PETUALANG ASMARA : JILID-37


Di dalam hatinya, dara itu merasa gentar juga oleh karena selama ini belum pernah dia melawan harimau. Akan tetapi karena maklum bahwa kalau dia tidak turun tangan tentu laki-laki itu akan menjadi korban harimau, dia sudah bersiap dan meloloskan sapu tangan yang biasanya diselipkan di antara kancing bajunya.

Dengan gerakan hati-hati Hong Ing memutar-mutar sapu tangannya sehingga ujungnya menjadi sebuah cambuk, dan matanya tidak pernah berkedip menentang pandang mata harimau itu. Ada pun laki-laki yang masih rebah itu hampir tidak percaya akan pandangan matanya sendiri, bahkan dia kini sudah berhasil menarik kakinya dari tubuh kudanya yang sekarat, lalu bekata,

"Awas Nona.... harap lekas menyingkir...!"

Ucapan ini memperkuat keputusan Hong Ing untuk menolong laki-laki itu. Seorang yang terancam bahaya maut seperti lelaki itu akan tetapi masih ingat untuk mengkhawatirkan keselamatan orang lain, tentulah seorang yang baik budi dan patut ditolong.

Akan tetapi ucapan laki-laki itu seakan-akan menjadi aba-aba bagi sang harimau yang sudah menggereng keras dan meloncat tinggi menubruk ke arah Hong Ing dengan mulut terbuka lebar dan kedua kaki depan siap mencakar dan merobek-robek kulit daging lunak halus dari dara itu!

"Celaka...!" Laki-laki itu berseru dan kini dia sudah mencabut pedangnya, akan tetapi baru saja melangkah setindak, dia hampir terjatuh karena ternyata kakinya yang terhimpit kuda tadi terkilir.

Akan tetapi, laki-laki itu terbelalak dan memandang dengan mata penuh kagum melihat betapa dengan ringan dan cepat dara itu sudah meloncat ke kiri dan ketika tubuh harimau besar itu lewat, dia melihat dara itu mengebutkan sehelai sapu tangan sutera putih yang mengeluarkan bunyi meledak nyaring dan harimau itu terjungkal dan menggereng-gereng, akan tetapi matanya tinggal yang sebelah kiri saja karena mata kanannya sudah hancur dan bercucuran darah!

Karena nyeri dan marah, harimau itu mengaum dan sekali lagi meloncat dengan dahsyat sekali menubruk si dara muda dan sekarang laki-laki itu lebih bengong lagi melihat betapa dara itu pun segera meloncat menyambut terkaman si harimau, sapu tangannya kembali meledak, kakinya menendang di udara sehingga tubuh harimau itu terlempar sampai tiga meter, jatuh terbanting dan mata kirinya juga sudah hancur.

Harimau itu menggereng-gereng, kemudian seperti gila menubruk sana-sini, lari sana-sini akhirnya kepalanya menumbuk sebuah batu karang besar, pecah dan roboh berkelojotan, kemudian tak bergerak lagi!

Laki-laki itu sejenak tak dapat berkata-kata, hanya memandang ke arah bangkai harimau, lalu menghampiri Hong Ing yang sedang menyeka keringatnya dengan sapu tangannya. Bagaimana pun juga, tadi dia harus mengerahkan seluruh tenaga dan kegesitannya untuk mengalahkan binatang yang kuat dan galak itu.

Laki-laki itu seperti merasa berada dalam mimpi. Hampir dia tidak dapat percaya, apa lagi setelah kini berhadapan dekat dengan dara itu. Seorang dara yang usianya baru belasan tahun, tujuh belas tahun, mampu membunuh harimau dengan cara sedemikian aneh dan mudah, hanya bersenjata sehelai sapu tangan yang kini dipakai menghapus keringat yang membasahi leher! Bukan main!

"Nona..." Laki-laki itu menjura. "Nona sudah menolong nyawaku dan aku tidak mungkin diam saja. Nona, ketahuilah bahwa aku adalah Pangeran Han Wi Ong dari kota raja. Aku sedang berburu, akan tetapi tersesat dan terpisah dari para pengawal sampai di tempat ini. Ketika tadi harimau muncul, kudaku terpeleset dan diterkam, kemudian... ah, aku tentu telah menjadi makanan harimau kalau Nona tidak datang menolong."

Diam-diam Hong Ing terkejut, sama sekali tidak menduga bahwa orang yang ditolongnya adalah seorang pangeran dari kota raja! Putera Kaisar! Akan tetapi karena dia selamanya tinggal di gunung dan tidak mengenal tata susila cara bangsawan, dia hanya membalas penghormatan dengan mengangkat kedua tangan depan dada, lalu menjawab,

"Harap Pangeran tidak bersikap berlebihan. Sudah menjadi kebiasaan tiap manusia untuk saling menolong apa bila melihat orang terancam bahaya. Nah, bahaya sudah lewat, saya mohon diri, Pangeran."

Hong Ing sudah membalikkan tubuhnya, namun laki-laki yang gagah tampan, dan usianya kurang lebih empat puluh tahun, berpakaian indah sekali itu berseru, "Tahan dulu, Nona. Setidaknya harap Nona sudi memperkenalkan nama dan di mana tempat tinggal Nona. Kalau tidak, selamanya aku akan merasa menyesal dan merasa berdosa tidak mengenal nama penolongku yang telah menyelamatkan nyawaku."

Oleh karena sikap pangeran itu sopan dan tutur sapanya halus, Hong Ing menjawab terus terang, "Namaku Pek Hong Ing, dan aku tinggal bersama guruku, Go-bi Sin-kouw, dan suci-ku di puncak sana itu." Setelah berkata demikian, dara itu berkelebat dan lenyap dari depan Pangeran Han Wi Ong.

Pangeran itu semakin kagum. Sejenak dia terpesona dan kemudian dia menarik napas panjang dan berkata seorang diri, "Dialah yang patut mendampingi aku selama hidupku. Cantik jelita, muda, jujur, dan memiliki ilmu kepandaian yang dapat menjadi pelindungku selamanya! Go-bi Sin-kouw...? Hemm, harus kupinang dia!"

Demikianlah, pada keesokan harinya, Pengeran itu bersama dengan rombongan pasukan pengawalnya sudah mendatangi pondok Go-bi Sin-kouw, lalu dengan jujur dan langsung karena dia pun terkenal jujur dan terang-terangan, mengajukan pinangan terhadap Hong Ing untuk dijadikan isterinya!

"Hendaknya Sin-kouw yakin bahwa saya hendak mengambil Nona Pek Hong Ing sebagai isteri sah, bukan sebagai selir dan pernikahan antara kami akan dirayakan besar-besaran di istanaku. Andai kata kelak saya mempunyai keberuntungan menjadi kaisar, dia pasti menjadi permaisuriku!"

Tentu saja hati nenek itu menjadi bangga bukan main. Serta merta dia segera menerima pinangan itu, karena bukankah dia yang berhak penuh atas diri murid-muridnya? Hong Ing sudah yatim piatu dan semenjak kecil dididiknya, maka dengan berani dia menerima pinangan, bahkan menerima tanda ikatan jodoh berupa pedang bergagang mutiara dan emas, dan juga menerima ketentuan bahwa sebulan lagi Sang Pangeran akan mengirim pasukan untuk menjemput isterinya!

"Demikianlah, Kun Liong," kata Hong Ing melanjutkan ceritanya dan suaranya kini tergetar penuh kedukaan hati yang ditahan-tahan, "kau dapat membayangkan betapa hancurnya hatiku. Oleh Subo aku dianggap seperti seekor binatang saja, begitu mudah dijodohkan, atau sebuah benda yang mudah saja dihadiahkan kepada seorang pria. Memang harus kuakui bahwa Pangeran Han Wi Ong adalah seorang laki-laki yang gagah, baik dan juga berkedudukan tinggi. Akan tetapi usianya sudah empat puluhan tahun, dan sepantasnya menjadi ayahku, mana aku bisa senang menjadi isterinya? Aku menangis dan menolak, akan tetapi Subo adalah seorang yang berkemauan baja dan dia lebih baik melihat aku mati di hadapan kakinya dari pada melihat aku menolak sehingga dia harus membatalkan perjanjiannya dengan seorang pangeran. Apa lagi karena sudah belasan kali aku menolak pinangan orang, maka Subo menjadi marah dan memaksa aku dengan ancaman mati. Aku sudah putus harapan dan malam itu aku sudah menggantung diri, hendak membunuh diri..."

"Hong Ing...!" Kun Liong terkejut sekali dan tak terasa lagi dia memegang lengan dara itu, mukanya menjadi pucat.

Hong Ing tersenyum pahit menyaksikan sikap pemuda gundul itu.

"Agaknya baru sekaranglah aku bertemu dengan orang sebaik engkau, Kun Liong, yang demikian memperhatikan nasib diriku. Aku ditolong oleh Suci yang menurunkan aku dari gantungan, menangisi aku dan menghiburku. Dia mengingatkan aku bahwa kami berdua sudah berhutang budi kepada Subo dan sudah sepatutnyalah kalau aku membalas budi Subo dengan mentaati perintahnya. Pula, demikian kata Suci, bukankah aku menjadi istri seorang pangeran dan bahkan besar kemungkinan kelak menjadi permaisuri? Kalau aku membunuh diri, berarti aku menghina Subo dan nama Subo tentu akan tercemar terhadap keluarga kaisar, mungkin akan dianggap sebagai pemberontak."

"Hemmm, nasibmu sungguh buruk, Hong Ing. Lalu… bagaimana engkau sampai menjadi nikouw?"

"Akhirnya aku mengambil keputusan untuk melarikan diri dari puncak Go-bi-san. Aku lari pada malam hari dan terus melarikan diri sampai akhirnya aku tiba di Kuil Kwan-im-bio itu, di mana tinggal belasan orang nikouw dikepalai oleh seorang nikouw tua yang saleh. Aku menghadap kepada Biauw Kwi Nikouw, ketua kuil itu, dan minta supaya diterima menjadi nikouw. Kupikir bahwa ke mana pun aku pergi, tentu Subo dan Suci akan dapat mencari dan memaksaku. Akan tetapi setelah aku menjadi nikouw, kiranya mereka takkan berani mengganggu seorang yang sudah memilih hidup suci. Agar dapat membebaskan diri dari pernikahan yang tidak kusuka itu, aku rela mengorbankan hidupku menjadi nikouw, walau pun di dalam hatiku sungguh mati aku tidak berniat menjadi seorang pendeta."

Kun Liong mengangguk-angguk dan hanya di dalam hatinya dia berkata bahwa memang amat tidak patut dan terlalu amat sayang sekali seorang dara berusia tujuh belas secantik Hong Ing ini harus menjadi nikouw gundul yang selama hidupnya tidak berurusan dengan dunia!

"Mula-mula Biauw Kwi Nikouw menolak dan aku sudah hampir putus harapan..."

"Aihhh, mengapa menolak orang hendak menjadi nikouw dengan suka rela?" tanya Kun Liong terheran.

Hong Ing melanjutkan penuturan pengalamannya. Pada waktu dia menghadap Biauw Kwi Nikouw untuk diperkenankan menjadi nikouw, nikouw tua itu berkata,

"Nona, engkau masih muda dan cantik sekali. Apa bila engkau menjadi nikouw di sini, berarti engkau akan mencari mala petaka dan kami pun terkena getahnya. Tidak, kami tidak berani menerimamu menjadi nikouw di sini, Nona."

"Mengapa, Subo? Apa yang telah terjadi?"

"Sudah ada tiga orang muridku, nikouw-nikouw muda, mati menggantung diri dalam waktu sepekan ini."

Hong Ing terkejut. "Mati menggantung diri? Mengapa?"

"Karena mereka tidak sudi lagi hidup di dunia setelah mereka tercemar."

"Tercemar?"

"Ya, diperkosa seorang laki-laki, omitohud..."

Hong Ing meloncat bangun. "Laki-laki mana yang berani memperkosa nikouw?"

"Ah, kami tidak tahu bagaimana terjadinya, akan tetapi selama sepekan, berturut-turut tiga orang nikouw muda diculik dari kamarnya, dibawa ke hutan kemudian diperkosa. Pada keesokan harinya, mereka itu satu per satu menggantung diri sampai mati. Nah, dengan adanya peristiwa ini, apakah Nona masih tetap ingin menjadi nikouw di sini dan terancam bahaya?"

"Aku tetap ingin menjadi nikouw, dan harap Subo jangan khawatir. Aku akan menangkap dan menghajar binatang busuk itu!"

Demikianlah, karena desakan Hong Ing, akhirnya dara ini digunduli rambutnya, lalu diberi pakaian nikouw dan menjalankan upacara sembahyang untuk menjadi nikouw, disaksikan oleh belasan orang nikouw yang menjadi murid Biauw Kwi Nikouw. Hong Ing menangis tersedu-sedu, akan tetapi bagaimana pun juga, kepalanya sudah menjadi gundul licin dan ditutupi dengan penutup kepala berwarna putih.

Malam hari itu, sengaja Hong Ing keluar seorang diri dan berjalan-jalan di sekeliling kuil untuk menjadikan dirinya sebagai ‘umpan’ memancing kedatangan laki-laki terkutuk yang sudah memperkosa tiga nikouw dan menyebabkan mereka membunuh diri. Para nikouw lain yang maklum akan usaha nikouw baru ini, mengintai dari tempat aman dengan hati berdebar tegang.

Tiba-tiba saja tampak sesosok bayangan orang yang tinggi besar dan begitu tiba di depan Hong Ing, dara ini merasa terkejut dan jijik sekali. Laki-laki itu tinggi besar, usianya sudah lima puluh tahunan, rambut, jenggot serta kumisnya riap-riapan menakutkan, kotor sekali, matanya lebar dan dia terkekeh memandang kepada Hong Ing sambil berkata,

"Ha-ha-heh-heh, nikouw muda baru ya? Wah, cantiknya, wah, malam ini aku benar-benar untung besar! Orang secantik engkau ini sedikitnya harus kupeluk selama sebulan, kalau perlu selamanya, ha-ha-ha!"

Hong Ing sudah meloncat. Sekali tangannya menampar dan…

"Plak-plak-plak!" terdengar suara keras sekali.

Tubuh laki-laki itu langsung terpelanting. Akan tetapi ternyata dia kuat juga, karena sudah dapat bangun kembali, matanya makin terbelalak lebar.

"Ho-ho-ho, jadi kau memiliki sedikit kepandaian? Bagus, lebih menarik lagi!"

Terjadilah pertandingan, namun sebentar saja laki-laki itu terdesak hebat dan beberapa kali terkena pukulan tangan Hong Ing. Biar pun tubuhnya kebal, namun pukulan Hong Ing bukan tidak keras dan mendatangkan rasa yang cukup nyeri, maka akhirnya laki-laki itu melarikan diri.

"Binatang terkutuk, hendak lari ke mana kau?!" Hong Ing membentak lalu mengejar.

Para nikouw lainnya yang menyaksikan betapa nikouw muda baru itu betul-betul lihai dan berhasil mengalahkan laki-laki cabul yang seperti orang gila itu, langsung turut mengejar pula!

Mereka masih sempat melihat betapa Hong Ing sudah dapat menyusul laki-laki itu, lantas menghajar laki-laki itu sampai jatuh bangun. Laki-laki itu marah, tiba-tiba menggereng dan dengan kedua lengannya laki-laki itu mengangkat sebuah batu besar sekali dan hendak menimpakan batu itu kepada Hong Ing.

"Aihhh...!" Dua orang nikouw lain yang lebih dulu datang di tempat itu menjerit ngeri.

Akan tetapi Hong Ing segera meloncat ke depan, menerima batu itu dan mengerahkan sinkang-nya mendorong sehingga kini justru lelaki itulah yang tertindih batu dan tergencet oleh batu besar itu. Terdengarlah suara orang berteriak mengerikan dan ketika Hong Ing melepaskan batu itu, ternyata lelaki itu telah hancur dan gepeng terhimpit batu, tubuhnya bersandar pada batu gunung. Dada dan kepalanya pecah hingga darah muncrat-muncrat membasahi tempat di sekelilingnya!

"Omitohud...!" Para nikouw berseru ketika menyaksikan ini.

Biauw Kwi Nikouw lalu memerintahkan murid-muridnya untuk mengubur mayat yang amat mengerikan itu, dan semenjak saat itu, Hong Ing dianggap sebagai seorang nikouw yang memiliki ilmu kepandaian tinggi sekali, bahkan Biauw Kwi Nikouw sendiri berikap manis dan kagum sekali kepadanya.

"Demikianlah, Kun Liong." Hong Ing menutup penuturannya, "semenjak hari itu pula aku menjadi nikouw di Kwan-im-bio dan aku melatih mereka ilmu silat. Tentu saja aku tidak mau diangkat menjadi guru mereka, maka mereka semua, kecuali ketua kuil, menyebutku Toa-suci (Kakak Seperguruan Tertua)."

Kun Liong makin terharu. Sungguh malang sekali nasib dara ini. Patut dikasihani dan dia sendiri merasa menyesal bahwa dia pernah menggoda dara yang sepatutnya dilindungi dan dibela ini.

"Ahh, kasihan sekali engkau, Hong Ing. Tak kukira orang seperti engkau ini dapat dilanda kesengsaraan hidup seperti itu. Dan dahulu, mengapa engkau sampai dapat terluka oleh jarum merah milik Ouwyang Bouw?"

"Ahh, sebetulnya soalnya sepele saja, akan tetapi dasar kami yang tidak mengenal orang pandai. Pada hari itu, kuil kami kedatangan seorang kakek aneh dan seorang pemuda. Karena hari telah malam sedangkan mereka minta menginap, tentu saja Subo tidak dapat menerima mereka, mengatakan bahwa Kuil Kwan-im-bio adalah kuil para nikouw maka merupakan pantangan besar untuk menerima pria sebagai tamu bermalam di kuil."

"Hemmm, orang-orang semacam Ban-tok Coa-ong dan anaknya yang gila itu mana mau mengerti," kata Kun Liong.

"Memang demikianlah. Ban-tok Coa-ong memaki Biauw Kwi Nikouw sebagai nenek gila cerewet yang bosan hidup dan sekali tangannya menampar, Biauw Kwi Nikouw terguling roboh dengan kepala pecah dan tewas seketika! Para nikouw lainnya menjadi marah dan menyerbu, karena mereka itu sedikit banyak sudah belajar silat kepadaku. Akan tetapi, hanya dengan dorongan-dorongan jarak jauh, semua nikouw terpelanting dan tidak dapat bangkit kembali karena sudah mengalami luka dalam. Aku sendiri menubruk Biauw Kwi Nikouw dan pada saat itu pula dari belakang Ouwyang Bouw menyerangku dengan jarum merah. Aku tidak dapat mengelaknya dan aku roboh pingsan. Mereka ayah dan anak iblis itu pergi sambil tertawa-tawa dan selebihnya kau mengetahui sendiri. Aku minta supaya dibawa ke seorang ahli obat di kota, dan ketika berada di joli kebetulan sekali berjumpa denganmu dan engkau telah menyelamatkan nyawaku."

"Aihhh... sungguh kau telah mengalami banyak hal yang amat sengsara, Hong Ing. Hanya aku menyesal sekali mengapa engkau mengambil jalan pendek menjadi nikouw."

"Tidak ada jalan lain. Untuk membunuh diri aku... aku tidak berani..."

"Jangan!" Kun Liong setengah berteriak. "Perbuatan itu adalah perbuatan paling rendah dan pengecut di dunia ini. Sekarang engkau tidak perlu takut lagi. Setelah engkau menjadi nikouw, apa yang dapat dilakukan oleh suci-mu dan gurumu? Apakah mereka masih bisa memaksamu? Pula, kalau pangeran tua mata keranjang itu melihat kau sudah menjadi nikouw, apakah dia hendak memaksa memperisteri seorang nikouw?"

Melihat sikap Kun Liong yang marah-marah ini, terharulah hati Hong Ing karena hal ini membuktikan betapa besar perhatian pemuda ini kepada nasib dirinya.

"Ahh, kau tidak mengenal guruku, Kun Liong. Dia adalah orang yang berhati keras seperti baja dan semua kehendaknya harus terlaksana. Apa sukarnya memaksa aku memelihara rambut lagi dan memaksaku menikah? Sudahlah, serahkan hal itu kepadaku. Kau tidak perlu ikut berduka dan bingung, Kun Liong. Engkau sudah terlampau baik kepadaku dan percayalah, sampai mati pun aku tidak akan dapat melupakan kebaikanmu. Lihat, itu Suci mendatangi kuil, apa bila aku tidak lekas menemuinya, tentu para nikouw akan terancam bahaya. Kalau sudah marah, Suci seperti Subo saja, keras dan ganas. Kau pergilah, Kun Liong, pergilah, selamat berpisah, sahabat dan penolongku yang baik!"

Hong Ing menyentuh lengan Kun Liong, kemudian terisak dia meloncat dan lari ke arah kuil di mana tadi bayangan Kim In telah masuk lebih dahulu.

Hati Kun Liong bagaikan diremas-remas rasanya. Entah mengapa, dia merasa kasihan sekali terhadap Hong Ing dan mengambil keputusan untuk membela dara itu dari segala bahaya. Dengan pikiran ini, dia lalu melompat dan menyelinap, menghampiri kuil itu dari samping dan melakukan pengintaian. Dengan jantung berdebar Kun Liong melihat Hong Ing berdiri dengan kepala tunduk berhadapan dengan suci-nya, Lauw Kim In yang galak itu.

Kim In sudah memegang pedangnya dan dengan suara kereng berkata, "Pek Hong Ing, aku mewakili Subo Go-bi Sin-kouw memerintahkan engkau untuk berlutut!"

Hong Ing menarik napas panjang dan dia benar-benar menjatuhkan diri berlutut di depan suci-nya yang galak itu.

"Pek Hong Ing, sebagai murid engkau sudah murtad, melanggar perintah guru dan pergi tanpa pamit. Untuk semua kejadian itu Subo masih bisa mempertimbangkannya asal saja engkau ikut bersamaku ke puncak Go-bi-san. Kalau tidak, sekarang juga akan kupenggal kepalamu dan akan kubawa kepalamu kepada Subo seperti yang diperintahkan Subo!"

Mendengar ucapan itu, belasan orang nikouw yang berada di sana dan yang menonton dengan muka marah itu menjadi makin marah. "Dari mana datangnya perempuan jahat yang menghina Toa-suci?" Mereka itu lalu menyerbu dan mengeroyok Kim In.

"Para sumoi... jangan...!" Hong Ing berteriak, namun cegahannya terlambat, tubuh Kim In melesat ke sana sini dan dalam segebrakan saja belasan orang nikouw itu sudah roboh semua dan mengaduh-aduh terkena pukulan dan tendangan kaki Kim In.

"Hemm, kalau aku tidak ingat bahwa kalian semua adalah pendeta, apakah kalian dapat mengharapkan untuk dapat hidup?" Kim In berkata, sikapnya dingin sekali.

Para nikouw yang hendak membela Hong Ing itu sudah bangun lagi dan mereka mulai mencari senjata. Akan tetapi Hong Ing melompat dan mengangkat kedua tangan ke atas. "Para sumoi kuperintahkan agar jangan melawan! Biarkan aku pergi bersama dia, dia ini adalah suci-ku!" Kemudian dia menoleh kepada Kim In sambil berkata, "Saya menurut kehendak Suci dan ikut bersamamu menghadap Subo, akan tetapi baik engkau mau pun Subo jangan mengharap akan dapat memaksaku menikah setelah aku sekarang menjadi nikouw."

"Sumoi, kau tahu betapa semenjak dulu aku menganggapmu sebagai adik sendiri. Akan tetapi, betapa pun juga kita tidak bisa menentang Subo."

Ucapan ini membuat Hong Ing amat terharu. Dia teringat bahwa dahulu suci-nya ini yang mencegahnya membunuh diri dan tahu pula bahwa andai kata suci-nya itu membantunya lari, tetap saja mereka berdua tak akan dapat terlepas dari pengejaran subo mereka yang memiliki kepandaian seperti dewi!

Maka berangkatlah dua orang sumoi dan suci ini meninggalkan Kuil Kwan-im-bio, diiringi tangis para nikouw yang dapat menduga bahwa toa-suci mereka yang juga guru mereka yang mereka sayang itu tentu sedang menghadapi mala petaka yang besar dan mereka sama sekali tidak berdaya untuk menolongnya.

Kim In dan Hong Ing melakukan perjalanan cepat sekali karena keduanya menggunakan ilmu berlari cepat. Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah hutan besar yang amat sunyi. Tiba-tiba keduanya berhenti karena tahu-tahu ada bayangan orang meloncat turun dari atas pohon besar di depan mereka. Ketika keduanya memandang ternyata orang itu bukan lain adalah Yap Kun Liong yang berdiri dengan tenang namun dengan kedua alis dikerutkan dan wajah serius sekali, berbeda dari biasanya yang selalu berseri gembira.

"Kun Liong...! Apa yang akan kau lakukan di sini?" Hong Ing berseru kaget sekali.

"Hemm, hwesio cabul apakah kau berani menghadang kami?" Kim In memaki dan sudah mencabut lagi pedangnya.

Kun Liong menggelengkan kepalanya yang gundul. "Nona Ing, betapa lemahnya engkau, menurut saja kepada kehendak orang lain yang hendak mencelakakanmu. Dan engkau, Nona. Apakah engkau demikian kejam hendak mencelakakan sumoi sendiri? Ke mana peri kemanusiaanmu?"

"Jangan mencampuri urusan kami!" Kim In membentak.

"Kun Liong... aku tahu maksudmu baik, tapi... tapi ahhh, pergilah, jangan membikin aku lebih susah dan bingung...!" Hong Ing memohon.

"Tidak! Sebelum aku bicara, aku tidak akan membiarkan kau dipaksa pergi oleh siapa pun juga!" Dia memandang kepada Kim In, pandang matanya berkilat hingga gadis itu terkejut juga.

"Nona, kau salah sangka. Aku bukanlah hwesio, juga tidak melakukan perbuatan busuk dengan sumoi-mu. Kami adalah dua orang sahabat yang kebetulan saja saling bertemu dan saling menolong dari bahaya, dan hanya orang-orang berpikiran kotor saja yang akan menyangka yang bukan-bukan! Sumoi-mu ini telah menjadi nikouw, berarti telah menjadi seorang suci yang tidak mau lagi berhubungan dengan dunia ramai. Mengapa sekarang dipaksa hendak dibawa dan dikawinkan? Aturan mana ini? Lagi pula, andai kata dia tidak menjadi nikouw, juga amat tidak patut kalau memaksa seorang dara seperti dia menikah di luar kehendaknya. Apakah dia itu seekor kucing atau anjing maka boleh dikawinkan begitu saja menurut selera dan pilihan orang lain? Apakah dia itu sebuah benda yang diperjual belikan, dan karena yang membeli ialah seorang pangeran kaya lalu diserahkan begitu saja meski pun dia tidak sudi menjadi isteri seorang tua bangka? Kau dan gurumu yang berjuluk Go-bi Sin-kouw itu sungguh tidak berperi kemanusiaan dan kejam, sungguh kejam!"

"Keparat, jahanam, tutup mulutmu!" Kim in sudah tak dapat menahan kemarahannya lagi dan pedangnya sudah berkelbat menyerang dengan serbuan ganas dan dahsyat sekali.

Akan tetapi dengan mudah Kun Liong sudah mengelak dan pemuda ini sudah siap untuk melawan. Dia akan merobohkan gadis ini tanpa melukainya agar mendapat kesempatan untuk mengajak lari Hong Ing. Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat Hong Ing menggerakkan sapu tangannya menyambar dan menyerangnya.

"Tarrr...!"

Ujung sapu tangan menghantam kepala gundulnya dan dia sengaja tidak mau menangkis karena dia merasa heran sekali. Bagaikan disengat lebah, bagian kepala yang dihantam ujung sapu tangan tadi tampak menjendol dan berwarna merah. Hal ini karena Kun Liong sengaja membiarkan kepalanya dihantam, hanya gerakan otomatis dari sinkang-nya saja yang melindungi sebelah dalam kepala. Akan tetapi kulitnya tidak kebal sehingga kepala di bagian itu menjendol sebesar telur ayam.

"Hong Ing...," dia mengeluh.

Hong Ing berdiri dengan wajah pucat. "Sudah kukatakan, pergilah... jangan membikin aku lebih susah lagi, Kun Liong. Engkau tidak akan menang melawan dan kalau sampai Suci membunuhmu, aku... lebih berat lagi untuk mentaatinya. Pergilah, aku tahu niatmu baik dan maafkan seranganku tadi, Kun Liong."

"Bagaimana... kalau... kalau mereka memaksamu menikah?" Kun Liong masih bertanya ketika kedua orang gadis itu sudah berjalan pergi lagi.

Tanpa menengok Hong Ing menjawab, "Sebenarnya mudah saja membebaskan diri dari segala keruwetan dunia ini!"

Kun Liong masih berdiri pucat sesudah bayangan dua orang gadis itu tidak tampak lagi. Ucapan Hong Ing itu hanya mempunyai satu arti saja, yaitu bunuh diri! Kematian memang menjadi jalan yang paling mudah untuk membebaskan diri dari segala macam keruwetan dunia.

"Nona Ing...!" Dia mengeluh dan menghapus dua bintik air matanya dan dia kaget sendiri. Apa artinya ini? Mengapa dia merasa begini sengsara, merasa begini kesepian setelah Hong Ing pergi? Ahh, apakah aku telah gila? pikirnya.

Dia membalikkan tubuh, lalu berlari-lari cepat sekali menuju ke Kwi-eng-pang, berusaha untuk mengusir bayangan Hong Ing yang selalu mengganggu otaknya. Betapa pun juga, masih saja wajah cantik jelita penuh kelembutan, mata yang bening dan sedalam lautan, sikap halus penuh pengertian itu selalu terbayang di depan matanya sampai kadang kala Kun Liong berhenti berlari, mengusap mukanya, mengeluh, baru berlari lagi secepatnya.

Dengan bantuan peta yang dulu dibuatkan oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong untuknya, Kun Liong dapat menyeberangi Telaga Setan. Dia dapat menemukan sebuah perahu kecil di dalam semak-semak di tepi telaga, kemudian dengan mengambil cara memutar sesuai dengan petunjuk di peta, dia mendayung dan menyeberangi Kwi-ouw menuju ke pulau di tengah telaga itu.

Sesuai dengan petunjuk di dalam peta itu, dia menyeberangi Kwi-ouw pada waktu malam terang bulan dan mengemudikan perahunya melalui bagian-bagian tertentu, menyelusup gerombolan alang-alang, melintasi bawah sebuah jembatan yang menjulur ke telaga, lalu melewati semacam pintu dari dinding batu karang dan akhirnya dia dapat mendarat di tepi pulau sebelah timur, bagian yang tebingnya amat terjal dan terdiri dari batu karang yang amat kuat berwarna hitam kemerahan.

Dia mempergunakan tali yang berada di perahu untuk mencancang perahunya pada batu karang, kemudian dia mengaso dan tertidur di atas perahu kecil, dibuai ombak sehingga tidurnya enak sekali. Dalam tidur itu dia bermimpi dia bertemu dengan Hong Ing, melihat Hong Ing menjadi pengantin dan diarak dengan joli, akan tetapi di tengah jalan dara itu menangis dan dia lalu mengobatinya seperti dulu, hanya melihat sebagian pinggul gadis itu saja!

Dia terbangun dan di ufuk timur telah tampak sinar kemerahan dari matahari yang belum muncul. Tertawa sendiri dia mengingat akan mimpinya. Mengapa pinggul itu tidak pernah dapat dia lupakan?

Mulailah Kun Liong mendaki batu karang, dibantu dengan alat yang sudah disediakannya sebelumnya sesuai dengan petunjuk Cia Keng Hong, yaitu dua betang besi kaitan. Meski pun dia seorang ahli sinkang yang kuat dan dapat merayap ke atas dinding seperti seekor cecak, akan tetapi mendaki tebing itu merupakan perbuatan berbahaya sekali dan tanpa dibantu oleh dua buah kaitan itu sama halnya bermain-main dengan maut, karena tebing itu selain curam, juga licinnya bukan main penuh dengan lumut yang tercipta dari air yang tersinar panasnya matahari.

Akhirnya dengan perasaan lega dia dapat mencapai puncak tebing, lalu melempar kedua kaitannya di atas batu dan mulailah dia berloncatan menuju ke tengah pulau. Ini pun dia lakukan dengan hati-hati, dengan perhitungan ke kanan kiri, mengatur sambil menghitung langkahnya sebab tempat ini pun tidak terluput penuh dengan jebakan-jebakan yang amat berbahaya.

Dia sudah menghafalkan lebih dulu petunjuk dalam peta, maka dengan enaknya dia dapat berloncatan dengan selamat hingga akhirnya dia sampai di depan pondok terbesar yang menjadi tempat tinggal Kwi-eng Niocu, Ketua Kwi-eng-pang. Dia masih ingat tempat ini dan tersenyum pada saat teringat betapa dia pernah ditangkap oleh para pelayan seperti orang-orang menangkap ikan saja.

Peta itu dia butuhkan hanya untuk menunjukkan jalan baginya. Sesudah sampai di depan pondok musuhnya ini dia tidak perlu lagi bersikap sembunyi-sembunyi. Dia menggunakan peta hanya agar dapat bertemu dengan Kwi-eng Niocu. Ia datang bukan sebagai pencuri, perlu apa sembunyi-sembunyi? Maka Kun Liong berdiri dengan tegak di depan pondok itu, mengangkat dada sambil mengerahkan khikang-nya berteriak nyaring sekali, "Kwi-eng Niocu...! Keluarlah, ini aku Yap Kun Liong ingin bertemu denganmu untuk bicara...!"

Pulau itu langsung geger karena suara Kun Liong bergema dahsyat sampai ke seluruh permukaan pulau. Para petugas yang menjaga di sekitar pondok, yang tadinya tertidur karena memang tidak menyangka akan ada sesuatu, serentak bangun, cepat menyambar senjata dan berlari-larian datang mengurung Kun Liong.

Akan tetapi pemuda ini tenang-tenang saja dan ketika seorang di antara mereka, seorang komandan penjaga menodongkan tombaknya di depan dadanya sambil membentak agar dia menyerah, Kun Liong menggerakkan tangan dan tombak itu pun sudah berpindah ke tangannya, kemudian tombak itu dipatah-patahkan seperti mematah-matahkan sebatang biting (lidi) saja! Semua penjaga menjadi bengong dan Kun Liong berkata,

"Aku tidak berurusan dengan kalian. Aku mau bicara dengan ketua kalian Kwi-eng Niocu!"

Karena melihat pemuda itu sedemikian lihainya dan benar saja tidak bergerak apa-apa, mereka lalu mundur dan mengurung dengan membuat lingkaran lebar sambil menunggu datangnya ketua mereka untuk menerima perintah.

Tidak lama kemudian, dari dalam pondok itu terdengar suara pintu pondok terbuka dan muncullah tiga orang dengan sikap garang. Seorang wanita setengah tua yang sikapnya agung berdiri di tengah.

Wanita ini usianya sudah enam puluh tahun, akan tetapi pantasnya dan kelihatannya baru kurang dari empat puluh tahun. Tubuhnya masih ramping dan gerakannya masih lemah gemulai ketika melangkah menuruni anak tangga di depan pondoknya.

Di sebelah kirinya tampak seorang pemuda tampan tinggi besar yang selain tampan juga gagah sikapnya, pakaiannya indah dan mewah. Tentu itulah putera angkat Kwi-eng Niocu yang kabarnya bernama Liong Bu Kong, tinggi kepandaiannya dan yang diduga oleh Kun Liong sebagai pemimpin para pencuri di Siauw-lim-pai.

Dan di sebelah kanan wanita itu berjalan seorang kakek yang hebat sekali keadaannya. Kakek ini sekepala lebih tinggi dari Liong Bu Kong yang sudah tinggi besar itu, tubuhnya seperti raksasa dan jelas tampak kuat seperti gajah! Usianya tentu amat tinggi, namun sukar ditaksir berapa! Brewoknya menutupi sebagian besar mukanya dan brewok itu, seperti rambutnya, sudah putih semua berikut alis dan bulu matanya!

Namun langkah kakek ini masih gagah seperti langkah seekor harimau, kedua lengannya diayun agak jauh dari tubuhnya dan kakinya menginjak bumi dengan mantap seperti kaki gajah berjalan! Matanya lebar dan sinar matanya tajam luar biasa, menandakan bahwa kakek aneh ini cerdik sekali dan tentunya amat lihai, melihat sikap ibu dan anak itu yang menghormatinya sebagai tamu yang berjalan paling kanan.

Melihat pemuda gundul ini, seketika wajah cantik nenek itu berseri-seri kemudian seperti berbisik dia berkata kepada kakek raksasa di sebelah kanannya, "Inilah dia yang bernama Yap Kun Liong!"

Kakek itu memandang dengan matanya yang lebar, kemudian tertawa bergelak, suara ketawa yang keluar dari perut dan mengejutkan Kun Liong karena suara ini mengandung khikang yang kuat sekali!

"Hua-ha-hah-ho-hoh! Ini namanya ular mencari penggebuk, ikan menghampiri sujen!"

"Aku yakin dia ini yang telah menyembunyikan bokor emas yang asli. Hai, orang muda, bukankah engkau yang memalsukan bokor emas? Bocah tampan, katakanlah di mana adanya bokor yang asli dan engkau akan kujadikan muridku, hidup mewah dan mulia di pulau ini!"

Kun Liong cemberut, menyembunyikan hatinya yang panas mengingat bahwa wanita ini adalah seorang di antara mereka yang membunuh ayah bundanya, satu-satunya orang yang masih hidup dan yang akan dibunuhnya untuk membalas kemaitian ayah bundanya. Akan tetapi dia dapat bersikap tenang karena terlebih dulu dia ingin mendapatkan pusaka Siauw-lim-si, maka dia berkata,

"Kwi-eng Niocu, dahulu aku sudah melemparkan bokor emas kepadamu, aku tidak tahu menahu tentang bokor palsu atau tulen dan aku juga tidak peduli lagi. Yang penting aku datang menagih janjimu karena bukankah dahulu kau berjanji akan mengembalikan dua buah pusaka Siauw-lim-si yang dicuri oleh orang-orangmu kalau aku memberikan bokor kepadamu? Nah, sekarang aku datang untuk menerima sebatang pedang pusaka beserta sebuah hiolouw, keduanya merupakan benda kuno yang menjadi pusaka Siauw-lim-si. Aku harap engkau sebagai seorang yang terkenal, sebagai seorang Pangcu (Ketua) dari Kwi-eng-pang, suka memegang janji dan menyerahkan kedua benda pusaka itu kepadaku untuk kukembalikan ke Siauw-lim-si."

"Yap Kun Liong, seorang Ketua Kwi-eng-pang takkan pernah melanggar janjinya. Dahulu memang aku berjanji akan mengembalikan dua buah pusaka Siauw-lim-si kalau ditukar dengan bokor emas pusaka The Hoo. Akan tetapi ternyata kemudian bahwa pusaka yang terlepas kembali dari tanganku itu adalah pusaka palsu! Oleh karena itu, tak mungkin aku menukarkan dua buah pusaka itu dengan sebuah benda palsu."

"Hemmm, tentang bokor emas aku tidak tahu-menahu, akan tetapi pedang dan hiolouw itu jelas adalah milik Siauw-lim-si yang telah kalian curi. Maka sekarang aku datang mewakili Siauw-lim-pai untuk minta kembali dua buah benda itu, apa pun yang terjadi!" Kun Liong sengaja bicara dengan nada marah dan bersikap menantang.

"Gundul sombong!" Tiba-tiba Liong Bu Kong, pemuda tampan gagah putera angkat Ketua Kwi-eng-pang itu sudah meloncat maju ke depan. "Ketahuilah dahulu aku yang mencuri dua buah pusaka itu dan semua orang di dunia tahu bahwa untuk mengambil pusaka dari gudang pusaka Siauw-lim-si membutuhkan kepandaian dan harus menempuh kesukaran yang mengandalkan kepandaian. Jika memang engkau ada kepandaian, boleh kau coba merampasnya kembali dari tanganku!"

Liong Bu Kong bertepuk tangan tiga kali dan muncullah tiga orang pelayan cantik manis akan tetapi yang seorang lagi mukanya bopeng biar pun potongon mukanya paling cantik di antara mereka bertiga. Totol-totol hitam di muka pelayan ketiga ini benar-benar amat disayangkan, pikir Kun Liong dan diam-diam merasa heran mengapa dia seperti pernah melihat pelayan bopeng yang cantik ini!

Akan tetapi dia segera tertarik kepada dua buah benda yang dibawa oleh salah seorang di antara tiga pelayan itu, yaitu yang tertua dan yang matanya bergerak genit. Perempuan ini membawa sebuah baki dan di atas baki terdapat benda yang ditutup sutera kuning.

Setelah mereka bertiga datang dekat dan berlutut di pinggiran, Liong Bu Kong merenggut lepas kain kuning hingga tampaklah dua benda yang dicari-cari Kun Liong, yaitu sebatang pedang kuno dan sebuah hiolouw kuno, dua buah benda pusaka Siauw-lim-si yang dulu dicuri oleh pemuda putera angkat Kwi-eng Niocu ini!

Kun Liong memandang Bu Kong dan berkata, "Aku menerima tantanganmu! Kalau aku dapat menangkan engkau, berarti dua buah benda pusaka itu dikembalikan kepadaku?"

Liong Bu Kong tertawa mengejek. "Kita lihat saja nanti, tetapi coba lebih dulu kau lawan aku, Gundul!" Sambil berkata demikian, Liong Bu Kong telah mencabut sebatang pedang yang membuat mata Kun Liong silau karena pedang itu mengeluarkan sinar kilat yang amat terang. Itulah pedang pusaka Lui-kong-kiam (Pedang Kilat) yang ampuh!

"Bu Kong, jangan bunuh dia dulu. Aku masih membutuhkannya!" Kwi-eng Niocu berseru khawatir melihat putera angkatnya itu menghunus Lui-kong-kiam.

"Ha-ha-ha-ha, jangan khawatir, Ibu. Aku hanya hendak menggurat beberapa garis di atas kepalanya yang gundul pelontos itu. Yap Kun Liong bocah gundul, sambutlah ini!"

Tanpa memberi kesempatan kepada lawan untuk menggunakan suatu senjata, Bu Kong sudah menyerang dengan pedangnya. Pedang itu berubah menjadi gulungan sinar kilat yang menyambar ke arah leher Kun Liong.

Kun Liong mengenal pedang ampuh, akan tetapi dia pun mengenal gerakan yang tidak begitu berbahaya seperti yang mula-mula dikhawatirkannya. Bagi umum, boleh jadi ilmu kepandaian Liong Bu Kong ini sudah hebat sekali, akan tetapi bagi dia, pemuda itu bukan merupakan lawan yang terlalu berbahaya sungguh pun dibantu dengan sebatang pedang seampuh itu. Dengan mudah dia lalu mengelak dan meloncat ke sana-sini sambil dikejar oleh bayangan pedang.

Setelah belasan jurus menyerang tanpa dapat mengenai sasarannya, Liong Bu Kong lalu menjadi penasaran, malu dan marah. Jangankan untuk menggurat-gurat kepala lawan, sedangkan ujung baju lawan saja sekian lamanya belum juga mampu disentuh dengan ujung pedangnya. Maka dikeluarkanlah semua jurus-jurus maut dan dia mengurung tubuh Kun Liong dengan lingkaran sinar pedang yang bergulung-gulung.

Sungguh pun Kun Liong tidak memegang senjata apa-apa, akan tetapi karena dia sudah memainkan ilmu silatnya yang sakti, yaitu Pat-hong Sin-kun, andai kata ia harus menjaga diri dengan elakan dan tangkisan saja, kiranya dia akan dapat bertahan sampai ratusan jurus tanpa membalas. Namun, yang menjadi pokok perhatiannya bukanlah mengalahkan pemuda ini.

Dia sama sekali tidak mempunyai urusan atau permusuhan dengan Bu Kong, maka perlu apa mengalahkannya, apa lagi melukainya? Yang terpenting baginya adalah merampas kembali dua benda pusaka Siauw-lim-pai, kemudian baru dia akan menandingi Kwi-eng Niocu dan menuntut balas atas kematian ayah bundanya.

Oleh karena pikiran ini, maka sambil mengelak ke sana-sini sehingga dia kelihatan repot terdesak hebat, dia melirik ke arah pelayan yang membawa baki terisi dua benda pusaka. Dia sengaja mengelak dan membiarkan dirinya terdesak mundur mendekati pelayan dan tiba-tiba, bagaikan gerakan seekor burung walet, tangannya menyambar dan di lain detik dua buah benda pusaka itu telah dapat dirampasnya!

"Eiiihhh...!" Pelayan itu menjerit dan terjengkang pingsan, buru-buru ditolong oleh pelayan bopeng dan temannya yang seorang lagi, kemudian digotong masuk ke dalam.

Liong Bu Kong marah bukan main. "Kurang ajar! Kembalikan benda itu!" Teriaknya dan pedangnya menusuk dada Kun Liong.

Pemuda gundul ini membiarkan pedang lawan meluncur, menggoyang sedikit tubuhnya sehingga pedang itu menusuk tempat kosong di bawah lengannya dan sekali lengannya dirapatkan, pedang terjepit dan kakinya menendang perlahan ke arah lutut Bu Kong.

"Auhhhhh...!" Seketika kaki Bu Kong lumpuh dan pemuda ini jatuh berlutut, pedangnya masih dikempit oleh Kun Liong.

Sesudah menyimpan dua benda pusaka itu dengan cara mengikatkan kain kuning yang membungkusnya ke belakang pundak, Kun Liong lalu mengambil pedang Lui-kong-kiam, melempar pedang itu ke bawah dan pedang menancap di depan kaki Bu Kong, amblas sampai hampir ke gagangnya!

Dapat dibayangkan betapa kaget dan marahnya hati Kwi-eng Niocu ketika menyaksikan kekalahan puteranya yang memalukan itu. Melawan pemuda gundul bertangan kosong yang sama sekali tidak balas menyerang saja, sampai puluhan jurus puteranya tak dapat menang, bahkan akhirnya dua benda pusaka juga pedang Lui-kong-kiam dapat dirampas, dan puteranya roboh berlutut! Betapa memalukan hal ini!

Betapa pun juga, sebagai seorang Ketua Kwi-eng-pang yang berkuasa, dia merasa malu kalau harus menarik kembali janjinya, maka dia membentak, "Serahkan dulu bokor emas yang tulen, baru boleh pergi!" Sesudah berkata demikian, dengan gerakan yang dahsyat sekali Kwi-eng Niocu sudah menyerang Kun Liong dengan cengkeraman kuku tangannya yang panjang.

"Wussss... brettt!"

Kun Liong terpekik kaget. Dia tadi telah mengelak cepat, namun tetap saja kuku itu masih merobek pinggir bajunya di dekat pundak. Padahal tadi sampai puluhan jurus pedang di tangan Liong Bu Kong tak pernah mampu menyentuhnya, dan sekarang ibu pemuda ini, begitu menyerang telah merobek bajunya! Dari bukti ini saja sudah dapat diketahui betapa lihainya Ketua Kwi-eng-pang ini. Tidak percuma nenek ini mendapat julukan Si Bayangan Hantu karena memang ilmu kepandaiannya hebat.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner