau dia mati, agaknya dunia ini akan lebih tenteram! Perlu apa dia hidup?

"Perlu mencari pembunuh isteriku!" demikian dia tiba-tiba membentak, seperti menjawab pertanyaan hatinya sendiri, "Aku harus dapat mencari pembunuh isteriku, dan harus dapat menemukan kembali Mei Lan anakku!"

Dengan tekad yang mendadak muncul seperti sinar-sinar terang yang menerangi ruang hatinya yang gelap pekat tadi, Kun Liong meloncat dan berlari secepatnya seperti terbang atau seperti sudah miring otaknya! Akan tetapi, baru saja dia tiba di tepi hutan, Kun Liong cepat meloncat jauh tinggi ke atas dan tubuhnya lenyap di dalam daun-daun yang lebat dari pohon yang amat tinggi itu.

Dia melihat berkelebatnya orang dari jauh dan ketika bayangan itu tiba dekat, dia terkejut sekali karena mengenal bayangan itu yang bukan lain adalah Cia Giok Keng! Seperti juga dia, wanita itu berjalan seperti orang yang kehilangan semangat, sungguh pun Giok Keng mempunyai tujuan tertentu dalam perjalanannya, yaitu dia hendak kembali ke Cin-ling-san untuk melaporkan kepada ayahnya tentang kematian dua Bayangan Dewa dan tentang bantuan orang-orang pandai yang agaknya bergabung dengan mereka.

Begitu melihat Giok Keng, semakin mendalam rasa iba hati yang melanda perasaan Kun Liong. Wanita ini menjadi sengsara hidupnya karena dia! Tanpa disadarinya, seperti di dalam mimpi, Kun Liong lalu bergerak dan membayangi Giok Keng dari jauh agar jangan sampai wanita itu melihatnya.

Mereka sudah meninggalkan hutan, dan tiba-tiba terdengar teriakan dari arah kiri, "Nona Giok Keng...!"

Giok Keng terkejut sekali. Siapakah yang menyebutnya nona dan mengenal namanya? Dia berhenti dan menanti datangnya orang yang berlari-lari itu dan setelah dekat, ternyata orang itu adalah seorang tua yang menjadi pelayan ayahnya.

Pantas saja orang itu menyebutnya ‘nona’ sungguh pun dia sudah menikah dan sudah mempunyai anak. Sejak dia kecil memang A-kiong ini sudah menjadi pelayan ayahnya. Begitu tiba di depan Giok Keng, A-kiong lalu menjatuhkan dirinya berlutut dan menangis!

"Ehh, A-kiong... apakah yang telah terjadi?" tanya Giok Keng, wajahnya yang sudah layu itu menjadi makin pucat.

"Celaka, nona... celaka sekali..."

"Tenanglah dan jangan menangis!" Giok Keng menghardik dan A-kiong cepat menyusuti air matanya. "Sekarang ceritakan yang jelas!"

"Saya disuruh oleh taihiap untuk pergi menyusul Lie-kongcu ke Sin-yang..." A-kiong mulai bercerita dan dia selalu menyebut Cia Keng Hong dengan sebutan ‘taihiap’. "Lie-kongcu puteramu itu dibawa oleh Hong Khi Hoatsu ke Sin-yang dan saya disuruh menyusul untuk membantu dan melayani di sana."

Giok Keng mengangguk. Dia tidak merasa heran karena memang sudah sepatutnya kalau guru suaminya itu membawa Lie Seng ke Sin-yang, selain untuk menghibur hati orang tua itu, juga tentu orang tua itu hendak mendidik Lie Seng.

"Saya sudah sampai di Sin-yang... akan tetapi... ahh, celaka sekali, nona...!" Kembali dia menangis dan tidak dapat melanjutkan ceritanya.

"Diam! Hayo ceritakan! Kau seperti anak kecil saja, A-kiong!" bentak Giok Keng marah. Sudah kambuh kembali kekerasan hati wanita ini melihat sikap lemah dari pelayannya.

"Setibanya di situ saya mendengar dari para tetangga... bahwa... bahwa... semua pelayan rumah dari nona, dan Hong Khi Hoatsu... mereka semua sudah... sudah dibunuh orang, sedangkan Lie-kongcu telah diculik oleh pembunuh-pembunuh itu..."

Terdengar jerit melengking tinggi sehingga A-kiong langsung terguling karena tidak kuat mendengar pekik yang menggetarkan seluruh isi dadanya itu.

"Am... pun... nona...," ratapnya sambil berlutut.

Giok Keng menutupi mukanya, berdiri menunduk, kemudian terdengar kata-katanya yang tergetar hebat, "Kau pulanglah... pergilah ke Cin-ling-pai... ceritakan semua kepada ayah ibu...!" Setelah berkata demikian, kembali terdengar lengking tinggi seperti jerit kesakitan seekor burung hong dan tubuh Giok Keng sudah berkelebat lenyap dari hadapan A-kiong yang masih berlutut dan menangis sesenggukan seperti anak kecil.

A-kiong mengangkat muka memandang ke kanan dan kiri, kemudian bangkit berdiri dan berjalan tersaruk-saruk menuju ke Cin-ling-san. Dalam waktu beberapa hari saja orang tua yang usianya sudah lima puluh tahun lebih ini menjadi makin tua tampaknya.

Giok Keng lari memasuki hutan. Dia tadi menahan-nahan hatinya di depan A-kiong, dan sekarang setelah dia memasuki hutan yang sunyi, dia lalu menjatuhkan diri di atas rumput dan seperti anak kecil dia menangis mengguguk sambil menutupi mukanya, memanggil-manggil nama suaminya dan Lie Seng, kemudian menangis lagi, air matanya bercucuran dan diusapinya dengan lengan baju.

Di balik sebatang pohon besar, Kun Liong berdiri dengan muka pucat dan beberapa butir air mata mengalir turun dari kedua matanya, dibiarkannya saja menuruni kedua pipinya. Dia sudah mendengar semua dan dia makin merasa kasihan kepada wanita ini.

Betapa hebat penderitaan batin Giok Keng. Suaminya membunuh diri di depan matanya, dan kini guru suaminya yang seperti ayah mertua sendiri mati terbunuh orang, anaknya diculik pula. Betapa hampir sama penderitaan wanita itu dengan penderitaannya sendiri. Isterinya juga mati, anaknya juga hilang dan ayah mertuanya gila!

Seperti disayat pisau rasa hati Kun Liong melihat Giok Keng menangis bergulingan di atas rumput seperti anak kecil, kemudian dia merintih perlahan melihat tubuh Giok Keng tidak bergerak lagi dan dia tahu bahwa wanita itu roboh pingsan saking sedihnya.

"Aduhh... kasihan sekali kau, Giok Keng..."

Kun Liong menghampiri tubuh wanita itu dan cepat menolongnya, memondong tubuhnya kemudian merebahkannya pada tempat yang kering. Pakaian wanita itu basah dan kotor, rambutnya kusut dan mukanya pucat sekali.

Dia memeriksa nadinya sebentar dan maklum bahwa kalau dia menyadarkan wanita ini begitu saja, hal itu amat tidak baik bagi jantungnya. Wanita ini mengalami tekanan batin yang sangat hebat dan tangis tadi, juga pingsannya ini malah merupakan peringan yang baik. Karena itu dia hanya merapikan pakaian Giok Keng, merebahkannya terlentang dan mengurut punggung serta tengkuknya sampai pernapasan wanita itu menjadi teratur dan rata seperti orang sedang tidur, kemudian dia duduk menjaganya.

Melihat wanita ini rebah terlentang di hadapannya, memandangi wajah yang cantik dan mengandung sinar kegagahan itu, Kun Liong menarik napas panjang dan teringatlah dia akan peristiwa pada waktu dahulu, belasan tahun yang lalu.

Dahulu, ayah bunda gadis ini mempunyai niat untuk menjodohkan Giok Keng dengan dia. Akan tetapi entah bagaimana, semenjak bertemu sudah terjadi keributan antara dia dan Giok Keng yang galak. Dan akhirnya, Giok Keng sendiri yang minta diputuskannya tali perjodohan yang diikatkan oleh orang tuanya itu karena Giok Keng terbujuk oleh rayuan seorang pemuda sesat, yaitu Liong Bu Kong putera Kwi Eng Niocu.

Untung bahwa perjodohan antara dia dengan pemuda sesat itu belum berlangsung dan akhirnya Giok Keng maklum akan kesesatan pemuda yang menjatuhkan hatinya itu. Dan akhirnya, karena dia sendiri sudah saling jatuh cinta dengan Pek Hong Ing, maka Giok Keng lalu berjodoh dengan Lie Kong Tek.

Sekarang, melihat Giok Keng yang menggeletak dengan wajah pucat seperti mayat, yang dalam keadaan pingsan saja masih jelas membayangkan penderitaan batin yang hebat, timbul pertanyaan di hati Kun Liong. Bagaimana andai kata dahulu mereka itu menjadi suami isteri? Tentu tidak akan timbul peristiwa yang membuat mereka berdua menderita batin begitu hebat!

“Ooohhhhh... Seng-ji (anak Seng)... di mana kau...?"

Giok Keng mengeluh dan menggerakkan tubuhnya, membuka matanya. Ketika melihat Kun Liong, dia nampak terkejut sekali dan meloncat bangkit duduk, kemudian meloncat berdiri dengan mata berapi-api.

"Sumoi, aku melihat kau rebah pingsan maka..."

"Yap Kun Liong, manusia iblis! Engkau yang telah membunuh suamiku, engkau pula yang membunuh mertuaku, juga engkau yang menculik Lie Seng!" Giok Keng sudah menerjang maju dan menghantam dada Kun Liong dengan kepalan tangan kanannya.

"Dukkkk!"

Pukulan yang sangat keras itu diterima oleh Kun Liong tanpa melawan sedikit pun, tanpa mengerahkan tenaganya dan dia terjengkang roboh, lalu bangun kembali dengan muka pucat.

"Keng-moi, kalau kau menyalahkan aku... biarlah aku menerima salah..."

"Memang kau bersalah! Memang kau yang menjadi biang keladi semuanya! Memang kau yang merusak hidupku! Kau harus dlhajar!" Giok Keng menerjang lagi, mengamuk kalang kabut dan memberikan pukulan dengan pengerahan tenaga sepenuhnya.

"Dessss...!"

Kun Liong terpelanting keras oleh pukulan ini. Namun dia tidak mengeluh dan bangkit lagi.

"Bukkkk!"

Tendangan kaki Giok Keng mengenai lambungnya hingga dia terlempar jauh. Giok Keng meloncat, mengejar dan memukulinya, menamparnya, menendangnya sampai Kun Liong babak belur dan matang biru seluruh muka, leher serta tubuhnya. Akan tetapi Kun Liong sama sekali tidak mau melawan, bahkan sambil menahan rasa nyeri dia bangkit lagi dan berdiri.

"Kau bunuhlah aku, Giok Keng... dan… dan aku tidak akan melawan. Aku memang telah menghancurkan hidupmu, aku salah..."

"Pengecut! Keparat! Hayo kau lawan aku, marilah kita selesaikan dengan taruhan nyawa. Engkau atau aku yang mampus di sini!"

Melihat Giok Keng telah menghunus pedangnya yang berkilauan seperti perak, Kun Liong mengangkat dadanya. "Bagus, kau tusuklah. Biar aku sajalah yang mati untuk menebus dosaku terhadapmu, Giok Keng. Untuk apa hidup bagiku, hidup yang penuh dengan duka, derita dan dosa ini? Kau tusuklah!"

"Kun Liong, hayo kau lawan aku...!" Giok Keng menjerit.

Kun Liong menggelengkan kepala sambil tersenyum, dari ujung bibirnya mengalir sedikit darah. Mukanya matang biru oleh bekas tamparan dan pukulan Giok Keng. Melihat ini, Giok Keng menjadi semakin penasaran.

"Kau... kau tidak melawan... kau... menyerahkan nyawa?"

Kun Liong mengangguk.

"Kalau begitu kau... mampuslah...!"

Giok Keng melangkah maju, lalu mengangkat pedangnya. Kun Liong memandang dengan sikap tenang, sama sekali tidak gentar menghadapi kematian yang hanya akan membuat dia menyusul isterinya.

"Ouhhhh...!" Pedang terlepas dari tangan Giok Keng dan wanita ini terkulai lemas. Tentu dia sudah terjatuh kalau tidak cepat dipeluk oleh Kun Liong. Wanita itu pingsan lagi.

Kun Liong kembali merebahkan Giok Keng di atas rumput dan dia duduk sambil menutupi mukanya dengan kedua tangan. Dia tidak menyesal sudah diperlakukan seperti itu oleh Giok Keng, bahkan agak lega hatinya bahwa setidaknya dia telah memberi kesempatan kepada Giok Keng untuk melampiaskan rasa dendam dan sakit hatinya, sudah memberi kesempatan kepada wanita itu untuk menghukum dirinya. Dia akan menanti sampai Giok Keng sadar, dan kalau wanita itu hendak melanjutkan membunuhnya, dia akan bersedia tanpa melawan!

Karena batinnya tertindih dan dia menutupi muka dengan kedua tangannya, Kun Liong tidak tahu bahwa Giok Keng sudah siuman dan membuka matanya. Wanita ini membuka matanya tanpa bersuara, kini memandang kepada Kun Liong dengan muka pucat dan mata sayu.

Melihat muka yang bengkak-bengkak dan pinggir bibir yang berdarah, teringatlah dia akan semua yang telah dilakukannya tadi. Setelah kini nafsu amarah yang membuatnya seperti buta tadi lenyap, terbukalah mata batinnya dan kini dia bisa melihat jelas betapa dia telah berbuat keterlaluan! Kini dia teringat betapa Kun Liong sudah menderita amat hebatnya, setelah kematian isterinya yang dibunuh oleh orang lain, kehilangan anak tunggalnya lagi.

Melihat Kun Liong yang sudah dihajarnya habis-habisan tanpa melawan sedikit pun juga, bahkan yang menyerahkan nyawanya itu kini duduk menjaganya dengan kedua tangan menutupi muka, tak terasa lagi kedua mata Giok Keng menjadi basah.

"Kun Liong...," dia berkata lirih, suaranya seperti orang merintih dan dia bangkit duduk.

Kun Liong terkejut, menurunkan kedua tangannya, memandang. Keduanya duduk saling berpandangan, dan dari pandang mata ini Kun Liong merasakan sesuatu yang membuat dia merasa jantungnya seperti disayat-sayat. Pandang mata Giok Keng penuh rasa iba, penuh rasa penyesalan, penuh permohonan maaf.

"Giok Keng..."

Keduanya saling berpegang tangan dan keduanya menangis sesenggukan.

"Kun Liong, kau ampunkan aku..."

"Tidak, Giok Keng, tidak... kaulah yang harus mengampunkan aku..."

Giok keng menangis, mengguguk dan menyandarkan dahi pada pundak suheng-nya itu, sedangkan Kun Liong mengusap-usap rambut kepala yang kusut itu. Hati mereka seperti diremas-remas rasanya.

"Tadi aku sudah buta... aku sudah gila akibat kemarahan dan kedukaan... Kun Liong... mengapa justru engkau... orang yang selamanya kukagumi, kupuja dalam hati... mengapa justru engkaulah yang harus terlibat dalam mala petaka yang menimpa keluargaku? Ahh, mengapa...?"

"Giok Keng, sejak semula aku sudah tidak percaya. Aku mengenal siapa engkau... kau memang keras hati, akan tetapi di balik kekerasan hatimu engkau berbudi mulia, engkau gagah perkasa dan adil. Tidak mungkin engkau memiliki kekejian membunuh Hong Ing, tapi... tapi mertuaku yang seperti gila karena duka... ahh, suamimu menjadi korban dan... dan..."

"Sudahlah, Kun Liong. Sebenarnya aku pun sudah menyadari bahwa semua peristiwa ini bukan karena kesalahan kita berdua, sungguh pun harus kuakui bahwa aku marah-marah kepada isterimu karena sikap adikmu. Aku... aku tahu betapa hebat penderitaanmu, Kun Liong, aku... aku menyesal sekali dan aku kasihan kepadamu..."

Kun Liong bangkit berdiri dan membalikkan tubuhnya, memejamkan mata. "Kau... kasihan kepadaku? Jangan! Aku sudah merusak hidupmu. Akulah yang amat kasihan kepadamu, Giok Keng, maka aku rela menebus kesalahanku dengan nyawa sekali pun."

Giok Keng juga meloncat berdiri, lari berputar menghadapi Kun Liong. Kini mereka berdiri saling pandang dengan mata basah.

"Mengapa nasib kita begini buruk, Kun Liong? Mengapa kita berdua mengalami semua ini?"

Kun Liong tak mampu menjawab, hanya memegang kedua tangan wanita itu. Jari-jemari tangan mereka saling menggenggam seakan-akan mereka hendak saling minta bantuan memikul penderitaan batin mereka. Melihat Giok Keng tersedu-sedu, air mata mengalir pula dari kedua mata Kun Liong.

Giok Keng mengangkat muka memandang wajah Kun Liong. Kedua pipinya bengkak dan mata kirinya membiru, ujung bibirnya yang pecah masih terhiaskan darah kering. Dengan tangan gemetar Giok Keng menyentuh bengkak-bengkak itu.

"Aku... ahhh, aku telah gila... kau tentu tersiksa lahir batin oleh perbuatanku tadi..."

"Jangan ulangi lagi hal itu, Giok Keng. Malah merupakan obat penawar bagiku."

"Kun Liong, aku bersumpah untuk mencari pembunuh Hong Ing sampai dapat, dan juga untuk mencari Mei Lan dan mengembalikan kepadamu."

"Dan aku pun bersumpah akan membasmi Lima Bayangan Dewa dan mencari pembunuh mertuamu sampai dapat, dan juga mencari Lie Seng untuk kukembalikan kepadamu."

Giok Keng tersedu dengan hati terharu, lalu tiba-tiba melepaskan tangannya dan berkata, "Kun Liong, sampai... sampai jumpa..." Dia lalu lari secepatnya meninggalkan tempat itu.

Kun Liong berdiri seperti patung di tempat itu, memandang sampai bayangan Giok Keng lenyap. Apa yang telah terjadi antara mereka? Dia bengong dan kedua tangannya masih tergetar, masih merasakan getaran jari-jari tangan Giok Keng tadi. Pipinya masih merasai sentuhan jari-jari tangan yang gemetar dari Giok Keng.

Apa yang telah terjadi di antara mereka? Pertanyaan ini bertubi-tubi menghantam dinding kalbunya. Kenapa dalam hatinya timbul keinginan kuat untuk menghibur Giok Keng, untuk mengembalikan Giok Keng ke dalam kehidupan bahagia, untuk menjaga, membela serta melindunginya? Mengapa dia merasa amat berkasihan kepada wanita itu, yang dia tahu mengalami kekosongan batin dan dia mengisi kekosongan itu? Mengapa pula dia seperti mengharapkan hiburan dari Giok Keng sehingga sentuhan jari-jari tangan gemetar pada pipinya itu tadi menggores dalam-dalam di hatinya?

"Apakah aku telah gila? Apakah dia telah gila?" demikian Kun Liong berbisik-bisik sambil pergi meninggalkan hutan itu.

Tidak, para pembaca yang budiman. Kun Liong tidak gila. Giok Keng pun tidak gila. Dan pengarang pun tidak gila! Memang belas kasihan adalah getaran yang mendekatkan hati kepada cinta kasih. Di mana ada belas kasihan, maka berlarianlah iblis-iblis kemarahan, kebencian, iri hati dan lain-lain sehingga memungkinkan terujudnya cinta kasih. Dan hati yang penuh dengan cinta kasih selalu ada belas kasihan. Keduanya itu tak terpisahkan….

********************

"Koko, bagaimana engkau sampai dapat terbebas dari tangan Si Kelabang Terbang yang cabul itu? Siapakah sebetulnya wanita yang menolongmu itu?" Kwi Eng bertanya kepada kakaknya. Mereka bermalam di sebuah rumah penginapan di kota Yen-an, sebab mereka belum berani pulang ke Yen-tai di mana mereka tentu dianggap sebagai pemberontak dan pelarian.

"Dia hebat sekali, Eng-moi. Seorang dewi, seorang bidadari yang cantik jelita dan gagah perkasa. Aihhhh... hebat sekali dia, adikku!"

Kwi Eng tersenyum. "Ihhh, tentu kau sudah bertekuk lutut kepadanya, kau jatuh cinta dan tergila-gila kepadanya, koko!"

Kwi Beng memandang kepada adiknya dengan mata terbelalak. "Begitukah? Ah, agaknya benar demikian. Siapa pula orangnya yang tidak jatuh cinta kepada seorang dara seperti dia? Sayang dia diliputi rahasia dan keanehan, dia tidak mau memperkenalkan diri secara jelas, hanya mengaku bernama Hong saja. Akan tetapi bagiku nama itu sudah cukup dan memang nama itu mengingatkan aku akan burung dewata itu, burung hong yang terbang melayang-layang di antara awan-awan di angkasa raya, sukar dicapai tangan..."

"Idiihhh... kalau orang jatuh cinta memang menjadi pengkhayal dan tiba-tiba saja menjadi ahli filsafat dan sajak!"

"Jangan main-main, adikku. Aku benar-benar jatuh cinta kepada Hong-moi dan aku akan mencari dia sampai dapat. Aku akan menceritakan kepada ayah dan ibu supaya mereka suka mengerahkan segala daya upaya agar bisa menemukan Hong-moi dan melamarnya menjadi calon isteriku. Amboiiiiii... alangkah akan bahagianya hidup di samping burung dewata itu..."

"Hi-hik-hik, dan engkau akan dibawanya terbang ke angkasa raya di antara gumpalan-gumpalan awan putih...," adiknya menggoda.

"Hush, jangan main-main. Aku serius. Dan kulihat kau sendiri pun tergila-gila kepada Bun Houw. Hayo kau sangkal kalau berani!"

Tiba-tiba kedua pipi yang sudah kemerahan itu menjadi semakin merah. Bukan karena godaan ini, melainkan karena dia teringat akan peristiwa asyik-masyuk dan mesra antara dia dan Bun Houw. Kwi Eng memejamkan matanya sehingga dua baris bulu matanya yang panjang lentik itu menjadi satu, membentuk bayang-bayang indah di atas pipi bawah matanya. Dia memejamkan mata dan mulutnya terenyum, mukanya terasa panas ketika dia membayangkan dan mengenangkan ciuman itu!

"Beng-koko, aku lebih baik mati saja kalau tidak bisa menjadi isterinya!"

Kwi Beng terkejut. Ternyata adiknya yang bengal ini pun serius sekali! Hatinya menjadi terharu dan dia memegang tangan adiknya. "Moi-moi, aku doakan semoga akan terkabul cita-citamu dan bisa menjadi isteri Cia Bun Houw yang gagah perkasa itu. Aku akan ikut merasa bangga kalau engkau bisa menjadi isterinya, moi-moi. Akan tetapi, seperti juga aku, apakah engkau tidak mengharap terlampau tinggi? Kita berdua hanyalah peranakan-peranakan barat. Dan aku ingin menjangkau burung hong di angkasa, sedangkan engkau menjangkau putera ketua Cin-ling-pai. Apakah kita tidak akan seperti si cebol merindukan bulan?"

Kwi Eng cemberut memandang kakaknya. "Koko, engkau telah terlalu merendahkan diri sendiri. Aku yakin bahwa Houw-koko cinta padaku."

"Ehh, bagaimana kau bisa tahu? Apakah karena dia telah menolong dan menyelamatkan engkau? Adikku yang baik, seorang pendekar seperti dia, siapa pun akan ditolongnya dan hal itu sama sekali bukanlah tanda jatuh cinta."

"Engkau seorang laki-laki, tentu tidak tahu. Akan tetapi aku yakin akan cintanya, koko." Kwi Eng tersenyum dan mengenangkan ciuman itu dengan mata bersinar-sinar.

"Begitukah? Syukurlah kalau begitu, adikku. Mudah-mudahan engkau berhasil. Andai kata aku gagal menjadi jodoh Hong-moi, akan tetapi melihat engkau bahagia, maka aku rela. Kebahagiaanmu lebih penting bagiku, adikku."

Kwi Eng memeluk kakaknya. "Tidak, aku pun tidak akan berbahagia kalau melihat engkau gagal, koko. Kita sehidup semati, senasib sependeritaan."

Kwi Beng menarik napas panjang dan mengelus rambut kepala adiknya. Dia mengerti apa yang dirasakan oleh adiknya yang cantik itu, perasaan yang hanya mungkin dapat terasa oleh mereka berdua, atau oleh orang-orang yang dilahirkan kembar, suatu getaran yang menghubungkan batin mereka berdua.

Beberapa hari kemudian, dengan girang dua orang kakak beradik kembar ini mendengar akan kedatangan orang tua mereka di Yen-tai. Mereka cepat-cepat memasuki kota itu dan seperti biasa, terjadilah ‘jalan damai’ yang sudah lajim terjadi di seluruh dunia ini, di mana ada manusia-manusia yang menyalah gunakan kekuasaannya.

Setelah mendengar urusan anak-anaknya, Yuan de Gama bersama isterinya cepat-cepat menghubungi tikoan dan para pembesar setempat, menghaturkan maaf dan tentu saja bukan maaf melalui kata-kata dan sikap yang memegang peran penting, melainkan maaf yang dinyatakan dalam keadaan tertutup dan yang hanya dibuka setelah berada di dalam kamar para pembesar itu, dan setelah dibuka mereka itu masing-masing dengan wajah girang menghitung jumlah emas dan perak yang akan menambah perbendaharaan harta mereka.

Dari mana timbulnya peristiwa-peristiwa penyuapan dan penyogokan yang telah menjalar di seluruh dunia ini? Suap dan sogok dalam bentuk apa pun juga, bentuk harta benda, kedudukan, nama besar, wanita, kehormatan dan sebagainya terjadi di seluruh dunia dan agaknya telah ada semenjak sejarah berkembang.

Semua ini terjadi karena manusia memegang kekuasaan dan karena manusia itu selalu memiliki kelemahan, yaitu menjadi hamba dari nafsu-nafsu keinginannya, maka manusia yang memegang kekuasaan melihat bahwa kekuasaannya itu merupakan alat yang amat berguna untuk mencapai apa yang diinginkannya! Maka dipergunakanlah kekuasaannya untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain, yaitu demi terlaksananya apa yang diinginkan dan dibutuhkannya.

Padahal, selama manusia mengejar keinginan, maka kebutuhan hidupnya tidak akan ada habisnya. Dan untuk memenuhi ini, manusia tidak segan-segan melakukan apa pun juga hingga timbullah pencurian, perampokan, penipuan, pemerasan dan termasuk penyuapan dan penyogokan yang menjadi akibat dari pemerasan.

Karena itu, segala tindak korup di dunia ini tidak akan dapat dihentikan oleh apa pun juga selama manusia menjadi hamba dari nafsu-nafsu keinginannya sendiri. Selama manusia belum mengenal diri pribadi dan tidak sadar bahwa dirinyalah sumber segala kebusukan.

Dunia akan menjadi sebuah tempat yang berbeda sekali kalau saja kita sudah tidak lagi dikejar-kejar atau mengejar kebutuhan! Sandang, pangan serta tempat tinggal memang merupakan keperluan mutlak bagi manusia hidup, namun sayang, bukan yang tiga itulah sebenarnya yang kita kejar-kejar, yang menjadi kebutuhan kita, melainkan kesenangan, kepuasan yang tidak ada ukurannya lagi akan besar dan banyaknya.

Maka bahagialah mereka yang tidak membutuhkan apa-apa. Bukan berarti menolak dan memantang segala sesuatu, melainkan tidak mencari dan tidak akan mengejar. Apa bila ada, boleh, kalau tidak pun tak akan mengejar, karena pengejaran ini yang menimbulkan segala macam bentuk kejahatan di dunia.


Yuan de Gama dan isterinya, Souw Li Hwa, bukanlah orang-orang yang suka menyuap pembesar. Kiranya tak ada orang, betapa pun kayanya dia, yang suka membuang-buang uang untuk menyuap dan menyogok kanan kiri. Namun hal ini dilakukan dalam keadaan terpaksa, karena hanya itulah merupakan satu-satunya jalan untuk keluar dari kesulitan yang sengaja ditekankan oleh mereka yang memegang kedudukan.

Mendengar akan peristiwa anak-anak mereka yang membasmi sarang bajak laut musuh besar mereka Tokugawa, yang kemudian mengakibatkan kemarahan tikoan, maka Yuan de Gama cepat mengambil jalan damai itu, menggunakan kekayaan untuk menghabiskan persoalan yang tentu akan menjadi berlarut-larut kalau dilawan dengan kekerasan.

"Lain kali, kalau ayah dan ibu tidak berada di rumah, kalian jangan bertindak ceroboh dan menanti saja hingga kami pulang," Yuan de Gama menegur kedua orang anaknya setelah dia berhasil membereskan urusan itu dengan emas dan perak.

"Ayah, kalau kakak diculik gerombolan Tokugawa, masa aku harus tinggal diam saja?" Kwi Eng membantah ayahnya.

"Anak-anak kita tidak bersalah," kata Li Hwa dengan sabar kepada suaminya. "Agaknya engkau lupa bahwa kita bukan tinggal di barat, di mana petugas hukum lebih baik dari pada di sini, suamiku. Seolah-olah engkau sudah lupa saja akan semua pengalaman kita dahulu."

Yuan de Gama memegang tangan isterinya penuh kasih sayang. "Engkau adalah seorang pendekar wanita, isteriku sayang, tentu saja pandanganmu selalu demikian, yaitu hendak menggunakan kekerasan untuk menghadapi kejahatan. Ahh, kalau saja aku tidak kasihan kepadamu yang tidak betah tinggal di barat, tentu akan kuboyong semua keluarga kita ke sana."

"Kalau ayah ingin tinggal di barat, biar kami berdua tinggal di sini saja!" Kwi Eng tiba-tiba berkata dengan sikap manja. "Kami lahir di sini dan mencintai tanah ini, dan kami bahkan telah bertemu dengan para pendekar yang amat mengagumkan hati kami."

Yuan de Gama tertawa. Dia paling sayang kepada anaknya yang perempuan ini, yang selalu dimanjanya karena anak itu mirip sekali dengan isterinya. "Ha-ha-ha, darah ibumu lebih kuat mengalir di tubuhmu dari pada darahku, Maria. Tentu saja engkau cinta negara dan bangsa ini."

Akan tetapi Souw Li Hwa memandang kedua orang anaknya itu penuh perhatian, lalu bertanya, "Bertemu dengan pendekar-pendekar? Siapa mereka dan di mana?"

"Kami belum menceritakan pengalaman-pengalaman kami yang amat hebat kepada ibu dan ayah," jawab Kwi Beng. "Sesungguhnya ketika ayah dan ibu pergi, kami berdua telah mengalami hal-hal yang amat luar biasa..."

"Keributan di Pulau Hiu melawan anak-anak buah Tokugawa itu?" tanya Yuan de Gama, diam-diam merasa girang dan kagum bahwa dua orang anaknya itu mewarisi keberanian dan kepandaian ibu mereka.

"Ahhh, itu sih pengalaman kecil tidak berarti!" kata Kwi Eng.

"Akan tetapi dalam pertempuran kami melawan anak-anak buah Tokugawa, kami sudah bertemu dengan seorang pendekar yang mengenal baik nama ibu. Dia adalah Tio-twako, yang bernama Tio Sun dan tahukah ibu siapa dia? Dia adalah putera tunggal dari seorang bekas pengawal yang setia dari suhu ibu...," kata Kwi Beng.

"Ahhh, puteranya Ban-kin-kwi?" Souw Li Hwa bertanya, segera dapat menduga setelah mendengar she orang itu.

"Benar, dia amat lihai dan tanpa bantuan dia, sukar bagiku untuk menolong Beng-koko. Mula-mula aku yang bertemu dengan Tio-twako, ibu." Dan Kwi Eng segera menceritakan pertemuannya dengan Tio Sun pada saat pemuda perkasa ini dikeroyok oleh orang-orang mabok, dan dia yang sedang kebingungan akibat kakaknya diculik oleh Tokugawa, begitu melihat kelihaian Tio Sun lalu belajar kenal dan minta bantuannya.

Girang sekali hati Souw Li Hwa mendengar betapa putera dari bekas pengawal suhu-nya itu sudah menolong menyelamatkan puteranya. "Di mana dia sekarang, mengapa kalian tidak menahan dia supaya bertemu dengan kami di sini?"

"Dia sudah pergi, ibu, bersama para pendekar yang lain. Ibu dan ayah tentu terkejut sekali mendengar pengalaman kami selanjutnya," kata Kwi Beng.

"Beng-koko, biar aku yang bercerita kepada ibu!" Kwi Eng memotong kata-kata kakaknya. Kwi Beng tersenyum dan menggerakkan pundaknya, kebiasaan yang merupakan ciri khas dari ayahnya!

"Pertama-tama ibu dan ayah berdua agar jangan terkejut. Kami berdua sudah berjumpa dengan putera ketua Cin-ling-pai yang bernama Cia Bun Houw!"

"Aihhh...!" Souw Li Hwa sangat terkejut dan Yuan de Gama juga tercengang karena tidak menyangka bahwa kedua anaknya akan dapat berjumpa dengan putera Pendekar Sakti Cia Keng Hong.

"Juga dengan seorang pendekar wanita yang kepandaiannya bagaikan dewi kahyangan, namanya nona Hong. Sayang kami tidak tahu siapa nama lengkapnya dan murid siapa dia itu." Kwi Beng yang sudah tidak sabar itu segera memperkenalkan dara yang menjadi pujaan hatinya.

"Dan selain putera ketua Cin-ling-pai, juga kami bertemu dengan puterinya..."

"Apa? Cia Giok Keng?" Souw Li Hwa bertanya dan Kwi Eng mengangguk.

"Aihhh, singa betina itu masih muncul di dunia kang-ouw?" Yuan de Gama juga bertanya dengan kagum.

"Masih ada lagi, ibu," Kwi Eng berkata lagi, gembira menyaksikan betapa ayah dan ibunya dilanda kekagetan yang bertubi-tubi, "dan ibu pasti tidak dapat menduga siapa dia."

Suami isteri itu bengong terlongong mendengar semua cerita itu, kadang kala menahan napas bila mendengar bagian-bagian yang menegangkan, terlebih lagi ketika mendengar betapa nyaris puteri mereka diperkosa oleh Toat-beng-kauw Bu Sit.

Sesudah ada kesempatan berbicara, Yuan de Gama tertawa. "Ha-ha-ha, ternyata kalian berdua adalah petualang-petualang seperti juga ibu kalian!"

"Aihh, apakah bapaknya juga bukan seorang petualang besar? Kalau bukan, bagaimana bisa jauh-jauh dari bagian dunia lain di barat datang ke sini dan menikah dengan seorang wanita pribumi?" Souw Li Hwa mencela suaminya dan Yuan de Gama hanya tertawa.

"Ibu, Eng-moi jatuh cinta kepada penolongnya, kepada Cia Bun Houw!" tiba-tiba Kwi Beng berkata.

Sebelum ayah dan ibu itu hilang rasa kagetnya, Kwi Eng juga telah membalas kakaknya, "Dan Beng-koko tergila-gila kepada burung... ehhh, nona Hong yang menyelamatkannya dari Hui-giakang Ciok Lee Kim!"

"Eng-moi bilang lebih baik mati kalau dia tidak menjadi isteri Cia Bun Houw!" Kwi Beng kembali membalas.

"Dan Beng-ko bersumpah untuk mencari nona Hong yang seperti dewi itu!" Kwi Eng pun membalas.

Ayah dan ibu itu saling pandang, dan Souw Li Hwa mendengar suaminya menarik napas panjang. "Aha...! Sampai lupa aku bahwa anak-anakku telah menjadi dewasa!"

"Engkau sih hanya ingat berdagang saja!" Souw Li Hwa mencela. Kemudian, dia menatap kedua orang anaknya dan berkata, "Beng-ji dan Eng-ji, jangan kalian main-main dengan urusan cinta. Hati yang muda memang mudah sekali tergelincir dan tertarik dengan yang indah-indah. Jangan lantas menentukan bahwa kalian telah jatuh cinta kalau kalian hanya tertarik oleh seseorang karena kegagahan dan keelokan wajahnya."

"Tidak, ibu. Aku dengan dia... Houw-koko itu, kami... sudah saling mencinta. Dan... aku diselamatkan olehnya dalam keadaan seperti itu, ibu. Aku telah bersumpah bahwa hanya ada dua pria saja yang melihatku dalam keadaan seperti itu, yang pertama adalah iblis yang telah mampus itu, dan kedua adalah calon suamiku."

"Dan bagiku juga tidak ada wanita seperti dia, ibu. Aku harus berjodoh dengan dia, kalau tidak... hidupku tentu akan merana." Kwi Beng juga berkata.

Souw Li Hwa mengerutkan alisnya dan memandang kepada suaminya dengan sinar mata marah. Melihat ini, Yuan de Gama yang amat mencinta isterinya segera tersenyum dan berkelakar, "Nah, nah, kenapa marah-marah kepadaku? Mereka sudah dewasa dan jatuh cinta, apa salahnya?"

"Apa salahnya? Inilah akibat perbuatanmu, tahu!"

"Ehh, ehh! Kok jadi aku yang kau salahkan, isteriku yang manis?"

"Yuan de Gama, semua ini adalah gara-gara engkau telah mengajarkan Bahasa Portugis kepada mereka, lalu kau suruh mereka baca buku-buku roman itu!"

"Aihhhh...! Cinta kasih mana bisa dipelajari dari buku? Kalau memang tidak ada rasa di hati, masa mereka begitu mati-matian?"

"Sudahlah, kita harus urus hal ini. Anak-anak kita baru saja berkenalan dengan mereka dan dengan dunia kang-ouw. Anak-anak kita belum berpengalaman. Aku akan mengajak mereka pergi berkunjung ke Cin-ling-pai. Pertama-tama untuk memberi hormat kepada Cia-taihiap dan keluarganya, dan kedua untuk mempererat hubungan. Setelah ada ikatan hubungan persahabatan, baru kita boleh pikir-pikir tentang hubungan perjodohan itu."

"Kita ke Cin-ling-pai, ibu? Horaaaayyyyy...!" Kwi Eng sudah girang sekali dan berloncatan, akan tetapi meringis karena kaki kirinya belum sembuh sama sekali dan dia terpincang-pincang duduk kembali di atas kursinya.

"Dan kita selidiki tentang nona Hong itu," kata pula Kwi Beng dan ibunya mengangguk.

"Memang sebaiknya begitu, lagi pula, engkau sudah terlalu lama terkurung di sampingku, isteriku sayang. Padahal dahulu engkau merupakan seorang pendekar wanita yang biasa terbang bebas. Biarlah kau kukeluarkan dari kurungan untuk sementara, bersama kedua anakmu. Dengan adanya kau di samping mereka, hatiku tidak akan merasa gelisah. Aku akan menjaga rumah di sini sambil mengurus pekerjaan."

"Dagang lagi...!" isterinya mencela.

"Bukan hanya itu! Kalau aku pergi ke pedalaman, tentu hanya akan menimbulkan hal-hal yang tidak baik dan tidak enak saja. Engkau tentu mengerti akan hal ini, isteriku yang tercinta. Ataukah, engkau tidak dapat berpisah dariku, padahal baru saja kita melakukan perjalanan bulan madu kedua sampai berbulan-bulan ke barat?" Yuan de Gama memeluk dan mencium isterinya di depan anak-anaknya karena hal ini memang biasa bagi mereka.

"Phuahhh...! Siapa yang tidak dapat berpisah?" Li Hwa mencela akan tetapi setelah dia membalas ciuman suaminya itu.

Kedua orang anaknya tertawa, sudah biasa mereka menyaksikan ayah dan ibu mereka itu bergurau, bercinta, dan kadang-kadang pura-pura bercekcok, padahal semua itu hanya sebagai tanda kasih sayang satu sama lain.

Ibu dan dua orang anaknya itu lalu bersiap-siap. Mereka akan menanti sampai kaki kiri Kwi Eng sembuh sama sekali, baru akan melakukan perjalanan. Sebagai keluarga yang kaya, mereka akan melakukan perjalanan dengan berkuda, karena ketiga orang ini pandai menunggang kuda dan tentu saja mereka akan membawa bekal secukupnya, oleh karena perjalanan dari Yen-tai ke Cin-ling-san bukan merupakan perjalanan yang dekat.....

********************

Daya tarik yang saling mempengaruhi pria dan wanita merupakan suatu kewajaran dan pembawaan di dalam diri manusia, seperti terdapat pada makhluk apa pun di permukaan bumi ini. Daya tarik ini menimbulkan rasa suka, rasa cinta di antara pria dan wanita, membuat masing-masing ingin saling mendekati, saling sentuh, saling belai dan saling berkasih mesra, sedekat mungkin hingga menimbulkan keinginan untuk bersatu badan dan hati. Hal ini sudah wajar, sudah benar, dan sudah merupakan sifat alamiah yang ada pada diri manusia.

Hubungan kelamin seperti yang lajimnya dikenal dengan sebutan sex bukanlah hal yang kotor, bukan suatu hal yang menjijikkan atau memalukan. Sebaliknya malah, sex adalah hal yang amat indah, yang suci, asalkan timbul dari naluri yang wajar, timbul dari gairah yang memang ada di dalam diri manusia, timbul dari rasa cinta antara pria dan wanita karena daya tarik alamiah itu.

Hubungan sex adalah suatu hal yang terhormat, suatu kenikmatan hidup yang patut dan layak dialami oleh setiap orang manusia, asal saja dilakukan dengan wajar dan dengan mata terbuka, dengan penuh kesadaran dan BUKAN dalam keadaan DIMABOK NAFSU sehingga menjadi perbuatan membuta dan menjadi hamba dari pada nafsu birahi belaka. Kalau sudah begini, maka berubahlah sifat hubungan kelamin, menjadi kotor dan najis, menjadi sumber dari kenikmatan palsu yang akan membawa kepada jurang kedukaan dan kesengsaraan lahir batin.

Kenikmatan hubungan kelamin merupakan suatu karunia hidup, suatu keindahan hihup, merupakan bagian dari kehidupan dan cinta kasih, tidak terpisah-pisah. Sex bukanlah yang mutlak terpenting dalam hidup, tapi bukan pula hal yang diremehkan. Akan tetapi, seperti segala sesuatu dalam hidup, bila sex sudah merupakan suatu kebutuhan yang dicari-cari, yang dikejar-kejar, maka hal itu hanya akan membawa kita ke dalam jurang kesesatan langkah yang akhirnya akan menghancurkan kita sendiri.

Sia-sia belaka bagi mereka yang mencari kesucian dengan menjauhi serta menganggap hubungan sex sebagai suatu pantangan, lalu bertapa atau menyendiri, akan tetapi dalam hatinya tersiksa karena digerogoti oleh nafsunya sendiri! Nafsu apa pun bukan harus dipantang, bukan harus ditekan, melainkan semestinya dipandang, dimengerti! Bagaikan api, nafsu bukan harus ditutup karena api itu tidak akan padam, seperti api dalam sekam yang sewaktu-waktu akan membakar pula. Api nafsu itu semestinya dipandang dan dari pandangan ini timbul kewaspadaan, timbul kesadaran, dan api itu akan menjadi nikmat dan manfaat hidup, bukan merusak.

Hubungan kelamin yang merupakan sesuatu yang amat indah dan murni, di mana manusia kehilangan akunya, akan berubah menjadi nafsu birahi yang membakar dan memperbudak jika pengalaman ini disimpan di dalam ingatan! Dengan mengingat-ingat, mengenangkan kenikmatan dalam hubungan atau pengalaman itu, timbullah nafsu birahi yang mendesak dan menggelora batin, yang membuat kita menjadi hambanya dan mulailah kita mengejar dan mencari, ingin mengalami lagi kenikmatan itu dan dengan demikian, kenikmatan ini menjadi satu di antara kepentingan-kepentingan hidup yang dikejar-kejar untuk didapatkan, maka mulailah pula langkah-langkah sesat kita ambil demi untuk memperolehnya!

Karena itu sudah jelaslah bahwa hubungan kelamin baru benar apa bila dilakukan oleh sepasang manusia yang saling mencinta sebagai puncak dari kasih mesra yang saling ditujukan sebagai tanda bersatunya badan dan hati. Apa bila hubungan ini dilakukan oleh sepasang manusia tanpa dasar cinta kasih, maka itu hanya merupakan dorongan nafsu birahi belaka dan tidak dapat dihindarkan lagi tentu akan mengakibatkan timbulnya duka dan kesengsaraan, penyesalan dan kekecewaan.

Di mana pun, bilamana pun, siapa pun dapat saja mengalami hal-hal yang berhubungan dengan asmara antara pria dan wanita, dan siapa pun juga yang belum sadar akan diri sendiri, belum mengenal diri pribadi dan segala kelemahannya, betapa pun cintanya dia, betapa pun terpelajarnya dia, tetap dapat saja menjadi korban yang sangat lemah dari cengkeraman nafsu birahi…..


********************

Gadis berwajah cantik manis dan masih muda belia itu menangis seorang diri di bawah sebatang pohon besar, terlindung dari perkampungan oleh serumpun bambu kuning yang tumbuh dengan suburnya dan sedikitnya mempunyai kelompok yang terdiri dari dua puluh batang lebih.

Angin Pegunungan Cin-ling-san bertiup lembut, namun cukup untuk menggerak-gerakkan daun-daun bambu yang lincah sehingga menimbulkan desau dan desah gemersik daun yang resah, seresah hati dan pikiran dara muda belia yang menangis lirih itu. Walau pun suara tangisnya amat lirih, namun guncangan pundaknya yang keras menandakan bahwa tangisnya keluar dari hati yang sedang remuk.

Gadis ini adalah Yalima, gadis Tibet yang kini tinggal di Cin-ling-san, yang oleh In Hong ditinggalkan di Cin-ling-pai karena menurut In Hong, Yalima harus dijodohkan dengan Cia Bun Houw sebab menurut pengakuan Yalima, pemuda putera Cin-ling-pai itu adalah pacar gadis Tibet itu.

Biar pun ketua Cin-ling-pai, yaitu Cia Keng Hong, bersikap cukup manis biar pun jarang bicara terhadap gadis Tibet ini, dan biar pun dia diperlakukan dengan sikap yang cukup ramah dan dihormati oleh para pelayan dan anak murid Cin-ling-pai karena dia dianggap sebagai seorang ‘sahabat baik’ dari Cia Bun Houw, namun Yalima merasa tidak betah tinggal di situ. Hal ini terutama sekali karena dia merasa benar bahwa sesungguhnya dirinya tidak disuka di tempat itu, dan kadang-kadang rasa tidak suka ini tercermin keluar dari wajah nyonya ketua atau ibu Bun Houw!

Memang sebenarnya demikianlah. Di dalam hati kecil Sie Biauw Eng, nenek yang menjadi isteri ketua Cin-ling-pai itu, terdapat rasa tidak puas ketika mendengar bahwa puteranya berpacaran dengan Yalima, bahwa puteranya ingin memperisteri gadis Tibet yang bodoh, lemah dan buta huruf itu. Sungguh tidak sesuai untuk menjadi isteri puteranya, menjadi mantunya!

Nenek perkasa ini memang maklum bahwa pendapatnya yang demikian itu adalah tidak benar sama sekali, bahwa perjodohan adalah berdasarkan suka sama suka, bardasarkan kasih sayang, dan segala macam kedudukan, kepandaian mau pun harta kekayaan sama sekali tidak ada hubungannya dengan itu. Namun, sebagai seorang wanita, sukar baginya untuk merelakan puteranya yang dianggapnya paling tampan, paling lihai serta paling hebat itu berjodoh dengan seorang gadis dusun Suku Bangsa Tibet yang pada waktu itu dalam pandangan umum merupakan bangsa setengah biadab!

Yalima menangis, di dalam hatinya dia mengeluh dan mengadukan nasibnya kepada para dewa yang dipujanya, para dewa yang tinggal di puncak-puncak Pegunungan Himalaya, yang tahu akan segala derita manusia dan yang bertugas mengatur nasib manusia!

Diam-diam dia menyesali dirinya sendiri yang lemah, yang sudah tergelincir sehingga kini dia menghadapi mala petaka, menghadapi aib besar dan mungkin sekali akan menerima kemarahan hebat dari ketua Cin-ling-pai serta isterinya! Semua yang dialaminya selama empat lima bulan dia tinggal di Cin-ling-san, teringat dengan jelas menjadi bayang-bayang di antara linangan air matanya.

Mula-mula terjadi kurang lebih dua bulan yang lalu. Dia sudah tinggal hampir tiga bulan di Cin-ling-san dan setiap hari dia merindukan Bun Houw, selalu menanti-nanti kembalinya pemuda yang dikaguminya itu. Akan tetapi yang ditunggu-tunggu tak kunjung datang dan sikap ibu pemuda itu terhadap dirinya dirasakannya kurang manis, bahkan kadang kala dia menerima omelan kalau dia kurang rajin membantu para pelayan.

Mulailah dia membayangkan betapa akan susah hatinya kalau kelak dia sudah menjadi isteri Bun Houw, menjadi mantu dari nyonya tua yang agaknya tidak suka kepadanya itu! Sebagai mertua, tentu nyonya itu akan lebih galak lagi sikapnya! Teringat dia akan cerita-cerita rakyat bangsanya tentang nasib mantu-mantu yang tidak disuka mertuanya, yang diperlakukan lebih rendah dan lebih kejam dari pada budak belian.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner