PETUALANG ASMARA : JILID-61


"Sratttt!" Dia mencabut pedangnya.

"Lihat pedang!" bentaknya karena biar pun di lubuk hatinya dia ingin membunuh orang ini, namun dengan cerdik dia memperingatkan agar suaminya tidak curiga dan mengira dia tetap mengajak berlatih, kini dengan silat pedang.

"Bagus! Memang dalam silat pedang engkau sudah memperoleh lebih banyak kemajuan dari pada bertangan kosong, isteriku manis!" Ouwyang Bouw juga mencabut pedangnya dan tampaklah dua gulungan sinar pedang berkelebatan.

"Wah-wah, apakah engkau tidak lelah? Aku lelah sekali...! Sudahlah, aku ingin mengaso!" Ouwyang Bouw berteriak setelah mereka bertanding selama lima puluh jurus dan pedang mereka berkali-kali saling bertemu.

Diam-diam Lauw Kim In menjadi jengkel dan kecewa sekali. Dengan tangan kosong dia tidak mampu menang, dengan pedang pun tidak akan mampu membunuh suaminya ini, meski pun tingkat mereka tidak berselisih banyak. Dia segera menyarungkan pedangnya, lalu duduk membelakangi suaminya dengan wajah cemberut.

Ouwyang Bouw merangkulnya lalu mengusap keringat dari lehernya, dan tangannya terus membelai ke bawah leher. Lauw Kim In merenggut tangan itu dan makin cemberut.

"Aihh, Manis! Kau kenapa? Mengapa marah-marah?" Ouwyang Bouw malah menggoda dan merangkul, terus menciumi dengan nafsu baru yang bangkil kembali.

"Engkau menipuku!" Lauw Kim In berkata.

"Heh? Aku...? Menipumu...?"

"Dulu kau berjanji akan menurunkan semua ilmu silatmu kepadaku, ternyata kau hanya menipuku saja."

"Bukankah setiap kali kau minta, aku selalu melatihmu?"

“Huh! Selama ini kau hanya mengajarkan jurus-jurus tidak berguna saja. Buktinya sampai sekarang pun aku belum mampu mengalahkan engkau!"

"Ha-ha-ha-ha! Hendak mengalahkan aku tidak mudah, isteriku. Ilmu kepandaianku sudah terlatih matang. Engkau hanya akan mampu mengalahkan aku dalam bermain cinta, tapi kalau dalam ilmu silat, kiranya tidak mungkin walau pun aku mengajarkan seluruh ilmuku kepadamu."

Lauw Kim In termenung. Benar juga apa yang diucapkan orang gila ini. Dia kalah latihan, juga kalah tenaga dan keuletan, mungkin kalah bakat. Habis, bagaimana dia akan dapat mengenyahkan laki-laki yang menjemukan hatinya ini? Dia harus bersabar dan menunggu datangnya kesempatan baik. Maka dengan manis dia lalu menurut saja ketika suaminya mengajaknya kembali ke Pek-lian-kauw.

Akan tetapi watak Ouwyang Bouw memang aneh sekali. Dia tidak langsung mengajaknya kembali ke Pek-lian-kauw, melainkan di sepanjang jalan dia berhenti dan di setiap tempat yang indah dia merayu isterinya, juga mengajarkan jurus-jurus baru, sikapnya demikian mesra seperti pengantin baru saja, tidak tahu betapa limpahan cinta kasih yang luar biasa ini bahkan semakin memuakkan hati Lauw Kim In. Karena perjalanan yang lambat ini, mereka sampai bermalam selama dua malam di dalam hutan, dan semua kehendaknya terpaksa dilayani oleh Lauw Kim In yang merasa seperti dijadikan boneka hidup!

Pada hari ke tiga, barulah mereka langsung menuju ke Pek-lian-kauw. Agaknya penyakit Ouwyang Bouw sudah lewat pula kumatnya. Ada kalanya dia bersikap seperti pengantin baru selama beberapa hari, ada pula kalanya dia bersikap acuh tak acuh terhadap Lauw Kim In sampai berpekan-pekan!

Ketika mereka tiba di sebuah hutan, tiba-tiba Ouwyang Bouw menarik tangan Lauw Kim In dan menyeretnya ke dalam semak-semak.

"Aku sudah lelah, jangan main gila kau! Besok saja..." Kim In menolak karena menduga bahwa suaminya itu kumat lagi, akan tetapi Ouwyang Bouw cepat mendekap mulutnya dan menuding ke depan.

Lauw Kim In memandang dan dia terkejut sekali ketika melihat seorang gadis cantik dan seorang pemuda. Dia mengenal gadis cantik itu, oleh karena gadis itu bukan lain adalah pengantin yang dirayakan pernikahannya di Pek-lian-kauw, gadis yang kabarnya bernama Cia Giok Keng puteri Ketua Cin-ling-pai! Akan tetapi dia tidak mengenal pemuda tinggi besar dan bersikap gagah yang berjalan di sebelah gadis itu.

Siapakah pemuda tinggi besar dan gagah perkasa itu? Dia bukan lain adalah Lie Kong Tek! Seperti sudah kita ketahui, Lie Kong Tek disuruh oleh gurunya untuk mencari Cia Giok Keng yang telah dipinangnya langsung dari ayah gadis itu. Gurunya menghendaki dia menyusul dan kalau perlu melindungi gadis itu, lalu memaksakan perpisahan antara mereka dengan janji setahun kemudian bertemu di Cin-ling-san.

Demikianlah, Lie Kong Tek lalu melakukan perjalanan seorang diri dan karena dia tidak tahu ke mana perginya Cia Giok Keng, maka dia lalu mengambil arah yang ditempuh oleh Giok Keng ketika gadis itu tadi melakukan pengejaran terhadap Liong Bu Kong. Tentu saja dia kehilangan jejak gadis itu dan selama dua hari dia berkeliaran di sekitar daerah itu, mencari-cari tanpa hasil.

Baru pagi tadi, ketika dia sudah hampir hilang harapan untuk bertemu dengan Cia Giok Keng, tiba-tiba dia melihat gadis itu muncul keluar dari sebuah hutan, berjalan dengan arah menuju ke sarang Pek-lian-kauw.

"Cia-siocia (Nona Cia)...!" Dia memanggil sambil berlari mengejar.

Mendengar suara panggilan ini, Giok Keng berhenti dan menengok. Ketika dia mengenal orang itu sebagai pemuda tinggi besar yang pernah membelanya di hadapan ayahnya, seketika Giok Keng cemberut. Hemmm, kembali dia berhadapan dengan seorang penjilat, pikirnya!

Alangkah banyaknya dia bertemu dengan pria-pria seperti itu! Pria yang memperlihatkan ‘kebaikan’, bahkan rela berkorban apa pun untuk menarik hati seorang gadis cantik. Dan dia tahu bahwa pemuda tinggi besar ini pun semacam pria semacam itu. Tentu sikapnya membela dirinya di depan ayahnya, yang kelihatan gagah perkasa dan penuh kebaikan, bahkan yang membayangkan kasih sayang besar dengan mengorbankan dirinya, hanya merupakan siasat untuk menarik hatinya!

Dia sudah muak dengan semua itu, apa lagi setelah mengalami kejatuhannya di tangan Liong Bu Kong si tukang bujuk rayu! Kini teringat olehnya betapa hampir semua laki-laki adalah tukang bujuk, perayu yang berhati palsu, kecuali... Kun Liong agaknya! Kun Liong dengan terang-terangan mengatakan tidak cinta kepadanya! Sebaliknya, semua pria yang dijumpainya selama ini, dari pandang matanya saja seolah sudah menjeritkan ‘cinta’ yang memuakkan.

Betapa pun juga, pemuda tinggi besar ini sudah menerima siksaan dari ayahnya, bahkan hampir saja tewas, maka dia harus bersikap baik. Dan untuk kelancangannya itu, dia akan menghukumnya dengan menjatuhkan hatinya seperti semua pria yang sudah jatuh hati kepadanya, untuk kemudian dia tinggalkan.

Mulai sekarang, dia akan membalas semua pria yang cintanya palsu itu! Mula-mula dulu adalah para suheng-nya di Cin-ling-pai, terutama Kwee Kin Ta dan Kwee Kin Ci yang dari sinar matanya jelas jatuh cinta kepadanya, lalu disusul belasan orang suheng-nya yang lain. Sesudah itu, entah berapa banyaknya lirikan-lirikan cinta yang terpancar keluar dari pandang mata setiap orang pria, tua muda yang bertemu dengannya.

"Cia-siocia...!" Lie Kong Tek kini sudah tiba di depan gadis itu, wajahnya berseri gembira karena hati siapa tidak akan gembira melihat gadis ini yang tadinya dianggap telah hilang dan tidak mungkin disusulnya lagi itu?

"Siapakah engkau dan ada keperluan apa memanggil-manggil aku?" Giok Keng bertanya dengan sikap galak dan berpura-pura tidak mengenal karena dia hendak mempermainkan pemuda tinggi besar ini.

Lie Kong Tek memberi hormat dengan kedua tangan di depan dadanya, penghormatan yang tidak dibalas oleh gadis itu, namun Kong Tek tidak peduli karena memang dia tidak mempunyai keinginan dibalas.

"Cia-siocia, tentu engkau tidak mengenal aku, akan tetapi dua hari yang lalu kita bersama ayahmu, guruku, dan para tamu kang-ouw di Pek-lian-kauw sudah melawan orang-orang Pek-lian-kauw. Namaku Lie Kong Tek."

"Ahhh, sekarang aku ingat! Engkau adalah orang yang dihajar oleh Ayah dan nyaris tewas di tangan ayahku!" Giok Keng sengaja mengemukakan hal itu karena dia menduga bahwa pemuda ini sudah cukup mendapat kesempatan untuk memamerkan jasa-jasanya ketika menolong dan membelanya.

Akan tetapi dia kecelik. Lie Kong Tek sama sekali tidak menonjolkan jasanya, bahkan dia menarik napas panjang dan berkata dengan suara serius, "Salahku sendiri, Nona. Masih untung aku tidak tewas di tangan ayahmu, karena kelancanganku mencampuri urusan orang lain."

"Tapi... engkau sudah berusaha untuk menolongku. Engkau telah melepas budi kebaikan padaku!" Giok Keng menambahi garam untuk memancing keluar isi hati pemuda itu yang dia anggap pasti akan menyatakan kagum dan sukanya dan kesiapannya untuk membela sampai mati!

Lie Kong Tek menggelengkan kepala. "Kau membikin aku malu saja, Nona Cia. Apa yang kulakukan itu tidak ada artinya sama sekali dan siapa pun yang melihat suatu peristiwa yang tidak adil, tak peduli siapa yang terkena dan siapa pula yang melihatnya, pasti akan turun tangan."

Hati Giok Keng menjadi penasaran. "Apa?! Kau maksudkan... andai kata yang terancam oleh ayahnya bukan aku, melainkan orang lain..."

"Tentu saja tidak ada bedanya, aku tetap akan mencegah seorang ayah yang bijaksana memukul anaknya sendiri."

Hati Giok Keng kecewa. "Ahh…, kukira tadinya...," kekecewaan hatinya karena jawaban pemuda itu tidak seperti yang disangkanya, terlontar melalui mulutnya.

"Kau kira bagaimana, Nona?"

"Kukira kau menolongku karena... karena kau suka padaku." Terus terang saja Giok Keng mengucapkan kata-kata ini karena ingin dia memperoleh bukti bahwa yang mendorong perbuatan pemuda itu memang demikian sehingga dia akan mendapat alasan untuk bisa mempermainkan dan menghina laki-laki yang tinggi besar dan tampan gagah ini.

Wajah Lie Kong Tek berubah merah seketika. "Nona, melakukan suatu perbuatan yang oleh umum dianggap baik menjadi sama sekali tidak baik dan palsu kalau berdasarkan rasa suka atau tidak suka!"

Giok Keng makin penasaran dan terheran-heran. Baru sekarang dia berhadapan dengan seorang laki-laki yang sama sekali tidak memperlihatkan sikap manis apa lagi menjilat kepadanya, bahkan ucapannya begitu jujur dan terus terang sehingga terdengar kasar dan tidak menggunakan basa-basi sama sekali. Akan tetapi hal ini malah membuat dia menjadi penasaran.

Kalau melihat semua laki-laki jatuh bertekuk lutut kepadanya, mengaku cinta, dia merasa muak karena sudah melihat kepalsuan mereka, terutama setelah pengalamannya dengan Bu Kong. Akan tetapi sikap pemuda ini berbeda lagi, bahkan sebaliknya dari pada sikap pemuda pada umumnya. Dia akan merasa amat penasaran dan ‘turun nilai’ kalau belum melihat pemuda ini pun bertekuk lutut menyatakan cinta kepadanya! Maka dia segera merubah siasat dan berkata,

"Aihh…, kalau tidak salah, gadis yang menjadi korban kekejian Ketua Pek-lian-kauw itu adalah tunanganmu, Saudara Lie Kong Tek?"

Lie Kong Tek mengangguk. "Memang benar demikian, dan kedatanganku bersama Suhu ke Pek-lian-kauw memang hendak mencari dia. Kami mendengar bahwa Nona Bu Li Cun, tunanganku itu diculik oleh orang Pek-lian-kauw. Sayang kami datang terlambat..."

"Kau dan gurumu tidak berhasil menolong tunanganmu, akan tetapi telah dapat menolong aku dan ayahku. Bu Li Cun itu amat cantik, engkau tentu berduka dan kehilangan sekali, Saudara Lie."

"Tentu saja, aku merasa sangat kasihan kepada Nona itu. Akan tetapi terus terang saja, tidak ada perasaan kehilangan di dalam hatiku karena selamanya pun baru satu kali aku bertemu dengan tunanganku. Andai kata yang mengalami nasib buruk seperti dia adalah seorang gadis lain, aku tetap akan merasa kasihan sekali."

Giok Keng termenung. Pemuda ini memang aneh, pikirnya. Berbeda dengan pemuda lain, bahkan sinar matanya ketika memandangnya biasa dan polos saja, tidak mengandung api gairah yang dia lihat dalam pandang mata pemuda lain. Bahkan di dalam pandang mata Kun Liong yang terang-terangan tidak mencintanya itu pun terdapat sinar kagum kalau memandang kepadanya.

Kenyataan ini membuat hatinya panas. Manusia sombong! Manusia angkuh! Kau anggap aku bukan apa-apa, ya? Tunggu saja kau, hatiku belum merasa puas kalau tidak dapat melihat engkau bertekuk lutut dan merengek mengaku cinta! Gadis ini tidak sadar betapa sesungguhnya dialah yang sombong!

Demikianlah keadaan hati dan pikiran seseorang yang tidak pernah mengenal diri sendiri, sehingga dia seakan-akan buta akan gerak-gerik lahir batinnya, tidak sadar akan watak-wataknya sendiri. Karena sifat tidak mengenal diri sendiri inilah yang dapat menimbulkan segala perbuatan yang merugikan orang lain dan diri sendiri, perbuatan yang oleh umum dianggap jahat. Tidak ada perbuatan jahat yang disadari sebagai perbuatan jahat oleh orang yang tidak pernah mengenal dirinya sendiri, semua perbuatannya itu, apa pun juga penilaian umum, tentu dianggapnya benar karena dia mempunyai alasan-alasannya yang tentu saja berdasarkan kepentingan diri pribadi.

Orang yang tidak mengenal diri sendiri sepenuhnya akan berada dalam cengkeraman si aku yang selalu mengejar kesenangan, kemudian tanpa disadarinya dikuasai oleh si aku. Sebaliknya, dengan pengenalan diri sendiri setiap saat, gerak-gerik dan segala akal bulus si aku dapat diawasi dengan jelas sehingga si aku tidak sempat lagi mengeluarkan segala siasat dan tipu muslihatnya.


Demikian pula dalam pertemuan antara Giok Keng dan Kong Tek. Pemuda itu berwatak jujur, polos dan wajar sehingga semua ucapannya tidak mengandung maksud lain. Tidak demikian dengan Giok Keng yang merasa dirinya sebagai seorang gadis cantik, lihai, apa lagi puteri Ketua Cin-ling-pai sehingga dari pengalaman yang sudah-sudah timbullah rasa tinggi hati dan keyakinan bahwa semua laki-laki pasti akan bertekuk lutut dan jatuh cinta kepadanya!

"Nona Cia, sudah dua hari aku mencari-carimu!"

Timbul harapan di hati Giok Keng dan matanya bersinar tajam memandang penuh selidik. "Ada perlu apakah engkau mencari-cariku selama dua hari ini?"

"Hanya untuk membuktikan bahwa engkau berada dalam keadaan selamat dan baik-baik saja, Nona. Ayahmu juga mencari-carimu dan aku diperintah oleh Suhu untuk membantu mencarimu. Sekarang Nona hendak pergi ke manakah?"

"Hendak kembali ke Pek-lian-kauw, aku hendak memberi hajaran kepada para penjahat Pek-lian-kauw."

"Aih! Nona tidak mengerti apa yang telah terjadi di situ. Bahkan Suhu dan ayahmu sendiri terpaksa harus melarikan diri. Pek-lian-kauw amat kuat, selain ketuanya memiliki keahlian dalam ilmu sihir yang hanya dapat dilawan oleh Suhu, juga mereka berjumlah banyak dan mempunyai sahabat-sahabat orang pandai."

Giok Keng terkejut. Ayahnya sampai melarikan diri?

"Di manakah Ayah sekarang?"

"Beliau juga pergi berpisah dari kami, katanya hendak menyusul dan mencarimu, Nona."

"Kalau begitu, aku harus cepat kembali ke Cin-ling-san. Sudah terlampau lama aku pergi meninggalkan Ibu, tentu dia akan merasa khawatir sekali." Teringat akan ibunya, hati Giok Keng berduka bukan main karena terbayang ketika dulu dia cekcok dengan ayahnya dan diusir ayahnya yang kemudian ternyata bahwa ayahnyalah yang benar mengenai pribadi Liong Bu Kong.

Teringat betapa demi Liong Bu Kong dia sampai minggat dari Cin-ling-san, menyakiti hati ayah bundanya, dia menjadi makin gemas kepada Liong Bu Kong dan andai kata dia tidak pasti benar bahwa Bu Kong telah tewas di tangan Yo Bi Kiok, tentu dia akan mencari dan membunuhnya! Kematian Liong Bu Kong bukan di tangannya membuat hatinya belum puas dan timbullah keinginannya untuk mempermainkan hati dan cinta kasih kaum pria! Ada pun yang dianggapnya sebagai calon korban pertama adalah Lie Kong Tek inilah.

"Kalau Nona tidak berkeberatan, mari kita melakukan perjalanan bersama," tiba-tiba Kong Tek berkata.

Bagi pemuda ini, keadaannya juga serba sulit. Gurunya menyuruh dia mencari Giok Keng dan menyatakan cinta kasihnya! Akan tetapi, bagaimana dia dapat menyatakan perasaan hati itu kalau dia sendiri tidak yakin benar karena tidak tahu apakah benar dia mencinta gadis ini? Tentu saja dia tidak akan mau berlaku lancang seperti itu, apa lagi karena dia pun maklum bahwa tidaklah pantas bagi dia untuk berjodoh dengan seorang dara seperti puteri Ketua Cin-ling-pai ini.

Mulut yang bentuknya amat manis itu terhias senyum mengejek. Hemm, pikir Giok Keng, betapa pun angkuh hatimu, tetapi belum apa-apa engkau sudah ingin menemaniku dalam perjalanan.

"Ehh? Engkau ingin melakukan perjalanan bersamaku, Saudara Lie? Mengapakah?"

Lie Kong Tek agak sulit menjawab, lalu menggerakkan pundak dan merentangkan kedua lengannya. "Mengapa? Tidak ada apa-apa, Nona. Hanya karena aku sudah berpisah dari Suhu dan hidup sebatang kara, tidak memiliki tujuan tetap, sedangkan kau pun sendirian pula, bukankah lebih baik dan lebih kuat kalau kita melakukan perjalanan bersama? Aku pun ingin berkunjung ke Cin-ling-san, bertemu dengan ayahmu yang amat bijaksana dan tinggi ilmu kepandaiannya itu."

Senyum di bibir Giok Keng semakin melebar. Hemmm, alasan yang dicari-cari, pikirnya. "Baiklah," katanya kemudian dan hatinya girang karena dia ingin sekali melihat laki-laki ini pun jatuh cinta kepadanya untuk kemudian dia patahkan hati dan kasihnya seperti yang ingin dia lakukan terhadap semua laki-laki sebagai pembalasan sakit hatinya kepada Bu Kong!

Demikianlah, kedua orang muda itu melakukan perjalanan bersama, akan tetapi tak lama kemudian tiba-tiba tampak dua orang meloncat keluar dari semak-semak lantas berdiri di hadapan mereka. Seorang pemuda tampan yang tertawa-tawa menyeringai dan seorang wanita cantik yang berwajah dingin dan tidak pedulian.

Melihat dua orang ini, Lie Kong Tek terkejut karena dia tadi sudah melihat kelihaian dua orang itu pada saat datang membantu Pek-lian-kauw, kemudian mereka berdua pergi lari berkejar-kejaran.

Akan tetapi Giok Keng tidak mengenal mereka. Biar pun Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In pernah datang ke Pek-lian-kauw, akan tetapi karena pada waktu itu ingatan Giok Keng hilang akibat obat perampas ingatan, maka dia tidak mengenal dua orang ini. Sebaliknya, Ouwyang Bouw dan Lauw Kim In mengenal gadis cantik ini yang tadinya hendak menikah dengan Liong Bu Kong di Pek-lian-kauw.

"He-he-heh, inilah pengantin wanita yang kabur!" Ouwyang Bouw berkata sambil tertawa.

Muka Giok Keng menjadi merah sekali sehingga dalam pandang mata Ouwyang Bouw dia tampak makin cantik. "Siapakah kalian? Perlu apa menghadang di jalan?" Giok Keng membentak.

"Ha-ha-ha, puteri Ketua Cin-ling-pai memang angkuh! Aku bernama Ouwyang Bouw dan dia ini isteriku."

Mendengar nama ini, berubah wajah Giok Keng. Tentu saja dia pernah mendengar nama Ouwyang Bouw, pemuda iblis putera mendiang Ban-tok Coa-ong Ouwyang Kok! Tahulah bahwa dia berhadapan dengan musuh besar, karena ayah pemuda ini tewas di tangan ayahnya!

"Bagus, manusia iblis! Nah, cabut pedangmu, mau tunggu apa lagi?!" Bentaknya sambil menghunus pedangnya, siap untuk bertanding mati-matian karena dia sudah mendengar betapa lihainya pemuda ini.

"Ho-ho-ha-ha! Biar pun ayahmu adalah musuh besarku, akan tetapi karena engkau calon isteri Liong Bu Kong, kita adalah kawan-kawan satu golongan. Jangan galak-galak, Nona manis. Mana suamimu, Liong Bu Kong?"

"Dia sudah mampus! Dan kau akan segera menyusulnya ke neraka jahanam!" Giok Keng membentak.

"Wah-wah... sudah mampus? Bukan main! Suami baru saja mati sudah mempunyai pacar lain lagi yang muda dan ganteng! Eh, Isteriku, anak Ketua Cin-ling-pai ini pintar juga, ya? Pintar dan cantik jelita! Juga pacarnya itu gagah dan ganteng sekali! Bagaimana jika kita manfaatkan mereka sebagai selingan kita?"

Lauw Kim In hanya cemberut saja, tidak menjawab, pandang matanya kosong dan sayu karena tingkah laku dan ucapan suaminya itu merupakan pisau beracun yang menyayat-nyayat hatinya.

"Ouwyang Bouw, bersiaplah untuk mampus!" kembali Giok Keng membentak. Sebagai seorang pendekar, dia tidak sudi menyerang lawan yang tidak siap sama sekali.

"He-heh-heh, makin galak makin manis! Cia Giok Keng, buat apa bertanding? Lebih baik bercinta! Mari kita bertukar pasangan!"

Giok Keng benar-benar tidak mengerti semua ucapan orang gila itu, maka tanpa disadari lagi dia bertanya, "Apa... maksudmu...?"

"Ha-ha-ha, baru pengantin baru, masa tidak tahu? Kita bertukar pasangan, bertukar pacar untuk malam ini, kau tidur bersama aku dan biar pacarmu itu meniduri isteriku!"

"Iblis laknat bermulut busuk!" sekarang Giok Keng tahu akan maksud yang kotor itu, maka kemarahan yang bertumpuk-tumpuk membuat dia tidak dapat menahan hatinya lagi dan serta merta dia mengirim serangan kilat kepada Ouwyang Bouw.

"Heiiitttt... ahhh...!" Ouwyang Bouw terpaksa harus menjatuhkan dirinya ke belakang dan bergulingan sampai jauh, terus melompat sambil mencabut pedang ularnya karena dara ini mendapat kenyataan betapa hebat dan berbahayanya serangan Cia Giok Keng tadi.

Biar pun otaknya miring, akan tetapi Ouwyang Bouw adalah seorang yang berkepandaian tinggi dan memiliki kecerdikan luar biasa, maka dia cepat menyambut serangan gadis itu dengan sungguh-sungguh, bahkan langsung membalas dengan serangan pedang ularnya yang amat dahsyat.

Sementara itu, Lie Kong Tek yang melihat betapa Giok Keng sudah bertanding dengan Ouwyang Bouw, juga langsung mencabut pedangnya. Dia melihat betapa wanita teman Ouwyang Bouw yang dikatakan isterinya itu hanya berdiri diam, menonton dengan wajah dingin dan sikap tidak peduli, maka dia pun segera menerjang dan membantu Giok Keng mengeroyok Ouwyang Bouw.

Sesudah melihat gerakan pemuda tinggi besar ini, tahulah Ouwyang Bouw bahwa tingkat kepandaian pemuda itu masih jauh kalau dibandingkan dengan dia atau Giok Keng, maka ketika dia menggerakkan pedang ularnya menangkis pedang Giok Keng, kakinya yang kiri meluncur ke depan menangkis sambaran pedang Lie Kong Tek dan kaki kanannya cepat sekali menendang dan mengenai dada Kong Tek yang sama sekali tidak menduga-duga akan serangan balasan yang demikian aneh dan cepatnya itu.

"Desss...!"

Tubuh tinggi besar itu terjengkang dan terguling-guling. Akan tetapi dia bangkit kembali, menggeleng-geleng kepala dan menggoyangnya untuk mengusir kepeningan, kemudian dia maju lagi dengan penuh semangat.

"Isteriku, cepat kau tundukkan yang laki-laki itu! Lihat betapa gagahnya dia, tentu hebat pula sepak terjangnya dalam bercinta. Kau tangkap dia, biar kutangkap yang perempuan!" Ouwyang Bouw berteriak kepada Lauw Kim In, akan tetapi Kim In diam saja seperti arca menonton pertandingan yang amat hebat itu.

"Kalau begitu, terpaksa aku merobohkan laki-laki pengganggu ini dahulu!" Ouwyang Bouw bersungut-sungut, marah melihat isterinya diam saja tidak mau membantu.

"Lie-twako, awas...!" Giok Keng berteriak ketika melihat menyambarnya sinar merah yang lembut.

Tapi terlambat. Jarum merah yang hanya sebatang dan amat kecil itu menyambar cepat sekali, tepat mengenai paha Kong Tek hingga pemuda itu mengeluarkan suara gerengan, berusaha untuk mempertahankan rasa nyeri dan menyerang lagi, akan tetapi dia roboh terguling. Kakinya lumpuh seketika karena racun jarum itu sudah bekerja.

Kini teringatlah Giok Keng bahwa yang melukainya dengan jarum merah ketika dia dan Kun Liong dikeroyok adalah orang ini pula, maklum betapa berbahayanya jarum merah beracun itu. Maka dia menjadi cemas dan pada saat itu, ketika dia melirik untuk melihat Kong Tek, kakinya kena disabet oleh kaki Ouwyang Bouw sehingga dia jatuh terguling.

"Brettt...!" sebagian bajunya terobek oleh tangan Ouwyang Bouw.

"Ha-ha-ha-ha, pengantin wanita, ternyata akulah yang menjadi pengantin prianya, ha-ha, untungku!" Dan dia maju menubruk.

"Mampuslah!" Giok Keng yang tadi rebah miring, tiba-tiba menusukkan pedangnya.

Akan tetapi betapa kagetnya ketika dia melihat pergelangan tangannya yang memegang pedang telah ditangkap oleh tangan kiri Ouwyang Bouw yang sudah bersiap menghadapi serangan ini, kemudian pundaknya ditotok dan lemaslah rasa tubuhnya!

Dengan mata terbelalak Giok Keng melihat betapa sambil tertawa-tawa Ouwyang Bouw mulai menanggalkan pakaiannya sendiri sambil berkata pada wanita yang diaku sebagai isterinya tadi. "Isteriku, lekas kau ajak pemuda itu, walau pun dia terluka pahanya akan tetapi tentu masih mampu! Atau kau lebih senang menonton aku main-main dengan puteri Cin-ling-pai ini? Ha-ha-ha!"

Giok Keng hampir pingsan melihat Ouwyang Bouw bertelanjang bulat dan mendekatinya. Dia cepat memejamkan matanya sambil mengerahkan seluruh sinkang. Dia pernah diajari oleh ayahnya suatu cara untuk menggunakan tenaga mukjijat dari sinkang istimewa yang menurut ayahnya merupakan ciptaan mendiang Tiong Pek Hosiang untuk membebaskan totokan dalam waktu yang tidak terlalu lama.

"Manusia iblis!" Tiba-tiba dia mendengar bentakan Kong Tek, disusul sambaran angin dan tahulah dia bahwa walau pun pahanya terluka, Kong Tek sudah memaksa diri menubruk maju menyerang Ouwyang Bouw.

Akan tetapi dia tidak membuka matanya dan tetap mengerahkan sinkang seperti yang diajarkan oleh ayahnya. Menurut ayahnya, dia kurang berbakat untuk mempelajari Thi-khi I-beng dan sebagai gantinya, ayahnya lalu menurunkan ilmu membebaskan totokan jalan darah ini. Hanya saja, ilmu ini hanya dapat digunakan untuk membebaskan totokan jalan darah yang tidak berbahaya. Untung baginya, Ouwyang Bouw yang tidak ingin dia sama sekali lemas tak berdaya, hanya menotok jalan darah biasa sehingga, biar pun dia tidak mampu menggerakkan kaki tangan, namun tidak seluruh tubuhnya lumpuh.

"Dessss...! Brukkk...!" Tubuh Lie Kong Tek terbanting keras.

"Ha-ha-ha, aku tak akan membunuhmu agar jika isteriku mau, dia bisa menggunakanmu. Kalau dia tidak mau pun, kau harus menyaksikan sendiri betapa aku meniduri kekasihmu yang cantik ini, ha-ha-ha!"

"Manusia iblis! Terkutuk kau...!" Kong Tek memaki-maki akan tetapi tak mampu bergerak lagi karena dia pun sudah ditotok punggungnya, membuat kedua kakinya lumpuh. Dan Lauw Kim In masih diam saja, hanya meraba pedangnya.

"Ha-ha-ha, kini tibalah saatnya aku membalas kematian ayahku. Tentu roh ayahku akan tertawa bahagia menyaksikan betapa anaknya dapat menggagahi puteri musuh besarnya. Hemmm, kau cantik, Giok Keng, cantik sekali, hemmm...!"

Giok Keng tetap memejamkan matanya dan mematikan rasa pada waktu Ouwyang Bouw menciuminya dan menggerayang tubuhnya. Ketika jari-jari tangan Ouwyang Bouw mulai membuka pakaiannya hendak menanggalkan pakaian itu, totokan itu pun sudah dapat dia punahkan dan tubuhnya sudah dapat bergerak lagi!

"Hyaaattttt...!"

"Croottttt...! Aduuuhhh...!"

Tubuh Ouwyang Bouw mencelat jauh ke belakang, kedua tangannya menutupi mukanya yang berlumuran darah. Serangan jari-jari tangan Giok Keng pada kedua matanya tadi, walau pun sudah dia elakkan sedapatnya, tetap saja masih mengenal mata kirinya yang hancur bola matanya, seketika membuatnya buta sebelah dan rasa nyeri membuat dia menggerung-gerung.

Mendadak terjadilah hal yang membuat Giok Keng dan Kong Tek memandang terbelalak. Lauw Kim In, yang sejak tadi berdiri diam saja seperti patung, tiba-tiba sudah mencabut pedangnya dan sekarang dari samping dia menghampiri suaminya, lengan kiri memeluk suaminya seperti hendak menolong, akan tetapi tangan kanannya lantas menggerakkan pedangnya menusuk ke arah lambung.

"Crepppp...!" Pedang itu menembus lambung dari kanan ke kiri.

Tubuh Ouwyang Bouw seperti menegang, dia membalik dan matanya yang tinggal satu, terbelalak memandang isterinya, mulutnya berteriak, "Kau...?! Kau...?!"

Kemudian terdengar suara gerengan seperti seekor serigala dan tahu-tahu kedua tangan Ouwyang Bouw sudah menerkam ke depan, mencengkeram ke arah dada Lauw Kim In yang tidak dapat mengelak lagi karena wanita itu langsung tersenyum lebar dan wajahnya berseri-seri ketika melihat betapa pedangnya berhasil menembus lambung orang yang amat dibencinya itu.

"Auuggghhhh...!" Lauw Kim In menjerit mengerikan karena sepasang buah dadanya telah dicengkeram sedemikian rupa sampai hancur dan darahnya muncrat keluar, berbarengan dengan darah yang mengucur dari kedua lambung kanan kiri Ouwyang Bouw.

Giok Keng terkejut, meloncat ke depan, pedangnya berkelebat dan tubuh Ouwyang Bouw terpelanting, tubuh yang tidak memiliki lengan lagi karena kedua lengannya telah buntung oleh pedang Giok Keng akan tetapi kedua lengan itu kini bergantungan di dada Lauw Kim In karena kedua tangannya masih mencengkeram dada!

Lauw Kim In juga terhuyung lalu terguling roboh. Bibirnya bergerak-gerak ketika matanya memandang Giok Keng. Gadis ini cepat menghampiri lantas berjongkok, mendengarkan kata-kata yang menjadi pesan terakhir itu.

"Katakan... kepada Yap Kun Liong... Mawar Go-bi... di saat terakhir... mempertahankan nilainya...!" Dan matilah Lauw Kim In dalam keadaan yang amat mengerikan sebab kedua lengan yang buntung itu masih tetap menggantung pada dadanya, sedangkan Ouwyang Bouw tewas dengan pedang menembus lambung.

Giok Keng mengeluh, bergidik dan menutupi muka dengan kedua tangannya. Ngeri dia membayangkan bahaya yang mengancamnya tadi, bahaya yang amat mengerikan dan amat hebat. Kemudian dia teringat kepada Kong Tek lalu dibukanya kedua tangannya dari depan mukanya.

Dia bangkit berdiri, memandang ke arah pemuda itu. Dilihatnya Kong Tek rebah miring, tak mampu bergerak karena di samping luka pada pahanya, juga punggungnya tertotok. Pemuda itu memandang kepadanya, akan tetapi tidak mengeluarkan kata-kata sepatah pun. Mengeluh pun tidak. Dengan perlahan Giok Keng menghampirinya.

"Aku girang dan bersyukur melihat engkau selamat, Nona," kata Kong Tek.

"Kau merasa telah menolongku lagi?"

Giok Keng bertanya sambil menggunakan tangannya untuk membebaskan totokan yang membuat pemuda itu tidak mampu menggerakkan kedua kakinya.

Kong Tek menarik napas panjang. "Hasrat hati ingin menolong melihat engkau terancam bahaya, namun kenyataannya aku hanya menimbulkan gangguan saja untukmu, karena kepandaianku yang amat rendah. Betapa pun, aku girang melihat engkau selamat."

Sesudah kembali dapat menggerakkan kedua kakinya, dengan terpincang-pincang Kong Tek menyeret kakinya yang terkena jarum, lalu berjalan menghampiri mayat Lauw Kim In dan Ouwyang Bouw, dan mulailah dia menggali tanah dengan pedangnya.

"Ehh, apa yang kau lakukan itu?" Giok Keng bertanya.

Tanpa menghentikan pekerjaannya dia menjawab, "Menggali lubang untuk mengubur dua mayat ini..."

Giok Keng cemberut. "Aaaahhh! Perlu apa? Mereka adalah manusia-manusia jahat yang berwatak iblis, terutama Ouwyang Bouw itu!"

"Mungkin, akan tetapi kini aku melihatnya sebagai mayat dua orang yang tidak mungkin kubiarkan tersia-sia dan membusuk begitu saja tanpa dikubur, Nona."

Giok Keng diam saja, lalu duduk di atas batu dan menonton pemuda itu bekerja dengan susah payah karena paha kirinya terluka. Tentu saja dia juga mengerti akan kebenaran pendapat pemuda itu.

Tidak percuma dia menjadi puteri Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang terkenal berwatak budiman. Akan tetapi dia mewarisi watak keras dari ibunya dan kini kebaikan Kong Tek itu dianggapnya sebagai suatu aksi untuk menarik perhatiannya! Maka dia diam saja tidak membantu. Betapa pun juga, melihat pemuda itu bekerja dengan amat susah payah, dan satu kali pun tidak pernah menengok atau melirik ke arahnya, Giok Keng merasa tidak enak hatinya.

Benarkah pendapatnya bahwa pemuda itu bersikap baik hanya untuk menarik perhatian dirinya? Bagaimana kalau tidak? Pemuda itu tidak pernah melirik ke arahnya, tidak seperti orang yang sedang berlagak minta dipuji.

Akhirnya Giok Keng merasa betapa tidak enaknya duduk diam seperti itu menonton orang yang susah payah bekerja. Bagaimana pun juga, pemuda itu tadi telah bersusah payah membelanya, bahkan telah menderita luka yang sangat berbahaya. Dan dia teringat pula betapa wanita yang tewas itu pun sudah membantunya, karena meski pun mata sebelah Ouwyang Bouw sudah terluka, agaknya tidaklah akan mudah merobohkan manusia iblis itu.

Tanpa berkata-kata lagi Giok Keng turun dari batu yang didudukinya, lalu menghampiri Kong Tek dan membantunya menggali tanah. Pemuda itu pun tidak berkata apa-apa dan keduanya lalu bekerja keras sampai akhirnya tergali sebuah lubang yang cukup lebar dan dalam.

"Biarlah aku yang mengubur mereka, Nona," kata Kong Tek. Sambil terpincang-pincang dia lalu menyeret dua mayat itu ke dalam lubang, kemudian menguruknya dengan tanah kembali.

Setelah selesai, keduanya menyeka peluh dengan sapu tangan, dan Giok Keng berkata, "Hari sudah hampir senja, kita lanjutkan perjalanan."

Kong Tek mengangguk, akan tetapi ketika mereka berdua baru saja melangkah beberapa tindak, Kong Tek terguling dan tanpa mengeluh dia roboh pingsan! Pada saat dia siuman kembali karena mukanya dibasahi air oleh Giok Keng, Kong Tek membuka matanya dan melihat betapa gadis itu sedang memeriksa luka pada pahanya dengan merobek sedikit celananya di bagian yang terluka itu, di atas lutut kiri. Luka itu merah dan agak kebiruan, membengkak besar.

"Ahhh, engkau telah terluka oleh jarum beracun yang amat berbahaya, Lie-toako. Aku pun pernah terluka oleh jarum-jarum yang dilepas oleh Ouwyang Bouw dan kalau tidak ada pertolongan Kun Liong, tentulah aku sudah mati. Engkau terluka dan masih mengerahkan tenaga untuk menyerangnya, kemudian malah menggali tanah, lukamu menjadi semakin hebat dan racun itu tentu menjalar makin luas."

Kong Tek menarik napas panjang.

"Nona, aku hanya membikin repot saja kepadamu. Aku sudah terluka dan tidak mampu berjalan, maka silakan Nona melanjutkan perjalanan. Kalau umurku masih panjang, kelak aku menyusul ke Cin-ling-pai."

Giok Keng bangkit berdiri. Orang ini benar-benar angkuh bukan main! Semenjak terluka, mengeluh sedikit pun tidak, minta tolong satu kali pun tidak. Apakah semua ini termasuk aksinya supaya dikagumi? Apakah menyuruh dia pergi sendiri dan meninggalkan dia yang terluka parah itu termasuk lagaknya supaya dianggap sebagai seorang gagah sejati? Dia akan mencobanya!

"Begitukah kehendakmu, Toako? Aku melanjutkan sendiri perjalananku dan meninggalkan engkau di sini?"

Kong Tek mengangguk. "Lukaku parah, aku akan mengusahakan sendiri pengobatannya."

"Kalau tidak berhasil?"

Kong Tek tersenyum. "Paling hebat mati!"

"Dan kau tidak ingin aku membantumu?"

"Apakah yang dapat engkau lakukan, Nona? Engkau hanya akan ikut repot dan sengsara, dan... dan andai kata aku tidak tertolong lagi dan mati, aku tidak ingin engkau berada di sini."

"Ehh! Mengapa?"

Kong Tek tak dapat menjawab, ketika didesak dia menjawab, "Tidak apa-apa…"

"Hemm, kalau begitu baiklah. Selamat tinggal, Lie-toako."

"Selamat jalan, harap Nona hati-hati di dalam perjalanan."

Giok Keng berjalan pergi dengan amat cepat, beberapa kali dia menengok akan tetapi dia melihat betapa pemuda itu sama sekali tidak memandang kepadanya, hanya memeriksa luka di pahanya dengan kaku dan canggung. Setelah melalui sebuah tikungan, Giok Keng menyelinap di antara pohon-pohon dan kembali ke tempat itu, mengintai dari balik pohon.

Penasaran juga hatinya ketika mendapat kenyataan bahwa pemuda itu sama sekali tidak pernah menengok ke arah dia pergi. Satu kali pun tidak pernah! Benar-benar tidak peduli sama sekali! Jangankan tergila-gila padanya pemuda ini melirik pun tidak pernah! Apakah daya tariknya terhadap pria sudah pudar? Ataukah pemuda ini yang berhati sekeras baja dan dingin seperti es membeku? Hemm, ingin kulihat kalau dia berhutang budi dan nyawa kepadaku!

Giok Keng kembali ke tempat itu membawa daun lebar dibentuk corong berisi air bersih. "Mari kurawat lukamu itu…"

Kong Tek mengangkat mukanya. "Ahh... kau belum pergi, Nona?"

Giok Keng tidak mau menjawab melainkan duduk bersimpuh dekat pemuda itu, merobek kain celana pada luka itu lebih lebar, kemudian menggunakan kain bersih untuk mencuci darah menghitam dari atas luka itu. Setelah tercuci, tampaklah jarum merah itu terbenam di dalam daging, jauh di bawah kulit.

Giok Keng melihat tarikan pada dagu pemuda itu. "Sakitkah?"

"Tidak seberapa, Nona," jawab Kong Tek dan diam-diam Giok Keng merasa kagum juga. Pemuda ini memang luar biasa, kuat menderita bukan main dan sedikit pun tidak memiliki sifat cengeng.

"Aku pernah menderita luka karena jarum ini. Racunnya hebat, dapat mematikan. Ketika aku diobati oleh Kun Liong, jarum-jarum di tubuhku dikeluarkan dahulu, kemudian semua darah yang berada di sekitar luka harus dikeluarkan. Kalau tidak, amat berbahaya karena begitu racun jarum ini naik sampai ke jantung, tidak dapat disembuhkan lagi."

"Memang pantas kalau orang macam Ouwyang Bouw menggunakan jarum beracun sekeji itu!" hanya ini saja komentar Kong Tek.

"Aku harus mengeluarkan jarum itu. Ketika Kun Liong... eh, suheng-ku itu mengeluarkan jarum dari lukaku, dia mempergunakan sinkang yang amat kuat, menyedot jarum-jarum itu sampai keluar dengan kekuatan sinkang dari telapak tangannya saja. Akan tetapi tidak mungkin aku dapat melakukan itu. Aku akan menggunakan ujung pedang untuk merobek sedikit daging di luka itu, mengeluarkan jarumnya. Akan tetapi tentu amat nyeri..."

"Nyeri dapat kupertahankan, akan tetapi apakah engkau tak merasa ngeri, Nona? Biarlah aku yang membedahnya sendiri."

"Pertahankanlah!" Giok Keng mencabut pedangnya, mencuci ujung pedang itu, kemudian dia merobek kulit di luka itu, terus hingga ke dalam daging. Dia melihat Kong Tek hanya menggerakkan sedikit pelupuk matanya ketika ujung pedang itu mencokel keluar jarum merah dan darah kehitaman langsung keluar dari luka yang agak lebar itu.

"Darah itu harus dikeluarkan semua sampai keluar darah merah, Toako. Caranya harus disedot..."

Giok Keng maklum bahwa kalau hal itu tidak segera dilakukan, nyawa pemuda ini takkan tertolong lagi. Biar pun luka itu hanya disebabkan sebatang jarum, namun racun itu sudah menjalar lebih dari sejengkal di seputar luka! Pemuda ini sudah berkali-kali membelanya dengan taruhan nyawa, bahkan luka ini pun hasil membela dirinya, maka dia sendiri akan tersiksa batinnya untuk selamanya bila sampai dia membiarkan pemuda ini mati, padahal dia dapat menolongnya.

Dengan mengeraskan hatinya dia berkata, "Aku akan menyedotnya bersih seperti yang dilakukan Yap-suheng kepadaku kemarin dulu."

"Jangan, Nona...!" Kong Tek sudah memegang pundak Giok Keng dan menahan gadis itu yang sudah hendak menunduk untuk menyedot luka itu dengan mulutnya. "Jangan! Lebih baik aku mati saja dari pada membiarkan engkau melakukan hal itu! Harap engkau jangan merendahkan diri seperti itu. Aku dapat menyedotnya sendiri. Lihat!"

Meski pun dengan susah payah mengangkat-angkat kakinya yang luka dan menundukkan kepalanya sampai dalam sekali, ternyata mulut Kong Tek berhasil juga mencapai luka di atas lutut itu dan dia menyedot, meludahkan darah hitam, menyedot lagi sampai tubuhnya menggigil dan mukanya pucat, napasnya agak terengah.

Giok Keng memandang dan membantu, mengurut jalan darah di paha supaya darahnya terkumpul di luka. Setelah melihat pemuda itu meludahkan darah merah, dia pun berseru girang, "Cukup, Toako! Kau tertolong sudah!"

Kong Tek yang kehabisan tenaga langsung menjatuhkan dirinya terlentang, rebah di atas tanah. "Berkat pertolonganmu, Nona," katanya terengah.

Giok Keng tidak menjawab, mengambil obat luka yang selalu ada padanya, mengobati luka itu dengan sapu tangannya yang bersih. Dan dua jam kemudian, sungguh pun agak terpincang-pincang, Kong Tek sudah dapat melanjutkan perjalanan di sampingnya.

Diam-diam hati gadis ini makin kagum. Memang kuat sekali pemuda ini. Kuat tubuhnya, kuat daya tahannya, dan kuat pula hatinya. Akan tetapi hal terakhir ini makin membuat dia penasaran karena biar pun dia sudah memperlihatkan sikap menolong, bahkan hendak menyedot luka, pemuda itu tetap saja biasa, sama sekali tak memperlihatkan sikap manis atau bermuka-muka, seakan-akan pemuda itu bukan melakukan perjalanan di samping seorang dara yang cantik jelita, yang sudah banyak membuat laki-laki bertekuk lutut dan tergila-gila melainkan agaknya seperti melakukan perjalanan dengan seorang teman biasa saja yang tak ada keistimewaannya apa pun juga! Hatinya kagum bercampur mendongkol karena baru satu kali ini dia merasa tidak dipedulikan oleh seorang pria…..

********************

"Lama Jubah Merah di Tibet? Jahanam benar berani menantangku!" Pendekar Cia Keng Hong mengepal tinjunya ketika dia mendengar penuturan isterinya yang berwajah pucat mengenai diculiknya puteranya oleh dua orang pendeta Lama yang bernama Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, tokoh-tokoh Perkumpulan Agama Lama Jubah Merah di Tibet.

Wajah pendekar ini sebentar merah sebentar pucat dan kemarahan memenuhi dadanya. "Aku akan segera mengejar ke sana!"

"Tenanglah dulu, urusan ini harus kita pertimbangkan baik-baik, selain mereka itu sangat lihai, jelas bahwa mereka itu tidak menghendaki permusuhan dengan kita, juga mereka tak mengganggu Houw-ji. Hal ini aku percaya benar. Yang mereka kehendaki adalah Kun Liong, entah ada urusan apa mereka dengan Kun Liong. Kalau kita langsung menyerbu ke sana, bukankah hal itu malah membahayakan keselamatan Houw-ji? Pada waktu aku melawan mereka dan melihat Bun Houw berada di dalam kekuasaan mereka, aku tidak berdaya dan terpaksa menyerah. Kalau kita tiba di sana dan melihat mereka mengancam anak kita, apa yang dapat kita lakukan? Sebaiknya kalau kita mencari Kun Liong dahulu dan menanyakan urusan apa yang terjadi antara dia dan mereka. Mungkin dia seoranglah yang akan dapat menolong anak kita dan suka bersama kita ke Tibet."

Dengan panjang lebar Biauw Eng kemudian menceritakan semua peristiwa yang terjadi sepekan yang lalu kepada suaminya yang baru saja tiba ini, didengarkan oleh Keng Hong dengan muka keruh dan sering kali menggeleng kepala dan mengepal tinju.....


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner