DEWI MAUT : JILID-34


Beberapa bulan setelah Kaisar Ceng Tung menjadi tawanan, mulai tampaklah watak asli dari Azisha. Sejak diumpankan kepada kaisar oleh Wang Cin, memang wanita ini hanya melayani kaisar itu sebagai pelaksanaan tugasnya belaka. Sesungguhnya sedikit pun dia tidak cinta kepada kaisar dan kalau toh ada cinta itu, yang dicintanya bukanlah pribadi kaisar melainkan kedudukannya!

Kini, kaisar yang merupakan manusia terbesar di negaranya, bahkan dianggap sebagai ‘utusan Tuhan’ atau ‘putera Tuhan’, sudah kehilangan kedudukannya, kehilangan segala kebesarannya, bahkan sudah menjadi seorang tawanan. Tentu saja Azisha merasa amat rendah kalau menjadi selir seorang tawanan!

Dia mulai bersikap keras dan berani menentang kaisar, bahkan berani pula menggunakan kata-kata kasar dan menghina. Melihat ini, barulah kaisar terbuka matanya, dan baru dia tahu bahwa wanita cantik jelita ini memiliki batin yang tidak secantik wajahnya, dan baru dia mengerti bahwa Azisha hanya merupakan ‘alat’ dari Wang Cin yang sekarang terbukti seorang pengkhianat besar itu. Maka dia pun tidak mempedulikannya lagi dan setiap hari Kaisar Ceng Tung hanya tekun membaca kitab-kitab yang disediakan oleh Sabutai untuk bacaannya atau melakukan siulian (semedhi).

Kaisar yang usianya masih sangat muda, baru dua puluh tiga tahun itu kini sadar bahwa hubungannya yang amat mesra dengan Azisha selama ini hanya hubungan yang didasari oleh nafsu birahi saja dari fihaknya, sedangkan dari fihak Azisha hanyalah didasari karena pelaksanaan tugas yang diberikan oleh Wang Cin. Dia merasa terpukul oleh kenyataan ini, maka dia merasa muak dan akhirnya tidak mempedulikan lagi kepada Azisha, bahkan tidak pernah mendekatinya, dan tidak pernah mengajaknya bicara sehingga ketika wanita itu tidak pernah memasuki kamarnya, dia pun tidak peduli lagi.

Perhatian Azisha mulai tertuju kepada Sabutai, laki-laki tinggi besar dan gagah perkasa yang usianya sudah empat puluh tahun lebih itu. Dibandingkan dengan Kaisar Ceng Tung yang muda dan halus budi bahasanya, lemah-lembut gerak-geriknya, tentu saja Sabutai jauh lebih jantan dan perkasa.

Akan tetapi, karena semenjak kecil sudah dididik sebagai perayu, maka agaknya wanita macam ini sudah sama sekali tidak mengenal cinta lagi, dan kalau dia mulai mendekati Sabutai adalah karena dia tahu bahwa Sabutai merupakan orang pertama di situ, bahkan orang yang memiliki cita-cita untuk menyerbu ke selatan dan menjadi kaisar dari seluruh negara! Selain itu, juga dia masih merasa sedarah dengan Sabutai, darah Mongol!

Seperti sudah diceritakan di depan, Sabutai mempunyai seorang isteri muda dan cantik, yang baru berusia delapan belas tahun, seorang berbangsa Khitan yang cantik jelita dan menjadi isterinya di luar kehendak wanita itu. Sabutai sangat cinta kepada isterinya yang cantik itu, akan tetapi dia sering kali termenung dan merasa kecewa dan bersedih karena dia maklum bahwa isterinya tidak mencintanya. Padahal dia amat mengharapkan seorang keturunan dari isterinya yang tercinta itu dan untuk mengambil selir, Sabutai tidak sampai hati. Dia terlalu mencinta Khamila dan tidak ingin membagi cintanya dengan wanita lain.

Betapa pun juga, agaknya Azisha tak akan berani secara lancang melakukan pendekatan kepada Sabutai karena dia adalah selir raja yang menjadi tawanan, kalau saja hal itu tidak dikehendaki dan diatur oleh Wang Cin. Pembesar kebiri ini mulai merasa khawatir melihat sikap Sabutai yang dingin terhadap dirinya dan sungguh pun dia dan para pengawalnya mendapat perlakuan cukup baik, tetapi Sabutai agaknya seperti tak terlalu mengacuhkan dirinya, bahkan desakannya untuk segera menyerbu ke selatan selalu ditolak oleh Sabutai dengan alasan ‘belum waktunya’ dan ‘belum cukup kuat’.

Juga Sabutai menolak keras ketika Wang Cin mengusulkan agar Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanan itu dipaksa, kalau perlu disiksa, supaya kaisar itu suka memberi surat kuasa pengangkatan kaisar baru. Semua ini ditolak oleh Sabutai yang mengatakan bahwa dia tidak sudi mempergunakan cara-cara yang curang.

"Saya adalah keturunan orang-orang gagah, kakek saya dahulu adalah Jenderal Sabutai yang terkenal dari Dinasti Goan, bagaimana mungkin saya mau melakukan tindakan yang begitu rendah dan curang? Saya bukan pengecut dan kalau sudah tiba waktunya, saya akan menyerbu ke Peking!"

Sikap Sabutai ini amat mengkhawatirkan hati Wang Cin. Meski pun dia dianggap sebagai sekutu dan tamu, akan tetapi tak ada bedanya dengan tawanan juga, seperti kaisar yang telah dikhianatinya itu. Dia menjadi serba salah. Untuk pulang kembali ke selatan dia tidak berani karena tentu pengkhianatannya itu akan membuat dia celaka, tinggal di utara dia pun tidak dapat menguasai Sabutai!

Mulailah dia mencari akal, dan orang kebiri ini memang cerdik sekali. Pandang matanya cukup tajam sehingga dia dapat menduga bahwa Sabutai yang hanya memiliki seorang isteri itu tentu tidak bahagia dengan isterinya yang cantik dan muda. Isterinya itu bersikap dingin dan tidak acuh kepada suaminya.

Karena itu dia melihat kesempatan baik untuk menggunakan kecantikan dan kepandaian Azisha yang sudah dilatih sejak kecil untuk menjadi seorang perayu pria! Maka, mulailah dia bersama Azisha mengatur siasat untuk menundukkan hati pemimpin orang Mongol yang keras hati ini dengan pengaruh kecantikan dan kepandaian merayu Azisha.

Pada suatu malam, pada saat Sabutai duduk seorang diri di dalam kamarnya, termenung mencari siasat untuk dapat menyerbu ke selatan karena kini dia sudah dapat menyusun barisan yang besar dan amat kuat, muncullah Azisha yang tentu saja diperkenankan oleh para pengawal karena para pengawal ini sudah terlebih dulu disuap oleh Wang Cin! Apa lagi, mereka tahu bahwa Azisha adalah selir kaisar yang tertawan, seorang wanita muda yang cantik jelita dan lemah, tentu saja tidak berbahaya dan mempunyai niat-niat yang mesra terhadap raja mereka!

Maka, sambil menikmati hadiah suapan dari Wang Cin, mereka membiarkan Azisha lewat dan bahkan saling pandang dengan senyum penuh arti karena tentu akan terjadi hal-hal mesra di dalam kamar pemimpin atau raja mereka. Bahkan di antara mereka ada yang berani mendekat ke kamar Sabutai kemudian memasang telinga untuk mendengarkan kemesraan itu!

Beberapa orang pengawal ini saling pandang penuh arti ketika mereka mulai mendengar suara Azisha yang merdu, seakan-akan sedang bertanya jawab dengan suara Sabutai yang nyaring dan keras. Mereka sudah mulai merasa tegang dan membayangkan hal-hal yang mengundang kegairahan hati mereka. Pembangkit nafsu birahi, seperti nafsu apa pun juga, adalah pikiran sendiri. Makanya, jangan suka ‘ngeres’.

Kebencian dan rasa takut didatangkan oleh pikiran yang membayangkan hal-hal yang mengerikan dan tidak menyenangkan yang sudah atau akan menimpa diri kita. Iri hati, keinginan, ambisi, gairah, semuanya datang karena pikiran membayangkan hal-hal yang menyenangkan dan yang sudah atau akan kita alami. Segala macam nafsu datang dari pikiran yang membayang-bayangkan hal yang telah lalu dan yang akan datang sehingga kehidupan kita sepenuhnya dipermainkan dan dikuasai oleh kesibukan pikiran, membuat kita tidak mampu melihat keadaan sesungguhnya dan kenyataan dari saat sekarang ini.

Karena itu, seorang bijaksana akan selalu waspada terhadap pikirannya sendiri, karena pikiran yang sesungguhnya amat penting bagi fungsi hidup sehari-hari sebagai alat untuk mengingat dan mencatat, juga amatlah jahat kalau dipergunakan tidak pada tempatnya, yaitu dipergunakan untuk menguasai kehidupan seluruhnya dengan pembentukan si aku.

Si aku adalah pikiran itu sendiri yang selalu mengejar kesenangan dan menyingkir dari yang tidak menyenangkan. Maka batin menjadi ajang perang dari kenyataan seperti apa adanya dan bayangan-bayangan pikiran yang selalu menginginkan hal-hal yang lain dari pada kenyataan yang ada! Maka datanglah konflik batin yang tentu akan tercetus keluar menjadi konflik lahir. Kalau kita mau membuka mata melihat kenyataan konflik ini nampak di dalam kehidupan kita sehari-hari, dari konflik kecil antar manusia sampai konflik besar antar bangsa berupa perang!


Karena kadang-kadang suara percakapan di dalam kamar itu lirih dan suara Azisha yang merayu-rayu itu terdengar kadang-kadang seperti rintihan halus, maka para pengawal itu yang tidak berani terlampau dekat tidak dapat menangkap jelas sehingga mereka menjadi makin penasaran.

Akan tetapi tiba-tiba terdengar bentakan keras dari Sabutai disusul jerit seorang wanita. Pada saat para pengawal cepat lari ke depan pintu kamar, pintu terbuka dari dalam dan nampak Sabutai dengan muka merah berkata,

"Lempar mayat perempuan hina itu keluar!"

Para pengawal terbelalak melihat wanita muda yang cantik jelita itu sudah rebah di atas lantai dengan kepala pecah sehingga mukanya yang cantik itu terlihat mengerikan karena penuh darah, matanya terbelalak dan kini muka itu sama sekali tak menarik lagi, bahkan menakutkan. Baju luar wanita itu telah terlepas sehingga nampak lekuk lengkung dadanya yang penuh di balik baju dalam yang berwarna merah muda.

Agaknya tadi wanita muda itu menggunakan rayuan dengan menanggalkan baju luarnya, tetapi dia sama sekali tak berhasil membangkitkan gairah di hati Sabutai, sebaliknya malah membangkitkan kemarahannya sehingga dalam kemarahannya orang yang gagah perkasa ini menampar kepala wanita itu hingga pecah dan tewas seketika!

Sungguh peristiwa yang amat menyedihkan. Azisha yang semenjak kecil dididik sebagai seorang wanita perayu dan yang haus akan kemewahan serta kemuliaan, sama sekali tidak mengenal Sabutai dan menyangka bahwa setiap orang pria tentu akan runtuh oleh rayuan mautnya.

Akan tetapi, Sabutai adalah seorang laki-laki jantan yang hanya mempunyai satu cita-cita saja, yaitu hendak membangun kembali Bangsa Mongol sebagai bangsa yang terbesar, merampas kembali tahta kerajaan dari Dinasti Beng dan membangun kembali Kerajaan Mongol yang sudah hancur berantakan. Sedikit pun dia tidak terpikat oleh wanita, apa lagi karena satu-satunya wanita yang dicintanya adalah Khalima, isterinya yang masih muda akan tetapi yang tidak membalas cintanya.

Karena itu, melihat rayuan Azisha, dia menjadi muak, apa lagi mengingat bahwa Azisha adalah seorang wanita Mongol dan dia tahu betapa wanita bangsanya ini oleh Wang Cin sudah diperalat untuk melemahkan Kaisar Ceng Tung yang sangat dikaguminya karena kaisar yang muda itu ternyata adalah seorang yang gagah perkasa dan tidak mengenal takut pula, sungguh pun kaisar yang muda itu agaknya lemah terhadap wanita cantik.

Kemarahannya memuncak ketika dia mengusir Azisha, wanita ini malah menanggalkan baju luarnya untuk memamerkan lekuk lengkung tubuhnya. Maka dalam kemarahannya dia menampar, lupa bahwa tamparan tangannya terlalu kuat dan kepala wanita ini terlalu lunak sehingga tewaslah Azisha dengan kepala pecah.

Tentu saja hati Wang Cin terkejut setengah mati ketika dia mendengar betapa Azisha telah dibunuh oleh Sabutai. Cepat dia mengumpulkan para pengawalnya karena hatinya merasa tidak enak sekali. Diam-diam dia cepat berunding dengan para pengawalnya yang berjumlah belasan orang, di antaranya termasuk Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, Go-bi Sin-kouw, Bouw Thaisu, Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, Liok-te Sin-mo Gu Lo It beserta Sin-ciang Siauw-bin-sian Hok Hosiang, orang-orang yang berkepandaian amat tinggi dan yang mempergunakan kesempatan itu untuk mencari kedudukan dengan membonceng pengaruh pembesar kebiri Wang Cin dan di samping itu juga untuk menyembunyikan diri sementara waktu karena mereka itu, terutama sekali tiga orang di antara Lima Bayangan Dewa, merasa jeri juga atas pengejaran dan pembalasan dendam dari Cin-ling-pai.

Di samping tujuh orang berilmu ini, masih ada lagi enam orang pengawal pribadi Wang Cin yang rata-rata juga mempunyai kepandaian tinggi. Setelah mengadakan perundingan dengan tiga belas orang pengawal kepercayaannya, pada keesokan harinya Wang Cin lalu pergi menghadap Sabutai, diikuti oleh tiga belas orang pengawalnya itu.

Tentu saja Sabutai bukan orang bodoh dan dia sudah tahu terlebih dulu bahwa peristiwa kematian Azisha di dalam kamarnya itu tentu mengejutkan hati Wang Cin, sebab dia tahu bahwa wanita muda itu adalah sekutu Wang Cin sehingga yang langsung tersinggung oleh kematian itu bukannya kaisar Ceng Tung yang agaknya kini mulai terbuka matanya oleh kepalsuan-kepalsuan itu, melainkan thaikam itulah.

Sebetulnya, menurut suara hatinya yang tidak suka terhadap kepalsuan dan kecurangan Wang Cin, ingin dia membunuh saja pengkhianat itu, akan tetapi dia pun maklum bahwa Wang Cin dikelilingi oleh orang-orang pandai yang amat lihai, dan juga ratusan orang sisa prajurit pengawal yang kini menakluk dan menjadi pasukan pengawal Wang Cin sehingga merupakan bantuan yang cukup kuat baginya. Inilah yang membuat dia menahan sabar dan tidak membunuh pengkhianat itu.

Setelah dalam amarahnya dia membunuh Azisha, Sabutai juga maklum bahwa kematian wanita palsu itu tentu akan menyusahkan hati kaisar yang kini agaknya sudah terbuka matanya dan mengenal macam apa adanya wanita yang selama ini mempermainkannya, akan tetapi tentu akan diterima dengan marah oleh Wang Cin. Karena itu dia pun sudah bersiap-siap.

Pada waktu Wang Cin yang diikuti tiga belas orang pengawalnya itu datang mengunjungi Sabutai, mereka disambut oleh Sabutai yang sudah duduk di ruangan besar itu bersama seorang kakek dan seorang nenek tua renta yang bermata tajam seperti mata harimau. Kakek dan nenek itu duduk di kanan kirinya.

Si kakek bermuka putih seperti kapur, seolah-olah tidak mempunyai darah, muka mayat yang dipupuri kapur tebal. Sedangkan muka nenek itu hitam sekali, hitam seperti terbakar hangus. Wajah kakek dan nenek yang warnanya sama sekali berlawanan itu membuat mereka kelihatan amat menyeramkan, apa lagi karena nenek bermuka hitam hangus itu berpakaian serba putih sedangkan kakek bermuka putih kapur itu mengenakan pakaian serba hitam! Tangan mereka memegang tongkat butut yang sukar dikenali terbuat dari bahan apa, hanya nampaknya sudah butut sekali.

Di belakang Sabutai berjajar pasukan pengawal yang terdiri dari tiga puluh orang lebih, bersenjata lengkap dan dalam keadaan siap siaga! Melihat ini, Wang Cin tercengang dan jantungnya berdebar. Dia merasa bahwa Sabutai agaknya sengaja memperlihatkan sikap bermusuhan dan memamerkan kekuatan, dan dia pun tidak mengenal siapa adanya dua orang kakek dan nenek itu.

Pada lain fihak, Sabutai menerima kedatangan Wang Cin dan para pengawalnya dengan sikap dingin, akan tetapi dia tetap mempersilakan mereka duduk berhadapan dengan dia terhalang meja panjang. Wang Cin duduk di antara para pengawalnya, dan Sabutai lalu memperkenalkan kakek dan nenek itu.

"Wang-taijin, perkenalkan. Kedua beliau ini adalah guru-guru saya, Pek-hiat Mo-ko (Iblis Jantan Berdarah Putih) Hek-hiat Mo-li (Iblis Betina Berdarah Hitam). Suhu dan subo, inilah Wang-taijin dan para pengawalnya seperti yang sudah saya ceritakan kepada suhu dan subo (bapak dan ibu guru)."

Wang Cin sebagai scorang pembesar istana yang tidak mengenal dunia persilatan, maka tidak pernah mendengar nama dua orang aneh itu dan tentu saja dia memandang rendah kepada kakek dan nenek yang lebih merupakan orang-orang terlantar atau jembel-jembel yang bertubuh lemah dan tua.

Akan tetapi para pengawalnya memandang kakek dan nenek itu dengan penuh perhatian dan terutama sekali Bouw Thaisu kelihatan terkejut karena kakek ini pernah mendengar nama-nama mereka sebagai tokoh-tokoh yang selalu menyembunyikan diri akan tetapi yang kabarnya memiliki kepandaian tinggi sekali. Maka Bouw Thaisu cepat menjura dan berkata,

"Sudah lama saya mendengar nama besar ji-wi (anda berdua), sungguh menyenangkan sekali hari ini dapat bertemu."

Nenek itu tidak mempedulikan Bouw Thaisu, melainkan memandang dengan mata agak menjuling ke arah Hek I Siankouw dan Go-bi Sin-kouw, akan tetapi kakek itu melirik ke arah Bouw Thaisu dan terdengar dia berkata, suaranya jelas membayangkan lidah asing.

"Bouw Thaisu meninggalkan tempatnya yang sunyi di pantai Po-hai dan muncul di dalam keramaian, tentu ada apa-apa di balik itu. Hemmm...!"

Tiba-tiba terdengar suara nenek itu, tinggi melengking penuh nada mengejek, "Dewi dari Go-bi yang sudah bongkok, sute Toat-beng Hoatsu dan pasangannya, semua muncul di sini. Alangkah ramainya!" Jelas bahwa nenek itu menujukan kata-katanya kepada Go-bi Sin-kouw, Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw.

Tentu saja Bouw Thaisu dan teman-temannya menjadi terkejut sekali. Biar pun tak pernah muncul di dunia kang-ouw, kakek dan nenek itu ternyata dapat mengenal mereka! Hanya tiga orang dari Lima Bayangan Dewa yang agak mendongkol karena kakek dan nenek itu seolah-olah tak peduli kepada mereka, selain tidak kenal, juga memandang rendah sekali, agaknya mereka bertiga dianggap pengawal-pengawal biasa saja, kelas rendahan!

Akan tetapi tentu saja mereka pun tidak dapat menunjukkan kemangkelan hati mereka, apa lagi pada saat itu Sabutai sudah berkata kepada Wang Cin, "Keperluan apakah yang membawa Wang-taijin datang kepada saya? Agaknya ada hal yang sangat penting untuk dibicarakan."

Wang Cin menahan gejolak hatinya yang diliputi kemarahan. Sungguh pun hatinya panas karena marah dan duka memikirkan kematian Azisha yang sekarang jenazahnya entah dibuang ke mana, namun dia memaksa wajahnya tenang dan mulutnya tersenyum ketika dia menjawab,

"Saya telah mendengar berita bahwa telah terjadi sesuatu antara paduka dengan Azisha. Karena dia adalah selir kaisar dan dia masih segolongan dengan kita, maka saya menjadi terkejut dan datang menghadap untuk minta penjelasan mengenai peristiwa itu."

Sabutai tersenyum mengejek, kemudian berkata dengan suara menantang, "Tidak salah apa yang taijin dengar. Azisha telah saya bunuh malam tadi."

Dengan pandang mata keras, tanpa kuasa menyembunyikan kemarahannya, Wang Cin bertanya, "Kenapa?"

"Perempuan tak tahu malu itu berani memasuki kamar saya dan bersikap tidak senonoh. Dalam kemarahan saya melihat ketidak sopanannya dan usahanya untuk merayu, saya memukulnya dan dia tewas. Jenazahnya sudah saya suruh kubur."

Wang Cin menghela napas panjang, lalu mengangkat kedua tangan ke atas, "Saya tidak mempersoalkan sebab-sebabnya mengapa dia dibunuh, bengcu." Pembesar thaikam ini tak mau menyebut Sabutai sebagai raja muda seperti yang dilakukan para anak buahnya, melainkan menyebutnya bengcu yang berarti pemimpin. "Akan tetapi yang paling penting, mengapa membunuh dia yang dapat menjadi pembantu kita yang amat baik? Bukankah lebih baik membunuh kaisar yang sudah menjadi tawanan, atau mengancamnya dengan siksaan agar dia suka tunduk dan menyerahkan kedudukannya kepada kita?"

Sabutai menggebrak meja di depannya. Dia marah sekali. "Wang-taijin! Harap taijin ingat bahwa taijin berada di tempat saya, dan di sini, sayalah yang berkuasa. Taijin tidak perlu mencampuri urusan saya. Perempuan hina itu sengaja hendak merayu saya, maka saya bunuh dia. Ada pun kaisar yang muda itu, saya kagum sekali karena dia adalah seorang pemuda yang gagah berani. Saya langsung saja membunuh perempuan tak tahu malu itu tanpa bertanya siapa yang sudah mendalangi perbuatannya, hal itu karena saya tak mau memperpanjang urusan."

Merah juga wajah Wang Cin mendengar sindiran ini. Kedua alisnya berkerut dan dia pun mencela, "Sabutai bengcu, hendaknya bengcu ingat bahwa tanpa siasat dari saya, tidak mungkin bengcu dapat menawan kaisar! Kita bekerja sama, maka saya berhak bicara dan sudah semestinya kalau bengcu mendengarkan kata-kata saya."

Sabutai menjadi makin marah dan dia sudah bangkit berdiri. "Wang-taijin yang mengajak bersekutu, bukan saya. Biar pun kita bekerja sama akan tetapi sayalah yang menentukan segala langkah kita, dan bukan Wang-taijin!"

Melihat suasana menjadi panas ini, Bouw Thaisu cepat-cepat bangkit berdiri dan berkata dengan suara halus. "Harap ji-wi suka bersabar dan berbicara dengan kepala dingin. Di antara sahabat, akan merugikan sendiri apa bila menurutkan hati panas. Segala sesuatu dapat dirundingkan secara baik-baik."

"Heh-heh-heh, omongan Bouw Thaisu barusan sungguh seperti omongan pelawak di atas panggung!" Tiba-tiba nenek Hek-hiat Mo-li berkata. "Kalau mengaku sahabat, mengapa Wang-taijin datang dikawal oleh para jagoannya, seolah-olah hendak berangkat perang?"

"Sungguh sombong!" Tiba-tiba Liok-te Sin-mo Gu Lo It yang berwatak keras dan kasar, membentak marah. "Wang-taijin adalah seorang pembesar tinggi dan sekutu yang banyak berjasa, juga tamu agung di tempat ini, akan tetapi sudah diperlakukan tidak sepatutnya. Ke mana pun beliau pergi, sudah tentu saja kami pengawal-pengawalnya akan menjaga keselamatannya, kerena siapa tahu di mana-mana terdapat musuh yang bersembunyi! Kalau ada yang tidak setuju melihat kami mengawal beliau, boleh coba mengusir kami!"

Sesudah berkata demikian, Gu Lo it yang bertubuh tinggi besar kokoh kuat, berhidung besar dan berjubah hitam dan bertopi itu, sekali meloncat telah berdiri di tengah ruangan, matanya melotot ditujukan pada nenek bermuka hitam berpakaian serba putih itu dengan sikap menantang.

"He-he-he-he, gagah sekali! Siapakah namamu, pengawal yang setia?" Nenek itu tertawa, bangkit berdiri dan menghampiri Gu Lo It.

"Namaku tidak sedemikian gagah seperti namamu, Hek-hiat Mo-li. Namaku Gu Lo It."

"He-heh-heh, engkau benar-benar seekor kerbau hidung besar!" Nenek itu terkekeh dan kata-kata itu merupakan ejekan yang sangat menghina karena nama keturunan Gu Lo It, yaitu Gu dapat juga diartikan kerbau, walau pun bukan itu maksudnya dan hanya bunyi suaranya saja yang sama.

Dia dimaki kerbau karena memang she-nya dapat diartikan kerbau dan berhidung besar karena memang hidungnya agak terlampau besar untuk ukuran umum. Maka tentu saja Si Iblis Bumi ini menjadi marah bukan main. Dia adalah Liok-te Sin-mo, orang kedua dari Lima Bayangan Dewa dan nenek tua renta seperti mayat hidup ini berani menghinanya seperti itu.

"Nenek sombong, kau belum mengenal lihainya Liok-te Sin-mo. Nah, kau coba sambutlah ini!"

Tiba-tiba saja Liok-te Sin-mo Gu Lo It sudah menerjang nenek muka hitam itu dengan gerakan dua tangannya yang mengandung tenaga besar sekali, menghantam dari kanan kiri. Serangan ini dilakukan dengan marah dan dengan tenaga penuh sehingga terdengar angin pukulan menyambar dari kanan kiri, bersuit suaranya.

Baik Wang Cin mau pun Sabutai hanya memandang saja. Sabutai tidak berani menahan subo-nya, sedangkan Wang Cin memang hendak memperlihatkan gigi maka dia hanya membiarkan saja jagoan-jagoannya memberi hajaran kepada fihak tuan rumah yang amat menyakitkan hatinya. Hanya Bouw Thaisu yang memandang dengan alis berkerut karena dia menganggap sikap Gu Lo It itu terlalu lancang.

"Heh-heh-heh, si kerbau hidung besar mengamuk dan menyeruduk!" nenek itu tertawa, kedua tangannya bergerak cepat sekali sehingga kedua lengan yang terbungkus lengan baju putih itu berubah menjadi bayangan putih dan tahu-tahu nenek itu telah menangkap kedua pergelangan tangan Gu Lo It yang kini terbelalak.

Hanya Bouw Thaisu yang dalam sekejap mata dapat melihat betapa secara cepat dan aneh, Gu Lo It sudah tertotok setengah lumpuh maka kini tidak mampu berbuat apa-apa ketika pergelangan kedua tangannya ditangkap.

"Heiii... Mo-ko, kau suka daging kerbau? Nah, terimalah persembahanku ini, he-heh-heh!" Dan tiba-tiba Gu Lo It terlempar ke udara, menuju ke arah kakek muka putih.

"Siapa sudi kerbau alot begini?" Dengan sekali bergerak kakek itu sudah melompat ke depan, kedua tangannya digerakkan dan tahu-tahu dia telah menangkap batang leher dan punggung baju Gu Lo It kemudian sekali ayun tubuh Gu Lo It sudah terlempar lagi ke arah Hek-hiat Mo-li!

"Ihh, kerbau busuk, aku jijik!" Kini kaki nenek itu bergerak, cepat sekali.

Pada saat itu sebetulnya Gu Lo It sudah terbebas dari totokan dan sudah mulai meronta dan bergerak hendak melawan, akan tetapi ujung sepatu nenek itu kembali membuatnya setengah lumpuh kemudian dengan suara berdebuk, pinggulnya kena ditendang sehingga tubuhnya kembali melayang ke arah Pek-hiat Mo-ko.

Terkejut bukan main semua pengawal Wang Cin, terutama sekali Bouw Thaisu pada saat menyaksikan betapa Gu Lo It yang terkenal lihai itu dipermainkan oleh kakek dan nenek itu seperti sebuah bola yang sama sekali tidak berdaya!

"Harap ji-wi memaafkan dia!" Bouw Thaisu berseru keras ketika melihat tangan Pek-hiat Mo-ko sudah bergerak untuk menyambut tubuh Gu Lo It dengan sebuah tamparan ringan yang mengarah kepala Gu Lo It, tamparan yang mungkin akan merenggut nyawa orang kedua dari Lima Bayangan Dewa itu!

"Plakkk!"

Bouw Thaisu terhuyung dengan perasaan kaget bukan main, akan tetapi dia telah berhasil menyelamatkan Gu Lo It dengan menangkis tamparan itu. Sedangkan Gu Lo It dengan muka sebentar pucat sebentar merah sudah berdiri di pinggir, tadi sempat disambar oleh suheng-nya, yaitu Pat-pi Lo-sian Phang Tui Lok, yang sekarang memegang lengannya, mencegah sute yang sembrono itu maju lebih lanjut.

"Bagus! Kiranya Bouw Thaisu tidak mengecewakan menjadi tokoh partai Po-hai!" Pek-hiat Mo-ko memuji ketika merasa betapa kuatnya lengan Bouw Thaisu yang menangkisnya tadi. "Dan akan menjadi lawan yang menggembirakan pula!"

Akan tetapi, melihat betapa nenek dan kakek itu lihai sekali sedangkan keadaannya tidak menguntungkan fihaknya, Wang Cin langsung bangkit berdiri. "Cukup semua ini! Harap Bouw Thaisu dan yang lain-lain suka duduk kembali!" Kemudian dia memandang Sabutai dan berkata, "Apakah bantuan kami diterima dengan cara begini oleh bengcu? Apakah semua pengorbanan kami sia-sia belaka?"

Sabutai memberi isyarat kepada suhu dan subo-nya untuk duduk kembali, kemudian dia berkata, "Harap maafkan, Wang-taijin. Sebagai orang-orang yang suka dengan ilmu silat, tentu saja suhu dan subo-ku akan melayani setiap lawan yang hendak main-main. Kami sama sekali tidak ingin memusuhi taijin, bahkan kami berterima kasih atas bantuan taijin. Urusan besar masih belum terlaksana, apakah perlu taijin meributkan kematian seorang perempuan hina seperti Azisha itu?"

Wang Cin maklum bahwa fihaknya terdesak. Dia berada di goa harimau, karena itu dia tidak boleh main-main. Andai kata dia boleh mengandalkan ketangguhan tiga belas orang pengawalnya dan ratusan orang sisa pasukan, akan tetapi apa dayanya berada di antara puluhan ribu anak buah Sabutai? Maka dia segera mengangguk dan mereka melanjutkan pertemuan yang tadinya menegangkan itu dengan makan minum, dan nama Azisha sama sekali tidak pernah disinggung lagi dalam percakapan.

Bahkan Sabutai dan Wang Cin membicarakan mengenai terjadinya beberapa kali usaha penyerbuan pasukan Beng-tiauw dibantu oleh beberapa kelompok suku bangsa perantau di utara untuk membebaskan kaisar. Namun karena jumlah para penyerbu itu kecil sekali dibandingkan dengan kekuatan barisan anak buah Sabutai, semua usaha penyerbuan itu dapat dihancurkan dan para penyerbu dipaksa untuk mundur.

"Para penyelidik kami melaporkan bahwa di kerajaan telah terjadi pergolakan, akan tetapi sayang, para sekutu taijin agaknya membelakangi taijin dan saya juga mendengar bahwa mereka semua telah mengangkat seorang kaisar baru, yaitu Ceng Ti."

Muka Wang Cin menjadi merah mendengar kata-kata ini. "Kalau begitu, kenapa kita tidak segera menyerbu ke selatan? Harap bengcu mau percaya kepadaku bahwa di situ masih banyak sekutu yang akan membantu kita dari dalam. Kaisar Ceng Ti sama saja dengan Kaisar Ceng Tung, dia pun membenci bangsa kita. Sebelum kita berhasil merampas tahta kerajaan, bangsa kita akan selalu dianggap sebagai musuh dan tidak mungkin Kerajaan Goan-tiauw yang jaya dapat bangkit kembali."

Sabutai tersenyum. "Mungkin taijin mahir sekali dalam urusan pemerintahan, akan tetapi mengenai urusan perang, serahkan saja kepada saya. Kalau sudah tiba saatnya, tentu saya akan menyerbu ke selatan."

Biar pun hatinya penasaran, namun Wang Cin tidak berani mendesak lagi dan terpaksa dia beserta para pengawalnya harus bersabar menjadi tamu-tamu yang keadaannya tidak lebih dari pada tawanan-tawanan yang selalu diawasi sungguh pun diperlakukan dengan hormat.

Apa yang dikatakan oleh Sabutai mengenai pergolakan di kota raja itu memang benar. Sesudah menerima berita bahwa Kaisar Ceng Tung disergap dan ditawan oleh pasukan pemberontak Sabutai, kota raja menjadi geger, apa lagi ketika mendengar bahwa delapan orang jenderal tewas dalam melindungi kaisar.

Akan tetapi anehnya, keributan tentang berita ditawannya kaisar segera tenggelam, kalah oleh keributan mengenai siapa yang harus menjabat kedudukan kaisar yang sementara kosong itu!

Memang sudah menjadi watak para manusia yang haus dengan kesenangan, haus akan kekuasaan dan kemuliaan duniawi. Untuk mencapai kesenangan-kesenangan yang amat dirindukan itu, manusia tak segan-segan berubah menjadi makhluk sebuas-buasnya, bila perlu menyingkirkan, merobohkan dan membunuh manusia-manusia lain yang merintangi tengah jalan, yang dianggapnya sebagai penghalang tercapainya apa yang dikejar-kejar, yaitu kesenangan, kekuasaan, dan kemuliaan.

Usaha untuk mencoba menolong dan membebaskan Kaisar Ceng Tung hanya dilakukan sembarangan saja, seolah-olah hanya untuk menutupi apa yang sebetulnya terjadi di kota raja, yaitu perebutan kekuasaan yang akhirnya jatuh ke tangan Ceng Ti yang mengangkat diri menjadi kaisar pengganti Ceng Tung yang dianggap sudah tewas…..!

********************

Untuk ke sekian kalinya, pasukan kecil itu dapat dipukul mundur oleh barisan penjaga di benteng Sabutai karena jumlah mereka yang jauh lebih kecil. Kakek gagah perkasa yang memimpin penyerangan itu mengamuk bagaikan seekor naga, akan tetapi betapa pun gagahnya dia, tidak mungkin dia dapat membobol penjagaan puluhan ribu orang pasukan Sabutai, sementara anak buahnya, yaitu pasukan yang terdiri dari orang-orang Nomad, pedagang dan penggembala kuda, telah terpukul mundur. Mereka terpaksa melarikan diri memasuki hutan-hutan dan kakek itu berdiri termenung dengan wajah penasaran.

Beberapa orang pimpinan orang Nomad menghadapnya dan di antara mereka ada yang luka-luka. Orang yang tertua di antara mereka berkata, "Saya kira tidak ada gunanya lagi, taihiap. Kedudukan Sabutai terlalu kuat, orang-orangnya terlalu banyak. Tanpa adanya bantuan pasuka Kerajaan Beng, mana mungkin kita dapat menyelamatkan kaisar? Setiap penyerbuan hanya merupakan bunuh diri dan kita sudah kehilangan ratusan orang anak buah."

Cia Keng Hong, kakek pendekar yang gagah perkasa itu, menarik napas panjang, alisnya berkerut dan dia mengepal tinju. "Sungguh gila! Mengapa dari selatan tidak datang bala bantuan sedangkan sisa pasukan mereka telah lama kembali ke selatan untuk minta bala bantuan? Apakah mereka sudah tidak mempedulikan lagi kaisar mereka yang tertawan musuh?"

Seperti yang kita ketahui, Cia Keng Hong telah membantu Suku Nomad yang terdiri dari Bangsa Mongol dan Khitan, yang dipimpin oleh Yalu, pada waktu rombongan ini sedang menggiring kuda mereka dan diganggu para perampok yang ternyata adalah anak buah Sabutai juga. Kemudian Cia Keng Hong memimpin mereka beserta teman-teman mereka yang berhasil dikumpulkan untuk mencoba menolong rombongan kaisar saat rombongan kaisar terjebak di Lembah Nan-kouw, di lorong yang sempit. Akan tetapi, karena jumlah musuh yang jauh lebih banyak, pasukan orang Nomad ini terpukul mundur dan Cia Keng Hong tidak berhasil menyelamatkan kaisar sehingga kaisar menjadi tawanan Sabutai.

Dengan hati penuh duka dan juga kagum Cia Keng Hong lalu menyempurnakan jenazah delapan orang jenderal yang gugur secara gagah perkasa itu, baru kemudian pendekar ini menyusun kekuatan, bergabung dengan pasukan pemerintah yang menjaga di tapal batas dan berusaha untuk menyerang benteng Sabutai dan menolong kaisar yang ditawan.

Akan tetapi, usaha yang sudah berkali-kali dilakukan itu gagal terus, dan dengan sia-sia dia menanti bala bantuan dari selatan yang tak kunjung datang. Malam hari itu, kembali mereka telah gagal dan para pemimpin Suku Nomad mulai merasa putus asa dan mulai merasa berat untuk mengorbankan orang-orang mereka lebih banyak lagi hanya demi kepentingan Kaisar Beng, sedangkan pasukan bantuan dari Kerajaan Beng sendiri tidak kunjung datang.

Setelah melihat sikap pasukan orang-orang Nomad yang telah membantunya menentang Sabutai, dan mendengar pendapat-pendapat para pemimpin mereka yang mulai merasa putus asa karena banyaknya korban di kalangan mereka dan gagalnya serbuan mereka terhadap benteng Sabutai yang amat kuat itu, Cia Keng Hong kemudian berkata kepada mereka, ditujukan kepada Yalu, pemimpin suku pedagang kuda yang pernah dibantunya ketika suku ini diserbu oleh pencuri-pencuri kuda.

"Aku bisa mengerti akan keadaan kita, dan aku pun ikut prihatin melihat jatuhnya banyak korban. Akan tetapi, kita telah melangkah demikian jauh, menentang kemaksiatan dan pemberontakan, sudah banyak pula korban yang jatuh, bagaimana sekarang kita dapat mundur begitu saja? Harap kalian tenang dan menanti di sini, aku besok akan berangkat ke selatan untuk mencari bala bantuan. Percayalah, dahulu aku sudah banyak membantu kerajaan, bahkan aku pernah bekerja sama dengan mendiang Panglima Besar The Hoo, maka tentu aku akan berhasil mendatangkan barisan besar untuk menggempur benteng Sabutai dan menyelamatkan sri baginda kaisar."

Yalu dan teman-temannya tentu saja merasa setuju dan girang. Mereka hanya merasa jeri kalau harus menyerang benteng yang kuat itu lagi, akan tetapi kalau hanya menanti, kemudian memperoleh kesempatan membalas kematian kawan-kawan serta anak-anak buah mereka, tentu saja mereka merasa girang. Maka berundinglah para pimpinan itu dengan Cia Keng Hong yang sudah mengambil keputusan untuk berangkat sendiri ke selatan.

Selagi mereka melakukan perundingan dengan serius, mendadak terdengar suara gaduh, disusul oleh suara suitan-suitan yang menjadi tanda bahwa tempat itu sudah kedatangan musuh! Tentu saja para pemimpin Suku Bangsa Nomad itu terkejut sekali, akan tetapi dengan tenang Cia Keng Hong berkata,

"Harap jangan gugup. Kalian cepat perintahkan anak buah masing-masing untuk mundur dan berpencar. Aku akan lebih dahulu pergi memeriksa apa yang terjadi!" Baru saja habis kata-kata ini, orangnya telah lenyap dari situ sebab pendekar sakti itu telah menggunakan ilmu kepandaiannya untuk melesat keluar perkemahan dengan cepat sekali!

Seperti juga dengan pemimpin lain yang cepat berlarian keluar, Cia Keng Hong merasa lega ketika mendengar bahwa ribut-ribut itu bukan disebabkan oleh serbuan musuh, akan tetapi hanya dua orang mata-mata musuh yang telah dikepung!

"Mereka itu bukan main lihainya sampai kami kewalahan dan banyak sudah kawan-kawan yang roboh oleh mereka."

Mendengar laporan ini, Cia Keng Hong menjadi marah dan penasaran. Dia kemudian mempercepat larinya menuju ke tempat di mana anak buah Suku Bangsa Nomad itu sedang berteriak-teriak mengepung dua orang. Ketika tiba dekat, Cia Keng Hong terkejut bukan main.

Dia tidak mengenal kakek dan nenek yang sedang duduk di atas tanah, saling beradu punggung dan kini mereka berdua menggerak-gerakkan tongkat butut mereka di atas tangan sambil bernyanyi-nyanyi itu. Nyanyian itu diucapkan dalam bahasa asing, dan biar pun dia tidak menguasai bahasa itu, Cia Keng Hong yang berpengalaman luas mengenal Bahasa Sailan. Dua orang kakek dan nenek berkebangsaan Sailan muncul di tempat itu, sungguh mengherankan.

Akan tetapi yang mengejutkan hati pendekar sakti ini bukan kenyataan bahwa mereka adalah orang-orang asing dari barat itu, melainkan menyaksikan kelihaian mereka yang luar biasa. Mereka itu kelihatannya hanya memukul-mukulkan tongkat butut ke atas tanah di hadapan mereka, sama sekali tidak mempedulikan pengeroyokan puluhan orang yang menyerang mereka kalang-kabut dengan senjata mereka. Akan tetapi kenyataannya, tak ada sebuah pun senjata para pengeroyok yang mengenai tubuh mereka karena selalu tertangkis oleh tongkat butut dan bayangan tongkat sedangkan setiap kali tongkat mereka memukul tanah, pasir dan tanah muncrat meluncur ke depan, mengenai para pengeroyok dan hebatnya, pasir dan tanah ini sudah sanggup merobohkan banyak sekali orang-orang yang mengeroyok itu!

Sekali pandang saja tahulah Cia Keng Hong bahwa dua orang tua itu adalah orang-orang yang amat lihai. Gerakan tongkat mereka mengeluarkan angin menderu sehingga semua senjata lawan terhalau, sementara tanah dan pasir yang beterbangan merobohkan para pengeroyok itu adalah akibat pencokelan dengan ujung tongkat dan tentu saja ada tenaga sinkang yang sangat kuat tersalur pada tangan mereka untuk dapat melakukan serangan balasan itu.

Apa lagi jika dia memandang ke arah wajah mereka yang tertimpa sinar layung matahari senja itu, dia semakin terkejut karena wajah putih kapur dari kakek itu, dan wajah hitam hangus dari nenek itu, adalah akibat dari hawa beracun yang agaknya dilatih oleh kedua orang tua itu, seperti yang kadang-kadang dapat ditemukan di antara tokoh-tokoh kaum sesat yang berilmu tinggi.

"Harap kalian semua mundur!" Cia Keng Hong berseru dan mendengar seruan pendekar tua yang mereka kagumi itu, semua pengeroyok mundur sambil menyeret belasan orang yang telah menjadi korban sambaran tanah dan pasir.

Ternyata tanah dan pasir itu menyambar muka dan tubuh mereka sedemikian kerasnya hingga menembus kulit daging, seperti peluru-peluru kecil dari baja saja! Mereka semua memandang kepada Cia Keng Hong penuh harapan, karena mereka pun maklum bahwa dua orang kakek itu tentu merupakan orang-orang luar biasa yang tidak mungkin dapat dilawan oleh tenaga biasa, dan agaknya hanya Pendekar Sakti Cia Keng Hong saja yang akan dapat menghadapi mereka.

Maka semua orang segera mundur dan duduk menonton, membuat lingkaran lebar. Juga Yalu beserta teman-temannya yang sudah tiba di situ memberi isyarat agar orang-orang mereka diam saja dan jangan mengganggu Cia Keng Hong, akan tetapi juga harus siap menghadapi segala kemungkinan.

Cia Keng Hong melangkah maju, dan kebetulan saja dia kini berhadapan dengan kakek bermuka putih yang masih duduk bersila, sedangkan nenek itu pun masih tetap duduk di belakangnya, beradu punggung sambil bersila pula. Kakek itu segera mengangkat muka memandang sehingga sejenak mereka beradu pandang dengan penuh selidik. Karena Cia Keng Hong tidak mengenal mereka, juga tidak tahu apakah maksud kedatangan mereka, maka dia tidak berani bersikap kasar.

"Ji-wi locianpwe, harap ji-wi suka memaafkan kalau para teman kami telah bersikap kasar terhadap ji-wi, karena kami belum mengenal ji-wi locianpwe. Kalau boleh kami bertanya, siapakah ji-wi locianpwe yang terhormat dan apakah maksud kedatangan ji-wi?"

Mendengar suara yang mengandung wibawa dan tenaga khikang yang kuat itu, si kakek bermuka putih memandang tajam, bahkan nenek muka hitam itu pun menoleh pula dan kini sekali bergerak, tubuhnya yang tadi bersila membelakangi kakek itu, tahu-tahu sudah pindah ke sebelah si kakek dan ikut memandang tajam.

Kakek itu lantas terkekeh dan tongkatnya bergerak memukul tanah. Kini bukan pasir dan tanah halus yang berhamburan, melainkan segumpal tanah keras terbang ke arah muka Cia Keng Hong!

Pendekar ini mengerutkan alis, cepat menggerakkan tangannya dan sekali sampok saja gumpalan tanah itu meluncur ke hadapan si kakek lantas amblas masuk ke dalam tanah saking kerasnya pendekar ini menyampok. Kakek dan nenek itu kelihatan terkejut dan memandang makin tajam penuh selidik.

"Engkau siapa?" Kakek itu bertanya tanpa menjawab pertanyaan Cia Keng Hong tadi.

"Nama saya Cia Keng Hong," jawab pendekar itu dengan sikap tenang.

Akan tetapi mendengar nama ini, kakek dan nenek itu sama sekali tidak tenang, bahkan terkejut sekali, memandang kepada Cia Keng Hong dengan mata terbelalak.

"Engkau adalah Cia Keng Hong ketua Cin-ling-pai?" Nenek itu bertanya, suaranya tinggi mendesis seperti ular marah.

"Benar," Keng Hong mengangguk.

"Kau dahulu kaki tangan si keparat The Hoo?" Kakek itu pun membentak sehingga Keng Hong menjadi kaget. Ternyata kedua orang tua ini adalah bekas musuh-musuh mendiang Panglima Besar The Hoo.

"Memang dahulu saya adalah sahabat mendiang Panglima The Hoo," dia menjawab dan kini balas memandang penuh selidik.

"Dan kau yang memimpin orang-orang ini menyerbu benteng Mongol?" kembali kakek itu bertanya.

Keng Hong mengangguk. "Secara curang, Sabutai sudah menawan Kaisar Beng, maka kami berusaha untuk membebaskan beliau."

"Ha-ha-ha-ha-ha!" Kakek bermuka putih itu tertawa sehingga mulutnya terbuka dan tidak nampak sebuah pun gigi. "Cia Keng Hong manusia sombong! Kau tadi tanya siapa kami dan apa keperluan kami datang ke sini? Bukalah mata serta telingamu baik-baik. Kami adalah Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko dan calon Kaisar Sabutai adalah murid kami. Kedatangan kami di sini adalah untuk membunuh engkau dan membasmi semua anak buahmu!"

Mendengar bahwa dua orang tua itu adalah guru Sabutai, marahlah Yalu. Tadi dia dan kawan-kawannya sudah mempersiapkan pasukan anak panah, maka begitu mendengar siapa adanya dua orang itu yang datang mengacau itu, Yalu langsung memberi isyarat kepada pasukan panahnya.

Belasan batang gendewa dipentang dan anak-anak panah dilepaskan. Terdengar suara berdesing-desing ketika belasan batang anak panah menyambar ke arah dua orang tua yang masih duduk bersila berdampingan itu. Mereka hanya terkekeh, sama sekali tidak mengelak atau menangkis.

"Suuingggg... wirrr... takk-takk-takkk!"

Semua anak panah tepat mengenai sasaran, yaitu tubuh kakek dan nenek itu, akan tetapi betapa kaget hati Yalu dan kawan-kawannya melihat semua anak panah yang mengenai tubuh mereka itu seperti mengenai dua buah arca besi dan patah-patah, runtuh ke atas tanah di sekitar tubuh kedua orang tua itu!

"Serang...!" Yalu berteriak dan bersama tiga orang temannya, yaitu kepala-kepala Suku Nomad yang bertubuh tinggi besar dan kuat, dia sudah menerjang ke depan.

Terlambat Cia Keng Hong mencegah, karena empat orang tinggi besar itu telah menyerbu dengan golok di tangan membacok dengan ganas. Terdengar dua orang tua itu terkekeh, lalu tiba-tiba mereka meloncat dan tampak segulungan sinar saat mereka menggerakkan tongkat.

"Cring-cring-tranggg...!"

Empat batang golok yang menyambar itu bertemu dengan gulungan sinar, seperti dibelit oleh sinar itu dan terdengar teriakan mengerikan ketika senjata-senjata itu seperti dipaksa membalik dan menghujam dada pemegangnya sendiri!

Cia Keng Hong menjadi marah sekali. Cepat dia meloncat ke depan, kedua tangannya menyerang dengan pukulan tangan terbuka ke arah kakek dan nenek itu.

"Ihhhh...!" Hek-hiat Mo-li memekik.

"Aihhhh...!" Pek-hiat Mo-ko juga berteriak.

Keduanya meloncat ke belakang dan robohlah empat orang pimpinan Suku Nomad itu, dengan golok menembus dada dan tewas seketika!

Keng Hong memandang dengan penuh penyesalan. Akan tetapi, para suku Nomad yang melihat pemimpin mereka tewas, menjadi marah sekali. Sambil berteriak-teriek mereka mendekat dengan sikap mengancam. Keng Hong yang maklum bahwa kalau mereka maju berarti hanya mengantar nyawa secara sia-sia belaka, lalu mengangkat tangan dan berseru nyaring penuh wibawa,

"Mundur semua! Biarkan aku menghadapi dua iblis ini!"

Semua orang mentaati dan mengurung tempat itu. Sedangkan Keng Hong yang maklum bahwa dua orang lawannya itu lihai sekali, telah mengeluarkan suara melengking nyaring dan panjang bagaikan pekik seekor burung rajawali yang menantang musuh, kemudian dengan tangan kosong tubuhnya sudah mencelat ke depan dan menyerang nenek dan kakek itu dengan jurus-jurus maut dari Ilmu Silat San-in Kun-hoat.

Dalam segebrakan saja pendekar ini telah menghantam ke arah ulu hati Pek-hiat Mo-ko dan sekaligus tangannya menampar ke arah ubun-ubun kepala nenek Hek-hiat Mo-li dan sulit dikatakan mana di antara kedua serangan ini yang lebih berbahaya karena keduanya adalah gerakan maut yang bila mengenai sasaran sukar bagi lawan untuk membebaskan diri dari maut.

Kedua orang tua yang amat lihai itu terkejut, akan tetapi ternyata kakek dan nenek tua yang kelihatan sudah pikun itu masih mempunyai kesigapan yang mengagumkan. Mereka berdua tidak saja dapat meloncat sambil mengelak, malah lompatan mereka itu membuat mereka berpencar dan mengurung Keng Hong dari depan belakang, kemudian secara langsung mereka membalas.

Mereka berdua lalu mengeluarkan teriakan-teriakan mengerikan dan Hek-hiat Mo-li sudah menghantamkan tangan kanannya dari belakang ke arah punggung Keng Hong. Ada pun Pek-hiat Mo-ko juga menampar dengan telapak tangan ke arah dada pendekar sakti itu. Dari telapak tangan Hek-hiat Mo-li mengepul asap hitam, sedangkan dari tangan Pek-hiat Mo-ko mengepul asap atau uap putih! Itulah bukti betapa hebatnya sinkang mereka dan tangan beracun mereka.....


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner