PETUALANG ASMARA : JILID-55


Cia Keng Hong terbelalak heran. Biar pun dia tadi tidak memukul sampai mati pemuda itu, namun hanya sedikit selisihnya. Dan pemuda itu masih berani maju lagi!

"Apa kau telah gila? Apa kau minta mati?!" bentaknya marah.

"Bila betul apa yang saya dengar tentang diri Locianpwe, saya tidak khawatir akan dipukul mati. Andai kata dipukul mati sekali pun saya lebih beruntung dari pada Locianpwe yang tentu akan menjadi jatuh nama secara hebat," kata Lie Kong Tek dengan tenang.

"Kau...! Kau...!" Cia Keng Hong marah dan jengkel sekali, maka kembali dia mengayun tangannya.

Pada saat itu, Hong Khi Hoatsu memegang lengan Kun Liong ketika melihat pemuda itu hendak meloncat maju. Memang Kun Liong merasa penasaran dan ingin melindungi Lie Kong Tek dari pukulan maut supek-nya. Akan tetapi kakek ahli sihir itu melarangnya dan menggelengkan kepalanya.

"Pendekar sehebat dia tidak akan membunuh orang sembarangan saja," bisik kakek itu.

"Desssss...!"

Tubuh Lie Kong Tek kembali terlempar lantas terbanting keras, bergulingan sampai jauh. Ketika dia meloncat bangun dan terhuyung-huyung maju lagi, dahinya benjol dan bibirnya pecah-pecah.

"Locianpwe tidak boleh membenci puteri sendiri. Menikah harus mendapatkan restu orang tua, dan memilih jodoh adalah hak si anak," Lie Kong Tek berkata.

"Jahanam bermulut besar! Kau mau ikut-ikutan? Kalau anakku menikah dengan seorang penjahat, dirayakan di tempat penjahat dan pemberontak, apakah aku harus diam saja?" Dada Cia Keng Hong terasa seperti mau meledak dan matanya kini memandang kepada Giok Keng seperti hendak menelan puterinya itu bulat-bulat!

"Ayah, engkau terlalu!" Giok Keng kini berteriak, air matanya bercucuran namun sikapnya sama sekali tidak lemah, bahkan jari telunjuk kanannya menuding ke arah mata ayahnya. "Tidak saja Ayah menolak pilihan hatiku dan mengusir kami, bahkan sekarang sesudah kami berusaha sendiri untuk menikah, Ayah tiba-tiba datang menghalang dan mengacau. Begitukah sikap seorang pendekar? Ayah, ingat bahwa aku menjadi anakmu bukan atas permintaanku! Aku adalah manusia tersendiri, bukan boneka yang harus taat atas segala kehendak Ayah demi kesenangan hati Ayah sendiri!"

Hebat bukan main kata-kata yang keluar dari mulut dara yang sedang marah itu. Bahkan lebih hebat dari pada pukulan dahsyat yang mana pun, lebih tajam meruncing dari pada pedang pusaka yang bagaimana pun.

"Bressss!"

Kedua kaki pendekar itu menghantam tanah di depannya. Tanah terlindung lantai tembok itu ambrol dan kedua kakinya amblas sampai selutut.

"Kau...! Kau...! Anak durhaka... auhhh...!" Pendekar itu terkulai lemas dan roboh terguling!

"Ayah...!" Giok Keng menjerit, akan tetapi ternyata ayahnya sudah roboh pingsan saking marahnya.

Keadaan menjadi kacau, akan tetapi tiba-tiba saja Thian Hwa Cinjin menyuruh dua orang pembantunya mengangkat tubuh Cia Keng Hong masuk ke dalam dan kepada para tamu dia berkata lantang,

"Harap Cuwi sekalian tenang saja. Urusan ini adalah urusan antara ayah dan puterinya, kita semua tak boleh mencampurinya. Biarlah Cia-taihiap beristirahat di dalam dan harap Cuwi duduk kembali. Upacara pernikahan akan segera dilanjutkan." Suaranya terdengar halus dan ramah, serta mengandung kekuatan gaib yang membuat para pendengarnya tunduk dan taat.

Kun Liong merasa betapa lengan tangannya dicengkeram tangan Hong Khi Hoatsu dan terdengar kakek itu berbisik, "Celaka... Cia-taihiap dipengaruhi hoat-sut dan... dan kulihat puterinya juga berada dalam keadaan tidak wajar... tentu ada yang main sihir di sini...!"

Mendengar ini, Kun Liong terkejut sekali dan dia menjadi marah. "Kalau begitu, aku harus turun tangan..."

"Sssttt, sabarlah, Sicu. Kulihat persiapan Pek-lian-kauw sudah dibuat dengan sangat baik, kedudukan mereka kuat. Walau pun banyak juga orang gagah di sini, akan tetapi tanpa adanya Cia-taihiap, kita akan kalah kuat. Harap kau usahakan agar keadaan di sini kacau balau atau setidaknya perhatian mereka tertarik di sini. Aku sendiri akan mencoba untuk menyadarkan Cia-taihiap di dalam."

Percaya akan kesaktian kakek itu, Kun Liong segera mengangguk dan kakek itu telah menyelinap dan pergi dari situ, bercampur di antara meja-meja tamu yang penuh dengan tamu dari berbagai golongan. Sebentar saja kakek itu telah lenyap, entah menyelinap ke mana. Kun Liong teringat akan pesan kakek itu, maka dia lalu memandang ke depan.

Ternyata di ruangan itu, di depan meja sembahyang yang sudah porak poranda itu, terjadi kegaduhan dan keributan baru. Liong Bu Kong, dengan pakaian pengantinnya yang kusut karena tadi dia dibuat jatuh bangun oleh Cia Keng Hong, berdiri dengan muka merah dan mata melotot, bertolak pinggang lantas menudingkan telunjuknya ke arah muka Lie Kong Tek sambil membentak nyaring,

"Manusia rendah yang tidak tahu malu! Berani engkau menjual lagak di sini dan membela isteriku?"

Lie Kong Tek mengusap darah dari ujung bibir serta peluh dari dahi dan lehernya. Dia berdiri tegak dan tenang, menatap kepada Liong Bu Kong yang sedang marah-marah itu seperti seorang dewasa memandang seorang kanak-kanak. Memang perawakan pemuda ini tinggi besar sehingga berhadapan dengan dia, Bu Kong kelihatan kurus kecil. Padahal Bu Kong tak dapat dikatakan seorang pemuda yang bertubuh pendek.

Pandang mata Lie Kong Tek penuh selidik, oleh karena dia memang sedang menyelidiki pengantin pria yang dinyatakan sebagai seorang penjahat oleh Pendekar Sakti Cia Keng Hong, pemuda yang telah menjatuhkan cinta kasih puteri pendekar itu, hal yang membuat dia ikut pula merasa penasaran dan heran. Kemudian terdengar dia menjawab, suaranya tenang dan halus,

"Aku tidak membela isteri siapa pun, melainkan membela seorang gadis yang menerima perlakuan buruk dari ayahnya sendiri."

Lie Kong Tek meraba benjol di dahinya, diam-diam mencela diri sendiri kenapa tiba-tiba timbul rasa iba yang amat hebat pada diri pengantin puteri sehingga tadi mati-matian dia membelanya. Tadi perbuatannya telah membuat marah ayah pengantin wanita, sekarang menimbulkan kemarahan pengantin pria!

"Keparat! Kau hendak mengambil hati isteriku, ya? Engkau hendak mencari muka?" Liong Bu Kong yang merasa cemburu dan marah-marah itu lupa diri, lupa bahwa di situ terdapat banyak sekali tamu dan timbullah wataknya yang kasar dan kotor.

"Saudara pengantin!" Lie Kong Tek membentak, marah melihat betapa pengantin wanita memandangnya dengan muka pucat. Entah mengapa, wajah Giok Keng yang cantik dan pucat itu mengundang rasa ibanya yang luar biasa. "Mengapa kau begini tidak tahu malu, tega mencemarkan nama isteri sendiri?"

"Tutup mulutmu!" Liong Bu Kong yang sudah marah itu menerjang dan mengirim pukulan maut.

"Desss...!"

Kong Tek menangkis, akan tetapi dia kalah tenaga sehingga tubuhnya kembali terlempar dan terbanting. Namun dia sudah bangkit berdiri lagi dan memandang dengan penasaran, sedikit pun tidak merasa takut.

"Liong-koko, jangan memukul orang!" Giok Keng berseru ketika melihat Bu Kong sudah menerjang maju lagi.

"Mundurlah, Moi-moi, orang ini harus dihajar sampai mampus!" Bu Kong berseru semakin marah karena menganggap bahwa calon isterinya itu sudah membela pemuda gagah dan ganteng itu.

"Liong-sicu, tidak boleh membikin ribut pada hari baik ini!" Tiba-tiba terdengar suara Thian Hwa Cinjin. "Orang muda itu berniat baik, dan sebagai tamu dia tidak boleh diperlakukan kasar. Marilah, upacara pernikahan agar dapat dilanjutkan sampai selesai."

Para pendeta Pek-lian-kauw sekarang sibuk membereskan meja sembahyang yang tadi sudah kocar-kacir hingga suasana menjadi berisik. Giok Keng berdiri dengan muka pucat dan bingung, Bu Kong bersungut-sungut, kadang-kadang melirik marah ke arah Lie Kong Tek yang sudah duduk kembali di antara para tamu.

Kun Liong menarik tangan pemuda tinggi besar itu agar duduk di tempat agak belakang, kemudian berbisik-bisik menceritakan dugaan guru pemuda itu yang membuat Kong Tek terkejut sekali dan memandang kepada Kun Liong dengan mata terbelalak lebar.

Meja sembahyang sudah dibereskan sekedarnya, dan lilin-lilin yang tadi padam kembali telah dipasang. Sepasang pengantin telah disuruh mendekat meja, dan pengantin wanita telah menutupkan lagi kerudungnya. Akan tetapi tiba-tiba terdengar suara nyaring setelah muncul seorang laki-laki berusia empat puluhan tahun yang berdiri di depan rombongan tamu,

"Kauwcu (Ketua Agama), harap tahan dulu!"

Thian Hwa Cinjin, para pendeta Pek-lian-kauw, berikut sepasang pengantin amat terkejut dan menengok. Laki-laki itu bersikap gagah, pakaiannya ringkas dan jelas tampak bahwa pria ini adalah seorang kang-ouw yang biasa bersikap tegas, jujur, dan menjunjung tinggi kegagahan.

Sambil melangkah maju, Thian Hwa Cinjin berkata dengan suara halus dan tenang, “Sicu, mengapa menahan dilakukannya upacara dan apakah kehendak Sicu?”

Laki-laki itu mengangkat kedua tangan di depan dada, sambil menjura dengan hormat. "Saya Phoa Lee It sama sekali bukan berniat mencampuri urusan orang lain. Akan tetapi karena saya termasuk seorang undangan yang mewakili Go-bi-pai, untuk dijadikan saksi pernikahan ini, maka saya melihat sesuatu yang ganjil dan tidak sebagaimana mestinya. Oleh karena itu, saya mengusulkan agar upacara ditunda lebih dulu."

Suasana menjadi berisik. Para tamu saling berbisik, ada yang pro dan ada yang kontra terhadap pendapat ini. Ketua Pek-lian-kauw mengerutkan alisnya, namun suaranya masih halus ketika dia bertanya, "Apakah maksud Phoa-sicu yang mengatakan bahwa ada yang ganjil dan tidak sebagaimana mestinya?"

Phoa Lee It adalah seorang tokoh perguruan Go-bi-pai, seorang yang biar pun tidak amat terkenal di dunia kang-ouw, namun sebagai utusan Go-bi-pai tentu saja mempunyai ilmu kepandalan tinggi, maka kini menjadi perhatian semua tamu.

"Kauwcu, ketika kami melihat bahwa tidak ada yang menjadi wali pengantin wanita, kami sudah merasa heran karena bukankah dikabarkan bahwa pengantin wanita adalah puteri Ketua Cin-ling-pai? Akan tetapi karena ketua itu tidak hadir, tadinya kami mengira bahwa perwaliannya dipegang oleh Pek-lian-kauw. Kiranya Ketua Cin-ling-pai muncul dan terjadi keributan antara ayah dan anak. Sesudah ayah dari pengantin wanita hadir, upacara ini tentu saja tidak syah kalau tidak disaksikan oleh ayah pengantin wanita itu. Maka saya harap upacara ini ditunda dan ayah pengantin wanita dipersilakan keluar."

Makin berisiklah para tamu mendengar hal ini. Tokoh Go-bi-pai itu bernyali besar sekali, berani mengusulkan hal yang merupakan protes dan pencelaan terhadap kebijaksanaan Pek-lian-kauw. Namun, melihat bahwa pendapat itu mengandung ceng-li (aturan), banyak tokoh kang-ouw yang menganggukkan kepala tanda setuju. Tentu saja banyak pula yang tidak setuju, terutama yang pro kepada Pek-lian-kauw. Keadaan makin berisik ketika para tamu saling mengeluarkan pendapat masing-masing sehingga terjadi perbantahan kecil di antara mereka.

Di dalam hatinya, Thian Hwa Cinjin marah sekali, akan tetapi karena menghadapi banyak tamu dan dasar tujuannya adalah untuk menarik sebanyak mungkin orang kang-ouw agar bersahabat dengan Pek-lian-kauw, dia menahan sabar, lalu mengangkat tangan sebagai isyarat agar para tamu suka tenang. Kemudian dia membalik dan menghadapi Phoa Lee It sambil tersenyum.

"Phoa-sicu, kami mengerti akan maksud hati Sicu yang baik. Akan tetapi hendaknya Sicu mengetahui bahwa Pek-lian-kauw melaksanakan upacara pernikahan ini atas permintaan sepasang calon suami isteri ini. Urusan keluarga mereka adalah urusan pribadi, dan kami sendiri tidak akan mencampurinya karena tugas kami hanyalah melaksanakan upacara pernikahan. Dan apa pun yang terjadi, tugas ini akan kami tetap laksanakan, juga kami tidak menghendaki adanya campur tangan pihak luar."

"Kalau begitu, aku tidak berani mewakili Go-bi-pai menjadi tamu!" Phoa Lee It berseru marah sebab dia langsung merasa curiga sekali. Mana mungkin pengantin ditemukan dan dilakukan upacara sembahyang pengantin tanpa persetujuan ayah pengantin wanita?

Tanpa diketahui orang lain, Ketua Pek-lian-kauw sudah memberi isyarat kepada seorang pembantunya. Yang ditunjuk untuk menanggulangi halangan ini adalah seorang pendeta tua yang tadi hadir di sebelah dalam, tidak kelihatan dari ruangan tamu. Dia merupakan seorang utusan yang mewakili Pek-lian-kauw pusat dan termasuk rombongan para tokoh Pek-lian-kauw yang dipersiapkan untuk menghadapi segala rintangan yang timbul.

Pendeta yang diberi isyarat oleh Thian Hwa Cinjin itu usianya sudah tujuh puluh tahun lebih, pakaiannya sederhana, tangannya memegang sebatang tongkat pendek terbuat dari bambu, gerakannya amat lambat dan seperti tidak memiliki tenaga, akan tetapi begitu kakinya bergerak, tubuhnya melayang dan sudah menghadang di depan Phoa Lee It dan tongkatnya yang tiga kaki panjangnya itu melintang di depan dada.

Melihat munculnya pendeta ini, para tamu yang mengenalnya menjadi kaget. Pendeta itu adalah seorang tosu yang murtad dan masuk menjadi anggota Pek-lian-kauw, bahkan kini sudah menjadi seorang tokoh Pek-lian-kauw yang terkenal kejam terhadap musuh-musuh Pek-lian-kauw, juga terkenal sebagai seorang tosu yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Diam-diam kakek ini dijuluki sebagai algojo Pek-lian-kauw karena sudah biasa membunuh orang-orang yang menentang Pek-lian-kauw tanpa mengenal belas kasihan. Dia bukan lain adalah Loan Khi Tosu!

Di bagian depan cerita ini sudah dituturkan tentang Loan Khi Tosu. Dia adalah seorang tokoh Pek-lian-kauw kawakan yang memiliki ilmu kepandaian tinggi. Meski pun dia sudah tua, dan matanya yang kelihatan putih itu lamur semenjak muda, tetapi tosu tua ini amat lihai dan juga hatinya kejam sekali terhadap musuh-musuh Pek-lian-kauw.

Selain ilmu silatnya sangat lihai, juga dia adalah seorang ahli Sai-cu Ho-kang, yaitu ilmu menggereng seperti singa yang disertai tenaga khikang. Penggunaan Sai-cu Ho-kang itu saja sudah cukup untuk merobohkan lawan yang kurang kuat sinkang-nya. Selain itu, juga dia amat terkenal dengan ilmu pukulan atau ilmu totokan jari tangan beracun yang disebut Pek-tok-ci (Ilmu Jari Tangan Racun Putih), semacam ilmu menotok yang dilakukan oleh jari tangan yang mengandung racun!

Tosu ini sudah menghadang di depan Phoa Lee It tokoh Go-bi-pai, menjura dan berkata sambil tersenyum, "Phoa Sicu dari Go-bi-pai sungguh memandang rendah Pek-lian-kauw! Sebagai tamu, semestinya Sicu tunduk terhadap tuan rumah. Apakah setelah minum arak pengantin Sicu akan dapat menghina kami begitu saja? Kalau begitu, Sicu benar-benar tidak memandang sebelah mata kepada Pek-lian-kauw."

Phoa Lee It yang sudah merasa penasaran itu menegakkan kepala dan membusungkan dadanya. Dengan tangannya dia memberi isyarat kepada empat orang pengikutnya, yaitu para sute-nya, murid-murid Go-bi-pai yang menyertainya, untuk minggir supaya dia dapat menghadapi tosu Pek-lian-kauw itu sendiri.

"Memandang rendah atau tidak hanyalah soal penilaian. Kami dari Go-bi-pai tidak pernah memandang rendah siapa pun, akan tetapi juga tidak menghendaki kebebasan kami ada yang menghalanginya."

"Siancai...! Omongan Phoa-sicu sungguh keras! Jika memang Go-bi-pai tak memandang persahabatan dengan Pek-lian-kauw, kenapa Sicu sekalian suka datang dan menghadiri undangan kami?"

"Karena tadinya Go-bi-pai menganggap bahwa pihak Pek-lian-kauw benar-benar hendak berkeluarga dan bersahabat dengan Cin-ling-pai, maka kami berlima mewakili Go-bi-pai untuk hadir. Akan tetapi, melihat betapa keadaan sesungguhnya tidak demikian yang baru kami ketahui setelah Ketua Cin-ling-pai muncul, kami tidak lagi mau mencampuri urusan ini. Kiranya para tamu yang berpikiran waras pun akan sependirian dengan kami."

"Ho-ho-ho, Sicu benar-benar bicara besar. Pendeknya, kami sebagai tuan rumah berhak menentukan semua peraturan dan para tamu sudah sepatutnya tunduk kepada peraturan kami. Silakan Sicu berlima duduk kembali dan jangan menimbulkan keributan." Berkata demikian, Loan Khi Tosu melintangkan tongkatnya seolah-olah hendak menghadang dan mencegah lima orang tokoh Go-bi-pai itu meninggalkan ruangan pesta.

Kini marahlah Phoa Lee It. Dia mengerti akan pendirian para pimpinan Go-bi-pai, yaitu tidak ingin mencampuri segala urusan Pek-lian-kauw yang terkenal sebagai perkumpulan pemberontak. Kalau tidak sangat terpaksa, tentu dia juga tidak mau bermusuhan dengan Pek-lian-kauw. Akan tetapi sekarang, ketika melihat betapa dia dan empat orang sute-nya hendak diikat kebebasannya, betapa Pek-lian-kauw hendak menghina Go-bi-pai, maka hal ini tentu saja akan ditentangnya mati-matian.

"Loan Khi Tosu, aku mengenal siapa engkau! Akan tetapi, jangan dikira bahwa aku takut padamu. Hanya karena kami menjadi utusan Go-bi-pai, kami masih menahan sabar dan tidak ingin mengikatkan Go-bi-pai dengan Pek-lian-kauw dalam permusuhan. Minggirlah dan biarkan kami pergi."

"Ha-ha-ha, tidak semudah itu, Phoa Lee It. Pinto juga mengenalmu dan kebetulan sekali berjumpa di sini, pinto sudah lama ingin sekali mencoba betapa lihainya ilmu pedangmu yang membuat kau dijuluki orang Go-bi Kiam-hiap (Pendekar Pedang dari Go-bi)."

"Bagus! Kau menantang? Secara pribadi ataukah atas nama perkumpulan? Kalau atas nama perkumpulan, aku tidak sudi melayani, akan tetapi kalau tantanganmu mengenai pribadi, tentu saja tidak akan kutolak!" jawab Phoa Lee It dengan sikap gagah.

Semua tamu menjadi tegang hatinya. Dua orang itu, Loan Khi Tosu dan Phoa Lee It keduanya sudah terkenal sebagai tokoh-tokoh besar dalam dunia persilatan dan sebagai orang-orang yang sangat lihai. Kini mereka saling menantang. Tentu saja hal ini sangat menarik hati dan menegangkan.

Tiba-tiba terdengar suara ketawa dari tempat para tamu dan seorang kakek yang sudah ompong mulutnya tertawa-tawa, kemudian mendengus dan dengan suara sombong sekali berkata, "Totiang, mengapa banyak cakap menghadapi dia ini? Aku mendengar bahwa semakin besar julukannya, makin rendahlah kepandaiannya. Kurasa Go-bi Kiam-hiap ini belum tentu benar-benar mampu memainkan Ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut. Heh-heh-heh!" Kakek itu mengurut-urut kumisnya dan semua orang memandang dengan alis berkerut.

Mereka itu sebagian besar mengenal kakek ini, seorang tokoh dunia hitam yang tentu saja semenjak lama menjadi sahabat Pek-lian-kauw. Dia berjuluk Hwa-i Lojin (Kakek Baju Kembang) karena memang pakaiannya selalu rapi dan terbuat dari kain berkembang.

Kakek yang usianya enam puluh tahun ini pesolek sekali selain pakaiannya rapi dan baru dengan kembang-kembang berwarna mencolok, juga kumis serta jenggotnya terpelihara rapi dan rambutnya selalu mengkilap oleh minyak! Kiranya kakek yang tua badannya ini masih muda hatinya! Karena kakek ini selalu berlagak sombong, biar pun dia terkenal lihai sebagai seorang ahli pedang yang jarang bertemu tanding, maka para tamu memandang dia dengan hati tidak senang. Akan tetapi karena maklum akan kelihaiannya, tidak ada yang berani memperlihatkan ketidak senangan hatinya secara berterang.

Phoa Lee It tahu siapa kakek yang menghinanya itu, akan tetapi karena yang berhadapan dengan dia adalah Loan Khi Tosu, dia tidak mempedulikan dan berkata lagi kepada Loan Khi Tosu,

"Kalau tantanganmu bersifat pribadi, nah, aku telah siap!" berkata demikian, orang gagah ini mengisyaratkan para sute-nya untuk mundur ada pun dia sendiri berdiri tegak dengan jari-jari tangan meraba gagang pedangnya yang tergantung di punggung.

"Bagus, majulah! Sungguh pun tantangan pinto ini ada hubungannya dengan peraturan Pek-lian-kauw sebagai tuan rumah, namun biarlah kutujukan sebagai tantangan pribadi, disaksikan oleh para tamu yang hadir sebagai pi-bu (adu silat) yang adil."

"Singggg...!"

Phoa Lee It sudah mencabut pedangnya dan gerakannya ini memang nampak tangkas sekali. Pedang itu berkilauan dan sedikit pun tak bergerak berada di tangannya yang kuat dan mantap.

"Jaga seranganku, Totiang!"

"Wirrr... takkk... tringgg...!"

Dua orang itu masing-masing meloncat mundur dan memeriksa senjata masing-masing. Pertemuan tongkat dengan pedang tadi membuat telapak tangan mereka terasa panas dan tergetar, tanda bahwa kekuatan mereka sangat berimbang. Mereka saling pandang, menggeser kaki, lalu keduanya menerjang maju. Terjadilah pertandingan yang seru dan hebat. Bentakan-bentakan mereka diseling suara bertemunya tongkat dan pedang.

Setelah lewat lima puluh jurus, diam-diam Loan Khi Tosu harus mengakui kehebatan Ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut yang dimainkan oleh Phoa Lee It. Ilmu pedang itu memiliki dasar pertahanan yang sangat kuat, membuat tongkatnya sama sekali tidak mampu mendekati tubuh lawan, bahkan kadang-kadang sinar pedang mencuat dan nyawanya terancam.

"Hyaaaahhh...!" Tiba-tiba tosu itu memekik, menangkis pedang dan mengerahkan sinkang untuk membuat pedang melekat pada tongkatnya, kemudian tangan kirinya melancarkan totokan ke tubuh lawan dengan Ilmu Totok Pek-tok-ci!

"Heiiittt...!" Phoa Lee It juga memekik, pedangnya diputar sehingga terlepas dari lekatan, tubuhnya miring mengelak dari totokan dan sekali pedangnya berkelebat, sinar pedang menyambar ke arah lengan kiri lawan.

"Aahhhh...!" Loan Khi Tosu meloncat mundur dan memutar tongkatnya.

"Trang-trang...!"

Kembali keduanya meloncat mundur lagi, dan karena pertemuan tongkat dengan pedang sedemikian hebatnya, membuat keduanya terhuyung. Akan tetapi Loan Khi Tosu sudah menempelkan ujung tongkat bambu ke mulutnya dan melihat ini, Phoa Lee It memutar pedangnya yang berubah menjadi sinar bergulung-gulung melindungi seluruh tubuhnya.

Belasan batang jarum yang ditiupkan melalui tongkat bambu yang dipergunakan sebagai tulup (senjata peniup) itu terpukul runtuh oleh cahaya pedang, dan Phoa Lee It langsung menyerbu lagi kepada lawannya. Pedangnya digerakkan makin gencar dan kecepatannya tidak dapat diatasi oleh lawan yang terdesak dan terus mundur-mundur.

"Tranggg... krekk!"

Loan Khi Tosu berseru kaget dan cepat meloncat jauh ke belakang. Tongkatnya tinggal sejengkal saja di tangannya karena sudah patah, dan lengan bajunya yang sebelah kanan robek, tampak kulitnya berdarah sedikit karena kulit itu sudah tercium pedang!

Biar pun tidak roboh, jelas sudah disaksikan oleh para tamu bahwa dalam pi-bu itu, Loan Khi Tosu telah dikalahkan oleh Phoa Lee It, jago dari Go-bi-pai itu. Empat orang sute dari Phoa Lee It bertepuk tangan dan bersorak, dan perbuatan ini segera diikuti oleh sebagian dari para tamu yang diam-diam berpihak kepada Go-bi-pai.

"Ha-ha-ha-ha, Loan Khi Tosu benar-benar tidak dapat meninggalkan watak pendeta yang selalu mengalah!" Mendadak Hwa-i Lojin meloncat ke depan, mengebut-ngebutkan baju kembangnya dengan lagak angkuh. "Kalau Loan Khi Tosu tadi tidak mengalah, tentu saja dengan mudah dapat menjatuhkan Phoa Lee It karena ternyata bocah ini sama sekali belum becus mainkan Ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut, hanya ngawur saja!"

Ucapan ini takabur dan menghina bukan main sehingga empat orang sute dari Phoa Lee It sudah mencabut pedang masing-masing dan meloncat maju hendak menyerang.

"Sute, mundur...!" Phoa Lee It membentak empat orang itu yang terpaksa mundur lagi sambil menyimpan pedang masing-masing.

"Ha-ha-ha-ha, mengapa mundur? Phoa Lee It, coba kau pamerkan ilmu pedangmu yang rendah itu, boleh kau dibantu oleh empat orang sute-mu, biar agak seimbang. Aku akan menghadapimu dengan tangan kosong saja. Ilmu pedangmu masih kosong, tanpa isi, bila tadi Loan Khi Tosu tidak mengalah, dalam beberapa jurus saja kau tentu kalah!"

Phoa Lee It melangkah maju, mukanya merah sekali. Karena penghinaan atas dirinya sebagai utusan Go-bi-pai merupakan penghinaan yang dilontarkan pula kepada Go-bi-pai, maka dia lalu berkata lantang, "Hwa-i Lojin, engkau adalah seorang tua yang tidak patut dihormat oleh yang lebih muda! Aku tahu mengapa engkau berlagak seperti sekarang ini. Karena engkau pernah dikalahkan oleh suhu-ku, dan karena tak berani membalas kepada Suhu, maka kini engkau hendak menebus rasa malu itu dengan berlagak di hadapanku. Akan tetapi jangan disangka aku takut menghadapi lagakmu!"

Muka kakek itu berubah menjadi merah sekali. Dia merasa terpukul dan karena apa yang diucapkan oleh Phoa Lee It itu memang kenyataan, dia tidak mampu membantah lagi. Memang, setahun yang lalu dia sudah roboh dalam pertandingan melawan Kauw Kong Hwesio, guru jago Go-bi-pai itu.

Sebetulnya, mengingat bahwa Kauw Kong Hwesio merupakan tokoh ke dua di Go-bi-pai, kekalahan itu tidaklah amat memalukan. Akan tetapi dasar watak Hwa-i Lojin amat tinggi hati, kekalahannya itu membuat hatinya penasaran dan mendendam.

Dia lalu memperdalam ilmu pedangnya, dan secara diam-diam mempelajari ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut untuk mencari tahu kelemahan ilmu pedang ini. Namun, karena maklum akan kelihaian Kauw Kong Hwesio, dia tidak berani sembrono membalas dendamnya dan sekarang, di Pek-lian-kauw, begitu bertemu dengan murid-murid musuhnya itu, tentu saja dia mendapat kesempatan untuk melampiaskan kemendongkolan hatinya dan membalas kekalahannya.

Dapat dibayangkan betapa marahnya ketika ternyata Phoa Lee It sudah tahu pula akan kekalahannya itu, bahkan menghinanya di hadapan orang banyak. "Phoa Lee It, manusia sombong!" Bentaknya dan tangan kanannya bergerak cepat meraba punggung sehingga tampak sinar berkelebat karena dia sudah mencabut pedangnya. "Majulah dan aku akan membuktikan bahwa ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut hanyalah kosong belaka. Lihat, dengan pedangku ini aku akan melucutimu tanpa melukaimu, sebab itu tak perlu kau takut akan terluka, ha-ha-ha!"

Phoa Lee It yang masih memegang pedangnya itu sudah melangkah maju. "Orang-orang Go-bi-pai tak pernah takut mati atau terluka. Kalau kau menantang, majulah, Hwa-i Lojin!"

"Ha-ha-ha, seranglah. Majulah dan jaga baik-baik. Aku akan merampas pedangmu dan mematahkannya seperti sebatang lidi!" kakek itu mengejek.

Phoa Lee It maklum bahwa meski pun sombong, Kakek Baju Kembang ini memiliki ilmu pedang yang lihai, maka dia tidak mau bersikap sungkan lagi, segera saja dia menerjang dengan dahsyat, menggunakan jurus pilihan.

Hwa-i Lojin menyambut sambil tertawa. "Ha-ha-ha, inikah jurusmu yang terlihai? Aih, tidak seberapa!"

Kakek itu menggerakkan pedangnya menangkis dan begitu dua batang pedang bertemu dia membuat gerakan memutar sambil mengerahkan sinkang-nya. Phoa Lee It terkejut bukan main karena pedangnya melekat dan terbawa oleh putaran pedang lawan. Betapa pun dia berusaha mempertahankan, dia kalah tenaga sehingga pedangnya terus berputar sampai akhirnya dengan bentakan nyaring, kakek itu membuat gerakan membetot secara mendadak dan Phoa Lee It berteriak kaget, pedangnya terlempar ke atas!

Hwa-i Lojin menyambar pedang lawan itu dengan tangan kirinya, sambil tertawa ha-ha he-he menekuk pedang itu di lututnya.

"Pletakkkk!" Pedang patah menjadi dua dan tiba-tiba menyambitkan patahan pedang ke arah Phoa Lee It.

Pada saat itu pula tampak dua sinar kecil menyambar dan dua batang patahan pedang disambar runtuh. Sebelum Hwa-i Lojin dapat mencari siapa penolong lawannya ini, dari rombongan tamu tahu-tahu keluar dua orang pemuda, keduanya memegang sebatang kayu kurang lebih satu meter panjangnya dan mereka seperti berkejaran menghadang di antara Phoa Lee It dan Hwa-i Lojin.

Phoa Lee It maklum bahwa ada dua orang yang diam-diam menolongnya. Dia menghela napas panjang mengingat akan kelihaian Hwa-i Lojin, lalu melangkah mundur mendekati para sute-nya. Sementara itu, semua orang tertarik memandang dua orang pemuda yang berkejaran itu. Mereka ini bukan lain adalah Kun Liong dan Kong Tek.

Tadi pada saat Lie Kong Tek berani membela pengantin wanita dari kemarahan ayahnya, pemuda tinggi besar dan gagah ini sudah menarik perhatian banyak orang. Kini melihat dia muncul kembali dan mengejar-ngejar seorang pemuda tampan lain yang cukup aneh, pemuda yang rambut kepalanya amat pendek dan awut-awutan, tentu saja semua tamu menjadi terheran-heran maka semua mata memandang penuh perhatian. Yang menarik hati mereka adalah sikap pemuda berambut pendek yang dikejar-kejar, karena sikapnya mengejek dan jelas sekali meniru lagak Hwa-i Lojin!

"Ha-ha, majulah dan aku akan membuktikan bahwa ilmu Pedang Go-bi Kiam-sut hanyalah kosong belaka. Lihat, dengan pedangku ini aku akan melucutimu tanpa melukaimu, sebab itu tak perlu kau takut akan terluka, ha-ha-ha!" kata Kun Liong sambil berdiri dengan lagak persis seperti lagak Hwa-i Lojin ketika menantang Phoa Lee It tadi!

Kong Tek yang telah dibisiki oleh Kun Liong untuk melakukan sandiwara mengejek Hwa-i Lojin dan memancing perhatian orang agar Hong Khi Hoatsu bisa bekerja dengan leluasa di sebelah dalam, segera menanggapi dan menjawab, "Seorang gagah tidak takut mati, tidak seperti engkau!"

"Aku sih bukan orang gagah, kalau untuk mati nanti dulu, akan tetapi ilmu pedangku tiada bandingannya di kolong langit. Majulah!" Dengan lagak dibuat-buat Kun Liong menantang.

"Awas... haiiiittttt!" Kong Tek menyerang dengan pedang kayunya, persis lagak seorang badut.

"Hyaaaahhhh, lihat ilmu pedangku Monyet Tua Mabuk Madat!" Kun Liong berteriak sambil menangkis, lagaknya persis seperti yang dilakukan Hwa-i Lojin tadi.

Melihat ini, banyak tamu tertawa terpingkal-pingkal, apa lagi ketika dua orang pemuda itu sudah ‘bertanding’ dengan lagak dibuat-buat. Siapa tidak akan tertawa melihat Kong Tek menyerang dengan gerakan lambat sekali sehingga tentu saja sangat mudah dielakkan, kemudian melihat Kun Liong membalas dengan gerakan pedang kayu itu perlahan-lahan ‘menempel’ pedang lawan, kemudian sambil berteriak nyaring dia memutar-mutar kayu di tangannya. Kong Tek membiarkan ranting pada tangannya ikut berputar-putar, kemudian melepaskan ranting yang terlempar ke atas. Kun Liong meniru gerakan Hwa-i Lojin tadi, menyambar kayu itu, lalu mematahkannya di atas lututnya!

"Pletakkkk!" Kayu itu patah menjadi dua dan seperti gerakan Hwa-i Lojin tadi, Kun Liong melemparkan patahan kayu.

Kemudian, seperti dua batang anak panah, dua potong kayu itu meluncur ke arah... meja sembahyang dan tosu Pek-lian-kauw yang baru saja menyalakan lilin melongo terkejut karena tiba-tiba dua batang lilin yang dinyalakannya itu padam dan patah-patah!

Keadaan menjadi gaduh dan kacau. Liong Bu Kong dan Cia Giok Keng yang tadi dibujuk oleh Thian Hwa Cinjin untuk melakukan upacara sembahyang, segera bangkit berdiri dan memandang ke arah Kun Liong dan Kong Tek. Akan tetapi mereka tidak dapat mengenal Kun Liong yang sekarang kepalanya sudah berambut, dan sepasang calon mempelai itu memandang marah karena mengangap bahwa kedua orang pemuda itu sengaja hendak mengacau pesta pernikahan mereka.

Juga Ketua Pek-lian-kauw memandang penuh curiga, dua alisnya berkerut dan sepasang matanya yang mengeluarkan sinar aneh berpengaruh itu memandang penuh selidik. Para tamu banyak yang tertawa geli menyaksikan lagak Kun Liong, secara diam-diam mereka merasa puas bahwa Hwa-i Lojin yang bersikap sombong dan tidak mereka suka itu sekali ini dipermainkan orang, sungguh pun mereka merasa khawatir juga bahwa tentu kakek itu akan turun tangan dan akan celakalah dua orang pemuda yang main-main itu.

Dan memang Hwa-i Lojin sudah memandang dengan muka merah dan mata mendelik ke arah Kun Liong. Tadinya, pada saat melihat dua orang muda itu muncul dan berlagak, dia mundur dan berdiri di pinggir sambil ikut menonton, menyangka bahwa mereka memang hendak bertanding silat dan sengaja hendak menggembirakan pesta pernikahan.

Tetapi ketika melihat lagak Kun Liong yang jelas dibuat-buat dan sengaja meniru gerakan-gerakannya tadi, mukanya langsung menjadi pucat saking marahnya dan sekarang dia memandang dengan mata mendelik seolah-olah hendak menelan pemuda itu bulat-bulat! Melihat betapa semua tamu, juga Ketua Pek-lian-kauw dan sepasang mempelai sedang memperhatikan, Hwa-i Lojin merasa semakin malu dan terhina. Tahulah dia bahwa dua orang pemuda itu sengaja mempermainkannya.

"Jahanam keparat!" gerutunya sambil melangkah maju.

Kun Liong pura-pura tidak melihat kakek ini dan dengan memutar-mutar pedang kayunya seperti lagak Hwa-i Lojin sesudah tadi menang bertanding, dia melintangkan pedang itu dengan gerakan aksi di depan dada sambil membusungkan dadanya dan berkata, "Siapa bilang aku si tua bangka tidak hebat? Siapa bilang aku pernah dikalahkan seorang ketua? Ha-ha-ha, di samping lihai, akulah si manusia sombong, tua bangka yang suka berlagak, ha-ha-ha!"

"Mampuslah!"

Kun Liong cepat miringkan tubuhnya ketika ada hawa hangat menyambar dari samping, maka pukulan Hwa-i Lojin meleset, hanya mengenai angin saja.

"Tokk!" Pedang di tangan Kun Liong sudah menyambar keras dan dari samping sudah memukul tulang lengan Hwa-i Lojin.

Kakek itu menggigit bibir menahan seruan kesakitan, kemudian menggosok-gosok lengan yang terpukul, lalu menyerang lagi sambil membentak, "Bangsat keparat!"

Kun Liong pura-pura kaget dan seperti baru melihat bahwa ada orang mengamuk dan menyerangnya. Dia cepat meloncat ke belakang dan berseru, "Eihh-eihhh...! Kenapa kau tua bangka marah-marah?"

Semua orang menahan senyum. Biar pun mereka merasa khawatir sekali, mereka juga merasa geli menyaksikan sikap pemuda tampan itu yang jelas sengaja mempermainkan kakek pesolek itu. Betapa beraninya pemuda ini, pikir mereka.

Hwa-i Lojin semakin marah. Tadinya dia ingin memaksa pemuda itu mengaku nama dan mengapa memusuhinya, akan tetapi kemarahan membuat dia tidak sabar lagi dan ingin lekas-lekas merobohkan pemuda kurang ajar ini. Dia menerjang kembali dengan tangan kosong, menghantam bertubi-tubi dengan kedua tangannya sambil mengerahkan seluruh sinkang-nya.

"Wuuut-wuuuttt... wirrr... takkkk! Dess...!"

Orang-orang bersorak gembira. Memang lucu sekali. Kun Liong yang diserang kalang kabut itu kelihatan terdesak, lari sana-sini, meloncat kacau ke kanan kiri, tongkatnya atau pedang kayunya bergerak tidak karuan, akan tetapi akibatnya, dahi Hwa-i Lojin terkena pukulan sampal menjendol dan punggungnya kena gebuk satu kali, cukup keras sehingga debu mengebul dari punggung baju!

"Kun-hoat (ilmu silat tangan kosong) bagus! Kun-hoat bagus." Kun Liong berseru sambil memuji-muji.

Jelas bahwa pujian ini merupakan ejekan. Ilmu silat tangan kosong yang dimainkan Hwa-i Lojin sama sekali tidak berhasil memukulnya, bahkan dalam segebrakan saja kakek itu telah dihadiahi satu kali kemplangan di kepala dan satu kali gebukan pada punggungnya, mana bisa disebut kun-hoat bagus?

Dalam kemarahannya yang meluap-luap, Hwa-i Lojin juga terkejut. Pemuda itu meski pun gerakannya kacau balau seperti seekor monyet menari, akan tetapi sudah jelas semua pukulannya meleset, bahkan secara aneh dia telah dihajar dengan tongkat!

Sebenarnya tidaklah mengherankan kalau kakek itu dengan mudah bisa dihajar oleh Kun Liong. Memang harus diakui bahwa Hwa-i Lojin telah memiliki ilmu silat yang tinggi. Akan tetapi, seperti halnya dalam ilmu ketangkasan apa pun juga, apa bila berhadapan dengan lawan yang tingkatnya lebih tinggi, maka semua ilmunya menjadi tidak ada artinya karena dia kalah cepat, kalah tenaga, dan kalah lihai. Kun Liong sekarang telah menjadi seorang yang tingkat ilmu kepandaiannya sulit diukur sampai di mana tingginya, sebab itu dengan mudah dia mempermainkan Hwa-i Lojin.

"Srattt... singgg...!"

Hwa-i Lojin yang amat marah sekarang telah mencabut pedangnya dan tanpa membuang waktu lagi dia sudah menggerakkan pedang menyerang Kun Liong dengan ganas sekali. Terdengar suara berdesing-desing dan pedang di tangannya berubah menjadi segulung sinar terang yang menyambar-nyambar ke arah Kun Liong.

Kun Liong melihat datangnya serangan pedang, cepat-cepat menghindarkan diri dengan mengelak cepat ke kanan kiri, melompat ke depan belakang, menangkis dengan ranting sambil berseru, "Kiam-hoat (ilmu pedang) bagus...! Kiam-hoat bagus...!"

Akan tetapi seruannya ini bernada mengejek dan tiba-tiba saja dia menggetarkan kayu di tangannya, menangkis pedang sambil mengerahkan sinkang istimewa yang dahulu dia latih dari Bun Hwat Tosu sehingga pedang lawan itu melekat pada rantingnya dan tidak dapat dilepaskan kembali. Selagi lawannya terkejut, dia telah menggerakkan ranting itu, diputar-putar seperti gerakan Hwa-i Lojin ketika merampas pedang di tangan Phoa Lee It tadi.

Dapat dibayangkan betapa kaget dan heran rasa Hwa-i Lojin ketika tanpa dapat dia tahan lagi, pedangnya ikut terbawa oleh putaran ranting, makin lama semakin cepat. Dia sudah mencoba untuk mempertahankan pedangnya dengan mengerahkan sinkang pada tangan kanan, namun makin lama gerakan memutar itu makin kuat sehingga dia maklum bahwa tidak mungkin lagi dia mempertahankan pedangnya.

Kakek ini sangat terkejut dan kini maklumlah dia bahwa ternyata pemuda ugal-ugalan itu mempunyai ilmu kepandaian yang hebat sekali. Untuk menjaga gengsinya, dia tidak mau menyerah kalah begitu saja dan tiba-tiba tangan kirinya dengan jari terbuka menotok ke arah lambung lawan.

"Dukkk!"

Hwa-i Lojin makin kaget. Totokannya bertemu dengan daging kenyal yang ulet dan kuat seperti karet! Dan pada saat itu pula tangan kiri pemuda yang menjadi lawannya juga bergerak cepat dua kali dan Hwa-i Lojin merasa betapa kaki dan tangannya tidak dapat digerakkannya lagi. Dia telah tertotok lumpuh! Pada saat yang sama, pedangnya sudah terampas, terlepas dari pegangannya dan menghunjam ke atas tanah, kemudian tiba-tiba pemuda itu menendang dan... tubuhnya yang sudah tidak mampu bergerak itu terlempar jauh ke belakang.

"Jadilah kau toa-pek-kong di meja sembahyang itu!" seru Kun Liong sambil menendang hingga tubuh kakek itu mencelat ke arah meja sembahyang, di mana atas anjuran Ketua Pek-lian-kauw, sepasang mempelai sedang berlutut karena hendak melakukan upacara sembahyang tanpa mempedulikan pertempuran!

"Bresss...! Braaakkkk...!"

Meja sembahyang ringsek dan tubuh Hwa-i Lojin terbanting di atas meja, terlentang dan mukanya berlepotan kuah masakan, matanya terbelalak dan mulutnya terbuka lebar. Biar pun ilmu kepandaian Kun Liong amat mengejutkan orang, namun peristiwa itu kelihatan lucu sehingga terdengar suara ketawa di sana-sini mentertawakan Hwa-i Lojin.

Karena untuk beberapa kali meja sembahyang terganggu, Liong Bu Kong dan Cia Ciok Keng menjadi marah sekali. Terutama sekali Liong Bu Kong yang merasa bahwa upacara sembahyang yang akan mengesahkan pernikahannya dengan Giok Keng selalu menjadi terhalang. Sambil berseru keras tubuhnya mencelat ke arah Kun Liong dan tanpa banyak cakap lagi tangannya menampar ke arah pelipis Kun Liong. Sebuah tamparan yang amat keras dan mengandung tenaga sinkang yang akan dapat membikin pecah kepala orang yang ditampar.

"Plak-plak-plak!"

Tiga kali Kun Liong menangkis pukulan bertubi-tubi itu dan pada yang ketiga kalinya dia sengaja mengerahkan tenaga sehingga Bu Kong hampir terpelanting. Bu Kong terkejut sekali. Tidak disangkanya pengacau muda ini lihai bukan main. Namun dia tidak menjadi takut dan sudah menerjang lagi dengan pukulan yang lebih dahsyat lagi.

"Orang jahat, beraninya engkau mengganggu kami!" Bentakan ini keluar dari mulut Giok Keng yang telah ikut menerjang maju dan menyerang Kun Liong.

Melihat Giok Keng menyerangnya, Kun Liong yang sedang menghadapi Bu Kong menjadi terkejut sekali. Pundaknya terpukul dan dia terpelanting, namun dapat meloncat bangun kembali. Kakinya cepat menyambar dan ujung kakinya menotok lutut Bu Kong. Selagi Bu Kong hampir roboh, dia sudah mendorong dengan telapak tangannya, membuat Bu Kong terlempar dan terbanting ke atas tanah.

"Giok Keng...!" Kun Liong menegur, suaranya memperingatkan.

Tetapi Giok Keng yang sedang berada dalam pengaruh obat tidak mengenalnya, bahkan menganggap bahwa pemanggilan namanya itu adalah sebuah kekurang ajaran. Apa lagi melihat betapa Bu Kong terpukul sampai terjengkang, dia menjadi makin marah. Sambil berseru keras Giok Keng memukul lagi.

Kun Liong menggerakkan kedua tangannya, menangkap kedua pergelangan tangan dara itu sambil berbisik, "Giok Keng...!"

Pada waktu itu, lima orang tosu Pek-lian-kauw sudah datang dan menerjang Kun Liong dengan senjata tongkat di tangan. Mereka adalah pembantu-pembantu yang disuruh oleh Ketua Pek-lian-kauw untuk turun tangan menangkap pemuda pengacau itu.

Lie Kong Tek berteriak keras, meloncat lantas menyambut mereka dengan pukulan dan tendangan. Melihat ini, pihak tamu menjadi ribut dan mereka langsung terpecah menjadi dua bagian, ada yang menentang dan ada pula yang membantu Pek-lian-kauw sehingga tempat pesta itu segera berubah menjadi medan pertempuran yang kacau balau!

Kesempatan ini tentu saja segera dipergunakan oleh mereka yang memang sudah saling bermusuhan dan saling mendendam untuk melampiaskan kebencian mereka dan untuk saling serang. Akan tetapi sebagian besar dari para tamu tidak mau turut mencampuri pertempuran itu, hanya mundur dan menonton di pinggiran, bahkan yang tak mau terlibat, diam-diam telah meninggalkan tempat itu.

Sementara itu, di sebelah dalam bangunan juga terjadi peristiwa yang luar biasa. Ketika Pendekar Sakti Cia Keng Hong dalam keadaan pingsan digotong ke dalam, para tosu Pek-lian-kauw lalu merebahkannya di atas pembaringan. Mereka sudah menerima tugas dari ketua mereka dan tahu apa yang harus mereka lakukan terhadap pendekar yang berbahaya itu.

Maka, begitu merebahkan tubuh Cia Keng Hong di atas pembaringan, seorang siap untuk menotok jalan darah membuat lumpuh, ada yang sudah siap dengan belenggu, dan ada pula yang telah mengeluarkan obat cair untuk dicekokkan kepada pendekar itu, yaitu obat racun perampas ingatan.

Tiba-tiba terdengar bentakan dari luar. "Tahan dulu...!"

Empat orang tosu tua itu terkejut dan menengok. Ketika mereka melihat seorang kakek yang pakaiannya kedodoran, celananya kotak-kotak, bajunya kembang, kepalanya ditutup kopyah bayi, mereka terkejut dan siap untuk menyerang.

Akan tetapi kakek itu mengangkat tangan kanannya ke atas, dan terdengarlah suaranya yang penuh wibawa, "Tolol, apa kalian tidak mengenal ketua kalian sendiri? Aku adalah Thian Hwa Cinjin...!"

Sungguh aneh sekali. Tiba-tiba saja penglihatan empat orang tosu tua itu berubah dan cepat mereka menjura kepada kakek itu yang sekarang kelihatan seperti ketua mereka! Padahal kakek itu sesungguhnya adalah Hong Khi Hoatsu yang sudah mempergunakan hoat-sut yang amat kuat untuk mempengaruhi orang-orang Pek-lian-kauw dan menolong Cia Keng Hong.

"Keluarlah kalian berempat dan biarkan aku berdua dengan Cia-taihiap," kembali Hong Khi Hoatsu berkata kereng.

Empat orang tosu itu mengangguk. Tanpa berkata sesuatu seperti dalam mimpi mereka lalu melangkah keluar dari dalam kamar.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner