PETUALANG ASMARA : JILID-39


"Aku memang kasihan kepadamu, suka kepadamu, dan tentu saja aku suka melakukan apa saja untuk dapat menolongmu dari kenekatan gila itu, asal saja bukan untuk... untuk menikah denganmu!" Bangga hati Kun Liong karena dia sudah dapat mendahului gadis itu sehingga menutup jalan bagi Hwi Sian untuk mengakalinya. Akan tetapi dia kecele ketika mendengar dara itu berkata.

"Tidak, aku pun tahu bahwa tak mungkin aku menikah denganmu, karena selain engkau tidak mencintaku, juga aku sudah ditunangkan dengan orang lain. Aku hanya minta tolong kepadamu agar engkau suka menjadikan aku sebagai isterimu..."

"Heiii! Gila kau! Tidak ingin menikah denganku tapi ingin menjadi isteriku, apa artinya ini?"

"Kun Liong, hanya... hanya untuk malam ini... kau penuhilah hasrat hatiku, aku hanya bisa menyerahkan hati dan tubuhku kepadamu. Kalau saja kau sudi memenuhi permintaanku, aku... aku bersumpah tidak akan membunuh diri... bahkan aku akan rela menjadi isteri Ji-suheng..."

"Wah, apa-apaan ini? Aku..."

Hwi Sian sudah merangkulnya lagi. "Kau suka kepadaku, bukan? Kau suka menciumku, bukan? Kun Liong..." Dara itu mendekap dan menciuminya.

Gairah yang membuat Hwi Slan seperti berkobar-kobar itu akhirnya membakar Kun Liong juga. Pemuda yang pada dasarnya memang romantis ini tidak dapat menahan gelombang dahsyat yang menyerangnya, yang datang dari dara yang mencintanya lahir batin itu. Tak mampu dia menahan diri dan sebentar saja keduanya sudah dikuasai oleh birahi yang amat kuat dan tidak ada seorang pun manusia yang kuat bertahan apa bila sudah diamuk birahi.

Sekali nafsu mencengkeram manusia, akan mendatangkan keadaan yang tidak mengenal puas. Diberi sejengkal ingin sedepa. Belaian dan dekapan serta ciuman mesra sudah tak memuaskan lagi, ingin lebih, ingin yang terakhir, bagaikan mabuk, dan memang dia sudah mabuk oleh nafsu yang membuatnya buta akan segala hal, lupa akan segala hal, dengan mata seolah-olah terselubung.

Kun Liong menciumi seluruh tubuh Hwi Sian, mulai dari ubun-ubun kepala sampai telapak kakinya bahkan mereka berdua sudah tidak merasa atau melihat lagi betapa api unggun menjadi padam, keadaan di dalam kuil menjadi gelap sama sekali, seolah-olah sang api sengaja melarikan diri karena tidak tahan menyaksikan peristiwa yang amat mengharukan itu, peristiwa di mana dua insan hanyut oleh dorongan hasrat dan nafsu, yang membuat mereka lupa akan diri... lupa akan segala sehingga lenyaplah sang aku, lenyaplah segala pikiran, segala ingatan, segala keruwetan dan lenyap pula batas antara suka dan duka.

Di dalam kegelapan kuil dalam hutan itu, tidak tampak apa-apa. Hutan itu pun sunyi tidak disentuh angin. Namun terdengar suara-suara di dalam hutan. Suara malam yang penuh rahasia, suara makhluk-makhluk kecil yang tak tampak, kutu-kutu belalang dan jengkerik, burung malam dan segala macam binatang. Suara yang bersatu padu tanpa diatur, yang menciptakan suara yang aneh penuh rahasia, kadang-kadang terdengar seperti rintihan lirih dan desah napas manusia dalam derita dan siksa, kadang kala terdengar seperti jerit kemenangan, jerit kesukaan dan penuh kegembiraan. Sukar menentukan garis pemisah antara kecewa dan kepuasan, antara derita dan nikmat kesenangan!

Pada keesokan harinya, sesudah cahaya matahari pertama memasuki kuil, nampak Kun Liong duduk bersandar di dinding, dan Hwi Sian rebah terlentang di atas lantai. Keduanya tak mengeluarkan kata-kata, dan Kun Liong membelai rambut Hwi Sian yang kusut masai itu.

Wajah keduanya agak pucat, tapi di balik kepucatan wajah Hwi Sian, terbayang kepuasan dan kebahagiaan yang membuat bibirnya tersenyum, ada pun mata yang masih kelihatan mengantuk itu mengeluarkan cahaya berseri, biar pun ada air mata di pipinya.

Kun Liong kelihatan tidak sebahagia Hwi Sian. Walau pun dia kelihatan masih terpesona oleh pengalaman luar biasa yang baru pertama kali dialaminya selama hidupnya, namun terbayang kekhawatiran dan keraguan pada wajahnya yang agak pucat. Barulah teringat olehnya sekarang betapa mereka berdua sudah menjadi seperti orang mabuk, tidak ingat akan sesuatu kecuali pencurahan gairah hati, menuruti nafsu birahi tak kunjung berhenti sampai semalam suntuk.

Baru dia meragukan, apakah yang diperbuatnya bersama Hwi Sian itu bukan merupakan suatu perbuatan yang amat kotor dan jahat? Dengan keras dia menggeleng kepalanya! Dia tidak melakukan sesuatu paksaan! Dan bahkan lebih dari itu, dia terpaksa oleh Hwi Sian yang mengancam akan membunuh dirl!

Dan bagi Hwi Sian sendiri? Berdosakah dia? Kotorkah perbuatannya itu? Hinakah wanita ini yang ingin menyerahkan tubuhnya dengan suka rela kepada laki-laki yang dikasihinya sebelum dia terpaksa menyerahkan diri kepada pria lain yang tidak dicintanya akan tetapi yang harus menjadi suaminya? Entahlah, Kun Liong tak mampu menjawabnya.

"Kun Liong..." Suara Hwi Sian lirih dan serak, suara orang yang kurang tidur dan amat kelelahan.

"Hemmm..."

"Aku... aku tidak bisa berpisah darimu lagi...!"

"Heiii!" Kun Liong melepaskan pelukannya, lalu menjauhkan diri dan cepat membereskan pakaiannya. "Jangan begitu kau, Hwi Sian! Betapa pun aku masih percaya bahwa kau adalah seorang wanita gagah yang takkan melanggar janji!"

Hwi Sian tersenyum masam, membereskan pakaiannya dan duduk berhadapan dengan Kun Liong, lalu dia mengangkat kedua tangan membereskan rambutnya. Melihat gadis itu mengangkat kedua lengan membereskan rambut, melihat wajah kusut yang agak pucat, melihat mulut yang membayangkan kepahitan, merupakan penglihatan yang amat mesra dan hampir meluluhkan hati Kun Liong. Ingin dia mendekap Hwi Sian, menciuminya dan menghiburnya, mengatakan bahwa dia selamanya takkan meninggalkannya. Akan tetapi dia tahu bahwa hal ini hanyalah seretan perasaan sejenak saja, maka dia tidak membuka mulut.

"Kun Liong," berkata Hwi Sian setelah selesai menyanggul rambutnya sehingga kelihatan manis sekali. "Aku tadinya mengharap, sesudah peristiwa semalam, kalau-kalau engkau akan jatuh cinta kepadaku. Akan tetapi aku lupa bahwa engkau adalah seorang pria yang luar biasa, yang jujur dan tidak pernah mengingkari kata-kata sendiri. Akan tetapi aku.... ahhh, betapa makin mendalamnya perasaan cintaku mengukir di dalam hatiku. Betapa mungkin aku dapat berpisah darimu, Kun Liong?"

"Hwi Sian!" Kun Liong berkata agak keras. "Ingatlah bahwa engkau yang minta sehingga terjadi peristiwa tadi malam. Engkau tahu bahwa aku melakukannya bukan semata-mata karena aku memang suka kepadamu, bahwa aku memang suka melakukannya, akan tetapi terutama sekali karena hendak menolongmu terhindar dari kenekatanmu. Karena itu, sekarang berjanjilah bahwa engkau takkan membunuh diri dan akan baik-baik menjadi isteri Tan-enghiong."

Mata itu terpejam dan air matanya tertumpah keluar seperti diperas oleh bulu-bulu mata yang panjang itu. Kepalanya mengangguk dan bibirnya berbisik, "Aku berjanji."

"Kau bersumpah?"

"Aku bersumpah."

"Nah, begitulah baru Hwi Sian seperti yang kukenal dan kupercaya! Kau yakinlah bahwa selamanya aku takkan lupa kepadamu, Hwi Sian, dan dengan sepenuh hatiku aku doakan semoga kau dapat menemukan bahagia bersama Tan-enghiong. Percayalah bahwa cinta yang kau kira terukir dalam hatimu terhadap aku itu akan mudah terhapus oleh ukiran cinta lain yang mungkin kau temukan bersama Tan-enghiong..."

"Tidak mungkin!" Hwi Sian berseru dengan suara merintih dan dia menangis!

"Jangan bilang tidak mungkin. Cinta seperti ini, yaitu mencintai sesuatu akan tertutup oleh cinta kepada sesuatu yang lainnya lagi. Cinta seperti yang kau rasakan terhadap diriku hanyalah nafsu birahi yang didorong oleh rasa suka dan kecocokan, yang kita sebut cinta dan cinta seperti itu takkan kekal. Hari ini cinta, besok bisa berubah menjadi benci. Aku tidak cinta kepadamu, aku hanya suka dan kasihan kepadamu, karena itu apa pun yang terjadi, aku tidak akan bisa benci kepadamu. Cinta yang bersifat memiliki bukanlah cinta, karena memiliki berarti kehilangan, memiliki berarti kecewa dan sengsara apa lagi menjadi benci. Nah, lebih baik kita berpisah di sini, Hwi Sian. Selamat tinggal."

"Kun Liong...!"

Kun Liong yang sudah melangkah itu terhenti di pintu bekas kamar kuil itu dan menoleh sambil tersenyum.

"Sudahlah, Hwi Sian. Ingat, engkau akan jauh lebih bahagia bila mana hidup di samping Tan-enghiong dari pada di sampingku. Mencinta tanpa balasan merupakan siksaan yang jauh lebih berat dari pada dicinta tanpa membalas. Selamat tinggal!" Kun Liong meloncat jauh dan cepat lari meninggalkan tempat itu.

"Kun Liong...!" Hwi Sian mengeluh dan menangis.

Tidak lama kemudian dia sudah terjun ke dalam sungai tak jauh dari kuil itu, merendam tubuhnya sebatas dada dan masih terus menangis sampai matanya menjadi merah…..

********************

Sesudah berlari cepat keluar masuk beberapa buah hutan, baru legalah hati Kun Liong, tidak khawatir kalau-kalau Hwi Siap mengejarnya. Dia lalu berjalan seenaknya di dalam hutan yang sunyi itu.

Pikirannya melayang-layang, mengenangkan kejadian semalam. Kejadian luar biasa yang merupakan pengalaman pertamanya, begitu pula bagi Hwi Sian, dan seribu satu macam pikiran mengaduk diotaknya.

Berdosakah dia dengan perbuatannya itu? Bagaimana kalau kelak Tan-enghiong, calon suami Hwi Sian, mengetahuinya? Bagaimana kalau sampai peristiwa semalam bersama Hwi Sian itu berbuah menjadi anak? Bagaimana kalau... kalau... kalau... dan semakin dibayangkan, maka makin khawatir pula hati Kun Liong sehingga mulailah dia menyesali kelemahannya, mengapa dia sampai membiarkan dirinya terseret.

Itu bukan cinta! Itu hanyalah nafsu birahi yang menyeret dia dan Hwi Sian. Berdosakah kalau dia menikmati akibat dorongan nafsu birahi? Hwi Sian mengajaknya dengan suka rela, menyerahkan dirinya. Kalau dia menolak dan gadis itu benar-benar membunuh diri, apakah penolakannya itu bukan merupakan dosa pula? Kalau diterima dosa, ditolak dosa, lalu bagaimana?

Dia bergidik. Bergidik dan merasa ngeri membayangkan kembali perbuatan dia dan Hwi Sian semalam. Celaka, dia dan Hwi Sian telah seperti gila semalam, menikmati bujukan nafsu birahi tanpa kenal puas. Akan dapatkah dia menahan diri kalau kelak berhadapan dengan wanita cantik? Jangan-jangan dia memang mata keranjang, menjadi hamba nafsu birahi, jangan-jangan kelak dia akan menjadi seorang jai-hoa-cat (penjahat pemerkosa)! Memperkosa wanita? Tidak sudi!

"Dessss! Kraaaakkkk!"

Suara hatinya ‘tidak sudi’ tadi disuarakan melalui mulutnya, lantas diikuti dengan meninju sebatang pohon di dekatnya sehingga pohon itu patah dan tumbang!

"Tentu aku telah gila!" katanya sambil menjatuhkan diri duduk di atas rumput, mengangkat kedua lutut ke atas dan menunjang dagunya dengan telapak tangan kanan, termenung seperti patung.

Harus diakuinya bahwa sejak dulu dia suka berdekatan dengan wanita, suka menyentuh, mendekap dan mencium wanita. Dan sekarang, setelah dia mengalaminya semalam, dia harus mengakui pula bahwa dia suka bermain cinta dengan wanita! Akan tetapi semua itu harus terjadi dengan suka rela dan dia tidak akan sudi memaksa siapa pun juga, betapa pun cantiknya, betapa pun menariknya!

Salahkah ini? Inikah yang dikatakan mata keranjang? Gila wanita? Salahkah dia kalau dia suka memandang yang indah-indah, dan di antaranya adalah wajah dara yang cantik dan bentuk tubuhnya yang menggairahkan? Salahkah dia apa bila dia senang mencium yang harum-harum dan sedap, di antaranya mencium bunga dan mencium bibir seorang dara? Salahkah dia kalau dia suka mendengar yang merdu-merdu, di antaranya suara seorang gadis manis? Salahkah kalau dia merasakan yang lezat-lezat, salahkah kalau dia senang menikmati hidup? Salah siapa? Semua itu sudah ada padanya, dan dia sama sekali tidak mengada-ada, tidak mencari-cari! Rasa suka akan semua itu memang telah ada padanya!

Kalau tidak ada dara yang suka kepadanya, tentu semua itu tidak akan terjadi. Semua pengalamamya dengan Yuanita, dengan Nina, dengan Li Hwa, Giok Keng, Hwi Sian dan Bi Kiok, biar pun semua itu tidaklah sejauh dengan Yuanita, atau terutama sekali dengan Hwi Sian. Apa bila dara-dara itu tidak suka kepadanya, tentu dia pun tidak akan berani mendekati mereka! Betapa pun cantik menariknya, kalau tidak suka kepadanya dia tidak akan memaksa! Memperkosa?

"Tidak sudi! Desss... pyuuuurr...!" Sebuah batu besar yang berada di sampingnya pecah berantakan terkena hantaman kepalan tangannya!

Dan sesudah debu yang mengepul tebal karena pecahan batu itu menghilang, muncul seorang dara jelita yang langsung menegur. "Apakah engkau sudah menjadi gila? Pohon dan batu dipukuli sampai tumbang dan pecah!"

Tadinya Kun Liong terkejut sekali, mengira bahwa Hwi Sian yang menyusulnya. Dia tidak ingin berkepanjangan dengan dara itu, sesudah apa yang mereka perbuat bersama tadi malam. Akan tetapi setelah melihat bahwa ternyata yang muncul adalah Cia Giok Keng, dia menjadi gugup dan wajahnya berubah merah!

"Ahh, tidak... Nona. Saya... sedang latihan... dan... ehh…, bagaimana Nona dapat tiba di sini? Saya sudah mengkhawatirkan dirimu..."

Giok Keng meragu untuk menjawab. Bagaimana dia dapat menjawab setelah apa yang terjadi kemarin? Seperti diketahui, dara perkasa ini terus mengejar Liong Bu Kong yang melarikan diri. Bu Kong sengaja melarikan diri menjauh dan akhirnya berhasil memancing Giok Keng untuk mengejarnya dengan perahu, meninggalkan pulau di Telaga Kwi-ouw dan mendarat memasuki hutan.

Giok Keng terus mengejarnya. Hati gadis ini merasa penasaran sekali apa bila dia tidak dapat merobohkan atau menawan pemuda putera Ketua Kwi-eng-pang itu. Hari sudah menjadi senja ketika akhirnya Giok Keng dapat menyusul Liong Bu Kong di dalam sebuah hutan lebat.

Pemuda itu sengaja menantinya dan begitu Giok Keng muncul, pemuda itu menjura dan berkata, "Nona Cia Giok Keng, mengapa Nona mengejarku terus? Apakah Nona begitu benci kepadaku? Padahal aku cinta padamu, Nona. Hingga kini pun belum pernah lenyap harapan hatiku untuk bisa berjodoh dengan seorang dara jelita dan perkasa seperti Nona. Aku cinta kepadamu dengan sepenuh jiwa ragaku, apakah Nona tega untuk mengejarku dan hendak membunuhku?"

Wajah Giok Keng menjadi merah sekali. Entah mengapa, semenjak pemuda ini datang ke Cin-ling-san dahulu itu untuk meminangnya, dia tidak pernah dapat melupakan pemuda ini yang sekarang kelihatan lebih matang dan lebih gagah dari pada dahulu! Dia sendiri sangat heran mengapa segala gerak-gerik pemuda itu, gerak mulutnya, gerak matanya, dan suaranya, semua amat menyenangkan hatinya. Apa lagi pengakuan cinta pemuda itu, membuat jantungnya berdebar tidak karuan dan diam-diam hatinya telah terpikat!

Akan tetapi, sebagai puteri pendekar sakti ketua dari Cin-ling-pai, tentu saja dia tidak sudi tunduk begitu saja, maka dia pura-pura marah dan membentak, "Manusia jahat! Siapa sudi bicara denganmu? Engkau adalah anak dari datuk sesat Kwi-eng Niocu, dan aku adalah puteri dari Ketua Cin-ling-pai yang selalu bertugas membasmi kaum sesat. Antara engkau dan aku terdapat jurang yang sangat dalam, dan kita hanya dapat berhadapan sebagai musuh!"

"Aku memusuhimu? Demi Tuhan, tidak! Aku cinta padamu, bagaimana aku tega untuk mengangkat senjata melawanmu? Jangankan kepandaianku tidak mungkin menandingi ilmu kepandaian puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong, andai kata kepandaianku lebih tinggi sekali pun, aku tidak akan tega untuk melawanmu, Nona."

"Singggg...!"

Giok Keng sudah mencabut pedangnya sehingga nampaklah sinar putih berkilau ketika Gin-hwa-kiam (Pedang Bunga Perak) sudah terhunus.

"Hayo cabut pedangmu, tak perlu banyak bicara!" Dara itu membentak.

"Srettt...!" Liong Bu Kong mencabut pedangnya yang mengeluarkan sinar kilat, akan tetapi dia melemparkan pedang Lui-kong-kiam yang ampuh itu ke atas tanah.

"Lihat, aku telah membuang pedangku, Nona. Aku tak akan melawan seorang dara yang kucintai sepenuh jiwa ragaku."

Giok Keng terkejut bukan main. Tadinya dia masih meragukan ketulusan hati pemuda putera datuk sesat ini, maka dia masih mempertahankan hatinya dan menekan perasaan. Kini melihat pemuda itu benar-benar tidak mau melawannya bahkan membuang pedang, hatinya menjadi terguncang. Namun dia bukanlah seorang dara yang bodoh dan mudah dibujuk orang. Biar pun hatinya terguncang, dia masih membentak,

"Ambil pedangmu dan lawanlah, kalau tidak... hemmm, aku akan membunuhmu!"

Liong Bu Kong tersenyum dan memang pemuda ini sangat tampan dan gagah sehingga senyumnya menambah ketampanan wajahnya. "Silakan serang dan bunuhlah aku, Nona. Mati di tangan seorang dara yang kucinta merupakan kematian yang amat bahagia."

"Siapa yang percaya bujukanmu? Mampuslah!" Giok Keng sudah menerjang maju, cepat menggerakkan pedangnya menyerang dahsyat dengan tusukan ke arah leher pemuda itu.

Dapat dibayangkan betapa kaget hati Giok Keng melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak mengelak, hanya memandang kepadanya dengan senyum di bibir.

"Aihhhhh...!"

Giok Keng yang terkejut itu berusaha menyelewengkan tusukannya karena tentu saja dia sebagai seorang dara perkasa tidak mau membunuh orang yang tidak melawan, namun usahanya itu tidak berhasil sepenuhnya dan pedangnya sudah menembus pundak kiri Bu Kong!

Pada saat Gin-hwa-kiam dicabutnya dan ditariknya kembali, darah mengucur dari pundak pemuda itu yang berdiri dengan tubuh bergoyang menahan rasa nyeri yang hebat akan tetapi yang masih memandang Giok Keng dengan pandang mata mesra penuh cinta dan mulut tetap tersenyum.

"Ahhh... apa yang kau lakukan...? Kenapa kau tidak mengelak? Kenapa tidak menangkis? Kenapa...?" Giok Keng terbelalak, cepat melepaskan pedangnya jatuh ke atas tanah dan bagaikan dalam mimpi dia menghampiri pemuda itu, merobek baju di bagian pundak yang terluka dan ternyata pedangnya itu sudah mengakibatkan luka yang cukup hebat karena pedang yang runcing tajam itu telah menembus pundak kiri pemuda itu!

"Celaka... kau... kau membiarkan aku melukai seorang yang tidak melawan... darahnya mengucur deras, kalau tidak dihentikan, bisa berbahaya..."

"Hemmm, biarlah, Nona. Kalau kau memang benci kepadaku, apa artinya luka ini? Kau bunuh pun aku akan rela, karena biar pun kau benci, aku tetap cinta padamu..."

Giok Keng telah mengeluarkan sapu tangannya. "Bodoh! Siapa benci padamu?" katanya.

Tanpa berbicara lagi dia membalut luka di pundak itu dengan sapu tangannya. Mula-mula ditaruhnya obat luka yang selalu dibawanya ke atas luka di depan dan belakang pundak, kemudian dia menggunakan sapu tangannya yang bersih untuk menutupi luka itu, lantas membalutnya dengan robekan baju pemuda itu sendiri sampai erat sekali sehingga darah berhenti mengucur dari luka itu.

"Nona... nona... Giok Keng... benarkah hal itu? Benarkah kau tidak membenciku?" Kedua tangan Bu Kong menekan kedua pundak dara itu dengan gemetar semua jari tangannya, suaranya juga terdengar menggetar penuh perasaan. "Kalau begitu... kalau begitu engkau pun... cinta kepadaku seperti aku cinta padamu...?"

Wajah Giok Keng menjadi pucat, kemudian merah sekali. Dia telah selesai membalut dan menghadapi pertanyaan itu, dia menundukkan mukanya. "Entahlah..."

Jari-jari tangan yang gemetar itu memegang muka dara itu, dipaksanya secara halus agar muka itu tengadah. "Giok Keng... Moi-moi... kau pandanglah aku... kau... kau... kau juga cinta kepadaku? Benarkah ini? Demi Tuhan... kau juga cinta padaku seperti aku cinta padamu...?"

Sejenak mereka berpandangan, dan Giok Keng lalu memejamkan matanya, dan dua butir air mata bertitik turun.

"Moi-moi...!" Bu Kong mengecup kedua pipi dara itu, mengecup air mata itu, kemudian dia mencium bibir Giok Keng.

Kalau hati sudah tertarik memang membuat orang atau tepatnya seorang dara muda gampang sekali jatuh! Giok Keng menggigil, seluruh tubuhnya menggigil ketika mula-mula merasa betapa air mata di pipinya dikecup pemuda itu, kemudian bumi serasa goyah seperti ada gempa bumi hebat, dunia seperti berputar ketika dia merasa betapa mulutnya dicium oleh pemuda itu, dicium dengan mesra sekali. Hampir dia pingsan dan sejenak dia menyerah, menyerah bulat-bulat dengan setulus hati, dengan hati yang penuh bahagia, merasa dicinta dan mencinta.

Akan tetapi dia segera teringat, meronta dan melangkah mundur. Dengan muka pucat dipandangnya pemuda itu yang kini menunduk, dengan kedua lengan tergantung lepas di kanan kiri tubuh, lalu berkata dengan suara penuh penyerahan.

"Ampunkan aku, Giok Keng. Aku... aku cinta kepadamu... dan kalau kau anggap bahwa perbuatanku tadi terlalu kurang ajar, ambillah pedangmu, jangan berlaku kepalang. Kalau kau tidak membalas cintaku, bunuhlah aku. Tusuklah tembus dada ini agar penderitaanku berakhir...!"

Wajah yang pucat itu kembali menjadi merah lagi. Giok Keng cepat menyambar pedang Gin-hwa-kiam, disarungkannya dan dia memaksa hatinya agar dapat berbicara, suaranya gemetar, "Aku... aku tidak benci padamu... aku tidak tahu apakah cinta... akan tetapi aku sudah ditunangkan dengan orang lain. Selamat tinggal...!"

Giok Keng lalu melarikan diri secepatnya. Ia mendengar suara pemuda itu memanggilnya, dan hampir saja dara itu berlari kembali, akan tetapi ditahannya hatinya dan ditulikannya telinganya. Air matanya bercucuran dan dia lalu mempercepat larinya sehingga tak lama kemudian panggilan pemuda itu lenyap, tak terdengar lagi olehnya.

Semalam suntuk dia terus melanjutkan perjalanannya sampai pada keesokan harinya dia mendengar suara tangis di dalam sungai dekat kuil tua. Ketika dia menghampiri sungai itu, dilihatnya Hwi Sian sedang merendam tubuh di dalam air sungai yang jernih sambil menangis!

"Hwi Sian...! Mengapa kau? Mengapa pula kau menangis?" Giok Keng menegur penuh keheranan, dan seketika dia lupa akan urusannya sendiri yang selama semalaman telah mengganggu pikirannya.

Hwi Sian terkejut, menengok dan melihat Giok Keng, dia merasa makin berduka sehingga tangisnya mengguguk, dari mulutnya hanya terdengar suara tangis dan kata-kata yang tak dapat dimengerti oleh Giok Keng.

"Hwi Sian, ada apakah?" kembali dara ini mendesak penuh keheranan.

"...aku cinta kepadanya... hu-hu-huuh, aku cinta kepadanya..." Akhirnya Hwi Sian dapat menjawab, akan tetapi jawabannya hanya ‘aku cinta padanya’ yang dikatakan berkali-kali.

Ucapan ini merupakan ujung pedang yang menusuk hati Giok Keng karena seolah-olah merupakan sindiran akan cintanya kepada Liong Bu Kong! Akan tetapi melihat bahwa Hwi Sian sungguh-sungguh menangis, dia segera memutar otak dan menduga-duga siapakah gerangan yang dicinta oleh gadis itu!

"Siapa? Siapa yang kau cinta itu?"

"Aku cinta kepadanya... aaahhh, aku cinta kepadanya!" Hwi Sian berkata lagi.

Giok Keng menjadi tidak sabar. "Ke mana dia sekarang?"

"Dia pergi... meninggalkan aku... huhuuhhh, aku cinta kepadanya tapi dia pergi..."

"Ke mana?"

Hwi Sian seperti seorang anak kecil, hanya menudingkan telunjuknya ke depan dan Giok Keng segera meloncat dan berlari cepat, menuju ke arah yang ditunjuk oleh gadis itu.

Tak lama kemudian, di dalam sebuah hutan, dia mendengar suara keras disusul robohnya sebatang pohon. Dia cepat menghampiri dan melihat Kun Liong yang merobohkan pohon dengan pukulannya tadi. Kemudian dia melihat pemuda itu menjatuhkan diri duduk di atas tanah, termenung-menung, kemudian berteriak.

"Tidak sudi!" dan memukul hancur sebuah batu besar di dekatnya. Maka muncullah Giok Keng sambil menegur karena perbuatan Kun Liong itu amat mengherankan hatinya.

Demikianlah, Kun Liong yang ditegur menjadi gugup dan menjawab bahwa dia memukul pohon dan batu untuk latihan! Akan tetapi, betapa kagetnya ketika dia mendengar dara itu berkata dengan suara bernada penuh teguran,

"Yap Kun Liong, engkau sungguh seorang yang berhati kejam!"

"Cia Giok Keng, apa maksudmu?" Kun Liong bertanya dan memandang heran.

"Mengapa engkau begitu kejam terhadap Hwi Sian!"

Seketika pucatlah wajah Kun Liong mendengar ini. Celaka, pikirnya. ternyata Hwi Sian seorang yang tidak bisa dipercaya! Betapa mudahnya Hwi Sian menceritakan peristiwa itu kepada orang lain begitu saja! Saking kaget dan bingungnya, dia tidak mampu menjawab, hanya memandang dengan mata terbelalak.

"Kenapa kau pergi meninggalkan Hwi Sian begitu saja, padahal dia sangat mencintamu? Aku melihat dia menangis dan seperti orang kehilangan ingatan, hanya bilang bahwa dia mencintaimu berkali-kali dan bahwa engkau pergi meninggalkan dia. Apakah itu tidak kejam?"

Lega hati Kun Liong dan dia merasa kasihan sekali kepada Hwi Sian. Kiranya dara itu tidak menceritakan peristiwa semalam, hanya mengatakan cinta kepadanya dan ditinggal pergi karena ketahuan menangis oleh Giok Keng. Dia menarik napas panjang kemudian berkata,

"Giok Keng, betapa cinta kasih dapat dipaksakan? Betapa mungkin cinta kasih dapat memilih orangnya? Memang Hwi Sian menyatakan cinta kepadaku, akan tetapi kalau tak ada perasaan seperti itu di dalam hatiku kepadanya, salahkah aku?"

"Kun Liong, Hwi Sian adalah seorang dara yang cantik dan gagah, seorang wanita yang baik. Bagaimana mungkin engkau tak dapat membalas cintanya?"

"Dia sudah bertunangan dengan Ji-suheng-nya..."

"Pertunangan bisa saja diputuskan! Ikatan jodoh haruslah diadakan oleh dua orang yang bersangkutan, oleh pria dan wanita itu sendiri karena hal itu akan menyangkut kehidupan mereka selamanya! Mereka berdua yang akan menghadapinya, yang akan berdampingan selama hidupnya, bukan orang tua atau guru yang menjodohkan!" Ucapan ini dikeluarkan dengan penuh semangat oleh Giok Keng sehingga mengherankan hati Kun Liong. "Apa lagi, engkau sendiri pun sudah bertunangan. Sebaliknya engkau dan dia, kalau memang saling mencinta, membatalkan pertunangan masing-masing dan..."

"Giok Keng, apa maksudnya ucapan ini? Aku sudah bertunangan? Bagaimana ini, aku tidak mengerti."

Giok Keng menarik napas panjang. "Tentu saja kau tidak mengerti. Nah, kau bacalah ini dulu." Dia mengeluarkan sesampul surat dari saku bajunya, menyerahkannya kepada Kun Liong kemudian meninggalkan pemuda itu, duduk di atas sebuah batu besar tak jauh dari situ, termenung dan membelakangi Kun Liong.

Pemuda gundul ini menjadi semakin heran. Dengan hati berdebar dan merasa tidak enak dia membuka sampul dan membaca surat yang ditulis dengan gaya coretan yang indah dan gagah. Tulisan Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang ditujukan kepadanya! Membaca kalimat-kalimat terakhir, mukanya berubah menjadi merah sekali, dan matanya terbelalak.

"Karena ayah ibumu telah meninggal dunia, sebagai supek-mu boleh dibilang aku adalah walimu. Karena itulah, maka kuharap kau datang ke Cin-ling-san bersama Giok Keng, dan kita dapat membicarakan tentang perjodohan antara kau dan Giok Keng."

Dia dijodohkan dengan Cia Giok Keng! Otomatis dia memandang ke arah punggung dara yang duduk termenung di atas batu besar itu. Sepatutnya dia bersyukur! Sepatutnya dia menerima berita ini dengan girang. Cia Giok Keng adalah seorang dara yang cantik jelita, berkepandaian tinggi, dan puteri pendekar sakti yang terkenal. Dan dia harus mengakui bahwa dia suka kepada Giok Keng, terutama sekali kepada hidung dara itu yang amat manis bentuknya!

Namun, membayangkan betapa selamanya dia akan hidup berdampingan dengan Giok Keng sebagai sepasang suami isteri, tidak bebas hidup lagi, terikat dan diancam bahaya pertengkaran karena cemburu dan kesalah pahaman yang lain, dia merasa ngeri juga!

Kemudian dia teringat akan bujukan Giok Keng agar supaya dia membatalkan perjodohan ini dan membalas cinta Hwi Sian! Apa artinya ini? Hanya satu, ialah bahwa Giok Keng sendiri di dalam hatinya menentang perjodohan ini!

Cepat dia menghampiri Giok Keng dan duduk pula di atas batu, di depan dara itu, setelah menyimpan surat di sakunya. Mereka saling berhadapan, saling berpandangan sejenak, kemudian Kun Liong bertanya,

"Engkau sudah tahu tentang ini?" Dia menepuk saku bajunya. Giok Keng mengangguk.

"Dan bagaimana pendapatmu?"

Giok Keng menggeleng kepalanya. "Aku tidak tahu."

"Engkau agaknya tidak setuju."

"Memang, mana bisa hal perjodohan diatur orang lain? Pula, engkau dicinta oleh Hwi Sian yang mengaku sendiri kepadaku. Mana mungkin aku merampas orang yang sudah dicinta oleh dara lain?"

"Giok Keng, aku sudah menjawab bahwa aku tidak membalas cinta Hwi Sian."

"Dan kau... kau... ehh, bagaimana pendapatmu dengan surat ayah?"

"Tidak tahulah. Aku menjadi bingung, urusan ini dikemukakan begini tiba-tiba."

Sepasang mata dara itu yang amat jernih dan tajam sekarang memandang penuh selidik seakan-akan hendak menembus dan menjenguk isi hati Kun Liong, kemudian terdengar pertanyaannya yang terang-terangan, "Kun Liong, apakah engkau cinta kepadaku?"

Kun Liong cepat menggelengkan kepalanya yang gundul. "Aku tidak mencinta siapa pun, Giok Keng. Hati dan pikiranku jauh dari pada cinta seperti yang kau maksudkan itu. Tidak, aku rasa aku tidak cinta padamu, walau pun hal ini bukan berarti bahwa aku tidak suka kepadamu, terutama kalau aku memandang... hidungmu. Aku suka padamu, akan tetapi cinta? Entahlah, kukira tidak!"

Sepasang mata itu memandang makin tajam pada saat Giok Keng bertanya lagi, "Kalau begitu, mengapa dahulu itu di Siauw-lim-si engkau... menciumku?"

Bukan main kaget hati Kun Liong mendengar ini. "Kau... bagaimana kau bisa tahu? Kau pingsan dan..."

"Sebetulnya aku telah siuman ketika engkau menciumku, karena terlampau kaget melihat perbuatanmu dan melihat pula Ayah datang, aku diam saja dan pura-pura masih pingsan. Kenapa engkau dulu menciumku seperti itu dan sekarang kau bilang tidak cinta padaku?"

"Aihh…, harap kau jangan salah paham, Giok Keng. Kau pingsan dan aku melihat bahwa pernapasanmu sudah terhenti oleh serangan asap, maka jalan satu-satunya pada saat itu adalah pernapasan bantuan. Aku tidak menciummu, melainkan meniupkan hawa melalui mulutmu untuk jalankan kembali paru-parumu yang berhenti bekerja. Mengertikah kau?"

Giok Keng mengangguk-angguk, di dalam hatinya timbul dua macam perasaan. Lega dan kecewa! Dia merasa lega karena ternyata bahwa Kun Liong tidak mencintanya sehingga perjodohan itu dapat dibatalkan, karena dia harus mengaku bahwa dia jatuh cinta kepada Liong Bu Kong. Namun pada saat itu pula dia kecewa karena ternyata Kun Liong yang disangkanya menciumnya karena cinta kepadanya, ternyata tidak! Wanita memang ingin sekali digilai dan dicinta oleh semua pria di dunia ini, meski dia hanya akan menjatuhkan hatinya kepada seorang saja di antara mereka!

"Kun Liong, aku ingin sekali tahu. Apakah engkau suka menciumku?"

Mata Kun Liong terbelalak. Betapa anehnya dara ini! Begitu terus terang, maka dia pun harus bersikap jujur dan dia mengangguk. "Tentu saja aku suka!"

Mata Giok Keng mengeluarkan sinar marah. "Kau bilang tidak cinta kepadaku akan tetapi mengapa kau suka menciumku?"

"Mengapa tidak?" Kun Liong cepat menjawab dengan terus terang pula. "Aku suka sekali melihat bunga yang indah, aku suka mencium bunga yang harum sungguh pun aku tidak berniat memiliki bunga itu. Aku suka mencium dara yang cantik menarik, apa lagi seperti engkau, Giok Keng, akan tetapi kesukaanku itu bukan berarti bahwa aku ingin memilikimu sebagai jodohku. Aku akan bohong kalau aku bilang bahwa aku cinta kepadamu."

Diam-diam Giok Keng menjadi heran sekali dan juga kagum akan kejujuran Kun Liong. Agaknya, semua pemuda di dunia ini takkan segan-segan mengaku cinta dengan sumpah seribu macam untuk memancing dan mendapatkan sekedar ciuman seorang dara, apa lagi kalau untuk mendapatkan tubuhnya! Akan tetapi Kun Liong dengan terang-terangan pula menyatakan tidak cinta! Dia pun mulai merasa bingung dan menduga-duga, apakah rasa sukanya kepada Liong Bu Kong itu benar-benar cinta seperti yang diduganya?

"Kun Liong, sebetulnya bagaimanakah cinta itu? Tadinya kukira bahwa kalau seorang pria suka kepada seorang wanita atau pun sebaliknya adalah cinta. Bagaimanakah sebetulnya dan apakah cinta itu?"

Kembali kepala yang gundul itu bergerak digelengkan. "Aku sendiri pun tidak tahu. Aku hanya tahu bahwa kalau orang ingin selamanya bersanding dengan seorang dara, berarti dia mengundang datangnya penderitaan karena sudah pasti di dalam hatinya akan timbul kebosanan, pertentangan, cemburu, kemarahan dan mungkin kebencian. Kalau perasaan suka itu cinta, maka aku tidak berani jatuh cinta seperti itu! Tidak, aku tak akan jatuh cinta. Aku tidak mau mengikatkan diriku kepada seorang wanita. Apa lagi menikah! Setahuku, wanita merupakan makhluk lemah akan tetapi aneh dan luar biasa sekali. Satu kali aku menikah dan mengikatkan diri, tentu aku akan sengsara, tidak bisa bebas lagi, setiap hari menghadapi kerewelannya, cemburunya, kemanjaannya, maka celakalah aku. Tidak, aku tidak akan mencinta wanita, sungguh pun aku suka sekali kepada mereka, terutama yang cantik seperti kau, Giok Keng."

Sepasang alis Giok Keng berkerut. Betapa tak menyenangkan ucapan Kun Liong! Betapa meremehkan dan merendahkan wanita. Betapa bedanya dengan ucapan Bu Kong!

"Kun Liong...!" Tegurnya dengan kemarahan ditahan.

"Hemmm..."

"Kurasa engkau ini seorang yang..."

"Ya...?"

"Seorang pemuda yang sombong, memandang rendah wanita, terlalu tinggi hati, merasa suci dan bersih sendiri, dan kepala angin!"

Makin lebar mata Kun Liong, apa lagi mendengar makian terakhir itu. "Kepala angin?"

"Ya! Kepalamu hanya terisi angin kosong belaka! Tadi kau bilang tidak pernah mencinta seorang wanita, akan tetapi kau pandai berceramah mengenai cinta, ceramah tolol dan ngawur. Betapa bodohnya Hwi Sian yang menangisi dan jatuh cinta kepada seorang tolol macam engkau. Engkau memualkan perutku! Betapa benci aku kepadamu!"

"Eh? Benci? Sayang sekali, Giok Keng. Itulah yang tak kusukai tentang cinta. Kalau tidak cinta, lalu benci. Apakah di dalam hati wanita hanya ada dua macam perasaan itu? Kalau tidak cinta, benci? Apakah tidak ada perasaan di antara cinta dan benci? Tidak cinta akan tetapi juga tidak benci?"

Giok Keng merasa semakin bingung dan marah. "Sudahlah, dari mana kau mendapatkan kepandaian hebat dan pengertian tentang cinta bila kau sendiri tidak pernah jatuh cinta?"

"Ehh, dari... dari kitab-kitab dan dari kesadaran..."

"Huh, kitab! Mempelajari cinta dari kitab! Aku muak dan benci kepadamu!"

"Benarkah? Sayang sekali."

"Akan tetapi aku pun amat berterima kasih kepadamu bahwa kau tidak cinta padaku, Kun Liong."

"Ehh, apa pula ini? Muak dan benci akan tetapi berterima kasih?"

"Setelah kau menyatakan dengan jujur bahwa kau tidak cinta kepadaku, tentu kita tidak setuju dengan ikatan jodoh di antara kita yang diadakan oleh ayah ibuku."

"Ya, begitulah."

"Dan kau tentu suka untuk menyatakan secara terus terang pula kepada ayahku bahwa kau tidak bisa menerima ikatan jodoh ini karena kau tidak cinta padaku, dan aku pun tidak cinta padamu."

Kepala Kun Liong mengangguk-angguk. "Sudah sepatutnya begitu. Aku akan menghadap ayahmu dan aku akan minta agar ikatan jodoh kita ini dibatalkan."

Giok Keng bersorak girang, meloncat dan merangkul Kun Liong, lalu... mencium kepala gundulnya!

"Terima kasih, Kun Liong. Terima kasih!"

Dia meloncat pergi dan berlari dari tempat itu, sehingga Kun Liong yang termangu-mangu, bengong meringis bingung dan mengusap-usap kepala gundulnya yang dicium tadi. Dia makin tidak mengerti akan perangai wanita, terutama Giok Keng…..!

********************

Dua orang wanita muda itu beristirahat di bawah sebatang pohon besar di dalam hutan itu. Mereka telah tiba di kaki Pegunungan Go-bi-san yang amat luas, penuh dengan hutan lebat dan amat sunyi itu. Mereka adalah Pek Hong Ing dan suci-nya, Lauw Kim In.

Wajah keduanya muram dan Pek Hong Ing masih mengenakan pakaian seorang nikouw. Juga wajah Kim In yang cantik manis itu kelihatan muram sekali dan pandang matanya selalu menghindar dari sumoi-nya.

Semenjak kecil mereka berdua sudah menjadi murid Go-bi Sin-kouw, tinggal bersama di pegunungan sunyi, selalu rukun dan saling mencinta bagaikan kakak beradik. Maka dapat dibayangkan betapa duka hati Kim In bahwa dia terpaksa harus menangkap sumoi-nya dan memaksanya menghadap subo mereka, padahal dia tahu benar bahwa sumoi-nya itu tidak suka dinikahkan dengan Pangeran Han Wi Ong yang usianya telah lima puluh tahun itu. Sedih hatinya memikirkan nasib sumoi-nya.

Akan tetapi dia pun marah dan penasaran sekali melihat sumoi-nya yang sudah menjadi nikouw itu bersenda gurau dengan seorang pemuda tampan berkepala gundul! Andai kata dia tidak melihat mereka dan hatinya yakin bahwa mereka bermain gila, agaknya dia tetap tidak akan tega menangkap sumoi-nya dan dia akan pulang dengan tangan kosong, nekat akan membohongi gurunya bahwa dia gagal mencari sumoi-nya! Akan tetapi, perbuatan sumoi-nya bermain cinta dengan pemuda gundul aneh yang luar biasa itu membuat dia merasa penasaran dan marah sekali.

"Suci, telah berkali-kali kukatakan kepadamu bahwa Kun Liong bukan seorang hwesio...," terdengar suara Hong Ing penuh kedukaan.

Suci-nya tidak menoleh, hanya menghela napas dan diam saja. Hening sekali keadaan di situ dan akhirnya Kim In berkata lirih,

"Mungkin dia bukan hwesio, mungkin hanya seorang pemuda ugal-ugalan yang sengaja menggunduli kepalanya. Akan tetapi apa bedanya? Tetap saja engkau bermain dengan dia, padahal engkau sudah menjadi nikouw. Betapa memalukan hal ini, Sumoi. Sebagai enci-mu, tentu saja hal ini merupakan tamparan hebat dan aku malu sekali. Apa bila aku tak sayang kepadamu, bukankah perbuatan itu sudah cukup bagiku untuk menjadi alasan membunuhmu? Akan tetapi aku tidak tega, maka aku hanya akan membawamu kembali kepada Subo. Selanjutnya terserah kepada Subo, dan aku pun tidak akan menceritakan tentang peristiwa di balik semak-semak itu."

"Suci, engkau benar kejam sekali! Pernahkah aku membohong kepadamu semenjak kita menjadi saudara di Go-bi-san! Kami tidak bermain gila seperti yang Suci sangka. Memang aku tidak dapat menahan ketawa, dan kami berdua tertawa itu sama sekali bukan sedang main gila, bermain cinta atau bersenda gurau seperti yang kau duga. Dia memang lucu sekali..."

"Ya, lucu dan tampan!"

"Aihhh Suci. Bukan demikian maksudku. Kalau engkau sendiri mendengar kata-katanya, sikap dan pandangan hidupnya, tentu engkau akan tertawa juga. Kun Liong seorang yang baik, Suci. Pertama-tama aku bertemu dengannya adalah ketika aku terluka parah oleh jarum beracun dari Ouwyang Bouw putera Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok dan dia yang telah mengobatiku secara luar biasa! Dan tahukah engkau bagaimana aneh dan lucunya? Katanya, kepalanya menjadi gundul juga karena jarum beracun Ouwyang Bouw itu! Aku telah berhutang budi kepadanya, maka ketika aku melihat dia tertawan pasukan, aku lalu menolongnya. Dan kau melihat sendiri betapa dia kembali mengorbankan diri menolongku ketika huito-mu menyambar."

Kim In membalikkan tubuhnya, duduk menghadapi sumoi-nya kemudian menatap wajah sumoi-nya dengan tajam penuh selidik, lalu bertanya lantang, "Sumoi, apakah kau jatuh cinta kepada pemuda gundul itu?"

Seluruh wajah yang cantik jelita dan kepala yang gundul kelimis itu menjadi merah sekali. Dengan suara gemetar Hong Ing menjawab, "Mengapa Suci bertanya demikian? Aku baru saja bertemu dengan dia. Aku kagum kepadanya, aku suka... akan tetapi, aku tidak tahu... tentang cinta... hemmm, entahlah."

"Itu tandanya kau mulai jatuh cinta. Hemm, laki-laki semua penipu, tidak dapat dipercaya! Jangan kau mudah menjatuhkan hati kepada seorang pria, Sumoi. Kau akan kecewa!"

Hong Ing memandang suci-nya dengan sinar mata penuh iba. "Aku tahu, Suci. Kau sakit hati karena kau pernah tertipu. Akan tetapi aku yakin sekali bahwa sampai detik ini pun kau masih... masih mencintanya."

Berubah wajah Kim In dan cepat dia menghapus dua titik air mata yang membasahi bulu matanya. "Memang, tetapi dia sudah mati. Andai kata dia masih hidup, belum tentu aku dapat memaafkan perbuatannya yang terkutuk itu! Berjinah dengan isteri muda Thian-ong Lo-mo! Cihh! Akan tetapi dia sudah mati dan bagaimana pun juga aku akan membalaskan kematiannya kepada Thian-ong Lo-mo."

"Tapi kabarnya kakek itu lihai sekali, Suci. Bahkan kabarnya tingkatnya seimbang dengan Subo."

"Pasti akan tiba masanya aku dapat membalaskan kematian tunanganku kepada kakek itu!" kata Kim In berkeras.

Tiba-tiba saja dua orang dara yang cantik itu meloncat berdiri dan memutar tubuh. Mereka mendengar suara langkah kaki orang, akan tetapi ketika mereka meloncat dan memutar tubuh, tidak ada bayangan orangnya! Selagi mereka terheran-heran dan saling pandang, di sebelah belakang mereka terdengar suara orang tertawa, suara tawa seorang laki-laki!

Cepat mereka kembali memutar tubuh dan... mereka tidak melihat apa-apa di situ kecuali pohon-pohon yang lebat dan sunyi. Padahal gema suara ketawa itu masih terdengar oleh mereka.

Kim In dan Hong Ing saling pandang dan merasa ngeri. Mereka tak percaya akan adanya setan. Telah belasan tahun mereka tinggal di Pegunungan Go-bi-san, telah belasan tahun mereka mengenal hutan-hutan lebat tetapi belum pernah mereka bertemu setan. Sebagai murid-murid orang pandai, mereka tahu bahwa mereka kini berhadapan dengan seorang yang memiliki ilmu kepandaian tinggi.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner