PETUALANG ASMARA : JILID-63


Demikian halnya dengan para pimpinan Pek-lian-kauw. Demi mengejar cita-cita mereka, cita-cita pribadi yang diselimuti dengan sebutan cita-cita rakyat, bangsa, dan sebagainya, maka terjadilah permainan-permainan kotor. Nama rakyat dicatut, nama negara, bangsa, agama, bahkan kadang-kadang nama Tuhan pun dipergunakan orang tanpa segan-segan lagi, semua demi mencapai cita-citanya.

Tentu ada yang membantah bahwa cita-cita tidak selamanya buruk, banyak pula terdapat cita-cita yang baik. Baik mau pun buruk tetap saja cita-cita, tetap berupa keinginan yang disusul dengan pengejaran dan di dalam pengejarannya inilah terjadi penyelewengan dan kekerasan hingga terjadilah bentrokan dan pertentangan. Karena cita-cita menghidupkan dan membesarkan si ‘aku’ dan penonjolan si ‘aku’ dan si ‘kamu’ tentu saja memperbesar pula bentrokan-bentrokan. Yang baik bagi aku belum tentu baik bagi kamu, dan demikian sebaliknya.

Mengapa pula kita dibius oleh cita-cita dan keinginan mendapatkan sesuatu yang belum ada? Mengapa kita menujukan mata kita jauh ke depan, ke masa depan yang abstrak? Mengapa kita tidak menghayati hidup pada saat ini?

Hidup pada saat ini berarti menujukan seluruh perhatian kepada saat ini, saat demi saat tanpa diganggu oleh bayangan masa depan yang menyesatkan. Apa bila kita melakukan segala sesuatu di saat ini dengan kasih di hati, apakah perlunya kita bercita-cita? Kalau kita memperhatikan setiap dari langkah-langkah hidup kita, segala akan tampak oleh kita, sebaliknya jika mata kita ditujukan jauh ke depan, banyak bahayanya kaki kita yang akan tersandung. Apa perlunya kita memandang ‘sana’ yang bukan lain hanyalah kelanjutan dari ‘sini’? Mengapa kita menginginkan yang ‘begitu’ dan tidak menghayati yang ‘begini’? Yang ‘begitu’ adalah khayal, sedangkan yang ‘begini’, saat ini, barulah nyata dan hidup!


Karena sudah begitu sering bertemu dengan orang-orang Pek-lian-kauw yang melakukan banyak kejahatan, dan yang terakhir sekali di sarang Pek-lian-kauw yang menggunakan kekejian hendak mengawinkan Cia Giok Keng, maka Kun Liong tidak mau memberi hati lagi.

"Kalian orang-orang jahat!" bentaknya.

Bentakan ini disusul dengan berkelebatnya bayangan tubuh Kun Liong yang menyambar-nyambar seperti halilintar. Tujuh orang Pek-lian-kauw yang mengepungnya menjadi amat terkejut. Pandang mata mereka menjadi kabur dan sebelum mereka dapat melihat jelas karena tubuh pemuda itu seakan-akan sudah berubah menjadi banyak, tahu-tahu senjata mereka terlepas dari tangan dan lengan mereka terasa nyeri dan lumpuh.

Mereka berteriak kaget, meloncat mundur tanpa senjata lagi. Akan tetapi Kun Liong sudah menerjang ke depan dan satu demi satu tujuh orang itu terlempar ke kanan kiri sambil menjerit kesakitan, ada yang patah tulang lengannya, patah tulang pundaknya, dan ada pula yang benjol-benjol kepalanya.

Dapat dibayangkan betapa kagum rasa hati Poa Su It. Pendekar Secuan yang mengamuk dengan pedangnya menghadapi pengeroyokan tiga orang Pek-lian-kauw itu baru berhasil merobohkan seorang lawan dan dia masih harus menahan desakan dua orang lagi. Akan tetapi, pemuda yang bertangan kosong itu telah merobohkan tujuh orang pengeroyoknya dalam waktu singkat!

"Pergilah...!" Kun Liong membentak, tubuhnya menerjang ke depan dan tangan kirinya sudah menangkap tongkat seorang lawan, sedangkan tangan kanan menampar pangkal lengan kanan orang ke dua sehingga goloknya terlempar, kemudian secepat kilat kakinya menendang dua kali dan tubuh dua orang pengeroyok Poa Su It tadi pun terlempar jauh.

Habis sudah semangat perlawanan sepuluh orang Pek-lian-kauw itu. Mereka saling bantu, bangkit dari atas tanah, membawa mayat Tok-jiauw Lo-mo kemudian pergi meninggalkan tempat itu, ada yang terbongkok-bongkok dan ada yang setengah merangkak.

"Biarkan mereka pergi," kata Kun Liong ketika melihat Poa Su It hendak mengejar.

Pendekar Secuan itu menarik napas panjang, sejenak memandang kepada Kun Liong lalu berlari menghampiri mayat suhu-nya dan menjatuhkan diri berlutut, menutupi mukanya dengan penuh duka. Sudah puluhan tahun orang tua itu menjadi gurunya dan menjadi pengganti ayahnya sendiri, maka dapatlah dimengerti betapa sedih hati Poa Su It melihat kematian gurunya itu.

Penduduk kota Mian-ning terkejut sekali mendengar akan kematian pendekar tua Secuan itu, maka berbondong-bondong mereka datang melayat. Kun Liong membantu Poa Su It mengurus penguburan jenazah jago tua Gak Liong, kemudian barulah dia berpamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat setelah dia mendengar banyak petunjuk dan keterangan dari Poa Su It mengenai perjalanan menuju ke sarang perkumpulan Agama Lama Jubah Merah…..

********************

Wajah Pek Hong Ing yang cantik jelita dan segar itu sebentar pucat sebentar merah ketika dia mendengar dari para pelayan bahwa kedua orang pendeta Lama yang sudah pergi hampir dua bulan itu, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, hari itu telah kembali ke kuil. Jantungnya berdebar keras dan bermacam pertanyaan mengaduk-aduk hatinya.

Apakah dua orang pendeta itu telah berjumpa dengan Kun Liong? Apakah sudah bertemu dengan Ketua Cin-ling-pai? Apa yang sudah terjadi? Harapan dan kecemasan membuat jantungnya berdebar-debar tegang dan dia segera lari keluar dari dalam kamarnya untuk menemui mereka.

Mereka sudah duduk di ruangan besar, bersila di atas bantalan kuning. Hun Beng Lama, Lak Beng Lama, dan Sin Beng Lama yang mendengarkan laporan mereka. Ketika mereka bertiga melihat munculnya Hong Ing, Sin Beng Lama lalu tersenyum dan berkata,

"Hong Ing, kau duduklah. Biar pun kedua orang susiok-mu belum berhasil mendatangkan Kun Liong, namun kami yakin bahwa tidak lama lagi dia akan muncul di sini."

Hong Ing tak menjawab, matanya memandang ke arah seorang anak laki-laki berusia lima tahun yang duduk di atas lantai dekat dengan Lak Beng Lama. Anak laki-laki itu tampan dan sehat, matanya tajam bersinar-sinar dan kelihatan sedang marah.

Mendengar ucapan Sin Beng Lama tadi, anak laki-laki itu segera membuka mulutnya dan berkata, suaranya nyaring dan lantang, "Kalau Suheng Yap Kun Liong datang bersama ayahku, kalian tentu akan dihajar sampai mampus!"

Tentu saja Hong Ing terkejut sekali mendengar ucapan anak itu yang menyebut Suheng (kakak seperguruan) kepada Kun Liong. Ia cepat menghampiri, memandang anak itu dan bertanya kepada Sin Beng Lama. "Susiok, siapakah anak ini dan dari mana dia datang?"

Bibir Sin Beng Lama yang bersikap lemah lembut itu tersenyum, "Dia ikut bersama kedua orang susiok-mu..."

"Aku diculik!" Anak itu berseru marah. "Pendeta-pendeta menculik anak kecil, sungguh tak tahu malu!"

Hong Ing semakin kaget dan heran, juga kagum menyaksikan sikap yang demikian tabah dari anak itu.

"Lak Beng Susiok, siapakah dia itu?" tanyanya kepada paman gurunya ke tiga yang terus menjaga anak itu.

"Dia? Ha-ha-ha, dia adalah putera Ketua Cin-ling-pai..."

"Ohh...! Ji-wi Susiok (Paman Guru Berdua) tidak memegang janji! Aku minta agar supaya Yap Kun Liong yang dibawa ke sini, mengapa malah membawa anak kecil, putera Ketua Cin-ling-pai yang tidak tahu apa-apa?"

"Siancai...! Kami sama sekali tidak melanggar janji. Kami membawa anak ini ke sini justru adalah untuk memenuhi janji kami karena hanya dengan cara inilah Yap Kun Liong dapat muncul di sini," Lak Beng Lama berkata.

"Apa maksud Susiok?"

Hun Beng Lama yang sikapnya lebih halus dibandingkan dengan Lak Beng Lama segera menjawab, "Kami tidak berhasil bertemu dengan Yap Kun Liong di Cin-ling-san, bahkan Ketua Cin-ling-pai juga tidak berada di rumahnya. Kami hanya bertemu dengan isterinya dan puteranya ini, maka terpaksa kami membawa puteranya ini ke sini dan meninggalkan pesan kepada isterinya bahwa apa bila Ketua Cin-ling-pai mengantarkan Yap Kun Liong ke sini, maka puteranya akan dikembalikan. Bukankah ini merupakan cara terbaik untuk memaksa Yap Kun Liong datang ke sini?"

Setelah mendengar penjelasan ini, wajah yang tadinya pucat itu menjadi merah kembali dan berseri gembira. Diam-diam hati Hong Ing merasa gembira sekali karena siasatnya sudah berhasil. Memang sebaiknya begini karena perbuatan dua orang pendeta Lama itu tentu akan memancing kemarahan Pendekar Sakti Cia Keng Hong, dan tentu pendekar itu bersama Kun Liong akan muncul di tempat ini! Dan kalau Kun Liong datang bersama Pendekar Sakti Cia Keng Hong, tentu ayahnya dan dia sendiri akan dapat diselamatkan.

"Ahh, maafkan saya, Ji-wi Susiok! Kiranya begitukah? Memang baik sekali dan saya amat berterima kasih kepada Ji-wi Susiok. Akan tetapi, supaya anak ini tidak rewel dan senang tinggal sementara di sini, biarlah dia tidur bersama saya."

Sin Beng Lama tersenyum. "Sebaiknya begitu. Bawalah dia ke kamarmu."

Hong Ing menghampiri anak itu yang memandang kepadanya dengan sinar mata tajam penuh curiga.

Hong Ing tersenyum manis dan menyentuh pundak Cia Bun Houw. "Mari ikutlah bersama Enci."

Tiba-tiba Bun Houw menggerakkan tangan menangkis lengan dara itu dengan sigap dan mengelak ke belakang. "Siapa kau? Kalian semua orang jahat!" bentaknya.

Hong Ing memandang kagum. Anak ini benar-benar amat tampan dan bersemangat, baru berusia lima tahun sudah memperlihatkan kegagahan dan keberaniannya.

"Jangan salah duga, Adik baik. Para Locianpwe yang membawamu ke sini bukan berniat jahat. Engkau hanya disuruh tinggal di sini hingga ayahmu datang menjemputmu. Marilah, aku Pek Hong Ing, dan aku sama sekali tidak berniat jahat kepadamu."

Melihat dara yang cantik jelita itu bersikap halus kepadanya, kecurigaan Bun Houw mulai berkurang. Dia mengangguk biar pun dia menolak ketika Hong Ing hendak menggandeng tangannya.

"Siapakah namamu, Adik yang baik?"

"Namaku Cia Bun Houw," jawabnya singkat.

"Adik Bun Houw, mari ikut bersamaku. Engkau tentu lapar. Kita makan lalu bermain dan bercakap-cakap di dalam taman. Di sini terdapat sebuah taman yang indah."

Sikap yang amat ramah dan baik dari Hong Ing menghibur juga hati anak itu dan dalam beberapa hari saja dia sudah menjadi sahabat baik Hong Ing dan menaruh kepercayaan besar terhadap dara itu. Dua pekan kemudian, ketika Hong Ing mengunjungi ayahnya di dalam kamar hukuman, dia sengaja mengajak Bun Houw.

Kamar hukuman itu amat luar biasa, tidak patut disebut kamar hukuman, karena kamar itu merupakan kamar yang lebarnya empat meter persegi dan kosong sama sekali tidak ada perabotnya sepotong pun. Di tengah-tengah kamar ini, duduk bersila seorang kakek tinggi besar yang bukan lain adalah Kok Beng Lama.

Memang luar biasa cara para Lama Jubah Merah ini. Yang merupakan belenggu hukuman hanyalah janji-janji mereka yang lebih kokoh dari pada belenggu baja. Kok Beng Lama menjalankan hukuman yang dijatuhkan padanya dengan cara bersemedhi siang malam, hanya berhenti apa bila tubuhnya membutuhkan makan saja, atau membutuhkan istirahat dan tidur. Selain terpaksa memenuhi kebutuhan jasmaninya, semua waktunya dihabiskan dengan bersemedhi!

Agaknya kakek ini telah mengambil keputusan nekat akan menghabiskan usianya dengan bersemedhi, sesudah dia memperoleh janji ketiga orang sute-nya bahwa puterinya, Pek Hong Ing, tak akan diganggu. Satu-satunya orang yang dapat menyadarkan kakek ini dari semedhinya hanyalah Hong Ing.

Setiap kali puterinya ini datang tentu dia suka untuk menghentikan semedhinya kemudian bercakap-cakap, bahkan juga menurunkan semua ilmunya kepada Hong Ing. Kalau bukan puterinya, meski siapa saja dan meski diapakan juga dia tidak akan dapat disadarkan dari semedhinya.

Sesudah membuka pintu kamar itu dengan sangat hati-hati dan melihat ayahnya sedang bersemedhi seperti biasanya, Hong Ing menuntun tangan Bun Houw dan mengajak anak itu berlutut lalu duduk bersila di depan kakek itu, dalam jarak dua meter karena mereka berdua duduk bersandar dinding di atas lantai yang mengkilap bersih, karena sering kali dibersihkan sendiri oleh Hong Ing.

Kakek itu masih duduk bersila dan memejamkan matanya. Namun pendengarannya yang sudah terlatih hebat dan sangat tajam itu dapat menangkap semua suara dan mengikuti semua gerak-gerik Hong Ing dan Bun Houw.

"Anakku, dengan siapakah engkau memasuki kamar ini dan mengapa engkau mengajak orang lain?"

Suara itu halus, akan tetapi penuh teguran. Hong Ing cepat menjawab dengan suara agak manja, "Ayah, inilah Adik Cia Bun How, putera dari Ketua Cin-ling-pai!"

"Hemm, suruh dia keluar dari kamar ini!" kakek itu membentak tanpa membuka matanya.

Bun Houw yang menyaksikan itu semua tiba-tiba berkata dengan suaranya yang bening nyaring, "Enci Hong Ing, mengapa engkau mengajak aku masuk ke tempat ini? Mana dia ayahmu? Kakek yang galak dan tua ini? Ahhh…, dia tidak patut menjadi ayahmu, Enci. Engkau begini halus dan baik, akan tetapi dia begitu galak dan jahat!"

"Hushh... diamlah!" Hong Ing menegur anak itu.

Dia teringat akan cerita Kun Liong mengenai Pendekar Sakti Cia Keng Hong, maka dia cepat berkata lagi untuk memancing perhatian ayahnya. "Ayah, dia ini adalah putera dari Pendekar Sakti Cia Keng Hong, Ketua Cin-ling-pai, murid tunggal dari mendiang Sin-jiu Kiam-ong...!"

Akan tetapi kakek itu sudah tertarik sekali pada waktu mendengar suara Bun Houw tadi, suaranya yang begitu bening dan seperti jarum-jarum menusuk telinganya, suara yang hanya dapat dimiliki seorang bocah yang cerdas dan berbakat baik sekali. Maka dia telah membuka kedua matanya memandang. Sinar kagum terpancar keluar dari matanya ketika dia memandang Bun Houw, apa lagi ketika mendengar bahwa Bun Houw adalah putera dari seorang murid mendiang Sin-jiu Kiam-ong!

Melihat sikap ayahnya, Hong Ing cepat-cepat menyambung, "Ayah, aku ingin agar Adik Bun Houw menjadi muridmu!"

"Hemmmm...!" Tiba-tiba kakek itu meluruskan lengan kanannya.

Bun Houw yang sejak tadi memandang wajah kakek itu menjadi terbelalak kaget melihat betapa lengan yang besar itu dapat mulur memanjang keluar dari lengan bajunya, terus memanjang sampai tangan itu mencengkeram punggung bajunya dan mengangkatnya ke atas lalu menariknya dekat dengan muka kakek itu!

Memang hebat sekali kepandaian Kok Beng Lama. Sinkang-nya sudah sedemikian tinggi tingkatnya sehingga dia mampu membuat lengannya mulur memanjang sampai hampir dua meter! Dengan kepandaian seperti ini, tentu saja dia merupakan seorang lawan yang amat berbahaya bagi siapa pun.

"Bagus! Kau anak baik sekali... kau benar ingin menjadi muridku?" tanya kakek itu sambil memeriksa tubuh anak itu dengan pandang matanya dan dengan rabaan jari-jari tangan kirinya, terutama sekali meraba-raba tengkorak kepala Bun Houw.

Bun Houw adalah seorang anak yang usianya baru lima tahun, akan tetapi dia pun putera suami isteri yang memiliki ilmu kepandaian tinggi dan dia cerdik sekali. Melihat kenyataan bahwa kakek aneh ini adalah ayah dari Pek Hong Ing yang bersikap amat baik padanya, kemudian bahwa kakek ini memiliki kepandaian yang amat hebat sehingga akan mampu melindunginya di tempat asing itu, maka tanpa ragu-ragu lagi dia menjawab,

"Aku suka sekali menjadi muridmu!"

"Ha-ha-ha!" Kok Beng Lama tertawa dan melepaskan tubuh anak itu ke atas lantai.

Kini hatinya girang sekali karena tadinya dia merasa agak kecewa melihat bahwa bakat puterinya sendiri masih jauh agar bisa mewarisi seluruh ilmu-ilmunya yang membutuhkan ‘wadah’ yang kuat dan berbakat. Kini, melihat Bun Houw, dia menemukan seorang murid yang pasti akan dapat mewarisi semua kepandaiannya.

"Suhu...!" Bun Houw yang berotak cerdas itu pun sudah berlutut sambil memberi hormat dan menyebut suhu.

"Ha-ha-ha...!" Kakek itu kembali tertawa.

Hong Ing girang sekali. Dia lantas memeluk Bun Houw dengan girang. "Sekarang engkau menjadi sute-ku (adik seperguruanku) dan aku adalah suci-mu (kakak seperguruanmu)."

"Suci...!" Bun Houw memberi hormat kepada dara itu.

Mulai hari itu, Bun Houw menjadi murid Kok Beng Lama dan setiap hari anak itu berada di dalam kamar hukuman untuk menerima petunjuk dan gemblengan kakek aneh itu. Kok Beng Lama memang berwatak luar biasa. Dia sama sekali tidak peduli dan tidak ingin tahu mengapa putera Ketua Cin-ling-pai itu bisa berada di tempat itu.

Dia tidak mau mempedulikan lagi urusan dunia, maka dia tidak pernah bertanya kepada Hong Ing mau pun kepada Bun Houw. Setiap hari dia hanya mengajarkan ilmu kepada puterinya dan muridnya itu, tanpa membicarakan urusan lain lagi. Pekerjaannya setiap hari hanya mengajar dan bersemedhi, lain tidak.

Tentu saja setiap gerak-gerik Pek Hong Ing dan Cia Bun Houw tidak pernah terlepas dari penyelidikan tiga orang pendeta Lama, namun mereka tidak menghalangi ketika melihat bahwa Bun Houw menjadi murid suheng mereka yang menjalani hukuman itu. Mereka percaya penuh akan janji Kok Beng Lama, dan mereka juga sudah mengenal betul watak suheng mereka itu yang mungkin dapat mengamuk serta memusuhi mereka mengenai urusan pribadi, tetapi akan membela dengan taruhan nyawa apa bila perkumpulan agama mereka diserang musuh dari luar.

Di samping itu, Hong Ing juga tidak memperlihatkan sikap mencurigakan, bahkan dara ini menurut dan mempelajari dengan teliti semua pelajaran keagamaan mereka sehubungan akan menjadi korban untuk dewa kelak, sesudah permintaannya dipenuhi, yaitu hadirnya Yap Kun Liong di situ. Bahkan dia menurut pula ketika diharuskan melakukan puasa dan pantang makan barang berjiwa agar supaya dirinya tetap bersih apa bila tiba saatnya dia mengorbankan diri kepada dewa sebagai penebus ‘dosa’ ibunya dahulu.

Melihat sikap dara ini, Sin Beng Lama dan dua orang sute-nya tidak menjadi curiga, dan mereka hanya menanti-nanti kedatangan Yap Kun Liong untuk ditukar dengan Cia Bun Houw, agar pelaksanaan korban suci untuk dewa dapat segera dilaksanakan. Dalam hal ini, para pendeta Lama memiliki keyakinan bahwa pengorbanan suci seorang dara kepada dewa akan mendatangkan berkah yang amat hebat, akan mendatangkan keajaiban yang membawa kejayaan kepada perkumpulan mereka.

Mereka percaya bahwa atas bantuan dan perlindungan dewa yang tentu akan membantu mereka sesudah menerima pengorbanan istimewa, yakni puteri mendiang Pek Cu Sian yang dulu mengecewakan dan membikin marah dewa, tentu Kerajaan Tibet akan dapat mereka tumbangkan dan mereka rampas! Mereka berkeyakinan bahwa kalau selama ini mereka belum juga berhasil adalah karena dewa marah terhadap mereka sehubungan dengan peristiwa kedosaan yang dulu dilakukan oleh Pek Cu Sian, gadis calon mempelai dewa yang melarikan diri!

Sekarang, begitu Pek Hong Ing berada pada mereka, sudah nampak tanda-tanda bahwa usaha mereka akan berhasil, terutama sekali dengan adanya kenyataan bahwa hubungan antara mereka dengan pihak Pek-lian-kauw menjadi erat dan saling membantu.

Memang perkumpulan Lama Jubah Merah mulai membuat persiapan untuk memberontak dan menyerang Pemerintah Tibet. Seluruh Lama Jubah Merah sudah dikumpulkan dan jumlah mereka ternyata hampir dua ratus orang. Di samping melatih semua Lama Jubah Merah ini menjadi pasukan istimewa yang amat kuat, juga kini telah dikumpulkan banyak bantuan dari luar, bantuan yang terdapat dari berbagai cara. Ada yang karena percaya kepada keampuhan Kelenteng Lama Jubah Merah, yaitu para penduduk di sekitar daerah itu yang pernah menerima ‘berkah’ dari kelenteng, ada pula yang karena terpaksa atau dipaksa oleh pengaruh para pimpinan Lama, ada pula yang ‘dibeli’ dengan uang!

Betapa pun juga, Sin Beng Lama telah berhasil menghimpun ratusan orang prajurit ‘suka relawan’, yang dilatih di luar markas mereka, dilatih ilmu perang dan barisan, juga sudah diadakan kontak langsung dengan Pek-lian-kauw yang sudah siap membantu para Lama untuk menyerbu Tibet dengan janji bahwa kelak, para Lama yang sudah menguasai Tibet akan mengerahkan kekuatan pula untuk membantu mereka menumbangkan Pemerintah Beng-tiauw!

Kini, para Lama hanya menunggu tibanya saat yang suci itu, ialah pengorbanan seorang dara kepada dewa untuk memberkahi mereka. Semua orang sudah tahu bahwa perawan yang cantik jelita dan yang kini berada di markas, keponakan murid dari Sin Beng Lama sendiri, dara jelita Pek Hong Ing yang akan menebus dosa ibunya dengan mengorbankan diri kepada dewa dengan cara seperti biasa, yaitu dibakar hidup-hidup! Akan tetapi gadis itu baru mau menjalani upacara pengorbanan diri jika musuhnya sudah berlutut di bawah kakinya! Dan kini semua orang menanti datangnya saat itu.

Bukan hanya Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama saja yang setiap hari menanti-nanti kemunculan Cia Keng Hong yang membawa Yap Kun Liong untuk ditukar dengan Cia Bun Houw. Juga Hong Ing dan Bun Houw setiap hari menanti-nanti dengan penuh harap. Bagi Hong Ing, saat kedatangan Kun Liong akan menjadi saat penentuan mati hidupnya!

Sin Beng Lama memang cerdik sekali. Untuk melakukan suatu pemberontakan terhadap pemerintah, terutama sekali lebih dahulu haruslah mencari kesan baik dari rakyat jelata, supaya di dalam hati rakyat terkandung simpati terhadap ‘perjuangan’ mereka. Dan untuk ini, dia hampir setiap hari mengadakan sembahyangan besar di kelentengnya yang amat luas, tentu saja disertai jamuan tanpa bayar bagi rakyat yang berkunjung dan yang akan bersembahyang.

Mendengar bahwa di Kelenteng Lama Jubah Merah setiap hari diadakan sembahyangan besar, berbondong-bondonglah rakyat dari berbagai jurusan di sekitar daerah itu datang berkunjung. Bahkan banyak pula di antara para pengunjung yang bermalam di halaman kelenteng untuk dapat mendengarkan khotbah Sin Beng Lama atau kedua orang sute-nya yang diadakan setiap hari, khotbah tentang kebatinan akan tetapi sekaligus khotbah yang memburuk-burukkan Pemerintah Tibet dan bujukan-bujukan untuk memberontak!

Pada suatu pagi, ketika para pengunjung kelenteng sedang berkumpul di halaman sambil mendengarkan khotbah yang dilakukan sendiri oleh Sin Beng Lama, mendadak terdengar suara berisik dari dalam markas. Sin Beng Lama menyuruh kedua orang sute-nya untuk memeriksa apa yang terjadi sedangkan dia sendiri tetap melanjutkan khotbahnya.

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama cepat berlarian melalui pintu belakang kelenteng, langsung memasuki markas dari mana terdengar suara ribut-ribut itu. Dapat dibayangkan betapa kagetnya ketika dua orang tokoh Lama Jubah Merah itu melihat beberapa orang anak buah mereka bergelimpangan dan di tengah-tengah kepungan para pendeta Lama berdirilah seorang pemuda yang tampan dan gagah. Lak Beng Lama yang berwatak agak keras dan kasar segera berseru,

"Minggir semua!" lalu dia memasuki kepungan bersama suheng-nya, Hun Beng Lama.

Sekarang mereka berhadapan dengan pemuda itu yang tidak lain adalah Yap Kun Liong! Melihat datangnya dua orang pendeta Lama ini, Kun Liong segera mengenal mereka.

"Hemm, kebetulan sekali Ji-wi Losuhu (Kedua Bapak Pendeta) datang!" tegurnya dengan nada suara tegas. "Aku datang untuk menemui tiga orang pemimpin Lama Jubah Merah, akan tetapi tahu-tahu para pendeta di sini menyerbu dan mengeroyokku."

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama tidak mengenal Kun Liong karena ketika mereka dahulu menculik Hong Ing di pulau kosong, pemuda ini berkepala gundul dan pakaiannya hanya sehelai cawat. Kini pemuda itu sudah berambut panjang dan hitam, dan meski pun pakaiannya sederhana, namun lengkap.

"Orang muda yang lancang, siapakah kau dan apa keperluanmu mencari kami?"

"Aku bernama Yap Kun Liong, ada pun kedatanganku adalah untuk minta kepada para pimpinan Lama Jubah Merah agar suka membebaskan Nona Pek Hong Ing!"

Mendengar ini, kagetlah dua orang pendeta Lama itu sehingga mereka memandang lebih teliti, kemudian saling pandang dan Lak Beng Lama berseru kepada para anak buahnya. "Tangkap pemuda ini!"

Belasan orang pendeta Lama langsung menyerbu dengan tangan kosong. Tadi mereka mendengar perintah ‘tangkap’, maka tentu saja mereka tidak mau menggunakan senjata tajam yang dapat membunuh pemuda ini.

Tapi untuk kedua kalinya Kun Liong menggerakkan tubuh seperti tadi ketika dia diserbu, tubuhnya berkelebatan dan berputaran dengan kaki tangan bergerak maka berturut-turut robohlah belasan orang pengeroyok itu!

Hal ini tentu saja menimbulkan kemarahan para pendeta yang lainnya. Segera mereka menyerbu sehingga Kun Liong dikepung dan dikeroyok oleh banyak pendeta, bahkan kini Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama yang maklum akan kelihaian pemuda itu, sudah ikut bergerak menyerbu pula.

Majunya dua orang pendeta Lama yang amat sakti ini membuat Kun Liong terdesak. Dia memang hanya bermaksud membela diri dan hanya merobohkan lawan sedapat mungkin tanpa melakukan pembunuhan. Tentu saja ia bersikap hati-hati sekali dalam menghadapi serangan dua orang pendeta Lama yang berilmu tinggi itu, lebih-lebih karena masih ada puluhan orang anggota perkumpulan Lama Jubah Merah itu yang membantu Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Mendengar suara ribut-ribut di halaman depan markas itu, Pek Hong Ing cepat lari keluar dan dapat dibayangkan betapa tegang rasa hatinya pada saat dia melihat Yap Kun Liong sedang dikepung dan dikeroyok banyak pendeta. Sejenak dia seperti terpesona melihat pemuda yang menjadi kekasih pujaan hatinya itu, yang setiap saat selalu dirindukannya dan diharap-harapkan kedatangannya.

Sekarang pemuda itu telah muncul, akan tetapi dikepung dan dikeroyok. Jika menurutkan perasaannya, ingin dia ikut mengamuk dan membantu kekasihnya itu. Namun dia teringat betapa liciknya para pendeta Lama itu. Apa bila dia maju, tentu mereka akan menangkap dia dan menggunakan dia untuk memaksa Kun Liong menyerahkan diri. Teringat akan ini, dia lalu cepat-cepat berlari masuk ke dalam dan langsung dia memasuki kamar hukuman ayahnya.

"Ayah... tolonglah aku...!" Dia berlutut memeluk ayahnya dengan muka pucat dan napas terengah-engah.

Bun Houw yang sedang duduk bersila melatih diri bersemedhi seperti yang diajarkan oleh gurunya, membuka mata dan terkejut sekali melihat keadaan suci-nya. Akan tetapi dia tidak berani membuka suara, hanya memandang kepada gurunya. Kok Beng Lama juga membuka matanya, sejenak memandang heran kepada puterinya, lalu bertanya,

"Hong Ing, apakah yang terjadi?"

"Ayah...," dengan suara terisak Hong Ing berkata. "Lekas Ayah menolongnya...! Yap Kun Liong telah datang dan dikeroyok oleh kedua orang Susiok dan puluhan orang pendeta...! Lekaslah Ayah...!"

Namun Kok Beng Lama tidak bergerak. "Hemmm... salahnya sendiri kalau datang ke sini dan dikeroyok, tidak ada urusannya dengan pinceng."

"Ayah, akulah yang salah! Akulah yang menyebabkan semua itu. Ayah, aku mencinta Kun Liong dan dia mencintaku. Kami saling mencinta, karena itu... aku sudah mencari akal untuk memancing Kun Liong ke sini. Aku membohongi para Susiok, aku bilang bahwa aku bersedia mengorbankan diri kepada dewa untuk menebus dosa ibuku, asal mereka dapat mendatangkan Yap Kun Liong. Karena tidak berjumpa dengan Kun Liong, para Susiok membawa Adik Bun Houw ke sini dengan pesan agar orang tua anak ini mengantarkan Kun Liong ke sini untuk ditukar dengan Bun Houw. Ayah... semua itu kulakukan demi cintaku kepada Kun Liong. Aku ingin pergi dari sini, ingin ikut dia, hidup bersama dia. Tapi dia... dia dikeroyok di luar. Ayah, tolonglah aku, bantulah dia... hu-huu-huuuuh!"

Hong Ing menangis, penuh kekhawatiran terhadap keselamatan kekasihnya. Memang dia tahu akan kelihaian kekasihnya itu, akan tetapi membayangkan kesaktian para susiok-nya dan banyaknya para pendeta yang mengeroyok, tentu saja hatinya gelisah sekali.

"Hemmm...!" Kok Beng Lama mengeluarkan suara dari dalam rongga perut yang tertahan di kerongkongan, sampai lama dia diam saja. Setelah Hong Ing berkali-kali membujuknya sambil terus menangis, akhirnya dia mendorong tubuh puterinya sehingga tubuh Hong Ing terpental ke belakang.

"Tidak! Kau minta agar ayahmu menjadi seorang hina dina yang melanggar janji? Tidak, lebih baik kau menyuruh aku mati! Anak tidak berbakti, kau berani minta ayahmu untuk melakukan hal yang hina itu?" Setelah membentak demikian, kakek ini sudah meramkan matanya kembali dengan alis berkerut.

"Ayaaaahhh...!" Hong Ing menjerit.

Pada saat itu di luar terdengar suara makin berisik, tanda bahwa jumlah para pengeroyok bertambah banyak dan makin gelisah hati Hong Ing. Dia menubruk lagi ayahnya dengan nekat sambil menangis. "Ayah, aku tidak minta Ayah melanggar janji. Hanya tolonglah dia, tolonglah Kun Liong yang dikeroyok... kalau sampai dia mati, aku pun akan mati di depan kakimu, Ayah!"

Sesudah berkali-kali Hong Ing mengulangi kata-katanya sambil menangis, akhirnya kakek itu membuka mata dan mengangguk. "Memang lebih baik mati dari pada hidup dalam kehinaan karena melanggar janji. Pergilah!"

Sikap dan kata-kata ayahnya ini tiba-tiba saja membuat Hong Ing timbul semangat dan kenekatannya. Sebelum bertemu dengan ayahnya, memang dia hidup di dalam dunia ini tanpa mengandalkan siapa pun juga, maka terasalah olehnya betapa sikapnya tadi amat lemah dan manja.

"Baik, Ayah! Aku akan mati bersama Kun Liong, akan tetapi bukan karena tidak hendak memegang janji terhadap para Susiok yang palsu itu! Aku akan melawan mereka sampai mati!" Dengan isak tertahan Hong Ing lalu berlari keluar dari dalam kamar hukuman.

"Suci...!" Bun Houw berteriak memanggil namun Hong Ing tidak menengok lagi.

Sementara itu, di luar markas terjadi pertempuran yang sangat hebat. Kun Liong masih dapat mempertahankan dirinya biar pun kini Hun Beng Lama yang menggunakan senjata tasbih dan Lak Beng Lama yang bertongkat mengurung dan mendesaknya, dibantu oleh banyak sekali pendeta Lama yang berjubah merah.

Yang membuat kepala Kun Liong terasa pening adalah karena persamaan pakaian para pengeroyoknya itu sehingga sulit baginya untuk membedakan orangnya. Hal ini membuat dia sering kali terkena hantaman tasbih atau tongkat di tangan dua orang pendeta Lama yang lihai itu. Untung bahwa tingkat sinkang-nya memang sangat tinggi sehingga dengan perlindungan tenaga sakti ini, tubuh yang kena dihantam dua senjata itu tidak mengalami luka.

Kun Liong mengamuk bagaikan seekor jangkerik yang dikeroyok banyak semut. Kaki dan tangannya bergerak dan siapa saja, kecuali dua orang pendeta Lama Jubah Merah itu, yang terkena sentuhan kedua tangan atau kakinya tentu terlempar jauh ke belakang.

"Kun Liong jangan khawatir, aku membantumu!" Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring dan muncullah seorang wanita cantik bersama seorang laki-laki gagah yang datang menyerbu dengan pedang mereka. Hanya dengan beberapa gebrakan saja dua orang yang datang membantu Kun Liong ini sudah berhasil merobohkan dua orang pendeta Lama.

"Hwi Sian...!" Kun Liong terkejut bukan main ketika sudah mengenali wanita cantik yang membantunya. "Tan-twako...!" Dia mengenal pula Tan Swi Bu, yakni bekas suheng dari Hwi Sian yang kini sudah menjadi suami wanita itu.

"Mundurlah, pergilah dan jangan mencampuri urusanku...!" teriak Kun Liong dengan suara penuh kekhawatiran karena dia maklum betapa lihainya para pendeta Lama Jubah Merah ini, sama sekali bukanlah lawan kedua orang suami isteri itu. Betapa pun juga, melihat Hwi Sian, ulu hatinya seperti tertusuk sesuatu dan dia merasa terharu.

"Kun Liong, aku... girang dapat membantumu...!”

“Tranggg...!"

Hwi Sian menangkis datangnya sambaran sebatang golok dengan pedangnya, kemudian melanjutkan pedangnya menusuk yang dapat ditangkis pula oleh lawannya.

"Yap-taihiap, mari kita basmi para pemberontak ini!" Tan Swi Bu juga berseru.

Mendengar seruan ini, para pendeta menjadi kaget bukan kepalang. Maklumlah mereka bahwa rahasia mereka telah diketahui orang dan tentu dua orang laki-laki dan perempuan yang baru datang ini adalah mata-mata pemerintah.

"Tangkap mata-mata!"

"Bunuh mata-mata!"

Teriakan-teriakan ini disusul dengan menyerbunya banyak pendeta mengepung Hwi Sian dan Tan Swi Bu yang memutar pedang mereka dan mengamuk penuh semangat.

Seperti sudah diceritakan oleh Poa Su It kepada Kun Liong, suami isteri murid pendekar Secuan Gak Liong ini telah melaksanakan tugas mereka menyelidiki perkumpulan Agama Lama Jubah Merah yang dikabarkan hendak memberontak itu, menjalankan perintah dari susiok-couw mereka, yaitu Panglima Besar The Hoo.

Mereka menyamar sebagai orang-orang yang datang hendak bersembahyang dan setiap hari mereka melakukan penyelidikan hingga akhirnya mereka dapat mengetahui tentang gerakan Lama Jubah Merah yang sudah menyiapkan dan melatih pasukan-pasukannya, dan juga kontak mereka dengan pihak Pek-lian-kauw yang kini banyak pula berkumpul di luar markas, ikut melatih para penduduk yang dapat dibujuk oleh Lama Jubah Merah.

Akan tetapi pada pagi hari itu, selagi mereka mengambil keputusan hendak meninggalkan tempat itu untuk melaporkan hasil penyelidikan mereka, mereka mendengar ribut-ribut di dalam markas. Dengan cerdik mereka berhasil menyelundup masuk ke markas dan dapat dibayangkan betapa kaget hati Hwi Sian ketika melihat bahwa pemuda tampan yang kini memiliki rambut kepala bagus itu, yang sedang dikeroyok oleh banyak pendeta, adalah Yap Kun Liong, pria yang tak pernah dapat dilupakannya!

Maka serta merta dia mencabut pedang yang disembunyikan di bawah bajunya kemudian menyerbu tanpa berunding dahulu dengan suaminya! Tentu saja Tan Swi Bu juga tidak membiarkan isterinya menempuh bahaya seorang diri dan dia pun menyerbu mati-matian.

Melihat betapa Hwi Sian dan Swi Bu terus mengamuk dan dikepung banyak pendeta, Kun Liong menjadi gelisah sekali. Apa lagi ketika dari jauh dia melihat munculnya seorang pendeta Lama yang amat lihai, yaitu Sin Beng Lama dengan lima batang hio mengepul, maklumlah dia bahwa bahaya besar mengancam suami isteri itu.

"Hemmm...!" Dia menggeram sambil mengerahkan tenaganya, menerima saja hantaman-hantaman Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama serta lain-lain pendeta, kemudian secepat kilat dia menangkap lengan dua orang pendeta Lama yang lihai itu sambil mengerahkan tenaga sakti Thi-khi I-beng!

"Auhhh...!"

"Aduhhh...!"

"Haiii..., lepaskan aku...!"

Teriakan-teriakan penuh kepanikan itu terdengar dari mulut mereka yang memukul tubuh Kun Liong dan tangan mereka yang mengenai tubuh pemuda ini melekat tak dapat ditarik kembali, bahkan segera mereka merasakan betapa tenaga sinkang mereka membanjir keluar disedot oleh tubuh pemuda itu!

Karena banyaknya para pendeta yang tadi memukul Kun Liong untuk membantu kawan, maka belasan orang pendeta, termasuk Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama melekat pada tubuh pemuda itu dan kedua orang Lama yang sakti itu merasa panik dan juga marah kepada anak buah mereka sendiri. Kalau saja tidak ada anak buah mereka yang ikut-ikutan memukul dan melekat sehingga menghalangi gerakan mereka, tentu dengan tangan mereka yang masih bebas mereka dapat mengirim pukulan maut dengan totokan-totokan ke bagian tubuh yang lemah dari pemuda luar biasa itu.

Kun Liong yang melihat betapa Sin Beng Lama sudah menggerakkan tubuhnya meloncat dekat Hwi Sian dan Swi Bu, cepat mengembalikan tenaga sinkang yang tersedot olehnya dan kini terkumpul menyesak di pusar, mengeluarkan bentakan nyaring dan menggoyang tubuhnya seperti seekor harimau menghalau air dari bulu-bulu tubuhnya.

"Haaaiiiihhhh!"

Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama, juga belasan orang anak buahnya, berseru kaget dan terlempar ke arah Sin Beng Lama! Belasan orang anak buah mereka itu terlempar dalam keadaan pingsan, sedangkan Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama masih dapat mengumpulkan tenaga dan mengatur keseimbangan tubuhnya sehingga tubuh mereka itu tidak meluncur menerjang suheng mereka sendiri. Mereka berjungkir balik dan terjatuh ke atas tanah dalam keadaan berdiri dan terhuyung-huyung.

Sementara itu, Sin Beng Lama sudah membuat pedang di tangan Hwi Sian dan Swi Bu terpental jauh, kemudian dua kali tangannya bergerak lagi maka robohlah Hwi Sian dan suaminya. Akan tetapi pada saat itu, belasan batang tubuh beterbangan menerjangnya dari arah Kun Liong!

"Omitohud...!" Dia berseru dan cepat tubuhnya mencelat ke atas, tinggi sekali sehingga belasan sosok tubuh yang meluncur itu lewat di bawah kakinya kemudian terbanting dan terguling-guling ke atas tanah dalam keadaan pingsan.

"Pendeta keji...!" Kun Liong membentak dan segera dia sudah bertanding melawan Sin Beng Lama yang amat lihai.

Tampak sinar-sinar kecil berapi seperti ada banyak sekali kunang-kunang beterbangan di sekitar tubuh Kun Liong. Diam-diam pemuda itu terkejut juga melihat betapa lima batang hio membara itu meluncur dan menyambar-nyambar cepat sekali ke arah seluruh jalan darah di tubuhnya. Dia maklum betapa hebatnya serangan ini, karena itu dia pun cepat menggerakkan kaki tangannya, mengelak, menangkis dan balas menyerang.

Karena lawan menggunakan lima batang hio yang amat luar biasa itu, dia tidak mungkin dapat mengandalkan Thi-khi I-beng. Maka untuk mengimbangi kecepatan lawan terpaksa dia mainkan Ilmu Silat Pat-hong Sin-kun dan menggunakan tenaga sinkang Pek-in-ciang sehingga dari kedua telapak tangannya mengepul uap putih yang menyambar-nyambar dahsyat.

"Yap Kun Liong menyerahlah engkau dan pinceng akan mengampunimu," kata Sin Beng Lama.

Pendeta ini diam-diam merasa kagum bukan main terhadap Kun Liong dan kalau pemuda ini mau menyerah sehingga Hong Ing dapat mengorbankan diri kepada dewa, kemudian pemuda ini mau pula membantunya, tentu merupakan tenaga bantuan yang tidak ternilai harganya!

"Sin Beng Lama, bebaskan Pek Hong Ing maka aku akan pergi dari sini dengan damai!" Kun Liong berkata pula, akan tetapi matanya melirik ke arah Hwi Sian dan Swi Bu yang sudah rebah tak bergerak lagi. Dia tak dapat menyatakan sakit hatinya kalau suami isteri itu tewas, karena hal itu adalah kesalahan Hwi Sian dan suaminya sendiri, dan mereka itu pun telah merobohkan dan membunuh beberapa orang pendeta!

"Pemuda sombong!" Sin Beng Lama berseru dan kini dia memperhebat serangannya dan bahkan dibantu oleh Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama yang sudah dapat memulihkan kembali tenaganya.

"Suheng, hati-hati terhadap Thi-khi I-beng!" berkata Lak Beng Lama.

"Ya, dia tentu menggunakan ilmu mukjijat itu!" kata pula Hun Beng Lama.

Sin Beng Lama berseru, "Jangan melewatkan bagian-bagian yang paling lemah. Serang matanya!"

Kun Liong mendongkol bukan main, akan tetapi juga sibuk karena tiga orang lawannya itu benar-benar amat sakti, sedangkan dia sangat khawatir melihat keadaan Hwi Sian yang sudah bergerak dan mengeluarkan rintihan perlahan.

"Kun Liong... ohhh... Kun Liong...!"

Suara ini cukup menusuk perasaan hati pemuda itu. Dia mengeluarkan suara melengking nyaring sekali dan tenaga sakti mukjijat yang terkumpul di dalam tubuhnya berkat latihan menurut ilmu dalam kitab Keng-lun Tai-pun secara tiba-tiba bekerja akibat didorong oleh perasaannya. Tiga orang pendeta Lama itu mengeluarkan seruan kaget dan seperti tiga helai daun kering tertiup angin, mereka terlempar ke belakang dan terbanting jatuh!

"Hwi Sian...!" Kun Liong meloncat dan menghampiri Hwi Sian, berlutut sambil merangkul leher wanita itu.

"Kun Liong...!" Hwi Sian menggerakkan lengan merangkul leher Kun Liong. "Kun Liong, dia... suamiku... dia telah mati..."

Kun Liong menoleh dan menghela napas. Memang jelas bahwa Tan Swi Bu telah tewas, dan wanita ini pun berada dalam keadaan payah sekali, dadanya berlubang dan seperti terbakar.

"Kun Liong... aku... aku tetap cinta padamu..."

Kun Liong menarik napas lagi, dua butir air mata membasahi pipinya. Dia tidak mampu mengeluarkan suara.

"Kun Liong..." Suara itu berbisik lirih. "Dengarlah..." Terpaksa Kun Liong mendekatkan telinganya ke dekat mulut yang amat dikaguminya itu, mulut yang bentuknya amat indah dan selalu menjadi daya tarik utama dari kecantikan Hwi Sian.

"Aku akan mati... dan kau pelihara baik-baik anak itu... kutitipkan di Kuil Kwan-im-bio di kaki bukit, tanya Suheng Poa Su It..."

"Plak-plakk...!"

Tanpa menoleh Kun Liong mengangkat tangan kirinya. Dua kali dia menangkis datangnya dua batang golok yang menyambarnya dari arah belakang. Golok-golok itu terpental dari tangan pemegangnya dan dua orang pendeta Lama meloncat ke belakang, memegangi tangan mereka yang terasa panas!

"Anakmu...?" Kun Liong bertanya.

Mata itu bersinar-sinar memandang wajahnya, dan bibir yang masih merah membasah itu tersenyum sehingga nampak sebagian gigi yang berkilat putih.

"Kini aku... aku bisa membuka rahasia... dia... dia anak kita, Kun Liong... rawatlah dan... selamat tinggal..."

Keduanya menjadi lemas seketika. Hwi Sian lemas karena tubuhnya tidak bernyawa lagi, sedangkan Kun Liong lemas lunglai mendengar pengakuan yang sangat hebat dan di luar dugaannya itu. Hwi Sian meninggalkan seorang anak, anak mereka! Anak Hwi Slan dan dia! Betapa mungkin ini? Hubungan yang dahulu itu... di kuil tua itu... telah menghasilkan keturunan.....?


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner