DEWI MAUT : JILID-37


In Hong juga mengerti bahwa kalau dua orang itu maju bersama, dia akan menghadapi dua orang lawan yang amat tangguh, masing-masing tak kalah lihainya jika dibandingkan dengan orang pertama dari Lima Bayangan Dewa tadi. Akan tetapi, tentu saja pantang baginya untuk menolak tantangan itu, apa lagi dia tadi sudah mengatakan bahwa biar pun dikeroyok oleh mereka semua, dia tidak akan mundur.

"Kalau kalian takut maju satu demi satu dan hendak mengeroyokku, majulah, siapa takut kepada kalian?" kata In Hong dan memandang tajam.

Wajah kakek dan nenek itu menjadi merah sekali. Ucapan In Hong ini menantang namun sekaligus juga merendahkan mereka. Mereka maklum bahwa apa bila mereka maju satu demi satu, belum tentu mereka dapat memenangkan dara yang benar-benar sangat hebat kepandaiannya itu, akan tetapi kalau mereka boleh maju bersama, maka mereka merasa yakin akan dapat merobohkan dara perkasa ini dengan ilmu silat gabungan yang mereka ciptakan.

Tiba-tiba terdengar suara gaduh di luar, "Heiiii... berhenti...! Tahan... tidak boleh masuk ke situ...!"

Semua orang lalu menoleh, dan nampaklah bayangan seorang wanita cantik berlari cepat menuju ke tempat itu, dikejar dari belakang oleh banyak pengawal. Dengan beberapa kali lompatan saja wanita itu telah tiba di ruangan. Melihat ini, terdengarlah suara melengking dan Hek-hiat Mo-li bersama Pek-hiat Mo-ko sudah meloncat dari tempat duduk masing-masing, sekaligus bagaikan dua ekor burung rajawali mereka menerkam dan menyerang wanita yang baru datang itu.

Wanita itu cantik bukan main, usianya antara tiga puluh lima tahun, pakaiannya indah dan sikapnya angkuh, sepasang matanya tajam bersinar-sinar. Melihat dua sosok bayangan yang menerjangnya seperti dua ekor burung menyambar, wanita itu mengeluarkan suara mendengus dari hidungnya dan kedua tangannya bergerak ke depan dengan jari tangan terbuka.

"Plakk! Plakk!"

Tubuh Pek-hiat Mo-ko dan Hek-hiat Mo-li terdorong ke belakang oleh tangkisan itu dan mereka harus berjungkir balik dua kali ke belakang agar jangan sampai terjengkang atau terbanting oleh hawa pukulan yang dahsyat dari tangkisan itu. Mereka terkejut sekali dan siap menyerang dengan tongkatnya.

"Subo...!" In Hong berseru dan seruan ini membuat Raja Sabutai cepat mengeluarkan kata-kata mencegah kedua orang gurunya dalam Bahasa Mongol.

Kakek bermuka putih dan nenek bermuka hitam itu lalu kembali ke tempat duduk masing-masing, akan tetapi pandang mata mereka masih marah dan penuh curiga kepada wanita cantik yang baru datang itu.

Wanita yang baru datang itu memang Giok-hong-cu Yo Bi Kiok, ketua Giok-hong-pang di Telaga Setan. Burung batu kumala yang menghias rambutnya amat indah, membuat dia kelihatan laksana seorang ratu yang memakai mahkota, pedang panjang tergantung pada pinggang dan gagang dua batang pedang pendek tersembul dari punggungnya. Wanita setengah tua yang masih cantik ini kelihatan gagah dan penuh wibawa.

Raja Sabutai yang merasa tertarik dan kagum kepada In Hong, menjadi terkejut dan juga kagum melihat wanita cantik yang disebut subo oleh nona itu, terlebih lagi melihat betapa wanita itu sekali tangkis dapat membuat dua orang gurunya terdorong ke belakang. Cepat dia berkata kepada Yo Bi Kiok,

"Jadi toanio adalah subo dari nona Hong yang gagah perkasa ini?" Pertanyaan ini diajukan dengan pandang mata tajam penuh selidik, dan diam-diam Raja Sabutai merasa heran bagaimana nyonya cantik itu dapat memasuki tempat itu dan menerobos penjagaan yang amat ketat.

"Benar, sri baginda. Dia adalah murid saya," Giok-hong-cu Yo Bi Kiok menjawab sambil menjura.

"Muridmu datang menawarkan bantuannya kepada kami dan sekarang sedang kami uji kepandaiannya. Toanio datang seperti ini ada maksud hati apakah?"

Meski pun di dalam hatinya merasa tidak senang melihat kedatangan nyonya ini secara paksa dan tanpa minta perkenan terlebih dahulu, akan tetapi dia membutuhkan bantuan orang-orang pandai, maka Sabutai menahan sabar, apa lagi karena dia maklum bahwa orang-orang sakti di dunia kang-ouw memang tidak suka memakai banyak peraturan.

"Saya bersama pasukan Giok-hong-pang sedang mencari murid saya ini, dan mendengar bahwa murid saya memasuki benteng paduka, maka saya menyusul ke sini. Saya setuju sekali apa bila dia membantu paduka, bahkan saya sendiri pun dengan seluruh pasukan Giok-hong-pang siap membantu paduka. Akan tetapi kalau paduka hanya ingin menguji murid saya, kiranya tua bangka-tua bangka ini bukan sekedar menguji. Tua bangka-tua bangka seperti mereka hendak mengeroyok seorang bocah seperti murid saya, sungguh tidak adil, maka saya akan membantu murid saya agar dua lawan dua dan barulah adil. Tentu saja kalau mereka berani!"

Mendengar ini, Raja Sabutai mengangguk dengan hati girang. "Bagus! Memang adil kalau begitu dan kami juga ingin sekali melihat kepandaian ketua Giok-hong-pang yang hendak membantu kami." Raja ini lalu memandang kepada Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw yang kelihatan meragu.

Tentu saja mereka berdua sudah mendengar nama ketua Giok-hong-pang yang baru saja menggegerkan dunia kang-ouw itu, meski pun baru sekarang mereka melihat orangnya. Betapa pun juga, tosu dan tokouw yang berilmu tinggi itu tidak merasa takut, apa lagi mereka memang mengandalkan ilmu silat pasangan yang mereka ciptakan bersama.

"Siancai...!" Hwa Hwa Cinjin berkata halus. "Ternyata yang datang adalah Giok-hong-pangcu! Kami tadi sudah mengatakan kepada muridmu, bahwa kami memang selalu maju bersama. Baik menghadapi lawan satu orang atau sepuluh orang, bagi kami sama saja asal kami maju berdua. Bukan sekali-kali kami ingin mengeroyok muridmu."

"Subo, biarlah teecu menghadapi mereka sendiri, teecu tidak takut," In Hong berkata.

"Apa? Tentu saja kau tidak takut, akan tetapi mana mungkin aku diam saja? Kau lihatlah, gurumu akan membereskan mereka!" Yo Bi Kiok berkata kemudian tiba-tiba dia berseru nyaring. "Tua bangka-tua bangka tak tahu malu, sambutlah seranganku!"

Tubuhnya sudah berkelebat lenyap dan hanya bayangannya saja yang tahu-tahu sudah menyambar ke arah Hwa Hwa Cinjin dan Hek I Siankouw secepat kilat.

Kakek dan nenek itu terkejut bukan main karena sambil melompat secepat itu, ketua dari Giok-hong-pang ini sudah melancarkan pukulan bertubi ke arah mereka dengan gerakan yang sangat aneh dan juga kuat sekali. Maka mereka cepat bergerak dan mainkan ilmu silat gabungan yang mereka ciptakan berdua, yaitu ilmu silat tangan kosong yang dapat pula dimainkan dengan senjata, yaitu yang mereka namakan Im-yang-lian-hoan-kun.

Ilmu silat ini sengaja mereka ciptakan untuk dimainkan bersama dan terdiri dari dua unsur ilmu silat dan tenaga yang saling bertentangan akan tetapi saling membela. Kalau mereka mainkan ilmu silat ini dengan tangan kosong, Hwa Hwa Cinjin mengambil peran sebagai pemain ilmu silat yang mengandung tenaga keras sedangkan Hek I Siankouw mainkan ilmu yang berdasarkan tenaga halus (Im). Akan tetapi sebaliknya kalau mereka mainkan ilmu ini dengan senjata, Hwa Hwa Cinjin yang bersenjata hudtim bulu monyet akan maju menggunakan tenaga Im sedangkan Hek I Siankouw yang memegang sebatang pedang hitam menggunakan tenaga Yang. Karena ilmu ini mereka ciptakan berdua, tentu saja mereka dapat bekerja sama dengan amat baiknya, saling melindungi seolah-olah mereka itu terdiri dari dua badan dengan satu hati dan pikiran.

"Plak-plak! Duk-duk-duk-dukk!"

Bertubi-tubi datangnya pukulan sepasang tangan Yo Bi Kiok, serangan dengan jurus-jurus yang amat aneh dan cepat. Namun karena kedua orang kakek dan nenek itu bekerja sama sehingga mereka seolah-olah memiliki empat mata, mereka dapat saling melindungi dan menangkis semua serangan itu.

Akibat dari adu tenaga ini, mereka terhuyung ke belakang, akan tetapi Yo Bi Kiok juga terhuyung dengan hati terkejut sekali karena pertemuan tenaga antara kedua tangannya dengan tangan mereka yang menangkis itu membuat tenaganya membuyar sehingga dia menjadi bingung menghadapi tenaga Im dan Yang, yaitu tenaga lemas dan keras yang dipergunakan oleh kedua orang lawannya secara saling membantu.

Maklumlah dia bahwa kedua orang itu, biar pun andai kata maju satu lawan satu bukan merupakan lawan berbahaya, akan tetapi sesudah maju bersama ternyata dapat bekerja sama secara baik sekali dan merupakan lawan yang tangguh. Mengertilah dia mengapa dua orang itu berkeras untuk maju bersama.

Ketua Giok-hong-pang ini belum lama telah mengalami peristiwa yang amat memalukan, yaitu pada saat dia dipermainkan oleh Kok Beng Lama. Maka, kini menghadapi kakek dan nenek yang memiliki kepandaian luar biasa itu, dia tidak ingin gagal dan kedua tangannya sudah meraba gagang pedang panjang dan sepasang pedang pendek.

Tiba-tiba In Hong meloncat ke dekat subo-nya dan berbisik, "Subo, sri baginda melarang penggunaan senjata dalam adu kepandaian ini, biar teecu menghadapi Hek I Siankouw!" Tanpa menanti jawaban gurunya, In Hong sudah meloncat ke depan dan menyerang Hek I Siankouw dengan pukulan tangan kirinya.

Akan tetapi, tepat pada saat Hek I Siankouw menghindarkan serangan ini dengan tubuh berputar, tiba-tiba saja Hwa Hwa Cinjin sudah melayangkan tangan menampar ke arah tengkuk In Hong. Elakan dan serangan ini datangnya begitu otomatis, seakan-akan Hek I Siankouw sendiri yang membalas serangan dengan mempergunakan tangan Hwa Hwa Cinjin! Hampir saja tengkuk In Hong kena ditampar dan meski pun dia sudah miringkan tubuhnya, tetap saja pundaknya tercium ujung jari tangan Hwa Hwa Cinjin hingga terasa panas sekali!

Pada saat itu pula terdengar suara melengking nyaring dan Yo Bi Kiok sudah menyerang kakek itu dengan amat dahsyatnya. Hwa Hwa Cinjin cepat mengelak dan Hek I Siankouw membantunya menangkis. Melihat cara kerja sama yang amat cepat dan serba otomatis itu, In Hong cepat membantu subo-nya sehingga terjadilah pertandingan yang amat seru dan hebat.

Sesungguhnya, apa bila pertandingan itu dilakukan satu lawan satu, baik Hwa Hwa Cinjin mau pun Hek I Siankouw bukanlah lawan guru dan murid Giok-hong-pang ini, dan kiranya mereka tidak akan dapat menahan lebih dari tiga puluh jurus. Akan tetapi, dengan kerja sama amat baiknya dalam ilmu Im-yang-lian-hoat-kun, mereka berdua dapat menghadapi Yo Bi Kiok dan In Hong dengan amat baiknya.

Guru dan murid ini tidak dapat bertempur saling membantu seperti dua orang lawannya, melainkan bertanding mengandalkan gerakan dan tenaga sendiri masing-masing. Sudah beberapa kali mereka mencoba untuk memancing atau memaksa kedua orang kakek dan nenek itu agar berpisah, agar pertandingan dapat dilakukan menjadi dua kelompok, tetapi mereka selalu gagal karena kakek dan nenek itu tidak mau saling meninggalkan dan terus bergerak mengelak, menangkis atau pun membalas serangan secara otomatis dan selalu saling melindungi.

"Tiat-po-san...!" Tiba-tiba Yo Bi Kiok berbisik kepada muridnya sambil menubruk ke arah Hek I Siankouw.

In Hong maklum akan maksud subo-nya. Dia dan subo-nya memiliki ilmu kekebalan yang disebut Tiat-po-san (Ilmu Kebal Baju Besi), yaitu pengerahan sinkang untuk melindungi tubuh dengan hawa murni sehingga pada suatu saat berani menerima pukulan karena tubuh di bagian tertentu yang terpukul itu menjadi kebal seperti besi. Tentu subo-nya ingin merobohkan kedua lawan dengan Tiat-po-san, membarengi pukulan lawan yang dibiarkan mengenai tubuh yang kebal sambil melancarkan serangan balasan.

Akan tetapi, In Hong tidak ingin tubuhnya sampai terpukul lawan meski pun belum tentu lawan akan cukup kuat untuk menembus pertahanan Tiat-po-san. Dia teringat akan ilmu pukulan ampuh yang dia terima dari pendeta Lama yang amat sakti itu sebagai penukaran obatnya untuk menyembuhkan luka-luka akibat Siang-tok-swa yang diderita oleh anak laki-laki murid pendeta Lama itu.

"Hyaaaatttt...!" In Hong mengeluarkan suara melengking tinggi sesuai dengan ajaran yang diterimanya dari pendeta Lama.

Karena gurunya menyerang Hek I Siankouw, maka dia lalu menyerang Hwa Hwa Cinjin dengan pukulan Thian-te Sin-ciang. Angin pukulan dahsyat menyambar ganas ke depan, sehingga bukan hanya mengejutkan Hwa Hwa Cinjin yang diserangnya, melainkan juga Hek I Siankouw memekik dan Yo Bi Kiok sendiri terbelalak.

Pada saat itu, Hwa Hwa Cinjin sudah melindungi Hek I Siankouw yang diserang oleh Yo Bi Kiok tadi, menangkiskan serangan Yo Bi Kiok terhadap Hek I Siankouw dan tokouw ini otomatis lalu menggerakkan tangan memukul ke arah lambung Yo Bi Kiok. Akan tetapi, Yo Bi Kiok yang sudah mengerahkan Tiat-po-san tidak mengelak atau pun menangkis, melainkan langsung saja membalas pukulan itu dengan tamparan ke arah dada nenek baju hitam itu.

Tentu saja hal ini sama sekali tidak disangka oleh Hek I Siankouw yang sudah kegirangan karena pukulannya mengenai lambung. Akan tetapi pada saat itu juga dia terkejut merasa betapa pukulannya bertemu dengan lambung yang keras bagaikan baja dan dia sendiri terancam pukulan lawan ke arah dada. Cepat dia miringkan tubuhnya dan selagi Hwa Hwa Cinjin hendak turun tangan melindunginya, tiba-tiba datang pukulan dahsyat bukan main dari In Hong yang menggunakan Thian-te Sin-ciang!

“Plakk! Dessss...!"

Hek I Siankouw miringkan tubuhnya sehingga pukulan Yo Bi Kiok mengenai pundaknya, membuat dia terpelanting. Sedangkan Hwa Hwa Cinjin yang berusaha mengelak sambil menangkis pukulan In Hong, tetap saja tubuhnya terlempar dan terbanting jatuh sampai bergulingan, bahkan Yo Bi Kiok yang hanya kena sambaran hawa pukulan muridnya pun terhuyung dengan kaget dan heran sekali.

Raja Sabutai bertepuk tangan memuji. "Cukup...!" dia berteriak, "Kami menerima bantuan guru dan murid Giok-hong-pang!"

Meski pun fihak Wang Cin masih penasaran, akan tetapi mereka tidak berani melanjutkan pertandingan itu. Apa lagi, dua di antara tiga Bayangan Dewa sudah mengenal kelihaian Yo Bi Kiok, dan menyaksikan pukulan terakhir yang dilakukan oleh In Hong tadi, bahkan Bouw Thaisu sendiri menjadi terkejut sekali dan merasa jeri.

Demikianlah, mulai hari itu, In Hong dan Yo Bi Kiok diterima menjadi pengawal-pengawal Raja Sabutai, bahkan lima puluh orang prajurit wanita para anggota Giok-hong-pang yang sudah siap di luar benteng pun lalu diterima menjadi pasukan pembantu dan diperlakukan dengan hormat di dalam benteng sebagai pasukan istimewa.

Yo Bi Kiok yang seperti juga In Hong telah dapat menarik rasa suka di hati Raja Sabutai, diberi kamar yang mewah tak jauh dari kamar raja sendiri, dan ketua Giok-hong-pang ini lalu mengajak muridnya ke dalam kamarnya agar mereka dapat berbicara empat mata.

Begitu memasuki kamar dan menutupkan pintunya, Yo Bi Kiok segera memegang tangan muridnya kemudian tertawa girang. "Bagus, engkau sudah memperoleh kemajuan pesat, sekarang dapat menjadi pembantu Raja Sabutai. Sungguh tepat tindakanmu ini, muridku. Selagi muda engkau memang harus mencari kedudukan dan aku sudah mendengar akan kekuatan Raja Sabutai yang telah menawan kaisar. Apa bila kelak dia berhasil merampas kerajaan dan menjadi kaisar, engkau tentu memperoleh kedudukan tinggi pula."

In Hong diam-diam merasa terkejut. Sama sekali bukan itulah maksudnya menyelundup ke dalam benteng ini. Dia memasuki benteng ini sesungguhnya dengan niat melindungi kaisar yang tertawan di samping hendak menentang Bun Houw. Akan tetapi dia hanya mendengarkan gurunya bicara terus, tidak berani membantah.

"Begitu mendengar tentang peristiwa ini, aku lalu mengajak semua anak buah kita ke sini untuk membantu Raja Sabutai. Inilah saatnya yang amat tepat untuk mencari kedudukan. Setelah berhasil nanti, jangan khawatir, muridku, aku akan membantumu supaya engkau dapat menikah dengan pemuda tampan itu..."

"Ehhh? Apa maksud subo...?" In Hong terkejut sekali dan memandang gurunya dengan sinar mata tajam penuh selidik.

Yo Bi Kiok tersenyum lebar sehingga wajahnya yang masih cantik itu kelihatan semakin muda. Hanya terhadap muridnya ini saja Yo Bi Kiok dapat bersikap sewajarnya dan dapat bersikap gembira. Terhadap lain orang, bahkan terhadap para anak buahnya, dia selalu memperlihatkan sikap dingin, keras dan ganas.

"In Hong, kau kira aku tidak tahu? Sudah lama aku membayangimu dengan diam-diam, dan aku tahu apa yang terjadi antara engkau dan pemuda she Bun itu."

"Tidak... tidak ada apa-apa..." In Hong menjadi merah sekali mukanya dan dia mencoba untuk menyangkal dan menggeleng kepala.

Yo Bi Kiok memandang dengan senyum masih menghias pada wajahnya. "Aihh, muridku. Bukankah engkau menganggap gurumu ini sebagai pengganti orang tuamu pula? Coba katakan, ke mana perginya burung hong kumala di kepalamu, dan dari mana engkau memperoleh pedang di pinggangmu itu?"

"Ini... ini... memang kutukar...," In Hong menjawab gugup, tangan kiri meraba rambut di kepalanya, tangan kanan meraba gagang pedang Hong-cu-kiam.

"Hemm... tak perlu kau malu-malu terhadap gurumu, In Hong. Aku sangat setuju dengan pilihanmu itu. Melihat dia seorang pemuda yang baik, bukan seperti pria-pria lain yang berwatak palsu. Engkau jangan mengulangi sejarah gurumu. Engkau tidak boleh gagal dalam bercinta. Engkau tidak boleh selemah gurumu di waktu muda dulu. Apa yang telah kau pilih harus engkau pertahankan mati-matian. Oleh karena itu, melihat engkau kurang tegas, aku sudah turun tangan menyerang setiap wanita yang berani jatuh cinta kepada pemuda pilihanmu itu."

"Ohhhh...!" In Hong memandang gurunya dengan mata terbelalak. "Jadi... jadi subo telah membunuh orang?"

"Hemmm, apa salahnya? Gadis dusun itu memang kurang ajar dan tak tahu malu, berani dia mencoba-coba untuk menggoda pemuda pilihanmu, dia pantas dibunuh."

In Hong menunduk, teringat dia akan kemarahan Bun Houw kepadanya. Kiranya tuduhan pemuda itu bukan fitnah kosong belaka, melainkan betul-betul ada orang terbunuh, hanya yang membunuh adalah subo-nya yang disangka dia.

"Kenapa, muridku? Apakah engkau tidak senang dengan bantuanku?"

In Hong masih menunduk. Dia menggeleng kepala dan mengerutkan alisnya, lalu berkata, "Teecu hanya tidak ingin subo mencampuri urusan dengan... dia itu..."

"Hi-hi-hik-hik!" Yo Bi Kiok tertawa sambil merangkul muridnya. "In Hong, engkau seperti anakku sendiri, aku ingin melihat engkau berbahagia. Bagaimana kau suruh agar aku tak boleh mencampuri? Jangan kau khawatir aku akan mengusahakan agar engkau berjodoh dengan dia."

"Sudahlah, subo. Teecu tidak suka bicara tentang urusan itu."

"Baiklah, sekarang kita bicarakan tentang urusan kita di sini. Kita harus membantu Raja Sabutai sekuat kita. Dan kaisar yang tertawan itu harus dibunuh. Biar aku menemui Raja Sabutai sekarang juga! Mari kau ikut!"

In Hong kaget bukan main. Jantungnya berdebar keras. Entah apa yang mendorongnya, akan tetapi dia sama sekali tidak setuju dengan niat gurunya, bahkan dia telah mengambil keputusan bulat untuk melindungi kaisar sedapatnya!

Dia tidak suka membantu raja liar itu, apa lagi melihat betapa raja itu dibantu oleh banyak orang yang tidak disukanya seperti Go-bi Sin-kouw, Bayangan Dewa dan kawan-kawan mereka itu. Akan tetapi, tentu saja dia tak berani secara berterang menentang subo-nya, maka tanpa banyak cakap dia segera mengikuti subo-nya menghadap Raja Sabutai.

Raja Sabutai yang didampingi oleh isterinya, yaitu Khamila yang nampak cantik jelita dan wajahnya bercahaya seperti yang biasanya nampak pada wajah seorang calon ibu muda, menyambut kedatangan Yo Bi Kiok dan In Hong dengan girang, akan tetapi jelas bahwa raja ini tidak pula melepaskan kewaspadaannya, sebab selain ditemani oleh isterinya, juga di dalam ruangan itu nampak Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko yang duduk seperti arca, dan di sekeliling ruangan itu nampak pula belasan orang pengawal yang melakukan penjagaan.

"Ahhh, silakan duduk, pangcu, dan kau, nona Hong." Raja Sabutai berkata dengan girang, "Perkenalkan ini adalah isteriku, Khamila."

Yo Bi Kiok dan muridnya memandang kagum kepada ratu yang muda dan cantik itu, ada pun Khamila juga mengangguk sambil tersenyum kepada mereka berdua, terutama dia memandang kagum kepada In Hong.

"Harap sri baginda suka memaafkan bahwa saya mohon menghadap dan mengganggu waktu paduka," Yo Bi Kiok berkata.

"Ahhh, mengapa pangcu bersikap sungkan? Sebagai pembantu kami, tentu saja kalian boleh menghadap sewaktu-waktu. Akan tetapi apakah tidak beristirahat lebih dulu?"

"Ada keperluan penting sekali yang harus saya sampaikan kepada paduka," kata Yo Bi Kiok.

"Ceritakanlah." Raja Sabutai memandang tajam karena dia dapat melihat betapa sikap ketua Giok-hong-pang itu amat serius.

"Menurut pendapat saya, tak ada gunanya lagi paduka menahan kaisar sebagai seorang sandera, dan kini tiba saatnya untuk segera berangkat menyerbu ke selatan."

"Ehh, bagaimana kau dapat berkata demikian, pangcu? Apa alasannya?"

"Pertama, karena kini Kerajaan Beng telah mengangkat seorang kaisar baru."

"Hehhh...?!" Raja Sabutai berseru kaget. "Mengapa tidak ada berita dari para penyelidik kami?"

"Memang hal itu dirahasiakan, akan tetapi saya yang baru saja datang dari selatan tahu akan hal itu. Yang diangkat menjadi kaisar adalah Kaisar Ceng Ti. Oleh karena itu, yang paduka tawan sekarang ini bukan lagi kaisar, maka tak ada harganya lagi untuk dijadikan sandera, lebih baik dibunuh saja."

"Ihhh...!" Khamila cepat-cepat menutupi mulutnya yang berteriak kecil tadi dengan sapu tangannya, akan tetapi In Hong yang semenjak tadi memandangnya, melihat betapa saat mendengar ucapan gurunya ini, seketika ratu itu menjadi pucat sekali mukanya, matanya terbelalak dan bibirnya gemetar.

Raja Sabutai menengok kepada isterinya, kemudian menyentuh lengan isterinya sebagai tanda menghibur, kemudian dia menoleh lagi kepada Yo Bi Kiok sambil berkata, "Harap kau lanjutkan, Yo-pangcu. Bagaimana menurut rencanamu?"

"Bekas kaisar itu hanya menjadi penambah beban saja. Dan sebaliknya, sekarang juga paduka mengerahkan pasukan untuk menyerbu ke selatan selagi keadaan belum begitu dikuasai oleh pimpinan kaisar baru yang saya dengar amat lemah. Hal ini adalah karena terjadi perpecahan di antara para pembesar, sebagian ingin mempertahankan kedudukan Kaisar Ceng Tung yang tertawan di sini, sebagian lagi adalah pendukung Kaisar Ceng Ti. Pada waktu keadaan musuh lemah karena pertikaian sendiri, bukankah hal itu merupakan kesempatan yang baik sekali?"

Sampai beberapa lama Raja Sabutai mengerutkan alisnya yang tebal, kemudian dia baru berkata, "Sebenarnya aku masih meragu untuk menyerbu ke selatan yang pertahanannya demikian kuat dan tadinya aku hendak mengambil jalan yang lebih aman, yaitu dengan menjadikan Kaisar Ceng Tung sebagai sandera. Akan tetapi dengan adanya perubahan ini, tentu saja sangat baik sekali seperti yang kau usulkan, pangcu. Kita serbu Kerajaan Beng!"

"Dan Kaisar Ceng Tung...?" Yo Bi Kiok bertanya.

"Untuk sementara biarlah dia kami tahan dulu..."

"Akan tetapi hal itu berbahaya, Sri baginda." Yo Bi Kiok membantah. "Tentu akan muncul orang-orang yang berusaha untuk membebaskannya. Kalau kita semua pergi berperang dan dia tidak dijaga kuat-kuat..."

"Biarlah saya akan menjaganya!" Tiba-tiba In Hong berkata menawarkan diri.

Yo Bi Kiok mengangguk-angguk. "Sebaiknya begitu. Harap paduka jangan khawatir, kalau murid saya ini yang tinggal di sini dan menjaganya, tidak akan ada orang yang mampu membebaskannya."

Raja Sabutai memandang kepada In Hong dan mengangguk-angguk. "Kami tentu percaya kepada nona Hong, dan selain menjaga agar Kaisar Ceng Tung jangan sampai lolos, juga kami menyerahkan keselamatan isteri kami kepada perlindungan nona Hong."

In Hong mengangkat kepala memandang sang ratu. Khamila juga memandang padanya dan di antara kedua orang wanita muda ini terdapat rasa simpati, maka In Hong segera menjawab, "Saya akan melindungi keselamatan isteri paduka dengan taruhan nyawa!"

"Bagus! Legalah hatiku kalau begitu. Suhu dan subo," Sekarang Raja Sabutai menoleh ke arah dua orang kakek dan nenek yang semenjak tadi hanya mendengarkan sambil duduk melenggut saja. "Bagaimana pendapat suhu dan subo tentang penyerbuan ke selatan?"

Kakek dan nenek itu mengangguk dengan kemalas-malasan. "Kami hanya setuju saja...!" jawab mereka acuh tak acuh.

Maka sibuklah Raja Sabutai mengumpulkan para panglimanya, juga memanggil Wang Cin dan menceritakan rencananya menyerbu ke selatan. Tentu saja Wang Cin menjadi girang sekali dan dia pun segera mempersiapkan semua anak buahnya untuk membantu penyerbuan Raja Sabutai ke selatan.

Dalam kesempatan bertemu berdua saja dengan muridnya, Yo Bi Kiok berbisik kepada In Hong, "Muridku, dengarlah baik-baik. Kau harus melindungi kaisar dan sedapat mungkin selamatkan dia keluar benteng."

In Hong memandang terbelalak, namun hatinya girang bukan main. Ternyata gurunya ini hanya bersiasat saja di hadapan Raja Sabutai, sebenarnya tidak ingin membunuh kaisar, malah hendak menyelamatkannya. Akan tetapi saking herannya dia lalu bertanya, "Tetapi, subo..."

"Hushhhh...!" ketua Giok-hong-pang itu mencela muridnya yang membantah, "kita tidak boleh menyia-nyiakan setiap kesempatan. Kalau Sabutai berhasil, itu baik sekali, kalau tidak, kita dapat mencari kedudukan melalui kaisar itu."

Hati In Hong kecewa lagi dan secara diam-diam dia mulai mengenal watak gurunya yang ternyata amat mementingkan diri sendiri sehingga untuk membela dia yang dianggapnya sudah jatuh cinta kepada Bun Houw, gurunya tidak segan-segan membunuh gadis dusun yang dikira mencinta pemuda itu, malah sekarang kaisar pun hanya dijadikan jalan untuk mencapai kepentingannya pribadi.

Diam-diam di dalam hati gadis ini timbul rasa tidak suka dan penentangan, akan tetapi, tentu saja dia tidak berani menyatakan dengan terang-terangan. Hanya dia merasa heran, mengapa sebelum ini dia menganggap gurunya sebagai satu-satunya orang yang baik, yang semua tindakannya dia anggap benar belaka. Mengapa sekarang dia melihat hal-hal yang dianggapnya tidak patut dan tidak benar dalam tindakan gurunya?

Mulailah hati In Hong merasa bimbang. Mulailah dia memikirkan dan mencari akal untuk dapat menyelamatkan kaisar dari tangan Sabutai dan dari tangan subo-nya sendiri. Dan dia menggantungkan harapannya kepada Khamila, isteri Raja Sabutai. Wanita cantik jelita itu berwajah ramah, sinar matanya lembut.

Dua hari kemudian, Raja Sabutai mulai mengerahkan pasukannya itu bergerak ke selatan. Sebagai pimpinan Suku Bangsa Nomad, dan karena khawatir akan keselamatan isterinya, dalam penyerbuan ini Khamila dan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanan pun dibawa dan selalu berada di bagian belakang di dalam pasukan perbekalan yang juga bertugas mengatur ransum para anak buah pasukan. Yang bertugas menjaga keselamatan Khamila dan menjaga agar kaisar tawanan itu tidak sampai lolos adalah In Hong, dibantu oleh dua losin pengawal.

Ketika fihak kerajaan mendengar tentang gerakan pasukan Sabutai ini, tentu saja mereka pun langsung bergerak mengirimkan bala tentara. Di perbatasan, para komandan pasukan kerajaan berjumpa dengan pasukan kecil yang dipimpin oleh Cia Keng Hong bersama puteranya, dan dengan gemas Cia Keng Hong dan puteranya mengerti bahwa kerajaan sama sekali tidak mempedulikan nasib Kaisar Ceng Tung, bahkan sama sekali tidak ada pengiriman pasukan dari kerajaan untuk menyelamatkan kaisar yang tertawan.

Tahulah pendekar ketua Cin-ling-pai itu bahwa di kota raja sudah terjadi pergolakan dan perebutan kekuasaan, apa lagi ketika dia mendengar bahwa bukan saja tidak ada usaha menyelamatkan Kaisar Ceng Tung, bahkan kini para pembesar telah mengangkat seorang kaisar baru dan seolah-olah menganggap Kaisar Ceng Tung sudah mati! Dan kini, setelah Sabutai bergerak mengancam kerajaan, barulah bala tentara dikerahkan!

Sebetulnya, di dalam hati Cia Keng Hong marah kepada para pembesar di kota raja. Akan tetapi karena dia pun melihat bahaya dari Sabutai yang bergerak ke selatan, dan karena dia tidak ingin mencampuri pula urusan perebutan tahta kaisar, maka pendekar ini pun mengerahkan pasukannya untuk membantu bala tentara kota raja menghadapi musuh. Yang penting baginya adalah membela negara menghadapi musuh Bangsa Mongol yang hendak menjajah itu!

Bentrokan pertama antara pasukan Sabutai dan pasukan kerajaan terjadi di perbatasan. Meski pun mendapat bantuan Cia Keng Hong, Cia Bun Houw, Tio Sun dan orang-orang Mancu dan Khitan, pasukan kerajaan terdesak mundur dan mengalami pukulan hebat!

Di dalam perang besar seperti itu, kepandaian perorangan dari Cia Keng Hong, Cia Bun Houw dan Tio Sun tidak begitu besar artinya. Apa lagi di fihak musuh juga banyak sekali terdapat orang pandai seperti tiga orang tokoh Bayangan Dewa, Hwa Hwa Cinjin, Hek I Siankouw, Go-bi Sin-kouw, Bouw Thaisu dan terutama sekali Yo Bi Kiok, Hek-hiat Mo-li dan Pek-hiat Mo-ko.

Fihak kerajaan terlalu memandang rendah terhadap Sabutai sehingga bala tentara yang dikirimkan itu jauh dari pada mencukupi, kalah banyak jumlahnya dan memang kalah kuat para prajuritnya. Pasukan Sabutai terdiri dari prajurit-prajurit gemblengan yang di samping telah terlatih kehidupan yang keras dan sulit, juga bersemangat besar untuk menegakkan kembali kerajaan bangsa mereka, Bangsa Mongol yang dahulu pernah menjadi bangsa yang jaya.

Memang hebat gerakan Sabutai dan ternyata tak kecewa dia mengaku sebagai keturunan Jenderal Sabutai yang dahulu pernah menjadi tokoh militer di jaman kejayaan Kerajaan Goan-tiauw, yaitu ketika Bangsa Mongol menguasai seluruh Tiongkok. Dia menggunakan siasat yang amat hebat hingga pasukannya bergerak seperti kilat ke selatan, merobohkan seluruh rintangan sehingga semua pertahanan pasukan Kerajaan Beng terus menerus dipukul mundur sampai akhirnya pasukan-pasukan pemberontak Mongol ini berhasil tiba di benteng pertama Kota Raja Peking!

Cia Keng Hong sangat prihatin melihat keadaan ini. Dia bersama puteranya dan Tio Sun telah membantu mati-matian, merobohkan dan membunuh entah berapa banyak pasukan musuh. Namun mereka tidak berdaya karena fihak Mongol memang jauh lebih kuat dari pada jumlah pasukan kerajaan yang bertahan. Hal ini disebabkan kerajaan sedang dalam keadaan kacau balau dan para pembesar militer pun sudah terpecah-pecah oleh suasana perebutan kekuasaan.

Setelah datangnya bala bantuan, yaitu pasukan-pasukan yang ditarik dari semua jurusan, barulah kekuatan pasukan kerajaan terkumpul dan terpusatkan dalam pertahanan, maka gerakan pasukan Sabutai dapat dibendung, bahkan mulai bisa dihalau mundur dari daerah lingkungan kota raja.

Dan di dalam pasukan bala bantuan yang kuat ini muncul pula banyak tokoh kang-ouw yang gagah perkasa, yang selalu dalam saat-saat negara terancam bahaya tentu muncul meninggalkan tempat-tempat persembunyian mereka guna menyumbangkan jiwa raganya tanpa pamrih untuk kepentingan diri pribadi. Dan di antara para orang gagah ini terdapat pula Yap Kun Liong!

Walau pun pendekar ini tadinya sibuk dengan urusan pribadinya sendiri, menyelidiki dan mencari hilangnya Yap Mei Lan puterinya, juga mencari hilangnya Lie Seng, putera Cia Giok Keng, di samping menyelidiki kematian isterinya, mencari pembunuhnya, akan tetapi begitu mendengar bahwa pasukan Mongol menyerbu ke selatan dan telah tiba di benteng pertama pertahanan Kota Raja Peking, pendekar ini pun cepat melupakan semua urusan pribadinya dan langsung saja menggabungkan diri dengan pasukan kerajaan yang datang dari berbagai jurusan itu, menyumbangkan tenaganya melawan musuh.

Berkali-kali Sabutai mengalami kekalahan hingga akhirnya dia menarik mundur sisa-sisa pasukannya yang hanya tinggal separuhnya! Dia mundur sampai di luar perbatasan kota raja dan membuat pertahanan kokoh di sebuah benteng yang sudah dirampasnya ketika dia menyerbu ke selatan.

Sementara itu, In Hong telah menjadi sahabat baik dari Khamila. Dia tahu bahwa ada sesuatu di antara isteri Raja Sabutai itu dengan Kaisar Ceng Tung yang menjadi tawanan. Hal ini diketahuinya ketika kaisar muda itu jatuh sakit karena cemas memikirkan betapa pasukan Mongol semakin mendekati kota raja, Khamila memperlihatkan perhatian luar biasa, bahkan dengan perantaraan In Hong minta supaya mengirimkan buah-buah segar kepada kaisar itu. Tentu saja In Hong menjadi heran dan akhirnya dia dapat menduga bahwa isteri Sabutai itu merasa simpati kepada kaisar.

"Kasihan sekali sri baginda kaisar," pada suatu petang In Hong sengaja memancing di depan Khamila. "Dia menjadi tawanan yang tak berdaya dan hanya mendengar betapa kerajaannya terancam keruntuhan."

Mendengar ucapan In Hong ini, Khamila memandang tajam, kemudian dia bertanya lirih, "Hong-lihiap, engkau adalah seorang wanita yang gagah perkasa dan memiliki ilmu tinggi. Bagaimana pendapatmu tentang Kaisar Ceng Tung itu? Dia telah tertawan, akan tetapi dia tak pernah sudi menyerah, tak pernah mau tunduk dan sama sekali tidak takut mati."

Jelas terasa oleh In Hong betapa kekaguman besar terkandung dalam kata-kata ini, maka dia lalu menjawab, "Dia memang seorang kaisar yang besar, seorang jantan yang amat mengagumkan." In Hong memandang tajam, lalu melanjutkan lagi, "Sayang dia menjadi tawanan yang tidak berdaya. Seorang gagah seperti beliau itu sepatutnya tidak menjadi tawanan."

"Maksudmu... sepatutnya dia bebas?"

In Hong memandang. Dua orang wanita yang sama cantik jelitanya akan tetapi jelas memiliki sifat yang berlawanan itu, yang seorang penuh kelembutan dan kelemahan, yang seorang keras dan gagah, akan tetapi keduanya cantik jelita menggairahkan itu, untuk beberapa lamanya saling pandang. Akhirnya Khamila membuka mulut berkata,

"Kalau begitu, engkau yang menjaganya, engkau yang mengepalai para pengawal di sini, kenapa engkau tidak membebaskannya?"

In Hong tidak kaget mendengar pertanyaan aneh ini. Memang tidak aneh kalau isteri dari Raja Sabutai yang menawan kaisar itu bertanya demikian. Dia sudah menduga bahwa wanita itu suka kepada kaisar, sungguh pun pendekar wanita ini mimpi pun tidak bahwa kandungan dalam perut ratu yang hamil muda ini adalah keturunan kaisar yang menjadi tawanan itu!

"Bagaimana saya dapat membebaskan beliau? Para penjaga tentu akan mencegah saya dan pula... sungguh pun saya tidak takut menghadapi mereka, saya masih harus menjaga keselamatan paduka..."

"Kau bebaskanlah beliau, biar aku yang menanggung kalau sampai terjadi apa-apa..." kini wajah puteri itu merah, dan matanya sayu.

"Bagaimana kalau paduka juga ikut lolos?"

"Ehhh...?" Sepasang mata yang lebar dan indah itu terbelalak. "Apa maksudmu...?"

"Saya kira, kaisar hanya dapat diselamatkan kalau paduka suka membantu. Kalau paduka yang keluar dari benteng ini, dikawal oleh saya dan seorang pembantu saya, yaitu kaisar yang menyamar, tentu tidak akan ada pengawal yang berani mencegah atau bercuriga. Kemudian, bila mana saya sudah berhasil mengantar kaisar dengan selamat ke kota raja, saya pasti akan membawa paduka kembali kepada Raja Sabutai."

"Ahhh...!" Sejenak sepasang mata itu berseri-seri dan bersinar mengingat bahwa dia akan berkesempatan dekat dengan kaisar yang dicintanya, dengan ayah dari anak yang tengah dikandungnya, akan tetapi dia masih ragu-ragu karena betapa pun juga, dia tidak dapat meninggalkan Sabutai yang menjadi suaminya yang amat baik hati itu. "Tapi... bagaimana kalau suamiku mencegahnya? Suhu dan subo-nya bagaikan iblis-iblis mengerikan, belum lagi para pembantu Wang Cin itu..."

"Kita harus cerdik, dan kita bergerak sesudah mereka itu keluar dari benteng menyambut musuh."

Akhirnya Khamila dapat terbujuk juga karena wanita ini ingin sekali memperlihatkan bukti cintanya kepada ayah dari anak yang tengah dikandungnya itu, bukti yang mutlak tentang cintanya sebelum mereka saling berpisah, mungkin untuk selamanya. Maka dia segera setuju dan dua orang wanita yang sifatnya berlawanan ini menjadi akrab dan sama-sama mengatur siasat.

Kemudian In Hong yang sudah memperkenalkan diri sebagai seorang yang berpura-pura berfihak kepada Sabutai untuk menolong kaisar itu membicarakan kepada kaisar tentang rencananya dengan Ratu Khamila. Tentu saja kaisar menjadi girang dan terharu sekali, dan dia segera sembuh dari sakitnya mendengar bahwa terbuka kesempatan baginya untuk lolos dari tawanan.

Saat yang dinanti-nanti oleh In Hong, Khamila, dan Kaisar Ceng Tung datang tidak lama kemudian. Bala tentara Kerajaan Beng yang sudah menyelidiki bahwa musuh membuat pertahanan di dalam benteng yang kokoh itu, datang menyerbu. Sabutai mengerahkan pasukannya yang tinggal separuhnya, dan melakukan pertahanan di benteng itu, ada pula sebagian yang menjaga pintu-pintu benteng sehingga tidak mudah bagi bala tentara Beng untuk membobolkan benteng yang amat kuat itu.

Kesempatan baik inilah yang ditunggu-tunggu oleh In Hong. Lewat senja, sesudah cuaca mulai gelap dan seluruh benteng tengah sibuk menghadapi musuh, terdengar suara bising di luar dan sekeliling benteng besar itu, tampak Ratu Khamila dengan pakaian ringkas tergesa-gesa keluar dari ruangan-ruangan yang menjadi tempat tinggalnya, dikawal oleh In Hong dan seorang pengawal muda yang gagah dan berpakaian sebagai pengawal pribadi sang ratu.

Para penjaga di luar yang melihat sang ratu naik kereta joli keluar, apa lagi dikawal sendiri oleh In Hong yang mereka kenal sebagai kepala pengawal pribadi, tidak memperhatikan pengawal pria itu yang mereka anggap tentulah seorang pengawal biasa, seorang prajurit biasa. Tidak ada seorang pun berani membantah atau menentang dan hanya kepala jaga yang bertanya ke mana In Hong hendak mengantar sang ratu pergi dalam keadaan yang berbahaya seperti itu.

"Justru karena keadaan amat berbahaya maka Sri Baginda Sabutai mengutus aku untuk menyelamatkan ratu ke tempat aman di luar benteng!" jawab In Hong dan kepala penjaga itu tidak berani membantah lagi.

Dengan mudah saja In Hong dan ‘prajurit pengawal’ yang bukan lain orangnya adalah Kaisar Ceng Tung itu lalu mengawal Khamila keluar dari benteng melalui pintu darurat atau pintu rahasia yang terdapat di tempat tersembunyi di belakang benteng itu. Para penjaga memberi hormat dan membukakan pintu kecil itu, kemudian setelah tiga orang itu menyelinap keluar, pintu itu lalu ditutup kembali dan tidak kelihatan ada pintu di dinding tebal itu, baik dilihat dari luar mau pun dari dalam. Dan para penjaga menjaga lagi seperti biasa.

"Cepat kita lari ke hutan itu...!" In Hong berbisik kepada kaisar dan sang ratu.

Kaisar yang menyamar sebagai prajurit itu segera menarik kereta joli yang diduduki oleh Ratu Khamila dan mereka lalu menyelinap di antara pohon-pohon memasuki hutan yang gelap.

"Heiiii...! Tunggu...!"

Tiba-tiba terdengar bentakan dari belakang. In Hong cepat menoleh dan terkejutlah dia ketika melihat selosin orang prajurit dipimpin oleh kepala jaga tadi!

"Sri baginda, cepat ajak ratu bersembunyi di dalam semak-semak!" In Hong berbisik.

Kaisar Ceng Tung lalu menarik tangan kekasihnya itu, dan segera mereka lenyap di balik semak-semak belukar di mana mereka saling rangkul dengan hati tegang tapi dengan hati bahagia bahwa mereka berdua yang saling mencinta itu masih sempat mengalami bahaya bersama-sama! Kereta joli mereka gulingkan ke dalam jurang untuk menghilangkan jejak mereka.

"Hemmm, kalian mau apa?" In Hong membentak sambil berdiri tegak dengan kedua kaki terpentang dan sikap marah menantang.

"Lihiap, kami mendapat laporan bahwa tawanan sudah lenyap!" kata kepala jaga sambil memandang dengan penuh kecurigaan. Segera obor-obor yang dibawa oleh para prajurit diangkat tinggi-tinggi untuk meneliti keadaan di sekitar tempat itu.

"Tawanan siapa?" In Hong berkata dengan suara nyaring dan disengaja agar kaisar yang sedang bersembunyi itu dapat mendengarnya dan berhati-hati.

"Kaisar itu! Dia telah lenyap."

"Hemm, biar pun aku bertugas menjaganya di sana, akan tetapi engkau tahu bahwa aku tidak berada di sana ketika dia lolos. Kesalahan kalian semualah itu. Perlu apa mengejar aku?"

"Lihiap... ehhh, tadi aku kurang teliti. Lihiap mengawal sang ratu keluar benteng, bersama seorang prajurit pengawal... dan sekarang baru aku ingat bahwa di dalam benteng tidak ada prajurit pengawal seperti itu. Di manakah mereka? Di manakah prajurit itu dan sang ratu?"

"Kurang ajar! Kau menuduh aku...?"

"Bukan menuduh. Akan tetapi demi keselamatan, aku harap lihiap suka memperlihatkan surat perintah sri baginda!"

"Ini perintah lisan, tanpa surat! Kalian tentu mata-mata musuh yang hendak mencegah aku menyelamatkan ratu!"

"Hemmm, sikap lihiap sungguh mencurigakan sekali! Di mana sang ratu? Dan di mana pula tawanan itu kau sembunyikan?" Kepala jaga itu memberi isyarat sambil melangkah maju dan selosin prajurit itu lalu mengurung In Hong.

"Ratu menjadi tanggung jawabku! Kalian inilah yang mencurigakan, tentu kalian adalah mata-mata musuh yang hendak mencelakakan ratu!" sambil berkata begitu, In Hong yang tahu bahwa rahasianya mulai bocor, cepat mencabut pedangnya dan sekali berkelebat, pedangnya telah meluncur menjadi sinar yang menyilaukan mata, sinar emas dari pedang Hong-cu-kiam kemudian terdengar pekik susul-menyusul ketika dalam segebrakan saja empat orang prajurit telah roboh dan tewas!

Kepala penjaga itu menjadi marah dan cepat bersama sisa orangnya maju mengeroyok. Golok dan pedang menyambar-nyambar ke arah tubuh In Hong. Namun kini In Hong yang maklum bahwa kalau dia tidak bertindak cepat hingga dapat dikejar oleh pasukan besar, dan tentu kaisar akan celaka, bergerak seperti seekor harimau betina yang haus darah.

Pedang Hong-cu-kiam yang tipis bersinar emas itu mengaum seperti bunyi singa marah, sinarnya bergulung-gulung, lantas para pengeroyok itu berjatuhan. Pekik kesakitan susul menyusul dan dalam waktu singkat saja semua pengeroyok yang berjumlah tiga belas orang itu sudah roboh dan tewas!

In Hong cepat meloncat ke balik semak-semak belukar tadi sambil menginjak obor-obor yang masih bernyala.

"Ssstttt... sri baginda...! Ke sini...!" serunya perlahan ke arah semak-semak itu.

Mereka keluar dari balik semak-semak, dan melihat di dalam keremangan malam betapa kaisar tawanan itu merangkul leher Khamila, ada pun ratu itu merangkul pinggang kaisar, In Hong mengerutkan alisnya. Apa-apaan yang dilihatnya ini?

Timbul perasaan tidak senang di dalam hatinya. Khamila adalah seorang ratu, isteri dari Raja Sabutai yang gagah Perkasa. Biar pun ada baiknya kalau ratu ini bersimpati kepada kaisar yang dia tahu memang seorang yang berwatak agung dan gagah, namun tidaklah sepatutnya kalau mereka bersikap seperti sepasang kekasih yang begitu mesra!

"Sekarang dengan cepat kita pergi memasuki hutan," katanya singkat dan dia mendahului mereka melangkah masuk ke dalam hutan itu, membawa sebatang obor yang diambilnya dari obor-obor yang tadi dibawa oleh para prajurit penjaga.

Dapatlah dibayangkan alangkah sengsaranya perjalanan semalam itu bagi sang ratu. Dia adalah seorang puteri yang halus, yang tidak pernah melakukan perjalanan jauh, dan kini dia terpaksa harus melakukan perjalanan pada waktu malam gelap, melalui sebuah hutan lebat lagi! Dan dia sedang mengandung.....!


Pilih JilidJilid Berikut
DUNIA KANG-OUW © 2008 Template by:
SkinCorner