PETUALANG ASMARA : JILID-41


Pekerjaan Hong Ing sehari-hari hanyalah membaca liam-keng (doa) dan tentu saja doa yang keluar dari dalam hatinya bukanlah untuk Si Gendut itu, melainkan dia berdoa untuk keselamatan suci-nya, Lauw Kim In yang mengorbankan dirinya menjadi isteri pemuda iblis Ouwyang Bouw, kemudian doa untuk keselamatan dirinya sendiri supaya dia dapat segera membebaskan diri dari tempat yang mengerikan ini, dan kadang-kadang kalau dia terbayang wajah Kun Liong yang amat sulit untuk dapat dilupakannya itu, dia berdoa agar mendapat kesempatan lagi bertemu dengan pemuda gundul itu! Sedikit pun tidak ada doa di dalam hatinya untuk permintaan Kim Seng Siocia!

Sesudah tinggal sebagai tamu terhormat, atau lebih tepat tahanan terhormat di istana itu belasan hari lamanya, Hong Ing mendapat kenyataan bahwa Kim Seng Siocia ternyata betu-betul merupakan seorang wanita aneh yang memiliki banyak ilmu kepandaian tinggi. Bukan hanya mempunyai tenaga sinkang yang sangat luar biasa, juga wanita ini memiliki kekebalan dan pandai memainkan segala macam senjata, termasuk ahli pula dalam hal menggunakan anak panah.

Ia pernah dibuat amat kagum ketika pada suatu sore nona gendut itu mendemonstrasikan kepandaiannya memanah burung. Ketika itu sekelompok burung sedang terbang di udara, tinggi sekali sampai hanya terlihat sebagai titik-titik hitam kecil. Burung-burung itu sedang terbang berkelompok kembali ke sarang mereka arah selatan.

"Aku ingin makan panggang burung dara hijau!" nona gendut itu berkata dan Amoi segera memberikan gendewa dan tempat anak panah yang terisi belasan batang anak panah.

Walau pun tubuhnya gendut, ternyata Kim Seng Siocia dapat bergerak cepat sekali, dan tahu-tahu gendewa telah dipentangnya kemudian berturut-turut dia melepaskan tiga belas batang anak panah ke udara. Gerakannya sedemikian cepatnya sehingga sulit diikuti oleh pandang mata dan anak-anak panah itu meluncur beriringan seperti bersambung.

Tak lama kemudian, anak panah yang tiga belas batang jumlahnya itu berjatuhan dan… setiap batang membawa dua ekor burung yang tertembus dadanya! Hampir saja Hong Ing tidak dapat percaya akan apa yang disaksikannya dan diam-diam dia merasa ngeri sekali. Demikian hebatnya ilmu memanah nona gendut ini!

Menyaksikan kelihaian Kim Seng Siocia ini, makin berhati-hatilah Hong Ing. Dia tak berani sembarangan melarikan diri karena maklum akan keanehan watak nona gendut itu yang tentu tak akan segan-segan membunuhnya kalau dia melarikan diri dan tertangkap. Maka dia harus menunggu saat yang paling tepat dan baik, dan dia hanya akan melarikan diri kalau sudah yakin takkan tertangkap kembali. Pula, kalau dia berdiam di tempat itu tentu tidak akan dapat dicari oleh subo-nya! Andai kata subo-nya dapat mencarinya di tempat ini, agaknya subo-nya akan menghadapi lawan berat sekali dalam diri Kim Seng Siocia dan anak buahnya!

Lebih baik di sini dari pada bersembunyi di dalam kuil, karena sesungguhnya dia pun tak suka untuk menjadi nikouw. Akan tetapi, karena dia berada di istana itu dalam tugasnya sebagai nikouw, terpaksa dia selalu membersihkan rambut dari kepalanya bila mana ada rambut mulai tumbuh. Dia tidak boleh memancing kecurigaan Kim Seng Siocia dan harus bersikap seperti seorang nikouw tulen yang saleh!

Pada suatu senja, dia melihat Acui dan Amoi berlari-larian sambil mengumpulkan anak buahnya. Karena merasa tertarik dia lalu keluar dari kamarnya dan bertanya kepada Amoi yang bersikap bersahabat dangannya.

"Amoi, apakah yang terjadi?"

Amoi tertawa terkekeh-kekeh. "Hi-hi-hi-hik, pesta besar, Sukouw. Banyak lalat jantan yang terjebak dalam sarang laba-laba, dan di antaranya adalah seekor lalat bule (putih) yang tentu menarik perhatian Siocia. Siocia menyuruh kami menangkap mereka hidup-hidup!" Setelah berkata demikian, dua orang pelayan yang berpakaian merah itu berlari-lari diikuti anak buah mereka.

Hong Ing menjadi sangat penasaran dan dia bertanya kepada serombongan pasukan yang agaknya hendak membantu pula. "Apakah yang terjadi? Banyak lalat terjebak dalam sarang laba-laba? Apa artinya itu?"

Karena Kim Seng Siocia menganggap Hong Ing sebagai tamu agung maka telah menjadi kebiasaan para anak buah di situ untuk menghormati nikouw muda ini, maka seorang di antaranya menjawab singkat, "Lalat berarti manusia dan lalat jantan adalah kaum laki-laki. Hi-hi-hik, mudah-mudahan aku mendapat bagian!"

"Cuihh, laki-laki!" kata wanita ke dua sambil membuang ludah. Entah mengapa agaknya wanita ini pernah mengalami hal yang tak enak yang ada hubungannya dengan kaum pria sehingga dia membenci pria.

"Hayo kita berangkat!" orang ke tiga berkata sambil bertanya kepada Hong Ing, "Apakah Sukouw hendak menonton?"

Hong Ing mengangguk dan dia ikut pula berlarian dengan rombongan itu memasuki hutan yang gelap. Belum pernah dia masuk hutan ini dan ternyata rombongan ini membawanya ke sebuah daerah di dalam hutan itu yang penuh dengan goa-goa dan Acui serta Amoi bersama anak buahnya sudah pula berada di situ, menyalakan obor dan mereka bicara sambil tertawa-tawa dan menuding-nuding ke dalam goa-goa itu.

Hong Ing melangkah maju dan memandang. Hatinya heran bukan main ketika dia melihat ada enam orang laki-laki di dalam dua buah goa itu dan mereka ini benar-benar terjebak dalam sarang laba-laba! Sarang laba-laba yang besar dan yang melekat di tubuh enam orang itu. Betapa pun enam orang itu meronta-ronta, mereka tidak dapat melepaskan diri dari lekatan benang yang sebesar tali itu, benang sarang yang memiliki daya melekat dan membelit!

"Iihhh, apakah itu sarang laba-laba tulen?" tanya Hong Ing mendekati Acui.

"Lihat saja di sana, kami sudah membunuh laba-labanya," dia lalu menuding ke kiri dan hampir saja Hong Ing menjerit.

Benar saja, di sana terdapat dua bangkai binatang yang mengerikan sekali. Jelas kedua bangkai itu adalah tubuh binatang laba-laba hitam akan tetapi bentuknya luar biasa sekali! Sebesar kucing atau anjing kecil! Pantas saja sarangnya demikian besar dan sangat kuat, sanggup menangkap manusia!

Akan tetapi dia segera tertarik ketika melihat salah seorang di antara enam pria itu. Dia mengenal orang yang berkulit putih itu. Itulah orang kulit putih yang bersama Tok-jiauw Lo-mo pernah menggunakan pasukan pemerintah menangkap Kun Liong dan menawan pemuda itu! Kalau dia tidak salah ingat, dulu Kun Liong pernah menyebutkan namanya, Marcus! Ya, Marcus!

Marcus dan lima orang laki-laki lain yang sama sekali tidak berdaya itu segera ditangkap, dibelenggu kedua tangannya dan digiring keluar dari goa itu. Marcus berkata-kata dalam bahasa asing, kelihatannya marah, dan seorang di antara lima anak buahnya itu berkata dengan penasaran,

"Kami ini mau dibawa ke mana? Kami tidak bersalah apa-apa terhadap kalian!"

Para gadis yang menggiring mereka itu tertawa-tawa saja, dan Amoi yang genit segera membentak. "Hushhh, diamlah! Kalian berenam seharusnya berterima kasih kepada kami. Apa bila kami tidak membunuh kedua ekor laba-laba hitam raksasa itu, agaknya sekarang semua darah dan sumsum kalian telah disedot habis!"

Pada saat melihat Marcus, Hong Ing menyelinap ke belakang. Dia khawatir kalau pemuda asing itu mengenalnya. Akan tetapi diam-diam dia mengikuti perkembangan karena ingin melihat apa yang akan dilakukan oleh Kim Seng Siocia dan anak buahnya terhadap enam orang tawanan itu. Karena itu dia cepat mendahului rombongan yang sambil tertawa-tawa menggiring enam orang laki-laki itu, berlari dan memasuki istana bertemu dengan Kim Seng Siocia, disambut oleh wanita gendut itu dengan senyum ramah.

"Ha-ha-ha, aku mendengar ada enam orang pria menjadi tawanan. Hi-hi-hik, Pek Nikouw, apakah ini hasil doamu? Mudah-mudahan saja jodohku berada di antara mereka."

"Omitohud, mudah-mudahan begitu, Siocia. Pinni sudah melihat mereka dan harap Siocia yang menentukan sendiri. Tetapi sebagai seorang pendeta, pinni tidak boleh berhadapan dengan kaum pria, maka pinni hanya akan menonton dari belakang tirai saja."

Kim Seng Siocia tertawa. "Hi-hi-hi-hik, kasihan sekali engkau. Masih begitu muda sudah harus menjauhkan diri dari pria. Tentu saja boleh, Pek Nikouw, dan kalau benar di antara mereka terdapat jodohku, berarti doamu manjur luar biasa dan aku tentu akan memberi hadiah besar kepadamu."

Sesuai dengan perintah nona gendut itu, enam orang tawanan itu dihadapkan seorang demi seorang. Betapa kecewa hati Kim Seng Siocia melihat laki-laki yang usianya sudah empat puluh tahun lebih dan yang hanya terdiri dari orang-orang kasar. Pada waktu dia menyuruh buka belenggu mereka seorang demi seorang dan memerintahkan Acui dan Amoi untuk menguji kepandaian mereka, tidak ada seorang pun di antara lima orang anak buah Marcus yang dapat bertahan melawan seorang di antara dua pelayan manis itu lebih dari sepuluh jurus!

Dengan hati kecewa dan juga penasaran, Kim Seng Siocia menghadiahkan lima orang itu kepada anak-anak buahnya dan terdengarlah sorak-sorai dan tawa ketika lima orang itu diseret-seret dan dijadikan perebutan di luar istana. Dari tempat sembunyinya di belakang tirai, Hong Ing hanya dapat mendengar lima orang itu berteriak-teriak di antara sorak-sorai itu dan dia bergidik. Kemudian dia melihat Marcus dihadapkan nona gendut.

"Siapa namamu?" tanya Kim Seng Siocia.

"Marcus," jawab pemuda asing itu dengan suara aneh karena memang dia belum begitu pandai berbahasa pribumi. Kim Seng Siocia kelihatan tertarik dan dia menyuruh Amoi menguji kepandaian pemuda yang berkulit putih itu. Amoi maju dan tersenyum genit.

"Apa kau pandai main silat?" tanya Amoi.

Marcus mengangguk. "Sedikit-sedikit aku sudah mempelajari ilmu silat ketika aku menjadi anak buah tuan Legaspi Selado yang berilmu tinggi. Akan tetapi di negeriku aku terkenal sebagai seorang ahli tinju."

"Tinju?" Amoi bertanya heran dan tidak mengerti.

Marcus mengepal kedua tangannya. "Ahli menggunakan ini untuk merobohkan lawan."

"Aha! Ilmu silat bangsamu? Bagus, coba kau robohkan aku dengan itu!"

Marcus menjerutkan alisnya dan menggelengkan kepala. "Tidak pernah aku merobohkan wanita dengan tinju!" Dia tertawa. "Biasanya aku merobohkan wanita dengan cinta!"

Acui, Amoi dan para penjaga di situ tertawa dan Kim Seng Siocia sudah bangkit berdiri dari kursinya, melangkah maju dan mengamat-amati Marcus dari kepala sampai ke kaki.

"Marcus, jadi engkau ini ahli mencinta wanita?" tanyanya.

Didekati oleh wanita gendut yang agaknya menjadi ketua gerombolan wanita itu, Marcus kelihatan gelisah. Kalau disuruh merayu Acui atau Amoi, atau beberapa orang di antara para anak buah yang muda dan cantik, tentu saja dia akan merasa suka sekali. Akan tetapi wanita ini sungguh berbeda dengan yang lain. Tubuhnya tinggi besar dan sikapnya begitu penuh wibawa. Dia tidak menjawab, hanya mengangguk.

"Heh-heh, kau menarik juga. Tentu saja aku tidak akan suka menjadi isteri orang asing yang berkulit putih bermata biru. Akan tetapi, kalau kau memenuhi seleraku, kalau kau menyenangkan dan mencocoki hatiku, kau akan menjadi selirku. Hi-hik!"

Marcus membelalakkan matanya. "Apa? Selir? Selir bagaimana?"

Dia pun sudah pernah mendengar bahwa selir adalah seorang peliharaan, seorang isteri di luar pernikahan resmi. Akan tetapi biasanya adalah wanita yang menjadi selir pria, dan sekarang wanita gundul ini hendak mengambilnya sebagai selir!

"Bodoh!" Amoi berkata tertawa. "menjadi selir berarti menjadi kekasih Siocia."

Marcus mengerutkan alisnya dan memandang wanita gendut itu. Memang bukan seorang wanita tua dan wajahnya pun tidak terlalu buruk, hanya terlalu gendut. Dia adalah seorang laki-laki, seorang petualang, mana mungkin dia tunduk begitu saja dijadikan ‘selir’ seorang wanita? Biar pun wanita ini agaknya menjadi kepala di sini, namun menjadi selir amatlah rendah!

"Kalau aku menolak?" tantangnya.

"Bagaimana caramu untuk menolak?" Kim Seng Siocia bertanya, matanya bersinar agak gembira, melihat bahwa pemuda asing ini lumayan juga, memiliki kejantanan.

"Dengan ini!" Marcus memperlihatkan kepalan tinjunya yang besar. "Biar pun aku tidak pernah menggunakan ini untuk menghadapi wanita, akan tetapi kalau aku dipaksa..."

"Heh-heh, bagus! Ehh, Marcus, apakah kau lebih suka kuberikan kepada laba-laba?"

Marcus membelalakkan matanya yang biru. "Laba-laba?"

Amoi tertawa. "Hi-hi-hik, laba-laba kecil yang banyak sekali lebih berbahaya dari laba-laba besar. Teman-temanmu yang lima orang kini sedang dikeroyok banyak laba-laba kecil!"

Marcus mendengarkan dan sayup-sayup dia masih mendengar suara cekikikan ketawa banyak wanita. Dia menjadi bingung dan kembali dia kelihatan gelisah.

"Begini saja," kata Kim Seng Siocia. "Apa bila dalam waktu lima jurus aku belum mampu mengalahkan engkau, biarlah kau akan kuberi kebebasan. Akan tetapi kalau dalam waktu lima jurus kau roboh,bagaimana?"

"Tidak mungkin!"

"Siocia bertanya, cepatlah kau jawab!" Acui membentak, kelihatan marah sekali sehingga suaranya ketus dan nyaring.

Marcus terkejut dan dia memandang wanita gendut itu penuh perhatian. Benarkah cerita teman-temannya yang lebih dahulu merantau ke tanah ini, bahwa di sini terdapat banyak orang sakti yang aneh, di antaranya ada pula wanita yang mempunyai ilmu kepandaian tinggi?

"Nona," katanya sambil menjura. "Aku akan menerima segala perintahmu, bahkan akan mengangkatmu sebagai guruku kalau benar-benar kau dapat mengalahkan aku dalam lima jurus!"

Kim Seng Siocia tertawa, kemudian berkata, "Bersiaplah kau. Akan kuserang kau sampai lima jurus dan hendak kulihat apakah kau benar-benar dapat bertahan."

Marcus mulai menduga bahwa agaknya nona gendut ini memang mempunyai kepandaian karena kalau tidak, tak mungkin berani bicara sesombong itu. Karena itu dia pun segera memasang kuda-kuda, kedua tangan dikepal dan dia sudah siap untuk menangkis segala serangan lawan. Dia masih merasa ragu untuk memukul wanita ini, maka dia mengambil keputusan asal dia dapat bertahan selama lima jurus cukuplah. Dan dia akan menangkis dengan pengerahan tenaga agar lengan wanita itu terasa nyeri!

"Jurus pertama!" Kim Seng Siocia berkata, tangan kirinya menyambar dengan sebuah tamparan ke arah kepala Marcus. Gerakannya cepat dan mendatangkan sambaran angin dahsyat.

Marcus terkejut sekali. Cepat dia mengangkat lengan kanan ke atas sambil mengerahkan tenaga agar lengan wanita itu terasa nyeri terkena tangkisannya. Akan tetapi lengannya hanya menangkis angin kosong belaka dan tahu-tahu tangan wanita itu menyambar, turun melalui bawah tangannya yang menangkis dan sudah ‘menowel’ jalan darah di ketiaknya sehingga tiba-tiba lengannya lumpuh dan tubuhnya terhuyung!

Selagi Marcus terheran-heran, nona gendut itu sudah tertawa dan berkata lagi. "Jurus ke dua!"

Marcus cepat mempersiapkan diri lebih berhati-hati dari pada tadi. Kini kelihatan wanita itu menggerakkan kedua tangannya dari kanan kiri seperti hendak menyerangnya dengan dua tamparan, satu ke arah kepala dan yang ke dua ke arah pinggangnya.

Marcus cepat mengikuti tangan itu dan begitu melihat berkelebatnya dua tangan dia cepat menyambar untuk menangkap. Girang hatinya saat dia berhasil menangkap pergelangan kedua tangan Kim Seng Siocia, akan tetapi mendadak kedua kakinya dibabat oleh kaki lawan dan tubuhnya menjadi terguling roboh karena nona itu sudah merenggutkan kedua lengannya terlepas.

"Bukkk!"

Marcus merayap bangun dan meringis karena pantatnya terasa nyeri ketika dia terbanting tadi. Mulai marahlah dia, juga malu sekali. Jelas bahwa dalam dua jurus tadi, dia sudah dua kali jatuh!

Melihat lelaki ini sudah memasang kuda-kuda lagi dengan mata menjadi agak kemerahan tanda marah, Kim Seng Siocia tertawa dan berkata, "Kau keras kepala juga, ha-ha. Jaga ini jurus ke tiga!"

Kim Seng Siocia yang hanya ingin main-main, secara sembarangan menggerakkan lagi tangan kirinya menampar, bahkan yang menampar bukan tangan melainkan ujung lengan bajunya yang panjang dan lebar. Sekali ini Marcus sudah tahu bahwa lawannya sangat lihai, maka dia menangkis dengan tangan kanan akan tetapi mendahului dengan tangan kirinya menghantam ke arah dagu wanita itu dengan sebuah pukulan ‘uppercut’.

"Plak-plak... desss...!"

Cepat sekali gerakan tangan wanita itu sehingga tidak terlihat oleh Marcus yang menjadi keheranan akan tetapi segera dia mengaduh-aduh karena tahu-tahu dia sudah terbanting lebih keras dari pada tadi! Dia hanya merasa betapa siku lengannya yang memukul tadi disambar dari samping, kemudian tubuhnya terbanting tanpa dapat ditahannya lagi. Dia merasa penasaran bukan main.

Benarkah dia, Marcus si jago tinju, sama sekali tak berdaya menghadapi seorang wanita yang begini gendut? Benar-benar memalukan sekali! Dia mendengus, meloncat bangun dan memandang dengan mata merah, kedua tangannya terkepal dan dia sudah siap lagi menghadapi serangan.

"Hi-hi-hik, kau masih berani? Baiklah, masih tersisa dua jurus lagi dan awas, aku akan menggunakan dua jurus itu. Siap!"

Tubuh yang gendut itu bergerak maju. Marcus sudah siap. Dia tidak mau membiarkan wanita itu mendahuluinya karena kini dia mengerti bahwa betapa pun gendutnya wanita itu dapat menggerakkan kedua kaki tangan dengan cepat sekali. Maka dia tidak menanti sampai diserang, melainkan mendahuluinya menyerang dengan pukulan dahsyat ke arah perut yang gendut itu. Dapat dibayangkan betapa herannya melihat wanita itu sama sekali tidak menangkis, bahkan tidak mengelak.

"Crotttt…!"

Marcus merasa betapa kepalannya bertemu dengan benda lunak dan kepalannya itu lalu menancap sampai ke pergelangan tangannya. Celaka, pikirnya, aku telah membunuhnya ketika melihat kepalan tangannya ‘masuk’ ke dalam perut gendut itu.

Akan tetapi, Kim Seng Siocia tertawa dan Marcus yang amat kaget itu menarik kembali kepalannya. Akan tetapi sia-sia, kepalan tangannya yang menancap di perut itu tidak bisa dicabutnya kembali! Dia menjadi bingung, malu, marah, juga penasaran sekali. Tangan kirinya mencengkeram ke depan, ke arah muka wanita itu. Akan tetapi Kim Seng Siocia menangkap tangan kiri itu, kemudian berseru,

"Naiklah!" dan... tubuh Marcus telah dilontarkan ke atas.

Markus memekik ngeri ketika tubuhnya meluncur seperti sebutir peluru pistol ke atas dan cepat-cepat dia merangkul balok melintang ketika tubuhnya menabrak itu. Dengan tubuh gemetar dia memandang ke bawah, melihat betapa Kim Seng Siocia tertawa dan berkata,

"Hayo turunlah! Apakah kau masih belum mengaku kalah?"

Kini maklumlah Marcus bahwa kepandaian wanita itu benar-benar hebat sekali. Kiranya belum tentu kalah oleh Legaspi Selado sendiri. Betapa bodohnya sudah melawan wanita sepandai itu.

"Aku... aku mengaku kalah...," katanya dengan ngeri melihat betapa tingginya tempat dia berada.

"Dan kau mau menjadi selirku?"

"Ya... ya, aku mau..."

"Dan mau juga menjadi muridku?"

"Aku mau, aku suka sekali..."

"Kalau begitu lekaslah meloncat turun. Mau apa lama-lama di situ?"

Tubuh Marcus gemetar. "Lon... loncat...? Kakiku bisa patah..."

"Haiii, manusia tolol!" Amoi memaki sambil menudingkan telunjuknya ke atas. "Kau bilang mau menjadi selir dan murid mengapa tidak mentaati perintah? Kalau Siocia bilang turun, turunlah!"

Marcus maklum akan kekeliruannya. Wanita gendut yang lihai ini hendak mengambilnya menjadi kekasih dan murid, tentu saja kalau dapat melontarkannya ke atas, dapat pula melindunginya apa bila dia meloncat turun. Maka sambil memejamkan matanya, dengan nekat dia meloncat ke bawah!

Ketika merasa bahwa tidak ada orang menyambutnya, Marcus membuka matanya dan dia berteriak ngeri melihat tubuhnya meluncur ke arah lantai marmer dengan kepala lebih dahulu! Akan tetapi, ketika hidungnya yang panjang itu hampir menyentuh lantai, tiba-tiba tubuhnya terhenti dan ternyata bahwa tangan kiri yang kuat dari Kim Seng Siocia sudah mencengkeram baju di punggungnya, kemudian mendorongnya berdiri.

"Berlututlah, Marcus."

Mendengar perintah ini Marcus lalu menjatuhkan diri berlutut di depan wanita gendut itu. Kim Seng Siocia tersenyum lebar dan memberi isyarat dengan tangannya kepada para penjaga untuk mengundurkan diri, kemudian berkata kepada Amoi dan Acui,

"Sediakan air pencuci kaki lalu pergilah kalian keluar."

Amoi dan Acui mengangguk, cepat menyediakan sebuah bokor emas berisi air hangat berikut kain bulu yang halus, menaruhnya di dekat kursi yang seperti pembaringan itu, lalu sambil tersenyum-senyum dan melirik ke arah Marcus yang masih berlutut itu mereka keluar dari kamar, menutupkan daun pintu ruangan itu dari luar.

"Marcus, kau cucilah kakiku," kata Kim Seng Siocia sambil merebahkan diri di atas kursi yang panjang dan lebar itu.

Marcus tidak merasa terhina lagi. Apa pun yang diperintahkan wanita ini, tidak ada orang lain yang menyaksikannya. Pula, dia sudah yakin bahwa wanita ini, betapa pun anehnya, adalah seorang yang mempunyai kesaktian hebat, menjadi kekasihnya dan juga muridnya merupakan hal yang amat menguntungkan baginya.

Maka tanpa ragu-ragu lagi dia lalu mengambil bokor air hangat, menghampiri nona gendut itu, menggunakan kain bulu yang dicelup di air untuk membersihkan kaki nona ini. Bukan itu saja, bahkan pemuda yang cerdik ini mulai mempergunakan ‘kepandaiannya’ merayu wanita, sambil membersihkan dia memijati dan membelai kaki itu yang biar pun bentuknya besar namun cukup bersih, padat dan menggairahkan sehingga Kim Seng Siocia merasa nikmat dan merem melek di atas kursinya.

"Aihh, Marcus... kau menyenangkan hatiku. Mari... marilah kau layani aku baik-baik, kau akan kuajari ilmu yang akan membuat kau benar-benar menjadi seorang jantan." Wanita itu turun dari kursinya, menggandeng tangan Marcus diajak memasuki kamarnya yang mewah dan indah.

Diam-diam Hong Ing yang mukanya berubah menjadi merah saking jengah menyaksikan pemandangan tadi, menjadi lega hatinya melihat mereka memasuki kamar, maka cepat keluar dari balik tirai dan pergi dari tempat itu. Makin ngeri dia memikirkan keadaan Kim Seng Siocia dan anak buahhya, apa lagi ketika mendengar betapa lima orang pria anak buah Marcus itu dikeroyok serta dipaksa bermain cinta oleh puluhan orang wanita yang sudah seperti gila itu! Dia bergidik, akan tetapi betapa pun muak hatinya, dia masih belum berani melarikan diri karena di situ terdapat Acui dan Amoi yang amat lihai.

Hong Ing memasuki ruangan tempat duduk Kim Seng Siocia dengan hati berdebar. Entah kenapa hatinya merasa tidak enak ketika malam hari itu Kim Seng Siocka memanggilnya dan yang disuruh memanggil adalah Acui dan Amoi yang kini mengikutinya dari belakang.

Ketika dia masuk ruangan dan melihat Marcus duduk di samping wanita gendut itu, Hong Ing menghentikan langkahnya. Akan tetapi Acui dan Amoi mendorongnya dari belakang. Hong Ing cepat menarik turun penutup kepalanya sehingga mukanya terlindung.

"Siocia memanggil pinni?" tanyanya sambil berdiri di depan wanita itu.

"Bukalah kerudungmu, perlihatkan mukamu," berkata Kim Seng Siocia, suaranya berbeda dari biasanya, kereng dan penuh wibawa.

"Tapi... tapi Siocia, ada seorang pria di sini," Hong Ing membantah.

"Marcus? Hi-hi-hik, dia adalah orang sendiri, bukan orang luar. Hayo bukalah!"

Karena maklum bahwa menolak amatlah berbahaya, maka Hong Ing terpaksa membuka kerudungnya dengan harapan bahwa Marcus sudah lupa kepadanya. Akan tetapi begitu kerudung dibuka, terdangar suara Marcus,

"Benar dia! Nikouw cantik yang menolong Yap Kun Liong! Dia mata-mata!"

Tentu saja Hong Ing terkejut bukan main. Andai kata Marcus tidak menjadi kekasih Kim Seng Siocia, hal itu masih mending karena tidak ada hubungannya dengan wanita gendut itu.

"Siocia, cocok sekali ceritaku. Dialah sekutu Yap Kun Liong dan kalau dia berada di sini, tentu dia tahu di mana adanya Kun Liong. Kita harus dapat menangkapnya," kata pula Marcus.

"Hemm, tapi aku tidak begitu tertarik dengan ceritamu mengenai bokor emas yang dapat menunjukkan tempat harta pusaka. Aku sudah mempunyai cukup harta," Kim Seng Siocia membantah.

"Tetapi, di samping harta, masih ada pusaka yang mengandung ilmu yang mukjijat, begitu dikatakan orang, bahkan belum lama Tok-jiauw Lo-mo bersamaku berusaha menyelidiki."

"Siapa? Tok-jiauw Lo-mo murid Thian-ong Lo-mo?" Wanita itu kelihatan kaget.

"Aihh, jadi Siocia mengenalnya?"

"Tidak, akan tetapi aku sudah pernah mendengar tentang nama Thian-ong Lo-mo di kaki pegunungan ini. Kalau kakek seperti dia juga memperebutkan bokor, agaknya memang patut diperhatikan."

"Tentu saja dia juga ikut memperebutkan. Bahkan dia sudah bersekutu dengan Kwi-eng Niocu yang telah tewas di tangan Yap Kun Liong itu..."

"Apa? Demikian lihai Yap Kun Liong itu?"

"Lihai sekali, Siocia. Bahkan kabarnya dia mengalahkan banyak tokoh, biar pun dia tidak pernah bersungguh-sungguh. Bocah itu aneh dan dulu kami telah berhasil menangkapnya dengan jalan meracuninya, akan tetapi dia diselamatkan oleh nikouw cantik ini!"

Kim Seng Siocia kini memandang Hong Ing penuh perhatian. "Benarkah ceritanya itu, Pek Nikouw?"

Hong Ing tidak dapat membohong, maka dengan tenang dia menjawab, "Pinni tidak tahu menahu tentang bokor dan sebagainya, yang pinni tahu hanyalah bahwa pinni memang telah menolong seorang pemuda yang menjadi tawanan, pemuda yang terkena racun..."

"Di mana dia Yap Kun Liong itu?" Marcus membentak.

Tiba-tiba saja terdengar suara laki-laki yang nyaring sekali dari luar istana, suara yang menggetar dan menggema di seluruh puncak. "Apakah di sini tempat tinggalnya Go-bi Sin-kouw? Aku minta agar Sin-kouw suka keluar dan kita bicara tentang Pek Hong Ing..."

Semua orang terkejut. Orang yang bicara itu telah berada di depan istana! Mana mungkin ada orang datang tanpa diketahui oleh para penjaga? Akan tetapi yang paling terkejut adalah Hong Ing. Terkejut dan juga girang mendengar suara itu, suara Kun Liong!

"Kun Liong...!" Dia berseru dan meloncat hendak keluar. Akan tetapi, Acui dan Amoi telah menghadangnya dan dua orang pelayan yang lihai itu sudah menggerakkan tangan untuk menangkapnya.

Hong Ing sudah siap, ketika hendak meloncat tadi, dan karena maklum akan kelihaian dua orang itu, maka dia sudah mendahului, mengirim tendangan kilat sekaligus menotok. Tendangan mengarah pusar Amoi sedangkan totokannya ditujukan ke arah pundak Acui. Gerakannya sungguh tidak terduga dan cepat sekali, maka Amoi hanya dapat miringkan tubuh dan pahanya masih kena tendangan, ada pun jari tangan Hong Ing dapat menotok tepat di pundak Acui.

"Buukkk! Cuussss!"

Tubuh Amoi yang terkena tendangan itu hanya terhuyung sedikit, sedangkan Acui juga hanya melangkah mundur dan sama sekali tak terpengaruh totokan yang hanya membuat tubuhnya tergetar. Tetapi detik ini sudah cukup bagi Hong Ing untuk meloncat dari tempat itu menuju keluar.

"Wuuuiiiit... brusss!"

Tubuh Hong Ing tergelimpang kena disambar oleh angin pukulan dahsyat dari samping yang dilancarkan oleh tangan Kim Seng Siocia! Hong Ing terkejut sekali, akan tetapi pada saat itu, Acui dan Amoi sudah menubruk dan menangkapnya.

"Ikat dia!" Kim Seng Siocia membentak dan Amoi segera mengikat kedua tangan Hong Ing ke belakang, menggunakan tali yang ulet itu, tali yang dapat mulur seperti karet.

"Kun Liong...!" Hong Ing berseru nyaring, akan tetapi hanya satu kali itu karena lehernya sudah ditotok oleh jari tangan Acui yang lihai sehingga dia menjadi gagu!

"Hong Ing...! Di mana kau...?" Kun Liong berteriak girang ketika mendengar suara dara yang dikhawatirkannya itu.

Akan tetapi mendadak tampak berkelebatnya bayangan banyak orang dan tahu-tahu dia telah dikurung oleh puluhan orang gadis yang memegang bermacam-macam senjata! Kun Liong mencari akal, akan tetapi semua gadis itu tidak dikenalnya, bahkan Lauw Kim In yang diduganya tentu akan muncul malah tidak nampak juga. Melihat sikap mereka yang penuh ancaman, dan mereka makin mengurung rapat, Kun Liong berseru,

"Haiiii! Kalian ini mau apa? Aku hendak berjumpa dengan Go-bi Sin-kouw untuk bicara tentang muridnya! Mundurlah kalian!"

Akan tetapi, para gadis itu tidak mundur bahkan kini makin banyak yang datang dan ada pula yang membawa obor sehingga keadaan di situ menjadi terang sekali. Acui dan Amoi muncul pula, diikuti oleh Marcus.

"Di sini tak ada Go-bi Sin-kouw, yang ada hanya Siocia kami yang menantimu di dalam." kata Amoi sambil tersenyum manis. "Hwesio muda yang tampan, kau menyerahlah untuk kami hadapkan kepada Siocia!"

"Amoi, hati-hati! Dia bukan hwesio dan dia lihai sekali!" kata Marcus.

Ketika Kun Liong mengangkat muka memandang, dia mengenal Marcus dan dia tertawa. "Ahh, kiranya Tuan Marcus yang berdiri di balik ini semua. Dahulu engkau menggunakan tentara pemerintah, sekarang engkau mempergunakan tentara wanita. Sungguh kau licik sekali, Marcus. Lebih baik kalian lekas bebaskan nona Pek Hong Ing yang suaranya tadi telah kudengar, dan kami berdua akan pergi dari sini dengan aman karena memang tidak ada permusuhan di antara kita."

"Tangkap dia! Tetapi jangan membunuhnya!" Marcus berseru dan wanita-wanita itu yang maklum bahwa tentu perintah Marcus ini sudah disetujui oleh Siocia, lalu mulai menyerbu ke depan. Apa lagi yang disuruh tangkap adalah seorang pemuda tampan sungguh pun kepalanya gundul, maka mereka sudah menyarungkan senjata masing-masing, kemudian sambil terkekeh genit mereka menyerbu seperti berebut.

Melihat tangan yang berjari-jari halus runcing itu, lengan yang bulat dan padat demikian banyaknya hendak meraihnya, Kun Liong jadi bergidik. Betapa pun bagusnya tangan dan lengan itu, kalau terlalu banyak menimbulkan jijik dan ngeri juga! Dia cepat meloncat ke sana-sini untuk menghindar sambil berteriak-teriak,

"Aku tidak sudi berkelahi dengan kalian! Aku tidak sudi berkelahi dengan wanita!"

Namun tentu saja teriakan-teriakannya tidak dihiraukan, bahkan sekarang para wanita itu semakin penuh gairah mengejarnya ke mana pun juga. Ditubruk sana sini, dirangkul dan dicengkeram sampai akhirnya ada beberapa jari tangan yang berhasil mengait bajunya sehingga baju itu robek di sana-sini.

"Kalian menjemukan! Pergilah!" Kun Liong berseru dan mengisi kedua lengannya dengan tenaga sinkang kemudian mendorong ke kanan kiri, dan... robohlah enam orang wanita, terpelanting seperti dilanda angin badai yang kuat. Mereka menjerit kaget dan kini Acui dan Amoi yang baru percaya akan ucapan Marcus tadi bahwa pemuda gundul ini lihai.

"Aihh, kiranya kau mempunyai juga sedikit kepandaian!" kata Acui dan dara ini meloncat maju, tubuhnya melambung tinggi lantas dari atas tubuhnya menukik ke bawah, kedua tangan dibentuk seperti cakar setan, yang kiri mencengkeram ubun-ubun kepala gundul itu, yang kanan menotok jalan darah di pundak.

"Hemmm, ganas kau!" Kun Liong mencela dan segera dia memutar lengannya ke atas sambil mengerahkan tenaga.

"Bruuukkk...!"

Tubuh Acui terlempar dan hanya berkat keringanan tubuhnya yang lihai saja membuat Acui tidak sampai terbanting. Tentu saja dara ini terkejut bukan main, lalu dia menerjang lagi dibantu oleh Amoi. Melihat dua orang ini maju, maka para anak buah mereka hanya mengurung dengan ketat sambil berteriak-teriak dan tertawa-tawa karena mereka semua kagum dan suka kepada pemuda gundul yang lihai ini.

Kun Liong menjadi bingung dan gemas juga. Sebenarnya dia tidak senang kalau harus menggunakan kekerasan, apa lagi jika disuruh berkelahi dengan wanita-wanita muda itu! Akan tetapi, melihat betapa pukulan serta cengkeraman kedua orang gadis itu bukanlah serangan yang boleh dipandang ringan dan benar-benar berbahaya sekali, maka terpaksa dia mengelak dan kadang-kadang menangkis, bahkan di waktu menangkis, dia gunakan tenaga sinkang sehingga dua orang gadis itu berkali-kali terdorong mundur dan menjerit kesakitan ketika beradu lengan.

Mereka makin kagum dan juga terkejut. Acui memberi isyarat dan keduanya mencelat ke belakang, Amoi di belakang dan Acui di depan pemuda itu. Keduanya telah mengeluarkan tali hitam yang ulet dan panjang, dan di ujung tali-tali itu terdapat lingkaran lasso. Begitu kedua gadis itu menggerakkan tangan, terdengar bunyi bercuitan dan dua batang lasso itu meluncur seperti ular hidup menuju ke arah kepala Kun Liong!

Kun Liong maklum bahwa dia hendak ditangkap dengan lasso, maka kedua tangannya siap. Ketika merasa betapa angin telah meniup kepalanya, tanda bahwa dua tali itu sudah menyambar turun, secepat kilat kedua tangannya menangkap lasso dan dengan gerakan tiba-tiba dia menarik sambil mengerahkan tenaga.

"Aiihhhh...!" Acui dan Amoi menjerit berbareng karena tubuh mereka sudah terbawa oleh tali yang mereka pegang erat-erat, terbawa oleh tarikan Kun Liong hingga tubuh mereka melayang ke atas dan saling bertubrukan di atas.

Baiknya keduanya lihai sekali. Sambil melepaskan tali, mereka saling berpegang tangan, kemudian dengan meminjam tenaga masing-masing, keduanya sudah melayang turun ke depan Kun Liong. Wajah mereka agak pucat.

Kun Liong tersenyum tenang menghadapi mereka, lalu berkata. "Nona-nona harap sabar. Aku datang bukan untuk berkelahi, melainkan untuk minta kepada siapa pun yang sudah menahan Nona Pek Hong Ing agar supaya membebaskannya."

"Pergunakan senjata!" Acui yang merasa marah dan penasaran membentak.

"Sing-sing-sing! Wuuuttt!"

Di antara sinar obor, tampak kilatan banyak senjata yang tercabut.

"Jangan...! Jangan bunuh dia... tangkap saja...!" Marcus berseru, tapi agaknya seruannya tidak dihiraukan oleh Acui, Amoi, dan anak buah mereka.

Selagi para pengurung itu bergerak dengan senjata di tangan dan mengelilingi Kun Liong yang makin bingung dan siap untuk menyelamatkan diri, tiba-tiba saja pintu depan istana terbuka dan terdengar seruan halus, "Tahan dan mundur semua!"

Suara ini berpengaruh sekali karena semua wanita itu serentak mundur dan membiarkan Kun Liong menghadapi orang yang baru datang, seorang wanita gemuk yang bermuka ramah dan tersenyum.

Melihat wajah orang, Kun Liong menjadi lega dan cepat dia menjura. "Aku Yap Kun Liong mohon agar dapat bertemu dengan Nona Pek Hong Ing..."

Akan tetapi wanita gemuk itu, yang bukan lain adalah Kim Seng Siocia, tidak menjawab, melainkan tetap tersenyum-senyum, matanya bersinar-sinar dan pandang matanya tajam menjelajahi seluruh tubuh Kun Liong, dari sepatunya yang berdebu sampai kepalanya yang gundul kelimis dan berkeringat. Dipandang seperti itu, Kun Liong merasa malu dan hanya menunduk, akan tetapi matanya diangkat untuk melihat serta mengawasi setiap gerak-gerik orang ini.

"Engkau bukan hwesio?" tiba-tiba Kim Seng Siocia bertanya.

Pertanyaan macam ini sudah terbiasa oleh Kun Liong, maka dia tidak banyak rewel dan menggelengkan kepalanya yang gundul mengkilap terkena sinar obor yang banyak itu.

"Mengapa kepalamu gundul?" kembali Kim Seng Siocia bertanya.

"Terkena penyakit!" jawab Kun Liong tak acuh dan jelas dia mulai kelihatan mendongkol karena kembali kepalanya yang dijadikan persoalan dan bahan percakapan pada saat yang genting itu.

Kim Seng Siocia agaknya merasa pula bahwa pemuda itu marah, maka dia memperlebar senyumnya. "Aku suka kepala gundul, bersih dan lain dari pada yang lain!"

Biar pun ucapan ini dikeluarkan dengan kesungguhan hati, namun tetap saja menambah kemengkalan hati Kun Liong. Apakah tidak ada lain ‘acara’ lagi selain berbicara tentang kepalanya?

"Toanio siapakah?" dia bertanya untuk mengalihkan percakapan.

"Hishhh, jangan menyebutku Toanio (Nyonya Besar). Aku masih perawan..., ehhh…, aku belum menikah, aku masih Siocia (Nona), hi-hik!"

Kun Liong mengkirik. Bulu tengkuknya meremang karena dia melihat sesuatu yang tidak wajar dan aneh dalam sikap dan kata-kata ‘nona’ gemuk itu.

"Baiklah. Siapakah Siocia?"

"Aku? Aku disebut Kim Seng Siocia, dan kalau aku sudah kawin kelak, tentu saja sebutan nona harus diganti dengan nyonya besar."

"Sekali lagi aku berharap agar Siocia tidak salah menduga tentang kedatanganku ke sini, sama sekali bukan untuk berkelahi apa lagi mencari musuh. Aku datang untuk bertemu dengan Nona Pek Hohg Ing."

"Tidak ada Nona Pek Hong Ing di sini, yang ada hanya Pek Nikouw."

Berseri wajah Kun Liong. Kalau begitu tidak salah lagi. Hong Ing berada di sini!

"Benar, dialah yang kumaksudkan!" jawabnya penuh gairah dan penuh harapan.

Akan tetapi dia terkejut melihat betapa wajah gemuk yang tadinya berseri dan ramah itu kini cemberut, sepasang mata yang lebar itu melotot dan suaranya nyaring mengandung kemarahan, "Apamukah dia itu?"

"Bukan apa-apa, hanya sahabat biasa..."

"Apa dia kekasihmu?"

Kun Liong terkejut mendengar pertanyaan tiba-tiba yang seperti serangan mendadak ini, "Tidak... tidak, dia seorang nikouw, tidakkah Siocia sudah tahu?"

"Hemm, dia nikouw atau tidak, apa bedanya? Dia tetap wanita dan kau laki-laki!"

Alis Kun Liong berkerut tak senang. Nona gendut ini sama saja dengan Lauw Kim In, suci dari Hong Ing, pikirannya kotor penuh prasangka buruk!

"Sekali lagi aku menyatakan bahwa Nona Pek Hong Ing atau Pek Nikouw adalah sahabat baikku dan aku ingin bertemu dengannya. Terserah prasangka Siocia, yang penting aku minta bertemu dengan dia."

Kun Liong lalu memandang ke arah dalam istana kemudian berteriak nyaring. "Hong Ing, keluarlah kau menemuiku! Aku Yap Kun Liong, sengaja datang mencarimu!"

Akan tetapi tidak ada jawaban dari dalam dan Kim Seng Siocia tertawa. "Dia tidak akan menjawab sebelum aku menghendakinya. Ehh, Kun Liong, apakah kau tidak mempunyai kekasih atau tunangan?"

Kun Liong sangat terkejut dan memandang dengan bengong, mukanya berubah merah. Pertanyaan apakah ini? Akan tetapi melihat betapa pertanyaan itu diajukan dengan sikap sungguh-sungguh, dia menjawab juga,

"Tidak!" sambil menggelengkan kepalanya yang gundul.

"Jadi engkau belum kawin?"

Kun Liong makin bingung. Mengapa Siocia gendut ini demikian ugal-ugalan? Kembali dia menggelengkan kepala dan berkata, "Belum!"

Setelah itu, dia melangkah maju kemudian berkata, "Kim Seng Siocia, kalau kau tidak memperbolehkan Nona Pek Hong Ing keluar menemuiku, biarlah aku mencari sendiri ke dalam!" Dia lalu meloncat ke depan.

"Bresss! Dukkk!"

Tubuh Kun Liong terguling karena kakinya dijegal (dikait) oleh kaki Kim Seng Siocia dan nona itu tertawa bergelak. "Hi-hik, heh-heh-heh, tidak boleh. Kau harus melayaniku lebih dahulu, hendak kuuji sampai di mana tingkat kepandaianmu. Melihat kau dikeroyok tadi, agaknya engkau mempunyai kepandaian yang lumayan. Siapa tahu engkaulah orangnya yang kutunggu-tunggu dan kini datang atas kekuatan doa Pek Nikouw. Hi-hik! Sambutlah ini!" Kim Seng Siocia sudah menyerang Kun Liong dengan dahsyat sekali!

Kun Liong tadi terguling karena dia sama sekali tidak mengira bahwa nona gendut itu mau menjegalnya. Maka dengan penasaran dia sudah meloncat bangun dan kini menghadapi serangan nona itu, dia benar-benar merasa kaget sekali. Nona gendut itu ternyata dapat bergerak cepat bukan main, dan dari kedua lengan bajunya yang lebar itu menyambar angin pukulan yang amat kuat!

"Plak-plak-plak!" Tiga kali Kun Liong menangkis dan terpaksa dia mengerahkan tenaga sinkang-nya agar tidak terluka oleh hawa pukulan yang dahsyat itu.

"Aihhh... hik-hik-hik, benar saja, kau hebat!" Kim Sim Siocia tertawa ketika tangkisan itu berhasil menggempur kuda-kudanya dan membuat tubuhnya condong ke belakang, tanda bahwa dia masih tidak mampu menandingi kekuatan sinkang pemuda itu!

Akan tetapi dia menyerang terus, sekarang menggunakan ujung kedua lengan bajunya mengirim totokan-totokan ke arah jalan darah di seluruh tubuh Kun Liong dan gerakannya cepat bukan main, ilmu silatnya aneh, kadang-kadang malah kelihatan lamban dan lambat sekali seperti seekor gajah mencoba untuk mencari-nari!

Namun Kun Liong terkejut bukan main. Di luar persangkaannya, nona gemuk ini adalah seorang yang memiliki kepandaian luar biasa dan memiliki tenaga sinkang sangat kuat, serta gerakannya terlalu cepat dibandingkan dengan tubuhnya yang begitu gendut. Tentu saja Hong Ing bukanlah lawan wanita ini dan dia mulai khawatir karena mengira bahwa tentu Hong Ing menjadi seorang tawanan di tempat ini.

Lagi pula dia kini mulai mengerti bahwa dia telah tersesat, bukan berada di tempat tinggal Go-bi Sin-kouw melainkan di tempat tinggal golongan lain yang dipimpin oleh nona gendut yang lihai ini, sungguh pun kesalahannya ini malah kebetulan karena ternyata Hong Ing juga berada di tempat asing ini!

Dia tentu saja tidak ada niat untuk memukul atau melukai wanita gemuk ini, karena sama sekali tidak ada urusan dan juga tidak ada permusuhan dengannya. Akan tetapi karena serangan-serangan wanita itu benar-benar luar biasa sekali dan amat berbahaya, maka dia terpaksa harus melindungi dirinya. Karena itu dia lalu mainkan Im-yang Sin-kun dan menggunakan pukulan Pek-in-ciang untuk menghadapi serangan dahsyat lawannya.

Melihat cara bersilat pemuda ini dan merasakan betapa lengannya beberapa kali tergetar hebat apa bila bertemu dengan lengan lawan, Kim Seng Siocia berkali-kali mengeluarkan seruan kaget, heran, dan juga gembira sekali!

"Kau hebat... ahh, kau hebat...!" Dia berseru memuji dengan pandang mata penuh kagum dan girang.

Agaknya nona gendut itu masih belum puas dan dia mengerahkan seluruh tenaganya, mengeluarkan semua ilmu silatnya yang aneh-aneh. Hampir saja Kun Liong kena diakali seperti Hong Ing melawan Amoi dan roboh oleh ilmu silat Amoi yang aneh.

Apa lagi Kim Seng Siocia yang menjadi ‘guru’ Amoi, bukan main aneh dan hebatnya ilmu silatnya. Ada kalanya Kim Seng Siocia mencekik leher sendiri sampai matanya mendelik dan lidahnya keluar, hal ini dilakukan di tengah pertandingan itu.

Tentu saja Kun Liong sangat terkejut dan cepat menubruk maju untuk mencegah nona yang kelihatannya seperti hendak membunuh diri itu! Akan tetapi betapa kagetnya ketika tiba-tiba kedua tangan nona itu bergerak menotoknya, menotok dua jalan darahnya yang dapat membuat dia lumpuh!

Namun, dengan hawa sakti yang timbul karena ilmunya Thi-khi I-beng, totokan-totokan yang tepat mengenai jalan darah itu ‘hanyut’ dan tidak membekas sehingga Kim Seng Siocia terkejut sekali.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner