DEWI MAUT : JILID-33


Kita tinggalkan dahulu pasukan besar yang mewah di bawah pimpinan Panglima Besar Wang Cin yang dibantu oleh jenderal-jenderal tua di bawah pimpinan Jenderal Kho Gwat Leng dan Tan Jeng Koan, yaitu sebanyak delapan orang yang terkenal sebagai Delapan Jenderal Besar bekas pembantu-pembantu Jenderal Yung Lo, dan marilah kita menengok keadaan di perbatasan Mongol.

Memang keterangan Wang Cin benar bahwa di perbatasan itu, yaitu di sepanjang tembok besar, bahkan di sebelah dalam tembok besar, ada Suku Bangsa Mongol yang dipimpin oleh seorang ketua yang tidak pernah mau tunduk terhadap kedaulatan Pemerintah Beng. Akan tetapi tentu saja dia tidak menceritakan bahwa sebetulnya ketua pasukan ini adalah seorang yang telah dihubunginya, bahkan yang diam-diam menjadi semacam sekutunya, biar pun ketua Suku Mongol ini tidak pernah bertemu dengannya dan hanya mengadakan hubungan melalui kurir belaka.

Siapakah ketua Suku Bangsa Mongol ini? Dia adalah seorang lelaki berusia empat puluh tahun, seorang yang benar-benar amat gagah perkasa, bertubuh seperti seekor singa dan dia betul-betul pantas menjadi seorang pemimpin suku bangsa yang hidupnya berkelana dan selalu menghadapi banyak kesulitan itu.

Kepala suku ini namanya Sabutai, seorang gagah dan merupakan keturunan dari Jenderal Sabutai dari jaman Goan, yaitu ketika Bangsa Mongol sedang jaya-jayanya menguasai seluruh Tiongkok. Sabutai ini adalah seorang gagah perkasa yang memiliki kepandaian tinggi, karena gurunya, yaitu dua orang kakek dan nenek yang jarang terlihat orang, lebih menyerupai iblis dari pada manusia!

Dahulu, di waktu Panglima Beser The Hoo masih sering mengadakan pembersihan keluar daerah, bahkan ketika Panglima Besar The Hoo memimpin armada berlayar sampai jauh ke selatan, di Sailan Panglima The Hoo pernah bentrok dengan dua orang jagoan, lelaki dan perempuan yang berilmu tinggi. Akan tetapi berkat kepandaian Panglima The Hoo yang sangat sakti, dua orang jagoan Sailan yang suka mengganas itu dapat dikalahkan, dan biar pun dapat melarikan diri, namun diduga tentu akan tewas karena telah menerima pukulan-pukulan sakti dari Panglima The Hoo.

Akan tetapi orang salah duga, karena mereka itu tidak mati, walau pun nyaris mati dan setelah mereka sembuh akan tetapi tubuh mereka keracunan oleh hawa beracun mereka yang membalik dan memukul diri sendiri, mereka lantas bertapa sampai puluhan tahun lamanya dan tahu-tahu mereka kini menjadi kakek dan nenek yang muncul di perbatasan utara, menjadi guru Sabutai dan mereka ini hendak membalas kepada Beng-tiauw! Kini mereka hanya dikenal sebagai Pek-hiat Mo-ko (Iblis Jantan Darah Putih) dan Hek-hiat Mo-li (Iblis Betina Darah Hitam).

Sudah lama Sabutai mengincar ke selatan. Akan tetapi biar pun dia seorang berilmu tinggi dan pandai pula mengatur siasat perang, akan tetapi dia maklum bahwa dengan kekuatan pasukannya seperti sekarang ini, melakukan serbuan ke selatan hanya merupakan bunuh diri belaka. Oleh karena itu, dia selalu menanti kesempatan baik, dan setelah ada usaha dari Thaikam Wang Cin untuk mengadakan kontak dengan dia, tentu saja dia menerima dengan baik.

Penerimaan persekutuan rahasia ini hanya dia lakukan demi terlaksananya cita-citanya, karena sesungguhnya di dalam hatinya, orang gagah perkasa ini merasa muak terhadap Wang Cin, apa lagi ketika dia mendengar akan segala sepak terjang Wang Cin di istana musuh-musuhnya itu. Dia menganggap orang semacam Wang Cin amat berbahaya dan rendah, dan jika saja dia tak melihat kegunaan persekutuan ini sebagai jalan tercapainya cita-citanya, dia akan merasa senang sekali membunuh orang seperti thaikam itu dengan jari-jari tangannya sendiri yang amat kuat dan dahsyat!

Pada suatu malam, Sabutai duduk termenung di dalam kamarnya. Dia memiliki seorang isteri yang sangat cantik, seorang puteri Suku Bangsa Khitan yang mempersembahkan dirinya atas perintah kepala Suku Khitan kepadanya. Puteri ini masih muda, baru delapan belas tahun usianya dan sudah tiga tahun menjadi isterinya. Akan tetapi, yang membuat Sabutai kecewa adalah mengapa isterinya itu belum juga mengandung. Betapa pun juga, dia amat mencinta isterinya dan dia tidak mau mengambil selir.

Selain kekecewaan tidak mempunyai putera, juga dia tahu bahwa isterinya itu sebenarnya tidak cinta kepadanya, dan hanya karena terpaksa saja menjadi isterinya. Semua sikap manis isterinya itu hanya karena kewajiban saja, dia memiliki tubuh isterinya, akan tetapi tidak memiliki hatinya. Hal ini pun kadang-kadang membuat pria yang jantan dan gagah ini merasa kecewa dan berduka karena dia sungguh-sungguh mencinta Khamila, isterinya yang cantik rupawan itu.

Sabutai termenung dan di tangannya dia memegang sehelai surat yang diterimanya dari Wang Cin, pembesar thaikam yang pada saat itu sedang berkuasa sekali dan mempunyai pengaruh besar di Kerajaan Beng. Surat itu dibawa oleh tiga utusan Wang Cin, yakni tiga orang tokoh berilmu tinggi Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, dan Go-bi Sin-kouw. Mereka diterima sebagai tamu-tamu agung dan diberi kamar-kamar yang mewah sebagai tempat menginap.

Sudah berjam-jam lamanya Sabutai duduk sambil termenung dengan surat itu di dalam tangannya. Dadanya terasa panas, kebenciannya terhadap Wang Cin memuncak saat dia membaca betapa di dalam surat itu Wang Cin menerangkan siasatnya yang memancing rajanya sendiri ke utara untuk ‘diserahkan’ kepada Sabutai!

Sabutai adalah seorang yang gagah perkasa dan tentu saja dia amat membenci seorang pengkhianat besar semacam Wang Cin. Akan tetapi, dia pun melihat kesempatan baik sekali untuk membangun kembali kekuasaan Bangsa Mongol, maka dia termenung dan berusaha menggunakan kepala dingin untuk mengatur siasat.

Menurut surat Wang Cin, orang kebiri itu akan sengaja menjerumuskan kaisar bersama pasukan-pasukan pengawalnya agar dihancurkan oleh Sabutai. Kaisarnya beserta semua pengawal kaisar yang setia dibinasakan, kemudian dia akan kembali ke kota raja lantas diam-diam akan mengatur dari dalam agar bisa membantu barisan Mongol yang dipimpin Sabutai menyerbu kota raja. Kemudian, sesudah berhasil merampas kota raja, Wang Cin akan mengangkat diri menjadi kaisar sebagai seorang yang berdarah keturunan Jenghis Khan dan Sabutai tentu saja akan menerima bagian yang layak!

"Si keparat...!" Sabutai memaki di dalam hatinya. "Seorang pengkhianat dan pengecut seperti dia, seorang yang sudah kehilangan kejantanannya, seorang kebiri yang berhati palsu, berani mengaku sebagai darah keturunan Jenghis Khan yang besar?" Dia merasa muak akan tetapi demi tercapainya cita-citanya untuk menyerbu ke selatan, cita-cita yang sudah dipupuk selama bertahun-tahun, dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.

Tiba-tiba dia bertepuk tangan dan muncullah beberapa orang pengawalnya dari tempat-tempat tersembunyi. Sabutai kemudian memerintahkan mereka supaya memanggil para pembantunya agar berkumpul di situ pada malam itu juga karena ada hal yang sangat penting untuk dirundingkan.

Menjelang tengah malam, berkumpullah belasan orang pembantunya yang tadinya adalah bekas kepala-kepala suku yang kemudian ditaklukannya dan yang sekarang menjadi para pembantunya. Sesudah memerintahkan para pengawalnya supaya menjaga kamar-kamar tamu sehingga dia yakin bahwa perundingan itu tidak akan diintai dan didengarkan oleh tiga orang utusan yang dia tahu bukan orang-orang sembarangan itu, Sabutai kemudian mengajak para pembantunya untuk berunding serta mengatur siasat untuk menghadapi uluran tangan Wang Cin yang khianat itu.

Akhirnya, ketika hampir pagi, mereka telah bersepakat akan menggunakan pengkhianatan Wang Cin itu untuk memperoleh keuntungan, akan tetapi tentu saja Sabutai tak sudi lagi untuk selanjutnya mengadakan persekutuan dengan thaikam yang dianggapnya sangat licik, curang dan berbahaya itu.

Pada keesokan harinya, sesudah menjamu ketiga orang utusan itu, Sabutai kemudian menyerahkan surat balasannya dan kepada Wang Cin dia menjanjikan untuk menyambut dan menghancurkan kaisar serta pasukannya di dekat Huai-lai, lewat lembah Nan-kouw. Surat balasan itu dibawa sendiri oleh Hwa Hwa Cinjin untuk disampaikan kepada Wang Cin pribadi, sedangkan dua orang nenek, Hek I Siankouw dan Go-bi Sin-kouw, tinggal di markas Mongol yang dipimpin oleh Sabutai itu.

Sabutai lalu membuat persiapan, mengumpulkan kekuatan barisan yang besar jumlahnya, kemudian dia memimpin sendiri seluruh barisan itu menuju selatan, melalui pegunungan yang sukar dan gurun-gurun pasir yang luas, melewati tembok besar dan bersembunyi di sekitar kota Huai-lai, di sepanjang lembah Nan-kouw untuk menanti datangnya rombongan kaisar seperti yang dimaksudkan dalam surat Wang Cin…..

********************

Di daerah padang rumput tak jauh dari tembok besar, di lereng pegunungan utara, pada pagi itu penuh dengan serombongan suku bangsa perantau yang terdiri dari campuran Bangsa Mancu dan Khitan. Mereka ini adalah Bangsa Nomad yang hidup dari peternakan dan mereka menggembala kuda-kuda yang baik untuk dijual ke daerah selatan. Kelompok keluarga yang terdiri dari hampir dua ratus orang ini menggiring ribuan ekor kuda pilihan dan mereka berhenti di tempat itu karena rumput di tempat itu sangat subur sehingga merupakan tempat peristirahatan yang amat baik.

Telah tiga hari lamanya mereka memasang perkemahan di padang rumput ini. Akan tetapi pada pagi hari ketiga itu tampak kesibukan dan kegelisahan di antara mereka pada saat terdapat laporan bahwa dua orang penggembala kedapatan menggeletak, yang seorang tewas dan seorang lagi terluka parah sedangkan lebih dari seratus ekor kuda lenyap pada malam itu.

Agaknya orang kedua itu pun telah ditinggalkan karena disangka sudah mati oleh para penyerangnya, dan orang inilah yang lalu bercerita kepada kawan-kawan dan pemimpin mereka. Ternyata malam tadi, lewat tengah malam pada waktu keadaan amat sunyi dan dingin, tiba-tiba saja muncul belasan orang bertopeng yang langsung menyerang mereka. Mereka berdua melakukan perlawanan mati-matian, akan tetapi akhirnya mereka roboh dan orang yang terluka parah dan disangka telah tewas itu hanya dapat melihat betapa belasan orang itu menggiring dan melarikan seratus ekor kuda yang mereka curi itu.

Tentu saja rombongan itu menjadi marah sekali. Siapa yang begitu berani mati mencuri kuda mereka di tempat terbuka seperti itu? Pada malam-malam berikutnya penjagaan dilakukan dengan ketat karena biasanya, pencuri-pencuri kuda itu tak akan puas sebelum dapat mencuri habis ribuan ekor kuda yang berharga mahal itu. Dengan bergilir mereka melakukan penjagaan pada malam hari.

Malam berikutnya tidak terjadi sesuatu, akan tetapi dua hari kemudian, yaitu pada malam kedua semenjak peristiwa pencurian dan pembunuhan itu, tiba-tiba mereka diserbu oleh sedikitnya tiga puluh orang bertopeng yang rata-rata memiliki ketangkasan dan gerakan yang terlatih. Terjadilah pertempuran hebat dan keluarga rombongan itu tentu saja menjadi panik. Jerit dan tangis terdengar di antara teriakan-teriakan kemarahan dari mereka yang bertempur di bawah penerangan obor-obor dan api unggun.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring. "Maling-maling kuda yang hina!"

Muncullah seorang kakek yang berusia enam puluh tahun lebih, berpakaian sederhana akan tetapi bersih, berwajah gagah tetapi sekaligus membayangkan kelembutan, bahkan bentakannya tadi biar pun nyaring dan menggetarkan jantung, namun suaranya halus. Namun, begitu dia muncul dan menggerakkan kedua tangannya, empat orang bertopeng segera jatuh tunggang langgang!

Para perampok atau pencuri kuda itu menjadi terkejut dan marah. Mereka maklum bahwa kakek ini bukan merupakan anggota rombongan peternak atau pedagang kuda itu, namun seseorang yang dari kata-katanya sudah diketahui datang dari selatan. Maka pemimpin perampok yang terdiri dari tiga orang yang bertubuh tinggi besar serta bersenjata golok besar yang sangat berat dan tajam, langsung menggereng dan sekaligus tiga orang ini menerjang kakek itu dengan golok mereka, serentak menyerang dari tiga jurusan, yaitu depan, kiri dan kanan.

"Singgg... singgg... wuuuutttt...!"

Tiga batang golok itu berdesing lantas menyambar dengan kuat dan cepat sekali. Akan tetapi, kakek itu tetap saja berdiri tegak dan tenang seakan-akan tidak tahu bahwa ada bahaya maut mengancam nyawanya dari tiga jurusan. Akan tetapi, begitu tiga batang golok itu menyambar dekat, kakek itu kelihatan menggerakkan sepasang tangan dan kaki kirinya dan... sungguh luar biasa sekali.

Sukar diikuti pandang mata apa yang sudah dilakukan oleh kaki kiri dan kedua tangan kakek itu, akan tetapi tahu-tahu penyerang dari depan mencelat goloknya dan orangnya roboh lantas mengaduh-aduh, sedangkan dua orang penyerang dari kanan kiri terampas goloknya dan roboh pula!

Kiranya kakek yang luar biasa itu menggunakan kakinya menendang pergelangan tangan penyerang dari depan dan dilanjutkan dengan gerakan kaki menendang lutut, sedangkan kedua tangannya dengan cepat sekali tadi telah menangkap golok itu, lalu mengangkat golok itu ke atas, kemudian menggunakan kedua sikunya menghantam dada kedua orang penyerang kanan kiri.

Semua gerakannya itu dilakukan dengan amat cepat dan kelihatan demikian mudahnya, padahal tiga orang pimpinan perampok itu adalah orang-orang kuat yang memiliki ilmu silat lumayan! Terlebih lagi menangkap golok hanya dengan tangan telanjang begitu saja, benar-benar membuktikan betapa kakek itu adalah seorang yang amat luar biasa!

Melihat betapa hanya dalam segebrakan saja tiga orang pimpinan mereka roboh, bukan main terkejutnya para perampok bertopeng itu dan tanpa dikomando lagi larilah mereka cerai-berai dan menghilang di dalam kegelapan malam. Dua orang yang roboh oleh kakek tadi, yang menyerang dari kanan kiri, juga serentak telah meloncat bangun dan melarikan diri, akan tetapi penyerang dari depan yang kena tendang lututnya, ketika bangkit berdiri kembali roboh terguling dan mengeluh.

Para anggota rombongan cepat mengepungnya dan beberapa batang senjata tajam telah digerakkan, agaknya dalam kemarahan mereka, orang-orang itu hendak membunuh salah seorang pemimpin para perampok bertopeng itu.

"Tahan, jangan bunuh dia!" Kakek itu berkata, suaranya halus akan tetapi penuh wibawa sehingga orang-orang yang sudah mengangkat senjata itu mundur dan memandang pada kakek itu dengan heran. Kakek ini datang dari mana tidak ada orang yang tahu, datang-datang langsung memperlihatkan kepandaian membantu mereka mengalahkan perampok, akan tetapi sekarang melarang mereka untuk membunuhnya. Sungguh aneh!

Yalu, pemimpin Suku Nomad campuran itu, seorang laki-laki tinggi besar bermuka hitam yang gagah, cepat menghampiri kakek itu dan berkata dengan lantang, "Locianpwe telah membantu kami mengusir perampok, akan tetapi mengapa mencegah kami membunuh kepala perampok ini?"

Mendengar orang tinggi besar muka hitam ini pandai berbahasa Han, kakek itu tersenyum dan berkata tenang, "Mereka sudah dapat diusir dan orang ini tidak dapat melarikan diri karena sambungan lututnya terlepas. Haruskah kita membunuh lawan yang sudah tidak berdaya?"

"Locianpwe, harap suka mengampuni saya," mendadak orang itu berkata dan membuka topengnya. Ternyata dia adalah seorang Han pula yang usianya kurang lebih tiga puluh tahun.

Kakek itu mengerutkan alisnya, tampaknya tak senang melihat orang Han sampai begitu merendahkan diri menjadi pencuri atau perampok kuda, sedangkan yang dirampoknya adalah rombongan suku bangsa yang miskin!

"Hemm, tidak malukah engkau dengan perbuatanmu yang hina ini?" bentaknya.

"Maafkan... kami... kami bukanlah pencuri-pencuri kuda biasa... akan tetapi, kami adalah anggota pasukan Raja Muda Sabutai yang memerintahkan kami supaya mencari kuda untuk memperlengkapi pasukan-pasukan kami..."

"Ahhhh...!" Yalu, kepala rombongan itu terkejut bukan main. "Raja Muda Sabutai terkenal sebagai seorang gagah perkasa yang hanya memusuhi Pemerintah Beng di selatan dan selamanya tidak pernah mau mengganggu suku bangsa di utara, apa lagi mencuri kuda kami."

"Maafkan kami, kawan...," orang itu berkata dengan muka merah, "kami telah bersalah... tetapi karena pasukan Raja Muda Sabutai sedang mengerahkan kekuatan menyeberang ke lembah Nan-kouw..." Tiba-tiba orang itu berhenti bicara.

"Lanjutkanlah ceritamu dan aku akan membebaskan engkau." Kakek itu berkata sambil matanya memandang tajam sehingga orang itu menjadi ketakutan.

"Saya... saya tidak boleh bicara tentang itu..."

"Engkau sudah terlanjur berbicara dan para sahabat ini hanyalah rombongan pedagang kuda. Kami hanya ingin tahu apa yang terjadi di daerah ini, Raja Muda Sabutai sedang mengerahkan pasukannya ke lembah Nan-kouw? Apakah keperluannya? Hayo katakan, keteranganmu itu sebagai penebus nyawamu."

Dengan muka pucat ketakutan orang itu lalu berkata, "Barisan kami... akan... menyergap rombongan Raja Beng-tiauw yang hendak lewat di sana..."

"Hemmm...!" Kakek itu lalu mengangguk-angguk. "Dari mana Raja Muda Sabutai dapat mengetahui bahwa rombongan kaisar akan lewat ke sana?"

"Hamba... saya mana tahu...? Hanya beritanya, ada datang tiga orang utusan dari selatan dan raja muda kami lalu mempersiapkan barisan, kami ditugaskan untuk mengumpulkan kuda sebanyaknya guna perlengkapan..."

"Tiga orang utusan itu, siapa namanya?" Kakek yang aneh itu mendesak terus.

"Saya tidak tahu semua, hanya tahu bahwa yang kakek-kakek berjuluk Hwa Hwa Cinjin, sedangkan dua orang nenek lagi entah siapa..."

"Sudahlah, kau boleh pergi," kakek itu berkata dan dengan terpincang-pincang pemimpin para pencuri kuda itu pergi meninggalkan tempat itu.

"Locianpwe, orang jahat seperti dia bagaimana dibebaskan begitu saja? Dan dia adalah anak buah Raja Muda Sabutai yang sedang melakukan kejahatan terhadap kaisar!" Yalu, pemimpin rombongan itu berkata, alisnya berkerut tanda tidak setuju.

Kakek itu memandang tajam. "Kalian tidak menyetujui tindakan Sabutai itu?"

"Tentu saja tidak! Kami bukan bangsa pemberontak, bahkan perbuatan Sabutai itu akan mencelakakan kami, karena pekerjaan kami berdagang kuda dengan orang-orang selatan di sebelah dalam tembok besar tentu tak mungkin bisa dilanjutkan. Celakanya, kami tentu akan dianggap sekutu Sabutai dan akan dihukum pula oleh pasukan Beng?"

"Bagus! Kalau begitu mari kita menentangnya dan kita menyelamatkan kaisar. Dengan demikian kaisar akan dapat membedakan siapa yang baik dan siapa yang jahat. Aku akan memimpin kalian melindungi kaisar sebelum terlambat."

Yalu dan teman-temannya saling pandang dan mereka meragu, kemudian Yalu bertanya, "Siapakah locianpwe yang berilmu tinggi dan hendak membela kaisar ini?"

Kakek itu berkata sederhana, "Aku adalah ketua dari Cin-ling-pai, namaku Cia Keng Hong dan semenjak dahulu aku sudah sering kali membantu kaisar dan bekerja sama dengan mendiang Panglima The Hoo."

Yalu segera mengeluarkan teriakan girang, demikian pula para anak buahnya. "Locianpwe sahabat mendiang Panglima Besar The Hoo? Ah, kalau begitu kami telah bersikap kurang hormat." Dan serta-merta Yalu dan anak buahnya menjatuhkan diri berlutut. "Hendaknya locianpwe ketahui bahwa kami dan ayah-ayah kami dulu pernah membantu beliau ketika melawat ke utara. Harap locianpwe jangan khawatir, kami akan mengumpulkan semua teman-teman kami dan membantu locianpwe menolong dan melindungi kaisar, menentang Raja Muda Sabutai yang berniat memberontak."

Tentu saja ketua Cin-ling-pai, Pendekar Sakti Cia Keng Hong menjadi girang. Seperti kita ketahui, sesudah mendengar penuturan puterinya, Cia Giok Keng, bahwa Lima Bayangan Dewa yang dua di antaranya telah berhasil ditewaskan itu dibantu oleh tokoh-tokoh lihai, kakek Cia Keng Hong lalu turun gunung untuk menghadapi musuh-musuh tangguh itu dan untuk mencari kembali pusaka Cin-ling-pai yang hilang, yaitu pedang Siang-bhok-kiam.

Dalam perjalanannya menyelidik, dia mendengar bahwa musuh-musuhnya itu pergi ke kota raja dan kemudian dia menyusul. Dia mendengar pula bahwa mereka itu bergabung dengan rombongan kaisar yang melakukan perlawatan ke utara. Tentu saja dia menjadi heran sekali saat mendengar bahwa musuh-musuhnya itu bergabung dengan rombongan kaisar. Timbullah kekhawatirannya, karena dianggapnya sebagai hal yang tidak wajar dan mencurigakan bila musuh-musuhnya itu kini bekerja sebagai pengawal-pengawal kaisar.

Karena itu, dia pun menyusul ke utara dan kebetulan dia bertemu dengan rombongan pedagang kuda yang dipimpin oleh Yalu dan mendengar keterangan yang amat berguna dari pemimpin para pencuri kuda. Sekarang dengan hati penuh kekhawatiran, pendekar itu dapat menduga bahwa masuknya para musuhnya dalam rombongan kaisar tentu ada hubungannya dengan gerakan Sabutai dan bahwa kaisar tentu terancam bahaya besar, sungguh pun dia mendengar pula bahwa kaisar dikawal oleh pasukan yang dipimpin oleh para jenderal tua yang setia, di antaranya adalah Jenderal Kho Gwat Leng dan Jenderal Tan Jeng Koan yang dia tahu merupakan jenderal-jenderal yang amat setia dari Kerajaan Beng.

Mengingat akan mendiang Panglima The Hoo yang mereka hormati dan junjung tinggi, Yalu dan kawan-kawannya lalu mulai mengumpulkan suku-suku Bangsa Nomad di utara untuk bergabung dengan mereka menentang Sabutai dan menolong Kaisar Beng-tiauw yang terancam bahaya…..

********************

Sementara itu, rombongan Kaisar Ceng Tung sudah meninggalkan kota raja menuju ke utara. Perjalanan itu amat sulit, melalui pegunungan-pegunungan yang terjal, hutan-hutan yang liar dan daerah-daerah yang tandus. Semenjak permulaannya saja pasukan-pasukan yang mengawal rombongan kaisar ini sudah terlantar, perlengkapannya kurang dan juga ransumnya kurang karena Thaikam Wang Cin yang diangkat menjadi panglima komandan pasukan pengawal ini melarang membawa perlengkapan terlalu banyak.

"Di utara banyak dusun yang harus menunjukkan darma bhakti dan kesetiaannya kepada pemerintah. Perlu apa kita membawa banyak perbekalan?" demikianlah bantahnya ketika para jenderal mengajukan usul. "Hal itu hanya akan menimbulkan rasa ketidak senangan mereka karena seolah-olah kita tidak percaya kepada mereka."

Biar pun alasan Wang Cin ini agaknya masuk di akal, namun sudah diperhitungkan oleh Wang Cin bahwa kaki tangannya di utara tentu sudah bergerak dan berusaha supaya rombongan kaisar tidak mendapat ransum di utara, apa lagi pada waktu itu musim panen belum tiba.

Kaisar sendiri, yang masih muda dan belum berpengalaman, apa lagi yang sejak dewasa selalu dibuai dalam rayuan Azisha yang cantik jelita, terus terseret oleh arus kenikmatan permainan cinta dengan selirnya itu yang sesungguhnya hanyalah merupakan pemuasan nafsunya sendiri belaka sehingga kaisar itu tidak tahu apa-apa.

Di dalam perjalanan ini pun Kaisar Ceng Tung selalu berada di dalam pelukan selirnya, berdua di dalam kereta, dan kadang kala ditemani oleh Wang Cin yang pandai menghibur hati kaisar seakan-akan perjalanan itu merupakan tamasya yang sangat menyenangkan. Kaisar sama sekali tidak tahu betapa pasukan pengawalnya menghadapi perjalanan yang amat sukar, dan betapa para jenderal tua yang setia itu selalu merasa gelisah kalau-kalau terjadi hal-hal yang tidak diharapkan menimpa rombongan ini sehingga membahayakan keselamatan kaisar.

Setelah melalui perjalanan yang sangat lama dan sangat melelahkan bagi para anggota pasukan pengawal, akan tetapi amat menyenangkan bagi kaisar dan selirnya, dan amat menegangkan bagi Wang Cin yang mengharapkan terjadinya peristiwa hebat yang selain akan mengubah jalannya sejarah juga akan mengangkatnya ke tingkat teratas sesuai apa yang selama ini dicita-citakannya, akhirnya sampailah rombongan itu di kaki Pegunungan Nan-kouw dan mereka pun berkemah di padang rumput untuk melewatkan malam itu di sana sambil memberi waktu kepada pasukan untuk beristirahat.

Malam itu, delapan jenderal tua yang dipimpin oleh Jenderal Kho Gwat Leng dan Jenderal Tan Jeng Koan menghadap Wang Cin yang ketika itu sedang mengadakan perundingan dengan para pengawal pribadinya termasuk tiga orang dari Lima Bayangan Dewa serta Bouw Thaisu yang lihai.

Kedatangan delapan jenderal itu mengejutkan Wang Cin dan para pengawalnya otomatis bangkit dari kursi masing-masing. Atas isyarat Wang Cin mereka lantas berdiri di pinggir, selalu siap membela majikan mereka. Dengan muka manis Wang Cin lalu mempersilakan para jenderal mengambil tempat duduk di dalam perkemahannya itu dan menanyakan maksud kedatangan mereka.

"Wang-taijin, kami datang ingin mengajukan usul kepada taijin," Jenderal Gwat Leng yang bertubuh kecil kurus itu berkata.

"Hemmm, tentu baik saja, Kho-goanswe. Segala macam usul demi kebaikan kita semua tentu saja akan kami sambut dengan gembira," jawab orang kebiri yang telah memperoleh kedudukan tinggi itu.

"Wang-taijin, kami semua sudah melihat bahwa amat perlu perjalanan ini ditunda di sini sampai sedikitnya tiga hari," kata Jenderal Kho Gwat Leng.

"Ahh, tidak mungkin!" Wang Cin berseru penasaran. "Kota Huai-lai sudah dekat, mengapa setelah hampir tiba di tempat tujuan lalu ditunda?"

"Wang-taijin," kata Jenderal Tan Jeng Koan yang bertubuh tinggi besar, berkulit hitam dan suaranya mengguntur itu. "Di depan adalah Lembah Nan-kouw yang terkenal sulit dilalui, juga tempat itu amat berbahaya apa bila terdapat fihak musuh yang menghadang kita."

"Hemm, Tan-goanswe, siapakah yang berani menghadang rombongan kaisar? Lagi pula, andai kata ada penjahat yang bosan hidup berani mengganggu, apa artinya ada pasukan besar pengawal yang dipimpin oleh delapan pahlawan Beng yang tersohor?"

"Maaf, Wang-taijin," Jenderal Kho Gwat Leng yang sikapnya lebih halus itu lalu berkata. "Ucapan Tan-goanswe tadi benar, dan juga pendapat Wang-taijin benar pula bahwa andai kata ada musuh menghadang, kami telah siap menghadapinya. Akan tetapi, pasukan kita sudah amat lelah dan perbekalan sudah hampir habis, bahkan kami hampir kehabisan air, padahal perjalanan di depan melalui daerah pegunungan tandus yang sukar mencari air. Sebaiknya kita menunda perjalanan selama dua tiga hari untuk menambah perbekalan, terutama ransum dan air."

Wang Cin menggeleng-geleng kepalanya sambil berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Dengan menggendong kedua tangan di bawah punggung dan menggelengkan kepala, dia lalu berkata setelah kemudian duduk menghadapi delapan orang jenderal itu.

"Tidak, tidak! Hal itu tidak ada perlunya. Sri baginda kaisar tentu akan kesal hatinya kalau perjalanan dihentikan sampai tiga hari. Kita berangkat besok pagi, melewati pegunungan dan Lembah Nan-kouw dan sesudah tiba di Huai-lai, barulah kita berhenti, mengaso dan makan sepuas-puasnya. Apakah prajurit-prajurit Beng begitu lemahnya sehingga hanya mementingkan makan dan minum saja?"

Mendengar ini, Jenderal Tan Jeng Koan mengepal tinju dan sudah hampir mendamprat thaikam itu, akan tetapi Jenderal Kho Gwat Leng cepat memberi isyarat sehingga jenderal tinggi besar itu menahan kemarahannya.

"Terserah kepada Wang-taijin yang menjadi komandan pasukan, akan tetapi jika sampai terjadi hal-hal yang merugikan kita, jangan lupa bahwa kami sudah memberi peringatan," kata pula Jenderal Kho yang maklum bahwa akan percuma saja berdebat melawan orang yang sudah dipercaya penuh oleh kaisar ini.

Para jenderal ini adalah bekas panglima-panglima pembantu Panglima Besar The Hoo dan sudah mengabdi sejak jaman Kaisar Yung Lo. Seperti umumnya para panglima kuno, kesetiaan mereka terhadap kaisar adalah mutlak, dengan membuta dan keputusan apa pun yang diambil oleh Kaisar merupakan perintah yang akan mereka pertahankan dengan pertaruhan nyawa, biar pun kesadaran mereka membuat mereka maklum betapa kelirunya keputusan itu sekali pun!

Para jenderal ini tentu saja maklum akan keadaan kaisar muda yang berada di bawah pengaruh Wang Cin itu, akan tetapi mereka tidak berani membantah keputusan kaisar, dan betapa pun juga Wang Cin sudah diangkat oleh kaisar menjadi komandan pasukan, menjadi atasan mereka yang harus mereka patuhi!

Diam-diam para jenderal yang telah berpengalaman dan merupakan ahli-ahli perang yang sudah puluhan tahun memimpin pasukan itu, telah menyebar para penyelidik menyusup ke depan untuk menyelidiki keadaan Pegunungan Nan-kouw yang menghalang di depan. Pada keesokan harinya, hanya ada empat orang di antara dua puluh penyelidik itu yang kembali ke perkemahan, dan mereka ini pun berada dalam keadaan luka-luka parah.

Dengan lemah mereka memberi laporan bahwa pegunungan itu penuh dengan pasukan musuh yang dipimpin sendiri oleh Sabutai, pemberontak Mongol yang sangat tersohor keberaniannya itu. Berita ini tentu saja mengejutkan para jenderal dan kembali mereka membujuk Wang Cin agar mencari perbekalan lebih dulu sebelum melanjutkan perjalanan.

"Kami sanggup mengawal kaisar sampai ke mana pun, dan kita memang tidak perlu takut menghadapi para pemberontak liar itu," Jenderal Tan Jeng Koan berkata dengan suara nyaring. "Akan tetapi karena mereka tentu melakukan perang gerilya, maka pertempuran akan memakan waktu lama. Tanpa perbekalan yang cukup, terutama sekali air minum, kedudukan kita dapat berbahaya."

"Aahhhh, laporan para pengecut itu kenapa mengecilkan hati goanswe? Jika cu-wi (anda sekalian) takut, biarlah saya sendiri yang memimpin pasukan menggempur perampok-perampok laknat itu! Justru di hadapan kehadiran sri baginda mereka berani mengacau, maka mereka harus dibasmi sampai ke akarnya! Sekarang juga kita harus menyerang ke Nan-kouw dan menghancurkan mereka!" Wang Cin berkata dengan muka merah karena diam-diam dia marah sekali bahwa para jenderal itu telah menyebar mata-mata tanpa dia ketahui dan timbul kekhawatirannya bahwa rencananya akan gagal.

Kembali para jenderal itu tidak dapat membantah dan mereka lalu berunding, kemudian mengambil keputusan hendak mengerahkan seluruh tenaga untuk menghadapi pasukan pemberontak Mongol yang menghadang mereka di Pegunungan Nan-kouw.

Demikianlah, pada hari itu juga pasukan Beng-tiauw yang mengawal rombongan kaisar itu melanjutkan perjalanan mendaki Pegunungan Nan-kouw. Untuk menjaga keselamatan kaisar, kereta yang ditumpangi oleh kaisar bersama selirnya tercinta itu berada di tengah-tengah, didahului oleh pasukan pengawal yang dipimpin sendiri oleh empat orang jenderal, sedangkan di belakangnya diiringi oleh pasukan yang dipimpin oleh empat orang jenderal lainnya.

Delapan orang jenderal itu sudah bersepakat hendak melindungi kaisar sedemikian rupa sehingga sebelum orang terakhir tewas, tak mungkin musuh akan bisa mendekati kaisar. Penjagaan yang mengelilingi kaisar dilakukan berlapis-lapis dan diatur secara ketat sekali.

Hal yang memang telah diduga-duga dan dikhawatirkan pun terjadilah. Menjelang tengah hari, pasukan Sabutai mulai menyerang, mula-mula penyerangan itu dilakukan dari arah kiri. Sebagian pasukan pengawal menyambut dan selagi perang terjadi, muncul pasukan musuh menyerang dari kanan, kemudian bertut-turut musuh bermunculan dari depan dan belakang! Mereka telah mengurung rombongan kaisar!

Akan tetapi, karena delapan orang jenderal itu sudah bersiap-siap sebelumnya, serangan bertubi-tubi dari empat penjuru ini sama sekali tidak mengacaukan pertahanan pasukan pengawal kaisar. Perlawanan dilakukan dengan baik sekali, dan Jenderal Kho Gwat Leng langsung memimpin sendiri pembuatan sebuah perkemahan di tengah-tengah pertahanan mereka untuk kaisar, selirnya dan para pelayan kaisar. Dengan kata-kata penuh semangat Jenderal Kho membesarkan hati kaisar dan menghiburnya sehingga kaisar tidaklah begitu khawatir biar pun tahu bahwa ada pasukan pemberontak menyerang karena dia percaya penuh akan kemampuan delapan orang jenderalnya.

Perang terjadi dengan hebatnya. Berkat kemampuan delapan orang jenderal yang sangat mahir ilmu perang itu, walau pun jumlah musuh jauh lebih banyak, akan tetapi sesudah bertempur sampai hari berganti malam, fihak penyerbu dapat dipukul mundur dan mereka melarikan diri ke dalam hutan-hutan di pegunungan itu.

Bagaimana pun juga, fihak pasukan pengawal juga kehilangan banyak prajurit yang gugur mau pun yang terluka sehingga jumlah mereka tinggal tiga perempatnya. Hal ini membuat para jenderal menjadi khawatir akan keselamatan kaisar, maka untuk kesekian kalinya mereka mengusulkan kepada Wang Cin agar rombongan ditarik mundur dan kembali saja ke kota raja sebelum terlambat. Apa bila mereka mundur ke selatan, mereka akan lebih mudah memperoleh bantuan dari benteng pasukan Beng-tiauw yang sekarang berjaga di tapal batas.

"Tidak, sungguh memalukan kalau kita mundur. Bukankah dalam pertempuran tadi kita telah menang? Musuh sudah kacau-balau, terpukul mundur dan kabur. Sebaiknya, besok pagi kita melanjutkan perjalanan ke kota Huai-lai dan di sana kita akan aman karena kita berada dalam benteng." Wang Cin berkeras melanjutkan perjalanan itu.

"Wang-taijin, biar pun musuh terpukul mundur, namun mereka dapat menyusun kekuatan baru dan kalau mereka melakukan pengurungan di lembah depan, amatlah berbahaya." Jenderal Kho Gwat Leng memperingatkan. "Terutama sekali karena perbekalan kita telah menipis."

"Tidak perlu kita takut. Kita sudah menang perang, kenapa kita harus melarikan diri dan mundur ketakutan? Kita bahkan harus menggempur musuh yang sudah lari itu sampai terbasmi habis!" Wang Cin membantah.

Delapan orang jenderal itu kembali tidak berhasil membujuk dan pada keesokan harinya, rombongan itu melanjutkan perjalanan menuju kota Huai-lai sehingga menjelang tengah hari tibalah mereka di Lembah Nan-kouw yang amat sukar dilalui dan merupakan tempat berbahaya karena mereka harus melalui lorong yang amat curam, di mana kanan kirinya menjulang dinding batu yang tinggi.

Terjadilah seperti yang dikhawatirkan oleh para jenderal yang sangat berpengalaman itu. Terdengar suara gemuruh kemudian dari kedua tebing gunung itu datang hujan batu yang menyerang dan menimpa rombongan kaisar! Tentu saja pasukan pengawal menjadi amat panik, dan ketika mereka mundur, ternyata jalan di belakang telah dihadang oleh pasukan musuh, juga di sebelah depan nampak debu mengebul tanda bahwa musuh sudah datang dari depan untuk menyerbu mereka yang terjepit di lorong Lembah Nan-kouw itu.

Delapan orang jenderal itu cepat membuat perkemahan yang terlindung, dan mengawal sendiri kaisar serta selirnya untuk berlindung ke dalam kemah. Jenderal Kho Gwat Leng dan dua orang jenderal lain membantu para pengawal pribadi kaisar, menjaga kaisar di dalam kemah sedangkan Jenderal Tan Jeng Koan bersama empat orang kawannya lari keluar dan ikut memimpin pasukan pengawal untuk melawan musuh yang menyerbu dari depan dan belakang.

Terjadilah pertempuran yang amat hebat! Akan tetapi karena pasukan pengawal kaisar berada di tengah-tengah, kanan kiri terhalang oleh dinding gunung dan musuh yang amat banyak jumlahnya menyerang dari depan dan belakang, maka tentu saja mereka terhimpit dan terdesak hebat.

Betapa pun juga, para jenderal terus memberi semangat kepada pasukan dengan amukan mereka. Terutama Jenderal Tan yang amat gagah, mengamuk seperti seekor naga yang sedang marah. Sekarang pakaian perangnya sudah berubah menjadi merah oleh darah para pengeroyoknya dan darahnya sendiri yang keluar dari luka-lukanya. Demikian pula dengan empat orang jenderal lainnya.

Tiba-tiba saja terdengar sorak-sorai di sebelah belakang pasukan pengawal dan terjadilah kekacauan besar di fihak musuh yang menutup jalan keluar di belakang mereka. Ternyata kemudian bahwa telah datang pasukan campuran dari Suku Bangsa Mancu dan lain-lain, dipimpin oleh seorang kakek yang gagah perkasa, yang menyerbu musuh dan membantu pasukan pengawal kaisar. Kakek itu bukan lain adalah Pendekar Sakti Cia Keng Hong yang memimpin suku-suku liar yang tidak suka melihat pemberontakan Sabutai dan kini ikut membantu kaisar dengan menyerang pasukan Sabutai yang memotong atau menutup jalan keluar dari lorong Lembah Nan-kouw itu.

Akan tetapi, meski pun pasukan bantuan ini dapat mengacaukan fihak musuh di sebelah belakang, musuh yang menyerbu dari depan terlampau banyak sehingga selagi sebagian kekuatan pasukan pengawal mendesak musuh di belakang yang menjadi terjepit dengan datangnya Cia Keng Hong dan pasukannya, sebaliknya pasukan pengawal di fihak depan dapat dihancurkan dan terus didesak oleh fihak musuh sehingga mereka terpaksa mundur dan bergabung dengan teman-teman yang masih melawan musuh yang menghadang di belakang.

Akhirnya habislah anggota pasukan yang mempertahankan diri di depan dan menyerbulah Sabutai yang dibantu oleh tiga orang tamunya yang lihai, yaitu Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw dan Go-bi Sin-kouw, yang terus menerjang maju sampai akhirnya tidak ada lagi prajurit yang dapat melawan. Bahkan delapan orang jenderal yang tadi masih mengamuk secara dahsyat itu tidak nampak lagi karena mereka semua itu sudah masuk ke dalam perkemahan kaisar untuk menyerahkan sisa-sisa darah serta nyawa mereka demi untuk melindungi junjungan mereka.

Ketika akhirnya Sabutai yang diiringkan oleh belasan orang pengawalnya, termasuk pula tiga orang tua lihai yang menjadi utusan Wang Cin itu, menyerbu ke dalam tenda besar di mana Kaisar Ceng Tung berada, nampak pemandangan yang amat mengharukan. Kaisar yang masih amat muda itu duduk dengan sikap tenang sekali, tenang dan agung, di atas kursi sambil memeluk seorang wanita cantik yang nampak ketakutan. Wanita ini adalah Azisha, selir terkasih itu.

Di dekat pintu tenda tampak bergelimpangan mayat delapan orang jenderal dengan tubuh penuh luka! Akan tetapi agaknya yang menewaskan mereka adalah luka-luka terakhir yang mereka terima dari serangan para pengawal Thaikam Wang Cin!

Ketika itu, delapan jenderal yang melindungi kaisar telah luka-luka parah, akan tetapi di bawah pimpinan Jenderal Kho Gwat Leng dan Jenderal Tan Jeng Koan, mereka delapan orang kakek itu dengan pedang di tangan masih berjaga di pintu kemah kaisar. Tiba-tiba para pengawal Wang Cin, di antaranya terdapat Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It dan Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang, maju dan segera menyerang delapan orang jenderal itu dari belakang sehingga tewaslah mereka!

Kaisar terkejut bukan main, hendak menegur perbuatan Wang Cin itu, akan tetapi thaikam ini berkata, "Merekalah yang mencelakakan kita, sri baginda. Sekarang hamba dan para pengawal hamba yang melindungi paduka!"

Akan tetapi, begitu Sabutai dan para pengawalnya memasuki perkemahan itu, Wang Cin menyambut kepala pemberontak Mongol ini dengan senyum dan mereka saling memberi salam, demikian pula para pengawalnya segera beramah-tamah dengan para pengawal musuh!

"Hemmm... kiranya engkau seorang pengkhianat!" Kaisar berseru dan membuang muka tak mau memandang wajah Thaikam Wang Cin yang tersenyum-senyum menyeringai itu.

Kemudian, sesudah akhirnya pasukan Sabutai bersatu padu dan berhasil pula mengusir pasukan Cia Keng Hong yang jumlahnya tidak seberapa banyak, Sabutai pun cepat-cepat menggiring kaisar sebagai tawanannya bersama Azisha yang tidak tampak ketakutan lagi, dan kembali ke bentengnya di utara bersama Wang Cin dan para pengawalnya.

Diam-diam Sabutai merasa kagum bukan main terhadap delapan orang jenderal itu, dan juga merasa kagum melihat sikap Kaisar Ceng Tung yang demikian tenang dan agung, sedikit pun tak merasa takut dan biar pun telah menjadi tawanan, namun memperlihatkan sikap agung dan penuh wibawa sehingga membuat dia diam-diam merasa tunduk!

Sabutai adalah orang yang menjunjung tinggi kegagahan dan amat membenci kecurangan dan pengkhianatan. Oleh karena itu, walau pun pada lahirnya dia mau dipersekutu oleh Wang Cin si pengkhianat, namun diam-diam di dalam hatinya dia sangat kagum terhadap kaisar muda itu dan sebaliknya sangat benci kepada Wang Cin. Hanya karena dia ingin mempergunakan Wang Cin untuk usahanya menyerbu ke selatan, maka dia menahan diri dan tidak memperlihatkan kebenciannya itu.

Akan tetapi dengan keras dia memerintahkan para pembantunya supaya melayani kaisar dengan baik dan tidak boleh ada seorang pun yang bersikap kasar atau mengganggu kaisar muda ini beserta selirnya. Bahkan Kaisar Ceng Tung dan selirnya ditempatkan di sebuah bangunan tersendiri, lengkap dengan taman dan diberi kebebasan, karena yang dijaga hanya sekeliling bangunan itu.

Wang Cin terus berusaha membujuk kaisar untuk membuat serta menanda tangani surat kekuasaan dan pengangkatan kaisar baru, tentu saja dengan nama Wang Cin sebagai penggantinya. Akan tetapi mendengar usul ini, Kaisar Ceng Tung hanya menjawabnya dengan meludah ke muka thaikam itu! Kalau saja tidak dicegah oleh Sabutai, tentu Wang Cin sudah membunuh kaisar.

Diam-diam Sabutai tertawa di dalam hatinya, melihat betapa pertemuan antara kaisar dan Wang Cin itu seperti pertemuan antara seekor burung hong dan seekor tikus! Dia maklum bahwa membujuk atau mengancam seorang yang demikian gagah perkasa dan sangat berwibawa seperti Kaisar Ceng Tung tidak ada gunanya sama sekali, dan kaisar itu jauh lebih baik dijadikan sandera.

Sabutai memang cerdik bukan kepalang. Dia tahu benar bahwa selama kaisar itu menjadi tawanannya, bala tentara Beng-tiauw tidak nanti akan berani menyerangnya. Dan kalau dia memperlakukan kaisar itu dengan baik, sebagai seorang tamu terhormat, hal ini saja telah cukup merupakan jaminan bahwa kelak andai kata cita-citanya menyerbu ke selatan gagal dan dia kalah, Pemerintah Beng tentu suka akan memaafkannya, mengingat bahwa dia telah bersikap baik kepada kaisar.

Maka dia melarang Wang Cin untuk bertemu sendiri dengan kaisar, harus selalu di bawah pengawasannya. Bahkan tempat yang dijadikan tempat tawanan atau lebih tepat disebut gedung tamu itu bersambung dengan istananya sendiri sehingga dengan begitu leluasalah dia untuk keluar masuk gedung tamu itu…..

********************


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner