PETUALANG ASMARA : JILID-64


"Tidak mungkin!" Dia meletakkan tubuh Hwi Sian ke atas tanah dan meloncat berdiri, matanya merah.

"Wuttt-wuuuttt... desss! Aughhh...!"

Lak Beng Lama berteriak keras karena kini tongkatnya yang menyambar bertemu dengan tangkisan yang dilakukan dengan tenaga mukjijat sedemikian dahsyatnya sehingga tidak hanya tongkatnya yang terpental, juga tubuhnya terasa seperti disambar petir!

Sin Beng Lama dan Hun Beng Lama cepat menyerang dan kembali Kun Liong dikeroyok dan didesak hebat. Pemuda ini melawan dengan pandang mata masih termenung, dan dengan dua butir air mata membasahi pipinya. Pikirannya masih penuh oleh pengakuan Hwi Sian. Anak Hwi Sian, anaknya!

"Siuttt... cussss... dukk!"

Dia terhuyung-huyung ke belakang. Ketika nyaris lehernya tertusuk hio membara dan dia mengelak sambil membuang diri ke belakang tadi, tasbih di tangan Hun Beng Lama telah menyambar lambungnya dengan tepat, membuat dia terpelanting ke belakang.

Tentu saja kedua orang pendeta Lama itu tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, terus mendesak maju. Kun Liong menggoyangkan kepalanya untuk mengusir suara Hwi Sian yang masih mengiang-ngiang mengikuti telinganya, agar dia dapat memusatkan perhatian menghadapi pengeroyokan dua orang lawan tangguh itu.

"Kun Liong...!"

Untuk kedua kalinya selama beberapa menit itu jantung Kun Liong terguncang hebat. Dia cepat meloncat ke belakang dan melihat dara yang dirindukannya selama ini, Pek Hong Ing, meronta-ronta dalam pegangan Lak Beng Lama! Cepat dia mengerahkan tenaganya dan tubuhnya melayang ke arah Lak Beng Lama.

"Mundur! Kalau tidak, kubunuh dia!" Lak Beng Lama berseru, tongkatnya menempel pada ubun-ubun kepala Hong Ing.

Kun Liong mundur dengan muka pucat. "Hong Ing... Hong Ing...!" bibirnya berbisik.

"Kun Liong, lawanlah! Lawan dan bunuhlah mereka yang keji dan jahat! Jangan pedulikan diriku!" Hong Ing berkata sambil menangis.

"Tidak! Sam-wi Losuhu (Tiga Bapak Pendeta), dengarlah! Aku menyerah asalkan Sam-wi Losuhu tidak mengganggu Hong Ing!"

"Omitohud, bagus kalau begitu. Berlututlah!" Sin Beng Lama berseru sambil menghampiri Kun Liong.

"Kun Liong, jangan...!" Hong Ing menjerit.

Akan tetapi karena mengkhawatirkan keadaan kekasihnya, Kun Liong telah maju berlutut di depan Sin Beng Lama. Kakek ini mengeluarkan segulung tali hitam, lalu dibantu oleh Hun Beng Lama dia membelenggu sepasang pergelangan tangan Kun Liong di belakang tubuhnya.

Tali hitam itu bukanlah sembarang tali, melainkan terbuat dari bulu biruang hitam yang hanya terdapat di pegunungan yang sunyi dari daerah Tibet. Bulu binatang ini amat kuat sehingga tidak mungkin dibacok putus oleh senjata pusaka yang mana pun. Orang hanya dapat membunuh biruang hitam itu dengan jalan menusuknya, sehingga senjata runcing menyusup di antara bulu kuat itu dan melukai tubuh. Kalau dibacok, jangan harap dapat melukai binatang itu. Akan tetapi bagi yang mengerti tentu saja ada kelemahan bulu itu. Kun Liong membiarkan kedua tangannya dibelenggu tanpa mengadakan perlawanan.

"Hong Ing, jangan melawan, menurutlah saja. Kurasa para Losuhu ini tidak akan berniat buruk."

"Omitohud, sama sekali tidak, Yap-taihiap. Engkau sungguh gagah dan kami bukanlah orang-orang yang tidak menghargai orang pandai. Kami ingin sekali bersahabat dengan Taihiap." Sin Beng Lama berkata ramah dan halus penuh bujukan.

Akan tetapi dengan sinar mata tajam dan suara tegas, Kun Liong berkata kepada ketua para Lama Jubah Merah itu, "Losuhu, aku menyerah bukan karena hendak bersahabat dengan Losuhu sekalian, melainkan karena Losuhu berjanji tidak akan mengganggu Hong Ing. Sekarang, setelah aku menyerah, harap lekas bebaskan Hong Ing dan lakukan apa saja yang Losuhu sukai terhadap diriku."

"Kun Liong...!" Hong Ing yang sudah dilepas oleh Lak Beng Lama karena pemuda lihai itu telah dibelenggu, cepat lari menubruk pemuda itu, merangkulnya sambil menangis.

"Kun Liong... oh, Kun Liong...!" Hong Ing hanya dapat meratap karena hatinya menyesak oleh perasaan terharu.

Seluruh kerinduan hatinya menyesak dalam dada, kegirangan melihat pemuda ini kembali bercampur dengan rasa kekhawatiran melihat kekasihnya menyerah dan dibelenggu. Dia merangkul, memeluk, mendekapkan mukanya yang basah oleh air mata itu di pipi, leher, dan dada Kun Liong yang menunduk dan mencoba meredakan hati kekasihnya.

"Tenanglah, Hong Ing. tenanglah..."

Akan tetapi mana mungkin hati Hong Ing dapat ditenangkan kalau dia teringat bahwa dia akan dikorbankan kepada dewa di depan mata Kun Liong seperti yang telah dijanjikannya kepada Sin Beng Lama? Siasatnya memang berhasil membawa Kun Liong menyusulnya ke tempat ini, akan tetapi kesudahannya sama sekali lain dengan yang dikehendakinya.

Dia mengharapkan kedatangan Kun Liong bersama Cia Keng Hong untuk melawan para pendeta Lama itu dan membebaskan dia bersama ayahnya, akan tetapi hasilnya jauh berlainan. Ayahnya tidak mau membantu, dan Kun Liong menyerah untuk melindunginya! Bagaimana dia dapat tenang menghadapi mala petaka ini?

"Mundurlah kau!" Lak Beng Lama menarik lengan Hong Ing sehingga lepas dari rangkulan pada leher Kun Liong.

"Hong Ing, sekarang Yap-taihiap sudah datang, kau harus memenuhi janjimu," Sin Beng Lama berkata, suaranya halus akan tetapi nadanya mengandung paksaan dan ancaman.

Dengan kedua mata masih basah Hong Ing memandang kepada Kun Liong yang masih berdiri tegak dengan dua lengan terikat ke belakang. Pemuda itu memandangnya dengan tenang dan bibirnya tersenyum bagaikan hendak menghibur serta membesarkan hatinya. Maklumlah dara ini bahwa siasatnya telah gagal sama sekali, bahkan dia telah menyeret Kun Liong ke dalam bahaya maut. Dan dia tahu pula akan kepalsuan hati para paman gurunya, maka dia khawatir sekali akan keselamatan kekasihnya itu.

"Susiok, aku hanya mau berkorban diri apa bila Susiok bertiga suka berjanji tidak akan membunuh Yap Kun Liong."

"Hong Ing, apa maksudmu dengan berkorban diri?" Kun Liong bertanya dengan tiba-tiba dan hatinya berdebar tegang.

Akan tetapi Hong Ing menundukkan mukanya dan tidak berani menjawab. Bila dia bicara terus terang, tentu Kun Liong akan marah-marah kepada para pendeta dan memberontak. Dalam keadaan sudah terbelenggu seperti itu, hasilnya tentu akan sia-sia, bahkan akan membahayakan keselamatannya, maka dia diam saja, bahkan mendesak Sin Beng Lama.

"Sin Beng Susiok, bagaimana? Tanpa ada janji Sam-wi untuk membebaskan Kun Liong segera setelah saya berkorban, saya tidak akan mau dan saya akan membunuh diri kalau dipaksa!"

Tanpa ragu-ragu lagi Sin Beng Lama langsung berkata, "Kami berjanji! Kami akan segera membebaskan Yap Kun Liong setelah kau selesai berkorban diri untuk dewa."

Hong Ing menoleh kepada Kun Liong, menarik napas panjang dan terisak, lalu menunduk dan berkata, "Kalau begitu, saya bersedia."

Sin Beng Lama merasa girang sekali. "Hayo kau ikut denganku untuk menghafalkan doa penyeberangan ke kahyangan! Sute berdua, harap bawa Yap-taihiap ke kamar tamu dan menjaganya baik-baik." Kakek ini lalu menggandeng lengan Hong Ing, dituntunnya gadis ini pergi dari situ masuk ke dalam.

"Hong Ing...! Losuhu, nanti dulu! Hong Ing, jelaskan kepadaku apa artinya ini semua! Apa artinya pengorbanan itu?!" teriak Kun Liong.

Akan tetapi Hong Ing yang memandang kepadanya, hanya menggelengkan kepala dan air matanya bercucuran, kemudian dengan cepat dia mengikuti Sin Beng Lama berjalan masuk. Kun Liong hendak mengejar, akan tetapi Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama memegang kedua lengannya dari kanan kiri, Hun Beng Lama berkata,

"Harap kau tidak memberontak. Kau lihat sendiri bahwa kami tidak melakukan paksaan kepada Pek Hong Ing. Dia melakukan segala sesuatu dengan suka rela atas kehendak dia sendiri, semoga para dewa melindunginya."

Kun Liong terpaksa menahan kemarahannya. Pada saat dia digiring masuk, dia melirik ke arah mayat-mayat di sekeliling tempat itu dan melihat mayat Hwi Sian dan suaminya, dia memejamkan kedua matanya.

"Hwi Sian, kau ampunkan aku...," bisik hatinya.

Betapa hidupnya yang lalu bergelimang kepalsuan dan dosa, dan bahkan saat ini pun dia tidak berdaya menolong Hong Ing. Ingin sekali dia meronta dan memberontak, namun dia menekan kemarahannya. Hal ini tak mungkin dia lakukan selama Hong Ing masih berada di tangan mereka. Dia harus bersabar dulu dan melihat perkembangan selanjutnya untuk menentukan sikap.

Sementara itu, Sin Beng Lama menuntun Pek Hong ing ke dalam ruangan sembahyang untuk mengajarkan doa-doa yang harus diucapkannya ketika pengorbanan dilaksanakan. Hatinya penuh harapan, penuh kegirangan, karena dia merasa yakin bahwa apa bila Pek Hong Ing, keturunan Pek Cu Sian yang dulu pernah membikin murka dan kecewa kepada dewa itu dengan suka rela mengorbankan diri menjadi ‘mempelai dewa’, tentu para dewa akan memberkahi dan melindungi Lama Jubah Merah, dan juga membantu mereka dalam ‘perjuangan’ mereka yang suci.

Sebagai seorang dara yang sedikit banyak sudah kemasukan kepercayaan agama itu, kepercayaan tradisi, diam-diam Hong Ing menerima nasib, bahkan dia pun mengharapkan bahwa pengorbanan dirinya di samping akan menebus dosa mendiang ibunya, juga akan dapat membebaskan orang yang dicintanya, yaitu Yap Kun Liong, dan membebaskan pula ayahnya dari segala dosa!

Dia benar-benar hendak berkorban secara suka rela, demi mereka bertiga itu, terutama sekali demi kebebasan Kun Liong. Maka dia pun cepat menahan kedukaan hatinya dan menghafalkan doa-doa itu dengan tekun tanpa banyak membantah lagi. Hal ini semakin menggirangkan hati Sin Beng Lama yang menganggap bahwa dewa sudah memilih dara ini maka telah menurunkan kegaiban dan mempengaruhi hati dara itu!

Selama tiga hari ini Kun Liong menjadi tamu yang terbelenggu! Dia diperlakukan dengan baik dan dengan ilmunya melemaskan tubuh Sia-kut-hoat yang sudah mencapai tingkat tinggi sekali, dia sudah berhasil memindahkan kedua lengannya yang terikat di belakang tubuhnya itu kini menjadi berada di depan tubuhnya!

Bagi seorang ahli seperti Kun Liong, tidaklah sukar untuk menurunkan kedua tangan yang terbelenggu di belakang itu melalui bawah pinggulnya, lalu menarik kedua kakinya dan membiarkan belenggu kedua tangan itu terus melalui bawah kedua kakinya yang ditekuk ke atas sehingga sekarang kedua tangannya berada di depan tubuh, walau pun kedua pergelangan tangannya masih dalam keadaan terbelenggu.

Melihat hal ini, Hun Beng Lama hanya memandang kagum, namun mereka merasa lega bahwa pemuda itu tidak dapat mematahkan belenggu. Dengan kedua tangan kini berada di depan, Kun Liong dapat makan dengan mudah dan tidak merasa terlalu tersiksa lagi.

Tubuhnya tidak merasa tersiksa, akan tetapi batinnya sangat gelisah. Beberapa kali dia membujuk kedua orang pendeta Lama itu untuk menceritakan apa yang telah terjadi, dan apa yang hendak dilakukan oleh Hong Ing. Namun kedua orang itu hanya menjawab,

"Harap Taihiap bersabar sebab Taihiap akan menyaksikan dengan mata sendiri apa yang akan dilakukan oleh murid keponakan kami itu. Karena itulah maka Taihiap ditahan di sini, supaya dapat menyaksikan sendiri. Sesudah selesai upacara pengorbanan itu, kami pasti akan membebaskan Taihiap."

Pada hari ke tiga itu, di halaman belakang markas Lama Jubah Merah sudah dibangun sebuah tempat pembakaran yang merupakan sebuah panggung kecil dari kayu. Di tengah panggung terdapat sebatang tiang dan pada sekeliling tiang ini ditumpuk kayu-kayu yang mudah terbakar. Sebuah meja sembahyang besar juga telah disiapkan dan di atas meja itu dihidangkan lengkap segala keperluan sembahyang, dan banyak lilin dinyalakan.

Tempat itu penuh dengan para anggota Lama Jubah Merah yang kini telah berkumpul di sekeliling tempat pembakaran. Mereka semua duduk bersila di atas tanah hingga terlihat laksana bunga-bunga besar berwarna merah karena mereka semua mengenakan jubah merah mereka. Dengan penuh khidmat para pimpinan yang terdiri dari Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama dibantu oleh para Lama lain yang tinggi tingkatnya, mengatur meja sembahyang.

Tidak lama kemudian muncullah Pek Hong Ing, berjalan perlahan-lahan, diikuti dengan sikap penuh hormat oleh para Lama dan disambut sambil membungkuk-bungkuk oleh Sin Beng Lama sendiri yang bersikap seperti seorang pendeta menyambut datangnya tamu agung, dalam hal ini pengantin agung!

Semua mata para pendeta, yang telah bertahun-tahun bertapa dan berpuasa terhadap nafsu, terutama sekali nafsu birahi, kini memandang penuh gairah. Bagi pandang mata mereka, Pek Hong Ing bukan lagi manusia, melainkan seorang dewi, seorang calon isteri dewa, karena itu mempunyai kecantikan agung, bukan kecantikan jasmaniah belaka yang kasar, kotor dan hanya sedalam kulit! Mereka yakin bahwa kelak, di alam baka, mereka akan bersahabat dengan wanita-wanita seperti ini!

Memang pada saat itu, melihat Pek Hong Ing akan menimbulkan rasa takjub, hormat dan kagum. Dara ini telah dirias dengan teliti, kelihatan cantik tetapi agung sekali, tidak seperti seorang dara dari darah daging lagi, namun sepatutnya sudah menjadi seorang bidadari dari kahyangan!

Wajahnya yang putih halus itu seolah-olah bersinar, pandang matanya meremang jauh, menembus segala sesuatu di depannya, langkahnya lembut dan agung, kepalanya tegak, tubuhnya lurus dan lenggangnya amat lemah gemulai. Rambutnya yang mengkilap bersih karena sudah dicuci secara istimewa, hitam subur dan panjang digelung ke atas seperti gelung rambut para dewi dalam dongeng, dihias ratna mutu manikam, gemerlap tertimpa cahaya matahari pagi.

Seluruh pakaian dara itu, sampai sepatunya, berwarna putih bersih, dari sutera termahal, sutera yang amat halus sehingga seolah-olah terbayang lekuk lengkung tubuhnya di balik pakaian putih itu. Warna pakaian yang putih bersih ini kelihatan makin mencolok karena dilatar belakangi warna merah darah dari jubah merah yang dikenakannya.

Banyak di antara para pendeta Lama yang hadir di situ memandang bengong, ada yang tanpa disadarinya berlinang air mata, ada pula yang beberapa kali meneguk air liurnya sendiri, ada pula yang langsung merangkap kedua tangan ke depan dada dan mulutnya berkemak-kemik membaca doa untuk memuja para dewata dan memohon kekuatan bagi batinnya yang terguncang hebat.

Dengan langkah-langkah yang sudah teratur dan terlatih, Hong Ing menghampiri Sin Beng Lama dan membalas penghormatan kakek ini, menerima hio kemudian bersembahyang di depan meja sembahyang, berlutut kemudian membungkuk sampai dahinya yang halus itu menempel pada permadani yang dibentang di sana, semua gerak-geriknya diikuti oleh mata para pendeta dengan seksama.

Sesudah selesai bersembahyang, Hong Ing melangkah meninggalkan meja sembahyang, diikuti oleh suara tambur yang sejak tadi dipukul lambat-lambat sekali mengikuti gerakan ‘pengantin puteri’ ini, lalu langsung melangkah menaiki anak tangga ke atas panggung, diikuti oleh Sin Beng Lama, Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Tiga orang pendeta ini membawa bunga yang dirangkai menjadi tali yang amat panjang, kemudian, setelah Hong Ing berdiri membelakangi tiang sampai punggungnya menempel pada tiang, menghadap ke meja sembahyang, tiga orang pendeta itu sambil membaca doa lalu melibat-libatkan tali kembang itu ke seluruh tubuh Hong Ing. Kembang-kembang itu dirangkai dengan mempergunakan tali yang kuat dan tahan api, dan hal ini dilakukan untuk menjaga agar sang mempelai akan tetap berdiri ketika dilakukan pembakaran nanti, tetap berdiri dan habis terbakar dalam sikap yang agung.

Setelah selesai mengikat Hong Ing pada tiang itu, mereka bertiga turun lalu dimulailah upacara sembahyang dan membaca doa sebelum pembakaran dilakukan. Dengan penuh khidmat dan kesungguhan hati, semua pendeta itu dipimpin oleh Sin Beng Lama mulai bersembahyang dan berdoa dan seluruh panca indria, seluruh perasaan dan perhatian mereka tujukan kepada dewa di langit!

Semenjak kecil, kita manusia sudah digembleng dan dibentuk oleh tradisi, oleh agama, oleh kebudayaan dan oleh peradaban untuk menjadi permainan dari pada kepercayaan-kepercayaan dan karena itu kita hidup tidak bebas lagi. Jalan pikiran kita tidak lagi bebas karena sudah digariskan dan ditentukan oleh kepercayaan yang ditanamkan kepada kita sejak kecil, sesuai dengan masyarakat dan lingkungan masing-masing.

Karena itu kita tidak mengenal hidup seperti apa kenyataannya, melainkan memandang hidup melalui tirai yang berupa kepercayaan, ketahyulan, kebiasaan yang membentuk pendapat-pendapat. Kesemuanya ini diperkuat oleh makin membesarnya si aku yang juga diciptakan oleh pikiran menurut bentukan keadaan dan pendidikan kita.

Demikian palsu adanya hidup kita sehingga segala sesuatu yang kita lakukan tidaklah wajar lagi, melainkan sebagai pengulangan belaka dari kebiasaan kita. Segala yang kita lakukan bersumber kepada si aku, sehingga setiap perbuatan kita adalah palsu dan tidak wajar. Namun, kita tidak sadar akan hal ini, dan semua kepalsuan itu telah kita terima sebagai cara hidup kita yang wajar! Kepalsuan dianggap sebagai suatu kewajaran, itulah pelajaran kebudayaan kita.


Para pendeta Jubah Merah itu pun hidup sebagai benda-benda mati yang hanya bergerak menurut garis yang sudah ditentukan terlebih dahulu. Mereka tidak mau menyelidiki dan mempelajari lagi apa yang mereka lakukan itu, karena yang paling penting bagi mereka, seperti bagi kita pada umumnya, ialah tujuan dari pada perbuatan mereka. Perbuatannya sendiri menjadi tidak penting, karena semua perhatian ditujukan untuk mencapai tujuan. Upacara sembahyang mereka lakukan bukan semata demi sembahyang itu sendiri, akan tetapi bagi tercapainya yang mereka tuju sebagai hasil dari sembahyang itu.

Mereka menghadapi ‘perjuangan’ untuk menumbangkan Pemerintah Tibet, maka mereka melakukan upacara pengorbanan disertai sembahyang dengan segala kesungguhan hati, bukan demi upacara itu sendiri, namun demi terkabulnya harapan dan cita-cita mereka. Sembahyang, pengorbanan, dan segala upacara itu hanya menjadi cara atau jembatan belaka untuk memperoleh yang mereka kehendaki, yaitu kemenangan dalam ‘perjuangan’ itu, melalui berkah para dewa yang mereka sembah-sembah.

Kalau kita mempunyai kepercayaan lain, tentu akan mencela mereka dan mengatakan bahwa mereka tahyul, dan sebagainya. Kita lupa bahwa kita sendiri pun sesungguhnya tidak jauh bedanya dengan mereka! Mari kita membalikkan pandangan mata kita untuk memandang dan meneliti, untuk mengenal keadaan diri sendiri!

Kalau kita bersembahyang baik kepada Tuhan, kepada Nabi, kepada Dewa, atau kepada apa saja yang kita puja berdasarkan kepercayaan kita masing-masing, kepercayaan yang dibentuk oleh keadaan sekeliling atau oleh keadaan keluarga, kelompok, atau bangsa kita masing-masing, apa yang terucapkan oleh mulut atau hati kita? Mari kita menengok diri sendiri. Bukankah kita memohon kepada Tuhan atau Dewa atau Nabi dengan kata-kata masing-masing,

"Ya Tuhan, berkahilah SAYA, lindungilah SAYA, ampunilah SAYA, bimbinglah SAYA," atau di dalam kelompok kita berdoa, "Ya Tuhan lindungilah KAMI, berilah kemenangan dalam perang kepada KAMI, ampunilah dosa-dosa KAMI", dan selanjutnya lagi?

Dengan demikian, bukankah seluruh doa dan upacaranya itu semata-mata ditujukan demi kepentingan SAYA, atau KAMI, atau pun si aku ini! Dengan demikian, apakah ini disebut pemujaan kepada Tuhan atau apa pun yang kita sembah? Ataukah ini hanya merupakan pemujaan kepada diri sendiri semata-mata?

Dengan cara demikian, Tuhan tidak dipentingkan lagi, karena yang penting adalah aku, untukku, bagiku, demi aku, dan seterusnya. Bahkan seolah-olah nama Tuhan hanya kita peralat demi tercapainya segala keinginan kita, keinginan lahir mau pun keinginan batin, keinginan mendapat kedudukan dan kemuliaan di dunia mau pun keinginan memperoleh kedudukan dan kemuliaan di alam baka! Bukankah semua ini merupakan kepura-puraan dan kemunafikan yang palsu? Segala macam perbuatan yang dicap sebagai perbuatan baik mau pun perbuatan buruk oleh masyarakat kita dan kebudayaannya, segala macam perbuatan itu adalah munafik dan palsu selama pada dasarnya terkandung pamrih untuk kepentingan atau kesenangan diri pribadi!

Ini sudah jelas dan nyata, bukan? Perbuatan barulah benar kalau digerakkan oleh CINTA KASIH dan cinta kasih bukanlah pamrih dalam bentuk apa pun juga. Cinta kasih akan menghilang selama di sana terdapat pamrih! Dan tanpa cinta kasih tidak mungkin ada kebenaran, tak mungkin ada kebaikan. Kebaikan tidak mungkin dapat dilatih, yang dilatih hanyalah yang palsu, yang berpamrih karena melatih kebaikan itu pun sudah merupakan suatu pamrih yang berselubung halus.

Oleh karena itu, marilah kita belajar mengenal diri sendiri dan melihat segala kepalsuan, kemunafikan, keburukan, yang berjejal penuh di dalam hati serta pikiran kita. Dengan memandang dan mengerti, semua itu akan runtuh dan lenyap, dan sesudah bebas dari semua itu, baru sinar cinta kasih akan timbul. Ibarat matahari yang sinarnya tidak akan menimbulkan penerangan karena tertutup awan, demikian pula cinta kasih tidak bersinar karena tertutup oleh awan hitam yang bersumber kepada si aku! Di mana ada si aku, tentu timbul pertentangan dan permusuhan. Karena itu, di mana ada si aku, tidak mungkin ada cinta kasih.


Baru saja upacara sembahyang selesai, Sin Beng Lama langsung berkata kepada dua orang sute-nya, "Jemput Yap Kun Liong ke sini!"

Dua orang pendeta Lama itu bergegas masuk ke dalam markas dan memasuki kamar di mana Kun Liong duduk menunggu dengan tenang, dijaga oleh dua losin orang pendeta Lama Jubah Merah. Begitu melihat Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama masuk, Kun Liong segera berkata,

"Ji-wi berjanji akan mempertemukan aku dengan Pek Hong Ing pagi ini."

"Marilah, semenjak tadi dia telah menanti. Upacara sembahyang telah dilakukan, dan kini tinggal menunggu kehadiranmu untuk segera melaksanakan upacara pengorbanan," kata Hun Beng Lama dengan sikap serius.

"Pengorbanan...? Hong Ing...?" Kun Liong bangkit berdiri dan bertanya dengan hati penuh ketegangan.

Hun Beng Lama tersenyum dan memegang siku kanan Kun Liong sedangkan Lak Beng Lama memegang siku kirinya. "Marilah, Taihiap, kau menyaksikan sendiri dan melihat bahwa kami sama sekali tidak melakukan pemaksaan kepada Hong Ing."

Dengan jantung berdebar penuh ketegangan Kun Liong mengikuti dua orang pendeta Lama ini menuju ke belakang markas dan dia merasa makin gelisah dan tegang melihat banyaknya pendeta yang berkumpul di halaman belakang itu. Sementara itu, di dalam kamar hukuman di mana Kok Beng Lama duduk bersila, Bun Houw berlutut di hadapan kakek itu sambil menangis.

"Suhu...! Suhu...! Mengapa Suhu selama tiga hari tidak mau mendengarkan permintaan teecu (murid)?" Bun Houw berteriak sambil menyusut air matanya. "Terjadi banyak hal luar biasa. Suheng Yap Kun Liong telah datang dan dia ditangkap oleh para Susiok dan dimasukkan kamar tahanan. Teecu sama sekali tidak boleh mendekat, bahkan diancam akan dipukul kalau teecu mendekati kamar itu. Juga Suci Hong Ing selalu berada di kamar sembahyang, tidak boleh teecu dekati. Suhu, semua itu telah terjadi dan Suhu tidak ambil pusing."

Kok Beng Lama termenung, kemudian membuka mata dan menunduk, menatap wajah muridnya yang masih kecil itu, yang kini memandang kepadanya dengan pipi basah air mata. Dia tersenyum lebar.

"Bun Houw, engkau muridku penuh semangat, akan tetapi engkau masih kanak-kanak. Engkau tidak tahu bahwa hidup ini baru berharga apa bila kita menjaga kehormatan, dan kehormatan baru terjaga kalau kita selalu menyatukan kata-kata dan perbuatan. Pinceng (aku) telah berjanji tak akan memberontak, mana mungkin engkau minta supaya pinceng mencampuri urusan para sute-ku itu?"

"Tapi, Suhu..."

"Sudahlah, jangan ganggu aku lagi. Sekarang pergilah dan latih pelajaranmu!" kakek itu menghardik.

Tiba-tiba Bun Houw yang mengusap air matanya itu berkata, suaranya penuh kemarahan, "Aku malu menjadi muridmu!"

Kata-kata ini mengejutkan Kok Beng Lama sehingga kakek ini membuka lagi matanya, memandang wajah yang kini merah dan penuh kemarahan, sepasang mata kecil yang berapi-api ditujukan kepadanya itu.

"Apa... apa katamu tadi?" tanyanya penuh keheranan sebab selama ini Bun Houw selalu memperlihatkan sikap hormat, penuh sayang, dan penurut kepadanya.

"Aku bilang bahwa aku malu menjadi muridmu! Suhu mengecewakan hatiku, Suhu bukan seorang laki-laki gagah seperti yang kuduga! Suhu pengecut!"

Kalau saja tidak ingat bahwa yang bicara adalah seorang anak kecil yang sudah diambil sebagai muridnya, tentu sekali menggerakkan tangan Kok Beng Lama akan membunuh orang yang memakinya pengecut itu! Sepasang matanya terbelalak lebar dan telinganya mendengarkan kata-kata anak kecil itu yang terus menyerangnya!

"Suhu lebih percaya kepada para Susiok yang jahat itu dari pada kepadaku! Suhu bilang memegang janji, akan tetapi apakah mereka juga memegang janji? Tahukah Suhu bahwa sekarang ini, seperti yang kuintai tadi, Suci sedang menghadapi ancaman maut, akan dibakar hidup-hidup? Akan tetapi Suhu tidak mau menolong. Suhu takut dan pengecut...!" Bun Houw tidak menangis lagi, bahkan sekarang sudah bangkit berdiri, telunjuk kanannya menuding-nuding ke arah muka kakek itu.

"Kau bohong...!" Kok Beng Lama membentak ketika mendengar cerita Bun Houw bahwa puterinya hendak dibakar hidup-hidup!

"Suhu lihat sendiri! Kalau saya bohong masih belum terlambat untuk menghukum saya. Suhu boleh bunuh saya." Anak itu menjawab tegas.

Pada saat itu, terdengar suara hiruk pikuk di bagian belakang markas, seperti kegaduhan orang-orang yang bertempur, dan di antara suara hiruk pikuk itu pendengaran Kok Beng Lama yang amat tajam menangkap jeritan suara puterinya! Dia mendengus dan tubuhnya yang tadinya duduk bersila itu, tiba-tiba saja berkelebat dan seperti terbang cepatnya dia sudah melompat keluar dari kamar itu dan terus berlari ke belakang!

Apa yang disaksikannya di halaman belakang markas itu membuat dia kaget bukan main! Puterinya, dengan pakaian yang biasa dipakai gadis-gadis yang menjadi mempelai dewa, sudah berdiri di panggung dengan tubuh berbelit-belit rangkaian bunga dan api di bawah panggung sudah mulai dinyalakan oleh Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama! Dia melihat puterinya itu memandang ke kanan kiri dan menjerit-jerit,

"Kun Liong...! Jangan melawan... ohhh, Kun Liong!"

Kok Beng Lama terheran-heran. Melihat sikapnya dan keadaan di situ, agaknya puterinya itu tidak dipaksa, namun dengan suka rela ingin mengorbankan diri kepada dewa. Maka dia menjadi ragu-ragu dan bingung. Untuk merampas serta menolong puterinya seperti yang telah dilakukan dahulu ketika dia menolong dan menyembunyikan Pek Cu Sian, dia tidak berani. Bukan tidak berani kepada para Lama, melainkan tidak berani melanggar janji, dan tidak berani lagi melakukan dosa terhadap dewa yang dimuliakannya.

Pada saat menoleh ke kiri, dia melihat seorang pemuda sedang mengamuk. Dua tangan pemuda itu masih terbelenggu di depan tubuhnya, dengan belenggu bulu biruang hitam, akan tetapi biar pun kedua tangannya terbelenggu, dengan tangan terangkap dan dengan kedua kakinya, pemuda itu telah merobohkan tiap orang Lama yang berani menghadang dan mengeroyoknya! Inilah yang menimbulkan kegaduhan, dan kini para pendeta Lama sudah marah dan mulai menggunakan senjata untuk mengeroyok pemuda yang sedang memberontak dan mengamuk itu.

"Kalian orang-orang kejam! Akan kubunuh semua kalau Hong Ing tidak dibebaskan!" Kun Liong berteriak-teriak dan beberapa orang pendeta Lama lantas terlempar jauh tersambar oleh tendangan kakinya yang dilakukan dengan kemarahan meluap-luap tercampur rasa gelisah yang hebat melihat betapa kekasihnya akan dibakar hidup-hidup!

"Manusia lancang! Dengan suka rela dia ingin mengorbankan diri menjadi mempelai dewa, ada sangkut-pautnya apa denganmu?!" bentak seorang Lama dengan marah.

Mendengar ini, Kok Beng Lama merasa semakin bingung. Dia sudah berjanji tidak akan memberontak, dan tentu saja dia merasa bahwa dia bersalah jika sampai dia mencegah puterinya yang hendak melakukan pengorbanan diri, suatu hal yang sangat dimuliakan di dalam tradisi mereka.

Akan tetapi, tentu saja dia pun tidak akan dapat membiarkan puterinya tewas begitu saja. Maka, melihat sepak-terjang pemuda itu yang sangat hebat, dia mendapat akal. Sambil mengeluarkan suara gerengan hebat dia menyerbu ke depan, mendorong semua Lama ke pinggir kemudian dia menyerang Kun Liong dengan hebatnya!

Melihat munculnya Kok Beng Lama, semua Lama, termasuk tiga orang pimpinan Lama, menjadi terkejut sekali. Akan tetapi hati mereka menjadi lega ketika melihat betapa Kok Beng Lama menyerang Kun Liong. Diam-diam Sin Beng Lama tersenyum girang melihat suheng-nya sudah benar-benar bertobat dan hendak menebus dosa terhadap dewa itu. Dengan adanya suheng-nya yang membantu ini, tentu saja perjuangan mereka akan lebih mantap lagi.

Sementara itu, Kun Liong telah mengenal kakek tinggi besar yang baru muncul ini, kakek yang bernama Kok Beng Lama dan yang dulu pernah menolong dia dan Hong Ing, yang kemudian dia ketahui adalah ayah kandung dara itu.

"Lociapwe, saya hendak menolong Hong Ing!" katanya ketika kakek itu menerjangnya.

Namun terlambat, serangan telah tiba dan hebat bukan main serangan kaki itu. Pukulan yang dahsyat, mendatangkan hawa pukulan seperti halilintar menyambar, menuju ke arah dadanya. Kun Liong mengangkat dua lengannya yang masih terbelenggu, mengerahkan sinkang-nya menangkis dari kiri ke kanan.

“Dessss...!”

“Belenggu itu kalah oleh api...!"

Tubuh Kun Liong terpental ke belakang, ada pun Kok Beng Lama juga terhuyung-huyung. Hal ini sangat mengejutkan Kok Beng Lama karena pertemuan tenaga tadi membuktikan bahwa tenaga sinkang pemuda itu amat kuatnya, tidak kalah kuat olehnya sendiri, bahkan mungkin lebih kuat atau setidaknya berimbang.

Akan tetapi, Kun Liong juga terkejut dan girang karena pada saat lengan mereka bertemu tadi, dia mendengar bisikan kakek itu. Tahulah bahwa ayah kandung Hong Ing itu sudah membantunya secara diam-diam dan dia tahu pula bahwa belenggu yang amat kuat itu, lebih kuat dari besi yang akan mudah dia patahkan, kiranya ada rahasia kelemahannya, yaitu api!

"Haiiiihhhh…!" Lengking yang nyaring keluar dari dalam dada Kun Liong ketika tubuhnya melayang ke arah panggung yang mulai terbakar!

Dia meloncat tinggi melewati kepala para pengeroyoknya dan ketika dia turun di dekat panggung, cepat dia merobohkan empat orang yang berlari menerjangnya. Kemudian dia membalik, mengulur kedua tangannya ke api yang sudah menyala di bawah panggung. Betapa girang rasa hatinya ketika melihat lidah api menjilat belenggunya dan seperti daun kering saja, bulu-bulu hitam itu dimakan api hingga dalam sekejap mata dia telah bebas! Berkat sinkang-nya yang tinggi, dia dapat menjaga kulit pergelangan tangannya sehingga tidak hangus oleh bakaran api yang tidak terlalu lama itu.

Kembali beberapa orang pendeta Lama mengeroyoknya, dan kembali dia merobohkan empat orang. Akan tetapi dia melihat Kok Beng Lama juga lari mengejarnya, tepat pada saat Sin Beng Lama, Hun Beng Lama, dan Lak Beng Lama tiba di situ. Dan kini Kok Beng Lama berdiri melindunginya, bahkan menghadapi ketiga orang sute-nya sambil bertolak pinggang!

"Pengkhianat, kau berani membuat dosa lagi?!" Sin Beng Lama membentak. "Kau tidak malu untuk melanggar janji?"

"Sin Beng Lama, pikir dulu baik-baik sebelum membuka mulut!" bentak Kok Beng Lama dengan mata melotot. "Siapa yang melanggar janji? Siapa yang membuat dosa? Tidak ada buktinya bahwa aku memberontak, maka aku tak melanggar janji. Sebaliknya, kalian berjanji tak akan mengganggu anakku, tapi buktinya kalian hendak mengorbankan dia!"

Tiga orang pimpinan Lama itu khawatir sekali melihat betapa Kun Liong sudah meloncat naik ke atas panggung dan bergegas membebaskan kekasihnya dari tiang yang sudah dihampiri oleh lidah api itu, kemudian menarik dara itu menjauhi api.

"Kun Liong...!"

"Hong Ing...!"

Mereka berpelukan, berdekapan, berciuman tanpa mempedulikan keadaan di sekeliling mereka.

"Kun Liong... hu-huhhh... Kun Liong...!" Berkali-kali Hong Ing menyebut nama kekasihnya dengan mesra, akan tetapi dengan suara merintih dan menangis.

Kun Liong mengusap rambut kekasihnya penuh kemesraan, diangkatnya muka dara itu dan ditatapnya sampai lama dengan mata basah. "Hong Ing... kekasihku, pujaan hatiku... syukur aku tidak terlambat, semua ini berkat pertolongan ayahmu..."

"Ayah...?" Hong Ing yang masih berpelukan dengan kekasihnya itu menoleh ke bawah panggung. Juga Kun Liong kini teringat bahwa mereka masih belum bebas dari ancaman bahaya, masih terkepung oleh banyak lawan, karena itu dia cepat memandang ke bawah panggung.

Kok Beng Lama masih berhadapan dengan tiga orang sute-nya, dan kini kakek itu berkata lantang, "Apa?! Kau bilang bahwa anakku secara suka rela hendak mengorbankan diri? Benarkah itu? Mana buktinya? Itu dia, aku akan bertanya. Heiii, Hong Ing, benarkah kau dengan suka rela hendak mengorbankan dirimu menjadi mempelai dewa yang mulia?"

"Tidak, Ayah! Mereka memaksaku karena mereka sudah menangkap Kun Liong dengan cara yang amat curang! Mereka mengancam hendak membunuhku sehingga Kun Liong menyerahkan diri dan untuk menolong supaya Kun Liong tidak dibunuh, aku mau dibakar asal Kun Liong tidak diganggu. Mereka itu pendeta-pendeta yang berhati palsu!"

"Locianpwe, mereka adalah gerombolan pemberontak-pemberontak yang telah bersekutu dengan Pek-lian-kauw hendak merampas Kerajaan Tibet dan Kerajaan Beng!" Kun Liong juga berteriak.

"Pengkhianat dan manusia rendah!" Sin Beng Lama telah membentak marah bukan main karena rahasianya dibongkar. Biar pun dia maklum akan kelihaian bekas suheng-nya ini dan juga betapa pemuda itu memiliki kepandaian tinggi, namun dengan bantuan banyak anak buahnya, juga pasukan-pasukannya bersama pasukan Pek-lian-kauw berada di luar markas, tentu saja dia tidak takut.

"Serbuuuu...! Bunuh mereka manusia-manusia berdosa ini!" Teriaknya nyaring lantas dia sendiri bersama Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama sudah menerjang Kok Beng Lama.

"Locianpwe, jangan khawatir, saya akan membantu!" Kun Liong berseru sambil membawa Hong Ing meloncat turun dari panggung yang sudah terbakar.

"Desss...! Dukkk! Dukkk!"

Tiga orang pimpinan Lama itu langsung terdorong ke belakang ketika lengan Kok Beng Lama menangkis mereka dengan kekuatan yang amat dahsyat. Kok Beng Lama menoleh ke arah Kun Liong sambil berseru,

"Orang muda, jangan bantu aku. Kau bawalah Hong Ing menyingkir, selamatkan dia, aku serahkan dia kepadamu dengan berkatku!"

Kun Liong mengangguk. "Hong Ing, mari kita segera pergi...!" katanya sambil memegang pergelangan tangan kekasihnya.

Hung Ing merenggutkan tangannya terlepas. "Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Ayah dalam bahaya. Aku harus bantu dia! Aku akan menjadi seorang anak tak berbakti yang selamanya akan tersiksa batinku kalau aku meninggalkan ayahku yang sedang terancam bahaya."

Kun Liong memandang kekasihnya dengan wajah berseri dan dia tersenyum, merangkul dan mencium dahi Hong Ing. Bagus! Memang demikianlah seharusnya seorang wanita gagah dan berbakti. "Aku kagum kepadamu, Hong Ing, aku bangga!"

Kun Liong dan Hong Ing lalu menyerbu dan membantu Kok Beng Lama yang dikeroyok tiga oleh pimpinan Lama Jubah Merah yang sakti itu. Akan tetapi, para Lama menyerbu dan mengepung mereka sehingga terpaksa Kun Liong dan Hong Ing harus menghadapi pengeroyokan puluhan orang pendeta Lama dan tidak dapat mendekati Kok Beng Lama.

Mereka ini juga tidak berani membantu pimpinan mereka karena mereka maklum bahwa mencampuri pertandingan antara pimpinan Lama Jubah Merah amatlah berbahaya, sama dengan mengantar nyawa. Apa lagi mereka memang merasa gentar terhadap Kok Beng Lama yang merupakan tokoh tertua di antara mereka, tokoh paling sakti pula.

Terjadilah pertandingan yang amat hebat. Kok Beng Lama mengamuk dikeroyok oleh tiga orang sute-nya, sedangkan Kun Liong bersama Hong Ing mengamuk dikeroyok puluhan orang pendeta Lama. Sementara itu, api dari panggung menjilat-jilat ke mana-mana dan karena tidak ada yang mengurus, kini api itu bahkan mulai menjilat ke bangunan belakang markas itu!

Betapa pun saktinya Kok Beng Lama, dia mulai terdesak juga menghadapi pengeroyokan ketiga orang sute-nya yang penuh kemarahan itu,. Demikian pula dengan Kun Liong yang menghadapi pengeroyokan puluhan orang pendeta, bahkan masih ada puluhan orang lain yang siap mengeroyoknya menggantikan kawan yang roboh, di samping itu Kun Liong harus selalu melindungi kekasihnya pula. Keadaan mereka makin terdesak dan terancam hebat.

Tiba-tiba terdengar suara sorak-sorai dan kegaduhan luar biasa di sebelah luar markas itu dan meski pun belum dapat melihat dengan mata kepala sendiri, Sin Beng Lama dan dua orang sute-nya maklum bahwa pasukan mereka yang berada di luar telah diserbu musuh dan terjadi perang di luar markas. Tentu saja mereka terkejut bukan main dan Sin Beng Lama berteriak kepada seorang anak buahnya untuk menyelidiki keluar markas.

Sebentar saja ributlah para pendeta Lama ketika terdengar berita bahwa di luar markas, tentara Pemerintah Beng sudah menyerbu dan kini sedang berperang melawan pasukan Lama Jubah Merah yang dibantu oleh pasukan Pek-lian-kauw! Mendengar keterangan ini, para pendeta Lama yang tidak memperoleh kesempatan ikut mengeroyok Kun Liong dan Hong Ing, langsung berserabutan lari keluar dari markas untuk membantu teman-teman mereka berperang menghadapi penyerbuan bala tentara Beng.

Tiba-tiba terdengar suara keras dan pintu gerbang yang tadinya ditutup oleh para pendeta Lama yang menjaga di dalam, bobol dan berbondong-bondong masuklah bala tentara Beng dipimpin oleh dua orang laki-laki dan wanita yang amat gagah perkasa. Mereka ini bukan lain adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong beserta isterinya, pendekar wanita Sie Biauw Eng! Bagaikan sepasang naga yang marah mengamuk, suami isteri ini menyerbu ke dalam dan setiap lawan yang berani menghadang tentu roboh dan tak dapat bangkit kembali.

Ketika melihat munculnya suami isteri pendekar ini, Kun Liong merasa girang bukan main karena kini dia merasa yakin bahwa dia, Hong Ing, dan ayah kekasihnya akan tertolong dari bahaya maut.

"Supek...! Supekbo...!" teriaknya gembira. "Harap Ji-wi suka membantu Kok Beng Lama Locianpwe menghadapi pimpinan mereka yang lihai!"

Mendengar seruan ini dan melihat Kun Liong bersama seorang dara cantik mengamuk menghadapi pengeroyokan banyak pendeta Lama, Keng Hong dan isterinya agak heran, akan tetapi mereka, diikuti oleh beberapa orang pengawal dari Panglima Besar The Hoo yang memimpin pasukan, lalu menyerbu ke tengah di mana Kok Beng Lama bertanding melawan tiga orang pendeta Lama Jubah Merah yang amat lihai.

Melihat kedatangan mereka itu, Sin Beng Lama mendengus marah, mengeluarkan seikat dupa dari sakunya dan sekali tiup, api pada kelima ujung dupa yang dipegangnya sudah membakar semua ujung hio seikat itu, kemudian cepat sekali tangannya bergerak-gerak menyambit-nyambitkan dupa-dupa biting yang sudah membara ujungnya itu ke arah Cia Keng Hong, Sie Biauw Eng, dan para pengawal. Tampak sinar-sinar kecil beterbangan ke arah pendatang-pendatang ini.

"Awasss...!" Cia Keng Hong berseru keras.

Dia dan isterinya cepat menggerakkan kaki tangannya, kakinya menendangi hio-hio yang beterbangan di bawah, ada pun jari-jari tangan mereka menyambar dan menjepit hio-hio yang menyambar tubuh atas mereka, lalu melempar benda-benda itu ke atas tanah. Akan tetapi di belakang mereka terdengar suara jeritan dan ternyata ada empat orang pengawal yang roboh berkelojotan, terkena hio-hio membara yang menancap di tubuh mereka.

Cia Keng Hong dan isterinya terkejut sekali. Para pengawal itu adalah orang-orang yang mempunyai tingkat kepandaian cukup tinggi, tetapi ternyata tidak mampu menghindarkan diri dari sambaran hio-hio tadi dan sekali terkena senjata rahasia istimewa itu langsung roboh berkelojotan dalam keadaan sekarat.

Mereka menjadi marah, maklum bahwa mereka menghadapi lawan tangguh, maka Cia Keng Hong segera mengeluarkan pedang Siang-bhok-kiam yang sejak tadi tidak pernah dipergunakannya itu. Pedang Kayu Harum ini mengeluarkan cahaya kehijauan pada saat dicabut dan dengan mata memandang tajam dia bersama isterinya menerjang ke depan, disambut oleh Hun Beng Lama dah Lak Beng Lama.

"Trakkkk-trakkk!"

"Trangg! Cring...!"

Tasbih di tangan Hun Beng Lama bertemu dengan Siang-bhok-kiam dan tubuh Lama itu tergetar hebat, terhuyung ke belakang dan memandang dengan mata terbelalak. Juga tongkat di tangan Lak Beng Lama bertemu dengan Pek-in Sin-pian (Cambuk Lemas Sakti Awan Putih) yang berupa sehelai sabuk sutera putih yang dapat digerakkan menjadi kaku seperti baja oleh tangan halus yang penuh tenaga sinkang sehingga kakek ini juga amat terkejut dan terhuyung ke belakang.

Sin Beng Lama yang kini harus menghadapi bekas suheng-nya sendirian saja, segera terdesak hebat oleh Kok Beng Lama. Dari kedua ujung lengan jubah Kok Beng Lama menyambar-nyambar angin dahsyat dan betapa pun Sin Beng Lama berusaha untuk menyerang dengan dupa-dupa membaranya, percuma saja karena terkena sambaran angin itu dupa-dupanya menjadi padam dan patah-patah.

Terpaksa Sin Beng Lama mencabut sebatang pedang lemas yang tadinya dipergunakan sebagai ikat pinggang. Tampak cahaya terang menyilaukan mata disusul suara berdesing tinggi ketika sinar ini menyambar ke arah Kok Beng Lama. Kakek tinggi besar ini terkejut, mengelak cepat namun tetap saja kulit lehernya robek berdarah. Sambil menyeka darah pada lehernya, Kok Beng Lama mendengus dan memandang penuh kemarahan kepada bekas sute-nya.

"Manusia munafik!" Kok Beng Lama membentak dan menggerakkan kedua tangannya menyerang dengan lembut.

Sin Beng Lama diam saja tak menjawab, kemudian dia cepat menggerakkan pedangnya yang mengeluarkan sinar putih berkilat menyilaukan mata itu. Dia tidak dapat menjawab makian bekas suheng-nya karena dia tahu bahwa dia telah melanggar sumpah, sumpah kepala Lama Jubah Merah.

Pedang itu adalah pedang pusaka yang selalu menjadi pegangan seorang Kepala Lama Jubah Merah. Akan tetapi membunuh merupakan pantangan bagi seorang kepala Lama, apa lagi membunuh dengan pedang pusaka ini! Pantangan ini diperkuat dengan sumpah bahwa kalau seorang Kepala Lama melanggarnya, maka dia akan tewas di ujung pedang pusaka itu sendiri. Dan kini, karena merasa tidak kuat menandingi bekas suheng-nya, Sin Beng Lama melanggar sumpahnya sendiri dan mengandalkan pedang pusaka itu untuk memperoleh kemenangan.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner