PETUALANG ASMARA : JILID-52


Dia tahu bahwa lawannya adalah seorang ahli Sai-cu Ho-kang (Pekik Auman Singa) yang dikeluarkan dengan khikang kuat untuk menggetarkan jantung lawan dan merobohkannya. Maka cepat dia mengerahkan sinkang-nya disalurkan melindungi isi dada, kemudian dia membentak dengan suara melengking tinggi.

"Pendeta palsu, majulah!"

Bong Khi Tosu terkejut sekali ketika suara dara yang mengandung khikang yang tak kalah kuatnya itu, menyerangnya seperti pisau runcing menusuk ulu hatinya. Maklum bahwa dia tak akan dapat mengalahkan dara itu dengan Ilmu Sai-cu Ho-kang, dia lalu mengeluarkan suara gerengan bagai seekor harimau terluka, dan tangan kanannya telah menggerakkan tongkatnya untuk menyerang tubuh Giok Keng.

Dara ini melihat betapa ujung tongkat lawan tergetar dan seperti berubah menjadi banyak, kemudian ujung tongkat itu meluncur dan melakukan serangan totokan ke arah tujuh jalan darah di sebelah depan tubuhnya!

"Haiittttt...!”

“Trang-cring-cring-tranggg...!"

Bertubi-tubi datangnya serangan totokan yang dapat melumpuhkan lawan itu, akan tetapi dengan baiknya Giok Keng dapat menangkis semua totokan tongkat itu dan bukan hanya menangkis, bahkan dara ini juga dapat membalas secara kontan keras dengan serangan-serangannya yang dahsyat.

Pertandingan berlangsung seru dan hebat. Pedang serta tongkat lenyap bentuknya dan yang tampak hanya gulungan sinar perak dari pedang Gin-hwa-kiam, dan sinar hitam dari tongkat di tangan tosu itu. Namun segera tampak nyata betapa gulungan sinar perak itu makin lama menjadi makin meluas dan membesar, sedangkan sinar hitam menjadi makin menyempit. Ini menandakan bahwa gerakan tongkat itu menjadi terbatas dan hanya dapat menangkis saja karena terdesak dan terhimpit oleh pedang di tangan Cia Giok Keng.

Memang segera ternyata bahwa Bong Khi Tosu bukanlah lawan Giok Keng. Tosu ini lihai sekali, merupakan pembantu atau murid yang pilihan dari Thian Hwa Cinjin, akan tetapi menghadapi puteri pendekar sakti Ketua Cin-ling-pai ini dia ‘mati kutu’ sehingga selalu terdesak.

Apa lagi dia tidak berani melanggar perintah ketuanya, yaitu agar dia menangkap gadis ini hidup-hidup. Masih mending apa bila dia diperbolehkan merobohkannya atau membunuh, walau pun hal itu juga tidak dapat memastikan apakah dia akan menang. Kini dia hanya menggunakan tongkatnya untuk merobohkan lawan tanpa membunuh, sebaliknya pedang Gin-hwa-kiam terus menyambar-nyambar seperti seekor naga yang haus darah!

"Aaahhhh!" Tiba-tiba tosu yang selalu terdesak itu mengeluarkan bentakan nyaring, suara khikang dari dalam perutnya yang menggetarkan semua orang yang mendengarnya, lalu tongkatnya meluncur ke depan dengan serangan dahsyat ke arah ulu hati Giok Keng.

Melihat datangnya serangan, dara ini tidak mau menangkis melainkan mengelak dengan loncatan ringan ke kiri, membiarkan tongkat itu lewat untuk kemudian membalas dengan sabetan pedang dari samping. Akan tetapi tiba-tiba ujung tongkat itu membalik!

"Wuuuttttt…!"

Terdengar suara dan jarum-jarum hitam menyambar dari ujung tongkat mengarah kedua kaki Giok Keng!

Inilah kelihaian tongkat para tokoh Pek-lian-kauw. Ternyata tongkat di tangan Bong Khi Tosu yang terbuat dari bambu itu, pada bagian dalamnya berlubang dan kini oleh tosu itu dipergunakan sebagai sebatang sumpit yang pelurunya terdiri dari jarum-jarum hitam dan beracun! Hanya, mengingat akan perintah ketuanya, tosu ini menujukan jarum-jarumnya ke arah kedua kaki Giok Keng!

"Hyaaahhhhh!" Giok Keng mengeluarkan suara melengking tinggi dan tubuhnya mencelat ke atas dengan kecepatan seperti seekor burung walet, berjungkir balik beberapa kali dan tubuh itu melayang turun sambil menyerang dengan pedangnya ke arah ubun-ubun Bong Khi Tosu!

"Hayaaaaa...!" Bong Khi Tosu terkejut bukan main.

Tak disangkanya dara itu akan dapat bergerak secepat itu. Bukan hanya menghindarkan diri dari jarum-jarumnya, bahkan loncatan itu merupakan serangan yang sangat cepat dan tak terduga-duga. Dia menangkis dan mencoba untuk mengelak.

"Srattt...! Aduhhh...!" Tubuh Bong Khi Tosu terjungkal karena biar pun dia telah mengelak dan menangkis, tetap saja ujung pedang Gin-hwa-kiam merobek baju pada punggungnya berikut kulit punggung dan sedikit daging!

"Trangggg...!"

Untung bagi Bong Khi Tosu bahwa pada saat itu sebatang tongkat hitam yang panjang telah menangkis pedang Gin-hwa-kiam yang sudah meluncur untuk mengirim tusukan maut kepadanya.

Giok Keng meloncat mundur dengan kaget. Tangannya yang memegang pedang tergetar hebat oleh tangkisan itu dan ternyata bahwa yang menangkisnya adalah Thian Hwa Cinjin sendiri! Tangkisan itu saja sudah menunjukkan bahwa kakek itu mempunyai sinkang yang amat kuat.

Namun tentu saja Giok Keng tak menjadi gentar. Sejak kecil dara perkasa ini digembleng oleh ayah bundanya sehingga dia menjadi seorang dara yang di samping berkepandaian tinggi, juga berwatak berani dan gagah, tidak mengenal artinya takut.

"Thian Hwa Cinjin!" Dia membentak sambil menudingkan pedangnya ke arah muka kakek itu. "Aku Cia Giok Keng tidak mempunyai urusan apa-apa dengan Pek-lian-kauw, dan aku hanya ingin membunuh si jahanam laknat Liong Bu Kong! Aku minta agar Pek-lian-kauw tidak mencampuri urusan antara kami! Akan tetapi, hal ini bukan berarti bahwa aku takut terhadap Pek-lian-kauw. Mundurlah, dan biarkan aku berhadapan dengan anjing busuk Liong Bu Kong!"

Thian Hwa Cinjin tertawa, suara ketawanya terdengar halus dan menggetarkan hati Giok Keng. Sambil memutar-mutar tongkatnya, kakek itu lalu berkata, "Cia Giok Keng, engkau seorang wanita muda yang cantik, mengapa mempergunakan kekerasan seperti itu? Dan engkau berhadapan dengan pinto, Ketua Pek-lian-kauw yang memiliki tingkat jauh lebih tinggi darimu, baik dipandang dari kedudukan, usia, mau pun kepandaian, mengapa kau tidak menaruh hormat? Hayo kau lekas berlutut! Kuperintahkan engkau untuk berlutut, Cia Giok Keng...!"

Suara itu demikian penuh wibawa dan sepasang mata itu seperti melumpuhkan semangat Giok Keng sehingga dara ini, di luar kehendaknya sendiri, tiba-tiba saja menjatuhkan diri berlutut. Begitu lututnya menyentuh lantai, barulah Giok Keng terkejut dan sadar.

Pernah dia mendengar penuturan ayahnya tentang kekuatan sinkang yang sangat hebat, yang disalurkan melalui pandangan mata dan suara, sehingga pandang mata dan suara itu dapat mempengaruhi hati serta pikiran lawan dan dengan mudah dapat mengalahkan lawan tanpa menggerakkan tangan. Ilmu ini adalah ilmu sihir yang oleh ayahnya disebut ilmu I-hun To-hoat (semacam Hypnotism), yaitu ilmu menguasai hati dan pikiran orang.

Giok Keng menjadi sadar, mengerahkan sinkang-nya dari pusar dan dengan hawa murni di tubuhnya dia mengerahkan kemauannya melawan kekuasaan yang mencekamnya itu, dan sambil memekik nyaring laksana orang baru sadar dari mimpi, Giok Keng meloncat bangkit berdiri dan membentak,

"Tosu siluman, aku tidak takut kepadamu!" lalu tanpa banyak cakap lagi dara pendekar ini telah menyerang Thian Hwa Cinjin dengan pedang peraknya!

"Aahhh...!" Kakek itu berseru kagum melihat betapa dara itu dapat membebaskan diri dari pengaruh sihirnya.

Terpaksa dia mengangkat tongkatnya menangkis sambil mengerahkan sinkang-nya untuk membuat pedang lawan terlepas dari pegangan. Akan tetapi, betapa kaget dan kagumnya melihat pedang itu sudah berubah gerakannya dan kini menyerang ke arah perutnya dari bawah.

Hati Ketua Pek-lian-kauw ini menjadi gembira sekali. Dia mengelak dengan loncatan ke belakang sambil tertawa dan berkata, "Ha-ha-ha, aku ingin sekali melihat sampai di mana hebatnya ilmu silat dari Cin-ling-pai!"

Giok Keng maklum akan kelihaian lawan, maka dia pun tidak mau berlaku sungkan lagi, begitu pedangnya digerakkan, dia telah menyerang dengan ilmu simpanannya, yaitu ilmu Silat Thai-kek Sin-kun!

"Wuuuttt... sing-sing-sing...!"

"Heiii...! Hayaaaa...!"

Thian Hwa Cinjin berteriak-teriak saking kaget dan kagumnya menghadapi pedang yang gerakannya demikian cepat dan aneh. Gerakannya kelihatan lambat, tapi daya serangnya lebih cepat dari pada ilmu pedang yang pernah dikenalnya.

Tadinya dia hendak mengelak saja sambil memperhatikan ilmu pedang lawan karena dia telah mendengar bahwa pada waktu itu Pendekar Sakti Cia Keng Hong merupakan tokoh pertama di dunia persilatan dan kabarnya mempunyai ilmu silat yang luar biasa. Kini dia bertemu dengan puterinya, maka maksud hati kakek ini hendak menyaksikan kehebatan ilmu silat Cin-ling-pai untuk sekedar mempelajari dasarnya sehingga kelak dapat berguna kalau dia sampai bertemu dan bertanding melawan Ketua Cin-ling-pai.

Akan tetapi, baru belasan jurus saja dia menjadi kaget setengah mati karena dia maklum bahwa kalau hanya mengandalkan pengelakan saja, besar kemungkinan dia akan roboh oleh pedang yang digerakkan secara ajaib itu! Terpaksa dia mulai memainkan tongkatnya dan dalam waktu singkat, kedua orang itu sudah bertanding dengan hebatnya!

Dapatlah dibayangkan betapa kagetnya hati Thian Hwa Cinjin ketika mendapat kenyataan bahwa dia sama sekali tidak dapat mendesak lawan! Ilmu silat yang dimainkan dara itu terlalu hebat, terlalu aneh sehingga dia sendiri harus berhati-hati supaya jangan sampai ‘dicium’ ujung pedang.

Sementara itu, para tokoh Pek-lian-kauw memandang dengan kagum dan terheran-heran pada saat menyaksikan kelihaian nona muda itu. Hanya Liong Bu Kong yang memandang dengan sinar mata biasa saja karena dia memang maklum akan kelihaian gadis itu yang harus diakuinya memiliki ilmu silat yang lebih tinggi tingkatnya dari pada dia.

Dia merasa kecewa dan menyesal sekali mengapa dia menuruti nafsu birahinya, bermain gila dengan dua orang pendeta wanita itu di tempat di mana Giok Keng juga bermalam sehingga ketahuan oleh kekasihnya itu. Kini semuanya sudah terlanjur dan dia tahu akan kekerasan hati Giok Keng, maklum bahwa tak mungkin dia akan mendapatkan maaf, tak mungkin hubungannya dengan dara itu menjadi baik kembali seperti yang sudah-sudah.

Sekarang, satu-satunya kemungkinan baginya untuk tetap mendapatkan dan menguasai dara cantik jelita yang membuatnya tergila-gila itu, hanyalah dengan bantuan dari Ketua Pek-lian-kauw. Tetapi, melihat pertandingan yang amat hebat itu, timbul kekhawatirannya kalau-kalau Thian Hwa Cinjin akan membunuh dara yang dicintanya itu.

"Locianpwe, harap jangan kesalahan tangan membunuh dia!" teriak Bu Kong dengan hati khawatir.

Tadinya, Thian Hwa Cinjin memang merasa penasaran bukan main sebab dia tidak dapat mendesak Giok Keng. Masa dia, Ketua Pek-lian-kauw wilayah timur, seorang yang sudah terkenal memiliki kepandaian hebat, sekarang tidak sanggup merobohkan seorang gadis remaja? Hal ini dianggapnya amat memalukan dan tadi dia sudah mengambil keputusan untuk merobohkan Giok Keng dan membunuhnya kalau perlu!

Kini, begitu mendengar suara Bu Kong, timbul kembali kecerdikannya serta perhatiannya akan cita-citanya meraih kedudukan tinggi melalui Pek-lian-kauw. Dia harus membuang jauh-jauh rasa penasaran pribadinya.

Memang dara ini tidak boleh dibunuh. Pertama, untuk menarik tenaga Liong Bu Kong dan sisa perkumpulan Kwi-eng-pang agar membantu Pek-lian-kauw, ke dua dia akan dapat mempergunakan dara ini sebagai sandera kelak untuk melumpuhkan Cia Keng Hong apa bila pendekar sakti itu membantu pemerintah menentang Pek-lian-kauw.

Setelah mendapat pikiran ini, tiba-tiba Thian Hwa Cinjin berteriak nyaring dan tongkatnya menusuk ke depan. Giok Keng yang sudah tahu akan tenaga sinkang lawan yang sangat kuat, seperti telah dilakukannya sejak mereka bertanding hebat, tidak mau menangkis melainkan mengelak dan bersiap untuk melanjutkan elakannya dengan serangan balasan dari sudut yang tidak terduga-duga oleh lawan. Akan tetapi tiba-tiba saja terdengar suara mendesis dan dari ujung tongkat lawan itu meluncur asap hitam!

Setelah tadi mengalami penyerangan gelap dari ujung tongkat Bong Khi Tosu, Giok Keng sudah berlaku amat hati-hati karena dia memang sudah menyangka bahwa tentu di ujung tongkat Ketua Pek-lian-kauw ini pun terdapat senjata rahasia yang amat berbahaya. Akan tetapi tidak disangkanya sama sekali bahwa yang meluncur keluar hanyalah asap hitam!

Giok Keng cepat menggulingkan tubuhnya ke atas tanah, bergulingan menjauh kemudian meloncat bangun sambil memutar pedang melindungi dirinya. Asap itu tertiup angin dan membuyar, ada pun Giok Keng yang cerdik tadi sudah menutup pernapasannya sehingga dia tidak sampai menyedot asap beracun itu.

Thian Hwa Cinjin berteriak marah, kemudian meloncat maju mengejar sambil menyerang dengan tongkatnya. Hebat sekali serangan ini sehingga terpaksa Giok Keng menangkis dengan pedang.

"Cringgg....!"

Kedua senjata bertemu dan tiba-tiba Giok Keng menjerit kaget. Hidungnya mencium bau yang sangat harum dan mencurigakan. Meski pun dia cepat menahan napas, namun dia telah menyedot asap yang tidak tampak, dan inilah kelihaian Ketua Pek-lian-kauw itu.

Asap hitam yang pertama kali keluar dari ujung tongkatnya tadi hanyalah asap biasa yang tidak berbahaya, dan itu dikeluarkan hanya untuk menipu lawan. Sesudah asap hitam itu keluar, maka tentu saja Giok Keng tidak begitu memperhatikan lagi dan ketika pedangnya menangkis tongkat, asap putih tipis yang keluar dari tongkat tentu saja tidak diperhatikan olehnya dan dia telah menyedot asap yang harum beracun ini!

Racun asap putih itu tidak mematikan orang, hanya mengandung pengaruh memabokkan. Giok Keng hanya merasa mengantuk, akan tetapi dara yang cerdik ini maklum bahwa dia sudah terkena hawa beracun, maka dia tidak mau menuruti rasa kantuk ini dan gerakan pedangnya lebih cepat lagi melindungi tubuhnya.

"Ha-ha-ha, Cia Giok Keng, kau bertanding dengan siapa? Aku tidak ada lagi di depanmu!"

Giok Keng terkejut sekali. Dia memandang ke depan dan melihat betapa tubuh lawannya itu berubah menjadi asap dan menghilang! Namun dia masih menggerakkan pedangnya, menyerang ke depan sambil melindungi tubuhnya sendiri dengan sinar pedangnya yang bergulung-gulung.

"Ha-ha-ha, kau lihatlah padaku, Cia Giok Keng, lihatlah!"

Giok Keng menjadi bingung, apa lagi ketika dia melihat bahwa sebagai ganti tubuh kakek itu, sekarang yang tampak hanya sepasang mata yang seolah-olah tergantung di udara tanpa kepala tanpa badan! Dia terheran-heran dan sekali perhatiannya tertarik, dia sudah tercengkeram ke dalam kekuasaan gaib dari sinar mata yang luar biasa itu.

"Cia Giok Keng, kita adalah keluarga sendiri... keluarga sendiri... keluarga sendiri..." suara ini bergema secara aneh, seolah-olah keluar dari dalam tanah dan membuat seluruh tubuh Giok Keng tergetar.

Giok Keng berdiri bingung, sepasang tangannya hanya tergantung dan sama sekali tidak menggerakkan pedangnya lagi, memandang ke arah sepasang mata itu, ada pun bibirnya berkomat-kamit,

"Keluarga sendiri...? Ya, kita adalah keluarga sendiri... keluarga sendiri..." Dia kemudian berbisik-bisik menirukan suara yang amat berwibawa itu.

"Ha-ha-ha, bagus sekali, Cia Giok Keng. Engkau harus menurut... harus menurut... harus menurut..."

"Aku harus menurut... harus menurut...," bibir Cia Giok Keng berbisik-bisik.

"Lemparkan pedangmu, kita keluarga sendiri, tak ada yang memusuhimu, tenanglah dan lemparkan pedangmu...!"

Giok Keng melemparkan pedang dan sarung pedangnya ke atas tanah tanpa membantah sedikit pun juga. Kedua matanya terbelalak memandang ke depan, ke arah mata Thian Hwa Cinjin yang sebenarnya masih berdiri di depannya, akan tetapi yang hanya tampak matanya saja oleh dara yang telah dikuasai dengan sihir oleh kakek itu.

"Engkau lelah, Cia Giok Keng, engkau mengantuk, tidurlah... tidurlah dengan nikmat... tidak ada apa-apa lagi, kau lelah dan mengantuk tidurlah...!"

Sepasang mata Cia Giok Keng yang tadinya terbelalak, kini perlahan-lahan terpejam dan tubuhnya bergoyang-goyang, lalu dia roboh tergelimpang dalam keadaan tidur nyenyak! Akan tetapi sebelum tubuhnya terbanting ke atas lantai, Bu Kong sudah melangkah maju dan memeluknya.

"Ha-ha-ha-ha!" Thian Hwa Cinjin tertawa girang. "Sekarang bawalah pengantinmu itu ke dalam kamar, Liong-sicu. Akan tetapi, sungguh merepotkan sekali bila pinto selalu harus menguasai dia dengan sihir. Pinto masih mempunyai banyak urusan, maka sebaiknya dia dijinakkan dengan obat ini. Berilah dia satu sendok teh setiap hari, dicampurkan ke dalam minumannya, tentu dia akan selalu menurut kehendak Sicu."

Liong Bu Kong menerima bungkusan obat dari kakek itu, lalu dia berkata, "Terima kasih banyak atas bantuan Locianpwe. Akan tetapi, bagaimana dengan pernikahan kami...?"

"Ha-ha-ha-ha, kau jangan khawatir. Pinto akan laksanakan, dan sekarang juga kita akan menyebar undangan. Ha-ha-ha-ha, Pek-lian-kauw berbesan dengan Cin-ling-pai, sungguh merupakan berita paling hebat di dunia kang-ouw! Ingin pinto melihat bagaimana wajah Kaisar dan Panglima The Hoo ketika mendengar berita ini! Dan semua tokoh kang-ouw akan menyaksikan pernikahan ini, pernikahan tanpa paksaan, ha-ha-ha!"

Liong Bu Kong menjadi girang sekali. "Kapankah hari baik itu diadakan, Locianpwe?"

"Untuk menyebar undangan memerlukan waktu. Nanti saja kita tentukan harinya, kira-kira sebulan lagi. Nah, kini bawalah nona ini ke kamarnya, Sicu. Engkau beruntung sekali bisa mendapatkan dara seperti ini, hemmm... dia akan menjadi seorang isteri yang tak akan pernah membosankan, ha-ha-ha!"

Liong Bu Kong memondong tubuh Giok Keng yang tidur pulas secara tidak wajar itu ke kamarnya. Hatinya gembira sekali, akan tetapi juga timbul kekecewaan besar di hatinya. Dia ingin mendapatkan diri dara ini secara suka rela, tidak hanya ingin memperoleh dan menguasai tubuhnya, akan tetapi juga hatinya, cinta kasihnya. Kini terpaksa dia hanya akan mendapatkan tubuhnya saja, dan dia merasa seolah-olah tubuh dara yang telentang pulas di atas pembaringan itu bukan lagi Cia Giok Keng, melainkan boneka hidup!

Obat bubuk yang diberikan Bu Kong kepada Giok Keng, benar-benar amat manjur. Obat itu membuat Cia Giok Keng bagaikan seorang yang hilang ingatan dan tidak mempunyai semangat sama sekali! Dia hanya menurut dan mengangguk, disuruh makan dia makan, disuruh tidur dia tidur, tidak pernah membantah.

Akan tetapi, ketika Bu Kong berusaha untuk bermain cinta dengannya, dara itu menolak dan menggelengkan kepala. Bahkan dapat berkata, "Kita belum menikah."

Hal ini menggirangkan hati Bu Kong. Ternyata bahwa naluri gadis itu amat kuat sehingga meski pun berada dalam keadaan mabuk, dara itu masih tetap menolak hubungan badan sebelum menikah dengan resmi! Kiranya gadis itu sudah lupa sama sekali akan peristiwa malam itu! Timbul pula harapan di hati Bu Kong. Siapa tahu, kelak kalau sudah menikah dengan resmi, Giok Keng akan benar-benar dapat mencintanya kembali dan melupakan pengalaman malam itu, juga tidak perlu lagi menggunakan obat perampas ingatan!

Harapan ini membuat Bu Kong dengan tekun dan sabar melayani Giok Keng. Dia tak lagi menurutkan nafsu birahinya, tidak lagi mencoba untuk menggagahi gadis yang dicintanya itu. Sebulan bukanlah waktu yang lama, pikirnya, dan betapa akan manisnya kalau Giok Keng menyerahkan diri secara suka rela, sebagai isterinya yang syah!

Membayangkan kenikmatan saat seperti itu membuat Bu Kong menjadi sabar, bahkan dia menahan diri tidak mau melayani godaan para pendeta wanita yang haus lelaki itu…..!

********************

Perahu kecil yang sangat sederhana ini dengan susah payah didayung oleh Kun Liong melawan ombak yang kembali dari pantai. Ketika perahu tiba pada bagian di mana air dari tengah laut bertemu dengan air yang kembali dari tepi pantai sehingga air memecah dan membuih, mengeluarkan suara berdebur keras, perahu kecil itu terangkat dan terombang-ambing, hampir terbalik.

Kun Liong segera mengerahkan tenaga sambil mendayung perahunya, meluncur hampir seperti ikan meloncat, melalui buih ombak dan meluncur terus menuju pantai. Sesudah dayungnya dapat menyentuh pasir, dia sudah tidak sabar lagi, meloncat dari atas perahu, kakinya mendarat dan meninggalkan perahu buatannya sendiri yang amat sederhana itu, membiarkannya terbawa ombak, sebentar ke tengah sebentar ke pinggir.

Karena Kun Liong meninggalkan pulau kosong itu tanpa mengenal jalan, hanya selalu mengarahkan perahunya menuju ke barat, maka dia tersesat jalan dan tidak tahu bahwa perahunya telah mendarat di bagian paling utara, yaitu di sebelah utara Tembok Besar di sebelah selatan kota Cin-sian. Karena itu, begitu mendarat dan melakukan perjalanan cepat menuju ke barat di mana menurut perkiraannya tentu terdapat Tibet, dia langsung bertemu dengan pegunungan yang sambung-menyambung dan kadang-kadang diselingi padang pasir yang luas!

Kun Liong sama sekali tidak menyangka bahwa dia berada di luar Tembok Besar, yaitu berada di perbatasan antara daerah Mongolia Dalam dengan daerah Mancuria yang pada waktu itu kesemuanya tentu saja berada dalam kekuasaan Pemerintah Ceng. Maka dia sendiri menjadi terheran-heran dan juga bingung sesudah selama berhari-hari melakukan perjalanan, dia tidak pernah bertemu dengan dusun, tak pernah berjumpa manusia dan perjalanan yang ditempuhnya sangat sukar karena selain harus melalui pegunungan yang tinggi dan hutan-hutan yang liar, juga kadang-kadang dia harus melalui padang pasir yang amat luas sehingga sampai dua tiga hari pasir yang dilaluinya belum juga habis!

Pada suatu pagi, sesudah bermalam di dalam sebuah goa di kaki bukit, dia melanjutkan perjalanan, memasuki sebuah hutan yang sangat lebat. Namun dia nampak gembira dan wajahnya selalu berseri.

Memang, baginya tentu saja jauh lebih baik melakukan perjalanan melalui hutan-hutan liar dari pada melalui padang pasir yang mengerikan itu. Pernah dia hampir mati kelaparan dan kehausan ketika melalui padang pasir selama tiga hari tiga malam. Di mana-mana pasir melulu! Kalau di dalam hutan, dia tidak akan kekurangan air, tidak akan kekurangan makan dan minum. Andai kata tidak ada binatang hutan, dia dapat saja makan daun-daun muda, buah-buahan atau akar. Dia sudah biasa akan penghidupan sederhana seperti itu! Akan tetapi pasir…?!

Pada saat dia meninggalkan pulau, selama berhari-hari hatinya terhimpit kedukaan akibat memikirkan Hong Ing. Hatinya penuh kerinduan sehingga hampir setiap tidur dia bermimpi dan bertemu dengan dara yang dikasihinya itu. Hampir gila dia merindukan dara itu. Akan tetapi lambat laun dia dapat menekan hatinya, dapat menenangkan perasaannya dan dia percaya bahwa kalau memang dia berjodoh dengan Hong Ing, pasti pada suatu hari dia akan bertemu dengan dara pujaan hatinya itu.

Sambil berjalan memasuki hutan, Kun Liong mengenang semua pengalamannya. Tampak nyata dalam ingatannya alangkah bodohnya dia dahulu. Betapa sombongnya dia dahulu terhadap cinta kasih! Betapa dia meremehkan cinta kasih yang dianggapnya hanyalah cinta yang mengandung nafsu birahi belaka! Betapa dia tidak percaya akan cinta kasih yang sesungguhnya, cinta kasih yang dapat menciptakan sorga mau pun neraka bagi orang yang dihinggapinya, seperti yang dia rasakan sekarang!

Dan mengingat ini semua, sering kali dia termenung dengan muka pucat, mengingat akan dara-dara yang pernah dikenalnya selama petualangannya di dalam dunia ini. Terutama sekali dia merasa terharu dan berduka, merasa menyesal sekali kalau dia teringat kepada Hwi Sian.

Dia satu-satunya gadis yang telah menyerahkan tubuhnya, menyerahkan kehormatannya kepadanya! Satu-satunya gadis yang sudah membuktikan cintanya melalui pengorbanan yang paling hebat bagi seorang wanita. Dan dia telah tega meninggalkan gadis itu begitu saja! Seperti seekor kumbang yang terbang pergi begitu saja sesudah menikmati madu kembang itu, setelah dihisapnya habis.

Dia merasa menyesal sekarang. Dia tidak mencinta Hwi Sian, hanya suka, mengapa dia mau melakukan hubungan badan dan tentu akan membuat hati dara itu semakin rusak? Hwi Sian yang mengaku akan menikah dengan suheng-nya, telah sengaja menyerahkan diri kepadanya, untuk membuktikan cinta kasihnya. Akan tetapi dia yang tidak mencinta, mengapa mau menerimanya?

"Bodoh kau!" Dia menampar kepalanya sendiri, akan tetapi telapak tangannya itu tinggal di kepalanya karena baru teringat sekarang bahwa kepalanya sudah berambut!

Dia tersenyum geli. Mengapa sekarang jalan pikirannya berubah sesudah kepalanya ada rambutnya? Apakah semua ketololannya dahulu itu adalah akibat dari kepalanya yang tak terlindung rambut sehingga mudah sekali dimasuki angin jahat?

Dia menggosok-gosok kepalanya. Rambutnya sudah mulai panjang, panjangnya ada satu jari dan tumbuh dengan subur. Akan tetapi karena baru sejari rambut itu masih kaku dan kacau tumbuhnya, mencuat ke sana-sini tidak teratur.

Dan pakaiannya! Merah mukanya pada saat dia menunduk dan memandang pakaiannya. Lebih pantas seorang jembel kotor! Atau seorang manusia liar yang belum lagi mengenal peradaban, seorang manusia biadab! Betapa mungkin dia dapat menjumpai orang di kota atau dusun dengan pakaian seperti ini? Tentu dia akan dianggap seorang jembel yang sudah terlantar, atau mungkin akan dicurigai orang. Ahhh, dia tidak khawatir, di sakunya terdapat emas dan permata, dia akan membeli pakaian begitu ada kesempatan.

Tiba-tiba saja Kun Liong menghentikan langkah kakinya. Di sebelah kanannya terbentang jurang yang dalam dan luas. Dia mendengar suara dari bawah, dari bawah jurang! Suara orang berteriak minta tolong atau semacam itu karena hanya terdengar gema suaranya saja, tidak begitu jelas.

Dua macam perasaan mengaduk hati Kun Liong. Girang dan cemas. Girang karena dia mendengar suara orang, dan cemas karena dari suara itu, biar pun tidak jelas, dia dapat menangkap ketakutan hebat seolah-olah orang itu sedang terancam bahaya besar.

Cepat dia menuruni jurang yang curam itu. Dia harus berhati-hati karena sekali terpeleset, atau sekali pegangannya terlepas, tubuhnya tentu akan melayang ke bawah dan dia taksir bahwa tebing itu dalamnya tak kurang dari seribu kaki! Tubuhnya tentu akan hancur, atau setidaknya akan robek-robek kulitnya apa bila dia sampai terguling-guling ke bawah sana!

Kembali dia mendengar suara teriakan. Benar-benar teriakan minta tolong! Dia langsung mempercepat gerakannya merayap turun, bergantungan pada akar-akar dan batu-batu di sepanjang tebing dan akhirnya sampailah dia di bawah. Ternyata di bawah tebing itu pun terdapat sebuah hutan dan suara tadi keluar dari hutan itulah.

Dengan gerakan yang cepat sekali Kun Liong berlari memasuki hutan. Hatinya berdebar ketika dia melihat belasan orang mengeroyok seorang laki-laki asing! Seorang laki-laki sebangsa Yuan de Gama yang memegang sebatang golok dan membela diri mati-matian terhadap pengeroyokan tiga orang itu!

Akan tetapi, orang asing itu sudah terluka parah. Pakaiannya penuh darah dan tubuhnya sudah lemah. Gerakannya tidak leluasa lagi sehingga pada waktu Kun Liong tiba di situ, sekaligus orang asing itu menerima bacokan-bacokan yang membuatnya roboh.

"Heiii, jangan bunuh orang...!" Kun Liong berteriak sambil meloncat ke depan.

Tiga belas orang itu menengok dan mereka segera mengeluarkan kata-kata yang tidak dimengerti oleh Kun Liong. Sebelum Kun Liong dapat mencegahnya, ketiga belas orang laki-laki bertubuh tegap kuat dan bersenjata golok dan pedang itu telah lari menyerbunya sambil mengeluarkan teriakan-teriakan liar!

Kun Liong terkejut sekali, maklum bahwa dia kini berhadapan dengan suku bangsa yang berbeda bahasanya, segerombolan orang-orang kasar dan liar, maka dia mengerti bahwa bicara pun tak akan ada gunanya. Maka dia menggunakan kepandaiannya, ketika mereka datang menyerbu, dia mengerahkan ginkang-nya melompat melewati atas kepala mereka dan berlutut memeriksa orang asing yang sudah rebah dan mengerang kesakitan itu.

"Aduhhh... mati aku... tolong aku...!" Orang asing itu, seorang laki-laki berusia tiga puluh tahun lebih, merintih dan dengan suara kaku minta tolong kepada Kun Liong.

Logat bicara orang ini mengingatkan Kun Liong kepada Yuan de Gama, maka dia berkata menghibur, "Jangan khawatir, aku akan mencegah mereka menyerangmu...!"

Akan tetapi di dalam hatinya, Kun Liong maklum bahwa orang ini tidak dapat ditolong lagi. Luka-lukanya terlalu parah, bahkan leher kanannya yang pecah mengucurkan darah yang takkan dapat dibendung lagi.

Tiga belas orang Mongol itu terkejut ketika melihat lawan mereka berkelebat dan ‘terbang’ di atas kepala mereka. Cepat mereka membalikkan tubuh dan sekarang mereka kembali menyerbu sambil berlari dan mengeluarkan pekik dahsyat.

Kun Liong menoleh, tangan kanannya mencengkeram tanah dan batu pasir, kemudian dia menyambit sambil mengerakkan sinkang-nya.

"Siuuuttttt...!”

“Aughhh…! Ahhh…! Aduhhh…!"

Empat orang Mongol yang berlari paling depan jatuh bergelimpangan, menjerit-jerit sambil memegangi kaki mereka yang terasa perih, pedih, dan ngilu karena tanah dan pasir itu menembus kulit memasuki daging sampai ke tulang kering kaki mereka!

Melihat empat orang kawannya roboh, sembilan orang Mongol yang lainnya terkejut sekali dan langsung menghentikan gerakan kaki mereka, memandang dengan mata terbelalak seakan-akan tak percaya bahwa pemuda berambut pendek itu dapat merobohkan empat orang kawan mereka dari jarak jauh, hanya sambil berlutut dan menyambitkan tanah!

Pemimpin mereka, seorang tinggi besar bermata sipit sekali, agaknya merasa penasaran. Dia adalah seorang jago silat bangsa Han, sungguh pun pakaiannya seorang jembel. Dia melangkah maju dan berkata dalam bahasa Han yang kaku sekali,

"Engkau seorang jagoan, ya? Hayo kau lawan aku, tanpa menggunakan senjata rahasia! Tanpa menggunakan ilmu setan!"

Kun Liong maklum bahwa berhadapan dengan orang-orang kasar seperti ini, dia hanya dapat mengandalkan kepandaian silatnya untuk menundukkan mereka. Maka dia segera bangkit berdiri menghadapi raksasa bermata sipit itu.

"Hemm, aku menggunakan pasir kau cela, akan tetapi engkau tadi menggunakan senjata tajam dan mengandalkan jumiah banyak mengeroyok orang!"

Mulut raksasa itu cemberut, dan dia melempar goloknya kepada seorang teman.

"Lihat, aku hanya mengandalkan tangan dan kaki. Beranikah kau melawanku?"

Kun Liong bangkit berdiri, menghampiri dan berkata, "Tentu saja aku berani, majulah!"

Raksasa Mongol itu menerjang maju, memukul dengan kedua tangannya. Bagaikan dua buah cakar beruang raksasa, sepasang tangan itu menyambar dari kanan kiri. Kun Liong mengerahkan tenaga dan menggunakan kedua tangannya menangkis.

"Plakk! Plakk!"

Raksasa Mongol itu telah memegang kedua lengan Kun Liong yang terlalu kecil bagi jari jari tangannya yang panjang dan besar! Tahu-tahu, Kun Liong merasa tubuhnya terangkat ke atas.

Akan tetapi, ketika raksasa itu berusaha melontarkan tubuh Kun Liong, pemuda ini sudah memegang pula lengan lawan sehingga mereka saling berpegangan dan tubuh Kun Liong tidak dapat terlempar! Bahkan ketika raksasa itu mengerahkan seluruh tenaga dan untuk kesekian kalinya melontarkan, Kun Liong meminjam tenaganya, ditambah tenaga sendiri sambil memperberat tubuhnya dan... kini justru tubuh raksasa itulah yang melayang ke atas begitu kaki Kun Liong menyentuh tanah. Tubuh yang tinggi besar itu terlempar lantas terbanting keras ke atas tanah.

"Brukkkk!"

Debu mengebul tinggi dan raksasa sipit itu merangkak bangun, menggoyang-goyangkan kepalanya untuk mengusir kepeningan, kemudian bangkit berdiri lagi dan berjalan maju setengah berbongkok seperti seekor beruang besar hendak menerkam!

Kun Liong menanti dengan tenang. Dia tahu bahwa lawannya ini hanyalah mengandalkan tenaga luar saja, bukan merupakan lawan berbahaya. Namun dia pun harus meyakinkan mereka semua akan kepandaiannya, karena dengan demikian barulah mereka itu akan mundur.

"Haarrrggghhh...!" Raksasa sipit itu menggereng dan tubuhnya sudah meloncat langsung menubruk ke arah Kun Liong.

"Duk! Duk! Dessss!"

Orang-orang Mongol itu hanya melihat tubuh pemimpin mereka terjengkang lalu roboh tak berkutik lagi! Mereka tidak tahu bahwa Kun Liong tadi memapaki lawan dengan dua kali totokan yang melumpuhkan kaki tangan orang itu, kemudian menampar keras membuat lawannya pingsan.

"Bawa dia pergi!" bentak Kun Liong kepada mereka.

Dengan muka membayangkan rasa takut, orang-orang Mongol itu cepat-cepat menolong pemimpin serta teman-teman yang kakinya terluka, kemudian berlari-larian meninggalkan tempat itu.

Sesudah melihat orang-orang Mongol itu pergi jauh, Kun Liong kembali berlutut di dekat orang asing yang kini hanya mengerang lemah sekali karena kehabisan darah. Sekali lagi Kun Liong meneliti, akan tetapi hanya mendapat keyakinan bahwa nyawa orang itu tidak akan dapat tertolong lagi. Mukanya sudah mulai memucat karena kekurangan darah.

Dia tidak mampu menolong lagi, maka dia hanya dapat bertanya, "Apakah yang terjadi, Tuan?"

Orang itu membuka matanya, lalu bibirnya menggumam, "...terima kasih... terima kasih... mereka adalah gerombolan Mongol yang membenci kami orang-orang kulit putih... aku... aku utusan... Dewa Panah..."

"Dewa Panah? Siapakah dia? Dan diutus ke mana?"

Dengan susah payah orang itu mencoba menjawab, akan tetapi yang terdengar oleh Kun Liong hanyalah bisikan lemah, "...Pek-lian-kauw... di muara Sungai Huai... tepi pantai Laut Kuning..." sampai di situ habislah napas orang asing itu, meninggalkan Kun Liong yang segera termangu-mangu karena tidak mengerti apa yang dimaksudkan.

Setelah menghela napas panjang berulang-ulang, menyesal bahwa perjumpaannya yang pertama dengan manusia ternyata begini tak menyenangkan dan tiada gunanya baginya, Kun Liong kemudian menggali tanah, membuat lubang untuk mengubur jenazah orang itu.

Sesudah lubang yang digalinya cukup dan dia hendak mengangkat tubuh orang itu, dia tiba-tiba teringat akan pakaiannya. Kun Liong mengerutkan alisnya. Berdosakah dia kalau dia mengambil pakaian orang ini? Sesosok mayat tidak membutuhkan pakaian luar, akan tetapi dia amat membutuhkan karena pakaiannya sudah tidak karuan macamnya.

Ahhh, kiranya tidak berdosa, dan si mati tentu akan memaafkannya. Setidaknya, dia telah menguburkan jenazahnya! Mulailah Kun Liong menanggalkan pakaian orang itu, pakaian luarnya saja dan hal ini masih mudah dilakukannya karena mayat itu masih belum kaku.

Sesudah dia melepaskan baju kemeja lengan panjang dan celana, sepatu boot dan kain leher orang itu sehingga yang masih menempel di tubuh mayat itu hanya pakaian dalam, Kun Liong berkata, "Terima kasih dan maafkan aku, Tuan!"

Kemudian dia pun mengubur jenazah itu dan mengenakan pakaian model barat. Untung baginya bahwa tubuh orang asing itu kecil, tidak berbeda banyak dengan tubuhnya, maka pakaiannya itu pas sekali, hanya lengannya lebih panjang sehingga terpaksa digulungnya sampai ke siku.

Tidak lama kemudian, pemuda itu tertawa-tawa seorang diri dengan hati geli ketika dia bercermin di atas air jernih di dalam hutan. Mula-mula dia terkejut ketika menjenguk ke air dan melihat mukanya sendiri. Tak disangkanya mukanya seperti itu! Sudah lama dia tidak bercermin, dan sekali bercermin, melihat kepala yang biasanya gundul hingga dia sudah terbiasa itu kini berambut, melihat seorang pemuda berambut pendek berpakaian aneh, dia kelihatan seperti seorang ‘sinyo’ yang asing!

Dua hari kemudian, Kun Liong tidak dapat tertawa-tawa lagi. Dia berada di tengah padang pasir yang tidak kelihatan tepinya. Yang tampak hanya pasir dan gunung pasir, batu-batu kering dan tanah tandus! Tidak terlihat ada setetes pun air kecuali peluhnya sendiri yang bercucuran karena panasnya. Tidak ada tempat berteduh dan kerongkongannya terasa kering dan haus sekali!

"Celaka...!" pikirnya.

Tak disangkanya bahwa padang pasir itu seluas itu. Untuk kembali dia enggan. Dia harus melanjutkan perjalanannya ke barat, harus cepat mencari Hong Ing di Tibet. Akan tetapi kalau dilanjutkan, berapa lama dia akan dapat melewati padang pasir itu?

Dua hari kemudian, sudah empat hari empat malam Kun Liong melalui padang pasir. Hari itu panasnya bukan main, tubuhnya sudah mulai lemah, kerongkongannya terasa kering dan haus, dan perutnya lapar.

"Uh-uhh... masih berapa jauhnya?" dia menggumam, berhenti di dekat batu besar untuk berteduh di bayangan batu itu, menghapus keringatnya dengan kain leher yang sudah basah. Tubuhnya gemetar dan matanya setengah terpejam karena silau oleh pasir yang berkilauan tertimpa panas terik matahari!

Kun Liong menjatuhkan diri duduk di atas pasir yang panas. Dikeluarkannya bungkusan emas permata dari sakunya.

"Sialan!" gerutunya memandang bungkusan itu dan mengantonginya kembali. "Aku akan senang sekali menukar bungkusan ini dengan semangkok bubur dan sepoci air jernih!"

Teringatlah dia betapa nilai sesuatu benda ditentukan oleh kebutuhan. Pada saat seperti itu, dalam keadaan kehausan dan kelaparan, semangkok bubur dan sepoci air jernih lebih berharga dari pada emas permata!

Betapa tololnya manusia di tempat ramai. Untuk memperebutkan emas permata mereka tidak segan-segan untuk saling bunuh! Padahal, dalam keadaannya sekarang ini, semua harta benda tidak ada gunanya, tidak lebih berharga dari pada semangkok bubur sepoci air.

Dia bangkit lagi. Makin lama dia beristirahat, makin berbahayalah keadaannya. Dia harus cepat-cepat keluar dari gurun pasir itu, kalau tidak, besar kemungkinannya dia akan mati konyol di tempat ini. Di depan sudah nampak pegunungan dan di balik pegunungan pasir ini, tampak samar-samar puncak sebuah gunung menghijau, akan tetapi masih amat jauh. Dia harus cepat-cepat mencapai gunung menghijau itu sebelum dirinya roboh dan mati di atas pasir.

Makin tinggi matahari naik, makin panaslah sinarnya menimpa pasir sehingga Kun Liong merasa makin tersiksa karena dia diserang hawa panas dari atas dan bawah. Pasir yang tertimpa sinar matahari menjadi panas dan hawa dari dalam bumi yang keluar membuat tubuh Kun Liong terasa seperti dipanggang. Peluhnya bercucuran dan pandang matanya berkunang-kunang.

"Celaka...!" keluhnya ketika dia terpaksa menjatuhkan tubuhnya yang kehabisan tenaga akibat terlalu banyak mengeluarkan keringat itu ke atas pasir.

Sejenak dia merebahkan dirinya di belakang batu besar yang agak teduh, rebah miring, pipinya menyentuh pasir hangat. Betapa nikmatnya! Betapa nikmatnya melepaskan lelah di tempat itu, tidak bangkit lagi, rebah di dalam pelukan bayangan batu, ditilami pasir yang lembut dan hangat. Dia memejamkan matanya, tubuhnya terasa nikmat, mengendur dan lepas semua urat tubuhnya.

"Eh, apakah aku harus mati dalam keadaan begini?" Tiba-tiba terbayang wajah Hong Ing dan cepat dia membuka mata dan bangkit duduk.

"Tidak! Aku tidak boleh mati seperti ini!" hardiknya di dalam hati kepada dirinya sendiri. Dia meloncat berdiri, akan tetapi terguling lagi karena matanya berkunang dan kepalanya pening sekali.

"Aku harus cepat keluar dari neraka ini! Aku harus mencari Hong Ing!" Ketekadan hati ini membuat Kun Liong merangkak-rangkak meninggalkan tempat itu. Kepalanya pening, dia tidak dapat berdiri dan berjalan, maka merangkak pun jadilah asal dia dapat melanjutkan perjalanan meninggalkan tempat berbahaya itu, menuju ke gunung menghijau di depan itu.

Akan tetapi, pasir tertimpa matahari yang membuat matanya silau, kembali memaksa dia menghentikan usahanya merangkak. Ia rebah lagi dan memejamkan matanya. Terlampau nikmat rebah begini, dan terlampau sengsara melanjutkan perjalanan!

Tiba-tiba dia menjadi terkejut. Telinganya yang menempel di atas pasir mendengar suara bergemuruh. Dia segera mengangkat tubuhnya dan terdengarlah lapat-lapat suara derap kaki kuda. Tak lama kemudian, dari sebelah depan muncullah sepasukan orang, sebagian kecil berkuda, menuju ke tempat itu! Di depan sendiri tampak seorang laki-laki bangsa asing dengan rambut putih kekuningan membalapkan kudanya.

Ketika tiba di tempat di mana Kun Liong masih berlutut dan menyangga tubuhnya dengan kedua tangan seperti orang merangkak, laki-laki itu berseru keras, meloncat turun dari kuda dan menghampiri. Dia berkata dalam bahasa asing yang tidak dimengerti oleh Kun Liong. Ketika Kun Liong menoleh, orang itu memaki,

"Keparat! Tentu orang ini sudah merampok anak buahku, lalu membunuh dan merampas pakaiannya!" Dengan gerakan sangat cepat, orang itu mencabut beberapa batang anak panah yang tergantung di punggung, memasangnya di busur.

"Wir-wir-wir... cuat-cuat-cuatt!"

Bukan main cepatnya orang itu mainkan anak panah dengan busur.

Kun Liong yang masih pening itu hanya melihat sinar-sinar kilat berkelebat dan anak anak panah menyambar lantas menancap di sekeliling tempat dia berlutut! Dia telah dikurung pagar anak panah. Bukan main pandainya orang asing itu menggunakan busur dan anak panah dan teringatlah dia akan pesan orang asing yang ditolongnya beberapa hari yang lalu. Dewa Panah! Agaknya orang inilah yang dijuluki Dewa Panah, dan ilmu panahnya memang hebat!

Kemudian orang yang memegang anak panah itu meloncat dan hanya dengan dua kali loncatan saja dia sudah berdiri di hadapan Kun Liong yang kini sudah berhasil bangkit berdiri di dalam pagar anak panah yang menancap di atas pasir di sekelilingnya itu. Loncatan orang itu pun membuktikan bahwa selain lihai ilmu panahnya, orang asing yang masih muda itu juga memiliki kepandaian yang tinggi.

Akan tetapi hal ini tidak menarik hati Kun Liong yang tentu saja menganggap kepandaian seperti itu tidak ada artinya. Yang menarik hati Kun Liong adalah ketika dia mengenal orang asing itu yang bukan lain adalah Marcus, bekas kekasih Kim Seng Siocia!

Dugaannya ini memang tidak keliru. Orang itu adalah Marcus, pemuda bangsa Portugis bekas anak buah Legaspi yang tadinya menjadi kekasih Kim Seng Siocia kemudian ketika Kim Seng Siocia tewas, dia berhasil melarikan diri sambil membawa kitab-kitab pusaka dan barang berharga dari nona gemuk itu. Dan di antara ilmu kepandaiannya Kim Seng Siocia yang dapat dia warisi, di antaranya adalah ilmu panah yang lihai!

Marcus berhasil pula menghimpun beberapa orang bekas rekannya sehingga terkumpul lima orang Portugis yang masih berkeliaran, kemudian bersama lima orang anak buahnya itu dia menggabungkan diri dengan gerombolan orang Mongol yang berniat memberontak dan menyerbu ke selatan.

Gerombolan pemberontak ini terdiri dari ribuan orang dan merupakan pasukan yang kuat, dan sudah siap untuk bergerak ke selatan. Dalam usaha pemberontakan ini, gerombolan orang Mongol yang disebut Pasukan Tombak Maut mengadakan kontak dan persekutuan dengan kaum Pek-lian-kauw!

Berkat ilmu silat dan ilmu panahnya yang cukup lihai, Marcus memperoleh kedudukan terhormat di dalam Pasukan Tombak Maut dan sebentar saja dia terkenal sebagai Dewa Panah karena ilmu panahnya memang hebat dan dikagumi oleh semua orang Mongol.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner