PETUALANG ASMARA : JILID-59


Kedua totokannya itu tepat mengenai sasaran, yaitu pada jalan darah di bawah pundak depan, agak di sebelah atas kedua buah dada gadis itu, akan tetapi jari-jari tangannya bertemu dengan kulit dan daging lunak halus seolah-olah tidak ada jalan darahnya dan gadis itu tidak apa-apa, malah sebagai ‘hadiahnya’ dua kali telapak tangan gadis itu menampar pipinya.

Tamparan ini mengenai sasaran dengan tepat sekali karena Kun Liong sedang melongo keheranan saat totokan-totokannya tidak membawa hasil sama sekali. Setelah ditampar, barulah dia sadar bahwa ternyata Bi Kiok telah memiliki ilmu memindahkan jalan darah dan melindungi bagian yang tertotok sehingga totokannya tadi mengenai tempat hampa!

Bi Kiok yang sudah marah itu menyerang kalang kabut dan harus diakui oleh Kun Liong bahwa gadis ini mempunyai dasar ilmu silat yang sangat aneh dan ampuh, hanya belum terlatih baik. Diam-diam dia bergidik. Katanya tadi baru mempelajari sebagian saja, kalau sudah mempelajari seluruh kitab pusaka milik Panglima The Hoo yang berada di tempat rahasia, kitab pusaka yang tentu belum pernah ditemukan oleh panglima itu sendiri, entah bagaimana hebatnya gadis ini!

Dia terus mengelak dan menangkis, kadang kala membalas dengan totokan yang selalu gagal, sambil berpikir-pikir bagaimana sebaiknya menjatuhkan gadis yang sangat lihai ini. Biar kuhabiskan saja napasnya, pikir Kun Liong.

Kun Liong kini main mundur, bahkan membuat langkah-langkah yang inti sarinya diambil dari kitab Keng-lun Tai-pun dari Bun Ong. Langkah ini pendek-pendek saja, amat ringan baginya, namun membuat Bi Kiok yang terus menerus mengejarnya itu harus berputaran dan menggunakan banyak tenaga ginkang!

Sampai seratus jurus lebih Kun Liong ‘mempermainkan’ Bi Kiok, berputaran dan membuat gadis itu seakan-akan seorang kanak-kanak yang bermain-main mengejar bayangannya sendiri! Namun hebatnya, Bi Kiok terus menyerang dan serangannya tidak pernah terlihat mengendor!

Dua ratus jurus telah lewat! Kun Liong mulai berkeringat, akan tetapi Bi Kiok masih terus menerjangnya dan tidak terdengar napas gadis itu memburu. Celaka, pikir Kun Liong. Dia gagal lagi. Agaknya ada suatu cara latihan napas di dalam kitab di tempat rahasia yang ditunjukkan oleh bokor itu, yang membuat napas gadis itu menjadi amat kuatnya melebihi kuatnya napas seekor kuda!

"Wah, kalau begini tak mungkin aku dapat merobohkannya," pikir Kun Liong sambil cepat menghindarkan diri dari terjangan kedua kaki yang bentuknya indah membayang di balik kain celana sutera tipis itu akan tetapi keindahan yang berbahaya karena mengandung tendangan maut!

Memang sempat terpikir olehnya untuk mempergunakan satu-satunya ilmu yang menjadi simpanannya, yaitu Thi-khi I-beng, akan tetapi dia tidak tega. Ilmu ini apa bila digunakan akibatnya akan menyedot sinkang lawan dan tentu saja dia tidak tega menggunakan ini dalam menghadapi Bi Kiok. Dia maklum betapa sukar dan lamanya menghimpun sinkang, apa lagi sinkang seperti yang dimiliki Bi Kiok.

Kalau saja dia menghendaki agar Bi Kiok roboh tanpa memperdulikan keselamatannya, kiranya tidak nanti gadis itu sampai dapat menyerangnya terus selama dua ratus jurus. Yang sulit adalah karena dia ingin merobohkan gadis ini tanpa melukai atau menyakiti.

Sesudah selama hampir tiga ratus jurus mereka bertanding dengan hebat dan cepatnya sehingga bagi orang lain yang nampak hanyalah dua bayangan berkelebatan saja, namun tidak nampak gadis itu lelah atau mau mengalah sedikit pun, Kun Liong baru mengambil keputusan untuk mempergunakan Thi-khi I-beng!

"Maafkan aku, Bi Kiok!"

"Plakk! Plakk!"

"Oughhhhh...!" Bi Kiok mengeluh. Matanya yang sangat indah itu terbelalak memandang wajah Kun Liong pada saat kedua tangannya yang bertemu dengan lengan Kun Liong itu melekat pada lengan dan tidak dapat ditariknya kembali, dan yang amat mengejutkannya adalah ketika dia merasa betapa tenaga sinkang-nya menerobos keluar seperti air hujan membanjir!

Melihat sepasang mata yang amat indah dan amat dikaguminya itu terbelalak kaget dan terbayang kengerian, Kun Liong menjadi tidak tega dan memejamkan matanya agar tidak melihat mata itu!

"Berani kau menyerang Subo (Ibu Guru)...?" Tiba-tiba terdengar bentakan anak kecil dari belakang dan…

"Buk! Buk!" dua buah kepalan menghantami pinggulnya!

"Kau orang jahat! Kau bukan kakak kandungku! Kakak kandungku takkan jahat terhadap Subo! Lepaskan Subo! Lepaskan!”

“Buk-buk-buk-buk!" Kedua kepalan kecil itu terus menghantam pinggul Kun Liong.

Kun Liong terkejut sekali mendengar suara In Hong ini. Segera dia menyimpan kembali tenaga Thi-khi I-beng sambil melompat mundur. Yo Bi Kiok berdiri dengan napas sedikit memburu, wajahnya agak pucat dan sejenak ia memejamkan mata sambil membereskan napasnya. Kemudian dia membuka matanya, memandang Kun Liong dengan terbelalak penuh rasa penasaran akan tetapi juga kagum.

"Kau... kau...!" Bi Kiok tidak mampu melanjutkan kata-katanya karena dia tidak tahu harus berkata apa.

"Kau orang jahat, aku tidak mau dekat denganmu!" kembali In Hong berteriak sambil lari mendekati Bi Kiok dan merangkul pinggang dara ini seperti hendak melindungi gurunya.

Kun Liong menarik napas panjang. "Maafkan aku, Bi Kiok..."

"Sudahlah, pergilah... akan tetapi ingat akan semua kata-kataku!" Bi Kiok berkata.

Kun Liong memandang kepada adiknya. Tanpa banyak cakap, mengertilah dia bahwa tak mungkin dia dapat memaksa adiknya pergi bersamanya. Perbuatan itu sama saja dengan menghancurkan hati Bi Kiok dan adiknya sendiri. Dia akan menjadi seorang yang sangat kejam kalau dia lakukan hal itu. Betapa pun juga dia ingin kepastian, maka dengan muka manis dia berkata kepada adiknya,

"In Hong aku adalah kakak kandungmu. Aku hendak mengajak engkau pergi sebab sudah semestinya engkau ikut aku yang menjadi kakakmu."

"Tidak! Tidak sudi...!"

"In Hong, dengarlah baik-baik. Aku sama sekali tidak berbuat jahat terhadap gurumu. Tadi kami sedang memperebutkan engkau. Sekarang engkau boleh pilih. Aku sebagai kakak kandungmu dan dia sebagai gurumu, engkau hendak memilih yang mana dan hendak ikut yang mana?"

"Dia benar, In Hong. Kau pilihlah. Dia bukan orang jahat, akan tetapi kau boleh memilih antara kami berdua."

"Aku memilih Subo! Aku ikut Subo!" In Hong berteriak penuh semangat dan memandang kepada Kun Liong dengan mata bernyala marah.

Kun Liong dan Bi Kiok saling pandang, lalu pemuda itu menghela napas panjang.

"Apa boleh buat, terpaksa aku harus meninggalkannya kepadamu, Bi Kiok. Akan tetapi, setiap saat aku akan mengunjunginya dan melihat keadaannya. Harap saja engkau tetap baik kepadanya dan mendidiknya menjadi seorang manusia yang baik..., tidak... tidak seperti kakaknya..." tambahnya, "Selamat tinggal!"

"Kun Liong...!"

Suara mengandung isak itu menahan kakinya. Dia lalu membalik. Tidak nampak Bi Kiok menangis, akan tetapi wajahnya pucat, matanya sayu ketika memandangnya. "Kun Liong, sekali lagi aku mohon padamu, apakah engkau tidak dapat merubah pendirianmu? Kita bertiga akan hidup bahagia..." Ucapan itu tidak dilanjutkannya karena Kun Liong sudah menggeleng kepalanya, kemudian sekali berkelebat, Kun Liong sudah lenyap dari tempat itu.

"In Hong... dia terlalu...! Kakakmu terlalu...!" Bi Kiok menjatuhkan diri berlutut, memeluk muridnya dan baru sekarang air matanya tertumpah…..

********************

"Aku tidak mau...! Aku tidak mau ikut pergi sebelum merawatnya! Harap Sam-wi (Anda Bertiga) jangan memaksaku!" Hong Ing meronta-ronta.

Akan tetapi tangisnya itu tidak dipedulikan, bahkan Hun Beng Lama, pendeta Lama yang selalu memegang tasbih itu menggerakkan tangan kirinya menyentuh belakang telinganya dan Hong Ing seketika menjadi lemas. Dia sama sekali tidak dapat mengeluh lagi, apa lagi berontak, hanya memandang ke arah Kun Liong yang rebah seperti mati itu ketika tubuhnya yang lumpuh dikempit oleh Hun Beng Lama bersama dua orang Lama lainnya menuju ke perahu mereka.

Mulailah Hong Ing melakukan perjalanan yang sama sekali tidak menyenangkan hatinya. Bukan karena sikap para paman gurunya itu, sama sekali tidak. Sikap mereka itu cukup baik, bahkan lemah lembut terhadap dirinya, dan kalau saja tidak teringat pada Kun Liong yang ditinggalkan dalam keadaan terluka seperti mati, tentu dia senang sekali melakukan perjalanan dengan ketiga orang paman gurunya yang memiliki kesaktian-kesaktian seperti dewa itu.

Di samping mereka bersikap ramah dan baik, bahkan jarang mengeluarkan kata-kata dan semua keperluan dan kebutuhannya pada sepanjang perjalanan dicukupi, juga hati siapa yang takkan senang mendengar bahwa dia akan bertemu dengan ayah kandungnya yang selama hidupnya belum pernah dijumpainya itu?

Ayahnya adalah suheng (kakak seperguruan) mereka, dan ayahnya adalah ketua mereka, dapat dibayangkan betapa tinggi ilmu kepandaian ayahnya! Dia tentu akan girang sekali pergi menjumpai ayahnya. Akan tetapi, kalau dia teringat kepada Kun Liong yang rebah seperti mati, hatinya seperti disayat-sayat.

Pemuda itu dalam keadaan terluka parah dan hanya seorang diri saja di pulau kosong itu. Membayangkan betapa pemuda itu akan mati dengan menyedihkan dan tersiksa, hatinya lantas menjadi ngeri, berduka dan terutama sekali dia merasa menyesal karena dia pergi meninggalkan Kun Liong yang sedang berduka.

Ia meninggalkan Kun Liong selagi pemuda itu hancur, setelah dia menampar pipi pemuda itu! Tentu Kun Liong akan menganggap bahwa dia membencinya! Aihh, padahal dia amat mencinta Kun Liong! Tidak ada seorang pun manusla lain yang akan dicintanya melebihi cintanya kepada Kun Liong.

Akan tetapi, pada saat-saat terakhir sebelum mereka berpisah, sebelum Kun Liong roboh ketika melawan tiga orang Lama itu, dia terpaksa menampar pipi Kun Liong saking tidak kuat menahan kemarahan dan kepanasan hatinya! Siapa yang kuat menahan! Dia amat dikecewakan, disakitkan hatinya. Kun Liong yang mengaku mencintanya dengan sepenuh jiwa raganya itu terlalu memandang rendah dirinya.

Dia dikalahkan dalam sebuah perbandingan dengan seorang wanita bayangan, seorang gadis khayal. Hanya seorang gadis khayal! Kalau dia bukan gadis impian Kun Liong itu, mengapa Kun Liong menyatakan cinta kepadanya? Apa bila dia tidak seperti gadis khayal itu yang menurut Kun Liong tanpa cacad, kenapa Kun Liong berani menyatakan cintanya?

Dia tidak sudi menjadi seorang yang dijadikan tempat pelarian setelah Kun Liong merasa bahwa di dunia ini tidak ada gadis yang diimpi-impikan itu. Dia tak sudi menjadi pengganti belaka, menjadi penghibur lara belaka. Padahal cinta kasihnya terhadap Kun Liong mutlak dan lengkap, tanpa perbandingan karena memang tiada bandingan dalam cinta kasihnya.

Perjalanan yang amat jauh, melelahkan dan juga membuat dirinya kurus karena batinnya selalu tertekan setiap teringat kepada kekasihnya itu, memakan waktu berbulan-bulan dan akhirnya tibalah mereka di tempat yang dituju. Sebuah dusun besar di pegunungan dan di luar dusun itu, di dekat puncak, terdapat sekelompok bangunan besar yang dikurung oleh pagar tembok seperti benteng. Itulah pusat dari perkumpulan agama para Lama Jubah Merah yang terkenal di seluruh Tibet sebagai perkumpulan yang menyendiri dan dipimpin oleh orang-orang yang sakti.

Kuil mereka terdapat di tengah-tengah kelompok bangunan itu dan setiap hari, semenjak pagi sampai sore hari, pintu gerbang tembok benteng itu terbuka dan semua orang dari dusun-dusun di daerah tempat itu, diperkenankan memasuki dan mengunjungi kuil besar untuk bersembahyang dan memohon berkah. Konon dikabarkan bahwa kuil Lama Jubah Merah ini amat sakti dan manjur sehingga sangat terkenal, banyak dikunjungi orang dan banyak pula menerima dana bantuan dari rakyat di daerah itu yang juga terkenal memiliki penghasilan besar sebagai peternak-peternak.

Memang bukan hanya tempat tinggalnya saja yang luar biasa kuat, dengan pagar tembok kokoh menyerupai benteng, akan tetapi juga anggotanya cukup banyak, tidak kurang dari seratus orang! Karena rata-rata mereka itu memiliki ilmu kepandaian tinggi, maka tentu saja seratus orang Pendeta Jubah Merah ini merupakan sebuah pasukan yang hebat!

Secara diam-diam perkembangan mereka sudah lama diikuti oleh Pemerintah Tibet yang dipegang oleh Dalai Lama. Akan tetapi, karena tidak ada bukti nyata bahwa Lama Jubah Merah menentang Pemerintah Tibet yang sah, maka tidak pernah ada tindakan.

Kedatangan tiga orang Lama, yaitu Sin Beng Lama yang ditemani kedua orang sute-nya, Hun Beng Lama serta Lak Beng Lama, disambut dengan penuh penghormatan oleh para anggota perkumpulan agama itu, bahkan diadakan pesta sebagai penyambutan mereka yang telah meninggalkan Tibet selama berbulan-bulan itu. Terlebih lagi karena tiga orang tokoh utama itu telah berhasil membawa pulang Pek Hong Ing!

Begitu tiba di situ, gadis ini lalu menanyakan tentang ayahnya. "Mana ayahku? Aku ingin sekali bertemu dengan ayahku!"

Memang pada waktu melakukan perjalanan yang amat jauh itu, setelah dapat mengatasi kedukaan hatinya karena meninggalkan Kun Liong, hanya satu tujuan hati Hong Ing, yaitu dapat secepatnya berjumpa dengan ayahnya, kemudian hendak minta bantuan kepada ayahnya untuk mengirim orang menjenguk dan menolong Kun Liong!

Sin Beng Lama sendiri lalu membawa Hong Ing ke sebuah kamar yang besar dan cukup lengkap. Setelah mereka memasuki kamar itu yang ternyata kosong tidak ada siapa pun di dalamnya, kakek ini berkata, "Engkau tinggallah di sini dan ayahmu pasti akan segera datang asal engkau suka bekerja sama dengan kami."

Hong Ing memandang penuh selidik kepada pendeta tua berjubah merah itu, dan mulailah dia merasa curiga.

"Apa artinya ini? Susiok... di mana Ayah?"

Sin Beng Lama mengerutkan alisnya. "Jika kami tahu dia berada di mana, agaknya kami tak akan membawamu jauh-jauh ke sini, Pek Hong Ing. Kami membawamu ke sini hanya untuk memancing agar ayahmu mencarimu ke sini."

Pucatlah wajah Hong Ing mendengar Ini. "Apa...? Bukankah kalian katakan bahwa Ayah adalah Suheng kalian?"

"Benar demikian. Ayahmu adalah Kok Beng Lama, Suheng kami."

"Dan katanya Ayah adalah ketua di sini..."

"Sayang tidak demikian sesungguhnya. Sebaliknya malah, ayahmu adalah seorang yang berdosa besar, seorang pelarian yang harus menerima hukuman karena telah melakukan dosa-dosa yang amat banyak."

Terbelalak mata Hong Ing memandang kakek itu. "Apa... apa yang terjadi? Mengapa para Susiok menipuku, membiarkan aku pergi meninggalkan Kun Liong yang terluka di pulau itu...? Ahhh, apa yang telah kulakukan ini...?"

"Tenanglah, dan duduklah. Dengarkan cerita pinceng (aku)."

Karena kedua kakinya memang menggigil saking tegang hatinya yang diliputi bermacam perasaan itu, Hong Ing lantas menjatuhkan dirinya di atas pembaringan, sedangkan kakek itu lalu duduk di atas bangku menghadapi pembaringan.

"Ibumu bernama Pek Cu Sian, yaitu seorang pendekar wanita dari Tionggoan yang berani lancang tangan mencampuri urusan dalam perkumpulan agama kami sehingga terpaksa kami tangkap dan kami tawan. Karena dia masih perawan dan sangat cantik, maka para pimpinan perkumpulan kami mengambil keputusan untuk menjadikan dia sebagai korban tahun itu, korban kepada Dewa Syiwa. Tapi, pada malam sebelum upacara pengorbanan dilakukan, Pek Cu Sian lenyap dari kamar tahanan. Kami semua mengira bahwa dia telah dapat meloloskan diri, maka hal ini terlupalah sudah sampai lima tahun kemudian ketika engkau, yang ketika itu seorang anak perempuan kecil berusia empat tahun, terlihat oleh seorang anggota kami. Barulah kami tahu bahwa Pek Cu Sian, ibumu itu, ternyata telah diselamatkan oleh Suheng Kok Beng Lama sendiri yang menyembunyikannya dan juga mengambilnya sebagai isteri! Betapa besar dosa Kok Beng Lama dapat kau bayangkan sendiri!"

"Tidak! Dia tidak berdosa!" Hong Ing membantah setelah mendengar penuturan itu. "Dia adalah seorang manusia, tidak seperti kalian yang bagaikan segerombolan binatang buas hendak membunuh mendiang ibuku! Ayah adalah seorang lelaki sejati, orang yang berani mempertanggung jawabkan perbuatannya!"

Namun kakek itu tidak mempedulikan bantahan ini dan melanjutkan ceritanya.

"Karena dosanya itu, Kong Beng Lama dihukum sepuluh tahun dan ibumu yang melarikan diri bersamamu itu kami kejar atau lebih tepat dikejar oleh anak buah kami karena kalau kami sendiri yang mengejar dia tentu sudah dapat kami tawan kembali bersamamu. Dia dapat melarikan engkau dan lolos."

"Ibu adalah seorang pendekar wanita yang amat gagah perkasa!" Hong Ing berkata penuh semangat. "Biar pun dikeroyok oleh para pendeta palsu, masih dapat menyelamatkan aku sampai tiba di Go-bi-san kemudian ditemukan oleh Subo dalam keadaan hampir mati oleh luka-lukanya akibat pengeroyokan para pendeta yang curang!"

Kakek itu kembali tidak mempedulikan, seolah-olah tidak mendengar kata-kata Hong Ing. "Sesudah Kok Beng Lama keluar dari hukuman, dia melakukan dosa ke dua yang lebih hebat. Dia telah membunuh ketua kami, yaitu Twa-suheng kami! Kemudian dia melarikan diri..."

"Tentu untuk mencari Ibu dan aku!"

"Dosanya yang besar harus dihukum, maka pinceng sendiri bersama kedua orang Sute..."

"Kalian tiga orang pendeta jahat!"

"Kami turun gunung untuk mencarinya, namun tak berhasil. Untung kami bertemu dengan Go-bi Sin-kouw dan dengan tusukan-tusukan hio (dupa biting) akhirnya dia mau bercerita tentang dirimu."

"Kau... kau telah menyiksa Subo!" Walau pun dia tidak suka kepada ibu gurunya, namun Hong Ing masih ingat betapa sejak kecil dia dipelihara serta dididik oleh Go-bi Sin-kouw, maka mendengar subo-nya disiksa untuk mengaku, dia menjadi marah.

"Kami mencari jejakmu, dari sungai di mana menurut penuturan Go-bi Sin-kouw engkau dan pemuda gundul itu terlempar ke muara sungai, masuk ke laut oleh Kok Beng Lama."

"Aihhh…, tidak kusangka bahwa pendeta yang gagah perkasa itu adalah ayah kandungku sendiri..." Hong Ing menutupi mukanya mengenangkan kembali peristiwa itu.

"Akhirnya kami berhasil menemukan engkau di pulau kosong bersama pemuda aneh itu dan karena kami tak sampai hati menggunakan kekerasan terhadap seorang gadis muda seperti engkau, maka kami pun terpaksa menjalankan siasat agar engkau suka ikut pergi dengan suka rela."

Sin Beng Lama bangkit berdiri, melangkah ke pintu lalu membalik memandang kepada gadis itu, berkata lagi, suaranya halus, "Kami akan menyebar berita ke Tiong-goan agar ayahmu mendengar bahwa puterinya telah berada di tangan kami. Dengan demikian dia pasti akan datang ke sini. Kami harap engkau tidak banyak rewel dan berdiam saja di sini dengan baik. Kalau tidak, terpaksa kami akan memperlakukan engkau sebagai tawanan yang dikurung di dalam kamar tahanan dan dibelenggu kaki tangannya." Setelah berkata demikian, Sin Beng Lama melangkah keluar dari kamar dengan tenang.

Sejenak Hong Ing tertegun, mukanya pucat. Mengertilah dia sekarang bahwa dia sudah dijadikan sandera untuk menjebak ayahnya sendiri! Dan dia telah pergi dengan suka rela, bahkan sudah meninggalkan Kun Liong dalam keadaan terluka parah! Akan tetapi apa yang dapat dilakukannya? Tiga orang pendeta itu sakti sekali, bahkan Kun Liong yang demikian gagah pun tak berdaya, apa lagi dia.

Aku harus pergi dari sini! Demikianlah suara hati Hong Ing. Dia harus pergi dan kembali ke Tiong-goan, kembali ke laut mencari pulau kosong, mencari Kun Liong juga mencari ayahnya! Betapa rindu hatinya kepada Kun Liong, juga kepada ayahnya, pendeta raksasa yang baik hati dan sakti itu.

Akan tetapi ketika berindap-indap dia keluar dari kamar, dia melihat dua orang Pendeta Jubah Merah berdiri di luar pintu, mata mereka memandang dengan bengis kepadanya! Sesudah dia kembali memasuki kamamya dan menjenguk ke jendela, juga di luar jendela terdapat dua orang pendeta! Kamarnya telah dikurung dan dijaga!

Malam itu kembali Hong Ing kecelik pada saat dia menyelidiki pintu dan jendela kamarnya karena ternyata olehnya kemudian bahwa penjagaan ketat itu diadakan siang dan malam dengan bergilir! Semalam suntuk itu dia tidak tidur, mencari kesempatan untuk melarikan diri, akan tetapi akhirnya dia mengerti bahwa kesempatan itu tidak pernah ada.

Selain kamarnya yang dikurung, juga penjagaan di pagar tembok menyerupai benteng itu amat kuatnya sehingga andai kata dia dapat keluar dari kamar, kiranya tidak mungkin dia akan dapat keluar dari markas itu! Di samping ini, sekiranya terjadi keajaiban dan dia bisa keluar dari markas itu, apa dayanya menghadapi para pendeta sakti itu kalau dia dikejar dan disusul?

Dia tidak mengenal daerah pegunungan itu, apa lagi pada waktu melakukan perjalanan mengikuti tiga orang pendeta menuju ke Tibet, dia melihat gurun pasir seolah-olah tanpa tepi. Tanpa penunjuk jalan, di daerah yang mengerikan itu dia akan mati kehausan dan kelaparan.

Terpaksa Hong Ing hanya bisa menunggu dan dia bukanlah seorang gadis bodoh yang hanya mengubur diri dalam kedukaan dan keputus asaan. Tidak. Dia sudah bersiap-siap dan karena itu dia menjaga kesehatan dirinya dengan baik, makan setiap hari, bahkan membaiki para pendeta di situ dan minta petunjuk ketika dia melatih ilmu silatnya setiap hari. Dia harus berada dalam keadaan kuat dan terlatih kalau saat yang ditunggu-tunggu itu tiba, yaitu saat ayahnya yang dijebak itu muncul di sini!

Dan saat yang dinanti-nanti itu tiba beberapa bulan kemudian! Pada suatu hari, pagi-pagi sekali, di antara suara orang berdoa, suara liam-keng (doa) yang diselingi suara ketukan berirama yang mengiringi doa, terdengarlah teriakan yang amat gaduh.

Hong Ing sudah bangun tidur dan juga telah mencuci muka, siap untuk melakukan latihan pagi ketika mendengar suara gaduh itu. Akan tetapi ketika dia meloncat ke pintu, hampir dia bertumbukan dengan Lak Beng Lama yang menghadang dengan tongkat di tangan. Melihat sikap susiok-nya ini, Hong Ing sudah merasa curiga dan dapat menduga bahwa inilah agaknya saat-saat yang dinanti-nantinya. Agaknya ayahnya sudah tiba! Akan tetapi dia pura-pura tidak tahu dan dengan suara heran dan nadanya halus dia bertanya,

"Lak Beng Susiok, apakah ribut-ribut itu?"

"Hemm, kau tidak perlu tahu dan tidak boleh keluar dari kamar ini. Pinceng sendiri yang menjaga di sini!"

Jantung Hong Ing berdebar keras. Tidak salah lagi, tentu ayahnya sudah datang! Kalau tidak, mengapa susiok-nya ini sendiri yang menjaganya?

"Susiok, aku mau pergi berlatih."

"Engkau tidak boleh meninggalkan kamar!"

"Ehh, siapa itu di sana? Bukankah itu Ayah...?" Tiba-tiba saja gadis itu menuding ke atas genteng yang tampak dari pintu kamarnya.

Lak Beng Lama terkejut sekali, cepat memutar tubuh menghadapi arah yang ditunjuk dan siap dengan tongkatnya. Pada saat itu Hong Ing sudah meloncat keluar dari kamarnya.

"Bocah setan! Hendak lari ke mana kau?" Lak Beng Lama langsung mengejar dan dalam beberapa loncatan saja pendeta yang sakti ini sudah dapat menyusul dan menghadang di depan Hong Ing dengan alis berkerut.

Suara ribut-ribut di bagian depan semakin menghebat dan mendadak Hong Ing berteriak, "Ayaaaahhhh...! Aku Pek Hong Ing berada di sini...!" Akan tetapi dia segera roboh terkena totokan ujung tongkat yang amat cepat, dan tubuhnya yang lumpuh sudah dikempit oleh Lak Beng Lama.

Di bagian depan markas itu sedang terjadi keributan. Memang tepat sekali dugaan Hong Ing bahwa ayahnyalah yang muncul.

Pagi itu, pada waktu semua pendeta sedang sibuk membaca doa dan bersembahyang sehingga penjagaan agak berkurang ketatnya, sesosok bayangan berkelebat melompati pagar tembok tinggi itu dan ketika beberapa orang penjaga melihat dan mengurungnya, dalam beberapa gebrakan saja empat orang di antara mereka sudah roboh! Mulailah mereka berteriak-teriak memberi tanda bahaya dan ributlah semua pendeta yang sedang berdoa, termasuk Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama.

"Lak Beng Sute, kau cepat menjaga Hong Ing!" kata Sin Beng Lama yang bersama Hun Beng Lama cepat berlari-lari ke luar.

Kiranya Kok Beng Lama yang bertubuh tinggi besar bagai raksasa itu sedang mengamuk. Kaki tangannya bergerak secara luar biasa hingga angin besar bersiut dari kedua ujung lengan bajunya yang lebar. Setiap kali kaki tangannya bergerak, tentu ada pendeta yang terpelanting atau terlempar.

Namun pengeroyokan semakin ketat dan kini semua pendeta telah menggunakan senjata masing-masing. Hujan senjata menjatuhi tubuh pendeta raksasa itu, akan tetapi semua hantaman senjata yang tajam mau pun yang tumpul tidak ada yang membekas pada kulit tubuh Kong Beng Lama, kecuali hanya merobek pakaiannya saja.

"Hayo bebaskan anakku, kalau tidak... demi Tuhan, kubunuh semua orang di tempat ini!" Kok Beng Lama berteriak-teriak sambil dengan dua tangannya menangkap empat orang pengeroyok bagaikan garuda mencengkeram empat ekor anak ayam saja layaknya, lalu melemparkan empat orang itu kepada para pengeroyoknya sehingga mereka morat-marit.

"Pemberontak hina! Berlututlah untuk menerima hukuman!" Tiba-tiba terdengar bentakan lemah lembut, lalu para pengeroyok membuka jalan untuk Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama.

Seperti biasa kalau menghadapi lawan berat, Sin Beng Lama membawa lima batang hio membara, ada pun Hun Beng Lama memutar-mutar biji tasbih di antara jari-jari tangannya. Bila dilihat seperti itu, kedua orang pendeta ini lebih pantas hendak bersembahyang dan membaca doa dari pada bersiap-siap menghadapi lawan tangguh.

Akan tetapi tentu saja Kok Beng Lama sudah mengenal kedua orang sute-nya ini dan dia menjawab bentakan Sin Beng Lama dengan suaranya yang nyaring, dan sinar matanya mengandung penuh ancaman maut.

"Sin Beng Sute...!"

"Pinceng bukan sute-mu lagi dan engkau tidak berhak menyebut Sute kepada pinceng!"

"Hemmm, sesukamulah, Sin Beng Lama! Akan tetapi dengar baik-baik. Aku datang untuk minta anakku, Pek Hong Ing. Kalau kalian menolak, aku akan membunuh kalian semua, tidak ada kecualinya!"

"Omitohud...!" Sin Beng Lama berseru sambil mengacungkan lima batang hio di depan dadanya. "Ucapan yang keluar dari mulut iblis! Pemberontak dan pengkhianat hina, kau sudah melanggar undang-undang agamamu sendiri, engkau telah melakukan dosa besar, membunuh ketua yang menjadi Twa-suheng (Kakak Tertua Seperguruan) sendiri berikut beberapa orang saudara lain. Dan sekarang engkau tidak bertaubat, tidak minta ampun bahkan mengancam hendak membunuh kami semua! Tidak malukah engkau yang sudah puluhan tahun tekun mempelajari semua ajaran agama yang suci?"

"Hemmm, Sin Beng Lama! Kita sama-sama adalah tua bangka-tua bangka, bukan anak kecil yang mudah saja dibujuk dengan omongan manis dan dengan kedok agama! Agama dan semua pelajarannya adalah untuk dilaksanakan, bukan sekedar dipakai untuk senjata menekan orang lain, bukan pula dipergunakan sebagai jembatan untuk mencari kekayaan, kedudukan, kesenangan lahir batin, bukan diperalat sebagai pencari sorga dan nirwana! Kalian mempelajari kasih, akan tetapi hati kalian penuh sesak dengan kebencian. Kalian menjaga kebersihan lahiriah akan tetapi batin kalian kotornya melebihi keranjang sampah! Menghadapi tua bangka seperti aku, tidak perlu lagi kalian menakut-nakuti dengan agama yang dibikin palsu oleh tingkah laku pemeluknya sendiri semacam kalian! Hayo bebaskan anakku, berikan kepadaku, dan aku akan pergi dari sini dengan aman, bahkan bersumpah takkan menginjak tempat ini lagi. Kalau tidak, kalian akan kubunuh semua dan tempat ini akan kubasmi, kuhancurkan!"

"Pemberontak keparat!" Hun Beng Lama membentak marah dan dia sudah melangkah maju perlahan-lahan, tasbihnya diputar-putar di atas kepalanya yang gundul.

"Trikk... trikk... trikkk...!" terdengar suara dengan irama tertentu dan biar pun tidak begitu keras, akan tetapi seperti jarum tajam menusuk anak telinga sehingga para anggota Lama Jubah Merah yang kurang kuat sinkang-nya cepat-cepat mundur sambil menutupi telinga mereka. Hanya yang sudah agak tinggi tingkatnya saja, yang jumiahnya paling banyak tiga puluh orang, yang berani maju mengurung Kok Beng Lama.

Sin Beng Lama juga melangkah maju, lima batang hio pindah ke tangan kiri dan tangan kanannya sudah mengeluarkan sebatang pedang bersinar hijau yang sangat tipis, yang panjangnya ada empat kaki dan gagangnya terbuat dari perak, sebatang pedang pusaka yang amat indah dan ampuh.

Melihat ini sinar mata Kok Beng Lama menjadi ganas dan mulutnya tersenyum mengejek, tubuhnya tetap berdiri tegak tak bergerak, yang bergerak hanya biji matanya yang melirik ke kanan dan kiri, telinganya seolah-olah berdiri dengan penuh perhatian mendengarkan setiap suara yang ada di sekelilingnya. Dalam keadaan seperti itu, pendengaran pendeta Lama raksasa ini luar biasa tajamnya sehingga setiap tarikan napas para pengeroyoknya dapat ditangkapnya dengan jelas, bahkan suara detak jantung lawan terdengar olehnya!

"Serbuuuu...!" Sin Beng Lama memberi aba-aba.

"Hyaaaatttt...!" suara bentakan para pengeroyok menjadi satu, terdengar nyaring bergema ketika mereka serentak menerjang ke depan dengan senjata masing-masing yang seperti hujan menyambar ke arah seluruh tubuh Kok Beng Lama, dari semua penjuru. Apa bila semua senjata itu mengenai tubuh Kok Beng Lama dan kalau tubuh pendeta raksasa ini biasa saja seperti tubuh orang-orang lain, tentulah dia akan roboh dengan tubuh hancur lebur, tidak ada bagian sedikit pun yang masih utuh.

"Hoouuuuhhh...!" Kok Beng Lama mengeluarkan suara yang amat dalam dan lebar, bukan seperti suara manusia lagi, suara yang seakan-akan keluar dari dalam bumi! Tubuhnya yang tinggi besar itu bergerak memutar, lenyap bentuk tubuhnya sehingga yang tampak hanyalah gulungan yang amat cepat seperti angin puyuh mengamuk.

"Trangggg...!"

"Krekkkkk...!"

"Bukkkk...!"

"Dessss...!"

"Aughhh...! Aduhhh...! Ahhhh!"

Akibatnya hebat bukan main! Tidak kurang dari enam orang yang terlempar dan roboh pingsan! Selain itu, banyak pula yang kehilangan senjata mereka, ada yang patah dan banyak yang lepas dari tangan, terlempar entah ke mana. Bukan main hebatnya sepak terjang Kok Beng Lama yang selama sepuluh tahun di dalam sel telah menciptakan dan mematangkan banyak ilmu-ilmu yang mukjijat dan dahsyat itu. Dengan putaran kedua ujung lengan bajunya saja dia telah berhasil merobohkan enam orang pengeroyoknya dan merampas banyak senjata!

Melihat ini, Hun Beng Lama menjadi marah sekali, demikian pula Sin Beng Lama. Dalam gebrakan pertama tadi, mereka berdua memang membiarkan para anak buah lain yang maju menerjang karena mereka merasa yakin bahwa dengan mengandalkan jumlah besar, tentu Kok Beng Lama yang dianggap pemberontak itu akan dapat dikuasai. Siapa kira, raksasa itu memang hebat bukan main, maka terpaksa mereka harus turun tangan sendiri.

"Omitohud...! Haaaaiiiikkkk!" Hun Beng Lama sudah menerjang maju dengan tasbihnya yang menyambar ke pelipis kiri sedangkan tangan kirinya yang membentuk cakar garuda itu mencengkeram ke arah perut lawan. Gerakannya amat cepat sehingga mendatangkan angin pukulan yang berdesing-desing saking kerasnya. Pada detik berikutnya, terdengar suara tajam menulikan telinga pada waktu sinar hijau berkeredepan menyambar-nyambar seperti seekor naga hijau bermain-main dan itulah pedang di tangan Sin Beng Lama yang dalam satu jurus sudah mengirim lima bacokan serta delapan tusukan yang mengancam tiga belas jalan darah utama di bagian depan tubuh lawan!

"Bagus...!" teriak Kok Beng Lama sambil menggerakkan kepalanya mengelak sambaran tasbih ke pelipisnya, kemudian mengangkat kaki menendang ke arah tangan kanan Hun Beng Lama, sedangkan sepuluh kuku jari tangannya sibuk menyentil ke arah sinar-sinar hijau yang menyambar-nyambar itu. Dia sudah berhasil menangkis ketiga belas serangan pedang hijau itu dengan sentilan jari tangannya dan setiap kali dia menyentil terdengarlah suara nyaring.

"Tring-tring-tring-tring-tring...!"

Sin Beng Lama sangat terkejut ketika merasa betapa telapak tangannya yang memegang pedang tergetar hebat akibat sentilan kuku jari tangan lawannya itu! Dengan seruan halus dia mencelat ke belakang sampai tiga meter jauhnya, tangan kirinya bergerak kemudian tampaklah sinar api menyambar ke arah tubuh Kok Beng Lama! Itulah serangan hio-hio membara yang amat luar biasa dan amat berbahaya pula karena biar pun hanya berupa hio, namun dilepas dengan pengerahan tenaga sinkang yang amat ampuh sehingga kalau mengenai tubuh lawan dapat menancap dengan api masih membara!

"Keji, alat sembahyang dipakai untuk membunuh!" Kok Beng Lama berseru keras, segera menggerakkan kedua tangan bergantian didorongkan ke depan dengan telapak tangan terbuka.

Menyambarlah hawa dingin dari kedua telapak tangannya dan itulah inti tenaga Im-kang yang amat dingin. Tampak asap mengepul dan lima batang hio itu padam apinya, bahkan runtuh semua ke atas tanah, masih mengepulkan asap putih yang harum baunya.

Tentu saja Sin Beng Lama menjadi makin marah. Bersama sute-nya, Hun Beng Lama dia menerjang maju, menggerakkan pedangnya secara luar biasa sekali sehingga tubuhnya lenyap digulung sinar pedang yang merupakan gulungan cahaya hijau menyilaukan mata yang kini bergulung-gulung menyelimuti tubuh Kok Beng Lama pula. Di antara sinar hijau ini tampak sinar putih dari tasbih Hun Beng Lama.

“Trik-trik-trik!” tasbih Hun Beng Lama mengeluarkan suara, makin lama makin nyaring.

Maka terdengarlah paduan suara yang menyeramkan karena semua orang yang kurang kuat sinkang-nya merasa betapa jantung mereka laksana ditarik-tarik dan telinga seperti ditusuk-tusuk oleh suara berdetrik dari tasbih, bercampur dengan suara berdesingan dari pedang hijau, diseling geraman-geraman marah dari dada Kok Beng Lama yang bidang.

Pertempuran hebat dan mati-matian terjadi dengan serunya, dilakukan oleh tiga orang sakti, membuat para Lama yang berada di situ tidak berani lagi turun tangan membantu karena mereka maklum bahwa bantuan mereka tidak akan menguntungkan pihak kawan juga tidak merugikan pihak lawan melainkan membahayakan nyawa sendiri.

Apa bila dibuat ukuran, tingkat kepandaian Kok Beng Lama dahulu pun setingkat dengan Sin Beng Lama. Akan tetapi semenjak dia menjalani hukuman selama sepuluh tahun, kepandaiannya bertambah hebat sedangkan Sin Beng Lama hanya mendapat kemajuan biasa saja.

Orang yang berada di dalam tahanan seperti Kok Beng Lama, kehilangan kebebasannya dan tidak melakukan suatu pekerjaan tertentu, lebih tekun dalam berlatih, apa lagi karena memang dia mempunyai dendam. Sedangkan tingkat kepandaian Hun Beng Lama masih kalah setingkat dari Sin Beng Lama, maka pertempuran hebat itu lebih tepat dikatakan bahwa yang bertanding mati-matian adalah Sin Beng Lama melawan Kok Beng Lama, sedangkan Hun Beng Lama hanya merupakan tenaga pengacau saja yang mengacaukan pertahanan Kok Beng Lama.

Namun, meski dia bertangan kosong dikeroyok oleh dua orang yang memiliki kepandaian tinggi dan bersenjatakan senjata-senjata pusaka ampuh pula, ternyata Kok Beng Lama memiliki kesaktian yang sangat luar biasa. Semua ini diperhebat lagi oleh kemarahannya karena dia mengkhawatirkan nasib puterinya, maka seakan-akan dia sudah menjadi iblis sendiri yang mengamuk dan sukar ditandingi oleh dua orang pendeta Lama itu!

"Kalian bosan hidup! Kalian bosan hidup! Akan kubunuh semua...!" Demikian terdengar Kok Beng Lama menggereng.

"Brettt! Plakk! Aughh...! Aduhhh...!"

Para pendeta yang menonton tidak dapat mengikuti dengan pandangan mata mereka apa yang baru saja terjadi karena yang tampak hanyalah sinar-sinar dan bayangan saja yang campur aduk menjadi satu. Tahu-tahu, tubuh Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama telah terlempar dan terbanting keras, sedangkan tubuh Kok Beng Lama terhuyung ke belakang, dadanya terluka pedang dan pakaian pada pundaknya hancur oleh pukulan tasbih, akan tetapi kedua orang lawannya muntah darah terkena hawa pukulan kedua telapak tangan Kok Beng Lama.

Dengan muka buas Kok Beng Lama sudah hendak menerjang kembali dua orang bekas sute-nya yang sudah terluka itu dan agaknya tidak akan dapat dihidarkan lagi dua orang Lama Jubah Merah itu tentu akan tewas sebab mereka belum sempat bangun sedangkan para anggota yang lain tidak ada yang berani menghadapi Kok Beng Lama.

"Pemberontak hina! Jangan bergerak atau pinceng akan membunuh puterimu ini di depan matamu!"

Kok Beng Lama tersentak kaget, menengok dan memandang dengan diam seperti arca. Lak Beng Lama telah berada di situ, tangan kanan memegang tongkat yang ditodongkan ke ubun-ubun seorang dara remaja yang dikempit dengan lengan kirinya. Gadis itu sama sekali tidak dapat bergerak, tanda bahwa dia telah menjadi korban totokan.

Kok Beng Lama mengenal gadis yang pernah ditolongnya di muara Sungai Huang-ho itu, dan sekarang nampak nyata olehnya betapa mirip wajah gadis itu dengan wajah bekas kekasihnya yang telah tewas, Pek Cu Sian! Dia mengeluarkan suara gerengan keras dan matanya seperti mengeluarkan api memandang kepada tiga orang pendeta itu.

Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama telah mendapat kesempatan menguasai diri mereka dan sudah berdiri di dekat Lak Beng Lama yang mengempit tubuh Pek Hong Ing.

"Kok Beng Lama, sebelum engkau bergerak, puterimu akan pinceng bunuh!"

Kok Beng Lama tak mempedulikan ucapan itu, dengan suara gemetar seperti orang sakit demam dia berkata kepada Hong Ing yang sejak tadi dipandangnya tanpa berkejap mata, "Nona muda, siapakah namamu?"

Hong Ing yang tidak dapat bergerak itu semenjak tadi pun memandang kepada Kok Beng Lama dengan wajah pucat. Dia pun meragukan apakah benar pendeta tua yang bertubuh tinggi besar seperti raksasa, yang sikapnya amat mengerikan ini, adalah betul-betul ayah kandungnya?

Mendengar pertanyaan itu, dia diam saja sebab urat gagunya telah tertotok, membuat dia tidak dapat mengeluarkan suara. Mendadak Sin Beng Lama menggerakkan ujung lengan bajunya, menyambar ke arah leher Hong Ing, dan terbebaslah dara itu dari totokan yang membuatnya gagu.

"Aku... namaku Pek Hong Ing..."

Hong Ing menjawab dengan suara agak kaku karena baru saja dia terbebas.

"Siapa gurumu?" Kembali Kok Beng Lama bertanya.

"Go-bi Sin-kouw..."

"Siapa nama ibumu?" Pertanyaan ini keluar dengan lirih dan parau.

"Nama ibu, Pek Cu Sian..."

"Cu Sian...!" pengulangan nama dari mulut Kok Beng Lama ini terdengar menyerupai keluhan. "Tahukah engkau siapa ayahmu?"

"Ibu tidak pernah sempat memberi tahuku tapi... tapi... tiga orang Locianpwe itu mengaku para susiok-ku dan membawaku ke sini, katanya hendak dipertemukan dengan ayahku, ternyata aku diperlakukan sebagai tawanan. Kata mereka, ayahku bernama Kok Beng Lama..."

Kok Beng Lama menggereng dan tiga orang kakek itu sudah siap-siap melawan, ada pun Lak Beng Lama telah menempelkan tongkatnya di ubun-ubun kepala Hong Ing, juga para anggota Lama sudah mengurung lagi tempat itu.

"Akulah Kok Beng Lama! Hong Ing, setidaknya usiamu sudah empat lima tahun ketika engkau masih kecil engkau tinggal di ruang di mana aku terhukum. Ingatkah engkau akan sesuatu di tempat itu?"

"Aku... aku hanya ingat berada di dalam satu ruangan yang luas bersama ibu dan seorang laki-laki yang selalu bersemedhi, hal yang tidak dapat kulupakan adalah bahwa laki-laki itu sering kali menari-nari di sekeliling sebuah arca besar sebesar manusia..."

"Engkau anakku...!" Tiba-tiba Kok Beng Lama menggereng keras. "Akulah laki-laki itu... sedang berlatih silat, Hong Ing, engkau anakku...!" Seperti gila kakek itu lalu memandang ke sekelilingnya. "Hayo bebaskan dia! Kalau tidak, kubasmi kalian semua!"

"Kok Beng Lama, puterimu berada di dalam kekuasaan kami, sepantasnya bila kami yang mengajukan usul, bukan engkau yang menuntut. Engkau telah membuat dosa besar dan untuk menjaga kehormatan serta wibawa perkumpulan, engkau sebagai seorang anggota pimpinan yang menyeleweng harus dihukum. Menyerahlah dan engkau akan kami hukum sesuai dengan peraturan, dan puterimu yang memang tidak berdosa apa-apa tidak akan kami ganggu bahkan akan kami perlakukan sebagai murid keponakan kami yang tercinta. Sebaliknya kalau kau melawan, terpaksa kami akan membunuh dulu puterimu sebelum membunuhmu." Suara halus Sin Beng Lama itu terdengar jelas oleh semua orang karena keadaan di situ amat tegang dan sunyi.

Kok Beng Lama memandang ragu kepada Hong Ing, dan dara itu cepat berkata dengan suara lantang, "Locianpwe, jika benar engkau adalah ayah kandungku, jangan dengarkan bujukan mereka! Aku tidak takut mati, tidak perlu engkau menyerah kepada mereka dan berkorban untuk aku!"

Mendengar ini, sepasang mata yang tadinya mengeluarkan sinar kemarahan dan wajah yang keruh serta merah itu berubah. Sinar matanya lembut memandang Hong Ing dan wajahnya berseri. "Engkau adalah anakku, tak salah lagi! Keberanianmu, sikapmu, persis sikap ibumu Pek Cu Sian! Sin Beng Lama, ajukan usulmu agar kupertimbangkan!"

Sin Beng Lama kelihatan lega sekali. Dia dan Hun Beng Lama sudah terluka cukup parah dan kalau pertandingan terus dilanjutkan, bukan tidak mungkin akan terjadi seperti yang diancamkan oleh Kok Beng Lama, yaitu mereka semua akan terbasmi habis.....!


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner