PETUALANG ASMARA : JILID-45


Setelah Giok Keng menambah pedangnya dengan sabuk sutera merah muda, dan kedua orang muda itu melakukan pengeroyokan dengan mengerahkan seluruh ilmu kepandaian dan tenaga mereka, lambat laun kakek itu merasa terdesak juga. Seratus jurus telah lewat dan sama sekali Thian-ong Lo-mo tidak mampu menjatuhkan seorang pun di antara dua orang pengeroyoknya yang masih muda! Napasnya mulai memburu dan biar pun merasa amat penasaran, dia harus mengakui bahwa jika pertempuran itu dilanjutkannya juga, akhirnya dia akan terancam bahaya maut.

Tiba-tiba kakek itu mengeluarkan pekik dahsyat sekali, senjata rantainya menyambar ke depan menjadi sinar memanjang. Dua orang muda itu terkejut dan cepat menangkis.

"Tranggg... cringgg...!"

Tetapi tangan kiri kakek itu mendorong ke depan dan angin dahsyat langsung menyerang kedua orang lawannya. Ternyata Thian-ong Lo-mo telah menggunakan pukulan jarak jauh yang mengandung tenaga sinkang sekuat-kuatnya. Kiranya inilah serangan terakhir kakek itu yang sudah menguras habis ilmu kepandaiannya.

"Wuuuutttt...!"

Giok Keng dan Bu Kong makin kaget, secepatnya mereka melempar diri ke belakang dan bergulingan untuk menghindarkan diri dari serangan dahsyat itu. Ketika keduanya sudah meloncat bangun, ternyata lawan mereka telah lenyap dari situ.

Kiranya Thian-ong Lo-mo yang melihat serangan terakhir tadi tidak berhasil, lalu segera melarikan diri dengan cepat sekali!

"Berhenti...!" Bu Kong menghardik, membuat kelima orang bekas anggota Kwi-eng-pang yang mencoba untuk melarikan diri itu tiba-tiba berhenti dan membalikkan tubuh dengan muka pucat.

"Ke sini kalian!" Bu Kong membentak lagi dan bagaikan lima ekor anjing yang ketakutan, lima orang itu menghampiri Bu Kong, kemudian segera menjatuhkan diri berlutut di depan pemuda itu.

"Ampun... Kongcu...!" Mereka mengeluh ketakutan.

Bu Kong tersenyum mengejek, "Di mana pusaka-pusaka itu?" bentaknya.

"Di... di dalam, Kongcu..."

"Hayo kalian ambil dan keluarkan semua!"

Seperti dikomando lima orang itu tergesa-gesa lari memasuki goa dan tak lama kemudian mereka keluar sambil membawa sebuah buntalan besar. Bu Kong menerima buntalan itu, memeriksa isinya. Ternyata masih lengkap. Dua buah pusaka, yaitu sebatang pedang dan sebuah hiolouw (tempat abu hio) dari Siauw-lim-pai, dan banyak barang perhiasan emas permata yang mahal, juga potongan emas dan perak!

Tiba-tiba pemuda itu menggerakkan tangan kanannya, tampak sinar berkilat menyambar lima kali dan... tubuh lima orang itu tergelimpang roboh dengan leher hampir putus. Tubuh mereka berkelojotan sebentar dan tewas seketika!

"Ahhh, mengapa kau membunuh mereka?" Giok Keng bergidik ngeri. Dia adalah seorang pendekar wanita muda yang sudah biasa menyaksikan pembunuhan, akan tetapi hal itu terjadi dalam pertempuran. Belum pernah dia menyaksikan pembunuhan yang dilakukan dengan tangan dingin sehingga mengerikan hatinya.

"Mereka adalah orang-orang jahat, sementara itu aku sudah bersumpah untuk menentang orang-orang jahat, bukan? Moi-moi..." Bu Kong berkata melihat kekasihnya mengerutkan alisnya, "Jika sekarang tidak dibunuh, tentu mereka itu akan mendatangkan keributan saja di kemudian hari, dan dengan membunuh mereka berarti kita telah membebaskan rakyat dari ancaman kejahatan mereka, bukan?"

Giok Keng mengangguk-angguk. Ucapan pemuda itu tidak dapat dibantah, maka dengan menarik napas panjang dibenarkannya ucapan itu dengan anggukan kepala, mengambil kesimpulan bahwa hatinya sendirilah yang lemah.

Dari tempat itu, kedua orang muda ini lalu melanjutkan perjalanan menuju ke Siauw-lim-si untuk mengembalikan dua buah benda pusaka Siauw-lim-pai yang dicuri oleh Bu Kong kurang lebih enam tahun yang lalu. Di sepanjang perjalanan, kedua orang muda-mudi ini tampak rukun sekali, penuh kasih sayang, penuh kegembiraan sehingga seperti sepasang pengantin baru saja.

Tetapi Giok Keng tetap bersikeras tidak memperbolehkan kekasihnya menjamahnya, dan dengan hati kecewa sekali Bu Kong terpaksa menahan nafsunya, tidak berani dia merayu kekasihnya sebelum mereka menikah karena dia maklum betapa kerasnya hati dara itu sehingga besar kemungkinan cinta kasih dara itu akan berubah menjadi kebencian hebat kalau dia melanggar janji dan larangan. Betapa pun juga, hatinya sudah merasa puas dan lega bila menyaksikan sikap Giok Keng yang mencintanya, cinta yang juga bersifat keras seperti watak dara itu, cinta yang akan dibelanya dengan nyawa…..!

********************

Kita tinggalkan dahulu Giok Keng dan Bu Kong yang melakukan perjalanan menuju ke Siauw-lim-si itu, dan marilah kita kembali mengikuti perjalanan Yap Kun Liong dan Pek Hong Ing, nikouw muda itu.

Seperti diceritakan di bagian depan, Kun Liong dan Hong Ing yang terpaksa menentang kehendak Pangeran Han Wi Ong, sekarang dicap sebagai pemberontak dan orang-orang buruan. Gambar mereka ditempel di mana-mana sehingga mereka terpaksa melakukan perjalanan dengan sembunyi-sembunyi, melalui jalan-jalan sunyi, keluar masuk hutan dan naik turun gunung dalam perjalanan yang amat sukar.

Karena dia bertekat menolong Hong Ing agar tidak sampai tertangkap oleh orang-orang yang menghendaki supaya dara itu menjadi istri Pangeran Han Wi Ong, maka Kun Liong mengajak nikouw muda itu menuju ke timur, ke arah Teluk Pohai. Dahulu pada waktu dia membantu supek-nya, Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan menyusul Souw Li Hwa ke Pulau Ular, dia lewat hutan di dekat Pantai Pohai yang sunyi dan melihat sebuah kuil di sana. Kuil Kwan-im-bio!

Kuil itulah yang kini menjadi tujuan perjalanan mereka. Hong Ing harus bersembunyi dan menjadi nikouw di sebuah kuil yang sunyi, baru akan selamat dara itu!

Mereka melakukan perjalanan di sepanjang tepi Sungai Huang-ho. Sebetulnya, kalau saja mereka bukan menjadi orang-orang buruan pemerintah, perjalanan itu akan lebih mudah dilakukan dengan menggunakan perahu mengikuti aliran air sungai. Akan tetapi mereka tidak berani mengambil jalan air, dan terus menyusuri pinggir sungai sambil bersembunyi-sembunyi, memilih bagian-bagian yang sunyi.

Pada suatu pagi mereka beristirahat di tepi sungai yang merupakan hutan sunyi senyap. Semalam suntuk mereka melakukan perjalanan karena mereka sedang melewati daerah ramai. Dan pagi hari ini, setelah sampai di hutan yang sepi, mereka duduk beristirahat di bawah pohon.

Hong Ing memanggang daging ikan yang mereka tangkap di sungai, kemudian mereka berdua makan daging ikan panggang dan minum air dari sumber air yang cukup jernih. Sambil duduk bersandar pada batang pohon, memberi kesempatan kepada tubuh yang lelah untuk beristirahat, Hong Ing berkata,

"Kun Liong, kau tentu lelah sekali..."

Kun Liong duduk di atas rumput dan bersandar pada sebongkah batu besar. Dia menoleh dan memandang wajah nikouw muda yang manis itu, lalu tersenyum. "Tidak lebih lelah dari padamu, Hong Ing."

"Engkau lain lagi dengan aku, Kun Liong. Aku memang harus pergi untuk mencari tempat persembunyian. Akan tetapi engkau melakukan semua ini demi aku."

"Hemmm..." Kun Liong tidak menjawab dan kini dia menundukkan kepalanya.

"Kenapa, Kun Liong? Kenapa kau melakukan semua jerih payah ini untukku?"

Kun Liong mengangkat mukanya.

"Hong Ing, entah sudah berapa kali kau menanyakan hal ini kepadaku. Kenapa? Kenapa aku melakukan semua ini? Semua kulakukan tentu saja karena engkau adalah seorang sahabatku yang baik, bukan? Andai kata tidak demikian sekali pun, andai kata engkau adalah orang lain dan bukan sahabat baikku, tentu akan kulakukan juga. Menolong orang yang memerlukan pertolongan merupakan perbuatan yang lumrah dan sudah semestinya, bukan?"

"Karena engkau seorang yang berbudi mulia, Kun Liong."

"Hemmm..."

Hening sejenak. Kemudian terdengar lagi suara Hong Ing dan betapa heran rasa hati Kun Liong mendengar suara yang sumbang dan berada kecewa itu, "Jadi engkau menolongku bukan karena akulah orang itu?"

Karena tidak mengerti, Kun Liong mengangkat muka memandang. "Apa maksudmu?"

Hong Ing menjadi merah mukanya dan menggelengkan kepalanya. "Sudahlah, aku hanya hendak menagih janjimu tempo hari bahwa engkau akan menceritakan riwayat hidupmu. Aku ingin sekali mengetahui sesudah mendengar bahwa Pendekar Sakti Cia Keng Hong adalah supek-mu. Ceritakanlah, Kun Liong."

"Apa yang patut kuceritakan? Riwayatku sangat buruk, lebih buruk dari pada riwayatmu, Hong Ing. Aku sudah pergi meninggalkan rumahku sejak aku berusia sepuluh tahun. Aku merantau dan setelah aku pulang, ternyata ayah bundaku sudah tidak berada di rumah kami." Dia menceritakan dengan singkat pengalaman hidupnya ketika dia meninggalkan rumah sampai dia menjadi murid Bun Hwat Tosu selama lima tahun kemudian menjadi murid Tiong Pek Hosiang selama lima tahun pula.

"Aihhh, kiranya engkau murid dua orang kakek sakti itu. Pantas kau hebat sekali! Dan ke mana perginya ayah bundamu itu?" Hong Ing yang mendengarkan penuh kekaguman itu bertanya.

Kun Liong menarik napas panjang dan menunduk. "Mereka telah tewas..."

"Heiiii....!"

"Mereka tewas terbunuh oleh lima orang datuk sesat!" Kun Liong lalu menuturkan betapa kematian ayah bundanya itu dia ketahui dari Cia Keng Hong.

"Aku meninggalkan rumah ketika berusia sepuluh tahun dan tidak pernah berjumpa lagi dengan ayah ibuku! Mereka terbunuh oleh lima datuk itu..."

Hong Ing merasa terharu sekali saat melihat Kun Liong menggunakan punggung tangan mengusap dua butir air matanya. "Keparat mereka! Kau harus balas mereka, Kun Liong. Biar kubantu engkau! Mari kita cari mereka!"

Kun Liog mengangkat mukanya, memandang dan mencoba tersenyum. "Mereka berlima kini sudah tewas, Hong Ing. Lima orang pembunuh orang tuaku sudah tewas semua dan sekarang aku hanya ingin sekali menemukan adikku yang tak pernah kulihat semenjak dia lahir."

"Adikmu...?"

Kun Liong mengangguk. "Ketika aku pergi, Ibu melahirkan seorang anak perempuan yang diberi nama Yap In Hong. Ketika Ayah dan Ibu terbunuh, adikku itu berhasil diselamatkan oleh seorang pelayan, dibawa pergi entah ke mana. Sebab itu, setelah engkau mendapat tempat yang aman, aku akan pergi mencari adikku itu, Hong Ing."

Dara itu mengangguk-anggukkan kepalanya yang gundul. "Kasihan sekali kau, Kun Liong. Memang engkau harus mencari adikmu itu. Akan tetapi setelah sekarang engkau menjadi orang buruan karena aku, bagaimana engkau bisa melakukan perjalanan secara leluasa? Engkau akan ditangkap!"

"Tidak, Hong Ing. Aku sudah memikirkan hal itu dan sudah memperoleh jalan terbaik. Aku akan minta bantuan Supek Cia Keng Hong yang memiliki hubungan baik sekali dengan para pejabat tinggi di kota raja dan dengan bantuannya tentu aku akan dapat dibebaskan dan tidak menjadi orang buruan lagi. Juga aku akan memintakan pengampunan bagimu. Selain itu, aku akan menanyakan tentang pusaka-pusaka milik Siauw-lim-pai yang dahulu dicuri oleh pihak Kwi-eng-pang, apakah pusaka itu sudah dikembalikan."

"Kau tidak usah repot-repot memikirkan nasibku, Kun Liong. Aku sudah akan merasa lega dan gembira sekali kalau kau dapat terbebas dari himpitan ini yang menimpa dirimu akibat kau membela aku."

"Marilah kita lupakan kepahitan yang kita hadapi, Hong Ing. Kita berdua maklum bahwa kita tidak mempunyai kesalahan dan semua ini adalah gara-gara Pangeran Han Wi Ong yang tidak tahu diri. Sekarang aku ingin sekali mendengar riwayatmu. Hong Ing, Siapakah keluargamu? Dan bagaimana engkau bisa menjadi murid Go-bi Sin-kouw yang lihai dan galak itu?"

Nikouw muda itu menghela napas sambil mengerutkan alisnya. Kun Liong memandang wajahnya dan pemuda itu kini diam-diam merasa makin kagum dan juga heran kepada diri sendiri. Mengapa setiap kali memandang wajah dara gundul ini hatinya merasa seperti dicengkeram sesuatu yang amat kuat, yang membuat dia merasa terharu sekali dan ingin mencucurkan air mata?

"Aku sudah tidak ingat lagi, Kun Liong. Pada waktu itu aku baru berusia lima tahun dan seingatku, di sampingku hanya ada ibuku yang cantik dan gagah perkasa. Kami berdua berada di tanah pegunungan, kalau tidak salah dugaanku di Tibet. Entah apa yang terjadi, aku sendiri tidak tahu sama sekali. Tiba-tiba Ibu dikeroyok oleh banyak pendeta berjubah merah, pendeta-pendeta Lama. Ibu menggendongku sambil melawan mati-matian, lalu Ibu berhasil melarikan diri akan tetapi terluka parah. Sesudah bertahan sampai belasan hari dan berada jauh sekali dari Tibet, Ibu roboh dan meninggal dunia..."

Hampir saja Kun Liong merangkul dan memeluk tubuh yang berguncang-guncang karena tangisnya itu. Hong Ing menangis terisak-isak. Memang, siapa yang takkan menangis bila membayangkan pengalamannya pada saat itu? Ibunya menggeletak dengan muka pucat, dan dia, seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa, hanya menangis dan memanggil-manggil nama ibunya.

"Ahhh…, kasihan engkau, Hong Ing. Sudahlah, lupakan yang sudah dan jangan teruskan ceritamu," Kun Liong menghibur.

Hong Ing menyusuti air matanya dengan ujung lengan baju. "Aku hendak menceritakan semuanya kepadamu, Kun Liong. Pada saat aku menangis menghadapi Ibu yang sudah dalam sekarat, mendadak muncul Go-bi Sin-kouw dan Lauw Kim In, Subo dan suci-ku itu. Go-bi Sin-kouw berusaha menolong ibuku, namun sia-sia belaka dan dengan napas yang terputus-putus Ibu hanya bisa bercerita kepada Go-bi Sin-kouw sebelum menghembuskan napas terakhir. Begitulah, aku lalu dibawa pergi oleh Subo dan Suci."

"Apakah Go-bi Sin-kouw tidak menceritakan kepadamu tentang nama ibu dan ayahmu?"

"Tidak pernah. Subo tak pernah mau mengaku, dan kalau aku bertanya, dia hanya bilang bahwa sekarang Subo yang menjadi pengganti ayah bundaku. Aku tak pernah mengenal ayahku, dan tidak tahu pula mengapa Ibu dikeroyok oleh para pendeta Lama."

"Ssstt...!" Tiba-tiba saja tubuh Kun Liong mencelat ke belakang. Dia menyusup ke dalam semak-semak, Ialu meloncat ke atas pohon tinggi, matanya memandang ke kanan kiri mencari-cari. Kemudian dia melayang turun lagi ke depan Hong Ing yang sudah meloncat berdiri dan memandangnya dengan heran.

"Ada apakah, Kun Liong?" tanyanya, kagum menyaksikan gerakan Kun Liong yang ringan seperti burung terbang tadi.

Kun Liong mengerutkan alisnya. "Entahlah, aku tadi seperti mendengar ada suara orang menarik napas panjang dan terdengar pula suara kaki menginjak daun kering. Akan tetapi kucari ke mana-mana tidak ada bayangan seorang pun manusia."

"Ahh, agaknya suara binatang kecil di semak-semak," kata Hong Ing yang duduk kembali. Kun Liong juga duduk di depannya.

"Hong Ing, riwayat kita sama-sama menyedihkan. Kita berdua adalah orang-orang muda yang menderita sengsara sejak kecil."

"Menang begitulah agaknya, Kun Liong. Hingga kini aku tidak pernah tahu apa itu yang disebut bahagia. Tahukah engkau Kun Liong? Apakah bahagia itu?"

Kun Liong merenung, sepasang matanya memandang jauh, alisnya berkerut, dan kepala gundulnya mengkilap tertimpa matahari pagi, kemudian terdengar dia berkata lirih, seperti kepada dirinya. "Bahagia? Apakah itu bahagia? Adakah keadaan yang disebut bahagia? Ataukah itu hanyalah merupakan sebutan saja, merupakan bentukan khayal yang timbul karena keinginan manusia terlepas dari kesengsaraan? Siapakah yang membayangkan bahwa ada keadaan bahagia di dalam hidup? Tentu hanya orang-orang yang sengsara! Orang-orang yang sengsara dan menderita menciptakan khayalan yang berlawanan dan berlainan dari pada keadaan hidupnya sendiri, menciptakan khayalan keadaan hidup yang sebaliknya dan yang disebutnya bahagia! Maka hanya orang-orang yang sengsara saja, yang merasa bahwa dia tidak bahagia, yang merindukan kebahagiaan! Orang yang tidak merasa menderita sengsara, apakah dia merasa adanya bahagia itu? Tentu tidak, karena sekali dia bahagia, itu bukanlah kebahagiaan lagi namanya! Kebahagiaan yang dirasakan sebenarnya hanyalah ‘kesenangan’ dan sekali kesenangan dirasakan, maka kesenangan akan membuatnya menjadi pecandu dan setiap kali dia akan selalu mengejar kesenangan serupa untuk diulang kembali!"

Hong Ing memandang dengan mata terbelalak. Tak disangkanya pemuda gundul ini dapat berbicara seperti itu. Kata-katanya biasa saja, akan tetapi inti sarinya meresap ke dalam sanubarinya, membuat dia seolah-olah dibangunkan dari mimpi dan melihat kenyataan.

"Kalau begitu, apakah bahagia itu, Kun Liong?" tanyanya lirih seolah-olah dalam hatinya ada tersembunyi rasa hormat terhadap pemuda itu.

"Entahlah, mungkin itu hanya sebutan saja dan sebutan atau nama sebuah keadaan atau benda bukanlah si keadaan atau si benda itu sendiri. Kalau sudah dapat dituturkan atau digambarkan, itu jelas bukanlah kebahagiaan namanya, tetapi kesenangan. Kebahagiaan bukanlah benda mati, bukankah keadaan yang mati dan tidak berubah lagi, karena itu tak mungkin digambarkan, tidak mungkin dicari dan dikejar. Maka dari itu, kiranya tidak akan meleset jauh apa bila kukatakan bahwa KEBAHAGIAAN HANYA AKAN MENJENGUK ISI HATI MEREKA YANG TIDAK MEMBUTUHKAN KEBAHAGIAAN!"

Hong Ing melongo, tiba-tiba merangkap kedua tangannya sambil berkata penuh hikmat, "Omitohud...!"

Kun Liong baru sadar dan dia seperti ditarik kembali ke dunia lama. "Heiii! Apa-apaan kau ini, seperti seorang nikouw tulen saja, pakai omitohud segala?"

Hong Ing menurunkan kedua tangannya, masih memandang kepada pemuda itu dengan mata terbelalak dan agaknya dia pun baru saja sadar akan keadaan tadi yang berbeda dengan biasanya. "Ahh, Kun Liong, ketika kau bicara tadi... kau menjadi... lain! Wajahmu penuh wibawa, namun penuh kehalusan... membuat aku menjadi hormat dan takut. Kau... kau aneh sekali. Dari mana kau mendapat semua pelajaran tentang hidup itu? Pelajaran yang begitu terbuka dan aneh, namun yang mau tidak mau harus kuakui kebenarannya itu?"

Sejenak Kun Liong tak mampu menjawab, kemudian katanya ragu-ragu, "Entahlah, Hong Ing. Mungkin juga dari kitab, tetapi entah kitab apa yang pernah menyebutkan semua itu tentang bahagia. Terlalu banyak aku membaca kitab yang hampir semuanya menjanjikan kebahagiaan-kebahagiaan kosong. Lamunan khayal yang membuat orang seperti boneka atau seperti dalam mimpi, tak pernah dapat melihat kenyataan hidup seperti apa adanya."

"Hemm, kutu buku! Mempelajari segala hal dari buku, apa sih artinya? Hanya merupakan pendapat orang lain belaka, pendapat para penulisnya, pengarangnya! Jika si pengarang bijaksana dan pandai, belum tentu kita ketularan kebijaksanaan dan kepandaiannya, akan tetapi kalau si pengarang dungu, kita terseret ke dalam kedunguannya!"

Kun Liong mengangguk-angguk. "Kau betul, ucapanmu tepat sekali, Hong Ing."

"Kau yang pandai bicara tentang kebahagiaan, apakah engkau pernah merasa bahagia, Kun Liong?"

Kepala yang gundul itu tak bergerak sampai lama, kemudian dia menggeleng ragu. "Kalau kuingat-ingat, aku hanya terlalu sering merindukan kebahagiaan. Kalau aku sedang sakit terbayang olehku betapa bahagianya kalau sehat, padahal kalau sehat tidak terasa lagi kebahagiaan dari kesehatan itu. Bagi orang lapar, kebahagiaan adalah kalau memperoleh makanan. Pendeknya, kebahagiaan selalu berada di masa depan, sebagai harapan dan keinginan yang dikejar-kejar, tapi sesudah terpegang oleh tangan, kebahagiaan itu sendiri terbang lenyap, dan tampak di depan lagi, seperti seekor burung merpati, kelihatan jinak namun tak pernah dapat ditangkap! Entahlah, kurasa aku belum pernah menangkapnya."

"Bagaimana saat sekarang ini? Apakah kau merasa bahagia?" Hong Ing bertanya sambil menatap wajah tampan itu.

"Sekarang ini? Ahhh, pertanyaanmu tadi sungguh aneh, Hong Ing. Bagaimana aku bisa berbahagia dalam keadaan begini? Tidak, aku malah merasa susah dan sengsara karena kita berdua harus saling berpisah dalam keadaan seperti ini, menjadi orang-orang buruan pemerintah! Kita akan saling berpisah dan entah bagaimana jadinya kelak dengan nasib kita masing-masing. Tidak, Hong Ing, saat ini aku tidak bahagia."

"Tapi aku berbahagia, Kun Liong!"

"Haiii...? Kau...?"

"Hemm, agaknya pengetahuan dari kitab-kitabmu tak ada gunanya, Kun Liong. Tahu dari kitab saja percuma, yang penting harus menghayatinya sendiri."

"Tapi, kau... kau berbahagia? Mana bisa? Mana mungkin?"

"Mengapa tidak mungkin? Aku merasa berbahagia, mengapa tidak mungkin?"

"Sebabnya?"

"Apa sebabnya? Hanya berbahagia, titik, tidak ada sebabnya lagi."

"Tapi... haii!!! Siapa itu...?" Kun Liong berseru keras karena pada saat itu terdengar suara tertawa, suara ketawa yang luar biasa nyaringnya sehingga menggetarkan seluruh hutan, kemudian bergema di semua penjuru hutan itu.

Kun Liong kembali meloncat, mengejar ke sana-sini karena sukar mencari dari mana asal suara ketawa itu. Namun ternyata sia-sia belaka. Seperti juga tadi, walau pun dia sudah menyelidiki dari atas pohon, tidak tampak bayangan seorang pun manusia. Dia melayang turun lagi, mencari ke sana-sini di balik semak-semak dan kini Hong Ing juga ikut mencari. Akhirnya mereka berdua saling pandang dan Hong Ing bergidik.

"Bu... bukan manusia...!" katanya berbisik dan wajahya yang cantik itu jelas terlihat ngeri dan takut.

Dia memang seorang dara yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Akan tetapi menghadapi suara ketawa menyeramkan yang tidak ada orangnya itu, benar-benar membuat nyalinya menyempit.

"Ahhh, tidak mungkin. Tentu manusia! Biar kucari lagi dari atas pohon tertinggi itu!" Kun Liong meloncat lagi ke atas pohon dan memanjat dari cabang ke cabang sampai dia berada di puncak pohon.

Dia mengintai ke empat penjuru dan tiba-tiba dia melihat debu mengebul tinggi dari arah barat. Pasukan berkuda! Melihat bendera dan pakaian seragam, tahulah dia bahwa tentu pasukan itu pasukan pemerintah yang mengejar dia dan Hong Ing! Maka cepat-cepat dia melayang turun lagi.

"Ada pasukan berkuda dari barat, tentu mengejar kita!" katanya.

"Ahhh... bagaimana baiknya?" Hong Ing berkata, memandang wajah Kun Liong dengan bingung.

"Kita lari saja. Di antara mereka tentu terdapat orang pandai..., mungkin yang tadi tertawa adalah orang mereka. Hayo kita lari ke timur!" Maka larilah kedua orang muda itu menuju ke timur. Mereka lari secepatnya, menyusuri sepanjang pantai Sungai Huang-ho terus ke timur.

Beberapa hari kemudian kedua orang muda yang melarikan diri itu sudah tiba di lembah muara Sungai Huang-ho, dekat dengan pantai Teluk Pohai. Cepat keduanya memasuki hutan dan akhirnya Kun Liong menemukan kuil Kwan-im-bio yang berada di dalam hutan itu.

Sebuah kuil kecil yang terpencil sendiri di dalam hutan. Kuil kosong dan biar pun di situ masih terdapat meja sembahyang dan beberapa buah bangku, namun semua bangku itu kotor dan bahkan arca Kwan Im Pouwsat juga tidak ada di situ.

Akan tetapi Kun Liong memang sudah mempersiapkan diri ketika lari dalam beberapa hari ini. Dia sudah membeli banyak lilin serta hio, maka bersama Hong Ing dia cepat-cepat membersihkan kuil itu kemudian menutupi tempat arca dengan sapu tangan sutera milik Hong Ing agar dari luar tidak kelihatan tempat arca yang kosong, mengatur lilin di atas meja. Pendeknya keduanya berusaha keras supaya kuil itu kelihatan sebagai kuil yang masih bekerja.

Tiga hari mereka bersembunyi di kuil itu. Pada hari ke empatnya, dari jauh telah terdengar derap kaki kuda. Mengertilah kedua orang muda itu bahwa para pengejar mereka sudah tiba di dalam hutan itu! Maka sibuklah mereka berdua.

Kun Liong menyalakan lilin, memasang belasan batang hio dan menancapkannya di atas meja sehingga asap hio yang harum semerbak keluar dari kuil itu. Tidak lama kemudian terdengarlah suara jernih dari Hong Ing yang sudah berliam-keng (membaca ayat suci) sambil mengatur iramanya dengan memukul alat yang khusus dibuat untuk itu dan yang masih ada di dalam kuil! Kun Liong sendiri juga sudah menutupi kepalanya dengan kain putih meniru gaya Hong Ing, dan sambil berlutut dan mulut kemak-kemik dia pun tekun memukuli alat untuk liam-keng itu dengan gencar.

Maka ramailah kuil itu, suara Hong Ing berliam-keng diiringi suara tak-tok tak-tok nyaring! Suara ini ditambah asap hio mengepul harum memang cukup mendatangkan suasana kuil.

Dengan hati berdebar tegang kedua orang itu berlutut dan sengaja memilih ruang dalam yang gelap, menghadapi meja sembahyang dan menundukkan muka sehingga penutup kepala itu menutupi muka mereka dari samping. Dilihat sepintas lalu, tentu saja mereka merupakan dua orang nikouw yang sedang tekun membaca doa dan suara Hong Ing tidak dapat disangsikan lagi sebagai suara seorang wanita, seorang nikouw.

Derap kaki kuda makin jelas terdengar dan akhirnya terdengar teriakan dan rombongan itu berhenti di luar kuil. Tepat seperti yang dikhawatirkan oleh Kun Liong, beberapa orang meloncat turun dari kuda dan memasuki kuil! Langkah kaki-kaki yang kasar memeriksa ke dalam kuil dan akhirnya memasuki ruangan di mana dia dan Hong Ing berlutut. Hong Ing semakin gencar membaca doa, demikian cepatnya sehingga menyelimuti suaranya yang agak gemetar saking tegangnya.

"Tidak ada nikouw lain, hanya ada dua orang ini," terdengar suara orang laki-laki.

"Tentu tidak berada di sini. Kalau ada, tidak mungkin mereka dapat bersembunyi." kata suara laki-laki ke dua.

"Nanti dulu!" Suara wanita ini membuat Kun Liong terperanjat bukan main. Itulah suara Si Gendut Kim Seng Siocia dan diam-diam dia bergidik! Wanita gendut ini amat cerdik dan ternyata Kim Seng Siocia sudah memandang ke arah sepatu yang dipakai Kun Liong dan Hong Ing.

"Heh, Nikouw! Berhentilah dahulu berliam-keng!" Kim Seng Siocia membentak. "Apakah kalian melihat seorang pemuda gundul dan seorang nikouw muda lewat di tempat ini?"

Hong Ing terus berliam-keng dengan suara semakin nyaring, sedangkan Kun Liong cepat menggeleng-gelengkan kepala tanpa menjawab, mulutnya terus berkemak-kemik ada pun tangannya makin gencar memukuli alat itu.

"Ahh…, dua orang nikouw ini mana melihat hal lain kecuali berliam-keng? Mereka akan berliam-keng sampai mati, memesan tempat di sorga, ha-ha-ha!" Terdengar suara lelaki pertama.

Terdengar langkah kaki mereka meninggalkan tempat itu dan hati Kun Liong sudah mulai lega ketika tiba-tiba suara Kim Seng Siocia membuatnya terkejut setengah mati.

"Nikouw! Kenapa sepatu kalian kotor berdebu?"

Pertanyaan itu diucapkan dengan bentakan yang begitu mendadak sehingga Kun Liong yang terkejut itu menjawab gagap, "Ohhh... ehhh... belum kami bersihkan...!"

Dia terbeialak dan melongo saat melihat kesalahannya sendiri. Dalam gugupnya dia telah membuka mulut memperdengarkan suaranya yang tentu saja tidak pantas menjadi suara seorang wanita, malah dengan mengatakan bahwa mereka berdua belum membersihkan sepatu berarti dia telah membuka rahasia.

"Tangkap mereka!" Kim Seng Siocia berseru keras dan terdengarlah cambuk hitam di tangannya bersuitan.

Kun Liong dan Hong Ing sudah meloncat bangun dan sambil mendorong tubuh Hong Ing agar mundur, Kun Liong sudah menggerakkan ranting yang berada di tangannya untuk menangkis cambuk. Memang dia sudah menyembunyikan dua batang ranting itu di dalam jubahnya tadi, menjaga segala kemungkinan.

Setelah melihat bahwa dua orang itu adalah orang-orang yang mereka kejar, Kim Seng Siocia dan dua orang kang-ouw yang tadi melakukan pemeriksaan cepat melompat keluar karena mereka bertiga maklum betapa lihainya dua orang itu.

Kun Liong berbisik, "Hati-hati, Hong Ing. Kita harus mencari jalan keluar dan melarikan diri."

Hong Ing hanya mengangguk, akan tetapi sedikit pun hati dara ini tidak kuatir. Dia berada di samping Kun Liong dan kenyataan ini mendatangkan keberanian luar biasa. Dia lalu mengikuti Kun Liong berloncatan keluar dan begitu tiba di luar kuil, tampaklah oleh mereka musuh-musuh mereka dengan lengkap! Pangeran Han Wi Ong, Kim Seng Siocia, Go-bi Sin-kouw, para panglima pengawal dan masih tampak belasan orang yang melihat pakaian mereka tentulah orang-orang kang-ouw.

Kun Liong merasa heran melihat ada orang-orang kang-ouw membantu pemerintah untuk menangkap orang buruan. Dia tidak tahu bahwa orang-orang ini bukan semata-mata ingin membantu pemerintah, akan tetapi lebih condong untuk ikut mencari bokor emas karena mereka menganggap bahwa Kun Liong satu-satunya orang yang agaknya tahu di mana adanya bokor emas yang tulen. Di samping mereka ini, masih ada seregu pasukan terdiri dari lima puluh orang prajurit!

Maklumlah Kun Liong bahwa amatlah berbahaya melawan orang sebanyak itu. Apa lagi jika mengingat akan kepandaian orang aneh yang tadi mentertawakannya, yang dia tidak tahu siapakah orangnya di antara para orang kang-ouw itu.

Kalau melawan tentu akan membahayakan keselamatan Hong Ing. Maka tanpa banyak cakap lagi, tiba-tiba dia merangkul pinggang Hong Ing, mengempitnya dan membawanya meloncat sambil mengerahkan ginkang-nya. Tubuhnya mencelat ke sebelah kiri, ke arah orang-orang kang-ouw karena dia sudah tahu akan kelihaian Kim Seng Siocia dan Go-bi Sin-kouw yang berada di depannya.

"Kejar!"

"Tangkap!"

Empat orang kang-ouw yang kebetulan berada di sebelah kiri telah menyambit Kun Liong, akan tetapi tangan pemuda ini menggerakkan rantingnya sehingga berturut-turut robohlah empat orang kang-ouw itu sebelum mereka tahu bagaimana mereka dapat dirobohkan. Gerakan ranting itu hebat bukan main karena memang Kun Liong telah memainkan Ilmu Tongkat Siang-liong-pang yang amat luar biasa.

Setelah berhasil merobohkan empat orang itu, cepat Kun Liong melarikan diri dan setelah agak jauh barulah dia melepaskan tubuh Hong Ing, memegang tangan dara itu kemudian mengajaknya berlari terus menuju ke timur. Di belakang mereka terdengar teriakan-teriakan orang dan derap kaki kuda. Mereka dikejar terus oleh rombongan itu!

Sehari semalam mereka terus melarikan diri dan pada sore harinya, mereka tiba di pantai Teluk Pohai! Jalan buntu! Di hadapan mereka membentang luas air laut dan di belakang mereka rombongan itu masih mengejar terus!

Melihat keadaan ini, Hong Ing memegang lengan Kun Liong dan berkata, "Kun Liong, kau larilah selagi masih ada kesempatan! Tiada gunanya lagi kau mati-matian melindungiku, Kun Liong, sampai mati aku akan berterima kasih kepadamu, akan tetapi janganlah kau mengorbankan diri untukku. Pergilah dan tinggalkan aku di sini. Aku dapat menghadapi mereka."

Kun Liong mengerutkan alisnya. "Kau dapat menghadapi mereka? Bagaimana? Kau tentu akan ditangkap oleh gurumu dan akan dipaksa menikah dengan pangeran itu kalau tidak dibunuh."

"Aku tidak takut! Aku akan melawan dan kalau aku kalah, sebelum ditawan aku dapat membunuh diri."

"Tidak!" Kun Liong mencengkeram lengan dara itu sampai Hong Ing merintih, baru dia teringat dan melepaskannya. "Aku tidak akan pergi meninggalkanmu selama aku masih hidup. Aku tidak bisa membiarkan engkau ditawan atau membunuh diri. Hong Ing, jangan bicara yang bukan-bukan, mari kita lawan mereka. Kita bukanlah orang-orang lemah dan lebih baik mati sebagai harimau dari pada mati seperti babi, mati konyol!"

Hong Ing menggigit bibir dan dua titik air matanya jatuh, dia tidak mampu menjawab lagi, hanya mengangguk-angguk. Sementara itu, dari jauh sudah tampak debu mengebul dan tak lama kemudian kelihatan rombongan pengejar itu mendekati pantai.

"Hong Ing, jangan kau bergerak dulu, kau berdiri sajalah di belakangku." Sambil berkata demikian, Kun Liong memegang tangan dara itu lantas meloncat ke atas sebuah batu karang besar yang berada di pinggir laut itu. Dengan sikap gagah dia berdiri tegak. Hong Ing di belakangnya seolah-olah dia hendak melindungi dara itu dari segala mara bahaya.

Rombongan pengejar itu berhenti di depannya. Mereka segera turun dari atas kuda dan memandang pemuda itu, tidak berani sembarangan turun tangan melihat sikap pemuda itu yang sama sekali tidak kelihatan gentar. Kemudian terdengar suara Kun Liong lantang bergema.

"Pangeran Han Wi Ong sebagai seorang pembesar tinggi, seorang bangsawan agung, ternyata tingkah lakumu sama sekali tidak patut menjadi tauladan rakyat! Engkau hendak menggunakan pengaruh kedudukan dan kekuasanmu untuk memaksa seorang dara agar menjadi isterimu! Engkau tidak bercermin. Lihatlah mukamu sendiri dalam cermin. Engkau juga hanya seorang manusia biasa, tiada bedanya dengan aku atau Hong Ing, mengapa engkau hendak memaksa dia menjadi isterimu? Kalau seorang pembesar sebejat engkau wataknya, bagaimana pula dengan bawahanmu yang akan mencontoh perbuatanmu?"

Mendengar ini, muka pangeran itu sebentar merah dan sebentar pucat. Dia marah sekali, karena menganggap pemuda itu terlampau kurang ajar, tidak tahu apa yang dideritanya selama ini, dia benar-benar cinta kepada Pek Hong Ing, dara perkasa yang dikaguminya. Dia telah mengajukan lamaran secara baik-baik dan sudah diterima oleh Go-bi Sin-kouw sebagai wali dara itu! Bagaimana dia dimaki-maki seperti itu? Adalah pemuda itu yang kurang ajar dan tidak patut, melarikan calon isteri orang!

"Kim Seng Siocia, engkau juga seorang wanita yang berakhlak bejat! Apakah engkau tak malu hendak memaksa seorang pria seperti aku menjadi suamimu? Engkau sepatutnya berjodoh dengan Pangeran Han Wi Ong, karena sama-sama hendak memaksa orang untuk menjadi jodohnya!"

Kim Seng Siocia tertawa lebar. "Bocah lucu, kalau sudah tertawan, aku akan menjewer telingamu biar kau bertobat, hi-hi-hik!"

"Dan engkau, Go-bi Sin-kouw. Guru macam engkau ini pun bukan merupakan seorang guru yang baik! Mana ada guru yang katanya mencinta muridnya hendak menjerumuskan murid sendiri? Jelas bahwa muridmu, Pek Hong Ing, tidak suka menjadi isteri Pangeran Han Wi Ong, akan tetapi kau hendak memaksanya. Aku tahu hal ini adalah karena kau ingin mendapatkan kehormatan dan harta. Engkau tidak patut menjadi guru, pantasnya sikapmu itu sikap seorang biang pelacur!"

"Dan kalian orang-orang kang-ouw dan para prajurit! Percuma saja hidup seperti kalian ini, mencari uang dan kedudukan dengan jalan membunuh orang lain. Kalian merupakan boneka-boneka sial yang mau saja ditipu serta diperalat oleh segelintir manusia macam Pangeran Han Wi Ong yang mengejar kedudukan! Betapa murah harga diri dan nyawa kalian!"

"Serbu! Bunuh saja keparat itu!" Tiba-tiba saja terdengar perintah yang keluar dari mulut Pangeran Han Wi Ong. "Dan tangkap nona itu!"

"Tidak! Jangan bunuh calon suamiku!" Kim Seng Siocia membantah.

Menyerbulah semua orang itu ke batu karang dan terpaksa Kun Liong meloncat turun lalu mengamuk dengan sepasang ranting di tangannya. Dia mainkan Siang-liong-pang, maka berturut-turut robohlah beberapa orang prajurit yang terdekat. Akan tetapi betapa pun juga, Kun Liong tetap tidak mau membunuh orang dan selalu mengatur gerakan kedua ranting di tangannya sehingga yang roboh olehnya hanya menderita tertotok, luka ringan atau patah tulang saja. Dalam waktu singkat Kun Liong sudah dikeroyok seperti seekor jangkerik dikeroyok banyak sekali semut yang nekat.

Melihat betapa Kun Liong dengan nekat menghadapi pengeroyokan sedangkan semua itu dilakukan demi melindunginya, Hong Ing segera meloncat turun pula dan mengamuk. Dia ingin mati di samping pemuda ini!

Seru dan hebat sekali pertandingan berat sebelah yang berlangsung di tepi pantai yang berhutan itu. Hong Ing telah berhasil merampas sebatang pedang milik seorang di antara pengeroyok dan kini dia mengamuk seperti seekor singa betina. Hanya subo-nya seorang saja yang diseganinya dan dia sama sekali tidak mau melawan subo-nya, maka setiap kali gurunya ini menerjang, dia selalu lari ke lain bagian untuk mengamuk di antara para pengeroyoknya.

Melihat ini Kun Liong mengerti bahwa kalau Go-bi Sian-kouw mendesak dan memaksa Hong Ing melayaninya, dara itu tentu akan mengalah dan akhirnya dapat tertawan. Maka dia selalu menggerakkan sepasang rantingnya untuk menghadang dan mendesak Go-bi Sin-kouw sehingga nenek ini tidak sempat lagi mengejar Hong Ing.

Biar pun dia sudah memiliki tingkat kepandaian silat yang tinggi sekali, namun Kun Liong merasa kewalahan juga menghadapi pengeroyokan orang-orang pandai itu. Apa lagi dia tidak mau membunuh orang! Kim Seng Siocia dengan cambuk hitamnya, Go-bi Sin-kouw dengan tongkat bututnya, dan tujuh orang kang-ouw yang memegang bermacam senjata dan rata-rata mempunyai kepandaian tinggi, membuat Kun Liong repot sekali.

Namun dia terheran-heran mengapa di antara mereka ini tidak terdapat orang sakti yang telah mengganggunya dengan suara ketawa itu dan hal ini melegakan hatinya. Kalau ada orang itu, agaknya dia tidak akan dapat lama bertahan. Akan tetapi sekarang dia makin terdesak juga karena untuk menggunakan Thi-khi I-beng yang diandalkannya, tidak ada kesempatan baginya. Berulang kali Kim Seng Siocia memperingatkan kawan-kawannya dengan teriakan agar jangan sampai menjadi korban Thi-khi I-beng.

"Awas…!" teriaknya. "Dia pandai Ilmu Mukjijat Thi-khi I-beng! Jangan biarkan tubuh kalian menyentuhnya, gunakan saja ujung senjata untuk mendesak! Tangkap dia!"

Dengan peringatan ini, memang para pengeroyok hanya mengurung saja, tidak berani terlalu mendesak sehingga dia tidak terancam bahaya oleh senjata lawan, namun dengan dikurung ketat seperti itu, dia juga takkan dapat meloloskan diri dan pula dia tentu akan kehabisan tenaga. Di samping ini, yang menggelisahkan hatinya adalah bahwa dia tidak dapat menolong Hong Ing dan hanya dapat melihat dengan hati gelisah betapa dara itu pun dikeroyok oleh banyak sekali panglima dan prajurit.

Selagi Kun Liong merasa bingung sekali, mendadak dia melihat bayangan seorang gadis yang membuatnya girang dan jantungnya berdebar. Akan tetapi hatinya yang gembira itu segera berubah heran dan bingung, juga kecewa ketika melihat bahwa gadis itu yang bukan lain adalah Cia Giok Keng, datang bersama dengan Liong Bu Kong, putera dari Ketua Kwi-eng-pang! Saking herannya, dia tidak jadi berteriak memanggil dan dia melihat betapa dara itu bercakap-cakap dengan Pangeran Han Wi Ong.

Tidak lama kemudian terjadilah hal yang sama sekali tidak disangkanya akan tetapi yang segera dapat dimengertinya. Cia Giok Keng bersama Liong Bu Kong sudah menyerbu ke medan pertandingan dan ikut pula mengeroyoknya!

Tanpa menegur pun tahulah dia mengapa Giok Keng membantu Pangeran Han Wi Ong. Ayah dara itu, supek-nya Si Pendekar Sakti Cia Keng Hong, adalah orang yang terkenal sering membantu pemerintah. Maka sekarang puterinya tentu saja membantu pasukan pemerintah, apa lagi karena agaknya pangeran itu sudah memutar balikkan kenyataan ketika bicara dengan Giok Keng tadi.

Benar saja dugaannya. Sambil menudingkan pedangnya Giok Keng memaki, "Yap Kun Liong! Kenapa kau menjadi begini tersesat? Lebih baik kau menyerah agar mendapatkan pengadilan yang resmi! Kau telah melarikan isteri orang? Sungguh terlalu kau!"

"Jangan dengarkan obrolan pangeran konyol itu, Giok Keng!" teriak Kun Liong penasaran. "Gadis ini mau dipaksanya menjadi isterinya, aku hanya menolong...!"

"Aku tahu akan watak mata keranjangmu!". Giok Keng membentak dan kini pedangnya ikut bicara. Juga Liong Bu Kong yang diam-diam tersenyum girang ikut pula menerjang maju.

Tentu saja Kun Liong menjadi semakin kewalahan. Baru menghadapi pengeroyokan tadi saja dia sudah repot bukan main, kini ditambah dua orang yang mempunyai kepandaian begini tinggi, tentu saja dia menjadi makin sibuk.

Seperti diceritakan pada bagian depan, Giok Keng dan Bu Kong sedang meninggalkan Pantai Pohai, baru saja mereka mengambil pusaka-pusaka yang disembunyikan pemuda itu dan hendak berangkat ke Siauw-lim-si. Di tepi pantai ini, dekat muara karena mereka bermaksud mempergunakan perahu, mereka melihat ramai-ramai dan ternyata Yap Kun Liong si pemuda gundul yang dikeroyok oleh pasukan tentara.

Tepat seperti diduga oleh Kun Liong, Giok Keng yang bicara dengan Pangeran Han Wi Ong dan menanyakan peristiwa itu, mendengar bahwa Kun Liong melarikan gadis yang menjadi isteri pangeran itu. Tentu saja Giok Keng menjadi marah dan langsung menyerbu bersama Bu Kong.

Tubuh Kun Liong sudah basah semua oleh keringat, seperti juga tubuh Hong Ing yang membela diri mati-matian. Hanya bedanya, kalau orang-orang yang dirobohkan oleh Kun Liong hanya menderita tulang patah atau tertotok lumpuh, tetapi mereka yang roboh oleh pedang Hong Ing tidak dapat bangkit lagi, bahkan banyak yang tewas seketika! Namun Hong Ing sendiri juga sudah menderita beberapa luka-luka ringan di lengan dan pahanya. Betapa pun juga, dara ini mengamuk terus, mengambil keputusan untuk mempertahankan diri sampai titik darah terakhir!

Diam-diam Cia Giok Keng heran bukan main, juga kagum sekali. Baru sekarang ini dia menyaksikan dengan matanya sendiri betapa lihainya pemuda gundul itu.

Ilmu tongkat yang dimainkan oleh kedua tangan Kun Liong yang menggunakan sepasang ranting benar-benar sangat luar biasa, aneh dan juga tangguh sekali. Belum pernah Giok Keng menyaksikan ilmu tongkat sehebat itu. Ke mana pun tongkat berkelebat, tentu ada pengeroyok yang terdesak hebat, dan dari mana pun datangnya hujan senjata tentu dapat ditangkis oleh sebatang di antara dua ranting itu!

Dan kekebalan tubuh Kun Liong juga mengagumkan sekali. Beberapa kali tubuh pemuda itu terkena bacokan, akan tetapi hanya bajunya saja yang robek sedangkan kulit tubuhnya sama sekali tidak terluka. Tentu saja bacokan dan gebukan itu hanya dilakukan dengan senjata biasa. Buktinya, pemuda itu sama sekali tidak pernah berani menerima dengan tubuhnya sambaran pedangnya, Gim-hwa-kiam, dan pedang Lui-kong-kiam di tangan Bu Kong. Jelas bahwa kekebalan tubuh Kun Liong masih belum sanggup menahan pedang pusaka!

Dan sekali ini Giok Keng yang cerdik ternyata salah duga. Ketika tubuh Kun Liong terkena hantaman golok, pedang atau tombak, bukan sekali-kali dia menerima senjata itu dengan sengaja, melainkan karena terlalu banyaknya senjata yang datang menyerangnya hingga membuat dia tak sempat mengelak atau menangkis lagi. Maka terpaksa dia mengerahkan sinkang melindungi tubuhnya sehingga kulitnya menjadi kebal.

Dan kalau dia menghendaki, belum tentu pedang pusaka itu dapat pula melukai tubuhnya! Tentu saja Kun Liong tidak mau mencoba-coba, karena selain berbahaya, juga dia tidak menghendaki kalau puteri supek-nya ini merasa terhina.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner