PETUALANG ASMARA : JILID-65


Sambil mengeluarkan suara menggereng yang keluar dari dadanya, Kok Beng Lama maju menghadapi pedang pusaka di tangan Sin Beng Lama itu. Sepasang lengan kakek tinggi besar ini mengeluarkan hawa pukulan yang sangat kuat sehingga gulungan sinar pedang putih selalu terdorong mundur.

"Robohlah...!" Sin Beng Lama berteriak, melakukan penyerangan kilat, pedang pusakanya menyusul tangan kirinya yang mencengkeram ke arah ubun-ubun, menusuk dari samping menuju lambung lawan.

Kok Beng Lama maklum akan jurus serangan yang sangat berbahaya ini, akan tetapi dia sudah mengambil keputusan tetap hendak membunuh bekas sute-nya yang kejam dan hampir membunuh anaknya itu. Apa lagi mendengar dari Kun Liong tadi bahwa sute-nya ini sudah menyelewengkan perkumpulan mereka, bersekutu dengan Pek-lian-kauw untuk merampas Kerajaan Tibet. Sungguh merupakan dosa yang tak dapat diampunkan.

Bagaikan sepasang garuda yang menyambar cepatnya, kedua tangannya bergerak, yang kanan menangkap tangan sute-nya yang mencengkeram ke arah ubun-ubun, dan yang kiri dengan gerakan membalik dari samping, dengan telapak tangan terbuka memukul ke arah pedang yang menusuk lambungnya.

"Desss! Trangggg...!"

Pedang itu langsung terlepas dari pegangan, bahkan tangan kanan Sin Beng Lama telah tertangkap pula oleh tangan kiri Kok Beng Lama sehingga kini kedua tangan Ketua Lama Jubah Merah itu sudah ditangkap oleh bekas suheng-nya! Keduanya saling mengerahkan sinkang, tetapi tahulah Sin Beng Lama bahwa dia kalah tenaga dan sepasang lengannya sudah menggigil hebat.

"Haaaaiiiiiikkkk...!"

Tiba-tiba Sin Beng Lama mengeluarkan pekik yang menggetarkan seluruh tempat itu dan kepalanya yang gundul menyeruduk seperti seekor kerbau mengamuk ke arah perut Kok Beng Lama. Inilah serangan maut yang amat berbahaya karena kepala gundul yang kini mengeluarkan uap putih itu mengandung pemusatan sinkang yang dahsyat bukan main sehingga batu karang sekali pun akan hancur lebur kalau kena diseruduk oleh kepala ini!

"Ceppppp...!"

Kok Beng Lama yang melihat serangan ini, tidak mengelak bahkan memasang perutnya, menerima serudukan, bahkan perutnya yang gendut itu mendadak menjadi lunak sekali, membuat kepala Sin Beng Lama menancap ke dalam rongga perutnya, karena langsung disedot dengan pengerahan sinkang.

Terdengar suara berkerotokan keras lantas tubuh Sin Beng Lama menjadi lemas. Ketika Kok Beng Lama menarik napas panjang dan kembali melembungkan perutnya, tubuh Sin Beng Lama terlempar ke belakang dalam keadaan tak bernyawa lagi karena kepalanya retak-retak dan remuk di sebelah dalamnya. Kok Beng Lama segera membalikkan tubuh untuk mencari dua orang musuhnya lagi, yaitu Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama.

Begitu dia memandang, dia menjadi bengong dan terbelalak. Dua orang pendeta lama itu sedang bertanding melawan seorang laki-laki dan seorang wanita yang memiliki gerakan sangat luar biasa hebatnya.

Pada saat itu sabuk sutera putih di tangan wanita cantik itu melayang seperti seekor naga putih, menyambar-nyambar ke arah Hun Beng Lama dan Lak Beng Lama dan ketika dua orang pendeta Lama ini menggerakkan tasbih dan tongkat untuk menangkis, kedua ujung sabuk itu telah melibat senjata-senjata mereka!

Kedua orang Lama ini mengerahkan tenaga untuk menarik dan membikin putus dan rusak sabuk sutera putih. Akan tetapi pada saat itu pula berkelebat sinar kehijauan dari Pedang Kayu Harum, dan dua orang pendeta Lama itu mengeluh lalu roboh dan tak dapat bangkit kembali. Sedemikian cepatnya pedang itu menembus dada dan keluar lagi sehingga tidak tampak oleh pandangan mata.

Siasat kerja sama yang dilakukan oleh Cia Keng Hong dan Sie Biauw Eng memang amat hebat. Tadinya, ketika Keng Hong menghadapi Hun Beng Lama dan Biauw Eng melawan Lak Beng Lama, keadaan ramai bukan main. Keng Hong mampu mendesak Hun Beng Lama, akan tetapi Biauw Eng merasa repot menghadapi serbuan tongkat Lak Beng Lama sehingga sampai lama kedua orang suami isteri perkasa ini belum mampu merobohkan lawan.

Tiba-tiba Biauw Eng berseru keras dan ini adalah tanda bagi suaminya akan siasatnya bekerja sama. Dan ternyata berhasil baik karena selagi kedua orang lawan tangguh itu bersitegang untuk menarik kembali senjata dan merusak sabuk sutera, Siang-bhok-kiam di tangan Keng Hong memperoleh kesempatan baik untuk melakukan serangan kilat yang berhasil dengan baik.

Kok Beng Lama mengeluarkan suara gerengan hebat. Dia kaget dan heran, juga kagum akan tetapi marah sekali. Dia terkejut dan heran melihat betapa dua orang sute-nya itu sampai kalah, kagum melihat kelihaian suami isteri perkasa itu, akan tetapi dia marah sekali sesudah kini melihat betapa para pendeta Lama diserbu oleh musuh dan banyak yang telah roboh dan tewas.

Setelah kini tiga orang sute-nya tewas semua, lenyap pulalah semua permusuhan di dalam hatinya terhadap perkumpulan Lama Jubah Merah, bahkan timbul kemarahannya karena dia merasa bahwa golongannya diserbu musuh. Maka sambil berteriak marah dia menyambar pedang pusaka yang tadi dipergunakan Sin Beng Lama, lalu berlari ke depan menyerang Keng Hong dan Biauw Eng.

"Singgg... trangg-trakkk... singgg...!"

Keng Hong dan Biauw Eng yang sudah menangkis itu terdorong ke belakang dan mereka terkejut. Kiranya pendeta Lama tinggi besar ini bahkan jauh lebih lihai lagi dibandingkan dengan dua orang pendeta Lama yang sudah berhasil mereka robohkan! Namun Keng Hong cepat mendahului isterinya, menggerakkan Siang-bhok-kiam dan menerjang kakek itu sambil berseru,

"Mundurlah, biarkan aku menghadapinya!"

Biauw Eng mengerti akan peringatan suaminya. Memang suaminya telah melihat betapa lihainya Lama tinggi besar ini sehingga bila dia maju maka akan membahayakan dirinya. Betapa pun juga, Biauw Eng bersiap dengan sabuk sutera di tangannya, siap membantu kalau suaminya sampai terdesak dan terancam keselamatannya.

Rangkaian serangan pertama yang dilakukan Keng Hong terhadap Kok Beng Lama amat hebatnya sehingga mengejutkan hati pendeta Lama tinggi besar itu. Sinar kehijauan dari Siang-bhok-kiam diikuti bau yang harum dan halus menyambar-nyambar, mula-mula dari atas dengan gerakan miring membacok ke bawah mengarah leher, ketika dapat ditangkis oleh pedang di tangan kakek tinggi besar itu, pedang Siang-bhok-kiam lalu menyeleweng ke samping dan membacok serta menusuk bertubi-tubi mengarah pada tujuh jalan darah terpenting di tubuh depan lawan, sedangkan tangan kiri pendekar sakti itu mengimbangi gerakan pedang, melakukan pukulan-pukulan tangan kosong dari jurus Thai-kek Sin-kun disertai tenaga mukjijat Thi-khi I-beng!

Kok Beng Lama repot setengah mati menghadapi serangkaian serangan ini, menangkis dengan pedang, dengan lengan kirinya, mengelak dan berloncatan ke sana sini sehingga akhirnya dia mampu lolos dari serangkaian serangan itu. Sesudah meloncat ke belakang dia langsung menyerbu ke depan dan membalas dengan serangannya yang tidak kalah dahsyatnya sehingga kini tiba giliran Keng Hong untuk menghadapi serangan itu dengan kaget namun berhasil pula menyelamatkan diri.

Terjadilah serang-menyerang yang amat seru dan Biauw Eng yang menonton di pinggir harus mengakui bahwa agaknya baru sekarang ini suaminya menghadapi tanding yang amat kuat dan seimbang! Walau pun tingkat kepandaiannya sendiri sudah tinggi, namun dia tahu bahwa dia sendiri bukanlah lawan pendeta Lama tinggi besar ini.

"Supek... harap tahan senjata... Locianpwe ini bukan musuh...!"

"Ayah...! Ayah, jangan melawan, Ayah...!"

Munculnya Kun Liong bersama Hong Ing ini membuat Keng Hong dan Kok Beng Lama meloncat mundur. Kun Liong menghampiri Keng Hong yang memandangnya dengan alis berkerut penuh pertanyaan, sedangkan Hong Ing lalu menubruk ayahnya.

"Ayah, lekas... markas terbakar dan Sute berada di dalam...!"

Kok Beng Lama terbelalak dan cepat membalikkan tubuhnya memandang markas yang betul-betul telah menjadi lautan api itu. Dia menyelipkan pedang pusaka di pinggangnya, kemudian terdengar dia mengeluarkan seruan yang keras sekali seperti gerengan seekor singa.

"Bun Houw...!" Dan tubuhnya yang tinggi besar sudah melesat ke depan.

"Brakkkkk…!" Dinding itu diterjangnya saja sampai ambrol.

"Bresssss…!" Dinding yang ke dua ambrol pula dan tampak kakek itu menerjang melalui dinding yang diruntuhkannya memasuki lautan api!

"Ayaahhh...!" Hong Ing juga lari ke arah lautan api, akan tetapi tiba-tiba saja pinggangnya dirangkul Kun Liong dari belakang. Dara itu meronta-ronta dan menangis. "Biarkan aku menyusul Ayah!"

Namun Kun Liong malah memperkuat pelukannya. "Hong Ing... ingatlah, ayahmu sedang berusaha menyelamatkan Bun Houw, tak ada gunanya engkau membuang nyawa sia-sia di situ."

Sementara itu, Keng Hong dan Biauw Eng menjadi pucat mukanya ketika melihat kakek tinggi besar tadi menerjang api dan meneriakkan nama Bun Houw, putera mereka!

"Kun Liong, apa artinya ini? Mana Bun Houw?" Keng Hong bertanya.

"Supek, saya pun baru saja mendengar dari Hong Ing bahwa Adik Bun Houw berada di sini, di dalam markas yang terbakar itu."

Hong Ing kini menghadapi Cia Keng Hong dan isterinya, tanpa banyak sopan santun lagi karena keadaan sedang tegang seperti itu segera berkata, "Sute Cia Bun Houw diambil murid oleh Ayah... dan... dan kini Ayah sedang mencarinya ke dalam sana..."

"Houw-ji (Anak Houw)...!" Sie Biauw Eng menjerit.

"Harap Supek-bo tenang...!" Kun Liong berkata khawatir melihat keadaan nyonya yang perkasa itu, yang memandang ke arah api dengan mata terbelalak.

"Ayahku lebih tahu akan keadaan di dalam, mudah-mudahan dia dapat menyelamatkan Sute," Hong Ing berkata lirih, seperti kepada diri sendiri.

"Aku akan mencarinya!" Biauw Eng hendak meloncat, akan tetapi tangannya disambar suaminya.

"Ucapan Nona ini tepat. Ayahnya lebih mengenal keadaan di dalam, kalau kau atau aku yang masuk ke lautan api itu tanpa mengenal keadaan dan tanpa mengetahui persis di mana adanya Bun Houw sama dengan membunuh diri."

"Aku tidak takut mati untuk membela anakku!" Biauw Eng berteriak marah dan meronta.

Keng Hong terpaksa merangkul dan memeluknya seperti yang dilakukan oleh Kun Liong kepada Hong Ing tadi. "Siapa takut mati? Aku pun tidak takut, akan tetapi perlukah mati konyol? Bagaimana kalau nanti Bun Houw selamat akan tetapi kita berdua mati terbakar di sana?"

Kata-kata ini dapat diterima oleh Biauw Eng. Dia memandang dengan muka pucat dan menahan napas. Bukan dia saja, juga Keng Hong, Kun Liong, dan Hong Ing memandang ke arah lautan api dengan muka pucat dan menahan napas, dalam suasana yang amat menegangkan hati.

Sampai lama mereka berdiri tanpa bergerak, seolah-olah mereka lupa keadaan sekeliling di mana masih terjadi pertempuran-pertempuran berat sebelah antara pasukan pemerintah melawan para pendeta Lama yang hanya melakukan perlawanan dengan setengah hati karena selain pasukan Pek-lian-kauw sudah kocar-kacir dan lari bersama pasukan suka rela yang terdiri dari penduduk dusun, juga pimpinan mereka telah tewas semua.

Mendadak terdengar suara tertawa bergelak dari dalam lautan api dan muncullah tubuh tinggi besar dari Kok Beng Lama yang berlarian meloncat keluar dari dalam lautan api, kedua tangannya memondong Bun Houw yang diselimuti jubah merahnya.

Ketika Kok Beng Lama tiba di dekat Hong Ing, dia mengeluh dan roboh terguling, akan tetapi Bun Houw tetap berada di dalam pondongannya.

"Houw-ji...!"

"Ibu...!"

Biauw Eng cepat menyambar Bun Houw yang telah selamat dan hanya menderita sedikit luka-luka ringan, akan tetapi Kok Beng Lama pingsan dengan tubuh menghitam semua, mukanya hitam gosong dan tubuhnya penuh luka terbakar! Keng Hong segera menolong pendeta Lama itu sedangkan Hong Ing beserta Kun Liong lalu membujuk semua pendeta untuk menghentikan perlawanan sehingga perang dapat dihentikan.

Keng Hong sendiri lalu memerintahkan pasukan untuk mundur dan keluar dari tempat itu, sedangkan Hong Ing, dibantu oleh Kun Liong dan para pembantu Lama, membawa Kok Beng Lama ke dalam bangunan samping yang belum terbakar, lalu merawat kakek ini penuh ketekunan.

Sebulan kemudian tampak betapa bangunan Lama Jubah Merah yang terbakar lebih dari separuhnya itu mulai diperbaiki oleh sisa-sisa anggota Lama yang kini sudah insyaf dan diampuni oleh Pemerintah Tibet. Sekarang, atas saran dan tanggungan dari pendekar Cia Keng Hong, Kok Beng Lama ditunjuk oleh Pemerintah Tibet untuk menjadi ketua baru dari Lama Jubah Merah.

Dan pendeta tinggi besar yang sekarang mukanya berubah hitam itu memimpin sendiri pembangunan itu dengan wajah yang berseri. Dia mengambil keputusan di dalam hatinya untuk memperbaiki nama Lama Jubah Merah yang telah dicemarkan dan diselewengkan oleh Sin Beng Lama bertiga…..

********************

Tidak jauh dari tempat itu, di lereng gunung yang sunyi, Kun Liong dan Hong Ing duduk berdua di atas rumput hijau sambil bercakap-cakap. Wajah mereka berseri-seri dan segar tanda bahwa hati mereka bergembira, terutama sekali Hong Ing yang sudah mengalami perubahan yang amat hebat dalam hidupnya.

Tadinya dia menghadapi ancaman hebat, terpisah dari Kun Liong yang sangat dicintanya, dan ayah kandungnya juga menjadi orang hukuman yang tidak berdaya. Sekarang ayah kandungnya sudah sembuh dan bahkan menjadi Ketua Lama Jubah Merah, dan terutama sekali Kun Liong yang dicintanya berada di sampingnya!

"Hong Ing..."

"Hemmm... ?"

Di dalam panggilan ini dan jawabannya yang memecah kesunyian tempat itu terkandung kemesraan dan cinta kasih yang tidak perlu dinyatakan lagi dalam kata-kata karena di dalam nada suara yang singkat itu terkandung getaran penuh kasih sayang yang terasa sampai di lubuk hati masing-masing. Demikian hebat pengaruh getaran ini sehingga Kun Liong menjadi terharu dan terpesona, membuatnya sulit untuk melanjutkan kata-katanya. Hong Ing mendesaknya dengan pertanyaan melalui pandang matanya.

Kun Liong menarik napas panjang tiga kali, barulah dia bisa menenangkan gelora hatinya yang dibangkitkan oleh getaran cinta kasihnya, kemudian dia berkata, "Hong Ing, setelah keadaan telah menjadi baik kembali, ayahmu telah sembuh sama sekali, kini aku... aku... terus terang meminangmu untuk menjadi isteriku, Hong Ing."

Sejenak mereka berpandangan, kemudian kedua pipi dara itu menjadi merah sekali dan mukanya ditundukkan. Mereka sudah saling menyatakan cinta kasih tanpa sungkan dan malu-malu lagi, tetapi mendengar pinangan untuk menjadi isteri pemuda yang dikasihinya ini, Hong Ing menjadi canggung dan malu juga.

"Bagaimana jawabanmu, Hong Ing?"

"Kun Liong, kenapa... kenapa engkau memilih aku menjadi... isterimu?"

"Kenapa? Ahh, tentu saja karena aku cinta padamu, Hong Ing."

Hong Ing mengangkat mukanya, sepasang matanya bersinar-sinar memandang dan dia bertanya lagi, "Kenapa engkau cinta padaku? Kun Liong, berhari-hari sudah aku menahan pertanyaan yang ingin kuajukan kepadamu ini. Sekaranglah saatnya. Mengapa engkau cinta kepadaku. Kun Liong? Mengapa?"

Kun Liong memegang kedua tangan kekasihnya dan memandang tajam. "Aku memang telah bersikap bodoh sekali dan berkali-kali menyakiti hatimu, Hong Ing. Menyakiti hatimu karena kebodohanku dan kecanggunganku. Aku cinta kepadamu, semenjak kita pertama kali bertemu, akan tetapi aku terlalu angkuh, canggung dan tidak mau mengakui, walau terhadap diri sendiri sekali pun. Aku cinta padamu karena engkaulah satu-satunya wanita di dunia ini yang bagiku sempurna tanpa cacat, engkaulah yang menciptakan bayangan wanita khayal yang kupuja-puja dahulu, karena engkaulah orangnya. Wanita khayal itu adalah engkau, Hong Ing, dan lebih lagi, kalau wanita khayal itu hanya angan-angan dan bayangan saja, engkau adalah seorang manusia dari darah daging, seperti aku, maka bagiku engkau lebih dari pada wanita khayal itu. Engkau adalah satu-satunya wanita yang kucinta, yang ingin kujadikan isteriku, teman hidupku selamanya, membentuk keluarga denganmu, mempunyai keturunan dan suka duka kita pikul bersama, Hong Ing."

Hong Ing terisak dan rebah dalam pelukan Kun Liong. Dara ini merasa seperti diayun ke sorga ke tujuh. Kata-kata yang diucapkan Kun Liong tadi baginya merupakan nyanyian sorga yang amat merdu.

"Kun Liong, aku... aku hanyalah seorang gadis bodoh dan hina yang... semenjak dulu tak pernah berhenti mencintamu, yang setiap saat bermimpi menginginkan menjadi isterimu dan aku... aku menerima segalanya, aku... bersedia menjadi isterimu asal engkau suka mengirim Cia Keng Hong Locianpwe sebagai walimu untuk melamarku kepada Ayah."

"Hong Ing...!" Kun Liong mendekap dan menciuminya. Sejenak mereka tenggelam dalam buaian cinta kasih yang memabukkan.

Akhirnya Hong Ing menarik tubuhnya sedikit menjauh dan beberapa kali menarik napas panjang. Sepasang pipinya menjadi makin kemerahan, matanya sayu seperti mata orang mengantuk, bibirnya tersenyum aneh membayangkan rahasia hatinya.

"Aih, Kun Liong, betapa mengerikan kalau aku mengenangkan waktu yang lalu, ketika aku melakukan segala siasat dan daya upaya agar engkau dapat datang ke tempat ini. Ketika itu, sudah bulat keputusanku bahwa lebih baik aku mati dari pada tidak dapat bertemu lagi denganmu."

Kun Liong memegang kedua tangan dara itu. "Engkau hebat, Hong Ing. Dan alangkah bahagianya seorang seperti aku mendapatkan cinta kasih seorang dara seperti engkau yang begini mulia! Padahal aku adalah seorang laki-laki yang bodoh, yang sombong dan angkuh, yang selalu merendahkan cinta. Betapa aku dahulu selalu memandang rendah kepada cinta kasih antara pria dan wanita! Semua ini timbul karena di dalam kehidupanku banyak sekali aku mengalami godaan asmara! Sungguh aku harus merasa malu kepada diri sendiri, dan aku menyesal sekali terutama sekali tentang satu hal... yang harus kuberi tahukan padamu sebelum... sebelum kita menjadi suami isteri. Kalau tidak kuberi tahukan kepadamu, hal ini hanya akan menjadi penghalang kebahagiaan kita..." Dia lalu berhenti dengan ragu-ragu sambil memandang kekasihnya.

"Kun Liong! Apakah itu? Apa yang ingin kau sampaikan? Mengapa wajahmu tiba-tiba saja kehilangan serinya dan engkau kelihatan khawatir dan ragu-ragu? Katakanlah, apakah hal yang kau risaukan itu?"

"Hong Ing, apa yang akan kuceritakan adalah hal yang amat memalukan, hal yang amat kotor. Apa bila nanti engkau marah kepadaku, mengutukku, bahkan kalau hal ini membuat engkau menolak aku dan memandang rendah kepadaku, aku akan menerimanya dengan rendah hati, karena memang engkau patut mengutukku."

Wajah Hong Ing menjadi pucat sekali. "Tidak...! Tidak...! Kalau begitu lebih baik jangan kau ceritakan itu!"

Kun Liong menggeleng kepala dan tersenyum duka. "Harus kuceritakan, Hong Ing. Dari pada menyimpan rahasia. Rahasia yang terselip di antara suami isteri kelak hanya akan menimbulkan bencana. Aku, harus menceritakan kepadamu, kemudian terserah padamu keputusannya. Engkau terlalu bersih dan murni, sedangkan aku akan merasa diriku kotor dan tidak berharga bagimu, selamanya kalau aku belum menceritakan hal ini."

Hong Ing memandang kepada kekasihnya dengan sinar mata penuh kekhawatiran, akan tetapi juga penuh rasa iba, kemudian katanya lirih, "Kalau begitu, ceritakanlah, Kun Liong. Ceritakanlah semuanya dan sebelumnya aku sudah memaafkan segala kekeliruanmu."

Kun Liong memegang kedua tangan kekasihnya, tidak dilepaskannya lagi seolah-olah dia mendapatkan kekuatan batin dari sepasang tangan kekasihnya itu untuk menceritakan hal yang amat menindih perasaannya itu. "Terima kasih, Hong Ing. Ingatkah engkau kepada wanita yang telah tewas bersama suaminya sebulan yang lalu di tempat ini ketika mereka berdua membelaku?"

"Dua orang murid pendekar Secuan itu? Tentu saja aku masih ingat, sungguh kasihan sekali mereka. Engkau telah memberi tahu kepadaku bahwa mereka adalah Tan Swi Bu dan Liem Hwi Sian."

Kun Liong mengangguk. "Mereka adalah sahabat lamaku, terutama sekali Liem Hwi Sian. Ketika mereka roboh, sebelum menghembuskan napas terakhir, Hwi Sian meninggalkan pesan kepadaku."

"Pesan apakah?"

"Bahwa dia memiliki seorang anak yang ditinggalkannya di Kuil Kwan-im-bio, di kaki bukit dekat rumah gurunya, dan dia berpesan kepadaku agar aku suka merawat anak itu..."

Pandang mata yang tadinya diliputi kekhawatiran itu kini berseri dan jari-jari tangan yang dipegang Kun Liong itu membalas dengan sentuhan lembut, mulut yang tadi agak terbuka itu kini tersenyum. "Aihhh, kau membikin orang menjadi tegang dan gelisah saja! Kalau hanya urusan itu, mengapa dirisaukan benar? Tentu saja aku setuju sepenuhnya untuk merawat anak yang bernasib malang itu!"

Akan tetapi Kun Liong masih memegang kedua tangan Hong Ing dan sikapnya masih sungguh-sungguh, pandang matanya masih penuh kegelisahan. "Bukan hanya itu, Hong Ing, akan tetapi... anak itu... anak Hwi Sian itu bukanlah keturunan suaminya, bukan anak Tan Swi Bu..."

"Ehhh...?" Hong Ing memandang tajam dengan alis berkerut, timbul persangkaan bahwa yang disebut rahasia itu adalah rahasia keburukan Hwi Sian, tentu sahabat suaminya itu telah melakukan penyelewengan hingga melahirkan seorang anak bukan dari keturunan suaminya!

"Kun Liong, aku tidak ingin mengetahui rahasia orang lain, kalau kau mau menerima anak sahabatmu itu untuk kau rawat, aku setuju saja. Tidak perlu kau menceritakan rahasia pribadi Liem Hwi Sian itu."

"Bukan begitu, Hong Ing, bukan rahasianya, melainkan rahasiaku. Dengarlah baik-baik, dahulu, setahun lebih yang lalu, sebelum aku bertemu denganmu, aku amat meremehkan soal cinta sehingga aku memandang rendah pula terhadap cinta kasih wanita terhadap diriku. Di antara mereka yang mencintaku adalah Hwi Sian. Akan tetapi aku yang suka menggodanya tidak membalas cinta kasihnya. Saat dia ditunangkan dan akan dinikahkan dengan suheng-nya, yaitu Tan Swi Bu, hatinya hancur dan dia mencariku, lalu... lalu... dia minta supaya aku suka menjadi suaminya untuk semalam saja! Kalau menolak, dia akan membunuh diri karena dia tidak mencinta suheng-nya, melainkan mencintaku. Dan aku... aku yang bodoh dan sombong, aku... aku menuruti permintaannya. Kemudian, ketika dia akan mati, dia meninggalkan pesan bahwa anak itu... anaknya itu... adalah... anak hasil dari hubungan kami semalam itu, dia adalah anakku..."

Hong Ing merenggut kedua tangannya, bangkit berdiri dan mukanya pucat sekali, kedua matanya terbelalak seperti kelinci ketakutan memandang kepada Kun Liong.

Pemuda itu juga bangkit dengan tubuh gemetar. "Aku memang seorang manusia kotor, seorang rendah yang tidak patut untukmu, Hong Ing. Aku akan menerimanya bila engkau mengutukku, ketika itu aku memandang rendah cinta kasih antara pria dan wanita. Aku menganggap bahwa semua cinta kasih menjurus kepada cinta birahi belaka. Akan tetapi, ternyata tidak... cinta kasih adalah sesuatu yang luhur dan mulia, yang bersih tak ternoda dari segala sesuatu, termasuk hubungan jasmani antara pria dan wanita, barulah suci dan murni kalau didasari cinta kasih. Tanpa cinta kasih, segala adalah kotor dan hina. Namun aku... aku seperti buta pada waktu itu, Hong Ing."

Hong Ing tidak menjawab, hanya berdiri memandang dengan mata terbetalak dan muka pucat. Melihat keadaan kekasihnya ini, Kun Liong merasa sangat kasihan, akan tetapi seperti seorang pesakitan yang menanti keputusan hakim, dia berdiri dan menundukkan mukanya, menanti suara Hong Ing.

Akhirnya terdengar tarikan napas panjang, kemudian disusul suara dara itu. Halus lirih dan mengandung isak tertahan, "Aku... aku cinta kepadamu bukan karena kebaikanmu... aku cinta padamu karena engkau... dan aku menerimamu dengan segala cacat celamu. Kau telah melakukan penyelewengan yang sudah kau sadari... sudahlah, hal itu tak perlu dibicarakan lagi... dan anak itu... dia anakmu yang harus kita rawat baik-baik..."

"Hong Ing...!" Kun Liong terisak dan menjatuhkan diri berlutut di depan dara itu. "Betapa mulia hatimu...!"

Sejenak Hong Ing berdiri menunduk, air matanya bercucuran, lalu dia juga menjatuhkan diri berlutut dan merangkul Kun Liong. Keduanya saling berpelukan, berciuman sambil menangis, keharuan dan kebahagiaan bercampur menjadi satu.

"Hong Ing, engkau dewiku, engkau mulia dan berbudi...!"

"Hushhh, aku merasa malu kepada Hwi Sian jika kau berkata demikian, terlalu memujiku. Dialah wanita yang amat mencintamu..."

"Keliru, Hong Ing. Dia telah mencelakakan diri sendiri. Dia mengira bahwa cinta hanyalah hubungan badan... tapi sudahlah, betapa pun juga, Hwi Sian telah membuktikan cintanya dengan mengorbankan diri untuk membantuku. Dan semua memang kesalahanku... aku dulu terlalu nakal suka menggoda wanita, sungguh pun godaanku tidak terlalu mendalam, tidak memancing hubungan badan namun telah mendatangkan akibat-akibat yang sangat menyedihkan. Dahulu sebelum aku berjumpa denganmu... ahh, harus kuceritakan semua kepadamu…"

Sambil duduk di atas rumput dan saling berangkulan, Kun Liong lalu menceritakan semua riwayatnya, semua petualangannya dengan banyak wanita yang dijumpainya, tentang Yo Bi Kiok yang kini menjadi guru adik kandungnya dan yang menunjukkan cinta terhadap dirinya, cinta yang garang dan mengerikan, kemudian dia bercerita pula tentang wanita lain yang dijumpainya, di antaranya mendiang Souw Li Hwa, Cia Giok Keng, Liem Hwi Sian dan Lauw Kim In, kemudian Pek Hong Ing sendiri. Menceritakan betapa dahulu dia menggoda mereka itu.

Setelah mendengarkan semua penuturan yang terus terang dari kekasihnya, Hong Ing tersenyum lalu berkata. "Dengan menceritakan semua itu kepadaku berarti bahwa mulai saat ini engkau telah menghentikan semua perbuatan itu."

"Memang dahulu aku bodoh dan dungu sesuai dengan kepalaku yang gundul. Akan tetapi sejak bertemu denganmu, perasaan yang luar biasa telah membuka mataku. Dahulu aku memang sombong dan pongah, bodoh dan..."

"Dan petualang asmara yang canggung!"

"Petualang asmara?"

"Ya, engkau seorang petualang asmara yang canggung dan yang sekarang terjerat oleh asmara itu sendiri. Sekarang, sudah mengertikah engkau apa artinya mencinta?"

Kun Liong memeluk. "Sudah mengerti, kekasihku. Karena engkau yang telah mengajarku, dengan sikapmu yang sederhana dan terbuka. Cintamu kepadaku begitu tulus dan polos bersih, dan biarlah aku mencontohmu. Aku cinta padamu karena engkau adalah engkau, Hong Ing, aku mencintamu dari ujung rambut kepalamu sampai ke kuku jari kakimu, tidak ada kecualinya, aku mencintamu dengan segala kebaikanmu dan semua keburukanmu, dengan segala kesempurnaanmu sampai kepada segala cacatmu, apa bila memang ada keburukan dan cacatmu. Karena dengan cinta kasih, tidak adalah cacat dan keburukan itu."

Hong Ing balas memeluk dan suaranya agak manja ketika dia berkata, "Dan aku hanyalah calon isterimu yang setia, bodoh dan penurut..."

"Suci Hong Ing...! Liong-twako...!"

Sepasang muda mudi yang sedang berpelukan itu cepat melepaskan diri masing-masing lantas meloncat berdiri. Sambil tersenyum mereka memandang Bun Houw yang sedang berlari-larian mendaki lereng itu dari bawah.

Cia Bun How, putera pendekar Cia Keng Hong ini masih berada di Tibet. Kok Beng Lama menuntut kepada Ketua Cin-ling-pai itu agar dia boleh menurunkan ilmu-ilmunya kepada Cia Bun Houw yang sudah menjadi muridnya. Tadinya, Biauw Eng merasa keberatan, akan tetapi karena suaminya merasa bahwa Bun Houw berhutang nyawa kepada kakek itu, pula melihat bahwa kakek itu mempunyai ilmu kepandaian yang amat tinggi, terpaksa meluluskan. Untuk menyenangkan hati isterinya, Cia Keng Hong menjanjikan kepada Kok Beng Lama untuk kelak mengirim Bun Houw ke Tibet dan berguru kepadanya setelah puteranya itu berusia lima belas tahun.

Kok Beng Lama maklum bahwa suami isteri pendekar yang lihai itu ingin menanamkan dasar-dasar kepandaian mereka kepada putera mereka lebih dulu, maka dia pun setuju, hanya minta agar anak itu diperbolehkan tinggal di situ dan kelak kembali ke Cin-ling-san bersama Kun Liong.

Demikianlah, Cia Keng Hong dan isterinya kembali ke Cin-ling-san dan meninggalkan Bun How di tempat itu. Pada pagi hari itu, Bun Houw berlari-lari dan memanggil-manggil Kun Liong dan Hong Ing yang sedang duduk bercakap-cakap di lereng bukit.

"Ehhh, Sute, ada apakah engkau berlari-lari menyusul kami?" Hong Ing bertanya setelah anak itu tiba di depannya.

"Suhu memanggil Suci dan Twako."

Mereka bertiga lalu menuruni lereng, kembali ke markas yang sedang dibangun kembali itu. Kok Beng Lama sudah menunggu mereka di bangunan samping yang masih utuh, dan setelah mereka menghadap, dia menyuruh Bun Houw untuk keluar dari ruangan dan bermain-main di luar.

"Kun Liong dan Hong Ing," katanya ramah, "pinceng sudah mengetahui akan hubungan kalian dan pinceng merasa gembira sekali serta memberi restu. Akan tetapi, mengingat bahwa umur Hong Ing sudah cukup, pinceng minta kepadamu mengirim pinangan agar hari pernikahan dapat ditetapkan dengan segera."

Mendengar ini, wajah Hong Ing menjadi merah sekali. "Ihhhh... Ayah...!" katanya sambil berlari keluar!

Kok Beng Lama tertawa. "Engkau tentu mengerti, Kun Liong, bahwa penghargaan yang terutama bagi seorang gadis adalah pinangan, karena hanya pinangan saja yang menjadi bukti bagi seorang pemuda bahwa dia mencinta gadis itu dan menghendakinya sebagai isterinya. Pinceng tahu bahwa selain kalian berdua sudah saling mencinta dengan penuh kesetiaan, juga bahwa engkau sudah tidak punya ayah bunda, dan pinceng pun sudah setuju, akan tetapi demi menghargai diri Hong Ing, engkau harus mengajukan pinangan secara resmi."

Kun Liong menunduk. "Hal itu sudah kami bicarakan tadi, Locianpwe. Saya akan pergi ke Cin-ling-san, mengajak Adik Bun Houw pulang ke sana, sekalian minta tolong kepada Supek dan Supek-bo untuk mengajukan pinangan secara resmi serta menetapkan hari pernikahan itu. Akan tetapi... saya hanyalah seorang pemuda sebatang kara yang... yang miskin dan..."

"Hushhh! Apa kau kira bahwa pinceng hendak menjodohkan anak pinceng dengan harta benda?"

"Maaf, Locianpwe."

"Sudahlah, kau berangkat hari ini juga dan ajaklah Bun Houw. Sampaikan pula salamku kepada Cia Keng Hong Taihiap dan isterinya."

"Maaf, saya tidak dapat berangkat hari ini karena ada satu urusan lagi yang harus saya selesaikan lebih dulu."

"Huh, apa lagi?!" kakek itu membentak.

Pada saat itu, Hong Ing datang berlari. Tadi dia tidak pergi jauh, hanya bersembunyi di balik pintu dan mendengarkan percakapan antara kekasihnya dengan ayahnya, maka kini mendengar ucapan Kun Liong, dia cepat berlari masuk.

"Ayah, aku dan dia mau pergi ke Kuil Kwan-im-bio di rumah mendiang Gak-taihiap untuk mengambil seorang anak yang dititipkan di kuil itu."

"Huh? Apa? Anak siapa?"

Hong Ing yang merasa khawatir kalau-kalau kekasihnya yang jujur itu akan menceritakan rahasianya bersama mendiang Hwi Sian, cepat-cepat mendahului Kun Liong dan berkata, "Tahukah Ayah tentang suami isteri yang tewas di sini pada saat mereka membela kami berdua? Mereka itu adalah murid-murid Gak-taihiap di Secuan, sahabat-sahabat dari Kun Liong. Mereka telah mengorbankan diri demi kami berdua, dan pada saat terakhir mereka minta kepada Kun Liong agar kami berdua suka merawat anak mereka yang ditinggalkan di kuil itu. Bagaimana menurut pendapat Ayah? Sesudah ayah bundanya tewas demi membela kami, apakah kami tidak seharusnya memenuhi permintaan mereka itu?"

Kok Beng Lama termenung, mengerutkan alisnya lalu mengangguk-angguk. "Tentu saja... tentu saja! Aku akan membencimu apa bila kau tidak memenuhi permintaan mereka itu. Nah, cepat ambil anak yang ditinggalkan itu. Kasihan dia!"

"Ayah, aku bersama Kun Liong akan ke Secuan menjemput anak itu dan selain itu..."

"Apa lagi?" Ayahnya membentak.

"Kami berhutang budi kepada orang tuanya, maka, kami berdua telah bersepakat untuk mengambil anak itu sebagai anak kami."

"Huh! Belum menikah sudah mempunyai anak! Tapi... aku akan benci kalian kalau kalian tidak melakukan itu!"

Hong Ing dan Kun Liong berlari ke luar dan setelah tiba di luar bangunan itu, Kun Liong merangkul kekasihnya dengan hati penuh keharuan.

"Hong Ing, engkau..., engkau seorang dewi yang berhati mulia..."

Hong Ing membalas pelukan Kun Liong, melingkarkan lengannya di pinggang pemuda itu dan berkata lirih manja, "Ahh, aku hanyalah calon isterimu yang bodoh..."

Maka berangkatlah Kun Liong dan Hong Ing ke Secuan. Setelah bertemu dengan Poa Su It yang berduka sekali mendengar mengenai kematian sute dan sumoi-nya, mereka lalu diajak oleh Poa Su It mengunjungi Kuil Kwan-im-bio kemudian dari ketua nikouw (pendeta wanita) mereka menerima seorang anak perempuan yang baru berusia tiga empat bulan!

Seorang anak perempuan yang mungil dan sehat sekali karena sejak kecil, juga sesudah ditinggalkan oleh ibunya, dia dipelihara secara baik oleh para nikouw di Kwan-im-bio yang memanggilkan seorang inang pengasuh, dibesarkan dengan air susu sapi.

Kun Liong memandang anak itu dengan jantung seperti ditusuk-tusuk rasanya. Anaknya! Keturunan dan darah dagingnya! Dia terharu sekali, apa lagi ketika melihat betapa Hong Ing meraih dan memondong anak itu dengan penuh kasih sayang!

Poa Su It merasa girang sekali dan berkali-kali menghaturkan terima kasih bahwa Kun Liong dan Hong Ing, calon suami isteri itu, suka mengambil Mei Lan, demikian nama anak itu, sebagai anak mereka! Tentu saja dia tidak pernah tahu bahwa anak itu sebenarnya adalah anak Kun Liong! Disangkanya bahwa anak itu adalah anak Hwi Sian dan Tan Swi Bu, hasil dari hubungan mereka sebagai suami isteri!

"Harap Poa-toako suka merahasiakan pemungutan anak ini supaya kelak anak ini tidak mengetahui bahwa dia hanyalah anak pungut," Kun Liong berkata.

"Tentu saja! Sejak hari ini namanya menjadi Yap Mei Lan, anak Ji-wi berdua,” Poa Su it menjawab. "Aku sudah merasa bingung sekali mendengar akan kematian ayah bundanya, sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan anak ini. Syukur bahwa Ji-wi sudi mengambilnya sebagai anak memenuhi pesan terakhir mereka."

Kun Liong dan Hong Ing lalu berpamit kembali ke Tibet membawa Mei Lan bersama inang pengasuhnya yang juga diajak untuk merawat anak itu, karena Hong Ing belum memiliki pengalaman merawat anak kecil sehingga merasa khawatir dan tidak berani.

Sesudah tiba kembali di Tibet, Kun Liong lalu meninggalkan anak itu bersama Hong Ing dan mengajak Bun Houw untuk meninggalkan Tibet, kembali ke Cin-ling-san. Kok Beng Lama dan Hong Ing mengantar keberangkatan mereka sampai di ujung lereng pertama dan Kun Liong didesak sampai berkali-kali mengucapkan janji bahwa dia tidak akan lama pergi dan akan cepat mengajak Cia Keng Hong dan isterinya untuk datang mengajukan pinangan yang dinanti-nanti itu…..

********************

Cia Giok Keng berjalan dengan wajah bersungut-sungut, ada pun Lie Kong Tek berjalan melangkah dengan langkah-langkah tetap di belakangnya. Keduanya tidak bicara, hanya berjalan dengan sunyi di dalam panas terik matahari siang itu.

Hati Giok Keng mendongkol bukan kepalang. Telah berhari-hari dia melakukan perjalanan bersama Kong Tek dan selama ini merasa betapa hatinya semakin tertarik dan semakin kagum terhadap pemuda tinggi besar ini. Tampak jelas olehnya alangkah jauh bedanya pribadi Kong Tek kalau dibandingkan dengan pemuda-pemuda lain seperti Kun Liong dan terutama sekali Bu Kong.

Pemuda ini gagah perkasa, kuat dan tahan menderita, juga jujur dan pendiam, tak banyak cakap, tidak pula suka menggodanya, bahkan sama sekali tidak pernah memujinya, apa lagi menjilat atau bermuka-muka! Hal ini yang menimbulkan rasa kesal dan mendongkol di hatinya.

Semua pemuda, bahkan semua laki-laki yang dijumpainya, sudah pasti akan memandang dirinya dengan sinar mata jelas membayangkan kekaguman, mata laki-laki yang bersinar kagum dan kurang ajar, yang ceriwis dan nakal, namun yang diam-diam memuaskan dan membuat hatinya bangga karena semua itu membuktikan kecantikan dan daya tariknya. Akan tetapi Kong Tek memandangnya biasa saja, tanpa sinar berapi dan kagum, bahkan seolah-olah dia dipandang sama seperti kalau pemuda itu memandang pohon, awan, atau tanah saja! Mengkal hatinya!

Sudah berkali-kali dia sengaja memancing perhatian Kong Tek, hanya untuk memancing pujian, memancing pandang mata penuh gairah dan kagum, akan tetapi hasilnya sia-sia belaka. Betapa pun dia menggigiti bibirnya sampai menjadi merah dan basah hampir berdarah, betapa dia menyanggul rambutnya atau mengurainya hingga terlepas panjang sampai ke pinggul, betapa dia mengatur pakaiannya hingga serapi-rapinya, atau mencuci muka dan menggosoknya sampai kedua pipinya menjadi kemerahan dan segar laksana sepasang buah tomat, betapa dia bergaya sampai merasa menjadi seorang sripanggung pemain opera, hasilnya sia-sia saja! Sama halnya dengan bersolek dan bergaya di depan sebuah patung mati yang berhati batu!

Apa lagi pengalamannya tadi yang membuat dia cemberut dan bersungut-sungut, penuh kekecewaan dan kemendongkolan hati. Dia tadi sudah memancing pemuda itu dengan omongan dan masih terngiang di telinganya jawaban-jawaban Kong Tek yang membuat bibirnya makin cemberut.

Tadi mereka sedang duduk di bawah pohon rindang, berlindung dari terik panas matahari. Sambil mengusap peluhnya dari muka dan lehernya dengan sapu tangan, dia berkata, "Lie-toako, kalau aku teringat akan pengalaman-pengalamanku di Pek-lian-kauw, masih bergidik ngeri dan bangkit bulu tengkukku. Untung aku tertolong, kalau tidak... hemmm, entah apa jadinya dengan diriku."

"Memang kau beruntung sekali tidak jadi menjadi isteri Liong Bu Kong, Nona."

Sebutan nona itu sudah mulai membuat hatinya tidak senang. Sudah beberapa kali dia mengatakan bahwa pemuda itu tidak selayaknya menyebut dia nona sesudah mereka menjadi sahabat, akan tetapi pemuda itu selalu lupa dan menyebutnya nona sehingga dia tidak peduli lagi untuk menegurnya.

"Mengapa beruntung, Toako?" dia mendesak.

"Ya, beruntung karena tidak jadi isteri orang seperti dia."

"Lalu pantasnya aku menjadi isteri orang macam apa, Toako?"

"Hemm, pantasnya menjadi isteri seorang yang tidak seperti Liong Bu Kong."

"Siapa misalnya?" Giok Keng mendesak lagi.

Kong Tek menggerakkan kedua pundaknya yang lebar. "Entahlah, pendeknya yang tidak jahat dan palsu seperti Bu Kong."

Hening sejenak dan hati Giok Keng sudah mulai tidak puas. Sukar betul membongkar hati dan perasaan pemuda ini. Dari tindakan dan pembelaannya yang berani mempertaruhkan nyawa, dia merasa yakin bahwa pemuda ini cinta kepadanya. Akan tetapi dia tidak pernah menyatakannya, baik dari pandang mata, mau pun suara mulut atau gerak-geriknya. Hal inilah yang membuat dia penasaran dan tersinggung ‘harga dirinya’!

"Ehh, Toako, sekarang sudah berapakah usiamu?"

Ditanyai usianya, Kong Tek memandang kepadanya dengan mata terbelalak heran, akan tetapi lalu menjawab juga, "Sudah dua puluh lima tahun."

"Dan kau sudah menjadi duda."

"Aku belum menikah!"

"Tapi sudah bertunangan dengan Bu Li Cun."

"Ya, kasihan sungguh gadis itu..." Kong Tek menghela napas dan termenung.

Giok Keng mengerutkan alisnya. Agaknya pemuda yang luar biasa ini sudah ‘patah hati’ karena kematian tunangannya itu, pikirnya.

"Lie-toako, cinta sekalikah engkau kepadanya?"

"Hah...?" Kong Tek balas bertanya, matanya terbelalak karena belum menangkap maksud pertanyaan itu.

"Engkau tentu amat mencinta mendiang Bu Li Cun itu..."

Kong Tek menghela napas panjang dan menyusut peluh dari dahinya sambil menggeleng kepalanya. "Nona, selama hidupku, baru satu kali itu aku bertemu dengan dia. Semenjak kecil kami ditunangkan oleh orang tua, aku tidak pernah kenal dengan dia, mana bisa mencinta."

Hening sampai lama, dan akhirnya suara Giok Keng kembali memecah kesunyian, "Akan tetapi, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau tentu telah mempunyai banyak pengalaman selama perantauanmu dengan suhu-mu yang lihai."

"Memang sudah banyak aku merantau, ikut bersama Suhu yang berbudi."

"Tentu sudah banyak, atau setidak-tidaknya ada wanita yang saling jatuh cinta denganmu, Toako."

Pemuda itu menunduk dan kulit mukanya agak merah, akan tetapi dia menggelengkan kepalanya dengan keras. "Tidak ada, tidak pernah!"

"Ehh, kenapa kau marah?"

"Aku tidak marah."

"Akan tetapi jawabanmu kasar sekali."

"Aku memang belum pernah saling jatuh cinta dengan wanita."

"Hemmm, sungguh luar biasa. Engkau tampan dan gagah perkasa, usiamu sudah dua puluh lima tahun, dan engkau belum pernah jatuh cinta. Hebat! Akan tetapi setidaknya tentu ada wanita yang pernah jatuh cinta kepadamu, Toako. Aku berani bertaruh tentu pernah ada!" Kembali Giok Keng mendesak dan memancing sambil menatap wajah itu dengan tajam dan penuh selidik.

"Tidak!" Kembali pemuda itu menggeleng kepala keras-keras. "Tidak, aku tak sempat...!" Dia tidak dapat melanjutkan kata-katanya, seolah-olah tercekik oleh kata-katanya sendiri.

"Tidak sempat apa, Toako? Tidak sempat bermain cinta?" Giok Keng terus mendesak dan semakin berani menggoda ketika melihat betapa pemuda itu sibuk dan bingung.

"Tidak sempat memikirkan itu."

"Hemm, engkau memang aneh atau... engkau tidak jujur, Toako. Kalau aku, biar usiaku jauh lebih muda dari padamu, aku sudah sering kali dicinta orang."

Kong Tek mengangkat muka memandang, sinar matanya nampak biasa saja, akan tetapi dia melanjutkan, "...dan mencinta..."

Giok Keng tersenyum, diam-diam merasa tegang dan girang, mengharapkan pemuda itu akan merasa iri dan cemburu! "Ya, dan mencinta! Banyak sudah laki-laki yang tergila-gila dan mencintaku."

"Memang sudah semestinya, engkau... seorang gadis luar biasa, tentu banyak laki-laki yang jatuh hati dan mencintamu."

Giok Keng merasa kecelik mendengar ucapan ini. Kiranya pemuda ini sama sekali tidak merasa iri atau cemburu, apa lagi panas hati.....!


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner