PETUALANG ASMARA : JILID-35


Melihat orang yang membawa bokor emas itu membalik, Hendrik yang juga tahu bahwa orang-orang di Pulau Ular ini tentu sangat lihai, cepat mengangkat lengan, membidik dan menarik pelatuk pistolnya. Semua gerakan ini dilakukan cepat sekali karena dia termasuk seorang penembak ulung di negaranya.

Akan tetapi gerakan Hendrik masih terlalu lambat bagi pandangan Ouwyang Bouw yang telah bergerak lebih cepat lagi begitu moncong pistol diarahkan kepadanya. Dia miringkan tubuh dan gerakan ini hanya memerlukan waktu seperempat detik saja, ada pun jalannya peluru yang ditembakkan untuk mencapai sasarannya paling cepat setengah detik. Peluru lewat tanpa mengenai sasaran dan sebelum Hendrik sempat menembak lagi, Ouwyang Bouw sudah meloncat ke atas dan menggerakkan tangannya.

Melihat cahaya merah menyambar, Hendrik maklum bahwa dia diserang dengan senjata gelap. Cepat dia mengelak, namun dia tidak mengira akan kelicikan lawan.

Hanya tiga perempat saja dari jarum-jarum yang digenggam itu menyerang dan semua ini dapat dielakkan oleh Hendrik, akan tetapi sisa jarum segera menyusul sedetik kemudian dan sekali ini, walau pun Hendrik masih mencoba mengelak, dia kalah cepat dan sambil berteriak keras Hendrik roboh dengan tiga jarum merah memasuki dadanya!

"Hendrik...!" Legaspi berteriak.

Kakek botak ini sudah keluar dari rumah itu dan mengejar. Terlambat dia karena melihat puteranya menjadi korban lawan dan dia hanya dapat memanggil nama puteranya. Akan tetapi melihat seorang pemuda berlari pergi dengan cepatnya sambil memondong sebuah bokor emas, kakek ini seketika melupakan puteranya dan terus mengejar.

Owyang Bouw tidak berani melawan Kakek Botak itu. Ia telah mendengar dari para datuk kaum sesat betapa lihainya kakek asing ini, maka dia tidak mau membahayakan dirinya sendiri. Dia mengerahkan tenaga ginkang-nya, dan berlari lebih cepat lagi masuk keluar hutan dan naik turun gunung di tengah pulau itu.

Namun kakek itu tetap dapat mengejarnya, makin lama makin dekat sehingga Ouwyang Bouw menjadi panik sekali. Sebentar lagi dia tentu akan tersusul. Dia meloncati jurang, namun pengejarnya mampu meloncatinya lebih cepat lagi. Akhirnya dia mendengar suara kakek itu dekat di belakangnya.

"Serahkan bokor itu kepadaku, ke mana pun kau lari tentu akan terdapat olehku!"

Mendengar suara ini tanpa mendengar jejak kakinya, maklum pula Ouwyang Bouw betapa tinggi ilmu ginkang pengejarnya. Ia makin panik dan terjadilah perang di dalam pikirannya. Bokor atau nyawa? Dia memilih nyawa dan tiba-tiba saja dia melontarkan bokor emas itu sekuatnya ke dalam jurang!

Perhitungannya tepat sekali. Begitu melihat bokor emas itu dibuang, tentu saja Legaspi segera mengejar benda itu dan tidak lagi mempedulikan Ouwyang Bouw. Baginya yang paling penting adalah bokor itu dan dia tidak butuh Ouwyang Bouw. Andai kata tidak ada bokor itu, tentu saja dia akan membunuh pemuda itu karena telah merobohkan puteranya.

Mendapatkan bokor itu di tangan, Legaspi Selado tertawa bergelak, kemudian kembali berlari. Ketika melihat tubuh puteranya terkapar, dia berlutut dan membalikkan tubuh itu hingga telentang. Sebentar saja memeriksa tahulah dia bahwa jarum-jarum beracun yang amat jahat telah memasuki dada puteranya dan tidak dapat lagi dia menolong.

"Ayah... tolonglah saya..."

Legaspi Selado bangkit berdiri. "Percuma, tidak lama lagi kau tentu akan mati. Dan lebih baik begini, kau tidak akan bermain gila dengan Nina."

Sesudah berkata demikian Legaspi lari dari situ, membawa bokor menuju ke pantai. Dia telah mendapatkan bokor, dia tidak mempedulikan pertempuran yang masih berlangsung, apa lagi menolong Souw Li Hwa seperti yang direncanakan. Bokor sudah didapat, lebih lekas pergi meninggalkan tempat itu lebih baik!

Apa lagi dia bisa melihat dari jauh betapa dua orang kakek datuk kaum sesat itu sedang bertanding dan terdesak oleh dua orang yang lihai bukan main. Yang seorang dia tidak mengenalnya, akan tetapi yang melawan Toat-beng Hoatsu yang dia tahu sangat sakti, adalah orang yang membuat jantungnya berdebar penuh rasa ngeri, karena dia mengenal orang itu sebagai Panglima Besar The Hoo yang namanya tidak saja menggemparkan seluruh Tiongkok, akan tetapi juga terkenal jauh di negara-negara di luar Tiongkok!

Maka dia berlari makin cepat dari situ, tidak tahu bahwa dari jauh ada bayangan orang berkelebat mengejarnya. Bayangan ini bukan lain adalah Kun Liong.

Dari jauh dia tidak melihat apakah kakek itu sudah menemukan bokor. Akan tetapi karena dia tahu bahwa Legaspi Selado bersama puteranya tadi pergi meninggalkan gelanggang pertandingan tentu untuk mencari bokor, maka dia mengejar terus.

Di jalan tadi dia melihat Hendrik sudah mati dengan tanda-tanda keracunan jarum merah milik Ouwyang Bouw. Akan tetapi di sana tidak nampak Ouwyang Bouw atau mayatnya. Apakah kakek di depan itu masih sedang mengejar Ouwyang Bouw? Dia tidak tahu maka dia mempercepat larinya untuk menyusul kakek itu. Akan tetapi, kakek itu benar-benar lihai dan larinya cepat sekali biar pun dia sudah tua dan tubuhnya gendut.

Legaspi telah meloncat ke atas sebuah perahu yang disediakan di situ, terus mendayung kuat-kuat ke arah Kapal Kuda Terbang yang berjajar di tengah laut dengan Perahu Ikan Duyung, dalam jarak yang tidak terlalu jauh.

Kun Liong yang datang terlambat melihat kakek yang dikejarnya itu sudah sampai di kapal dan meloncat ke atas kapal itu. Karena itu dia pun cepat menggunakan sebuah di antara perahu-perahu itu untuk menuju ke kapal Kuda Terbang, namun sengaja dia mengambil jalan memutar.

Sementara itu, Yuan de Gama yang melihat Legaspi datang sendiri berperahu, maklum bahwa penyerbuan itu gagal. Maka dia cepat-cepat memerintahkan Perahu Ikan Duyung yang ditumpangi ayah serta adiknya untuk memasang layar mengangkat sauh (jangkar) dan berlayar lebih dulu ke utara. Ada pun dia dengan Li Hwa yang memiliki kepandaian tinggi, menanti di Kapal Kuda Terbang untuk memberi kesempatan kepada kawan-kawan yang lain untuk kembali ke kapal.

Dan benar saja, dia melihat dari pantai ada tujuh orang temannya yang tergesa-gesa naik perahu, menuju ke kapalnya. Akan tetapi Legaspi Selado sudah meloncat lebih dahulu ke kapal dan tampaklah oleh Yuan de Gama dan Li Hwa betapa bokor emas itu telah dibawa oleh kakek ini, disembunyikan di balik jubahnya!

"Guruku sudah berhasil merampas bokor!" kata Yuan gembira karena memang menurut rencana bokor itu harus dirampas untuk dikembalikan kepada The Hoo agar perhubungan antara para pedagang dengan pihak kerajaan menjadi makin erat yang hasilnya tentu saja menguntungkan pihak pedagang asing.

Souw Li Hwa menghadapi Legaspi dan berkata, "Kembalikan bokor emas itu kepadaku."

Akan tetapi Legaspi memandangnya dengan mata terbelalak dan melotot marah. "Kau! Bukankah engkau wanita yang memimpin pasukan pemerintah menghancurkan pasukan sahabatku? Kau harus mati!" Sambil berkata demikian, Legaspi langsung mengeluarkan cambuknya yang lihai, lalu mengayun cambuk di atas kepala sampai terdengar ledakan-ledakan, kemudian cambuknya menyambar turun ke arah tubuh Li Hwa!

Walau pun Li Hwa masih lemah, namun dengan ringannya dia dapat menghindarkan diri dengan meloncat ke kiri. Dia sudah kehilangan pedangnya ketika ditawan, maka kini dia siap menghadapi lawan tangguh itu dengan tangan kosong.

"Tuan Legaspi Selado, jangan serang dia!" Yuan de Gama membentak, "Dia adalah murid Panglima The Hoo! Kita sudah berjanji akan mengembalikan bokor..."

Cambuk itu menyambar, pemuda itu terpelanting dan terbanting di atas dek.

"Ha-ha-ha, kau hendak melawan gurumu, ya?"

Legaspi kini kembali menghadapi Li Hwa. Cambuknya bertubi-tubi menyerang dan biar pun Li Hwa dapat mengelak ke sana-sini, namun dara ini tidak dapat balas menyerang. Tubuhnya masih amat lelah dan dia tidak bersenjata, sedangkan ilmu kepandaian Legaspi bermain cambuk amat dahsyat. Ujung cambuk sudah mematuk dua kali pada pundak dan pinggulnya, membuat dua bagian tubuh ini berdarah dan pakaiannya robek.

"Tuan Legaspi, berhenti menyerang. Kalau tidak kutembak!"

Mendengar ini, Legaspi menghentikan serangannya dan menoleh ke arah Yuan de Gama. Dia maklum akan kemahiran Yuan menembak, maka dia ragu-ragu.

"Saya adalah kapten kapal ini, biar pun Anda guru saya, harus tunduk kepada perintah kapten!"

Pada saat itu, tujuh orang asing yang melarikan diri dari pulau telah tiba dan mendarat di atas dek kapal. Yuan de Gama menoleh kepada mereka dan terkejut melihat mereka itu adalah kaki tangan Legaspi. Gerakannya menoleh yang sebentar itu cukup bagi Legaspi. Cambuknya menyambar dan Yuan de Gama berteriak kaget ketika pistolnya direnggut ujung cambuk dari tangannya!

"Ha-ha-ha! Cepat tangkap mereka!" Legaspi Selado berteriak dan kembali dia menyerang dengan cambuknya.

Yuan dan Li Hwa mencoba untuk melawan, akan tetapi ketika dua orang di antara tujuh kaki tangan Legaspi mengeluarkan pistol dan menodongkan senjata itu, terpaksa mereka menghentikan perlawanan. Mereka tahu bahwa melawan terus berarti mati, maka untuk sementara ini lebih baik menyerah.

"Ikat mereka di tiang kapal. Kita jadikan mereka sebagai sandera!" kata Legaspi. "Angkat sauh dan kembangkan layar, cepat kita pergi dari sini!"

Di dalam kesibukan itu mereka semua tidak melihat Kun Liong yang menyelinap naik dan tahu-tahu pemuda gundul ini sudah berada di belakang tiang di mana Li Hwa dan Yuan dibelenggu. Mudah saja Kun Liong mematahkan belenggu kaki tangan mereka kemudian membebaskan mereka dari totokan yang tadi dilakukan Legaspi agar dua orang tawanan itu tidak mungkin lolos.

"Terima kasih, Kun Liong..."

"Sssttt, kalian lawan tujuh orang itu dan aku akan menghadapi Legaspi!" Kun Liong cepat meloncat ke luar.

Gegerlah tujuh orang itu dan Legaspi ketika melihat pemuda gundul ini muncul bagaikan setan saja. Dua orang awak kapal mencabut pistol, tetapi dari belakang mereka meloncat keluar lima orang pelayan pribumi yang segera menyergap mereka. Hanya mereka yang masih bersenjata, lainnya sudah kehabisan senjata saat melarikan diri dan meninggalkan banyak mayat kawan mereka.

Terjadi perkelahian hebat dan lima orang itu tewas seketika oleh cambuk Legaspi, akan tetapi Kun Liong yang bergerak seperti kilat sudah dapat pula membuat dua buah pistol terlempar ke laut. Li Hwa dan Yuan muncul dan mengamuk, menghadapi tujuh orang anak buah Legaspi Selado, ada pun kakek botak itu sendiri, dengan bokor emas dirangkul oleh lengan kiri dan cambuknya dipegang di tangan kanan, terpaksa menghadapi serbuan Kun Liong!

Ada pun Yuan dan Li Hwa mengamuk berdampingan dan tujuh orang itu tentu saja bukan lawan mereka. Apa lagi Li Hwa yang tegang hatinya melihat bokor emas berada di tangan kakek botak yang lihai itu, dia mengerahkan semua tenaga yang masih ada dan berkat ilmu silatnya yang lebih tinggi, dengan dibantu Yuan, sebentar saja dia dapat merobohkan mereka seorang demi seorang.

Sementara itu, pertempuran antara Legaspi dan Kun Liong juga berlangsung seru sekali. Cambuk itu meledak-ledak dan Kun Liong yang bertangan kosong mempergunakan ilmu ginkang-nya, selalu berhasil mengelak dan balas menyerang dengan pukulan jarak jauh menggunakan sinkang.

Tentu saja karena pemuda ini merasa pantang untuk membunuh orang, saat menghadapi Legaspi sekali pun dia tak pernah bermaksud membunuh, hanya untuk merampas bokor. Hal inilah yang membuat dia belum juga dapat merobohkan lawan. Andai kata dia tidak berpantang membunuh, dengan ilmu silatnya yang amat tinggi, dengan sinkang-nya yang hebat dan Thi-khi I-beng yang mukjijat, dia tentu sudah berhasil membunuh lawan.

Legaspi menjadi bingung melihat anak buahnya terdesak, bahkan tinggal tiga orang lagi yang melawan mati-matian. Dia sendiri agaknya belum tentu dapat menangkan pemuda gundul yang lihai seperti setan ini, biar pun hanya bertangan kosong.

Tiba-tiba ia berseru keras, tangan kirinya melempar sebuah benda ke tengah kapal, dekat tiang induk. Terjadi ledakan dahsyat dan ternyata benda itu adalah alat peledak. Begitu meledak, timbul kebakaran di tempat itu dan karena angin bersilir dan api menjilat layar, sebentar saja kapal itu sudah berkobar-kobar.

Melihat ini, Yuan dan Li Hwa cepat-cepat merobohkan tiga orang sisa lawan, kemudian keduanya mencoba memadamkan api dengan siraman air. Namun, air yang hanya sedikit itu mana mampu membunuh api yang sudah berkobar begitu dahsyat?

Kun Liong penasaran sekali. Ketika cambuk menyambar lagi, dia sengaja menubruk dan melindungi tubuh dengan sinkang-nya.

"Tarrr…!"

Cambuk menghantamnya dan membelit tubuhnya, akan tetapi Kun Liong mencengkeram ke arah tangan kanan yang memegang cambuk.

"Augghh!" Legaspi berteriak dan terpaksa dia melepaskan gagang cambuk serta menarik tangannya.

Pada saat itu juga, Legaspi memukulkan telapak tangan kanannya yang besar ke arah dada Kun Liong. Kembali Kun Liong menerima pukulan tangan terbuka ini dengan dada sambil mempergunakan Thi-khi I-beng dan... telapak tangan itu melekat pada dadanya, terus saja sinkang dari tubuh Legaspi mengalir seperti air membanjir ke tubuh Kun Liong! Mereka berada dekat rel dek, di pinggir kapal.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Legaspi ketika merasa bahwa tenaganya disedot, makin lama makin banyak membuat tubuhnya menggigil. Kun Liong sudah mengulurkan tangan merampas bokor dan pada saat itu juga dia membebaskan lawannya dari Thi-khi I-beng dan mendorongnya ke belakang.

Dengan jeritan mengerikan tubuh gendut itu terlempar ke balakang, melalui rel dan jatuh tercebur ke laut yang kini agak besar ombaknya. Kun Liong menjenguk ke bawah dan menarik napas panjang. Hatinya merasa menyesal sekali, bulu tengkuknya berdiri. Dia tidak sengaja membunuh orang, akan tetapi orang itu betapa pun juga mati tenggelam di laut karena bertanding dengan dia!

"Gara-gara benda tertutuk ini!" Dia memandang bokor yang telah banyak mendatangkan korban.

"Kun Liong, syukur kau telah dapat merampas bokor dan membunuhnya!" kata Li Hwa.

"Aku tidak membunuhnya dan..."

"Hemm, mengapa mengobrol saja?" teriak Yuan yang membuka baju, tampak tubuhnya yang kekar itu penuh keringat. "Lebib balk lekas bantu memadamkan api kalau tidak ingin dibakar hidup-hidup!"

Kun Liong dan Li Hwa cepat-cepat membantu dengan ember, menguras persediaan air, bahkan menimba dari pinggir kapal untuk menanggulangi kebakaran yang amat hebat itu. Tapi usaha mereka itu sia-sia, sedikit api padam di sini, di lain bagian telah mendapatkan bahan bakar yang lebih banyak…..

********************

Kita tinggalkan dahulu tiga orang muda yang sibuk berusaha memadamkan api itu dan kembali ke Pulau Ular. Pertandingan antara empat orang tokoh sakti masih berlangsung dengan hebatnya. Namun kini sudah tampak perubahan besar.

Toat-beng Hoatsu sudah terengah-engah, peluh memenuhi mukanya dan dari kepalanya tampak uap putih mengepul, sedangkan lawannya, Panglima The Hoo masih tenang saja dan setiap gerakannya kelihatan mantap. Demikian pula dengan Ban-tok Coa-ong yang menghadapi Keng Hong. Sekarang pendekar sakti ini dapat mempermainkan lawannya setelah lawannya menjadi lelah dan lemah.

"Hayo katakan di mana bokor emas itu kau sembunyikan!" berkata The Hoo sambil terus mendesak lawan. "Dan menyerahlah, mungkin engkau tidak akan dihukum mati."

Namun Toat-beng Hoatsu tidak menjawab melainkan terus melawan mati-matian, setiap gerakan kedua tangannya yang terkepal mantap dan mendatangkan angin dahsyat. Akan tetapi lawannya, Panglima The Hoo adalah seorang yang selain memiliki ilmu kepandaian amat tinggi dan pengalaman yang amat luas, juga terkenal sebagai seorang yang memiliki sinkang yang mukjijat. Dari sepasang tangan kakek panglima sakti ini tampak uap putih mengepul dan setiap kali mereka beradu lengan, tentu tubuh Toat-beng Hoatsu terdorong mundur dan membuatnya terhuyung-huyung.

Hal ini membuat Toat-beng Hoatsu marah sekali. Sambil berteriak keras ia mengeluarkan jubahnya dan mengamuk dengan senjata istimewa ini. Akan tetapi, The Hoo sudah pula mengeluarkan pedangnya. Tampaklah sinar kilat berkelebatan menyilaukan mata ketika pedang itu dimainkan.

"Brett-brett-brett...!"

Alangkah kagetnya hati Toat-beng Hoatsu melihat bahwa jubahnya, senjata yang sangat diandalkannya, kini cabik-cabik oleh pedang di tangan lawannya.

Di lain pihak, pertandingan antara Ban-tok Coa-ong dan Cia Keng Hong juga berlangsung tidak kalah hebat dan serunya.

"Ha-ha-ha, jadi engkau adalah supek dari pemuda gundul itu? Ha-ha-ha, kalau memang begitu, biar aku mengirim engkau ke neraka menyusul ayah bundanya!" Bantok Coa-ong tertawa mengejek ketika teringat bahwa tadi Kun Liong menyebut lawannya ini ‘supek’.

Dapat dibayangkan betapa kaget rasa hati Keng Hong mendengar kata-kata itu. Ucapan Ban-tok Coa-ong barusan berarti bahwa Gui Yan Cu dan Yap Cong San telah tewas! Dia merasa kaget, duka, dan marah sekali. Hal ini membuat gerakannya menjadi kacau dan tenaganya berkurang maka Ban-tok Coa-ong dapat mendesaknya dengan hebat.

Datuk kaum sesat ini memang lihai bukan main, maka begitu Cia Keng Hong mengalami pukulan batin yang membuat gerakannya mengendur, Kakek Raja Ular itu mendesaknya dengan kedua senjatanya yang aneh. Cia Keng Hong seperti nanar dan pening kepalanya mendengar berita mengejutkan itu dan selama belasan jurus pendekar sakti ini hanya dapat menangkis dan mundur-mundur.

"Mampuslah! Ha-ha-ha-ha!" Ban-tok Coa-ong sudah menyerang dengan pedang ularnya, menusuk ke arah leher dengan kuatnya, sedangkan terompetnya yang juga merupakan senjata ampuh itu menghantam arah dada lawan.

Menghadapi serangan yang sangat berbahaya ini, barulah Cia Keng Hong sadar akan ancaman maut. Karena itu dia cepat menggoyang kepalanya, menggerakkan pedang dan mengerahkan sinkang untuk menempel pedang lawan, kemudian menerima hantaman di dada itu dengan cengkeraman tangan sehingga terompet itu remuk, sementara tangan Keng Hong terus mencengkeram tangan kiri lawan sehingga jari-jari tangan mereka saling mencengkeram!

"Lepaskan pedang!" Keng Hong membentak.

Sebuah kekuatan dahsyat membuat kedua pedang yang saling menempel itu terlepas karena tangan kanan Ban-tok Coa-ong tergetar hebat. Sepasang pedang itu terlempar ke samping dan kedua tangan kanan mereka pun saling cengkeram. Sekarang kedua tangan mereka dengan jari-jari saling mencengkeram mengadu telapak tangan dan keduanya lalu mengerahkan tenaga.

Ban-tok Coa-ong mengandalkan sinkang-nya yang mengandung hawa beracun, maka dia lantas mengerahkan seluruh tenaga untuk mengirim racun ke tubuh lawan melalui telapak tangannya. Tetapi dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika merasa betapa sinkang-nya menerobos ke luar disedot oleh kedua tangan pendekar sakti itu. Mukanya menjadi pucat sekali, dan teringatlah dia kini akan ilmu mukjijat Thi-khi I-beng yang kabarnya di dunia in hanya dimiliki oleh Pendekar Cia Keng Hong seorang. Dia merasa makin lemah, tak kuat lagi menahan sinkang-nya yang membanjir keluar membuat tubuhnya kehilangan tenaga sehingga tak terasa lagi dia jatuh berlutut, keringatnya menetes-netes.

"Lepas... lepaskan aku...!" katanya di luar kesadarannya, terdorong oleh rasa ngeri ketika merasa betapa sinkang-nya terus membanjir keluar.

"Siapa yang membunuh Yap Cong San dan Gui Yan Cu?" terdengar suara pendekar itu bertanya, penuh wibawa menyembunyikan kekagetan, kedukaan, dan amarahnya akibat mendengar berita itu.

"Para datuk kaum sesat... kecuali aku... ehhh, Toat-beng Hoatsu, Siang-tok Mo-li, Kwi-eng Niocu dan Hek-bin Thian-sin... Harap kau lepaskan aku...!"

"Di mana dibunuhnya mereka?"

"Di... di Tai-goan... auggghhhh!" Tubuh Ban-tok Coa-ong roboh dan tewas seketika ketika tangan kiri Keng Hong menampar kepalanya.

"Desss... aduhhhh...!"

Tubuh Toat-beng Hoatsu juga terpelanting dan tewas seketika. Dadanya remuk terkena pukulan mukjijat Panglima The Hoo yang disebut Jit-goat Sin-ciang-hoat.

"Sayang mereka tidak mengaku di mana adanya bokor... heiii, kenapa wajahmu murung, Cia-sicu?" Panglima itu bertanya heran.

"Hamba... baru saja mendengar dari dia..." Keng Hong menunjuk ke arah mayat Ban-tok Coa-ong, "...bahwa sahabat hamba Yap Cong San beserta isterinya, sumoi hamba telah dibunuh oleh kelima datuk kaum sesat di Tai-goan." Tanpa terasa dua titik air mata turun dari mata pendekar itu dan cepat dihapusnya.

"Hemmm, orang-orang jahat itu hanya mendatangkan bencana saja." Dia menoleh dan melihat bahwa pertempuran sudah selesai, tidak tampak pihak musuh, hanya pasukannya yang siap menanti perintah dan ada yang sedang menyiapkan kapalnya. Ketika menoleh inilah dia melihat api berkobar di laut. "Ada kebakaran di sana...!" teriaknya.

Keng Hong menoleh dan keduanya lari ke pantai di mana semua pasukan juga sedang memandang kebakaran. Dari jauh, para pasukan tidak dapat melihat apa yang terjadi di Kapal Kuda Terbang yang terbakar itu. Akan tetapi begitu melihat, mata Keng Hong dan Panglima The Hoo dapat melihat dua orang sedang bertanding hebat di atas kapal itu, yang seorang adalah kakek berjubah aneh yang mudah saja diduga tentulah Legaspi, ada pun lawannya adalah seorang pemuda gundul.

"Kun Liong menghadapi Legaspi. Tentu bokor sudah di tangan Legaspi," kata Keng Hong.

"Akan tetapi kapal itu terbakar hebat. "Dan ehh... bukankah itu Li Hwa di sana, membantu seorang pemuda asing tanpa baju sedang mencoba memadamkan api?"

Keng Hong juga melibat ini. "Kalau begitu Nona Souw sudah tertolong!"

"Kapal itu terbakar hebat, kita harus mencoba menolong mereka!" Panglima The Hoo, diikuti oleh Keng Hong lalu lari ke kapal dan panglima itu memerintahkan supaya kapal cepat diluncurkan menuju ke Kapal Kuda Terbang yang terbakar.

Akan tetapi ketika mereka sudah tiba agak dekat, ternyata mereka tidak mungkin dapat terlalu mendekat karena hal itu berbahaya sekali. Potongan-potongan kayu yang masih bernyala mulai beterbangan dan bisa berbahaya kalau mengenai kapal atau layarnya. Di samping lainnya, Perahu Ikan Duyung juga mendekati kapal yang terbakar namun mereka tidak berdaya melakukan sesuatu.

Panglima The Hoo dan Keng Hong melihat betapa Kun Liong dapat merobohkan Legaspi yang terjungkal ke laut, kemudian melihat Kun Liong membantu memadamkan api. Akan tetapi api makin membesar dan sudah makan setengah kapal, membuat kapal miring dan sebentar lagi tentu tenggelam!

Panglima The Hoo dan Keng Hong memandang penuh khawatir. "Mereka harus segera meloncat ke luar dan berenang, nanti kita jemput dengan perahu. Kalau sampai kapal itu meledak, celaka...!"

Keng Hong mengerahkan khikang-nya dan terdengar dia berteriak, nyaring bukan main. "Yap Kun Liong, kalian semua tinggalkanlah kapal...!"

Panglima The Hoo juga berteriak, teriakannya bahkan lebih nyaring lagi. "Li Hwa, aku gurumu memerintahkan kau lekas tinggalkan kapal!"

Tiga orang muda itu mendengar seruan-seruan ini, dan mereka baru melihat bahwa kapal perang Panglima The Hoo berada tidak begitu jauh dari situ, demikian pula Perahu Ikan Duyung.

"Yuan, Li Hwa, mari kita tinggalkan saja kapal terbakar ini!"

"Tidak, Kun Liong. Aku adalah kapten kapal ini, dan seorang kapten tidak akan pernah meninggalkan kapalnya. Lebih baik mati bersama tenggelamnya kapal dari pada pergi meninggalkan kapal yang akan tenggelam!" Jawaban ini penuh semangat dan dada yang bidang itu dibusungkan, penuh peluh dan hangus, tampak gagah bukan main.

"Li Hwa, hayo kita pergi dari sini. Gurumu memanggil."

Li Hwa tampak bingung, sebentar menoleh ke arah kapal perang gurunya, lalu menoleh kepada Yuan yang tersenyum kepadanya dan berkata, "Pergilah kekasihku, engkau harus diselamatkan."

"Tidak...!" Li Hwa terisak lalu lari merangkul Yuan. "Kalau kau tidak pergi, aku juga tidak. Aku harus berada di sampingmu selalu, hidup atau mati!"

"Li Hwa..."

"Yuan..."

Mereka berpelukan dan Kun Liong memandang dengan sepasang mata terbelalak. Sudah diduganya bahwa kedua orang muda ini saling mencinta, akan tetapi tidak disangkanya akan menyaksikan cinta sehebat dan sebesar itu, cinta sampai mati!

"Apakah kau telah gila, Yuan?"

"Bukan aku, melainkan engkau yang gila kalau hendak memaksa seorang kapten kapal meninggalkan kapalnya yang sedang tenggelam. Apa artinya hidup tanpa kehormatan? Nenek moyangku terkenal memegang teguh kehormatan, lebih berharga dari pada nyawa, dan aku tidak sudi mengecewakan mereka."

"Yuan... kau hebat...!" Li Hwa mendekap semakin erat, penuh bangga dan cinta kepada kekasihnya.

"Li Hwa, kau... ditunggu gurumu... dan kau seorang panglima wanita negaramu... Apakah kau juga gila, ketularan Yuan?"

Li Hwa tidak melepaskan dekapannya, hanya menoleh dan tersenyum kepada Kun Liong. Mulutnya tersenyum tetapi air matanya bertetesan, pemandangan yang tak mungkin akan dapat dilupakan oleh Kun Liong selama hidupnya.

"Kun Liong, engkaulah yang gila seperti dikatakan kekasihku, jika kau hendak memaksa seorang dara pergi meninggalkan kekasihnya yang terancam kematian. Aku harus tinggal di sini bersama dia, kau pergilah, bawalah bokor itu dan serahkan kepada Suhu, berikut hormatku yang terakhir kepada beliau..."

"Yuan... Li Hwa..."

Kebakaran di kapal semakin hebat sehingga kapal itu sudah miring sekali, sebentar lagi akan tenggelam.

"Kun Liong...!" terdengar lagi suara Keng Hong memanggil.

"Li Hwa...!" tersusul suara Panglima The Hoo.

Kun Liong mengangkat pundak, kehabisan akal. Tentu saja, dengan kepandaiannya, dia mampu mengusai dua orang itu dan memaksanya meloncat ke air, akan tetapi dia tidak tega melakukannya karena kehidupan Yuan pasti akan sengsara dan karenanya Li Hwa juga akan sengsara. Lagi pula, seandainya mereka berdua tertolong, mungkinkah Li Hwa menjadi jodoh Yuan? Pikiran ini membuat dia melangkah maju, menjabat tangan Yuan dan Li Hwa, hampir tak dapat berkata-kata karena haru, matanya basah dan air matanya bertitik.

"Selamat tinggal, Li Hwa dan Yuan... semoga kalian... semoga... kalian... bahagia...!" Kun Liong membalikkan tubuh lalu meloncat ke air membawa bokor emas.

Keharuan dan pertandingan hebat melawan Legaspi tadi membuat dia lemah, namun dia mengerahkan tenaganya untuk berenang. Tak lama kemudian tubuhnya ditarik ke atas perahu kecil dan langsung dia dibawa ke kapal, dinaikkan ke kapal perang.

Cia Keng Hong dan The Hoo menyambutnya. Kun Liong berlutut dan menyerahkan bokor emas kepada The Hoo tanpa kata-kata, kemudian dia membalik dan memandang ke arah Kapal Kuda Terbang yang terbakar. Kemudian, melihat betapa Yuan dan Li Hwa masih saling berdekapan di antara api dan air, di pinggiran ujung kapal yang sudah tenggelam sebagian, Kun Liong tak dapat menahan diri, dia menangis mengguguk seperti anak kecil!

"Apa yang terjadi...?" Keng Hong bertanya, mengguncang pundak Kun Liong.

"Yuan de Gama... dia kapten kapal itu... dia tidak mau disuruh pergi... dia memilih mati bersama kapalnya dan... dan Li Hwa... yang mencintanya, mencinta sampai mati tak mau terpisah darinya..."

"Li Hwa...?" Panglima The Hoo berseru penuh keheranan, kekaguman, penasaran, juga kedukaan.

Li Hwa seperti puterinya sendiri. Apa bila dia menggunakan kepandaiannya, mungkin dia masih akan dapat memaksa puterinya itu pergi meninggalkan Yuan. Akan tetapi, melihat kedua orang itu berdekapan ketat menghadapi maut, dia menghela napas panjang.

"Semua beri hormat kepada kapten Kapal Kuda Terbang, Tuan Yuan de Gama dan Nona Souw Li Hwa!" Tiba-tiba dia mengeluarkan aba-aba yang nyaring, maka semua pasukan bangkit dan berdiri tegak ke arah kapal yang mulai tenggelam itu dengan sikap memberi hormat kepada dua orang yang berdekapan itu.

Hanya ujung kapal yang masih tampak, itu pun sudah dijilat api sehingga kedua orang itu seolah-olah berada di tengah-tengah api yang mulai tenggelam!

Tiba-tiba terdengar jerit yang penuh kemesraan.

"Li Hwa...!"

"Yuan...!"

Jerit penuh kebahagiaan dari mulut Yuan dan Li Hwa itu seakan-akan merupakan jerit kebahagiaan sepasang mempelai di atas pelaminan. Tubuh mereka perlahan-lahan mulai ditelan air, kemudian lenyap.

Sunyi senyap di kapal perang itu, kecuali suara mengguguk tangis Kun Liong. Cia Keng Hong dan Panglima The Moo berdiri tegak dan mereka berdua mengusap air mata yang menitik ke atas pipi mereka yang sudah mulai keriputan.

Di tempat lain, yaitu di atas Perahu Ikan Duyung, juga terjadi hujan tangis. Yuanita jatuh pingsan, dan Richardo de Gama berlutut sambil bersembahyang kepada Tuhan supaya menerima roh puteranya yang gugur sebagai seorang gagah perkasa, menjunjung tinggi nama keluarga de Gama yang memang terkenal. Di hati bapak tua ini terdapat keharuan, kedukaan hebat, tapi ada pula sedikit kebanggaan. Dengan matinya Yuan, dia mengajak puterinya kembali ke negaranya.

Kun Liong yang berdiri di ujung kapal perang, memandang Perahu Ikan Duyung. Biar pun dia tidak dapat melihatnya, dia bisa membayangkan betapa duka hati Richardo de Gama, terutama hati Yuanita. Ingin dia dapat dekat dengan nona itu dan menghiburnya. Akan tetapi dia melihat perahu itu mengangkat sauh dan meluncur pergi meninggalkan tempat itu. Maka dia hanya dapat menghela napas saja.

Betapa buruk nasib menimpa putera-puteri Richardo de Gama. Sungguh pun Yuan yang mencinta Li Hwa mendapat balasan yang tidak kalah mesranya, namun dia harus binasa bersama dengan kekasihnya itu. Ada pun Yuanita, yang dia tahu jatuh cinta kepadanya, terpaksa harus menanggung penderitaan hati akibat cinta gagal.

Sebuah tangan menyentuh pundaknya. Dia menengok dan melihat Cia Keng Hong sudah berdiri di depannya dan melihat wajahnya, agaknya supek-nya ini akan bicara hal yang serius.

"Ada apakah, Supek?"

"Ada berita penting untukmu, Kun Liong. Harus kusampaikan sekarang juga sebelum kita berpisah. Aku sudah mendengar tentang ayah bundamu..." Sampai sini leher Keng Hong seperti dicekik.

Wajah Kun Liong seketika berubah. Kedukaan akibat mengingat nasib Yuanita dan Yuan tersapu bersih dan berganti harapan cerah pertemuan dengan orang tuanya yang sudah terpisah belasan tahun dengannya.

"Di mana mereka, Supek? Ahhh, girang sekali hatiku dan... ihhh, mengapa, Supek?" Dia kaget setengah mati melihat orang tua itu menitikkan air mata!

Dengan suara parau dan sukar, Keng Hong kemudian berkata, "Jangan kaget, anakku... aku mendengar dari mulut Ban-tok Coa-ong sebelum dia kutewaskan bahwa... bahwa... sahabatku Yap Cong San... dan sumoi-ku Gui Yan Cu, ayah bundamu itu..." Kembali dia berhenti dan air matanya makin deras.

"Supek!" Kun Liong menjadi pucat dan lupa diri, dia memegang lengan supek-nya dan mengguncangkan keras-keras!

"Mereka telah tewas, dibunuh oleh lima datuk kaum sesat..."

Kun Liong terhuyung ke belakang, seakan-akan supek-nya memukulnya dengan pukulan maut. Matanya terbelalak, mulutnya ternganga, kemudian dia menjerit sekuatnya yang terdengar seperti auman harimau yang akan mati, tubuhnya terguling dan cepat disambar oleh Cia Keng Hong. Kun Liong jatuh pingsan, mulutnya terkancing rapat dan matanya terbuka tanpa cahaya!

"Kun Liong... kasihan kau..." Keng Hong mendukung tubuh pingsan itu dan membawanya ke biliknya di kapal perang itu.

Panglima The Hoo memerintahkan kapal menuju ke Teluk Pohai dan mendarat, di mana telah menanti kereta kebesaran untuk membawanya kembali ke istana. Sedangkan Keng Hong, setelah merawat Kun Liong sehingga pemuda itu sadar dan menghiburnya dengan nasehat-nasehat mendalam, lalu meninggalkan tempat itu kembali ke Cin-ling-san.

Kun Liong juga segera meninggalkan tempat itu dan mulai merantau seorang diri, akan tetapi pertama-tama dia menuju ke Tai-goan untuk mencari berita tentang kematian ayah bundanya…..

********************

Kun Liong menelungkup di depan kuburan ayah bundanya sambil menangis. Semalam suntuk dia menelungkup seperti itu dan di antara tangisnya dia minta-minta pengampunan dari ayah bundanya karena dia merasa bahwa dialah yang menjadi penyebab kematian mereka.

Ia mendengar peristiwa mengerikan itu dari seorang tetangga keluarga Theng yang sudah tua hingga tahu persis apa yang telah terjadi. Seluruh rumah tangga keluarga Theng mati karena menjadi tempat pemondokan ayah bundanya. Bahkan puteri cucu Kakek Theng mati dalam keadaan telanjang bulat!

Bahkan dia mendengar bahwa orang tuanya telah mempunyai seorang anak perempuan bernama Yap In Hong yang tidak ikut menjadi korban akan tetapi tidak ada orang tahu ke mana perginya anak itu. Berita ini membuat dia merasa lebih berdosa lagi.

Dia lalu menyembahyangi kuburan empat orang anggota keluarga Theng dan setelah air matanya habis ditumpahkan semalam suntuk, pada keesokan harinya dengan muka amat pucat dan mata merah dia berdiri sejenak memandang jauh tanpa tujuan. Kemudian dia menjatuhkan diri berlutut di hadapan enam buah kuburan itu, yaitu kuburan empat orang keluarga Theng dan kuburan ayah dan ibunya, dan dengan lantang dia berkata,

"Ayah dan Ibu, empat keluarga Kakek Theng yang mulia, dengarlah sumpah saya saat ini. Tadinya saya menganggap bahwa kekerasan adalah hal buruk, perkelahian adalah tidak baik, melukai dan membunuh orang adalah perbuatan terkutuk yang amat jahat, apa pun juga alasannya! Akan tetapi, lima orang datuk kaum sesat sudah melakukan perbuatan yang paling biadab, maka saya bersumpah takkan mau berhenti sebelum dapat mencari mereka yang masih hidup dan membunuh mereka dengan tangan saya sendiri. Toat-beng Hoatsu dan Ban-tok Coa-ong telah tewas oleh Supek dan Panglima The Hoo, Siang-tok Mo-li telah tewas di tangan Kwi-eng Niocu dan kabarnya Hek-bin Thian-sin juga sudah tewas oleh Legaspi Selado dan Toat-beng Hoatsu. Jadi hanya tinggal Kwi-eng Niocu dan saya bersumpah untuk membunuhnya. Harap Ayah, Ibu dan empat keluarga kakek Theng beristirahat dengan tenang."

Setelah bersembahyang dengan hio-swa (dupa biting) sekali lagi Kun Liong meninggalkan tempat itu. Hatinya masih diliputi duka, akan tetapi ada kelegaan di hati setelah tahu akan keadaan orang tuanya. Mereka sudah tidak ada, tidak perlu ditangisi dan didukakan lagi karena percuma belaka. Dia kini menjadi yatim piatu, tiada sanak kadang, tiada tempat tinggal, bebas lepas di udara.

Namun, masih ada tugasnya yang dianggapnya amat penting, yaitu mencari seorang di antara para pembunuh orang tuanya yang sekarang masih hidup, yaitu Kwi-eng Niocu di Pulau Telaga Kwi-ouw (Telaga Setan). Dan kebetulan sekali hanya tinggal seorang itulah di antara lima orang datuk kaum sesat yang menjadi pembunuh orang tuanya, karena orang yang sudah mencuri dua buah pusaka Siauw-lim-pai juga dari Kwi-eng-pang itulah.

Dengan demikian, dia dapat bekerja sekali tepuk dua lalat. Pertama, merampas kembali dua buah pusaka Siauw-lim-pai seperti yang telah ditugaskan oleh ketuanya, kedua untuk membunuh Kwi-eng Niocu. Dia bergidik ketika teringat akan kata-kata ‘membunuh’ ini.

Selamanya dia tidak akan pernah membunuh orang dengan sengaja. Jangankan dalam perbuatan, bahkan tidak dalam pikiran karena dia membenci kekerasan dan perbuatan membunuh dianggapnya merupakan perbuatan sesat yang paling jahat dan terkutuk, apa pun alasan pembunuhan ini. Bahkan dengan alasan membalas dendam kematian orang tua pun tidak mengurangi pendirian tentang itu.

Akan tetapi, hatinya terlalu berduka, luka itu terlalu mendalam sehingga dia mengucapkan sumpah di depan kuburan orang tuanya dan sebagai seorang jantan, dia harus memenuhi sumpahnya itu, biar pun hal ini berlawanan dengan isi hatinya…..

********************

Pada suatu hari tibalah dia di sebuah dusun. Perutnya terasa lapar bukan main, maka dia memasuki sebuah warung nasi yang sederhana dan sunyi tidak ada tamunya. Dia duduk di atas bangku panjang menghadapi meja, dan karena tidak ada seorang pun di dalam warung yang terpencil di ujung dusun itu, ia mengetuk-ngetuk meja dengan jari tangannya sambil berteriak,

"Haiii, ada orangnyakah di sini?!"

Sampai beberapa kali dia mengetuk dan pendengarannya yang tajam itu bisa menangkap gerakan di sebelah dalam rumah makan itu, gerakan perlahan seolah-olah mereka tengah mengintai dan mengawasinya. Tidak lama kemudian sesudah dia mengetuk-ngetuk meja untuk ke tiga kalinya, muncullah seorang lelaki yang tubuhnya berbentuk lucu dan aneh.

Laki-laki ini sudah tua, sedikitnya tentu lima puluh tahun usianya, tubuhnya tinggi sekali, tinggi dan kurus kering, lehernya kecil seperti leher burung dan kepalanya botak sehingga dahinya kelihatan amat lebar. Sambil membungkuk-bungkuk orang itu menghampiri Kun Liong dan bertanya,

"Tuan Muda hendak memesan apakah?"

Kun Liong yang merasa amat lapar dan haus, juga lelah, menyebutkan bermacam-macam makanan yang disukainya, "Nasi, capjai, tim ayam dan udang goreng berikut seguci arak yang manis."

Akan tetapi alangkah mendongkolnya ketika setiap kali dia menyebutkan nama masakan yang dipesannya, leher kecil itu bergerak ke kanan kiri seperti akan patah dan mulut yang bibirnya tebal itu menjawab, "Tidak ada, tidak ada, tidak ada, Tuan Muda datang terlalu pagi, kami belum siap. Yang ada hanyalah bakmi, arak tua, dan bakpauw."

"Ya sudahlah, bakmi dan bakpauw pun boleh, arak tua juga lumayan, pokoknya asal perutku bisa kenyang."

Dengan terbongkok-bongkok dan agak pincang, kakek itu kemudian masuk lagi ke dalam meninggalkan Kun Liong duduk seorang diri. Kembali dia mendongkol bukan main. Kalau semua pesanannya ada, mungkin untuk memasaknya orang membutuhkan waktu yang agak lama. Akan tetapi kalau hanya bakmi, memasak sebentar pun jadilah, dan bakpauw paling-paling hanya menghangatkan saja. Akan tetapi, sudah setengah jam dia menanti, namun belum ada satu pun pesanannya yang datang.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner