DEWI MAUT : JILID-35


Cia Keng Hong mengenal lawan tangguh. Secara otomatis kuda-kuda sepasang kakinya bergerak ke kiri seperempat lingkaran sehingga kalau tadi kedua lawan berada di depan dan belakang, kini yang di depan menjadi di sebelah kanannya sedangkan yang tadinya di belakang menjadi di sebelah kirinya. Kedua lengannya dikembangkan ke kanan kiri dan dengan tepat sekali dia sudah menyambut pukulan kedua orang lawannya dari kanan kiri itu dengan dorongan tangannya yang terbuka sambil mengerahkan tenaga sinkang.

"Plakk! Plakkk!"

Hek-hiat Mo-li terpekik dan terhuyung dua langkah ke belakang, ada pun Pek-hiat Mo-ko hanya terhuyung satu langkah ke belakang. Kedua kaki Cia Keng Hong sendiri ambles ke tanah sampai beberapa senti dalamnya. Diam-diam pendekar ini terkejut, maklum bahwa tenaga kedua orang lawan itu hampir setingkat kuatnya dengan tenaganya sendiri, dan ternyata si kakek itu sedikit lebih kuat dari pada si nenek.

"Cia Keng Hong, engkau akan mampus di tanganku!" teriak Pek-hiat Mo-ko.

"Biar kau menyampaikan tantangan kami kepada The Hoo si keparat yang sudah berada di neraka!" Hek-hiat Mo-li juga berteriak.

Dua orang tua itu lantas menancapkan tongkat masing-masing di atas tanah, kemudian mereka menggosok-gosok kedua tangan mereka sehingga nampak uap mengepul makin tebal dan terasa ada hawa panas datang dari tubuh nenek itu, akan tetapi dari tubuh kakek itu menyambar hawa dingin!

Kembali Keng Hong terkejut, akan tetapi dia tidak kehilangan ketenangannya dan berdiri di tengah-tengah, kedua kakinya memasang kuda-kuda yang kokoh kuat, yaitu dua kaki terpentang lebar, lutut ditekuk dan tubuh tegak laksana seorang yang menunggang kuda. Memang pasangan kuda-kuda itu disebut ‘Menunggang Kuda’, kokoh kuatnya bagaikan kedua kaki telah berakar di bumi, namun ringannya seperti kaki burung yang siap terbang.

Tangan kanan pada pinggang kanan, jari-jarinya terbuka dan membentuk cakar garuda, sedangkan jari-jari tangan kiri lurus di depan dada kiri. Seluruh tubuhnya sama sekali tak bergerak, seolah-olah dia telah menjadi patung dan hanya sepasang matanya yang masih tajam itu mengerling ke kanan kiri, mengikuti gerak-gerik kedua orang musuhnya yang lihai itu.

"Yieeeehhh...!" Hek-hiat Mo-li sudah menerjang dari kiri, menggunakan kedua tangannya yang berubah hitam itu untuk mencengkeram.

"Arrgghhhh...!" Pek-hiat Mo-ko juga mengeluarkan suara gerengan seperti biruang, kedua tangannya menyerang pula dengan pukulan-pukulan tangan kosong dari kanan.

Keng Hong maklum bahwa dengan menancapkan tongkat di tanah kemudian menyerang dengan tangan kosong, tentu kakek dan nenek itu lebih mengandalkan kelihaian tangan mereka yang jelas mengandung hawa beracun yang jahat. Karena itu dia pun tak berani memandang rendah dan melihat betapa serangan nenek itu lebih dulu sedetik, dia cepat menghadapinya dengan memutar tubuh ke kiri tanpa mengalihkan kedua kakinya yang terpentang lebar. Dengan tangan berputar, jari-jarinya menuding ke atas dan ke bawah, dia memapaki serangan nenek yang mencengkeramnya.

Pendekar sakti ini menggunakan gerakan ‘Menyembah Langit dan Bumi’, suatu gerakan yang sangat ampuh, apa lagi karena dilakukan dengan pengerahan tenaga sinkang yang kuat sehingga dari gerakan kedua tangannya itu menyambar hawa pukulan dahsyat. Akan tetapi, pendekar ini hanya sempat menangkis saja karena dari sambaran angin di sebelah kanannya, dia maklum bahwa serangan Pek-hiat Mo-ko sudah tiba pula.

"Desss…! Plakk!"

Tubuh nenek itu mencelat ke belakang dan Keng Hong sudah memutar tubuh ke kanan, melengkungkan tubuh ke kiri dan meluruskan kaki kanan hingga tubuh atasnya menjauh. Dia melihat pukulan kedua tangan kakek itu datang mengancamnya dengan amat hebat, tangan kanan kakek itu menusuk ke arah matanya sedangkan tangan kiri digerakkan seperti sebatang golok menusuk ke arah ulu hatinya! Datangnya serangan amat cepat, didahului uap putih yang mengeluarkan hawa dingin sekali!

Untuk mengelak sudah tidak ada waktu, maka Keng Hong lalu menyambut serangan ke matanya dengan tangan kiri, sedangkan tusukan ke dadanya dia terima begitu saja! Dia tidak berani menggunakan tangan kanannya karena tangan itu perlu dia persiapkan untuk menghadapi serangan nenek dari belakangnya.

"Plakkk! Bukkk!"

Tangan kanan kakek bermuka putih itu bertemu dengan tangan kiri Cia Keng Hong, ada pun jari-jari tangan kiri kakek itu menghantam dengan jari-jari terbuka ke dada pendekar sakti ketua Cin-ling-pai. Akibatnya hebat! Kakek bermuka putih itu terbelalak, mukanya yang putih itu menjadi makin pucat dan matanya bergerak liar, mulutnya mengeluarkan teriakan-teriakan aneh dalam bahasa asing.

Kiranya Cia Keng Hong sudah mempergunakan ilmunya yang sangat hebat, yaitu Thi-khi I-beng, sehingga begitu sepasang tangan Pek-hiat Mo-ko bertemu dengan tangan kiri dan dadanya, kedua tangan kakek muka putih itu segera melekat dan langsung saja tenaga sinkang-nya membanjir keluar, tersedot melalui tangan dan dada ketua Cin-ling-pai!

Akan tetapi Keng Hong juga merasa khawatir karena sinkang yang memasuki tubuhnya itu mengandung racun yang berhawa dingin, maka dia cepat mengendalikan tenaganya agar tidak menyedot terlampau banyak dan Thi-khi I-beng itu hanya dipergunakan untuk menundukkan lawan saja.

"Ahhhhhhh...!" Pek-hiat Mo-ko mengeluarkan pekik nyaring dan mukanya menunjukkan kekagetan dan kengerian.

Melihat ini, Hek-hiat Mo-li dapat menduga bahwa temannya itu terancam bahaya, apa lagi dia melihat betapa kedua tangan temannya seperti melekat pada tubuh ketua Cin-ling-pai. Maka, sambil mengeluarkan suara melengking nyaring nenek ini pun menyerang hebat dengan pukulan tangannya ke arah tengkuk Keng Hong.

"Wuuuuttt...! Plakk! Plakk!"

Kembali Keng Hong menghadapi musuhnya yang tidak kalah lihainya dari pada kakek itu dengan penggunaan Thi-khi I-beng yang tersalur di seluruh tubuhnya. Tangan kanannya menyambut hantaman nenek itu sehingga kedua tangan mereka bertemu dan langsung saling menempel, sedangkan tamparan tangan kanan nenek itu ke arah punggungnya dia biarkan saja karena Ilmu Thi-khi I-beng menyambut pukulan itu, membuat tangan si nenek melekat pada punggungnya.

“Aihhhh...!" Hek-hiat Mo-li juga memekik ngeri ketika merasa betapa tenaga sinkang-nya membanjir keluar tanpa dapat dicegahnya, sedangkan ketika dia hendak menarik kedua tangannya, ternyata kedua tangan itu sudah melekat pada tubuh lawan dan tidak dapat ditariknya lepas!

Akan tetapi, pada waktu kedua orang kakek dan nenek itu merasa terkejut dan khawatir sekali menghadapi ilmu aneh yang selamanya belum pernah mereka hadapi itu, ilmu yang membuat kedua tangan mereka melekat pada tubuh lawan dan yang membuat tenaga sakti mereka membanjir keluar, pada lain fihak Cia Keng Hong juga terkejut dan maklum bahwa kalau dia melanjutkan penggunaan Thi-khi I-beng, maka dia sendiri tak urung akan celaka karena tenaga sinkang yang membanjir keluar dari tubuh dua orang lawannya itu mengandung hawa beracun yang sangat jahat dan memiliki sifat berlawanan, yaitu hawa beracun dari kakek itu amat dingin sebaliknya tubuh nenek itu mengeluarkan hawa yang amat panas. Sebelah dalam tubuhnya bisa keracunan dan rusak oleh dua hawa beracun yang saling berlawanan ini.

Pendekar sakti dari Cin-ling-pai ini tentu saja tidak sudi untuk mengadu nyawa dengan dua orang lawannya, maka dia cepat-cepat merendahkan tubuh dengan menekuk kedua lututnya, kemudian secara berbarengan dia melepaskan tenaga sakti Thi-khi I-beng dan pada saat itu juga tubuhnya meluncur ke depan sehingga terlepaslah dia dari kedua orang lawannya.

Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li yang merasa betapa tenaga mukjijat yang membuat tangan mereka melekat itu tiba-tiba saja lenyap, kalah cepat dan sebelum mereka sempat memukul, tubuh lawan yang sakti itu sudah meluncur ke depan. Mereka menjadi marah sekali, akan tetapi juga agak jeri karena mereka maklum bahwa lawan ini memiliki ilmu kepandaian yang amat tinggi dan aneh. Dengan hati-hati dan dengan mata mengandung sinar berapi, nenek dan kakek itu kembali menerjang Keng Hong dengan pukulan-pukulan yang dikerahkan sekuatnya, mengandung hawa beracun bergulung-gulung berbentuk uap hitam dan putih.

Cia Keng Hong yang sudah maklum bahwa tingkat kepandaian dua orang lawan ini tidak banyak selisihnya dengan tingkatnya sendiri, menghadapi mereka dengan waspada dan hati-hati, kini bersilat dengan dasar ilmu silat tinggi Thai-kek Sin-kun sehingga tubuhnya seolah-olah berubah menjadi bayang-bayang saja yang sukar sekali dapat disentuh oleh kedua orang lawan.

Tiba-tiba saja Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li mengeluarkan pekik panjang dan mereka merubah gerakan mereka. Keng Hong terkejut sekali. Kini dua orang itu tidak bergerak menyendiri, tetapi mereka bersilat dengan gerakan bergabung! Pek-hiat Mo-ko berputaran dan kaki tangannya menghujankan serangan dari kanan ke kiri, sedangkan Hek-hiat Mo-li berputar dari kiri ke kanan. Gerakan mereka saling membantu dan saling mengisi hingga Keng Hong menjadi sibuk sekali menghadapi lawan yang seolah-olah merupakan seorang lawan yang dapat memecah diri menjadi dua, yang gerakan-gerakannya begitu otomatis sambung-menyambung, saling melindungi dan saling membantu.

Dia terkejut dan kagum sekali karena dia maklum bahwa dua orang ini telah menciptakan sejenis ilmu silat mukjijat yang dimainkan secara berbareng oleh dua orang. Dia percaya bahwa kalau dua orang ini bersilat seperti itu, mereka menjadi kuat sekali sehingga biar menghadapi pengeroyokan banyak orang pun akan mampu saling melindungi.

Dia sendiri mulai terdesak dan sudah dua kali dia terkena pukulan pada pundak kirinya dan totokan pada pangkal lengannya. Untung dia masih sempat melindungi bagian yang terpukul dan tertotok itu dengan sinkang, kalau tidak tentu dia sudah terluka keracunan. Betapa pun juga, pendekar sakti ketua Cin-ling-pai ini terdesak hebat dan harus diakuinya bahwa baru sekarang selama puluhan tahun ini dia bertemu tanding yang sedemikian lihainya.

Hanya karena Cia Keng Hong mahir ilmu silat sakti Thai-kek Sin-kun sajalah maka dia masih mampu bertahan, meski pun dia terdesak dan tidak mampu melakukan serangan balasan. Sayang, pikirnya. Kalau saja Siang-bhok-kiam berada di tangannya, dia tak akan gentar menghadapi dua orang ini, dan tentu dia tidak akan terdesak seperti sekarang ini.

"Desss...! Plakk-plakk...!"

Kembali Cia Keng Hong terpaksa menerima dua kali tamparan dari Hek-hiat Mo-li yang mengenai punggung serta pundaknya setelah dia menangkis hantaman Pek-hiat Mo-ko. Sekali ini, saking hebatnya tamparan membuat kepalanya pening dan tubuhnya terhuyung juga dadanya sesak. Untung baginya bahwa tangkisannya yang keras sebelum itu sidah membuat tubuh Pek-hiat Mo-ko terpelanting. Kalau tidak, dalam keadaan terhuyung itu tentu sukar baginya untuk menyelamatkan diri.

Melihat betapa jago mereka terhuyung-huyung, sedangkan pertempuran itu berjalan amat lambat sehingga mereka memandang rendah kepada kakek dan nenek itu, empat orang anggota pasukan Mancu menyerbu dengan tombak di tangan, langsung menyerang kakek dan nenek itu.

"Jangan...!" Cia Keng Hong membentak, tapi terlambat. Empat orang itu telah menyerang dan menusukkan tombak mereka.

"Trakk-trakkk... desss!"

Empat batang tombak itu memang mengenai tubuh kakek dan nenek yang menerimanya sambil tersenyum mengejek, lantas patah-patahlah empat gagang tombak itu, kemudian begitu kedua tangan Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko bergerak, empat orang Mancu itu berteriak mengerikan dan tubuh mereka terlempar jauh dengan kepala pecah dan tewas seketika itu juga!

Keng Hong yang masih merasa pening itu menjadi marah sekali. Dia meloncat ke depan, sepasang tangannya memukul dengan tangan terbuka, sambil mengerahkan sinkang-nya. Angin pukulan langsung menyambar dahsyat ke arah tubuh Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko. Namun dua orang tua itu sudah siap siaga, mereka menekuk lutut, mengerahkan tenaga dan mendorongkan kedua tangan ke depan, masing-masing menyambut pukulan Cia Keng Hong.

“Desss! Desss...!"

Tubuh Cia Keng Hong kembali terjengkang dan terhuyung ke belakang. Tidak kuat dia menghadapi tenaga gabungan itu dan pendekar ini merasa dadanya sesak dan mencium bau darah, tanda bahwa dia sudah menderita luka yang biar pun tidak parah dan tidak berbahaya akan tetapi mengurangi daya tempurnya. Sedangkan tubuh kedua lawannya hanya bergoyang-goyang saja.

"Cia Keng Hong, bersiaplah untuk mampus!" Hek-hiat Mo-li berseru keras dan bersama temannya dia sudah siap untuk menyerang lagi.

"Ayah, biarkan saya mengambil bagian…!"

Tiba-tiba saja nampak bayangan berkelebat dan tahu-tahu telah muncul seorang pemuda tampan yang bukan lain adalah Cia Bun Houw! Tak lama kemudian muncul pula seorang pemuda lainnya yang berpakaian sederhana berwama kuning, pemuda ini adalah Tio Sun yang datang bersama Cia Bun Houw.

Seperti sudah dituturkan di bagian depan Cia Bun Houw bersama Tio Sun berpisah dari enci-nya, juga dari Kwi Beng dan Kwi Eng untuk pergi melakukan penyelidikan terhadap musuh-musuh Cin-ling-pai yang sudah melarikan diri ke utara. Di dalam perjalanan itu, mereka mendengar pula akan peristiwa hebat yang menimpa kaisar, yang kabarnya telah tertawan oleh musuh. Juga mereka mendengar berita angin bahwa para musuhnya kini bekerja kepada Thaikam Wang Cin yang menjadi biang keladi jatuhnya mala petaka atas diri kaisar yang tertawan gerombolan liar.

Maka dua orang muda perkasa ini lalu mengambil keputusan untuk menyusul ke utara, kini dengan dua tujuan. Pertama untuk mencari musuh-musuh Cin-ling-pai, kedua untuk berusaha membantu dan menyelamatkan kaisar. Demikian, pada hari itu mereka tiba di dalam hutan yang menjadi markas dari barisan-barisan Mancu dan Khitan yang dipimpin oleh Cia Keng Hong, dan secara amat kebetulan melihat betapa ketua Cin-ling-pai tengah dikeroyok oleh dua orang tua yang sangat lihai. Tentu saja Bun Houw menjadi kaget dan marah, lalu meloncat mendahului Tio Sun untuk membantu ayahnya.

Hati Cia Keng Hong menjadi lega sekali ketika melihat munculnya pemuda ini. Dia sudah pernah menguji kepandaian Bun Houw dan maklum bahwa tingkat kepandaian puteranya yang telah menerima gemblengan manusia sakti Kok Beng Lama kini sudah cukup tinggi untuk menghadapi seorang lawan seperti kakek dan nenek ini. Dia tahu bahwa tingkat kepandaian Pek-hiat Mo-ko masih lebih tinggi sedikit dibandingkan tingkat kepandaian si nenek, maka dia cepat menghadapi kakek itu dan berkata kepada puteranya,

"Houw-ji, (anak Houw), kau lawanlah Hek-hiat Mo-li, tetapi berhati-hatilah terhadap hawa beracun dari tangannya yang mengandung tenaga Yang-kang yang cukup kuat."

"Jangan khawatir, ayah," Bun Houw berkata dan pemuda yang merasa penasaran dan marah melihat ayahnya tadi terdesak, langsung saja bergerak cepat, menyerang Hek-hiat Mo-li dengan tamparan tangan kiri ke arah kepala nenek itu.

Hek-hiat Mo-li merupakan seorang tokoh tua yang sudah puluhan tahun malang melintang di dunia persilatan bagian barat, sudah banyak menghadapi lawan-lawan tangguh. Tentu saja dia memandang rendah terhadap seorang pemuda yang menurut taksirannya tidak akan lebih dari dua puluh tahun usianya itu.

Oleh karena itu, melihat tamparan yang datang dengan perlahan itu, dia hanya terkekeh dan mengangkat lengan kanan untuk menangkis sambil mengerahkan hawa mukjijatnya sehingga gerakan tangan itu didahului dengan uap hitam, lalu disusul tangan kirinya yang menusuk dengan jari-jari terbuka ke arah lambung lawan sebagai serangan balasan.

"Desss...! Takkk!"

Hek-hiat Mo-li terkejut bukan main dan cepat dia meloncat ke belakang. Tadi ketika dia menangkis, dan tusukan tangannya juga tertangkis oleh pemuda itu, sepasang tangannya bertemu dengan tangan pemuda yang mengandung tenaga dahsyat sekali. Akan tetapi gerakan tangan itu, serta kedahsyatan tenaga yang menggetar-getar itu, membuat dia terbelalak karena dia mengenal gerakan tangan sakti itu. Pernah dia dan Pek-hiat Mo-ko hampir celaka oleh gerakan tangan seperti itu, ketika mereka merantau sampai ke Tibet.

"Apa hubunganmu dengan Kok Beng Lama...?!" bentaknya.

Mendengar bentakan ini, Pek-hiat Mo-ko juga menunda gerakannya menyerang Cia Keng Hong dan ikut memandang ke arah pemuda itu.

Bun Houw tersenyum. "Kok Beng Lama adalah suhu-ku, mau apa kau tanya-tanya?"

Mendengar ini, kakek dan nenek itu terkejut bukan kepalang, lalu si nenek mengeluarkan kata-kata dalam bahasa asing, kemudian kakek dan nenek itu menggerakkan tangan dan segumpal uap putih dan hitam menyambar ke arah Cia Keng Hong dan Cia Bun Houw. Serangan ini hebat sekali, karena selain uap itu mengandung racun yang berbahaya, juga di dalamnya terdapat senjata rahasia berbentuk jarum-jarum halus yang meluncur ganas dan tersembunyi.

"Houw-ji, awas...!" Keng Hong berseru, maklum akan bahayanya senjata rahasia itu.

Akan tetapi, seperti juga ayahnya, dengan mudah saja Bun Houw menghindarkan diri dari serangan uap hitam dengan memiringkan tubuh dan menggunakan pukulan tangan yang mengeluarkan angin dahsyat meruntuhkan uap hitam dan jarum-jarum di dalamnya.

"Hendak lari ke mana kalian?!" Bun Houw membentak.

"Houw-ji, jangan kejar. Biarkan mereka pergi!" Keng Hong mencegah puteranya dan Bun Houw tidak melanjutkan pengejarannya.

Keng Hong yang sudah mendengar tentang puteranya ini dari penuturan Cia Giok Keng yang pulang ke Cin-ling-pai, kini menceritakan kepada pemuda itu mengenai kaisar yang ditawan musuh dan mengenai usahanya untuk menyelamatkan kaisar. Dia merasa girang mendengar bahwa Tio Sun yang gagah perkasa itu adalah putera Tio Hok Gwan sahabat baiknya.

Mendengar betapa beberapa kali usaha pendekar sakti ketua Cin-ling-pai itu mengalami kegagalan dalam menyelamatkan kaisar, Bun Houw dan Tio Sun langsung menyatakan hendak membantu.

"Cia-locianpwe, biarlah saya dan adik Bun Houw menyelundup ke dalam benteng musuh untuk menyelamatkan sri baginda kaisar," kata Tio Sun penuh semangat. Sebagai putera seorang bekas pengawal kaisar yang setia, tentu saja Tio Sun ingin sekali membuktikan dharma baktinya terhadap kaisar.

Bun Houw juga menyetujui usul Tio Sun ini, akan tetapi Cia Keng Hong menggelengkan kepalanya. "Berbahaya sekali...," orang tua sakti ini berkata perlahan.

"Ayah, kami berdua tidak takut menghadapi bahaya untuk menyelamatkan kaisar!" Bun Houw berkata nyaring.

"Hemm, aku tahu. Akan tetapi bahayanya bukan hanya mengancam kalian berdua kalau kalian menyelundup ke sana, melainkan terutama sekali mengancam keselamatan nyawa kaisar."

"Ehh, mengapa begitu?" Bun Houw bertanya kaget.

"Apa maksud locianpwe?" Tio Sun juga bertanya karena merasa heran.

"Menurut penyelidikanku, biar pun menjadi tawanan musuh, kaisar mendapat pelayanan baik dan selama ini tidak pernah diganggu keselamatannya. Besar kemungkinan Sabutai hendak mempergunakan kaisar sebagai sandera, atau hendak membujuk kaisar supaya dengan suka rela suka menyerahkan tahta kerajaan kepadanya. Maka, kalau dia melihat kalian mengancam, bukan tidak mungkin dia akan merubah sikapnya terhadap kaisar."

Tio Sun dan Bun Houw mengangguk-angguk. "Habis, bagaimana baiknya, ayah? Tidak mungkin pula kita mendiamkan saja kaisar menjadi tawanan gerombolan liar."

"Satu-satunya jalan hanya menyerbu secara terbuka. Akan tetapi kekuatan pasukan yang berhasil kukumpulkan tidak berapa besar dan kita masih menanti datangnya bala tentara kerajaan yang tak kunjung datang. Sementara itu, kembali kita telah kehilangan beberapa orang, termasuk Yalu, yang tewas dalam tangan kakek dan nenek iblis itu. Tak kusangka bahwa Sabutai memiliki guru-guru yang demikian lihainya. Pantas dia berani mengadakan pemberontakan dan menawan kaisar."

Dua orang pemuda itu maklum bahwa apa bila mereka bertindak secara lancang, selain mereka sendiri terancam bahaya, juga mereka belum tentu dapat menolong kaisar, malah mungkin akan membahayakan nyawa kaisar. Oleh karena itu mereka menyerahkan siasat kepada ketua Cin-ling-pai dan menyatakan hendak membantu sekuat tenaga.

Tentu saja Cia Keng Hong merasa girang sekali memperoleh bantuan puteranya dan Tio Sun. Hati pendekar ini menjadi besar, semangat dan harapannya timbul kembali untuk menyelamatkan kaisar…..

********************

Memang benar seperti dikatakan oleh Cia Keng Hong kepada puteranya dan Tio Sun bahwa Kaisar Ceng Tung mendapat pelayanan baik sekali oleh Sabutai. Bahkan lebih dari itu, kaisar memperoleh kebebasan di dalam gedung kecil yang dikelilingi taman indah, hanya dijaga oleh pasukan penjaga secara ketat di sekeliling taman itu sehingga tidak ada orang luar yang dapat masuk. Akan tetapi, kaisar sendiri dapat berjalan-jalan di dalam taman, dan apa pun yang dibutuhkannya dapat segera terlaksana karena banyak terdapat pelayan-pelayan wanita yang selalu siap melaksanakan perintahnya.

Malam itu bulan purnama gilang-gemilang memenuhi permukaan bumi dengan sinarnya yang sejuk. Kaisar Ceng Tung nampak duduk seorang diri di dalam taman, duduk di atas bangku sambil termenung menghadapi bunga-bunga yang mekar dan semerbak harum bermandikan sinar bulan purnama. Hatinya merasa lengang, sunyi dan merana karena malam yang indah dan sunyi ini mengingatkan dia akan kekasihnya, Azisha yang sudah tewas.

Malam yang seindah itu mengingatkan dia akan keindahan wajah kekasihnya, kemerduan suaranya dan kehangatan serta kelembutan tubuhnya, membuat dia merasa rindu sekali. Kaisar yang baru berusia dua puluh tiga tahun ini, yang masih amat muda, tersiksa oleh kerinduan akan belaian dan kasih sayang wanita.

Memang benar bahwa pelayan-pelayan yang disediakan oleh Sabutai untuk melayaninya terdiri dari para wanita muda yang cantik-cantik, akan tetapi sebagai seorang kaisar yang berkedudukan tinggi dan mulia, jauh lebih tinggi dari pada kedudukan Sabutai sebagai raja gerombolan liar itu, Kaisar Ceng Tung tidak sudi merendahkan dirinya dengan para pelayan itu. Lagi pula, setelah selama ini dia setiap malam terbuai dalam pelukan seorang wanita secantik Azisha, mana mungkin dia tertarik dengan kecantikan biasa para pelayan itu?

Sinar bulan purnama secara ajaib menyulap keadaan di dalam taman yang setiap hari telah dilihatnya itu menjadi semacam taman impian yang luar biasa, bermandikan cahaya keemasan yang redup dan sejuk menghijau, menimbulkan bayang-bayang tipis yang aneh namun indah mempesonakan. Rasa rindunya terhadap Azisha makin menekan dan kaisar yang muda ini diam-diam merintih di dalam batinnya.

Dia sudah kehilangan segala-galanya. Kehilangan kedudukannya, kehilangan kekasihnya, bahkan hampir kehilangan harapan karena sampai berbulan lamanya tak ada usaha yang datang dari kota raja untuk membebaskannya. Baru kini dia bisa melihat kenyataan, baru terbuka matanya betapa dia selama ini telah pulas dalam pelukan Azisha, telah terlena dalam kepalsuan Wang Cin yang kini menjebloskannya. Menyesallah hati kaisar muda ini dan diam-diam dia bersumpah bahwa andai kata umurnya masih panjang dan dia dapat memperoleh kembali kedudukannya, dia akan menebus semua kesalahannya terhadap rakyatnya, dia akan menjadi seorang kaisar yang baik.

Azisha...! Walau pun dia mendengar bahwa kekasihnya itu tewas karena hendak merayu Sabutai, dan meski pun dia sudah sadar bahwa wanita itu adalah kaki tangan Wang Cin yang sengaja diumpankan oleh Wang Cin untuk menundukkannya, namun tak mungkin baginya untuk melupakan wanita itu. Nama itu saja sudah mengandung kemesraan hebat, mengingatkan dia akan saat-saat yang penuh dengan kebahagiaan dan cinta kasih, penuh dengan kenikmatan sehingga harus diakuinya bahwa dia pernah jatuh cinta mati-matian kepada Azisha.

Tiba-tiba saja kaisar muda itu menggerak-gerakkan cuping hidungnya karena hidungnya mencium keharuman yang lain dari pada keharuman bunga di sekelilingnya. Keharuman semerbak yang sangat halus dan menyegarkan, yang mengingatkan dia akan keharuman yang keluar dari tubuh Azisha. Cepat dia menoleh ke kiri dan kaisar itu menahan napas, jantungnya berdebar dan matanya terbelalak.

Dalam sinar bulan yang kuning emas kehijauan itu dia melihat sesosok bayangan orang. Bayangan Azisha! Tak salah lagi! Tubuh yang ramping itu, lenggang yang lemah gemulai, wajah yang bersinar-sinar itu, siapa lagi kalau bukan Azisha?

“Azisha...!" Kaisar berseru lirih dan mengulurkan kedua tangannya, jantungnya berdebar penuh kerinduan. Sesaat dia lupa bahwa wanita yang bernama Azisha sudah tewas, dan bahwa tidak mungkin Azisha datang kepadanya malam hari ini.

Sosok bayangan wanita itu kini sudah tiba di hadapannya. Sejenak wanita ini berdiri dan memandang dengan sinar mata bercahaya dan bibir manis menahan senyum, kemudian ketika kaisar mengulangi panggilannya, dia menjatuhkan diri berlutut.

"Azisha...!"

Wanita itu menghela napas panjang, kemudian terdengar suaranya halus, lembut, "Harap paduka maafkan, hamba bukanlah Azisha."

Kaisar Ceng Tung terperanjat, lalu sadar bahwa memang tidak mungkin kalau wanita ini Azisha. Azisha sudah mati dan tidak mungkin arwahnya yang datang menggodanya. Biar pun dari tubuh yang berlutut itu keluar keharuman semerbak, akan tetapi keharuman yang berbeda dengan keharuman yang keluar dari tubuh Azisha, dan biar pun suara tadi halus merdu, namun logatnya berbeda dengan logat suara Azisha yang berdarah Mongol.

Ahhh, tentu suasana malam terang bulan purnama telah membuat dia seperti gila, pikir kaisar itu dengan hati merasa malu. Wanita ini tentu hanya salah seorang di antara para pelayan. Kembali dia memandang penuh perhatian lalu menggeleng kepala, membantah suara hatinya sendiri.

Tidak mungkin kalau pelayan, pikirnya. Pakaiannya bukan seperti pelayan, dan dandanan rambut yang panjang halus itu, hiasan rambutnya, pakaiannya, gerak-geriknya. Bukan, pasti bukan pelayan biasa!

"Siapakah namamu?" perlahan dia bertanya sambil memandang kepala yang menunduk sehingga tidak nampak mukanya itu.

"Nama hamba Khamila," wanita itu menjawab lirih pula. Suaranya halus dan mengandung getaran penuh perasaan sehingga mengharukan bagi Kaisar Ceng Tung.

"Engkau seorang pelayan?"

Wanita itu menggelengkan kepalanya. Tepat, seperti dugaanku, pikir kaisar. Dia bukanlah pelayan. Habis, siapa? Dan mau apa?

"Kalau begitu, apa keperluanmu masuk ke taman ini?" Sekarang pertanyaan kaisar mulai mengandung kecurigaan dan penyelidikan.

"Ampunkan hamba, hamba sengaja datang untuk... melayani paduka..." Gemetar suara itu sekarang.

Kaisar Ceng Tung mengerutkan kedua alisnya, tidak mengerti. "Melayani aku? Melayani bagaimana maksudmu?"

"Hamba ingin melayani paduka, apa pun juga yang paduka kehendaki dari hamba, akan hamba lakukan dengan segala kerendahan dan kebahagiaan hati hamba." Kini suara itu mulai agak lebih berani sehingga timbul keheranan kaisar dan dia ingin tahu lebih banyak.

"Akan tetapi, Sabutai sudah menyediakan banyak sekali pelayan dan segala kebutuhanku telah dicukupi. Sudah ada begitu banyak pelayan, perlu apa engkau hendak melayaniku?"

"Mereka itu tidak akan mampu merawat paduka dalam kesepian paduka, tidak akan dapat mengobati kesengsaraan hati paduka yang merana..."

Kaisar Ceng Tung terkejut sekali, menahan kemarahannya dan memandang heran penuh kecurigaan. "Perempuan muda, kalau engkau mengira bahwa dengan kecantikan engkau akan dapat menggoda dan menundukkan aku, engkau keliru. Siapa yang menyuruhmu datang menemuiku di sini?"

Dengan muka masih menunduk wanita itu segera menjawab, "Yang menyuruh hamba adalah perasaan hati hamba sendiri, hamba bersumpah bahwa tidak ada siapa pun yang menyuruh hamba, harap paduka tidak menaruh kecurigaan karena niat hamba ini tulus ikhlas dan tidak menyembunyikan sesuatu."

Kaisar Ceng Tung semakin terheran. Kata-kata yang keluar dengan halus dan tenang itu sama sekali tidak mengandung keraguan dan kebohongan, juga kata-katanya teratur baik tanda bahwa wanita ini terpelajar, sungguh pun ada logat asing di dalam kata-katanya. Timbullah keinginan tahunya dan dia berkata, "Kalau begitu, apakah yang mendorongmu menemui aku dan hendak melayaniku?"

"Yang mendorong hamba adalah rasa kagum dan iba. Hamba kagum akan kegagahan dan kejantanan paduka yang sedikit pun tidak mau menyerah, tidak merasa takut biar pun telah berada dalam cengkeraman harimau, dan hamba merasa iba melihat nasib paduka, maka hamba datang ingin menghibur paduka..."

Jantung kaisar muda itu mulai berdebar, hatinya tertarik sekali karena menganggap hal ini amat mustahil dan luar biasa anehnya. "Bangkitlah dan ke sinilah!" perintahnya.

Wanita itu bangkit berdiri dan tegaklah tubuh yang langsing itu, tubuh muda yang penuh dengan lekuk-lengkung menggairahkan di balik pakaiannya yang terbuat dari sutera halus. Dengan langkah-langkah lemah-gemulai bagaikan seorang penari, wanita itu lalu datang mendekat dan berdiri dekat sekali di hadapan kaisar yang juga sudah bangkit berdiri, menundukkan kepalanya.

Kaisar menatap rambut kepala yang halus hitam dan panjang itu dan hidungnya mencium keharuman yang aneh. "Angkat mukamu..." katanya perlahan

Wanita itu mengangkat mukanya perlahan dan bukan main kagetnya kaisar ketika melihat wajah seorang wanita muda yang amat cantik jelita! Sepasang mata yang bersinar-sinar, yang tanpa sembunyi-sembunyi memandangnya dengan cinta kasih yang jelas nampak di dalam sinar matanya, dengan bibir merah tipis tersenyum malu-malu, raut muka yang amat cantik, sikap yang menantang.

"Kau... kau cantik sekali..." Kaisar Ceng Tung berbisik lirih, suaranya agak gemetar.

Wanita itu tersenyum, jelas bahwa dia kelihatan girang oleh pujian ini. "Terima kasih, dan hamba... hamba siap dengan segala kerelaan hati untuk melayani paduka, menghibur paduka..." Suara wanita itu gemetar, tanda bahwa saat itu dia pun merasa tegang dan berdebar jantungnya.

Jelas bahwa dia bukanlah seorang wanita yang sudah biasa merayu pria, bukan seorang wanita yang sudah biasa bermain gila dengan sembarang pria yang dijumpainya, bukan seorang wanita cabul penjaja cinta. Makin heranlah hati Kaisar Ceng Tung dan sampai lama dia yang mulai terpesona itu menatap wajah yang amat cantik itu, wajah seorang wanita yang usianya masih amat muda, kurang lebih delapan belas tahun!

Bulan purnama bercahaya sepenuhnya menyelimutii taman itu. Menurut dongeng, Dewi Asmara memang bertempat tinggal di bulan, dan setiap bulan purnama, Dewi Asmara mengirimkan kekuasaan mukjijatnya melalui cahaya bulan purnama ke permukaan bumi. Cahaya bulan yang telah mengandung kekuasaan mukjijat ini akan mempengaruhi setiap makhluk di atas bumi, memperkuat daya tarik antara lawan kelamin, mendorong gairah birahi karena memang sudah menjadi tugas Dewi Asmara untuk memperlancar semua makhluk untuk berkembang biak. Demikianlah dongengnya.

Dongeng itu entah benar atau tidak, terserah. Akan tetapi yang jelas, melihat wajah cantik jelita tertimpa cahaya bulan purnama yang keemasan, Kaisar Ceng Tung terpesona. Dia baru berusia dua puluh tiga tahun, masih amat muda dan sedang dalam keadaan duka merana serta penuh kerinduan karena kehilangan Azisha, kekasihnya.

Sekarang, menghadapi seorang wanita yang kecantikannya tidak kalah oleh Azisha, yang datang-datang hendak menyerahkan diri kepadanya, tentu saja dia terpesona dan tanpa disadarinya lagi, kedua tangannya bergerak dan di lain saat wanita itu sudah didekapnya dengan ketat dan dua jantung berdetak keras.

"Kau... kau cantik jelita...," kata Kaisar Ceng Tung setelah dia mencium wanita itu, yang dibalas oleh wanita itu dengan gerakan kemalu-maluan tapi jelas memperlihatkan bahwa wanita itu benar-benar kagum dan suka kepada kaisar muda ini. "Akan tetapi... kalau… kalau ternyata engkau disuruh oleh Sabutai untuk merayuku... aku akan berubah benci padamu..."

Wanita itu membalik kemudian merangkul leher Kaisar Ceng Tung, memandang dengan kedua matanya yang bening lembut lalu berkata, "Mengapa paduka masih tidak percaya? Hamba datang atas kehendak hamba sendiri, hamba berani bersumpah..."

"Khamila, siapakah engkau yang begini berani memasuki taman ini untuk bertemu dengan aku? Kalau Sabutai mengetahui..."

"Tidak akan ada seorang pun yang berani mengganggu hamba, apa lagi para penjaga itu, bahkan Sabutai sendiri pun tidak akan mengganggu hamba..."

"Bagaimana engkau bisa begitu yakin? Siapakah engkau ini yang kekuasaannya begitu besar?"

"Apakah paduka belum dapat menduga? Hamba adalah isteri Sabutai..."

"Ahhh...!" Kaisar Ceng Tung mendorong dengan kedua tangannya hingga tubuh Khamila terhuyung ke belakang dan hampir saja roboh terjengkang.

Wanita itu memandang dengan mata terbelalak dan wajah pucat, akan tetapi dia segera melangkah maju lagi dan menjatuhkan dirinya berlutut di depan kaisar itu.

"Harap paduka memaafkan hamba... sesungguhnya hamba melakukan ini bukan sebagai penyelewengan melainkan dengan penuh kesadaran, bahkan juga sepengetahuan suami hamba, Sabutai..."

"Apa...?" Kaisar Ceng Tung makin terkejut dan heran, juga amat tertarik.

Melihat wanita itu berlutut dan memandang kepadanya dengan mata sayu, timbul rasa iba di dalam hatinya, apa lagi ketika dia teringat betapa mesra sikap wanita itu tadi di dalam pelukannya dan betapa dia telah mendorongnya hampir roboh.

"Ke sinilah, Khamila, dan ceritakan sebenarnya."

Khamila bangkit berdiri dan tak lama kemudian dia telah dipangku dan dipeluk oleh kaisar yang kini duduk di atas bangku. Dengan suara lembut wanita cantik itu lalu menceritakan keadaannya, bahwa dia menjadi isteri Sabutai karena dipaksa, bahwa dia sama sekali tak mencintai suaminya itu.

"Akan tetapi, dia sangat mencinta hamba dan dia menyayangkan bahwa sampai sekarang hamba belum juga mempunyai keturunan. Saking cintanya kepada hamba, dia tidak mau mengambil isteri lain, bahkan dia merencanakan untuk menyuruh hamba tidur dengan pria lain secara diam-diam, semata-mata agar hamba dapat memperoleh keturunan."

"Ahhh...?" Kaisar Ceng Tung terkejut dan merasa heran sekali mendengar ini.

"Hamba tidak cinta kepadanya, mana mungkin hamba dapat melahirkan keturunannya? Dan hamba merasa ngeri kalau harus melayani pria lain. Setelah hamba melihat paduka yang menjadi tawanan, begini gagah perkasa, begini tampan dan halus, seketika hamba jatuh cinta maka hamba berterus terang kepada Sabutai bahwa kalau hamba diharuskan melayani pria lain agar memperoleh keturunan, hanya padukalah orangnya yang hamba pilih. Dia setuju, bahkan merasa terhormat karena paduka adalah seorang raja yang jauh lebih besar dari pada dia."

Kaisar Ceng Tung mengangguk-angguk dan membelai leher yang halus itu. Gairahnya berkobar sesudah wanita ini terang-terangan menyatakan cintanya. Tidak lama kemudian, kaisar memondong tubuh yang ringan itu memasuki gedungnya, ada pun Khamila hanya merangkulkan lengannya ke leher kaisar itu, menyembunyikan muka di dadanya dengan jantung berdebar. Dia tidak mau menceritakan bahwa kalau hubungan di antara mereka tidak menghasilkan keturunan, dia akan dibunuh oleh Sabutai!

Dan mulai malam hari itu pula, dengan penuh kemesraan setiap malam Khamila datang mengunjungi Kaisar Ceng Tung dan baru kembali ke istana menjelang pagi. Kaisar Ceng Tung merasa terhibur dan diam-diam dia jatuh cinta kepada isteri Sabutai ini, demikian pula dengan Khamila yang baru pertama kali itu menyerahkan cinta kasihnya terhadap seorang pria.

Kurang lebih satu bulan kemudian, Khamila tidak muncul lagi! Kaisar Ceng Tung menjadi gelisah dan sampai tiga malam lamanya dia menanti-nanti di taman dengan hati penuh kerinduan. Pada malam hari ketiga, ketika dia duduk melamun di atas bangku, tiba-tiba dia mendengar suara di belakangnya. Cepat dia menoleh dengan wajah girang, mengira bahwa Khamila yang muncul. Akan tetapi betapa kaget hatinya ketika dia melihat bahwa yang datang adalah Sabutai!

Cepat kaisar berdiri dengan sikap angkuh, memandang kepada musuhnya yang muncul sendirian itu. Sedikit pun Kaisar Ceng Tung tidak merasa takut, hanya kecewa melihat bahwa yang datang bukanlah Khamila yang ditunggu-tunggui, melainkan musuhnya ini.

Sabutai tersenyum lebar dan menjura dengan hormat. "Saya datang untuk mengucapkan terima kasih!"

Kaisar Ceng Tung mengerutkan alisnya. "Apa maksudmu?" tanyanya tenang.

"Karena paduka maka isteri saya kini mengandung dan akan melahirkan seorang anak, keturunan saya! Dan karena peristiwa ini pula maka isteri saya tidak akan mati, juga saya merasa makin hormat kepada paduka."

Kaisar Ceng Tung memandang dengan mata terbelalak. "Dia... dia tidak akan mati? Apa maksudmu?"

Kembali Sabutai tersenyum. "Tak tahukah paduka bahwa dia mendatangi paduka dengan taruhan nyawa? Kalau dia tidak berhasil, tidak mengandung dalam waktu satu bulan, dia akan saya bunuh sebagai seorang isteri yang melakukan jinah, dan mungkin paduka tidak akan terbebas dari hukuman pula. Betapa pun juga, syukur dia telah mengandung. Sekali lagi, terima kesih." Sabutai menjura lagi, kemudian pergi dari situ dengan langkah lebar dan wajah berseri.

Beberapa saat lamanya Kaisar Ceng Tung berdiri terpaku bagaikan patung, lalu dengan tubuh lemas dia menjatuhkan diri di atas sebuah bangku. Berkali-kali dia menghela napas panjang, merasa hatinya kosong dan berduka. Rasa cintanya terhadap Khamila semakin mendalam. Wanita itu telah mengandung keturunannya!

Betapa mesra dan lembut perasaan hatinya terhadap wanita itu. Akan tetapi dia pun tahu bahwa tidak ada kemungkinan lagi baginya untuk berjumpa dengan wanita itu. Sabutai tentu akan melarang keras. Dan dia tak dapat berbuat sesuatu! Memperjuangkan haknya sebagai ayah kandung dari anak yang berada dalam kandungan Khamila? Tak mungkin, karena hal ini hanya akan mencemarkan nama Khamila dan dia sendiri. Tak terasa lagi, dua tetes air mata membasahi pipi kaisar ini…..

********************

"Huh, engkau sudah menjadi gila agaknya..." Dia meremas tangannya sendiri. Suaranya lirih dan mengandung kegemasan. Sejak tadi dia duduk di bawah pohon di dalam hutan lebat itu, seorang diri saja dan kadang-kadang termenung, kadang-kadang berbisik-bisik seorang diri seperti orang yang gila.

Dia seorang gadis yang amat cantik jelita. Usianya paling banyak dua puluh tahun, karena biar pun melihat wajahnya masih kelihatan seperti seorang dara remaja yang tidak akan lebih dari lima belas tahun, namun di balik sinar matanya dan lekuk mulutnya terbayang kematangan seorang gadis yang telah dewasa.

Sepasang matanya tajam dan bening, agak lebar dan dihias oleh bulu mata yang panjang lentik dan yang membentuk bayang-bayang di pipi atasnya. Hidungnya kecil mancung, sangat serasi dengan mulutnya yang indah bentuknya, dengan sepasang bibir yang tipis merah dan amat lunak, tapi bibir yang seperti buah masak itu membayangkan kekerasan hati terutama sekali lekuk dagunya.

Rambutnya hitam panjang dan halus, digelung ke atas seperti bentuk bunga teratai dan ujung rambutnya dibiarkan terurai di belakang punggungnya. Panjang sekali rambut itu, karena biar pun sudah digelung, sisanya masih mencapai punggung. Agaknya jika gelung dilepas, panjang rambut itu akan mencapai bawah pinggul.

Pakaiannya sederhana potongannya, juga terbuat dari bahan yang kuat dan tidak mahal, jahitannya pun kasar akan tetapi setelah menempel di tubuhnya, menjadi patut dan manis sekali. Hal ini adalah karena bentuk tubuhnya memang sangat indah, padat dan dengan lekuk lengkung sempurna, bagian atas dan bawah yang padat agaknya dipisahkan dan dibatasi oleh pinggang yang ramping sekali.

Sebatang pedang panjang tergantung pada pinggang kirinya, dan pedang ini menambah kegagahan di samping kecantikannya yang asli tanpa bantuan bedak dan gincu. Seorang dara yang cantik jelita, manis, dan gagah perkasa.

Dia adalah Yap In Hong! Pada saat itu, In Hong yang sudah sejak tadi duduk termenung di bawah pohon, nampak amat kesal dan beberapa kali mengepal tinju, meremas tangan sendiri dan bersungut-sungut memaki diri sendiri.

Dia merasa marah kepada diri sendiri karena semenjak pertemuannya dengan Bun Houw dia merasa tidak sewajarnya, tidak seperti dulu-dulu lagi dan betapa pun dia berusaha untuk melupakan pemuda itu, namun setiap saat dia teringat lagi, teringat akan semua peristiwa yang dialaminya bersama pemuda itu, terbayang akan wajahnya, sinar matanya, senyum dan kata-katanya! Di lubuk hatinya ada perasaan mesra dan kerinduan untuk berdekatan dengan pemuda itu, dan inilah yang membuat dia marah kepada diri sendiri sampai dia memaki dirinya sendiri gila.

Memang tanpa disadarinya sendiri, dia telah tergila-gila, telah jatuh cinta kepada pemuda itu. Pemuda itu merupakan suatu kekecualian. Selama ini, sejak kecil telah ditanamkan di dalam hatinya akan kepalsuan kaum pria, akan kejahatan dan kesewenang-wenangan mereka terhadap kaum wanita sehingga ada dasar tidak suka di dalam hatinya terhadap kaum pria. Akan tetapi, begitu bertemu dengan Bun Houw, melihat sikap pemuda itu yang gagah perkasa, yang jauh dari pada mempermainkan wanita, bahkan menolak bujuk rayu wanita, yang bersikap baik, halus dan sopan kepadanya, maka jatuhlah hatinya!

Akan tetapi dia berusaha untuk menyangkal hal ini dan selalu melawan perasaan hatinya. Celakanya, makin dilawan, makin beratlah rasa hatinya, makin kuat dorongan hasratnya untuk selalu berdekatan dengan Bun Houw.

Maka terjadilah perang di dalam hatinya sendiri dan akibatnya membuat gadis ini seperti orang bingung. Kadang-kadang dia menjauhi, akan tetapi tak lama kemudian kembali dia mendekati dan diam-diam membayangi perjalanan Bun Houw.

Bahkan dari jauh dia melihat Bun Houw yang bertemu dengan orang-orang gagah, lalu dia berkesempatan pula menyelamatkan Souw Kwi Beng dari tangan Hui-giakang Ciok Lee Kim dan membunuh orang keempat dari Lima Bayangan Dewa itu. Akan tetapi dia selalu cepat menghindarkan pertemuan dengan Bun Houw, karena dia merasa malu bila sampai ketahuan oleh pemuda itu bahwa selama ini dia membayangi pemuda itu! Apa lagi ketika dari jauh dia melihat Cia Giok Keng puteri ketua Cin-ling-pai, kemudian melihat pula Yap Kun Liong kakak kandungnya, In Hong terkejut dan cepat menjauhkan diri tidak berani mendekat.

Betapa pun juga, perasaan rindunya dan ingin berdekatan dengan Bun Houw membuat dia mengintai lagi dan akhirnya dia membayangi Bun Houw yang melakukan perjalanan ke utara bersama Tio Sun. Setelah Bun Houw dan Tio Sun membantu Cia Keng Hong mengusir dua orang kakek dan nenek yang amat lihai, dua orang pemuda itu masuk ke dalam perkemahan pasukan orang Mancu dan Khitan itu dan hingga berhari-hari lamanya tidak meninggalkan tempat itu.

"Bodoh kau!" Kembali In Hong mengomeli dirinya sendiri.

Betapa dia tidak akan merasa jengkel dan gemas terhadap dirinya sendiri yang selama ini selalu berkeliaran di dalam hutan di sekitar perkemahan itu, menanti-nanti munculnya Bun Houw! Dia telah membiarkan dirinya tersiksa hidup berhari-hari di dalam hutan liar dan lebat, tanpa kawan, dengan hati penuh rasa rindu dan kejengkelan. Beberapa kali dia ingin memasuki perkemahan itu untuk bertemu dengan Bun Houw, akan tetapi rasa malu membuat dia mundur kembali.


Pilih JilidJilid Berikut

        15 Posting Terakhir

DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner