PETUALANG ASMARA : JILID-50


Setelah dia mengambil keputusan tetap, dengan jantung berdebar tegang akan tetapi kaki dan kepala ringan, Kun Liong berlari-lari ke arah pondok. Tahulah dia kini bahwa segala perasaan aneh yang dideritanya selama ini, kiranya bukan lain adalah keraguan terhadap hubungannya dengan Hong Ing.

Sekarang harus ada kepastian! Dia mencinta Hong Ing! Dia harus menyatakan ini terus terang, dan apakah Hong Ing juga mencinta dia atau tidak, itu merupakan urusan lain lagi! Besar sekali kemungkinannya gadis itu tidak mencintanya, sebab terlalu sering perasaan tidak senangnya diperlihatkan.

Akan tetapi, andai kata benar Hong Ing tidak mencintanya, dia tidak akan penasaran, dan penjelasan itu akan melegakan hatinya. Tidak seperti sekarang, digerogoti keraguannya sendiri. Bagaimana nanti jadinya kalau Hong Ing menjawab pertanyaannya, dia tidak mau membayangkannya. Bagaimana nanti sajalah!

Tiba-tiba kedua kakinya berhenti dengan tiba-tiba dan matanya terbelalak memandang ke depan, kedua alisnya berkerut. Dia melihat Hong Ing berdiri di pantai depan pondok, akan tetapi tidak sendirian! Ada tiga orang lain yang berdiri di depan dara itu dan melihat mereka, jantung di dalam dada Kun Liong segera berdebar tegang. Tiga orang itu adalah pendeta-pendeta Lama berkepala gundul dan berjubah merah!

Teringatlah dia akan kakek pendeta Lama yang pernah menolong dia dan Hong Ing, yang amat sakti dan melontarkan mereka yang berada di dalam peti mati ke laut! Apakah kakek sakti itu yang datang bersama dua orang kawannya?

Melihat mereka dari jarak jauh, sulit sekali membedakan muka para pendeta Lama itu, maka dia lantas melanjutkan gerakan kakinya berlari menghampiri. Setelah agak dekat, tampaklah olehnya bahwa mereka adalah tiga orang pendeta Lama yang usianya sudah tua, akan tetapi pendeta Lama raksasa yang pernah menolongnya itu tidak berada di antara mereka. Kini dia sudah tiba dekat dan berdiri memandang.

Ketiga orang Lama itu bersikap agung dan berwibawa, usia mereka tentu sudah enam puluh tahun lebih. Mereka berdiri berjajar, yang di tengah-tengah agak berbeda jubahnya, yaitu pada tepi jubah merahnya memakai garis kuning emas dan kedua tangannya yang dirangkap di depan dada itu memegang lima batang hio (dupa biting) yang mengeluarkan asap harum. Ada pun dua orang lainnya berdiri di kanan kirinya, juga merangkap tangan depan dada dan menundukkan muka seolah-olah mereka berdua itu selalu berada dalam keadaan bersemedhi dan berdoa!

Hong Ing berdiri dengan wajah agak pucat di depan mereka, dan jelas tampak betapa dara itu berada dalam keadaan bimbang ragu dan bingung. Melihat munculnya Kun Liong, wajah Hong Ing agak berseri seolah-olah dia melihat datangnya pertolongan.

"Kun Liong, para Locianpwe ini adalah supek dan kedua susiok dari Tibet, datang diutus oleh... ayahku untuk menjemputku!" suara Hong Ing gugup karena hatinya merasa tegang sekali.

Kun Liong mengerutkan alisnya, memandang kepada tiga orang pendeta itu, memandang dengan sinar mata tajam penuh selidik, kemudian menjura dengan hormat dan berkata, "Sam-wi Locianpwe adalah paman-paman guru dari Nona Pek Hong Ing? Bagaimana ini? Saya tidak mengerti, harap Sam-wi sudi menjelaskan."

Dua orang pendeta di kanan kiri masih menunduk dengan kedua mata terpejam, hanya pendeta yang berdiri di tengah yang mengangkat muka memandang Kun Liong. Pemuda ini terkejut sekali saat melihat sinar mata kakek itu menyambar bagaikan halilintar! Wajah yang penuh keriput itu kelihatan dingin dan penuh wibawa yang menyeramkan, mulutnya selalu tersenyum sabar dan kepalanya lebih licin dari pada kepalanya sendiri. Yang amat menarik hatinya, asap dari lima batang hio yang dipegang oleh sepasang tangannya itu, membubung lurus ke atas, sama sekali tidak terpengaruh oleh tiupan angin laut!

"Siancai... pinceng sudah menceritakan kepada yang berkepentingan, dan satu kali saja sudah cukup." Suara kakek ini lemah lembut, namun di dasarnya terasa sekali keputusan yang seperti baja, tak dapat digoyahkan pula!

"Kun Liong, ketahuilah. Mereka ini datang dari Tibet sebagai utusan ayahku yang katanya kini menjadi calon ketua para pendeta Lama Jubah Merah di Tibet. Untuk pengesahan dan upacara pengangkatan ayah sebagai ketua, aku sebagai anak tunggal harus hadir, maka ketiga orang Locianpwe ini datang untuk menjemputku sebagai utusan ayah. Bagai mana baiknya, Kun Liong? Aku ingin sekali bertemu dengan ayahku!"

Kun Liong mengerutkan alisnya. Sungguh tak disangka-sangka timbulnya urusan aneh ini dan dia menjadi curiga. Mereka itu adalah pendeta-pendeta Lama, dan kalau ayah Hong Ing adalah suheng dan sute mereka tentu ayah Hong Ing juga seorang pendeta Lama. Mana mungkin ini? Dan bagaimana pula mereka bertiga itu bisa tahu bahwa Hong Ing adalah puteri calon ketua mereka?

Agaknya pendeta Lama yang memegang lima batang hio itu dapat membaca isi hati dan keraguan Kun Liong. Terdengar dia berkata dengan bahasa pribumi yang baik akan tetapi dengan lidah agak kaku, tanda bahwa sudah terlalu lama dia tidak menggunakan bahasa ini.

"Orang muda, harap jangan ragu-ragu terhadap kami. Kami masih mengenal Pek Hong Ing yang meninggalkan Tibet ketika dia berusia lima tahun, dan ketika di daratan besar kami mendengar bahwa Pek Hong Ing meninggalkan daratan dengan seorang pemuda gundul, kami segera berlayar dan mencari. Akhirnya Sang Buddha menuntun kami hingga sampai di tempat ini."

Kun Liong diam-diam harus mengakui bahwa alasan itu memang masuk di akal. Akan tetapi, jika benar ayah dara itu yang mengutus, mengapa sebagai seorang ayah, setelah belasan tahun baru ingat untuk mencari puterinya? Pula, dia masih teringat akan cerita Hong Ing bahwa ibunya dikeroyok oleh para pendeta Lama sehingga luka-luka parah dan akhirnya tewas di kaki Pegunungan Go-bi-san. Karena itu kecurigaannya tetap saja tidak meninggalkan lubuk hatinya.

"Kalau saya boleh bertanya, siapakah nama Sam-wi Locianpwe?"

Sekarang kedua orang pendeta yang tadi menundukkan muka, mengangkat mukanya dan kembali Kun Liong terkejut. Dua orang hwesio yang sudah tua ini pun memiliki pandang mata yang luar biasa, seolah-olah dari pandang matanya itu keluar tenaga mukjijat yang menyeramkan! Tiga pasang mata yang tajam dan aneh itu memandang Kun Liong penuh perhatian, dan pendeta yang berdiri di tengah dengan suara tetap tenang berkata,

"Orang muda, engkau memiliki nyali besar sekali!"

"Maaf, Locianpwe. Bukan sekali-kali saya hendak bersikap tidak hormat, tapi hendaknya diketahui bahwa selama ini, sayalah yang menjaga dan melindungi Nona Pek Hong Ing, maka saya merasa sudah menjadi tanggung jawab saya untuk membelanya dari apa pun juga. Kedatangan Sam-wi ini sungguh tidak diduga-duga, bukan saya tidak percaya, tetapi saya harus tahu lebih dulu siapa yang akan berurusan dengan None Pek Hong Ing."

Pendeta yang berdiri di tengah itu tersenyum, sedangkan kedua orang temannya tetap diam seperti patung.

"Pinceng disebut Sin Beng Lama, yang di kiri ini adalah Hun Beng Lama, dan di kanan adalah Lak Beng Lama. Mereka adalah dua orang sute-ku, dan ayah Nona Pek Hong Ing adalah suheng mereka dan sute-ku yang pertama."

Kun Liong dan Hong Ing saling pandang dan merasa heran. Mendengar nama-nama itu mereka teringat akan kakek pendeta Lama yang sudah menolong mereka, maka dengan cepat Kun Liong bertanya, "Dan siapakah nama ayah Nona Pek Hong Ing?"

"Sute-ku itu, yang kini sedang dicalonkan sebagai ketua perkumpulan kami, adalah Kok Beng Lama..."

"Ohhhh...!" Kun Liong dan Hong Ing berseru heran.

Jadi kakek pendeta aneh yang amat sakti itu, yang menolong mereka dengan memberi peti mati sebagai perahu, yang bernama Kok Beng Lama dan muncul seperti setan, yang bertubuh seperti raksasa, ternyata adalah ayah Hong Ing!

Mendengar seruan itu, Sin Beng Lama beserta kedua orang sute-nya memandang tajam penuh selidik. "Apakah kalian pernah bertemu dengan calon ketua kami?" tanya Sin Beng Lama.

Kedua orang muda itu mengangguk, dan Kun Liong berkata. "Kalau benar bahwa beliau adalah ayah Nona Hong Ing, mengapa diam saja dan tidak mengajaknya ketika bertemu dengan puterinya? Dan menurut cerita Nona Pek Hong Ing, Ibunya pernah dikeroyok oleh para pendeta Lama, tidak tahu apakah Sam-wi Locianpwe ketika itu ikut pula mengeroyok beliau?"

Ketiga orang pendeta itu menggerakkan tubuh sedikit, dan asap lima bateng hio itu kini bergoyang-goyang.

"Orang muda! Urusan dalam mana mungkin diceritakan kepada orang luar? Pek Hong Ing, kami adalah paman-paman gurumu. Mari kau ikut bersama kami menghadap ayahmu dan engkau akan mendengar selengkapnya tentang riwayatmu. Dia ini sebagai orang luar tidak berhak mencampuri urusan kami yang merupakan keluarga pendeta Lama Jubah Merah!"

Hong Ing kelihatan bingung dan ragu-ragu, sebentar memandang ke arah Kun Liong, lalu menoleh kepada tiga orang pendeta yang memandangnya dengan ramah itu. Melihat ini, hati Kun Liong terasa semakin tidak enak. Maka, dengan suara lantang dia berkata,

"Saya bukanlah orang luar! Kepentingan Hong Ing adalah kepentingan saya juga, bahkan lebih lagi! Saya akan membelanya dengan sepenuh jiwa raga saya!"

"Kun Liong...!" Hong Ing berseru lirih dan memandang dengan mata terbelalak lebar.

Kun Liong menghadapi dara itu dan berkata, suaranya lantang karena dia tidak peduli lagi bahwa ucapannya itu didengarkan oleh tiga orang paman guru dara itu.

"Hong Ing, biarlah aku mengadakan pengakuan sekarang juga. Aku.. aku cinta padamu! Nah, kini telah kunyatakan perasaan yang berbulan-bulan ini mencekik leherku. Aku cinta padamu, Hong Ing, dan aku siap untuk membelamu dengan seluruh jiwaku. Jangan kau ikut bersama mereka, jika memang ayahmu yang menyuruh, biarlah ayahmu sendiri yang datang ke sini! Atau, apa bila engkau ingin pergi juga untuk menemui ayahmu, aku harus mengawalmu!"

Muka yang cantik itu menjadi merah sekali saat mendengar pengakuan cinta yang begitu terang-terangan di depan tiga orang pendeta itu. Akan tetapi tanpa dapat dicegahnya lagi, dua butir air mata meloncat turun dari pelupuk matanya dan dia memandang Kun Liong dengan mata setengah terpejam, bibirnya gemetar dan akhirnya sambil melangkah maju sehingga dia berada dekat sekali dengan Kun Liong. Dia kemudian bertanya,

"Kau... kau cinta padaku...? Lalu... bagaimana dengan gadis idaman yang kau khayalkan dahulu itu...?"

Kun Liong tertawa dan kedua lengannya lalu bergerak, meraih tubuh itu dan dipeluknya, didekapnya muka dara itu ke dadanya. "Ha-ha, dahulu aku bodoh, aku dungu, tergila-gila kepada wanita khayal, wanita yang hanya bayangan... aku sungguh tolol seperti yang kau katakan..."

Hong Ing merenggutkan tubuhnya menjauh, mukanya pucat dan matanya terbelalak.

"Apa... apa maksudmu...?" tanyanya dengan suara terputus-putus.

Kun Liong masih tersenyum dan berusaha meraih lagi, akan tetapi Hong Ing mengelak. "Dahulu aku tolol, Hong Ing. Yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku hanyalah engkau, wanita dari darah daging, bukan wanita khayal itu, wanita dalam mimpi yang tentu saja tidak akan pernah ada." Kembali tangannya menangkap lengan Hong Ing dan wanita itu hendak dipeluknya.

"Plak-plak!"

Hong Ing merenggutkan dirinya, menangkis dan menampar dengan muka merah sekali, matanya bersinar-sinar penuh kemarahan.

"Tidak! Lepaskan aku!" teriaknya dan wanita itu tersedu, lari mendekati tiga orang pendeta Lama sambil berkata. "Sam-wi Locianpwe, mari bawa aku menemui ayahku." Dia tidak menengok lagi kepada Kun Liong yang berdiri dengan muka pucat dan terheran-heran.

Sin Beng Lama tersenyum dan mengangguk. "Sebagai puteri Sute yang menjadi calon Kauwcu (Kepala Agama), engkau bersikap baik dan tepat sekali, Hong Ing. Sute, harap ambilkan jubah untuk Hong Ing!"

Lak Beng Lama yang berdiri di sebelah kirinya mengangguk, dan sekali kakinya bergerak, tubuh hwesio ini telah mencelat dan berada di atas perahu kecil yang didaratkan di pantai. Sekejap mata kemudian, hwesio ini sudah kembali berkelebat datang membawa sebuah jubah merah yang lebar. Gerakannya sedemikian gesit dan cepatnya sehingga Hong Ing sendiri terbelalak kagum.

Juga diam-diam Kun Liong yang melihat ini maklum bahwa hwesio Lama itu mempunyai ginkang yang luar biasa tingginya! Akan tetapi dia tidak mempedulikan itu semua karena dia masih bengong memandang Hong Ing yang kelihatan sangat marah kepadanya dan kini sama sekali tidak mempedulikannya itu.

Dengan sikap melindungi Lak Beng Lama lalu menyelimutkan jubah merah itu ke tubuh Hong Ing. Jubah itu lebar dan panjang sehingga tubuh dara itu tertutup dari leher sampai ke mata kakinya, tidak lagi setengah telanjang seperti biasanya.

Melihat dara itu tidak lagi mempedulikannya dan agaknya hendak benar-benar berangkat meninggalkannya, Kun Liong merasa jantungnya seperti dibetot. Dia meloncat ke depan dan langsung menjatuhkan diri berlutut di hadapan Hong Ing sambil berkata, "Hong Ing, jangan pergi... kumohon kau... jangan pergi meninggalkan aku. Aku cinta padamu...!"

Hong Ing memandang kepadanya dan kembali mata itu menitikkan air mata dan suaranya terdengar menyesal sekali.

"Sudahlah, Kun Liong. Aku hendak mencari ayahku dan biarlah kita tidak saling bertemu lagi. Betapa pun juga, selama hidup aku tidak akan melupakan semua budi kebaikanmu kepadaku. Selamat tinggal, Kun Liong..."

"Tidak! Kau tidak boleh pergi begitu saja! Aku harus ikut dan melindungimu, Hong Ing!"

"Orang muda, tak mungkin kau boleh ikut bersama kami. Tempat kami merupakan tempat terlarang bagi orang luar!" kata Sin Beng Lama dengan suara halus.

"Aku mau menjumpai ayahmu, Hong Ing! Aku cinta padamu, dan aku akan meminangmu dari tangan ayahmu!" Kun Liong berkata lagi.

Naik sedu-sedan dari dada Hong Ing, tetapi dia merenggutkan tangannya yang dipegang oleh Kun Liong. "Apakah kau lupa bahwa kau tidak akan menikah selamanya, Kun Liong? Dan aku pun tak akan menerima pinanganmu. Aku tidak membutuhkan perlindunganmu. Sudahlah, aku mau pergi dan.. jangan kau memikirkan aku lagi, Kun Liong..."

Dara itu sudah melangkah menuju ke perahu, diiringkan oleh ketiga orang hwesio Lama itu. Kun Liong merasa jantungnya seperti diremas-remas. Kemudian, sekali meloncat, dia sudah melampaui mereka dan menghadang antara mereka dan perahu.

"Tidak boleh! Kau tidak boleh pergi begitu saja, Hong Ing! Kau tidak boleh meninggalkan aku!" Suaranya mengandung isak dan matanya liar seperti mata seekor kelinci ketakutan. Memang dia takut, dia gelisah bukan main melihat wanita itu hendak meninggalkannya!

"Orang muda, minggirlah kau!" Sin Beng Lama berkata, kini suaranya dingin dan keras, tidak lagi disertai senyum sabar.

"Tidak! Kau tidak berhak mencampuri, Sin Beng Lama! Kalian tiba-tiba saja datang dan hendak membawa pergi dia begitu saja! Tidak boleh! Dia adalah punyaku, dan sejak lama aku hidup untuk dia! Sekarang hendak kau bawa pergi begitu saja! Tidak bisa, selama aku masih hidup!"

"Orang muda, apa kau sudah gila? Minggirlah!" Lak Beng Lama melangkah maju, tongkat di tangan kanannya tergetar.

"Tidak! Kalianlah yang harus cepat pergi dari sini, jangan mengganggu kami berdua lagi." bentak Kun Liong marah.

"Kun Liong, jangan kurang ajar terhadap Supek dan Susiok!" Hong Ing berseru.

"Mereka belum tentu Supek dan Susiok-mu, Hong Ing. Jangan sembarangan percaya terhadap orang!" Kun Liong membentak.

"Bocah gila, engkau memang harus dihajar!" Lak Beng Lama menjadi marah sekali dan tongkatnya sudah menyambar ke arah pundak Kun Liong.

Pemuda ini juga marah, kemarahan yang timbul karena putus asa dan duka bercampur gelisah menyaksikan Hong Ing hendak meninggalkannya. Dengan pengerahan tenaga dia mengangkat lengannya menangkis tongkat itu.

"Desss…!"

“Omitohud...!" Lak Beng Lama terpelanting dan tentu roboh kalau saja Hun Beng Lama, suheng-nya tidak cepat menyambar lengannya.

Bukan main kagetnya tiga orang pendeta Lama itu. Tak disangkanya sama sekali bahwa bukan saja pemuda itu dapat menangkis tongkat pusaka di tangan Lak Beng Lama yang jarang dapat dicari tandingannya itu, bahkan sambil menangkis hampir saja pemuda itu membuat Lama ini malu dan jatuh. Padahal tiga orang Lama ini merupakan tokoh-tokoh besar di Tibet dan memiliki tingkat kepandaian yang amat tinggi!

"Hemmm, kiranya engkau juga mempunyai sedikit kepandaian?" Hun Beng Lama sudah menerjang maju, menggerakkan seuntai tasbih hitam yang sejak tadi dipegangnya.

"Wuuuuttt... singgg...!"

Kun Liong cepat mengelak dan dari samping dia mengulur tangan hendak mencengkeram lengan lawan dan merampas tasbihnya. Juga gerakan ini membuat Hun Beng Lama amat terkejut sehingga terpaksa dia menarik kembali tasbihnya.

Gerakan lawan muda itu benar-benar cepat bukan main, dan juga sangat aneh sehingga dia makin penasaran lalu melangkah maju dan menyerang lagi. Kini tasbihnya meluncur ke arah kepala Kun Liong, sedangkan tangan kirinya menampar pinggang.

Biar pun serangan Hun Beng Lama cepat dan mendatangkan angin keras tanda bahwa gerakannya mengandung sinkang kuat, namun gerakan Kun Liong lebih cepat lagi ketika mengelak dan pemuda ini pun tidak tinggal diam, melainkan membalas dengan pukulan tangan terbuka ke arah leher lawan. Sekarang dia marah sekali karena tiga orang Lama itu dianggapnya hendak melarikan Hong Ing yang akan dipertahankannya mati-matian, maka dia sampai hati untuk membalas menyerang dengan dahsyat!

"Heihhh!" Hun Beng Lama terkejut dan mengelak, tasbihnya menyambar dari bawah.

"Bukkk!"

Tasbih itu bergerak dan dengan tepat mengenai perut Kun Liong. Akan tetapi pemuda ini memang sudah bersiap, segera mengerahkan sinkang melindungi perut sambil berbareng dia menggunakan tamparan tangan menampar ke arah tengkuk.

"Aihhh... plakk!"

Hun Beng Lama kaget ketika tasbihnya bertemu dengan perut yang keras seperti karet, apa lagi ketika tangan lawan sudah menyambar dahsyat memukul tengkuknya. Dia cepat mengelak, akan tetapi pundaknya kena serempet tangan Kun Liong dan Hun Beng Lama terhuyung-huyung dengan muka pucat karena tamparan tangan pemuda itu mengandung hawa panas!

"Pemuda keparat!" Lak Beng Lama sudah menerjang lagi, dan dari samping, Hun Beng Lama juga menerjang.

Kini Kun Liong dikeroyok dua! Dia bertangan kosong, akan tetapi dia tidak menjadi gentar dan cepat dia mainkan Ilmu Silat Im-yang Sin-kun ciptaan Tiong Pek Hosiang.

Ilmu silat tangan kosong ini memang hebat sekali, gerakannya mengandung dua unsur tenaga Im-kang dan Yang-kang. Tenaga Yang-kang panas menghadapi serangan tongkat dan Im-kang dingin menghadapi senjata tasbih yang lemas sifatnya, maka tepat sekali sehingga setelah lewat tiga puluh jurus, Kun Liong membuat kedua orang pengeroyoknya terheran-heran karena belum juga mereka berdua mampu merobohkan lawan yang muda, seorang diri, dan bertangan kosong pula!

Kun Liong juga marah sekali. Dia maklum bahwa dua orang Lama itu lihai sekali, maka dia berseru keras dan kini tubuhnya bergerak makin cepat dan ilmu silatnya berubah. Kaki tangannya seperti berubah menjadi delapan dan ternyata dia sudah mainkan Ilmu Silat Tangan Kosong Pat-hong Sin-kun dari Bun Hwat Tosu!

Ilmu ini memang mengandalkan kecepatan, sesuai dengan namanya Ilmu Silat Delapan Penjuru Angin! Kembali dua orang Lama itu terkejut dan mereka terpaksa harus memutar senjata secepat mungkin untuk melindungi tubuh mereka, sebab kini keadaannya menjadi berbalik, bukan dua orang mengeroyok seorang, melainkan delapan orang menghadapi dua orang!

Dua orang pendeta Lama itu mendadak mengeluarkan pekik melengking panjang, pekik yang mengandung khikang kuat bukan main, membuat jantung Kun Liong tergetar hebat. Pemuda ini terkejut dan cepat dia menggunakan ginkang-nya meloncat lalu menyambar tasbih dan tongkat yang sudah dapat dia cengkeram dengan kedua tangannya!

Melihat senjata mereka dapat tertangkap, dua orang pendeta itu terkejut dan berbareng mereka menghantam dengan tangan kiri yang terbuka ke arah tubuh Kun Liong.

"Bukk! Bukkk!"

Tangan kiri Hun Beng Lama mengenai punggung Kun Liong, sedangkan tangan kiri Lak Beng Lama mengenai lambung. Baru sebuah saja dari dua pukulan ini sudah cukup untuk menewaskan lawan.

Akan tetapi anehnya, kedua orang pendeta itu berteriak-terlak kaget dan mencoba untuk menarik-narik tangan kiri mereka yang kini sudah melekat pada punggung dan lambung! Kiranya Kun Liong sengaja menerima pukulan mereka sambil mengerahkan sinkang dan menggunakan ilmunya Thi-khi I-beng sehingga bukan saja tubuhnya tak terpengaruh oleh pukulan, bahkan otomatis tenaga sinkang kedua orang pendeta itu tersedot oleh pusarnya melalui punggung serta lambungnya! Tentu saja Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama terkejut setengah mati ketika merasa betapa sinkang mereka membanjir keluar!

"Omitohud...!" Sin Beng Lama berseru dan tiba-tiba tampak dua sinar api meluncur.

"Aduhhhh...!" Kun Liong berteriak kaget ketika punggung dan lambungnya terasa panas terbakar.

Kiranya jalan darahnya di bagian itu telah ditotok oleh Sin Beng Lama yang menggunakan ‘senjata’ istimewa sekali, yaitu dua batang hio yang bernyala! Pada saat merasa betapa telapak tangan mereka telah terlepas dari hisapan, Lak Beng Lama dan Hun Beng Lama menarik tangan mereka dan cepat menampar.

"Plak! Dessss...!" Tubuh Kun Liong terguling-guling oleh tamparan yang mengenai leher dan dadanya itu.

"Syuuuuttt... ahhhh...!"

Kun Liong terkapar dan tubuhnya berkelojotan karena dia merasa tubuhnya sakit-sakit seperti dibakar api pada waktu lima batang hio itu sudah meluncur dan menancap di lima bagian jalan darahnya secara luar biasa sekali! Kepalanya pening, pandangan matanya kabur dan dalam keadaan setengah pingsan, Kun Liong masih dapat mendengar suara Hong Ing,

"Jangan bunuh dia... aku tidak sudi pergi kalau dia dibunuh...! Kun Liong...!"

Selanjutnya gelap dan Kun Liong tidak tahu apa-apa lagi…..!

********************

"Aughhhhh..." Kun Liong mengeluh, tubuhnya terasa nyeri semua, nyeri dan panas. Dia membuka matanya dan teringatlah dia bahwa tadi dia roboh oleh Sin Beng Lama yang menyerangnya dengan sambitan lima batang hio yang merupakan sinar api kuning emas meluncur seperti kilat menyambar dan yang tepat mengenal lima jalan darah di tubuhnya.

"Uhhh...!" Dia mengeluh lagi penuh kengerian ketika melirik dan melihat betapa lima biting itu telah menancap di kedua pundaknya, kedua pahanya dan yang satu di lambungnya. Dupa biting itu dapat menancap laksana anak-anak panah baja saja, dapat dibayangkan betapa lihai kakek pendeta Lama itu!

Kun Liong mengerahkan tenaganya, akan tetapi dapat dibayangkan alangkah kagetnya ketika tenaga sinkang-nya yang dilatihnya dari kedua orang gurunya, Bun Hwat Tosu dan Tiong Pek Hosiang, tak dapat digunakan, seolah-olah sumbernya telah dihimpit sehingga tenaga sinkang-nya tidak dapat timbul. Juga tenaga Thi-khi I-beng yang tersimpan pada pusarnya tidak dapat dia gerakkan!

Dengan kaget sekali tahulah Kun Liong bahwa kelima batang hio itu sudah melumpuhkan sinkang-nya, dan teringatlah dia betapa dua tusukan hio biting itu pun telah melenyapkan tenaga sedot dari Thi-khi I-beng pada saat dia menggunakan ilmu itu terhadap Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama! Bahkan ketika dia berusaha menggerakkan kedua tangannya untuk mencabut hio-hio itu, kedua tangan itu juga lumpuh karena hio-hio itu telah menotok kedua pundaknya.

Kun Liong bersikap tenang. Dia tahu bahwa Hong Ing sudah dibawa pergi oleh mereka, bahwa dia hanya sendirian di pulau. Musuh-musuh yang tangguh itu telah pergi dan dia kini terlentang di atas pasir dalam keadaan tertotok oleh hio-hio itu, tak berdaya sama sekali, sedangkan hio-hio itu agaknya beracun. Hal ini dapat diduga dari rasa nyeri dan panas yang mengamuk di tubuhnya.

Akan tetapi dia tidak boleh putus harapan, tidak boleh gugup. Dia harus dapat menolong diri sendiri dulu, terutama sekali supaya dia dapat mencari Hong Ing. Dia masih dapat mengingat teriakan Hong Ing yang terakhir ketika menyebut namanya, teriakan seorang yang berada dalam kesulitan.

Tak mungkin Hong Ing, betapa pun bencinya kepadanya, meski pun andai kata dara itu tidak mencintainya, tidak mungkin dara itu meninggalkannya begitu saja dalam keadaan seperti itu! Tidak mungkin! Dia tahu siapa Hong Ing dan dara macam apa adanya dia!

Hong Ing, di balik semua sifat dan wataknya yang aneh sebagai seorang wanita, memiliki hati yang berbudi. Tak mungkin Hong Ing tega meninggalkan dia dalam keadaan seperti itu, kalau dara itu tidak dipaksa. Dipaksa! Berarti diculik oleh tiga orang pendeta Lama itu!

Dan tentu saja Hong Ing tidak akan sanggup melawan mereka yang demikian lihainya. Karena itu, jelas bahwa Hong Ing berada dalam kesulitan. Dalam bahaya! Dan dia harus menolongnya, harus mengejar tiga orang pendeta Lama itu. Akan tetapi, yang terpenting sekarang, dia harus dapat membebaskan diri sendiri lebih dulu. Bagaimana caranya?

Kun Liong mengingat-ingat. Dari gurunya yang ke dua, Tiong Pek Hosiang, dia pernah mempelajari Ilmu Jiu-kut-keng (Melemaskan Badan), dan dari Bun Hwat Tosu dia sudah diajari dasar Ilmu I-kiong Hoan-hiat (Memindahkan Jalan Darah). Ilmu yang pertama itu memungkinkan dia untuk meloloskan diri dari belenggu yang bagaimana kuat pun, dan ilmu ke dua dapat membuat dia membuyarkan totokan yang menguasai tubuhnya.

Akan tetapi sekali ini kedua ilmu itu tidak dapat dia pergunakan karena sumber tenaga sinkang-nya terhimpit. Sambil terlentang di atas pasir, hanya sepasang biji matanya yang bergerak-gerak dan dipaksa memandang ke langit yang hitam penuh terhias bintang, Kun Liong segera mengumpulkan ingatannya, mengenang kembali semua ilmu yang pernah dipelajarinya, mulai dari kecilnya dia belajar dari ayah bundanya, lalu kepada Bun Hwat Tosu, Tiong Pek Hosiang dan yang terakhir dari supek-nya, Pendekar Cia Keng Hong. Kemudian di atas pulau kosong itu, dia membaca kitab Keng-lun Tai-pun ciptaan Kaisar Bun Ong.

Bintang-bintang di langit yang jumlahnya tidak terbilang mengingatkan dia akan pelajaran mengenai letak bintang dan artinya dengan kehidupan manusia yang pernah dia baca di dalam kitab Keng-lun Tai-pun itu, mengingatkan dia akan semua yang dipelajarinya dari kitab itu. Otomatis dia langsung teringat akan latihan napas dalam kitab itu dan segera pernapasannya diatur menurut pelajaran itu tanpa maksud tertentu.

Alangkah girang dan kaget hatinya ketika tidak lama sesudah dia mengatur pernapasan menurut latihan di dalam kitab itu, rasa nyeri serta panasnya banyak berkurang. Hal ini mendorongnya untuk mengerahkan seluruh perhatian dalam latihan ini, kemudian dengan semangat yang terbangun secara aneh, Kun Liong mulai menyalurkan semangat ini untuk menggerakkan kaki tangannya menurut petunjuk dalam kitab yang telah dihafalkannya.

Dan hasilnya... benar-benar luar biasa. Dia dapat menggerakkan kaki tangannya! Bahkan kini himpitan pada pusarnya mulai terangkat dan begitu dia dapat menggerakkan hawa sinkang-nya dari pusar, sinkang yang dulu dilatihnya dari Bun Hwat Tosu membuat lima batang hio itu terdorong keluar dari tubuhnya!

Kun Liong cepat bangkit duduk dan bersila, memejamkan matanya lantas mengerahkan hawa sinkang, disalurkannya berputaran ke seluruh tubuhnya untuk menghalau semua hawa beracun, dan mengisi tubuhnya dengan hawa murni melalui pernapasan.

Sampai pada keesokan harinya, barulah Kun Liong berhasil memulihkan kesehatan dan tenaganya. Sesudah dia membuka mata, menggerak-gerakkan kedua lengannya sampai otot-ototnya berbunyi, barulah hatinya merasa puas karena dia telah sembuh sama sekali. Akan tetapi, sesudah dia sembuh, perhatiannya akan diri sendiri lenyap dan kembali dia teringat kepada Hong Ing.

"Ahhhh... Hong Ing...!" Dia mengeluh dan seperti kebiasaannya kalau dia merasa bingung dan gelisah, tangan kirinya meraba-raba kepalanya yang gundul.

"Heiii...!" Matanya terbelalak, dan kini tangan kanannya ikut pula meraba-raba kepalanya. Dia tidak mimpi! Tangan kirinya tidak kehilangan perasaannya. Memang benar kepalanya tidak kelimis dan licin lagi!

"Hong Ing...! Kepalaku berambut...!" Dia melompat bangun, akan tetapi segera terduduk kembali seperti dibanting karena dia baru teringat bahwa Hong Ing tidak berada di pulau! Kegirangan dan kekagetan saat meraba kepalanya yang tumbuh rambut itu tadi sejenak membuat dia lupa bahwa Hong Ing telah diculik orang.

Sekarang kedua tangannya menyelidiki kepalanya. Benar tumbuh rambut, biar pun masih pendek akan tetapi jelas terasa oleh rabaan tangan. Teringat dia akan telur-telur yang berpuluh banyaknya, yang tidak disukai oleh Hong Ing namun yang oleh dara itu sudah direbus setiap hari untuk dia. Teringat dia betapa kepalanya menjadi gatal-gatal setelah makan telur-telur itu! Dan teringat pula dia akan cerita Hong Ing tentang seekor ular hitam yang mendarat dan tentang bentuk dan warna telur yang oleh dara itu disangka bukan telur kura-kura.

Kini dia mengerti. Telur-telur itu memang bukan telur kura-kura. Entah telur apa, mungkin saja telur ular yang dilihat Hong Ing itu. Dia tidak merasa heran kalau ada telur semacam binatang yang dapat memunahkan racun di tubuhnya sehingga rambut kepalanya tumbuh kembali. Dia tahu bahwa di dunia ini tidak ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan.

Ibunya, seorang ahli pengobatan yang pandai, pernah berkata bahwa di dunia ini, segala sesuatu ada lawannya. Begitu pula penyakit, sudah pasti ada obatnya. Bila ada penyakit yang tidak dapat disembuhkan, hal itu hanya terjadi karena manusia belum menemukan lawan dari penyakit itu!

Dan menurut ibunya, di udara, di atas dan di dalam tanah, di dalam air, di mana-mana terdapat bahan obat yang serba lengkap, dan manusia hanya tinggal menyelidiki serta menemukannya saja. Sekarang, secara kebetulan sekali telur aneh itu merupakan lawan dari ‘penyakit’ yang membuat rambut kepalanya tidak mau tumbuh, sehingga kepalanya menjadi normal kembali dan telah tumbuh rambut!

Setelah keadaan cuaca agak terang oleh sinar matahari pagi, Kun Liong cepat berlari ke sumber air dan bercermin di kolam. Tidak salah lagi, bintik-bintik hitam di kepalanya itu adalah rambut-rambut muda! Ah, betapa Hong Ing akan girang sekali melihatnya, betapa mereka berdua akan tertawa-tawa menyaksikan keanehan yang amat menguntungkan ini.

Tiba-tiba dia menarik napas panjang. Hong Ing sudah lenyap! Dia harus mencarinya! Dan dia tahu ke mana harus mencari Hong Ing. Tidak lain dia harus mengejar tiga orang kakek pendeta Lama itu dan ke mana lagi mencari mereka kalau bukan ke Tibet?

Mulai pagi hari itu juga, dengan penuh ketekunan Kun Liong membuat sebuah perahu dari batang pohon besar yang ditumbangkamya di dalam hutan di tengah pulau. Tentu saja tak mudah untuk membuat sebuah perahu dari batang demikian besar tanpa alat apa pun kecuali ujung batu-batu karang yang runcing. Akan tetapi dengan penuh semangat, dan terdorong oleh kekhawatiran akan keselamatan Hong Ing, Kun Liong bekerja siang-malam dan hanya berhenti kalau perutnya sudah terlalu lapar untuk makan atau matanya sudah terlalu mengantuk untuk tidur.

Sambil bekerja dia mengenang semua peristiwa yang terjadi selama dia bersama dengan Hong Ing. Dia lalu menarik napas panjang dan harus mengakui bahwa dia benar-benar mencinta dara itu!

Dan beberapa kali dia merasa malu kepada diri sendiri kalau dia mengingat akan semua sikap dan hubungannya dengan gadis-gadis lainnya. Betapa dahulu dia berpemandangan rendah soal cinta! Betapa dahulu dia menganggap dara-dara itu seperti kembang yang indah harum untuk dipandang kagum dan dicium. Betapa dahulu dia menganggap bahwa rasa suka yang menarik hati antara muda-mudi hanyalah dorongan nafsu birahi semata! Dan sekarang baru dia merasakan benar-benar betapa hebat kekuasaan perasaan yang disebut cinta asmara ini! Betapa anehnya!

Dia menjadi bingung apa bila mengenang sikap Hong Ing kepadanya. Kadang-kadang dia seperti dapat menangkap sinar mata penuh kasih mesra, juga dapat melihat sikap dara itu yang jelas membayangkan cinta kasih dara itu kepadanya. Akan tetapi, mengapa Hong Ing sering kali marah-marah kepadanya dan seolah-olah membencinya?

Padahal, pada saat dara itu melayaninya makan, ketika bercakap-cakap, bersenda gurau, ketika mereka bersama-sama membuat pondok, ketika mereka berkejaran dan berlomba mencari telur, semua itu jelas menunjukkan bahwa dara itu berbahagia di sampingnya, bahwa dara itu suka akan kehadirannya dan mencintanya!

Akan tetapi dara itu pun pernah memakinya sebagai orang yang sombong, angkuh, tolol, dan yang lebih hebat lagi... memuakkan perutnya! Dan yang terakhir itu, sebelum dibawa pergi oleh para pendeta Lama, ketika dengan terus terang dia menyatakan cinta kasihnya kepada Hong Ing, dara itu mula-mula kelihatan seperti orang yang terharu dan sangat berbahagia, tapi mengapa kemudian berubah menjadi marah-marah dan memandangnya penuh kedukaan dan kebencian? Mengapa?

Dia mengenangkan semua peristiwa itu, satu demi satu. Didengarnya kembali pengakuan cintanya kepada Hong Ing, didengarnya kembali semua ucapan Hong Ing kepadanya dan kemarahan dara itu kepadanya.

"Ohhhh...!" Tiba-tiba saja Kun Liong menghentikan pekerjaannya, duduk termangu-mangu dan mukanya menjadi pucat. Kembali dia membayangkan adegan tertentu dan kata-kata tertentu sebelum Hong Ing marah.

"Ahh, benar-benar tolol kau!" Kun Liong menampar kepalanya yang kini tidak gundul lagi, melainkan tertutup rambut hitam yang kaya dan hitam, akan tetapi panjangnya baru satu senti. Terngiang kembali dalam telinganya percakapan antara dia dan Hong Ing sebelum dara itu marah-marah bahkan telah menamparnya!

"Kau cinta padaku...? Lalu... bagaimana dengan wanita idaman yang kau khayalkan dulu itu...?" Hong Ing bertanya kepadanya.

"Ha-ha-ha, dahulu aku bodoh, aku dungu, tergila-gila kepada wanita khayali, wanita yang hanya bayangan... aku sungguh tolol seperti yang kau katakan...," dia menjawab.

Mendengar itu Hong Ing menjadi pucat. Dia ingat betul akan perubahan ini, kemudian dia mendengar kembali suara Hong Ing yang terputus-putus. "Apa... apa maksudmu...?"

Dan dia, betapa tololnya, ketololan yang amat keterlaluan, dia menjawab seenak perutnya sendiri saja!

"Dahulu aku tolol. Yang kucinta dengan seluruh jiwa ragaku hanyalah engkau, wanita dari darah daging, bukan wanita khayal itu, wanita dalam mimpi yang tentu saja tidak pernah ada."

Hong Ing kemudian menamparnya! Tentu saja! Dia sekarang sadar bahwa sepatutnya dia dipukul, bukan hanya ditampar!

Mengapa dia begitu tolol? Kini dia dapat menyelami perasaan hati seorang gadis seperti Hong Ing ketika mendengar pengakuannya yang bodoh bahwa wanita impiannya itu tidak pernah ada! Padahal Hong Ing melebihi semua wanita impiannya!

Jawabannya yang bodoh itu tentu saja menyakitkan hati Hong Ing karena seakan-akan baginya tidak ada wanita yang sempurna, seperti wanita khayalannya itu, bahkan Hong Ing pun tidak sesempurna wanita impiannya itu. Dia memang patut dipukul mampus!

Perasaan menyesal terhadap kesalahannya ini, kesalahan yang sudah menyakitkan hati kekasihnya, membuat Kun Liong makin tekun. Tanpa mengenal lelah dia menyelesaikan pembuatan perahunya, maka dua bulan kemudian selesailah perahu itu, sebuah perahu yang sederhana sekali.

Kun Liong lalu berangkat meninggalkan pulau itu dengan mendayung perahunya. Yang dibawanya hanyalah kitab Keng-lun Tai-pun yang masih terus dipelajarinya sebab isi kitab itu amat sukar dimengerti, harus dibaca berulang-ulang. Harta pusaka berupa emas perak dan permata dia tinggalkan di pulau, dia sembunyikan di dalam sebuah di antara goa-goa di pulau itu, dan dia hanya membawa beberapa potong emas dan perak untuk bekal di perjalanan.

Tujuannya hanya satu, yaitu mencari Hong Ing sampai ketemu! Dan arah perjalanannya setelah mendarat nanti sudah pasti, kecuali kalau ada jejak dara itu yang menuju ke lain arah, yaitu ke Tibet…..

********************

"Sudahlah, Keng-moi... sudahlah kekasihku yang tercinta. Perlu apa kau menangis lagi? Tangismu menghancurkan hatiku, Keng-moi. Bukankah aku berada di sini, di sampingmu selalu?"

"Liong-koko...!" Giok Keng menangis semakin terisak, menyandarkan kepalanya di atas dada Liong Bu Kong yang mengelus-elus rambutnya dengan penuh kemesraan. "Engkau tidak merasakan betapa sakit hatiku... betapa sengsaranya hati orang yang diusir dan tak diakui lagi oleh ayah bundanya... hu-hu-huuk..."

"Aku mengerti, Moi-moi... aku mengerti... Memang tak semestinya engkau mengorbankan diri sedemikian rupa hanya untuk seorang seperti aku... maka sekarang belum terlambat kalau kau tinggalkan aku dan pulang, minta ampun kepada ayah bundamu, Moi-moi..."

Cia Giok Keng mengangkat mukanya yang basah air mata dan matanya yang agak merah karena tangis itu memandang wajah yang tampan dari Bu Kong. Malam itu bulan sudah muncul dan di bawah sinar bulan wajah itu kelihatan tampan sekali.

"Apa... apa maksudmu...? Meninggalkanmu...?"

Bu Kong menundukkan mukanya dan berkata, suaranya halus menggetar, "Keng-moi, aku cinta kepadamu, aku cinta kepadamu dengan seluruh jiwa ragaku... dan demi cinta kasihku yang murni, aku tidak ingin melihat kau menderita. Tidak! Aku hanya ingin melihat engkau berbahagia, maka melihat engkau menangis dan bersengsara seperti ini... ahhh, biarlah aku yang menderita, Moi-moi, kau kembalilah kepada orang tuamu..."

"Koko...!" Giok Keng menangis lagi sambil merangkul leher pemuda itu. Hatinya merasa perih dan terharu, juga sangat bahagia karena ucapan pemuda itu meyakinkan hatinya akan cinta kasih yang murni dari pemuda itu kepada dirinya. "Aku rela berkorban apa pun, Koko... biarlah aku tidak diakui anak lagi oleh ayah bundaku asalkan engkau benar-benar mencintaku..."

"Moi-moi...!" Bu Kong mendekap tubuh itu dan mencium pipinya, "…aku bersumpah demi bumi dan langit bahwa aku benar mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku. Biarlah aku bersumpah, kalau ternyata aku berhati palsu kepadamu, kelak Thian akan menghukumku dengan..."

"Husshh, tidak perlu bersumpah, aku percaya kepadamu, Koko..." Giok Keng menutup mulut pemuda itu dengan telapak tangan kanannya.

"Moi-moi... ahhh…, Moi-moi tersayang..."

Bu Kong memegang dan menciumi tangan itu, kemudian ciumannya berpindah-pindah, dari tangan ke leher dan akhirnya dia menciumi bibir Giok Keng dengan penuh nafsu. Mula-mula Giok Keng membalas ciuman pemuda itu dengan sepenuh hati karena cinta kasihnya, penuh penyerahan dan kemesraan. Akan tetapi ketika ciuman-ciuman penuh nafsu yang membuat dia terengah-engah itu disusul dengan gerakan jari-jari tangan Bu Kong yang nakal, dia menjadi sangat terkejut.

"Moi-moi... ahhh... Moi-moi yang tercinta...!" Bu Kong berkata dengan napas mendengus-dengus, kemudian dengan gerakan halus dia mendorong kedua pundak dara itu sehingga Giok Keng rebah terlentang di atas tanah berumput.

Giok Keng merangkulnya, menciumnya, dan jari-jari tangan Bu Kong mulai meraba-raba dan hendak membuka pakaian Giok Keng.

"Koko... jangan...!" Giok Keng tiba-tiba bangkit duduk, menolak kedua tangan pemuda itu yang meraba dada dan pahanya. "Jangan begitu, Koko...!" suaranya penuh permohonan dan nafasnya masih terengah-engah dibakar nafsu birahi.

"Mengapa, Moi-moi? Bukankah kita berdua saling mencinta?" Bu Kong mengecup pipi yang kemerahan dan halus serta panas karena terbakar darah muda yang menggelora tadi.

"Memang aku cinta padamu, Koko, dan aku yakin bahwa engkau pun mencintaku, akan tetapi kita... kita... tidak boleh begini... sebelum kita menikah dengan sah!"

Bu Kong melepaskan kedua tangannya dan usahanya, membelai dan memegang kedua pundak dara itu, lalu memandang wajah yang jelita itu dengan mata tajam dan suaranya terdengar mencela, "Aihh, kenapa pendirianmu begini kuno, Moi-moi? Di mana ada cinta, di situ tidak ada pelanggaran apa-apa lagi, apa pun boleh kita lakukan kalau kita saling mencinta! Bahkan cinta tidak selalu harus dihubungkan dengan pernikahan! Cinta dan pernikahan itu adalah dua hal yang berlainan, Moi-moi!"

Giok Keng cemberut dan menggerakkan pundaknya hingga pegangan Bu Kong terlepas. Dia menggeser duduknya agak menjauhi pemuda itu, kemudian berkata, suaranya juga sungguh-sungguh,

"Liong-koko, memang enak saja berkata demikian karena engkau adalah seorang lelaki! Kau bilang bahwa cinta dan pernikahan adalah dua hal yang berlainan, dan sungguh pun anggapanmu ini ada benarnya, namun lebih benar lagi adalah bahwa cinta dan bermain cinta adalah dua hal yang lebih berlainan lagi! Bermain cinta hanyalah permainan nafsu birahi, dan seperti juga pernikahan, hanya merupakan pelengkap dari cinta kasih belaka."

"Moi-moi, kita saling mencinta, kita berdua seakan-akan sudah tidak memiliki orang tua lagi, perlu apa urusan pernikahan direpotkan lagi? Kita saling mencinta, sehidup semati, dan kalau aku ingin memiliki dirimu, demi cinta kita, apa salahnya itu?"

"Karena engkau seorang laki-laki, maka pendapatmu mengenai hal ini menjadi demikian mudah, Koko. Bagi pria, memang tidak ada cacad celanya melakukan hubungan di luar nikah, akan tetapi begitukah bagi wanita? Memang dunia ini kejam, terutama sekali kejam terhadap wanita! Bila sepasang muda-mudi, karena cinta mereka, karena dorongan nafsu birahi mereka, melakukan hubungan dan bermain cinta di luar nikah, selalu si wanita yang menjadi korban. Ia diejek, diolok-olok, dianggap manusia rendah. Sebaliknya, si pria tidak apa-apa, malah perbuatannya itu akan dijadikan kebanggaan di antara kawan-kawannya, dipamerkan sebagai bukti kejantanan! Sekali saja seorang wanita terpeleset dan bermain cinta di luar nikah, kehormatannya akan cemar, namanya akan buruk. Sebaliknya, walau pun seorang laki-laki melakukan hubungan di luar nikah sampai seribu kali, tetap tak akan berbekas apa-apa! Apa lagi kalau hubungan itu sampai menghasilkan kandungan, maka celakalah si wanita!"

"Ahh, Moi-moi, kau berpikir terlampau jauh dan mengkhawatirkan hal yang bukan-bukan. Apakah kaukira aku yang mencintamu dengan seluruh jiwa ragaku akan meninggalkanmu begitu saja? Kita sudah sehidup semati, Moi-moi!"

"Bukan aku tidak percaya kepadamu, Koko. Hanya aku tidak ingin kehilangan harga diriku yang merupakan kehormatan bagi seorang wanita, biar pun hanya kita berdua saja yang mengetahui. Aku akan merasa sangat rendah dan murah! Pula, kalau engkau memang mencintaku, mengapa engkau tidak mau menaruh hormat akan pendirianku ini? Mengapa engkau tidak mau menjaga supaya kehormatanku tetap terjunjung tinggi dan kita dapat benar-benar menikmati masa pengantin baru? Koko, aku hanya mau menyerahkan diriku kepadamu setelah kita menikah, sungguh pun hatiku sudah kuserahkan kepadamu."

"Keng-moi... kau mengecewakan hatiku, akan tetapi demi cintaku yang murni, biarlah aku akan menahan diri dan akan mentaati permintaanmu itu."

"Koko, engkau memang baik sekali!" Giok Keng merangkul dan mereka saling berciuman dengan penuh kemesraan, akan tetapi api nafsu birahi yang tadinya hampir membakar mereka berdua itu kini dapat dipadamkan atau setidaknya diperkecil sehingga tidak akan timbul bahaya kebakaran.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner